Anda di halaman 1dari 8

PEMBAHASAN

A. Pengertian Wadiah

Wadiah dalam fiqh dikenal dengan Al-wadiah, menurut bahasa al-wadiah ialah sesuatu
yang ditempatkan bukan pada pemiliknya supaya dijaganya (Ma Wudia inda Ghair
Malikihi Layahfadzahu), berarti bahwa al-wadiah ialah memberikan atau menitipkan.1 Akad
wadiah merupakan titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya
menghendaki.2 Penerima titipan merupakan tangan amanah, dalam arti mereka tidak
mengandung atas kehilangan atau kerusakkan yang terjadi pada barang titipan selama bukan
akibat dari kelalaian atau kecerobohan yang bersangkutan dalam menjalankan amanah.

B. Landasan Hukum Wadiah

Al-wadiah adalah amanat bagi orang yang menerima titipan dan ia wajib
mengembalikannya pada saat si pemilik memintanya kembali. Berikut landasan hukum
wadiah :

1. Al-Quran
Firman Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 58 yang mempunyai arti

1
Hendi suhendi, Fiqh Muamalah, tahun 2014, hlm. 179.
2
Burhanuddin S, Hukum Perbankan Syariah di Indonesia, tahun 2008, hlm. 262.

1
Dari ayat di atas mempunyai maksud bahwa Allah SWT secara langsung menuntun
dan memerintahkan seseorang menunaikan amanat secara sempurna dan tepat waktu
kepada ahliha, yaitu pemiliknya atau orang yang berhak menerimanya.

Dalam ayat lain disebutkan oleh Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat : 283.

2. Al-Hadist

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullah SAW bersabda, sampaikanlah


(tunaikanlah amanat) kepada yang berhak menerimanya. (HR. Abu Dawud dan At-
Turmidzy; Al-Muntaqa II).
Dari hadits diatas mempunyai maksud bahwa nabi muhammad memerintahkan kepada
umatnya agar menitipkan sesuatu kepada orang yang dapat menunaikan atau
bertanggungjawab atas sesuatu yang dititipkan kepada dirinya.

C. Rukun dan Syarat Wadiah. 3


1. Rukun
a. Pihak yang berakad
Orang yang menitipkan (Muwaddi)
Orang yang dititipi barang (Wadi)
b. Obyek yang diakadkan
Barang yang dititipkan (Wadiah)

3
Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, tahun 2010, hlm. 460-461.

2
c. Sighot
Serah (Ijab)
Terima (Qabul)

2. Syarat-syarat wadiah. 4
a. Syarat benda yang dititipkan
Ulama-ulama Hanawiyah mensyaratkan benda yang dititipkan harus benda yang
bisa disimpan.
Menurut Syafiiyah dan Hanabilah mensyaratkan benda yang dititipkan harus
benda yang bernilai dan dipandang sebagai mal walaupun najis.
b. Syarat orang yang menitipkan (Al-Mudi) dan orang yang dititipi
Orang yang menitipkan dan orang yang menerima titipan, sudah baligh dan
berakal.
c. Syarat sighot
Jelas apa yang dititipkan
Dimengerti oleh kedua belah pihak.
Harus dinyatakan dengan ucapan dan perbuatan.

D. Jenis Wadiah.5
Dari segi fungsinya, akad wadiah dapat terbagi menjadi 2 kategori yaitu :
a. Wadiah Yad Al-Amanah, merupakan jenis akad penitipan dimana pihak penerima
titipan tidak diperkenankan menggunakan barang titipan, sehingga tidak menanggung
atas kerusakkan atau kehilangan dari barang titipan tersebut, kecuali akibat kelalaian
dalam menjalankan amanah. Ketentuan ini mengacu pada sabda Nabi :
jaminan pertanggungjawaban tidak diminta dari peminjam yang tidak
menyalahgunakan (pinjaman) dan penerima titipan yang tidak lalai terhadap titipan
tersebut.

