Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut CFT, interaksi antara logam transisi dan ligan diakibatkan oleh tarikan
antara kation logam yang bermuatan positif dan elektron bukan-ikatan ligan yang
bermuatan negatif. Teori ini dikembangkan menurut perubahan energi dari
lima degenerat orbital-d ketika dikelilingi oleh ligan-ligan. Ketika ligan mendekati ion
logam, elektron dari ligan akan berdekatan dengan beberapa orbital-d logam dan
menjauhi yang lainnya, menyebabkan hilangnya kedegeneratan (degeneracy). Elektron
dari orbital-d dan dari ligan akan saling tolak menolak. Oleh karena itu, elektron-d yang
berdekatan dengan ligan akan memiliki energi yang lebih besar dari yang berjauhan
dengan ligan, menyebabkan pemisahan energi orbital-d. Pemisahan ini dipengaruhi
oleh faktor-faktor berikut:
sifat-sifat ion logam.
keadaaan oksidasi logam. Keadaan oksidasi yang lebih besar menyebabkan
pemisahan yang lebih besar.
susunan ligan disekitar ion logam.
sifat-sifat ligan yang mengelilingi ion logam. Efek ligan yang lebih kuat akan
menyebabkan perbedaan energi yang lebih besar antara orbital 3d yang berenergi
tinggi dengan yang berenergi rendah.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan teori medan kristal?
b. Bagaimana pengisian elektron di orbital d?
c. Bagaimana perhitungan CFSE?
d. Bagaimana spektra pada medan kristal?
e. Bagaimana deret spektrokimia medan kristal?
f. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan medan kristal?
g. Apa saja kelemahan teori medan kristal?
C. Tujuan
a. Mengetahui pengertian teori medan kristal
b. Mengetahui pengisian elektron di orbital d?
c. Mengetahui perhitungan CFSE?

1
d. Mengetahui spektra pada medan kristal?
e. Mengetahui deret spektrokimia medan kristal?
f. Mengatahui faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan medan kristal?
g. Mengetahui kelemahan teori medan kristal?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Teori Medan Kristal

Dalam semua senyawaannya kation dikelilingi oleh anion atau molekul netral.
Gugus yang langsung mengelilingi suatun kation disebut ligan.Pada awalnya teori
medan kristal dikemukakan oleh Hans Bethe,seorang pakar fisika pada tahualensi yang
telah dikemukakan tahun 1929.Teori ini muncul dikarenakan teori ikatana valensi yang
telah dikemukakan mempunyai beberapa kelemahan seperti:
a. Seperti terdapatnya warna-warna senyawa komplek yang tidak dapat diterangkan
dengan teori ini
b. Ion-ion Ni2+,Pd2+,Pt2+,dan Au2+ yang biasanya membentuk komplek planarsegi
empatdapat membentuk komplek tetra hedral atau komplek dengan bilangan
kordinasi 5
c. Adanya beberapa komplek yang memilih membentuk auter orbital komplek
d. Teori ikatan valensi tidak dapat menjelaskan terjadinya spektra elektrik
e. Ketereangan tentang terjadinya kompleks planar segiempat dari Cu(N3)42+
f. Perbeda antara kompleks ion dan kompleks kovalenn
Teori medan kristal ini hampir selama 20 tahun semenjak ditemukan hanya
digunakan dalam bidang fisika zat padat. Teori medan kristal digunakan pada pakar
fisika zat padat untuk menjelaskan warna dan sifat magnetik garam-garam logam
transisi terhidrat,khususnya yang memiliki atom pusat ion logam transisi dengan orbital
d yang belum sepenuhnya terisi elektro seperti CuSO4.5H2O. Baru pada tahun 1950an.
Pada awal tahun 1950an barulah pakar kimia koordinasi menerapkan teori medan
kristal.
Teori medan kristal ini digunakan untuk menjelaskan energi kompleks
koordinasi. Hal ini didasarkan pada deskripsi ionik pada ikatan logam ligan.

