Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan
wisata bahari atau tirta adalah usaha yang menyelenggarakan wisata dan olahraga air,
termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta jasa lainnya yang dikelola secara
komersial di perairan laut, pantai, sungai, danau, dan waduk.Indonesia bisa dikatakan
mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkannya wisata bahari, karena
merupakan negara kepulauan. Hal ini menunjukkan bahwa daerah-daerah pesisir
mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkannya wisata bahari. Salah satunya
Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah yang mempunyai berbagai potensi wisata
khususnya potensi wisata bahari.
Adapun isi dari visi dan arah pembangunan jangkan panjang Republik
Indonesia Tahun 2005-2025 yakni, Salah satunya mewujudkan Indonesia menjadi
negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional
Mengembangkan industri kelautan secara sinergi, optimal, dan berkelanjutan yang
meliputi perhubungan laut,industri maritim, perikanan, wisata bahari, energi dan
sumber daya mineral, bangunan laut dan jasa kelautan. Kepariwisataan dikembangkan
agar mampu mendorong kegiatan ekonomi dan meningkatkan citra Indonesia,
meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal, serta memberikan perluasan
kesempatan kerja. Pengembangan kepariwisataan memanfaatkan keragaman pesona
keindahan alam dan potensi nasional sebagai wilayah wisata bahari terluas di dunia
secara arif dan berkelanjutan, serta mendorong kegiatan ekonomi yang terkait dengan
pengembangan budaya bangsa.
Banyak contoh pulau dan laut yang dikembangkan menjadi objek wisata
bahari atau tirta di Indonesia. Bahkan wisata bahari sering kita temukan disetiap
daerah yang ada di Indonesia, baik dari Sabang sampai Pulau Meroke. Karena
Indonesia sendiri menurut Bengen ( 2001), menjadi Negara kepulauan terbesar di
dunia yang memiliki 17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km,
sehingga hal tersebut mampu mengidentifikasikan bahwa Indonesia memiliki
potensi sumberdaya pesisir dan lautan yang sangat besar.
Menurut Peraturan daerah Kabupaten Donggala No.1 Tahun 2011 tentang
RTRW Kabupaten Donggala tahun 2011-2031 Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal
32 ayat 3 poin ke 4 menyebutkan bahwa Rencana Penanganan dan Pengelolaan
Kawasan Pariwisata di Kabupaten Donggala salah satunya yakni Pengembangan
wisata bahari serta Pengelolaan sistem transportasi yang menunjang aksesibilitas ke
lokasi obyek wisata. sejak tahun 2016 Pemerintah kabupaten donggala Donggala
sudah mulai merancang pengembangan objek-objek wisata potensial yang akan di
tingkatkan atau di tindak lanjuti pada tahun 2017 ini, sebagai upaya pengembangan
sektor jasa. Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, mulai
mengembangkan usaha kecil dan menengah kuliner di beberapa objek wisata bahari di
Banawa dan sekitarnya untuk menunjang aktivitas kepariwisataan setempat.
1.2 LANDASAN HUKUM
Untuk mempermudah penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Wisata
Bahari, Maka harus berlandaskan kepada peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Adapun peraturan yang berlaku tersebut:
1. Undang-Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
2. Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan.
3. Undang-Undang No.27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil.
4. Undang-Undang No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
5. Undang-Undang No.31 tahun 2004 tentang Perikanan yang telah diubah terakhir
menjadi Undang-Undang No.45 Tahun 2009.
6. Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam
Hayati dan Ekosistemnya.
7. Peraturan Pemerintah No.60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan.
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia N0 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah Pemerintah Daerah Propinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
9. Peraturan Daerah Kabupaten Donggala Nomor 1 Tahun 2012, Tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Donggala Tahun 2011- 2031.
10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2011 Tentang Rencana
Tata Ruang Pulau Sulawesi.
11. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah Tahun 2013- 2033.
12. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tentang Peran Serta Masyarakat dalam
PenataanRuang
1.3 MAKSUD
Maksud dari penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Wisata Bahari
adalahmenyusun Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Wisata Bahari Kabupaten
Donggala sebagai pedoman dalam pengendalian dan pemanfaatan ruang.

