Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh kita memiliki sistem saluran kemih, saluran kemih yaitu suatu saluran yang
terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Melalui sistem saluran kemih
inilah air kencing atau urin diproduksi dan dibuang. Organ-organ pda saluran kemih
merupakan suatu organ yang kompleks, oleh karena itu saluran kemih ini juga
mempunyai beberapa fungsi yang kompleks.
Ada beberapa fungsi saluran kemih yang harus di ketahui antara lain menyaring
darah dan urin sistemik, mengatur dan menjaga lingkungan tubuh manusia, jumlah dan
komposisi cairan tubuh, menjaga keseimbangan osmotik dalam tubuh, dan lain
sebagainya. Banyaknya fungsi yang ada pada saluran kemih terkadang dapat
mengakibatkan organ-organ dari saluran kemih tersebut mengalami gangguan,
misalnya adanya batu pada saluran kemih.
Batu saluran kemih adalah benda padat yang dibentuk oleh presipitasi berbagai zat
terlarut dalam urin pada saluran kemih (Pierce A Grace, 2006) dan dapat ditemukan
disetiap bagian ginjal sampai dengan kandung kemih dan ukurannnya bervariasi dari
deposit granuler yang kecil disebut pasir atau kerikil sampai dengan batu sebesar
kandung kemih yang berwarna orange (Suzzane C Smeltzer, 2002). Batu saluran kemih
ini dapat terjadi di beberapa organ saluran kemih antara lain yaitu, (ginjal, ureter, atau
kandung kemih, uretra).
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah Pengertian Dari Batu Saluran Kemih ?
b. Apa Saja Klasifikasi Batu Saluran Kemih ?
c. Bagaimana Etiologi Batu Saluran Kemih ?
d. Bagaimana Patofisiologi Terjadinya Batu Saluran Kemih ?
e. Bagaimanakah Tanda Dan Gejala Batu Saluran Kemih ?
f. Bagaimana Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih ?
g. Apa Saja Pemeriksaan Diagnostik Dan Penunjang Untuk Dapat Mengetahui
Adanya Batu Saluran Kemih ?
h. Bagaimana Pencegahan Batu Saluran Kemih ?

Askep Batu Salurah Perkemih 1


i. Bagaimana Pathway Batu Saluran Kemih ?
j. Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Pasien Yang Menderita Batu Saluran
Kemih ?
1.3 Tujuan
a. Mengetahui Pengertian Dari Batu Saluran Kemih
b. Mengetahui Klasifikasi Batu Saluran Kemih
c. Mengetahui Etiologi Batu Saluran Kemih
d. Mengetahui Patofisiologi Terjadinya Batu Saluran Kemih
e. Mengetahui Tanda Dan Gejala Batu Saluran Kemih
f. Mengetahui Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih
g. Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik Dan Penunjang Untuk Dapat Mengetahui
Adanya Batu Saluran Kemih
h. Mengetahui Pencegahan Batu Saluran Kemih
i. Mengetahui Pathway Batu Saluran Kemih
j. Mengetahui Asuhan Keperawatan Pada Pasien Yang Menderita Batu Saluran
Kemih ?

Askep Batu Salurah Perkemih 2


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Batu Saluran Kemih


Batu saluran kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan batu di dalam
saluran air kemih, yang dimulai dari kaliks sampai dengan uretra anterior (RSU Dr.
Soetomo Surabaya, 1994).
Batu saluran kemih adalah adanya batu di traktus urinarius. (ginjal, ureter, atau
kandung kemih, uretra) yang membentuk kristal; kalsium, oksalat, fosfat, kalsium urat,
asam urat dan magnesium.(Brunner & Suddath,2002).
Batu saluran kemih atau Urolithiasis adalah adanya batu di dalam saluran kemih.
(Luckman dan Sorensen)
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan masa keras seperti
batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan
ureter) dan saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang dapat menyebabkan
nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di
dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam kandung kemih (batu kandung kemih). Batu
ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat, atau sistein.
BSK dapat berukuran dari sekecil pasir hingga sebesar buah anggur. Batu yang
berukuran kecil biasanya tidak menimbulkan gejala dan biasanya dapat keluar bersama
dengan urine ketika berkemih. Batu yang berada di saluran kemih atas (ginjal dan
ureter) menimbulkan kolik dan jika batu berada di saluran kemih bagian bawah
(kandung kemih dan uretra) dapat menghambat buang air kecil. Batu yang menyumbat
ureter, pelvis renalis maupun tubulus renalis dapat menyebabkan nyeri punggung atau
kolik renalis (nyeri kolik yang hebat di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggang
yang menjalar ke perut juga daerah kemaluan dan paha sebelah dalam). Hal ini
disebabkan karena adanya respon ureter terhadap batu tersebut, dimana ureter akan
berkontraksi yang dapat menimbulkan rasa nyeri kram yang hebat.

Teori proses pembentukan batu

Secara teoritis batu dapat berbentuk diseluruh saluran kemih terutama pada tempat-
tempat yang sering mengalami hambatan aliran urin(statis urin) yaitu pada system
kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan pada pelvikalises(stenosis

Askep Batu Salurah Perkemih 3


uretero pelvis ), divertikel, obstruksiinfravesika kronis seperti pada hyperplasia
benigna prostat, striktura dan buli-buli neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang
memudahkan terjadinya pembentukan batu. Batu tersebut terdiri atas kristal-kristal
yang tersusun bahan-bahan organic dan anorganik yang terlarut dalam urin.

Penghambat Pembentukan Batu Saluran Kemih

Terbentuk atau tidaknya batu saluran kemih ditentukan juga oleh adanya
keseimbangan antara zat pembentuk batu dan inhibitor, yaitu zat yang mampu
mencegah timbulnya batu. Dikenal beberapa zat yang dapat menghambat terbentuknya
batu saluran kemih yang bekerja mulai dari proses reabsorbsi kalsium dalam usus,
proses pembentukan inti batu atau Kristal, proses agregasi kristal hingga retensi
kristal.

