Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 BATUAN ANDESIT


Batuan andesit merupakan kelompok batuan beku ekstrusif dengan tekstur
afanitik. Mineral penyusun utama berupa plagioklas (lihat Tabel 2.1), mineral
penyusun lain yang dapat ditemukan berupa biotit, hornblende dan piroksen. Secara
umum memiliki struktur yang sama diorit.

Tabel 2.1 Batuan Beku (Buku Pedoman Geologi Lapangan, 2004)


RIODASIT
VULKANIK

DASIT
RIOLIT LATIT ANDESIT BASALT FONOLIT
Afanitik/
fanitik porfir MONZONIT GRANO
GRANIT TONALIT DIORIT GABRO LEUSIT
KWARSA DIORIT
TEKSTUR

PORFIR PORFIR PORFIR PORFIR PORFIR


PORFIR PORFIR
MONZONIT NEFLIN
GARIS PEMISAH KWARSA
PLUTONIK

PORFIR PORFIR

MONZONIT
GABRO
KWARSA
Granular GRANO OLIVIN SYENIT
GRANIT TONALT DIORIT
DIORIT GABRO NEFELIN
MONZONIT
ANORTOSIT
KWARSA
muskovit Biotit Biotit Biotit Biotit Biotit
Horn
ASAL KEJADIAN

Karakteristik Biotit Hornblende Hornblende Hornblende Hornblende Ortoklas


blende
KOMPOSISI

Horblende Piroksen Piroksen Piroksen Piroksen Piroksen


KWARSA HADIR KWARSA ABSEN
Utama
Ortoklas> Ortoklas Ortoklas< Na >> Na >> Ca >> Feldspatoid
(esensial)
Plagioklas< Plagioklas Plagioklas> Plagioklas Plagioklas Plagioklas Leusit

TIPE BATUAN FELSIK INTERMEDIER MAFIK ALKALIK

6
2.2 KARAKTERISTIK MEKANIK BATUAN
Karakteristik mekanik yang diperoleh dari penelitian ini adalah kuat tekan
batuan (c), kuat tarik batuan (Vt), Modulus Young (E), Nisbah Poisson (Q selubung
kekuatan batuan (strength envelope), kuat geser (W), kohesi (C), dan sudut geser
dalam (I 
Masing-masing karakter mekanik batuan tersebut diperoleh dari uji yang
berbeda. Kuat tekan batuan dan Modulus Young diperoleh dari uji kuat tekan
uniaksial. Pada penelitian ini nilai kuat tekan batuan dan Modulus Young diambil
dari nilai rata-rata hasil pengujian tiga contoh batuan. Untuk kuat tarik batuan
diperoleh dari uji kuat tarik tak langsung (Brazillian test). Sama dengan uji kuat tekan
uniaksial, uji kuat tarik tak langsung menggunakan tiga contoh batuan untuk
memperoleh kuat tarik rata-rata. Sedangkan selubung kekuatan batuan, kuat geser,
kohesi, dan sudut geser dalam diperoleh dari pengujian triaksial konvensional dan
multitahap.

2.2.1 Uji Kuat Tekan Uniaksial (UCS)


Penekanan uniaksial terhadap contoh batuan selinder merupakan uji sifat
mekanik yang paling umum digunakan. Uji kuat tekan uniaksial dilakukan untuk
menentukan kuat tekan batuan (c), Modulus Young (E), Nisbah Poisson (Q , dan
kurva tegangan-regangan. Contoh batuan berbentuk silinder ditekan atau dibebani
sampai runtuh. Perbandingan antara tinggi dan diameter contoh silinder yang umum
digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan luas permukaan pembebanan yang datar, halus
dan paralel tegak lurus terhadap sumbu aksis contoh batuan.

2.2.1.1 Kuat Tekan Batuan (Vc)


Tujuan utama uji kuat tekan uniaksial adalah untuk mendapatkan nilai kuat
tekan dari contoh batuan. Harga tegangan pada saat contoh batuan hancur
didefinisikan sebagai kuat tekan uniaksial batuan dan diberikan oleh hubungan :

7
F
=Ac
.......................................................................................................(2.1)

Keterangan :
Vc = Kuat tekan uniaksial batuan (MPa)
F = Gaya yang bekerja pada saat contoh batuan hancur (kN)
A = Luas penampang awal contoh batuan yang tegak lurus arah gaya (mm)

2.2.1.2 Modulus Young (E)


Modulus Young atau modulus elastisitas merupakan faktor penting dalam
mengevaluasi deformasi batuan pada kondisi pembebanan yang bervariasi. Nilai
modulus elastisitas batuan bervariasi dari satu contoh batuan dari satu daerah geologi
ke daerah geologi lainnya karena adanya perbedaan dalam hal formasi batuan dan
genesa atau mineral pembentuknya. Modulus elastisitas dipengaruhi oleh tipe batuan,
porositas, ukuran partikel, dan kandungan air. Modulus elastisitas akan lebih besar
nilainya apabila diukur tegak lurus perlapisan daripada diukur sejajar arah perlapisan
(Jumikis, 1979).
Modulus elastisitas dihitung dari perbandingan antara tegangan aksial dengan
regangan aksial. Modul elastisitas dapat ditentukan berdasarkan persamaan :
'
( ......................................................................................................(2.2)
'H a
Keterangan: E = Modulus elastisitas (MPa)
= Perubahan tegangan (MPa)
a = Perubahan regangan aksial (%)

Terdapat tiga cara yang dapat digunakan untuk menentukan nilai modulus elastisitas
yaitu :
a. Tangent Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial dengan
regangan aksial yang dihitung pada persentase tetap dari nilai kuat tekan.
Umumnya diambil 50% dari nilai kuat tekan uniaksial.

