Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur

kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia

sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara

Republik Indonesia Tahun 1945. Setiap kegiatan dalam upaya untuk

memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskriminatif, partisipasif, dan

berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia,

serta peningkatan ketahanan daya saing bangsa bagi pembangunan nasional.

Setiap orang memiliki hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber

daya di bidang kesehatan dan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan

terjangkau (Presiden Republik Indonesia, 2009). Agar dapat memperoleh

derajat kesejahatan yang optimal, maka kita dapat memanfaatkan tanaman

obat yang dikemas dalam bentuk jamu atau obat tradisional maupun sintetis

menjadi suatu obat yang aman, manjur dan bermutu dengan harga yang

terjangkau bagi masyarakat.

CPOB adalah pedoman pembuatan obat bagi industri farmasi di

Indonesia yang bertujuan untuk memastikan agar sifat dan mutu obat yang

dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah di tentukan dan

sesuai dengan tujuan penggunaannya. Salah satu upaya yang dilakukan

1
industri farmasi dalam rangka meningkatkan kualitas obat yang diproduksinya

yaitu dengan menerapkan GMP (Good manufacturing practice). Di Indonesia,

istilah GMP lebih di kenal dengan CPOB (cara pembuatan obat yang baik )

yang dinamis. Melalui pedoman CPOB semua aspek yang berhubungan

dengan produksi dan pengendalian mutu obat diperhatikan dan ditentukan

sedemikian rupa dengan tujuan untuk menjamin bahwa produk obat di buat

senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan

tujuan penggunaanya. Produksi obat yang baik adalah produksi yang telah

memenuhi ketentuan ketentuan CPOB.

CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik)bertujuan

untuk menjamin agar produk senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku.

Persyaratan tersebut meliputi : personalia, bangunan, peralatan, sanitasi dan

higine, pengolahan dan pengemasan, pengawasan mutu, inspeksi diri,

dokumentasi, serta penanganan terhadap hasil pengamatan produk di

peredaran.

Obat tradisional menurut Undang-undang Kesehatan nomor 23 tahun

1992 adalah bahan atau ramuan bahan berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,

bahan mineral, sediaan cairan (galenik) atau campuran dari bahan tersebut

yang secara turun menurun telah digunakan untuk pegobatan berdasarkan

pengalaman. Fitofarmaka merupakan sediaan obat bahan alam yang telah

dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan

uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi (Badan POM.

RI., 2004).

2
B. Tujuan

Mengetahui dan memahami bagaimana cara pendirian, perizinan, dan

pedoman/ aturan industri fitofarmaka

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Industri

Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan

baku, barang setengah jadi, dan/atau barang jadi menjadi barang dengan nilai

yang lebih tinggi untuk penggunaannya, termasuk kegiatan rancang bangun

dan perekayasaan industri.

1. Industri Farmasi

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1799/MENKES/PER/XII/2010, Industri Farmasi adalah badan usaha yang

memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan

obat atau bahan obat.Pembuatan obat adalah seluruh tahapan kegiatan dalam

menghasilkan obat, yang meliputi pengadaan bahan awal dan bahan

pengemas, produksi, pengemasan, pengawasan mutu, dan pemastian mutu

sampai diperoleh obat untuk didistribusikan.

Industri farmasi wajib memenuhi ketentuan peraturan perundang-

undangan di bidang tata ruang dan lingkungan hidup, termasuk wajib

memenuhi memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang

Baik (CPOTB).Pemenuhan persyaratan CPOTB dibuktikan dengan sertifikat

CPOTB.

4
2. Fitofarmaka

Pengertian fitofarmaka menurut Badan POM, RI tahun 2004 adalah

sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya

secara alamiah dengan uji praklinis dan uji klinis bahan baku serta produk

jadinya telah di standarisasi.

