Anda di halaman 1dari 18

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hijauan makanan ternak (hmt) merupakan salah satu bahan makanan

ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan

kelangsungan populasi ternak. Oleh karenanya, hijauan makanan ternak sebagai

salah satu bahan makanan merupakan dasar utama untuk mendukung peternakan.

Kebutuhan akan hijauan pakan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya

jumlah populasi ternak.

Dalam usaha peternakan, biaya produksi untuk pakan dapat mencapai

70%. Oleh karena itu keuntungan usaha ini dapat diperoleh apabila ransum/pakan

yang diberikan cukup murah tetapi dapat memenuhi kebutuhan ternak. Bahan

pakan untuk sapi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu hijauan dan pakan

tambahan (konsentrat). Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka kedua

macam bahan pakan ini harus diberikan, karena diharapkan dari kedua macam

bahan pakan ini kebutuhan protein dapat terpenuhi.

Pemberian pakan hijauan pada ternak harus diimbangi dengan pemberian

konsentrat. Hijauan merupakan pakan yang mudah didapat dan harganya lebih

murah daripada konsentrat. Masalah dalam pakan hijauan adalah produksi

hijauannya ketika musim kemarau yang menurun mengakibatkan hijauan untuk

konsumsi ternak tidak dapat memenuhi kebutuhan. Hal ini mengakibatkan

produktifitas dari ternak menurun. Jika peternak hanya memberikan konsentrat

saja, metabolisme ternak tersebut tidak berjalan dengan baik dan biaya produksi

pakan semakin tinggi. Keadaan hijauan yang kurang ini dapat kita atasi dengan
2

pengawetan hijauan. Pengawetan ini dapat berupa silase, hay dan jerami

fermentasi ataupun amnoniasi hijauan. Hal ini tidak terlepas dari pemenuhan

konsumsi hijauan ternak ketika pakan hijauan kritis.

1.2 Maksud dan Tujuan

1. Bagaimana cara membuat silase yang baik.

2. Bagaimana standar kualitas silase.

3. Bagaimana kualitas silase yang dibuat.

4. Bagaimana preferensi sapi terhadap silase yang diberikan.

1.3 Waktu danTempat

Waktu : 07.30 09.30 WIB

Tanggal : 18 september 2017 dan 24 Oktober 2017

Tempat : Kandang Sapi Perah Fakultas Peternakan Universitas

Padjadjaran
3

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jerami Jagung

Jerami jagung merupakan hasil ikutan tanaman jagung dengan tingkat

produksi mencapai 4-5 ton/ha. Kandungan nutrisi jerami jagung diantaranya

protein 5,56%, serat kasar 33,58%, lemak kasar 1,25, abu 7,28 dan BETN

52,32%. Dengan demikian, karakterisitik jerami jagung sebagai pakan ternak

tergolong hijauan bermutu rendah dan penggunaannya dalam bentuk segar tidak

menguntungkan secara ekonomis. Selain itu, jerami jagung memiliki kandungan

serat kasar tinggi sehingga daya cernanya rendah (Shanahan dkk, 2004).

Kualitas jerami jagung sebagai pakan ternak dapat ditingkatkan dengan

teknologi silase yaitu proses fermentasi yang dibantu jasad renik dalam kondisi

anaerob (tanpa oksigen). Teknologi silase dapat mengubah jerami jagung dari

sumber pakan berkualitas rendah menjadi pakan berkualitas tinggi serta sumber

energi bagi ternak (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, 2011).

2.2 Molases

Molases adalah hasil ikutan dari limbah perkebunan tebu yang berwarna

hitam kecoklatan kandungan gizi yang cukup baik didalamnya sangat baik

digunakan sebagai bahan tambahan pakan ternak, selain itu molases juga

mengandung vitamin B kompleks dan unsur-unsur mikro yang penting bagi ternak

seperti kobalt, boron, jodium, tembaga, mangan dan seng, namun molases

memiliki kelemahan yakni kadar kaliumnya yang tinggi dapat menyebabkan diare

bila dikonsumsi terlalu banyak. Keuntungan penggunaan molases untuk pakan


4

ternak adalah kadar karbohidrat tinggi (48-60% sebagai gula), kadar mineral

cukup dan disukai ternak (Yudith, 2010).