2.2 Klasifikasi Batu Saluran Kemih


Batu saluran kemih dapat dibagi berdasarkan lokasi terbentuknya, menurut lokasi
beradanya, menurut keadaan klinik, dan menurut susunan kimianya.
1. Menurut tempat terbentuknya
a. Batu ginjal

Askep Batu Salurah Perkemih 4


b. Batu ureter

c. Batu kandung kemih

Askep Batu Salurah Perkemih 5


d. Batu uretra

2. Menurut lokasi keberadaannya :


a. Batu urin bagian atas (mulai ginjal sampai ureter distal)
b. Batu urin bagian bawah (Mulai kandung kemih sampai uretra)
3. Menurut Keadaan Klinik :
a. Batu urin metabolic aktif : bila timbul dalam satu tahun trakhir, batu
bertambah besar atau kencing batu.
b. Batu urin metabolic inaktif : bila tidak ada gejala seperti yang aktif
c. Batu urin yang aktifitasnya diketahui (asimtomatik)
d. Batu urin yang perlu tindakan bedah (surgically active) bila menyebabkan
obstruksi, infeksi, kolik, hematuria.
4. Menurut susunan kimiawi
Berdasarkan susunan kimianya batu urin ada beberapa jenis yaitu : batu kalsium
okalat, batu kalsium fosfat, batu asam urat, batu struvit (magnesiumammonium
fosfat) dan batu sistin
a. Batu Kalsium Oksalat :
Merupakan jenis batu paling sering dijumpai; yaitu lebih kurang 75 85%
dari seluruh batu urin. Batu ini lebih umum pada wanita, dan rata-rata terjadi
pada usia decade ketiga. Kadang-kadang batu ini dijumpai dalam bentuk murni

Askep Batu Salurah Perkemih 6


atau juga bisa dalam bentuk campuran, misalnya dengan batu kalsium fosfat
)biasanya hidroxy apatite).
Batu kalsium ini terdiri dari 2 tipe yaitu monohidrat dan dihidrat. Batu
kalsium dihidrat biasanya pecah dengan mudah dengan lithotripsy (suatu teknik
non invasive dengan menggunakan gelombang kejut yang difokuskan pada batu
untuk menghancurkan batu menjadi fragmen-fragmen.) sedangkan batu
monohidrat adalah salah satu diantara jenis batu yang sukar dijadikan fragmen-
fragmen.

Faktor terjadinya batu kalsium adalah:


1) Hiperkalsiuria: Kadar kasium urine lebih dari 250-300 mg/24 jam, dapat
terjadi karena peningkatan absorbsi kalsium pada usus (hiperkalsiuria
absorbtif), gangguan kemampuan reabsorbsi kalsium pada tubulus ginjal
(hiperkalsiuria renal) dan adanya peningkatan resorpsi tulang
(hiperkalsiuria resoptif) seperti pada hiperparatiridisme primer atau
tumor paratiroid.
2) Hiperoksaluria: Ekskresi oksalat urien melebihi 45 gram/24 jam, banyak
dijumpai pada pasien pasca pembedahan usus dan kadar konsumsi
makanan kaya oksalat seperti teh, kopi instan, soft drink, kakao, arbei,
jeruk sitrun dan sayuran hijau terutama bayam.
3) Hiperurikosuria: Kadar asam urat urine melebihi 850 mg/24 jam. Asam
urat dalam urine dapat bertindak sebagai inti batu yang mempermudah
terbentuknya batu kalsium oksalat. Asam urat dalam urine dapat
bersumber dari konsumsi makanan kaya purin atau berasal dari
metabolisme endogen.
b. Batu Struvit :
Sekitar 10-15% dari total, terdiri dari magnesium ammonium fosfat (batu
struvit) dan kalsium fosfat. Batu ini terjadi sekunder terhadap infeksi saluran
kemih yang disebabkan bakteri pemecah urea. Batu dapat tumbuh menjadi lebih
besar membentuk batu staghorn dan mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal
(6,46) Batu dapat tumbuh menjadi lebih besar membentuk batu staghorn dan
mengisi seluruh pelvis dan kaliks ginjal.(646) Batu ini bersifat radioopak dan
mempunyai densitas yang berbeda. Diurin kristal batu struit berbentuk prisma

Askep Batu Salurah Perkemih 7


empat persegi panjang. Dikatakan bahwa batu staghorn dan struit mungkin
berhubungan erat dengan destruksi yang cepat dari ginjal hal ini mungkin
karena proteus merupakan bakteri urease yang poten.
c. Batu asam urat :
Lebih kurang 5-10% dari seluruh batu saluran kemih dan batu ini tidak
mengandung kalsium dalam bentuk mu rni sehingga tak terlihat dengan sinar X
(Radiolusen) tapi mungkin bisa dilihat dengan USG atau dengan Intra Venous
Pyelografy (IVP). Batu asam urat ini biasanya berukuran kecil, tapi kadang-
kadang dapat cukup besar untuk membentuk batu staghorn, dan biasanya relatif
lebih mudah keluar karena rapuh dan sukar larut dalam urin yang asam. Batu
asam urat ini terjadi terutama pada wanita. Separoh dari penderita batu asam urat
menderita gout; dan batu ini biasanya bersifat famili apakah dengan atau tanpa
gout. Dalam urin kristal asam urat berwarna merah orange. Asam urat anhirat
menghasilkan kristal-kristal kecil yang terlihat amorphous dengan mikroskop
cahaya. Dan kristal ini tak bisa dibedakan dengan kristal apatit. Batu jenis
dihidrat cenderung membentuk kristal seperti tetesan air mata.
d. Batu Sistin : (1-2%)
Lebih kurang 1-2% dari seluruh BSDK, Batu ini jarang dijumpai (tidak
umum), berwarana kuning jeruk dan berkilau. Sedang kristal sistin diurin
tampak seperti plat segi enam, sangat sukar larut dalam air.(6) Bersifat
Radioopak karena mengandung sulfur.
e. Batu Xantin :
Amat jarang, bersifat herediter karena defisiensi xaintin oksidase. Namun
bisa bersifat sekunder karena pemberian alupurinol yang berlebihan.

2.3 Etiologi Batu Saluran Kemih


Penyebab terbentuknya batu saluran kemih sampai saat ini belum diketahui
pasti, tetapi ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu pada saluran kemih yaitu:
1. Infeksi
Infeksi saluran kencing dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan
menjadi inti pembentukan batu saluran kemih . Infeksi bakteri akan memecah
ureum dan membentuk amonium yang akan mengubah pH urine menjadi alkali.

