Anda di halaman 1dari 18

KONSEP DASAR FISURA ANI

MAKALAH

Oleh
KELOMPOK 3

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014
2

KONSEP DASAR FISURA ANI

MAKALAH
diajukan guna melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Klinik 3A dengan dosen
pembimbing Ns. Murtaqib., M.Kep.

Oleh
Rica Novi Pamungkas 122310101008
Riska Umaroh 122310101023
Zulfa Makhatul Ilmi 122310101024
Aris Kurniawan 122310101033
Tri Ayu Diah Andjani 122310101038
Wahyu Dini Candra S. 122310101043
Riski Dafianto 122310101052
Kezia Sinta Pratiwi 122310101057
Robby Prihadi Aulia E. 122310101066
Mega Puspita Warni 122310101069
Nikmatul Khoiriyah 122310101075
Fina Fitriani 122310101078

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2014
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Swt bahwa telah terselesaikan makalah yang
berjudul Konsep Dasar Fisura Ani. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas
mata kuliah Keperawatan Klinik 3A.
Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu kami dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat kepada para pembaca.
Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah ini masih sangatlah jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari
semua pembaca demi kesempurnaan pada pembuatan makalah selanjutnya.

Jember, Maret 2014 Penulis

iii
4

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL............................................................................... ii
KATA PENGANTAR................................................................................. iii
DAFTAR ISI............................................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang........................................................................... 1
1.2 Tujuan......................................................................................... 2
1.3 Manfaat...................................................................................... 2
BAB 2. PEMBAHASAN............................................................................ 3
2.1 Definisi ..................................................................................... 3
2.2 Etiologi....................................................................................... 4
2.3 Manifestasi Klinis...................................................................... 5
2.4 Pemariksaan Diagnostik............................................................. 6
2.5 Penatalaksanaan dan Komplikasi............................................... 7
2.6 Patofisiologi............................................................................... 10
2.7. Pathway..................................................................................... 12
BAB 3. PENUTUP...................................................................................... 13
3.1 Kesimpulan................................................................................ 13
3.2 Saran........................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tubuh manusia memiliki karakteristik dan fungsinya masing-masing.


Setiap organ memiliki peranan tersendiri yang spesifik bagi tubuh manusia. Kesemua
organ dan sel tersebut saling berkesinambungan dan bekerja sesuai dengan peranan
masing-masing untuk menjaga keadaan homeostasis tubuh. Apabila ada satu saja
organ atau sel yanhg mengalami gangguan maka sudah dapat dipastikan fungsi dari
organ tersebut ridak dapat dilaksanakan dan tentu saja akan menganggu kerja dan
homeostasis tubuh. Di dalam tubuh manusia semua organ bekerja menurut sistem-
sistem yang ada. Sistem-sistem tersebut merunut pada satu fungsi kerja yang spesifik
yang ada manusia. Contohnya adalah organ pernapasan, organ kardiovaskuler, organ
persarafan, organ musculoskeletal, organ gastrointestinal atau pencernaan dan organ-
organ yang lain.
Dari sekian banyak organ yang ada didalam tubuh manusia ada juga organ
yang berfungsi sebagai eksresi atau pembuangan zat sisa yang ada setelah proses
pencernaan dilakukan. Namun apabila organ ekskresi ini mengalami gangguan maka
metabolisme tubuh menjadi tidak optimal dan banyak zat-zat sisa dalam tubuh yang
tidak terekskresi dengan baik. Sehingga kita harus mampu menjaga agar organ ini
kita tetap berfungsi dengan baik dan tetap sehat. Akan tetapi terkadang system
pencernaan atau gastrointestinal kita mengalami masalah yang tidak kita harapkan.
Permasalahan tersebut dapat muncul akibat adanya luka yang disebabkan oleh
robekan akibat feses yang keras. Permasalahan-permasalahan ini tentunya akan
menganggu kinerja dari proses ekskresi yang berperan penting dalam metabolisme
dan mengelola nutrisi yang masuk ke dalam tubuh. Masalah tersebut dapat disebut
2

juga dengan fisura anus. Definisi dari fisura anus adalah retaknya pada dinding anus
yang disebabkan oleh peregangan akibat lewatnya feses yang keras.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Mengetahui definisi dari penyakit fisura ani.
1.2.2 Mengetahui etiologi dari penyakit fisura ani
1.2.3 Mengetahui manifestasi klinis dari penyakit fisura ani
1.2.4 Mengetahui pemeriksaan diagnostik fisura ani
1.2.5 Mengetahui penatalaksanaan dan komplikasi penyakit fisura ani
1.2.6 Mengetahui patofisiologi dari penyakit fisura ani
1.2.7 Mengetahui pathway penyakit fisura ani
.
1.3 Manfaat Penulisan
1.3.1 Sebagai sarana menambah pengetahuan dan wawasan mengenai penyakit
fisura ani dan asuhan keperawatannya.
1.3.2 Sebagai sarana berlatih bagi penulis
3

