Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PENGOLAHAN LIMBAH DAN AIR

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR


PT. ASIA PACIFIC FIBERS

Disusun oleh :
Abel Sandia Putra (3335141200)
Aldi Fathurohman (3335132145)
Annisa Mayadewi (3335141977)
Nadya Alfikri (3335140439)
Zakiah Nuranisa (3335140297)

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa


Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Kimia
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Profil Industri


PT. Asia Pacific Fibers Karawang, Jakarta merupakan industri yang memiliki Produk
utama berupa Chips poly ethylene terephtalate (PET). Chips polyester ini terdiri dari dua
macam, yaitu chips polyester-semi dull (SD) dan chips polyester super bright (SBr).
Kapasitas produksi PT. Asia Pasifics Fibers mencapai 280.000 ton pertahun.

A. Produk Utama
Karakteristik produk-produk utama PT. Asia Pacific Fibers terlampir pada table berikut :
Chips Polyester
Karakteristik Produk Semi Dull (SD) Super Bright (SB)
Intrinsik Viskositas 0.635 0.01 dl/g 0.64 0.01 dl/g
Karboksil Number < 40 meg/kg -
w
DEG 1.15 0.15% /w 1.2 0.15% w/w
Melting Point 258 1 oC -
Kandungan Abu 0.33 0.03% w/w 0.35 0.03% w/w
Kandungan TiO2 0.0 0.03% w/w < 0.5 ppm
Kandungan Sb 210 25 ppm 270 25 ppm
Kandungan Co 15 10 ppm -
Size 28 2 pcs/gr 28 2 pcs/gr
Colour L 72 4 63 4
Colour B 3.0 2 82
Moisture Max 0.2% wt Max 0.2% wt

B. Produk Samping
Produk samping industri PT. Asia Pacific Fibers ada 5 macam, yaitu ethylene glycol,
H2O, Diethylene glycol (DEG), Acetaldehyde, dan oligomer. Produk samping ini dapat
berpengaruh pada kualitas produk utama sehingga jumlahnya harus dijaga seminimal
mungkin.

1.2 Bahan Baku Produksi


a. Bahan baku utama
1. Purified Terephtalic Acid (PTA), yang berupa serbuk putih.
2. Ethylene Glicol (EG), yang berupa cairan bening.
b. Bahan baku penunjang
1. Antimony triasetat (SbAc3), digunakan sebagai katalis untuk mempercepat reaksi
yang terjadi.
2. Titanium dioksida (TiO2), digunakan sebagai delustran untuk penyuram dan
penyerap warna.
3. Kobalt diasetat (CoAc2), digunakan sebagai additive untuk meningkatkan
reaktifitas PTA.
4. Trimethyl phosphate (TMP), digunakan sebagai stabilizer untuk mencegah
terjadinya degradasi ( penguraian dan perubahan warna) polimer akibat
temperature yang terlalu tinggi.
1.3 Sistem Proses Produksi
1. Persiapan Bahan Baku
Persiapan bahan baku dilakukan dengan pembuatan PTA dan larutan bahan
penunjang. PTA dibuat dari paraxylena. PTA yang dibutuhkan dalam proses
produksi ini dibuat di PTA Plant PT. Asia Pacific Fibers. PTA yang telah dibuat ini
nantinya akan dicampurkan dengan EG dan bahan-bahan penunjang lainnya. EG
yang dibutuhkan dalam dalam proses produksi ini disuplai dari perusahaan
petrokimia lain.

