Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

Pengukuran Sudut dan Jarak

GD - 2203 PENGANTAR PERPETAAN


Dosen : Dr. Ir. Vera Sadarviana, M.T

Kelompok 1:

Yuanda Eka Putri 15716001

Ario Arianto 15716005

Puti Fauzia Imani 15716013

Muhammad Amien Reza 15716016

Nyi Ayu Afifah Nurmayaningrum 15716020

Amalia Nur Amira 15716030

Mohamad Fakhry H.A. 15716031

Zalfa Fakhirah Amir Nur 15716039

PROGRAM STUDI REKAYASA INFRASTRUKTUR LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2017
Bab I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya tujuan pengukuran adalah untuk menentukan letak atau
kedudukan suatu objek di atas permukaan bumi dalam suatu sistem koordinat.
Dalam pelaksanaan pengukuran itu sendiri, yang dicari dan dicatat adalah angka-
angka, jarak, dan sudut. Jadi koordinat yang akan diperoleh adalah dengan
melakukan pengukuran-pengukuran sudut terhadap sistem koordinat teoretis
tersebut (Sosrosodarsono, 1997).
Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan menganalisis
bentuk topografi permukaan bumi beserta objek-objek di atasnya untuk keperluan
pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Ilmu ukur tanah menjadi dasar bagia beberapa
mata kuliah seperti rekayasa jalan raya, irigasi, drainase, dan lain sebagainya.
Pengukuran titik-titik koordinat dalam suatu pembangunan memerlukan data hasil
pengukuran dengan ketelitian yang tinggi agar konstruksi yang dibangun dapat
dipertanggungjawabkan dan terhindar dari kesalahan konstruksi.
Oleh karena itu, praktikum yang berjudul Pengukuran Sudut dan Jarak
sangat dibutuhkan sebagai dasar pengetahuan bagi mahasiswa dalam
mengembangkan ilmunya dan menerapkannya dalam berbagai hal salah satunya
untuk jurusan Rekayasa Infrastruktur Lingkungan yaitu dalam bidang konstruksi
dan infrastruktur.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari praktikum modul 1 ini yaitu :
Menghitung sudut dalam horizontal dari 3 titik sembarang yang membentuk
bangun segitiga
Mengukur jarak antar titik yang telah ditetapkan
Membandingkan hasil pengukuran secara teori dengan hasil pengukuran di
lapangan

1.3 Waktu Praktikum


Hari / tanggal : Rabu, 18 Oktober 2017
Waktu : Jam 14.30-15.30 WIB

1.4 Volume Kerja


Pada awalnya dalam 1 titik dilakukan 3 kali pengukuran namun dikarenakan
waktu yang tidak memadai dan melihat kondisi yang mulai mendung maka
dilakukan 1 kali pengukuran dalam 3 titik dengan waktu 1 jam.

1.5 Alat Praktikum

Nama Alat Jenis/keterangan alat Jumlah


Theodolite Tipe digital (DT) 1 buah
Pita Ukur - 1 buah
Paku payung - 3 buah
Statif - 1 buah
Jalon - 2 buah
Rompi dan Helm - 2 pasang
Kaki 3 - 3 buah

1.6 Lokasi Praktikum


Lapangan Sipil
Bab II
Dasar Teori

Pengukuran sudut merupakan bagian dari survey detail dan control. Alat
theodolit juga digunakan untuk mengukur besar sudut, baik sudut vertikal
ataupun sudut horizontal. Sudut horizontal adalah sudut yang dibentuk antara
suatu titik dengan garis horizontal. Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa
diukur dalam pengukuran tanah adalah :

1. Sudut dalam
2. Sudut ke kanan
3. Sudut belokan
Tiga persyaratan dasar menentukan sebuah sudut yaitu :

1. Garis awal / acuan


2. Arah perputaran
3. Jarak sudut (harga sudut)
Pada saat pengukuran di lapangan seharusnya dipakai prosedur yang
seragam, misalnya bila mungkin selalu mengukur sudut searah jarum jam, dan
arah putaran ditunjukkan dalam buku lapangan dengan sebuah sketsa.

Azimuth adalah besar sudut antar utara magnetis (nol derajat) dengan titik
sasaran yang kita tuju, azimuth sering disebut sudut kompas, perhitungan searah
jarum jam.

