Anda di halaman 1dari 39

PENGHITUNGAN INSTRUMEN, JARUM, KASSA DAN

ROL KASSA SEBELUM DAN SESUDAH


OPERASI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
001/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Tindakan yang dilakukan oleh tim bedah untuk memastikan alat-alat dan
konsumable yang dipakai sebelum dan sesudah operasi jumlahnya sama.
TUJUAN Untuk menghindari tertinggalnya instrumen, jarum, kassa dan rol kassa di lokasi
operasi.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Sebelum operasi di mulai, perawat instrumen menghitung jumlah instrumen,
jarum, kassa dan roll kassa yang telah disiapkan di meja instrumen
disaksikan oleh perawat asisten dan sirkuler.
2. Perawat sirkuler memastikan bahwa tempat sampah infeksius untuk operasi
dalam keadaan kosong.
3. Perawat sirkuler mencatat jumlah tersebut dalam lembar daftar tilik
keselamatan bedah
4. Bila ada penambahan instrumen, jarum, kassa dan rol kassa selama operasi
berlangsung, perawat instrumen menghitung jumlah yang di tambahkan dan
perawat sirkuler menulis jumlah penambahan instrumen di lembar daftar tilik
keselamatan bedah.
5. Sebelum luka operasi di tutup, perawat instrumen menghitung kembali
instrumen, jarum, kassa dan rol kassa yang ada di meja instrumen di lokasi
operasi. Perawat sikuler menghitung kassa yang ada di tempat sampah
infeksius (bekas operasi) dan di jumlahkan.
6. Bila semua instrumen, jarum, kassa dan rol kassa jumlahnya lengkap
beritahukan ke dokter operator, dan luka operasi ditutup.
7. Bila ada ketidaksesuaian jumlah instrumen, jarum, kassa dan rol kassa
beritahukan kepada dokter operator. Semua tim operasi mencari instrumen,
jarum, kassa dan rol kassa di lokasi operasi sampai ditemukan.
8. Setelah jumlahnya lengkap, penutupan luka operasi dilanjutkan. Catat jumlah
tersebut dalam lembar daftar tilik keselamatan bedah.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi ( Ruang Bedah )
TIME OUT

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


002/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Kegiatan yang dilakukan untuk memastikan benar pasien, benar prosedur dan
benar area operasi yang dibacakan dan dipimpin oleh perawat sirkuler sebelum
insisi pembedahan dimulai dengan seluruh tim bedah.
TUJUAN Pasien berhak mendapat pelayanan tepat, cepat, aman dan benar.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR Persiapan Alat :
1. Formulir asuhan keperawatan preoperatif
2. Formulir checklist keselamatan bedah
3. Alat tulis.

Sebelum Operasi :
Saat menerima pasien (diruang penerimaan pasien)
Memberi salam kepada pasien memperkenalkan tim yang akan ikut tindakan
pembedahan.
Lakukan pengecekan identitas pasien nama dan tanggal lahir, tanda lokasi
area pembedahan dan waktu pembedahan serta formulir pre dan post
operasi.
Cek semua persiapan alat dan obat-obatan anestesi yang akan di gunakan.
Lakukan cek list dengan benar pada formulir pasien safety.
Lakukan cek list instrumen dengan benar pada formulir pre dan post operasi.

Sebelum Insisi
Lakukan kembali pengecekan sesuai prosedur Time Out oleh tim (diruang
tindakan pembedahan), meliputi :
Benar identitas pasien nama dan tanggal lahir
Benar tanda
Benar posisi
Benar jenis tindakan operasi
Benar alat / instrument
Perawat Instrumentator
Siapkan dan hitung kassa, jarum dan bisturi serta instrument yang akan dipakai
Perawat Sirkuler
Catat jenis dan jumlah kassa, jarum, bisturi dan instrumen yang digunakan.
Memulai prosedur Time Out dengan memberitahukan tim pembedahan dan
dokter anestesi.
TIME OUT

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


002/SPO/OK/RSM/X/2016 00 2/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR Selama Operasi
- Perawat instrumentator
Bila ada penambahan kassa dan instrumen dan hitung kembali.
- Perawat Sirkuler
Catat kassa dan instrumen yang ditambahkan

Sebelum Luka Ditutup


- Perawat Instrumentator
Kumpulkan kassa dan instrumen kemudian hitung kembali.
Hitung kassa yang belum dipakai (sisa).
Bila telah sesuai laporkan ke operator.
- Perawat Sirkuler
Hitung dan catat kassa dan instrumen yang sudah dipakai.
Jumlah kassa / instrumen yang dipakai dan sisa harus sesuai
jumlahnya pada saat sebelum operasi dan sesudah operasi.
Catat nama dan tanda tangan dokter operator.
Mencatat bila ada jaringan yang akan dilakukan pemeriksaan PA.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


MENCUCI ALAT-ALAT STAINLESS

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


003/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Suatu kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan instrument setelah
pemakaian
TUJUAN 1. Agar instrumen bersih dan terawat
2. Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
3. Agar semua instrument dapat dipergunakan dengan baik.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Gunakan apron, sarung tangan dan kaca mata pengaman
2. Siapkan air bersih (air hangat) yang sudah dicampur cairan desinfektan
dengan perbandingan 30 ml : 1000 ml.
3. Instrumen direndam di bak pencucian alat + 15 menit.
4. Alat di sikat satu per satu lalu dibilas dengan air mengalir.
5. Masukkan instrumen ke dalam tempat jaring-jaring agar air yang terisa dialat
menetes.
6. Lap alat instrument dengan menggunakan kain kering
7. Lap alat instrument dengan menggunakan kasa yang sudah dibasahai
dengan paraffin (pemberian paraffin mencegah alat terhindar dari korosi)
8. Alat diset dan masukkan lembaran kertas kecil yang bertulis identitas
pengemas alat
9. Alat yang sudah diset, dibungkus dengan pembungkus alat (2 lapis)
kemudian ikat dengan tali pengikat
10. Alat siap disterilkan dengan menggunakan sterilisator

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


MENCUCI TANGAN UNTUK OPERASI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


004/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Mencuci tangan untuk operasi adalah mencuci tangan secara steril untuk
operasi.
TUJUAN 1. Membunuh kuman yang ada di tangan team bedah.
2. Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Pakai topi, apron, masker dan APD lainnya dengan baik dan benar.
2. Lepaskan semua perhiasan yang ada di tangan (jam, cincin, dll).
3. Kuku yang panjang harus dipotong terlebih dahulu.
4. Basahi tangan sampai ke siku dengan air mengalir.
5. Ambil desinfektan atau sabun lebih kurang 5 ml, ratakan dikedua tangan dan
gosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, punggung kuku, jari-
jari tangan, ujung kuku. Proses ini 3 5 menit.
6. Setelah itu bilas dengan air mengalir, posisikan jari tangan lebih tinggi dari
siku.
7. Bilas kembali dengan alkohol 70%.
8. Hindarkan tangan yang sudah dicuci kontak dengan benda-benda yang tidak
steril pada saat akan memasuki atau didalam ruang tindakan.
9. Lanjutkan dengan pemakaian jas dan sarung tangan steril.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


MENCUKUR RAMBUT DAERAH YANG AKAN
DIOPERASI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
005/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Tindakan membersihkan bulu atau rambut pada daerah (bagian tubuh) yang akan
dioperasi.
TUJUAN 1. Membersihkan daerah yang akan dioperasi dari bulu atau rambut.
2. Mencegah terjadinya infeksi post operasi.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan.
1. Cuci tangan lalu gunakan sarung tangan non steril.
2. Atur posisi pasien dan bebaskan pakaian dari daerah yang akan dicukur.
3. Pasang alas di daerah yang akan dicukur.
4. Periksa daerah yang akan dicukur apakah ada kelainan kulit.
5. Lakukan pencukuran searah dengan tumbuhnya rambut.
6. Bersihkan daerah yang sudah dicukur dengan air atau sabun lalu keringkan.
7. Rapikan pasien dan kembalikan alat-alat yang dipergunakan pada tempatnya.
8. Cuci tangan dan dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi, IGD, VK


