Anda di halaman 1dari 22

8

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Usia Dewasa

2.1.1 Pengertian Usia Dewasa

Istilah dewasa berasal dari bahasa Latin, yaitu adultus yang berarti tumbuh

menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa.

Seseorang dikatakan dewasa adalah apabila dia mampu menyelesaikan

pertumbuhan dan menerima kedudukan yang sama dalam masyarakat atau orang

dewasa lainnya (Pieter & Lubis, 2010). Seseorang dikatakan dewasa apabila telah

sempurna pertumbuhan fisiknya dan mencapai kematngan psikologis sehingga

mampu hidup dan berperan bersama-sama orang dewasa lainnya (Mubin &

Cahyadi, 2006).

2.1.2 Pembagian Usia Dewasa

Menurut Erikson dalam Upton (2012), usia dewasa dibagi menjadi tiga

tahap antara lain: 1) Masa dewasa awal (19 hingga 40 tahun), 2) Masa dewasa

menengah (40 hingga 65 tahun), 3) Masa dewasa akhir (65 hingga mati).

8
Universitas Sumatera Utara
9

2.1.3 Ciri-ciri Usia Dewasa

Menurut Anderson dalam Mubin & Cahyadi (2006), seseorang yang sudah

dewasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego

2. Mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang

efisien

3. Dapat mengendalikan perasaan pribadinya

4. Mempunyai sikap yang objektif

5. Menerima kritik dan saran

6. Bertanggung jawab

7. Dapat menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan yang realistis dan yang

baru

2.2 Perkembangan Psikososial Erikson

Ada tiga tahapan perkembangan psikososial pada usia dewasa antara lain:

1. Keintiman vs isolasi (intimacy versus isolation) adalah tantangan pada usia dewasa

muda, hal terpenting pada tahap ini adalah adanya suatu hubungan (Erikson 1902-

1994 dalam Wade & Tavris, 2008). Masa dewasa awal (young adulthood) ditandai

adanya kecenderungan intimacy dan isolation. Pada tahap ini individu sudah mulai

selektif membina hubungan yang intim, hanya dengan orang-orang tertentu yang

sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang

Universitas Sumatera Utara


10

intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan orang

lainnya.

Pemahaman dalam kedekatan dengan orang lain mengandung arti adanya

kerjasama yang terjalin dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa ini akan memiliki

pengaruh yang berbeda apabila seseorang dalam tahap ini tidak mempunyai

kemampuan untuk menjalin relasi dengan orang lain secara baik sehingga akan

tumbuh sifat merasa terisolasi. Adanya kecenderungan maladaptif yang muncul

dalam periode ini ialah rasa cuek, dimana seseorang sudah merasa terlalu bebas,

sehingga mereka dapat berbuat sesuka hati tanpa memedulikan dan merasa

tergantung pada segala bentuk hubungan misalnya dalam hubungan dengan sahabat,

tetangga, bahkan dengan orang kekasih kita. Sementara dari segi lain (malignansi)

akan terjadi keterkucilan, yaitu kecenderungan orang untuk mengisolasi atau menutup

diri sendiri dari cinta, persahabatan, dan masyarakat, selain itu dapat juga muncul rasa

benci dan dendam sebagai bentuk dari kesendirian dan kesepian yang dirasakan.

Orang dewasa muda perlu membentuk hubungan dekat dan cinta dengan orang

lain. Cinta yang dimakdsud tidak hanya mencakup hubungan dengan kekasih namun

juga hubungan dengan orang tua, tetangga, sahabat, dan lain-lain. Ritualisasi yang

terjadi pada tahap ini yaitu adanya afilisiasi dan elitism. Afilisiasi menunjukkan suatu

sikap yang baik dengan mencerminkan sikap untuk mempertahankan cinta yang

dibangun dengan sahabat, dan kekasih. Sedangkan elitisme menunjukkan sikap yang

kurang terbuka dan selalu menaruh curiga terhadap orang lain. Keberhasilan

Universitas Sumatera Utara


11

memunculkan hubungan kuat, sedangkan kegagalan menghasilkan kesepian dan

kesendirian (Erikson dalam Sumanto, 2014).