Asumsi Teori Medan Kristal


Teori medan kristal yang dikemukakan Bethe dilandasi oleh tiga asumsi yaitu :
1. Ligan ligan diperlakukan sebagai titik-titik bermuatan
2. Interaksi anatara ion logam dengan ligan-ligan dianggap sepenunya sebagai
interaksi elektrostatik(ionik). Apabila ligan yang ada merupakan ligan netral

3
seperti NH3, dan H2O, maka dalam interaksi tersebut ujung negatif dari dipol dalam
molekul-molekul netral diarahkan terhadap ion logam
3. Tidak terjadi interaksi antara orbital-orbital dari ion logam dengan orbital-orbital
dari ligan.
4. H2O, maka dalam interaksi tersebut ujung negatif dari dipol dalam molekul-
molekul netral diarahkan terhadap ion logam
5. Tidak terjadi interaksi antara orbital-orbital dari ion logam dengan orbital-orbital
dari ligan.
Menurut medan kristal atau crystal field theory (CFT), ikatan antara atom pusat
dan ligan dalam kompleks berupa ikatan ion, hingga gaya yabng ada hanya berupa gaya
elektrostatik. Ion kompleks tersusun dari ion pusat yang dikelilingi oleh ion-ion lawan
atau molekul-molekul yang mempunyai momen dipole permanen.
Medan listrik dari ion pusat akan mempengaruhi ligand-ligand sekelilingnya,
sedang medan gabungan dari ligand-ligand akan mempengaruhi elektron-elektron dari
ion pusat. Pengaruh ligan ini terutama mengenai elektron d dari ion pusat dan ion
kompleks dari logam-logam transisi. Pengaruh ligand tergantung dari jenisnya,
terutama pada kekuatan medan listrik dan kedudukan geometri ligand-ligand dalam
kompleks.
Didalam ion bebas kelima orbital d bersifat degenerate artinya mempunyai
energi yang sama dan elektron dalam orbital ini selalu memenuhi hukum multiplicity
yang maksimal. Teori medan kristal terutama membicarakan pengaruh ligand yang
tersusun secara berbeda-beda disekitar ion pusat terhadap energi dari orbital d.
Pembagian orbital d menjadi dua golongan yaitu orbital eg atau dj dan orbital t2g atau de
mempunyai arti penting dalam hal pengaruh ligan terhadap orbital-orbital tersebut.
Dengan adanya ligand disekitar ion pusat orbital d tidak lagi degenerate, orbital
d ini terbagi menjad beberapa orbital dengan energi berbeda. Dikatakan juga orbital d
ini mengalami spilitting.
Ligand didalam ion kompleks berupa ion-ion negatif seperti F- dan CN- atau
berupa molekul-molekul polar dengan muatan negatifnya mengarah pada ion pusat
seperti H2O atau NH3. Ligand ini akan menimbulkan medan listrik yang akan menolak
elektron terutama elektron d dari ion pusat. Penolakan ini menyebabkan energi level
orbital d dari ion pusat bertambah.
Bila kelima orbital d sama dengan dan medan ligand mempengaruhi kelimanya
dengan cara yang sama maka kelima orbital d ini akan tetap degenerate pada energy

4
level yang lebih tinggi. Kenyataannya kelima orbital d tidak sama, yaitu ada orbital eg
atau d dan t2g atau d e. Disamping itu medan ligand tergantung dari letaknya disekitar
ion pusat, artinya apakah strukturnya oktahedral, tetrahedral, atau planar segi empat.
Akibat dari orbital d diurai oleh medan ligand, peristiwa ini disebut uraian
medan ligand atau crysral field spilitting. Dari percobaan diperoleh bahwa ada ligand-
ligand yang menghasilkan medan listrik yang kuat dan disebut strong ligand field, ada
ligand yang sebaliknya dan disebut weak ligand field. Berhubungan dengan ini ligand
dapat disusun dalam suatu spectrochemical series sesuai dengan kekuatan medannya.

B. Pengisisan elektron pada orbital d


Pengisian elekton pada orbital d, dipengaruhi oleh kekuatan medan dari ligand.
Untuk ligand yang kekuatan medannya besar atau strong ligand field, splitting yang
terjadi menghasilkan perbedaan energi yang besar, akibatnya elektron akan mengisi
penuh energi yang rendah sebelum mengisi orbital yang energinya tinggi. Pengisian
elektron orbital d pada medan octahedral.

C. Perhitungan CFSE
Crystal field st Hans Bethe abilizationenergy berubah ubah sesuai dengan
struktur dan jenis ion kompleks. Perbedaan energi orbital t2g dan eg Hans Bethe untuk
kompleks tetrahedral ~4/9 kali untuk kompleks oktahedral.orbital t2g mempunyai
energi 0,27 lebih rendah dari pada kompleks hipotesis, bila adalah .untuk
kompleks tetrahedra:
CFSE = (0,27y 0,18x)
y = jumlah elektron di orbital eg dan
x = jumlah elektron di orbital t2g.
Pada splitting oktahedral terlihat bahwa orbital t2g mempunyai energy 0,4 Io
dan energi pada orbital eg adalah 0,6 Io sehingga untuk menghitung CFSE = (0,4 x
0,6 y) Io . Dimana x = jumlah elektron di orbital t2g dan y = jumlah electron di orbital
eg.
Contoh :
jumlah elektron d = 7, t2g = 5 dan eg = 2. CFSE = (0,4 x 0,6 y) Io
= (0,4 . 5 0,6 . 2 ) Io = (2 1,2 ) Io
= 0,8 Io
Jadi dengan kata lain CFSE dapat dihitung dengan rumus umum