B. Persetujuan Prinsip Industri Obat Fitofarmaka

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor

246/Menkes/Per/V/1990 tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan

Pendaftaran Obat Fitofarmaka, pengaturan yang komprehensif sangat

diperlukan dalam mengantisipasi penerapan perdagangan internasional di

bidang obat tradisional.Untuk pendirian diperlukan persetujuan prinsip

dari Direktur Jenderal dan untuk IKOT diperlukan persetujuan prinsip dari

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

C. Studi Kelayakan Membuat Usaha atau Industri Farmasi

1. Desain Studi Kelayakan

a. Identifikasi : Pengamatan lingkungan untuk mencari peluang keuntungan

b.Perumusan : Menterjemahkan kesempatan investasi menjadi rencana

yang konkret

c. Penilaian : Melakukan analisis aspek-aspek yang mempengaruhi

d.Pemilihan : Melakukan pemilihan atas pertimbangan keterbatasan

e. Implementasi : Pelaksanaan sesuai dengan hasil perencanaan

5
D. Perizinan Industri Usaha Industri Farmasi

1. Jenis Permohonan Izin

2. Persetujuan Prinsip

Persetujuan Prinsip yang diberikan kepada pelaku usaha yang telah

memperoleh persetujuan Rencana Induk Pembangunan (RIP) dari Kepala

Badan, sebelum pelaku usaha melakukan persiapan, pembangunan,

pengadaan, pemasangan, dan instalasi peralatan, termasuk produksi

percobaan.

3. Izin Industri Farmasi

Izin yang diberikan kepada pemohon yang telah memenuhi persyaratan

sesuai dengan Permenkes Nomor 246/Menkes/Per/V/1990 tentang Izin

Usaha IndustriObat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional.

4. Perubahan Izin Industri Farmasi

Perubahan izin Usaha Industri Obat Tradisional harus dilakukan apabila:

Perubahan kepemilikan Usaha Industri Obat Tradisional karena

pemidahtanganan kepemilikan, perubahan nama, pindah alamat

kantor/gudang, perubahan alamat kantor/gudang, pergantian penanggung

jawab, penambahan bentuk sediaan, dan penambahan lokasi gudang.

5. Perpanjangan

Dalam hal tertentu yang berkaitan dengan pembangunan proyek, pemohon

dapat mengajukan permohonan perpanjangan Persetujuan Prinsip lndustri

Obat Tradisional atau lndustri Kecil Obat Tradisional dengan

menyebutkan alasannya.

6
E. Biaya Persetujuan Prinsip

Terhadap permohonan persetujuan prinsip, pemberian persetujuan

IzinPrinsip Industri Obat Tradisional dan Fitofarmaka dikenakan biaya

sebagai PenerimaanNegara Bukan Pajak (PNBP) sesuai dengan ketentuan

peraturanperundang-undangan yang berlaku.

F. Masa Berlaku Izin Industri Fitofarmaka

1. Persetujuan prinsip berlaku selama 3 (tiga) tahun.

Dalam hal tertentu yang berkaitan dengan pelaksanaan penyelesaian

pembangunan fisik, atas permohonan pemohon, persetujuan prinsip dapat

diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun.

2. Izin industri farmasi berlaku untuk seterusnya selama Industri Farmasi

yang bersangkutan masih berproduksi dan memenuhi ketentuan peraturan

perundang-undangan.

G. Pelaporan Kegiatan Industri Farmasi

Industri farmasi wajib menyampaikan laporan industri secara berkala

mengenai kegiatan usahanya:

1. Sekali dalam 6 (enam) bulan meliputi jumlah dan nilai produksi masing-

masing produk yang dihasilkan.

2. Sekali dalam 1 (satu) tahun meliputi jenis, bentuk, jumlah dan nilai

produksi masing-masing produk yang dihasilkan, pemasaran produk yang

dihasilkan baik untuk dalam negeri maupun ekspor, penyerapan tenaga

kerja, energi dan air, penggunaan bahan baku atau bahan tambahan,

kegiatan pengendalian pencemaran dan masalah yang dihadapi

7
H. Standar Operasional Prosedur Izin Industri Obat Tradisional

1. Pemohon memasukkan berkas permohonan di loket Unit Layanan Terpadu

(ULT);