Ada tiga macam azimuth yaitu :

a) Azimuth sebenarnya
b) Azimuth magnetis
c) Azimuth peta
Azimuth sebenarnya yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya
dengan titik sasaran. Azimuth magnetis adalah sudut yang dibentuk antara utara
kompas dengan titik sasaran. Sedangkan azimuth peta yaitu besar sudut yang
dibentuk peta dengan titik sasaran.

Back azimuth adalah besar sudut atau kebalikan /kebelakang dari azimuth.
Cara menghitungnya bila sudut azimuth lebih dari 180 maka sudut azimuth
dikurangi 180, bila sudut azimuth kurang dari 180 maka sudut azimuth
ditambahkan 180 , bila sudut aizmuth sama dengan 180 maka sudut back
azimuthnya adalah 0 atau 360

Gambar 2.1 Sudut Azimuth

Sudut antara dua jurusan A dan B dapat diketahui dengan menghitung


selisih pembacaan sudut horizontal pada theodolit yang diarahkan ke A dan
B.
Koordinat suatu titik dapat dihitung berdasarkan suatu titik referensi yang
sudah diketahui koordinatnya.
Rumus yang dipakai adalah:
XA = XT + dTA sin TA

YA = YT + dTA cos TA

Keterangan:

TA = azimuth TA

T = titik referensi

dTA = jarak antara titik A dan B,


dapat dihitung dengan rumus : d = 100 (a-b) cos2

Sudut vertikal dapat diketahui dengan cara sebagai berikut :


1. Ukur tinggi theodolit dari as teropong (sumbu I) sampai
permukaan tanah, misalnya Y meter
2. Arahkan teropong ke rambu pada ketinggian Y meter
3. Baca besar sudut vertikal
Bab III
Langkah Kerja

3.1 Deskripsi Kegiatan


Pada hari Rabu, 18 Oktober 2017, dilakukan pengamatan sudut
menggunakan theodolite digital untuk menentukan sudut dan panjang
terhadap 3 titik acak di Lapangan Sipil ITB.

3.2 Pelaksanaan
a. Kegiatan praktikum dimulai pada pukul 13.00 WIB.
b. Pengenalan praktikum di kelas, menjelaskan apa dan bagaimana
praktikum yang akan dilakukan.
c. Tiap kelompok dibagi lembar kerja dan lembar peminjaman alat untuk
praktikum ke lapangan.
d. Seusai diberikan penjelasan, praktikan mengambil alat dan mengurus
peminjaman alat.
e. Sekitar pukul 14.30 WIB, praktikan menuju lapangan sipil untuk
melaksanakan praktikum. Lapangan sipil dibagi menjadi 5 area, tiap
area dihuni oleh satu kelompok. Para praktikan menentukan spot
pengukurannya masing-masing di lapangan sipil.
f. Tiap kelompok menentukan 3 titik acak setelah dibagi 5 area, di tiap 3
titik tersebut dipasang oleh paku sebagai penanda.
g. Memasang theodelit digital dan 2 rambu ukur pada 3 titik yang sudah
ditentukan sebelumnya.
h. Lakukan centering theodelit digital sebelum melakukan pengukuran.
i. Melakukan 3 kali penghitungan sudut dari dan ke masing-masing titik
oleh 3 pengamat menggunakan 2 metode yaitu, biasa dan luar biasa.
j. Melakukan pengukuran jarak sembarang dari tiap titik 3 kali.
k. Mencatat hasil pengukuran dan gambar sketsa lapangan.
l. Mengulangi proses penghitungan pada tiap-tiap titik yang sudah
ditentukan.
m. Membersihkan dan merapikan alat praktikum.
n. Mengembalikan alat.
o. Pengumpulan data laporan.
p. Membuat laporan dengan membagi tugas antar anggota kelompok.
Bab IV
Data dan Pengolahan Data

4.1 Data
Tabel 4.1.1 Data Pengukuran Sudut
NIM Tempat Kedudukan Arah Bacaan skala
Pengukur Alat Teropong Bidikan lingkaran horizontal
B 2 14o4556

