Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sektor industri pada umumnya, pertumbuhannya jauh lebih pesat dari sektor
pertanian. Oleh karena itu juga tidak mengherankan bahwa peranan sektor industri
dalam perekonomian dalam suatu negara lambat laun menjadi semakin penting. Hal
ini tercermin pada sumbangan sektor industri pada Produk Nasional Bruto yang
semakin meningkat. Pembangunan dan pengembangan industri di Indonesia tidak
hanya cukup menanamkan modal yang besar begitu saja. Hal ini disebabkan latar
belakang budaya dan kehidupan sebagian besar penduduk Indonesia yang masih
tergantung pada sektor pertanian. Agar tidak terjadi masalah antara proses
industrialisasi dan pembangunan pertanian, maka kedua sektor tersebut
diusahakan agar tumbuh secara seimbang. Untuk pengembangan suatu kawasan
industri diperlukan perencanaan yang tepat dan matang sebagai penentuan lokasi
industri, dengan demikian untuk menentukan suatu lokasi yang cocok bagi kawasan
industri, diperlukan identifikasi lokasi yang sesuai agar dapat dijadikan sebagai
kawasan industri dengan memperhatikan variabel-variabel penentuan lokasi industri.
(dalam Tono Junaedi dan Harry Nugroho, 1996).

Dalam pengembangan kawasan industri sebenarnya cukup banyak


permasalahan yang ada, baik permasalahan yang bersifat strategik, manajerial dan
teknikal. Misalnya yang bersifat strategik berkaitan dengan aspek-aspek untuk
menjawab perlunya dibangunnya kawasan industri, peran maupun fungsinya yang
diharapkan dari kawasan industri dimasa yang akan datang sekaligus dampak
jangka panjang terhadap pengembangan kawasan industri. Permasalahan yang
bersifat manajerial berkaitan dengan aspek penataan ruang dan pengarahan lokasi
industri yang berkaitan dengan perencanaan wilayah suatu daerah dan penyediaan
sarana internal (listrik, air, sarana telekomunikasi, jalan, saluran pembuangan)
Sementara masalah-masalah yang bersifat teknikal seperti bagaimana tata letaknya,
luas lahan yang disediakan untuk industri besar, sedang maupun industri kecil
(Mardihartanto dalam Harry Nugroho, 1996).

Kawasan Industri Halaman | 1


Berdasarkan perencanaan provinsi Sulawesi Utara yang tertuang dalam
Rencana Umum Tata Ruang (RUTRK) Sulawesi Utara, dijelaskan bahwa untuk
mengatasi kesimpangsiuran penggunaan tata ruang kawasan industri, Pemerintah
Provinsi Sulawesi Utara telah menetapkan Beberapa kawasan industri pada Kota-
Kota kabupaten. Salah satunya Kota Bitung, yang merupakan salah satu dari
beberapa daerah yang termasuk dalam ketetapan tersebut. Sedang kawasan
industri yang dimaksud disini sesuai dengan Keppres No. 59 tahun 1989 adalah
tempat pemusatan industri pengolahan yang dilengkapi dengan prasarana, sarana
dan fasilitas penunjang lainnya yang disediakan dan dikelola oleh perusahaan
kawasan industri. Pembangunan kawasan industri dimaksudkan sebagai upaya
pemerintah untuk menciptakan suatu iklim yang lebih baik melalui penyediaan lokasi
industri yang didukung oleh fasilitas dan prasarana yang lengkap dan berorientasi
pula kepada kemudahan untuk mengatasi masalah pengelolaan dampak
lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah industri. (Diperindagkop Kota Bitung,
2007).

Sedangkan menurut Keppres No. 59 Tahun 1989 tentang


penempatan lokasi kawasan industri pengolahan dilengkapi dengan
prasarana, sarana dan fasilitas penunjang lainnya yang disediakan dan dikelola
oleh kawasan industri. Kriteria untuk penggolongan industri berdasarkan
jumlah tenaga kerja (BPS, 1990) sebagai berikut :

a. Industri Rumah Tangga : 1 4 orang


b. Industri Kecil : 5 9 orang
c. Industri Menengah : 10 99 orang
d. Industri Besar : > 99 orang

Namun demikian, Keberadaan sektor industri tersebut salah satunya dalam


penempatan lokasi industri pada suatu wilayah atau kawasan tertentu yang belum
tentu sesuai dengan aturan atau kaidah yang telah ditetapkan, terutama untuk
industri besar. Hal ini mengingat bahwa peletakan suatu lokasi industri yang tidak
tepat akan menyebabkan banyak gangguan maupun tantangan yang akan dihadapi
nantinya. Baik itu menyalahi aturan penataan tata ruang yang telah ditentukan,
ketersedian listrik, air, sarana telekomunikasi, sarana dan prasarana serta daya
dukung lingkungan. Hal ini mengingat pula bahwa secara umum wilayah Kota

Kawasan Industri Halaman | 2


Bitung berada pada daerah yang mempunyai topografi relatif bergelombang.
Tentunya hal ini akan membawa konsekuensi terhadap letak dari suatu kawasan
industri di Kota Bitung.

Oleh karena itu, kiranya diperlukan adanya suatu kajian ataupun penelitian
untuk lokasi kawasan industri besar yang ada sekarang ini sudah sesuai dengan
ketentuan atau aturan yang ada atau belum. Karena kalau dilihat di lapangan pada
kawasan industri besar tersebut juga menunjukan adanya perkembangan fasilitas
sosial ekonomi lainnya seperti pasar, toko-toko maupun swalayan maupun untuk
daerah permukiman penduduk, sehingga apakah kawasan tersebut benar-benar
merupakan kawasan industri besar atau hanya sebagai akibat dari perkembangan
central bussiness distric. Selain itu, berada diwilayah atau lokasi mana
saja industri besar tersebut dan berapa luas wilayahnya.

1.2. Tujuan

Mengidentifikasi kawasan industri yang ada di kelurahan kadoodan dan


kelurahan madidir weru dan merencanakan kawasan tersebut sebagai kawasan
industri sesuai standard dan peraturan.

1.3. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini yaitu : mahasiswa dapat mengidentifikasi lokasi


industri dan dapat merencanakan suatu kawasan industri.

Kawasan Industri Halaman | 3


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi industri

Schneider (1993), mendefinisikan industri sebagaai jaringan yang helaiannya


menjangkau hamper setiap aspek masyarakat, kebudayaan, dan kepribadian. Di
kemukakan juga bahwa indutri merupakan sebuah fakator yang penting dalam
membentuk masalah-masalah sosial yang kompleks pada zaman kita. Industri
mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung,kadang-kadang terdapat
beragam industri, mulai dari industri rumah tangga, industri kecil sampai industri
besar. Tipe khusus organisasi industrial bisa terorganisasi ketika industri di
definisikan sebagai jenis keberadaan manusia yang terorganisasi (sebagai kelompok
kecil dalam masyarakat besar dimana terdapat saling hubungan keduanya) dan
menggambungkan tingkah laku serta nilai tertentu. Organisasi membutuhkan
prasarat, yaitu tugas yang dilakukan organisasi sebelum organisasi ini berjalan. Hal
ini mencakup beberapa hal. Pertama, tujuan organisasi industri unutk memproduksi
suatu barang dan jasa efisien serta memperoleh keuntungan , jika tidak memperoleh
keuntungan dalam batas standar minimal maka organisasi industri akan hilang.
Kedua , unutk mencapai tujuan-tujuannya, industri melakukan proses produksi yang
efisien. Ketiga, organisasi memobilisasi dan mengendalikan manusia . keempat,
organisasi beradaptasi dengan lingkungan pada organisasi tersebut.