Askep Batu Salurah Perkemih 8


2. Stasis dan Obstruksi urine
Adanya obstruksi dan stasis urine akan mempermudah pembentukan batu
saluran kemih.
3. Ras
Pada daerah tertentu angka kejadian batu saluran kemih lebih tinggi daripada
daerah lain, Daerah seperti di Afrika Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu
saluran kemih.
4. Keturunan
Herediter atau faktor keturunan yang juga memainkan dari semua jenis penyakit
yang menjadi alasan suatu penyakit dapat diturunkan oleh orang tua ke anak.
5. Asupan Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum air akan mengurangi
kemungkinan terbentuknya batu ,sedangkan kurang minum menyebabkan kadar
semua substansi dalam urine meningkat.
6. Pekerjaan
Pekerja keras yang banyak bergerak mengurangi kemungkinan terbentuknya
batu daripada pekerja yang lebih banyak duduk.
7. Suhu
Tempat yang bersuhu panas menyebabkan banyak mengeluarkan keringat
sedangkan asupan air kurang dan tingginya kadar mineral dalam air minum
meningkatkan insiden batu saluran kemih.
8. Makanan
Masyarakat yang banyak mengkonsumsi protein hewani angka morbiditasbatu
saluran kemih berkurang. Penduduk yang vegetarian yang kurang makan putih telur
lebih sering menderita batu saluran kemih ( buli-buli dan Urethra ).

2.4 Patofisiologi terjadinya Batu Saluran Kemih


Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau dikenal dengan
urolithiasis belum diketahui secara pasti. Namun demikian ada beberapa faktor
predisposisi terjadinya batu antara lain: peningkatan konsentrasi larutan urin akibat
dari intake cairan yang kurang serta peningkatan bahan-bahan organik akibat infeksi
saluran kemih atau statis urin menjadikan sarang untuk pembentukan batu.

Askep Batu Salurah Perkemih 9


Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat dan faktor lain yang
mendukung terjadinya batu meliputi: pH urin yang berubah menjadi asam, jumlah
casiran urin. Masalah-masalah dengan metabolisme purin mempengaruhi
pembentukan batu asam urat. pH urin juga mendukung pembentukan batu. Batu
asam urat dan cyscine dapat mengendap dalam urin yang alkalin, sedangkan batu
oxalat tidak dipengaruhi oleh pH urin.
. Batu yang terbentuk dalam saluran kemih sangat bervariasi. Ada batu yang
kecil, ada yang besar. Batu yang kecil dapat lekuar lewat urin dan akan menimbulkan
rasa nyeri, trauma pada saluran kemih dan akan tampak darah dalam urin; sedangkan
batu yang besar dapat menyebabkan obstruksi saluran kemih yang menimbulkan
dilatasi struktur, akibat dari dilatasi akan terjadi refluks urin dan akan menimbulkan
terjadinya hidronefrosis karena dilatasi ginjal. Kerusakan pada srtuktur ginjal yang
lama akan mengakibatkan kerusakan-kerusakan pada organ dalam ginjal sehingga
terjadi gagal ginjal kronis karena ginjal tidak mampu melakukan fungsinya secara
normal, yang mengakibatkan terjadinya penyakit gagal ginjal kronik yang dapat
menyebabkan kematian. Selain itu batu dapat mengabrasi dinding sehingga darah
akan keluar bersama urin.

2.5 Tanda Gejala Batu Saluran Kemih

Manisfestasi klinik adanya batu dalam saluran kemih bergantung pada adanya
obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urine, terjadi obstruksi
yang dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi
piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi biasanya disertai gejala demam,
menggigil, dan dysuria. Namun, beberapa batu jika ada gejala tetapi hanya sedikit
dan secara perlahan akan merusak unit fungsional (nefron) ginjal, dan gejala lainnya
adalah nyeri yang luar biasa ( kolik). Gejala klinis yang dapat dirasakan yaitu :

1. Rasa Nyeri Lokasi nyeri tergantung dari letak batu. Rasa nyeri yang berulang
(kolik) tergantung dari lokasi batu. Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai
nyeri tekan diseluruh area kostovertebratal, tidak jarang disertai mual dan
muntah, maka pasien tersebut sedang mengalami kolik ginjal. Batu yang berada
di ureter dapat menyebabkan nyeri yang luar biasa, akut, dan kolik yang
menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering ingin merasa berkemih, namun

Askep Batu Salurah Perkemih 10


hanya sedikit urine yang keluar, dan biasanya air kemih disertai dengan darah,
maka pasien tersebut mengalami kolik ureter.
2. Demam Demam terjadi karena adanya kuman yang beredar di dalam darah
sehingga menyebabkan suhu badan meningkat melebihi batas normal. Gejala ini
disertai jantung berdebar, tekanan darah rendah, dan pelebaran pembuluh darah
di kulit.
3. Infeksi BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder
akibat obstruksi dan statis di proksimal dari sumbatan. Infeksi yang terjadi di
saluran kemih karena kuman Proteus spp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter,
Pseudomonas, dan Staphiloccocus.
4. Hematuria dan kristaluria Terdapatnya sel darah merah bersama dengan air
kemih (hematuria) dan air kemih yang berpasir (kristaluria) dapat membantu
diagnosis adanya penyakit BSK. e. Mual dan muntah Obstruksi saluran kemih
bagian atas (ginjal dan ureter) seringkali menyebabkan mual dan muntah.
5. Batu di ginjal
a. Nyeri dalam dan terus menerus di area kontovertebral.
b. Hematuri.
c. Nyeri berasal dari area renal menyebar secara anterior dan pada wanita nyeri
kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria mendekati testis.
d. Mual dan muntah.
e. Diare.
6. Batu di ureter
a. Nyeri menyebar kepaha dan genitalia.
b. Rasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar.
c. Hematuri akibat abrasi batu.
d. Biasanya batu keluar secara spontan dengan diameter batu 0,5 1 cm.
7. Batu di kandung kemih
a. Biasanya menimbulkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus
urinarius dan hematuri.
b. Jika batu menimbulkan obstruksi pada leher kandung kemih akan terjadi
retensi urin.

Askep Batu Salurah Perkemih 11


2.6 Penatalaksanaan Batu Saluran Kemih
Tujuan dasar penatalaksanaan medis BSK adalah untuk menghilangkan batu,
menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi, dan
mengurangi obstruksi yang terjadi.30 Batu dapat dikeluarkan dengan cara
medikamentosa, pengobatan medik selektif dengan pemberian obat-obatan, tanpa
operasi, dan pembedahan terbuka.
a. Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil
yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar
tanpa intervensi medis.3 Dengan cara mempertahankan keenceran urine dan diet
makanan tertentu yang dapat merupakan bahan utama pembentuk batu ( misalnya
kalsium) yang efektif mencegah pembentukan batu atau lebih jauh meningkatkan
ukuran batu yang telah ada. Setiap pasien BSK harus minum paling sedikit 8 gelas
air sehari.
b. Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan
Analgesia dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar
batu dapat keluar sendiri secara spontan. Opioid seperti injeksi morfin sulfat yaitu
petidin hidroklorida atau obat anti inflamasi nonsteroid seperti ketorolac dan
naproxen dapat diberikan tergantung pada intensitas nyeri. Propantelin dapat
digunakan untuk mengatasi spasme ureter. Pemberian antibiotik apabila terdapat
infeksi saluran kemih atau pada pengangkatan batu untuk mencegah infeksi
sekunder. Setelah batu dikeluarkan, BSK dapat dianalisis untuk mengetahui
komposisi dan obat tertentu dapat diresepkan untuk mencegah atau menghambat
pembentukan batu berikutnya.
c. ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy)
Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan ini
digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk memecah
batu. Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh
Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter proximal,
atau menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran
kemih. ESWL dapat mengurangi keharusan melakukan prosedur invasif dan
terbukti dapat menurunkan lama rawat inap di rumah sakit.

