Anda di halaman 1dari 20

PEMERIKSAAN SIKLUS BELANJA OPERASI

A. SIFAT SIKLUS BELANJA DAERAH

Siklus belanja daerah mencakup berbagai proses dan keputusan untuk memperoleh barang
dan jasa yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah daerah, termasuk dinas dan
instansi pemerintah daerah. Siklus ini dimulai dengan adanya permintaan pembelian dari
berbagai dinas/setingkat dinas melalui pengajuan daftar isian anggaran dari masing masing
dinas. Transaksi belanja yang dilakukan oleh pemerintah daerah bisa dilakukan secara tunai
maupun kredit (menimbulkan uang), baik untuk belanja aparat maupun belanja pelayanan
publik. Audit siklus belanja ini berkaitan dengan belanja pegawai; belanja operasional
seperti pengadaan barang inventaris kantor dan ATK; belanja pemeliharaan dan lain-lain.
Dua kelompok transaksi utama dalam siklus ini adalah transaksi pembelian dan pengeluaran
kas.

Kedua kelompok ini mempengaruhi rekening-rekening sebagai berikut :

1) Kas
2) Persediaan barang habis pakai
3) Aktiva tetap
4) Aktiva lain-lain
5) Utang
Dokumen/catatan dalam siklus belanja adalah
Kartu Sediaan
Buku Barang
Buku pengadaan barang
Berita acara serah terima gudang
Surat permohonan
Bukti memorial
Bukti inventaris
Laporan Penerimaan Barang
Surat Keterapan Otorisasi(SKO)
SPP,SPM,dan SP2D

1
B. MATERIALITAS
Transaksi-transaksi dalam siklus belanja daerah ini sangat berpengaruh terhadap laporan
keuangan pemerintah daerah. Kesalahan dalam membedakan antara pengeluaran /
belanja untuk belanja aparat dengan pengeluaran/belanja untuk pelayanan publik akan
menyebabkan laporan keuangan yang salah saji.
Berbagai pos rekening seperti belanja administrasi umum, belanja operasi dan
pemeliharaan, serta belanja modal/pembangunan dapat bersifat material secara
individual. Dengan demikian, auditor berusaha untuk mencapai tingkat resiko yang lebih
rendah dengan memastikan bahwa transaksi dalam pos belanja daerah bukan merupakan
sumber salah saji material dalam laporan keuangan.

C. RESIKO BAWAAN AUDIT


Resiko bawaan pada pos belanja daerah pada banyak entitas adalah tinggi. Ada berbagai
faktor yang menyebabkan tingginya resiko bawaan siklus belanja, yaitu :
1) Volume transaksi yang selalu tinggi
2) Kemungkinan adanya pembelanjaan dan pengeluaran tanpa rotasi
3) Pembelian aktifa yang tidak perlu
4) Masalah akuntansi yang berkembang.
Tingginya volume transaksi akan meningkatkan kemungkinan terjadinya salah saji.
Semakin tinggi volume transaksi, maka semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya
kesalahan dalam pencatatan transaksi tersebut. Disamping it, terdapat juga kemungkinan
bahwa entitas melakukan pembelian aktiva yang tidak perlu. Namun, sering terjadi kasus
dimana entitas masih tetap mencatumkan aktiva yang tidak berguna dalam neracanya
sebesar nilai dari aktiva tersebut. Masalah akuntansi mengenai penetuan apakah harga
perolehan aktiva dikapitalisasi atau dibebankan mengakibatkan tingginya kemungkinan
kesalahan dalam pengeluaran kas.

D. STRATEGI AUDIT
Tingginya resiko bawaan dalam siklus belanja daerah menyebabkan banyak entitas
memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian internal terhadap siklus belanja
guna mencegah dan mendeteksi terjadinya salah saji. Hal ini dapat secara signifikan
mengurangi resiko pengendalian dalam pernyataan keberadaan dan keterjadian;
kelengkapan serta penilaian dan pengalokasian yang berkaitan dengan transaksi dan

2
rekening siklus belanja daerah. Dengan demikian, strategi audit yang sering dipakai
adalah pendekatan tingkat resiko kontrol yang ditetapkan lebih rendah.
Dalam strategi ini auditor lebih banyak mengandalkan pengujian pengendalian. Logika
pemikiran yang mendasari penggunaan strategi ini adalah apabila auditor yakin bahwa
struktur pengendalian internal klien sangat baik dan dapat mencegah serta mendeteksi
terjadinya salah saji, maka auditor perlu menguji kelayakan dari keyakinannya tersebut.
Auditor akan menguji afektifitas struktur pengendalian internal. Dengan kata lain auditor
akan melaksanakan pengujian pengendalian.
Sebagaimana halnya dengan siklus pengujian pengendalian umumnya tidak mengurangi
resiko pengendalian untuk pernyataan hak dan kewajiban. Jadi, auditor dapat
menggunakan kombinasi antara strategi resiko kontrol yang ditetapkan lebih rendah
dengan substantif. Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam memilih strategi audit
adalah manfaat versus biaya. Pengujian pengendalian sangat dipengaruhi oleh
pertimbangan antara manfaat versus biaya. Auditor perlu membandingkan biaya untuk
melakukan pengujian pengendalian internal dengan penghematan yang diperoleh sebagai
akibat berkurangnya pengujian tersebut.

