Anda di halaman 1dari 45

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Berdasarkan tinjauan sistematik dari World Health Organization (WHO), dan komunitas
kesehatan internasional disebutkan bahwa angka operasi caesar mencapai 10-15% pada tingkat
populasi. Sejak saat itu, operasi caesar telah menjadi semakin umum pada negara maju dan
berkembang.1,2 Dalam 20 tahun terakhir, secara klinis, ilmiah dan komunitas kesehatan
masyarakat telah meningkatkan perhatian tentang peningkatan operasi caesar yang tidak sesuai
indikasi dan konsekuensinya.1
Di China tingkat operasi caesar meningkat drastis dari 3,4% tahun 1988 mencapai 39,3%
pada tahun 2008. Meskipun tarif operasi caesar meningkat lebih tiga kali lipat di semua wilayah
di China, namun peningkatan operasi caesar tetap terjadi. Bahkan di kalangan perempuan
perkotaan 64,1% dari seluruh kelahiran dengan persalinan caesar.3
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, tingkat persalinan caesar di Indonesia 15,3%.
Menurut Riskesdas sebagian kecil ibu yang dioperasi caesar menunjukkan adanya tanda risiko
tinggi berdasarkan umur saat mengandung ataupun adanya riwayat janin meninggal sebelumnya.
Angka tindakan operasi caesar di Indonesia sudah melewati batas maksimal standard WHO.
Dalam hal ini, jika operasi caesar tidak sesuai indikasi dapat meningkatkan risiko morbiditas dan
mortalitas pada ibu dan bayi.3
Menurut penelitian Rasdiana operasi caesar juga menjadi alternatif persalinan tanpa
indikasi medis karena dianggap lebih mudah dan nyaman. Pada penelitiannya, sebanyak 25%
operasi caesar dari jumlah kelahiran yang ada dilakukan pada ibu-ibu yang tidak memiliki resiko
tinggi untuk melahirkan secara normal maupun komplikasi persalinan lain. Di Rumah Sakit
Moewardi Daerah Surakarta, pada tahun 2014 proporsi ibu yang mengalami persalinan dengan
operasi caesar 36,3 % yaitu 693 dari 1906 persalinan. Ini menunjukkan bahwa sebelum era
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), di Indonesia khususnya di daerah lain angka persalinan
caesar cukup tinggi.4
Didukung oleh penelitian Marice diketahui proporsi persalinan operasi caesar yang terjadi
di dua Rumah Sakit di Jakarta yaitu Rumah Sakit Umum (RSU) dan Rumah Sakit Swasta selama

1
periode 1 Januari sampai dengan 31 Desember 2011 berdasarkan ruang rawat inap kelas 3
sebesar 57,3% (55,9% di RSU dan 59,9% di RS Swasta). Ini menunjukkan sebelum era JKN
tingkat persalinan caesar di Indonesia khususnya di rumah sakit Jakarta tinggi.5 Tetapi setelah
era JKN menurun 7,1 % (50,2%) menurut penelitian Arya tetapi masih cenderung tinggi.6
Berdasarkan penelitian Intan faktor-faktor yang mempengaruhi ibu memilih persalinan
operasi caesar tanpa indikasi medis yaitu kesepakatan suami istri (86,4%), pengetahuan (81,8%),
faktor sosial (72,7%), kecemasan persalinan normal (59,1%), kepercayaan (54,5%), faktor
ekonomi (36,4%), dan pekerjaan (18,2%).7
Berdasarkan tingginya angka operasi caesar yang merupakan salah satu jenis pilihan
persalinan, maka peneliti ingin melakukan penelitian yang berkaitan dengan hubungan antara
pemilihan persalinan dengan status Jaminan Kesehatan Nasional, usia, pengetahuan,
penghasilan, pekerjaan, pengalaman persalinan sebelumnya pada ibu yang melahirkan di
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Menurut World Health Organization (WHO), dan komunitas kesehatan internasional
disebutkan bahwa angka operasi caesar mencapai 10-15% pada tingkat populasi, dan
dalam 20 tahun ini terjadi peningkatan operasi caesar tanpa indikasi.
1.2.2 Di China tingkat operasi caesar meningkat drastis dari 3,4% menjadi 39,3% meskipun
biayanya meningkat tiga kali lipat di semua wilayah di China.
1.2.3 Berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, tingkat persalinan operasi caesar di Indonesia
15,3% dan angka tindakan operasi caesar di Indonesia sudah melewati batas maksimal
standard WHO.
1.2.4 Belum diketahuinya hubungan antara pemilihan persalinan dengan Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN), usia, pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, dan pengalaman persalinan
sebelumnya pada ibu yang melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober
2017.

2
1.3 Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah tidak adanya hubungan antara status Jaminan Kesehatan
Nasional dengan usia, pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, dan pengalaman persalinan
sebelumnya yang berhubungan dengan pemilihan persalinan pada ibu yang melahirkan di
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan persalinan pada ibu
yang melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017

1.4.2 Tujuan Khusus


1.4.2.1 Diketahuinya sebaran pemilihan persalinan pada ibu yang melahirkan di Puskesmas
Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017.
1.4.2.2 Diketahuinya sebaran status JKN, usia, pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, dan
pengalaman persalinan sebelumnya pada ibu yang melahirkan di Puskesmas Kelurahan
Duri Kepa Oktober 2017.
1.4.2.3 Diketahuinya hubungan antara pemilihan persalinan dengan status JKN, usia,
pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, pengalaman persalinan sebelumnya pada ibu yang
melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Untuk Peneliti
1.5.1.1 Menerapkan ilmu yang telah didapat di bangku kuliah untuk merumuskan dan
memecahkan masalah yang ada di masyarakat.
1.5.1.2 Diharapkan penelitian ini memberikan wawasan dan pengetahuan baru tentang hubungan
pemilihan persalinan dengan status JKN, usia, pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, dan
pengalaman persalinan sebelumnya.
1.5.1.3 Mengembangkan daya nalar, minat, dan kemampuan dalam bidang penelitian.

3
1.5.2 Untuk Institusi Penelitian
Sebagai masukan dan acuan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk penelitian-
penelitian berikutnya dan diharapkan dapat menjadi data dasar atau data pembanding serta
masukan bagi peneliti lain yang berkaitan dengan status JKN dalam pemilihan persalinan.

1.5.3 Untuk Puskesmas


Adanya dukungan pendidikan sehingga dapat meningkatkan pengetahuan mengenai JKN
dan persalinan berisiko dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa.

1.5.4 Untuk Masyarakat


Sebagai bahan pengetahuan dan memovitasi masyarakat untuk lebih bijak memilih
persalinan dalam era JKN.

4
Bab II

Tinjauan Pustaka

2.1 Persalinan

2.1.1. Definisi Persalinan

Persalinan adalah suatu proses pelahiran bayi secara normal dari awitan kontraksi uterus
yang regular sampai ekspulsi plasenta. Lebih tepatnya persalinan adalah kontraksi uterus yang
memperlihatkan pendataran dan dilatasi serviks.7

2.1.2. Jenis Persalinan

Persalinan Normal

Proses pelahiran dikatakan normal apabila pengeluaran janin cukup bulan (usia
kehamilan 37-42 minggu), secara spontan, presentasi belakang kepala, berlangsung tidak lebih
dari 18 jam dan tidak ada komplikasi pada ibu dan janin.8

Persalinan Caesar

Persalinan Caesar didefinisikan sebagai kelahiran janin melalui penyayatan pada dinding
abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histeretomi).9

Kelahiran akan membuat pertambahan jumlah manusia. Mekanisme persalinan merupakan


proses yang terjadi tanpa perlu intervensi.10,11 Prosesnya dapat dilakukan dengan dua metode
yaitu persalinan pervaginam dan operasi caesar. Meskipun persalinan pervaginam dikenal
sebagai metode pesalinan terbaik tetapi tingkat operasi caesar telah meningkat secara signifikan
dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah penelitian telah menunjukkan tingginya tingkat operasi
caesar di seluruh dunia. 12Angka tersebut adalah 22% di Amerika Serikat, 25% di Brasil, 27% di
Chile, dan 17-40% di 19 negara di Amerika Latin. Sementara WHO merekomendasikan agar
tingkat tersebut tidak melebihi 15% dari semua kelahiran.13 Di sisi lain, konsekuensi seperti
kematian, infeksi, lama tinggal di rumah sakit, biaya berat, dan kecacatan pada bayi baru lahir
lebih mungkin terjadi pada operasi caesar.14,15,16
5
Menurut penelitian Ahmad, suami yang istrinya yang melahirkan secara normal
pervaginam, proporsi suami yang puas dengan metode persalinan tersebut sama dengan proporsi
suami yang bersikap netral terkait mengenai kedua metode persalinan.13
Alasan paling umum untuk menjalani operasi caesar adalah rekomendasi dokter sedangkan
persalinan pervaginam direkomendasikan oleh keluarga dan teman. Namun, dokter memiliki
peran penting dalam memilih metode persalinan pada mereka yang mengalami persalinan
pervaginam.13
Secara keseluruhan menurut penelitian Ahmad, mayoritas perempuan yang baru pertama
hamil lebih memilih operasi caesar serta mendapat perawatan selama kehamilan dari dokter
swasta. Sementara wanita yang memiliki persalinan pervaginam menerima perawatan dari dokter
swasta, dokter sektor publik, dan rumah kesehatan dengan proporsi yang hampir sama.13
Menurut penelitian Ahmad, menyebutkan bahwa tingkat pendidikan, pendapatan, pendapat
dan kecenderungan dari suami, pendapat dokter, rekomendasi keluarga/teman, dan kurangnya
informasi, perawatan ibu selama kehamilan, kecemasan mengenai rasa sakit, pengalaman
persalinan sebelelumnya serta pengetahuan mereka tentang keuntungan dan kerugian dari setiap
metode persalinan merupakan faktor yang berpengaruh dalam pemilihan metode persalinan.13
Dalam studi Alavijeh dkk. sekitar 81%, dan dalam studi Arjmandi et al. sekitar 71%
perempuan mengetahui pemulihan yang cepat setelah persalinan pervaginam dan
menganggapnya sebagai keuntungan utama dari metode persalinan ini.13,17 Mengenai kenyataan
bahwa sebagian besar perempuan sadar akan keuntungan persalinan pervaginam. Ahmad
mempromosikan metode ini, sehingga untuk mengatasi kelemahan utamanya yaitu rasa sakit
dapat diatasi dengan berbagai prosedur klinis.13

