Anda di halaman 1dari 11

METODOLOGI PENELITIAN AKUNTANSI (EKA 400 A8, RUANG GI

1.3, JAM 08.30-11.00)


PERTEMUAN KE-8
SKALA PENGUKURAN DAN INSTRUMEN PENELITIAN
RMK

OLEH:
KELOMPOK 4

Ida Ayu Putu Dhaniar Waghmi Pratami 1506305016/06


I Dewa Ayu Adelia Pratiwi 1506305071/09
Cyntia Habibah Sinaga 1506305091/14
Nyoman Yudha Astriayu Widyari 1506305110/17

PROGRAM REGULER
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
SEMESTER GANJIL 2017/2018
8.1 Macam-Macam Skala Pengukuran

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan


untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga
alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data
kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagai instrumen untuk
mengukur berat emas, dibuat dengan skala mg dan akan menghasilkan data
kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur. Berbagai
skala sikap yang dapat digunakan untuk penelitian Administrasi, Pendidikan dan
Sosial antara lain adalah :

1. Skala Likert

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi


seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial yang telah ditetapkan
secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya disebut sebagai variabel penelitian.
Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa
kata-kata antara lain :
a. Sangat setuju
b. Setuju
c. Ragu-ragu
d. Tidak setuju
e. Sangat tidak setuju
Untuk keperluan analisis kuantitatif maka jawaban itu dapat diberi skor
misalnya:
1) Sangat setuju diberi skor 5
2) Setuju diberi skor 4
3) Ragu-ragu diberi skor 3
4) Tidak setuju diberi skor 2
5) Sangat tidak setuju diberi skor 1
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam
bentuk checklist ataupun pilihan ganda.

1
a. Contoh Bentuk Checklist
Berilah jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat anda, dengan
cara memberi tanda ( ) pada kolom yang tersedia.

Jawaban
No Pertanyaan
SS ST RG TS STS

Prosedur kerja yang baru itu


1 akan segera diterapkan di
perusahaan anda

2 ..................

SS = Sangat Setuju diberi skor 5


ST = Setuju diberi skor 4
RG = Ragu-ragu diberi skor 3
TS = Tidak Setuju diberi skor 2
STS = Sangat Tidak Setuju diberi skor 1

b. Contoh Bentuk Pilihan Ganda


Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut sesuai dengan
pendapat anda, dengan cara memberi tanda lingkaran pada nomor
jawaban yang tersedia.
Prosedur kerja yang baru itu akan segera diterapkan di lembaga anda ?
a) Sangat tidak setuju
b) Tidak setuju
c) Ragu-ragu
d) SetujuSangat setuju

2. Skala Guttman

2
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu
ya-tidak, benar-salah, dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Guttman
dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu
permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
1) Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat pimpinan di
perusahaan ini?
a. Setuju
b. Tidak Setuju
2) Pernahkah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang kerja anda?
a. Tidak Pernah
b. Pernah
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat
dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu
dan terendah nol.

3. Semantic Defferensial

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan
ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban
sangat positifnya terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat
negatif terletak dibagian kiri garis. Data yang diperoleh adalah data interval, dan
biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang
dipunyai oleh seseorang.
Contoh :

Beri nilai gaya kepemimpinan Manajer


Anda

Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat


Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi

3
4. Rating scale

Dari ke tiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang
diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang dikemudian dikuantitatifkan.
Tetapi dengan rating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus
dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada
setiap item instrumen.
Contoh :
Seberapa baik data ruang kerja yang ada di Perusahaan A ? Berilah jawaban
dengan angka :
4. bila tata ruang itu sangat baik
3. bila tata ruang itu cukup baik
2. bila tata ruang itu kurang baik
1. bila tata ruang itu sangat tidak baik
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan
keadaan yang sebenanrnya
No Pertanyaan tentang tata ruang kantor Interval jawaban
item
1 Penataan meja kerja sehingga arus 4 3 2 1
kerja menjadi pendek
2 Pencahayaan alam tiap ruangan 4 3 2 1
3 Pencahayaan buatan/listrik tiap 4 3 2 1
ruangan sesuai dengan kebutuhan
4 Warna lantai sehingga tidak 4 3 2 1
menimbulkan pantulan cahaya yang
dapat mengganggu pegawai
5 Sirkulasi udara setiap ruangan 4 3 2 1
6 Keserasian warna alat-alat kantor, 4 3 2 1
perabot, dengan ruangan
7 Penempatan lemari arsip 4 3 2 1