Molases sebagai bahan pengawet dalam proses ensilase merupakan

sumber utama pertumbuhan dan perkembangbiakan bagi banyak jenis mikroba,

terutama untuk memacu pertumbuhan bakteri asam laktat. Kandungan gula di

dalam molases akan lebih mudah dikonversi menjadi asam laktat (Judoamidjojo

dkk, 1989) . Jumlah molases yang digunakan biasanya tidak lebih dari 10% -

15% dari ransum karena penggunaan molases lebih dari 15% akan menyebabkan

ransum menjadi lengket dan sulit ditangani serta mengganggu aktivitas mikroba

yang baik. Komposisi molases dalam 100% bahan kering (BK) mengandung

protein kasar (PK) 5,4%, serat kasar (SK) 10,4%, lemak kasar (LK) 0,3%, BETN

74% dan abu 10,4% (Hartadi dkk, 1990).

2.3 Silase

Teknologi pengawetan hijauan yang disebut silase telah lama diterapkan

dan terus dikembangkan sampai sekarang. Saat ini silase tetap menjadi andalan

pakan di musim dingin di negara-negara yang mengalaminya. Secara umum

teknologi ini belum banyak diadopsi di daerah tropis, disebabkan kurangnya

pemahaman dan sosialisasi mengenai proses fermentasi silase atau ensilase dari

peneliti ke peternak (Mannetje, 1999).

Silase diharapkan dapat membantu mengatasi permasalahan kekurangan

rumput yang sekaligus menjamin adanya hijauan sepanjang tahun sehingga akan

memperbaiki produktivitas ternak. Bahkan, akhir-akhir ini diketahui bahwa

pemberian silase pada sapi memberikan keuntungan efek probiotik (Weinberg

dkk, 2004). Hal ini dimungkinkan karena bakteri asam laktat yang memegang

peran utama pada fermentasi silase, akan tetap hidup selama penyimpanan sampai
5

pada waktu silase dikonsumsi ternak. Prinsip pembuatan silase adalah fermentasi

hijauan oleh bakteri yang menghasilkan asam secara anaerob (Moran, 2005).

Lactobacillus buchneri yang heterofermentatif dapat menghasilkan asam

asetat dalam konsentrasi yang tinggi sehingga sesuai untuk upaya tersebut. Selain

itu, L. buchneri dapat memperbaiki stabilitas aerobik silase, terutama pada saat

dilakukan pemanenan (Muck, 2002).

2.4 Silase Jerami Jagung

Limbah jagung yang dapat dibuat silase adalah seluruh tanaman termasuk

buah mudanya atau buah yang hampir matang atau limbah yang berupa tanaman

jagung setelah buah dipanen dan kulit jagung. Tanaman jagung yang tersisa dari

panen jagung masih cukup tinggi kadar airnya. Untuk pembuatan silase,

dibutuhkan kadar air sekitar 60%. Oleh sebab itu, tanaman jagung harus

dikeringkan sekitar 2 3 hari. Limbah dipotong menjadi potongan-potongan kecil

lalu dimasukkan sambil dipadatkan sepadat mungkin ke dalam kantong-kantong

plastik kedap udara atau dalam silo-silo yang berbentuk bunker (Nusio 2005).

Bila dalam proses pembuatan silase suasana kedap udara tidak 100% maka

bagian permukaan silase sering terkontaminasi dan ditumbuhi oleh bakteri lain

yang merugikan seperti bakteri Clostridium tyrobutyricum yang mampu

mengubah asam laktat menjadi asam butirat (Driehuis dan Giffel 2005). Bila

seluruh tanaman jagung termasuk buahnya dibuat menjadi silase maka karbohidrat

terlarut yang dibutuhkan untuk pertumbuhan bakteri sudah mencukupi. Bila yang

dibuat silase hanya jerami jagung atau kulit jagung, maka perlu ditambahkan

molases sebagai sumber karbohidrat terlarut atau dapat pula ditambahkan starter

(bakteri atau campurannya) untuk mempercepat terjadinya silase. Mikroba yang

ditambahkan biasanya bakteri penghasil asam laktat seperti


6

Lactobacillusplantarum, Lactobacillus casei, Lactobacillus lactis, Lactobacillus

bucheneri, Pediocococcusacidilactici, Enterococcus faecium, yang menyebabkan

pH silase cepat turun (Nusio, 2005).

Kualitas suatu silase diperlihatkan oleh beberapa parameter seperti pH,

suhu, tekstur, warna, dan kandungan asam laktatnya. Derajat keasaman (pH) yang

optimum untuk silase yang baik sekitar 3,8 4,2, dan akan memperlihatkan

tekstur dan warna silage yaitu halus dan hijau kecoklatan. Hasil fermentasi lebih

disukai ternak karena baunya yang harum dan teksturnya yang lunak (Ulva, 2006).