2.2 Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak 2004
melalui Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJNS)
yang mengamanatkan agar Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) disahkan pada 2009. Namun baru pada 2008 ada
komitmen politik dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sehingga
tanggung jawab negara untuk membentuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Atas
6
desakan dan dorongan dari berbagai pihak, pada 2011, Rancangan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2011 tentang BPJS akhirnya disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011
tentang BPJS.18 Berdasarkan kedua landasan hukum tersebut, Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2004 tentang SJSN dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS resmi
melaksanakan JKN sejak 1 Januari 2014.18,19,20,21,22
Menurut buku pegangan sosialisasi JKN dalam SJSN, asuransi sosial adalah mekanisme
pengumpulan iuran bersifat wajib bagi peserta, untuk memberikan perlindungan kepada peserta
atas resiko sosial ekonomi yang menimpa mereka dan atau anggota keluarganya. Sementara itu
SJSN adalah tata cara penyelenggaraan program jaminan Sosial oleh BPJS kesehatan dan BPJS
ketenagakerjaan. Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) ini juga merupakan salah satu bentuk
perlindungan sosial yang diselenggarakan oleh Indonesia guna menjamin warga negaranya untuk
memenuhi kebutuhan hidup dasar yang layak, sebagaimana dalam deklarasi Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak Asasi Manusia (HAM) tahun 1948 dan konvensi
International Labour Organization (ILO) No.102 tahun 1952.18,23
Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang JKN, pemerintah menetapkan kategori
kepesertaan menjadi dua golongan: masyarakat yang mampu membayar iuran disebut bukan
Penerima Bantuan Iuran (nonPBI) dan masyarakat miskin yang tidak mampu membayar iuran
yang disebut Penerima Bantuan Iuran (PBI).19,23
Women Research Intitute (WRI) mengidentifikasi beberapa hal yang menjadi kendala
dalam mengakses informasi seperti perbedaan waktu penyampaian informasi, konten informasi
yang tidak komprehensif, serta keaktifan pengurus wilayah dalam menyebarkan informasi
tentang JKN. Kurangnya sosialisasi dan informasi yang diterima bidan sebagai pemberi layanan
kesehatan, bidan yang diharapkan sudah siap dengan informasi tentang pelayanan kesehatan
dalam program JKN. Namun kenyataannya, informasi yang diterima oleh bidan tidak seragam.18
Beragamnya metode dan pola penyampaian yang dilakukan selama kegiatan sosialisasi
menghambat pelaksanaan JKN, baik dari segi penyedia sosialisasi terhadap para bidan di
puskesmas dan rumah sakit hanya dilakukan oleh kepala puskesmas atau manajer di rumah sakit
kepada bidan koordinator saja. Tidak ada pertemuan yang teratur atau berkala yang dilakukan di
puskesmas atau di rumah sakit dalam mensosialisasikan program dan produk JKN.18

7
Ketika pola penyampaian informasi kepada bidan tidak dilakukan dengan baik, maka
dapat dipastikan pula bahwa pola penerimaan informasi kepada masyarakat pun berbeda.
Masyarakat yang mendapatkan informasi dari berbagai media dengan durasi informasi yang
singkat sehingga informasi yang didapat tidak lengkap. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
mengandalkan penyebaran informasi melalui internet sementara sebagian besar masyarakat
masih belum mempunyai akses terhadap internet. Puskesmas yang didatangi dan diharapkan
masyarakatpun tidak memberi banyak hasil dengan ketidakpastian informasi yang diberikan.18
Masyarakat, terutama perempuan hamil, melahirkan dan dalam masa nifas mengetahui
informasi JKN secara umum dari iklan di televisi, informasi dari tetangga sekitar, dan dari
puskesmas yang dikunjungi. Informasi tentang fasilitas kesehatan (bidan praktik mandiri,
puskesmas dan rumah sakit) untuk pelayanan kehamilan baru diketahui sesaat sebelum
melahirkan. Seperti informasi bahwa JKN akan menanggung seluruh biaya pelayanan kesehatan
mulai dari pemeriksaan kehamilan hingga persalinan. Tidak banyak yang mengetahui bahwa
pelayanan kontrasepsi juga bisa dijamin oleh JKN. Akibat lain minimnya sosialisasi terhadap
pemanfaatan layanan kesehatan. Tidak semua biaya otomatis ditanggung oleh BPJS Kesehatan,
seperti pelayanan obat-obatan dan alat-alat medis habis pakai, beberapa tindakan medis, serta
biaya kunjungan beberapa dokter spesialis yang menangani persalinannya. Bahkan ada pula yang
terpaksa harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit setelah mendapatkan Surat Eligibilitas
Peserta di fasilitas kesehatan tertentu.18
Hal ini diperparah dengan kurangnya keaktifan tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan
dalam menginformasikan rincian biaya apa saja yang ditanggung dan tidak, serta tidak
ada mekanisme pengaduan yang dapat dimanfaatkan dan mudah diakses. Padahal harapan dari
keikutsertaan program JKN ini agar mendapatkan manfaat JKN semaksimal mungkin tanpa
harus dikenakan biaya lain-lain di luar iuran kepesertaan. Hal ini terjadi karena minimnya
informasi kepada para peserta JKN bahwa menjadi peserta JKN tidak otomatis mendapatkan
seluruh pelayanan kesehatan secara gratis.18
Dengan adanya Peraturan Presiden (Perpres) nomor 12 tahun 2013 dan Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) nomor 71 tahun 2013 per tanggal 1 Januari 2014 Jaminan Persalinan
resmi digantikan oleh JKN yang mencakup seluruh penduduk Indonesia termasuk penduduk
asing yang telah bekerja minimal 6 bulan di Indonesia dan telah membayar iuran. Jampersal
8
telah dijalankan sejak tahun 2011 hingga tahun 2013. Dalam implementasi kebijakan tersebut
ditemukan ketidakpuasan dari pihak pelaksana kebijakan yakni bidan. Berdasarkan peneitian
Gyakuni (2014) pada bidan di wilayah kerja Puskesmas Bangkalan disimpulkan 4 penyebab
ketidakpuasan yakni sasaran kurang tepat, ketidaksesuaian imbalan, kesulitan klaim dan
kurangnya sosialisasi.21
Kepesertaan PBI didaftarkan pemerintah ke BPJS Kesehatan melalui iuran bulanan yang
ditanggung oleh pemerintah. Melalui pendataan yang dilakukan oleh Pendataan Program
Perlindungan Sosial (PPLS) 2011, jumlah peserta PBI telah ditetapkan oleh Menteri Sosial
sebanyak 86.400.000 orang. Meskipun kuotanya telah ditetapkan, ternyata masih banyak
ditemukan masyarakat miskin yang belum terdaftar sebagai peserta PBI. Karena masih
banyaknya masyarakat miskin yang belum terdaftar, Kementerian Sosial kembali menetapkan
kuota bagi kepesertaan PBI melalui Kepmensos Nomor 147/HUK/2013, dengan jumlah
1.779.421 orang. Ada persoalan yang serius dalam masalah data kependudukan tentang
masyarakat miskin.18
Meski sudah dilakukan penambahan kuota, namun hingga November 2014 masih
ditemukan masyarakat yang benar-benar miskin dan tidak mampu membayar iuran kesehatan
yang tidak terjamin kepesertaannya, khususnya perempuan. Hal tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor:18
Pertama, tidak disertakannya partisipasi masyarakat secara luas dalam pengambilan
kebijakan tentang jumlah kuota peserta PBI. Keterbukaan informasi publik juga belum menjadi
disiplin organisasi dalam tubuh BPJS Kesehatan maupun lembaga yang diberikan otoritas dalam
mengelola data kepesertaan PBI.
Kedua, metode penyampaian informasi JKN dilakukan secara tidak memadai, satu arah,
dan kurang menyentuh komunitas-komunitas warga hingga tingkat perdesaan/pinggiran.
Misalnya, metode penyampaian informasi dilakukan hanya melalui televisi, diwakilkan hanya
pada tokoh masyarakat (RT atau RW), dan materi-materi yang dipublikasi secara online. Metode
semacam ini jelas tidak sensitif pada kultur masyarakat miskin di negara berkembang yang
tingkat literasi informasinya rendah dan memiliki karakteristik komunikasi dua arah.
Ketiga, terlalu menekankan pada persoalan administrasi (prosedural). Administrasi yang
dimaksud adalah peraturan dan persyaratan pendaftaran kepesertaan yang tidak mudah
9
dimengerti, peraturan yang berganti sangat cepat bahkan dalam hitungan minggu, tidak fleksibel
dan tidak sensitif pada pola mobilitas masyarakat antar daerah yang tinggi.
Sistem pendaftaran kepesertaan offline tidak ramah terhadap calon peserta juga menjadi
kendala yang harus dihadapi ketika sudah memiliki informasi kepesertaan yang lebih baik. Ini
memicu hadirnya jasa calo yang dapat merugikan calon peserta. Tidak sedikit uang yang
dipungut oleh calo tersebut, berkisar Rp 50.000 hingga Rp 350.000. Para calo tidak peduli
dengan status kepesertaan/kelas yang akan didaftarkan, meskipun calon peserta berasal dari
keluarga yang tidak mampu.18
Keaktifan pengurus wilayah seperti Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW)
sangat membantu proses sosialisasi mengenai kepesertaan. Apalagi jaminan terhadap peran serta
masyarakat diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2012 tentang PBI jaminan
kesehatan, untuk memberikan data yang benar dan akurat tentang peserta PBI melalui unit
pengaduan masyarakat di setiap daerah. Artinya, apabila pengurus wilayah sekitar tidak aktif
maka akan sangat merugikan peserta PBI yang tidak mengetahui secara otomatis sebagai peserta
JKN. Praktik-praktik calo yang merugikan menunjukkan sosialisasi kepesertaan JKN terhadap
masyarakat sangat buruk.18
Pada penelitian retrospektif yang telah dilakukan di RSU Prof. Dr. R. D Kandou Manado
periode 1 Januari 2016-30 Juni 2016 ditemukan persalinan dengan menggunakan program JKN-
BPJS sebanyak 422 kasus dari 570 persalinan sehingga insidensi persalinan dengan
menggunakan program JKN-BPJS sebesar 74%. Hal ini menunjukkan bahwa program JKN-
BPJS mulai banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya para ibu hamil.6

