Anda di halaman 1dari 17

PRESENTASI KASUS

LABORATORIUM ILMU FARMASI

FARINGITIS

Disusun Oleh :

Sheila Savitri G99152109

KEPANITERAAN KLINIK LABORATORIUM ILMU FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2017
BAB I

PENDAHULUAN

Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus, akteri,

balergi, trauma, toksin dan lain-lain (Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007). Faringitis

lazim terjadi di seluruh dunia, umumnya di daerah beriklim musim dingin dan awal musim semi.

Di Amerika Serikat, sekitar 84 juta pasien berkunjung ke dokter akibat infeksi saluran pernafasan

akut pada tahun 1998, dimana 25 juta disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas (Aamir

Somro, 2011).

Menurut National Ambulatory Medical Care Survey, infeksi saluran pernafasan atas,

termasuk faringitis akut, bertanggung jawab untuk 200 kunjungan ke dokter per 1000 penduduk

per tahun di Amerika Serikat (Alan L. Bisno, 2001). Di negara-negara yang berpenghasilan

tinggi, faringitis adalah umum pada anak-anak usia 3 hingga 15 tahun. Di Amerika Serikat, rata-

rata anak lingkungan usia 5 tahun terinfeksi faringitis GABHS (Group A Beta Hemolytic

Streptococcus) (Aamir Somro, 2011).

Faringitis akut merupakan salah satu klasifikasi dalam faringitis. Faringitis akut adalah

suatu penyakit peradangan tenggorok (faring) yang bersifat mendadak dan cepat memberat.

Faringitis akut dan tonsillitis akut sering ditemukan bersama-sama dan dapat menyerang semua

umur. Faringitis akut dapat disebabkan oleh viral, bakteri, fungal dan gonorea. Penyebab

terbanyak radang ini adalah kuman golongan Streptokokus Beta Hemolitikus, Streptokokus

viridians dan Streptokokus piogenes. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh infeksi virus

seperti virus influenza dan adenovirus. Faringitis akut dapat menular melalui kontak dari sekret

hidung dan ludah (droplet infection) dari orang yang menderita faringitis (Rusmarjonno dan
Efiaty Arsyad Soepardi, 2007). Kunjungan rawat jalan per tahun bagi faringitis akut adalah

sekitar 12 juta di Amerika Serikat (Kelley Struble, 2013).

Adenovirus merupakan virus penyebab faringitis akut yang paling sering, sedangkan S.

pyogenes ( b-hemolytic group A Streptococcus) merupakan bakteri penyebab faringitis akut

yang paling umum (Miriam T. Vincent, 2004). Sebuah penelitian telah dilakukan pada Oktober

2009 hingga Januari 2010 di Hilla Teaching Hospital, Hilla, Iraq mengenai spesimen usap

tenggorokan dari 177 pasien yang menderita faringitis akut. Penelitian menunjukkan bahwa 67

hasil kultur dijumpai bakteri Beta Hemolytic Streptococcus, 11 penderita (16,4%) dijumpai

Streptococci Anginosus group C dan F. Streptococci dijumpai sebanyak 6,2% dari semua

spesimen sebagai penyebab faringitis akut (Alaa H. Al-Charrakh, 2011).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Faringitis akut adalah infeksi pada faring yang disebabkan oleh virus atau bakteri, yang

ditandai oleh adanya nyeri tenggorokan, faring eksudat dan hiperemis, demam, pembesaran

kelenjar getah bening leher dan malaise (Miriam T. Vincent, 2004). Faringitis akut dan

tonsillitis akut sering ditemukan bersama-sama dan dapat menyerang semua umur. Penyakit

ini ditular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections) (Rusmarjono,

2001).

2. Etiologi

Faringitis dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Banyak mikroorganisme yang

dapat menyebabkan faringitis, antaranya virus (40-60%) dan bakteri (5-40%) yang paling

sering ( Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007). Kebanyakan faringitis akut

disebabkan oleh agen virus. Virus yang menyebabkan faringitis termasuk Influenza virus,

Parainfluenza virus, Coronavirus, Coxsackie viruses A dan B, Cytomegalovirus, Adenovirus

dan Epstein Barr Virus (EBV). Selain itu, infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV)

juga dapat menyebabkan terjadinya faringitis (John L. Boone, 2003; Anthony W Chow,

2013).

Faringitis akut yang disebabkan oleh bakteri termasuk Group A Beta Hemolytic

Streptococcus (GABHS), Group C Beta Hemolytic Streptococcus, Neisseria gonorrhoeae,

Corynebacterium diphtheria, Arcanobacterium haemolyticum dan sebagainya. Infeksi Group


A Beta Hemolytic Streptococcus (GABHS) merupakan penyebab faringitis akut pada 5-15%

dewasa dan 20-30% pada anak-anak (5-15 tahun) (Ferri, 2012; Rusmarjono dan Efiaty

Arsyad Soepardi, 2007).