Askep Batu Salurah Perkemih 12


d. Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran
kemih melalui alat yang dimasukan langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut
dimasukan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan). Beberapa
tindakan endourologi tersebut adalah :
a) PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) adalah usaha mengeluarkan batu yang
berada di dalam saluran ginjal dengan cara memasukan alat endoskopi ke sistem
kalies melalui insisi pada kulit. Batu kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih
dahulu menjadi fragmen-fragmen kecil.
b) Litotripsi adalah memecah batu buli-buli atau batu uretra dengan memasukan
alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
c) Ureteroskopi atau uretero-renoskopi adalah dengan memasukan alat ureteroskopi
per-uretram. Dengan memakai energi tertentu, batu yang berada di dalam ureter
maupun sistem pelvikalises dapat dipecah melalui tuntunan
ureteroskopi/ureterorenoskopi ini. d. Ekstrasi Dormia adalah mengeluarkan batu
ureter dengan menjaringnya melalui alat keranjang Dormia.
e. Tindakan Operasi
Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan
batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu
tidak merespon terhadap bentuk penanganan lainnya. Ada beberapa jenis tindakan
pembedahan, nama dari tindakan pembedahan tersebut tergantung dari lokasi
dimana batu berada, yaitu :
a) Nefrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di
dalam ginjal
b) Ureterolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada
di ureter
c) Vesikolitomi merupakan operasi tebuka untuk mengambil batu yang berada di
vesica urinearia
d) Uretrolitotomi merupakan operasi terbuka untuk mengambil batu yang berada di
uretra

Askep Batu Salurah Perkemih 13


2.7 Pemeriksaan Diagnostik Dan Penunjang Untuk Dapat Mengetahui Adanya Batu
Saluran Kemih
1. Urinalisa; warna mungkin kuning ,coklat gelap,berdarah,secara umum menunjukan
SDM, SDP, kristal ( sistin,asam urat,kalsium oksalat), pH asam (meningkatkan
sistin dan batu asam urat) alkali ( meningkatkan magnesium, fosfat amonium, atau
batu kalsium fosfat), urine 24 jam :kreatinin, asam urat kalsium, fosfat, oksalat,
atau sistin mungkin meningkat), kultur urine menunjukan ISK, BUN/kreatinin
serum dan urine; abnormal (tinggi pada serum/rendah pada urine) sekunder
terhadap tingginya batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia/nekrosis.
2. Darah lengkap: Hb,Ht,abnormal bila psien dehidrasi berat atau polisitemia.
3. Hormon Paratyroid mungkin meningkat bila ada gagal ginjal ( PTH. Merangsang
reabsobsi kalsium dari tulang, meningkatkan sirkulasi serum dan kalsium urine.
4. Foto Rntgen; menunjukan adanya kalkuli atau perubahan anatomik pada area ginjal
dan sepanjang ureter.
5. IVP: memberikan konfirmasi cepat urolithiasis seperti penyebab nyeri, abdominal
atau panggul.Menunjukan abnormalitas pada struktur anatomik (distensi ureter).
6. Sistoureterokopi;visualiasi kandung kemih dan ureter dapat menunjukan batu atau
efek obstruksi.
7. CT Scan : menggambarkan kalkuli dan masa lain.
8. USG ginjal: untuk menentukan perubahan obstruksi,dan lokasi batu.

2.8 Pencegahan Batu Saluran Kemih

Pencegahan BSK terdiri dari pencegahan primer atau pencegahan tingkat pertama,
pencegahan sekunder atau pencegahan tingkat kedua, dan pencegahan tersier atau
pencegahan tingkat ketiga. Tindakan pencegahan tersebut antara lain :

a. Pencegahan Primer
Tujuan dari pencegahan primer adalah untuk mencegah agar tidak terjadinya
penyakit BSK dengan cara mengendalikan faktor penyebab dari penyakit BSK.
Sasarannya ditujukan kepada orang-orang yang masih sehat, belum pernah
menderita penyakit BSK. Kegiatan yang dilakukan meliputi promosi kesehatan,
pendidikan kesehatan, dan perlindungan kesehatan. Contohnya adalah untuk
menghindari terjadinya penyakit BSK, dianjurkan untuk minum air putih minimal

Askep Batu Salurah Perkemih 14


2 liter per hari. Konsumsi air putih dapat meningkatkan aliran kemih dan
menurunkan konsentrasi pembentuk batu dalam air kemih. Serta olahraga yang
cukup terutama bagi individu yang pekerjaannya lebih banyak duduk atau statis.
b. Pencegahan Sekunder
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah untuk menghentikan perkembangan
penyakit agar tidak menyebar dan mencegah terjadinya komplikasi. Sasarannya
ditujukan kepada orang yang telah menderita penyakit BSK. Kegiatan yang
dilakukan dengan diagnosis dan pengobatan sejak dini. Diagnosis Batu Saluran
Kemih dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik, laboraturium, dan
radiologis. Hasil pemeriksaan fisik dapat dilihat berdasarkan kelainan fisik pada
daerah organ yang bersangkutan :
a) Keluhan lain selain nyeri kolik adalah takikardia, keringatan, mual, dan demam
(tidak selalu).
b) Pada keadaan akut, paling sering ditemukan kelembutan pada daerah pinggul
(flank tenderness), hal ini disebabkan akibat obstruksi sementara yaitu saat
batu melewati ureter menuju kandung kemih. Urinalisis dilakukan untuk
mengetahui apakah terjadi infeksi yaitu peningkatan jumlah leukosit dalam
darah, hematuria dan bakteriuria, dengan adanya kandungan nitrit dalam urine.
Selain itu, nilai pH urine harus diuji karena batu sistin dan asam urat dapat
terbentuk jika nilai pH kurang dari 6,0, sementara batu fosfat dan struvit lebih
mudah terbentuk pada pH urine lebih dari 7,2.
Diagnosis BSK dapat dilakukan dengan beberapa tindakan radiologis yaitu:
a) Sinar X abdomen Untuk melihat batu di daerah ginjal, ureter dan kandung
kemih. Dimana dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu dan dapat
membedakan klasifikasi batu yaitu dengan densitas tinggi biasanya
menunjukan jenis batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat, sedangkan
dengan densitas rendah menunjukan jenis batu struvit, sistin dan campuran.
Pemeriksaan ini tidak dapat membedakan batu di dalam ginjal maupun batu
diluar ginjal.
b) Intravenous Pyelogram (IVP) Pemeriksaan ini bertujuan menilai anatomi
dan fungsi ginjal. Jika IVP belum dapat menjelaskan keadaan sistem saluran
kemih akibat adanya penurunan fungsi ginjal, sebagai penggantinya adalah
pemeriksaan pielografi retrograd.