E. TUJUAN AUDIT
Tujuan audit siklus belanja adalah memperoleh bukti mengenai masing-masing
pernyataan signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus belanja. Saldo
berlanja menekankan pada asersi hutang (kewajiban) dan aktiva,pembelian dan
pengeluaran kas. Tujuan audit ditentukan berdasarkan lima kategori pernyataan laporan
keuangan berikut:
1. Pernyataan Keberadaan dan Keterjadian
Seluruh utang dan aktiva memang benar di neraca pembelian dan pengeluaran kas
benar ada.
2. Pernyataan Kelengkapan
Transaksi dan saldo memang tercatat
3. Pernyataan Hak dan Kewajiban
4. Pernyataan Penilaian dan Pengalokasian
Jumlah biaya,utang dan aktiva benar.prinsip akuntansi sesuai.
5. Pernyataan Pelaporan dan Pengungkapan
Diklasifikasikan ,dijelaskan,dan diungkapkan dalam neraca.
Pengungkapan dengan metode depresiasi yg sesuai.

3
F. Pelaksanaan Pemeriksaan Belanja
Langkah2 yang dilakukan :
1. Memahami Pengendalian internal,
2. Mengujinya Pengendalian Internal,
3. Pertimbangan biaya dan manfaat,
4. Uji pengendalian subtantif saldo dan transaksi,
5. Prosedur analisis dan pengujian saldo rinci
Belanja Daerah adalah kewajiban pemda diakui dengan pengurang kekayaan bersih.

G. Sistem dan Prosedur Belanja Daerah secara umum adalah sebagai berikut:
PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan Surat Penyediaan Dana (SPD) yang
disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD, setelah penetapan
anggaran kas. SPD tersebut merupakan dasar pengeluaran kas yang membebani APBD
(belanja).
Berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD di atas,
bendahara pengeluaran mengajukan SPP kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna
anggaran melalui PPK-SKPD. SPP yang diajukan tersebut dapat berupa SPP Uang
Persediaan (SPP-UP); SPP Ganti Uang (SPP-GU); SPP Tambahan Uang (SPP-TU);
dan SPP Langsung (SPP-LS). Pengajuan SPP tersebut dilampiri dengan daftar rincian
rencana penggunaan dana sampai dengan jenis belanja dan persyaratan dokumen
lainnya.
Dalam hal dokumen SPP tersebut lengkap dan sah, pengguna anggaran/kuasa pengguna
anggaran atau pejabat yang diberikan kewenangan menerbitkan SPM dalam waktu 2
hari kerja sejak diterima SPP.
Dalam hal dokumen SPP dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah, pengguna
anggaran/kuasa pengguna anggaran menolak menerbitkan SPM dalam waktu 1 hari
kerja sejak diterima SPP.
SPM (diajukan PA/KPA) yang telah diterbitkan tersebut diajukan kepada kuasa BUD
untuk penerbitan SP2D.
Kuasa BUD atau pejabat yang diberi kuasa meneliti kelengkapan dokumen SPM yang
diajukan oleh pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran agar pengeluaran yang
diajukan tidak melampaui pagu dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan seperti kelengkapan dokumen yang dipersyaratkan.

4
Dalam hal dokumen SPM tersebut dinyatakan lengkap, kuasa BUD menerbitkan SP2D
paling lama 2 hari kerja sejak diterimanya SPM. Dalam hal dokumen SPM tersebut
dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sah dan/atau pengeluaran tersebut melampaui
pagu anggaran, kuasa BUD menolak menerbitkan SP2D melalui surat penolakan paling
lama 1 hari kerja sejak diterimanya SPM.
Kuasa BUD menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk keperluan uang
persediaan/ganti uang persediaan/ tambahan uang persediaan kepada pengguna
anggaran/kuasa penggguna anggaran serta menyerahkan SP2D yang diterbitkan untuk
keperluan pembayaran langsung kepada pihak ketiga.
H. BELANJA OPERASIONAL
Belanja pemerintah daerah pada APBD berdasarkan jenis belanjanya dapat
dikategorikan menjadi belanja langsung dan tidak langsung. Belanja tidak langsung
adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan
program dan kegiatan sedangkan belanja langsung adalah belanja yang dianggarkan
terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja operasional
adalah belanja yang dilakukan pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar
suatu satuan kerja. Dalam kaitannya dengan definisi tersebut, maka belanja operasional
dapat diklasifikasikan sebagai belanja langsung.
Belanja operasional yang menjadi fokus bahasan ini terdiri dari :
1) Belanja perjalanan dinas
2) Belanja sewa
3) Belanja bahan
4) Belanja persediaan dan aktiva lancar lainnya

I. BELANJA PERJALANAN DINAS


Perjalanan Dinas Jabatan Dalam Negeri (Perjadin Dalam Negeri) adalah perjalanan ke
luar tempat kedudukan baik perseorangan maupun secara bersama yang jaraknya
sekurang-kurangnya 5 kilometer dari batas kota, yang dilakukan dalam wilayah
Indonesia untuk kepentingan Negara atas perintah Pejabat yang Berwenang, termasuk
perjalanan dari tempat kedudukan ke tempat meninggalkan Indonesia untuk bertolak ke
luar negeri dan dari tempat tiba di Indonesia dari luar negeri ke tempat yang dituju di
dalam negeri.
Perjalanan dinas dalam negeri diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
45/PMK.05/2007.