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Persalinan


2.3.1. Usia
Usia mempengaruhi proses persalinan, dimana semakin tinggi usia seseorang maka akan
semakin beresiko dalam proses persalinan. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN), usia reproduktif yang sehat adalah 20-35 tahun, merupakan usia
yang paling tepat bagi wanita untuk mempunyai anak.7
Dari segi kesehatan ibu yang berusia < 20 tahun memiliki rahim dan panggul belum
berkembang dengan baik, begitu juga sebaliknya yang berusia > 35 tahun. Pada usia tersebut
10
kesehatan dan keadaan rahim tidak sebaik seperti saat ibu berusia 20-35 tahun. Umur ibu kurang
dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan umur yang tidak reproduktif. 24
Dari hasil penelitian Elisa, sebagian besar ibu berumur 20-35 tahun sebanyak 31
responden atau 75,6%. Pada umur ini merupakan umur yang baik untuk terjadinya kehamilan
dan persalinan karena organ reproduksi telah siap untuk menerima terjadinya kehamilan dan
persalinan, selain kematangan psikis dan emosional untuk menghadapi kehamilan. Umur 20-35
tahun merupakan umur reproduksi sehat.26
Dalam beberapa tahun terakhir, pasangan di negara-negara industri memilih untuk
menunda perkawinan dan melahirkan anak.27 Di negara maju seperti Finlandia, pada tahun 1997,
8,3% ibu yang baru pertama kali hamil berusia di atas 35 tahun. Pada tahun 2007, ini meningkat
menjadi 10,4%. Situasi ini sangat sebanding dengan Swedia, dimana pada tahun 2007, 10% ibu
yang baru pertama hamil berusia 35 tahun atau lebih tua.28
Di zaman sekarang ini, makin banyak perempuan yang berbahagia ketika mengetahui
mereka hamil pada usia 30-40 tahunan. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena semakin
berkembangnya bidang pendidikan dan lapangan pekerjaan bagi kaum perempuan sehingga lebih
banyak perempuan yang terlambat menikah bahkan menunda untuk mempunyai anak sampai
mencapai karier mereka atau hubungan mereka terbina dengan kuat. Pendidikan dan pendapatan
merupakan kunci penentu kesehatan.29,30
Ada implikasi kesehatan positif untuk perempuan yang memiliki pendidikan dan
pendapatan lebih tinggi, dimana mereka mungkin memiliki lebih banyak kemampuan untuk
mendukung pertumbuhan (kebutuhan hidup) keluarga terutama anak -anak mereka.30
Dilihat dari kondisi psikologis dan mentalnya, perempuan usia 30-an lebih siap menjadi
seorang ibu. Namun ada pula beberapa tantangannya terkait dengan kondisi kesehatan yang
menurun, kualitas sel telur pun akan menurun sehingga dapat meningkatkan risiko keguguran,
serta kelainan/cacat bawaan pada janin akibat kelainan kromosom. Faktor-faktor inilah yang
menyebabkan persalinan di usia 30-an cenderung lebih sering dilakukan melalui operasi caesar.30
Angka kematian perinatal pada tahun 2011 adalah sebanyak 64 kasus (15,97%) yang
terdiri dari 48 kasus lahir mati dan 16 kasus kematian neonatal dini (KND). Usia ibu > 35 tahun
berpengaruh terhadap kejadian kematian perinatal. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa kehamilan diatas 35 tahun merupakan salah satu faktor risiko kematian perinatal karena
11
kehamilan pada usia > 35 tahun lebih memungkinkan terjadinya keguguran. Penelitian-penelitian
sebelumnya juga memperlihatkan risiko untuk terjadi kematian neonatal pada ibu yang berusia
<20 tahun atau > 35 tahun, 1,5 kali lebih besar daripada ibu yang berusia 20-34 tahun.30
Pada umur yang relatif muda kurangnya pengalaman pada seseorang untuk mendapatkan
informasi. Hal ini sesuai dengan Istiarti, yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi
pengetahuan diantaranya adalah paparan media massa dan pengalaman. Umur merupakan salah
satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang secara psikis dan sosial, sehingga
membuat seseorang mampu lebih baik dalam merespon informasi yang diperoleh. Hal ini akan
berpengaruh terhadap daya tangkap seseorang dalam mencerna informasi yang diperolehnya,
sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.26

2.3.2. Pengetahuan
Dari hasil penelitian Elisa, terhadap 41 ibu yang periksa di wilayah Puskesmas Ungaran
Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang III, mayoritas responden memiliki tingkat
pengetahuan yang cukup yaitu 22 responden (53,7%), dengan adanya pengetahuan cukup,
diharapkan informasi tentang kesehatan dan informasi umum dapat lebih mudah diterima.
Azwar, mengemukakan pengetahuan adalah kebiasaan, keahlian atau kepakaran, ketrampilan,
pemahaman atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman, latihan atau melalui proses belajar.
Menurut Sukmadinata, pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
pendidikan, paparan media massa, hubungan sosial dan pengalaman.26
Pengetahuan merupakan pedoman yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. Dengan meningkatnya pendidikan dan informasi yang diperoleh maka akan
meningkatkan pengetahuan dan akan menimbulkan sikap atau perilaku yang positif .26
Menurut penelitian Elisa, sebagian besar ibu (65.9%) berpendidikan menengah dan dari
tingkat pengetahuan didapatkan sebagian besar tingkat pengetahuan ibu cukup (53,7%). Hal ini
membuktikan bahwa pendidikan mempengaruhi pengetahuan karena tingkat pendidikan
seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon yang datang dari luar. Orang yang
berpendidikan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang mungkin mereka peroleh dari
gagasan tersebut. Pada ibu yang baru pertama kali hamil, pendidikan, tentu akan banyak
memberikan perubahan terhadap apa yang mereka lakukan di masa lalu.26
12
Rendahnya tingkat pendidikan mempengaruhi kualitas kesehatan karena minimnya
pengetahuan. Menurut Notoatmodjo, sikap dan tindakan seseorang yang didasari oleh pendidikan
akan langgeng. Tingkat pendidikan ibu akan menentukan sikap dan tindakannya dalam
menghadapi berbagai masalah khususnya masalah kesehatan. Ibu yang berpendidikan tinggi
semakin mudah menyerap informasi sehingga memiliki persepsi yang lebih baik dibandingkan
dengan yang berpendidikan menengah atau dasar. Ibu yang berpendidikan tinggi tentu akan lebih
banyak memberikan respon karena ada anggapan hal yang baru akan memberikan perubahan.26
Sumber informasi sebagai salah satu faktor penting untuk meningkatkan pengetahuan
yang bisa didapatkan dari berbagai sumber media, baik media cetak, elektronik maupun orang-
orang terdekat. Dalam penelitian Karjono, mengungkapkan bahwa semakin banyak sumber
informasi yang diterima oleh ibu hamil seperti media masa, media elektronik, orang-orang
penting maka semakin banyak juga pengetahuan yang dimiliki.31
Menurut penelitian Ahmad, pengetahuan memegang peranan mengenai pemilihan
persalinan. Pengetahuan akan menjelaskan mengenai persalinan yang dialami perempuan, baik
operasi caesar dan persalinan pervaginam. Proporsi terbesar berasal dari kelompok yang hanya
memiliki sedikit informasi dan hanya bisa menggambarkan perbedaan kedua metode tersebut.
Sedangkan proporsi terendah adalah perempuan yang memiliki informasi lengkap dalam hal ini
terkait dengan bagaimana proses persalinan itu, dapat menggambarkan perawatan rutin setelah
melahirkan setiap kali ia bersalin. Namun demikian proporsi peserta yang memiliki informasi
lengkap lebih besar pada wanita yang melahirkan secara pervaginam.13
Di sisi lain, penelitian Ahmad, menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang metode
persalinan kurang baik. Peserta penelitian ini hanya memiliki sedikit informasi tentang metode
penyampaian dan konsekuensinya. Informasi yang rendah ini mengarah pada lebih banyak
pengaruh rekomendasi dokter dan orang lain. Pengetahuan adalah salah satu faktor yang
berpengaruh dalam perilaku pencarian kesehatan, seperti keputusan terkait kesehatan lainnya,
dipengaruhi oleh pengetahuan individu13. Anderson menyatakan bahwa untuk mengurangi
tingkat operasi caesar yang tidak perlu dan untuk meningkatkan persalinan pervaginam,
penyampaian informasi dan pengetahuan perempuan harus ditingkatkan. Graham dkk, dalam
penelitian lain, melaporkan bahwa pengetahuan ibu tentang metode persalinan terbatas dan

13
kebutuhan informasinya berbeda. Namun informasi tersebut harus diberikan kepada mereka oleh
petugas layanan kesehatan.13
Dengan demikian, Ahmad merekomendasikan agar membuat rencana yang efektif untuk
meningkatkan pendidikan ibu hamil oleh penyedia layanan kesehatan kemudian
diimplementasikan dan dipantau untuk meningkatkan pemahaman. Faktor lain yang berpengaruh
yang diteliti dalam penelitian ini adalah perspektif perempuan yang baru pertama hamil yang
menandakan mengenai kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk memahami lebih lanjut
mengenai metode persalinan.13
Hasil dari penelitian Fatemeh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara perempuan yang merencanakan untuk persalinan normal dan persalinan operasi caesar
jika dilihat dari pengetahuannya tentang persalinan. Dapat ditunjukkan bahwa kelompok operasi
caesar memiliki pengetahuan lebih dibandingkan kelompok persalinan normal. Hal-hal seperti
keuntungan dari persalinan normal dan resiko dari persalinan operasi caesar tidak memiliki
pengaruh pada perempuan yang memilih metode persalinan mereka. Namun alasan itu harus
diinvestigasi lebih lanjut pada penelitian lainnya.32

2.3.3. Penghasilan
Hasil penelitian Fatemeh menyatakan bahwa perempuan dengan keluarga yang
penghasilannya lebih tinggi lebih tinggi akan cenderung memilih persalinan operasi caesar.
Untuk menjelaskan ini, Lazarus menjelaskan bahwa perbedaan sosioekonomi akan menyebabkan
perbedaan pilihan. Perempuan yang lebih miskin biasanya tidak bekerja, kurang pendidikan dan
seringnya tidak mempunyai pilihan untuk persalinan anak mereka, sedangkan perempuan dengan
penghasilan tinggi akan lebih proaktif untuk proses persalinan dan lebih mempunyai peran. Di
Iran, persalinan normal di rumah sakit umum saat ini gratis dan ini menyebabkan kenapa
permpuan dengan penghasilan rendah memilih untuk persalinan normal.32

