Anda di halaman 1dari 16

OPTIMASI SUMUR CONTINUOUS GAS LIFT BERDASARKAN

FORMATION COMPLETION PADA LAPANGAN X

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:
ATHAURROHMAN ALFAINA SHIDIQ
113130070/TM

JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017

i
OPTIMASI SUMUR CONTINUOUS GAS LIFT BERDASARKAN
FORMATION COMPLETION PADA LAPANGAN X

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat meraih gelar Sarjana Teknik di Jurusan
Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral di Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Yogyakarta

Oleh:
ATHAURROHMAN ALFAINA SHIDIQ
113130070/TM

JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017

ii
O?TIMASI ST,'MIIR CONTIIIWOAS GIS LIFT BERITASARKAN
nORI}MNAN COMPLETIONPADA LAPANGAI{ "X"

PROPOSAL SKRIPSI

Disetajal wttuk Jurusan Teknlh Permhyakan Fakultos Teknologi Minerul,


Univerxitas Pembangunan Nosionol ,Veterau, Yogrukarta

Oleh:
.
ATHATIRROHMAN ALFAINA SIilDIQ
113130070/TM

Oleh Ilosen Pembimbing:

Pembimbing I Pembimbingll

rr r r.rr r-ratt I Y rrullttlaft !t


0l[,u'L\
F[P. 19630q14 19f12031 NIP. 19600217 1992031 00r
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nyalah saya selaku penulis dapat menyelesaikan Proposal Skripsi ini.
Skripsi ini berjudul: OPTIMASI SUMUR CONTINUOUS GAS LIFT
BERDASARKAN FORMATION COMPLETION PADA LAPANGAN X
Proposal ini disusun untuk memberikan gambaran mengenai latar belakang, tujuan
dan materi yang akan dibahas di dalam penyusunan Skripsi di Jurusan Teknik
Perminyakan, Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta. Pada
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti K, M.Sc., selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
2. Dr. Ir. Suharsono, MT., selaku Dekan Fakultas Teknologi Mineral,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
3. Dr. Ir. Drs. H. Herianto, MT. selaku Ketua Jurusan Teknik Perminyakan,
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta .
4. Dr. Ir. H. Harry Budiharjo S., MT. selaku Dosen Pembimbing I.
5. Ir. H. Anas Puji Santoso, MT. selaku Dosen Pembimbing II.
6. Ir. Bambang Bintarto, MT. selaku Dosen Wali.
7. Rekan rekan mahasiswa dan semua pihak yang sudah ikut membantu
dalam memberikan saran dan tambahan pada penulisan Skripsi ini sehingga
semuanya dapat terselesaikan dengan baik.
Suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai penulis apabila nantinya
Skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak yang membutuhkannya dikemudian
hari. Terima kasih.
Yogyakarta, September 2017

Athaurrohman Alfaina Shidiq

iv
I. LATAR BELAKANG
Pengangkatan produksi minyak secara buatan (Artificial Lift) diperlukan
apabila sumur sudah tidak mampu lagi mendorong minyak sampai ke permukaan.
Hal ini dikarenakan tekanan reservoir yang menurun, meningkatnya produksi air
serta turunnya pressure drawdown seiring sumur diproduksikan. Salah satu metode
artificial lift yang dapat digunakan adalah gas lift. Gas lift merupakan metode yang
umum digunakan apabila terdapat sumber gas alam sebagai suplai gas injeksi.
Metode gas lift memiliki keuntungan dibandingkan dengan metode pompa, jika
sumur terdapat problem produksi pasir dan sumur produksi yang dalam. Gas Lift
dilaksanakan dengan cara menginjeksikan gas ke dalam sumur baik itu secara terus
menerus maupun berkala untuk membantu mengalirkan fluida dari sumur hingga
ke permukaan. Terdapat dua jenis gas lift system yaitu continuous flow gas lift dan
intermittent flow gas lift. Pada kasus yang akan dibahas dalam proposal ini, metode
gas lift yang digunakan yaitu metode continuous flow gas lift. Keuntungan metode
continuous gas lift dapat memproduksikan lebih banyak dibandingkan metode
intermittent gas lift.
Selama proses produksi, performa sumur Gas lift harus terus dipertahankan
agar memperoleh laju produksi minyak yang optimum. Namun seiring berjalannya
waktu, performa sumur gas lift akan turun sehingga laju produksi minyak juga akan
turun. Penurunan laju produksi ini dapat disebabkan oleh kondisi formation
completion dan parameter desain gas lift yang sudah tidak optimal lagi. Sehingga
perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap densitas perforasi dan parameter desain gas
lift berupa kedalaman titik injeksi serta laju injeksi gas dan GLR injeksi gas.
Selanjutnya pelaksanaan optimasi terhadap kedalaman titik injeksi serta laju injeksi
serta GLR injeksi diperlukan guna mendapatkan harga yang optimum. Hasil akhir
yang diharapkan pada sumur gas lift kajian adalah adanya peningkatan performa
sumur yang ditandai dengan naiknya laju produksi minyak serta dapat ditentukan
laju produksi optimum sumur gas lift tersebut.

II. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari penulisan skripsi ini yaitu meningkatkan Performa sumur

1
Continuous Gas lift pada lapangan X untuk mendapatkan laju produksi minyak
yang optimum. Tujuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan usulan
mengenai desain gas lift yang sesuai dengan kondisi Formation Completion
sehingga dapat meningkatkan performa Sumur Continuous Gas lift untuk
mendapatkan laju produksi minyak yang optimum.

III. METODOLOGI
Penyusunan skripsi ini menggunakan metode perhitungan Continuous Gas
lift dan perhitungan Formation Completion untuk mencapai laju produksi minyak
yang optimum.

IV. HASIL YANG DIHARAPKAN


Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat mengoptimalkan
produksi sumur Continuous Gas lift pada Lapangan X sehingga dapat
meningkatkan produksi minyak dengan batasannya adalah kemampuan produksi
formasi yang ditunjukkan oleh IPR sumur yang dianalisa.

V. LANDASAN TEORI
Gas lift merupakan suatu proses pengangkatan fluida sumur ke permukaan
dengan cara menginjeksikan gas melalui annulus tubing-casing pada kondisi
(tekanan dan temperatur) tertentu. Tujuan utama suatu sumur dilakukan injeksi Gas
adalah untuk mendapatkan laju produksi yang sesuai dengan yang diharapkan
melalui penurunan gradien tekanan alir fluida dalam tubing. Metode Gas lift terbagi
atas dua, yaitu Continuous Gas lift dan Intermittent Gas lift. Metode Continuous
Gas lift dilaksankan dengan cara menginjeksikan volume gas bertekanan tinggi
secara kontinyu ke dalam fluida dalam tubing sehingga menurunkan harga tekanan
alir pada dasar sumur dan sumur tersebut dapat mengalirkan fluida yang ada di
dalam reservoir. Selama produksi berlangsung performa sumur produksi haruslah
dijaga dan dipertahankan agar laju produksi tetap optimum. Namun, seiring
berjalannya waktu laju produksi juga akan turun, penurunan ini disebabkan oleh
banyak faktor yang saling berhubungan pada suatu komponen production system.

2
Penurunan itu bisa diakibatkan oleh kurang terkelolanya sumur, sehingga perlu
diadakan evaluasi serta optimasi sumur gas dengan mempertimbangkan faktor
formation completion serta parameter gas lift yang telah ada.
Formation Completion terbagi atas dua macam yaitu open hole completion
dan cased hole completion. open hole completion merupakan metode yang paling
sederhana, dimana casing hanya dipasang sampai puncak formasi produktif,
sehingga formasi produktif tidak tertutup oleh casing. Metode ini hanya cocok
untuk formasi yang kompak (tidak mudah gugur). Metode cased hole completion,
casing produksi dipasang menembus formasi produktif dan disemen yang
selanjutnya diperforasi pada interval-interval yang diinginkan. Penyelesaian
sumuran dengan cara perforasi merupakan salah satu cara yang umum digunakan.
Pada sumur yang dikomplesi dengan cased hole completion, lubang perforasi
merupakan jalan masuknya fluida ke dalam sumur. Sehingga densitas perforasi
yang menunjukkan banyaknya lubang perforasi pada setiap kedalaman perforasi
sangat berpengaruh terhadap besarnya laju alir fluida yang masuk ke dalam sumur.
Namun besarnya laju produksi haruslah memperhitungkan agar problem produksi
berupa water conning dapat dicegah. Sehingga laju produksi kritis terhadap water
conning harus diperhitungkan agar water conning tak terjadi. Metode yang
digunakan dalam perhitungan laju kritis antara lain metode Craft & Hawkins serta
metode Chierici et. al. Selain itu perhitungan terhdap pressure drop akibat
dilaksanakannya perforasi juga diperhitungkan dengan metode Jones, Blount and
Glaze sehingga dapat mengetahui densitas perforasi yang optimum dari formation
completion yang dilaksanakan.
Pendekatan selanjutnya dlam mengoptimalisasi formation completion adalah
optimasi terhadap parameter gas lift berupa penentuan titik kesetimbangan dan titik
injeksi, menghitung gradien tekanan untuk setiap harga GLR inejksi serta
penentuan laju injeksi dan GLR optimum. Penentuan kedalaman titik injeksi pada
continuous gas lift dapat dilihat pada Gambar 5.1., gambar tersebut merupakan
suatu grafik yang menggambarkan penurunan tekanan yang terjadi di dalam tubing
dari tekanan alir dasar sumur (Pwf) sampai ke permukaan (Pwh). Titik perpotongan
antara garis gradien tekanan alir dasar sumur di bawah titik injeksi dengan garis

3
gradien tekanan gas injeksi di atas titik injeksi merupakan titik kesetimbangan,
artinya tekanan di dalam tubing dan annulus adalah sama (tidak terjadi aliran). Agar
terjadi aliran di annulus ke dalam tubing, maka titik kesetimbangan harus dikurangi
tekanannya sekitar 100 psi (Pvalve). Titik potong hasil pengurangan ini merupakan
titik injeksi.

Gambar 5.1. Ilustrasi Penentuan Letak Titik Injeksi


(Brown, K.E., 1988)
Harga tekanan alir dasar sumur (Pwf) dapat dihitung apabila harga gradien
tekanan alir rata-rata di bawah titik injeksi diketahui, persamaan yang digunakan
adalah sebagai berikut:
Pwf Pwh G fa xL G fb xD L .......................................................... (5-1)

Keterangan:
Pwf = Tekanan alir dasar sumur, psi
Pwh = Tekanan kepala sumur, psi
Gfa = Gradien tekanan alir rata-rata di atas titik injeksi, psi/ft
Gfb = Gradien tekanan alir rata-rata di bawah titik injeksi, psi/ft
L = Kedalaman titik injeksi, ft
D = Kedalaman sumur, ft

4
Tujuan dari penentuan parameter gas lift adalah menentukan besarnya harga
Pwf yang diperlukan agar sumur dapat berproduksi dengan laju yang diinginkan
yaitu dengan cara menginjeksikan gas pada suatu kedalaman tertentu ke dalam
tubing. Laju produksi optimum dengan tekanan operasi permukaan yang terbatas
akan didapatkan dengan cara merubah besarnya volume gas yang diinjeksikan
sehingga akan diperoleh GLR total yang optimum.
Prosedur penentuan letak titik injeksi secara grafis dapat dilakukan dengan
langkah-langkah berikut: Plot kedalaman pada sumbu ordinat (vertikal) dan Plot
tekanan pada sumbu absis (horizontal). Plot tekanan statik dasar sumur (SBHP)
pada kedalaman sumur/tengah perforasi. Dari titik SBHP, tarik garis gradien statik
sampai memotong sumbu ordinat, titik potong ini merupakan kolom fluida statik
untuk Pwh = 0. Tentukan tekanan alir dasar sumur (Pwf) berdasarkan harga laju
produksi yang telah ditentukan. Plot Pwf pada kedalaman sumur/tengah perforasi.
Dari titik Pwf, plot gradien tekanan alir di bawah titik injeksi. Plot titik tekanan kick
off (Pko) dan tekanan operasi (Pso) pada kedalaman nol (dipermukaan). Dari titik
Pso tarik garis ke bawah sampai memotong garis gradien tekanan alir di bawah titik
injeksi, dengan memperhitungkan gradien gas injeksi. Pembuatan garis ini dengan
memperhitungkan pertambahan tekanan (sesuai dengan berat kolom gas). Titik
potong ini merupakan titik kesetimbangan antara tekanan tubing dan annulus.
Kurangi tekanan operasi (Pso) dengan 100 psi (differential pressure), Titik potong
ini merupakan titik injeksi. Perkirakan tekanan kepala sumur (Pwh) dan plot pada
kedalaman 0 (di permukaan). Dari titik Pwh, plot gradien tekanan alir di atas titik
injeksi. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kurva gradien tekanan alir
yang sesuai. Kurva ini akan menunjukkan perbandingan gas cairan (GLR) total
yang diperlukan untuk memproduksikan suatu sumur. Untuk menentukan
kedalaman katub terbawah dapat dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut:
Pso P wh
D .........................................................................................(5-2)
0.15

Keterangan:
Pso = Tekanan operasi di permukaan, psi
Pwh = Tekanan kepala sumur, psi

5
D = Kedalaman katub terbawah (titik injeksi), ft
Spasi katub gas lift dimaksudkan sebagai letak dari beberapa unloading valve,
yaitu katub-katub yang berfungsi untuk mengeluarkan kill fluid yang ada di dalam
annulus pada waktu dilakukan injeksi. Untuk kondisi normal, katub-katub ini akan
tertutup pada kondisi produksi dan hanya operating valve yang terbuka (Gambar
5.2). Proses unloading valve terdiri dari dua bagian, yaitu penentuan kedalaman
yang diperlukan untuk tiap katub dan perhitungan setting tekanan yang diperlukan
oleh tiap katub untuk terbuka (yang disetting di permukaan sebelum katub tersebut
dimasukkan ke dalam sumur).

Gambar 5.2. Ilustrasi Penentuan Spasi Katub Gas lift


(Brown, K.E., 1988)
Penentuan spasi katub gas lift dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara
grafis serta secara analitis atau perhitungan. Secara grafis hasil yang didapatkan
seperti pada Gambar 5.2., dimana harga yang harus diketahui adalah tekanan
operasi dipermukaan (Pso), tekanan killing fluid (Pko), tekanan alir dasar sumur
(Pwf), gradien fluida, GLR, dan tekanan tubing. Untuk penentuan spasi katub
secara analitis dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan:
Pko Pwh
DV! .......................................................................................(5-3)
GS

6
PSO1 , SO2 ,... Pwh DV1 ,V2 ,...Gu
DV2 ,V3 ,... DV1 ,V2 ,... ..........................(5-4)
GS

Keterangan:
DV1,V2, ... = Kedalaman katub 1,2 dan seterusnya, ft
Pso1,so2,... = Tekanan buka katub 1,2 dan seterusnya yang ditentukan di
permukaan, psi
Pwh = Tekanan kepala sumur, psi
GS = Gradien kill fluid, psi/ft
Gu = Gradien unloading, psi/ft
Tekanan injeksi atau tekanan operasi di permukaan yang diperlukan untuk
menginjeksikan gas ke dalam sumur dapat ditentukan dengan persamaan berikut:
0.01877 g Dv
Pso Pv Pv exp ..................................................(5-5)
z T 460
Keterangan:
Pso = Tekanan injeksi di permukaan, psi
Pv = Tekanan tubing pada katub gas lift, psi
Pv = Kehilangan tekanan dalam sistem, psi
Dv = Kedalaman vertikal titik injeksi, ft
g = Specific gravity gas injeksi
z = Faktor kompresibilitas gas injeksi
T = Temperatur rata-rata di annulus, oF

7
VI. DATA YANG DIPERLUKAN
Tabel VI-1.
Data-data Yang Diperlukan Untuk Studi Perencanaan Gas lift
(Davis, Jerry B., 1970)
Data Produksi
Tekanan Reservoir (Ps)
Tekanan alir dasar sumur (Pwf)
Tekanan Bubble point (Pb)
Tekanan kepala sumur (Pwh)
Water Cut
GOR
GLR Total
GLR Formasi
Temperatur permukaan
Temperatur dasar sumur
Laju produksi gross (Ql)
Laju produksi oil (Qo)
Laju produksi gas (Qg)
Laju gas injeksi (Qgi)

Data Reservoir
SG oil
SG gas
API Gravity
Faktor Volume Formasi Minyak (Bo)
Data Komplesi
Kedalaman Sumur
Kedalaman Tubing
Diameter Tubing
Tekanan Tubing
Tekanan Kepala Sumur
Mid Perforasi (MD dan TVD)
Tubing OD dan ID
Casing OD dan ID

VII.JADWAL KEGIATAN
Berikut adalah tabel perencanaan tahap pengerjaan Skripsi yang dapat dilihat
pada tabel 7.1.:

8
Tabel 7.1. Perencanaan Tahap Pekerjaan Skripsi
MINGGU
No DISKRIPSI
I II III IV V VI VII VIII IX X

1 Studi Literur dan Pengumpulan


Data
2 Analisa Problem dan Pengolahan
Data
Evaluasi Formation Completion
3 dan Optimasi Sumur
Continuous Gas lift
4 Penyusunan Skripsi
5 Revisi
6 Laporan & Presentasi

VIII. RENCANA DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
RINGKASAN
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud dan tujuan
1.3. Metodologi
BAB II. TINJAUAN UMUM LAPANGAN
2.1. Sejarah Singkat Perusahaan

9
2.2. Kondisi Geografi dan Geologi Lapangan X
2.2.1. Kondisi Geografi Lapangan
2.2.2. Stratigrafi Lapangan
2.2.3. Struktur Greologi
2.3. Karakteristik Reservoir dan Sejarah Produksi
BAB III. TEORI DASAR
3.1. Kinerja Aliran Fluida Di Dalam Media Berpori
3.1.1. Aliran Fluida dalam Media Berpori
3.1.2. Productivity Index (PI)
3.1.3. Inflow Performance Relationship (IPR)
3.2. Aliran Fluida dalam Pipa Vertikal
3.2.1. Faktor yang Mempengaruhi Distribusi Tekanan dalam Pipa Vertikal
3.2.2. Metode Hagedorn & Brown
3.3. Perforated Casing Completion
3.3.1. Perforasi dan Kondisi Kerja Perforasi
3.3.2. Penentuan Laju Produksi Kritis Water Coning
3.3.3. Penentuan Interval dan Densitas Perforasi
3.3.4. Perhitungan Pressure Drop Perforasi
3.4. Penentuan Parameter Gas lift
3.4.1. Penyelesaian Sumur Gas lift
3.4.2. Penentuan Kedalaman Titik Injeksi
3.4.3. Penentuan Jumlah Gas Injeksi
3.4.4. Penentuan GLR Injeksi Optimum
BAB IV. EVALUASI FORMATION COMPLETION DAN OPTIMASI
SUMUR CONTINUOUS GAS LIFT
4.1. Kinerja Aliran Fluida Dalam Formasi Produktif
4.1.1. Perhitungan Laju Produksi Kritis
4.1.2. Pembuatan Kurva Inflow Performane Relationship
4.1.3. Pembuatan Kurva Tubing Intake Performance
4.1.4. Perhitungan Kehilangan Tekanan Akibat Perforasi
4.2. Optimasi Continuous Gas lift
4.2.1. Penentuan Kedalaman Titik Injeksi
4.2.2. Perhitungan Kehilangan Tekanan dalam Pipa Vertikal
4.2.3. Penentuan GLR Optimum
BAB V. PEMBAHASAN
BAB VI. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

10
IX. RENCANA DAFTAR PUSTAKA
Ahmed, Tarek. 2006. Reservoir Engineering Handbook, third edition. Gulf
Publishing Company. Houston.
Allen, Thomas O. and Alan P. Roberts. 1982. Production Operation Volume 1,
second edition. Oil & Gas Consultants International Inc.. Tulsa,
Oklahoma.
Beiranvand, Mahmoud Safar, Saeid Morshedi, Mohammad Hossein Sedaghat and
Sepehr Aghahoseini. 2011. Design of a Gas Lift System to Increase Oil
Production from an Iranian Offshore Well with High Water Cut.
Australian Journal of Basic and Applied Sciences, 5(11): 1561-1565,
ISSN 1991-8178.
Brown, Kermit E.. 1977. The Technology of Artificial Lift Methods Volume 1.
PennWell Publishing Company. Tulsa, Oklahoma.
Brown, Kermit E.. 1980. The Technology of Artificial Lift Methods Volume 2A.
PennWell Publishing Company. Tulsa, Oklahoma.
Chikwere, Ezekiel, Okotie Sylvester and Dulu Appah. 2015. Economic Evaluation
of Electrical Submersible Pump (ESP) and Gas Lift Well For Production
Optimization in A Niger Delta Field. International Journal of Engineering
and Technology, Volume 5, No. 1.
Economides, Michael J., A. Daniel Hill, C. Ehlig-Economides, Ding Zhu. 2013.
Petroleum Production Systems, second edition. Prentice Hall, United
State.
Jaf, Pshtiwan Tahsin Mohammed. 2015. Gas Rate, GLR and Depth Sensitivities
of Gas Lift Technique: A Case Study. International Journal of Engineering
Technology, Management and Applied Sciences. Volume 3, Issue 7, ISSN
2349-4476.
Kristanto, Dedi, dan Dadang Rukmana. 2012. Teknik Reservoir: Teori dan
Aplikasi. Penerbit Pohon Cahaya. Yogyakarta.
Rashidi, Fariborz, Ehsan Khamehchi, Hanieh Rasouli, 2010. Oil Field
Optimization Based on Gas Lift Optimization. 20th European Symposium
on Computer Aided Process Engineering ESCAPE20.

11
LAMPIRAN

12