Definisi lain tentang industri di kemukakan oleh Kuswartojo (1990), industri


merupakan kegiatan untuk menghasilkan barang-barang secara massal. Degan
mutu yang baik, unutk kemudian di jual dan di perdagangkan, guna mencapai
kemassalan dan keabaikannya, digunakan sejumlah tenaga kerja dengan peralatan
teknik dan cara serta pola kerja tertentu, sehingga timbul perbedaan industri
berdasarkan besar kecilnya, modern-tradisional.

Kawasan Industri Halaman | 4


Industri menurut skala usahanya yaitu :

1. Industri besar adalah usaha industri pengolahan yang mempunyai


pekerja atau karyawan 100 orang atau lebih.
2. Industri sedang adalah industri pengolahan yang mempunyai pekerja
atau karyawan 20 sampai dengan 99 orang.
3. Industri kecil adalah usaha industri pengolahan yang mempunyai
pekerja atau karyawan 5 sampai 19 orang.
4. Industri rumah tangga adalah usaha industri pengolahan yang
mempunyai pekerja atau karyawan 1 sampai dengan 4 orang.

Industri pengolahan didefinisikan sebagai suatu unit (kesatuan) produksi yang


terletak pada suatu tempat yang melakukan kegiatan mengubah barang dasar
(bahan mentah) menjadi barang jadi atau barang setengah jadi dan barang yang
kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya. Dan yang termasuk dalam
sector industri adalah perusahan yang melakukan kegiatan jasa industri, rancang
bangun, perakayasaan serta pekerja perakitan dari bagian-bagian suatu barang.

Dalam konteks pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri sekarang ini


secaa struktural kurang memiliki kaitan-pengaruh (diukur dengan pendapatan dan
tenaga kerja) ke hulu dank ke hilir. Pola pertumbuhan ekonomi yang demikian
disamping bersifat tidak lenggang dan memperbesar jarang kesenjangan social-
ekonomi. Untuk menutupi dan mencegah pelebaran kesenjangan tersebut, perlu di
upayakan jembatan yang menghubungkan industri besar padat modal dan modern
dengan industri yang menggunakan bahan baku local dan bersifat padat kerja.
Dalam hal ini pengembangan agro indutri dapat menjadi sector penggerak sehingga
perlu ditangani Negara.

Di kutip dari : Harbani, Kiki Solayman, Dampak


industrialisasi terhadap kondisi sosial budaya
masyarakat desa (Institut Pertanian Bogor, 1998).

Kawasan Industri Halaman | 5


2.2. Tujuan Pengembangan Kawasan Industri

1. Pengembangan Kawasan Industri dimaksudkan untuk mendorong


pertumbuhan sektor industri lebih terarah, terpadu dan memberikan hasil
guna yang lebih optimal bagi daerah dimana kawasan industri berlokasi.
Beberapa aspek penting yang menjadi dasar konsep pengembangan
kawasan industri antara lain adalah efisiensi, tata ruang dan lingkungan
hidup.

2. Aspek efisiensi merupakan satu dasar pokok yang menjadi landasan


pengembangan kawasan industri. Melalui pembangunan kawasan industri
maka bagi investor pengguna kapling industri (user) akan mendapatkan lokasi
kegiatan industri yang sudah baik dimana terdapat beberapa keuntungan
seperti bantuan proses perijinan, ketersediaan infrastruktur yang lengkap,
keamanan dan kepastian tempat usaha yang sesuai dengan Rencana Tata
Ruang Daerah. Sedangkan dari sisi pemerintah daerah, dengan konsep
pengembangan kawasan industri, berbagai jaringan infrastruktur yang
disediakan ke kawasan industri akan menjadi lebih efisien karena dalam
perencanaan infrastruktur kapasitasnya sudah disesuaikan dengan kegiatan
industri yang berada di kawasan industri.Bilamana ada jaminan permintaan
penyediaan infrastruktur yang pasti, jelas akan meyakinkan bagi penyedia
infrastruktur membangun dan menyediakannya.

3. Dari aspek tata ruang, dengan adanya kawasan industri maka masalah-
masalah konflik penggunaan lahan akan dapat dihindari. Demikian pula,
bilamana kegiatan industri telah dapat diarahkan pada lokasi peruntukannya,
maka akan lebih mudah bagi penataan ruang daerah, khususnya pada
daerah sekitar lokasi kawasan industri.

4. Dari aspek lingkungan hidup, konsep pengembangan kawasan industri jelas


mendukung peningkatan kualitas lingkungan, daerah secara menyeluruh.
Dengan dikelompokkan kegiatan industri pada satu lokasi pengelolaan maka
akan lebih mudah menyediakan fasilitas pengolahan limbah dan juga
pengendalian limbahnya. Sudah menjadi kenyataan bahwa pertumbuhan
industri secara individual memberikan pengaruh besar terhadap kelestarian

Kawasan Industri Halaman | 6


lingkungan karena tidak mudah untuk melakukan pengendalian pencemaran
yang dilakukan oleh industri-industri yang tumbuh secara individu.

5. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi


Kawasan Industri ditinjau dari segi karakteristik daerah secara garis besar
dapat dibagi atas 2 kategori, yaitu :

Bagi daerah Kabupaten/Kota yang tingkat pertumbuhan industrinya


besar, maka Kawasan Industri sebagai alat pengaturan tata ruang dan
pengendalian pencemaran.
Bagi daerah Kabupaten/Kota yang tingkat pertumbuhan industrinya
rendah atau relatif belum berkembang, maka Kawasan Industri berfungsi
untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam arti membantu
investor untuk memperoleh kapling siap bangun yang telah dilengkapi
berbagai prasarana dan sarana penunjang

Di kutip dari : Di kutip dari : Harbani, Kiki Solayman,


Dampak industrialisasi terhadap kondisi sosial budaya
masyarakat desa (Institut Pertanian Bogor, 1998).

2.3. Izin Usaha Kawasan Industri Dan Izin Perluasan Kawasan Industri

1. Setiap kegiatan usaha Kawasan Industri wajib memiliki Izin Usaha Kawasan
Industri.
2. Untuk memperoleh Izin Usaha Kawasan Industri, Perusahaan Kawasan
Industri wajib memperoleh Persetujuan Prinsip sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
3. Kawasan Industri yang telah memperoleh Persetujuan Prinsip dalam batas
waktu 2 (dua) tahun wajib melaksanakan:
a) penyediaan/penguasaan tanah;
b) penyusunan rencana tapak tanah;
c) pematangan tanah;
d) penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan mendapatkan
pengesahan;