14
2.3.4. Pekerjaan
Menurut Kasdu, para ibu khususnya di kota-kota besar banyak yang bekerja dan mereka
sangat terikat dengan waktu serta sudah memiliki jadwal tertentu kapan mereka harus kembali
bekerja sehingga penelitian Intan menyatakan karena hal tersebut persalinan caesar cenderung
dipilih.6
Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Intan di RSU Bunda Thamrin Medan, bahwa
pekerjaan merupakan salah satu alasan yang mendasari pemilihan jenis persalinan. Sedangkan
dari hasil penelitian Sarmana didapatkan bahwa tidak ditemukan adanya hubungan pada
pemilihan persalinan karena pekerjaan.6
Faktor sosial seperti tingkat pendidikan dan adanya status pekerjaan merupakan faktor
yang mempunyai hubungan untuk memilih operasi caesar untuk melahirkan. Dari analisa Tati
Suryati, gambaran ibu yang dioperasi caesar mayoritas bertempat tinggal di kota, dengan tingkat
pendidikan ibu mayoritas lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan hampir
setengahnya adalah penduduk miskin dan mayoritas bekerja merangkap sebagai kepala keluarga
di sektor informal (petani/buruh/tidak bekerja). Sedangkan pada analisa data Riskesdas 2013 ini
diketahui bahwa ibu yang memiliki peluang untuk bersalin secara operasi caesar adalah ibu yang
bertempat tinggal di kota, dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu lulusan Diploma 3
(D3) /Perguruan Tinggi, secara status ekonomi berada pada kepemilikan ekonomi kelas atas dan
bekerja pada sector formal sebagai pegawai swasta.33
Dari hasil penelitian Elisa, didapatkan sebagian besar ibu bekerja (65,9%), dan (34,1%)
adalah tidak bekerja. Menurut Sukmadinata, manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam
kehidupan individu satu saling berinteraksi dengan individu yang lain dan dapat berinteraksi
secara batinnya sehingga terpapar informasi. Melalui pekerjaan dan rutinitas seseorang akan
berinteraksi dengan orang lain dan terpapar informasi. Berbeda halnya dengan ibu yang tidak
bekerja. Kemungkinan besar ibu yang tidak bekerja mendapat informasi yang minimal karena
kurang berinteraksi dengan orang lain.26

2.3.5. Pengalaman Persalinan Sebelumnya


Menurut Kasdu banyak ibu yang beranggapan salah bahwa dengan operasi, akan
membuat ibu tidak mengalami rasa sakit seperti halnya pada persalinan alami. Hal ini terjadi
15
karena kekhawatiran atau kecemasan menghadapi rasa sakit yang akan terjadi pada persalinan
alami. Akibatnya untuk menghilangkan itu semua mereka berpikir untuk melahirkan dengan cara
operasi. Hal inilah yang membuat pengalaman persalinan sebelumnya dapat dijadikan
pertimbangan dalam pemilihan persalinan.6
Meskipun pengalaman sebelumnya mengatakan bahwa jika seseorang yang telah
mengalami operasi caesar sebelumnya akan pasti akan mengalami operasi tersebut kembali.
Tetapi rasa aman dari hubungan dokter dan ibu yang tampaknya bertanggung jawab untuk
pemilihan kelahiran caesar berulang. Di Jerman, alasan ini meliputi 24% dari semua ibu yang
telah menjalani operasi caesar.25
Salah satu penulis menyimpulkan bahwa persalinan pervaginam yang telah diikuti
riwayat persalinan dengan operasi caesar sebelumnya, memiliki hasil yang serius. Tentu,
beberapa tahun terakhir ini, telah terlihat adanya peningkatan pada ibu yang mengekspresikan
keinginannya untuk kelahiran dengan operasi caesar. Menariknya, data yang dikumpulkan dari
beberapa institusi (tujuh rumah sakit di British Columbia, Kanada dan rumah sakit perawatan
maksimal di Swiss menunjukkan tingkat yang sangat rendah pada operasi caesar (0,4%) yang
dilakukan atas permintaan ibu.25
Dalam studi lain mengatakan bahwa mereka yang mengalami operasi caesar akan lebih
menyukai metode yang sama. Berbeda dengan penelitian oleh Sema didapatkan bahwa 23,8%
dari 259 wanita dengan pesalinan normal pervaginam bertekad untuk lebih memilih operasi
caesar setelah persalinan pertama, dan hanya 5 dari 25 wanita dengan operasi caesar merubah
pikirannya untuk memilih persalinan normal.34
Pengalaman sebelumnya berkaitan dengan bagaimana partisipan melihat dari
pengalamannya sendiri atau pengalaman orang lain untuk memilih metode persalinan anak.
Semua perempuan yang sudah melahirkan percaya bahwa persalinan normal lebih aman untuk
bayi mereka dan mereka lebih memilih jenis persalinan ini untuk kehamilan yang sedang
berlangsung.35

16
2.4 Kerangka Teori

17
2.5 Kerangka Konsep

18
Bab III

Metodologi Penelitian

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional mengenai status
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), usia, pengetahuan, penghasilan, pekerjaan, dan
pengalaman persalinan sebelumnya yang berhubungan dengan pemilihan persalinan pada
ibu yang melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Oktober 2017.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa bulan Oktober 2017.

3.3 Sumber Data


Berupa data primer yang diambil dengan kuesioner.

3.4 Populasi
3.4.1 Populasi Target
Semua ibu yang telah melahirkan minimal dua kali
3.4.2 Populasi Terjangkau
Semua ibu yang telah melahirkan minimal dua yang datang ke Puskesmas Kelurahan Duri
Kepa pada bulan Oktober 2017.

3.5 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.5.1 Kriteria Inklusi
Ibu yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Duri Kepa.
Ibu yang telah minimal dua kali bersalin baik normal ataupun operasi caesar
Ibu yang melahirkan anak terakhirnya antara tahun 2014-2017
Ibu tersebut bersedia menjadi responden.
3.5.2 Kriteria Eksklusi
Ibu yang mengundurkan diri sebagai responden

19
3.6. Sampel Penelitian
Sampel yang diambil adalah semua Ibu yang telah melahirkan pada era JKN, yang
bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Duri Kepa, yang datang ke
Puskesmas Duri Kepa bulan Oktober 2017.

3.6.1 Besar sampel


Sampel adalah bagian dari populasi yang ingin diteliti. Penelitian dilakukan terhadap
semua ibu yang telah melahirkan pada era JKN di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa, yang
berkunjung pada bulan Oktober 2017 dan memenuhi kriteria inklusi dari penelitian. Besar
sampel minimal :
N1 = ( Z) 2. p.q
L2
N2 = N1 + (10% x N1 )

Keterangan :
N1 : jumlah sampel minimal
N2 : jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen subjek
penelitian yang mungkin keluar atau drop out)
Z : nilai konversi pada tabel kurva normal, dengan nilai = 5% didapatkan Z pada
kurva normal = 1,96
p : Proporsi variabel yang ingin diteliti
q :1-p
L : Derajat kesalahan yang masih diterima adalah 10%

20
Tabel 1. Berdasarkan rumus diatas, disajikan proporsi beberapa penelitian
Peneliti Variabel p q N1

Arya (2016) Status Jaminan 0.74 0,26 73,91


Kesehatan Nasional

Arya (2016) Usia 0,682 0,318 83,31

Melfayetty (2010) Pengetahuan 0,504 0,496 96,03

Lynn M (2014) Penghasilan 0,459 0,541 95,39

Lynn M (2014) Pekerjaan 0,586 0,414 93,19

S.G. Choobmasjedi (2012) Pengalaman 0,447 0,5553 94,96


Persalinan
Sebelumnya

Sehingga didapatkan hasil:


N1 = ( 1,96) 2. 0,504 .0,496
(0,1)2
N1 = 96,03
Untuk menjaga kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out, maka dihitung:
N2 = N1 + (10% x N1 )
N2 = 96 + (10%x96) = 105,6 dibulatkan menjadi 106 sampel
Jadi, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 106 orang.

3.6.2 Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik non
probability, consecutive sampling. Ibu yang datang membawa anak ke Poliklinik Umum,
Imunisasi, dan MTBS Puskesmas Kelurahan Duri Kepa, yang memenuhi kriteria inklusi
dimasukkan dalam penelitian berdasarkan urutan datang ke Puskesmas sampai jumlah
subjek terpenuhi pada bulan Oktober 2017.
21
3.7 Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan variabel independen (bebas) dan variabel dependen
(terikat).
3.7.1 Variabel Independen
Status Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Usia, Pengetahuan, Penghasilan, Pekerjaan,
Pengalaman Persalinan Sebelumnya
3.7.2 Variabel dependen
Pemilihan Persalinan
3.8 Cara Kerja
Mengumpulkan bahan ilmiah dari jurnal, konsensus, dan textbook serta merencanakan
desain penelitian.
Membuat kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data.
Melakukan uji coba kuesioner pada Ibu yang melahirkan pada era JKN dan
mengunjungi Puskesmas Kelurahan Duri Kepa.
Melakukan koreksi kuesioner.
Menentukan jumlah sampel minimal yaitu 106 orang responden dari Ibu yang
membawa anak datang ke Poliklinik Umum, Imunisasi, dan MTBS pada tanggal
16 Oktober 2017 hingga 21 Oktober 2017.
Menghubungi Kepala Puskesmas Kelurahan Duri Kepa, Jakarta Barat yang
menjadi daerah penelitian untuk melaporkan tujuan diadakan penelitian tersebut
dan meminta izin untuk melakukan penelitian.
Melakukan pengumpulan data primer yang didapatkan melalui pengisian
kuesioner.
Melakukan editing, koding, dan tabulasi terhadap data primer milik responden
yang sudah dikumpulkan.
Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data.
Penulisan laporan penelitian.
Pelaporan penelitian.