Kegagalan dalam pembuatan silage dapat disebabkan oleh beberapa faktor

diantaranya adalah proses pembuatan yang salah, terjadi kebocoran silo sehingga

tidak tercapai suasana di dalam silo yang anaerobik, tidak tersedianya karbohidrat

terlarut (WSC), berat kering (BK) awal yang rendah sehingga silage menjadi

terlalu basah dan memicu pertumbuhan organisme pembusuk yang tidak

diharapkan (Ratnakomala dkk, 2009).


7

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

1. Jerami Jagung

2. Molases

3. Silo

4. Pelastik

5. Copper

6. gelas ukur

7. timbangan

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Pembuatan Silase

1. Melayukan jerami jagung minimal 1 hari (kandungan BK kira-kira

60-65%), dengan tanda jerami tidak basah dan daun tidak terlalu hijau

(sedikit menguning).

2. Memotong jerami jagung dengan menggunakan mesin chopper

seukuran 3-5 cm.

3. Memasukkan potongan jerami jagung kedalam karung dan

menimbang sebanyak 25 kg.

4. Menyiapkan bahan imbuhan (molasses) sebanyak 1 %.

5. Memasukkan potongan jerami kedalam silo dengan membuat lapisan

lapisan dan memasukan molasses disetiap lapisannya.


8

6. Memadatkan jerami jagung setiap beberapa lapis dengan cara

menekan (misal: menginjak-injak) bagian permukaannya untuk

menghilangkan udara didalam tumpukan jerami.

7. Apabila jerami jagung belum memenuhi silo, maka menimbang

kembali jerami jagung yang dibutuhkan dan mengulangi langkah 6.

8. Setelah silo penuh, menutup ujung silo dengan plastik kemudian

menutup dengan penutup silo dan dikencangkan dengan menarik tuas

pada klem hingga silo tertutup rapat.

9. Setelah hari ke 28, melakukan pemeriksaan hasil pembuatan silase

dangan melihat bentuk, warna, bau, dan rasa dari silase.

10. Melakukan pengujian terhadap silase.

3.2.2 Evaluasi Hasil Pembuatan Silase

1. Mengambil silase.

2. Menguji bau, rasa, sentuhan (tekstur), warna, cita rasa.

3. Menilai berdasarkan parameter yang sudah ditentukan.

4. Menimbang silase sebanyak 500 gram dan memberikannya pada sapi

untuk diuji.

5. Melakukan uji palatabilitas pada sapi selama 10 menit dengan cara:

(1) memberikan pada sapi, mengamati perilaku makan sapi tersebut,

(2) menyajikan silase dan menyandingkan dengan silase kelompok

lain. Memperhatikan mana yang lebih dahulu dimakan.

6. Mengambil sisa silase oleh masing-masing kelompok dan menimbang

sisa dari silase tersebut.


9

7. Mengurutkan silase kelompok mana yang tingkat palatabilitas yang

paling tinggi dengan berdasarkan pada sisa silase yang paling sedikit

dan menuliskan di kertas laporan.


10

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 1. Standar Penilaian Silase Kelompok 2

Silase dari
Pengujian Kriteria
Kelompok 2

Bau segar, manis, asam, dan harum (5) 5

Manis dan asam (4)


Bau Rasa
Manis dan asam, tapi baunya sedikit merangsang
(5)
tidak segar (3)

Hampir bau amoniak disertai bau jamur (2)

Bau amoniak disertai bau jamur (0)

Kering agak lembab (5) 5

Sentuhan Kondisi antara 5 dan 3 (4)

(Sensasi) Sedikit lengket (3)


(5) Kondisi antara 3 dan 0 (2)

Lengket, panas, timbul jamur (0)

Hijau kekuningan terang (10)

Hijau kekuningan (8)


Warna
Hijau kekuningan sedikit coklat (6)
(10)
Coklat kekuningan (3) 3

Coklat (0)

Bau Cita Wangi seperti buah-buahan, sedikit asam, bila 15


11

Rasa (15) dicicipi enak rasanya (15)

Dicicipi asam rasanya tetapi wangi (11)

Baunya agak wangi, tidak meninggalkan bau (7)

Bau yang tidak sedap seperti bau kompos atau jamur

(3)