Kawasan Industri Halaman | 7


e) perencanaan dan pembangunan prasarana dan sarana penunjang
termasuk pemasangan instalasi/peralatan yang diperlukan;
f) penyusunan Tata Tertib Kawasan Industri;
g) pemasaran kaveling Industri; dan
h) penyediaan, pengoperasian, dan/atau pemeliharaan pelayanan jasa bagi
Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri.
4. Perusahaan Kawasan Industri yang telah memperoleh Persetujuan Prinsip
wajib memperoleh Izin Lokasi Kawasan Industri dengan mengajukan
permohonan kepada:
a. Bupati/walikota untuk Kawasan Industri yang lokasinya di wilayah satu
kabupaten/kota;
b. Gubernur untuk Kawasan Industri yang lokasinya lintas kabupaten/kota;
atau
c. Kepala Badan Pertanahan Nasional untuk Kawasan Industri yang
lokasinya lintas provinsi.
5. Pemberian Izin Lokasi Kawasan Industri kepada Perusahaan Kawasan
Industri dilakukan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang ditetapkan
pemerintah daerah setempat.
6. Izin Usaha Kawasan Industri diberikan kepada Perusahaan Kawasan
berdasarkan Hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.
7. Perusahaan Kawasan Industri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam
Peraturan Pemerintah no. 5 dapat berbentuk:
a. Badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah;
b. Koperasi; atau
c. Badan usaha swasta.
8. Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki Izin Usaha Kawasan
Industri dapat menunjuk pihak lain untuk melakukan pengelolaan Kawasan
Industri.
9. Penunjukan pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam
Peraturan Pemerintah No 5 yaitu diberitahukan kepada pemberi Izin Usaha
Kawasan Industri.
10. Penunjukkan pengelolaan Kawasan Industri kepada pihak lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dalam Peraturan Pemerintah No 5 yaitu tidak

Kawasan Industri Halaman | 8


mengurangi tanggung jawab Perusahaan Kawasan Industri yang
bersangkutan.
11. Perusahaan Kawasan Industri yang telah memperoleh Izin Usaha Kawasan
Industri dan telah beroperasi, serta akan melakukan perluasan Kawasan
Industri wajib memperoleh Izin Perluasan Kawasan Industri terlebih dahulu.
12. Izin Usaha Kawasan Industri dan Izin Perluasan Kawasan Industri diberikan
oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
13. Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Usaha Kawasan Industri dan Izin
Perluasan Kawasan Industri diatur dengan Peraturan Menteri.

2.4. Spesifikasi Dan Fasilitas Kawasan Industri

1. Luas lahan Kawasan Industri paling rendah 50 (lima puluh) hektar dalam
satu hamparan.

2. Luas lahan Kawasan Industri Tertentu untuk Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah paling rendah 5 (lima) hektar dalam satu hamparan.

2.5. Kewajiban Perusahaan Industri Di Kawasan Industri

1. Perusahaan Industri di dalam Kawasan industri wajib memiliki:

a. Upaya Pengelolaan Lingkungan; dan

b. Upaya Pemantauan Lingkungan.

2. Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri yang mengelola atau


memanfaatkan limbah bahan berbahaya dan beracun wajib menyusun
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dan mendapat pengesahan.

3. Perusahaan Industri di dalam Kawasan Industri dikecualikan dan perizinan


yang menyangkut Gangguan, Lokasi, dan pengesahan rencana tapak tanah.

4. Setiap Perusahaan Industri di kawasan Industri wajib:

a) Memenuhi semua ketentuan perizinan dan Tata Tertib Kawasan Industri


yang berlaku;

b) Memelihara daya dukung lingkungan di sekitar kawasan termasuk tidak


melakukan pengambilan air tanah;

Kawasan Industri Halaman | 9


c) Melakukan pembangunan pabrik dalam batas waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak pembelian lahan; dan

d) Mengembalikan kaveling Industri kepada Perusahaan Kawasan Industri


apabila dalam batas waktu yang ditentukan sebagaimana dimaksud
dalam Peraturan yang terkait (Peraturan Pemerintah No 5).

Dikutip dari : PP NO : 24-2009


2.6. Standar Teknis Sarana dan Prasarana Penunjang Dalam Kawasan
Industri
Perusahaan kawasan industri wajib membangun/menyediakan sarana dan
prasarana teknis untuk menunjang kegiatan industri, sebagai berikut :

a. Jaringan jalan lingkungan dalam kawasan industri.

Jalan satu jalur dengan dua arah, lebar perkerasan minimum 8 meter atau
Jalan dua jalur dengan satu arah, lebar perkerasan minimum 2x7 meter.Dalam
pengembangan sistem jaringan jalan di dalam KI, juga perlu dipertimbangkan untuk
adanya jalan akses dari KI ke tempat permukiman disekitarnya dan juga ke tempat
fasilitas umum di luar KI.
b. Drainase.
Saluran buangan air hujan (drainase) yang bermuara kepada saluran
pembuangan sesuai dengan ketentuan teknis pemerintah daerah setempat.Saluran
pembuangan air kotor (sewerage), merupakan saluran tertutup yang dipersiapkan
untuk melayani kapling-kapling industri menyalurkan limbahnya yang telah
memenuhi standar influent ke IPAL terpadu.
c. Air bersih
Instalasi penyedia air bersih termasuk saluran distribusi ke setiap kapling
industri, yang kapasitasnya dapat memenuhi permintaan. Sumber airnya dapat
berasal dari Perusahaan Daerah Air Minum atau dari sistem yang diusahakan
sendiri oleh perusahaan kawasan industri.

d. Instalasi listrik
instalasi penyediaan dan jaringan distribusi tenaga listrik sesuai
denganketentuan PLN. Sumber tenaga listrik dapat disediakan oleh PLN maupun
pengelola kawasan industri (perusahaan listrik swasta).Penerangan jalan pada tiap
jalur jalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Kawasan Industri Halaman | 10


e. Jaringan telekomunikasi

Jaringan telekomunikasi yang dipersiapkan untuk melayani kapling-kapling


industri dengan sistim kabel atas ataupun kabel bawah tanah.

f. Unit Perkantoran

Unit perkantoran merupakan fasiltas utama bagi suatu kawasan industri


karena dari perkantoran ini berbaai program kagiatan industry di komandokan. Unit
perkantoran harus ditata sedemikian rupa sehingga memberikan kenyamanan
tinggal dan bekerja bagi para karyawan.

i. Fasilitas pemadam kebakaran

Fasilitas pemdam kebakaran harus disediakan dalam suatu kawasan. Hal ini
bertujuan untuk menanggulangi secara dini bila terjadi kebakaran di kawasan
tersebut, meskipun masing-masing pabrik dilengkapi dengan fasiltas pemadam
kebakaran sesuai dengn kebutuhannya.

g. Fasilitas Komersial, sosial dan umum

Membangun kawasan industry suatu kawasan, artinya dengan membangun


suatu kota meskipun lebih spesifik jenis kegiatannya. Oleh karena itu dalam
membangun suatu kawasan industry harus disediakan sarana-sarana umum
lainnya, seperti perumahan, saran komersial (pasar, perkotaan, hotel, dan lain-
lain), sarana social seperti rumah sakit dan tempat peribadatan (mesjid, gereja)
sarana rekreasi seperti lapangan olahraga dan lainnya.

H. lansekap ( Pertamanan)

Bagi sebuah kawasan industry, fasilitas lansekap (pertamanan) merupakan


salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengembangan, karena
pertamanan merupakan penghijauan kawasan yang berguna sebagai penyaring
polusi. Baik polusi udara maupun suara, disamping itu tentunya sebaga daya tarik
kawasan.

Kawasan Industri Halaman | 11


Tabel 1. Alokasi kawasan peruntukan lahan di kawasan industri

Luas lahan dapat dijual (maksimal 70%)

Luas Kavling Kavling Kavling Jalan dan Ruang


kawasan sarana terbuka hijau
Industri Komersial Perumahan
industri penunjang (%)
(%) (%) (%)
(Ha)

10-20 65-70 Maks.10 Maks.10 Sesuai Min. 10

> 20-50 65-70 Maks.10 Maks.10 Kebutuhan Min. 10

>50-100 60-70 Maks.12,5 Maks.15 Idem Min. 10

>100-200 50-70 Maks.15 Maks.20 Idem Min. 10

>200-500 45-70 Maks.17,5 10-15 Idem Min. 10

>500 40-70 Maks.20 10-30 Idem Min. 10

Sumber: Depperindag (2001)

Keterangan :

1. Kavling komersial adalah kavling yang disediakan oleh perusahaan kawassan


industri untuk sarana penunjang seperti perkantoran,bank, pertokoan/tempat
ibadah.