4
8 Penempatan ruangan pimpinan 4 3 2 1
9 Meningkatkan keakraban sesama 4 3 2 1
pegawai
10 Kebersihan ruangan 4 3 2 1
1. Instrumen untuk menjaring data nominal
Contoh :
a. Berapakah jumlah pegawai di tempat anda bekerja
..........pegawai.
b. Berapakah orang yang dapat berbahasa Belanda .............. orang.
c. Berapakah orang pemimpin yang Anda sukai .................. orang.

2. Instrumen untuk menjaring data ordinal


Contoh :
Berilah rangking terhadap sepuluh pegawai di bidang pelayanan
rumah sakit sebagai berikut.

Tabel Rangking Terhadap Sepuluh Pegawai Di Bidang Pelayanan Rumah Sakit

Nama pegawai Ranking nomor

A ....

B .

C .

Misalnya pegawai A adalah yang paling baik kinerjanya, maka pegawai tersebut
diberi rangking 1.

8.2 Desain Penelitian

Pada prinsipnya meneliti adalah melakukan pengukuran terhadap


fenomena sosial maupun alam. Meneliti dengan data yang sudah ada lebih tepat
kalau dinamakan membuat laporan daripada melakukan penelitian. Alat ukur
dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Jadi, instrumen
penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun

5
sosial yang diamati (variabel penelitian). Instrumen-instrumen yang digunakan
untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah banyak tersedia dan telah teruji
validitas dan reliabilitasnya. Seperti variabel-variabel dalam ilmu alam misalnya
panas, maka instrumennya adalah calorimeter. Jumlah instrumen penelitian
tergantung pada jumlah variabel penelitian yang telah ditetapkan utnuk diteliti.
Misalnya akan meneliti tentang Pengaruh Kepemimpinan dan Iklim Kerja
Lembaga Terhadap Produktivitas Kerja Pegawai. Dalam hal ini ada tiga
instrumen yang perlu dibuat, yaitu :
1. Instrumen untuk mengukur kepemimpinan.
2. Instrumen untuk mengukur iklim kerja.
3. Instrumen untuk mengukur produktivitas kerja pegawai.

8.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Proses pengukuran merupakan suatu proses deduktif. Peneliti berangkat


dari suatu konstruksi, konsep atau ide, kemudian menyusun perangkat ukur untuk
mengamatinya secara empiris. Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat langsung
melakukan pengukuran terhadap konsep yang konkret. Misalnya mengukur
menggunakan termometer, meteran, dan lain-lain. Namun tidak semua konsep
yang diteliti mermiliki tingkat abstraksi yang rendah. Maka dari inilah perlu sekali
diadakan pengukuran terhadap instrumen penelitian sebelum digunakan. Karena
dilakukan suatu pengujian atau pengukuran pada suatu instrumen untuk suatu
penelitian, maka sudah hal yang pasti sebelum diuji instrumen tersebut sudah
tersedia adanya.
Di dalam penelitian maka keampuhan instrumen dapat mempunyai
kedudukan yang paling tinggi, karena data merupakan penggambaran variabel
yang diteliti, dan berfungsi sebagai alat pembuktian hipotesis. Oleh karena itu,
benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian.
Sedangkan benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya pengumpulan data.
Instrumen yang baik harus memenuhi dua persyaratan penting yaitu valid dan
reliabel.