Askep Batu Salurah Perkemih 15


c) Ultrasonografi (USG) USG dapat menunjukan ukuran, bentuk, posisi batu
dan adanya obstruksi. Pemeriksaan dengan ultrasonografi diperlukan pada
wanita hamil dan pasien yang alergi terhadap kontras radiologi. Keterbatasn
pemeriksaan ini adalah kesulitan untuk menunjukan batu ureter, dan tidak
dapat membedakan klasifikasi batu.
d) Computed Tomographic (CT) scan
Pemindaian CT akan menghasilkan gambar yang lebih jelas tentang ukuran dan
lokasi batu.
c. Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan tersier adalah untuk mencegah agar tidak terjadi
komplikasi sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan
perawatan intensif. Sasarannya ditujukan kepada orang yang sudah menderita
penyakit BSK agar penyakitnya tidak bertambah berat. Kegiatan yang dilakukan
meliputi kegiatan rehabilitasi seperti konseling kesehatan agar orang tersebut lebih
memahami tentang cara menjaga fungsi saluran kemih terutama ginjal yang telah
rusak akibat dari BSK sehingga fungsi organ tersebut dapat maksimal kembali dan
tidak terjadi kekambuhan penyakit BSK , dan dapat memberikan kualitas hidup
sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

Askep Batu Salurah Perkemih 16


2.9 Pathway batu saluran perkemihan

Askep Batu Salurah Perkemih 17


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

1.Pengkajian

Identitas Klien

Nama : Nama Pasien


Umur : Biasa terjadi pada usia 55-74 Tahun.
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Dapat terjadi pada semua agama.
Pendidikan : Dapat menyerang pendidikan apapun
Pekerjaan : lebih banyak terjadi pada orang-orang yang banyak duduk dalam
melakukan pekerjaannya.
SukuBangsa : Dapat terjadi pada semua Suku.
Alamat : Alamat Pasien
No. Reg :
Tgl. Mrs :
Diagnosa : Batu Saluran Kemih
2.Riwayat keperawatan (Nursing History)

A. Keluhan Utama : Berisi keluhan yang paling di rasakan oleh pasien.


B. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluhan yang sering terjadi pada klien batu saluran kemih ialah nyeri pada saluran
kemih yang menjalar, berat ringannya tergantung pada lokasi dan besarnya batu,
dapat terjadi nyeri/kolik renal klien dapat juga mengalami gangguan
gastrointestinal dan perubahan.
C. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Apakah klien pernah menderita batu saluran kemih sebelumnya atau infeksi saluran
kemih, apakah klien pernah dirawat atau dioperasi sebelumnya
D. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah riwayat batu saluran kemih dalam keluarga.

Askep Batu Salurah Perkemih 18


E. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum
Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai tanpa kelainan
fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung pada letak batu dan penyulit yang
ditimbulkan. Terjadi nyeri/kolik renal klien dapat juga mengalami gangguan
gastrointestinal dan perubahan.
Tanda-tanda vital
Kesadaran compos mentis, penampilan tampak obesitas, tekanan darah 110/80
mmHg, frekuensi nadi 88x/menit, frekuensi nafas 20 kali/menit, suhu 36,2 C,
dan Indeks Massa Tubuh (IMT) 29,3 kg/m2. Pada pemeriksaan palpasi regio
flank sinistra didapatkan tanda ballotement (+) dan pada perkusi nyeri ketok
costovertebrae angle sinistra (+).
Pemeriksaan fisik persistem

1. Sistem persyarafan: Tingkat kesadaran, GCS, reflex bicara, compos mentis

2. Sistem penglihatan: Termasuk penglihatan pupil isokor, dengan reflex


cahaya (+) .

3. Sistem pernafasan: Nilai frekuensi nafas, kualitas, suara dan jalan nafas.
Atau tidak mengeluh batuk atau sesak. Tidak ada riwayat bronchitis, TB,
asma, empisema, pneumonia.

4. Sistem pendengaran: Tidak ditemukan gangguan pada sistem pendengaran.

5. Sistem pencernaan, Mulut dan tenggorokan: Fungsi mengunyah dan


menelan baik, Bising usus normal.

6. Sistem abdomen: Adanya nyeri tekan abdomen, teraba massa keras atau
batu, nyeri ketok pada pinggang.

7. Sistem reproduksi: Tidak ada masalah/gangguan pada sistem reproduksi.

8. Sistem kardiovaskuler: Tidak ditemukan gangguan pada sistem


kardiovaskular.

9. Sistem integument: Hangat, kemerahan, pucat.

Askep Batu Salurah Perkemih 19


10. Sistem muskuluskletal: Mengalami intoleransi aktivitas karena nyeri yang
dirasakan yang melakukan mobilitas fisik tertentu.

11. Sistem perkemihan: Adanya oliguria, disuria, gross hematuria, menjadi ciri
khas dari urolithiasis, nyeri yang hebat, nyeri ketok pada pinggang, distensi
vesika pada palpasi vesika (vesikolithiasis/ urolithiasis, nyeri yang hebat,
nyeri ketok pada pinggang, distensi vesika pada palpasi vesika
(vesikolithiasis/uretrolithiasis), teraba massa keras/batu (uretrolithiasis).
nilai frekuensi buang air kecil dan jumlahnya, Gangguan pola berkemih.