Manis dan asam seperti yakult (5)

Asam (3) 3
Rasa (5)
Tidak berasa (2)

Tidak enak (0)

64 60 % (5)

59 55 % (4)

Air (10) 54 50 % (3)

49 45 % (2)

< 44 % (0) 0

Jumlah 31

Tabel 2. Kualitas Silase Baik dan Layak sebagai Pakan Ternak Kelompok 2

Evaluasi Silase dari Kelompok 2

Wangi (Max 25) 25

Rasa (Max 25) 20

Warna (Max 25) 25

Sentuhan (Max 25) 25

Total 95
12

Tabel 3. Uji Palatabilitas

Silase Pertama kali Habis (Detik) Sisa (gr)

Dilihat Dijilat Waktu Rank

I 30 30 1 270

II 1 1 2 400

III 113 113 3 400

IV 115 115 5 400

V 148 148 4 280

VI 0 0 6 500

4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini kami mencoba membuat silase dengan bahan baku

jerami jagung yang telah dichopper dicampur dengan molases sebanyak 1%.

Sebagai bahan pakan, jerami padi memiliki kandungan gizi yang rendah sehingga

perlu adanya teknologi fermentasi yang sederhana, maka untuk mengatasi

kekurangan rumput ataupun hijauan pakan lainnya salah satunya adalah

pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan. Hal tersebut diperkuat oleh

pendapat (Kasryno dan Syafaat, 2000) bahwa jerami jagung merupakan hasil

ikutan bertanam jagung dengan tingkat produksi mencapai 4-5 ton/ha. Kandungan

nutrisi jerami jagung diantaranya protein 5,56%, serat kasar 33,58%, lemak kasar

1,25, abu 7,28 dan BETN 52,32%.

Jerami jagung tersebut dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit dan

dipadatkan dengan penginjakan. Setiap lapisan diberi isi molases hingga lapisan

teratas diberi molases, lalu setelah dipastikan padat, tutup terlebih dahulu dengan

plastik lalu tutup silo dengan tutupnya dan kunci dengan drat penguncinya agar
13

tidak ada udara yang masuk sehingga keadaan di dalam anaerob. Prinsip dasar

pembuatan silase adalah fermentasi hijauan oleh mikroba yang banyak

menghasilkan asam laktat. Hal ini sesuai pendapat Ridwan (2003) bahwa mikroba

yang paling dominan adalah dari golongan bakteri asam laktat homofermentatif

yang mampu melakukan fermentasi dari keadaan aerob sampai anaerob. Asam

laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan berperan sebagai zat

pengawet sehingga dapat menghindarkan dari bakteri pembusuk. Hal ini juga

diperkuat dengan pendapat Moran (2005) bahwa keadaan anaerob ini harus tetap

dipertahankan, sebab oksigen adalah salah satu pembatas dalam proses silasse.

Silase tersebut dibiarkan selama kurang lebih 21 hari agar terjadi proses

fermentasi oleh mikroorganisme dan terbentuk asam laktat yang dapat menurukan

pH silase sehingga menjadi rasa asam. Setelah 21 hari silase dibuka dan diamati

setiap perubahan berdasarkan warna, bau, rasa, dan tekstur lalu dilakukan penilai

silase sesuai standar yang telah ditentukan. Hal ini sesuai pendapat Ratnakomala,

(2009) bahwa silase jika dinilai dari segi kualitatif dapat ditinjau dari beberapa

parameter seperti pH, suhu, tekstur, warna dan kandungan asam laktatnya.

Pada hasil praktikum kami kali ini dilakukan 2 pengujian kualitas silase

dengan cara mengujinya dengan panca indra manusia dan uji palatabilitas

terhadap sapi. Dari hasil pengamatan menggunakan uji panca indra silase

kelompok 2 memiliki kualitas yang baik memiliki bau segar, manis, asa, dan

harum; memiliki tekstur kering agak lembab; kadar air < 44%; memiliki warna

hijau kekuningan sedikit coklat; wangi seperti buah-buahan, sedikit asam, bila

dicicipi enak rasanya; dan memiliki rasa asam. Hal tersebut sesuai dengan

pendapat Direktorat Pakan Ternak (2012) yang menyatakan bahwa silase

dikatakan baik jika pH 3.8- 4.2, kemudian memiliki bau seperti buah-buahan dan
14

