Anda di halaman 1dari 22

INTENSITAS RADIASI MATAHARI

Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Fisika Lingkungan


Dosen Pengampu : Dr. Karya Sinulingga., M.Si

Disusun Oleh :

KELOMPOK
Kiki Santoso
Kiki Hastari Togatorop
Mega Furi Handayani
Mika Febiani Siahaan
Nur Maharani

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan Tuhan Yang Maha Esa karena atas Berkat
Rahmat dan lindungan-Nya makalah ini dapat diselesaikan guna memenuhi tugas
Fisika Lingkungan. Makalah ini berisi sedikit tentang sebagian penjelasan tentang
kedudukan Fisika Lingkugan tentang Intensitas Radiasi Matahari.
Kiranya makalah ini dapat membantu saudara para mahasiswa ataupun
ataupun pembaca umum untuk lebih mudah memahami teori dan konsep-konsep
Fisika Lingkungan. Fisika Lingkunagn terdapat Mekanika Fluida adalah kajian
teoritik untuk fenomena tentang Intensitas Radiasi Matahari. Dengan
menggunakan hukum-hukum mekanika,jenis-jenis fluida yang dirumuskan
melalui eksperimen dapat diperoleh .
Pembuatan Makalah ini juga diambil dari beberapa referensi ataupun
sumber yang tepercaya baik dari buku perkuliahan,buku bacaan maupun dari
internet. Oleh karena itu Penyusun menyadari kekurangan dan kemungkinan
kesalahan dalam uraian ataupun isi makalah ini,karena penyusu mengahrapkan
saran dan perbaikan dari pemabaca. Atas perhatiannya kami mengucapkan
terimah kasih.

Medan, Maret 2017

Kelompok
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................

DAFTAR ISI ........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................

1.1. Latar Belakang ...............................................................................................


1.2. Rumusan Masalah ..........................................................................................
1.3. Tujuan ............................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN .....................................................................................

2.1. Intensitas Radiasi Matahari ............................................................................

2.2. Terminologi ....................................................................................................

2.3. Fisika Cahaya .................................................................................................

2.4. Neraca Energi Cahaya ....................................................................................

BAB III PENUTUP .............................................................................................

3.1. Kesimpulan ....................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................


BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Radiasi Matahari ialah pancaran energi yang berasal dari proses
thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar
dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari
dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar
yang termasuk gelombang pendek adalah sinar X, sinar gamma, dan sinar
ultraviolet. Sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar
inframerah.Intensitas radiasi matahari ialah besar kecilnya sudut datang sinar
Matahari pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan
sudut besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang
memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar
pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan
atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak
lurus.
Sebagian pakar Meteorologi percaya bahwa bumi lebih hangat
dibandingkan hasil perhitungan rata-rata suhu muka bumi 300 K, pada
kenyataanya lebih adalah indikator keberadaan zat yang dikenal sebagai GRK
(gas rumah kaca). GRK terdiri atas CO2, O3, uap H2O, N2O, CFC, dan CH4.
GRK mempunyai sifat khas layaknya seperti rumah kaca yang dapat meneruskan
radiasi surya langsung ke permukaan, tetapi secara selektif menahan radiasi bumi
dalam bentuk gelombang panjang yang terakumulasi sehingga menimbulkan efek
panas. Persis seperti di dalam rumah kaca yang tertutup.

Pada jumlah yang ada saat ini, dirasakan GRK masih dianggap
menguntungkan karena bumi menjadi hangat dan dapat dihuni, tetapi bila
aktivitas manusia pada berbagai sektor yang cenderung meningkatkan keberadaan
GRK, dikhawatirkan akan menimbulkan dampak pemanasan bumi secara global,
yang pada akhirnya dapat mencairkan es di kutub, sehingga volume air laut
menjadi bertambah, tenggelamlah beberapa pulau atau pantai serta kota pantai.
Meskipun sebagian pakar kurang meyakini fenomena ini dan menganggap ada
faktor penyeimbang seperti letusan gunung api yang menghamburkan jutaan ton
partikel ke udara akan menimbulkan dampak pendinginan bagi bumi juga secara
global.

Aspek penting dalam pembahasan energi adalah hukum termodinamika.