8
b. Average Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial dengan
regangan aksial yang dihitung pada bagian linier dari kurva tegangan-
regangan.
c. Secant Youngs Modulus, yaitu perbandingan antara tegangan aksial dengan
regangan aksial yang dihitung dengan membuat garis lurus dari tegangan nol
ke suatu titik pada kurva regangan-tegangan pada persentase yang tetap dari
nilai kuat tekan. Umumnya diambil 50% dari nilai kuat tekan uniaksial.

Gambar 2.1 Metode perhitungan modulus young

9
2.2.1.3 Nisbah Poisson (Poissons Ratio, Q 
Nisbah Poisson didefinisikan sebagai perbandingan negatif antara regangan
lateral dan regangan aksial (ditunjukkan oleh persamaan 2.3). Nisbah Poisson
menunjukkan adanya pemanjangan ke arah lateral (lateral expansion) akibat adanya
tegangan dalam arah aksial. Sifat mekanik ini dapat ditentukan dengan persamaan :

l
=- ........................................................................................................(2.3)
a

Keterangan: Q = Nisbah Poisson


 Hl = regangan lateral (%)
Ha = regangan aksial (%)

Pada uji kuat tekan uniaksial terdapat tipe pecah suatu contoh batuan pada
saat runtuh. Tipe pecah contoh batuan bergantung pada tingkat ketahanan contoh
batuan dan kualitas permukaan contoh batuan yang bersentuhan langsung dengan
permukaan alat penekan saat pembebanan.
Kramadibrata (1991) mengatakan bahwa uji kuat tekan uniaksial
menghasilkan tujuh tipe pecah, yaitu :
a. Cataclasis
b. Belahan arah aksial (axial splitting)
c. Hancuran kerucut (cone runtuh)
d. Hancuran geser (homogeneous shear)
e. Hancuran geser dari sudut ke sudut (homogeneous shear corner to corner)
f. Kombinasi belahan aksial dan geser (combination axial dan local shear)
g. Serpihan mengulit bawang dan menekuk (splintery union-leaves and
buckling)

10
Gambar 2.2 Tipe hancuran batuan pada kuat tekan uniaksial
(Kramadibrata, 1991)

2.2.2 Uji Kuat Tarik


Sifat mekanik batuan yang diperoleh dari uji ini adalah kuat tarik batuan (Vt).
Ada dua metode yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kuat tarik contoh batuan
di laboratorium, yaitu metode kuat tarik langsung dan metode kuat tarik tak langsung.
Metode kuat tarik tak langsung merupakan uji yang paling sering digunakan. Hal ini

11
disebabkan uji ini lebih mudah dan murah daripada uji kuat tarik langsung. Salah satu
uji kuat tarik tak langsung adalah Brazilian test.
Pada uji brazilian, kuat tarik batuan dapat ditentukan berdasarkan persamaan:

2.F
t
.D.L
.................................................................................................(2.4)

Keterangan : Vt = Kuat tarik batuan (MPa)


F = Gaya maksimum yang dapat ditahan batuan (KN)
D = Diameter contoh batuan (mm)
L = Tebal batuan (mm)

Gambar 2.3 Uji Brazilian

2.2.3 Uji Kecepatan Rambat Gelombang Ultrasonik


Uji kecepatan rambat gelombang ultrasonik dilakukan untuk menentukan
cepat rambat gelombang ultrasonik yang merambat melalui contoh batuan. Pada uji
ini, waktu tempuh gelombang primer yang merambat melalui contoh batuan diukur
dengan menggunakan Portable Unit Non-destructive Digital Indicated Tester
(PUNDIT). Kecepatan rambat gelombang primer ditentukan melalui persamaan 2.5.

12
L
Vp .......................................................................................................(2.5)
tp

Keterangan: L = panjang contoh batuan yang diuji (m)


tp = waktu tempuh gelombang ultrasonik primer (detik)
Vp = cepat rambat primer atau tekan (m/detik)

Cepat rambat gelombang ultrasonik yang merambat di dalam batuan


dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
ukuran butir dan bobot isi
porositas dan kandungan air
temperatur
kehadiran bidang lemah.

2.2.3.1 Ukuran butir dan bobot isi


Batuan yang memiliki ukuran butir halus atau kecil memiliki cepat rambat
gelombang lebih besar daripada batuan dengan ukuran butir kasar atau besar. Hal ini
disebabkan karena batuan berbutir kasar akan memberikan ruang kosong antar butir
lebih besar dibandingkan batuan berbutir halus. Ruang kosong inilah yang
menyebabkan cepat rambat gelombang menurun karena tidak ada media
perambatannya.
Sama halnya dengan ukuran butir, batuan berbutir halus memiliki bobot isi
yang lebih padat dibandingkan batuan berbutir kasar. Karena kerapatan antar butir
yang tinggi dan sedikitnya ruang kosong yang dimiliki batuan. Oleh karena itu,
batuan yang memiliki bobot isi tinggi memiliki cepat rambat gelombang yang tinggi.

2.2.3.2 Porositas dan kandungan air


Porositas merupakan banyaknya rongga dalam suatu batuan terhadap volume
keseluruhan. Jadi semakin tinggi nilai porositas akan menunjukan semakin banyak

13
rongga atau ruang kosong di dalam batuan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
semakin tinggi porositas maka cepat rambat gelombang akan semakin kecil.
Kandungan air dalam batuan yang cenderung berpori akan merubah kecepatan
rambat gelombang di dalam batuan tersebut. Pada nilai porositas tertentu, kecepatan
rambat gelombang akan bertambah besar karena terjadinya peningkatan derajat
kejenuhan air. Hal ini terjadi karena kecepatan rambat gelombang di dalam air jauh
lebih besar dari di udara.