4
Ibid. hlm. 459
5
Burhanuddin S, Hukum Perbankan Syariah, tahun 2008, hlm. 264-265.

3
Skema :
Wadiah Yad Amanah6

b. Wadiah Yad Dhamanah yaitu akad penitipan dimana pihak penerima titipan dengan
izin pemilik dapat memanfaatkan barang titipan, sehingga dengan demikian harus
menanggung atas kerusakkan atau kehilangan barang titipan tersebut.7 Karena dalam
lembaga keuangan modern, penerima titipan (al-mustawda) tidak mungkin membiarkan
begitu saja barang titipan tanpa memberikan manfaat apapun. Karena itu untuk
menciptakan kemanfaatan melalui penggunaan barang titipan dalam usaha ekonomi,
mustawda harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik barang (al-muwaddi) dan
menjamin pengembalian barang secara utuh.
Skema :
Wadiah Yad Dhamanah8

6
Burhanuddin S, Hukum Perbankan Syariah, tahun 2008, hlm. 264.
7
Ibid. hlm. 265.
8
Ibid. hlm. 265.

4
E. Karakteristik Wadiah
a. Wadiah Yad Al-amanah
1) Merupakan titipan murni
2) Barang yang dititipkan tidak boleh digunakan (diambil manfaatnya) oleh
penitip.
3) Sewaktu titipan dikembalikan harus dalam keadaan utuh baik nilai
maupun fisik barangnya.
4) Jika selama dalam penitipan terjadi kerusakan maka pihak yang
menerima titipan tidak dibebani tanggung jawab, kecuali ada unsur
kesengajaan.
5) Sebagai kompensasi atas tanggung jawab pemeliharaan dapat dikenakan
biaya titipan.

b. Wadiah Yad Dhamanah


1) Merupakan pengembangan dari wadiah yad al amanah yang
disesuaikan dengan aktivitas perekonomian.
2) Penerima titipan diberikan izin untuk menggunakan dan mengambil
manfaat dari tiitpan tersebut (tidak idle).
3) Penyimpan mempunyai kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap
kehilangan / kerusakan barang tersebut.
4) Semua keuntungan yang dieperoleh dari titipan tersebut menjadi hak
penerima titipan.
5) Sebagai imbalan kepada pemilik barang / dana dapat diberikan semacam
insentif berupa bonus, yang tidak disyaratkan sebelumnya.

c. Penerima titipan dalam transaksi wadiah dapat: 9


1) Meminta ujrah (imbalan) atas penitipan barang / uang tersebut.
2) Memberikan bonus kepada penitip dari hasil pemanfaatan barang / uang
titipan (wadiah yad dhamanah) namun tidak boleh diperjanjikan
sebelumnya dan besarnya tergantung pada penerima titipan.

9
Osmad Muthaher, Akuntansi Perbankan Syariah, tahun 2012, hlm. 40.

5
F. Hukum menerima barang wadiah.10
Sunnah : menerima titipan barang bisa berhukum sunnah apabila orang yang
dititipi yakin dirinya amanah dan layak untuk dititipi.
Wajib, diwajibkan menerima barang titipan bagi seseorang yang percaya bahwa
dirinya sanggup menerima dan menjaga benda-benda tersebut.
Haram , apabila seseorang tak kuasa dan tidak sanggup memelihara benda-benda
titipan.
Makruh : menerima titipan barang bisa berhukum makruh, karena orang yang
akan dititipi memiliki kekhawatiran atau keraguan pada kemampuannya.