22
3.9 Definisi Operasional
3.9.1 Subjek Penelitian
Semua ibu yang melahirkan pada era JKN yang datang ke Puskesmas Kelurahan Duri
Kepa tanggal 16 Oktober 2017 hingga 21 Oktober 2017 dan memenuhi kriteria inklusi.
3.9.2 Pemilihan Persalinan
Definisi:
Suatu penetapan pilihan persalinan oleh ibu yang akan melahirkan normal atau operasi
caesar
Alat Ukur : Kuesioner
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan mengenai pilihan jenis persalinan yang
diharapkan sebelumnya
Hasil Ukur : Persalinan normal atau operasi Caesar
Skala Ukur : Nominal
Koding :
Kategori Koding
Persalinan Normal 1
Operasi Caesar 2

3.9.3 Status Jaminan Kesehatan Nasional


Definisi :

Program pelayanan kesehatan terbaru yang sistemnya menggunakan sistem asuransi.


Artinya, seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya
untuk jaminan kesehatan di masa depan.
Alat Ukur : Kartu Jaminan Sosial
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan mengenai apakah dirinya memiliki
Jaminan Kesehatan Nasional atau tidak
Hasil ukur : Memiliki JKN atau tidak memiliki JKN
Skala Ukur : Nominal

23
Koding :
Kategori Koding
Memiliki JKN 1
Tidak memiliki JKN 2

3.9.4 Usia
Definisi : Lama hidup seorang ibu sejak dilahirkan sampai tanggal ibu dinyatakan
hamil pada era JKN yaitu tahun 2014.
Alat Ukur : Kartu Tanda Penduduk.
Cara Ukur : Mengurangi tanggal pengisian kuisioner dengan tanggal lahir ibu
menurut KTP
Hasil Ukur : kurang dari 20 tahun, antara 20 tahun sampai dengan 35 tahun, lebih dari
35 tahun
Skala Ukur : Ordinal
Koding :
Kategori Koding
< 20 tahun 1
> 20- 35 tahun 2
> 35 tahun 3

3.9.5 Pengetahuan
Definisi :
Hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek.
Pengetahuan mengenai faktor risiko apa saja yang membutuhkan persalinan tindakan.
Alat Ukur : Kuisioner
Cara Ukur : kuesioner dengan alternatif jawaban. Setiap pilihan jawaban benar
memiliki skor 2 sedangkan pilihan yang tidak benar mendapatkan skor 1. Responden
tidak diperkenankan memilih lebih dari 1 jawaban.
Hasil ukur : Kurang (jika dari skor 10-15), cukup (jika skor 16-17), baik (jika skor
18-20)
24
Skala Ukur : Ordinal
Skor tertinggi : 20
Skor terendah : 10
Interval : Skor tertinggi - skor terendah
: 20-10
: 10
Nilai tinggi : 80% x interval + skor terendah
: 80% x 10 + 10
: 18
Kategori skor baik : 18-20
Nilai cukup : 60% x interval + skor terendah
: 60% x 10 + 10
: 16
Kategori skor cukup : 16-17
Kategori skor rendah : 10-15

Pengetahuan
Berikan tanda silang pada jawaban yang ibu anggap benar!
1. Menurut ibu, umur kehamilan berapakah yang dikatakan baik untuk persalinan normal?
a) Umur kehamilan kurang dari 37 minggu (1)
b) Umur kehamilan antara 37 minggu sampai dengan 42 minggu (2)
c) Umur kehamilan lebih dari 42 minggu (1)
2. Menurut ibu, usia berapakah yang baik untuk melahirkan normal?
a) Kurang dari 20 tahun (1)
b) Antara 20 tahun sampai dengan 35 tahun (2)
c) Lebih dari 35 tahun (1)
3. Ada berapa jenis persalinan yang ibu ketahui?
a) Normal (1)
b) Operasi (Operasi Caesar) (1)
c) Normal dan Operasi (Operasi Caesar) (2)
25
4. Menurut ibu, pilihan persalinan yang tepat pada ibu yang mengandung anak kembar?
a) Normal (1)
b) Operasi (Operasi Caesar) (1)
c) Normal dan Operasi (Operasi Caesar) (2)
5. Pilihan persalinan apakah yang tepat pada ibu yang tidak kuat mengejan, menurut ibu?
a) Normal (1)
b) Operasi (Operasi Caesar) (2)
c) Normal dan Operasi (Operasi Caesar) (1)
6. Menurut ibu, pilihan persalinan yang tepat pada ibu yang mengalami ari-ari yang
menutupi jalan lahir?
d) Normal (1)
e) Operasi (Operasi Caesar) (2)
f) Normal dan Operasi (Operasi Caesar) (1)
7. Menurut ibu, jenis persalinan apa saja yang dijamin oleh Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN)?
a) Normal (1)
b) Operasi (Operasi Caesar) (1)
c) Normal dan Operasi (Operasi Caesar) (2)
8. Berapakah jumlah anak maksimal yang ditanggung oleh program Jaminan Kesehatan
Nasional (JKN)?
a) Dua (1)
b) Tiga (2)
c) Empat (1)
9. Pada ibu yang bersalin tanpa adanya penyulit, menggunakan Jaminan Kesehatan
Nasional seperti BPJS kesehatan, kepada siapakah klaim pembayaran dilakukan?
a) Seluruh rumah sakit terdekat (1)
b) Seluruh klinik bersalin terdekat (1)
c) Rumah sakit atau klinik yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan tempat ibu
bersalin (2)

26
10. Layanan pada ibu hamil seperti apakah yang dapat ditanggung oleh Jaminan Kesehatan
Nasional seperti BPJS kesehatan, menurut ibu?
a) Layanan pemeriksaan Ultrasound Sonography (USG) atas adanya penyulit kehamilan,
layanan Keluarga Berencana (KB), persalinan caesar dan normal (2)
b) Layanan pemeriksaan Ultrasound Sonography (USG) tanpa adanya penyulit kehamilan,
layanan Keluarga Berencana (KB), dan persalinan caesar atas keinginan ibu (1)
c) Layanan pemeriksaan Ultrasound Sonography (USG) tanpa adanya penyulit kehamilan,
persalinan caesar atas keinginan ibu (1)

Koding:
Kategorik Koding
Rendah 1
Cukup 2
Tinggi 3

3.9.6 Penghasilan
Definisi :
Pendapatan seseorang per bulan yang didapat baik dari pemberian keluarga maupun
dari hasil kerja sendiri dengan standar pendapatan perkapita masyarakat
Indonesia/bulan. Perekonomian Indonesia tahun 2016 yang diukur berdasarkan Produk
Domestik Bruto (PDB) perkapita mencapai Rp 47,96 juta atau US$3.605,1.39
Tingkat pendapatan dikatakan rendah jika lebih kecil dari pendapatan perkapita/bulan.
Tingkat pendapatan dikatakan tinggi jika lebih besar atau sama dengan pendapatan
perkapita/bulan. Pendapatan yang dimaksud merupakan pendapatan keluarga ketika ibu
hamil sampai persalinan anak terakhir.
Alat Ukur : Kuesioner
Cara Ukur :Responden menjawab pertanyaan mengenai tingkat pendapatan
keluarganya kurang dari Rp 4.146.666,00 atau lebih dari sama dengan Rp 4.146.666,00
Hasil ukur : pendapatan keluarga kurang dari Rp 4.146.666,00 atau lebih dari sama
dengan Rp 4.146.666,00
27
Skala Ukur : Nominal
Koding :
Kategori Koding
Kurang dari Rp. 4.1466.667 1
Lebih dari sama dengan Rp. 4.146.667 2

3.9.7 Pekerjaan
Definisi :
Kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan
kehidupan keluarga, merupakan kegiatan yang menyita waktu serta dapat memberikan
pengalaman maupun pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pekerjaan yang dimaksud ialah ibu yang bekerja atau tidak bekerja ketika hamil anak
terakhirnya.
Alat Ukur : Kuisoner
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan mengenai apakah memiliki pekerjaan
atau tidak
Hasil Ukur : Tidak mempunyai pekerjaan, mempunyai pekerjaan
Skala Ukur : Nominal
Koding :
Kategorik Koding
Bekerja 1
Tidak Bekerja 2

3.9.8 Pengalaman Persalinan Sebelumnya


Definisi :
Sesuatu yang pernah dialami (dijalani, dirasai, ditanggung), memori yang menerima dan
menyimpan peristiwa yang terjadi atau dialami individu pada waktu dan tempat tertentu,
yang berfungsi sebagai referensi otobiografi. Pengalaman persalinan yang dimaksud ialah
pengalaman persalinan yang dialami ibu sebelum persalinan terakhir.
Alat Ukur : Kuesioner
28
Cara Ukur : Responden menjawab pertanyaan mengenai jenis persalinan sebelumnya
Hasil ukur : Persalinan normal, operasi caesar
Skala Ukur : Nominal
Koding :
Kategorik Koding
Persalinan Normal 1
Persalinan Caesar 2

3.10 Manajemen Data dan Analisis Data


3.10.1 Pengumpulan Data
Data primer diperoleh dari kuesioner Hubungan Antara Pemilihan Persalinan dengan
Status Jaminan Kesehatan Nasional dan Faktor-faktor Lainnya di Puskesmas Kelurahan
Duri Kepa Oktober 2017 tanggal 16 Oktober 2017 sampai 21 Oktober 2017
3..10.2 Pengolahan Data
Data-data yang telah dikumpulkan diolah melalui proses editing, verifikasi dan coding,
kemudian data diolah dengan menggunakan program komputer yaitu program SPSS 16
yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh.
Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau selelah data terkumpul.
2. Coding
Coding merupakan catatan untuk memberikan kode numerik (angka) terhadap data
yang terdiri dari beberapa kategori.
3. Entri Data
Entri data merupakan kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam
master table atau data base komputer, kemudian membuat distribusi frekuensi
sederhana.
3.10.3 Penyajian Data
Data primer dari kuesioner yang didapat disajikan secara tekstular, grafikal, dan tabular.

29
3.10.4 Analisis Data
Data yang telah diolah, disajikan, dianalisis program SPSS v.16. Terhadap data yang
telah diolah dilakukan analisis data sesuai dengan cara uji statistik menggunakan uji Chi-
square.
a. Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk melihat sebaran pada variabel dependen dan
independen.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependen dan
independen. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji chi-square dengan
tingkat kemaknaan ()=0,05 yang digunakan untuk menguji 2 variabel yang disusun
dalam tabel b x k (b = baris, k = kolom).
Karena rancangan penelitian ini adalah studi cross-sectional, untuk membuktikan
hubungan antara variabel independen dan variabel maka akan dilakukan analisis data
dengan menggunankan chi-square. Pada tes ini, jika hasil p <0.05, maka Ho ditolak yang
berarti ada hubungan dan jika p >0.05, maka Ho diterima yang berarti tidak ada
hubungan.
3.10.5 Interpretasi Data
Data diinterpretasi secara analitik antar variabel-variabel yang telah ditentukan.
3.10.6 Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan
dihadapan staf pengajar Program Pendidikan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana pada bulan Oktober 2017 dalam Forum
Pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana.