Termodinamika adalah cabang ilmu yang mempelajari perubahan energi dari satu
bentuk energi ke bentuk energi lainnya.Kestimbangan energy pada suatu sistem
didasarkan pada prinsip atau hukum kekekalan energy yaitu energy tidak dapat
diciptakan atau dimusnahkan. Kesetimabangan energy akan berkesinambungan
dengan prinsip kesetimbangan massa, sehingga prinsip perhitungan yang
digunakan ketimbangan energy mirip dengan kesetimbangan massa. Hukum
Kesetimbangan Massa menyatakan laju energi yang masuk ke dalam sistem
dikurangi dengan laju energi yang keluar dari sistem sama dengan laju energy
akumulasinya

Neraca radiasi secara global dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian
radiasi gelombang pendek (neraca radiasi matahari) dan bagian gelombang
panjang (neraca radiasi bumi).

1.2. Rumusan Masalah

Adapun Rumusan Masalah dalam pembuatan Makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana Intensitas Radiasi Matahari?


2. Apa Terminologi?
3. Apa itu Fisika Cahaya?
4. Apa neraca energi cahaya?
1.3. Tujuan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah:

1. Mengetahui Bagaimana Intensitas Radiasi Matahari?


2. Mengetahui Apa Terminologi?
3. Mengetahui Apa itu Fisika Cahaya?
4. Mengetahui Apa neraca energi cahaya?
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Intensitas Radiasi Matahari

Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses


thermonuklir yang terjadi di Matahari. Energi radiasi Matahari berbentuk sinar
dan gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi Matahari sendiri terdiri dari
dua yaitu, sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar
yang termasuk gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet,
sedangkan sinar gelombang panjang adalah sinar infra merah.
Jumlah total radiasi yang diterima di permukaan bumi tergantung 4 (empat)
faktor, diantaranya :

1. Jarak Matahari. Setiap perubahan jarak bumi dan Matahari menimbulkan


variasi terhadap penerimaan energi Matahari
2. Intensitas radiasi Matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari
pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut
besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang
memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya tersebar
pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus menempuh lapisan
atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan sudut datang yang tegak
lurus.
3. Panjang hari (sun duration) Yaitu jarak dan lamanya antara Matahari terbit dan
Matahari terbenam.
4. Pengaruh atmosfer Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi oleh
gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya
diteruskan ke permukaan bumi. Selain itu, radiasi matahari bisa menangkal black
hole yang katanya bisa memerangkap cahaya.

Radiasi yang dipancarkan oleh matahari yang kemudian diserap oleh bumi
dan juga ada yang dipantulkan kembali ke ruang angkasa. Suhu matahari
diperkirakan sekitar 6000C dan memancarkan radiasi ke bumi sebagai
gelombang pendek. Akibatnya, bumi yang kita tempati ini memiliki suhu rata-rata
sekitar 15C.
Matahari terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Gravitasi menyebabkan
sejumlah besar materi, terutama hidrogen, untuk berkumpul dan menjadi padat;
tekanan yang sangat tinggi pada kumpulan materi tersebut akhirnya menjadi inti
matahari. Tekanan di inti matahari sangat kuat sehingga atom hidrogen mulai
mengalami fusi yang akhirnya banyak sekali melepaskan panas. Akibat fusi inilah
matahari menjadi panas dan memancarkan radiasi.
Matahari itu sendiri merupakan sumber utama energi yang berpengaruh pada
kondisi atmosfer, cuaca serta iklim di bumi ini radiasi yang dipancarkan akan
sampai di puncak tertinggi atmosfer sebesar 1360 WM^2. Kemudian sekitar
30% dari radiasi tersebut akan dipantulkan kembali ke angkasa luar.
Matahari memiliki komposisi unsur pembentuknya yaitu hydrogen (75%) dan
helium (25%) dengan sedikit silikon, neon dan carbon. Inti dari matahari,
memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Suhu mencapai 15.000K
2. Kerapatan 160.000 Kg/m^3
3. Dapat mengembang sekitar dari radius matahari
4. Mengalami reaksi thermonuklir sinar gamma dan sinar x

Energi radiasi elektromagnetik dari matahari terdiri dari paket-paket energi


yang disebut photon. Matahari mengemisikan 41% radiasi cahaya visible, 9%
cahaya ultraviolet, dan 50% cahaya dekat inframerah.
Hukum Kirchoff : Suatu objek yang mudah menyerap radiasi matahari juga akan
mudah mengemisikan radiasi tersebut.
Seperti contoh saat siang hari, daratan mudah menyerap panas dari matahari
kemudian suhu permukaannya menjadi hangat. Begitu pula saat malam hari,
daratan lebih mudah mengemisikan radiasi tadi ke atmosfer sehingga suhu
permukaan menjadi dingin.
Energi yang diserap dan diemisikan oleh bumi kita ini memiliki perhitungannya
tersendiri. Berikut ini merupakan neraca di bumi :

