Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA

PENGARUH KONSENTRASI TERHADAP LAJU


REAKSI ( P4 )

Nama Nuris Saidah Perdana

NRP 1014040009

Kelas Teknik Pengolahan Limbah

Kelompok 9

Tanggal Percobaan 28 Mei 2015

Tanggal penyerahan laporan 4 Juni 2015

PROGRAM STUDI TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH


POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
Tahun 2014 - 2015
I. TUJUAN
1. Memahami pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi
2. Membuat grafik hubungan antara konsentrasi versus laju reaksi
3. Menemukan persamaan laju reaksi antara natrium tiosulfat dan HCl
4. Menghitung konstanta laju reaksi antara natrium tiosulfat dan HCl pada
temperatur suhu kamar

II. DASAR TEORI


2.1 Pengertian Laju Reaksi
Laju reaksi adalah laju pengurangan konsentrasi molar pereaksi atau
laju pertambahan konsentrasi molar hasil reaksi dalam satuan waktu. Laju
reaski menyatakan molaritas zat terlarut dalam reaksi yang dihasilkan setiap
detik. Reaksi kimia berlangsung dengan laju yang berbeda-beda.
Laju reaksi terlihat dari perubahan konsentrasi molekul reaktan atau
konsentrasi molekul produk terhadap waktu. Laju reaksi tidak tetap
melainkan berubah terus-menerus seiring dengan perubahan konsentrasi.

2.2 Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah sebagai berikut :

1. Luas Permukaan

Suatu zat akan bereaksi apabila bercampur dan bertumbukan.


Pada pencampuran reaktan yang terdiri dari dua fasa atau lebih,
tumbukan berlangsung pada bagian permukaan zat. Padatan berbentuk
serbuk halus memiliki luas permukaan bidang sentuh yang lebih besar
daripada padatan berbentuk lempeng atau butiran. Semakin luas
permukaan partikel, maka frekuensi tumbukan kemungkinan akan
semakin tinggi sehingga reaksi dapat berlangsung lebih cepat.

Laju reaksi berbanding lurus dengan luas permukaan reaktan


2. Suhu

Suhu juga turut berperan dalam mempengaruhi laju


reaksi.Apabila suhu pada suatu rekasi yang berlangusng dinaikkan,
maka menyebabkan partikel semakin aktif bergerak, sehingga tumbukan
yang terjadi semakin sering, menyebabkan laju reaksi semakin besar.
Sebaliknya, apabila suhu diturunkan, maka partikel semakin tak aktif,
sehingga laju reaksi semakin kecil

Kenaikkan suhu akan memperbesar laju reaksi


3. Katalis

Katalis adalah zat yang dapat memperbesar laju reaksi, tetapi


tidak mengalami perubahan kimia secara permanen, sehingga pada akhir
reaksi zat tersebut dapat diperoleh kembali. Katalis mempercepat reaksi
dengan cara menurunkan harga energi aktivasi (Ea). Katalisis adalah
peristiwa peningkatan laju reaksi sebagai akibat penambahan suatu
katalis. Meskipun katalis menurunkan energi aktivasi reaksi, tetapi ia
tidak mempengaruhi perbedaan energi antara produk dan pereaksi.
Dengan kata lain, penggunaan katalis tidak akan mengubah entalpi
reaksi.

Semakin banyak penambahan katalis maka semakin cepat laju


reaksinya

4. Tekanan

Banyak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas.


Kelajuan dari pereaksi seperti itu juga dipengaruhi tekanan. Penambahan
tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi, dengan
demikian dapat memperbesar laju reaksi

Penambahan tekanan akan memperbesar laju reaksi


5. Konsentrasi

Reaksi kimia akan berlangsung lebih cepat atau laju reaksi


semakin besar jika konsentrasi zat yang bereaksi semakin besar. Hal ini
disebabkan semakin besar konsentrasi pereaksi, maka semakin banyak
partikel-partikel zat yang bereaksi. Akibatnya, kemungkinan tumbukan
yang berhasil maka semakin banyak zat baru yang terbentuk. Dengan
demikian, reaksi semakin cepat berlangsung. Persamaan laju reaksi
merupakan persamaan aljabar yang menyatakan hubungan laju reaksi
dengan konsentrasi pereaksi.

Persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi dapat diperoleh


dari serangkaian eksperimen atau percobaab . dalam setiap percobaan,
konsentrasi salah satu pereaksi diubah ubah , sedangkan konsentrasi
pereaksi dibuat tetap.