Neisseria gonorrhoeae sebagai penyebab faringitis bakterial gram negative ditemukan

pada pasien aktif secara seksual, terutama yang melakukan kontak orogenital. Dalam sebuah

penelitian pada orang dewasa yang terinfeksi gonorea, faringitis gonokokal ditemukan 20%

pada pria homoseksual, 10% pada wanita dan 3% pada pria heteroseksual. Sekitar 50%

individu yang terinfeksi adalah tanpa gejala, meskipun odinofagia, demam ringan dan

eritema dapat terjadi (John L. Boone, 2003).

Selain itu, Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring dan menyumbang

terjadinya faringitis fungal. Faringitis gonorea hanya terdapat pada pasien yang menlakukan

kontak orogenital (Rusmarjono dan Efiaty Arsyad Soepardi, 2007). Faktor resiko lain

penyebab faringitis akut yaitu udara yang dingin, turunnya daya tahan tubuh yang disebabkan

infeksi virus influenza, konsumsi makanan yang kurang gizi, konsumsi alkohol yang

berlebihan, merokok, dan seseorang yang tinggal di lingkungan kita yang menderita sakit

tenggorokan atau demam (Jill Gore, 2013)

3. Epidemiologi

Faringitis merupakan penyakit umum pada dewasa dan anak-anak. National Ambulatory

Medical Care Survey dan National Hospital Ambulatory Medical Care Survey telah

mendokumentasikan antara 6,2-9,7 juta kunjungan anak-anak dengan faringitis ke klinik dan

departemen gawat darurat setiap tahun, dan lebih dari 5 juta kunjungan orang dewasa per

tahun (Mary T. Caserta, 2009).


Menurut National Ambulatory Medical Care Survey, infeksi saluran pernafasan atas,

termasuk faringitis akut, dijumpai 200 kunjungan ke dokter per 1000 penduduk per tahun di

Amerika Serikat (Alan L. Bisno, 2001). Frekuensi munculnya faringitis lebih sering pada

populasi anak-anak. Kira-kira 15-30% kasus faringitis pada anak-anak usia sekolah dan 10%

kasus faringitis pada orang dewasa terjadi pada musim sejuk adalah akibat dari infeksi Group

A Streptococcus. Faringitis jarang terjadi pada anak-anak kurang dari 3 tahun (John R

Acerra, 2013).

4. Gejala Klinis

Gejala-gejala yang timbul pada faringitis akut bergantung pada mikroorganismenya.

Faringitis akut yang disebabkan bakteri mempunyai gejala nyeri kepala yang hebat, demam

atau menggigil, malaise, nyeri menelan, muntah dan mungkin batuk tapi jarang (Rusmarjono,

2007). Faringitis akibat infeksi bakteri Streptococcus group A dapat diperkirakan dengan

menggunakan Centor criteria, yaitu demam, limfaadenopati pada anterior servikal, eksudat

pada tonsil, tidak ada batuk (Jill Gore, 2013).

Faringitis yang disebabkan virus biasanya mempunyai gejala nyeri tenggorokan yang

parah dan dapat disertai dengan batuk, suara serak dan nyeri substernal. Demam, menggigil,

malaise, mialgia dan sakit kepala juga dapat terjadi (John L. Boone, 2003). Sedangkan gejala

pada faringitis fungal adalah nyeri tenggorokan dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan

tampak plak putih di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis (Rusmarjono, 2007).
5. Diagnosis

Pada faringitis akut yang disebabkan oleh bakteri, pemeriksaan pada faring yang dapat

dilihat yaitu adanya eritema faring dan tonsil, eksudat pada faring dan tonsil, petechiae

palatine, edema uvula dan limfadenopati servikalis anterior. Tidak semua pasien didapati

dengan semua gejala tersebut, banyak pasien datang dengan gejala yang ringan dan tanpa

eksudatif. Anak-anak di bawah 3 tahun dapat disertai coryza dan krusta hidung. Faringitis

dengan eksudat jarang terjadi pada umur ini (Alan, et.al.,2001).

Pada faringitis viral, pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza,

Coxsachie virus dan Cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxsachie virus dapat

menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash. Epstein

Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai produksi eksudat pada faring yang

banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh terutama retroservikal dan

hepatosplenomegali (Rusmarjono, 2007).