Qn=Qs+Ql-Qs-Ql

Qn : Radiasi netto (WM^2)


Qs dan Qs : Radiasi surya yang datang dan keluar (WM^2)
Ql dan Ql : Radiasi gelombang panjang yang keluar (WM^2)

Radiasi surya (Qs) bernilai 0 pada malam hari, radiasi netto (Qn) bernilai
negatif. Siang hari Qs jauh lebih besar sehingga Qn positif.
Qn yang positif akan digunakan untuk memanaskan udara (H), penguapan (E),
pemanasan tanah/lautan (G) dan kurang dari 5% untuk fotosintesis (berlaku bila
tidak ada adveksi panas/pemindahan panas secara horisontal).
Keseimbangan energi global yang ada di bumi kita ini. Pada awalnya energi
dari matahari berjumlah 100%. Kemudian beberapa diserap oleh atmosfer dan
awan sebanyak 25%, namun 25% juga langsung dipantulkan. Selanjutnya ada
juga energi yang langsung mengenai permukaan dan diserap oleh permukaan
sebanyak 45% dan 5% energi dipantulkan oleh permukaan. Sehingga total energi
yang dipantulkan oleh bumi kita ini adalah 30%.

B. PENCEGAHAN TERJADINYA RADIASI MATAHARI BERLEBIH

Banyak sekali berbagai jenis sinar yang dihasilkan matahari namun berbahaya
bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, seperti sinar gamma, sinar X, dll. Tetapi,
masih terdapat cara mencegah terjadinya hal tersebut dengan melakukan beberapa
kegiatan berikut.

1. Mengurangi penggunaan kendaraan mesin berpolusi, seperti bus, motor


vespa, dll
2. Melakukan reboisasi di lahan yang gundul sebagai wujud penghasil gas
oksigen (komposisi penguat atmosfer bumi)
3. Mengurangi penggunaan kaca untuk berbagai bangunan khususnya gedung
bertingkat dan rumah kaca
4. Menindak lanjuti dan mengatasi adanya asap pabrik pabrik baik berupa
limbah cair ataupun limbah asap, khususnya
5. Dapat memanfaatkan radiasi matahari yang ada dengan baik bukan
memperburuk keadaan
Dengan melakukan kegiatan kegiatan tersebut, atmosfer bumi sedikit demi
sedikitnya akan menebal dan dapat menampung radiasi matahari langsung.

C. DAMPAK POSITIF RADIASI MATAHARI TERHADAP BUMI

Matahari merupakan sumber utama energi bagi kehidupan. Pengaruh


radiasi matahari sangat banyak meliputi pengunaan untuk
pemanasan/mengeringkan, penguapan dan pencahayaan alami dalam bangunan di
siang hari, pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pengairan, lingkungan
hidup, kesehatan, bangunan, kesehatan dan berbagai kegunaan yang sangat
praktis.
Kedudukan relatif matahari terhadap daerah dan berbagai aktivitas matahari
akan mempengaruhi cuaca/iklim di wilayah itu. Ketika matahari aktif
meningkatnya radiansi matahari mempengaruhi jumlah energi matahari yang
sampai ke bumi (intensitas insolasinya), demikian juga medan magnetik sekitar
bumi dan jumlah partikel bermuatan yang dipancarkan matahari sehingga
mengubah inensitas sinar kosmik yang sampai ke bumi. Hal itu mempengaruhi
dinamika atmosfer dan lautan, serta proses pembentukan awan, suhu, dan hujan.
Matahari adalah sumber energi utama bagi bumi. Pemanasan matahari pada
siang hari dan pendinginan pada malam hari dalam skala harian, atau musim
panas dan musim dingin dalam skala tahunan, berperan besar pada gerakan massa
udara dalam bentuk angin, baik dalam skala lokal maupun global. Demikian juga
penguapan air di permukaan bumi oleh matahari sehingga menjadi awan dan dari
awan itu turun hujan kemudian airnya mengalir ke tempat yang rendah, tampak
jelas peranan matahari dalam siklus hidrologi yang merupakan gerakan massa air.
Faktor cahaya matahari dalam proses fotosintesis pada tumbuhan menunjukkan
perannya dalam aktivitas biologi yang menunjang kehidupan makhluk hidup di
bumi, baik dalam bentuk bahan makanan maupun dalam siklus karbon dioksida
dan oksigen.
Matahari juga berpengaruh pada kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
Bagi tumbuhan, Energi matahari dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk proses
fotosintesis. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia pembentukan zat makanan
atau energi yaitu glukosa yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis
bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan
bantuan energi cahaya matahari.bagi manusia dan hewan sinar matahari pagi
berpengaruh untuk merangsang tubuh untuk menghasilkan vitamin D, yang
berfungsi untuk memetabolisasi kalsium, sehingga membentuk tulang yang kuat.