30
Bab IV
Hasil Penelitian

Proses pengumpulan data yang dilakukan pada bulan Oktober didapatkan sampel
sebanyak 106 ibu yang melahirkan pada era JKN tahun 2014 sampai 2017 di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat bulan Oktober 2017. Berikut adalah hasil
penelitian yang disajikan dalam tabel sebagai berikut:

4.1. Analisis Univariat


Tabel 4.1. Sebaran Pemilihan Persalinan pada Ibu yang Melahirkan di Puskesmas Kelurahan
Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017
Variabel Frekuensi Persentase (%)
Pemilihan Persalinan
Persalinan Normal 60 56,6
Persalinan Caesar 46 43,4
Jumlah 106 100

Tabel 4.2. Sebaran Jaminan Kesehatan Nasional, Usia, Pengetahuan, Penghasilan, Pekerjaan dan
Pengalaman Persalinan Sebelumnya pada Ibu yang Melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri
Kepa Jakarta Barat Oktober 2017

Variabel Frekuensi Persentase (%)


Status JKN
Memiliki jaminan 67 63,2
Tidak memiliki jaminan 39 36,8
Usia
<20 tahun 30 28,3
20-35 tahun 35 33,0
>35 tahun 41 38,7

31
Pengetahuan
Rendah 39 36,8
Cukup 17 16,0
Tinggi 50 47,2
Penghasilan
< Rp 4.146.667,00 84 79,2
> Rp 4.146.667,00 22 20,8
Pekerjaan
Bekerja 27 25,5
Tidak bekerja 79 74,5
Pengalaman bersalin
Persalinan normal 54 50,9
Persalinan caesarea 52 49,1

4.2 Analisis Bivariat


Tabel 4.3. Hubungan antara Pemilihan Persalinan dengan Jaminan Kesehatan Nasional, Usia,
Pengetahuan, Penghasilan, Pekerjaan dan Pengalaman Persalinan Sebelumnya pada Ibu yang
Melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017

Variabel Pemilihan persalinan Total Uji P Value Hipotesis 0 (Ho)


Persalinan Persalinan
normal Caesar
Jaminan Kesehatan Nasional
Memiliki jaminan 35 32 67 Chi-Square 0,324 Ho diterima
Tidak memiliki jaminan 25 14 39
Usia
<20 tahun 27 3 30
20 tahun-35 tahun 23 12 35 Chi-Square 0,000 Ho ditolak
> 35 tahun 10 31 41
Pengetahuan
Rendah 28 11 39
Cukup 13 4 17 Chi-Square 0,001 Ho ditolak
Tinggi 19 31 50
Penghasilan
< Rp 4.146.667 53 31 84 Chi-Square 0,017 Ho ditolak
> Rp 4.146.667 7 15 22
Pekerjaan
Bekerja 16 11 27 Chi-Square 0,922 Ho diterima
Tidak bekerja 44 35 79
Pengalaman Bersalin
Persalinan normal 38 16 54 Chi-Square 0,007 Ho ditolak
Persalinan Caesar 22 30 52

32
Bab V
Pembahasan
5.1 Analisa Univariat Distribusi Pemilihan Persalinan pada Ibu yang Melahirkan di
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017
Berdasarkan tabel penelitian 4.1, didapatkan bahwa pemilih persalinan normal sebanyak
60 subjek dengan persentase 56,6%, dan pemilih persalinan caesar sebanyak 46 subjek dengan
persentase 43,4%. Dari data ini menunjukkan bahwa subjek pemilih persalinan normal lebih
banyak dibandingkan dengan pemilih persalinan operasi caesar. Hal ini sesuai bahkan melebihi
tinjauan sistematik dari WHO, dan komunitas kesehatan internasional disebutkan bahwa angka
operasi caesar mencapai 10-15% pada tingkat populasi.1
Sedangkan persalinan caesar sendiri yang memiliki persentase 43,4% sesuai dengan
penelitian Marice diketahui proporsi persalinan caesar yang terjadi di dua Rumah Sakit di Jakarta
yaitu Rumah Sakit Umum (RSU) dan Rumah Sakit Swasta selama periode 1 Januari sampai
dengan 31 Desember 2011 sebesar 57,3% (55,9% di RSU dan 59,9% di RS Swasta).5 Dengan
demikian data pemilihan persalinan tersebut sesuai dengan penelitian yang ada sebelumnya.

5.2 Analisa Univariat Distribusi Status Jaminan Kesehatan Nasional, Usia, Pengetahuan,
Penghasilan, Pekerjaan dan Pengalaman Persalinan Sebelumnya pada Ibu yang
Melahirkan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017
Status JKN
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 67 subjek memiliki JKN
dengan persentase 63,2%, dan 39 subjek tidak memiliki JKN dengan persentase 36,8%. Dari data
tersebut menunjukkan bahwa jumlah subjek yang memiliki JKN lebih banyak dibandingkan
dengan subjek yang tidak memiliki JKN di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat
Oktober 2017.

Usia
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 30 subjek yang berusia <20
tahun dengan persentase 28,3 %, 35 subjek berusia 20-35 tahun dengan persentase 33,0%, dan 41
subjek yang berusia > 35 tahun dengan persentase 38,7%. Dari data tersebut menunjukkan
33
bahwa jumlah subjek yang berusia >35 tahun lebih banyak daripada usia < 20 tahun serta antara
20-35 tahun di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017.

Pengetahuan
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 39 subjek yang memiliki
pengetahuan rendah tentang risiko persalinan dengan persentase 36,8%, 17 subjek yang memiliki
pengetahuan cukup dengan persentase 16,0 %, dan 50 subjek yang memiliki pengetahuan tinggi
dengan persentase 47,2%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa jumlah subjek memiliki
pengetahuan kategori tinggi lebih banyak dibandingkan dengan pengetahuan rendah dan cukup
di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017.

Penghasilan
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 84 subjek yang memiliki
penghasilan keluarga kurang dari Rp 4.146.667,00 dengan persentase 79,2%, 22 subjek yang
memiliki penghasilan lebih dari sama dengan Rp 4.146.667,00 dengan persentase 20,8%. Dari
data tersebut menunjukkan bahwa jumlah subjek memiliki penghasilan kurang Rp 4.146.667,00
lebih banyak dibandingkan dengan penghasilan lebih dari sama dengan Rp 4.146.667,00 di
Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017.

Pekerjaan
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 27 subjek yang bekerja
dengan persentase 25,5%, dan 79 subjek yang tidak bekerja dengan persentase 74,5%. Dari data
tersebut menunjukkan bahwa jumlah subjek yang tidak bekerja lebih banyak dibandingkan
dengan yang bekerja di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat Oktober 2017.

Pengalaman Persalinan
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, didapatkan bahwa sebanyak 54 subjek yang memiliki
pengalaman persalinan normal dengan persentase 50,9%, dan 52 subjek yang memiliki
pengalaman persalinan caesar dengan persentase 49,1%. Dari data tersebut menunjukkan bahwa
jumlah subjek yang memiliki pengalaman persalinan normal lebih banyak dibandingkan dengan
34
yang memiliki pengalaman persalinan caesar di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat
Oktober 2017.

5.3 Analisa Bivariat Hubungan antara Jaminan Kesehatan Nasional dengan Pemilihan
Persalinan pada Ibu yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Duri Kepa
Jakarta Barat pada bulan Oktober 2017
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan SJSN yang diatur oleh Pemerintah
Republik Indonesia sejak 2014. JKN sendiri diatur oleh BPJS berdasarkan sistem asuransi sosial.
Prinsip yang digunakan adalah prinsip asuransi sosial yaitu mekanisme pengumpulan iuran
bersifat wajib bagi peserta untuk memberikan perlindungan kepada peserta atas resiko sosial
ekonomi yang menimpa mereka dan atau anggota keluarganya.16
Berdasarkan tabel penelitian 4.2, ibu yang memiliki Jaminan sebesar 67 orang dengan
persentase 63,2%. Berdasarkan tabel penelitian 4.3, didapati bahwa sebanyak 35 ibu mempunyai
jaminan memilih persalinan normal dengan persentase 52,2% lebih banyak dibandingkan ibu
yang memilih persalinan caesar sebanyak 32 ibu dengan persentase 47,8% sedangkan 25 ibu
yang tidak memiliki jaminan memilih untuk persalinan normal dengan persentase 64,1% lebih
banyak dibandingkan dengan 14 ibu yang memilih persalinan caesar dengan persentase 35,9%.
dari data kami, kami menemukan bahwa status JKN tidak berhubungan dengan pemilihan
persalinan. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic chi-square, p=0.324 (>0.05).
Berbeda dengan penelitian retrospektif di RSU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado bahwa
74% persalinan menggunakan JKN-BPJS persentase ibu yang memiliki jaminan lebih sedikit
pada penelitian ini. Pada jurnal tersebut tidak dicantumkan persalinan apa yang dimaksud hanya
angka ibu yang bersalin dengan JKN. Sehingga belum ada tercantum bahwa berapa persentase
pemilih yang mempunyai jaminan dan berapa yang tidak. Jika dibandingkan dengan jurnal yang
sudah ada, belum ada jurnal yang meneliti mengenai hubungan JKN dengan pemilihan
persalinan. Dengan demikian peneliti setuju dengan tidak ada hubungan antara status JKN
dengan pemilihan persalinan.

Dari hasil penelitian seharusnya dengan adanya aturan JKN tidak dapat operasi caesar
tanpa indikasi medis, angkat operasi caesar masih banyak yaitu 47,8%. Hal ini kemungkinan

35
disebabkan oleh populasi sampel yaitu ibu yang sudah melahirkan minimal 2 anak sehingga
hasilnya tidak sesuai angka caesar yang diharapkan. Dengan demikian peneliti setuju dengan
tidak ada hubungan antara status JKN dengan pemilihan persalinan.