2. Generativitas vs stagnasi (generativity versus stagnation) adalah tantangan pada

masa paruh baya. Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan (Erikson 1902-

1994 dalam Wade & Tavris, 2008). Pada tahap ini salah satu tugas untuk dicapai

ialah dapat mengabdikan diri guna keseimbangan antara sifat melahirkan sesuatu

(generativitas) dengan tidak berbuat apa-apa (stagnansi).

Orang dewasa perlu menciptakan atau memelihara hal-hal yang akan menjadi

penerus hidup mereka, kerap dengan memiliki anak atau menciptakan suatu

perubahan positif yang memberi manfaat bagi orang lain. Melalui generativitas akan

dapat dicerminkan sikap memerdulikan orang lain, sedangkan stagnasi yaitu

pemujaan terhadap diri sendiri atau digambarkan dengan tidak perduli dengan siapa

pun.

Maladaptif yang kuat akan menimbulkan sikap terlalu perduli, sehingga

mereka tidak punya waktu untuk mengurus diri sendiri. Selain itu malignansi yang

ada adalah penolakan, dimana seseorang tidak dapat berperan secara baik dalam

lingkungan kehidupannya akibat dari semua itu kehadirannya di tengah-tengah area

kehidupannya kurang mendapat sambutan yang baik.

Harapan yang ingin dicapai pada masa ini yaitu terjadinya keseimbangan antara

generativitas dan stagnasi guna mendapatkan nilai positif. Ritualisasi dalam tahap ini

Universitas Sumatera Utara


12

meliputi generasional dan otoritisme. Generasional ialah suatu interaksi/hubungan

yang terjalin secara baik dan menyenangkan antara orang-orang yang berada pada

usia dewasa dan para penerusnya. Sedangkan otoritisme yaitu apabila orang dewasa

merasa memiliki kemampuan yang lebih berdasarkan pengalaman yang mereka alami

serta memberikan segala peraturan yang ada untuk dilaksanakan secara memaksa,

sehingga hubungan di antara orang dewasa dan penerusnya tidak akan berlangsung

dengan baik dan menyenangkan (Erikson dalam Sumanto, 2014). Keberhasilan

mendorong perasaan kebergunaan dan pencapaian, sedangkan kegagalan

menghasilkan keterlibatan yang rendah di dunia (Upton, 2012).

3. Integritas ego vs keputusasaan (ego integrity versus despair) adalah tantangan

akhir dari masa lanjut usia (Erikson 1902-1994 dalam Wade & Tavris, 2008). Hal

terpenting pada masa ini ialah adanya refleksi atas kehidupan. Saat beranjak tua,

orang berusaha mencapai tujuan akhir yaitu kebijaksanaan, ketenangan spiritual, dan

penerimaan dalam hidup. Orang dewasa akhir perlu melihat ke belakang dalam

kehidupan mereka dan merasakan suatu rasa pemenuhan. Keberhasilan tahap ini

mendorong perasaan arif, sedangkan kegagalan menghasilkan penyesalan, kepahitan,

dan keputusasaan (Upton, 2012).

Universitas Sumatera Utara


13

2.3 Perubahan Pada Usia Dewasa Awal

2.3.1 Perubahan fisik

Pada fase dewasa awal kesehatan fisik mencapai puncaknya terutama pada

usia 23-27 tahun. Kesehatan fisik berada dalam keadaan baik serta kekuatan tenaga

dan motorik mencapai masa puncak (Mubin & Cahyadi, 2006). Menurut potter &

Perry (2009), orang dewasa awal biasanya sangat aktif, jarang mengalami penyakit

parah (jika dibandingkan kelompok usia tua), cenderung mengabaikan gejala fisik,

dan sering menunda pencarian pelayanan.