B 3 77o4934
15716005 1
LB 3 257o5005

LB 2 194o4324

B 2 0o00

B 3 63o1540
15716001 1
LB 3 242o5719

LB 2 180o1334

B 2 0o00

B 3 66o3926
15716020 1
LB 3 246o4055

LB 2 180o0102

B 3 0o00
15716020
2 B 1 56o5835
'
LB 1 236o4020
LB 3 180o0016

B 1 0o00

B 2 60o3313
15716039 3
LB 2 240o5855

LB 1 180o1502

Tabel 4.1.2 Jarak antar titik-titik yang diukur

NIM Pengamat D12 D13 D23


(m) (m) (m)
15716005 10,3 10 10,63

15706001 10,32 10 10,63

15716020 10,27 10 10,5

4.2 Pengolahan Data


A. Perhitungan sudut dalam segitiga ( )
1. Menghitung sudut dalam ( ) titik 1

Pengukur 1
B = bacaan kanan bacaan kiri
= 77o4934 - 14o4556
= 77,826111o 14,765557o
= 63,060554o

LB = bacaan kanan bacaan kiri


= 257o5005 - 194o4324
= 257,834722o 194,723333o
= 63,1113889o
rata-rata = B + LB

= 63,060554o + 63,1113889o
= 63,085971o
= 63,09o

Pengukur 2
B = bacaan kanan bacaan kiri
= 63o1540 - 0o00
= 63,261111o 0o
= 63,261111o
LB = bacaan kanan bacaan kiri
= 242o5719 - 180o1334
= 254,955278o 180,226111o
= 74,72916689o
rata-rata = B + LB

= 63, 261111o + 74,72916689o


= 68,995138o
= 69o

Pengukur 3
B = bacaan kanan bacaan kiri
= 66o3926- 0o00
= 66,657222o 0o
= 66,657222o
LB = bacaan kanan bacaan kiri
= 246o4055 - 180o0102
= 246,681944o - 180,017222o
= 66,664722o
rata-rata = B + LB

= 66,657222o + 66,664722o
= 66,660972o
= 66,66o
Dari rata-rata hasil diatas, diperoleh sudut dalam horizontal titik 1 yaitu :
1 = 63,085971o + 68,995138o + 66,660972o
= 66,247360o
= 66o1450,49

2. Menghitung sudut dalam ( ) titik 2

B = bacaan kanan bacaan kiri


= 56o5835 - 0o00
= 56,976289o 0o
= 56,976289o
LB = bacaan kanan bacaan kiri
= 236o4020 - 180o0016
= 236,672222o 180,004444o
= 56,667778o
Dari rata-rata hasil diatas, diperoleh sudut dalam horizontal titik 2 yaitu :
2 = B + LB

= 56,976289o + 56,667778o
= 56,822033o
= 56o4919,32

3. Menghitung sudut dalam ( ) titik 3


B = bacaan kanan bacaan kiri
= 60o3313 - 0o00
= 60,553611o 0o
= 60,533611o
LB = bacaan kanan bacaan kiri
= 240o5855 - 180o1502
= 240,981944o 180,250556o
= 60,731388o
Dari rata-rata hasil diatas, diperoleh sudut dalam horizontal titik 3 yaitu :
3 = B + LB

= 60,533611o + 60,731388o
= 60,632499o
= 60o3757
B. Perhitungan jarak-jarak segitiga
D1 = 10,3 m + 10,32 m + 10,27 m
= 10,29 m
D2 = 10 m + 10 m + 10 m
= 10 m
D3 = 10,63 m + 10,63 m + 10,5 m
= 10,59 m
Tabel 4.2.1 Rata-rata jarak tiap sisi segitiga berdasarkan perhitungan di lapangan
NIM Pengamat D12 D13 D23
(m) (m) (m)
15716005 10,3 10 10,63

15706001 10,32 10 10,63

15716020 10,27 10 10,5

Rata-rata 10,30 10 10,59

C. Pembuktian sudut dalam segitiga


Sudut dalam segitiga = 1 + 2 + 3

= 66,247360o + 56,822033o + 60,632499o


= 183,701892o
Sudut dalam segitiga teoritis = 180o
Berdasarkan hasil tersebut diperoleh bahwa sudut dalam segitiga hasil
perhitungan tidak sama dengan sudut dalam segitiga teoritis.
D. Pembuktian sisi-sisi segitiga

Pada pembuktian sisi-sisi segitiga, akan dibuktikan apakah nilai


pengukuran sisi-sisi segitiga pada hasil praktikum sama dengan hasil
perhitungan secara teoretis. Dalam perhitungannya digunakan rumus aturan
cosinus, yaitu