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI FISURA ANI


Fissura Anus atau fissure ani merupakan robekan di dinding lubang dubur.( dr
Budi Setyadi SpB, Spesialis bedah RS Surabaya International). Fissura Ani
merupakan retaknya pada dinding anus yang disebabkan oleh peregangan akibat
lewatnya feses yang keras.(Fatofisiologi konsep klinis proses penyakit edisi
6,halaman 468). Fissura Anus (Fissure in ano, Ulkus anus) merupakan suatu
robekan atau luka dengan nanah pada daerah anus dekat perbatasan dengan kulit,
luka sering terjadi pada bagian belakang walau terkadang lebih jarang juga
dapat ditemukan pada bagian depan, lebih jarang lagi pada bagian samping (bila
terjadi harus dipikirkan penyebab penyakit lain) (Dr.Heru Wiyono,SpPD).
Fissura ani merupakan luka epitel memanjang sejajar sumbu anus, biasanya
tunggal & terletak di garis tengah posterios (>90%). (Departemen bedah)

Fisura Anus adalah kondisi medis yang ditandai dengan nyeri seperti tertusuk
pisau, terasa tajam, yang disertai dengan sejumlah kecil perdarahan, sewaktu
buang air besar. Hal ini disebabkan karena robekan kecil di dalam anus di dekat
tempat keluar anus. Anus adalah bagian akhir dari usus besar, setelah rektum,
dimana materi feses melaluinya untuk keluar dari dalam tubuh. Fisura anus dapat
terjadi pada segala usia, tetapi lebih sering terjadi pada remaja dan dewasa muda.
Hal ini seringkali berhubungan dengan konstipasi karena peregangan akibat feses
yang keras dapat merobek dinding bagian dalam dari anus.
4

Fissura ani disebabkan oleh Idiopatik,iritasi akibat diare,Penggunaan laksans,


Cidera partus, Iatrogenik, Inflamatory bowel diseases, Sexually transmitted
disease tetapi lebih umum lagi di sebabkan cedera karena buang air besar yang
keras dan besar. Fissura menyebabkan otot melingkar (sfingter) dari anus
mengalami kejang dan hal ini akan menyulitkan penyembuhan. Otot polos yang
melingkari dubur berfungsi sebagai katup penutup sehingga kotoran bersifat
padat, cair dan gas tidak keluar. Otot ini bersifat involunter, sehingga tidak dapat
dipengaruhi oleh kehendak kita. Dalam keadaan duduk lama atau stress akan
bertambah tegang, bila kemudian terdapat gangguan buang air besar akan
mempermudah timbulnya luka pada selaput lendir.

Pada selaput lendirdekat perbatasan dengan kulit banyak terdapat saraf perasa
(sensorik), sehingga bila ada luka kecil saja akan menyebabkan rasa sakit.
Kemudian terjadi lingkaran setan (circulus vitiosus), otot polos semakin
menegang dan pasien menjadi semakin takut untuk buang air besar sehingga
menahan untuk BAB. Pada akhirnya pasien semakin menahan buang air besar ,
kotoran semakin keras dan luka semakin luas. Secara epidemiologi lebih banyak
terjadi pada wanita, mungkin karena wanita lebih sering mengalami sembelit.

2.2 ETIOLOGI FISURA ANI


Kebanyakan fissura ani terjadi karena regangan mucosa anus melebihi
kemampuannya. Fissura menyebabkan otot melingkar (sfingter) dari anus
mengalami kejang dan hal ini akan menyulitkan penyembuhan. Otot polos yang
melingkari dubur berfungsi sebagai katup penutup sehingga kotoran bersifat
padat, cair dan gas tidak keluar. Otot ini bersifat involunter, sehingga tidak dapat
dipengaruhi oleh kehendak kita. Dalam keadaan duduk lama atau stress akan
bertambah tegang, bila kemudian terdapat gangguan buang air besar akan
mempermudah timbulnya luka pada selaput lendir.
5