PELAYANAN PASIEN DI RUANG TINDAKAN ( KAMAR
OPERASI )
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
006/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Suatu bentuk pelayanan yang diberikan di kamar bedah yang berfungsi untuk
memperlancar tindakan pembedahan dan menjaga keamanan dan kenyamanan
pasien.
TUJUAN Untuk memperlancar jalannya operasi
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Pasang selang aliran gas anestesi sesuai dengan jenis gas O 2, N2O, udara
tekan.
2. Cek mesin anestesi agar siap kapai.
3. Siapkan atau pasang alat-alat monitoring, suction dan diathermi yang
diperlukan.
4. Siapkan alat-alat untuk melakukan intubasi dan pembedahan.
5. Siapkan obat-obatan anestesi dikamar bedah yang diperlukan sesuai dengan
jenis operasi.
6. Bantu dokter anestesi dalam melakukan tindakan pembiusan, antara lain :
Anestesi umum
Anestesi regional
7. Monitor pasien selama tindakan pembedahan berjalan, Misalnya :
Tekanan darah, pernapasan serta infus
Mengawasi perdarahan selama operasi / mencatat tindakan anestesi
berjalan pada formulir catatan anestesi
Mengawasi cairan yang masuk (infus)
Mencatat alat-alat kesehatan yang digunakan pasien.
Mencatat obat-obatan anestesi yang digunakan pasien.
Mencatat instruksi dokter anestesi dalam dokumentasi catatan anestesi.
Mencatat jumlah kassa, jarum dan instrumen yang digunakan.
Membantu membereskan dan pemenuhan kebutuhan selama operasi
berjalan.
8. Bantu dokter anestesi untuk memulihkan kembali pasien dari pembiusan
9. Pindahkan pasien dari meja operasi ke brankar pasien
10.Serah terima pasien yang telah selesai dilakukan operasi keperawat yang
bertugas di ruang pemulihan
11. Bersihkan dan kembalikan alat-alat anestesi dan alat bedah yang sudah
digunakan ketempatnya agar siap pakai kembali.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

MONITORING PASIEN DI RUANG PULIH

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


007/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Suatu kegiatan yang dilakukan oleh perawat anestesi untuk melakukan observasi
kondisi pasien dan tanda-tanda vital selesai pembedahan.
TUJUAN Agar keadaan umum pasien dapat terkontrol dengan baik dan meminimalkan
adanya resiko dan komplikasi pasien setelah pembedahan.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Perawat anestesi melakukan serah terima kepada perawat ruang pulih.
2. Perawat ruang pulih memasang manset untuk pengukuran tekanan darah dan
saturasi O2.
3. Monitoring tingkat kesadaran GCS.
4. Monitoring cairan infus, perdarahan, drain.
5. Perawat ruang pulih melakukan pemantauan terhadap tanda-tanda vital
pasien tiap 5 menit sampai pasien kembali ke ruangan.
6. Perawat ruang pulih melakukan pencatatan keadaan umum pasien di catatan
asuhan keperawatan pasca operasi.
7. Pemantauan dilakukan selama 30-60 menit diruang pulih atau setelah dokter
anestesi menyatakan pasien layak untuk kembali ke ruangan sesuai dengan
kriteria aldrete score.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi
PELAYANAN PASCA ANESTESI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


008/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Pelayanan pasien yang telah menjalani anestesi/operasi umumnya masih dalam
pengaruh obat-obat anestesi sebelum ke ruang rawat inap.
TUJUAN Memonitor fungsi vital pasien dalam batas normal setelah anestesi berakhir
hingga pengaruh obat anestesi hilang serta menjaga dan mengurangi rasa nyeri.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Lakukan serah terima pasien secara jelas tentang data operasi anestesi,
jumlah perdarahan, ataupun penyulit yang terjadi serta pemeriksaan jaringan
hasil operasi bila ada dari ruang tindakan pembedahan ke ruang pulih RR.
2. Lakukan penilaian kesadaran.
3. Berikan bantuan oksigenasi, ventilasi dan pertahankan sirkulasi.
4. Awasi terjadinya hipoventilasi karena depresi pernafasan, obstruksi pangkal
lidah atau cairan, aspirasi cairan lambung dan henti nafas, bila perlu lakukan
pembebasan jalan nafas.
5. Awasi fungsi vital lainnya untuk mencegah terjadinya komplikasi.
6. Berikan analgetik bila diperlukan sesuai instruksi dokter anestesi.
7. Dokter anestesi menentukan pemulangan pasien sesuai dengan kriteria
aldrete.
8. Perawat melakukan koordinasi dengan petugas rawat inap, keluarga pasien
perihal pemulangan pasien di ruang pulih.
9. Dokumentasi dan serah terima pasien.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


PENANDAAN LOKASI OPERASI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


009/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Suatu proses kegiatan pemberian tanda pada lokasi operasi pada pasien sebelum
dilakukan insisi
TUJUAN 1. Mengurangi resiko operasi akibat salah lokasi operasi
2. Mengurangi resiko operasi akibat salah pasien
3. Sebagai petunjuk metode yang akan digunakan untuk pembedahan
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
3. Peraturan direktur nomor 099/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Panduan
Pelayanan Bedah
PROSEDUR 1. Pasien yang direncanakan akan dilakukan operasi sebelum dilakukan
penandaan lokasi operasi dilakukan identifikasi pasien sesuai Prosedur
Identifikasi Pasien Rawat Inap.
2. Setelah identifikasi sesuai, lakukan konfirmasi mengenai rencana tindakan
yang akan dilakukan.
3. Penandaan lokasi operasi harus dilakukan oleh orang yang akan melakukan
tindakan
4. Penandaan lokasi operasi harus dilakukan sebelum pasien masuk kamar
operasi/ ruang tindakan dan dilaksanakan pada saat pasien terjaga dan sadar
jika memungkinkan.
a. Bila pasien akan langsung dilakukan tindakan segera / pada hari yang
sama, maka operator langsung menandai lokasi atau tempat yang akan
dioperasi
b. Bila pasien akan dilakukan tindakan elektif, maka penandaan lokasi
operasi dilakukan pada saat pasien datang di ruang perawatan atau di
Ruang Persiapan Operasi.
5. Pada saat melakukan penandaan lokasi operasi, operator melakukan
verifikasi lokasi yang akan dilakukan kepada pasien / keluarga pasien.
6. Cara penandaan lokasi operasi :
a. Penandaan dilakukan di lokasi operasi atau dekat dengan lokasi operasi
b. Tanda berupa lingkaran yang akan dilakukan operasi dengan jelas
c. Penandaan dilakukan pada semua kasus termasuk sisi ( laterality ),
multiple struktur ( jari tangan, jari kaki, lesi ) atau multiple level ( tulang
belakang )
d. Penandaan menggunakan spidol khusus bedah dan didokumentasikan di
lembar penandaan lokasi operasi
e. Dilakukan pada saat pasien sadar.

