Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PERTOLONGAN PERTAMA GIGITAN BINATANG

DISUSUN OLEH

RINCE NITA SUMARNI

JUNI ANTONIUS DAMANIK

YOSIKA OKTAVIANI MANULLANG

CONNIE MELVA SIANIPAR

STIKes Santa Elisabeth Medan

T.A 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat tuhan YME, sehingga kami dapat

menyelesaikan penulisan makalah tentang Makalah tentang bahaya gigitan

binatang dan SOP pebangan gigitan pada binatang ini dengan baik.

Makalah ini disusun sebagai tugas Emergency nursing,Adapun

makalah ini kami susun berdasarkan pengamatan kami dari yang ada

kaitannya dengan makalah yang kami buat. Dalam penyusunan makalah ini

tentunya tidak lepas dari adanya bantuan dari pihak tertentu,oleh karena itu

kami tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada orang tua kami,

guru pembimbing kami,dan teman-teman kami yang telah membantu hingga

selesainya makalah ini.Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari

masih banyak kekurangan dan kelemahannya.

Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini

bermanfaat untuk para pembaca.

Medan , 9 Maret 2017

Penulis
Daftar isi

Kata pengantar

Daftar isi

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan Umum

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

2.1 Patopisiologi gigitan ular

2.2 Tanda-tanda gigitan ular berbisa

2.3 Gejala klinis

2.4 SOP Pertolongan Pertama Gigitan Binatang

2.5 Pertolongan Pertama Gigitan Ular

2.6 Gigitan Tikus

2.7 Gigitan Kucing

BAB 3 PENUTUUP

3.1 Penutup

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Racun adalah zat atau senyawa yang masuk ke dalam tubuh dengan

berbagai cara yang menghambat respons pada sistem biologis dan dapat

menyebabkan gangguan kesehatan, penyakit, bahkan kematian. Keracunan

sering dihubungkan dengan pangan atau bahan kimia. Pada kenyataannya

bukan hanya pangan atau bahan kimia saja yang dapat menyebabkan

keracunan.

Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia.

Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular

berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring

tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh

mangsanya.

Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan

mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa

tersebut merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar

khusus. Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu kelenjar ludah

parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata.

Bisa ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan

campuran kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik.


Patofisologi atau proses bisa ular masuk ke dalam tubuh untuk setiap ular

kurang lebih sama.

1.2 Tujuan umum

1. Mempelajari patofisiologi akibat gigitan ular berbisa

2. Menjelaskan tanda-tanda gigitan ular berbisa

3. Menguraikan cara pertolongan pertama dan perawatan lanjutan pada

pasien dengan gigitan ular berbisa

4. Menjelaskan beberapa komplikasi yang dapat dialami oleh penderita

yang mendapatkan gigitan ular berbisa


BAB 2

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Patopisiologi gigitan ular

Gigitan dan sengatan binatang atau seangga dapat saja terjadi. Gigitan

atau engatan binatang selain menimbulkan rasa nyeri, juga dapat

berrbahaya karena umunya mengandung racun. (Junaidi,Iskandar 2011)

Bisa ular diproduksi dan disimpan pada sepasang kelenjar di bawah

mata. Bisa ular dikeluarkan dari lubang pada gigi-gigi taring yang terdapat di

rahang atas. Gigi taring ular dapat tumbuh hingga 20 mm pada rattlesnake

(ular derik) yang besar. Dosis bisa setiap gigitan tergantung pada waktu

yang berlalu sejak gigitan terakhir, derajat ancaman yang dirasakan ular, dan

ukuran mangsa. Lubang hidung ular merespon panas yang dikeluarkan

mangsa, yang memungkinkan ular untuk mengubah-ubah jumlah bisa yang

akan dikeluarkan.

Semua metode injeksi venom ke dalam korban (envenomasi) adalah

untuk mengimobilisasi secara cepat dan mulai mencernanya. Sebagian besar

bisa terdiri dari air. Protein enzimatik pada bisa menginformasikan kekuatan

destruktifnya. Bisa ular terdiri dari bermacam polipeptida yaitu fosfolipase A,

hialuronidase, ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease,

fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase.


Mangsa gigitan ular jenis Elapidae, biasanya akan mengalami

pendarahan kesan daripada luka yang berlaku pada saluran darah dan

pencairan darah merah yang mana darah sukar untuk membeku. Pendarahan

akan merebak sertamerta dan biasanya akan berterusan selama beberapa

hari. Pendarahan pada gusi, muntah darah, ludah atau batuk berdarah dan air

kencing berdarah adalah kesan nyata bagi keracunan bisa ular jenis Elapidae.