Gambar 4.1 Sudut dan Jarak dari Daerah Segitiga

d122 = d232 + d132 2.d23.d13.cos ( 3)


d23 = d122 + d132 2.d12.d13.cos ( 1)
d13 = d122 + d232 2.d12.d13.cos ( 2)

1. Pembuktian panjang d12


d12 = [d132 + d232 2.d13.d23.cos (3)]1/2
= [102 + 10,592 2.10.10,59.cos (600 33 13)]1/2
= 10,39 m
d12 (teoretis) = 10,39 m
d12 (pengukuran) = 10,30 m
Maka dapat disimpulkan bahwa d12 (teoretis) > d12 (pengukuran)

2. Pembuktian panjang d23


d23 = [d122 + d132 2.d12.d13.cos (1)]1/2
= [10,302 + 102 2.10,30.10.cos (660 39 26)]1/2
= 11,16 m
d23 (teoretis) = 11,16 m
d23 (pengukuran) = 10,59 m
Maka dapat disimpulkan bahwa d23 (teoretis) > d23 (pengukuran)

3. Pembuktian panjang d13


d13 = [d122 + d232 2.d12.d23.cos (2)]1/2
= [10,302 + 10,592 2.10,30.10,59.cos (560 58 35)]1/2
= 9,97 m
d13 (teoretis) = 9,97 m
d13 (pengukuran) = 10 m
Maka dapat disimpulkan bahwa d13 (teoretis) < d13 (pengukuran)
Bab V
Analisis

Yuanda Eka Putri (15716001)

Ario Arianto (15716005)

Puti Fauzia Imani (15716013)

Muhammad Amien Reza (15716016)

Nyi Ayu Afifah Nurmayaningrum (15716020)

Pada praktikum modul 1 ini bertujuan untuk menghitung sudut dalam horizontal pada
3 titik yang telah ditentukan dan menghitung jarak dari Theodolite ke patok atau
sasaran yang disebut jarak lapangan pada perhitungan. Dimana hasil data tersebut
dibandingkan dengan hasil perhitungan atau data teoritis.

Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan, diperoleh nilai 1 = 66,247360


o
, 2 =
56,822033o , dan 3 = 60,632499o. sehingga total dari sudut dalam segitiga (dari 3
titik) yaitu 183,701892o. Sedangkan secara teoritis, total nilai sudut dalam segitiga
adalah 180o, oleh karena itu sudut yang diperoleh dilapangan tidak sama dengan sudut
teoritis. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti ketidaktepatan
dalam mengatur gelembung nivo. Gelembung tidak tepat ditengah sehingga theodolite
tidak benar-benar dalam posisi mendatar. Selain itu, kurangnya pemahaman praktikan
dalam menggunakan dan ketepatan dalam membidik atau memposisikan jalon
sehingga berakibat fatal pada hasil sudut yang diperoleh. Perbedaan hasil sudut juga
dapat dipengaruhi oleh factor getaran udara (ondulasi), dimana bila suhu lingkungan
tinggi (panas), maka terjadilah pemindahan udara panas dari permukaan bumi ke atas.
Hal ini mengakibatkan bayangan jalon menjadi kabur, sehingga bacaan jalon kurang
teliti.

Selanjutnya, berdasarkan hasil pengukuran di lapangan diperoleh jarak-jarak antar titik


yaitu :

- Antara titik 1 dan 2 (D12) = 10,30 m


- Antara titik 1 dan 3 (D13) = 10 m
- Antara titik 2 dan 3 (D23) = 10,59 m
Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh bahwa jarak hasil pengkuran berbeda
dengan jarak optis dari hasil perhitungan (jarak teoritis). Dari hasil perhitungan
diperoleh bahwa d12 (teoretis) > d12 (pengukuran) dengan kesalahan relative sebesar 0,99% ;
d13 (teoretis) < d13 (pengukuran) dengan kesalahan relative sebesar 1,003% ; d23 (teoretis) > d23
(pengukuran) dengan kesalahan relative sebesar 0,95%. Kesalahan relative yaitu
perbandingan antara jarak yang diukur menggunakan meteran atau jarak lapangan
dengan jarak optis yang didapat dari perthitungan. Perbedaan jarak yang diperoleh ini
dapat disebabkan oleh kesalahan mengukur dengan menggunakan meteran dalam
menghitung jarak dilapangan. Mungkin saat pengukuran, meteran yang digunakan
tidak lurus sehingga jarak yang dibaca berbeda dengan aslinya.