1.4 TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Wisata Bahari
sebagai berikut :
1. Terwujudnya tujuan penataan ruang yang mengakomodasi potensi pariwisata
wilayah perencanaan
2. Terwujudnya rencana pola ruang yang berkelanjutan
3. Terwujudnya rencana jaringan prasarana yang mengakomodasi fungsi dan peran
kawasan
4. Mewujudkan peraturan zonasi sebagai acuan pemberian izin pemanfaatan ruang
1.5 SASARAN
Adapun sasaran yang akan ditujukan meliputi :
1. Mendeliniasi wilayah studi
2. Melakukan identifikasi potensi pariwisata wilayah perencanaan
3. Merumuskan tujuan penataan ruang
4. Menetukan rencana pola ruang yang berkelanjutan
5. Menentukan jaringan prasarana yang mengakomodasi fungsi dan peran kawasan
6. Merumuskan peraturan zonasi sebagai acuan pemberian izin pemanfaatan ruang
1.6 RUANG LINGKUP
1.6.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah adalah Wisata Bahari Tanjung Karang, Pantai Kelapa, Pusat
laut, Bonebulu dan Boneoge yang berada di wilayah Kabupaten Donggala dengan luas
wilayah. Sedangkan Batas administrasi dari Kawasan Wisata Bahari Meliputi :

1. Sebelah Utara :

2. Sebelah Selatan :

3. Sebelah Timur :

4. Sebelah Barat :

1.6.2 Ruang Lingkup Kegiatan


Adapun ruang lingkup kegiatan meliputi :

1. Persiapan penyusunan RDTR Kawasan Wisata Bahari Studi literatur yang


berkaitan dengan wilayah perencanaan Wisata Bahari
2. Pengumpulan data

a. Kebijakan dan tujuan pembangunan (RPJP,RPJN,RTRW)

b. Wilayah administrasi

c. Sumber daya alam dan fisik/lingkungan


d. Ketersediaan sarana dan prasarana

e. Penggunaan dan pemanfaatan lahan

3. Pengolahan data

a. Analisis perencanaan

b. Analisis kawasan Wisata Bahari

4. Perumusan dan ketentuan teknis RDTR Kawasan Wisata Bahari


5. Perumusan Peraturan Zonasi Kawasan
6. Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
Rencana tata ruang memuat rumusan rencana yang bersifat operasional yang dapat
dijadikan pedoman bagi setiap kegiatan pembangunan, pelaksanaan program-program
penataan fisik, dan pengendalian pemanfaatan ruang, baik yang dilaksanakan oleh
warga, pelaku ekonomi, maupun pihak Pemerintah. Substansi rencana tata ruang
meliputi :
1. Rencana Intensitas pemanfaatan ruang
2. Rencana sistem transportasi
3. Rencana penataan fasilitas
4. Rencana penataan infrastruktur
5. Rencana Implementasi
6. Pengendalian pemanfaatan ruang
BAB II

TINJAUAN KEBIJAKAN

2.1 sdvsdg
2.2 dvsdv
2.3 dfsdf
2.4 sdaf
2.5 adad
2.6 dsads
BAB III

GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI

3.1 Kondisi Fisik Dasar


3.1.1 Letak Geografis

Secara astronomi kabupaten Donggala terletak antara 0o,30 dan Lintang utara dan
2o,20 lintang selatan 199o,45-121o,45 bujur timur. Kabupaten Donggala memiliki
luas5.275,69 kilometer persegi dan memiliki 16 kecamatan. Batasan fisik kabupaten
donggala sebagai berikut:

a. Utara : Kabupaten Toli-Toli

b. Timur : Provinsi Sulawesi Barat, Kabupaten Sigi dan Kota Palu

c. Barat : Provinsi Sulawesi Barat

d. Selatan : Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Mautong

3.1.2 Topografi

Kondisi Topografi Kabupaten Donggala cukup beragam, mulai dari dataran yang
rendah, dataran yang berbukit hingga pengunungan. Dataran rendah tersebar di
sepanjang pesisir Kabupaten Donggala yang berhadapan langsung dengan Selat
Makassar dimana sebagian besar berada di wilayah Pantai Barat. Wilayah perbukitan
dan pegunungan sebagian besar berada pada wilayah perbatasan dengan Kabupaten
Parigi Moutong dengan ketinggian yang bervariasi mulai dari ketinggian 1000 meter
di atas permukaan laut hingga mencapai ketinggian di atas 2500 meter di atas
permukaan laut.
3.2 Hidrologi dan Klimatologi
Data iklim memiliki peranan yang sangat penting dalam perencanaan pertanian,
seperti mengatur pola tanam. Oleh karena itu, data iklim yang lengkap dan
periode pengamatan yang lama sangat dibutuhkan. Untuk daerah Kabupaten
Donggala, data iklim yang tersedia masih sangat terbatas, terdiri atas data curah hujan
baik dari stasiun pengamatan yang ada di wilayah Kabupaten Donggala maupun di
luar kabupaten ini, yaitu stasiun Meteorologi Bandara Sis Al-Jufrie Palu.

3.3 Penggunaan Lahan

Kabupaten donggala memiliki luas lahan 5.275,69 kilometer persegi. Pengunaan lahan
di kebupaten Donggala digunakan sebagai permukiman, pertanian, perikanan,
perkebunan,hutan, perternakan, dll.
No Penggunaan Lahan Luasan Lahan (ha) Persentase (%)

1 Permukiman 14.631 2,77


2 Pertanian 87.999 16,68
3 Perikanan 871 0,17
4 Perkebunan 67.021 12,70
5 Hutan 248.101 47,03
6 Peternakan 419 0,08
7 Lainnya 115.528 20,57

Sumber : BPS Kabupaten Donggala, 2016

Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa jenis pengunaan lahan di Kabupaten
Donggala didominasi oleh pengunaan berupah hutan yang sebesar 248.101 Ha atau
47,03%. Pengunaan lahan terbesar kedua di kabupaten donggala adalah pengunaan
lahan lainnya yaitu sebesar 115.528 Ha atau 20,57% dari total luas lahan.

3.4 Kependudukan
3.4.1 Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Berikut adalah gambaran mengenai jumlah penduduk, dan kepadatan penduuk di
Kabupaten Donggala:
Laju Pertumbuhan
Jumlah penduduk
Penduduk Per Tahun
No Kecamatan

2011 2015 2016 2011-2016 2015-2016

10

11

12

13
14

15

16

Donggala

Sumber: BPS Kabupaten Donggala, 2016

Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk tertinggi terdapat di
Kecamatan Banawa dengan jumlah penduduk sebesar 33.452 jiwa sedangkan
jumlah penduduk terendah terdapat di Kecamatan Panembani yaitu sebesar 6.750
jiwa.Dengan luas wilayah sebesar 5.275,69 km2 dan jumlah penduduk sebesar
293.742 jiwa.

3.4.1 Jumlah Penduduk Menurut Agama


3.4.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin
3.5 fsd
3.6 DSFF
BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 METODE PENDEKATAN PERENCANAAN


Metode pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan penyusunan Rencana Detail
Tata Ruang Kawasan Wisata Bahari Kabupaten Donggala antara lain:

4.1.1 Top Down dan Bottom Up Planning


4.1.2 Pendekatan perencanaan berkelanjutan
4.1.3 Pendekatan intersektoral-holistik
4.1.4 Pendekatan komunitas/masyarakat
4.1.5 Pendekatan Supply/Demand
4.2 KERANGKA PEMIKIRAN
4.3 TEKNIK DAN ANALISIS
4.3.1 Analisis Dan Penetapan Bwp
4.3.2 Analisis Fisik Dasar Dan Tata Guna Lahan
4.3.3 Analisis Penduduk
4.3.4 Analisis Fasilitas
4.3.5 Analisa Utilitas Umum
4.3.6 Analisis Prasarana Transportasi
BAB V

MANAJEMEN KEGIATAN

5.1 Struktur dan Organisasi Pelaksanaan


5.2 Komposisi Personil
5.3 Rencana Kegiatan
5.4 Jadwal Pelaksanaan
KUESIONER

Anda mungkin juga menyukai