2.3.2 Perubahan Kognitif

Kemampuan berpikir kritis meningkat secara teratur selama usia dewasa awal

dan pertengahan. Pengalaman pendidikan formal dan informal, pengalaman hidup,

dan kesempatan untuk bekerja dapat meningkatkan konsep diri, kemampuan

menyelesaikan masalah, dan keterampilan motorik individu. Mengenali bidang

pekerjaan yang sesuai merupakan tugas utama individu dewasa awal. Saat individu

mengetahui keterampilan, bakat, dan karakteristik personal mereka, maka pilihan

pendidikan dan pekerjaan akan menjadi mudah dan lebih memuaskan. Proses

pengambilan keputusan dalam masa dewasa awal harus bersifat fleksibel. Hal ini

disebabkan karena masa dewasa awal terus berkembang dan harus terlibat dalam

perubahan dalam perubahan rumah, tempat kerja. Dan tempat tinggal pribadi. Orang

muda meresa lebih aman dengan perannya serta lebih fleksibel dan terbuka terhadap

Universitas Sumatera Utara


14

perubahan. Individu yang merasa tidak aman cenderung mengalami kesulitan dalam

membuat keputusan (Potter & Perry, 2009 ).

2.3.3 Perubahan Psikososial

Kesehatan emosi pada masa dewasa awal berhubungan dengan kemampuan

individu untuk menempatkan dan memisahkan antara tugas pribadi dan tugas sosial.

Dewasa awal biasanya terperangkap antara keinginan untuk memperpanjang rasa

tidak tanggung jawabnya sewaktu remaja, tetapi juga ingin dianggap sebagai orang

dewasa. Di antara usia 23-28 tahun, individu mulai memperbaiki persepsi diri dan

kemampuannya untuk akrab dengan orang lain. Di usia 29-34 tahun, individu

mengarahkan banyak energi pada pencapaian dan penguasaan dunia sekitar.

Sedangkan usia 35-43 tahun merupakan waktu ujian terkuat dalam mencapai tujuan

dan hubungan hidup. Individu membuat perubahan dalam diri sosial, dan tempat

kerjanya. Biasanya stres akibat ujian yang berulang bisa menyebabkan krisis paruh

baya atau midlife crisis, dimana terjadi perubahan pada pasangan pernikahan, gaya

hidup, dan pekerjaan. Perubahan psikososial yang terjadi pada usia dewasa awal

dapat dilihat dari beberapa aspek antara lain:

1. Karier

Keberhasilan dalam pekerjaan merupakan hal penting bagi kehidupan pria dan

wanita. Keberhasilan kerja tidak hanya berupa keamanan segi ekonomi, tapi juga

hubungan pertemanan, kehidupan sosial , dan penghargaan terhadap rekan kerja.

Universitas Sumatera Utara


15

Jumlah keluarga dengan dua karir (two-career families) saat ini mengalami

peningkatan. Jenis keluarga seperti ini memiliki keuntungan sekaligus tanggung

jawab. Selain adanya peningkatan keuangan keluarga, individu yang bekerja di luar

rumah juga dapat mengembangkan hubungan pertemanan, kegiatan, dan keinginan.

Namun, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan stress yang disebabkan oleh

perpindahan ke kota yang baru, peningkatan biaya, mental, atau emosional,

kebutuhan perawatan anak atau kebutuhan rumah tangga. Untuk menghindari stres ini

pasangan harus berbagi tanggung jawab. Bagi beberapa keluarga, penyelesaiaannya

adalah membatasi biaya rekreasi dan menggantinya dengan membayar seorang

pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah.

2. Seksualitas

Perkembangan karakteristik seksual sekunder terjadi selama usia remaja.

Perkembangan fisik biasanya disertai dengan kemampuan untuk melakukan aktivitas

seksual. Pada individu dewasa awal, kemampuan fisik biasanya juga dilengkapi

dengan kematangan emosional, sehingga lebih dapat membangun keakraban dan

kematangan hubungan seksual. Individu dewasa awal yang gagal mencapai tugas

perkembangan integrasi personal biasanya hanya dapat membangun hubungan yang

tidak mendalam dan sementara (Fortinash dan Holoday Worrer, 2004 dalam Potter &

Perry, 2009).

