Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan,
oleh karena itu Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut
Indonesia kaya akan berbagai biota laut baik flora maupun fauna.
Demikian luas serta keragaman jasad jasad hidup di dalam yang
kesemuanya membentuk dinamika kehidupan di laut yang saling
berkesinambungan (Nybakken 1988).

Ekosistem laut merupakan suatu kumpulan integral dari berbagai


komponen abiotik (fisika-kimia) dan biotik (organisme hidup) yang
berkaitan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu unit
fungsional. Komponen-komponen ini secara fungsional tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Apabila terjadi perubahan pada salah satu
dari komponen-komponen tersebut maka akan menyebabkan perubahan
pada komponen lainnya. Perubahan ini tentunya dapat mempengaruhi
keseluruhan sistem yang ada, baik dalam kesatuan struktur fungsional
maupun dalam keseimbangannya.

Dewasa ini, perhatian terhadap biota laut semakin meningkat dengan


munculnya kesadaran dan minat setiap lapisan masyarakat akan
pentingnya lautan. Menurut Bengen (2001) laut sebagai penyedia
sumber daya alam yang produktif baik sebagai sumber pangan, tambang
mineral, dan energi, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau
pariwisata. Karena itu wilayah pesisir dan lautan merupakan tumpuan
harapan manusia dalam pemenuhan kebutuhan di masa datang.

Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat
dimanfaatkan adalah lamun, Lamun (seagrass) adalah tumbuhan
berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai
akar rimpang, daun, bunga dan buah. Dimana secara ekologis lamun
mempunyai beberapa fungsi penting di daerah pesisir. Lamun
merupakan produktifitas primer di perairan dangkal di seluruh dunia dan
merupakan sumber makanan penting bagi banyak organisme.

Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas


organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada
ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustacea,
moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata (
Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan
cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan Makalah Ekologi Perairan Padang


Lamun Dalam Ekosistem Laut adalah sebagai berikut :
1. Agar mahasiswa/i dapat mengetahu apa yang dimaksud dengan
padang lamun
2. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui bagaimana ekosistem yang
terjadi dalam padang lamun itu
3. Agar mahasiswa/i dapat mengetahui apa saja masalah yang
dihadapi dalam ekosistem pada lamun ini
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Padang Lamun
Perairan pesisir merupakan lingkungan yang memperoleh sinar matahari
cukup yang dapat menembus sampai ke dasar perairan. Di perairan ini
juga kaya akan nutrien karena mendapat pasokan dari dua tempat yaitu
darat dan lautan sehingga merupakan ekosistem yang tinggi
produktivitas organiknya. Karena lingkungan yang sangat mendukung di
perairan pesisir maka tumbuhan lamun dapat hidup dan berkembang
secara optimal. Lamun didefinisikan sebagai satu-satunya tumbuhan
berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara penuh di
perairan yang salinitasnya cukup tinggi atau hidup terbenam di dalam air
dan memiliki rhizoma, daun, dan akar sejati. Beberapa ahli juga
mendefinisikan lamun (Seagrass) sebagai tumbuhan air berbunga, hidup
di dalam air laut, berpembuluh, berdaun, berimpang, berakar, serta
berbiak dengan biji dan tunas.

Gambar . Padang Lamun dalam Ekosistem Laut


Karena pola hidup lamun sering berupa hamparan maka dikenal juga
istilah padang lamun (Seagrass bed) yaitu hamparan vegetasi lamun
yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal, terbentuk dari satu jenis
atau lebih dengan kerapatan padat atau jarang. Sedangkan sistem
(organisasi) ekologi padang lamun yang terdiri dari komponen biotik dan
abiotik disebut Ekosistem Lamun (Seagrass ecosystem). Habitat tempat
hidup lamun adalah perairan dangkal agak berpasir dan sering juga
dijumpai di terumbu karang.

Ekosistem padang lamun memiliki kondisi ekologis yang sangat khusus


dan berbeda dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Ciri-ciri
ekologis padang lamun antara lain adalah :

1. Terdapat di perairan pantai yang landai, di dataran lumpur/pasir


2. Pada batas terendah daerah pasang surut dekat hutan bakau atau di
dataran terumbu karang
3. Mampu hidup sampai kedalaman 30 meter, di perairan tenang dan
terlindung
4. Sangat tergantung pada cahaya matahari yang masuk ke perairan.
5. Mampu melakukan proses metabolisme secara optimal jika
keseluruhan tubuhnya terbenam air termasuk daur generatif
6. Mampu hidup di media air asin
7. Mempunyai sistem perakaran yang berkembang baik.

Padang lamun adalah ekosistem pesisir yang ditumbuhi oleh lamun sebagai
vegetasi yang dominan. Lamun (seagrass) adalah kelompok tumbuhan
berbiji tertutup (Angiospermae) dan berkeping tunggal (Monokotil) yang
mampu hidup secara permanen di bawah permukaan air laut (Sheppard et al.,
1996). Komunitas lamun berada di antara batas terendah daerah pasangsurut
sampai kedalaman tertentu dimana cahaya matahari masih dapat mencapai
dasar laut (Sitania, 1998

2.2 Klasifikasi Lamun

Tanaman lamun memiliki bunga, berpolinasi, menghasilkan buah dan


menyebarkan bibit seperti banyak tumbuhan darat. Klasifikasi lamun
adalah berdasarkan karakter tumbuh-tumbuhan. Selain itu, genera di
daerah tropis memiliki morfologi yang berbeda sehingga pembedaan
spesies dapat dilakukan dengan dasar gambaran morfologi dan anatomi.

Lamun merupakan tumbuhan laut monokotil yang secara utuh memiliki


perkembangan sistem perakaran dan rhizoma yang baik. Pada sistem
klasifikasi, lamun berada pada Sub kelas Monocotyledoneae, kelas
Angiospermae. Dari 4 famili lamun yang diketahui, 2 berada di perairan
Indonesia yaitu Hydrocharitaceae dan Cymodoceae. Famili
Hydrocharitaceae dominan merupakan lamun yang tumbuh di air tawar
sedangkan 3 famili lain merupakan lamun yang tumbuh di laut.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapat sebanyak 52 jenis lamun, di mana


di Indonesia ditemukan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili:
(1) Hydrocharitaceae, dan (2) Potamogetonaceae. Jenis yang membentuk
komunitas padang lamun tunggal, antara lain: Thalassia hemprichii,
Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata, dan
Thallassodendron ciliatum.

Eksistensi lamun di laut merupakan hasil dari beberapa adaptasi yang


dilakukan termasuk toleransi terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan
untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga
kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat
terbenam. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi
lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan
polinasi di bawah air.

Secara rinci klasifikasi lamun menurut Den Hartog (1970) dan Menez,
Phillips, dan Calumpong (1983) adalah sebagai berikut :

Devisi : Anthophyta

Kelas : Angiospermae

Famili : Potamogetonacea

Subfamili : Zosteroideae
Genus : Zostera, Phyllospadix, Heterozostera.

2.3 Karakteristik Sistem Vegetatif

Bentuk vegetatif lamun memperlihatkan karakter tingkat keseragaman


yang tinggi, hampir semua genera memiliki rhizoma yang sudah
berkembang dengan baik dan bentuk daun yang memanjang (linear) atau
berbentuk sangat panjang seperti ikat pinggang (belt), kecuali jenis
Halophila memiliki bentuk lonjong.

Gambar . Morfologi Lamun

Berbagai bentuk pertumbuhan tersebut mempunyai kaitan dengan


perbedaan ekologik lamun (den Hartog, 1977). Misalnya Parvozosterid
dan Halophilid dapat dijumpai pada hampir semua habitat, mulai dari
pasir yang kasar sampai lumpur yang lunak, mulai dari daerah dangkal
sampai dalam, mulai dari laut terbuka sampai estuari. Magnosterid dapat
dijumpai pada berbagai substrat, tetapi terbatas pada daerah sublitoral
sampai batas rata-rata daerah surut. Secara umum lamun memiliki
bentuk luar yang sama, dan yang membedakan antar spesies adalah
keanekaragaman bentuk organ sistem vegetatif. Menjadi tumbuhan yang
memiliki pembuluh, lamun juga memiliki struktur dan fungsi yang sama
dengan tumbuhan darat yaitu rumput. Berbeda dengan rumput laut
(marine alga/seaweeds), lamun memiliki akar sejati, daun, pembuluh
internal yang merupakan sistem yang menyalurkan nutrien, air, dan gas.
Akar

Terdapat perbedaan morfologi dan anatomi akar yang jelas antara jenis
lamun yang dapat digunakan untuk taksonomi. Akar pada beberapa
spesies seperti Halophila dan Halodule memiliki karakteristik tipis
(fragile), seperti rambut, diameter kecil, sedangkan spesies
Thalassodendron memiliki akar yang kuat dan berkayu dengan sel
epidermal. Jika dibandingkan dengan tumbuhan darat, akar dan akar
rambut lamun tidak berkembang dengan baik. Namun, beberapa
penelitian memperlihatkan bahwa akar dan rhizoma lamun memiliki
fungsi yang sama dengan tumbuhan darat. Akar-akar halus yang tumbuh
di bawah permukaan rhizoma, dan memiliki adaptasi khusus (contoh :
aerenchyma, sel epidermal) terhadap lingkungan perairan. Semua akar
memiliki pusat stele yang dikelilingi oleh endodermis. Stele
mengandung phloem (jaringan transport nutrien) dan xylem (jaringan
yang menyalurkan air) yang sangat tipis. Karena akar lamun tidak
berkembang baik untuk menyalurkan air maka dapat dikatakan bahwa
lamun tidak berperan penting dalam penyaluran air.

Patriquin (1972) menjelaskan bahwa lamun mampu untuk menyerap


nutrien dari dalam substrat (interstitial) melalui sistem akar-rhizoma.
Selanjutnya, fiksasi nitrogen yang dilakukan oleh bakteri heterotropik di
dalam rhizosper Halophila ovalis, Enhalus acoroides, Syringodium
isoetifolium dan Thalassia hemprichii cukup tinggi lebih dari 40 mg
N.m-2.day-1. Koloni bakteri yang ditemukan di lamun memiliki peran
yang penting dalam penyerapan nitrogen dan penyaluran nutrien oleh
akar. Fiksasi nitrogen merupakan proses yang penting karena nitrogen
merupakan unsur dasar yang penting dalam metabolisme untuk
menyusun struktur komponen sel.