5
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap yang akan melaksanakan
perjalanan dinas harus terlebih dahulu mendapat persetujuan/perintah atasannya.
Perintah tersebut dituangkan dalam selembar Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).
Penerbitan SPPD harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pejabat yang Berwenang hanya dapat memberikan perintah perjalanan dinas untuk
perjalanan dinas dalam Wilayah Jabatannya;
2. dalam hal perjalanan dinas ke luar Wilayah Jabatannya, Pejabat yang Berwenang
harus memperoleh persetujuan/perintah atasannya.
Dalam hal Pejabat yang Berwenang akan melakukan perjalanan dinas, SPPD
ditandatangani oleh:
1. atasan langsungnya, sepanjang Pejabat yang Berwenang satu Tempat Kedudukan
dengan atasan langsungnya;
2. dirinya sendiri atas nama atasan langsungnya, dalam hal pejabat tersebut
merupakan pejabat tertinggi pada Tempat Kedudukan pejabat yang bersangkutan
setelah memperoleh persetujuan/perintah atasannya.
Biaya Perjadin Dalam Negeri terdiri atas:
1. uang harian yang meliputi uang makan, uang saku, dan transport lokal;
2. biaya transport pegawai;
3. biaya penginapan;
4. uang representatif;
5. sewa kendaraan dalam kota.
Khusus untuk keperluan mengantar/menjemput jenazah, selain biaya tersebut di atas
juga diberikan biaya menjemput/mengantar jenazah yang terdiri atas:
1. biaya pemetian;
2. biaya angkutan jenazah.
Biaya perjalanan dinas digolongkan dalam 6 tingkat, yaitu:
1. Tingkat A untuk Pejabat Negara yang meliputi Ketua/Wakil Ketua dan Anggota
Lembaga Tinggi Negara, Menteri dan setingkat Menteri;
2. Tingkat B untuk Pejabat Negara Lainnya dan Pejabat Eselon I;
3. Tingkat C untuk Pejabat Eselon II;
4. Tingkat D untuk Pejabat Eselon III atau Golongan IV;
5. Tingkat E untuk Pejabat Eselon IV atau Golongan III;
6. Tingkat F untuk PNS Golongan II dan I.

6
Biaya perjalanan dinas dibebankan pada anggaran kantor/satuan kerja yang
mengeluarkan SPPD bersangkutan. Pejabat yang Berwenang agar memperhatikan
ketersediaan dana yang diperlukan untuk melaksanakan perjalanan tersebut dalam
anggaran kantor/satuan kerja berkenaan.
Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap dilarang menerima biaya
perjalanan dinas jabatan rangkap (dua kali atau lebih) untuk perjalanan dinas yang
dilakukan dalam waktu yang sama.
Perjalanan dinas diberikan biaya-biaya sebagai berikut:
1. Uang harian, biaya transport pegawai, biaya penginapan, uang
representatif, dan sewa kendaraan diberikan untuk semua jenis perjalanan dinas,
kecuali perjalanan dinas untuk mendapatkan pengobatan di luar Tempat
Kedudukan berdasarkan keputusan Majelis Penguji Kesehatan Pegawai Negeri dan
perjalanan dinas untuk menjemput/mengantarkan jenazah;
2. Biaya transport pegawai, untuk perjalanan dinas untuk mendapatkan pengobatan di
luar Tempat Kedudukan berdasarkan keputusan Majelis Penguji Kesehatan
Pegawai Negeri dan perjalanan dinas dalam hal ditugaskan mengikuti pendidikan
dinas di luar Tempat Kedudukan, dengan uang harian yang dapat diberikan
setinggi-tingginya 30% dari Uang Harian bagi yang ditugaskan mengikuti
pendidikan dinas di luar Tempat Kedudukan;
3. Uang harian, biaya transport pegawai/keluarga, dan biaya penginapan sebanyak-
banyaknya 4 orang, serta biaya pemetian dan angkutan jenazah untuk perjalanan
untuk menjemput/mengantarkan jenazah.
Uang harian dan uang representatif dalam rangka perjalanan dinas jabatan dan biaya
pemetian jenazah dibayarkan secara sekaligus (lumpsum) dan merupakan batas
tertinggi.
Biaya transport pegawai, biaya penginapan, dan sewa kendaraan dalam kota dalam
rangka perjalanan dinas serta biaya angkutan jenazah dibayarkan sesuai dengan Biaya
Riil (at cost).
Uang harian, biaya penginapan, dan uang representatif perjalanan dinas diberikan:
1. untuk perjalanan dinas yang memerlukan waktu sekurang-kurangnya 6 jam;
2. menurut banyak hari yang digunakan untuk melaksanakan perjalanan dinas;
3. selama 2 hari untuk transit menunggu pengangkutan lanjutan dalam hal harus
berpindah ke alat angkutan lain (transit);
4. selama-lamanya 3 hari di Tempat Bertolak ke/datang dari luar negeri;