F. PEMERIKSAAN BERDASARKAN POLA


1. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
a. Riwayat penyakit ginjal akut dan kronik.
b. Riwayat infeksi saluran kemih.
c. Pajanan lingkungan: zat-zat kimia.
d. Keturunan.
e. Alkoholik, merokok.
f. Untuk pasien wanita: jumlah dan tipe persalinan (SC, forseps, penggunaan
kontrasepsi).
2. Pola nutrisi metabolik
a. Mual, muntah.
b. Demam.
c. Diet tinggi purin oksalat atau fosfat.
d. Kebiasaan mengkonsumsi air minum.
e. Distensi abdominal, penurunan bising usus.
f. Alkoholik
3. Pola eliminasi
a. Perubahan pola eliminasi: urin pekat, penurunan output.
b. Hematuri.
c. Rasa terbakar, dorongan berkemih.
d. Riwayat obstruksi.
e. Penurunan hantaran urin, kandung kemih.
4. Pola aktivitas dan latihan

Askep Batu Salurah Perkemih 20


a. Pekerjaan (banyak duduk).
b. Keterbatasan aktivitas.
c. Gaya hidup (olah raga).
5. Pola tidur dan istirahat
a. Demam, menggigil.
b. Gangguan tidur akibat rasa nyeri.
6. Pola persepsi kognitif
a. Nyeri: nyeri yang khas adalah nyeri akut tidak hilang dengan posisi atau
tindakan lain, nyeri tekan pada area ginjal pada palpasi
b. Pengetahuan tentang terjadinya pembentukan batu.
c. Penanganan tanda dan gejala yang muncul.
7. Pola reproduksi dan seksual
a. Keluhan dalam aktivitas seksual sehubungan dengan adanya nyeri pada
saluran kemih.
8. Pola persepsi dan konsep diri
a. Perubahan gaya hidup karena penyakit.
b. Cemas terhadap penyakit yang diderita.
9. Pola mekanisme copying dan toleransi terhadap stres
a. Adakah pasien tampak cemas
b. Bagaimana mengatasi masalah yang timbul.

3. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul adalah ;
Pre operasi :
a. Nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi uretral.
b. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan situasi kandung kemih oleh
batu,iritasi ginjal atau uretral.
c. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual / muntah.
d. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan adanya batu pada saluran
kemih (ginjal).
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/ menginggat salah
interpertasi informasi.

Askep Batu Salurah Perkemih 21


Post operasi
a. Resiko kurang volume cairan b.d. haemoragik/ hipovolemik
b. Nyeri b.d insisi bedah
c. Perubahan eliminasi perkemihan b.d. penggunaan kateter
d. Resiko infeksi b.d. insisi operasi dan pemasangan kateter.

I. PRE OPERASI
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi uretral.

DOMAIN 12 :Kenyamanan
KELAS 1 : Kenyamanan Fisik
NS.
Nyeri Akut
DIAGNOSIS :
(NANDA-I)
Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak
menyenangkan dan muncul akibat kerusakan jaringan
actual atau potensial atau digambarkan dalam kerusakan
sedemikian rupa (internasional association for study of
DEFINITION:
pain) awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas
dari ringan hingga berat, terjadi secara konstan atau
berulang tanpa akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi
dan berlangsung < 6 bulan.
Dilatasi pupil
DEFINING Mengekspresikan perilaku (mis.gelisah, merengek,
CHARACTERI menangis, waspada, iritabilitas, mendesah)
STICS Gangguan tidur
Melaporkan nyeri secara verbal
Agens cedera(mis., biologis, zat kimia, fisik,
RELATED
psikologis)
FACTORS:

Askep Batu Salurah Perkemih 22


Subjective data entry Objective data entry
Pasien mengeleuh nyeri Tanda-tanda vital :
pada mata dan
Suhu : 37C
penglihatan kabur
TekananDarah : 120/80 mmHg
Nadi : 80x/mnt
ASSESSMENT

RR : 18x/mnt
Data Fokus :
1. Melaporkan nyeri secara verbal
2. Dilatasi pupil
3. Gangguan tidur
4. Mengekspresikan perilaku (mis.gelisah,
merengek, menangis, waspada, iritabilitas,
mendesah)

Ns. Diagnosis (Specify):


Client Nyeri Akut
DIAGNOSIS

Diagnostic Related to:


Statement: Nyeri Akut b.d agens cedera fisik

Askep Batu Salurah Perkemih 23


INTERVENSI
NIC NOC
INTERVENSI AKTIVITAS OUTCOME INDICATOR
Lakukan Melaporkan Nyeri : 5
Manajemen Level Nyeri
pengkajian nyeri Lama Nyeri : 4
nyeri
secara Def: Keresahan : 3
Def : komprehensif Kekuatan dari Ekspresi wajah
Mengurangi termasuk lokasi, nyeri yang terhadap nyeri : 4
nyeri atau karakteristik, diamatia tau RR : 5
menurunkan durasi, frekuensi, dilaporkan.
nyeri ke level kualitas dan
kenyamanan faktor
yang diterima presipitasi.
oleh pasien. kaji tipe dan
sumber nyeri
untuk
menentukan
intervensi
Gunakan teknik
komunikasi
terapeutik untuk
mengetahui
pengalaman
nyeri pasien
Kontrol
lingkungan yang
dapat
mempengaruhi
Nyeri seperti
suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan

Askep Batu Salurah Perkemih 24


Kurangi faktor
presipitasi
Pilih dan
lakukan
penanganan
nyeri
(farmakologi,
non farmakologi,
interpersonal)
Tingkatkan
istirahat
Berikan
analgetik untuk
menguranginyeri

2. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan situasi kandung kemih oleh


batu,iritasi ginjal atau uretral.
Tujuan :
Berkemih dengan jumlah normal dan pola biasanya
Tidak mengalami tanda obstruksi
Intervensi
a. Awasi pemasukan dan keluaran serta karakteristik urine
Rasional : Memberikan informasi tentang fungsi ginjal, dan adanya komplikasi
contoh infeksi dan perdarahan
b. Tentukan pola berkemih normal dan perhatikan variasi
Rasional : Kalkulus dapat menyebabkan ekstibilitas yang menyebabkan sensasi
kebutuhan berkemih segera
c. Dorong meningkatjkan pemasukan cairan
Rasional : Peningkatan hidrasi membilas bakteri,darah dan debris dan dapat
membantu lewatnya batu.

