Anda di halaman 1dari 3

Rongga hidung bagian bawah mendapat perdarahan dari cabang arteri maksilaris interna,

diantaranya adalah ujung a. palatina mayor dan a. splenopalatina yang keluar dari foramen
splenopalatina bersama n. splenopalatina. Hidung bagian depan mendapat perdarahan dari a.
fasialis. Pada bagian depan septum terdapat anastomosis cabang a. splenopalatina, a. etmoidalis
anterior, a. palatina mayor dan a. labialis superior yang membetuk Pleksus Kiesselbach yang
mudah cidera oleh trauma sehingga sering menjadi sumber epistaksis anterior.

Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan sensoris dari n. etmoidalis anterior
yang merupakan cabang dari n. nasosiliaris yang berasal dari n. ophtalmicus. 5

Rongga hidung lainnya sebagian lainnya mendapat persarafan sensoris dari n. maxillaris melalui
ganglion spenopalatina. Ganglion spenopalatina selain memberikan persarafan sensoris juga
memberikan persarafan vasomotor atau otonom untuk mukosa hidung. Ganglion ini menerima
serabut sensoris dari n. maksilaris ( N V2 ), serabut parasimpatis dari n. petrosus superfisialis
mayor dan serabut simpatis dari n. petrosus profunda.

Ganglion spenopalatina terletak di belakang dan sedikit di atas ujung posterior konka media. N.
olfaktorius turun melalui lamina cribrosa dari permukaan bawah bulbus olfaktorius dan
kemudian berakhir pada sel sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius di sepertiga atas
hidung.5

II.2.1. Perjalanan Syaraf Otonom Hidung


Saraf otonom yang mempersarafi mukosa hidung berasal dari nervus vidianus yang
mengandung serabut saraf simpatis dan serabut saraf parasimpatis. Nervus vidianus terbentuk
dari 2 saraf yaitu n. petrosus superfisialis mayor dan n. petrosus profunda. Nervus petrosus
superficialis mayor yang terdapat pada dasar fossa cranialis media yang bersifat parasimpatis
dari Vertebra Cervicalis VII menuju ganglion pterigopalatina. Nervus petrosus profunda
merupakan nervus yang bersifat simpatis yang meninggalkan pleksus carotis internus.
Nervus vidianus terbentuk pada pertemuan kedua nervus tersebut pada dasar kepala dan
memasuki canalis vidianus (pterygoid) pada dinding anterior foramen laserum. Nervus tersebut
memasuki ganglion pterygopalatina dari arah permukaan posterior dan inervasi simpatis dan
parasimpatis didistribusikan pada semua lokasi yang berhubungan dengan ganglion tersebut
(canalis nasalis, cavum oris, sinus paranasalis dan glandula lakrimalis melalui cabang N.V1 dan
N. V2 ).5
Fossa pterygopalatina mempunyai bentuk kerucut yang terbalik, terletak di sebelah lateral
cavum nasi, anterior inferior dari fossa cranialis media, inferior di apex orbita dan medial dari
fossa infratemporalis. Fossa pterygopalatina berhubungan dengan orbita, fossa cranialis medialis,
cavum nasi, nasofaring, cavum oris dan fossa infratemporalis . Fossa pterygopalatina terdapat n.
maxilaris, N.V2 (cabang kedua dari N. V), pterygopalatina dan arteri maxillaris.6
Batas :
- Posterior : permukaan inferior os. Sphlenoidalis ala mayordasar dari Proc. Pterigoideus,
lamina Proc. Pterygoideus.
- Anterior : permukaan posterior os maxillaries
- Superior : bagian posterior fissura orbitalis inferior, proc. Orbitalis os palatine, corpus os
palatine
- Inferior : puncak dari canalis pterygopalatina
- Medial : perpendicularis os palatine
- Lateral : terletak pada fissura pterygomaxillaris
Menghubungkan :
Lokasi pada pembukaan dinding posterior.
- Canalis Vidian (Canalis Pterygoideus), berhubungan dengan fossa cranialis media pada
bagian anterior dari foramen laserum. Berisi N. Vidianus yang di bentuk oleh N. Petrosus
Profunda (serabut simpatis postganglionik). N.Vidianus juga mengandung serabut
sensoris dari nervus kranialis VIII yang menginervasi palatum molle.
- Foramen Rotundum, berhubungan dengan fossa cranialis media. Berisi n. maxillaris
cabang ke II N.V (N.V2).
- Canalis Pharyngeal, berhubungan dengan nasofaring. Berisi N.Pharingealis (cabang dari
N.V2, yang berasal dari ganglion pterygopalatina) dan A.pharyngealis (cabang
A.Maxillaris).
Lokasi pada pembukaan dinding superior
Foramen sphenopalatina, berhubungan dengan cavum nasi. Berisi N.Sphenopalatina,
merupakan cabang dari N.V2 dari ganglion pterygopalatina dan A.Sphenopalatina
(cabang dari A.Maxillaris).
Keluar dari dinding anterior
- Fissure orbitalis inferior, berhubungan dengan orbita. Berisi N.Infraorbitalis (cabang
N.V2), A.Infraorbitalis (cabang A.Maxilaris).
Bagian inferior fossa pterygopalatina yang masuk kedalam canalis.
- Canalis pterygopalatina, berhubungan dengan dasar cavum oris. Canalis pterygopalatina
menghubungkan foramina palatina superior dan inferior. Berisi V.Palatina desenden
(cabang N.V2) dan A.Palatina desenden. Didalam canal, N. Palatina desenden dan
A.Palatina desenden mengeluarkan cabang media dan lateral inferior hidung.
II.2.2. Fisiologi Hidung
Fungsi hidung adalah untuk
1. Jalan nafas
2. Alat pengatur kondisi udara ( air conditioning )
3. Penyaring udara
4. Sebagai indera peghidu
5. Resonansi suara
6. Turut membantu untuk proses suara
7. Reflek nasal.
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara yang akan
masuk ke alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara mengatur kelembaban udara dan mengatur
suhu. Mengatur kelembaban udara dilakukan oleh palut lendir atau mucous blanket. Pada musim
panas udara hampir jenuh dengan uap air, penguapan dari lapisan ini sedikit, sedangkan pada
musim dingin akan terjadi keadaan sebaliknya. Pengaturan suhu dimungkinkan karena
banyaknya pembuluh darah dibawah epitel dan adanya permukaan konka serta septum yang luas
sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal, dengan demikian suhu udara setelah melalui
hidung kurang lebih 37C.5

Silia juga berfungsi sebagai pembersih hidung sehingga akan membersihkan udara yang masuk
ke dalam rongga hidung .Kerusakan silia akan menyebabkan terkumpulnya mucus serta
hilangnya fungsi pembersih udara sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Kerusakan silia
dapat terjadi pada penyakit- penyakit seperti rhinitis. sinusitis, merokok serta pada sindroma
Kartagener, yaitu gangguan herediter yang mencakup gabungan dekstrokardia ( situs inversus),
bronkiektasis, dan sinusitis yang diturunkan sebagai ciri resesif autosomal.