7
5. selama-lamanya 10 hari di tempat yang bersangkutan jatuh sakit/berobat dalam hal
pegawai yang sedang melakukan perjalanan dinas jatuh sakit;
6. selama-lamanya 90 hari dalam hal pegawai melakukan tugas detasering;
7. selama-lamanya 7 hari setelah diterima keputusan tentang perubahan detasering
menjadi penugaspindahan;
8. selama-lamanya 3 hari di tempat penjemputan jenazah dan selama-lamanya 3 hari
di tempat pemakaman jenazah dalam hal jenazah tersebut tidak dimakamkan di
tempat kedudukan almarhum/almarhumah yang bersangkutan untuk pejabat
negara/pegawai yang meninggal saat melaksanakan perjalanan dinas;
9. selama-lamanya 3 hari di tempat pemakaman jenazah pejabat negara/pegawai yang
meninggal dan dimakamkan tidak di tempat kedudukan almarhum/almarhumah
yang bersangkutan.
Dalam hal perjalanan dinas jabatan dilakukan secara bersama-sama untuk
melaksanakan suatu kegiatan tertentu, penginapan/hotel untuk seluruh pejabat
negara/pegawai dapat menginap pada hotel/penginapan yang sama, sesuai dengan kelas
kamar penginapan/hotel yang telah ditetapkan untuk masing-masing pejabat
negara/pegawai negeri.
Perjalanan dinas jabatan pulang dan pergi yang memakan waktu kurang dari 6 jam,
diberikan biaya perjalanan dinas setinggi-tingginya sebesar 60% dari uang harian
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan Nomor
45/PMK.05/2007.
Dalam hal perjalanan dinas menggunakan kapal laut/sungai untuk waktu sekurang-
kurangnya 24 jam, maka selama waktu transportasi tersebut kepada Pejabat
Negara/Pegawai hanya diberikan uang harian.
Selain Pejabat Negara, Pegawai Negeri, dan Pegawai Tidak Tetap, dapat melakukan
perjalanan dinas atas perintah Pejabat yang Berwenang, dan biaya perjalanan dinasnya
digolongkan dalam tingkat sebagaimana dimaksud di atas menurut tingkat
pendidikan/kepatutan/tugas yang bersangkutan.
Pegawai Negeri Golongan I dapat melakukan perjalanan dinas dalam hal
mendesak/khusus, seperti dalam hal tenaga teknis tidak diperoleh di tempat
bersangkutan.
Pegawai Tidak Tetap yang melakukan perjalanan dinas untuk kepentingan negara,
digolongkan dalam tingkat perjalanan dinas seperti di atas oleh Pejabat yang
Berwenang sesuai dengan tingkat pendidikan/tugas yang bersangkutan.

8
Pembayaran belanja perjalanan dinas dilaksanakan dengan mekanisme SPM LS atau
Uang Persediaan.
Dokumen sumber yang dibutuhkan dalam pemeriksaan belanja perjalanan dinas :
1. Surat Perintah Perjalanan Dinas
2. Bukti perjalanan (tiket, boarding pass, bukti penginapan dll)
3. SPP, SPM, SP2D Belanja Perjalanan Dinas
4. Form perhitungan riil perjalanan dinas

Contoh penyimpangan belanja perjalanan dinas:

1. Perjalanan dinas fiktif


2. Perjalanan dinas tidak efektif
3. Mark up nilai perjalanan dinas

J. BELANJA SEWA
Sewa (atau imbalan dengan nama apapun) adalah penghasilan sehubungan dengan
penggunaan harta gerak atau harta tak gerak, misalnya sewa mobil, sewa mesin
fotokopi, sewa lukisan dan harta lainnya. Belanja sewa digunakan untuk pembayaran
sewa (misalnya sewa kantor/gedung/ruangan, atau sewa lainnya). Belanja sewa diawali
dengan pembuatan perjanjian sewa pada setiap awal periode pelaksanaan sewa.
Perjanjian sewa merupakan salah satu dokumen sumber yang diperlukan dalam proses
pembayaran belanja sewa maupun pertanggungjawabannya.
Pembayaran sewa dapat dilakukan pada awal ataupun akhir periode sewa dengan
mekanisme SPM LS.