Diantara banyak fungsi, akar lamun merupakan tempat menyimpan


oksigen untuk proses fotosintesis yang dialirkan dari lapisan epidermal
daun melalui difusi sepanjang sistem lakunal (udara) yang berliku-liku.
Sebagian besar oksigen yang disimpan di akar dan rhizoma digunakan
untuk metabolisme dasar sel kortikal dan epidermis seperti yang
dilakukan oleh mikroflora di rhizospher. Beberapa lamun diketahui
mengeluarkan oksigen melalui akarnya (Halophila ovalis) sedangkan
spesies lain (Thallassia testudinum) terlihat menjadi lebih baik pada
kondisi anoksik.

Larkum et al (1989) menekankan bahwa transport oksigen ke akar


mengalami penurunan tergantung kebutuhan metabolisme sel epidermal
akar dan mikroflora yang berasosiasi. Melalui sistem akar dan rhizoma,
lamun dapat memodifikasi sedimen di sekitarnya melalui transpor
oksigen dan kandungan kimia lain. Kondisi ini juga dapat menjelaskan
jika lamun dapat memodifikasi sistem lakunal berdasarkan tingkat
anoksia di sedimen. Dengan demikian pengeluaran oksigen ke sedimen
merupakan fungsi dari detoksifikasi yang sama dengan yang dilakukan
oleh tumbuhan darat. Kemampuan ini merupakan adaptasi untuk kondisi
anoksik yang sering ditemukan pada substrat yang memiliki sedimen liat
atau lumpur. Karena akar lamun merupakan tempat untuk melakukan
metabolisme aktif (respirasi) maka konnsentrasi CO2 di jaringan akar
relatif tinggi.

Rhizoma dan Batang

Semua lamun memiliki lebih atau kurang rhizoma yang utamanya adalah
herbaceous, walaupun pada Thallasodendron ciliatum (percabangan
simpodial) yang memiliki rhizoma berkayu yang memungkinkan spesies
ini hidup pada habitat karang yang bervariasi dimana spesies lain tidak
bisa hidup. Kemampuannya untuk tumbuh pada substrat yang keras
menjadikan T. Ciliatum memiliki energi yang kuat dan dapat hidup
berkoloni disepanjang hamparan terumbu karang.

Struktur rhizoma dan batang lamun memiliki variasi yang sangat tinggi
tergantung dari susunan saluran di dalam stele. Rhizoma, bersama sama
dengan akar, menancapkan tumbuhan ke dalam substrat. Rhizoma
seringkali terbenam di dalam substrat yang dapat meluas secara ekstensif
dan memiliki peran yang utama pada reproduksi secara vegetatif dan
reproduksi yang dilakukan secara vegetatif merupakan hal yang lebih
penting daripada reproduksi dengan pembibitan karena lebih
menguntungkan untuk penyebaran lamun. Rhizoma merupakan 60
80% biomas lamun.

Daun

Seperti semua tumbuhan monokotil, daun lamun diproduksi dari


meristem basal yang terletak pada potongan rhizoma dan
percabangannya. Meskipun memiliki bentuk umum yang hampir sama,
spesies lamun memiliki morfologi khusus dan bentuk anatomi yang
memiliki nilai taksonomi yang sangat tinggi. Beberapa bentuk morfologi
sangat mudah terlihat yaitu bentuk daun, bentuk puncak daun,
keberadaan atau ketiadaan ligula. Contohnya adalah puncak daun
Cymodocea serrulata berbentuk lingkaran dan berserat, sedangkan C.
Rotundata datar dan halus. Daun lamun terdiri dari dua bagian yang
berbeda yaitu pelepah dan daun. Pelepah daun menutupi rhizoma yang
baru tumbuh dan melindungi daun muda. Tetapi genus Halophila yang
memiliki bentuk daun petiolate tidak memiliki pelepah.

Anatomi yang khas dari daun lamun adalah ketiadaan stomata dan
keberadaan kutikel yang tipis. Kutikel daun yang tipis tidak dapat
menahan pergerakan ion dan difusi karbon sehingga daun dapat
menyerap nutrien langsung dari air laut. Air laut merupakan sumber
bikarbonat bagi tumbuh-tumbuhan untuk penggunaan karbon inorganik
dalam proses fotosintesis.

D. Struktur vegetasi lamun secara umum


Struktur vegetasi berasal dari dua kata, yakni struktur yang berarti

bentuk dari sebuah susunan, dan vegetasi yang berarti keseluruhan komunitas

tumbuh-tumbuhan yang menempati suatu ekosistem. Jadi struktur vegetasi

lamun merupakan bentuk susunan komunitas lamun yang tumbuh di suatu

ekosistem.

Menurut tipe vegetasinya, padang lamun dapat dibagi menjadi 3

kelompok, sebagai berikut (Makwin, 2010) :

a. Padang lamun vegetasi monospesifik (monospesifik seagrass beds)

Hanya terdiri dari 1 spesies saja. Contoh jenis lamun yang dapat

membentuk vegetasi tunggal, yakni Enhalus accoroides, Halodule

uninervis, Halophila ovalis, dan Thalassia hemprichii.

b. Padang lamun vegetasi asosiasi 2 atau 3 spesies

Ini merupakan komunitas lamun yang terdiri dari 2 sampai 3 spesies

saja. Dan lebih sering dijumpai dibandingkan padang lamun

monospesifik.

c. Padang lamun vegetasi campuran (mixed seagrass beds)

Padang lamun campuran umumnya terdiri dari sedikitnya 4 dari 7

spesies, yakni Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata,

Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis,

Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Tetapi padang

lamun campuran ini, dalam kerangka struktur komunitasnya, selalu

terdapat asosiasi spesies Enhalus acoroides dengan Thalassia


hemprichii (sebagai spesies lamun yang dominan), dengan

kelimpahan yang lebih tinggi

dibandingkan spesies lamun yang lain.

Menurut Kiswara (1992), vegetasi lamun di rataan terumbu dan

gugus Pulau Pari dapat dikelompokkan menjadi 3 sub-komunitas yaitu

vegetasi lamun yang tumbuh di substrat lumpur dengan ketebalan lumpur

sampai 1.20 m. Vegetasi lamun yang tumbuh di substrat pasir; serta vegetasi

lamun yang tumbuh di substrat pasir berkoral.

Sedangkan struktur vegetasi lamun yang akan diamati dalam

penelitian ini, yakni tipe dari struktur vegetasi lamun yang ada di perairan

Pulau Saronde, seperti tipe padang lamun vegetasi tunggal, tipe padang

lamun vegetasi asosiasi 2 atau 3 spesies, dan tipe padang lamun vegetasi

campuran, serta perbandingan struktur vegetasi lamun di masing-masing

stasiun penelitian.

E. Jenis-jenis lamun di indonesia

Di perairan Indonesia, terdapat 12 jenis lamun. Berikut deskripsi

mengenai jenis-jenis lamun yang ada di perairan Indonesia menurut Coremap

(2007), Amran (2007), dan Nur (2011) :

1. Thalassia hemprichii

Helai daun membujur sampai sedikit lebar (pita) dengan beberapa

garis coklat, ujung daun membulat (panjang 5 sampai 20 cm, lebar 4 sampai

10 mm) bergaris pinggir seluruhnya, ujung daun tumpul. Seludang daun


keras, panjang 3 sampai 7 cm. Rimpang menjalar, diameter 3 sampai 5 mm,

panjang antar ruas 4 sampai 7 mm. Adapun bentuk lamun jenis Thalassia

hemprichii, dapat dilihat seperti pada Gambar 2 berikut (Coremap, 2007) :

Gambar 2. Thalassia hemprichii.

Sumber : Coremap, 2007.

Tumbuh di substrat pasir-lumpuran sampai pecahan karang dari daerah atas

pasang tinggi sampai ke surut rendah, kadang-kadang muncul di atas

permukaan air selama surut rendah (Coremap, 2007).

2. Halophila ovalis

Helai daun bulat telur dan bergaris (panjang 1 sampai 2,5 cm, lebar

3 sampai 10 mm), dengan tulang daun yang jelas dan 1 sampai 20 pasang

daun yang sebelah-menyebelah memotong urat daun. Panjang tangkai daun 1

sampai 4 cm. Rimpang menjalar dan bulat (diameter 1 sampai 2 mm).

Adapun bentuk lamun jenis Halophila ovalis dapat dilihat seperti pada

Gambar 3 berikut (Coremap, 2007) :


Gambar 3. Halophila
ovalis. Sumber :
Coremap, 2007.

Tumbuh di substrat lumpur, pasir-lumpuran sampai pecahan karang

mulai dari atas pasang tinggi sampai di bawah surut rendah, kadang-kadang

bercampur dengan jenis lamun lain (Coremap, 2007).

3. Cymodocea rotundata

Tanaman ramping, mirip dengan Cymodocea serrulata, daun seperti

garis lurus (panjang 6 sampai 15 cm, lebar 2 sampai 4 mm), bentuk daun

lurus sampai agak bulat, tidak menyempit sampai ujung daun. Ujung daun

bulat dan seludang daun keras. Rimpang ramping (diameter 1 sampai 2 mm,

panjang antar ruas 1 sampai 4 cm). Adapun bentuk lamun jenis Cymodocea

rotundata dapat dilihat pada Gambar 4 berikut (Coremap, 2007) :

Gambar 4. Cymodocea rotundata. Sumber : Coremap, 2007.