5.4 Analisa Bivariat Hubungan antara Usia dengan Pemilihan Persalinan pada Ibu yang
Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Duri Kepa Jakarta Barat pada bulan Oktober
2017
Berdasarkan tabel 4.3 diatas didapatkan bahwa ibu yang berusia < 20 tahun sebanyak 27
subjek memilih persalinan normal dengan presentase 90%, dibandingkan yang memilih
persalinan caesar sebanyak 3 ibu dengan presentase 10%. Sebanyak 23 ibu yang berusia antara
20-35 tahun dengan presentase 65,7% memilih persalinan normal lebih banyak dibandingkan
persalinan caesar dengan subjek sebanyak 12 (34,3%). Sedangkan ibu yang berusia> 35 tahun
sebanyak 10 subjek dengan persentase 24,4% yang memilih persalinan normal lebih sedikit
dibandingkan dengan ibu yang memilih persalinan caesar sebanyak 31 subjek (75,6%). Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara usia dengan pemilihan persalinan. Hal ini dibuktikan
dengan uji statistik chi-square dengan hasil p=0,000 (p<0,05) yang berarti (Ho) ditolak bahwa
terdapat hubungan antara usia dengan pemilihan persalinan. Dengan demikian semakin tinggi
usia ibu akan lebih memilih persalinan caesar. Hasil penelitian ini diperkuat dengan salah satu
pernyataan yang didapatkan dari penelitian Novianti bahwa perempuan yang berusia >35 tahun
1,68 kali lebih cenderung untuk terjadinya persalinan caesar dibandingkan ibu yang melahirkan
antara usia 20-35 tahun.33
Dapat disimpulkan bahwa kejadian caesar meningkat seiring dengan peningkatan usia
yaitu lebih dari 35 tahun. Semakin meningkatnya usia akan menjadi salah satu faktor risko
dilakukan persalinan caesar. Ini dapat dijelaskan karena pada usia tersebut kesehatan dan
keadaan rahim tidak sebaik seperti saat ibu berusia 20-35 tahun. Oleh sebab itu maka
berdasarkan penelitian pada usia >35 tahun persentase ibu yang melahirkan dengan persalinan
caesar lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal.

36
5.5 Analisa Bivariat Hubungan antara Pengetahuan dengan Pemilihan Persalinan pada
Ibu yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Duri Kepa Jakarta Barat pada bulan
Oktober 2017
Berdasarkan table 4.3 diatas didapatkan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan rendah
mengenai risiko persalinan sebanyak 28 subjek memilih persalinan normal dengan presentase
71,8 %, dibandingkan yang memilih persalinan caesar sebanyak 11 ibu dengan presentase
28,2%. Sebanyak 13 ibu yang memiliki pengetahuan cukup dengan presentase 76,5% memilih
persalinan normal lebih banyak dibandingkan persalinan operasi caesar dengan subjek sebanyak
4 subjek (23,5%). Sedangkan ibu yang memiliki pengetahuan tinggi mengenai risiko persalinan
sebanyak 19 subjek dengan persentase 38,0 % yang memilih persalinan normal lebih sedikit
dibandingkan dengan ibu yang memilih persalinan caesar sebanyak 31 subjek (62,0%). Hal ini
menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan persalinan. Hal ini
dibuktikan dengan uji statistik chi-square dengan hasil p=0,001 (p<0,05) yang berarti (Ho)
ditolak bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan persalinan. Hasil
penelitian ini diperkuat oleh penelitian Fatemeh yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan pada 164 subjek (89,6%) dari 271 yang memiliki pengetahuan tinggi yang
memilih persalinan caesar jika dibandingkan dengan memilih persalinan normal yaitu 107
subjek (37,3%). Dapat ditunjukkan bahwa kelompok operasi caesar memiliki pengetahuan lebih
tinggi dibandingkan kelompok persalinan normal.
Dapat disimpulkan bahwa ibu dengan pengetahuan yang kurang akan cenderung memilih
persalinan normal. Ini disebabkan karena pengetahuan akan informasi akan mengarah pada lebih
banyak pengaruh rekomendasi dokter dan orang lain mengenai metode persalinan yang dipilih.
Sedangkan ibu yang memiliki pengetahuan yang tinggi akan memiliki persepsi yang lebih baik
mengenai metode persalinan yang dipilihnya terkait dengan bagaimana metode persalinan.

37
5.6 Analisa Bivariat Hubungan antara Penghasilan dengan Pemilihan Persalinan pada Ibu
yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Duri Kepa Jakarta Barat pada bulan
Oktober 2017

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, didapatkan bahwa 53 ibu yang memiliki penghasilan kurang
dari Rp 4.146.667 memilih persalinan normal dengan persentase 63,1% lebih banyak
dibandingkan yang memilih persalinan caesar sebanyak 31 ibu dengan persentase 36,9%.
Sedangkan sebanyak 15 ibu yang memiliki penghasilan lebih dari Rp 4.146.667 yang memilih
caesar dengan persentase 68,2% lebih banyak dibandingkan yang memilih persalinan normal
sebanyak 7 ibu dengan persentase 31,8%. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara
penghasilan dengan pemilihan persalinan. Hal ini dibuktikan dengan uji statistic chi-square
dengan hasil p=0.017 (<0.05) yang berarti (Ho) ditolak bahwa terdapat hubungan antara
penghasilan dengan pemilihan persalinan. Dengan demikian semakin tinggi penghasilan ibu akan
lebih memilih untuk persalinan caesar sedangkan pada ibu dengan penghasilan keluarga lebih
rendah akan lebih memilih untuk persalinan normal.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan salah satu pernyataan yang didapatkan dari jurnal
bahwa perempuan dengan keluarga yang penghasilannya lebih tinggi lebih tinggi akan
cenderung memilih persalinan caesar. Untuk menjelaskan ini, Lazarus menjelaskan bahwa
perbedaan sosioekonomi akan menyebabkan perbedaan pilihan. Perempuan yang lebih miskin
biasanya tidak mempunyai pilihan untuk persalinan anak mereka, sedangkan perempuan dengan
penghasilan tinggi akan lebih proaktif untuk proses persalinan.32
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa ibu yang mempunyai penghasilan tinggi lebih
cenderung untuk memilih persalinan caesar. Namun pada ibu yang mempunyai penghasilan
rendah juga mempunyai angka caesar yang melebihi standar. Hal ini kemungkinan terjadi karena
pada ibu dengan penghasilan rendah memiliki faktor resiko kehamilan lebih tinggi dibandingkan
ibu dengan penghasilan tinggi sehingga memerlukan persalinan caesar untuk persalinannya.
Dengan demikian peneliti setuju dengan literatur yaitu penghasilan seorang ibu dapat
mempengaruhi pemilihan persalinan.

38
5.7 Analisa Bivariat Hubungan antara Pekerjaan dengan Pemilihan Persalinan pada Ibu
yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Duri Kepa Jakarta Barat pada bulan
Oktober 2017

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, didapatkan bahwa 44 ibu yang tidak bekerja memilih
persalinan normal dengan persentase 55,7% lebih banyak dibandingkan yang memilih persalinan
caesar sebanyak 35 ibu dengan persentase 44,3%. Sedangkan sebanyak 16 ibu yang bekerja
memilih persalinan normal dengan persentase 59,3% lebih banyak dibandingkan yang memilih
persalinan caesar sebanyak 11 ibu dengan persentase 40,7%. Hal ini menunjukkan tidak adanya
hubungan antara pekerjaan dengan pemilihan persalinan. Hal ini dibuktikan dengan uji statistik
chi-square dengan hasil p = 0,922 (>0.05) yang berarti (Ho) diterima bahwa tidak terdapat
hubungan antara pekerjaan dengan pemilihan persalinan. Ada tidaknya pekerjaan pada ibu tidak
mempengaruhi pemilihan jenis persalinannya.
Hasil penelitian ini diperkuat dengan salah satu pernyataan yang didapatkan dari jurnal
penelitian Sarmana bahwa tidak ditemukan adanya alasan persalinan atas permintaan karena
pekerjaan. Antara ibu yang bekerja maupun tidak bekerja, tidak terdapat kecenderungan untuk
memilih jenis persalinan. Sedangkan hal ini bertentangan dengan penelitian menurut Kasdu,
adanya kecenderungan memilih persalinan caesar karena para ibu khususnya di kota-kota besar
banyak yang bekerja sehingga sangat terikat dengan waktu dan sudah memiliki jadwal tertentu
kapan mereka harus kembali bekerja.6
Dapat disimpulkan dari penelitian ini bahwa, tidak adanya hubungan antara pekerjaan
dengan pemilihan jenis persalinan. Ibu yang memiliki pekerjaan maupun tidak memiliki
pekerjaan tidak berpengaruh dalam pemilihan jenis persalinannya karena masih adanya peranan
suami dalam pengambilan keputusan.

39
5.8 Analisa Bivariat Hubungan antara Pengalaman Persalinan Sebelumnya dengan
Pemilihan Persalinan pada Ibu yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Duri Kepa
Jakarta Barat pada bulan Oktober 2017.

Berdasarkan tabel 4.3 diatas, didapatkan bahwa 38 ibu yang memiliki pengalaman
persalinan normal memilih persalinan normal dengan persentase 70,4% lebih banyak
dibandingkan yang memilih persalinan caesar sebanyak 16 ibu dengan persentase 29,6%.
Sedangkan sebanyak 30 ibu yang memiliki pengalaman persalinan caesar memilih caesar
kembali dengan persentase 57,7% lebih banyak dibandingkan yang memilih persalinan normal
sebanyak 22 ibu dengan persentase 42,3%. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara
pengalaman persalinan dengan pemilihan persalinan. Hal ini dibuktikan dengan uji statistik chi-
square dengan hasil p=0,007 (<0.05) yang berarti (Ho) ditolak bahwa terdapat hubungan antara
pengalaman persalinan dengan pemilihan persalinan. Dengan demikian, ibu akan memilih jenis
persalinan berikutnya sesuai dengan pengalaman persalinan sebelumnya.