2.2.3.3 Temperatur
Kecepatan rambat gelombang ultrasonik juga diperngaruhi. Temperatur tinggi
pada saat pengujian akan menurunkan cepat rambat gelombang yang merambat
melalui contoh batuan.

2.2.3.4 Kehadiran bidang lemah


Bidang lemah yang berada didalam batuan akan mempengaruhi cepat rambat
gelombang ultrasonik. Bidang lemah yang merupakan bidang batas antara dua
permukaan akan menhadirkan ruang kosong berisi udara. Ruang kosong ini akan
memperlambat cepat rambat gelombang ultrasonik. Dengan demikian, kehadiran
bidang lemah akan menurunkan cepat rambat gelombang yang merambat melalui
batuan.

2.3 UJI TRIAKSIAL


Tujuan utama uji triaksial adalah untuk menentukan kekuatan batuan pada
kondisi pembebanan triaksial melalui persamaan kriteria keruntuhan. Kriteria
keruntuhan yang sering digunakan dalam pengolahan data uji triaksial adalah kriteria
Mohr-Coulomb. Hasil pengujian triaksial kemudian diplot kedalam kurva Mohr-
Coulomb sehingga dapat ditentukan parameter-parameter kekuatan batuan sebagai
berikut:

14
Strength envelope (kurva intrinsik)
Kuat geser (Shear strength)
Kohesi (C)
Sudut geser dalam (I

Pada pengujian triaksial, contoh batuan dimasukkan kedalam sel triaksial,
diberi tekanan pemampatan (3) dan dibebani secara aksial (1) sampai runtuh. Pada
uji ini, tegangan menengah dianggap sama dengan tekanan pemampatan (2 = 3).
Alat uji triaksial yang digunakan merupakan merujuk pada alat triaksial yang
dikembangkan oleh Von Karman pada tahun 1911 (Gambar 2.4). Di dalam aparatus
ini, tekanan fluida berfungsi sebagai tekanan pemampatan (3) yang diberikan kepada
contoh batuan. Fluida dialirkan dengan menggunakan pompa hidraulik dan dijaga
agar selalu konstan.

Gambar 2.4 Aparatus uji triaksial Von Karman, 1911 (Patterson, 1978)

Pada mulanya, beban aksial merupakan instrumen utama yang mengendalikan


uji ini. Namun dengan perkembangan teknologi masa kini sudah memungkinkan
untuk mengendalikan uji ini melalui kontrol beban atau deformasi yang dialami

15
contoh batuan, bahkan dengan menggunakan katup servo, regangan aksial dan
tekanan pori dapat juga diatur besarnya. Untuk penelitian ini, digunakan mesin tekan
Control seri 85060715 CAT C25/B tanpa katup servo.

2.3.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Uji Triaksial


2.3.1.1 Tekanan pemampatan
Tekanan pemampatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam uji
triaksial. Besarnya tegangan aksial pada saat contoh batuan runtuh saat pengujian
triaksial selalu lebih besar daripada tegangan aksial saat contoh batuan runtuh pada
pengujian kuat tekan uniaksial. Hal ini disebabkan karena adanya penekanan
(pemampatan) dari arah lateral dari sekeliling contoh batuan pada uji triaksial.
Berbeda pada pengujian kuat tekan uniaksial, tekanan pemampatannya adalah nol
(zero confining pressure), sehingga tegangan aksial batuan lebih kecil.
Berdasarkan penelitian Von Karman (1911) pada batuan marbel Carrara dapat
dilihat dengan adanya tekanan pemampatan pada contoh batuan mengakibatkan
kenaikan tekanan aksial dan bersifat lebih ductile. Gambar 2.5 menunjukkan semakin
tingginya tegangan puncak (peak) jika tekanan pemampatannya semakin besar.

2.3.1.2 Tekanan pori


Dari penelitian Schwartz pada tahun 1964 yang mempelajari tentang tekanan
pori pada uji triaksial terhadap batuan sandstone (lihat Gambar 2.6). Dapat
disimpulkan bahwa naiknya tekanan pori akan menurunkan kekuatan batuan.

16
Gambar 2.5 Pengaruh tekanan pemampatan terhadap kurva tegangan-
regangan pada batuan Carrara marble oleh Von Karman, 1911
(Vutukuri & Katsuyama, 1994)

Gambar 2.6 Pengaruh tekanan pori terhadap kurva tegangan-regangan


pada batu sandstone oleh Schwartz, 1964 (Vutukuei, Lama & Saluja,
1974)

17
2.3.1.3 Temperatur
Secara umum, kenaikan temperatur menghasilkan penurunan kuat tekan
batuan dan membuat batuan semakin ductile. Gambar 2.7 menunjukkan kurva
tegangan diferensial (deviatoric stress, 1-3) - regangan aksial untuk batuan granit
pada tekanan pemampatan 500 MPa dan pada temperatur yang berbeda-beda. Pada
temperatur kamar, sifat batuan adalah brittle, tetapi pada temperatur 8000C batuan
hampir seluruhnya ductile. Efek temperatur terhadap tegangan diferensial saat runtuh
untuk setiap tipe batuan adalah berbeda. Pada penelitian ini, pengaruh temperatur
diabaikan.