PENANDAAN LOKASI OPERASI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


009/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 7. Penandaan lokasi operasi tidak dilakukan pada kasus :
a. Seksio cesar
b. Operasi jantung
c. Kasus intervensi dimana menggunakan kateter / instrument yang diinsersi
( contoh : kateterisasi jantung )
d. Pada kasus dimana lokasi operasit tidak dapat ditandai, misalnya operasi
gigi, penandaan lokasi operasi gigi dilakukan pada foto rontgen gigi /
panoramic, dengan cara melingkari bagian gigi yang akan di operasi pada
foto rontgen
e. Kasus luka bakar
f. Operasi THT seperti tonsillectomy
g. Bayi premature, karena menyebabkan tanda permanen
h. Endoskopi
i. Laparatomi
8. Konfirmasi ulang penandaan lokasi operasi dilakukan saat pembacaan time
out.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi, Instalasi Gawat Darurat, Ruang Perawatan, Rawat Jalan
TINDAKAN GIGI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


010/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Suatu langkah tindakan pengambilan ( pembersihan ) atau penumpatan pada
daerah gigi geligi yang dilakukan di poliklinik gigi.
TUJUAN 1. Memastikan tepat lokasi pada tindakan gigi
2. Memastikan tepat prosedur pada tindakan gigi
3. Memastikan tepat pasien pada saat tindakan gigi
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Laksanakan informed consent tindakan yang akan dilakukan kepada pasien
dan atau keluarga pasien
2. Pastikan identitas pasien dengan mengajukan pertanyaan terbuka mengenai
nama pasien, tanggal lahir dengan mencocokkan pada berkas rekam medis
pasien.
3. Pastikan lokasi tempat tindakan dengan mengajukan pertanyaan kepada
pasien mengenai daerah yang akan dilakukan tindakan gigi ( bila
memungkinkan )
4. Setelah identitas dan lokasi tindakan sudah sesuai lakukan persiapan
perlengkapan :
a. Standar dental set
b. Sarung tangan
c. Masker wajah
5. Cuci tangan dengan sabun antiseptik dan air
6. Pakai sarung tangan dan pelindung muka
7. Posisikan tindakan pasien dengan nyaman dan dapat dicapai secara mudah
oleh operator
8. Lakukan tindakan sesuai dengan prosedur yang diinginkan.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi
PENANDAAN LOKASI PRA PEMBEDAHAN OPERASI
GIGI DI KAMAR OPERASI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
011/SPO/OK/RSM/X/2016 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 28 Oktober 2016
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Tindakan penandaan lokasi pada tindakan pembedahan pada gigi
TUJUAN 1. Untuk memastikan tepat lokasi bagian tubuh pasien yang akan dioperasi
2. Pasien dan atau keluarga memahami lokasi bagian tubuh yang akan dioperasi
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/VI/2016 tentang Kebijakan
Pelayanan Rumah Sakit.
2. Peraturan direktur nomor 152/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Unit Kamar Operasi
PROSEDUR 1. Ucapkan salam
2. Jelaskan tugas yang akan dilakukan

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


LANJUTAN(UNTUKPAB)

MEMBERIKAN SEDASI SEDANG UNTUK ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


012/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Pemberian suatu obat yang menyebabkan penurunan depresi tingkat kesadaran
pasien serta diharapkan masih berespon dengan cepat / berkurang untuk tujuan
tertentu terhadap perintah verbal (stimulus Auditory) yang keras atau rangsang
pada ketuk dahi.
TUJUAN Memberikan suatu obat untuk menurunkan tingkat kesadaran yang diberikan
pada tindakan / prosedur yang membutuhkan sedasi sedang pada anak.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Persiapan Alat dan Obat
obatan
a. Alat alat :
- Orofaringeal airway sesuai ukuran.
- Stetoscope
- Monitor tekanan darah non invasive, saturasi O 2, HR.
- Canul O2, simple mask.
- Syringe 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
b. Obat obatan :
- Sedacum
- Propofol
- Obat narkotik (Morphin, Pethidine, Fentanyl).
2. Prosedur
a. Perawat mengucapkan salam dan memperkenalkan diri pada
keluarga pasien.
b. Identifikasi pasien nama dan tanggal lahir serta mencocokkan
dengan gelang nama pasien.
c. Mengevaluasi kondisi klinis pasien sebelum pemberian sedasi.
d. Mengikut sertakan orang tua (salah satu keluarga inti) pasien
anak untuk mendampingi selama proses pembiusan, hanya sampai anak
tertidur.
e. Memasang monitor tanda tanda vital (ECG, Pulse Oksimetri,
Tensi K/P).
f. Memasang IV line (apabila belum terpasang).
g. Memberikan obat sedasi, dosis disesuaikan dengan berat badan
pasien anak dan rencana tindakan yang akan dilakukan.
h. Untuk sedasi sedang dimana ventilasinya spontan dapat
diberikan oksigen dengan bantuan nasal canul atau simple mask.
i. Semua tindakan ini dipantau dan didokumentasikan di form
catatan anestesi.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

MONITORING SEDASI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


013/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Pemberian suatu obat yang menyebabkan penurunan depresi tingkat kesadaran
pasien serta diharapkan masih berespon dengan cepat / berkurang untuk tujuan
tertentu terhadap perintah verbal (stimulus Auditory) yang keras atau rangsang
pada ketuk dahi.
TUJUAN Memberikan suatu obat untuk menurunkan tingkat kesadaran yang diberikan
pada tindakan / prosedur yang membutuhkan sedasi sedang pada anak.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Identifikasi pasien nama dan tanggal
lahir serta mencocokkan dengan gelang nama pasien.
2. Dokter anestesi melakukan tindakan
sedasi harus sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku.
3. Sedasi dapat dilakukan di OK, IGD,
VK, ICU / NICU.
4. Monitor sedasi dilakukan oleh dr.
Anestesi dan non anestesiologi yang telah berkualifikasi dan dalam
pelaksanaan nya juga dibantu oleh perawat yang telah terlatih
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi
VISITING PRE OPERATIVE OLEH DOKTER
ANESTESI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
014/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Melakukan pre operasi visite oleh dokter anesthesia untuk memastikan kelayakan
pasien untuk dilakukan suatu enis operasi atau tindakan, persiapan yang
diperlukan dan menjelaskan jenis anesthesi yang akan diberikan serta
kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi.
TUJUAN 1. Memeriksa ulang secara menyeluruh
keadaan fisik pasien, diagnosa kerja, hasil laboratorium, pemeriksaan
penunjang, jawaban konsul dari dokter spesialis lain (bila ada) dan rencana
operasi dari dokter bedah yang terlibat.
2. Menentukan persiapan pasien untuk
menjalani prosedur operasi bedah atau suatu tindakan (puasa, produk darah
dll).
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Menerima informasi perihal rencana
operasi (elektif maupun emergency) dari petugas kamar operasi atau
perawat UGD atau perawat ruangan.
2. Melakukan pre operasi visite sesegera
mungkin untuk memastikan kondisi pasien, kelayakan operasi dan persiapan
yang diperlukan oleh anesthesia.
3. Menjelaskan rencana jenis anesthesia
yang akan dilakukan kepada pasien atau keluarga (pasien anak) atau pihak
yang bertanggung jawab terhadap keberadaan pasien.
4. Menjelaskan resiko-resiko pemberian
jenis anesthesia yang direncanakan dan sikap dokter anesthesi terhadap
resiko pembedahan yang mungkin timbul saat prosedur atau suatu tindakan
yang sedang berlangsung di kamar operasi.
5. Menjelaskan kemungkinan rencana
paska bedah untuk di rawat di HCU atau ICU atau kembali ke ruang
perawatan biasa.
6. Mendapatkan persetujuan atau
penolakan secara tertulis atas rencana jenis anesthesia yang dilakukan.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