Secara umum ditulis menurut persamaan reaksi sebagai berikut.


Persamaan Reaksi :

aA + bB cC + dD

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.1)

Persamaan laju reaksi :

r = k [A]m.[B]n . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . (2.2)

Keterangan : r = laju reaksi

k = ketetapan laju reaksi

m, n = orde (tingkat) reaksi pada pereaksi A dan B

Orde reaksi hanya dapat ditentukan secara eksperimen. Orde reaksi


pada reaksi keseluruhan disebut orde reaksi total. Besarnya orde reaksi total
adalah jumlah semua orde reaksi pereaksi. Jadi, orde reaksi total (orde
reaksi) pada reaksi tersebut adalah m + n.

2.3 Kemolaran
Kemolaran adalah satuan konsentrasi larutan yang menyatakan banyaknya
mol zat terlarut dalam 1 liter larutan. Kemolaran (M) sama dengan jumlah mol
(n) zat terlarut dibagi volume (V) larutan. Kemolaran dapat dicari dengan
rumus-rumus berikut, tergantung pada soal :

M= . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (2.3)

M = gr/mr x 1000/mL

M = gr/mr x L

M = (% x x 10 ) x 1/M

Pada pengenceran larutan, larutan pekat (mempunyai kemolaran


besar) dapat diencerkan dengan menambahkan volume pelarut sehingga
diperoleh larutan yang leih encer (kemolaran kecil)

V1. M1 = V2. M2 (2.4)

Keterangan :

V1= volume sebelum pengenceran

M1= kemolaran sebelum pengenceran

V2= volume sesudah pengenceran

M2= kemolaran sesudah pengenceran

2.4 Orde Reaksi

Besarnya pengaruh konsentrasi reaktan terhadap laju reaksi


dinyatakan sebagai orde reaksi. Orde reaksi dapat berupa:
1. Grafik Orde Nol

Reaksi berorde nol artinya laju reaksi tidak dipngaruhi oleh perubahn
konsentrasi reaktan.
Gambar 1. Grafik Orde Nol

Laju reaksi tidak dipengaruhi oleh besarnya konsentrasi pereaksi.


Persamaan laju reaksinya ditulis :

.(2.5)

Bilangan dipangkatkan nol sama dengan satu sehingga persamaan


laju reaksinya menjadi r > k. Jadi , reaksi dengan laju tetap mempunyai
orde reaksi nol. Grafiknya digambar seperti grafik diatas.

2. Grafik Orde Satu


Reaksi berorde satu terhadap reaktan artinya laju reaksi berbanding
lurus terhadap perubahn konsentrasi reaktan. Jika konsentrasi reaktan
diperbesar 2 kali, menyebabkan laju reaksi menjadi 2 kali lebih besar.

Gambar 2. Grafik Orde Satu


Untuk orde satu , persamaan laju reaksi adalah :

.(2.6)
Persamaan reaksi orde satu merupakan persamaam linier berarti laju reaksi
berbanding lurus terhadap konsentrasinya pereaksinya. Jika konsentrasi
pereaksinya dinaikkan misalnya 4 kali, maka laju reaksi akan mejadi 41 atau
4 kali lebih besar.

3. Grafik Orde Dua


Artinya laju reaksi berbanding lurus dengan kuadrat perubahan
konsentrasi reaktan. Jika konsentrasi reaktan diperbesar 2 kali akan
menyebabkan laju reaksi brubah menjadi 22 atau 4 kali lebih besar.

Gambar 3. Grafik Orde Dua

Persamaan laju reaksi untuk reaksi orde dua adalah:

.(2.7)

Apabila suatu reaksi berorde dua terhadap suatu pereaksi berarti laju reaksi
itu berubah secara kuadrat terhadap perubahan konsentrasinya. Apabila
konsentrasi zat A dinaikkan misalnya 2 kali, maka laju reaksi akan menjadi
22 atau 4 kali lebih besar.