5
CFSE =energi pada t2g.x (energi dari eg .y)

D. Spektra
Banyak kompleks logam transisi memiliki warna yang khas. Hal ini berarti ada
absorpsi di daerah sinar tampak dari elektron yang dieksitasi oleh cahaya tampak dari
tingkat energi orbital molekul kompleks yang diisi elektron ke tingkat energi yang
kosong. Bila perbedaan energi antar orbital yang dapat mengalami transisi disebut ,
frekuensi absorpsi diberikan oleh persamaan = h . Transisi elektronik yang
dihasilkan oleh pemompaan optis (cahaya) diklasifikasikan secara kasar menjadi dua
golongan. Bila kedua orbital molekul yang memungkinkan transisi memiliki karakter
utama d, transisinya disebut transisi d-d atau transisi medan ligan, dan panjang
gelombang absorpsinya bergantung sekali pada pembelahan medan ligan. Bila satu dari
dua orbital memiliki karakter utama logam dan orbital yang lain memiliki karakter
ligan, transisinya disebut transfer muatan. Transisi transfer muatan diklasifikasikan
atas transfer muatan logam ke ligan (metal (M) to ligand (L) charge-transfers (MLCT))
dan transfer muatan ligan ke logam (LMCT).
Karena analisis spektra kompleks oktahedral cukup mudah, spektra kompleks
ini telah dipelajari dengan detail beberapa tahun. Bila kompleks memiliki satu
elektron d, analisisnya sangat sederhana. Misalnya, Ti dalam [Ti(OH2)6]3+ adalah
ion d1, dan elektronnya menempati orbital t2g yang dihasilkan oleh pembelahan medan
ligan oktahedral. Kompleksnya bewarna ungu akibat absorpsi pada 492 nm (20300 cm-
1
) (Gambar 6.13) berhubungan dengan pemompaan optis elektron d ke orbital eg.
Namun, dalam kompleks dengan lebih dari satu elektron d, ada interaksi tolakan antar
elektron, dan spektrum transisi d-d memiliki lebih dari satu puncak. Misalnya
kompleks d3[Cr(NH3)6]3+ menunjukkan dua puncak absorpsi d-d pada 400 nm (25000
cm-1), menyarankan bahwa komplkesnya memiliki dua kelompok orbital molekul yang
memungkinkan transisi elektronik dengan probabilitas transisi uang besar. Hal ini
berarti, bila tiga elektron di orbital t2g dieksitasi ke orbital eg, ada perbedaan energi
karena interaksi tolakan antar elektron.
Diagram Tanabe-Sugano dibangun dengan perhitungan berdasarkan teori
medan ligan dan telah digunakan secara luas dalam analisis spektra absorpsi
ion d1 sampai d9. Analisisnya menjadi semakin sukar untuk ion dengan banyak
elektron. Dalam setiap kasus, keberadaan spektrum d-d mensyaratkan bahwa
perbedaan energi orbital yang terisi dan yang kosong ekuivalen dengan energi spektrum

6
UV-visibel, transisinya diperbolehkan oleh aturan seleksi, dan kebolehjadian
transisinya cukup tinggi. Biasanya, absorpsi transfer muatan lebih kuat daripada transisi
absorpsi medan ligan. LMCT akan muncul bila ligan memiliki pasangan elektron non-
ikatan yang energinya cukup tinggi atau logamnya memiliki orbital berenergi rendah
yang kosong. Di lain pihak, MLCT akan muncul bila ligan memiliki orbital *
berenergi rendah, dan kompleks bipiridin adalah contoh baik yang memenuhi syarat
ini. Karena waktu hidup keadaan tereksitasi kompleks rutenium biasanya sangat
panjang, banyak studi yang telah dilakukan untuk mempelajari reaksi fotoredoksnya.