Perhitungan pajak untuk belanja sewa

1. Sewa merupakan objek pemotongan PPh pasal 23 dengan tarif sebesar 2% atau 4%
jika penerima sewa tidak mempunyai NPWP. Dasar perhitungan pajak adalah
jumlah bruto sewa.
2. Sewa merupakan objek PPN karena sewa bangunan merupakan jenis jasa yang
tidak termasuk dalam jenis jasa yang tidak terutang PPN. Besar tarif PPN terhutang
adalah 10% dari jumlah sewa.
Dokumen sumber yang dibutuhkan dalam pemeriksaan belanja sewa :
1. Kontrak/perjanjian sewa
2. Berita Acara

9
3. SPP, SPM, SP2D belanja sewa
4. Surat setoran pajak (SSP) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Contoh penyimpangan belanja perjalanan sewa:

1. Sewa fiktif
2. Belanja sewa tidak efektif -> terhadap asset yang sudah dimiliki dan jumlahnya
cukup
3. Kesalahan pembebanan belanja sewa

K. BELANJA BAHAN
Pengeluaran yang digunakan untuk pembayaran biaya bahan pendukung kegiatan (yang
habis dipakai) seperti :
Alat Tulis Kantor (ATK)
Konsumsi/bahan makanan
Bahan cetakan
Dokumentasi
Spanduk
Biaya Fotokopi.
yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan non operasional seperti dies natalis,
pameran, seminar, pejabat, sosialisasi,rapat dan lain lain.
Proses pengadaan belanja bahan dilakukan sesuai dengan nilai belanja bahan tersebut.
Apabila melebihi batasan nilai yang dimungkinkan untuk dilakukan pengadaan
langsung, maka pengadaan harus dilakukan dengan mekanisme lelang atau penunjukan
langsung.
Pembayaran belanja bahan dapat dilakukan dengan mekanisme LS ataupun dengan
mekanisme Uang Persediaan (UP).
Dokumen sumber yang dibutuhkan dalam pemeriksaan belanja bahan:
1. Bukti pembelian (Nota pembelian/kuitansi)
2. Kontrak / SPK, serta dokumen terkait (BA Serah Terima Barang, BA Pembayaran)
jika pengadaan dilakukan dengan lelang atau pembelian langsung dengan nilai >20
juta rupiah.
3. SPP, SPM, SP2D LS/UP belanja bahan
4. Surat setoran pajak (SSP) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP)
Perhitungan pajak untuk belanja bahan

10
1. Belanja bahan merupakan objek pemotongan PPh pasal 22. Atas pembelian yang
dilakukan oleh Bendahara Pemerintah dikenakan pajak sebesar 1,5% dari harga
pembelian tidak termasuk PPN.
2. Belanja bahan merupakan objek pemotongan PPN dengan tarif sebesar 10%.

Penyimpangan belanja bahan:

1. Proses pengadaan tidak sesuai ketentuan


2. Mark up nilai belanja bahan
3. Kesalahan pencatatan/pembebanan belanja

L. BELANJA PERSEDIAAN DAN AKTIVA LAIN


Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang
dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang
yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada
masyarakat.
Persediaan merupakan aset yang berupa:
Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatan
operasional pemerintah;
Bahan atau perlengkapan (supplies) yang akan digunakan dalam proses
produksi;
Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkan
kepada masyarakat;
Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam
rangka kegiatan pemerintahan.

Persediaan dapat terdiri dari :

Barang konsumsi
Amunisi
Bahan untuk pemeliharaan
Suku cadang
Persediaan untuk tujuan strategis/berjaga-jaga
Pita Cukai dan leges
Bahan baku
Barang dalam proses/setengah jadi
11
Tanah/bangunan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat
Hewan dan tanaman, untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat

Pengadaan barang persediaan dapat dilakukan dengan mekanisme pengadaan


langsung ataupun lelang sesuai dengan nilai dari belanja barang persediaan tersebut.
Pembayaran pengadaan barang persediaan dapat dilakukan dengan mekanisme SPM
LS maupun UP.

Setelah barang persediaan telah diperoleh, barang tersebut dicatat pada kartu
persediaan atau aplikasi persediaan jika telah tersedia. Dalam kartu persediaan
tersebut dicatat mutasi penggunaan persediaan dimaksud untuk memudahkan
perhitungan posisi persediaan serta pemeriksaan pada akhir periode.

Dokumen sumber yang dibutuhkan dalam pemeriksaan belanja barang persediaan:


1. Bukti pembelian (Nota pembelian/kuitansi)
2. Kontrak / SPK, serta dokumen terkait (BA Serah Terima Barang, BA
Pembayaran) jika pengadaan dilakukan dengan lelang atau pembelian langsung
dengan nilai >20 juta rupiah.
3. SPP, SPM, SP2D LS/UP belanja barang persediaan
4. Kartu inventaris persediaan/laporan monitoring persediaan
5. Surat setoran pajak (SSP) dan Surat Ketetapan Pajak (SKP)

Penghitungan pajak belanja persediaan

1. Belanja barang persediaan merupakan objek pemotongan PPh pasal 22. Atas
pembelian yang dilakukan oleh Bendahara Pemerintah dikenakan pajak sebesar
1,5% dari harga pembelian tidak termasuk PPN.
2. Belanja persediaan merupakan objek pemotongan PPN dengan tarif sebesar 10%.