2.5 Aplikasi perhitungan laju reaksi


Untuk reaksi 2A + 2B C + 2D, datanya sebagai berikut:

No [A] (M) [B] (M) Laju Reaksi (M/detik)


1 P Q S
2 2p Q 4s
3 3p 2q 18s
Tentukan laju reaksinya:
v = k [A]x[B]y
Orde reaksi terhadap zat A = x (syarat [B] sama / tetap)
Tabel 1. Orde reaksi terhadap zat A
No [A] (M) [B] (M) Laju Reaksi (M/detik)
1 P q S
2 2p q 4s

Orde reaksi terhadap zat B


Tabel 1. Orde reaksi terhadap zat B
No [A] (M) [B] (M) Laju Reaksi (M/detik)
1 P Q S
3 3p 2q 18s

Jadi persamaan Laju reaksinya v = k [A]2[B]


III. TINJAUAN DALAM PEGOLAHAN LIMBAH

Proses Oksidasi Lanjutan (AOPs) mengacu pada satu set perawatan


air oksidatif yang dapat digunakan untuk mengobati limbah beracun di
tingkat industri, rumah sakit dan pabrik pengolahan air limbah. AOPs
berhasil untuk mengubah senyawa toksik organik (misalnya obat, pestisida,
endokrin pengganggu dan lain - lain) menjadi zat biodegradable. AOPs pada
umumnya yang murah untuk menginstal tetapi melibatkan biaya operasi yang
tinggi karena input bahan kimia dan energi yang dibutuhkan (COMINELIS et
al. 2008). Untuk membatasi biaya, AOPs sering digunakan sebagai pre-
treatment dikombinasikan dengan pengobatan biologis (PULGARIN et al.
1999). Oksidasi maju baru-baru ini juga digunakan sebagai pengobatan
kuaterner atau langkah polishing untuk menghapus mikro-polutan dari limbah
dari pabrik pengolahan air limbah kota dan untuk desinfeksi air.
Kombinasi beberapa AOPs adalah cara yang efisien untuk meningkatkan
penghapusan polutan dan mengurangi biaya.

IV. TINJAUAN K3
1. Lakukan percobaan dengan prosedur yang benar.
2. Pelajari MSDS H dan Na2S2O3. Tulis bahaya yang dimiliki bahan, APD,
pertolongan pertama, serta cara menanggulangi kebocoran dan tumpahan.

V. ALAT
1. Labu Erlenmeyer 250 ml : 5 buah
2. Pipet ukur 5 ml : 1 buah
3. Karet penghisap : 1 buah
4. Labu ukur 100 mL : 1 buah
5. Gelas beker 100 mL : 2 buah
6. Gelas ukur 25 mL : 1 buah
7. Timbangan elektrik
8. Kertas HVS A4, setengah halaman
9. Stopwatch
10. pH meter
VI. BAHAN
1. Natrium tiosulfat
2. HCl
3. Aquades

VII. CARA KERJA


1. Pertama kita menimbang 3 gram Natrium tiosulfat (Na2S2O3) dalam gelas
beker 100 mL. Kemudian kita menabahkan aquades kira-kira 80 mL,
setelah itu kita mengaduknya hingga larut. Masukkan ke dalam labu ukur,
kemudian kita menambahkan kembali aquades sampai mencapai batas.
Setelah itu, kita menuangkan larutan ke dalam gelas beker 600 mL.
Berikutnya kita menambahkan kembali aquades sebanyak 100 mL yang
telah diukur dengan labu ukur. Maka volume larutan menjadi 200 mL.
Larutan yang terjadi disebut larutan Natrium tiosulfat asal.
2. Langkah ke 2, kita menghitung konsentrasi larutan Natrium tiosulfat asal
pada langkah 1, dalam mol/liter.
3. Langkah ke 3, kita mengambil labu ukur 100 mL, kemudian kita
mengisinya dengan aquades hingga setengahnya.
4. Setelah langkah ke 3 terselesaikan, kita mengambil 5 mL HCl pekat
dengan menggunakan pipet ukur dan karet penghisap. Kemudian kita
menuangkannya ke dalam labu ukur yang telah diisi air pada langkah ke-
3. Tambahkan air hingga mencapai batas. Larutan inilah yang disebut
larutan HCl asal.
5. Langkah berikutnya kita mengambil larutan HCl asal pada langkah ke-4
kira-kira 30 mL. Kemudian kita masukkan ke dalam gelas beker 100 mL,
jangan lupa mengukur dan mencatat pH larutan tersebut dengan
menggunakan pH meter. Setelah semua selesai, kembalikan larutan
tersebut ke dalam wadah semula dan tutuplah dengan rapat.
6. Berdasarkan pH yang telah terukur pada langkah 5, tugas kita menghitung
konsentrasi HCl asal dalam bentuk mol/liter.
7. Langkah selanjutnya, kita membuat larutan dengan cara mengencerkan
larutan Natrium tiosulfat asal dan larutan HCl asal dengan sejumlah
aquades sesuai tabel 7.1
8. Setelah pengenceran dilakukan, langkah berikutnya menghitung
konsentrasi larutan yang dihasilkan.
9. Setelah menghitung konsentrasi larutan. Langkah selanjutnya kita
menuangkan larutan Natrium tiosulat dengan konsentrasi sesuai tabel ke
dalam labu Erlenmeyer.
10. Setelah itu kita menambahkan larutan HCl dengan konsentrasi sesuai
tabel. Jangan lupa untuk menyalakan stopwatch, dan mengocok larutan
sebanyak 3 kali. Letakkan labu Erlenmeyer tersebut di atas kertas HVS
yang telah diberi tanda silang (X) dengan tinta hitam sepanjang 5 cm yang
sebelumnya telah dibuat. Tugas kita mengamati hingga tanda silang tidak
nampak lagi. Ini disebabkan karena larutan menjadi keruh. Catatlah
berapa waktu yang diperlukan larutan tersebut untuk membuat tanda
silang menjadi tidak nampak.
11. Lakukan untuk konsentrasi yang lainnya.
VIII. Data Percobaan