Amalia Nur Amira (15716030)

Mohamad Fakhry H.A. (15716031)

Zalfa Fakhirah Amir Nur (15716039)

Setelah melakukan hasil pengolahan data dan perhitungan, didapatkan nilai 1

= 66,247360o , 2 = 56,822033o , dan 3 = 60,632499o. Maka total jumlah sudut yang


kelompok kami dapatkan adalah 183,701892o. Hal ini tentunya berbeda dengan
referensi, seharusnya jumlah sudut yang terbentuk adalah180o . Hal ini bisa saja terjadi
saat melakukan pengukuran karena adanya kesalahan dari pengamat, baik saat
melakukan centring dan levelling alat (gelembung nivo kotak tidak pas berada
ditengah, dan gelembung nivo tabung tidak pas berada ditengah), lalu faktor ketelitian
mata juga sangat berpengaruh kepada hasil yang didapatkan, karena jika pegamat
kurang teliti maka akan terjadi kesalahan dalam membidik sasaran dalam pembacaan
sudut, selain itu hal yang memungkinkan terjadinya kesalahan juga adalah faktor
cuaca.
Untuk menentukan sisi-sisi segitiga, maka digukanlah rumus cossinus untuk
membuktikan jarak pengukuran saat dilapangan dan jarak teoritis. Setelah melakukan
hasil pengolahan data dan perhitungan, maka didapatkan untuk jarak titik 1 dan titik 2
(d12) d12 (teoretis) = 10,39 m dan d12 (pengukuran) = 10,30 m. Untuk jarak titik 2 dan titik 3
(d23) didapatkan d23 (teoretis) = 11,16 m dan d23 (pengukuran) = 10,59 m. Dan untuk jarak
titik 1 dan titik 3 (d13) didapatkan d13 (teoretis) = 9,97 m dan d13 (pengukuran) = 10 m. Maka
dapat kita lihat bahwa d12 (teoretis) > d12 (pengukuran), d23 (teoretis) > d23 (pengukuran), dan d13 (teoretis)
< d13 (pengukuran). Saat dilapangan, ada beberapa faktor yang menyebabkan d(teoretis)
d(pengukuran), yaitu ketidak akuratan pengamat dalam menentukan jarak, jarak yang
ditentukan terlalu panjang sehingga pita ukur tidak dapat membentang dengan lurus
dan faktor kontur tanah yang tidak sama antar titik satu dan titik lainnya.
Bab VI
Kesimpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan, diperoleh
sudut dalam horizontal dari tiap titik seperti berikut :
Titik Besar sudut dalam horizontal ( )
1 66,247360o
2 56,822033o
3 60,632499o

Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dan hasil pengukuran jarak


secara optis (jarak teoritis) diperoleh hasil sebagai berikut :
Jarak pengukuran Jarak teoritis
Nama jarak
(m) (m)
D12 10,3 10,39
D13 10 9,97
D23 10,59 11,16

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh hasil bahwa sudut teoritis tidak


sama dengan sudut hasil pengamatan di lapangan.
teoritis = 180o

pengukuran = 183,701892o

Selain itu, jarak dari hasil pengukuran juga tidak sama dengan jarak
teoritis hasil perhitungan.
- d12 (teoretis) > d12 (pengukuran)
- d23 (teoretis) > d23 (pengukuran)
- d13 (teoretis) < d13 (pengukuran)
Perbedaan tersebut disebabkan oleh beberapa kesalahan saat praktikum
yaitu :
mmmmm (disimpulkan dari tiap pembahasan)
nnnnn
6.2 Saran
Untuk keberlangsungan praktikum,
Daftar Pustaka

Tuliskan sesuai dengan kaidah penulisan daftar pustaka

Contoh :
Dugdale, R.H. 1986. Ilmu Ukur Tanah. Jakarta : Erlangga
Purworaharjo, Umaryono U.1986.Ilmu Ukur Tanah Seri C. Bandung: ITB
http://ensiklopediamatematika.wordpress.com/planimetri/
Lampiran dan Kerapian

Tempat pengambilan Data

Surat Tugas Praktikum

Formulir Pengukuran Sudut dan Jarak


Sketsa