2. Berkas yang lengkap dicatat;

3. Pemohon membayar PNBP setelah berkas lengkap;

4. Selanjutnya berkas diserahkan kepada TU;

5. TU menyerahkan berkas kepada Kasubdit

6. Kasubdit memberikan disposisi kepada kepala seksi (Kasie) untuk

bertanggung jawab terhadap proses penilaian izin;

7. Kasie memberikan disposisi kepada penilai untuk dilakukan evaluasi;

8. Berkas yang tidak lengkap (jika masih terdapat kekurangan data yang

diperlukan dalam proses penilaian berkas) akan dibuatkan surat tambahan

data yang di tandatangani oleh Direktur dan diserahkan kepada pemohon

untuk dilengkapi segera;

9. Untuk berkas yang telah lengkap dilakukan pembuatan konsep izin;

10. Kasie mengevaluasi konsep izin tersebut;

11. Kasubdit melakukan verifikasi terhadap hasil konsep izin Kasie;

12. Untuk konsep izin yang sudah lengkap dan benar dilakukan

pengetikan/nett izin;

13. Konsep izin yang sudah dilakukan pengetikan/nett diserahkan ke Kasie

untuk dicek kembali dan diparaf;

14. Kemudian izin diserahkan ke subdit untuk dicek dan diparaf;

15. Kemudian izin diserahkan ke direktur untuk diparaf;

8
16. Izin selanjutnya diserahkan ke Dirjen;

17. Berkas pemohon yang telah disetujui dan ditandatangani oleh Dirjen diberi

nomor dan tanggal pengeluaran izin ;

18. Izin yang telah selesai diberikan kepada pemohon sesuai dengan Tata Cara

Pengambilan Izin.

I. Perancangan Bangunan Industri Fitofarmaka

Industri farmasi wajib memenuhi persyaratan CPOB (Cara Pembuatan

Obat yang Baik), ada beberapa macam pedoman cara pembuatan obat yang

baik salah satunya adalah Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik

(CPOTB) dimana menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian

mutu serta bertujuan untuk menjamin agar produk obat tradisional yang dibuat

senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah ditentukan sesuai dengan

tujuan penggunaannya.Mutu produk tergantung dari bahan awal, proses

produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia yang

menangani.

1. Personalia

Personalia hendaklah mempunyai pengetahuan, pengalaman,

ketrampilan dan kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsinya, dan

tersedia dalam jumlah yang cukup.Mereka hendaklah dalam keadaan sehat

dan mampu menangani tugas yang dibebankan kepadanya. Hal-hal yang

perlu diperhatikan dalam aspek ini adalah:

9
a. Organisasi, kualifikasi, dan tanggung jawab

Struktur organisasi industri farmasi hendaknya sedemikian rupa

sehingga bagian produksi dan bagian pengawasan mutu dipimpin oleh

orang ang berbeda serta saling bertanggung jawab satu sama lain.

Kepala bagian produksi, pengawasan mutu, manajemen mutu

hendaknya seorang apoteker yang terdaftar dan terkualifikasi,

memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki pengalaman praktis yang

memadai dalam bidang pembuatan obat dan keterampilan manajerial

sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara

professional.

b. Pelatihan

Semua personil yang langsung terlibat dalam kegiatan

pembuatan hendaklah dilatih dalam pelaksanaan pembuatan sesuai

dengan prinsipn prinsip cara pembuatan yang baik.

2. Bangunan dan Fasilitas

Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat hendaklah memiliki

desain, konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya

dan dirawat dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang

benar. Letak bangunan hendaklah sedemikian rupa untuk menghindari

pencemaran dari lingkungan sekelilingnya, seperti pencemaran udara,

tanah dan air serta kegiatan industri yang lain .

3. Peralatan

10
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan produk hendaklah

memiliki rancang bangun konstruksi yang tepat, ukuran yang memadai,

serta ditempatkan dengan tepat agar mutu yang dirancang bagi tiap produk

terjamin secara seragam dari bets ke bets dan untuk memudahkan

pembersihan dan perawatan.

4. Sanitasi dan hygiene

Ruang lingkup sanitasi dan hygiene bangunan, peralatan dan

perlengkapan, personalia, bahan dan wadah serta faktor lain sebagai

sumber pencemaran produk.