Pada selaput lendirdekat perbatasan dengan kulit banyak terdapat saraf perasa
(sensorik), sehingga bila ada luka kecil saja akan menyebabkan rasa sakit.
Kemudian terjadi lingkaran setan (circulus vitiosus), otot polos semakin
menegang dan pasien menjadi semakin takut untuk buang air besar sehingga
menahan untuk BAB. Pada akhirnya pasien semakin menahan buang air besar ,
kotoran semakin keras dan luka semakin luas. Secara epidemiologi lebih banyak
terjadi pada wanita, mungkin karena wanita lebih sering mengalami sembelit.
Fissura ani dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, antaranya
1. idiopatik
2. iritasi akibat diare
3. cedera partus
4. penggunaan laksative
5. iatrogenik
6. inflammatory bowel diseases
7. sexually transmitted diseases

2.3 MANIFESTASI KLINIS FISURA ANI


Biasanya ada riwayat konstipasi. Pada beberapa bagian penderita akan merasa
nyeri pasa saat mengejan, yang bisa sesuai dengan kejadian pembentukam fisura
yang sebenarnya setelah lewatnya tinja yang keras. Kemudian, disamping
penyebab primer konstipasi, penderita menjadi penahan tinja yang mencoba
menahan rasa ingin buang air besar karena takut nyeri. Keadaan ini akan
memperburuk konstipasi, dan akhirnya tinja yang lebih keras dan lebih besar
lewat yang menciptakan lingkaran setan. Nyeri pada saat buang air besar dan
darahsegar pada permukaan tinja dapat dilihat. Diagnosis ditegakkan dengan
melihat daerah anus. Karenanya, pinggul penderita ditahan dalam posisi fleksi
kuat, pantat penderita dibuka untuk memperluas lipatan kuliat perianal, dan fisura
akan tamjpak sebagai luka robek kecil.
6

Kadang-kadang tepi luka robek tersebut, ada sedikit kulit menonjol yang
sebenarnya merupakan jaringan granuloma yang terepitalisasi, akibat radang
kronis (jonjolan atau tag).

2.4 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK FISURA ANI


1. Inspeksi: Pada sebagian besar penderita dapat dibuat diagnosa fissura ani
hanya dengan inspeksi saja. Pemeriksaan dilakukan dengan menarik kedua
pantat secara perlahan lahan untuk melihat apakah ada skin tag, discharge
atau darah.
2. Palpasi: Untuk menghindari nyeri palpasi dilakukan dengan memasukkan
jari menelusuri bagian lateral terlebih dahulu. Pinggir dari fissura dapat
teraba irregular, Nyeri tekan ( + ). Pemeriksaan langsung diatas fissura sgt
menyakitkan. Pada fissura yang kronis nyeri tidak begitu hebat sehingga
pemeriksaan rectal dapat dilakukan dengan baik.
3. Proctoscopy / Sigmoidoscopy: Pemakaian protoscop dewasa pada keadaan
akut biasanya tidak mungkin dilakukan oleh karena sangat nyeri. Biasanya
dengan memakai infant sigmoidoscopy Llyod-Davies dpt dilihat kelainan
- kelainan pada mukosa rektum dan anal canal.
4. Fistulografi, yaitu memasukkan alat ke dalam lubang/fistel untuk
mengetahui keadaan luka.
5. Pemeriksaan harus dilengkapi dengan rektoskopi untuk menentukan
adanya penyakit di rektum seperti karsinoma atau proktitis tbc, amuba,
atau morbus Crohn.
6. Fistulografi: Injeksi kontras melalui pembukaan internal, diikuti dengan
anteroposterior, lateral dan gambaran X-ray oblik untuk melihat jalur
fistula.
7. Ultrasound endoanal / endorektal: Menggunakan transduser 7 atau 10
MHz ke dalam kanalis ani untuk membantu melihat differensiasi
muskulus intersfingter dari lesi transfingter. Transduser water-filled ballon
membantu evaluasi dinding rectal dari beberapa ekstensi suprasfingter.
8. MRI: MRI dipilih apabila ingin mengevaluasi fistula kompleks, untuk
memperbaiki rekurensi.
7

9. CT- Scan: CT Scan umumnya diperlukan pada pasien dengan penyakit


crohn atau irritable bowel syndrome yang memerlukan evaluasi perluasan
daerah inflamasi. Pada umumnya memerlukan administrasi kontras oral
dan rektal.
10. Barium Enema: untuk fistula multiple dan dapat mendeteksi penyakit
inflamasi usus.
11. Anal Manometri: evaluasi tekanan pada mekanisme sfingter berguna pada
pasien tertentu seperti pada pasien dengan fistula karena trauma
persalinan, atau pada fistula kompleks berulang yang mengenai sphincter
ani.