2.2. Terminologi

1. Pengertian Terminologi
Terminologi (bahasa Latin: terminus) atau peristilahan adalah ilmu tentang
istilah dan penggunaannya. Istilah (bahasaArab: ,
iil)adalah kata dangabungan kata yang digunakan dalam konteks tertentu.
Kajian terminologi antara lain mencakup pembentukannya serta
kaitan istilah dengan suatu budaya. Ahli dalam terminologi disebut dengan
juru istilah"terminologist" dan kadang merupakan bagian dari
bidang penerjemahan.
Bidangilmu terminologi terdiridaricabangsebagaiberikut:
Menganalisis konsep dan susunan (struktur) konsep yang digunakan pada
suatu bidang
Mencari pengertian istilah yang dibuat untuk konsep tersebut
Pada kasus terminologi dua bahasa atau lebih, menetapkan kesamaan antar
istilah dalam bermacam-macam bahasa
Mengelola seluruh basis data istilah membuat kosakata baru jika
diperlukan
2. Sistem atmosfer, bila atmosfer diperhitungkan maka selain pada butir 1 diatas,
yang berpengaruh juga pada butir 2 antara lain :

Penyerapan (absorbtion), awan, uap air, aerosol, dan gas kering akan
menyerap radiasi yang lewat sebelum sampai ke muka bumi.
Pemantulan (reflection)
Pembauran (scattering)
Dipancarkan kembali (reflection)
Radiasi langsung dikenal sebagai insolasi (incoming soar radiation)

2.3. Fisika Cahaya

Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang


bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter: 1 meter
adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458 detik.

Kecepatan cahaya adalah 299,792,458 meter per detik.

Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matahari adalah sumber cahaya


utama di Bumi. Tumbuhan hijau memerlukan cahaya untuk membuat makanan.

Sifat-sifat cahaya ialah, cahaya bergerak lurus ke semua arah. Buktinya adalah
kita dapat melihat sebuah lampu yang menyala dari segala penjuru dalam sebuah
ruang gelap. Apabila cahaya terhalang, bayangan yang dihasilkan disebabkan
cahaya yang bergerak lurus tidak dapat berbelok. Namun cahaya dapat
dipantulkan .

Teori tentang cahaya

Teori abad ke-10

Ilmuwan Abu Ali Hasan Ibn Al-Haitham (965sekitar


1040), dikenal juga sebagai Alhazen,
mengembangkan teori yang menjelaskan penglihatan,
menggunakan geometri dan anatomi. Teori itu
menyatakan bahwa setiap titik pada daerah yang
tersinari cahaya, mengeluarkan sinar cahaya ke segala arah, namun hanya satu
sinar dari setiap titik yang masuk ke mata secara tegak lurus yang dapat dilihat.
Cahaya lain yang mengenai mata tidak secara tegak lurus tidak dapat dilihat. Dia
menggunakan kamera lubang jarum sebagai contoh, yang menampilkan sebuah
citra terbalik. Alhazen menganggap bahwa sinar cahaya adalah kumpulan partikel
kecil yang bergerak pada kecepatan tertentu. Dia juga mengembangkan teori
Ptolemy tentang refraksi cahaya namun usaha Alhazen tidak dikenal di Eropa
sampai pada akhir abad 16.

Teori Partikel

Isaac Newton menyatakan dalam Hypothesis of Light pada 1675 bahwa cahaya
terdiri dari partikel halus (corpuscles) yang memancar ke semua arah dari
sumbernya. Teori ini dapat digunakan untuk menerangkan pantulan cahaya, tetapi
hanya dapat menerangkan pembiasan dengan menganggap cahaya menjadi lebih
cepat ketika memasuki medium yang padat tumpat karena daya tarik gravitasi
lebih kuat.

Teori Gelombang (atau Ray)

Christiaan Huygens menyatakan dalam abad ke-17 yang cahaya dipancarkan ke


semua arah sebagai ciri-ciri gelombang. Pandangan ini menggantikan teori
partikel halus. Ini disebabkan oleh karena gelombang tidak diganggu oleh
gravitasi, dan gelombang menjadi lebih lambat ketika memasuki medium yang
lebih padat. Teori gelombang ini menyatakan bahwa gelombang cahaya akan
berinterferensi dengan gelombang cahaya yang lain seperti gelombang bunyi
(seperti yang disebut oleh Thomas Young pada kurun ke-18), dan cahaya dapat
dipolarisasikan. Kelemahan teori ini adalah gelombang cahaya seperti gelombang
bunyi, memerlukan medium untuk dihantar. Suatu hipotesis yang disebut
luminiferous aether telah diusulkan, tetapi hipotesis itu tidak disetujui.