Askep Batu Salurah Perkemih 25


d. periksa semua urine catat adanya keluaran batu dan kirim ke laboratorium
untuk analisa
Rasional : Penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe batu dan
mempengaruhi pilihan terapi
e. Observasi perubahan status mental,perilaku atau tingkat kesadaran
Rasional : Akumulasi sisa uremik dan ketidak seimbangan elektrolit dapat
menjadi toksik di SSP.
f. Awasi pemeriksaan laboratorium,contoh BUN,elektrolit,kreatinin
Rasional :Peninggian BUN,kreatinin dan elektrolit mengidentifikasikan
disfungsi ginjal.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual / muntah.
Tujuan :
Mempertahankan keseimbangan cairan
Membran mukosa lembab
Turgor kulit baik
Intervensi
a. Awasi intake dan Output
Rasional : Membandingkan keluaran actual dan yang diantisifikasi membantu
dalam evaluasi adanya / derajat statis / kerusakan ginjal.
b. Catat insiden muntah,diare perhatikan karakteristik dan frekuensi mual /
muntah dan diare.
Rasional : Mual / muntah, diare secara umum berdasarkan baik kolik ginjal
karena saraf ganglion seliaka pada kedua ginjal dan lambung.
c. Awasi Hb /Ht, elektrolit
Rasional : Mengkaji hidrasi dan efektifian / kebutuhan intervensi.
d. Berikan cairan IV
Rasional : Mempertahankan volume sirkulasi / bila pemasukan oral tidak
cukup,/ menaik fungsi ginjal.
e. Berikan diet tepat,cairan jernih,makanan lembut sesuai toleransi.
Rasional : Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas GI / iritasi dan
membantu mempertahankan cairan dan keseimbangan nutrisi.

Askep Batu Salurah Perkemih 26


4. Resiko tinggi terhadap cidera berdasarkan adanya batu pada saluran kemih ( ginjal ).
Tujuan :
Fungsi ginjal dalam batas normal
Urine berwarna kuning / kuning jernih
Tidak nyeri waktu berkemih.
Intervensi
a. PantauUrine berwarna,bau / tiap 8 jam, Masukan dan haluaran tiap 8 jam,PH
urine , TTV setiap 4 jam
Rasional : Untuk deteksi dini terhadap masalah.
b. Saring semua urine,observasi terhadap kristal. Simpan kristal untuk dilihat
dokter kirim ke laboratorium
Rasional : Untuk mendaptakan data- data keluarnya batu,perubahan diet yang
didasari oleh komposisi batu
c. Konsultasi dengan dokter bila pasien sering berkemih,jumlah urine sedikit dan
terus menerus,perubahan urine.
Rasional : Temuan-temuan ini menunjukkan perkembangan obstruksi dan
kebutuhan intervensi progresif.
d. Berikan obat-obatan sesuai program untuk mempertahankan PH urine tepat.
Rasional : Dengan perubahan PH urine / peningkatan keasamaan /
alkalinitas,factor solubilitas untuk batu dapat di control
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan/ menginggat salah
interpertasi informasi.
Tujuan :
menyatakan pemahaman proses penyakit.
Menghubungkan gejala dan faktor penyebab.
Melakukan perubahan prilaku yang perlu dan berpastrisipasi dalam program
pengobatan.
Intervensi :
a. Kaji ulang proses penyakit dan harapan di masa yang datang
Rasional : memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat
pilihan berdasarkan informasi.

Askep Batu Salurah Perkemih 27


b. Tekankan pentingnya peningkatan pemasukan cairan , contoh 3-4 liter per
hari/ 6-8 liter/ hari. Dorong pasien melaporkan mulut kering, diuresis
(keringat berlebihan) dan untuk peningkatan pemasukan cairan baik bila haus
atau tidak.
Rasional : pembilasan sistem ginjal menurunkan kesempatan statis ginjal
atau pembentukan batu.
c. Diskusikan program obat-obatan, hindari obat yang dijual bebas dan
membaca semua label produk/ kandungan dalam makanan
Rasional : obat-obatan diberikan untuk mengasamkan mengakalikan urine,
tergantung pada penyebab dasar pembentukan batu.
d. Mendengar dengan aktif tentang terapi / perubahan pola hidup.
Rasional : membantu pasien berkerja melalui perasaan dan meningkatkan rasa
kontrol apa yang terjadi.
e. Tunjukan perawatan yang tepat terhadap insisi/ kateter bila ada.
Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri, dan kemandirian.

II. POST OPERASI


2.1 Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan batu saluran kemih pasca pembedahan menurut
Doenges (2000),Susan Martin tucker ( 1998 ) diperoleh data sebagai berikut :
1. Pola Aktifitas / istirahat.
Gejala : Pekerjaan monoton, klien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi,
keterbatasan aktifitas / imobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya
(penyakit tidak sembuh dan cidera medula spinalis).
2. Pola Sirkulasi
Tanda : peningkatan tekanan darah, nadi, nyeri pingggang, kolig ginjal,
ansietas, gagal ginjal), kulit hangat dan kemerahan, pucat.
3. Pola Eliminasi
Gejala : riwayat adanya ISK kronik, obstruksi sebelumnya (kalkulus).
Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh, rasa terbakar, dorongan
berkemih, diare.
Tanda : oliguria, hematuria, piuria, perubahan pola berkemih, makanan /
cairan.

Askep Batu Salurah Perkemih 28


4. Pola Makanan / cairan
Gejala : mual / muntah, nyeri tekan abdomen, diet tinggi purin, kalsium
oksalat atau fosfat, ketidakcukupan pemasukan cairan tidak minum air
dengan cukup.
Tanda : distensi abdomen, penurunan / tidak adanya bising usus, muntah.
5. Pola Nyeri / kenyamanan
Gejala : periode akut, nyeri berat, nyeri kolik, lokasi tergantung pada lokasi
batu, contoh pada panggul di regio sudut kostavertebral : dapat menyebar ke
punggung, abdomen dan turun ke lipat paha/genetalia, nyeri dangkal konstan
menunjukkan kalkulus ada di pelvi atau kalkulus ginjal nyeri dapat
digambarkan sebagai akut, hebat tidak hilang dengan posisi atau tindakan
lain.
Tanda : melindungi perilaku distraksi, nyeri tekan pada areal ginjal pada
palpasi.
2.2 Diagnosa keperawatan
1. Resiko infeksi b.d. insisi operasi dan pemasangan kateter.

NS.
DIAGNOSIS : Resiko Infeksi,

(NANDA-I)

DEFINITION: Beresiko terhadap invasi organisme pathogen.