2. Pembuatan Pasta
Pada proses pembuatan pasta tidak terjadi reaksi polimerasi melainkan hanya terjadi
pencampuran bahan baku (PTA dan EG) agar diperoleh campuran yang homogen.
Selain itu, ditambahkan pula katalis dan additive. Pembuatan pasta dilakukan di
dalam tangki pasta dengan menggunakan pengadukan tipe agitator intermig.
Kondisi operasi :
Waktu tinggal : 2 jam
Temperature : 70oC
Mol ratio : 1.2
Volume tangki : 32 m3
Densitas : 1355 kg/m3
Pasta yang telah dibuat nantinya akan diumpankan ke reactor esterifikasi I.
3. Proses Esterifikasi
Reaksi esterifikasi adalah reaksi untuk memperoleh monomer ester (senyawa yang
tersusun dari gugus alcohol yang berasal dari EG dan gugus karboksil yang berasal
dari PTA). Reaksi yang terjadi : 2EG + PTA DGT + 2H2O. Proses esterifikasi ini
dilakukan dengan reactor jenis continous stirred tank (CSTR).
Ada 2 tahap pada proses esterifikasi ini, yaitu :
Esterifikasi I
Tahap esterifikasi I ini bertujuan untuk pembentukan awal monomer ester. Tahap
ini dilakukan di reactor ester I dengan menggunakan pengadukan tipe agitator. Pada
tahap ini digunakan ratio mol sebesar 1.7 sehingga diperlukan adanya umpan spent
EG.
Kondisi operasi :
Waktu tinggal : 210 menit
Temperatur : 245 5oC
Tekanan : 1.0 0.5 atm
Level : 70 15%
Konversi : 89-95%
Esterifikasi II
Tahap esterifikasi II ini bertujuan sebagai tahap penyempurnaan monomer ester
dari reactor ester I. Tahap ini dilakukan di reactor ester II dengan menggunakan
pengadukan tipe propeller. Pengadukan ini dilakukan dengan tujuan untuk
mempercepat terjadinya homogenitas larutan.
Kondisi operasi :
Waktu tinggal : 90 menit
Temperatur : 268 5oC
Tekanan : 0.1 atm
Level : 65 15%
Konversi : 94-99%
4. Prepoly-kondensasi
Tahap prepoly-kondensasi bertujuan untuk membentuk polimer-polimer rantai
pendek. Reactor prepoly dilengkapi dengan pengaduk agar distribusi temperature
dalam reactor homogen dan luas permukaan reactor menjadi lebih besar.
5. Poly-kondensasi (Finisher)
Tahap poly-kondensasi (finisher) bertujuan untuk menyempurnakan reaksi
polykondensasi sampai didapatkan kekentalan polyester yang sesuai dengan yang
diinginkan. Umpan finisher berasal dari reactor pre-poly yang sebelumnya telah
melalui pre-poly filter untuk menyaring melt polimer dari reactor pre-poly agar
terpisah dari pengotor-pengotornya.
Parameter operasi :
Temperature
Temperature pada reactor finisher diatur dengan menggunakan jaket pemanas
menggunakan system HTM (Heat Transfer Medium) evaporator.
Kecepatan pengadukan
Pengaduk yang digunakan pada reactor finisher berbentuk disc dan terbuat
dari ram-ram kawat menyerupai sarang tawon. Kecepatan pengadukan perlu
diatur karena apabila kecepatan pengadukan terlalu tinggi akan menyebabkan
kekentalan yang diinginkan tidak tercapai.
Kondisi vakum
Kondisi vakum dapat ditimbulkan dari pompa vakum pada system jet.