2. Kapling perumahan adalah kapling yang disediakan oleh perusahaan


kawasan industri untuk perumahan pekerja termasuk fasilitas penunjangnya,
seperti tempat olahraga dan sarana ibadah.
3. Fasilitas yang termasuk sarana penunjang lainnya, antara lain pusat
kesegaran jasmani (fitnesscenter), pos pelayanan telekomunikasi, saluran
pembuangan air hujan, instalasi pengolahan air limbah industri, instalasi
penyediaan air bersih, instalasi penyediaan tenaga listrik, instalasi
telekomunikasi, unit pemadam kebakaran.
4. Persentase mengenai penggunaan tanah untuk jalan dan sarana penunjang
lainnya disesuaikan menurut kebutuhan berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
5. Persentase ruang terbuka hijau ditetapkan minimal 10% sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota bersangkutan.
Di kutip dari : Roestanto WD: Kawasan industri

Kawasan Industri Halaman | 12


2.6. Konsep pengaruh kawasan industri

Pembangunan sector industri yang maju, selain mendatangkan pengaruh


kemakmuran bagi masyarakat, juga member pengaruh terhadap berbagai aspek
seperti lingkungan hidup di sekitar kawasan industri tersebut. Mengingat hal tersebut
tiap usaha untuk meningkatkan pembangunan termasuk pembangunan indutri harus
memperhatikan dampak yang mungkin terjadi sebagai akibat dari kegiatan tersebut.
Dampak pembangunan kawasan industri berlangsung dengan pekat. Selain
mendatangkan pengaruh terhadap perilaku dan peningkatan pendapatan juga
terhadap lingkungan setempat. Dampak tersebut ada yang bersifat positif dan adda
juga yang bersifa negatif. Masuknya kawasan undustri di pedesaan tentunya akan
merubah lingkungan yang pada awalnya bercorak agraris, menjadi bercorak industri.
Demikian pula dalam hal perilaku dan peningkatan perdagangan masyarakat
tentunya akan mengalami pergeseran pula.

Menurut Kristiono (1997) , kawasan industri di maksudkan adalah sebagai


kawasan yang pada dasarnya menerima atau mengalami perubahan-perubahan di
bidang sosial ekonomi dan sosial budaya, baik secara langsung maupun tidak
langsung akibat adanya aktivitas industri. Akibat industri secara langsung
menimbulkan perubahan di bidang sosial ekonomi dikalangan masyarakat di sekitar
pabrik, misalnya mobilitas masyarakat, penyerapan tenaga kerja, dan sebagainya.
Sedangkan perubahan yang bersifat tidak langsung diantaranya adalah
pertumbuhan sector informal, yang pada dasarnya merupakan turunan dari dampak
yang bersifat langsung. Pembangunan ekonomi dewasa ini dicirikan oleh semakin
besarnya peranan sector pertanian. Beralihnya tenaga kerja dari sector pertanian ke
sector non pertanian, yang padda umunya disebabkan pekerjaan-pekerjaan di sector
pertanian memberikan penghasilan atau pendapatan waktu yang relative cepat dan
dalam bentuk uang tunai. Hal ini menunjukan bahwa kesempatan kerja dan
berusaha di sektor industri dan pertanian berbeda, dimana petani biasanya harus
menunggu waktu panen atau saat menjual produksi yang diperoleh dan tidak secara
langsung diperoleh hasil dalam bentuk uang tunai.

Pembangunan industri akan mempengruhi corak perekonomian


masyarakatnya, yaitu perekonomian yang semula bercorak agraris berubah menjadi
bercorak industri. Kehadiran industri berakibat pada peningkatan kesejateraan

Kawasan Industri Halaman | 13


masyarakat atau kata lain keiskinan akan berkurang. Dengan kehadiran industri,
kawasan industri di suatu wilayah, kelompok miskin dapat dikurangi atau dihilangkan
sama sekali mengingat penduduk masyarakat di sekitar wilayah industri semakin
meningkat. Peningkatan pendapatan ini terjadi karena adanya variasi sumber
pendapatan, yang semula primer seperti bidang pertanian atau perikanan saja
kemudian berkembang menjadi sektor perdagangan jasa dan sebagainya.

2.7 Alokasi Peruntukan Lahan Kawasan Industri

Tabel di bawah merupakan standar alokasi peruntukan lahan kawasan


industri untuk lahan industri >50 100 Ha (dengan luas lahan yang dapat di jual
70% dari luas kawasan industri), berdasarkan pedoman teknis pengembangan
kawasan industri (industrial estate) di daerah.

Tabel. 2 Standar Alokasi Peruntukan lahan Kawasan Industri

No. Peruntukan Lahan Standar (%)

1 Kavling Industri 60% 70%


2 Kavling Perumahan Maks. 15%
3 Kavling. Komersial/ Fasilitas Maks. 12,5%
Penunjang Lainnya
4 Jalan dan Sarana Lainnya Sesuai Kebutuhan
5 RTH Min. 10 %

Keterangan :

1. Kapling komersial adalah kapling yang disediakan oleh perusahaan kawasan


industri untuk sarana penunjang seperti perkantoran, bank, pertokoan/tempat
belanja, tempat tinggal sementara, kantin, dan sebagainya
2. Kapling perumahan adalah kapling yang disediakan oleh perusahaan kawasan
industri untuk perumahan pekerja termasuk fasilitas penunjangnya, seperti
tempat olahraga dan sarana ibadah.
3. Fasilitas yang termasuk sarana penunjang lainnya, antara lain pusat kesegaran
jasmani (fitnesscenter), pos pelayanan telekomunikasi, saluran pembuangan air
hujan, instalasi pengolahan air limbah industri, instalasi penyediaan air bersih,
instalasi penyediaan tenaga listrik, instalasi telekomunikasi, unit pemadam
kebakaran.
4. Persentase mengenai penggunaan tanah untuk jalan dan sarana penunjang
lainnya disesuaikan menurut kebutuhan berdasarkan ketentuan yang ditetapkan
oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan.
5. Persentase ruang terbuka hijau ditetapkan minimal 10% sepanjang tidak
bertentangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota bersangkutan.

Kawasan Industri Halaman | 14


BAB III

IDENTIFIKASI LOKASI

3.1. Daerah Penelitian

Lokasi penelitian kami teletak didua kelurahan, yaitu kelurahan Kadoodan dan
kelurahan Madidir weru. Kelurahan kadoodan terdapat kawasan industri PT Bimoli,
dan untuk kelurahan madidir weru terdapat kawasan industri PT Witicko makmur, PT
sari cakalang, dan PT indofood.

3.1.1. Kelurahan Kadoodan

Kelurahan Kadoodan adalah kelurahan yang terletak di kecamatan madidir.


Kelurahan kadoodan mempunyai luas 38 Ha. Dengan batas wilayah sebelah utara
berbatasan dengan gunung dua bersaudara, sebelah timur berbatasan dengan
kelurahan pakadaodan kecamatan maesa, sebelah barat berbatasan dengan
madidir weru dan sebelah selatan berbatasan dengan pantai.