Penyakit kronis
Penekanan system imun
Ketidakadekuatan imunitas dapatan
Pertahanan primer tidak adekuat ( mis : kulit luka, trauma

RISK jaringan, penurunan kerja silia, stasis cairan tubuh,

FACTORS: perubahan pH sekresi, dan gangguan peristaltis)


Pertahanan lapis ke dua yang tidak memadai ( mis : Hb
turun, leukositopenia, dan supresi respons inflamasi )
Peningkaan pemajanan lingkungan terhadap pathogen
Pengetahuan yang kurang untuk menghindari pajanan

Askep Batu Salurah Perkemih 29


pathogen.
Prosedur invasive
Malnutrisi
Agens farmasi ( mis : obat imunosupresan )
Pecah ketuban
Kerusakan jaringan
Trauma.

2.3. Intervensi

NIC NOC

INTERVENSI AKTIVITAS OUTCOME INDICATOR


Bersihkan Pasien
Control infeksi Control infeksi
lingkungan secara dapat
Def : tepat setelah di menerangka
gunakan oleh n cara-cara
Meminimalkan
pasien penyebaara
transmisi
Ganti peralatan n:3
agents yang
perawatan pasien Pasien
infeksius
setiap selesai dapat
tindakan menjelaska
Batasi jumlah n tanda dan
pengunjung gejala : 3
Ajarkan tekhnik Pasien dpat
mencuci tangan menjelaska
yang benar untuk n aktivitas
menjaga kesehatan yang dapat
individu meningkatk
Gunakan sabun an resistensi
antimikrobakterial terhadap
untuk mencuci

Askep Batu Salurah Perkemih 30


tangan infeksi : 4
Anjurkan
pengunjung untuk
cuci tangan
sebelum dan
sesudah
meninggalkan
ruangan pasien
Cuci tangan
sebelum dan
sesudah kontak
dengan pasien
Lakukan universal
precautions
Gunakan sarung
tangan steril
Lakukan teknik
perawatan aseptic
pada semua jalur
IV
Lakukan teknik
perawatan yang
tepat
Tingkatkan asupan
nutrisi
Anjurkan asupan
cairan
Anjurkan istirahat
Kolaborasi dengan
tim medis lain
untuk pemberian
terapi antibiotic

Askep Batu Salurah Perkemih 31


Ajarkan pasien dan
keluarga tentng
tanda dan gejala
infeksi
Ajarkan pasien dan
keluarga
bagaimana
mencegah infeksi

2. Nyeri b.d insisi bedah


Tujuan :
pasien melaporkan meningkatanya kenyamanan yang ditandai dengan mudah
untuk bergertak, menunjukkan ekspresi wayah dan tubuh yang relaks.
Intervensi :
a. Kaji intensitas,sifat, lokasi pencetus daan penghalang factor nyeri.
Rasional : menentukan tindakan selanjutnya
b. Berikan tindakan kenyamanan non farmakologis, anjarkan tehnik relaksasi,
bantu pasien memilih posisi yang nyaman.
c. Kaji nyeri tekan, bengkak dan kemerahan.
Rasional : dengan otot relkas posisi dan kenyamanan dapat mengurangi nyeri.
d. Anjurkan pasien untuk menahan daerah insisi dengan kedua tangan bila
sedang batuk.
Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri.
e. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik.
Rasional : analgetik dapat mengurangi nyeri.
3. Perubahan eliminasi perkemihan berhubungan dengan pemasangan alat medik (
kateter).
Tujuan : pasien berkemih dengan baik, warna urine kuning jernih dan dapat
berkemih spontan bila kateter dilepas setelah 7 hari.
Intervensi :
a. Kaji pola berkemih normal pasien.
Rasional : untuk membandingkan apakah ada perubahan pola berkemih.
b. Kaji keluhan distensi kandung kemih tiap 4 jam

Askep Batu Salurah Perkemih 32


Rasional : kandung kemih yang tegang disebabkan karena sumbatan kateter.
c. Ukur intake output cairan.
Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan
d. Kaji warna dan bau urine dan nyeri.
Rasional : untuk mengetahui fungsi ginjal.
e. Anjurkan klien untuk minum air putih 2 Lt /sehari , bila tidak ada kontra
indikasi.
Rasional : untuk melancarkan urine.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi bedah dan pemasangan kateter.
Tujuan :
Insisi kering dan penyembuhan mulai terjadi.
Drainase dan selang kateter bersih.
Intervensi
a. Kaji dan laporkan tanda dan gejala infeksi luka (demam, kemerahan,
bengkak, nyeri tekan dan pus)
Rasional : . mengintervensi tindakan selanjutnya.
b. Kaji suhu tiap 4 jam.
Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi.
c. Anjurkan klien untuk menghindari atau menyentuk insisi.
Rasional : menghindarkan infeksi.
d. Pertahankan tehnik steril untuk mengganti balutan dan perawatan luka.
Rasional : menghindari infeksi silang

Askep Batu Salurah Perkemih 33


BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Batu saluran kencing sudah lama dikenal dan ditemukan pada mumi dan mayat
orang-orang indian pada zaman 3000-5000 tahun sebelum masehi. Juga dilaporkan
uga bahwa batu saluran kencing ditemukan pada raja-raja di Eropa pada abad
pertengahan.
Persoalan pembentukan batu pada saluran kencing juga sudah lama dikenal yang
dipengaruhi oeh bermacam-macam faktor yang belum diketahui dengan jelas. Hasil
penelitian menunjukan bahwa untuk terjadinya batu saluran kencing diperlukan dua
komponen ialah matriks batu dan kristal. Matriks berupa suatu mukoprotein yang
sering disebut juga sebagai matrix substance A. Sampai dimana peranannya belum
diketahui dengan jelas.
Batu saluran kencing dapat ditemukan sebagai penyakit sekunder misalnya pda
hiperparatiroidisme, penyakit gaout, atau penyakit primer idiopatik.

4.2 SARAN

Mahasiswa dapat memahami dan mengerti mengenai konsep perdarahan post


partum, memahami tentang Definisi, Etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis,
pemeriksaan penunjang, pemeriksaan fisik dandapat memberikan Asuhan
Keperawatan yang tepat pada ibu perdarahan post partum.

Askep Batu Salurah Perkemih 34


DAFTAR PUSTAKA

Prabowo dan Pranata. 2014. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan.
Yokyakarta: Nuha Medika.

Nahdi TF. Jurnal Medula. Volume. 1 Nomor. 4 / Oktober 2013

Purnomo, BB. 2010. Pedoman Diagnostis dan Terapi SMF Urologi LAB Ilmu Bedah.
Malang: Universitas Kedokteran Brawijaya.

Judith.M.Wilkison dan Nancy.R. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Ed 9. Jakarta:


EGC

SANDY Wahap, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol. 11 No.2 / Oktober 2012

Askep Batu Salurah Perkemih 35