2.5 PENATALAKSANAAN DAN KOMPLIKASI FISURA ANI


2.5.1. Penatalaksanaan medis
a. Non-farmakologis
Bertujuan untuk mencegah perburukan penyakit dengan cara
memperbaiki defekasi. Pelaksanaan berupa perbaikan pola hidup, perbaikan
pola makan dan minum, perbaikan pola/cara defekasi. Perbaikan defekasi
disebut Bowel Management Program (BMP) yang terdiri atas diet, cairan,
serat tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku defekasi (defekasi
dalam posisi jongkok/squatting). Selain itu, lakukan tindakan kebersihan lokal
dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit, 2-4 kali sehari.
Dengan perendaman ini, eksudat/sisa tinja yang lengket dapat dibersihkan.
Eksudat/sisa tinja yang lengket dapat menimbulkan iritasi dan rasa gatal bila
dibiarkan.

b. Farmakologi
Bertujuan memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan
keluhan dan gejala. Obat-obat farmakologis dapat dibagi atas empat macam,
yaitu:
1. Obat yang memperbaiki defekasi
8

Terdapat dua macam obat yaitu suplement serat (fiber suplement) dan pelicin
tinja (stool softener). Suplemen serat komersial yang yang banyak dipakai
antara lain psylium atau isphaluga Husk (ex.: Vegeta, Mulax, Metamucil,
Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang dikeringkan dan
digiling menjadi bubuk. Obat ini bekerja dengan cara membesarkan volume
tinja dan meningkatkan peristaltik usus. Efek samping antara lain ketut dan
kembung. Obat kedua adalah laxant atau pencahar (ex.: laxadine, dulcolax,
dll).

2. Obat simptomatik
Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri,
atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya Anusol, Boraginol
N/S dan Faktu.
Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk mengurangi
radang daerah hemoroid atau anus. Contoh obat misalnya Ultraproct, Anusol
HC, Scheriproct.

3. Obat penghenti perdarahan


Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena
hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal
dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding
pembuluh darah.

4. Obat penyembuh dan pencegah serangan


Menggunakan Ardium 500 mg dan plasebo 32 tablet selama 4 hari, lalu 22
tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap
gejala inflamasi, kongesti, edema, dan prolaps.

Komplikasi Fisura Ani


9

1. Perdarahan
2. Anemia
3. Incontinensia feses
4. Strangulasi

2.5.2. Penatalaksanaan keperawatan


a. Jalankan pola hidup sehat.
b. Olah raga secara teratur.
c. Makan makanan berserat.
d. Hindari terlalu banyak duduk atau nongkrong di wc / toilet.
e. Jangan merokok, minum minuman keras, narkoba, dan lain-lain
f. Jangan melakukan aktivitas hubungan seks yang tidak wajar.
g. Minum air yang cukup.
h. Jangan menahan kencing dan berak.
i. Jangan suka menggosok dan menggaruk dubur berlebihan.
j. Jangan mengejan / mengeden / ngeden berlebihan.
k. Jika tidak ingin pup / bab jangan dipaksa.
l. Duduk berendam pada air yang hangat.
m. Minum obat sesuai anjuran dokter.

2.6 PATOFISIOLOGI FISURA ANI


Keighley membagi fissura ani menjadi:
1. Fissura ani primer
Fissura ani primer tampak sebagai suatu superficial ulcer pada mukosa anal di
bawah linea dentata,apabila letaknya lebih ke proksimal hampir dapat dipastikan
merupakan fissura ani sekunder akibat penyakit lain.Apabila feces yang keras
melewati anal canal akan terjadi perenggangan dan merobek mucosa anal.Fissura
ani biasanya terjadi pada bagian anterior dan posteriordi duga daerah ini
merupakan daerah lemah.ketika feses melewati anal canal, massa akan disalurkan
ke bagian anterior dan posterior oleh karena adanya otot pada bagian lateral.
10