5. Penyiapan Bahan Baku

Setiap bahan baku yang pada saat penerimaan hendaklah dilakukan

pemeriksaan secara organoleptik dan laboratories, selanjutnya diberi label

yang dapat member informasi mengenai nama daerah dan nama latin,

tanggal penerimaan, dan pemasok.

6. Pengelolaan dan Pengemasan

Pengolahan dan pengemasan dilaksanakan dengan mengikuti cara

yang telah ditetapkan oleh industri sehingga dapat menjamin produk yang

dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan yang berlaku.

a. Verifikasi

Sebelum suatu prosedur pengolahan induk diterapkan hendaklah

dilakukan langkah-langkah untuk membuktikan bahwa prosedur

bersangkutan cocok untuk pelaksanaan kegiatan secara rutin, dan

bahwa proses yang telah ditetapkan dengan menggunakan bahan dan

11
peralatan yang telah ditentukan, akan senantiasa menghasilkan produk

yang memenuhi spesifikasi yang telah ditentukan.

b. Pencemaran

Pencemaran fisik, kimiawi atau jasad renik terhadap produk yang

dapat merugikan kesehatan atau mempengaruhi mutu suatu produk

tidak boleh terjadi.

c. Pencemaran khamir, kapang dan atau kuman non patogen terhadap

produk meskipun sifat dan tingkatannya tidak berpengaruh langsung

pada kesehatan hendaklah dicegah sekecil mungkin sampai dengan

persyaratan batas yang berlaku.

d. Sistem Penomoran Kode Produksi

Sistem penomoran kode produksi hendaklah dapat memastikan

diketahuinya riwayat suatu bets atau lot secara lengkap.

e. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia

Suatu sistem yang menjabarkan cara penomoran kode produksi

secara rinci diperlukan untuk memastikan bahwa produk antara,

produk ruahan dan produk jadi suatu bets dapat dikenali dengan

nomor kode produksi tertentu.

Sistem penomoran kode produksi hendaklah dapat menjamin bahwa

nomor kode produksi yang sama tidak digunakan secara berulang.

Pemberian nomor kode produksi hendaklah segera dicatat dalam

suatu buku catatan harian. Catatan hendaklah mencakup tanggal

12
pemberian nomor, identitas produk dan besarnya bets yang

bersangkutan.

f. Penimbangan dan Penyerahan

Sebelum dilakukan penimbangan atau pengukuran hendaklah

dipastikan ketepatan timbangan dan ukuran serta kebenaran bahan

yang akan ditimbang.

Penimbangan, perhitungan dan penyerahan bahan baku, bahan

pengemas, produk antara dan produk ruahan hendaklah dicatat.

Untuk setiap penimbangan atau pengukuran hendaklah dilakukan

pembuktian kebenaran, ketepatan identitas dan jumlah bahan yang

ditimbang atau diukur oleh dua petugas yang berbeda.

g. Pengolahan

Sebelum melaksanakan pengolahan hendaklah dilakukan

pengecekan pada kondisi ruangan, peralatan, prosedur pengolahan,

bahan dan hal lain yang diperlukan dalam proses pengolahan.

Pengolahan beberapa produk dalam waktu yang sama dalam satu

ruangan hendaklah dihindari untuk mencegah terjadinya pencemaran

silang antar produk.

h. Pengemasan

Proses pengemasan hendaklah dilaksanakan dengan pengawasan

ketat untuk menjaga identitas dan kualitas produk jadi. Wadah dan

pembungkus produk ruahan hendaklah diberi label atau penandaan yang

menunjukkan identitas, jumlah, nomor kode produksi dan status produk

13
tersebut. Produk yang dikemas hendaklah diperiksa dengan teliti untuk

memastikan bahwa produk jadi tersebut sesuai dengan persyaratan

dalam prosedur pengemasan.Produk yang telah selesai dikemas

dikarantina, sambil menunggu persetujuan dari bagian pengawasan

mutu untuk tindakan lebih lanjut.

i. Penyimpanan

Bahan baku, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan

produk jadi, hendaklah disimpan secara teratur dan rapi untuk

mencegah risiko tercampur dan atau terjadinya saling mencemari satu

sama lain, serta untuk memudahkan pemeriksaan, pengambilan dan

pemeliharaannya. Pengeluaran bahan yang disimpan hendaklah

dilaksanakan dengan cara mendahulukan bahan yang disimpan lebih

awal (first in, first out) atau yang mempunyai batas kadaluwarsa lebih

awal (first expired, first out).