Produk yang dihasilkan pada tahap ini berupa melt (lelehan) yang kemudian akan
dialiran ke chips cutter dan spinning plant. Sebelumnya, pengotor-pengotor pada
produk akan dihilangkan dengan continous polymer filter.
6. Chips Cutting and Conveying (Chips Granulator)
Melt hasil dari reactor finisher akan menjadi umpan dan masuk ke casting
head yang berbentuk balok yang terbuat dari stainless steel. Casting head memiliki 1
lubang sebagai tempat masuknya melt umpan dan 60 lubang sebagai tempat
keluarnya melt produk. Melt produk berbentuk menyerupai lidi panjang, disebut
strand granulator.
Strand kemudian didinginkan menggunakan air demin dalam jalur strand pack
sambil dispray menggunakan chiller water. Strand kemudian dipotong menggunakan
roll cutter membentuk butiran polymer (chips berukuran 4 x 2.5 x 1.3 mm) dan
kemudian masuk ke dalam quench pipe. Quench pipe merupakan pipa yang
menghubungkan cutter dengan dryer dan berfungsi untuk mengalirkan produk chips
ke dryer dengan menggunakan air demin sebagai media transportasi.
Chips yang masuk ke dryer dikeringkan dengan chips dryer yang
menggunakan udara kering dari blower. Chips yang telah kering kemudian masuk ke
dalam vibrating screen (ayakan getar) untuk memisahkan chips yang sesuai standar
dari chips yang tidak memenuhi standar (ukurannya berbeda).
7. Chips Bagging
Tahap ini merupakan proses pengepakan chips ke dalam kantong-kantong yang
memiliki kapasitas tampung sebesar 1 ton. Pengepakan dilakukan dengan cara
pneumatic dan hidrolic. Kantong-kantong chips tersebut kemudian diangkut dan
diletakan ke tempat penyimpanan (storage).
BAB II
PENGOLAHAN LIMBAH
2.1 Pengolahan Limbah Industri
Limbah yang dihasilkan dari proses produksi PT. Asia Pacific Fibers Perkasa terdiri
dari limbah padat dan limbah cair. Limbah cair sendiri terdiri dari 3 jenis, yaitu :
1. Limbah cair yang sedikit tercemar
Limbah cair ini berasal dari proses spinning (pembuatan finish oil), proses fibre, dan air
pendingin mesin-mesin pabrik.
2. Limbah cair tercemar
Limbah cair ini terutama tercemar bahan organic sehingga memiliki kadar BOD dan
COD cukup tinggi. Limbah ini berasal dari proses poly-kondensasi dan larutan bekas
analisa laboratorium.
3. Limbah cair dengan pH dan suhu tinggi
Limbah cair yang termasuk dalam kelompok ini adalah limbah buangan tangki ethylene
glycol dan cucian evaporator.
Limbah yang dihasilkan harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai.
Karakteristik limbah yang dibuang ke lingkungan (sungai) harus telah memenuhi baku
mutu limbah, yang mana PT. Asia Pacific Fibers mengikuti baku mutu limbah
berdasarkan SK Gubernur No. 6603/1483/1999 dengan debit maksimum limbah yang
dihasilkan sebesar 5184 m3per jam.
Tabel berikut menunjukkan karakteristik limbah yang dihasilkan oleh PT. Asia Pacific
Fibers sebelum pengolahan, sesudah pengolahan, dan baku mutu limbah :