Laju
No Larutan NaS2O3 Larutan HCl Waktu, Reaksi
. (s) 1/t
NaS2O 3 Aquades Konsentrasi, HCl asal aquades Konsentrasi
(ml) (ml) mol/l (ml) (ml) mol/l

1 20 20 0,048 10 20 0,105 473 0,0021


2 25 15 0,059 10 20 0,105 556 0,0018
3 30 10 0,071 10 20 0,105 270 0,0037
4 20 20 0,048 5 25 0,053 625 0,0016
5 25 15 0,059 5 25 0,053 433 0,0023
6 25 15 0,059 15 25 0,119 526 0,0019
7 25 15 0,059 20 10 0,211 435 0,0023
8 15 25 0,036 10 20 0,105 1272 0,0008

IX. Perhitungan dan Analisa

7.1 Perhitungan Data


Konsentrasi Na2S2O3

1000
M = X

3,02 1000
= X
158 200

= 0,09 M

Konsentrasi HCl
pH = - log [H+]
0,5 = - log [H+]
[H+] = 10 0,5
[H+] = 0,316 M
Untuk perhitungan data pada table

Larutan Na2S2O3
Data yang digunakan untuk menghitung konsentrasi
larutan Na2S2O3 pada tabel merupakan perhitungan konsentrasi
setelah pengenceran larutan Na2S2O3 asal sebagai M1 yang
sebelumnya telah di hitung pada cara kerja 1 dengan volume yang
berbeda pada setiap percobaan. Perhitungan datanya sebagai
berikut :

1. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 20 = M2 x 40
0,048 = M2

2. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 25 = M2 x 40
0,059 = M2

3. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 30 = M2 x 40
0,071 = M2

4. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 20 = M2 x 40
0,048 = M2

5. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 25 = M2 x 40
0,059 = M2

6. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 25 = M2 x 40
0,059 = M2
7. M1.V1 = M2.V2
0,09 x 25 = M2 x 40
0,059 = M2

8. M1V1 = M2.V2
0,09 x 15 = M2 x 40
0,036 = M2
Larutan HCl
Data yang digunakan untuk menghitung konsentrasi
larutan HCl pada tabel merupakan perhitungan konsentrasi HCl
menggunakan Ph yang sebelumnya telah di hitung pada cara kerja
(sebagai M1) dengan volume yang berbeda pada setiap percobaan.
Perhitungan datanya sebagai berikut :
1. M1.V1 = M2.V2
0,316 x 10 = M2 x 30
M2 = 0,105

2. M1.V1 = M2.V2
0,316 x 10 = M2 x 30
M2 = 0,105

3. M1.V1 = M2.V2
0,316 x 10 = M2 x 30
M2 = 0,105

4. M1.V1 = M2.V2
0,316 x 5 = M2 x 30
M2 = 0,053

5. M1V1 = M2V2
0,316 x 5 = M2 x 30
M2 = 0,053

6. M1V1 = M2V2
0,316 x 15 = M2 x 40
M2 = 0,119

7. M1V1 = M2V2
0,316 x 20 = M2 x 30
M2 = 0,211

8. M1V1 = M2V2
0,316 x 10 = M2 x 30
M2 = 0,105
Data v (Laju reaksi)
Mencari data v adalah untuk menentukan hubungan antara
konsentrasi dan laju reaksi larutan HCl dan Na2S2O3. Rumus yang
1
digunakan untuk mencari v adalah dengan t adalah waktu reaksi

kedua larutan.

v1 = 1/t1
= 1/473
= 2,1 x 10-3

v2 = 1/t2
= 1/556
= 1,8 x 10-3

v3 = 1/t3
= 1/270
= 3,70 x 10-3

v4 = 1/t4
= 1/625
= 1,6 x 10-3

v5 = 1/t5
= 1/433
= 2,3 x 10-3

v6 = 1/t6
= 1/526
= 1,9 x 10-3

v7 = 1/t7
= 1/435
= 2,3 x 10-3

v8 = 1/t8
= 1/1272
= 8 x 10-4

Setelah mencari v, maka hubungan antara konsentrasi dan laju reaksi


larutan HCl dan Na2S2O3 dapat diketahui. Hubungan keduanya dijelaskan
dalam bentuk tabel dan grafik.
Untuk tabel yang pertama yaitu hubungan antara konsentrasi HCl
dengan laju reaksi pada konsentrasi Na2S2O3 yang sama dapat dituliskan
sebagai berikut :
Tabel 1.Hubungan antara konsentrasi HCl terhadaplaju reaksi

Orde HCl
Percobaan Konsentrasi HCl v
2 0,105 0,0019
5 0,053 0,0023
6 0,119 0,0018
7 0,211 0,0016
Pada tabel diatas konsentrasi HCl yang diambil berdasarkan pada
nilai konsentrasi Na2S2O3 yang sama yaitu pada percobaan 2,5,6 dan 7
dengan nilai konsentrasi sebesar 0,059 (dapat dilihat pada tabel
percobaan).
Apabila hubungan antara konsentrasi HCl dengan laju reaksi pada
konsentrasi Na2S2O3 yang sama dibuat dalam bentuk grafik maka akan
menunjukkan hasil seperti pada gambar grafik 1.

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi HCl


Terhadap Laju Reaksi
0.004
0.0035
0.003
0.0025
Grafik Hubungan Antara
0.002
Konsentrasi HCl
0.0015 Terhadap Laju Reaksi
0.001
0.0005
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25

Grafik 1. Hubungan antara konsentrasi HCl terhadap laju reaksi


Sedangkan untuk tabel yang kedua yaitu hubungan antara konsentrasi
Na2S2O3 dengan laju reaksi pada konsentrasi HCl yang sama dapat dituliskan sebagai
berikut :

Tabel 2.Hubungan antara konsentrasi NaSO terhadap laju reaksi

Orde NaSO
Percobaan konsentrasi NaSO V
1 0,048 0,0021
2 0,059 0,0019
3 0,071 0,0037
8 0,036 0,0008

Pada tabel 2 konsentrasi HCl yang diambil berdasarkan pada nilai


konsentrasi Na2S2O3 yang sama yaitu pada percobaan 1,2,3 dan 8 dengan
nilai konsentrasi sebesar 0,105 (dapat dilihat pada tabel percobaan).

Apabila hubungan antara konsentrasi HCl dengan laju reaksi pada


konsentrasi Na2S2O3 yang sama dibuat dalam bentuk grafik maka akan
menunjukkan hasil seperti pada gambar grafik 2.

Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Na2S2O3


Terhadap Laju Reaksi
0.004
0.0035
0.003
0.0025
Grafik Hubungan Antara
0.002
Konsentrasi Na2S2O3
0.0015 Terhadap Laju Reaksi
0.001
0.0005
0
0 0.02 0.04 0.06 0.08

Grafik 2. Hubungan antara konsentrasi Na2S2O3 terhadap laju reaksi


Persamaan Laju Reaksi

Na2S2O3 + 2HCl 2NaCl + 5O2 + H2O + S

Dari persamaan reaksi diatas dapat dilihat bahwa pada saat percobaan
yang menyebabkan larutan menjadi keruh setelah direaksikan adalah
terbentuknya endapan belerang.
Karena dari kedua grafik diatas menunjukkan bahwa hubungan antara
konsentrasi Na2S2O3 dan HCl dengan laju reaksi membentuk garis linier,
maka memiliki satu orde. Sehingga di dapatkan persamaan sebagai berikut :
V = k [Na2S2O3] [HCl]

Konstanta Laju Reaksi

Konstanta laju reaksi pada tiaptiap percobaan dihitung berdasarkan


persamaan laju reaksi V = k [Na2S2O3] [HCl]

Percobaan 1
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [4,5 x 10-2][0,105]
473