Lamun jenis Cymodocea rotundata tumbuh di pasir-lumpuran atau

pasir dengan pecahan karang di daerah pasang surut, kadang-kadang

bercampur dengan jenis lamun lain (Coremap, 2007)

4. Cymodocea serrulata

Tanaman mirip Cymodocea rotundata, daun lebih panjang (panjang

5 sampai 15 cm, lebar 4 sampai 10 mm) dan lebih bulat, ujung daun bulat

dengan sedikit gerigi. Seludang daun kokoh. Rimpang gemuk (diameter 2

sampai 3 mm, panjang antar ruas 2 sampai 5 mm), dengan tunas tegak yang

pendek, setiap ruas ada 2 sampai 4 daun. Adapun bentuk lamun jenis

Cymodocea serrulata dapat dilihat padaGambar 5 berikut (Coremap, 2007) :

Gambar 5. Cymodocea
serrulata. Sumber :
Coremap, 2007.

Tumbuh pada substrat pasir-lumpuran atau pasir dengan pecahan

karang pada daerah pasang surut, kadang-kadang bercampur dengan jenis

lamun yang lain (Coremap, 2007).

5. Halodule uninervis
Tanaman lurus, mirip dengan Halodule pinifolia. Daun kadang-

kadang melengkung pada ujungnya dan sempit pada bagian pangkal (panjang

5 sampai 15 cm, lebar 1 sampai 4 mm), dan mempunyai sel-sel tanin yang

kecil. Urat atau tulang daun bagian tengah jelas. Ujung daun dengan dua gigi

bagian samping dan satu gigi di tengah yang berakhir pada tulang daun.

Rimpang menjalar (diameter 1 sampai 2 mm). Adapun bentuk lamun jenis

Halodule uninervis dapat dilihat seperti pada Gambar 6 berikut (Coremap,

2007) :

Gambar 6. Halodule uninervis.

Sumber : Coremap, 2007.

Tumbuh di substrat pasir atau pasir dengan koral dari daerah

pasang tinggi sampai pasang rendah, kadang-kadang bercampur dengan jenis

lamun lain (Coremap, 2007).

6. Syringodium isoetifolium

Tanaman dengan batang pendek, ada 1 sampai 3 daun bulat pada

setiap ruas (panjang 7 sampai 20 atau 30 cm, diameter 2 sampai 3 mm). Helai

daun menyempit di bagian dasar, nampak pembuluh tengah pada potongan


melintang. Rimpang bulat dan menjalar dengan cabang yang tidak teratur

(diameter 2 sampai 3 mm). Adapun bentuk lamun jenis Syringodium

isoetifolium dapat dilihat seperti pada Gambar 7 berikut (Coremap, 2007)

Gambar 7. Syringodiumisoetifolium.
SumberCoremap, 2007.

Tumbuh padat di substrat pasir atau pasir dengan pecahan karang di

daerah bawah surut rendah bercampur dengan jenis lamun lain, tetapi

kadang-kdang ditemukan tumbuh sendiri (Coremap, 2007).

7. Enhalus acoroides

Tanaman lurus, 2 sampai 5 daun muncul dari rimpang yang tebal dan kasar

dengan beberapa akar-akar kuat. Daun seperti pita atau pita rambut (panjang

40 sampai 90 cm, lebar 1 sampai 5 cm). Rimpang merambat, kasar, tidak

bercabang atau bercabang (diameter 1 sampai 3 cm), dikelilingi oleh kulit

luar yang tebal. Akar panjang dan berbulu (panjang 5 sampai 15 cm,

diameter 2 sampai 4 mm). Adapun bentuk lamun jenis Enhalus acoroides

dapat dilihat seperti pada Gambar 8 berikut (Coremap, 2007) :


Gambar 8. Enhalus acoroides.
Sumber : Coremap, 2007.
Tumbuh pada substrat pasir-lumpuran sampai pecahan karang mulai

dari bagian surut terendah sampai ke bagian surut tengah, bercampur dengan

jenis lamun lain, tetapi kadang-kadang ditemukan tumbuh sendiri (Coremap,

2007).

8. Halodule pinifolia

Tanaman lurus, mirip dengan Halodule uninervis. Panjang daun 5

sampai 20 cm, lebar 0,8 sampai 1,5 mm), dan mempunyai sejumlah sel tanin

kecil. Urat bagian tengah daun jelas, tetapi urat antara bagian tepi tidak jelas.

Panjang seludang daun 1 sampai 4 cm. Rimpang merambat (diameter 1

sampai 1,5 mm), dengan batang pendek pada setiap ruas. Pada bagian tengah

daun terdapat celah berbentuk huruf V. Adapun bentuk lamun jenis Halodule

pinifolia dapat dilihat seperti pada Gambar 9 berikut (Coremap, 2007) :


Gambar 9. Halodule pinifolia.
Sumber : Coremap, 2007.
Tumbuh pada substrat pasir-lumpuran atau pasir dengan pecahan karang mulai pada

pasang tertinggi ke daerah pasang tengah, kadang-kadang bercampur dengan jenis lamun lain

(Coremap, 2007).

9. Halophila minor

Lamun jenis ini serta helaian daunnya sangat mirip dengan Halophila ovalis tetapi

lebih kecil (panjang 0,7 sampai 1,4 cm) dan jumlah urat daun juga lebih sedikit (3 sampai 8

pasang). Rimpang tipis dan mudah patah. Adapun bentuk lamun jenis Halophila minor dapat

dilihat seperti pada Gambar 10 berikut (Coremap, 2007) :

Gambar 10. Halophila minor.


Sumber : Coremap, 2007.
Lamun jenis Halophila minor lebih sering dijumpai hidup berdampingan dengan vegetasi

lamun yang tidak menutup penuh permukaan sedimen, seperti jenis Halophila ovalis,

Syringodium isoetifolium, Halodule uninervis, Halodule pinifolia, Cymodocea rotundata, dan

Cymodocea rotundata (Coremap, 2007).

18
10. Thalassodendron ciliatum
Rimpang mempunyai ruas-ruas dengan panjang 1,5 sampai 3,0 cm. Tegakan batang

mencapai 10 sampai 65 cm. Daun-daunnya berbentuk seperti pita. Akar dan rimpangnya

sangat kuat sehingga sangat cocok untuk hidup pada berbagai tipe sedimen termasuk di

sekitar bongkahan batuan karang. Adapun bentuk lamun jenis Thalassodendron ciliatum

dapat dilihat seperti pada Gambar 11 berikut (Coremap, 2007) :

Gambar 11. Thalassodendron ciliatum.


Sumber : Coremap, 2007.
Lamun jenis Thalassodendron ciliatum dijumpai pada dasar perairan yang cekung

dan berdekatan dengan daerah tubir terumbu karang (Coremap, 2007).

11. Halophila spinulosa

Bentuk daunnya bulat-panjang menyerupai pisau wali, memiliki 4 sampai 7 pasang tulang

daun. Daun dapat berpasangan sampai 22 pasang, serta memiliki tangkai yang panjang.

Adapun bentuk lamun jenis Halophila spinulosa dapat dilihat seperti pada Gambar 12 berikut

(Nur, 2011) :

19
Gambar 12. Halophila spinulosa.

Sumber : Nur, 2011

Lamun jenis Halophila spinulosa tumbuh pada rataan terumbu karang yang rusak

(Bengen, 2004 dalam Dahuri 2003 dalam Amran 2007).

12. Halophila decipiens

Bentuk daunnya bulat-panjang dan menyerupai pisau wali. Sama halnya dengan

Halophila spinulosa dan Halophila minor. Pinggiran daun seperti gergaji, daun membujur

seperti garis dengan panjang 50 sampai 200 mm. Adapun bentuk lamun jenis Halophila

decipiens dapat dilihat seperti pada Gambar 13 berikut (Nur, 2011) :

Gambar 13. Halophila decipiens. Sumber : Nur, 2011.

Lamun jenis Halophila decipiens tumbuh pada substrat berlumpur (Bengen, 2004 dalam
Dahuri 2003 dalam Amran 2007).

2.4 Fungsi Padang Lamun

20
Menurut Azkab (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu ekosistem di laut
dangkal yang paling produktif. Di samping itu juga ekosistem lamun mempunyai
peranan penting dalam menunjang kehidupan dan perkembangan jasad hidup di laut
dangkal, sebagai berikut :

1. Sebagai produsen primer : Lamun memiliki tingkat produktifitas primer tertinggi bila
dibandingkan dengan ekosistem lainnya yang ada dilaut dangkal seperti ekosistem
terumbu karang (Thayer et al. 1975).
2. Sebagai habitat biota : Lamun memberikan tempat perlindungan dan tempat
menempel berbagai hewan dan tumbuh-tumbuhan (alga). Disamping itu, padang
lamun (seagrass beds) dapat juga sebagai daerah asuhan, padang pengembalaan dan
makanan berbagai jenis ikan herbivora dan ikan-ikan karang (coral fishes) (Kikuchi &
Peres, 1977).
3. Sebagai penangkap sedimen : Daun lamun yang lebat akan memperlambat air yang
disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan disekitarnya menjadi tenang.
Disamping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedmen,
sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Jadi, padang lamun
disini berfungsi sebagai penangkap sedimen dan juga dapat mencegah erosi
(Gingsuburg & Lowestan, 1958).
4. Sebagai pendaur zat hara : Lamun memegang peranan penting dalam pendauran
berbagai zat hara dan elemen-elemen yang langka dilingkungan laut. Khususnya zat-
zat hara yang dibutuhkan oleh algae epifit.

Sedangkan menurut Philips & Menez (1988), ekosistem lamun merupakan salah satu
ekosistem bahari yang produktif, ekosistem lamun pada perairan dangkal berfungsi
sebagai :

1. Menstabilkan dan menahan sedimensedimen yang dibawa melalui tekanantekanan


dari arus dan gelombang.
2. Daun-daun memperlambat dan mengurangi arus dan gelombang serta
mengembangkan sedimentasi.
3. Memberikan perlindungan terhadap hewanhewan muda dan dewasa yang
berkunjung ke padang lamun.
4. Daundaun sangat membantu organisme-organisme epifit.
5. Mempunyai produktifitas dan pertumbuhan yang tinggi.

21
6. Menfiksasi karbon yang sebagian besar masuk ke dalam sistem daur rantai makanan.

