Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri atas suami, istri dan

anak atau ayah dengan anaknya atau keluarga sedarah dalam garis lurus

keatas atau kebawah sampai dengan ketiga. Orangtua merupakan pendidikan

pertama dan utama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-

mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari

pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orangtua dikatakan sebagai

pendidik pertama kalinya dan dikatakan pendidik utama karena pendidikan

dari orangtua menjadi dasar bagi perkembangan dan kehidupan anak

dikemudian hari. Pendidikan dalam keluarga akan memenuhi sifatsifat

kemanusiaan dan perkembangan anak untuk belajar terhadap respon-respon

yang diterimanya, demikian halnya dengan kreativitas anak yang tidak lepas

dari pengasuhan orangtua atau dalam arti kata bahwa kreativitas anak erat

hubungannya dengan pola asuh yang diberikan oleh orangtua. Mendidik anak

merupakan usaha nyata dari pihak orangtua untuk mengembangkan totalitas

potensi yang ada pada diri anak (Shochib, 2010).

Mengasuh dan membesarkan anak berarti memelihara kehidupan dan

kesehatan serta mendidiknya dengan penuh ketulusan dan cinta kasih.

Pengasuhan atau pola asuh berarti bagaimana orangtua memperlakukan anak,

mendidik, membimbing, mendisiplinkan anak dalam mencapai proses

1
2

kedewasaan hingga kepada upaya pembentukan norma-norma yang

diharapkan masyarakat pada umumnya (Casmini, 2007).

Pengasuh yang baik sangat penting untuk dapat menjamin tumbuh

kembang anak yang optimal. Misalnya pada keluarga miskin, yang

ketersediannya pangan dirumah belum tentu mencukupi, namun ibu yang

tahu bagaimana mengasuh anaknya, dapat memanfaatkan sumbersumber

yang terbatas untuk dapat menjamin tumbuh kembang yang optimal.

Mengasuh anak dan membesarkan anak berarti memelihara kehidupan dan

kesehatannya serta mendidik dengan penuh ketulusan dan cinta kasih.

Pengasuhan atau pola asuh berarti bagaimana . orangtua memperlakukan

anak, mendidik, membimbing, mendisiplinkan anak dalam mencapai proses

kedewasaan hingga kepada upaya pembentukan normanorma yang

diharapkan masyarakat pada umumnya (Casmini, 2007).

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan

perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan

masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

usia bermain/toddler (1-2,5 tahun), prasekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-

11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berbeda antara satu

dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat

rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan

lambat. Dalam proses berkembang anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep

diri, pola koping dan perilaku sosial (Hidayat, 2005).


3

Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring

Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang

dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York,

Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education

development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu

menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia. EDI

dikatakan tinggi jika mencapai 0,95-1. Kategori medium berada di atas 0,80,

sedangkan kategori rendah di bawah 0,80 (Retno, 2015).

Menurut Sugihartono dkk (2007), pendidikan merupakan usaha sadar dan

terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku

manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan

manusia tersebut melalui proses pengajaran dan pelatihan (Irham & Wiyani,

2013).Dalam keseluruhan proses pendidikan disekolah, kegiatan belajar

merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya

pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses

belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik (Ahmadi & Supriyono,

2013).

Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Karena perbedaan itu, maka

sebenarnya setiap anak memerlukan perlakuan tersendiri sesuai potensi

individualnya untuk mencapai perkembangan yang optimal. Terdapat

beberapa perlakuan yang tidak dapat dilakukan dan diberikan untuk anak, hal

ini dikuatirkan akan menjadi beban pada anak. Di tingkat SD misalnya, setiap
4

kelas rata-rata diisi oleh sekitar 40 anak dengan seorang guru, Kurikulum

yang dipakai untuk 40 anak sama, materinya sarna, metode mengajarnya

sama, gurunya sama, waktu belajarnya sama, dan cara evalauasinya juga

sama. Pola pendidikan semacam ini telah berjalan berpuluh-puluh tahun,

setiap akhir catur wulan atau semester, atau akhir tahun mereka akan

menerima raport. Ada yang masuk rangking sepuluh besar, ada yang tidak

masuk, ada yang naik kelas ada yang tidak naik kelas, dan seterusnya. Dalam

dunia pendidikan tidak pernah mengenal faktor tunggal sebagai penyebab

apakah anak sukses atau gagal dalam belajar. Kita mengenal faktor internal

dan faktor eksternal. Antara kedua faktor tersebut, sebelum kita temukan

diagnosisnya, memiliki peluang yang sama untuk menjadi penentu

keberhasilanatau kegagalan anak dalam belajar di sekolah(Dwi, 2009).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Guswanto (2012) yang

meneliti tentang hubungan pola asuh orangtua dengan kejadian sibling

reivalry pada anak usia prasekolah di TK Nurul Ummah Kotagede

Yogyakarta, dalam penelitian ini didapatkan hasil terdapat hubungan pola

asuh dengan kejadian sibling rivalry pada anak usia prasekolah, penelitian ini

menyebutkan bahwa pola asuh yang baik pada anak akan menjadikan akan

menjadi baik, baik dari perilaku maupun dari segi yang lainnya (pendidikan,

sosialisasi dan pertumbuhan). Penelitian yang dilakukan oleh Ulfa (2015)

yang meneliti tentang hubungan pola asuh orangtua dengan prestasi akademik

pada anak SMP Muhammadiyah Pleret Bantul, dalam penelitian ini

didapatkan hasil terdapat pola asuh orangtua dengan prestasi akademik,


5

penelitian ini menyebutkan bahwa semakin baik pola asuh orangtua maka

semakin baik prestasi akademik yang didapatkan, karena pola asuh baik

merupakan salah satu bentuk dukungan orangtua terhadap pendidikan yang

dijalankan anak.