KRITERIA ALDRETTE SKOR PASIEN DI RUANG


PULIH
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
015/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Kriteria score pasien di ruang pulih adalah metode penilaian kondisi pasien pasca
anestesi umum diruang pulih menggunakan sistem score.
TUJUAN Menjadi acuan standart dalam memulangkan atau memindahkan pasien pasca
anestesia umum (general anestesia).
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR Penilaian menggunakan aldrete score dapat dilakukan oleh dokter spesialis
anestesi dengan kriteria aldrete score 10 baru pasien diizinkan keluar dari ruang
pulih.
No. Objek Kriteria Skor Skor
penilaian Pasien
1. Aktivitas 2. Mampu 2
menggerakan 4 anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
3. Mampu 1
menggerakan 2 anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
4. Belum bisa 0
menggerakan anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
2. Respirasi 1. Mampu bernapas dalam atau batuk. 2
2. Sesak atau pernapasan sedikit 1
terganggu.
3. Apnoe. 0
3. Sirkulasi 1. Tekanan 0
darah 20 % dari tekanan darah pra
anestesi. 1
2. Tekanan
darah 20-50 % dari tekanan darah pra 0
anestesi.
3. Tekanan
darah >50 % dari tekanan dara pra
anestesi.
4. Kesadaran 1. Sad 2
ar penuh. 1
2. Bis 0
a dipanggil atau dibangunkan.
3. Tid
ak memberikan respon (jawaban).
5. Warna Kulit 1. Merah muda. 2
2. Pucat, ikterus. 1
3. Sianosis. 0

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

KONSULTASI ANESTESI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


016/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Konsultasi anestesia adalah suatu prosedur konsultasi manajemen anestesia
yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi pasien.
TUJUAN 1. Mempersiapkan kondisi medis pasien yang akan menjalani
operasi secara optimal.
2. Meningkatkan kewaspadaan dokter operator dan pasien
mengenai kondisi medis pasien.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Perawat mempersiapkan pasien dengan melakukan
validasi identitas pasien mencocokan nama dan tanggal lahir pasien.
2. Mempersiapkan kondisi medis pasien secara optimal
sebelum tindakan operasi.
3. Dokter anestesi melakukan anamnesis pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi medis pasien.
4. Dokter anestesi melakukan konsultasi kedokter spesialis
lain untuk terapi masalah medis yang spesifik.
5. Dokter anestesi membuat perencanaan manajemen
anestesi yang akan dilakukan sesuai kondisi pasien.
6. Dilakukan penggolongan kondisi fisik menurut ASA
(American Society of Anesthesiology).
7. Kegiatan diatas direkam dalam catatan medis.
8. Konsultasi anestesia dapat dilakukan di ruang
perawatan, ruang konsultasi anestesia atau pun di ruang tindakan sebelum
operasi dimulai.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

KUNJUNGAN PRA ANESTESI

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


017/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur

PENGERTIAN Kunjungan pra anestesi adalah suatu kunjungan dokter anestesia yang bertujuan
untuk menilai kondisi pasien, memperkirakan (prediksi) resiko anestesia dan
menjelaskan prosedur anestesia yang diperlukan untuk rencana pembedahan
yang direncanakan dan mendapatkan persetujuan tindakan anestesia (informed
consent).
TUJUAN 1. Mengusahakan pasien dalam kondisi optimal pada saat menjalani tindakan
anestesia dan pembedahan.
2. Mengurangi angka kesakitan dan kematian selama tindakan
anestesia dan pembedahan.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Pembuatan rencana pengelolaan anestesi meliputi :
a. Mempelajari rekam medis.
b. Melakukan wawancara dan pemeriksaan khusus :
Membahas riwayat penyakit, kebiasaan, riwayat anestesi terdahulu,
pengobatan saat ini.
Menilai kondisi fisik yang mungkin merubah keputusan dalam hal
resiko dan pengelolaan anestesi.
c. Meminta dan mempelajari hasil hasil pemeriksaan dan konsultasi yang
diperlukan untuk tindakan anestesi.
d. Menentukan obat obat atau medikasi pra anestesi yang diperlukan untuk
tindakan anestesi.
e. Penjelasan tentang kondisi pasien kepada keluarga atau pasien (dewasa)
sendiri, meliputi diagnosis kerja, rencana tindakan dan faktor penyulit
anestesi serta kemungkinan komplikasi intra maupun paska anestesi. Ahli
anestesia yang bertanggung jawab memeriksa kembali bahwa hal
tersebut diatas sudah dilakukan secara benar dan dicatat dalam rekam
medis pasien.
2. Kunjungan pra anestesi dapat dilakukan diruang rawat, poliklinik anestesi,
tempat lain seperti UGD dan poliklinik bila kondisi memungkinkan.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

MEMBERIKAN SEDASI DALAM UNTUK DEWASA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


018/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Pemberian suatu obat yang menyebabkan depresi kesadaran, dimana pasien
tidak mudah dibangunkan untuk respon tertentu terhadap stimulus nyeri, stimulus
auditory yang keras ataupun rangsang ketuk ringan pada dahi.
TUJUAN Memberikan suatu obat untuk menurunkan tingkat kesadaran yang diberikan
pada tindakan / prosedur yang membutuhkan sedasi dalam untuk dewasa.
Tindakan ini memerlukan bantuan ventilasi dan pengawasan fungsi
kardiovaskuler yang adekuat.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR I. Persiapan alat dan obat obatan
1. Alat alat :
1. Mesin anestesi
2. laryngoscope + blade sesuai ukuran
3. Mangil
4. Stylet
5. Spuit cuff
6. Orofaringeal airway sesuai ukuran
7. Stestoscope
8. Mesin suction
9. Suction catheter sesuai ukuran
10. Tape untuk fiksasi
11. Monitor tekanan darah non invasive, staurasi O 2
HR.
12. Canul O2 simple mask
13. Syringe 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
2. Obat obatan :
1. Sedacum
2. Propofol
3. Obat narkotik (Morphin, Pethidine, Fentanyl).

II. Prosedur Tindakan


1. Fase Pra Indikasi
1. Melakukan ceklist monitoring pasien
yang akan dilakukan tindakan pembiusan.
2. Perawat melakukan cuci tangan.
2. Fase Pra Indikasi
1. Perawat mengucapkan salam dan memperkenalkan diri
2. Perawat meminta pasien untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir
pasien ( bila pasien sadar ) atau meminta keluarga untuk
menyebutkan nama dan tanggal lahir pasien ( bila pasien tidak sadar )

MEMBERIKAN SEDASI DALAM UNTUK DEWASA

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


018/SPO/OK/RSM/I/2017 00 2/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 3. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan kepada pasien
3. Fase Kerja
1. Menyiapkan alat dan obat obatan.
2. Mengevaluasi kondisi klinis pasien sebelum dilakukan pemberian obat
- obatan sedasi.
3. Memasang monitor tanda tanda vital.
4. Memasang IV line, memberikan obat sedasi dengan dosis sesuai
berat badan pasien dan sesuai dengan prosedur / tindakan yang akan
dilakukan.
4. Fase Terminal
1. Atur posisi pasien senyaman mungkin, pasang hek
tempat tidur agar pasien tidak terjatuh.
2. Mencuci tangan setelah tindakan.
3. Melakukan pemantauan dan dokumentasi pada formulir
monitoring sedasi.
Hal hal yang harus diperhatikan :
1. Jika timbul masalah respirasi atau ventilasi (ventilasi
inadekuat / tidak ada nafas spontan) maka dilakukan Basic Life Support
(airway, breathing, circulating) sampai dengan kemungkinan penggunaan
LMA / intubasi.
2. Untuk kasus khusus ditambahkan dengan
pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan kasus tersebut, dan bila
memerlukan ruang bedah (misalnya penderita penyakit paruobstruktif /
restriktif diperlukan spiometri, penderita gagal ginjal diperlukan pemeriksaan
fungsi ginjal, penderita penyakit jantung diperlukan pemeriksaan jantung).