Kawasan Industri Halaman | 15


Tabel 3 : Jumlah penduduk di kelurahan kadoodan, kecamatan madidir

Penduduk bulan April Penduduk Bulan ini Mei


No Lingkungan WNI WNA Jumlah WNI WNA Jumlah
L P L P L P L P L P L P
1 I 428 458 428 458 428 458 428 458
2 II 415 252 415 252 414 249 418 249
3 III 439 181 439 181 439 181 439 181
4 IV 328 305 320 305 329 307 320 307
5 V 429 442 429 442 430 442 430 442
Jumlah 2031 1638 2031 1638 2031 1637 2031 1637

Sumber : kelurahan kadoodan


Tabel 4 Keadaan penduduk kelurahan kadoodan menurut pemeluk agama :

No Pemeluk Agama Jumlah


1 Islam 813
2 Kristen Protestan 2043
3 Kristen Katholik 301
4 Hindu 18
5 Budha 3

Sumber : kelurahan kadoodan


Tabel 5 : Keadaan penduduk menurut mata pencaharian kelurahan kadoodan
:
No Jenis Pekerjaan Jumlah
1 PNS 165
2 TNI 5
3 Polri 9
4 Karyawan 174
5 Tukang 39
6 Pendeta 12
7 Imam 1
8 Buruh 75
9 Tani 64
10 Nelayan 12
11 Sopir 42
12 Pensiunan 71

Sumber : kelurahan kadoodan

Kawasan Industri Halaman | 16


3.1.2 Industri yang terdapat di kelurahan kadoodan :

PT Bimoli :

Gambar. Industri PT Bimoli

3.1.3 Kelurahan Madidir weru

Adalah kelurahan yang terletak di kecamatan madidir dengan luas wilayah


kelurahan 1125 Ha. Dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan
gunung dua bersudara, sebelah timur berbatasan dengan kelurahan kadoodan,
sebelah selatan berbatasan dengan laut, dan sebelah barat berbatasan dengan
kelurahan madidir ure.

Tabel 6 : Jumlah penduduk di kelurahan madidir weru

PENDUDUK
Jumlah KK Jenis kelamin Warga Negara
600 P L WNI WNA
1202 1367 1202 2641 8

Sumber: kelurahan kadoodan

Kawasan Industri Halaman | 17


Tabel 7 Keadaan penduduk menurut pekerjaan di kelurahan madidir weru

No Pekerjaan Jumlah
1 Tani 29
2 Karyawan 131
3 Nelayan 34
4 Jasa 30
5 Swasta -
6 Tukang 48
7 Buruh tani 18

Tabel 8 Keadaan penduduk menurut pemeluk agama di kelurahan madidir weru :

No Agama Jumlah
1 Islam 260
2 Kristen Protestan 1942
3 Kristen Katholik 143
4 Hindu -
5 Budha 53

3.1.4 Jenis-jenis industri di kelurahan madidir weru

1. PT sari cakalang

Gambar. PT sari cakalang tampak dari depan (kiri), tampak dari samping
(kanan)

Kawasan Industri Halaman | 18


2. PT Indofood

Gambar.industri PT Indofood tampak dari depan (kiri), pintu masuk


lokasi industri (kanan)

3. PT Witicko

Gambar. Industri PT witicko tampak dari depan (kiri), hasil produksi PT


Witicko(kanan)

Kawasan Industri Halaman | 19


BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. PT. KERISMAS WITIKCO MAKMUR

PT kerismas witicko makmur adalah industry logam dan elektronik. Industri ini
memproduksi baja gulvanis koil dan lembaran baik gulvanis polos maupun berwarna.
Bahan baku industry ini di import dari jepang dan cina. Tenaga kerja 1200 yang
terbagi dalam tiga shift. Industri ini adalah termasuk dalam industri besar.Selain itu
luas bangunan berkisar 2-3 ha. Dalam hal pemasaran perusahan ini hanya
dilakukan dalam wilayah Indonesia timur, seperti Maluku,Maluku utara dan wilayah
Sulawesi, seperti gorontalo

Kondisi sekitar kawasan industri PT Kerismas Witicko makmur

no Gambar Keterangan gambar


1 Jalan utama menuju
kawasan PT Witicko,

Kawasan Industri Halaman | 20


2 Jalan masuk kawasan
industry

3 Patung ikan di pusat kota


bitung, yang menjadikan
lambang kota bitung

4.2. PT INDOFOOD

Industri PT indofood

PT INDOFOOD adalah industry pangan. PT Indofood Sukses Makmur Tbk


adalah industry mie instan serta usaha di bidang penggilingan gandum menjadi
tepung terigu dan penyertaan modal pada anak perusahaan yang bergerak di bidang
industry makanan olahan terpadu, perkebunan , pengolahan minyak dan lemak
nabati. Jumlah produksi PT Indofood 197.000.000 pak. dengan tenaga kerja 956
orang. Industri ini termasuk industri besar. Ekspor produk mi instan dari PT

Kawasan Industri Halaman | 21


Indofood ke berbagai negara, yakni Taiwan,Cina, hingga ke Amerika serikat melalui
Pelabuhan Bitung.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyatakan pembuatan produk


Indomie dalam negeri tidak bisa lepas dari bahan pengawet. Pasalnya, Indonesia
merupakan negara kepulauan yang sangat luas sehingga pendistribusian Indomie
memerlukan waktu yang cukup lama. bahan pengawet itulah yang menahan produk
Indomie bisa bertahan lama dalam pengirimannya ke berbagai daerah ke Indonesia.
Untuk Indomie yang tidak menggunakan bahan pengawet, seperti yang selama ini
diekspor ke Taiwan harganya menjadi jauh lebih tinggi. Bahan pengawet dengan
jenis Methyl P-Hydroxybenzoate merupakan bahan yang sudah standar Badan
Pengawas Obat dan Makanan. Bahan pengawet yang sama juga dipakai oleh
semua kecap yang beredar di Indonesia (BPOM).

Sistem pengolahan bahan baku indomie Pemasaran berbagai jenis indomie

http://lifestyle.okezone.com/read/2008/07/24/21/130763/search.html

Kondisi sekitar kawasan industri PT Indofood

no Gambar Keterangan gambar


1 Jalan utama menuju kawasan
PT Indofood

Kawasan Industri Halaman | 22


2 Jalan masuk kawasan industri

3 Mushollah 50 M dari dalam


lokasi pabrik

Telepon umum yang terletak di


depan industri PT Indofood

Kawasan Industri Halaman | 23


4.3. PT Sari Cakalang

Industri PT sari Cakalang

PT Sari Cakalang adalah industry perikanan. PT Sari Cakalang adalah


industry yang di miliki oleh Hanny Sondakh yang tak lain adalah walikota bitung.
Industri ini berdiri sejak tahun 1993 yang produksi hasil utamanya adalah ikan
cakalang fufu atau yang lebih di kenal dengan ikan kayu, dengan tenaga kerja 2000
org dan jumlah produksi yang dihasilkan 576 ton. Industri ini termasuk industri besar.
PT sari cakalang ini mengeksport produk ikan kayu sampai ke jepang. Berdasarkan
data Disperindag Bitung pada Desember tahun 2010, realisasi ekspor ke Jepang
mencapai 542,921.69 Kilogram dan nilai mencapai 1,743,470.74 dollar Amerika.
Terdiri dari ikan beku 201.000 Kg dan nilai 137,966 dollar amerika, ikan kayu
277,057 kg dengan nilai 1,519,359.82 dollar amerika, fish meal 49,082 Kg dengan
nilai 37,459.47 dollar amerika, dan ikan kaleng 15,782.49 kg dengan nilai 39,685.45
dollar amerika. ekspor ikan kayu kedua industry ini memiliki kualitas yang baik dan
telah diakui karena sudah melalui laboratorium uji kelayakan yang menyatakan
produksi ikan kayu yang diproduksi sangat layak.