E. Deret spektrokimia
Besarnya parameter pembelahan medan ligan 0 ditentukan oleh identitas
ligan. Suatu aturan empiris yang disebut deret spektrokimia telah diusulkan oleh
kimiawan Jepang Rutaro Tsuchida. Aturan ini dibangun dari data empiris yang
dikumpulkan bila diukur spektra kompleks yang memiliki atom pusat, bilangan
oksidasi dan bilangan koordinasi, dsb sama. Penting dicatat bahwa ligan dengan sifat
akseptor memiliki posisi yang tinggi dalam deret ini.
Walaupun 0 menjadi lebih besar dalam urutan ini, urutan ini bergantung pada
identitas atom pusat dan bilangan oksidasinya. Yakni, o lebih besar untuk logam
4d dan 5d daripada logam 3d dan menjadi lebih besar dengan meningkatnya bilangan
oksidasi. Besarnya 0 berhubungan erat dengan posisi spektrum elektromagnetik, dan
merupakan faktor kunci dalam menentukan posisi ligan dalam deret spektrokimia.
Ligan donor (halogen, aqua, dsb.) membuat panjang gelombang absorpsi lebih besar,
dan ligan akseptor (karbonil, olefin, dsb.) memperpendek panjang gelombang
absorpsi dengan kontribusi dari ikatan .

F. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan Medan Kristal


Kekuatan medan kristal atau harga 10 Dq dipengaruhi oleh banyak faktor.
Empat faktor dintaranya adalah ion pusat, jumlah ligan dan geometri kompleks, jenis
ligan dan jenis ion pusat.
a. Muatan Ion Pusat
Bertambah muatan ion pusat akan menyebabkan ligan-ligan tertarik lebih
dekat ke ion pusat sehingga interaksi antara ligan-ligan dengan orbital-orbital d ion
pusat bertambah kuat akibatnya pemisahan orbital d makin besar dan medan kristal
yang timbul makin kuat. Secara teoritik penambahan muatan ion pusat dari 2+ ke

7
3+ akan meningkatkan harga 10 Dq sekitar 50 %. Sebagai contoh adalah
[Fe(H2O)6]2+ memiliki 10 Dq sebesar 10000 cm1sedangkan ion
[Fe(H2O)6]3+ memiliki 10 Dq sebesar 14000 cm-1.
b. Jumlah dan Geometri dari Ligan
Semakin banyak jumlah ligan yang terikat pada ion pusat medan yang
timbul makin kuat dan harga 10 Dqmakin besar. Kekuatan medan oktahedral lebih
dari 2 kali lipat kekuatan medan tetrahedral untuk ion pusat dan jenis ligan yang
sama. Sebagai contoh ion [Ti(H2O)4]3+ memiliki 10 Dq sebesar 9000 cm
1
sedangkan ion [Ti(H2O)6]3+memiliki 10 Dq sebesar 20300 cm1. secara umum
dianggap bahwa:
Td= 4 o atau 10 DqTd = 4Dqo
9 9
Dalam hal ini ada dua faktor yang mempengaruhi harga 10 Dq. Pada kedua
kompleks tersebut yaitu:
1. Interaksi anatara ligan-ligan dengan orbital-orbital d dari ion pusat pada medan
oktahedral lebih kuat dibandingkan pada medan tetrahedral.
2. Bertambahnya jumlah ligan akan memperbesar kekuatan interaksi dan
pemisahan orbital-orbital d
c. Jenis Ligan
Ligan yang berbeda akan menghasilkan kekuatan medan yang berbeda pula.
Contoh adalah harga 10Dq untuk [CrCl6]3-, [Cr(NH3)6]3+ dan [Cr(CN)6]3- secara
berturut-turut adalah 163 kJ. Mol-1, 259 kJ.mol-1 dan 314 kJ.mol-1.
urutan kekuatan beberapa ligan ditunjukan dalam deret
spektrokimia(spectrochemical series) sebagai berikut:
I-< Br-< S2-< SCN-< Cl-< NO3-< F-< OH-< ox2-< H2O < NCS- < CH3CN-< NH3< py
< en < dipy < phen < NO2-< fosfina < CN-< CO.
Deret tersebut disebut juga deret Fajans-Tsuchida.
d. Jenis Ion Pusat
Dalam satu golongan untuk ion-ion dengan muatan yang sama kekuatan medan
yang timbul akibat interaksi antara ion pusat dengan ligan-ligan yang sama
bertambah dengan bertambahnya periode.
Hal ini disebabkan karena pada satu golongan dari atas ke bawah terjadi kenaikan
muatan inti efaktif dengan bertambahnya periode.
Kenaikan ini disebabkan karena efek saringan (shielding) orbital 5d< 4d< 3d.