Air Masuk (IPAL) Air Keluar Sung Baku Mutu


Parame (IPAL) ai Limbah
ter Kualit Beb Kualit Beb setel Debi Beba
as an as an ah t n
mg
/L kg
/L mg
/L kg
/L IPA m3/ja kg
/L
L m
BOD 354 824 18 43 37 85 3.57
9
COD 545 12.5 70 142 140 250 10.3
5 50
Total 40.00 - < - < 60 2.48
suspensi
sulfit 2 0.002 0.02 4
phenol 0.004 0.00 < - 0.01 1 4104
9 0.001 2
chrom , 0.03 - < - < 2 82.8
0.03 0.00
5
Minyak 0.03 - 0 - 0 5 207
dan lem
pH 8.57 - 7.86 - 8.32 6-9
Debit 2250 - 2250 -
(m3/h)
Diagram alir instalasi pengolahan air limbah PT. Asia Pacific Fibers

Air Limbah

Equalisasi

Acidogenesis

Methanogenesis Gas Metan

Bak Pengering Kontak Aerasi


Lumpur

Klarifikasi Stabilisasi Aerasi

Bak Kontrol

Sungai

1. Equalisasi
Waktu tinggal : 4 jam
Tujuan : untuk menyamakan beban seperti COD, BOD, kandungan mineral /
konsentrasi, dan temperature dari bermacam-macam sumber agar bakteri lebih mudah
beradaptasi.
Proses : pengadukan dengan udara dari blower
Karakteristik air limbah produksi yang keluar dari beberapa proses belum seragam
dan konstan, misalnya pH, COD, dan BOD. Hal ini akan menyulitkan dalam
pengoperasian suatu instalasi pengolahan air limbah sehingga perlu dilakukan
penyamaan unsure-unsur tersebut dalam bak equalisasi.
Dalam bak equalisasi, unsur-unsur yang terdapat pada air limbah akan diturunkan
kadarnya karena terjadi proses fisika, kimia, dan biologi selama air limbah berada dalam
bak equalisasi tersebut.
Diharapkan air limbah yang telah keluar dari bak equalisasi akan menurunkan
kandungan partikel padat dan zat organic sampai 5-10%.
2. Acidogenesis
Tujuan : menurunkan pH sampai 4-5
Proses : pengasaman dengan larutan HCl dan menggunakan sistem pengadukan.
Reaksi yang terjadi :
C6H12O6 + 2H2O 2CH3COOH + 2CO2 + 4H2
asetat
C6H1206 CH3CH2CH2COOH + 2CO2 + H2
butirat
CH3CH2CH2COOH + 2H2O CH3COOH + 2CO2 + 4H2
butirat asetat
C6H12O6 + 2H2 CH3CH2COOH + 2H2O
propionat
CH3CH2COOH + 2H2O CH3COOH + 2H2
Propionate asetat
Air limbah dari bak equalisasi kemudian dialirkan ke dalam bak acidogenesis. Dengan
memanfaatkan bakteri acidogenic senyawa organic kompleks (karbohidrat, protein,
lemak) diubah menjadi asam-asam volatile, antara lain asam asetat, propionay, format,
butiran, H2, dan CO2. Pada bak acidogenesis ini, terjadi penurunan pH sampai pH 4-5.
3. Methanogenesis
Waktu tinggal : 12 jam
Tujuan : untuk menurunkan kadar COD dengan system aerobic
Proses : penguraian senyawa asam menjadi gas-gas methan dengan bantuan
bakteri aerobic.

Reaksi yang terjadi :