Pengolahan ikan cakalang Pemasaran ikan cakalang

Sumber : indonetwork.co.id

Kawasan Industri Halaman | 24


Kawasan di sekitar industri PT Sari Cakalang

no Gambar Keterangan gambar


1 Jalan utama menuju kawasan
industri

2 Jalan masuk kawasan industry

3 Rumah makan Triple sari yang


buka setiap hari,menyediakan
berbagai macam masakan
seefood

Lapangan sari cakalang yang di


gunakan masyarakat sekitar
sebagai fasilitas olahraga.

Kawasan Industri Halaman | 25


4.4. PT BIMOLI

Industri PT Bimoli

PT Bimoli adalah industri yang bergerak di perkebunan kelapa sawit.


Industri yang tertua di kota bitung ini mempunyai jumlah produksi sebanyak
12000 liter. Dan dengan tenaga kerja 1500 orang, industri termasuk dalam
industri besar. Kebutuhan pabrik minyak goreng sangat tinggi, karena
permintaan pasar luar negeri atas kopra sangat tinggi yakni menembus level
tertinggi di atas Rp. 9,000 per kilogram. PT. Bimoli atau dikenal dengan PT.
Salim Ivomas mematok harga kopra senilai Rp.9600 per Kilogram (Kg).
Produsen asal Salim grup berani mematok harga selangit, mengingat
kebutuhan baku begitu tinggi. Mereka bersedia membayar dengan harga Rp.
9600/kg. Karena kebutuhan CCO sangat tinggi, tapi suplai bahan baku
terbatas. permintaan kopra Bimoli sangat tinggi, tapi yang terpenuhi tidak
sesuai kapasitas produksi. Untuk menutupi kekurangan bahan baku, Bimoli
terpaksa harus mengambil dari Palu, Ternate dan Gorontalo, , harga kopra
yang dibeli pedagang pengumpul di dekat terminal Karombasan dan
pedagang pengumpul di Kelurahan Calaca, dipatok sekitar Rp. 8500 8600
per Kg.

4.4.1 Pengolahan industri Bimoli.

Industri pengolahan kelapa sawit pada perusahaan ini masih tetap


dipegang oleh IndoAgri. Pada pengolahan ini, IndoAgri menggunakan
teknologi mutakhir yang higienis dan dapat menghasilkan produk dengan

Kawasan Industri Halaman | 26


waktu yang singkat namun menghasilkan kuantitas yang banyak. Bahan-
bahan yang digunakan dalam pembuatan minyak kelapa sawit adalah :

Bahan dan Spesifikasi

- 100% minyak sawit, antioxidant TBHQ


- Color Lov. 5 :1.6 R max. (for bottles)
- Color Lov. 5 :2.7 R max. (for jerry cans)
- FFA :0.08% max.
- Kelembaban :0.1% max.
- Nilai Iodine :58.5 min.
- Cloud Point :8.0C max.

Pada pengolahannya, minyak goreng Bimoli menyempurnakan proses


produksinya dengan tahap Pemurnian Multi Proses (PMP). Melalui enam
tahap pemrosesan, PMP dapat mempertahankan secara optimum zat-zat
yang bermanfaat bagi kesehatan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
minyak goreng yang unggul sehingga dapat memuaskan kebutuhan
konsumen dari segala segi.

Para ahli yang menggunakan Bimoli dalam penelitian mereka,


menemukan adanya kandungan Omega 9 sebanyak 40%-45% dalam minyak
goreng Bimoli. Dikenal sebagai asam oleat, Omega 9 umumnya terdapat
pada minyak sawit namun berangsur hilang saat proses pembuatan minyak
goreng. Proses pemurnian Bimoli terbukti dapat mempertahankan kebaikan
dari Omega 9 ini. Bagusnya lagi, Omega 9 juga tahan terhadap panas tinggi.
Saat dilakukan pengujian pada suhu 180C, masih ada sekitar 30% Omega 9
dalam Bimoli. Omega 9 merupakan bagian dari keluarga Omega yang
memiliki asam lemak tak jenuh tunggal atau Mono Unsaturated Fatty Acid
(MUFA). Menurut para ahli internasional, MUFA memiliki khasiat untuk
menurunkan kolesterol LDL dan menaikkan kolesterol HDL.

Kini Omega 9 telah menjadi paradigma baru dalam pengaturan diet


penderita jantung koroner akibat kolesterol berlebih. Menurut ahli jantung dan
pembuluh darah RSCM/Fakultas Kedokteran UI, Dr Fadilah Supari, tingkat
penderita penyakit jantung koroner dan tingkat kematian akibat jantung
koroner akan turun drastis jika penderita mengkonsumsi banyak Omega 9
dan Omega 3.

Kawasan Industri Halaman | 27


Pada proses pengemasannya, kemasan minyak goreng Bimoli dibuat
dan dikemas di bawah pengawasan ketat sesuai standar international guna
untuk kebersihan dan kualitas produk.

Produk minyak goreng Bimoli terdiri


dari 2 jenis yaitu:

a. Bimoli Spesial, dikemas


dalam botol dan wadah transparan,
kejernihan Bimoli Spesial menjadi bukti
khasiat dan manfaatnya bagi kesehatan.
b. Bimoli Klasik, minyak
goreng Bimoli yang lezat ini hadir dalam
banyak ukuran dan wadah untuk
mengakomodasi segala keperluan mulai
dari rumah tangga sampai rumah makan.
Sumber : waytodeal.com

4.4.2 Pemasaran

Untuk mempertahankan market leadership, Bimoli terus melakukan


aktifitas promosi baik berupa advertising, brand activation maupun sales
promotion. Tema komunikasi Bimoli adalah Simbol Kesempurnaan Minyak
Goreng (symbol of cooking oil perfection). Bimoli menggunakan TV
commercial, print ad, editorial dan event-event untuk mengedukasi konsumen
mengenai teknologi pemrosesan PMP (Pemurnian Multi Proses), kandungan
Omega 9 dan benefit lain dari Bimoli.Event yang rutin dilakukan sebagai
brand activation Bimoli seperti lomba masak, demo masak, bazaar dan
sponsorship. Beberapa kegiatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan
berbagai media, baik off air maupun on air.

Penghargaan-penghargaan yang berhasil diraih dan terus


dipertahankan oleh Bimoli sampai tahun 2008 ini, antara lain:

Kawasan Industri Halaman | 28


- Diamond ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Award), untuk tahun
yang ke-9.
- Platinum Brand Award IBBA (Indonesia Best Brand Award), untuk
tahun yang ke-6.
- Top Brand Award untuk tahun yang ke-2.Superbrand Award.

Untuk minyak goreng Bimoli dalam kemasan, Bimoli Bitung bisa


memproduksi hingga 32 ribu kartun perbulan. Sedangkan untuk minyak
curah, pabrik migor terbesar di Sulut mampu menghasilkan 750 ton per bulan.
Produksi pabrik Bitung bisa menghasilkan sekira 400 ton sisanya dari propinsi
lain di Sulawesi. Untuk ukuran minyak curah sekira 20 kilogram, dengan
harga eceran Rp8600 per kg.