Hasil penelitian ini diperkuat dengan salah satu pernyataan yang didapatkan dari jurnal
penelitian Yilmaz, bahwa ibu yang telah melahirkan akan menggunakan metode yang sama pada
kehamilan berikutnya. Persalinan normal dianggap lebih natural, aman untuk bayi dan ibunya,
serta proses penyembuhannya yang lebih cepat. Menurut penelitian Shahoei, ibu yang pernah
melahirkan secara normal menjadi lebih yakin untuk melakukan persalinan normal kembali pada
kehamilan yang berikutnya.34

40
Bab VI
Penutup

6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai hubungan antara pemilihan persalinan dengan status
Jaminan Kesehatan Nasional dan faktor-faktor lainnya di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan
Duri Kepa, Jakarta Barat bulan Oktober 2017, dari 106 subjek ditemukan pada subjek yang
diteliti sebaran pemilih persalinan normal sebanyak 56,6% dan yang pemilih persalinan caesar
sebanyak 43,4% subjek. Sebaran usia > 35 tahun sebanyak 38,7% merupakan yang terbesar
dibandingkan yang lain. Sebaran pengetahuan tentang resiko kehamilan kategori tinggi sebanyak
47,2 %. Sebaran penghasilan keluarga kurang dari Rp 4.146.667,00 sebanyak 79,2%. Sebaran
yang tidak bekerja sebanyak 74,5%. Sebaran pengalaman persalinan normal sebanyak 50,9%.
Terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p value=0,000), pengetahuan (p value =
0,001), penghasilan (p value=0,017), dan pengalaman bersalin (p value = 0,007) dengan
pemilihan persalinan di Puskesmas Kelurahan Duri Kepa pada bulan Oktober 2017. Tidak
terdapat hubungan yang bermakna antara status JKN, dan pekerjaan di Puskesmas Kelurahan
Duri Kepa pada bulan Oktober 2017.

6.2 Saran
Bagi Puskesmas Kelurahan Duri Kepa
Disarankan kepada petugas kesehatan untuk meningkatkan upaya promotif berupa
penyuluhan pada ibu hamil maupun keluarganya untuk meningkatkan pengetahuan mengenai
faktor risiko persalinan dengan tindakan. Penyuluhan dapat dilakukan pada saat pemeriksaan
kehamilan (Antenatal Care) untuk melihat seberapa besar risiko kehamilan pada ibu. Serta dapat
memberikan informasi berkaitan risiko persalinan dengan tindakan dalam bentuk leaflet.
Kemudian dilakukan edukasi pada ibu yang sudah melahirkan untuk mengatur jarak kehamilan
berikutnya dan membatasi jumlah anak serta komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada
persalinan dengan tindakan bagi ibu dan bayi.

41
Daftar Pustaka

1. Betran AP, Torloni MR, Zhang J, Ye J, Mikolajczyk R, Tharauxs CD, et al. What is the
optimal rate of caesarean section at population level? A systematic review of ecologic
studies. Switzerland J Reproductive Health. 2015;12(3):57-67.
2. Ye J, Betran AP, Vela MG, Souza JP, Zhang J. Searching for the Optimal Rate of
Medically Necessary Cesarean Delivery. Birth. 2014;41(3):23743.
3. Suryati T. Persentase operasi caesaria di indonesia melebihi standard maksimal, apakah
sesuai indikasi medis? Jurnal Penelitian Kesehatan 2012;15(4):33138.
4. Muhammad R, Rahayuningsih FB, Yulian V. Karakteristik ibu yang mengalami
persalinan dengan sectio caesarea di rumah sakit umum daerah moewardi surakarta tahun
2014 Naskah Publikasi Surakarta : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhamnadiyah;2014.1-17.
5. Sihombing M, Lelly A. Determinan persalinan seksio sesarea pasien kelas tiga di dua
rumah sakit di Jakarta tahun 2011 Jurnal Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Kementerian Kesehatan; 2015.1-6.
6. Arya PA, Joice J K, Maya M.Profil persalinan pada era JKN-BPJS di RSUP Prof Dr. R.
D. Kandou Manado periode 1 Januari-30 Juni 2016 Jurnal e-Clinic (ecl) 2016 ;4(2):1-6.
7. Intan SM, Siti SN. Faktor pemilihan persalinan sectio caesarea tanpa indikasi medis di
RSU Bunda Thamrin Medan Jurnal Sumatera Utara: Fakultas Keperawatan Universitas
Sumatera Utara;2012.1-6.
8. Sarwono P, Ilmu obstetri seri buku ajar obstetri&ginekologi Jakarta:PT Bina
Pustaka;2015.h 392.
9. Cunningham G, William obstetric. 23rd Ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC;2013.h.568.
10. David H, Norman J. Gynecology illustrated. 5, editor. London: Churchill Livingstone Co;
2000.
11. Hart D, Norman J, Callander R, Govan A. Gynaecology illustrated. 5th, editor. London:
Churchill Livingstone; 2000.

42
12. Cunningham F, Leveno K, Bloom S, Fauser J, Zwirner M. Williams Obstetrics. 22,
editor. New York: Graw-Hill; 2005.
13. Betran AP, Merialdi M, Lauer JA, Bing-Shun W, Thomas J, Van Look P, et al. Rates of
caesarean section: Analysis of global, regional and national estimates. Paediatr Perinat
Epidemiol. 2007;21(2):98-113.
14. Ahmad M, Sepideh GS, Sara GS, Kolsum A, Leila Y, Maryam M. Influencing factors in
choosing delivery method: Iranian primiparous womens perspective J Electronic
Physician 2017;9(4):4150-54.
15. Ananth CV, Vintzileos AM. Trends in cesarean delivery at preterm gestation and
association with perinatal mortality. Am J Obstet Gynecol. 2011;204(6):31-9.
16. Cheng YW, Eden KB, Marshall N, Pereira L, Caughey AB, Guise JM. Delivery after
prior cesarean: maternal morbidity and mortality. Clin Perinatol J. 2011;38(2): 297-309.
17. Huang X, Lei J, Tan H, Walker M, Zhou J, Wen SW. Cesarean delivery for first
pregnancy and neonatal morbidity and mortality in second pregnancy. Eur J Obstet
Gynecol Reprod Biol. 2011;158(2): 204-8.
18. Alavije Z, Shahry P, Kalhory M, Haghighizadeh M, Sharifirad G, Khorsandi M.
Identification of factors related to elective cesarean labor: a theory-based study.
Daneshvar (medicine) Shahed University J.2012;96:1-11.
19. Pelangi B, Frisca A, Lina RS, Penelitian kebijakan efektivitas jaminan kesehatan nasional
untuk menurunkan angka kematian ibu: Pengalaman bidan dan perempuan di Jakarta
Timur dan Kota Bandung Jakarta: Women Research Institute; 2015.h.8-40.
20. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Bakti Husada. Buku pegangan sosialisasi
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional. 2011.
21. Azaria YA, Sudiro, Putri AW.Evaluasi pelaksanaan sosialisasi program Jaminan
Kesehatan Nasional dari aspek struktur dan interaksi sosialisasi pada Bulan Januari-Maret
2014 di Puskesmas Ngesrep Semarang Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2014;3(1):1-8.
22. Gyakuni FN, Djazuly C. Implementasi kebijakan jaminan kesehatan nasional pada bidan
praktik di wilayah puskesmas Bangkalan Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia.
2014;2(4):281-92.

43
23. Sabrina Q. Pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam peningkatan
kualitas pelayanan kesehatan di RSU Haji Surabaya. Jurnal Kebijakan dan Managemen
Publik 2015;3(2):1-9.
24. Veibymiaty S, Rina K, Michael K. Faktor-faktor yang berperan meningkatnya angka
kejadian sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Liun Kendage Tahuna Jurnal
Keperawatan 2014;2(1):1-7.
25. Ioannis M, Klaus F. Indications for and risks of elective cesarean section Dtsch Arztebl
Int J 2015; 112: 489-95.
26. Elisa. Umur, pendidikan, pekerjaan dan tingkat pengetahuan ibu primigravida tentang
tanda bahaya kehamilan trimester III di wilayah puskesmas Ungaran Kecamatan Ungaran
Barat Kabupaten Semarang Jurnal Keperawatan Maternitas 2014;2(2):84-9.
27. Aghamohammadi A, Nooritajer M. Maternal age as a risk factor for pregnancy outcomes:
Maternal, fetal and neonatal complication. Afr J Pharm Pharmacol. 2011; 5(2):264-69.
28. Lampinen R, Vehvilinen K, Kankkunen P. A review of pregnancy in women over 35
years of age. The Open Nursing Journal. 2009;3:33-8.
29. Ates S, Batmaz G, Sevket O, Molla T, Dane C, Dane B.Pregnancy outcome of
multiparous women aged over 40 years. International Journal of Reproductive Medicine.
2013:1-5.
30. Meyclin DS, Hermie MM, Freddy WW. Persalinan pada usia 35 tahun di RSU PROF.
Dr. R. D. Kandou Manado J Obstetri dan Ginekologi 2011:1-6.
31. Karjono M,Wulandari LP, Suryadhi NT. Pengetahuan sebagai determinan dalam
pengambilan keputusan penolong persalinan ibu hamil di Puskesmas Taliwang tahun
2013 Public Health and Preventive Medicine Archive J 2013;1(1):1-7.
32. Fatemeh D, Teamur A, Minoo R, Abdoulhossain M, Shahram Z The differences between
pregnant women who request elective caesarean and those who plan for vaginal birth
based on health belief model Iran J 2016:1-7.
33. Novianti S, Ika S, Dwi SK. Determinan persalinan sectio caesarea di Indonesia Jurnal
Kesehatan Reproduksi 2017; 8(1):63-75.

44
34. Sema DY, Meltem DB, Nezihe KB, Seyfettin U. Womens preferences of method of
delivery and influencing factors Iranian Red Crescent Medical Journal. 2013 August;
15(8): 683-9.
35. Shahoei R, Masomeh R, Fariba R, Farangis K, Farzaneh Z. Kurdish womens preference
for mode of birth: A qualitative study International Journal of Nursing Practice 2013:1-8.
36. Malfayetty A, Sudikno.Determinan pemilihan prsalinan di fasilitas kesehatan Jurnal
Kesehatan Masyarakat 2010:1-10.
37. Lynn M, Anjali JK, Kathryn AH, Erica W,Mari PT, Sanae N, et al. Mode of delivery
preferences in a diverse population of pregnant women American Journal of Obstetrics
and Gynecology 2014;212:1-24.
38. Choobmasjedi SG, Hasani J, Khorsandi M,Ghobadzadeh M. Cognitive factors related
into childbirth and their effecton womens delivery preference: A comparison between a
private and public hospital in Tehran EMHJ 2012; 18(11):1-8
39. Badan Pusat Statistik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2016. Nomor
16/02/Th.XX. Februari 2017.

45