Gambar 2.7 Pengaruh temperatur terhadap kurva tegangan diferensial-


regangan aksial untuk batuan granit pada tekanan pemampatan 500
MPa oleh Griggs, 1960 (Vutukuri & Katsuyama, 1994)

2.3.1.4 Laju deformasi


Kenaikan laju deformasi secara umum akan menaikkan kuat tekan batuan. Hal
ini terbukti dari penelitian-peneliatian terdahulu. Pada tahun 1961, Serdengecti dan
Boozer melakukan penelitian tentang pengaruh kenaikan laju deformasi pada uji
triaksial. Dari penelitian mereka pada batuan limestone dan gabbro solenhofen,

18
disimpulkan terjadinya peningkatan laju deformasi akan menaikan kuat tekan batuan.
Donath & Fruth (1971) melakukan uji triaksial pada 69 contoh batuan pada
temperatur kamar dengan laju deformasi sebesar 10-3, 10-4, 10-5, 10-6 dan 10-7/s. Pada
tekanan pemampatan 200 MPa, penurunan laju deformasi dari 10-3 hingga 10-7/s
menyebabkan penurunan kekuatan 33% untuk batu marmer, 8,4% untuk batu pasir
pada tingkat deformasi 2% (Vutkuri, Lama & Saluja, 1974).
Gambar 2.8 menunjukan hasil penelitian Logan dan Handin pada tahun 1970.
Dapat dilihat kenaikan kuat tekan batuan Westerley granite seiring dengan
bertambahnya laju deformasi.

Gambar 2.8 Pengaruh laju deformasi terhadap kurva kuat tekan-


tekanan pemampatan untuk batuan Westerly granite oleh Logan dan
Handin, 1970 (Vutukuri & Katsuyama, 1994)

19
2.3.1.5 Bentuk dan Dimensi contoh batuan
Bentuk contoh batuan pengujian triaksial sama seperti uji kuat tekan uniaxial
bentuk silinder.
Semakin bertambahnya ukuran contoh batuan, kemungkinan tiap contoh
batuan dipengaruhi oleh bidang lemah akan semakin besar. Oleh karena itu, semakin
besar contoh batuan yang akan diuji, kekuatan contoh batuan tersebut akan
berkurang.
Variasi perbandingan panjang terhadap diameter contoh batuan (/d)
diketahui akan mempengaruhi kekuatan contoh batuan. Kekuatan contoh batuan akan
menurun seiring dengan menaiknya perbandingan panjang terhadap diameter contoh
batuan (/d). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Mogi pada tahun 1962.
Menurut ISRM (1972) untuk contoh batuan pada uji triaksial dan kuat tekan
uniaksial, perbandingan antara tinggi dan diameter contoh silinder yang umum
digunakan adalah 2 sampai 2,5 dengan area permukaan pembebanan yang datar,
halus dan paralel tegak lurus terhadap sumbu aksis contoh batuan.

2.3.2 Tipe Deformasi Batuan pada Uji Triaksial


Secara garis besar tipe deformasi yang terjadi saat contoh batuan runtuh dapat
dibedakan menjadi dua tipe, yaitu brittle fracture dan ductile fracture.
Serdengecti dan Boozer menyebutkan bahwa brittle fracture terjadi pada
tekanan pemampatan yang rendah, temperatur yang rendah dan laju deformasi yang
besar. Sebaliknya, ductile fracture lebih sering terjadi pada tekanan pemampatan yang
tinggi, temperatur yang tinggi dan laju deformasi yang rendah (Vutukuri, Lama &
Saluja, 1974).
Griggs & Handin (1960) menjelaskan deformasi makroskopik yang dialami
batuan pada tekanan pemampatan yang tinggi dalam uji triaksial. Mereka mendapati
lima tipe deformasi yang terjadi yang dialami contoh batuan saat diberi tekanan
pemampatan yang tinggi dalam uji triaksial tersebut (lihat Gambar 2.9).

20
Tipe 1 menunjukkan deformasi brittle yang ditandai oleh bentuk runtuh atau
pecah yang berupa splitting. Splitting dianggap sebagai rekahan yang sejajar terhadap
arah gaya tekan aksial yang mengindikasikan lepasnya ikatan antarbutir dalam contoh
batuan karena tarikan.
Tipe 2 masih menunjukkan deformasi brittle, sudah terlihat adanya deformasi
plastis sebelum contoh batuan runtuh (seiring dengan naiknya tekanan pemampatan).
Belahan yang berbentuk kerucut dengan arah aksial menunjukkan terjadinya
tegangan kompresif, sedangkan belahan kerucut akan memiliki arah lateral ketika
terjadi tegangan tarik.
Tipe 3 sudah mulai menunjukkan transisi dari brittle ke ductile. Penambahan
tekanan pemampatan menyebabkan contoh batuan runtuh in shear. Shear runtuh
terjadi ketika butiran yang terikat berpindah sepanjang bidang geser. Proses ini terjadi
secara perlahan dari tarikan (tension) dan berakhir dengan geseran (shear).
Karena tekanan pemampatan semakin naik, contoh batuan mulai terdeformasi
secara ductile (laju deformasi semakin menurun) dan contoh batuan sudah mulai
bersifat plastis (tipe 4). Apabila tekanan pemampatan dinaikkan kembali, contoh
batuan akan bersifat sangat plastis dan akan sukar untuk mendapatkan kekuatan
puncaknya (tipe 5).

21
Gambar 2.9 Diagram skematik berbagai tipe deformasi batuan pada
pengujian triaksial oleh Griggs dan Handin, 1960 (Vutukuri &
Katsuyama, 1994)

2.3.3 Uji Triaksial Konvensional


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, pada saat pengujian triaksial
konvensional, contoh batuan dimasukkan kedalam sel triaksial.