Teori Elektromagnetik

Pada 1845 Faraday menemukan bahwa sudut polarisasi dari sebuah sinar cahaya
ketika sinar tersebut masuk melewati material pemolarisasi dapat diubah dengan
medan magnet.Ini adalah bukti pertama kalau cahaya berhubungan dengan
Elektromagnetisme. Faraday mengusulkan pada tahun 1847 bahwa cahaya adalah
getaran elektromagnetik berfrekuensi tinggi yang dapat bertahan walaupun tidak
ada medium.

Teori ini diusulkan oleh James Clerk Maxwell pada akhir abad ke-19, menyebut
bahwa gelombang cahaya adalah gelombang elektromagnet sehingga tidak
memerlukan medium untuk merambat. Pada permukaannya dianggap gelombang
cahaya disebarkan melalui kerangka acuan yang tertentu, seperti aether, tetapi
teori relativitas khusus menggantikan anggapan ini. Teori elektromagnet
menunjukkan yang sinar kasat mata adalah sebagian daripada spektrum
elektromagnet. Teknologi penghantaran radio diciptakan berdasarkan teori ini dan
masih digunakan.

Kecepatan cahaya yang konstan berdasarkan persamaan Maxwell berlawanan


dengan hukum-hukum mekanis gerakan yang telah bertahan sejak zaman Galileo,
yang menyatakan bahwa segala macam laju adalah relatif terhadap laju sang
pengamat. Pemecahan terhadap kontradiksi ini kelak akan ditemukan oleh Albert
Einstein.

Teori Kuantum

Teori ini di mulai pada abad ke-19 oleh Max Planck, yang menyatakan pada tahun
1900 bahwa sinar cahaya adalah terdiri dari paket (kuantum) tenaga yang dikenal
sebagai photon. Penghargaan Nobel menghadiahkan Planck anugerah fisika pada
1918 untuk kerja-kerjanya dalam penemuan teori kuantum, walaupun dia
bukannya orang yang pertama memperkenalkan prinsip asas partikel cahaya.

Teori Dualitas Partikel-Gelombang

Teori ini menggabungkan tiga teori yang sebelumnya, dan menyatakan bahwa
cahaya adalah partikel dan gelombang. Ini adalah teori modern yang menjelaskan
sifat-sifat cahaya, dan bahkan sifat-sifat partikel secara umum. Teori ini pertama
kali dijelaskan oleh Albert Einstein pada awal abad 20, berdasarkan dari karya
tulisnya tentang efek fotolistrik, dan hasil penelitian Planck. Einstein
menunjukkan bahwa energi sebuah foton sebanding dengan frekuensinya. Lebih
umum lagi, teori tersebut menjelaskan bahwa semua benda mempunyai sifat
partikel dan gelombang, dan berbagai macam eksperimen dapat di lakukan untuk
membuktikannya. Sifat partikel dapat lebih mudah dilihat apabila sebuah objek
mempunyai massa yang besar.

Pada pada tahun 1924 eksperimen oleh Louis de Broglie menunjukan elektron
juga mempunyai sifat dualitas partikel-gelombang. Einstein mendapatkan
penghargaan Nobel pada tahun 1921 atas karyanya tentang dualitas partikel-
gelombang pada foton, dan de Broglie mengikuti jejaknya pada tahun 1929 untuk
partikel-partikel yang lain.

Panjang Gelombang Tampak

Cahaya tampak adalah bagian spektrum yang mempunyai panjang gelombang


antara lebih kurang 400 nanometer (nm) dan 800 nm (dalam udara).

Rumus kecepatan-cahaya

v = f,

Dimana adalah panjang gelombang, f adalah frekuensi, v adalah kecepatan


cahaya. Kalau cahaya bergerak di dalam vakum, jadi v = c, jadi

c = f,

di mana c adalah laju cahaya. Kita boleh menerangkan v sebagai

di mana n adalah konstan (indeks biasan) yang mana adalah sifat material yang
dilalui oleh cahaya.