3. Masa Lajang

Universitas Sumatera Utara


16

Tekanan sosial untuk menikah tidak sebesar zaman dulu. Banyak individu

dewasa awal yang tidak menikah sampai akhir usia 20-an, awal usia 30-an, bahkan

ada yang tidak sama sekali. Bagi individu yang memutuskan untuk hidup melajang,

maka yang menjadi bagian penting dalam hidupnya adalah orang tua dan saudara

kandungnya. Beberapa individu menjadikan teman dekat dan kerabatnya sebagai

keluarga. Salah satu penyebab meningkatnya populasi individu yang hidup melajang

adalah karena semakin luasnya kesempatan berkarier bagi wanita. Sebagian besar

individu lajang memilih untuk hidup bersama di luar pernikahan, menjadi orang tua

biologis, atau melakukan adopsi.

4. Masa Menjadi Orang Tua

Ketersediaan alat kontrasepsi saat ini memudahkan pasangan untuk

memutuskan kapan akan memulai membentuk sebuah keluarga. Salah satu faktor

yang mempengaruhi keputusan ini adalah alasan untuk memiliki anak. Tekanan sosial

dapat mendorong pasangan untuk membatasi jumlah anak yang mereka miliki.

Pertimbangan ekonomi seringkali mempengaruhi proses pengambilan keputusan

karena memiliki dan membesarkan anak-anak membutuhkan biaya mahal. Status

kesehatan umum dan lansia juga mempengaruhi keputusan untuk menjadi orang tua,

karena pasangan menunda pernikahan dan kehamilan.

Universitas Sumatera Utara


17

2.3.4 Kesehatan Psikososial

Masalah kesehatan psikososial pada individu dewasa awal biasanya

berhubungan dengan pekerjaan dan stressor dari keluarga. Stres dapat berguna karena

dapat memotivasi klien untuk berubah. Namun, jika stres berkepanjangan dan klien

tidak mampu beradaptasi dengan stresor, maka akan menimbulkan masalah

kesehatan.

Stres Pekerjaan. Stres pekerjaan dapat terjadi tiap hari atau dari waktu ke

waktu. Sebagian besar individu dewasa awal dapat mengatasi krisis tersebut. Stres

pekerjaan dapat terjadi saat datangnya seorang bos baru, batas waktu (deadline)

sudah dekat, mendapatkan tanggung jawab menjadi lebih besar. Stres individu juga

dapat terjadi saat individu merasa tidak puas dengan pekerjaan atau tanggung jawab

yang diberikan. Karena individu menerima pekerjaan yang berbeda, maka tipe stresor

pekerjaan yang dihadapi tiap klien juga berbeda.

Stres Keluarga. Karena perubahan hubungan dan struktur dalam keluarga

individu muda yang beragam, maka frekuensi terjadinya stres juga meningkat. Stresor

situasional terjadi pada peristiwa seperti kelahiran, kematian, sakit, pernikahan, dan

kehilangan pekerjaan. Stres biasanya terkait dengan beberapa variabel, termasuk

pilihan karier suami/ istri dan penyebab disfungsi dalam keluarga individu dewasa

awal.

Universitas Sumatera Utara


18

Setiap keluarga memiliki peran atau tugas tertentu bagi anggotanya. Peran

tersebut membuat keluarga dapat berfungsi dan menjadi bagian yang efektif dalam

masyarakat. Saat peran tersebut berubah akibat penyakit, maka krisis situasional

dapat terjadi (Potter & Perry, 2009).

2.4 Perubahan Pada Dewasa Menengah

2.4.1 Perubahan fisik

Banyak dari para dewasa madya mengalami kecemasan pada penampilan

fisik yang pada akhirnya akan mengganggu relasi dengan pasangannya (Pieter &

Lubis, 2010). Perubahan yang paling terlihat adalah rambut memutih, kulit keriput,

dan penebalan pinggang. Sering sekali perubahan fisiologis selama masa dewasa

menengah berdampak pada konsep diri dan bentuk tubuh (Potter & Perry, 2009).