sedikit asam, sangat wangi, sehingga terdorong untuk mencicipinya, kemudian

apabila digigit terasa manis dan terasa asam seperti yoghurt atau yakult, kemudian

memiliki warna hijau kekuning-kuningan. Silase yang baik memiliki tekstur

kering, namun apapbila dipegang terasa lembut dan empuk. Hal ini termasuk baik

karena sesuai dengan penilaian bahwa silase jerami jagung yang baik adalah Level

1 dengan nilai diatas 80. Hal ini sesuai dengan pendapat Umiyasih dan Elizabeth

(2008) bahwa produk silase jagung yang baik atau sudah jadi ditandai dengan bau

yang agak asam karena pH silase biasanya rendah (sekitar 4) dan berwarna coklat

muda karena warna hijau daun dari khlorofil akan hancur sehingga limbah

menjadi kecoklatan. Bila ditambah molases, silase yang dihasilkan agak berbau

sedikit harum. Walaupun baunya agak asam, akan tetapi cukup palatabel bagi

ternak.

Berdasarkan uji panca indra perbedaan tiap kelompok tidak teralalu jauh,

namun pada uji palatabilitas perbedaan kelompok cukup berbeda bisa dilihat dari

hasil pengamatan dimana jumlah sampel yang dimakan berbeda tiap

kelompoknya. Silase yang ditambahkan molasses itu lebih disukai oleh sapi

dimana terlihat sapi melihat dan menjilati silase yang ditambahkan dengan

molasses, sedangkan silase yang tidak ditambahkan apapun tidak dilihat maupun

dijilati oleh sapi. Hal ini sesuai pendapat Angga (2015) bahwa silase dengan

penambahan molases mempunyai warna cokelat, dengan aroma seperti caramel

dan memiliki rasa yang manis sehingga ternak lebih suka dengan silase dengan

penambahan molases. Pada pelaksaannya silase kelompok 1 yang tidak

ditambahkan apapun dimakan sebanyak 230 g dengan ranking ke 1, kelompok 2,

3, 4, dan 5 silase ditambahkan molases dimakan sebanyak masing-masing 100 g,

100 g, 100 g, dan 220 g dengan ranking ke 2, 3, 5 dan 4. Hal ini sesuai dengan
15

pendapat Kartadisastra (1997) bahwa ternak ruminansia lebih menyukai pakan

rasa manis dan hambar daripada asin/asam. Mereka juga lebih menyukai rumput

segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih

tinggi. Hal tersebut bisa saja disebabkan karena faktor selera sapi tersebut sejalan

dengan pendapat Hafez (1962) yang mengemukakan bahwa rangsangan selera

(rasa) akan menentukan apakah pakan tersebut akan dikonsumsi oleh ternak atau

tidak.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab kegagalan silase yaitu keadaan

yang aerob artinya ada udara yang masuk ke dalam silase sehingga mengganggu

proses silase, molasses yang diberikan tidak merata, dan baik plastic atau silo

yang tidak tertutup rapat. Hal ini sesuai pendapat Ratnakomala dkk. (2009) bahwa

kegagalan dalam pembuatan silase dapat disebabkan oleh beberapa faktor

diantaranya adalah proses pembuatan yang salah, terjadi kebocoran silo sehingga

tidak tercapai suasana di dalam silo yang anaerobik, tidak tersedianya karbohidrat

terlarut (WSC), berat kering (BK) awal yang rendah sehingga silase menjadi

terlalu basah dan memicu pertumbuhan organisme pembusuk yang tidak

diharapkan. Faktor kegagalan dalam pengujian palatabilitas pada ternak yaitu:

Sebelum silase diberikan, silase tidak di baui ke ternak sehingga ternak hanya

memilih silase yang dekat dengan posisinya karena terlanjur lapar, ternak stress

karena banyaknya mahasiswa di dekat ternak sehingga ternak memilih yang pakan

tidak banyak mahasiswa.


16

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pembuatan silase yang baik adalah dengan memadatkan bahan ke dalam

silo sehingga kedap udara dengan mencampurkan dengan bahan imbuhan

(molasses) atau tidak sama sekali.

2. Standar kualitas silase yang baik adalah warna kuning keemasan, bau yang

harum, ph 4,5 dan kadar air 65-75%.

3. Kualitas silase yang dibuat bernilai 95 menurut standar kualitas.

4. Palatabilitas sapi terhadap silase yang diberikan cukup baik karena sapi

mau memakan silase yang diberikan.