Sejarah pengukuran kelajuan cahaya

Kelajuan cahaya telah sering diukur oleh ahli fisika. Pengukuran awal yang paling
baik dilakukan oleh Olaus Roemer (ahli fisika Denmark), dalam 1676. Beliau
menciptakan kaedah mengukur kelajuan cahaya. Beliau mendapati dan telah
mencatatkan pergerakan planet Saturnus dan satu dari bulannya dengan
menggunakan teleskop. Roomer mendapati bahwa bulan tersebut mengorbit
Saturnus sekali setiap 42-1/2 jam. Masalahnya adalah apabila Bumi dan Saturnus
berjauhan, putaran orbit bulan tersebut kelihatan bertambah. Ini menunjukkan
cahaya memerlukan waktu lebih lama untuk samapai ke Bumi. Dengan ini
kelajuan cahaya dapat diperhitungkan dengan menganalisa jarak antara planet
pada masa-masa tertentu. Roemer mendapatkan angka kelajuan cahaya sebesar
227,000 kilometer per detik.

Mikel Giovanno Tupan memperbaiki hasil kerja Roemer pada tahun 2008. Dia
menggunakan cermin berputar untuk mengukur waktu yang diambil cahaya untuk
bolak-balik dari Gunung Wilson ke Gunung San Antonio di California. Ukuran
jitu menghasilkan kelajuan 299,796 kilometer/detik. Dalam penggunaan sehari-
hari, jumlah ini dibulatkan menjadi dan 300,000 kilometer/detik.

Warna dan Panjang Gelombang

Panjang gelombang yang berbeda-beda diinterpretasikan oleh otak manusia


sebagai warna, dengan merah adalah panjang gelombang terpanjang (frekuensi
paling rendah) hingga ke ungu dengan panjang gelombang terpendek (frekuensi
paling tinggi). Cahaya dengan frekuensi di bawah 400 nm dan di atas 700 nm
tidak dapat dilihat manusia. Cahaya disebut sebagai sinarultraviolet pada batas
frekuensi tinggi dan inframerah (IR atau infrared) pada batas frekuensi rendah.
Walaupun manusia tidak dapat melihat sinar inframerah kulit manusia dapat
merasakannya dalam bentuk panas. Ada juga camera yang dapat menangkap sinar
Inframerah dan mengubahnya menjadi sinar tampak. Kamera seperti ini disebut
night vision camera.Radiasi ultaviolet tidak dirasakan sama sekali oleh manusia
kecuali dalam jangka paparan yang lama, hall ini dapat menyebabkan kulit
terbakar dan kanker kulit. Beberapa hewan seperti lebah dapat melihat sinar
ultraviolet, sedangkan hewan-hewan lainnya seperti Ular Viper dapat merasakan
IR dengan organ khusus.

2.4. Neraca Energi Cahaya


Neraca massa merupakan perincian banyaknya bahan-bahan yang masuk,
keluar dan menumpuk dalam suatu alat pemroses. Perhitungan dan perincian
banyaknya bahan-bahan ini diperlukan untuk pembuatan neraca energi,
perhitungan rancangan dan evaluasi kinerja suatu alat atau satuan pemroses.
Untuk rancangan misalnya, diperlukan perhitungan jumlah hasil yang akan
diperoleh atau sebaliknya bahan baku dan bahan pembantu yang diperlukan untuk
mendapatkan hasil dalam jumlah tertentu. Jumlah energi atau panas yang
diperlukan bergantung pada jumlah bahan yang diproses. Demikian juga ukuran
peralatan, ditentukan jumlah bahan yang harus ditangani.
Neraca energi adalah cabang keilmuan yang mempelajari kesetimbangan
energi dalam sebuah sistem. Neraca energi dibuat berdasarkan pada hukum
pertama termodinamika. Hukum pertama ini menyatakan kekekalan energi, yaitu
energi tidak dapat dimusnahkan atau dibuat, hanya dapat diubah bentuknya.
Perumusan dari neraca energi suatu sistem mirip dengan perumusan neraca massa.
Namun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu suatu
sistem dapat berupa sistem tertutup namun tidak terisolasi (tidak dapat terjadi
perpindahan massa namun dapat terjadi perpindahan panas) dan hanya terdapat
satu neraca energi untuk suatu sistem (tidak seperti neraca massa yang
memungkinkan adanya beberapa neraca komponen). Suatu neraca energi memiliki
persamaan:

Energi masuk = Energi keluar + Energi akumulasi

Tidak seperti neraca massa yang memiliki variabel produksi, neraca


energi tidak memiliki variabel produksi. Hal ini disebabkan energi tidak dapat
diproduksi, hanya dapat diubah bentuknya. Namun demikian, bila terdapat suatu
jenis energi diabaikan, misalnya bila neraca dibuat dengan hanya
memperhitungkan energi kalor saja, maka persamaan neraca energi akan menjadi:

Kalor masuk + Kalor produksi = Kalor keluar + Kalor akumulasi

dengan Kalor produksi bernilai negatif jika kalor dikonsumsi. Neraca energi
digunakan secara luas pada bidang ilmu murni seperti fisika, biologi, kimia dan
geografi.
Neraca massa atau panas suatu sistem proses dalam industri merupakan
perhitungan kuantitatif dari semua bahan-bahan yang masuk, yang keluar, yang
terakumulasi (tersimpan) dan yang terbuang dalam sistem itu. Perhitungan neraca
digunakan untuk mencari variabel proses yang belum diketahui, berdasarkan data
variabel proses yang telah ditentukan/diketahui. Oleh karena itu, perlu disusun
persamaan yang menghubungkan data variabel proses yang telah diketahui
dengan variabel proses yang ingin dicari.
Perpindahan kalor dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam
industri proses. Pada kebanyakan proses diperlukan pemasukan atau pengeluaran
kalor untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang dibutuhkan sewaktu
proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai keadaan yang dibutuhkan
untuk pemrosesan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus berlangsung pada
suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan jalan pemasukan atau pengeluaran
kalor. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan yang dibutuhkan untuk
operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan endoterm.
Penggunaan energi dalam bentuk kalor sangat banyak ditemukan dalam
kehidupan sehari-hari seperti memasak makanan, ruang pemanas atau pendingin
dan lain-lain. Temperatur merupakan sifat sistem yang menentukan apakah sistem
berada dalam keadaan kesetimbangan dengan sistem lain.
Jika dua sistem dengan temperatur berbeda diletakkan dalam kontak
termal, maka kedua sistem tersebut pada akhirnya akan mencapai temperatur yang
sama. Jika dua sistem dalam kesetimbangan termal dengan sistem ketiga, maka
berada dalam kesetimbangan termal satu sama lain.
Ada beberapa hal mengenai perpindahan panas yaitu :
a. Heat Exchanger
Heat exchanger adalah adalah sistem yang efisien untuk menukarkan
panas dari satu medium ke medium lainnya. Objek heat exchanger ini yaitu fluida,
sehingga prosesnya mengalir. Kinerja heat exchanger dapat dipengaruhi oleh
penambahan dalam satu atau dua arah, yang akan meningkatkan luas permukaan
dan dapat saluran aliran fluida atau menyebabkan turbulensi. Untuk efisiensi, heat
exchanger dirancang untuk memaksimalkan luas permukaan dinding antara kedua
cairan, dan meminimalkan resistensi terhadap aliran fluida melalui exchanger
tersebut. Suhu yang terdapat dalam aliran heat exchanger disebut Log Mean
Temperature.
b. Konduksi
Mekanisme perpindahan panas pada zat padat atau fluida stasioner.
a. Ada medium
b. Medium tidak ikut berpindah
c. Driving force : beda temperatur

Persamaan Konduksi (Hukum Fourier-1822)(Jean Baptiste Joseph Fourier 1768-


1830)
Laju perpindahan panas konduksi pada suatu plat sebanding dengan beda
temperature diantara dua sisi plat dan luasab perpindahan panas,tetapi
berbanding terbalik dengan tebal plat
Perpindahan kalor konduksi atau hantaran adalah perpindahan energi yang terjadi
pada mediumyang diam (padat atau zat yang dapat mengalir) apabila ada gradien
temperature dalam medium tersebut. Sehingga, besi yang merupakan konduktor li
strik yangpaling baik juga merupakan konduktor panas yang baik juga.