UNIT TERKAIT Kamar Operasi

PERSIAPAN OBAT-OBAT UNTUK INDUKSI ANESTESI


No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
017/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Menyiapkan sediaan obat yang akan pakai sesuai jenis tindakan anestesi baik
regional maupun general anestesi.
TUJUAN 1. Memperlancar jalannya prosedur tindakan anestesi.
2. Mempermudah pengambilan / pemakaian obat yang dibutuhkan.
3. Menghindari kekeliruan dalam pemberian obat kepada pasien.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR Persiapan dilakukan oleh dokter spesialis anestesi dan perawat anestesi. Cara
persiapan :
1. Menyiapkan obat obat sesuai dengan tindakan anestesia di masing
masing kamar operasi.
2. Baca nama obat sediaan yang tercantum pada ampul
atau vial dan tanggal kadaluarsa.
3. Obat dimasukkan didalam syring kemudian diberi label
yang berisi nama obat dan konsentrasi obat, tanggal dan jam pembuatan
dengan jelas.
4. Obat diletakkan diatas trolley anestesi dan siap untuk
dipakai.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


PENGELOLAAN PRA, DURANTE DAN PASCA
ANESTESI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
018/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Pengelolaan Pra, Durante, dan Pasca Anestesi yang dilakukan kepada pasien
untuk memberikan rasa aman dan safety pasien sehingga terhindar dari
kesalahan sebelum maupun sesudah dilakukan tindakan pembiusan.
TUJUAN Untuk memastikan tanggung jawab dokter anestesi dalam menentukan status
medis pasien, membuat rencana pengelolaan anestesi dan memberitahukan
kepada pasien atau keluarga mengenai rencana tersebut.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR PENGELOLAAN PRA ANESTESI
1. Adapun pengelolaan pra anestesia dengan mempelajari rekam medis pasien
(Medical Record).
2. Anamnesis dan pemeriksaan fisik meliputi membahas riwayat medis,
kebiasaan, habituasi, pengalaman anestesi dan terapy obat terdahulu, menilai
aspek-aspek kondisi fisik yang dapat mempengaruhi keputusan berkenaan
dengan resiko dan penatalaksanaan peri operatif.
3. Meminta dan atau mempelajari hasil-hasil pemeriksaan dan konsultasi yang
diperlukan untuk melakukan anesthesia.
4. Menentukan medical pra anesthesia (pre med) yang tepat yang diperlukan
untuk melakukan anesthesia.
5. Adapun di kamar operasi persiapan pra anestesi yang dilakukan meliputi
persiapan tenaga baik dokter anestesi maupun perawat anestesi. Persiapan
alat meliputi mesin anestesi, peralatan intubasi dan persiapan obat baik obat-
obat pre mediksai (narkotik, analgetik dan sedative), obat-obat pelumpuh otot,
obat-obat emergency dan stiker label atau cairan yang digunakan.
PENGELOLAAN DURANTE
Sesuai dengan standar pelayanan anesthesia selama pembiusan, pada
prinsipnya adalah untuk melakukan pemantauan fungsi-fungsi vital pasien yang
dibius, meliputi:
1. Fungsi pernafasan meliputi pemantauan oksigenasi, pemantauan ventilasi.
2. Fungsi sirkulasi untuk memastikan keadekuatan fungsi sirkulatori pasien
selama anestesia dengan metode : Pada setiap pasien yang menjalani
anesthesia harus dipaparkan gambaran EKG secara kontinyu sejak awal
anesthesia hingga meninggalkan lokasi. Dilakukan pemeriksaan dan evaluasi
tekanan darah arterial dan laju jantung setiap 5 menit, fungsi sirkulatori harus
dibuat evaluasi secara kontinyu, paling tidak dengan salah satu dari yang
berikut ini: palpasi nadi, auskultasi bunyi jantung, pemantauan jelas, tekanan
intra arterial, pemantauan nadi peripheral ultrasound atau pletismografi atau
oksimetri pulse
PENGELOLAAN PRA, DURANTE DAN PASCA
ANESTESI
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :
018/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 3. Suhu tubuh mempertahankan suhu tubuh pasien yang sesuai.
Mempertahankan suhu tubuh pasien yang sesuai selama anesthesia dengan
metode memantau adanya perubahan-perubahan signifikan suhu tubuh
secara klinis diinginkan, diantisipasikan atau dicurigai.
PENGELOLAAN PASCA ANESTESIA
1. Semua pasien yang menjalani anesthesia umum, anesthesia regional
harus menjalani tatalaksana pasca anestesi yang tepat yaitu dengan : semua
pasien yang menjalani tindakan anesthesia harus dimasukkan ke Recovery
Room (RR).
2. Seorang pasien yang dipindahkan ke RR harus didampingi oleh seorang
anggota tim pengelola anesthesia yang memahami kondisi pasien. Pasien
tersebut harus dinilai secara kontinyu dan ditandatangani selama pemindahan
dengan pemantauan dan bantuan sesuai dengan kondisi pasien.
3. Setelah tiba di RR pasien harus dinilai kembali oleh anggota tim pengelola
anesthesia yang mendampingi pasien dan laporan verbal diberikan kepada
perawat RR yang bertanggung jawab : Kondisi pasien setelah tiba di RR
harus segera dicatat, perawat anesthesia harus memberikan informasi yang
berkenan dengan kondisi pasien selama pra bedah dan jalannya
pembedahan/anesthesi kepada perawat RR, anggota tim pengelola anesthesi
harus tetap berada di dalam RR sampai perawat RR menerima pengalihan
tanggung jawab.
4. Kondisi pasien di RR harus dinilai secara kontinyu antara lain :
pemantauan oksigenasi, ventilasi, sirkulasi dan suhu. Selama pemulihan
penilaian oksigenasi kuantitatif dilakukan dengan pemasangan oksimetri pulse
dan harus dibuat laporan tertulis yang akurat selama di RR yaitu dengan
penggunaan sistem skor RR yang tepat pada saat pasien masuk, selama di
RR dan saat keluar di RR.
5. Seorang dokter spesialis anestesiologi bertanggung jawab atas
pengeluaran pasien dari RR ada kriteria khusus untuk mengeluarkan pasien
dari RR. Kriteria ini dapat berbeda untuk pasien yang dipindahkan langsung
keruang rawat rumah sakit, ICU atau pulang ke rumah (ODC).