Badan yang kurang sehat dan cacat yang tidak dapat disembuhkan atau ditutup-tutupi

sama berbahayanya bagi penyesuaian diri pribadi dan sosial pada masa dewasa dini

seperti masa kanak-kanak dan remaja.

Orang dewasa yang mempunyai hambatan fisik karena kesehatannya buruk

tidak dapat mencapai keberhasilan maksimum mereka dalam pekerjaan atau

pergaulan sosial. Sebagai akibatnya mereka selalu frustasi, semakin sering mereka

melihat orang yang sebenarnya berpotensi kurang dari mereka berhasil, semakin

besar rasa frustasi mereka (Hurlock, 1980). Beberapa perubahan lainnya dapat terjadi

antara lain; mulai terjadinya proses menua secara gradual, mulai menurunnya

Universitas Sumatera Utara


19

kekuatan fisik, fungsi motorik dan sensoris, terjadinya perubahan-perubahan seksual.

Kaum laki-laki mengalami climacterium dan wanita mengalami menopause (Mubin

& Cahyadi, 2006).

2.4.2 Perubahan Kognitif

Perubahan fungsi kognitif pada individu dewasa menengah jarang terjadi, kecuali jika

ada penyakit atau trauma (Potter & Perry, 2009).

2.4.3 Perubahan Psikososial

Perubahan psikososial pada individu dewasa menengah melibatkan peristiwa

yang diharapkan, seperti anak-anak yang keluar dari rumah, sampai peristiwa yang

tidak diharapkan, seperti perceraian atau kematian seorang teman dekat. Perubahan

psikososial yang terjadi pada usia dewasa menengah dapat dilihat dari beberapa aspek

antara lain:

1. Transisi Karier

Perubahan kaier terjadi karena pilihan atau perubahan di tempat kerja atau

masyarakat. Pada dekade terakhir, individu dewasa menengah cenderung berganti

pekerjaan karena berbagai alasan, antara lain keterbatasan pergerakan, penurunan

peluang kerja, atau mencari pekerjaan yang lebih menantang. Pada beberapa kasus

pengurangan tenaga kerja, kemajuan teknologi atau perubahan lainnya mendorong

individu dewasa menengah untuk mencari pekerjaan baru. Bila tidak diantisipasi,

Universitas Sumatera Utara


20

perubahan tersebut dapat menyebabkan stres yang mempengaruhi kesehatan,

hubungan dengan keluarga, konsep diri, dan dimensi lainnya.

2. Seksualitas

Setelah kepergian anak terakhir dari rumah, pasangan akan membangun kembali

hubungan mereka, mencari cara untuk meningkatkan kehidupan pernikahan dan

kepuasan seksual selama usia pertengahan.

3. Psikososial Keluarga

Beberapa faktor psikososial keluarga yang terkait pada dewasa menengah

antara lain:

3.1 Masa lajang

Beberapa individu dewasa menengah memilih untuktetap lajang, tetapi ada juga

yang memilih untuk menjadi orang tua baik secara biologis ataupun adopsi. Banyak

individu dewasa menengah lajang yang memiliki sanak keluarga tapi untuk

membentuk sebuah keluarga dengan teman dekat atau teman sekerja.

3.2 Perubahan Status Pernikahan

Terjadinya perubahan status pernikahan selama usia pertengahan adalah karena

kematian istri/suami, perpisahan, perceraian, dan pilihan untuk menikah atau tidak

menikah lagi. Klien yang berstatus janda, akibat perpisahan atau perceraian,

mengalami periode berduka dan kehilangan yang diperlukan untuk beradaptasi

Universitas Sumatera Utara


21

terhadap perubahan status pernikahan. Kesedihan yang normal berlansung melalui

serangkaian fase, dan resolusi kesedihan bisanya menghabiskan waktu hingga

setahun atau lebih.