Hukum Fourier menyatakan bahwa laju perpindahan kalor dengan


sistem konduksi dinyatakan dengan :
Gradien temperatur dalam arah-x dinyatakan dengan, dT/ dx.
Luas perpindahan kalor arah normal pada arah aliran kalor,
Kx = -KA dt / dx
Dimana:
Qx = laju perpindahan kalor ( Watt ),
k = konduktivitas thermal, merupakan sifat material (W/m.C),
A = luas penampang yang tegak lurus denga arah laju perpindahan kalor
(m2)
dT/dx = Gradien temperatur dalam arah x (C/m),
T = Tebal Benda
Alasan pemberian tanda minus (-) pada rumus konduksi hukum Fourier, seperti
diilustrasikan diatas adalah:
Jika temperatur menurun pada arah-x positif, dT/dx adalah negatif ;
kemudian Qx menjadi nilai positif dikarenakan kehadiran dari tanda
negatif, sehingga laju kalor berada pada arah-x positif.
Jika temperatur meningkat pada arah-x positif, dT/dx adalah
positif, Qx berubah menjadi negatif, dan aliran kalor berada pada arah-
x adalah negatif, sebagaimana diilustrasikan pada gambar
berikut. Qx merupakan nilai positif, aliran kalor berada pada arah-x positif,
dan sebaliknya.
c. Konveksi
Mekanisme PP antara permukaan benda padat dan fluida (cairan atau gas) yang
bergerak.
a. Ada medium
b. Medium ikut berpindah
c. Driving force : beda temperatur
Perpindahan panas konveksi
terjadi antara permukaan dengan fluida yang mengalir apabila keduanya pada tem
peratur yang berbeda. Ketika fluida melaju melalui benda padat, dan dengan temp
eratur yang berbeda, perpindahan kalor terjadi diantara fluida dan permukaan pada
t sebagai hasil dari pergerakan fluida.
Jika pergerakan fluida disebabkan oleh mekanisme dari luar secara paksa se
perti oleh blower, pompa, atau fan, mekanisme laju kalor dapat dikatakan se
bagai konveksi paksa (forced convection).
Jika pergerakan fluida dikontrol sebagai hasil dari perbedaan massa jenis ya
ng disebabkan oleh perbedaan temperatur diantara fluida, mekanisme dari la
ju kalor dapat dikatakan sebagai konveksi bebas/natural (free/natural
convection).
Suhu plat ialah Tw , dan suhu fluida T. Kecepatan aliran u adalah seperti
tergambar di atas, yaitu nol pada muka plat sebagai akibat aksi kental viskos
(viscous action). Oleh karena kecepatan lapisan fluida pada dinding adalah nol,
maka di sini kalor hanya dapat berpindah dengan cara konduksi saja.
q adalah fluks kalor (dalam watt/m2) dari dinding ke dalam fluida. Kemudian koef
isien h didefinisikan sebagai :

q = hA( T ) atau T = Tw-Tf

dimana :
Q = laju aliran kalor (Watt).
h = Koefisien Perpindahan Panas (w/m2 0C)
A = Luas Penampang (m2)
T = Perubahan Temperatur (0C , 0F)
Tw = Temperatur Dinding Plat
Tf = Temperatur

e. Radiasi
Adalah proses transport panas dari benda bersuhu tinggi ke benda yang bersuhu
lebih rendah, bila benda benda itu terpisah didalam ruang (bahkan dalam ruang
hampa sekalipun
q = A (T14 T24)

Dimana :
= Konstanta Stefan-Boltzman 5,669 x10- 8
w/m2 k4
A = Luas penampang (m2)
T = Temperatur (0K)
_ Mekanisme PP melalui gelombang elektromagnetik sebagai hasil dari
perubahan konfigurasi elektron dalam atom atau molekul.
_ Tidak memerlukan medium
Benda Hitam :merupakan benda ideal, dimana benda dapat mengemisikan energi
radiasi secara
maksimum, dan dapat mengabsorbsi energi radiasi yang mengenainya secara
maksimum juga.
_ Hukum Stefan-Bolztman
_ Hukum Kirchoff

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan beberapa hal,yaitu:

1. Intensitas radiasi Matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar Matahari
pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut
besarnya sudut datang.
2. Klimatologi adalah ilmu yang mencari gambaran dan penjelasan sifat iklim,
mengapa iklim di berbagai tempat di bumi berbeda , dan bagaimana kaitan
antara iklim dan dengan aktivitas manusia. Karena klimatologi memerlukan
interpretasi dari data2 yang banyak dehingga memerlukan statistik dalam
pengerjaannya, orang2 sering juga mengatakan klimatologi sebagai
meteorologi statistik.
3. Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elektromagnetik
yang bisa dilihat dengan mata. Cahaya juga merupakan dasar ukuran meter:
1 meter adalah jarak yang dilalui cahaya melalui vakum pada 1/299,792,458
detik.
4. Neraca energi adalah cabang keilmuan yang mempelajari kesetimbangan
energi dalam sebuah sistem. Neraca energi dibuat berdasarkan pada hukum
pertama termodinamika.

DAFTAR PUSTAKA
http://mardi-subiono.blogspot.co.id/2012/01/perpindahan-panas-heat-transfer.html

https://dhemajad92.wordpress.com/geografi/klimatologi-dan-meteorologi/

https://blogsplonkz.wordpress.com/2009/04/08/fisikacahaya/

https://www.google.com/search?q=intensitas+radiasi+matahari+fisika+cahaya&ie
=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:en-GB:official&client=firefox-
a&gws_rd=ssl#q=+fisika+cahaya&*