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi, Ruang Perawatan Intensif, Ruang Perawatan Umum
ANESTESIA EPIDURAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


019/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Anestesia epidural adalah tindakan anestesia dengan menyuntikan obat keruang
epidural ditandai dengan hilangnya tahanan (lost off desistance) yang akan
menghasilkan hambatan hantaran rangsang saraf medula spinalis, menyebabkan
hilangnya fungsi otonom, sensoris dan motorik untuk sementara waktu selama
masa kerja obat.
TUJUAN Menghilangkan sensasi pada daerah yang teranestesi sehingga dapat dilakukan
tindakan pembedahan didaerah saraf saraf medulla spinalis yang terblock.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Persiapan pasien :
a. Sudah dilakukan kunjungan pra anestesia, termasuk
informed consent.
b. Sesuai standar anestesia umum.
c. Khusus : pasien telah terpasang jalur intravena yang
lancar minimum satu buah.
2. Persiapan alat dan obat :
a. Jarum epidural sekecil mungkin sesuai pengalaman.
b. Obat anestesia lokal dan ajuvan.
c. Persiapan a dan anti sepsis.
d. Alat alat dan obat obat anestesia umum.
3. Persiapan alat pemantauan :
a. Monitor yang terdiri dari tekanan darah, EKG, pulse oksimeter.
b. Stetoskop.
c. Termometer.
d. Kateter urin terpasang.
4. Cara kerja :
a. Posisi pasien miring dengan lutut dilipat ke perut maksimal, kepala tunduk
ke dada maksimal atau posisi duduk.
b. A dan anti sepsis daerah penyuntikan.
c. Infiltrasi lokal anestesi di daerah penyuntikan.
d. Jarum epidural ditusuk kecelah intervertebrata antara L2-3/L3-4/L4-5
sesuai indikasi dan pengalaman.
e. Jarum epidural Touhy dimasukan pelan pelan dengan spuit yang berisi
udara atau NaCl 5 cc. Spuit didorong sambil memasukkan jarum. Bila
dirasakan hilang tahanan pada spuit dan pendorong dengan mudah
dimasukkan , pertanda ujung jarum telah mencapai ruang epidural.
f. Kateter epidural dimasukkan pelan-pelan melalui jarum Touhy ke arah
kranial sejauh 3-5 cm
g. Obat anestesi lokal dimasukkan setelah dipastikan jarum masuk ke ruang
epidural

ANESTESIA EPIDURAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


019/SPO/OK/RSM/I/2017 00 2/2
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR h. Lakukan test dose dahulu sebanyak 3 cc, ditunggu 3 menit. Bila tidak ada
telinga berdengung, kejang kejang, obat bisa dilanjutkan kedosis penuh.
i. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan dan kesadaran. Bila tekanan
darah turun < 30%, percepat infus, masukan ephedrin 10 mg iv. Bila perlu
diulang tiap 3 menit.
5. Nilai ketinggian hambatan sensorik dan motorik.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi


ANESTESIA SPINAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


020/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Anestesia spinal adalah tindakan anestesia dengan cara menyuntikan obat
anestesia lokal dan ajuvan kedalam ruang subarachnoid yang akan menghasilkan
hambatan hantaran rangsang saraf medula spinalis ditandai dengan keluarnya
cairan LCS (Liquer care spinalis) menyebabkan hilangnya fungsi otonom,
sensoris dan motoris untuk sementara waktu selama masa kerja obat tersebut.
TUJUAN Menghilangkan sensasi pada daerah yang terblok sensoris, motorik dan otonom
sehingga dapat dilakukan tindakan pembedahan pada daerah tersebut.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Persiapan pasien :
a. Sudah dilakukan kunjungan pra anestesia, termasuk informed consent.
b. Sesuai standar anestesia umum.
c. Pasien sudah terpasang jalur intravena yang lancar minimum satu buah.
2. Persiapan alat dan obat
a. Jarum spinal sekecil mungkin sesuai dengan pengalaman.
b. Obat anestesi lokal dan ajuvan.
c. Peralatan a dan antiseptik.
d. Alat-alat dan obat-obatan anestesia umum.
3. Persiapan alat pemantauan
a. Monitor yang meliputi tekanan darah, EKG, pulse oksimetri.
b. Stetoskop.
c. Kateter urin.
4. Cara kerja :
a. Posisi pasien miring dengan lutut dilipat ke perut maksimal kepala tunduk
ke dada maksimal atau posisi duduk dengan kepala tunduk.
b. Lakukan a dan antiseptik daerah penyuntikan.
c. Jarum ditusukkan dicelah intravetebrata antara L2-3 / L3-4 / L4-5 sesuai
indikasi dan pengalaman.
d. Obat anestesia lokal dimasukkan setelah dipastikkan jarum masuk ke
ruang subarachnoid yaitu keluarnya cairan spinal di pangkal jarum.
5. Posisi pasien terlentang kembali, lakukan pengawasan terhadap
tekanan darah, nadi, kesadaran dan pernapasan.
6. Nilai ketinggian hambatan sensoris dan motorik dengan uji Pin-
Prick dan skala Bromage.

UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi

ANESTESI BEDAH ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


021/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/5
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Anestesia Bedah Anak adalah anestesia yang dilakukan pada pediatri pasien usia
12 tahun. yang termasuk pediatri adalah : neonatus, infant, toddler, preschool
children.
TUJUAN 1. Membantu menciptakan kondisi optimal
untuk prosedur bedah yang akan dijalani.
2. Mencegah terjadi morbiditas dan mortalitas
selama pembedahan dan paska bedah.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR Peralatan :
Persiapan kamar operasi :
a. Sirkuit anestesia : sirkuit terbuka Mapleson D (Jackson Ress) dengan
aliran gas segar 2,5 3 x ventilasi semenit untuk mencegah rebreathing.
b. Volume kantung sesuai besar kapasitas vital.
c. Anak dengan BB : 10 20 kg dapat menggunakan sirkuit setengah tertutup
yang berdiameter kecil.
Sarana kamar operasi :
a. Obat obat anestesia termasuk obat resusitasi.
b. Monitor berupa EKG, tekanan darah, pulse oksimeri, stetoskop prekordial.
c. Mesin anestesi beserta kelengkapan pasokan gas.
d. Peralatan jalan napas : sungkup muka, ETT, guedel.
e. Laringoskop dengan bilah anak, stylet dan laryngeal mask.
f. Peralatan penghangat tubuh anak dan alat pemantau suhu.
g. Alat untuk pemberian cairan intravena termasuk kanulasi vena.
h. Alat penghisap (suction).

Bilah laringoskop :
a. Dianjurkan bilah lurus (miller) untuk usia <2 tahun.
b. Standar ukuran bilah laringoskop :

Umur Bilah
Prematur dan Neonatus Miller 0
Bayi s/d 6 8 bulan Miller 0 1
9 bulan s/d 2 tahun Miller 1
2 s/d 5 tahun Macintosh 1
Miller 1 1,5

ANESTESI BEDAH ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


021/SPO/OK/RSM/I/2017 00 2/5
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR Endo Tracheal Tube
a. Tanpa cuff dapat digunakan sampai usia 10 tahun. (tergantung jenis
operasi).
b. Prematur. : 2,5 3,0 mm
c. Neonatus s/d 6 bulan : 3,0 3,5 mm
d. 6 bulan s/d 1 tahun : 3,5 4 mm
e. 1-2 tahun : 4,0 - 5,0 mm
f. >2 tahun : 4,0 5,0 mm
g. Kedalaman tube dari mulut : 10+ usia(tahun)/2

Pengaturan suhu kamar operasi :


a. Suhu optimal antara 26 32 C.
b. Terpasang penghambat alas (blanket rol).
c. Cairan infus, darah dan cairan irigasi harus dihangatkan.

Peralatan pemberian cairan intravena :


a. BB 10 kg menggunakan buret atau infus pump untuk mencegah
pemberian cairan berlebih.
b. BB 10 kg digunakan set infus anak, 1 cc = 60 tetes.
c. Hindari udara yang masuk intravena.
d. Dapat menggunakan three way untuk memberi obat suntik jarak
jauh.

Prosedur :
1. Lakukan kunjungan pre anestesia sebelum operasi sesuai dengan
kesempatan dan waktu yang tersedia.
2. Meminta informed consent sebelum tindakan anestesia dilakukan.
3. Pada pre operatif sudah didapat data mengenai :
a. Riwayat usia kehamilan dan berat badan.
b. Proses persalinan (APGAR SCORE).
c. Riwayat perawatan di rumah sakit.
d. Ada kelainan bawaan atau metabolik.
e. Ada kelainan jalan napas.
4. Pemeriksaan fisik yang mencakup :
b. Keadaan umum, tanda vital, berat badan.
c. Keadaan mulut, rongga mulut, gigi yang dapat mempersulit intubasi.
d. Keadaan jalan napas, respirasi dan sistem kardiovaskuler.
e. Tempat pemasangan kanulasi perifer.