Selain itu secara ekologis padang lamun mempunyai beberapa fungsi penting bagi
wilayah pesisir, yaitu :

1. Produsen detritus dan zat hara.


2. Mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak, dengan sistem perakaran
yang padat dan saling menyilang.
3. Sebagai tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar, dan memijah bagi
beberapa jenis biota laut, terutama yang melewati masa dewasanya di lingkungan ini.
4. Sebagai tudung pelindung yang melindungi penghuni padang lamun dari sengatan
matahari.

Selanjutnya dikatakan Philips & Menez (1988), lamun juga sebagai komoditi yang
sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat baik secara tradisional maupun secara
modern. Adapun pemanfaatan lamun tersebut baik secara modern maupun tradisional
yaitu sebagai berikut :

Secara Tradisional Secara Modern


Dimanfaatkan untuk kompos dan Penyaring limbah
pupuk Stabilizator pantai
Cerutu dan mainan anak-anak Bahan untuk pabrik kertas
Dianyam menadi keranjang Makanan
Tumpukan untuk pematang Sumber bahan kimia

22
Pembuatan kasur (sebagai pengisi Dan obat-obatan
kasur)
Dan dibuar jaring ikan

Di alam padang lamun membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi
berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air.
bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai.
Keberadaan ekosistem padang lamun masih belum banyak dikenal baik pada kalangan
akdemisi maupun masyarakat umum, jika dibandingkan dengan ekosistem lain seperti
ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove, meskipun diantara ekosistem
tersebut di kawasan pesisir merupakan satu kesatuan sistem dalam menjalankan fungsi
ekologisnya.

Selain itu, padang lamun diketahui mendukung berbagai jaringan rantai makanan, baik
yang didasari oleh rantai herbivor maupun detrivor. Nilai ekonomis biota yang
berasosiasi dengan lamun diketahui sangat tinggi. Ekosistem padang lamun memiliki
nilai pelestarian fungsi ekosistem serta manfaat lainnya di masa mendatang sesuai
dengan perkembangan teknologi, yaitu produk obat-obatan dan budidaya laut. Beberapa
negara telah memanfaatkan lamun untuk pupuk, bahan kasur, makanan, stabilisator
pantai, penyaring limbah, bahan untuk pabrik kertas, bahan kimia, dan sebagainya.

Peranan padang lamun secara fisik di perairan laut dangkal adalah membantu
mengurangi tenaga gelombang dan arus, menyaring sedimen yang terlarut dalam air dan
menstabilkan dasar sedimen (Kiswara dan Winardi, 1999). Peranannya di perairan laut
dangkal adalah kemampuan berproduksi primer yang tinggi yang secara langsung
berhubungan erat dengan tingkat kelimpahan produktivitas perikanannya. Keterkaitan
perikanan dengan padang lamun sangat sedikit diinformasikan, sehingga perikanan di
padang lamun Indonesia hampir tidak pernah diketahui. Keterkaitan antara padang lamun
dan perikanan udang lepas pantai sudah dikenal luas di perairan tropika Australia (Coles
et al., 1993).

Ekosistem padang lamun yang memiliki produktivitas yang tinggi, memiliki peranan
dalam sestem rantai makanan khususnya pada periphyton dan epiphytic dari detritus
yang dihasilkan dan serta lamun mempunyai hubungan ekologis dengan ikan melalui

23
rantai makanan dari produksi biomasanya seperti yang diisajikan pada gambar dibawah
ini :

Produksi Lamun Populasi


Enhalus acoroidae

Konsumsi lamun
Produksi detritus
Enhalus acoroidae
0,23 kal/m2/hari (40%)
0,6 kal/m2/hari (0,07%)

Gambar. Hubungan Ekologis dengan ikan melalui rantai makanan dari produksi biomasanya

6.1 Zonasi
Zonasi lamun secara vertikal sebagai berikut:
1. Zona intertidal, dicirikan oleh tumbuhan pionir yang didominasi oleh Halophila ovalis,
Cymodocea rotundata dan Holodule pinifolia.
2. Zona intertidal bawah, didominasi oleh Thalassodendron ciliatum.
Komunitas lamun biasanya ada dalam area yang luas dan rapat. Secara umum komunitas
lamun dibagi menjadi 3 asosiasi spesies sehingga membentuk suatu zonasi lamun (Brouns
dan Heijs, 1991), yaitu:
1. Padang lamun monospesifik (monospesifik seagrass beds)
Hanya terdiri dari 1 spesies saja. Akan tetapi keberadaannya hanya bersifat temporal dan
biasanya terjadi pada phase pertengahan sebelum menjadi komunitas yang stabil (padang
lamun campuran).
2. Asosiasi 2 atau 3 spesies
Ini merupakan komunitas lamun yang terdiri dari 2 sampai 3 spesies saja. Dan lebih sering
dijumpai dibandingkan padang lamun monospesifik.
3. Padang lamun campuran (mixed seagrass beds)
Padang lamun campuran umumnya terdiri dari sedikitnya 4 dari 7 spesies berikut:
Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis,
Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii. Tetapi padang lamun
campuran ini, dalam kerangka struktur komunitasnya, selalu terdapat asosiasi spesies Enhalus
acoroides dengan Thalassia hemprichii (sebagai spesies lamun yang dominan), dengan
kemelimpahan lebih dibanding spesies lamun yang lain
Masalah Ekosistem Padang Lamun

1. Masalah Padang Lamun

24
Keberadaannya yang berada di daerah estuaria dan pesisir, yang merupakan
perbatasan antara daratan dan lautan, menyebabkan padang lamun terancam oleh berbagai
faktor yang disebabkan oleh manusia, selain juga oleh perubahan iklim global saat ini.
Padang lamun diketahui sebagai salah satu habitat yang rentan terhadap kerusakan.
Aneka kegiatan manusia diketahui memberikan dampak negatif yang merusak padang lamun.
Kegiatan pembangunan yang pesat dan perubahan peruntukan lahan di wilayah pantai telah
meningkatkan masuknya sedimen ke laut dan menimbulkan eutrofikasi. Bertambahnya
pelumpuran ini telah menaikkan konsentrasi lumpur, bahan organik, dan nutrien, serta telah
meningkatkan kekeruhan air laut, yang pada gilirannya mengurangi kedalaman laut yang
dapat dicapai cahaya matahari. Semua hal-hal ini berpengaruh buruk bagi ekosistem padang
lamun (Fairhurst dkk,2003).
Masuknya lumpur serta berjenis-jenis bahan organik yang dihasilkan aktivitas
manusia ke laut juga telah meningkatkan jumlah dan jenis nutrien yang masuk ke padang
lamun. Sementara sebagian nutrien dibutuhkan untuk tumbuhnya lamun, sebagian nutrien
yang lain mungkin menghasilkan efek racun bagi lingkungan lamun. Nutrien yang semakin
banyak dalam air juga meningkatkan pertumbuhan alga epifitik yang tumbuh menempel di
daun-daun lamun, dan mengurangi kemampuan lamun berfotosintesis. untuk menyebutkan
bahwa pelumpuran dan naiknya jumlah liat (clay) dalam air laut melebihi ambang tertentu,
akan menurunkan secara tajam kekayaan spesies dan biomassa daun komunitas padang
lamun. Sensitivitas jenis-jenis lamun ini berbeda-beda terhadap gangguan tersebut, mulai dari
Syringodium yang paling sensitif hingga Enhalus sebagai jenis yang paling tahan (Duarte
2003).
Namun demikian Enhalus pun diketahui cukup terpengaruh oleh pelumpuran dengan
berkurangnya pembungaan dan pembentukan buah pada air yang meningkat kekeruhannya.
Kematian rumpun-rumpun Enhalus karena siltasi itu pun diduga dapat menurunkan kapasitas
reproduksi Enhalus lebih jauh, mengingat pembentukan buah Enhalus berlangsung baik pada
kepadatan rumpun yang cukup tinggi. (Terrados dkk, 2003)
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam
kenyataannya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman. Gangguan dan ancaman
terhadap lamun pada dasarnya seperti yang telah diungkapkan di atas dapat dibagi menjadi
dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik)

2. Gangguan Alam

Fenomena alam seperti tsunami, letusan gunung api, siklon, dapat menimbulkan
kerusakan pantai, termasuk juga terhadap padang lamun. Tsunami yang dipicu oleh gempa
bawah laut dapat menimbulkan gelombang dahsyat yang menghantam dan memorak-
perandakan lingkungan pantai, seperti terjadi dalam tsunami Aceh (2004).
Gempa bumi, seperti gempa bumi Nias (2005) mengangkat sebagian dasar laut hingga
terpapar ke atas permukaan dan menenggelamkan bagian lainnya lebih dalam. Debu letusan
gunung api seperti letusan Gunung Tambora (1815) dan Krakatau (1883) menyelimuti
perairan pantai sekitarnya dengan debu tebal, hingga melenyapkan padang lamun di
sekitarnya.

25
Siklon tropis dapat menimbulkan banyak kerusakan pantai terutama di lintang 10 -
o
20 Lintang Utara maupun Selatan, seperti yang sering menerpa Filipina dan pantai utara
Australia. Kerusakan padang lamun di pantai utara Australia karena diterjang siklon sering
dilaporkan. Indonesia yang berlokasi tepat di sabuk katulistiwa, bebas dari jalur siklon, tetapi
dapat menerima imbas dari siklon daerah lain(Siklon Lena 1993), di Samudra Hindia
misalnya, lintasannya mendekati Timor dan menimbulkan kerusakan besar pada lingkungan
pantai di Maumere.
Selain kerusakan fisik akibat aktivitas kebumian, kerusakan lamun karena aktivitas
hayati dapat pula menimbulkan dampak negatif pada keberadaan lamun. Sekitar 10 15 %
produksi lamun menjadi santapan hewan herbivor, yang kemudian masuk dalam jaringan
makanan di laut. Di Indonesia, penyu hijau, beberapa jenis ikan, dan bulubabi,
mengkonsumsi daun lamun. Duyung tidak saja memakan bagian dedaunannya tetapi juga
sampai ke akar dan rimpangnya.