3.3 Transisi Keluarga

Kepergian anak terakhir dari rumah merupakan suatu stresor. Beberapa orang

tua merasa senang karena bebas dari tanggung jawab mengasuh anak, sedangkan

sebagian lain merasa kesepian atau kehilangan arah karena perubahan ini.

3.4 Merawat Orang Tua yang Berusia Lanjut

Banyak individu dewasa menengah terjepit antara tanggung jawab merawat

anak-anak dan merawat orang tua yang berusia lanjut dan sakit-sakitan. Selanjutnya

individu dewasa menengah menemukan diri mereka berada dalam generasi

campuran, di mana tantangan untuk memberikan perawatan menjadi penuh tekanan.

Kebutuhan keluarga akan pemberi layanan kini terus meningkat. Individu dewasa

menengah dan orang tua berusia lanjut sering mengalami konflik prioritas berkaitan

dengan hubungan mereka, sedangkan individu lanjut usia berusaha untuk tetap tidak

bergantung.

Sebagian besar orang dewasa paruh baya dan orang tua mereka memiliki hubungan

yang dekat dan saling mengasihi didasarkan kepada kontak yang sering terjadi dan

bantuan yang bersifat mutual (Antonucci & Akiyama, 1997; Bengtson, 2001 dalam

Papalia, et al., 2013).

Universitas Sumatera Utara


22

2.4.4 Kesehatan Psikososial

Ansietas. Ansietas adalah fenomena krisis kematangan yang berhubungan

dengan perubahan, konflik, dan kontrol terhadap lingkungan. Individu dewasa sering

mengalami ansietas dalam merespon perubahan fisiologis dan psikososial yang

terjadi pada usia pertengahan. Ansietas memotivasi individu dewasa untuk meninjau

ulang tujuan hidup dalam menstimulasi produktivitas. Namun, bagi beberapa individu

dewasa, ansietas dapat memicu penyakit psikosomatik dan kematian. Pada kasus ini,

individu dewasa menengah memandang kehidupan sebagai waktu hidup yang tersisa.

Secara jelas, penyakit yang mengancam kehidupan, transisi pernikahan, atau stresor

pekerjaan dapat meningkatkan ansietas klien dan keluarganya.

Depresi. Depresi adalah gangguan suasana hati yang dimanifestasikan dalam

berbagai cara. Meskipun lebih sering ditemukan pada usia antara 22-44 tahun, tetapi

dapat ditemukan juga pada individu dewasa pada usia pertengahan dan ditimbulkan

oleh banyak faktor. Faktor resiko depresi adalah menjadi wanita, kegagalan atau

kehilangan di pekerjaan, sekolah, atau dalam hubungan keluarga, kepergian anak

terakhir dari rumah, dan riwayat keluarga.

Individu yang mengalami depresi ringan menunjukkannya dengan perasaan

sedih, murung, putus asa, jatuh dalam kesedihan, dan penuh dengan air mata. Gejala

lainnya adalah gangguan pola tidur seperti sulit tidur (insomnia) atau tidur yang

berlebihan (hipersomnia), iritabilitas, perasaan tidak berguna, dan penurunan

Universitas Sumatera Utara


23

kewaspadaan. Perubahan fisik seperti penurunan atau penambahan berat badan, sakit

kepala, atau selalu merasa lelah walaupun telah beristirahat juga merupakan gejala

depresi. Individu yang mengalami depresi pada usia pertengahan biasanya mengalami

ansietas dengan intensitas sedang sampai berat dan mengalami keluhan fisik.

Perubahan suasana hati dan depresi biasanya terjadi saat menopause. Penyalagunaan

alkohol atau obat dapat membuat depresi semakin berat.

2.6 Bencana Alam

2.6.1 Pengertian Bencana Alam

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu

yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, keugian, atau penderitaan.

Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau

rangkaian peristiwa yang mengancam dan menganggu khidupan dan penghidupan

masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam atau faktor non alam maupun

faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,

kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

2. 6. 2. Jenis-Jenis Bencana Alam

Jenis-jenis bencana menurut undang-undang No. 24 Tahun 2007, antara lain:

Universitas Sumatera Utara


24

1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian

peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami,

gunung meletus, banjir, kekerinngan, angin topan, dan tanah longsor.

2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian

peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi,

epidemik, dan wabah penyakit.

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian

peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial

antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror (UU RI, 2007).

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010), jenis-jenis bencana

antara lain:

1. Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energy yang menyebabkan dislokasi

(pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Mekanisme perusakan terjadi

karena energy getaran gempa dirambat ke seluruh bagian bumi. Di permukaan bumi,

getaran tersebut dapat menyebabkan kerusakan dan runtuhnya bangunan sehingga

dapat menimbulkan korban jiwa.

2. Tsunami diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang

ditimbulkan oleh gangguan impulsive dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut

bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik, atau longsoran. Kecepatan

Universitas Sumatera Utara


25

tsunami yang naik ke daratan (run-up) berkurang menjadi sekitar 25- 100 Km/jam

dan ketinggian air.

3. Letusan Gunung Berapi adalah merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang

dikenal dengan istilah erupsi. Hampir semua kegiatan gunung api berkaitan dengan

zona kegempaan aktif sebab berhubungan dengan batas lempeng.

4. Tanah Longsor merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan,

ataupun campuran keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya

kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut.

2.6.3 Dampak Bencana Alam

Bencana alam dapat mengakibatkan dampak yang merusak pada bidang ekonomi,

sosial, lingkungan. Kerusakan infrastruktur yang mengganggu aktivitas social,

dampak dalam bidang sosial mencakup kematian, luka-luka, sakit, hilangnya tempat

tinggal dan kekacauan komunitas sementara kerusakan lingkungan dapat mencakup

hancurnya hutan yang melindungi daratan (Karo, 2014).

Peristiwa bencana membawa dampak bagi warga masyarakat khususnya yang

menjadi korban. Beberapa permasalahan yang dihadapi korban bencana meletusnya

Gunung Merapi yaitu:

Universitas Sumatera Utara


26

a. Kehilangan tempat tinggal untuk sementara waktu atau bisa terjadi untuk

seterusnya, karena merupakan kawasan rawan bencana (termasuk dalam zona

merah).

b. Kehilangan mata pencaharian karena kerusakan lahan pertanian dan

hancurnya tempat usaha

c. Berpisah dengan kepala keluarga karena ayah atau suami banyak yang

memilih untuk tetap tinggal di rumah dengan alas an menjaga rumah, harta

benda dan tetap bekerja sebagai petani, berkebun atau peternak.

d. Pemenuhan kebutuhan dasar berupa makan, minum, tempat tinggal sementara

atau penampungan, pendidikan, kesehatan dan sarana air bersih yang tidak

memadai.

e. Terganggunya pendidikan anak-anak yang tidak bisa sekolah karena

kerusakan sarana dan prasarana sekolah.

f. Risiko timbulnya penyakit ringan (batuk, flu) ataupun penyakit menular

(misalnya diare) karena kondisi lingkungan dan tempat penampungan yang

kurang bersih dan tidak kondusif serta sarana pelayanan kesehatan yang

kurang memadai.

g. Terganggunya fungsi dan peran keluarga karena dalam tempat penampungan

tinggal beberapa keluarga sekaligus.

h. Hilangnya harga diri dan kemampuan baik sebagai individu maupun sebagai

keluarga karena di tempat pengungsian mereka meneerima belas kasihan dari

pihak lain dan bahkan sering kali menjadi tontonan.