7. Pengawasan Mutu

Pengawasan mutu merupakan bagian yang essensial dari cara

pembuatan obat tradisional yang baik. Pengawasan mutu hendaklah

dilakukan terhadap bahan baku, bahan pengemas, proses pembuatan,

produk antara, produk ruahan dan produk jadi.

8. Dokumentasi

Menggambarkan riwayat lengkap dari setiap bets suatu produk

sehinggamemungkinkan penyelidikan serta penelusuran terhadap bets

produk yang bersangkutan.

14
J. Pelaporan

Industri Obat Tradisional wajib menyampaikan laporan secara

berkal mengenaikegiatan usaha meliputi jenis dan jumlah bahan baku yang

digunakan serta jenis, jumlah dan nilai hasil produksi. Laporan

disampaikan kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala

Badan dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.

(1) industri obat tradisional dan fitofarmaka wajib menyampaikan

laporan informasi secara berkala mengenaikegiatan usahanya setiap 6

(enam) bulan, dengan menggunakan contoh formulir disesuaikan dgn

lampiran dan surat pengantar dengan menggunakan contoh formulir

disesuaikan dgn lampiran

(2) Laporan Informasi ) industri obat tradisional dan fitofarmaka

sebagaimana dimaksud pada point (1) disampaikanKepada Menteri dan

Kepala Badan paling lama pada Bulan Juli untuk semester I dan Bulan

Januari tahun berikutnya untuk semester II.

K. Pembinaan

Pembinaan terhadap industri obat tradisional dilaksanakan oleh

DirektoratJenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan c.q. Direktorat

Bina Produksi danDistribusi Kefarmasian.Pedoman mengenai pembinaan

industri obat tradisional ditetapkan oleh DirekturJenderal Bina

Kefarmasian dan Alat Kesehatan, sedangkan pengawasanterhadap industri

obat tradisional dilakukan oleh Kepala Badan Pengawas Obatdan

Makanan.Industri Obat Tradisional dilarang melakukan kegiatan yang

15
bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang

kefarmasian.

16
BAB III

PEMBAHASAN

A. Profil Perusahaan

1. Nama Perusahaan : PT.NATURE FARMA

2. Bidang Usaha : Obat Fitofarmaka

3. Visi Dan Misi Perusahaan

Visi

Sebagai perusahaan farmasi yang memiliki komitmen untuk selalu

menghasilkan produk farmasi yang berkualitas serta memiliki citra kuat di

pasar nasional.

Misi :

1. Mengangkat produk ramuan obat fitofarmaka yang bersaing di jajaran

pasar obat modern sehingga dapat dirasakan seluas-luasnya manfaat serta

khasiatnya oleh seluruh masyarakat.

2. Mengupayakan tingkat kualitas kesehatan konsumen yang lebih baik

melalui produk dan layanan berkualitas serta terjangkau dengan

mempromosikan gaya hidup sehat

3. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membina

kesehatan melalui pola hidup sehat, pemakaian bahan-bahan alami, dan

pengobatan secara naturopathy.

17
4. Lokasi Perusahaan :

Pemilihan lokasi berdasarkan posisinya yang strategis bebas

pencemaran dan tidak mencemari lingkungan. penempatan pabrik di

dekat dengan daerah bahan baku dan yang mendasari pemilihan lokasi

bisa merangkul para warga pedesaan untuk menyediakan kebutuhan

bahan baku.

5. Struktur Organisasi

Komunikasi internal di dalam organisasi memiliki peran penting untuk

membangun bentuk karakter dan budaya perusahaan serta soliditas tim

kerja. Komunikasi internal yang lancar, intensif dan efektif dalam

menyebarkan informasi perusahaan akan mendorong proses dan

mekanisme di semua divisi perusahaan. Untuk itu pencapaian kinerja

perusahaan secara keseluruhan tidak terlepas dari dukungan komunikasi

internal perusahaan yang baik.