2,11 x 10-3 = k [0,4725 x 10-2 ]


k = 4,46 x 10-1
Percobaan 2
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [5,6 x 10-2][0,105]
383
2,61 x 10-3 = k [0,588 x 10-2]

k = 4,44 x 10-1
Percobaan 3
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [6,7 x 10-2][0,105]
270
3,70 x 10-3 = k [0,7035 x 10-2]
k = 5,26 x 10-1
Percobaan 4
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [4,5 x 10-2][0,053]
426
2,35 x 10- 3 = k [0,2385]
k = 9,85 x 10-1
Percoban 5
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [5,6 x 10-2][0,053]
531
1,88 x 10-3 = k [0,2968]
k = 6,33 x 10-1
Percobaan 6
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [5,6 x 10-2][0,1158]
515
1,94 x 10-3 = k [0,648]

k = 2,99 x 10-1
Percobaan 7
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [5,6 x 10-2][0,211]
492
2,03 x 10-3 = k [1,1816]
k = 1,72 x 10-1
Percobaan 8
v = k [Na2S2O3] [HCl]
1
= k [3,3 x 10-2][0,105]
1272
7,86 x 10-4 = k [0,3465]

k = 22,68 x 10-1

Konstanta Rata-Rata
1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8
8

0,446+0,444+0,526+0,985+0,633+0,299+0,172+2,268 5,8095
= =0,726
8 8
7.2 Analisa Data
Dalam praktikum ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi
terhadap laju reaksi . Larutan yang digunakan adalah larutan HCl dan Na2S2O3.
Sebelum kedua larutan tersebut direaksikan, keduanya diencerkan terlebih dahulu
dengan volume yang berbeda beda berdasarkan volume pada tabel yang telah
ditetapkan. Kedua larutan direaksikan sebanyak 8 kali dengan volume pengenceran
yang berbeda beda. Pengenceran dilakukan dengan menambahkan aquades, rumus
pengenceran yang digunakan adalah M1.V1 = M2.V2. Sehingga didapatkan
konsentrasi yang sama jika volume setelah diencerkan (V2) juga sama. Setelah tiap
tiap larutan diencerkan, lalu keduanya direaksikan. Disini, waktu juga diperlukan
untuk mengetahui berapa lama kedua larutan tersebut dapat bereaksi secara
sempurna. Oleh karena itu , dibutuhkan stopwatch untuk menghitung waktu
reaksinya. Setelah praktikum dilakukan didapatkan analisa bahwa semakin besar
konsentrasi larutan , baik HCl maupun Na2S2O3 maka semakin cepat waktu
bereaksinya, sehingga laju reaksinya juga semakin besar / cepat. Sebaliknya, jika
semakin kecil konsentrasi larutan maka semakin lama waktu bereaksinya, sehingga
laju reaksinya juga semakin kecil / lama. Selain itu hubungan antara besarnya
konsentrasi dengan laju reaksi adalah berbanding lurus, ini dapat dilihat pada grafik
hubungan konsentrasi dan laju reaksi yang membentuk garis linier yang artinya
hubungan keduanya adalah berbanding lurus. Pada grafik 1 yaitu hubungan
konsentrasi HCl terhadap laju reaksi terlihat membentuk garis linier . ini berarti nilai
konsentrasi terhadap laju reaksi adalah berbanding lurus. Serta dapat dilihat pada
dasar teorinya bahwa jika orde reaksinya 1, maka grafik hubungan antara konsentrasi
terhadap laju reaksi akan membentuk garis linier. Pada grafik 2 yaitu hubungan
antara konsentrasi Na2S2O3 terhadap laju reaksi juga membentuk garis linear seperti
pada grafik 1, yang menandakan orde reaksinya adalah 1. Namun beberapa data tidak
tepat pada garis linear dikarenakan ketidaktelitian dalam pengukuran waktu dan
konsentrasi larutan serta perbedaan asumsi dalam menentukan tingkat keruh
larutan(tanda silang sudah tak terlihat atau belum) sehingga data percobaan yang
diperoleh kurang akurat.
X. KESIMPULAN
Semakin banyak jumlah konsentrasi semakin cepat waktu reaksinya,
sehingga semakin besar laju reaksinya.
Hubungan antara waktu reaksi dan laju reaksi adalah berbanding
terbalik, sebab v = 1/t
Semakin cepat waktu reaksi maka semakin besar laju reaksinya,
begitupun sebaliknya.
Dari grafik 1 dan 2 diperoleh bahwa orde reaksinya adalah 1, sehingga
grafik hubungan antara konsentrasi terhadap laju reaksinya mebentuk
garis linear.