2.3.4 Uji Triaksial Multitahap


Uji triaksial multitahap merupakan variasi dari uji triaksial yang
menghasilkan sifat mekanik batuan. Uji ini menjadi solusi dari kekurangan uji
triaksial konvensional. Hal ini disebabkan karena uji multitahap hanya memerlukan
satu contoh batuan sehingga masalah biaya, waktu dan keheterogenan yang terjadi
pada uji triaksial konvensional dapat diatasi.

22
Beberapa ahli mekanika batuan sudah melakukan penelitian triaksial
multitahap ini, antara lain Kovari & Tisa (1975), Kim & Ko (1979), Wylie &
Crawford (1987) dan Pagoulatos (2004).

2.3.4.1 Penelitian oleh Kovari & Tisa (1975)


Kovari & Tisa (1975) melakukan pengujian triaksial multitahap dengan dua
metode, yang pertama dengan melihat kecenderungan gaya yang diterima oleh contoh
batuan melalui grafik tegangan aksial terhadap regangan aksial, metode yang kedua
disebut juga strain controlled test.
Hasil uji triaksial mutitahap dengan menggunakan metode pertama dapat
dilihat pada Gambar 2.10. Gambar 2.10.a, setelah batuan memasuki kondisi tepat
akan runtuh pada siklus pertama, pembebanan aksial dihentikan. Untuk siklus kedua,
tekanan pemampatan dinaikkan dari 5,9 MPa menjadi 23,5 MPa kemudian
pembebanan aksial diberikan kembali. Setelah pada siklus kedua batuan memasuki
kondisi tepat akan runtuh, pembebanan aksial kembali dihentikan. Untuk siklus
ketiga tekanan pemampatan diturunkan menjadi 5,9 MPa. Gambar 2.10.b dilakukan
langkah sebaliknya Dari hasil uji tersebut (lihat Gambar 2.10), disimpulkan bahwa
nilai tekanan aksial yang dicapai siklus pertama dan ketiga adalah sama, walaupun
pada siklus ketiga sebelumnya telah diberikan tekanan pemampatan yang berbeda.
Metode ini dapat diaplikasikan dengan mudah pada peralatan triaksial konvensional.
Sedangkan metode kedua atau metode Strain Controlled Test (lihat Gambar
2.11), tekanan pemampatan awal diberikan sampai menunjukkan tanda-tanda akan
runtuh (ditunjukkan oleh titik belok kurva tegangan-regangan garis A-B). Setelah itu
tegangan aksial dinaikkan kembali diiringi dengan penyesuaian tekanan pemampatan
agar tingkat peregangan dapat dikendalikan (garis A-B menjadi linier).

23
Gambar 2.10 Triaksial multitahap pada batupasir Buchberg oleh Kovari
dan Tisa, 1975 (Boediman, 2007) :
a. tekanan pemampatan naik dari 5,9 ke 23,5 MPa
b. tekanan pemampatan turun dari 23,5 ke 5,9 MPa

24
Gambar 2.11 Metode Strain Controlled Test oleh Kovari & Tisa, 1975
(Boediman, 2007)

2.3.4.2 Penelitian oleh Kim & Ko (1979)


Kim & Ko (1979) melanjutkan penelitian Kovari & Tisa (1975), dengan
menggunakan teknik multitahap metode pertama. Penelitian ini dilakukan pada tiga
jenis batuan yang berbeda; Piere shale, Raton shale da Lyons sandstone.
Setelah membandingkan hasil uji triaksial konvensional dengan uji triaksial
multitahap. Kim & Ko (1979) menemukan galat yang terjadi pada karakteristik
selubung runtuh (C, I pada Lyons sandstone adalah 19% untuk sudut geser dalam
(I dan 38% untuk kohesi (C). Kedua galatnya cukup besar. Namun galat yang
diperoleh pada batuan shale lebih kecil, yaitu 19% untuk sudut geser dalam I dan
12% untuk kohesi (C), dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Menurut mereka perbedaan galat yang besar ini terjadi karena perbedaan
rheologi pada masing-masing litologi batuan tersebut. Shale memberikan sifat
ductile, runtuh-nya contoh batuan dapat diprediksi tanpa pengaruh keutuhan contoh
batuan. Pada brittle fracture, regangan aksial mulai membelok dari awalnya yang
berupa garis lurus (80% dari tegangan puncak), dan kemudian runtuh yang terjadi
hampir pada saat itu juga. Sehingga, keputusan untuk menghentikan uji sangat
subjektif dan beresiko untuk material yang bersifat brittle fracture.

25
Kim & Ko (1979) menyatakan keefektifan uji triaksial multitahap tergantung
pada tipe deformasi yang dimiliki oleh contoh batuan. Pada contoh batuan dengan
deformasi ductile lebih mudah memprediksi tegangan puncak daripada batuan dengan
tipe derformasi brittle, karena pada deformasi brittle dapat secara tiba-tiba mengalami
runtuh tanpa harus mengalami deformasi yang besar.