3. Gangguan dari aktivitas manusia

Pada dasarnya ada empat jenis kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan
oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun:
1) fisik yang menyebabkan degradasi lingkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan
terumbu karang dan atau rusaknya habitat padang lamun;
2) Pencemaran laut, baik pencemaran asal darat, maupun dari kegiatan di laut;
3) Penggunaan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan;
4) Tangkap lebih, yakni eksploitasi sumberdaya secara berlebihan hingga melewati
kemampuan daya pulihnya karang dari padang lamun untuk bahan konstruksi, atau untuk
membuka usaha budidaya rumput laut. Demikian pula terjadi di Teluk Lampung. Di Bintan
(Kepulauan Riau) pembangunan resor pariwisata di pantai banyak yang tak mengindahkan
garis sempadan pantai, pembangunan resor banyak mengorbankan padang lamun.

Kerusakan Padang Lamun di Indonesia akibat gangguan alam dan aktivitas manusia,
adalah sebagai berikut:

1) Kerusakan fisik
Kerusakan fisik terhadap padang lamun telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah di
Indonesia. Di Pulau Pari dan Teluk Banten, kerusakan padang lamun disebabkan oleh
aktivitas perahu-perahu nelayan yang mengeruhkan perairan dan merusak padang lamun.
Reklamasi dan pembangunan kawasan industri dan pelabuhan juga telah melenyapkan
sejumlah besar daerah padang lamun seperti terjadi di Teluk Banten. Di Teluk Kuta
(Lombok) penduduk membongkar karang.

2) Pencemaran laut
Pencemaran laut dapat bersumber dari darat (land based) ataupun dari kegiatan di laut (sea
based). Pencemaran asal darat dapat berupa limbah dari berbagai kegiatan manusia di darat
seperti limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, atau pengelolaan lahan yang
tak memperhatikan kelestarian lingkungan seperti pembalakan hutan yang menimbulkan

26
erosi dan mengangkut sedimen ke laut. Bahan pencemar asal darat dialirkan ke laut lewat
sungai-sungai atau limpasan (runoff).
Masukan hara (terutama fosfat dan nitrat) ke perairan pantai dapat menyebabkan eutrofikasi
atau penyuburan berlebihan, yang mengakibatkan timbulnya ledakan populasi plankton
(blooming) yang mengganggu pertumbuhan lamun. Epiffit yang hidup menempel di
permukaan daun lamun juga dapat tumbuh kelewat subur dan menghambat pertumbuhan
lamun. Kegiatan penambangan didarat, seperti tambang bauksit di Bintan, limbahnya terbawa
ke pantai dan merusak padang lamun di depannya.
Pencemaran dari kegiatan di laut dapat terjadinya misalnya pada tumpahan minyak di laut,
baik dari kegiatan perkapalan dan pelabuhan, pemboran, debalasting muatan kapal tanker.
Bencana yang amat besar terjadi saat kecelakaan tabrakan atau kandasnya kapal tanker yang
menumpahkan muatan minyaknya ke perairan pantai, seperti kasus kandasnya supertanker
Showa Maru yang merusak perairan pantai Kepuluan Riau.

3) Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan


Beberapa alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan dapat menimbulkan kerusakan pada
padang lamun seperti pukat harimau yang mengeruk dasar laut. Penggunaan bom dan racun
sianida juga ditengarai menimbulkan kerusakan padang lamun. Di Lombok Timur dilaporkan
kegiatan perikanan dengan bom dan racun yang menyebabkan berkurangnya kerapatan dan
luas tutupan lamun.

4) Tangkap lebih
Salah satu tekanan berat yang menimpa ekosistem padang lamun adalah tangkap lebih (over
fishing), yakni eksploitasi sumberdaya perikanan secara berlebihan hingga melampaui
kemampuan ekosistem untuk segera memulihkan diri. Tangkap lebih bisa terjadi pada ikan
maupun hewan lain yang berasosiasi dengan lamun. Banyak jenis ikan lamun yang kini
semakin sulit dicari, dan ukurannya pun semakin kecil.

C. Model Pengelolaan Ekosistem Lamun

Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks
untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap
segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya
untuk mengatasi masalah-masalah perusakan dan untuk menjaga serta melindungi
sumberdaya alam dan ekosistem padang lamun secara berkelanjutan, diperlukan suatu
pengelolaan yang tepat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan
tersebut adalah:
1) penyuluhan akan pentingnya peranan ekosistem padang lamun di lingkungan pesisir.
2) menyadarkan masyarakat agar mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga dan
mengelola sumberdaya padang lamun;
3) pengaturan penggunaan alat tangkap yang sudah terbukti merusak lingkungan ekosistem
padang lamun seperti potasium sianida, sabit dan gareng diganti dengan alat tangkap yang
tidak merusak lingkungan (ramah lingkungan) seperti pancing,
4) perlunya pembuatan tempat penampungan limbah dan sampah organik.

27
1. Pedoman pengelolaan padang lamun

1) Pengerukan dan penimbunan seharusnya menghindari lokasi yang didominasi oleh padang
lamun, sebaiknya dijaga agar tidak terjadi pengaliran endapan pada lokasi padang lamun. Hal
ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti memasang penghalang Lumpur atau dengan
strategi pengerukan yang menjamin adanya mekanisme yang membuat sirkulasi air dan
pasang surut dapat membewa endapan untuk menjauhi daerah padang lamun.
2) Usulan pembangunan di wilayah pesisir (seperti pelabuhan, dermaga/jetty) yang mengubah
pola sirkulasi air seharusnya didesain untuk menghindari dan meminimalkan erosi atau
penimbunan di daerah sekitar padang lamun. Struktur desain seharusnya didasarkan pada
keadaan lokal yang spesifik.
3) Prosedur pembuangan limbah cair seharusnya diperbaharui dan dimodifikasi sesuai
kebutuhan untuk mencegah limbah yang merusak masuk ke dalam padang lamun. Limbah
tersebut seperti limbah industri, limbah air panas, limbah garam, air buangan kapal dan
limpasan air. Pada umumnya solusi alternatif tersebut diantaranya termasuk pemilihan lokasi
yang berbeda untuk lokasi pembuangan seperti pemilihan lokasi pipa pembuangn.
4) Penangkapan ikan dengan trawl dan kegiatan penangkapan lainnya yang merusak
seharusnya dimodifikasi untuk meminimalkan pengaruh buruk terhadap padang lamun
selama operasi penangkapan.
5) Skema-skema pengalihan aliran air yang dapat merubah tingkat salinitas alamiah harus
dipertimbangkan akibat terhadap komunitas padang lamun dan biota-biota yang berasosiasi
dengannya. Pengaturan yang tepat terhadap jadwal pelepasan air dapat menjaga tingkat
salinitas dalam kisaran yang diinginkan.
6) Lakukan tindakan untuk mencegah tumpahan minyak untuk mencemari komunitas padang
lamun. Hal ini dapat dicapai dengan melakukan pengukuran, program monitoring dan
rencana untuk menanggulangi kemungkinan terjadi tumpahan minyak.
7) Inventarisasi, identifikasi dan pemetaan sumberdaya padang lamun sebelum berbagai jenis
proyek dan aktivitas dilakukan di lokasi tersebut.
8) Rekonstruksi padang lamun di perairan dekat tempat yang sebelumnya ada padang lamun,
atau membangun padang lamun baru di lokasi yang ada padang lamunnya untuk mengganti
lamun alami di suatu tempat.
9) Pengelolaan Berwawasan Lingkungan

Dalam perencanaan pembangunan pada suatu sistem ekologi pesisir dan laut yang
berimplikasi pada perencanaan pemanfaatan sumberdaya alam, perlu diperhatikan kaidah-
kaidah ekologis yang berlaku untuk mengurangi akibat-akibat negatif yang merugikan bagi
kelangsungan pembangunan itu sendiri secara menyeluruh. Perencanaan dan pengelolaan
sumberdaya alam pesisir dan laut perlu dipertimbangkan secara cermat dan terpadu dalam
setiap perencanaan pembangunan, agar dapat dicapai suatu pengembangan lingkungan hidup
di pesisir dan laut dalam lingkungan pembangunan.

2. Pengelolaan Berbasis Masyarakat

28
Pengelolaan ekosistem padang lamun pada dasarnya adalah suatu proses pengontrolan
tindakan manusia agar pemanfaatan sumberdaya alam dapat dilakukan secara bijaksana
dengan mengindahkan kaidah kelestarian lingkungan maka pengelolaan sumberdaya padang
lamun tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus dilakukan secara terpadu oleh
beberapa instansi terkait. Kegagalan pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini,
pada umumnya disebabkan oleh masyarakat pesisir tidak pernah dilibatkan, mereka
cenderung hanya dijadikan sebagai obyek dan tidak pernah sebagai subyek dalam program-
program pembangunan di wilayahnya. Sebagai akibatnya mereka cenderung menjadi masa
bodoh atau kesadaran dan partisipasi mereka terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya
menjadi sangat rendah. Agar pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun ini tidak
mengalami kegagalan, maka masyarakat pesisir harus dilibatkan (Dahuri dkk, 2001).
Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai
komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi
masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara
pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).
Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam
konteks pengelolaan sumberdaya alam, termasuk ekosistem padang lamun adalah
pengelolaan berbasis masyakaratak (Community Based Management). Raharjo (1996)
mengemukakan bahwa pengeloaan berbasis masyarakat mengandung arti keterlibatan
langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.. Dalam konteks
ini pula perlu diperhatikan mengenai karakteristik lokal dari masayakarakat di suatu
kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab kerusakan sumber daya alam
pesisir adalah dekstrusi masayakarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu,
dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian yang tujuannya adalah untuk
mangurangi tekanan terhadap sumberdaya pesisir termasuk lamun di kawasan tersebut.
Konsep pengelolaan yang mampu menampung banyak kepentingan, baik kepentingan
masyarakat maupun kepentingan pengguna lainnya adalah konsep Cooperative
Management (Pomeroy dan Williams, 1994). Dalam konsep Cooperative Management, ada
dua pendekatan utama yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah (goverment
centralized management) dan pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat (community
based management). Dalam konsep ini masyarakat lokal merupakan partner penting bersama-
sama dengan pemerintah dan stakeholderslainnya dalam pengelolaan sumberdaya alam di
suatu kawasan. Masyarakat lokal merupakan salah satu kunci dari pengelolaan sumberdaya
alam, sehingga praktek-praktek pengelolaan sumberdaya alam yang masih dilakukan oleh
masyarakat lokal secara langsung menjadi bibit dari penerapan konsep tersebut. Tidak ada
pengelolaan sumberdaya alam yang berhasil dengan baik tanpa mengikutsertakan masyarakat
lokal sebagai pengguna dari sumberdaya alam tersebut.
Menurut Dahuri (2003) mengatakan bahwa ada dua komponen penting keberhasilan
pengelolaan berbasis masyarakat, yaitu:
1) konsensus yang jelas dari tiga pelaku utama, yaitu pemerintah, masyarakat pesisir, dan
peneliti (sosial, ekonomi, dan sumberdaya),
2) pemahaman yang mendalam dari masing-masing pelaku utama akan peran dan tanggung
jawabnya dalam mengimplementasikan program pengelolaan berbasis masyarakat.