M. PEMERIKSAAN BELANJA OPERASIONAL


Terdapat lima asersi yang menjadi tujuan pemeriksaan belanja barang dan persediaan.
Tujuan pemeriksaan tersebut adalah untuk pengujian keberadaan dan keterjadian,
kelengkapan, penilaian, hak dan kewajiban serta pengungkapan.

1. Keberadaan dan keterjadian

12
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk meyakini apakah nilai persediaan yang
disajikan di dalam laporan keuangan benar-benar ada dan persediaan negara benar-
benar dimiliki oleh pemerintah pusat.
Pengendalian intern kunci pada pengujian ini adalah (1) adanya pemisahan fungsi dari
pembuat kebijakan, pengelola persediaan, pengadaan, pembayaran kas,dan akuntansi,
(2) realisasi pengadaan persediaan telah diotorisasi oleh pejabat yang berwenang, (3)
pemeriksaan fisik persediaan secara reguler dan (4) otorisasi penggunaan persediaan.
Risiko yang muncul atas pengujian asersi ini, diantaranya:
Persediaan dianggarkan, tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan.
Persediaan tidak dianggarkan.
Perangkapan fungsi
Pemisahan fungsi secara desain tetapi implementasi tidak terjadi
Tidak dilakukan pemeriksaan fisik barang atau pemeriksaan fisik formalitas.
Persediaan yang dilaporkan tidak ada dokumen kepemilikannya.
Persediaan dikuasai pihak lain secara tidak sah.
Persediaan tidak dilaporkan.
Pengujian pengendalian intern dapat berupa:
Meneliti apakah belanja barang telah dianggarkan dan sesuai dengan
kebutuhan.
Meneliti pemisahan fungsi realisasi pengadaan persediaan desain maupun
implementasinya.
Meneliti secara uji petik apakah realisasi belanja barang telah diotorisasi oleh
pejabat yang berwenang.
Meneliti apakah persediaan tersebut telah diperiksa secara fisik dengan
sebenarnya.
Meneliti apakah persediaaan yang dilaporkan telah diinventarisasi
kepemilikannya.
Meneliti apakah semua persediaaan yang dimiliki dikuasai untuk digunakan
Pengujian substantif yang dapat dilakukan, diantaranya:
Meneliti secara uji petik pengadaan persediaan apakah telah dianggarkan
dalam dokumen anggaran dan meneliti apakah telah sesuai kebutuhan.
Meneliti secara uji petik apakah anggaran dan realisasi belanja barang telah
dibukukan dalam LRA dan Neraca.

13
Periksa fisik aset tersebut secara uji petik dan dokumen kepemilikannya dan
pastikan bukan penitipan pihak lain.
Periksa dokumen dan catatan aset tetap/barang milik negara apakah telah
dilaporkan dalam neraca.
Meneliti apakah terdapat perselisihan mengenai status aset.
Lakukan pemeriksaan fisik atas persediaan akhir yang diuji dan buat berita
acara segera setelah pemeriksaan fisik.
Meneliti apakah ada persediaan yang sudah usang tetapi masih dicatat dan
disimpan oleh auditee
Lakukan wawancara untuk mengetahui apakah ada barang-barang persediaan
yang merupakan titipan pihak lain

2. Kelengkapan
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk meyakini apakah seluruh transaksi belanja
barang telah dicatat dalam LRA baik anggaran maupun realisasinya serta aset
tetapnya yang relevan pada neraca dan untuk mengetahui dan meyakini bahwa
Investasi telah mencakup semua transaksi pada periode pelaporan.
Risiko yang muncul atas pengujian asersi ini, diantaranya:
Belanja barang tidak/kurang dicatat karena tidak ada SP2D
Persediaan yang dipeoleh dari belanja barang yang telah direalisasikan tidak
dicatat.
Adanya dokumen fiktif belanja barang negara.
Salah pencatatan (oversated dan undersated).
Pemalsuan dokumen transaksi belanja barang.
Dokumen pendukung pencatatan kurang lengkap.
Pengeluaran kas tidak/kurang dicatat karena tidak ada SP2D
Pengujian pengendalian intern dapat berupa:
Meneliti urutan nomor dan tanggal SPM, apakah telah diperoleh SP2D dan
dibukukan.
Meneliti apakah terdapat SP2D yang belum diperoleh atas SPM yang telah
dikeluarkan untuk belanja barang.
Meneliti apakah pencatatan belanja barang tersebut seluruhnya telah dicatat
sebagai persediaan yang relevan.