Diagnosis biasanya dibuat tanpa kesulitan, terutama bila terdapat tanda dan gejala yang

mengarah ke faringitis. Biakan tenggorokan membantu dalam menentukan organisme

penyebab faringitis, dan untuk membedakan faringitis karena bakteri atau virus.Sangatlah

penting untuk mengetahui onset, durasi, progresifitas dan tingkat keparahan dari gejala yang

menyertai seperti demam, batuk, kesukaran bernafas, pembengkakan limfonodi, paparan

infeksi, dan adanya penyakit sistemik lainnya seperti diabetes dan lain-lain. Faring harus

diperiksa apakah terdapat tanda-tanda eritem, hipertrofi, adanya benda asing, eksudat, massa,

petechie dan adenopati (Miriam T. Vincent, 2004). Juga penting untuk menanyakan gejala

yang dialami pasien seperti demam, timbulnya ruam kulit (rash), adenopati servikalis dan

coryza .
Jika dicurigai faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus, seorang dokter harus

mendengar adanya suara murmur pada jantung dan mengevaluasi apakah pada pasien

terdapat pembesaran lien dan hepar. Apabila terdapat tonsil eksudat, pembengkakan kelenjar

limfe leher, tidak disertai batuk dan suhu badan meningkat sampai 38C maka dicurigai

adanya faringitis karena infeksi GABHS (Alan, et.al.,2001) Kultur tenggorokan merupakan

suatu metode yang dilakukan untuk menegaskan suatu diagnosis dari faringitis yang

disebabkan oleh bakteri GABHS.

Untuk mencapai hasil yang akurat, pangambilan swab dilakukan pada daerah tonsil dan

dinding faring posterior. Spesimen diinokulasi pada agar darah dan ditanami disk antibiotik.

Kriteria standar untuk penegakan diagnosis infeksi GABHS adalah persentase sensitifitas

mencapai 90-99 %. Kultur tenggorok sangat penting bagi penderita yang lebih dari 10 hari

(Miriam T. Vincent, 2004).

6. Tatalaksana

Terapi pada penderita faringitis viral dapat diberikan aspirin atau asetaminofen untuk

membantu mengurangi rasa sakit dan nyeri pada tenggorokan. Penderita dianjurkan untuk

beristirahat di rumah dan minum yang cukup. Kumur dengan air hangat. Faringitis yang

disebabkan oleh virus dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan (Rusmarjono, 2007).

Terapi untuk faringitis bakterial diberikan antibiotik terutama bila diduga penyebab

faringitis akut ini grup A Streptokokus hemolitikus. Dapat juga diberikan Penicilin G

Banzatin 50.000 U/kgBB, IM dosis tunggal, atau amoksisilin 50 mg/kgBB dosis dibagi 3

kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3 x 500mg selama 6-10 hari, jika pasien alergi
terhadap penisilin maka diberikan eritromisin 4x500 mg/hari. Kumur dengan air hangat atau

antiseptik beberapa kali sehari (Rusmarjono, 2007).

Faringitis yang disebabkan Candida dapat diberikan Nystasin 100.000 400.000 2

kali/hari dan faringitis yang disebabkan Gonorea dapat diberikan Sefalosporin generasi ke-3,

Ceftriakson 250mg secara injeksi intramuskular (Rusmarjono, 2007)


BAB III

ILUSTRASI KASUS

1. Anamnesis

a. Identitas

Nama : Nn. W

Usia : 22 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Ciapus, Bogor

Pekerjaan : Pegawai pabrik

Suku : Jawa

Agama : Islam

Tanggal Periksa : 25 Februari 2017

b. Riwayat Penyakit Sekarang

Keluhan utama

Nyeri tenggorokan

Riwayat perjalanan penyakit

Pasien datang dengan keluhan nyeri tenggorokan sejak 7 hari yang lalu. Pasien juga

mengeluhkan nyeri saat menean dan terasa ada yang mengganjal di tenggorokan.

Pasien mengaku mengalami demam 7 hari yang lalu, menggigil (-), berkeringat (-),

lemas (+). Pasien mengeluhkan batuk sejak 10 hari yang lalu dan terasa seperti ada
lendir di tenggorokan yang sulit keluar. Pasien tidak mengalami keluhan di bagian

telinga dan hidung.

c. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan serupa : (+) sekitar 6 bulan yang lalu, sembuh sendiri

Riwayat penyakit telinga : disangkal

Riwayat alergi : disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa : disangkal

2. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum

Kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), tampak sakit ringan

b. Vital Sign

TD: 110/80 mmHg

HR: 84x/menit

RR: 18x/menit

T: 37,6oC

c. Pemeriksaan THT

Telinga

Telinga kanan Pemeriksaan Telinga kiri


Nyeri tekan (-) Tragus Nyeri tekan (-)
Bentuk dan ukuran dbn Daun telinga Bentuk dan ukuran dbn
Lapang, serumen (-) Liang telinga Lapang, serumen (-)
Intak, cone of light (+) Membran timpani Intak, cone of light (+)
arah jam 5 arah jam 7
Hidung