Walaupun tragedi kematian adalah jarang, kehilangan darah yang

banyak akan mengancam nyawa mangsa. Bila tidak mendapat anti venom

akan terjadi kelemahan anggota tubuh dan paralisis pernafasan. Biasaya full

paralysis akan memakan waktu lebih kurang 12 jam, pada beberapa kasus

biasanya menjadi lebih cepat, 3 jam setelah gigitan. Beberapa Spesies ular

dapat menyebabkan terjadinya koagulopathy. Tanda tanda klinis yang

dapat ditemui adalah keluarnya darah terus menerus dari tempat gigitan,

venipunctur dari gusi, dan bila berkembang akan menimbulkan hematuria,

haematomisis, melena dan batuk darah.


Tidak ada cara sederhana untuk mengidentifikasi ular berbisa.

Beberapa spesies ular tidak berbisa dapat tampak menyerupai ular berbisa.

Namun, beberapa ular berbisa dapat dikenali melalui ukuran, bentuk, warna,

kebiasaan dan suara yang dikeluarkan saat merasa terancam. Beberapa ciri

ular berbisa adalah bentuk kepala segitiga, ukuran gigi taring kecil, dan pada

luka bekas gigitan terdapat bekas taring.

Ciri-ciri ular tidak berbisa:

1. Bentuk kepala segiempat panjang

2. Gigi taring kecil

3. Bekas gigitan: luka halus berbentuk lengkungan

4. Dua gigi taring besar di rahang atas

5. Bekas gigitan: dua luka gigitan utama akibat gigi taring


Gambar 1. Bekas gigitanan ular. (A) Ular tidak berbisa tanpa bekas

taring, (B) Ular berbisa dengan bekas taring


2.2 Tanda-tanda gigitan ular berbisa

Berdasarkan sifatnya pada tubuh mangsa, bisa ular dapat dibedakan

menjadi bisa hemotoksik,yaitu bisa yang mempengaruhi jantung dan sistem

pembuluh darah;bisa neurotoksik,yaitu bisa yang mempengaruhi sistem

saraf dan otak; dan bisa sitotoksik, yaitu bisa yang hanya bekerja pada lokasi

gigitan.

Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa

pada korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang

diinjeksikan ketubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan

dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda

gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan

banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban.

Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain adalah tanda gigitan taring

(fang marks), nyeri lokal, pendarahan lokal, memar, pembengkakan kelenjar

getah bening, radang, melepuh, infeksi lokal, dan nekrosis jaringan (terutama

akibat gigitan ular dari famili Viperidae).


2.3 Gejala klinis

Secara umum, akan timbul gejala lokal dan gejala sistemik pada semua

gigitan ular.

1. Gejala lokal: edema, nyeri tekan pada luka gigitan, ekimosis (kulit

kegelapan karena darah yang terperangkap di jaringan bawah

kulit).

2. Gejala sistemik: hipotensi, otot melemah, berkeringat, menggigil,

mual, hipersalivasi (ludah bertambah banyak), muntah, nyeri

kepala, pandangan kabur

Tanda gigitan ular(fang mark) ekimosis

Edema menghitam
Derajat Gigitan Ular (Parrish)

1. Derajat 0

Tidak ada gejala sistemik setelah 12 jam

Pembengkakan minimal, diameter 1 cm

2. Derajat I

Bekas gigitan 2 taring

Bengkak dengan diameter 1 5 cm

Tidak ada tanda-tanda sistemik sampai 12 jam

3. Derajat II

Sama dengan derajat I

Petechie, echimosis

Nyeri hebat dalam 12 jam

4. Derajat III

Sama dengan derajat I dan II

Syok dan distres nafas / petechie, echimosis seluruh tubuh

5. Derajat IV

Sangat cepat memburuk.


Pertolongan pertama dan perawatan lanjutan

Pertolongan pertama, harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi

gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit.Hal ini dapat dilakukan

oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. Tujuan

pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa,

mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum

mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini

yang membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan

medis.

Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang

cemas; imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit

dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi

kontraksi otot, karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan

penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening; pertimbangkan

pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae; hindari gangguan terhadap

luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan

pendarahan lokal.

Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya, dengan cara

yang aman dan senyaman mungkin. Hindari pergerakan atau kontraksi otot

untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa.