ANESTESI BEDAH ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


021/SPO/OK/RSM/I/2017 00 3/5
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 5. Laboratorium rutin yang harus ada : Hb, Ht, Lekosit, Trombosit, masa
perdarahan dan masa pembekuan. Untuk keadaan khusus dapat diperiksa
foto thorak, EKG, tes fungsi hati, ginjal dan gula darah.
6. Persiapan preanestesi :
a. Puasa:
Usia (Bulan) Susu/makan padat Cairan jernih
6 4 jam 2 jam
6 36 6 jam 3 jam
> 36 8 jam 3 jam
Bila memungkinkan pada saat puasa pasien sudah terpasang jalur intravena
dengan infus (N2/N4/RL sesuai umur) atau bila jadwal operasi tertunda.
7. Premedikasi dan teknik induksi :
7.1. Premedikasi
a. Tidak perlu pada anak 18 bulan, anak > 18 bulan dapat
diberikan midazolam atau diazepam per oral.
b. Tidak perlu diberikan pada anak dengan kelainan mental atau
gangguan jalan napas.
c. Terapi penyakit kronis harus tetap diberikan.
d. Obat sedatif, narkotik, antiemetik dan antikolinergik dapat
diberikan sesuai indikasi.
7.2 Tehnik Induksi
Bayi 8 bulan atau BB <7 kg masuk kamar operasi tanpa sedasi dan
induksi dengan tehnik inhalasi.
7.3. Induksi Inhalasi
Dapat dilakukan bila belum terpasang jalur intravena. Anak usia 8
bulan 5 tahun atau anak yang tidak kooperatif dapat dilakukan induksi
inhalasi setelah disedasi dengan midazolam. Dekatkan sungkup muka ke
wajah dengan aliran gas rendah (1-3 lt/mnt) N 2O dan O2. Konsentrasi
volatile anestesi ditingkatkan bertahap. Saat reflek bulu mata hilang
letakkan sungkup muka dan angkat rahang. Naikan aliran gas segar 2,5
3 kali volume semenit.
7.4. Induksi intramuskular
Untuk anak yang tidak kooperatif atau retardasi mental dapat diinduksi
dengan ketamin 3 5 mg/kgBB im.
7.5. Induksi Intravena
Untuk anak yang sudah terpasang jalur intravena dapat diinduksi dengan
propofol 3-4 mg/kgBB IV atau thiopental 4-6 mg/kgBB IV. Propofol tidak
dianjurkan digunakan pada anak < 3 tahun.

ANESTESI BEDAH ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


021/SPO/OK/RSM/I/2017 00 4/5
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 7.6. Anak dengan lambung penuh
Prinsip sama dengan pasien dewasa dengan tambahan :
a. Atropin 0,02 mg/kg diberikan untuk mencegah bradikardia.
b. Lakukan dekompresi dengan pemasangan pipa naso gastrik atau
orogastrik.
c. Berikan ranitidine 2 mg/kg/hari IV dibagi 3 dosis. Untuk mengurangi
volume lambung dan meningkatkan PH.
d. Intubasi sadar merupakan pilihan pada bayi sakit berat atau dengan
kelainan jalan napas hebat.
8. Intubasi dan pemeliharaan anestesia.
8.1. Intubasi
a. Pemilihan ETT atau laryngeal mask sesuai kebutuhan.
b. Pemasangan ETT atau LM bisa dilakukan dengan atau tanpa
pelumpuh otot.
c. Penggunaan ETT dengan cuff sesuai indikasi (misal : operasi
dirongga mulut).
8.2. Pemeliharaan anestesia
a. Dalam dilakukan dengan inhalasi (halotan, isofluran, sevofluran).
b. Pemeliharaan obat intravena dan pelumpuh otot sesuai indikasi dan
kebutuhan.
9. Pemberian cairan
a. Diberikan cairan dengan rumus 4-2-1 :
10 kg pertama : 4 cc/kgBB/jam
10 kg kedua : 2 cc/kgBB/jam
Kenaikan BB berikutnya : 1 cc/kgBB/jam
b. Cairan yang digunakan adalah ringer laktat dan dapat ditambahkan
cairan yang mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia.
c. Bila diperlukan cairan infus atau tranfusi sesuai dengan perhitungan
kebutuhan cairan perioperatif.
10. Proses pemulihan dan perawatan
10.1. Proses pemulihan
a. Bila menggunakan pelumpuh otot golongan non depolar, dapat
dipertimbangkan pemberian penawar pelumpuh otot.
b. Ekstubasi dilakukan setelah pernapasan adekuat dan mulut bersih
dari cairan atau bekuan darah.
c. Pada pasien dengan kelainan jalan napas atau tidak puasa maka
ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar.
d. Laringospasme dapat terjadi selama proses bangun.
e. Gunakan oropharingeal airway bila pasien belum sadar.
f. Paska anestesia diberikan O2 100%.
g. Observasi pernapasan selama transportasi ke ruang pulih.

ANESTESI BEDAH ANAK

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


021/SPO/OK/RSM/I/2017 00 5/5
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 10.2. Perawatan paska pembiusan
a. Ada supervisi oleh dokter spesialis anestesiologi.
b. Ada perawat anestesia yang mampu mengenali tanda tanda
kegawatan pada anak paska anestesia.
c. Tanda vital harus segera dinilai setiba diruang pemulihan dan
dibuat laporan tertulis yang akurat selama diruang pemulihan.
d. Tersedia alat monitoring, oksigen dan alat penghisap untuk setiap
setiap pasien.
e. Pasien dapat pindah keruang rawat jika sudah sadar, tanda tanda
vital baik.

UNIT TERKAIT Kamar Operasi


ANESTESIA PADA PASIEN RAWAT JALAN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


022/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/1
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Anestesi pada pasien rawat jalan adalah tindakan anestesia yang dilakukan pada
pasien yang tidak memerlukan perawatan paska tindakan, tapi masih memenuhi
keadaan amnesia, analgesia dan penekanan reflek.
TUJUAN Memberi rasa aman dan nyaman pada pasien yang akan dilakukan prosedur
tindakan baik yang menggunakan anestesia umum ataupun monitored anestesia
care. Umumnya dilakukan pada ruang endoskopi, radio diagnosis, radio terapi.
KEBIJAKAN 1. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
2. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR Dilakukan dengan Anetesia umum :
1. Sebelum melakukan tindakan petugas
memanggil nama dan mencocokan tanggal lahir pasien.
2. Lakukan anamnesia dan pemeriksaan fisik
sebelum pemberian obat obat anestesia.
3. Pasang monitor standar yang tersedia dan
oksigen nasal.
4. Pasang jalur intravena dan infuse Ringer Laktat.
5. Premedikasi :
b. Midazolam : 0,07 0,15 mg/kgBB iv.
c. Fentanyl : 1 2 mikrogram/kgBB.
6. Obat induksi dan pemeliharaan :
- Propofol : 1-2 mg/kgBB iv dan bolus
intermiten untuk pemeliharaan.
- Ketamin (untuk anak) : 1-2 mg/kgBB iv.
3-5 mg/kgBB im.
- Atau kombinasi propofol dan ketamin dengan dosis masing masing
diturunkan sampai separuhnya.
7. Setelah selesai pasien dirapikan dan di
observasi.
8. Pasien boleh pulang jika kesadaran kompos
mentis, pernapasan dan tekanan darah baik serta tidak ada mual maupun
muntah.
UNIT TERKAIT Unit Kamar Operasi, Rawat Jalan