Mengingat ukuran dan sifat geografis pasar Indonesia, IndoAgri


mendistribusikan produk-produknya terutama melalui distributor eksternal.
IndoAgri saat ini memiliki sekitar 120 distributor yang bersama-sama dan
langsung melayani sekitar 255.000 gerai ritel di seluruh Indonesia. Ini
termasuk jaringan penjualan distribusi yang luas yang ditetapkan oleh
pemegang saham pengendali, PT Indofood Sukses Makmur (ISM).IndoAgri
mendukung jaringan distribusi dengan memberikan, antara lain :
- pasokan dapat diandalkan produk;
- suara penjualan komersial, kredit dan kebijakan kembali; dan
- strategi pemasaran yang luas yang melibatkan konsumen dan promosi
periklanan serta bertanggung jawab dan ikut terlibat dengan
masyarakat.

Penjualan dan jaringan distribusi yang luas memungkinkan IndoAgri


untuk melayani pasar konsumen Indonesia di hampir semua lokasi dan
segmen secara efisien dan efektif.Hal ini juga memungkinkan IndoAgri untuk
menunjang tingkat produksi yang tinggi dan kurang bergantung pada setiap
provinsi tunggal atau wilayah geografis di Indonesia.

Kawasan Industri Halaman | 29


4.4.3 Persaingan

Persaingan yang terjadi dalam pemasaran Bimoli semakin kuat.


Pesaing-pesaing Bimoli antara lain Filma, Sunco, dan Sania. Kedua pesaing
tersebut muncul dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Kedua pesaing
tersebut mengunggulkan banyak hal, mulai dari minyak yang dapat diminum,
minyak goreng yang irit dan sebagainya.

Namun Bimoli tetap memiliki konsumen setia sendiri. Sasaran bimoli


adalah konsumen ibu rumah tangga dan industri rumah tangga. Bimoli
menggunakan strategi mulai dari ukuran dan iklan-iklan yang menggiurkan
bagi konsumennya.

Kawasan di sekitar industri PT Bimoli :

no Gambar Keterangan gambar


1 Jalan utama masuk kawasan
industri, tampak jalur hijau yang
menghiasi di sepanjang jalan

2 Jalan masuk kawasan industri

Kawasan Industri Halaman | 30


3 Lapangan PT Bimoli di gunakan
sebagai fasilitas olahraga

4 ATM . terdapat di depan pintu


masuk Bimoli.

Kawasan Industri Halaman | 31


BAB V

ANALISIS DAN PERENCANAAN

5.1. Kriteria lokasi

Kriteria lokasi studi di rencanakan dikaitkan dengan dua teori perencanaan


kawasan industri yang dominan yaitu teori perencanaan yang menitkberatkan pada
sektor infrastruktur dan bahan baku, yang dijabarkan oleh Webber dan Louch. Dua
teori ini dipadukan untuk mencapai tujuan kawasan yang ideal sesuai kebutuhan.
Penetapan kawasan tersebut didukung oleh kebijakan rencana umum tata ruang
(RUTRK) yang dijelaskan oleh pemerintah Sulawesi utara telah menetapkan
beberapa kawasan industri pada kota-kota/kabupaten, salah satunya kota bitung.

Yang kemudian lokasi kawasan industri yang kami rencanakan berdasarnkan


teori Webber dan Louch, didukung oleh Kepres No. 59 adalah tempat pemusatan
industri harus di lengkapi sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang lainnya.

Kawasan Industri Halaman | 32


5.1.1 Kriteria-Kriteria :

1. Jaringan jalan yang melayani/transportasi


Kawasan industri yang dipilih lokasinya berada tepi dijalan arteri primer
Manado-Bitung antara PKN dan PKN ( pusat kegiatan nasional Manado-
Bitung)
2. Jaringan jalan yang melayani
Lokasi industri berada didaerah perkotaan kota bitung sehingga ketersediaan
jaringan listrik dan komunikasi menunjang. Standar daya listrik untuk kawasan
industry paling baik 15 KVA/100 m2 luas lantai.

3. Air bersih
Tabel 9 Sumber daya air

No Jenis instalasi Jumlah volume air

1 PDAM Sesuai Kebutuhan

Untuk air bersih standar kebutuhan air bersih per 1 Ha = 3750


galon/hari.
4. Prasarana angkutan

Untuk prasarana angkutan kawasan perencanaan sangat dekat


dengan pelabuhan internasional bitung yang hanya sekitar 3 m.

5. Topografi/kemiringan :
Untuk topografi kawasan perencanaan sesuai standar yang lebih dari
45 (derajat).
Orientasi lokasi :

a) Pasar Lokasi
pasar dari kawasan sangat dekat karena berada dekat dengan
kotakota di Sulawesi utara.
b) Bahan baku

Kawasan Industri Halaman | 33


Untuk bahan baku terutama untuk industri makanan
(cakalang)sangat tersedia karena bitung merupakan salah satu
penghasil perikanan tebesar di Indonesia.
c) Tenaga Kerja
Untuk tenaga kerja dapat menggunakan masyarakat sekitar untuk
membantu perekonomian, dan ketersediaannya cukup dengan SDM
(suber daya manusia )yang standart.
d) Ketersediaan lahan
Ketersedian lahan digunakan cukup sesuai standart yaitu 100 Ha
dan lahan yang tersedia menggunakan lahan belum terbangun di
sekitar pabrik yang telah ada.
6. Jaringan telekomunikasi :

Untuk standar telekomunikasi 4 5 SST/Ha, Termasuk faximile/telex


Telepon umum 1 SST/10 Ha

5.1.2 Dampak Sosial,Ekologi,dan Ekonomi :

1. Dampak Sosial :
a) Tersedianya lapangan pekerjaan terhadap masyarakt di sekitar kawasan
industri.
b) Meningkatnya status sosial masyarakat.
c) Tersedianya fasilitas sosial dan interaksi di kawasan industri seperti
Masjid, dan Gereja.
d) Tersedianya fasilitas olahraga didalam kawasan industri,memudahkan
masyarakat untuk melakukan aktivitas olahraga.

2. Dampak Ekologi :
a) Permintaan akan sumber daya alam semakin bertambah
b) Bertambanhnya jumlah limbah dalam semua bentuk (padat, cair, gas
/pencemaran udara ) disekitar kawasan industri.
c) Lingkungan menjadi tercemar akibat limbah dari pabrik-pabrik tersebut
terutama pada ekosistem laut.
d) Terjadinya kebisingan serta tergangunya masyarakat di sekitar kawasan
industri.

3. Dampak Ekonomi :
a) Meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat sekitar kawasan industri
dengan tersedinya lapangan pekerjaan.
b) Penignkatan pendapatan regional masyrakat.

Kawasan Industri Halaman | 34


c) Meningkatnya pendapatan asli daerah.

5.1.3 Perencanaan kawasan industri

5.1.3.1 Peruntukan Lahan Kawasan Industri

Tabel. 10 Perencanaan Peruntukan Lahan Kawasan Industri


( Luas Kawasan industri 96,5 Ha):

No Jenis penggunaaan lahan Luas (%) Keterangan

1 Kawasan industri 62 % 60 % luas lahan = 12


60 Ha kapling = 60 Ha
2 RTH 10,5 % Luas minimal 10% dari
10,72 Ha luas total area
3 Jalan dan saluran Sesuai kebutuhan - perkerasan jalan
9,5% - sempadan jalan
9,368 Ha - saluran drainase
4 Perumahan 10 % Rumah 7 %
9,72 Ha Tempat ibadah 1 %
Open space 2 %
5 Fasilitas penunjang 10 % - Ipal
6,686Ha - Air bersih
- Gardu
- Bank
- Pertokokaan
- Kantor
pemasaran
- Pemadam
kebakaran
- Rumah sakit

Kawasan Industri Halaman | 35


Tabel 11 Luas Kavling Industri :

No Kavling industri Luas (Ha) Luas (m2) Unit Ukuran


1 Tipe I 5 Ha 50.000 m2 2 330 x 150
2 Tipe II 5 Ha 50.000 m2 2 175 x 285
3 Tipe III 10 Ha 100.000 m2 4 240 x 420

Pembahasan :

Kawasan industri yang di rencanakan 62 % dari standar yang di tetapkan yaitu 60-70
%, terbagi dalam 12 kapling dengan 3 tipe yaitu tipe I , tipe II, tipe II,dengan luas
masing-masing untuk tipe I dan II memiliki luas 5 Ha ( I = 330 x 150, II =175 x 285 )
untuk tipe III dengan luas 10 Ha ( 240 x 420 ).