A. Pengobatan gigitan ular

Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan

ular. Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga

menghambat peredaran darah), insisi (pengirisan dengan alat tajam),

pengisapan tempat gigitan, pendinginan daerah yang digigit, pemberian

antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti

manfaatnya.

Terapi yang dianjurkan meliputi:

a. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril.

b. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun

elastis dengan lebar + 10 cm, panjang 45 m, yang dibalutkan kuat di

sekeliling bagian tubuh yang tergigit, mulai dari ujung jari kaki sampai

bagian yang terdekat dengan gigitan. Bungkus rapat dengan perban

seperti membungkus kaki yang terkilir, tetapi ikatan jangan terlalu

kencang agar aliran darah tidak terganggu.Penggunaan torniket tidak

dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan

torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat.

c. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi

penatalaksanaan jalan nafas; penatalaksanaan fungsi pernafasan;

penatalaksanaan sirkulasi; penatalaksanaan resusitasi perlu

dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan

shock, shock perdarahan, kelumpuhan saraf pernafasan, kondisi yang


tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban,

hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka, serta kerusakan ginjal dan

komplikasi nekrosis lokal.

d. Pemberian suntikan antitetanus, atau bila korban pernah

mendapatkan toksoid maka diberikan satu dosis toksoid tetanus.

e. Pemberian suntikan penisilin kristal sebanyak 2 juta unit secara

intramuskular.

f. Pemberian sedasi atau analgesik untuk menghilangkan rasa takut

cepat mati/panik.

g. Pemberian serum antibisa. Karena bisa ular sebagian besar terdiri

atas protein, maka sifatnya adalah antigenik sehingga dapat dibuat

dari serum kuda. Di Indonesia, antibisa bersifat polivalen, yang

mengandung antibodi terhadap beberapa bisa ular. Serum antibisa ini

hanya diindikasikan bila terdapat kerusakan jaringan lokal yang luas.

Indikasi SABU(Serum Anti Bisa Ular) adalah adanya gejala venerasi

sistemik dan edema hebat pada bagian luka. Pedoman terapi SABU mengacu

pada Schwartz dan Way (Depkes, 2001):

Derajat 0 dan I tidak diperlukan SABU, dilakukan evaluasi dalam 12

jam, jika derajat meningkat maka diberikan SABU

Derajat II: 3-4 vial SABU

Derajat III: 5-15 vial SABU

Derajat IV: berikan penambahan 6-8 vial SABU


Komplikasi penderita gigitan ular berbisa

1. Tanda kelemahan, vertigo, nadi cepat,lemah dan tak teratur,

pembengkakan, dan perubahan warna yang hebat didaerah gigitan

penting diperhatikan untuk menduga adanya efek keracunan yang

lanjut.

2. Kemungkinan relaps yang berbahaya timbul 3 hari setelah gigitan.

3. Efek keracunan yang timbul dapat sangat berat sehingga sedapat

mungkin penderita memperoleh perawatan intensif di rumah sakit.

2.4 SOP Pertolongan Pertama Gigitan Binatang

Pengertian Gigitan binatang adalah reaksi

hipersesitivitas/alergi pada kulit akibat

gigitan(bukan terhadap sengatan/stings),dan kontak

dengan binatang.

Tujuan Sebagai acuan petugas dalam melakukan langkah-

langkah penanganan gigitan binatang.

Referensi Permenkes nomor 5 Tahun 2011 Tentang panduan

praktik klinik dokter.

Langkah- 1. Lakukan anamnesa (apakah ada tanda-tanda

langkah peradangan pada area gigitan,apakah ada


tanda/berkas gigitan,pastikan binatang apa

yang menggigit)

2. Siapkan alat : bisturi,jarum/nidle,kassa

steril,betadin,plester

3. Inform consent

4. Cuci tangan,pakai sarung tangan

5. Lakukan incisi/lakukan tusuk jarum untuk

mengeluarkan racun(ular,ripat,binatang

lainnya yang beracun).

6. Bersihkan dengan menekan area gigitan untuk

mengeluarkan racun melalui tusukan

jarum/incisi,kemudian bersihkan dengan Nacl

dan tutup dengan kassa betadin.

7. Balut luka bekas gigitan dan bekas tusuk

jarum/incisi

8. Berikan therapi sesuai advis dokter(bila perlu)

Intra musculer dan intra cutan ( contoh : ABU

bila digigit ular)

9. Bereskan alat,cuci tangan

10. Dokumentasikan.

Unit Terkait UGD


2.5 SOP Pertolongan Pertama Gigitan Ular

1. Tetap tenang.

2. Diamkan lengan atau kaki yang digigit ular, dan jangan banyak gerak

agar racun ular tidak menyebar.