Dari hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan peneliti pada tanggal

12November 2016, didapatkan keterangan dari guru SD Banyakan,

Sitimulyo, kelas IV dan V sekolah ini mempunyai murid berjumlah 65 siswa,

dimana terdapat nilai-nilai yang berbeda, hal ini dibuktikan dengan nilai akhir

sekolah siswa yang mempunyai peringkat berbeda-beda. Berdasarkan hasil

wawancara terhadap 4 orang tua wali murid, dua orang tua wali murid

mengatakan bahwa orangtua ikut terlibat dalam membagi waktu belajar dan

bermain anak tanpa harus memaksa pada anak, menemani anak saat belajar

walaupun tidak terlalu sering. Sedangkan satu orangtua mengatakan bahwa

selalu menuruti apa yang diminta oleh anaknya sebagai salah satu contoh

yaitu memberikan uang jajan sesuai dengan yang diminta oleh anaknya,

kemudian satu orangtua mengatakan bahwa sering memarahi anak saat tidak

mau mendengarkan nasehatnya, tidak membolehkan anak disaat anak

menonton TV ketika anak menginginkannya.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian

mengenai Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Prestasi Siswa Kelas IV

dan V di SD Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.


6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang,maka rumusan masalah pada penelitian ini

adalah Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi belajar

siswa kelas IV dan V di SD Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul,

Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada

hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi siswa kelas IV dan V di

SD Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.


2. Tujuan khusus
a. Di ketahuinya pola asuh orangtua pada siswa kelas IV dan V di SD

Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.


b. Di ketahuinya prestasi pada siswa kelas IV dan V di SD Banyakan,

Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

D. Manfaat penelitian

Melalui penelitian yang di lakukan, di harapkan dapat memberikan suatu

masukan yang bermanfaat bagi:

1. Bagi Ilmu keperawatan Anak

Dapat menambah pengetahuan perawat secara umum dan khususnya pada

ilmu keperawatan tentang anak danhubungan antara pola asuh orangtua

dengan prestasi belajar pada anak serta dapat digunakan sebagai sumbangan

teori dan konsep mengenai hal tersebut.

2. Bagi Mahasiswa Stikes Madani Yogyakarta


7

Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan dan berguna untuk

referensi tentang Hubungan pola asuh orang tua dengan prestasi siswa kelas

IV dan V di SD Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.

3. Bagi Orang Tua

Dapat memberikan informasi tentang hubungan antara pola asuh orang tua

dengan tingkat prestasi belajar pada anak, sehingga dapat menjadi masukan

dalam menentukan waktu yang efektif untuk siswa sehingga dapat

meningkatkan prestasi belajar.

4. Bagi Pengajar di SD Banyakan, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta

Dengan diadakannya penelitian ini pengajar/guru dapat mengetahui kondisi

psikologi siswanya dengan pola asuh orangtua dan hubungannya dengan

prestasipada siswa didiknya.

5. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan masukan sebagai acuan

kepada peneliti lain untuk penelitian lebih lanjut tentang hubungan pola asuh

orang tua dengan prestasi pada siswa kelas IV dan V di SD Banyakan,

Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.


8

E. Keaslian Penelitian

No Penelitian Tempat Desain dan Populasi Instrument Hasil


analisis data dan teknik penelitian
sampel
1 Ariani (2009) SD cross Populasi Kuesioner Terdapat
Sumberjo sectional sebanyak dan DDST hubunga
11 Ngawen dengan 57 dan n
Blora analisis uji sampel
Jateng 2009 kendall tau sebanyak
57
2 Fani (2012) PAUD SC cross Populasi Kuesioner Terdapat
KLAB sectional sebanyak hubunga
Wonosobo dengan 36 dan n
analisis uji sampel
kendall tau sebanyak
36
3 Dewi (2009) TK Al- cross Populasi Kuesioner Terdapat
Amin sectional sebanyak hubunga
Gowongan dengan 45 dengan n
Yogyakarta analisis uji sampel
kendall tau sebanyak
45
Kesimpulan Setelah dilakukan kajian terhadap penelitian tersebut didapatkan
perbedaan-perbedaan sebagai berikut:
Perbedaan 1. variabel terikatnya yaitu pertumbuhan dancatatan
perkembangan kesehatan anak, sedangkan variabel terikat
dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah tingkat
prestasi pada siswa
2. variabel bebas dalam penelitian ini adalah hypnoparenting,
dan respondennya adalah anak usia prasekolah dan seluruh
pasangan orang tua variabel bebas dalam penelitian ini
adalah hypnoparenting, dan respondennya adalah anak usia
prasekolah dan seluruh pasangan orang tua
3. variabel yang diteliti, dalam penelitian tersebut variabel
terikat yang diteliti adalah tentang kepercayaan diri anak dan
respoden adalah anak pra sekolah, selain itu juga tempat
penelitiannya, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
peneliti adalah variabel terikat yaitu tingkat prestasi dan
responennya adalah anak remaja