29
Konsep pengelolaan berbasis masyarakat memiliki beberapa aspek positif (Carter,
1996), yaitu:
1) mampu mendorong timbulnya pemerataan dalam pemanfaatan sumberdaya alam,
2) mampu merefleksi kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal yang spesifik,
3) mampu meningkatkan efisiensi secara ekologis dan teknis,
4) responsif dan adaptif terhadap perubahan kondisi sosial dan lingkungan local
5) mampu meningkatkan manfaat lokal bagi seluruh anggota masyarakat yang ada,
6) mampu menumbuhkan stabilitas dan komitmen,
7) masyarakat lokal termotivasi untuk mengelola secara berkelanjutan.

Dalam pengelolaan ekosistem padang lamun berbasis masyarakat ini, yang dimaksud
dengan masyarakat adalah semua komponen yang terlibat baik secara langsung maupun tak
langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan ekosistem padang lamun, diantaranya adalah
masyarakat lokal, LSM, swasta, Perguruan Tinggi dan kalangan peneliti lainnya. Dalam
konteks pengelolaan sumberdaya ekosistem padang lamun berbasis masyarakat, kedua
komponen masyarakat dan pemerintah sama-sama diberdayakan, sehingga tidak ada
ketimpangan dalam pelaksanaannya.
Pengelolaan berbasis masyarakat harus mampu memecahkan dua persoalan utama,
yaitu:
1) masalah sumberdaya hayati (misalnya, tangkap lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak
ramah lingkungan, kerusakan ekosistem dan konflik antara nelayan tradisional dan industri
perikanan modern),
2) masalah lingkungan yang mempengaruhi kesehatan sumberdaya hayati laut (misalnya,
berkurangnya daerah padang lamun sebagai daerah pembesaran sumberdaya perikanan,
penurunan kualitas air, pencemaran).

3. Pendekatan Kebijakan

Perumusan kebijaksanaan pengelolaan ekosistem padang lamun memerlukan suatu


pendekatan yang dapat diterapkan secara optimal dan berkelanjutan melalui pendekatan
keterpaduan. Pendekatan kebijakan ini mengacu kepada pendekatan pengelolaan wilayah
pesisir dan lautan secara terpadu, yaitu pengelolaan pemanfaatan sumberdaya alam dan jasa-
jasa lingkungan yang ada di wilayah pesisir. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penilaian
menyeluruh, menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, serta merencanakan kegiatan
pembangunan. Pengelolaan ekosistem padang lamun secara terpadu mencakup empat aspek,
yaitu:
1) keterpaduan wilayah/ekologis;
2) keterpaduan sektoral;
3) keterpaduan disiplin ilmu;
4) keterpaduan stakeholders (pemakai).

30
BAB III
PEMBAHASAN

Padang Lamun berfungsi sebagai habitat organisme laut yang hidup di peralihan antara pantai
dan terumbu karang serta memiliki fungsi penting dengan kedua habitat tersebut. Ekosistem
Padang Lamun ini berada di perairan dangkal yang berdekatan dengan pantai sehingga
ekosistem ini dekat dengan kegiatan manusia.

Perkembangan ekosistem Padang Lamun sangat rentan terhadap tekanan dari segala kegiatan
manusia di darat maupun di laut.

Padang Lamu

a. Digunakan untuk kompos dan pupuk,


b. Cerutu dan mainan anak-anak,
c. Dianyam menjadi keranjang,
d. Tumpukan untuk pematang,
e. Mengisi kasur,
f. Beberapa jenis lamun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan seperti
samo-samo (Enhalus acroides),
g. Dibuat jaring ikan,
h. Bahan untuk pabrik kertas,
i. Obat-obatan,
j. Wisata bahari,
k. Areal marikultur (ikan, teripang, kerang tiram dan rumput laut),
l. Tempat pemancingan.
b. 7. Daerah penangkapan ikan bagi bermacam-macam ikan, udang, teripang, serta
moluska dan daerah ini mudah dijangkau karena dangkal dan biasanya terlindung,
sehingga tidak dibutuhkan perahu
c. 8. Pengambilan biji enhalus Acoroides dan Rhizoma cymodocea spp bagi konsumsi
manusia
d. 9. Padang lamun biasa digunakan untuk tempat akuakultur (budidaya).
e.

31
Ekosistem Lamun

Tumbuhan lamun tumbuhan di perairan laut dangkal,dan tersebar luas mulai dari utara
,bebua afrika sampai ke sebelah seelatan benua afrikadan New Zealand ,mereka terkosent
rasi di dua daerah utama ,yaitu Indo Fasefik dan pantai-pantai amerika tengah ,(menurut Den
Denhartog 1970 ).tumbuhan lamun di dunia terdiridari dua family,12 genera dengan 49 s
m,mpesis.
Dari 12 genera tersebut 7di antaranya hidup di perairan tropis yaitu
:Enhalus,Thalassi,halodule,Cymodocea,Syringodium ,dan Thalassodendrom,lebih lanjut
distribusi tumbuhan lamun di dunia dapat di lihat pada table di bawah ini..

Famili dan Genera dan Spesies Junlah Distribusi


subfamili subgenera Spesies

potamagetonaceae Zostera Z. marina 13 Pasifik utara dan


Atlantik utara
Z.caulescens

Z.asiatica

Z.caspitosa

Zosterlla Z.capricomi
Sebelah utara dan
Z.mucronata
selatan laut
Z.capsensis temperate,meluas
sampai ke perairan
Z.muelleri
tropis

32
Z.capricomi

Z.novazelandica

Z.nolti

Z.japonica

Z.americana

Posidoniodeae Plyllopadix 5
P.torreyi
Pasifik utara
P.scouleri

P.serrulatus

P.iwatensis

P.japonicus

Cymodoceoideae Hetorozostera 1
H.tasmonica
Sepanjang pantai selatan
Austaralia termasuk
Tasmania
Posidonia 3
P.oceanica

p.australis Mediterranean periran


ekstropik Australia
p.ostenfeldii

Cymodoceoidae Holodule 6
H.universis
Sepanjang npantae
H.buedettei
selurus laut tropis
H.wrigthii atlantik dan Indo-pasifik

H.bermudensis

H.ciliata

33
H.pinifolia

Cymodocea 4

C.nodosa

C.rotundata Laut-laut di daerah


tropis dan subtropics.
C.serrulata

C.pinifolia
Syingodium 2

S.isoitifolia
Indo-Pasifik Caribbean
S.filiforme
thalassodendrom 2

Th.ciliatum
Daerah tropis di Indo-
Th.pachyrhizus pasifik .Daerah kecil
Amphibolis 2
ekstratropik di sebelah
barat Australia
A,antorcrica
Sepanjang pantai selatan
A.griffitthii
Hydrocharitaceae dan barat Australia dan
Enhalus
Tasmania
Vallisnerioideae
E.acoroides

Laut hindia dan bagian


Thallassioideae Thalassia 2
tropis barat

T.testudium

T.hemprichii Caribbean dan gulf


mexico Seluruh daerah
Halophiloideae Halophila 8 tropis di laut hindia dan
bagian barat fasifik.

H.ovalis

Seluruh laut tropis

34
H.ovata meluas sampai ke
perairan subtropis dan
H.decipiens
tempete yang hangat.
H.decipens

H.stipulacea

H.beccarii

H.stipulacea

H.beccarii

H.spinulosa

H.engelmanni

H.baillonis

Species lamun diketahui juga menyebar secara vertical pada zona pasang (den hartog
1970 ).Sebagai contoh ,species holodule dan holophila,umumnya tersebar di daerah intertidal
yang tertinggi sampai subtidal yang terendam ,Thalassia dan Cymodocea tersebar di sekitar
intertidal sampai ke subtidal teratas,sedangkan Posidonia dan Syringodium cenderung
tersebar di daerah subtidal.

DAMPANG KERUSAKAN PADANG LAMUN

Lamun pada umumnya dianggap sebagai kelompok tumbuhan yang homogen.


Lamun terlihat mempunyai kaitan dengan habitat dimana banyak lamun (Thalassia) adalah
substrat dasar dengan pasir kasar. Menurut Haruna (Sangaji, 1994) juga mendapatkan
Enhalus acoroides dominan hidup pada substrat dasar berpasir dan pasir sedikit berlumpur
dan kadang-kadang terdapat pada dasar yang terdiri atas campuran pecahan karang yang telah
mati. Keberadaan lamun pada kondisi habitat tersebut, tidak terlepas dan ganguan atau
ancaman-ancaman terhadap kelangsungan hidupnya baik berupa ancaman alami maupun
ancaman dari aktivitas manusia.

35
Kerusakan yang terjadi pada padang lamun dapat disebabkan oleh natural stress dan
anthrogenik stress. Natural stress bisa disebabkan gunung meletus, sunami, kompetisi,
predasi. Sedangkan anthrogenik stress bisa disebabkan :
Perubahan fungsi pantai untuk pelabuhan atau dermaga.
Eutrofikasi (Blooming mikro alga dapat menutupi lamun dalam memperoleh sinar
matahari).
Aquakultur (pembabatan dari hutan mangrove untuk tambak).
Water polution (logam berat dan minyak).
Over fishing (pengambilan ikan yang berlebihandan cara penangkapannya yang merusak.