3. Lepaskan semua perhiasan yang menempel dibadan seperti, cincin,

gelang, kalung, dsb. sebelum terjadi pembengkakan, karena kalau

sudah terlanjur bengkak akan sulit melepaskannya.

4. Posisikan diri sebisa mungkin dan usahakan daerah gigitan lebih

rendah dari jantung.

5. Bersihkan luka, tapi jangan siram dengan air, dan tutup dengan kain

bersih dan kering.

6. Gunakan spalk atau bidai untuk mengurangi pergerakan daerah yang

terkena, tapi usahakan tetap cukup longgar sehingga tidak membatasi

aliran darah.

7. Jangan gunakan turniket atau apapun untuk membendung daerah

yang terkena gigitan.

8. Jangan menggunakan es untuk meng-kompres area gigitan ular.

9. Jangan memotong luka atau mencoba membuang racun.

10. Jangan minum kafein ataupun alkohol.

11. Jangan mencoba untuk menangkap ular itu, tetapi cobalah untuk

mengingat warna dan bentuknya sehingga Anda

dapat menggambarkannya sehingga akan membantu dalam


perawatan nantinya. Bersumber dari (Pertolongan Pertama Pada

Gigitan Ular | Mediskus)

2.6 Gigitan Tikus

Gigitan tikus dapat menyebarkan beberapa jenis penyakit infeksi,

diantaranya penyakit pes dengan gejala obat antiseptic.

Tindakan Pertolongan Pertama

1. Luka bekas gigitan di basuh dengan air mengalir, air sabun, atau di

berikan obat antiseptic.

2. Lalu luka di balut dengan perban atau kasa steril. Koban segera di

berikan suntikan antibiotic. (Junaidi, Isskandar 2011)

2.7 Gigitan Kucing

Gigitan kucing dapat lebih berbahaya di bandingkan gigitan anjing

karena bahaya infeksinya jauh lebih besar. Berbeda dengan bekas gigitan

anjing, bekas gigitan kucing biasanya dalam dan dapat mengenai saraf,

pembuluh darah, atau rongga sendi terutama jika area tangan di gigit.

Tindakan Pertolongan Pertama

1. Luka bekas gigitan dibasuh dengan air mengalir,air sabun, atau

obat antiseptik.

2. Selanjutnya luka ditutup dengan kasa steril


3. Bekas gigitan kucing tidak boleh kuman yang ada dapat menjalar

lebih jauh dan harus segera di suntik antibiotika. (Junaidi,

Isskandar 2011)
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tidak semua ular berbisa pada waktu menggigit menginjeksikan bisa pada

korbannya. Orang yang digigit ular, meskipun tidak ada bisa yang

diinjeksikan ke tubuhnya dapat menjadi panik, nafas menjadi cepat, tangan

dan kaki menjadi kaku, dan kepala menjadi pening. Gejala dan tanda-tanda

gigitan ular akan bervariasi sesuai spesies ular yang menggigit dan

banyaknya bisa yang diinjeksikan pada korban.

Korban yang terkena gigitan ular harus segera diberi pertolongan pertama

sebelum dibawa dan dirawat di rumah sakit. Pada umumnya terjadi salah

pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular. Untuk mengobati korban

gigitan ular dianjurkan menggunakan serum anti bisa ular.

3.2 Saran

1. Penduduk di daerah di mana ditemuakan banyak ular berbisa

dianjurkan untuk memakai sepatu dan celana berkulit sampai sebatas

paha sebab lebih dari 50% kasus gigitan ular terjadi pada daerah paha

bagian bawah sampai kaki.


2. Ketersedian SABU untuk daerah di mana sering terjadi kasus gigitan

ular.

3. Hindari berjalan pada malam hari terutama di daerah berumput dan

bersemak semak.

4. Apabila mendaki tebing berbatu harus mengamati sekitar dengan teliti.

5. Jangan membunuh ular bila tidak terpaksa sebab banyak penderita

yang tergigit akibat kejadian semacam itu.


DAFTAR PUSTAKA

Junaidi,Iskandar pedoman pertolongan pertama yang harus di lakukan saat

gawat dan darurat medis, 2011: Yogyakarta

(Pertolongan Pertama Pada Gigitan Ular | Mediskus)