14
Meneliti pencatatan penerimaan dan pengeluaran barang, periksa dokumen,
dan otoritas pejabat berwenang.
Pengujian substantif yang dapat dilakukan, diantaranya:
Meneliti urutan nomor dan tanggal SPM, apakah telah diperoleh SP2D dan
dibukukan.
Meneliti apakah terdapat SP2D yang belum diperoleh atas SPM yang telah
dikeluarkan untuk belanja barang.
Meneliti apakah pencatatan belanja barang tersebut seluruhnya telah dicatat
sebagai persediaan yang relevan.
Tetiti pencatatan penerimaan dan pengeluaran barang, periksa dokumen, dan
otoritas pejabat berwenang.
Meneliti urutan nomor dan tanggal SPM, apakah telah diperoleh SP2D dan
dibukukan.
Meneliti apakah terdapat SP2D yang belum diperoleh atas SPM yang telah
dikeluarkan untuk belanja barang.
Meneliti apakah pencatatan belanja barang tersebut seluruhnya telah dicatat
sebagai persediaan yang relevan.
Tetiti pencatatan penerimaan dan pengeluaran barang, periksa dokumen, dan
otoritas pejabat berwenang.

3. Penilaian
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk meyakini apakah Transaksi belanja barang dan
persediaan yang relevan telah dicatat sesuai dengan nilai yang semestinya, dan
perhitungan yang tepat. Pengendalian intern kunci pada pengujian ini adalah adanya
prosedur verifikasi intern atau reviu atas nilai realisasi belanja barang dan persediaan
telah dilakukan dan penilaian kembali persediaan pada neraca awal /pertama kali
dengan nilai wajar.
Risiko yang muncul atas pengujian asersi ini, diantaranya:
Anggaran dan realisasi belanja barang salah dibukukan dan dilaporkan.
Persediaan yang diperoleh sebelum neraca awal belum dinilai dengan nilai
wajar.
Pengujian pengendalian intern dapat berupa:

15
Meneliti apakah telah dilakukan verifikasi intern atau reviu atas dokumen
belanja barang dan meneliti apakah hasilnya telah ditindaklanjuti.
Meneliti apakah persediaan yang diperoleh sebelum neraca awal telah dinilai
kembali.

Pengujian substantif yang dapat dilakukan, diantaranya:

Meneliti secara uji petik (dokumen anggaran dan realisasi belanja barang
apakah telah benar perhitungannya.
Meneliti secara uji petik atas dokumentasi persediaan terkait dengan belanja
barang apakah telah benar perhitungannya.
Meneliti secara uji petik apakah persediaan yang dilaporkan dalam neraca
telah dinilai kembali dengan nilai wajar (aset yang diperoleh sebelum neraca
awal).

4. Hak dan Kewajiban


Tujuan dari pengujian ini adalah untuk meyakini bahwa belanja barang direalisasikan
atas persediaan yang relevan. Pengendalian intern kunci pada pengujian ini adalah
pengawasan atau reviu atas belanja barang dan persediaan terkait.
Risiko yang muncul atas pengujian asersi ini, diantaranya:
Pengawasan intern atas aset dari belanja lemah.
Belanja pemeliharaan yang dapat dikapitalisasi atas aset (tidak menambah
nilai aset).
Belanja barang direalisasikan tetapi persediaan dimiliki dan atau dikuasai oleh
pihak lain secara tidak sah.
Pengujian pengendalian intern dapat dilakukan dengan:
Meneliti secara uji petik pengawasan atas persediaan.
Meneliti perjanjian penitipan oleh pihak ketiga, dokumen-dokumen
pendukung dan nilai barang. Apakah ada penetapan atau proses verifikasi dan
otorisasi dalam penetapan nilai persediaan.
Pengujian substantif yang dapat dilakukan dengan meneliti secara uji petik terhadap
dokumen belanja barang dan persediaan, apakah terdapat aset yang dikuasai pihak
lain.

16
5. Pengungkapan
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk meyakini anggaran dan realisasi belanja
barang serta persediaan telah diungkapkan secara memadai dalam laporan keuangan
dan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Pengendalian intern kunci
pada pengujian ini adalah pada pengawasan intern atau reviu atas klasifikasi akun
dan pengungkapan belanja barang dan persediaan telah memadai dan terdapat
kebijakan akuntansi, sistem dan prosedur penyusunan laporan keuangan, serta
verifikasi internal.
Risiko yang muncul atas pengujian asersi ini, diantaranya:
Pengawasan atau reviu atas klasifikasi dan pengungkapan lemah.
Klasifikasi belanja barang dan persediaaan tidak sesuai dengan SAP
Pengungkapan barang dan persediaan tidak dan atau kurang memadai.
Pengungkapan transaksi kas tidak/kurang memadai.
Salah saji (oversated dan understated)
Terdapat pencatatan persediaan ganda, pencapuradukan persediaan (tidak
terklasifkasi)
Pengujian pengendalian intern dapat berupa:
Meneliti pengawasan atau reviu atas klasifikasi dan pengungkapan atas
persediaan telah dilakukan dan hasilnya memadai.
Meneliti apakah pengungkapan belanja barang dan persediaan dalam catatan
atas laporan keuangan telah memadai (sesuai SAP).
Reviu kebijakan akuntansi terkait dengan penyajian saldo persediaan dan
telaah kesesuaiannya dengan standar akuntansi pemerintah.
Reviu pelaksanaan penyusunan laporan dan verifikasi internal untuk
memastikan bahwa pengungkapan atas penyajian saldo persediaan telah
memadai (sesuai SAP)
Meneliti apakah persediaan yang diperoleh dicatat dengan menggunakan
identifikasi yang memadai.
Meneliti apakah terdapat prosedur untuk persediaan yang rusak, kedaluarsa
dan hilang dan dapatkan dokumen pencatatan atas kondisi persediaan tersebut.
Pengujian substantif yang dapat dilakukan, diantaranya:
Meneliti klasifikasi akun belanja barang dan persediaan pada laporan
keuangan apakah telah sesuai denfgan SAP.