ANESTESI REGIONAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


023/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/4
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PENGERTIAN Anestesi regional adalah tindakan anestesi dengan cara memasukkan obat
anestetik lokal pada saraf tertentu sehingga tercapai keadaan analgesik pada
daerah yang dipersarafi oleh saraf.
TUJUAN Untuk memblok saraf sesuai daerah operasi.
KEBIJAKAN 3. Peraturan direktur nomor 007/PER/DIR/RSM/I/2017 tentang Kebijakan
Pelayanan Kamar Operasi
4. Peraturan direktur nomor 165/PER/DIR/RSM/VII/2016 tentang Pedoman
Pelayanan Anestesi
PROSEDUR 1. Dilakukan oleh dokter spesialis anestesi.
2. Jenis tindakan anestesi regional.
1. Anestesi Spinal (Sub Arachnoid)
Pada Anestesi spinal obat anestetik lokal dimasukkan kedalam ruang
sub arachnoid dari medula spinalis.
a. Indikasi :
Operasi abdomen bagian bawah (dibawah umbilicalis).
Operasi ekestremitas bagian bawah : Ortopedi, bedah
plastik, bedah tumor.
Operasi kebidanan : dilatasi / kretase, histerektomi
vaginal, kista ovarium.
Bedah umum / digestive : Haemorhoidektomi, fistel
perianal, abces perianal, herniotomi, appendiktomi.
Bedah urologi : TUR, seksio alta, orkhidektomi,
vesikolitotomi.
b. Kontra Indikasi :
Dekompensasi kordis.
Kelainan mekanisme pembekuan darah.
c. Syarat :
Sudah menanda tangani SIO (Surat Izin Operasi) dan SIA (Surat
Izin Anestesi).
Tidak ada infeksi / kelainan kulit pada tempat penyuntikan.
Tidak alergi terhadap obat anestetik lokal.
Kooperatif
d. Persiapan pasien :
Umum : Sesuai standar persiapan umum pasien untuk tindakan
anestesia.
Khusus : Pasang jalur intravena yang lancar, diberikan cairan
infus sebelum tindakan spinal.

ANESTESI REGIONAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


023/SPO/OK/RSM/I/2017 00 2/4
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR e. Persiapan alat :
Trolley yang sudah di tutup dengan dick steril berisi :
- 1 pasang sarung steril sesuai ukuran.
- 10 kasa steril.
- 1 spuit 3 ml.
- 1 jarum spinal steril.
- Alkohol.
- Bethadin.
- Hansaplast.
f. Persiapan obat-obatan :
Bupivacaine HCL 0,5%.
Catapres 150mg.
Lidorain 2ml.
Ephedrin 50mg.
Ondancentron 8mg.
Midazolam 5mg.
Fentanyl 50mg /ml.
Propofol 10mg /ml.
Emla zalf.
g. Alat monitor :
EKG monitor
Tensi meter
Pulse oksimeter
h. Tindakan :
Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan umur
dan tanggal lahir.
Pasang monitor dan pulse oksimeter.
Ukur tekanan darah.
Posisi pasien miring kiri/kanan, lutut dilipat keperut dan kepala
menunduk sehingga celah intervertebrae terbuka maksimal, atau posisi
duduk dengan posisi kepala menduduk.
Pakai sarung tangan steril.
Dilakukan tindakan a/antiseptik daerah lumbal.
Pilih celah intervertebrae L4-L5 atau L3-L4 dengan menggunakan SIAS
sebagai patokan.
Jarum spinal ditusukkan sampai terasa menembus durameter yang keras
dan diteruskan sedikit (2mm), mandrin dicabut dan tunggu sampai keluar
cairan liquor yang menetes

ANESTESI REGIONAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


023/SPO/OK/RSM/I/2017 00 3/4
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR 2. Anestesi Epidural
Pada anestesi epidural obat anestetik lokal dimasukkan kedalam ruang
epidural dari medulla spinalis.
a. Indikasi :
Operasi abdomen bagian bawah (dibawah umbilicalis).
Operasi abdomen bagian atas (dikombinasi dengan anestesi
umum).
b. Ektremitas bawah : orthopedi, bedah plastik, bedah tumor.
c. Kebidanan : dilatasi / kuretase, histerektomi vaginal, kista ovarium.
d. Bedah urologi : TUR, orkhidektomi, vesikolitotomi.
e. Kontra indikasi
Dekompesasi kordis.
Kelainan mekanisme pembekuan darah.
Nyeri pasca bedah.
f. Persyaratan :
Tidak ada infeksi / kelainan kulit di tempat penyuntikan.
Tidak ada alergi terhadap obat anestetik lokal.
Kooperatif.
g. Persiapan pasien :
Umum : sesuai standar persiapan umum untuk tindakan
operasi dengan tindakan anestesi.
Khusus : pasang jalur intravena yang lancar, berikan
cairan infus.
h. Persiapan alat :
Trolley dengan alas duk steril disitu terletak :
- 1 pasang sarung tangan steril.
- 10 kasa steril.
- 1 spuit 3 ml.
- 1 spuit 10 ml.
- 1 spuit 20 ml.
- 1 buah alat epidural set.
Obat :
- 1 ampul obat anestesi lokal.
- 1 vial obat anestesi epidural
i. Alat monitor
EKG
Tensimeter
Pulse oksimeter

ANESTESI REGIONAL

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman :


023/SPO/OK/RSM/I/2017 00 1/4
Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR Tanggal Terbit :
OPERASIONAL 17 Januari 2017
(SPO) dr. Avicena Indraswara S, SKM,
MARS
Direktur
PROSEDUR j. Tindakan
Pasang monitor EKG dan pulsoksimeter.
Ukur tekanan darah.
Posisi pasien miring kiri / kanan, lutut dilipat ke perut dan kepala
menunduk sehingga celah intervertebrae terbuka maksimal, atau
posisi duduk dengan posisi kepala menunduk.
Pakai sarung tangan steril.
Dilakukan tindakan a/antiseptik daerah lumbal.
Pilih celah intervertebrae L2-3 atau L3-4 dengan menggunakan
SIAS sebagai patokan.
Suntikan anestesi lokal secara infiltrasi di daerah yang dipilih.
Tusukkan jarum epidural lebih kurang 1-1,5 cm.
Cabut mandrin kemudian spuit 20ml yang berisi udara atau
cairan NaCl 0,9%, tangan kiri memegang spuit sambil menahan
pada permukaan kulit pasien. Tangan kanan mendorong jarum
sambil mendorong penghisap sampai menembus lapisan yang
keras dan terasa masuk dalam ruangan dengan tekanan negatif.
Spuit dilepas, yakinkan tidak keluar cairan liquor.
Bila tidak menggunakan kateter masukkan obat anestetik lokal
sebanyak 5 ml sebagai test dose. Tunggu 1 menit sambil
tanyakan pada pasien apakah terasa mendenging ditelinga atau
tidak. Bila tidak ada tanda-tanda tersebut masukkan sisa obat
anestetik lokal, sisanya sesuai dosis yang dikehendaki.
Bila pakai kateter masukkan kateter sampai kedalam yang
ditentukan.
Tempat suntikan ditutup dengan kasa steril yang diberi bethadine
dan diplester.
Pasien dikembalikan pada posisi telentang, kemudian diatur pada
posisi operasi yang dikehendaki.
Ukur tekanan darah, denyut nadi, dan saturasi O 2.

UNIT TERKAIT Kamar Operasi