Gambar 2.12 Hasil uji triaksial konvensional (S.S) dan triaksial


multitahap (M.S) pada batuan Lyons sandstone oleh Kim & Ko, 1979
(Pagaolatos, 2004)

26
Tabel 2.2 Perbandingan hasil uji triaksial konvensional dan triaksial
multitahap Penelitian Kim & Ko ,1975 ( Pagaolatos, 2004)

Jenis Batuan Jenis Uji I derajat) C (MPa)


Multitahap 4 1,41
Pierre Shale Konvensional 6 1,42
Galat 23% 1%
Multitahap 29 41
Raton Shale Konvensional 23 46
Galat 19% 12%
Multitahap 48 45
Lyons sandstone Konvensional 59 28
Galat 19% 38%

2.3.4.3 Penelitian oleh Wylie & Crawford (1987)


Berbeda dengan penelitian sebelumnya. Wylie & Crawford (1987)
menggunakan regangan volumetrik (pada saat kurva regangan volumetrik membelok)
untuk menentukan titik penghentian pembebanan aksial dari setiap siklus pengujian.
Wylie & Crawford menggunakan cara pembebanan yang berbeda dengan
peneliti-peneliti sebelumnya. Jika Kovari & Tisa (1975) dan Kim & Ko (1979)
menaikan tekanan pemampatan setelah menghentikan pembebanan aksial, Wylie &
Crawford justru menurunkan tegangan aksial hingga contoh batuan mengalami
keadaan hidrostatik (V1 = V3). Setelah mencapai keadaan hidrostatis tegangan
pemampatan dan aksial dimulai kembali. Kriteria yang mereka gunakan untuk
menghentikan pembebanan aksial tiap siklusnya adalah saat regangan volumetrik
mencapai nol. Hasil pengujian Wyle & Crawford (1987) kemudian dibandingkan
dengan hasil triaksial konvensional (lihat Gambar 2.13). Selubung kekuatan batuan
hasil uji triaksial multitahap lebih rendah dibandingkan hasil uji triaksial
konvensional.
Semua contoh batuan yang mereka uji mampu mencapai regangan volumetrik
hingga nol, hal tersebut kemungkinan diakibatkan karena contoh batuan yang

27
digunakan bersifat brittle sehingga diperlukan modifikasi pada metode ini jika contoh
batuan bersifat ductile. Metode tersebut menggunakan perbandingan perubahan
volume maksimum. Namun, definisi dari volume maksimum itu sendiri tidak
dijelaskan.

Gambar 2.13 Perbandingan hasil uji triaksial metode multitahap dan


konvensional oleh Crawford & Wylie, 1987 (Pagaolatos, 2004)

2.3.4.4 Penelitian oleh Pagoulatos (2004)


Sama dengan penelitian Wyle & Crawford (1987), Pagoulatos (2004)
menggunakan tegangan volumetrik sebagai kriteria untuk menentukan titik terminasi
dimana tekanan pemampatan harus dinaikan. Penelitian ini menggunakan empat
contoh batuan Berea sandstone.
Untuk menghindari resiko runtuhnya pada contoh batuan sebelum dinaikan,
Pagoulatos melakukan modifikasi kriteria yang digunakan Wyle & Crawford (1987).
Metode ini disebut deflection point of volumetric strain. Metode ini dipilih karena

28
rekahan contoh batuan akan memasuki kondisi unstable propagation pada saat
regangan volumetrik mulai membelok.
Pada metode ini pembebanan aksial dihentikan saat terjadi deflection point
pada kurva regangan volumetrik (lihat Gambar 2.14). Tegangan aksial diturunkan
hingga mencapai keadaan hidrostatiknya, lalu tekanan pemampatan dinaikkan dan
pembebanan aksial dilanjutkan. Pagulatos mengatakan bahwa metode ini lebih mudah
dan lebih aman dibandingkan metode yang digunakan oleh Wylie & Crawford
(1987).

Gambar 2.14 deflection point pada Grafik Tegangan-Regangan pada


Berea sandstone (Pagoulatos, 2004)

Tegangan yang diperoleh adalah tegangan pada deflection point untuk setiap
siklus dan tegangan runtuh pada siklus terakhir. Selisih antara tegangan runtuh dan
deflection point pada siklus terakhir digunakan untuk memproyeksikan kurva runtuh
yang sebenarnya.
Hasil uji multitahap yang dilakukan Pagoulatos (2004) memberikan
pendekatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan nilai yang didapatkan
dari uji konvensional (lihat Tabel 2.3). Hal ini dibuktikan dengan ekivalennya sudut

29
geser dalam hasil triaksial multitahap dengan triaksial konvensional, sedangkan nilai
kohesi dari triaksial multitahap hanya berbeda 6,8% dari nilai kohesi hasil dari
triaksial konvensional.

Tabel 2.3 Hasil Uji Konvensional dan Multitahap pada batupasir Berea
(Pagoulatos, 2004)
Kode Contoh C
Persamaan Mohr-Coulomb I (derajat)
Batuan (MPa)
H1 W = 0,60Vn + 18,0 31 18
H11 W = 0,64Vn + 12,4 33 12,4
H16 W = 0,65Vn + 13,5 33 13,5
H26 W = 0,64Vn + 14,8 33 14,8
Rata-rata (Triaksial multitahap) 32 14,7
Standart deviasi (Triaksial multitahap) 1 2,4
Triaksial konvensional 32 15,7
Galat antara triaksial konvensional dan multitahap 6,8 %

2.3.4.5 Penelitian oleh Boediman (2007) dan Prassetyo (2008)


Kedua penelitian ini dilakukan di Laboratorium Geomekanika dan Peralatan
Tambang-ITB. Dengan menggunakan metode pertama Kovari & Tisa, hasil
penelitian triaksial multitahap batupasir ini menunjukan terjadinya penurunan
kekuatan batuan jika dibandingkan triaksial konvensional. Walaupun demikian,
mereka menyimpulkan bahwa uji triaksial multitahap batupasir bisa dijadikan metode
pengganti uji triaksial konvensional. Pernyataan ini didukung dari sifat mekanik yang
tidak jauh berbeda antara kedua metode tersebut. Kedua peneliti ini mulai melakukan
evaluasi hasil uji triaksial dengan menggunakan kriteria Hoek-Brown. hasil pengujian
kedua peneliti ini dapat dilihat pada Tabel 2.4