8.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen

6
1. Pengujian Validitas Instrumen

a. Pengujian Validitas Konstruksi (Construct Validity)

Untuk menguji validitas konstruksi maka dapat digunakan pendapat dari


para ahli maka dapat digunakan pendapat para ahli (experts judgement).
Instrumen yang telah dikonstruksi untuk mengukur aspek-aspek tertentu
dikonsultasikan dengan para ahli yang minimal berjumlah 3 orang. Mereka
dimintai pendapat mengenai instrumen tersebut untuk tujuan evaluasi.
Setelah pengujian konstruksi dari para ahli selesai, maka diteruskan
dengan uji coba instrumen. Uji coba dilaksanakan pada sampel yang
ditentukan. Setelah data ditabulasi, pengujian validitas konstruksi dilanjutkan
dengan analisis faktor dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen.

b. Pengujian Validitas Isi (Content Validity)

Untuk instrumen yang berbentuk tes, pengujian validitas dapat dilakukan


dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi yang telah ada.
Secara teknis pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan menggunakan
kisi-kisi instrumen.

c. Pengujian Validitas Eksternal

Validitas eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk


mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakat-fakta
empiris yang terjadi di lapangan. Instrumen penelitian yang mempunyai
validitas eksternal yang tinggi akan menghasilkan hasil penelitian yang
mempunyai validitas eksternal yang tinggi pula.

2. Pengujian Reliabilitas Instrumen

Pengujian reliabilitas instrument dapat dilakukan secara eksternal maupun


internal, secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability),
ekuivalen, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrument dapat
diuji dengan menganalisis konsinstensi butirbutir yang ada pada instrument
dengan teknik tertentu.

7
a. Tes-retest

Instrument penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan testretest


dilakukan dengan cara mencobakan instrument beberapa kali pada responden.
Jadi dalam hal ini instrumennya sama dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas
diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan percobaan
berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan, maka instrument
tersebut dikatakan reliable. Pengujian cara ini sering juga di sebut stability

b. Ekuivalen.

Instrument yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda,


tetapi maksudnya sama. Pengujina reliabilitas instrument dengancara ini cukup
dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu
sama, instrument berbeda. Reliabilitas instrument dihitung dengan cara
mengkorelasikan antara data instrument yang satu dengan data instrument yang
dijadikan ekuivalen. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrument dapat
dinyatakan reliable.

c. Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobaan dua instrument


yang ekuivalen itu beberapa kali, ke responden yang sama. Jadi cara ini
merupakan gabungan pertama dan kedua. Reliabilitas instrument dilakukan
dengan mengkorelasikan dua instrument, setelah itu di korelasikan pada
pengujian ke dua, dan selanjutnya di korelasikan secara silang.

d. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan internal consistency dilakukan dengan cara
mencobakan instrument sekali saja, kemudian yang diperoeleh dianalisis
dengan teknik tertentu. Hasil inalisis dapat digunakan untuk memprediksi
reliabilitas instrument. Pengujian reliabillitas instrument dapat dilakukan
dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (split half), KR 20, KR 21 dan
Anova Hoyt. Berikut diberikan rumus-rumusnya.
1. Rumus Spearman Brown

8
Dimana:
= reliabilitas internal seluruh instrumen
= korelasi product moment antara belahan pertama
dan kedua
2. Rumus KR. 20 (Kuder Richardson)

Dimana :
k = jumlah item dalam instrumen
pi = proporsi banyaknya subyek yang menjawab pada item 1
qi = 1 pi
s2i = varians total
3. Rumus KR.21

Dimana:
K = jumlah item dalam instrumen.
M = means skor total.
S2t = varians total.
4. Analisis Varians Hoyt (Anova Hoyt)8

Dimana:
MKs = mean kuadrat antara subyek.
MKe = mean kuadrat kesalhan.
Ri = reliabilitas instrumen.

9
DAFTAR PUSTAKA

Donald R. Cooper & C. W. Emory.1998. Business Research Methods (5th ed).


USA: Richard D. Irwin, Inc.
Fred N. Kerlinger. 2002.Asas-asas Penelitian Behavioral (edisi ketiga).
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Jakarta:
Erlangga
Moh. Nazir. 1999. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Moleong. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Belajar
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis
:untuk Akuntansi dan Manajemen (edisi pertama). Yogyakarta: Pustaka
Belajar
Julia Branen. 1997. Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
Sugiyono. 2009.Metode Penelitian Bisnis. Bandung: ALFABETA

10

Anda mungkin juga menyukai