17
Meneliti secara uji petik dokumentasi belanja barang dan persediaan
khususnya terhadap kondisi dan status aset apakah telah diungkapkan secara
mamadai dalam catatan atas laporan keuangan.
Meneliti apakah seluruh penyajian dan pengungkapan saldo persediaan di
neraca telah memadai.
Dalam pemeriksaan fisik atas persediaan akhir, inventarisir jumlah persediaan
yang rusak, kadaluarsa dan hilang.
Bandingkan dengan catatan persediaan yang ada

N. BEBAN DAN BELANJA PEMERINTAH

Berdasarkan kebijakan akuntansi beban dan belanja dalam Permendagri 64 Tahun


2013 tentang Kebijakan Akuntansi Pemerintah Daerah, dalam realisasi anggaran
belanja pemerintah dibedakan antara beban dan belanja. Belanja adalah semua
pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi Saldo Anggaran
Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan dan tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh pemerintah. Di lingkup satker umumnya belanja hanya
meliputi belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal.

1. Pengakuan Belanja
Belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Daerah.
Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran, pengakuan terjadi pada saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh pengguna anggaran.

2. Pengukuran belanja
Akuntansi belanja dilaksanakan berdasarkan azas bruto dan diukur berdasarkan
nilai nominal yang dikeluarkan dan tercantum dalam dokumen pengeluaran yang
sah.

Beban adalah penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa termasuk potensi
pendapatan yang hilang, atau biaya yang timbul akibat transaksi tersebut dalam
periode pelaporan yang berdampak pada penurunan ekuitas, baik berupa pengeluaran,
konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. Beban di lingkup satker umumnya terdiri
dari beban pegawai serta beban barang dan jasa.

18
Beban diakui pada saat timbulnya kewajiban, terjadi konsumsi aset, atau terjadinya
penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Saat timbulnya kewajiban adalah saat
terjadinya peralihan hak dari pihak lain ke pemerintah tanpa diikuti keluarnya kas dari
kas umum daerah. Contohnya tagihan rekening telepon dan rekening listrik yang
belum dibayar pemerintah. Yang dimaksud dengan terjadinya konsumsi asset adalah
saat pengeluaran kas kepada pihak lain yang tidak didahului timbulnya kewajiban
dan/atau konsumsi aset nonkas dalam kegiatan operasional pemerintah. Sedangkan
penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa terjadi pada saat penurunan nilai aset
sehubungan dengan penggunaan asset bersangkutan/berlalunya waktu. Contoh
penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa adalah penyusutan atau amortisasi.

Pengakuan beban

Beban Barang merupakan penurunan manfaat ekonomi dalam periode pelaporan yang
menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau
timbulnya kewajiban akibat transaksi pengadaan barang dan jasa yang habis pakai,
perjalanan dinas, pemeliharaan termasuk pembayaran honorarium kegiatan kepada
non pegawai dan pemberian hadiah atas kegiatan tertentu terkait dengan suatu
prestasi. Beban barang diakui ketika bukti penerimaan barang atau Berita Acara Serah
Terima ditandatangani. Dalam hal pada akhir tahun masih terdapat barang persediaan
yang belum terpakai, maka dicatat sebagai pengurang beban.

Penyajian Beban dan Belanja


Beban disajikan pada Laporan Operasional satuan kerja yang disusun dengan basis
akrual. Sedangkan belanja disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran satuan kerja
yang disusun dengan basis kas.

Beban dan belanja operasional

19
Secara garis besar hubungan belanja dan beban diilustrasikan pada gambar diatas.
Terdapat beban operasional yang sekaligus tercatat merupakan belanja operasional,
seperti pembayaran beban/belanja sewa selama satu periode. Terdapat pula beban
operasional yang bukan merupakan belanja. Contohnya adalah persediaan terpakai
(beban persediaan) dan belanja barang/jasa lain yang belum dibayar (hutang).

Simulasi

- Pemda melakukan belanja barang persediaan sebesar Rp.400 juta pada 1 April.
Pada tanggal 31 Desember, barang tersebut masih tersisa sebesar 100 juta.

Jurnal Finansial
1 April Persediaan 400
Kas 400
Penyesuaian
31 Des Beban persediaan 300
Persediaan 300
Jurnal angggaran tetap dibuat dengan menggunakan basis kas
1 April Belanja barang 400
Estimasi Perubahan SAL 400

20