Hidung kanan Pemeriksaan Hidung kiri


Lapang, sekret (-) Cavum nasi Lapang, sekret (-)
Eutrofi Konka inferior Eutrofi
Deviasi (-) Septum Deviasi (-)

Tenggorok

Uvula Di tengah
Palatum mole Ulkus (-), hiperemis (-)
Tonsila palatina Ukuran T1-T1, hiperemis (-), kripte melebar (-), detritus (-)
Dinding faring Hiperemis (+), granulasi (-), ulkus (-)
posterior

3. Diagnosis Banding

Faringitis akut et causa infeksi bakteri

Faringitis akut et causa infeksi virus

4. Diagnosis

Faringitis akut et causa infeksi bakteri

5. Usulan Pemeriksaan

Swab tenggorok dan kultur bakteri

Uji sensitivitas antibiotik

6. Tujuan Terapi

Eradikasi bakteri penyebab infeksi


Menghilangkan gejala demam, nyeri tenggorok, batuk

7. Resep

Klinik Sehat

Jl. Kapten Yusup 136 Ciapus Bogor

Dokter penanggungjawab: dr. Rosana


Bogor, 25 Februari 2017

R/ Amoxicillin tab mg 500 No XXI

S 3 dd tab I

R/ Paracetamol mg 500

Ambroxol mg 30
mfla pulv da in caps dtd No IX

S 3 dd caps I

Pro: Nn. W
22 tahun
8. Pembahasan

a. Amoxicillin

Indikasi

Antibiotik spektrum luas, bekerja terutama terhadap bakteri gram positif.

Amoxicillin biasa digunakan sebagai antimikroba untuk infeksi saluran

pernapasan atas serta infeksi THT.

Kontraindikasi

Amoxicillin tidak boleh diberikan kepada pasien dengan hipersensitivitas

terhadap amoxicillin maupun penicillin lainnya.

Efek samping

Diare, mual, sakit kepala, muntah, nyeri perut, gangguan fungsi hati, reaksi alergi,

gangguan ginjal

Mekanisme kerja

Amoxicillin termasuk obat antibiotik golongan Penicillin. Penicillin menghambat

pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba.

Terhadap mikroba yang sensitif, penicillin akan menghasilkan efek bakterisid.

b. Paracetamol

Indikasi

Antipiretik, analgetik

Kontraindikasi

Tidak boleh diberikan kepada pasien dengan hipersensitivitas terhadap

paracetamol, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal.


Efek samping

Reaksi alergi terhadap paracetamol jarang terjadi. Manifestasinya berupa eritema

dan urtikaria.

Mekanisme kerja

Efek analgesik paracetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau

mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh

dengan mekanisme yang diduga berdasarkan efek sentral. Efek anti-inflamasinya

sangat lemah. Paracetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin yang

lemah. Efek iritasi, erosi, dan perdarahan lambung jarang terjadi pada

paracetamol.

c. Ambroxol

Indikasi

Sebagai obat batuk berdahak (terapi sekretolitik) pada penyakit bronkopulmonal

akut dan kronis yang berhubungan dengan dahak atau lendir berlebihan dan

gangguan transportasi lendir.

Kontraindikasi

Ambroxol tidak boleh digunakan pada pasien yang diketahui hipersensitif

terhadap komponen obat. Hati-hati penggunaan pada pasien dengan

gastritis/dyspepsia.
Efek samping

Reaksi ringan gastrointestinal, seperti nyeri ulu hati, dyspepsia, mual, muntah.

Reaksi alergi jarang terjadi.

Mekanisme kerja

Ambroxol telah terbukti memiliki efek mukolitik. Onset kerja ambroxol sekitar 30

menit setelah diminum per oral. Ambroxol memutus rantai asam

mukopolisakarida di sputum, menyebabkan sputum menjadi lebih encer dan lebih

mudah dikeluarkan dengan cara dibatukkan.


DAFTAR PUSTAKA

Alan,L.,Bisno. Acute Pharyngitis. http://www.nejm.org.vol 344;3;205-210

Kazzi,A.,Antoine, Wills,J. Pharyngitis. http://www.emedicine.com/med/topic735 htm.2006.

Vincent, T., Mirian, Celestin,N.,Hussain,N.,Aneela. Pharyngitis.

http://www.a.f.p.org.2004;69:1469-70www.emedicine.com/med/topic735 htm.2006.

Hilger PA. Penyakit-Penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam: Boeis Buku Ajar Penyakit THT

ed.6. Jakarta: EGC.1994.

Rusmarjono, Soepardi, E.A. Dalam: Supardi, E.A., Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga

Hidung Tenggorok Kepala Leher. Ed ke-5. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. 2001.