Fissura akan meningkatkan kontraksi internal anal sphincter dan meningkatkan


tekanan istirahat pada anal canal.peningkatan tekanan menyebabkan iskemia
pada area disekitar fissura.adanya spasme yang berulang pada anal canal dan
adanya iskemia yang berlanjut akan menyebabkan fissura menjadi kronis oleh
karena ulkus yang tidak dapatsembuh.
a. Akut
Dasar fissura ani akutmerupakan suatu lapisan tipis putih yang melapisi
jaringan ikat submucosa dan otot longitudinal,yang menyebar dari
intersphinteric groove kemudian melapisi otot sirkular sphincter
interna.Sedangkan dasar dari fissura ani kronistampak serat otot sphincer
interna.Pada fissura ani akutulkus tampak berbatas tegas,tidak terdapat
indurasi,odema atau kavitasi.
b. Kronis
Pada fissura ani kronistampak tepi ulkus mengalami indurasi dan apabila
proses berlanjut ulkus akan bertambah luas dan bagian luar tampak odematous
oleh karena adanya obstruksi lymphatik,skin tag dan hypertropi papila anus
dapat di temukan dalam keadaan fissura ani kronis.Infeksi dapat terjadi dan
dapat menyebar ke atas menimbulkan abses submukosa atau intersphincteric
abses atau ke bawah menjadi perianal abses di bawah skin tag.Adanya
perianal abses yang persisten dapat menimbulkan fistula superficial yang
berjalan dari bagian bawah fissura dan keluar pada skin tag.
c. Fissura ani sekunder
Fissura ani sekunder disebabkan karena beberapa kelainan patologis seperti
Crohns disease, tuberkulosa anus, AIDS, atau setelah tindakan operasi pada
daerah anus. Fissura ani akibat komplikasi Crohns disease atau tuberkulosa
biasanya tidak terasa nyeri.
11

Cedera Kelahiran Trauma Lakstif berlebih

Sfingter anus >>


kejang

Mukosa anus robek

Ulkus / fisura

Saraf PecahnyaFISURA
vena Pasien takut
2.7 PATHWAY ANI Ulkus mengalami
disekitar anus hemoroid indurasi untuk BAB
>> aktif

Bertambah luas Konstipasi Kurang


Nyeri Perdarahan pengetahuan

Odematous

Anxietas Resiko
infeksi
Pendarahan terus
terjadi

Gangguan Kekurangan
perfusi jaringan volume cairan
12

BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Fissura Ani (Fissure in ano, Ulkus anus) merupakan suatu robekan atau luka
dengan nanah pada daerah anus dekat perbatasan dengan kulit, luka sering terjadi
pada bagian belakang walau terkadang juga dapat ditemukan pada bagian depan, lebih
jarang lagi pada bagian samping. Kebanyakan fissura ani terjadi karena regangan
mukosa anus melebihi kemampuannya. Fissura menyebabkan otot melingkar
13

(sfingter) dari anus mengalami kejang dan hal ini akan menyulitkan penyembuhan.
Otot polos yang melingkari dubur berfungsi sebagai katup penutup sehingga kotoran
bersifat padat, cair dan gas tidak keluar. Otot ini bersifat involunter, sehingga tidak
dapat dipengaruhi oleh kehendak kita. Dalam keadaan duduk lama atau stress akan
bertambah tegang, bila kemudian terdapat gangguan buang air besar akan
mempermudah timbulnya luka pada selaput lendir.
Manifestasi klinis dari Fissura Ani adalah adanya konstipasi. Kemudian,
disamping gejala primer konstipasi, penderita menjadi penahan tinja yang mencoba
menahan rasa ingin buang air besar karena takut nyeri. Keadaan ini akan
memperburuk konstipasi, dan akhirnya tinja yang lebih keras dan lebih besar lewat
yang menciptakan lingkaran setan (circulus vitiosus). Terdapat juga nyeri pada saat
buang air besar dan darah segar pada permukaan tinja dapat dilihat. Fissura Ani akan
tamjpak sebagai luka robek kecil. Kadang-kadang tepi luka robek tersebut, ada sedikit
kulit menonjol yang sebenarnya merupakan jaringan granuloma yang terepitalisasi,
akibat radang kronis (jonjolan atau tag).
Penatalaksanaan dari fissure ani dapat berupa terapi non-farmakologis yang
membantu memperbaiki defekasi atau terapi farmakologis yang bertujuan meredakan
atau menghilangkan gejala dan komplikasi dari Fissura Ani.

3.2 Saran
Pengetahuan seorang perawat tentang konsep dasar sebuah penyakit dapat
membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Seorang perawat yang
telah mampu menguasai konsep dasar penyakit maka kemungkinan akan lebih
mudah dalam melaksanakan asuhan keperawatannya. Selain mempermudah perawat
atau dalam menyusun asuhan keperawatan, memahami konsep dasar sebuah penyakit
juga dapat membantu perawat dalam memberikan edukasi kepada pasien. Dalam hal
ini perawat dapat membantu memberikan pengetahuan kesehatan tentang Fissura Ani
pada pasien. Sehingga pasien dapat melakukan pencegahan dini terhadap
kemungkinan munculnya penyakit Fissura Ani ini.
14

DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Sudart. 2000. Buku keperawatan Medikal bedah. Jakarta: EGC

Grace & Barley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta: Erlangga

Harrison. 1999. Prinsip-prisip ilmu penyakit dalam. Jakarta : EGC

M. Wilson Lorraine,dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis. Jakarta: PT Sunter


Agung Podomoro.

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC