Anda di halaman 1dari 3

TUGAS MANAJEMEN KEUANGAN PUBLIK

RANGKUMAN BAB 11
DANA ALOKASI UMUM

Dosen Terkait :
Abdul Halim, Prof., Dr., M.B.A., Ak., CA.

Disusun Oleh :
Made Ari Widiartini 15/381960/EK/20541

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS


UNIVERSITAS GADJAH MADA
2017
Sejarah Perkembangan Transfer Keuangan Pusat Ke Daerah
Pada tahun 1945-1956 telah dilaksanakan subsidi dengan mengadopsi sistem sluit post yaitu
suatu bentuk subsidi yang memberikan tunjangan sebesar selisih antara besarnya rencana
pengeluaran dan rencana penerimaan yang diajukan oleh daerah kepada pusat. Kemudian dengan
diundangkannya UU Nomor 32 Tahun 1956, diberlakukan pola transfer melalui ganjaran, subsidi,
dan sumbangan. Ganjaran merupakan pemberian sejumlah uang karena daerah telah melaksanakan
tugas dan kewajiban pemerintah. Subsidi diberikan untuk membiayai kebutuhan khusus yang karena
sifat pekerjaannya bersinggungan dengan kepentingan umum di luar daerah yang bersangkutan.
Sumbangan bersifat sangat insidentil, yaitu diberikan kepada daerah karena mengalami kesulitan
keuangan sebagai akibat adanya kejadian yang luar biasa. Memasuki PELITA 1, diberlakukan
Subsidi Daerah Otonom (DSO) dan bantuin INPRES. SDO bertujuan untuk mendukung anggaran
rutin pemerintah daerah guna membantu menciptakan perimbangan keuangan antar-tingkat
pemerintahan. Sedangkan bantuan INPRES diberikan untuk membiayai pembangunan di daerah.
Memasuki masa reformasi, SDO dan INPRES berganti menjadi Dana Rutid Daerah (DRD) dan Dana
Pembangunan Daerah (DOD). Selanjutnya sejak 2001, DRD dan DPD digantikan oleh Dana
Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus.
Alasan Perlunya Transfer Keuangan Pusat Ke Daerah
Alasan perlunya transfer yaitu antara lain : untuk mengatasi persoalan ketimpangan fiskal
vertikal; mengatasi persoalan ketimpangan fiskal horizontal; menjaga tercapainya SPM di setiap
daerah; mengatasi persoalan yang timbul dari menyebar atau melimpahnya efek pelayanan publik;
dan mencapai tujuan stabilisasi.
Kriteria Desiain Transfer Pusat Ke Daerah
Bebrapa kriteria umum transfer antara lain : Otonomi yaitu bahwa pemerintah daerah harus
memiliki independensi dan fleksibelitas dalam menentukan prioritas-prioritas mereka; penerimaan
yang memadai; keadilan (equity) yaitu besarnya dan atransfer dari pusat ke daerah seyogyanya
berhubungan positif dengan kebutuhan fiskal daerah; transparan dan stabil yaitu formula transfer
harus diumumkan sehingga dapar diakses masyarakat; sederhana (simplicity) yaitu alokasi dana
didasarkan pada faktor-faktor objektif dimana unit individual tidak dapat mempengaruhinya dan
formula yang digunakan seyogyanya relatif mudah untuk dipahami; insentif yaitu desain transfer
harus dapat memberikan semacam insentif bagi daerah dengan manajemen fiskal yang baik dan
menangkal praktik-praktik yang tidak efisien.
Formula Perhitungan Dana Alokasi Umum
DAU adalah umum adalah transfer dana yang bersifat block grant, sehingga pemerintah
daerah mempunyai keleluasaan di dalam penggunaan DAU sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masing-masing daerah. Formula DAU : DAU = AD + CF ( AD yaitu alokasi dasar yang dihitung
berdasarkan jumlah gaji PNS daerah dan CF merupakan celah fiskal yang merupakan selisih dari
kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal. Formula kebutuhan Fiskal (KbF) : = ( +
+ + + ) dengan keterangan sebagai berikut : TBR (Total
belanja rata-rata); IP (indeks jumlah penduduk); IW (indek luas wilayah); iKK (indeks kelemahan
konstruksi); IPM (indeks pembangunan manusia); IPRDB (indeks produk domestik regional bruto
.+.+.
per kapita). Sedangkan TBR dihitung dengan formula :
.
Formula kapasitan fiskal (KpF) : KpF = PAD + DBH SDA + DBH Pajak dengan keterangan
sebagai berikut : PAD (pendapatan asli daerah); DBH SDA (bagi hasil sumber daya alam); DBH
(bagi hasil pajak). Sehingga perhitungan DAU : DAU Provinsi/Kab/Kota = Bobot
Provinsi/Kab/Kota x DAU Provinsi/Kab/Kota dimana bobot provinsi/kab/ dihitung dengan

formula bobot provinsi/kab/kota = dengan CF adalah celah fiskal suatu daerah dan

adalah total celah fiskal seluruhnya.
Hasil Akhir Perhitungan DAU
Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan 0, menerima DAU sebesar alokasi dasar
Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari
alokasi dasar, menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah diperhitungan nilai celah fiskal
Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih
besar dari alokasi dasar, tidak menerima DAU
DAU Daerah Pemekaran
DAU untuk daerah pemekaran dialokasikan setelah UU pemekaran daerh bersangkutan disahkan.
Perhitungan DAU dilakukan apabila datanya telah tersedia, apabila data tidak tersedia maka
penghitungan DAU dilakukan melalui pembagian secara proporsional dengan daerah induk
menggunakan data jumlah penduduk, luas wilayah, dan belanja pegawai.
Penetapan dan Penyaluran DAU
Alokasi DAU ditetapkan dengan peraturan presiden. Alokasi DUA tambahan ditetapkan dengan
Peraturan Menteri Keuangan. DAU disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari rekening Kas
Umum Negara ke rekening Kas Umum Daerah. Penyaluran DAU dilaksanakan setiap bulan masing-
masing sebesar 1/12 dari alokasi DAU yang telah ditetapkan.
Beberapa Masalah Dengan Formula Perhitungan DAU
Sejumlah persoalan yang serius antara lain total celah fiskal yang ada mungkin akan sangat
besar sedemikian sehingga sulit untuk dipenuhi oleh pusat; belanja aktual (realisasi) belum tentu
mencerminkan kebutuhan dari daerah yang bersangkutan; kemungkinan terjadinya disinsentif kepada
daerah-daerah yang punya PAD tinggi jika estimasi kapasitas fiskal daerah mencakup potensi PAD.

Sumber: Halim, Abdul. 2016. Manajemen Keuangan Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.