Universitas Sumatera Utara


27

i. Terhambatnya pelaksanaan dan fungsi peran social dalam kekerabatan serta

pelaksanaan tugas-tugas kehidupan dalam kemasyarakatan, misalnya:

kegiatan arisan, kegiatan adat atau budaya yang tidak dapat dilaksanakan di

lokasi pengungsian.

j. Kejenuhan akibat ketidakpastian berapa lama harus mengungsi, perasaan tidak

berdaya, ketakutan dan bahkan perasaan putus asa menghadapi kemungkinan

bencana yang tidak mungkin dihindari (tidak dapat melawan kehendak

Tuhan). Akibatnya timbul perasaan marah, stress dan frustasi dengan situasi

dan kondisi yang serba tidak menentu, trauma, putus asa, merasa tidak

berdaya dan ketidakpastian masa depannya.

k. Berpikir tidak realistis dan mencari kekuatan supra natural untuk mencegah

terjadinya bencana. Kekecewaan spiritual yaitu kecewa pada Tuhan karena

diberi ujian atau hukuman bahkan cobaan kepada orang-orang yang merasa

dirinya sudah melaksanakan ibadah sesuai ajaran agama (Marjono, 2010

dalam Rusmiyati, 2012).

Menurut Sumarno (2013), beberapa gejala psikologis yang dapat terjadi karena

adanya bencana letusan gunung berapi, yaitu:

a. Stress

Stres secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana

individu terganggu keseimbangannya. Stres terjadi akibat adanya situasi dari luar

Universitas Sumatera Utara


28

ataupun dari dalam diri yang memunculkan gangguan, dan menuntu individu

berespon secara sesuai. Stres merupakan suatu yang tidak terpisahkan dari kehidupan

manusia, bahkan seperti bagian dari kehidupan itu sendiri. Masyarakat atau warga

yang mengalami akibat dari erupsi merapi, mengalami stres diantaranya: gelisah,

tegang, cemas, mengalami kelelahan, ketegangan otot dan sulit tidur. Ada pula yang

tekanan darah dan detak jantungnya meningkat, sakit kepala, perut mulas, gatal-gatal

dan diare. Stres juga dapat merubah perilaku seseorang, misalnya masyarakat menjadi

lebih mudah marah, lebih suka menyendiri, nafsu makan berkurang, merasa tidak

berdaya, tidak bersemangat, frustasi, atau merasa tidak percaya diri.

b. Depresi

Depresi adalah suatu gangguan mental yang paling sering terjadi pada para

korban bencana alam. Setelah mengalami depresi, selanjutnya korban akan

mengalami pasca trauma. Depresi berupa perasaan sedih yang berat berkepanjangan,

putus asa, merasa tidak tertolong lagi. Biasanya karena kehilangan sesuatu yang

dicintai, kehilangan anggota keluarga, rumah, sawah lading, ternak dan harta benda

lainnya. Kehilangan kebersamaan hidup sekeluarga dengan tetangga, dan kehilangan

kecantikan atau kegagahan karena luka bakar.

c.Trauma

Trauma adalah perasaan menghadapi sebuah kejadian atau serangkaian

kejadian yang berbahaya, baik bagi fisik maupun psikologis seseorang, yang

Universitas Sumatera Utara


29

membuatnya tidak lagi merasa aman, menjadikannya merasa tidak berdaya dan peka

dalam menghadapi bahaya. Pengalaman traumatis bisa menyebabkan berbagai

dampak ringan, seperti korban menjadi peragu dalam berbuat sesuatu. Keragu-raguan

ini disebabkan rasa takut mengalami peristiwa yang sama, dan pada tahap awal bisa

dikatakan wajar jika rasa takutnya tidak digeneralisir. Pada kenyataannya ketakutan

karena trauma sering menjalar ke berbagai hal. Sebagai contoh seseorang yang

pernah mengalami musibah banjir akan merasakan takut jika melihat sungai, hal

tersebut mengakibatkan dirinya takut ketika melewati jembatan. Begitu pula yang

dialami oleh korban bencana gunung meletus, dirinya akan merasa takut dengan

segala suara gemuruh.

Universitas Sumatera Utara