CH3COOH CH4 + CO2
4H2 + CO2 CH4 +2H2O
Air limbah dari bak acidogenesis dimasukkan ke dalam bak methanogenesis dengan
tujuan untuk mengubah asam-asam organic menjadi gas methan (CH4) dan gas karbon
dioksida (CO2). Pada tahap ini terjadi proses pertumbuhan bakteri tanpa oksigen (O2).
Pada fasa pertumbuhan bakteri diperlukan adanya penambahan nutrient sebagai substrat
untuk bakteri.
Pada proses ini, kandungan organic dapat diturunkan sebanyak 60%.
4. Kontak Aerasi
Waktu tinggal : 9 jam
Tujuan : menurunkan kadar COD dengan sistem aerobic
Proses : kontak dengan udara dengan lumpur aktif yang mengandung bakteri aerobic
dengan menggunakan agitator.
Reaksi yang terjadi :
Zat organic + O2 CO2 + H2O + sel baru
Air limbah yang masih mengandung zat-zat organic dialirkan kedalam bak kontak aerasi
dengan tujuan menguraikan zat organic. Unit aerasi terdiri dari kolom yang dilengkapi
dengan aerator. Pada kolom ini terjadi penambahan oksigen (O2). Flok-flok
mikroorganisme aktif yang berada dalam bak dengan kondisi teraerasi akan
mengadsorbsi dan mengoksidasi zat-zat organic dan kemudian menguraikannya ke
dalam bentuk zat sederhana dan tidak berbahaya bagi lingkungan.
Hal yang perlu diperhatikan dalam bak aerasi agar bekerja optimal adalah :
pH : 6,5 7
Temperatur : 25 35 oC
O2 terlarut : > 2 mg/L
Konsentrasi biomassa : 2000 4000 mg/L
5. Klarifikasi
Tujuan : memisahkan air dengan lumpur aktif
Proses : air dan lumpur aktif yang bercampur dari bak aerasi dipisahkan dengan cara
pengendapan yang menggunakan gravity chamber dengan 1 rpm/jam. Setelah lumpur
mengendap maka lumpur dibuang secara periodic dan dilewatkan ke scrubber untuk
distabilkan.
Campuran air limbah dan floc mikroorganisme kemudian diendapkan dalam bak
klarifikasi. Cairan jernih yang memenuhi standar baru mutu air buangan dibuang
langsung ke sungai, sedangkan lumpur (floc) mikroorganisme yang mengendap di bagian
dasar klarifikasi dimasukkan ke dalam bak stabilisator dan kelebihan lumpur
mikroorganisme akan dialirkan ke dalam bak pengering lumpur.
6. Stabilisator Aerasi
Waktu tinggal : 9 jam
Tujuan : menstabilkan aktivitas bakteri yang telah menurun aktivitasnya.
Proses : memberi O2 dengan menggunakan aerator.
Lumpur mikroorganisme yang mengendap diklarifikasi dialirkan ke dalam bak
stabilisator dimana dalam bak itu tidak ada air limbah yang ditambahkan. Pada tahap ini
terjadi proses aerasi yang memungkinkan mikroorganisme mengoksidasi zat organic
lebih sempurna.
Hal yang perlu diperhatikan dalam bak stabilisasi aerasi agar berfungsi optimal adalah :
pH : 6,5 7
Temperatur : 25 35 oC
O2 terlarut : > 2 mg/L
Konsentrasi biomassa : 4000 6000 mg/L
7. Bak Kontrol
Tujuan : untuk mengontrol air limbah sebelum dibuang ke badan penerima.
Air limbah hasil proses pengolahan fisik dan biologi sebelumnya dibuang ke badan
penerima terlebih dahulu untuk ditampung. Dan dalam bak control ini dilakukan
pengetesan beberapa parameter yang telah ditetapkan oleh peraturan pemerintah (PP).
Bak control juga memiliki fungsi sebagai bak transisi penampung air baku untuk
pengolahan air pada tingkat selanjutnya (Advance Waste Water Treatment) yang
bertujuan untuk memanfaatkan / memakai kembali air hasil proses pengolahan air limbah
untuk keperluan proses produksi dan sanitasi.
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
Limbah yang dihasilkan oleh PT. Asia Pacific Fibers yang berupa limbah cair telah
melalui unit pengolahan air limbah yang terdiri dari 7 proses sehingga efluen akhir yang
dihasilkan telah memenuhi standar baku mutu limbah cair sesuai SK Gubernur No.
6603/1483/1999.
Produk samping industri PT. Asia Pacific Fibers ada 5 macam, yaitu ethylene glycol,
H2O, Diethylene glycol (DEG), Acetaldehyde, dan oligomer. Limbah yang dihasilkan
dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori yaitu limbah cair sedikit tercemar, limbah
cari tercemar dan limbah cari dengan pH dan suhu tinggi. Proses pengolah limbah yang
digunakan oleh PT. Asia Pacific Fibers yaitu menggunakan metode lumpur aktif.
Tahapan pengolahanya yaitu :
1. Equalisasi : Untuk menghomogenkan zat
2. Acidogenesis : Untuk menurunkan pH
3. Methanogenesis : Untuk menurunkan kadar COD dengan sistem aerobic
4. Aerasi : Untuk menurunkan kadar COD (lanjutan) dengan sistem aerobic
5. Klarifikasi : Untuk memisahkan air dengan lumpur aktif
6. Stabilisator arasi : Untuk menstabilkan aktivasi bakteri
7. Bak kontrol : Untuk mengontrol air limbah sebelum dibuang