30
Tabel 2.4 Hasil Uji Konvensional dan Multitahap pada batupasir oleh
Boediaman (2007) dan Prassetyo (2008)

Hasil Uji Prassetyo, S.H (2008) Boediman, A. R (2007)


Kriteria Laboratorium
Keruntuhan Vc Vt C I m Vc Vt C I m
Vc & Vt Lab 38,7 3,75 - - - 24,3 - - - -
Triaksial
50,0 7,1 8,4 38,8 6,9 22,5 1,0 3,9 50,7 20,9
Hoek- Konvensional
Brown Triaksial
50,0 9,6 9,3 34,8 5,0 28,6 1,9 5,3 47,1 14,9
Multitahap
Triaksial
29,6 5,4 6,3 44,0 - 30,6 6,5 8,4 32,0 -
Mohr- Konvensional
Coulomb Triaksial
33,5 6,9 7,6 41,0 - 30,0 10,0 9,1 28,5 -
Multitahap

2.4 KRITERIA KERUNTUHAN BATUAN


Batuan di alam berada dalam kondisi yang kompleks. Hal ini menyebabkan
terjadinya variasi terhadap karakteristik dan perilaku batuan itu sendiri. Secara lebih
spesifik dapat dikatakan bahwa perilaku batuan dipengaruhi oleh medan tegangan
dari lingkungan batuan berada. Kriteria keruntuhan batuan merupakan formula yang
mempergunakan hubungan antara tegangan-regangan yang menunjukkan perilaku
batuan. Namun harus diperhatikan bahwa kriteria keruntuhan tidak didapatkan dari
asumsi matematika yang sederhana tapi merupakan pernyataan dari hipotesa fisika.
Kriteria keruntuhan batuan ditentukan berdasarkan hasil percobaan. Ekspresi
dari kriteria keruntuhan batuan mengandung satu atau lebih parameter sifat mekanik
batuan dan menjadi sederhana. Kriteria keruntuhan batuan dapat ditentukan secara
teoritis atau empiris. Kriteria keruntuhan teoritis telah memberikan dasar bagi
pengembangan konsep kekuatan batuan lainnya. Berbeda dengan kriteria keruntuhan
teoritis, kriteria keruntuhan empiris penggunaannya sangat luas dan dapat
dipergunakan untuk berbagai jenis batuan.

31
2.4.1 Kriteria Keruntuhan Teoritis
2.4.1.1 Kriteria tegangan tarik maksimum
Menurut kriteria ini, runtuh pada batuan terjadi akibat tarikan apabila
tegangan prinsipal minimum (3) sama dengan negatif dari kuat tarik uniaksial (-t)
Kriteria ini dapat dituliskan dalam bentuk persamaan 2.6
3 = - t ........................................................................................................(2.6)

2.4.1.2 Kriteria tegangan geser maksimum (Kriteria Tresca)


Kriteria ini berlaku untuk material isotropik dan ductile. Kriteria ini
dinyatakan sebagai fungsi dari 1 dan 3. Berdasarkan kriteria ini, material
diasumsikan akan runtuh pada saat tegangan geser maksimum (Wmaks) sama dengan
kuat geser batuan (s).
Dapat dituliskan dalam hubungan sebagai berikut :
1 -3
s = Wmaks = ......................................................................................(2.7)
2

2.4.1.3 Kriteria keruntuhan Mohr


Kriteria keruntuhan dari Mohr didasarkan pada hipotesa bahwa tegangan
normal (n) dan tegangan geser () yang bekerja pada bidang runtuh berperan pada
proses runtuh-nya batuan.
Kriteria Mohr mengasumsikan selubung kekuatan batuan adalah berdasarkan
persamaan dibawah ini:
W = f(n)........................................................................................................(2.8)
Persamaan 2.8 harus ditentukan melalui eksperimen dan diperlihatkan oleh
kurva A t C B (lihat Gambar 2.15). Kurva ini merupakan selubung lingkaran Mohr
untuk 3 dan 1 saat runtuh, sehingga material yang berada dibawah selubung
tersebut tidak akan runtuh. Sedangkan, jika ada bagian dari lingkaran berada diluar
selubung kekuatan, tegangan kritisnya akan terlewati. Kriteria Mohr mengungkapkan
bahwa tegangan intermidier (2) tidak mempunyai pengaruh pada runtuh-nya batuan.

32
Gambar 2.15 Selubung kekuatan Mohr (Vutukuri & Katsuyama, 1994)

2.4.1.4 Kriteria keruntuhan Coulomb


Coulomb (1776) menyatakan bahwa kekuatan geser batuan dan tanah
dipengaruhi oleh dua variabel yaitu kohesi dan tegangan normal. Kriteria Coulomb
ini menunjukkan bahwa kurva runtuh 1, 3 harus berbentuk garis lurus. Kriteria ini
sangat cocok untuk sebagian besar batuan beku dan batuan kristal lainnya. Namun
demikian, untuk mineral evaporit, shales dan carbonates, kemiringan kurva 1, 3
biasanya menurun karena 3 menaik. Kriteria ini dinyatakan melalui persamaan 2.9.

s = W n . tan I+ C.....................................................................................(2.9)


keterangan: s kuat geser batuan (MPa)
W tegangan geser (Mpa)
I sudut geser dalam (...O)
C = kohesi (MPa)

Secara geometri persamaan (2.9) akan menghasilkan garis lurus yang


kemudian dikenal sebagai garis kuat geser coulomb.