Tabel 12 Luas Fasilitas Penunjang :

No Fasilitas penunjang Luas (Ha) Luas (m2) Ukuran


1 IPAL 0.96 Ha 9600 m2 240 x 40
2 Gardu Listrik 0.54 Ha 5400 m2 40 x 135
3 Pertokoan 2.0460 Ha 20460 m2 (70 +150)x186 x 1/2

4 Kantor Pemasaran 0.3465 Ha 3465 m2 (165 x 45)1/2


5 Rumah Sakit 0.9222 Ha 9222 m2 (36 + 70)x 174 x 1/2
6 Air Bersih 0.768 Ha 7680 m2 192 x 40
7 Pemadam kebakaran 0.16 Ha 1600 m2 40 x 40
8 Bank 0.5 Ha 5000 m2 10 x 50
9 Pusat Komunikasi 0.4 Ha 4500 m2 50 x 90

Pembahasan :

Fasilitas penunjang yang di rencanakan 6.5 % atau 6.2427 Ha dari standar


yang di tetapkan maksimal 12,5 %, yang terdiri dari IPAL, Air bersih, Gardu listrik,
bank, pertokoan, kantor pemasaran, pemadam kebakaran, rumah sakit.

Kawasan Industri Halaman | 36


Tabel 13 Luas Fasilitas Sosial :

No Fasilitas social Luas (m2) Luas (Ha)


1 Perumahan 67,200 m2 6,72 Ha
2 Fasilitas Peribadatan 9600 m2 0,96 Ha
3 Fasilitas Olahraga 20400 m2 2,04 Ha

Pembahasan :

Untuk fasilitas sosial yang di rencanakan 10 % dari standar yang di tentukan


maksimal 15 %, masing masing untuk rumah 7 % tempat ibadah 1%, dan open
space 2 %

Tabel 14 Luas RTH dan Jalan :

No RTH dan Jalan Luas Ha Luas (m2) Keterangan


1 RTH 10.73 Ha 107.300 m2 RTH kawasan
termasuk pedestrian
kecuali dalam kavling
indutri
2 Jalan 9.3681 Ha 93.3681 m2 Meliputi semua jalan
dalam kawasan
kecuali dalam kavling
industri

Pembahasan :

Untuk RTH dan jalan yang di rencanakan 20 %. Dengan luas 107.30 Ha untuk RTH
dan jalan 19.3681 Ha. RTH meliputi kawasan termasuk pedestrian dan jalan meliputi
semua jalan dalam kawasan kecuali dalam kavling.

Kawasan Industri Halaman | 37


5.1.3.2 Kebutuhan air Kawasan Industri

Tabel 15. Kebutuhan air bersih Kawasan Industri

No Luas (Ha) Kabutuhan Air


1 Industri (60 Ha) 225000 galon/hari
2 Perumahan (9,72 Ha) 36450 galon/hari
3 Pertokoan (2,04 Ha) 7650galon/hari
4 Kantor pemasaran (0.3465 Ha) 1299.37 galon/hari
5 Rumah sakit (0.9222 Ha) 3458.25 galon/hari
6 Bank (0.5 Ha) 1875 galon/hari
7 Pemadam kebakaran (0.16 Ha) 600 galon/hari
8 Pusat komunikasi (0.4 Ha) 1500 galon/hari
Jumlah = 279332.62 galon/hari

Pembahasan :

Untuk kebutuhan air pada kawasan industri dengan standar per 1 Ha = 3750
galon/hari. Dalam hal ini tersedia untuk industri, perumahan, dan fasilitas penunjang
kecuali untuk jalan dan RTH.

5.1.3.3 Daya Listrik Kawasan Industri

Tabel 15 Sumber daya listrik

No Jenis instalasi Jumlah daya listrik (KVa/ m2)

1 Gardu Induk (PLN) 15 KVA/100 m2

2 Genset/Generator 5KVA/ 100 m2

Pembahasan:

Untuk daya listrik kawasan industri diasumsikan dari dua sumber listrik yaitu dari
PLN dan pembangkit listrik Genset/Geneator yang keseluruhan daya listriknya 20
KVA/100m2. Dibandingkan dengan standar yang ada yaitu 15KVA/100 m 2 maka
daya listrik pada kawasan industri bisa terpenuhi.

Kawasan Industri Halaman | 38


BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Perencanaan dan perancangan kawasan industri kadoodan madidir


merupakan perencanaan yang mengembangkan suatu kawasan industri yang ada
dengan memanfaatkan lahan sekitar yang masih belum dan sudah terpakai.

Perencanaan dan pengembangan kawasan industri kadoodan madidir


dilakukan secara komperensif dengan memperhatikan beberapa pertimbangan
utama yaitu pengaturan dan pemanfaatan lahan, sangat memperhatikan adanya
fungsi kegiatan utama maupun kegiatan pendukung sehingga peran kawasan
sebagai pusat pertumbuhan baru yang berbasis industri dapat berjalan bengan baik,
menjaga keseimbangan ekosistem dengan dengan mempertahankan kawasan
preservasi dan konservasi dengan tidak melakukan proses perusakan kawasan bibir
pantai yang tepat berada dalam kawasan perencanaan.

Kawasan industri ini dibagi dalam dua kelompok industri yaitu industri
pangan dan industri metal yang di mana di pisahkan oleh ruang terbuka. Untuk
sarana fasilitas pendukungdi sediakan pemukiman pekrja industri, sarana olah gara
dan ruang terbuka yang dapat dijadikan sebagai sarana interaksi bagi para
pengguna kawasan ini.

Letak lokasi industri ini sangat didukung oleh pelabuhan internasional bitung
yang dapat mempermudah akses untuk transportasi bahan baku dan penyaluran
hasil produksi. Selain itu untuk industri pengelolaan ikan, kawasan ini sangat
bermanfaat besar dikarekanan bitung terkenal dengan hasil dari perikanannya. Dan
hasil produksi dari industri yang berada di kawasan ini dapat langsung dipasarkan di
kota-kota sekitarnya. Selain itu dengan keeradaan kawasan industri ini diharapakan
dapat meningkatkan pendapatan dan mobilisasi penduduk sekitar dan memaju
pertunbuhan ekonomi daerah, dan meningkatkan daya saing.

Kawasan Industri Halaman | 39


Daftar Pustaka

Biro Pusat Statistik, Analisis Perbandingan Industri Besar/Sedang, Kecil dan Rumah
Tangga, (Jakarta, BPS, 1987)

Harbani, Kiki Solayman, Dampak industrialisasi terhadap kondisi sosial budaya


masyarakat desa (Institut Pertanian Bogor, 1998)

PP NO : 24-2009.
http://lifestyle.okezone.com/read/2008/07/24/21/130763/search.html

indonetwork.co.id

waytodeal.com

Kawasan Industri Halaman | 40