6. Waktu Pendirian Industri

18
PT.NATURE FARMA akan mulai mendirikan industrI setelah proses

pengajuan izin Obat Fitofarmaka telah resmi dikeluarkan dan disetujui

Dinkes Provinsi dan BPOM.

7. Kebutuhan Dan Pelakasaan


a. bangunan Rp 2.000.000.000,00
(waktu pendirian bangunan 1 tahun)
b. tanah Rp 1.000.000.000,00
(Pembebasan lahan 8 hectar)
c. peralatan Rp 250.000.000,00
d. perlengkapan RP 100.000.000,00
e. tenaga kerja 50 orang Rp 300.000.000,00
-direktur

-administrasi

-manajer

-karyawan

f. Pengembangan bahan dasar Rp 100.000.000,00


g. Perkiraan biaya total Rp 3.750.000.000,00
B. Aspek produksi Industri Obat Tradisional

Produksi obat yang baik adalah produksi yang telah memenuhi

ketentuan ketentuan CPOTB. Cara Pembuatan Obat Tradisional yang

Baik (CPOTB) meliputi seluruh aspekyang menyangkut pembuatan obat

tradisional, yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan

senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telahditentukan sesuai

dengan tujuan penggunaannya. Mutu produk tergantung dari bahan awal,

19
proses produksi dan pengawasan mutu, bangunan, peralatan dan personalia

yang menangani.

C. Aspek Pemasaran Industri Obat Fitofarmaka

Produk Yang Dipasarkan : EKSTRAK TUMBUHAN MENIRAN

Sasaran Penjualan Konsumen : Seluruh kalangan masyarakat

Strategi Marketing :

1. Mencari segmen pasar yang sesuai dengan produk Fitofarmaka

2. Memberi informasi tentang berbagai keunggulan produk Fitofarmaka

3. Kejutan promosi dan pemotongan harga yang selektif

4. Melayani daerah yang belum dilayani segmen pesaing

1. Analisis SWOT

a. Strenght (Kekuatan)

1. Promosi back to nature dan bahan alam mendongkrak minat

masyarakat untuk mengonsumsi obat herbal

2. Diproduksi dengan menjaga kebersihan dan highenis

3. Diminati semua kalangan masyarakat

4. Produk terjangkau, Harga dari produk PT.NATURE FARMA sangat

terjangkau pada seluruh lapisan masyarakat.

b. Weakness (Kelemahan)

20
1. Produk PT.NATURE FARMA tergolong baru, membutuhkan

waktu yang cukup lama untuk memperkenalkan secara luas

2. Kesulitan dalam penyediaan modal. PT.NATURE FARMA

membuka kesempatan bagi para investor yang ingin

menginvestasikan dananya dalam upaya pemenuhan kebutuhan

modal

c. Opportunity

1. Permintaan yang cukup banyak dari berbagai kalangan

masyarakat yang ingin beralih pada obat herbal

2. Masyarakat dengan mudah mengonsumsi obat herbal secara

instan tanpa harus mengelolah sendiri

d. Threat (Ancaman)

1. Harga bahan baku yang bisa saja meningkat

2. Adanya pesaing yang menjual kualitas produk yang sama

D. Aspek Finansial Industri Fitofarmaka

Terhadap permohonan persetujuan izin usaha Industri Obat

Fitofarmaka dikenai biaya sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak

(PNBP) sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

21
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Demikian proposal ini di buat, bedasarkan kebutuhan dan pelaksaan

yang sesuai dengan kondisi lapangan, serta mudah-mudahan upaya

pengandaan Industri Fitofarmaka ini dapat perhatian investor melalui bantuan

pendirian pabrik berserta peralatan, perlengkapan, dan perizinan dapat

berkembang menjadi lebih besar dalam mengelola usaha.

B. Saran

Sebaiknya dalam mendirikan industri Fitofarmakan memenuhi

persyaratan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik).

22