Selain itu juga limbah pertanian, industri, dan rumah tangga yang dibuang ke laut,
pengerukan lumpur, lalu lintas perahu yang padat, dan lain-lain kegiatan manusia dapat
mempengaruhi kerusak lamun. Di tempat hilangnya padang lamun, perubahan yang dapat
diperkirakan menurut Fortes (1989), yaitu:
1. Reduksi detritus dari daun lamun sebagai konsekuensi perubahan dalam jaring-jaring
makanan di daerah pantai dan komunitas ikan.
2. Perubahan dalam produsen primer yang dominan dari yang bersifat bentik yang bersifat
planktonik.
3. Perubahan dalam morfologi pantai sebagai akibat hilangnya sifat-sifat pengikat lamun.
4. Hilangnya struktural dan biologi dan digantikan oleh pasir yang gundul.

Banyak kegiatan atau proses dari alam maupun aktivitas manusia yang mengancam
kelangsungan hidup ekosistem lamun seperti berikut :
1. Dampak kegiatan manusia pada ekosistem padang lamun (Bengen, 2001)

Kegiatan Dampak Potensial

Pengerukan dan Perusakan total padang lamun


pengurugan yang Perusakan habitat di lokasi
berkaitan dengan pembuangan hasil pengerukan
pembangunan areal estate Dampak sekunder pada perairan
pinggir laut, pelabuhan, dengan meningkatnya kekeruhan air,
industri, saluran navigasi dan terlapisnya insan hewan air.
Pencemaran limbah Terjadinya akumulasi logam berat
industri terutama logam padang lamun melalui proses
berat, dan senyawa biological magnification
organolokrin Penurunan kandungan oksigen terlarut
Pembuangan sampah Dapat tmerjadi eutrofikasi yang
organik engakibatkan blooming perifiton yang

36
Pencemaran limbah menempel di daun lamun, dan juga
pertanian meningkatkan kekeruhan yang dapat
Pencemaran minyak menghalangi cahaya matahari
Pencemaran pestisida dapat mematikan
hewan yang berasosiasi dengan padang
lamun
Pencemar pupuk dapat mengakibatkan
eutrofikasi.
Lapisan minyak pada daun lamun
dapat menghalangi proses fotosintesis

Selain beberapa ancaman tersebut, kondisi lingkungan pertumbuhan juga


mempengaruhi kelangsungan hidup suatu jenis lamun, seperti yang dinyatakan oleh Barber
(1985) bahwa temperatur yang baik untuk mengontrol produktifitas lamun pada air adalah
sekitar 20 sampai dengan 300C untuk jenis lamun Thalassia testudinum dan sekitar 300C
untuk Syringodium filiforme. Intensitas cahaya untuk laju fotosintesis lamun menunjukkan
peningkatan dengan meningkatnya suhu dari 290C sampai 350C untuk Zostera marina,
300C untuk Cymidoceae nodosa dan 25-300C untuk Posidonia oceanica.

Kondisi ekosistem padang lamun di perarain pesisir Indonesia sekitar 30-40%. Di


pesisir pulau Jawa kondisi ekosistem padang lamun telah mengalami gangguan yang cukup
serius akibat pembuangan limbah indusri dan pertumbuhan penduduk dan diperkirakan
sebanyak 60% lamun telah mengalami kerusakan. Di pesisir pulau Bali dan pulau Lombok
ganguan bersumber dari penggunaan potassium sianida dan telah berdampak pada penurunan
nilai dan kerapatan sepsiens lamun (Fortes, 1989).

Selanjutnya dijelaskan oleh Fortes (1989) bahwa rekolonialisasi ekosistem padang


lamun dari kerusakan yang telah terjadi membutuhkan waktu antara 5-15 tahun dan biaya
yang dibutuhkan dalam mengembalikan fungsi ekosistem padang lamun di daerah tropis
berkisar 22800-684.000 US $/ha. Oleh karena itu aktiviras pembangunan di wilayah pesisir
hendaknya dapat memenimalkan dampak negatif melalui pengkajian yang mendalam pada
tiga aspek yang tekait yaitu: aspek kelestarian lingkungan, aspek ekonomi dan aspek sosial.

Ancaman kerusakan ekosistem padang lamun di perairan pesisir berasal dari


aktivitas masyarakat dalam mengeksploatasi sumberdaya ekosistem padang lamun dengan
menggunakan potassium sianida, sabit dan gareng serta pembuangan limbah industri

37
pengolahan ikan, sampah rumah tangga dan pasar tradisional. Dalam hal ini Fauzi (2000)
menyatakan bahwa dalam menilai dampak dari suatu akifitas masyarakat terhadap kerusakan
lingkungan seperti ekosistem padang lamun dapat digunakan dengan metode tehnik evaluasi
ekonomi yang dikenal dengan istilah Environmental Impact Assesment (EIA). Metode ini
telah dijadikam istrumen universal dalam mengevaluasi dampak lingkungan akibat aktivitas
pembangunan, disamping itu metode evaluasi ekonomi dapat menjembatani kepentingan
ekonomi masyarakat dan kebutuhan ekologi dari sumber daya alam.
Faktor Penyebab Kerusakan Ekosistem Padang Lamun

1. Masalah Padang Lamun

Keberadaannya yang berada di daerah estuaria dan pesisir, yang merupakan


perbatasan antara daratan dan lautan, menyebabkan padang lamun terancam oleh berbagai
faktor yang disebabkan oleh manusia, selain juga oleh perubahan iklim global saat ini.
Padang lamun diketahui sebagai salah satu habitat yang rentan terhadap kerusakan.
Aneka kegiatan manusia diketahui memberikan dampak negatif yang merusak padang lamun.
Kegiatan pembangunan yang pesat dan perubahan peruntukan lahan di wilayah pantai telah
meningkatkan masuknya sedimen ke laut dan menimbulkan eutrofikasi. Bertambahnya
pelumpuran ini telah menaikkan konsentrasi lumpur, bahan organik, dan nutrien, serta telah
meningkatkan kekeruhan air laut, yang pada gilirannya mengurangi kedalaman laut yang
dapat dicapai cahaya matahari. Semua hal-hal ini berpengaruh buruk bagi ekosistem padang
lamun (Fairhurst dkk,2003).
Masuknya lumpur serta berjenis-jenis bahan organik yang dihasilkan aktivitas
manusia ke laut juga telah meningkatkan jumlah dan jenis nutrien yang masuk ke padang
lamun. Sementara sebagian nutrien dibutuhkan untuk tumbuhnya lamun, sebagian nutrien
yang lain mungkin menghasilkan efek racun bagi lingkungan lamun. Nutrien yang semakin
banyak dalam air juga meningkatkan pertumbuhan alga epifitik yang tumbuh menempel di
daun-daun lamun, dan mengurangi kemampuan lamun berfotosintesis. untuk menyebutkan
bahwa pelumpuran dan naiknya jumlah liat (clay) dalam air laut melebihi ambang tertentu,
akan menurunkan secara tajam kekayaan spesies dan biomassa daun komunitas padang
lamun. Sensitivitas jenis-jenis lamun ini berbeda-beda terhadap gangguan tersebut, mulai dari
Syringodium yang paling sensitif hingga Enhalus sebagai jenis yang paling tahan (Duarte
2003).
Namun demikian Enhalus pun diketahui cukup terpengaruh oleh pelumpuran dengan
berkurangnya pembungaan dan pembentukan buah pada air yang meningkat kekeruhannya.
Kematian rumpun-rumpun Enhalus karena siltasi itu pun diduga dapat menurunkan kapasitas
reproduksi Enhalus lebih jauh, mengingat pembentukan buah Enhalus berlangsung baik pada
kepadatan rumpun yang cukup tinggi. (Terrados dkk, 2003)
Meskipun lamun kini diketahui mempunyai banyak manfaat, namun dalam
kenyataannya lamun menghadapi berbagai gangguan dan ancaman. Gangguan dan ancaman

38
terhadap lamun pada dasarnya seperti yang telah diungkapkan di atas dapat dibagi menjadi
dua golongan yakni gangguan alam dan gangguan dari kegiatan manusia (antropogenik)

2. Gangguan Alam

Fenomena alam seperti tsunami, letusan gunung api, siklon, dapat menimbulkan
kerusakan pantai, termasuk juga terhadap padang lamun. Tsunami yang dipicu oleh gempa
bawah laut dapat menimbulkan gelombang dahsyat yang menghantam dan memorak-
perandakan lingkungan pantai, seperti terjadi dalam tsunami Aceh (2004).
Gempa bumi, seperti gempa bumi Nias (2005) mengangkat sebagian dasar laut hingga
terpapar ke atas permukaan dan menenggelamkan bagian lainnya lebih dalam. Debu letusan
gunung api seperti letusan Gunung Tambora (1815) dan Krakatau (1883) menyelimuti
perairan pantai sekitarnya dengan debu tebal, hingga melenyapkan padang lamun di
sekitarnya.
Siklon tropis dapat menimbulkan banyak kerusakan pantai terutama di lintang 10 -
o
20 Lintang Utara maupun Selatan, seperti yang sering menerpa Filipina dan pantai utara
Australia. Kerusakan padang lamun di pantai utara Australia karena diterjang siklon sering
dilaporkan. Indonesia yang berlokasi tepat di sabuk katulistiwa, bebas dari jalur siklon, tetapi
dapat menerima imbas dari siklon daerah lain(Siklon Lena 1993), di Samudra Hindia
misalnya, lintasannya mendekati Timor dan menimbulkan kerusakan besar pada lingkungan
pantai di Maumere.
Selain kerusakan fisik akibat aktivitas kebumian, kerusakan lamun karena aktivitas
hayati dapat pula menimbulkan dampak negatif pada keberadaan lamun. Sekitar 10 15 %
produksi lamun menjadi santapan hewan herbivor, yang kemudian masuk dalam jaringan
makanan di laut. Di Indonesia, penyu hijau, beberapa jenis ikan, dan bulubabi,
mengkonsumsi daun lamun. Duyung tidak saja memakan bagian dedaunannya tetapi juga
sampai ke akar dan rimpangnya.