33
Gambar 2.16 Kriteria Keruntuhan Coulomb (Jumikis, 1979)

Berdasarkan geometri pada Gambar 2.17, tegangan normal (n) pada bidang
geser r-r dihitung melalui persamaan :
1 1
n = (1 + 3 )+ (1 - 3 )cos2 .................................................................(2.10)
2 2
1
= (1 - 3 )sin2 .....................................................................................(2.11)
2

2.4.1.5 Kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb


Persamaan Coulomb (persamaan 2.9) sering dikaitkan dengan kriteria ini yang
kemudian diaplikasikan dalam mekanika batuan. Kriteria ini juga bisa menyatakan
tegangan prinsipal sebagai :

12c.cos I 1  sin I
 .....................................................................(2.12)
(1  sin I ) 1  sin I
3 3

Atau dapat ditulis,


V1 = Vc + kV3..............................................................................................(2.13)

34
Nilai Idan kohesi (c) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
1 k
sin I ..(2.14)
1 k

c V c
(1  sin I )
(2.15)
2 cos I

Untuk kasus khusus jika c= 0

1 1  sin I
= k...(2.16)
3
1  sin I

Keterangan : k = kostanta dari kemiringan garis antara V1dan V3 (lihat gambar 2.17)

Gambar. 2.17 Kriteria Mohr-Coulomb

2.4.2 Kriteria Keruntuhan Empiris


2.4.2.1 Kriteria keruntuhan empiris Bieniawski
Bieniawski (1974) menyatakan bahwa dasar pemikiran lahirnya kriteria
keruntuhan empiris adalah pengetahuan tentang kekuatan batuan yang harus
memperhatikan nilai dari tegangan maksimum (1) dan tegangan minimum (3).
Bieniawski menyatakan kriteria keruntuhan pertama dalam persamaan :
k
1
=A 3 + 1 .......................................................................................(2.17)
c c
Keterangan: k = konstanta

35
Kriteria keruntuhan pertama menunjukkan bahwa kondisi tegangan utama
merupakan fungsi dari kuat tekan uniaksial. Kriteria ini dipergunakan ketika 1 dan
3 diketahui sebagai tegangan awal sebelum penggalian.
Melalui 412 pengujian terhadap contoh batu meliputi 91 contoh batuan
quartzite, 109 contoh batuan sandstones, 35 contoh batuan norite, 86 contoh batuan
mudstones, dan 91 contoh batuan siltstones (lihat Tabel 2.4), kriteria keruntuhan
empiris kedua dinyatakan pada persamaan 2.18.
c
Wm
B m + 0,1 ..................................................................................(2.18)
c c
Berdasarkan hasil pengujian terhadap beberapa jenis batuan, Bieniawski
menemukan bahwa konstanta k = 0,75 dan c = 0,90.
Yudbhir (1983) menyatakan nilai kostanta k pada setiap batuan konstan,
dengan nilai berkisar antara 0,65 - 0,75. Yudbhir juga menambahkan nilai kostanta A
untuk jenis batuan lain seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2..

Tabel 2.5 Kriteria keruntuhan empiris Bieniawski untuk beberapa jenis


batuan (Bieniawski, 1974)
Kriteria I Kriteria II
Jenis k c
1 Wm
Batuan =A 3 + 1 B m + 0,1
c c c c
Norite A=5 B = 0,8
Quartzite A = 4,5 B = 0,78
Sandstone A = 4,0 B = 0,75
Siltstone A = 3,0 B = 0,7
Mudstone A = 3,0 B = 0,7

Tabel 2.6 Nilai Konstanta A (Yudbhir, 1983)


A 2 3 4 5
Tuff Siltstone Quartzite Norite
Shale Mudstone Sandstone Granite
Limestone Dolorite Quartzdiorit

36
2.4.2.2 Kriteria keruntuhan empiris Hoek-Brown
Berdasarkan hasil eksprimentasi terhadap contoh batuan yang cukup banyak,
Hoek-Brown (1980) memperkenalkan kriteria keruntuhan yang pada awalnya
dikembangkan untuk batuan utuh (intact rock) dan massa batuan.
Kriteria keruntuhan Hoek-Brown didefinisikan berdasarkan persamaan :
a
'
'1 = '3 + ci m 3 +s ............................................................................(2.19)
ci
Keterangan: Vcdan Vc3 = tegangan maksimum dan minimum efektif saat runtuh
m = konstanta Hoek-Brown untuk massa batuan
s, a = konstanta yang bergatung karateristik massa batuan
Vci = kuat tekan uniaksial dari intact rock

Untuk batuan utuh (intact rock), Hoek-Brown memodifikasi persamaan 2.19, dengan
mensubtitusi s = 1 dan a = 0,5, sehingga menjadi persamaan 2.20.
0,5
'
'1 = '3 + ci m 3 +1 ..........................................................................(2.20)
ci
Menurut persamaan ini, hubungan antara tegangan prinsipal efektif saat
contoh batuan runtuh ditentukan oleh dua konstanta, yaitu kuat tekan uniaksial dan
nilai konstanta m.

Tabel 2.7 Nilai konstanta m untuk beberapa jenis batuan (Rocklab 10)
Tipe Batuan Jenis Batuan Nilai m
Sandstone 174
Sedimen Shale 62
Dolomit 93
Andesit 255
Beku Diorit 255
Granit 323
Slates 74
Metamorfik
Schist 103

37