8
Kenaikan muatan inti efektif menyebabkan ligan-ligan tertarik lebih dekat ke ion
pusat.
Interaksi antara ligan-ligan dengan elektron-elektron pada orbital d ion pusat
semakin kuat, pemisahan orbital dsemakin besar demikian pula dengan harga
10Dq yang ada.
Sebagai contoh harga 10Dq untuk ion-ion [Co(NH3)6]3+, [Rh(NH3)6]3+ dan
[Ir(NH3)6]3+ secara berturut-turut adalah 296 kJ.mol-1 dan 490 kJ.mol-1.
e. Energi Penstabilan Medan Kristal
Pada kompleks oktahedral perbedaan energi antara orbital t2g dan eg dinyatakan
harga dengan 10Dq atau o.
Pada simetri oktakhdral bila elektron mengisi orbital t2gakan terjadi penstabilan dan
bila mengisi orbital egakan terjadi pentidakstabilan.
Pentidakstabilan juga terjadi bila elektron-elektron dipasangkan pada suatu orbital.
Energi yang terlibat pada penstabilan suatu kompleks disebut energi penstabilan
medan kristal (Crystal Field Stabilization Energy = CFSE).
Pada kompleks oktahdral dengan medan lemah harga 10Dq adalah lebih kecil dari
pada energi yang diperlukan untuk memasangkan spin (P).
Dengan demikian elektron ke empat lebih menguntungkan apabila mengisi
orbital eg dari pada bila dipasangkan dengan elektron yang dapat terdapat pada
orbital t2g.
Hal yang sebaliknya terjadi pada medan kuat.
Pada kompleks oktahedral besarnya CSFE untuk medan lemah ditunjukkan pada
tabel di bawah ini.

9
TABEL CFSE UNTUK KOMPLKS OKTAHEDRAL, TETRAHEDRAL DAN
PLANAR SEGIEMPAT

Jumlah High spin Low spin


elektron Oktahedral Tetrahedral Planar Oktahedral Tetrahedral Planar
segi segi
empat empat

0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0


1 0,4 0,27 0,51 O,4 0,27 0,57
2 0,8 0,54 1,02 0,8 0,54 1,02
3 1,2 0,36 1,45 1,2 0,81 1,45
4 0,6 0,18 1,22 1,6 1,08 1,96
5 0,0 0,0 0,0 2,0 0,90 2,47
6 0,4 0,27 0,51 2,4 0,72 2,90
7 0,8 0,54 1,02 1,8 0,54 2,67
8 1,2 0,36 1,45 1,2 0,36 2,44
9 0,6 0,18 1,22 0,6 0,18 1,22
10 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

G. Kelemahan Teori Medan Kristal

Teori medan kristal dapat menjelaskan tentang pembentukan senyawa


kompleks, sifat magnetik dan perubahannya karena pengaruh temperatur serta
kestabilan dari senyawa kompleks. Kelemahan dari teori ini adalah berkenaan dengan
asumsi yang mendasarinya, yaitu interaksi antara atom pusat dan ligan-ligan
sepenuhnya merupakan interaksi elektrostatis. Dari asumsi ini maka:
Medan yang ditimbulkan oleh ligan negatif seharusnya lebih kuat dari pada medan
yang ditimbulkan oleh ligan netral.
Ligan yang memiliki moment dipol lebih besar seharusnya menimbulkan medan
yang lebih kuatdibandingkan ligan yang moment dipolnya lebih kecil.
Senyawa kompleks dengan atom pusat memiliki bilangan oksidasi nol dan ligan
netral seperti [Ni(CO)4] seharusnya tidak mungkin terbentuk karena tidak terjadi

10
interaksi elektrostatis antar atom pusat dengan ligan-ligan. Dalam kenyataan
senyawa tersebut dapat terbentuk danberdifat stabil.
Fakta-fakta diatas menunjukan kalaw asumsi-asumsi yang mendasari teori
medan ligan tidak sepenihnya benar. Fakta ketiga menunjukan bahwa di sampin
interaksi elektrstatis, ligan-ligan dengan atom pusat dapat mengadakan interaksi
kovalent.

11
DAFTAR PUSTAKA

http://gokilgoblin.blogspot.co.id/2009/02/makalah-teori-medan-kristal.html

http://bloggermuhammadfadli.blogspot.co.id/2012/11/teori-medan-
kristal.html?view=timeslide

https://www.academia.edu/people/search?utf8=%E2%9C%93&q=makalah+teori+medan+kri
stal+anorganik

https://id.scribd.com/doc/7800998/makalah-teori-medan-kristal-by-heru

12

Anda mungkin juga menyukai