3. Gangguan dari aktivitas manusia

Pada dasarnya ada empat jenis kerusakan lingkungan perairan pantai yang disebabkan
oleh kegiatan manusia, yang bisa memberikan dampak pada lingkungan lamun:
1) fisik yang menyebabkan degradasi lingkungan, seperti penebangan mangrove, perusakan
terumbu karang dan atau rusaknya habitat padang lamun;
2) Pencemaran laut, baik pencemaran asal darat, maupun dari kegiatan di laut;
3) Penggunaan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan;
4) Tangkap lebih, yakni eksploitasi sumberdaya secara berlebihan hingga melewati kemampuan
daya pulihnya karang dari padang lamun untuk bahan konstruksi, atau untuk membuka usaha
budidaya rumput laut. Demikian pula terjadi di Teluk Lampung. Di Bintan (Kepulauan Riau)
pembangunan resor pariwisata di pantai banyak yang tak mengindahkan garis sempadan
pantai, pembangunan resor banyak mengorbankan padang lamun.

Kerusakan Padang Lamun di Indonesia akibat gangguan alam dan aktivitas manusia,
adalah sebagai berikut:

39
1) Kerusakan fisik
Kerusakan fisik terhadap padang lamun telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah di
Indonesia. Di Pulau Pari dan Teluk Banten, kerusakan padang lamun disebabkan oleh
aktivitas perahu-perahu nelayan yang mengeruhkan perairan dan merusak padang lamun.
Reklamasi dan pembangunan kawasan industri dan pelabuhan juga telah melenyapkan
sejumlah besar daerah padang lamun seperti terjadi di Teluk Banten. Di Teluk Kuta
(Lombok) penduduk membongkar karang.

2) Pencemaran laut
Pencemaran laut dapat bersumber dari darat (land based) ataupun dari kegiatan di laut (sea
based). Pencemaran asal darat dapat berupa limbah dari berbagai kegiatan manusia di darat
seperti limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, atau pengelolaan lahan yang
tak memperhatikan kelestarian lingkungan seperti pembalakan hutan yang menimbulkan
erosi dan mengangkut sedimen ke laut. Bahan pencemar asal darat dialirkan ke laut lewat
sungai-sungai atau limpasan (runoff).
Masukan hara (terutama fosfat dan nitrat) ke perairan pantai dapat menyebabkan eutrofikasi
atau penyuburan berlebihan, yang mengakibatkan timbulnya ledakan populasi plankton
(blooming) yang mengganggu pertumbuhan lamun. Epiffit yang hidup menempel di
permukaan daun lamun juga dapat tumbuh kelewat subur dan menghambat pertumbuhan
lamun. Kegiatan penambangan didarat, seperti tambang bauksit di Bintan, limbahnya terbawa
ke pantai dan merusak padang lamun di depannya.
Pencemaran dari kegiatan di laut dapat terjadinya misalnya pada tumpahan minyak di laut,
baik dari kegiatan perkapalan dan pelabuhan, pemboran, debalasting muatan kapal tanker.
Bencana yang amat besar terjadi saat kecelakaan tabrakan atau kandasnya kapal tanker yang
menumpahkan muatan minyaknya ke perairan pantai, seperti kasus kandasnya supertanker
Showa Maru yang merusak perairan pantai Kepuluan Riau.

3) Penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan


Beberapa alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan dapat menimbulkan kerusakan pada
padang lamun seperti pukat harimau yang mengeruk dasar laut. Penggunaan bom dan racun
sianida juga ditengarai menimbulkan kerusakan padang lamun. Di Lombok Timur dilaporkan
kegiatan perikanan dengan bom dan racun yang menyebabkan berkurangnya kerapatan dan
luas tutupan lamun.

4) Tangkap lebih
Salah satu tekanan berat yang menimpa ekosistem padang lamun adalah tangkap lebih (over
fishing), yakni eksploitasi sumberdaya perikanan secara berlebihan hingga melampaui
kemampuan ekosistem untuk segera memulihkan diri. Tangkap lebih bisa terjadi pada ikan
maupun hewan lain yang berasosiasi dengan lamun. Banyak jenis ikan lamun yang kini
semakin sulit dicari, dan ukurannya pun semakin kecil.

40
F.PENGELOLAAN DAN PELESTARIAN PADANG LAMUN

Permasalahan dan isu pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan dalam hal ini
ekosistem padang lamun, secara umum sedang dihadapi di Indonesia, bahkan juga sama
dengan yang terjadi di beberapa negara berkembang lainnya. Walaupun dalam skala mikro
bisa jadi tidak terlalu persis karena perbedaan sosial ekonomi dan budaya. Karena itu, isu
persoalan seperti kemiskinan, konflik interes antar lembaga, rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap lingkungan, pencemaran laut dan pesisir, keterbatasan dana pengelolaan merupakan
persoalan yang sedang dihadapi. (PKSPL, 1999).

Disadari bahwa padang lamun memberikan banyak manfaat bagi manusia. Dengan
demikian, mempertahankan areal-areal padang lamun, termasuk tumbuhan dan hewannya,
sangat penting untuk pembangunan ekonomi dan sosial. Namun, akhir-akhir ini, tekanan
penduduk semakin meningkat akan sumberdaya laut menjadi faktor utama dalam perubahan
lingkungan ekosistem di laut.

Yang menjadi kelemahan adalah bahwa selama ini banyak masyarakat yang
menganggap bahwa areal pesisir mutlak merupakan milik umum yang sangat luas yang dapat
mengakomodasi segala bentuk kepentingan termasuk kegiatan yang berbahaya sekalipun. Ini
suatu kelemahan cara berpikir dan pengetahuan yang dapat mengancam keberlangsungan
sumber daya pesisir dan laut salah satunya adalah ekosistem padang lamun.

Meskipun beberapa areal ekosistem pesisir termasuk areal padang lamun di


Indonesia telah dimasukan ke dalam suatu kawasan lindung, namun pada kenyataan di
lapangan menunjukkan banyak diantaranya yang masih mendapat tekanan yang cukup
berarti. Sebagai upaya pemecahan, kini pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kelautan
dan Perikanan bekerja sama dengan perguruan tinggi dan instansi terkait lainnya berusaha
mengembangkan pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai pihak, yaitu Pengelolaan
Wilayah Pesisir Secara Terpadu atau Integrated Coastal Management (ICM).

Pengeloaan pesisir secara terpadu memerlukan justifikasi yang bersifat


komprehensip dari subsistem-subsistem yang terlibat di dalamnya. misalnya implikasi
terhadap lingkungan, ekologi, ekonomi dan sosial budaya dalam perspektif mikro maupun
makro. Pembangunan hendaknya mempertimbangkan keterpaduan antar unsur ekologi,
ekonomi dan sosial.Pada lingkunag pesisir, memiliki kendala khusus dalam melihat implikasi

41
dari suatu strategi pengelolaan, hal ini disebabkan karena adanya bermacam-macam aktivitas
dan kelompok masyarakat sebagai pengguna, seperti rencana pengelolaan yang dibuat oleh
pemerintah sering tidak dapat mencakup semua kepentingan masayarakat dan sebaliknya
masyarakat menganggap sumber alam sebagai open acces resources (Raharjo, 1996)

Namun yang paling penting dalam pengelolaan ekosistem di dalam wilayah pesisir
harus diingat, bahwa suatu ekosistem di wilayah pesisir tidak berdiri sendiri atau diantara
beberapa ekosistem saling terkait baik secara biogeofisik, maupun secara sosioal-ekonomi;
dan kelangsungan hidup suatu ekosistem juga sangat tergantung pada aktifitas manusia di
darat yang dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Dengan demikian, upaya
konservasi dan pelestarian serta pengunaan sumber daya ekosistem lamun yang berkelanjutan
memerlukan pengelolaaan secara terpadu memiliki pengertian bahwa pengelolaan sumber
daya alam jasa-jasa lingkungan pesisir dan laut dilakukan melalui penilaian secara
menyeluruh (comprehensive assesment), merencanakan tujuan dan sasaran, kemudian
merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya guna mencapai
pembangunan yang optimal dan berkelanjutan. Perencanaan dan pengelolaan tersebut
dilakukan secara kontinyu dan dinamis dangan mempertimbangkan aspek sosial-ekonomi
budaya dan aspirasi masyarakat pengguna wilayah area pesisir (stakeholder) serta konflik
kepentingan dan pemanfaatan yang mungkin ada.

Pelestarian ekosistem padang lamun merupakan suatu usaha yang sangat kompleks
untuk dilaksanakan, karena kegitan tersebut sangat membutuhkan sifat akomodatif terhadap
segenap pihak baik yang berada sekitar kawasan maupun di luar kawasan. Pada dasarnya
kegiatan ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan dari berbagai kepentingan. Namun
demikian, sifat akomodatif ini akan lebih dirasakan manfaatnya bilamana keperpihakan
kepada masyarakat yang sangat rentan terhadap sumberdaya alam diberikan porsi yang lebih
besar.

Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat sebagai


komponen utama penggerak pelestarian areal padang lamun. Oleh karena itu, persepsi
masyarakat terhadap keberadaan ekosistem pesisir perlu untuk diarahkan kepada cara
pandang masyarakat akan pentingnya sumberdaya alam persisir (Bengen, 2001).

42
Raharjo (1996) mengemukakan bahwa pengeloaan berbasis masyarakat
mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di
suatu kawasan.. Dalam konteks ini pula perlu diperhatikan mengenai karakteristik lokal dari
masayakarakat di suatu kawasan. Sering dikatakan bahwa salah satu faktor penyebab
kerusakan sumber daya alam pesisir adalah dekstrusi masyakarakat untuk memenuhi
kebutuhannya. Oleh karena itu, dalam strategi ini perlu dicari alternatif mata pencaharian
yang tujuannya adalah untuk mangurangi tekanan terhadap sumberdaya pesisir termasuk
lamun di kawasan tersebut.

43