5.2 Saran

1. Pada waktu uji palatabilitasnya usahakan sapi tersebut mencium bau silase

terlebih dahulu supaya tau mana silase yang menurutnya harum.


17

DAFTAR PUSTAKA

Angga Alvianto. 2015. Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Sumber


Karbohidrat Pada Silase Limbah Sayuran Terhadap Kualitas Fisik Dan
Tingkat Palatabilitas Silase. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu Vol. 3(4):
196-200

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. 2011. Teknologi Pembuatan


Silase Jagung Untuk Pakan Sapi Potong. Balai Pengkajian
TeknologiPertanian.Solok. http://sumbar.litbang.pertanian.go.id/t
eknologi-pembuatan-silase-jagung.html Diakses pada tanggal 4
November 2017

Direktorat Pakan Ternak. 2012. Silase. Jakarta: Direktorat Jenderal Peternakan


dan Kesehatan Hewan.

Driehuis, F., S. J. W. H. Oude Elferink & P. G. Van Wikselaar. 2001.


Fermentation characteristics and aerobic stability of grass silage
inoculated with Lactobacillus buchneri, withor without homofermentative
lactic acid bacteria. Grass and Forage Science 56: 330-343.

Hafez, E. S. E. 1962. The Behafiour of Domestic Animal. The Williams and


Wiking Company, Baltimore.

Hartadi, H, S. Reksohadiprodjo. dan Tillman, A. D. 1990. Tabel Komposisi


Pakan Untuk Indonesia.Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Judoamidjojo, R. M., Said. G. E. dan Hartoto, L. 1989. Biokonversi.


Dirjend. Pendidikan Tinggi, PusatAntarUniversitasBioteknologi. IPB.

Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan ternak


Ruminansia. Swadaya. Jakarta

Kasryno, F., N. Syafaat, 2000. Strategi pembangunan pertanian yang


berorientasi pemerataan di tingkat petani, sektoral dan wilayah. Prosiding
perspektif pembangunan pertanian dan pedesaan dalam era otonomi
daerah. Pusat Penelitian Sosial Pertanian Badan Litbang Pertanian
Departemen Pertanian, Jakarta.

Mannetje, L.t. 1999. The future of silage making in the tropics. Proc. of the FAO
Electronic Conference on Silage Making in the Tropics with particular
emphasis on smallholders.
18

Moran, J. 2005. Tropical Dairy Farming: Feeding Management for Small Holder
Dairy Farmers in the Humid Tropics. Landlinks Press, Australia

Muck, R. E. 2002. Effect of corn silage inoculant on aerobic stability. Paper


presented on ASAE annual Int. Meeting/CIGR XVth World Congress. 28-
31 July 2002. Chicago, Illinois, USA

Nusio,L.G. 2005. Silage Production From Tropical Forages. In : Silage


Production and Utilization. PARK, R.S. and M.D. STRONGE
(Eds.).Wageningen Academic Publ., The Netherlands. Pp. 97-107

Ratnakomala, S. 2009. Menabung Hijauan Pakan Ternak dan Bentuk Silase.


BioTrends. 4(1)

Ridwan, R. 2003. Manual pengawetan HMT (Hijauan Makanan Ternak) Dengan


Inokulum Bakteri Asam Laktat. Puslit Bioteknologi-LIPI. Cibinong :
Bogor

Shanahan JF, Smith DH, Stanton TL, Horn BE. 2004. Crop Residues for
Livestock Feed. Colorado:CSU Cooperative Extension -
Agriculture, ColoradeState University.
http://www.ext.colostate.edu/pubs/ crops/00551.html. Diakses
pada 4 November 2017.

Ulva, R. 2006. Pengaruh Jerami Fermentasi terhadap Konsumsi, PBHH dan


Efisiensi Ransum Sapi Simmental. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Andalas, Padang.

Umiyasih, U. dan Elizabeth, W. 2008. Pengolahan dan Nilai Nutrisi Limbah


Tanaman Jagung Sebagai pakan Ternak Ruminansia. Wartazoa Vol. 18
No 3

Weinberg,Z. G., Y. Chen & M. Gamburg. 2004. The passage of lactic acid
bacteria from silage into rumen fl uid, in vitro studies. J. Dairy Sci. 87:
3386-3397.

Yudith Taringan A., 2010. Pemamfaatan Pelepah sawit dan Hasil


Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi
Peranakan Simental Fase Pertumbuhan . Departemen
Pendidikan Fakultas Suma[tra Utara.