G. Aplikasi dalam LKS (Lembaga Keuangan Syariah)


Wadiah yang sering dipraktekkan dan dikembangkan oleh bank syariah adalah
wadiah yad dhamanah (titipan dengan resiko ganti rugi). Produk yang ditawarkan bank
syariah yang menggunakan konsep wadiah biasanya berkaitan dengan penghimpunan
dana (Fund), seperti giro, tabungan, dan safe deposit box (SDB) Wadiah yad dhamanah
juga bisa dikatakan sebagai Qardhul Hasan.

a. Giro wadiah
Yang dimaksud dengan giro wadiah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad
wadiah, yakni titipan murni yang setiap saat dapat diambil jika pemiliknya
menghendaki. Dalam konsep wadiah, yad al dhommanoh, pihak yang menerima
titipan boleh menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang yang dititipkan. Hal
ini berarti bahwa wadiah yad al dhomanoh, mempunyai implikasi hukum yang sama
dengan qardh, yakni nasabah bertindak sebagai pihak yang meminjamkan uang dan
bank bertindak sebagai pihak yang dipinjami. Dengan demikian, pemilik dana dan
bank tidak boleh saling menjanjikan untuk memberikan imbalan atas penggunaan atau
pemanfaatan dana atau barang titipan tersebut. Dalam kaitannya dengan produk giro,
bank syariah menerapkan prinsip yang memberikan hak kepada bank syariah untuk
menggunakan atau memanfaatkan uang atau barang titipannya, sedangkan bank

10
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kotemporer, tahun 2012, hlm. 206-207.

6
syariah bertindak sebagai pihak yang dititipi yang disertai hak untuk mengelola dana
titipan dengan tanpa mempunyai kewajiban memberikan bagi hasil dari keuntungan
pengelolaan dana tersebut. Namun demikian, bank syariah diperkanankan memberikan
insentif berupa bonus dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya. Adapun praktik
giro dengan akad wadiah sebagai berikut: 11
Rekening dapat dimiliki oleh perorangan, bersama (dua orang atau lebih),
organisasi-organisasi, perusahaan dan kemitraan.
Dana wadiah dapat digunakan oleh bank untuk kegiatan komersil dengan syarat
harus menjamin pembayaran kembali nominal dana wadiah tersebut.
Keuntungan atau kerugian dari penyaluran dana menjadi hak milik atau ditanggung
bank, sedang pemilik dana tidak dijanjikan imbalan dan tidak menanggung
kerugian.12
Bank dimungkinkan memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai suatu insentif
untuk menarik dana masyarakat tapi tidak boleh diperjanjikan dimuka.13
Pemilik dana wadiah dapat menarik kembali dananya sewaktu-waktu (on call), baik
sebagian ataupun seluruhnya.

b. Tabungan Wadiah
Di samping giro, produk perbankan syariah lainnya termasuk produk
penghimpunan dana (funding) ada tabungan. Berdasarkan UU NO. 10 Tahun 1998
tentang perubahan atas UU NO.7 Tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud
dengan tabungan adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan
atau lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu.
Adapun yang dimaksud dengan tabungan syariah adalah tabungan yang dijalankan
berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, Dewan Syariah Nasional mengeluarkan
fatwa yang menyatakan bahwa tabungan yang dibenarkan adalah tabungan yang
berdasarkan prinsip wadiah dan mudharabah.

11
Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik dan Kotemporer, tahun 2012, hlm. 208.
12
Osmad Muthaher, Akuntansi Perbankan Syariah, tahun 2012, hlm. 40.
13
Adiwarman Karim, Islamic Banking, Jakarta, Rajawali Press, h. 288-289

7
Adapun praktik produk tabungan dengan akad wadiah dapat dirinci sebagai berikut
: 14
Rekening dapat dimiliki oleh perorangan, bersama (dua orang atau lebih),
organisasi-organisasi.
Jumlah setoran awal dan saldo minimal per-bulan disesuaikan dengan kebijakkan
bank.
Dana tabungan dapat diambil sesuai dengan permintaan nasabah (on call) tanpa
batasan waktu dan setiap transaksi tercatat dalam buku tabungan.
Nasabah mendapat imbalan dari pihak bank, sebagai konsekuensi dananya
diperdayakan oleh bank, tetapi tidak diperjanjikan sebelumnya.15
Keuntungan dan kerugian dari penyaluran dana atau pemanfaatan barang menjadi
milik atau tanggungan bank.

14
Ahmad dahlan, Bank Syariah, 2012, hlm 138
15
Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, (Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada, 2010), h. 339