Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

TRAUMA THORAX
DI RUANG 13
DEPARTEMEN SURGICAL

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Saiful Anwar Malang

Oleh:
AULIA DIAN TRISSILOWATI
NIM: 135070200111010

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
TRAUMA THORAX

DEFINISI TRAUMA THORAX


Trauma thoraks merupakan trauma yang mengenai dinding thoraks dan atau
organ intra thoraks, baik karena trauma tumpul maupun oleh karena trauma tajam.
Memahami mekanisme dari trauma akan meningkatkan kemampuan deteksi dan
identifikasi awal atas trauma sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan
segera (Kukuh, 2002; David, 2005).
ETIOLOGI TRAUMA THORAX
Trauma pada thoraks dapat dibagi 2 yaitu oleh karena trauma tumpul dan
trauma tajam. Penyebab trauma thoraks tersering adalah kecelakaan
kendaraan bermotor (63-78%). Dalam trauma akibat kecelakaan, ada lima jenis
tabrakan (impact) yang berbeda, yaitu depan, samping, belakang, berputar, dan
terguling. Oleh karena itu harus dipertimbangkan untuk mendapatkan riwayat yang
lengkap karena setiap orang memiliki pola trauma yang berbeda. Penyebab
trauma thoraks oleh karena trauma tajam dibedakan menjadi 3 berdasarkan tingkat
energinya, yaitu berenergi rendah seperti trauma tusuk, berenergi sedang seperti
pistol, dan berenergi tinggi seperti pada senjata militer. Penyebab trauma thoraks
yang lain adalah adanya tekanan yang berlebihan pada paru-paru yang bisa
menyebabkan pneumothoraks seperti pada scuba (David, 2005; Sjamsoehidajat,
2003).

TANDA DAN GEJALA TRAUMA THORAX


Tanda dan Gejala Simple / Closed Pneumothorax :
Nyeri dada
Dyspnea
Tachypnea
Berkurangnya suara nafas pada area yang cidera
Tanda dan Gejala Open Pneumothorax :
Dypsnea
Rasa nyeri tajam yang bersifat mendadak
Subcutaneous emphysema
Berkurangnya suara pulmonal pada area yang ciderA
Adanya gelembung darah berwarna merah pada area cidera pada saat exhalasi
(Sucking Chest Wound)
Tanda dan Gejala Tension Pneumothorax
Anxiety/Restlessness
Severe dypnea
Absent breath sound on affected side
Tachypnea
Tachycardia
Poor color
Accessory muscle use
JVD(distress vena jugularis) narrowing pulse pressure
Hypotension
Tracheal deviation
Tanda dan gejala Hemothorax :
Anxiety/Restlessness
Tachypnea
Adanya tanda dan gejala syok, Hemoptoe
Sputum bercampur darah
Berkurangnya/hilangnya suara nafas pada area yang cidera
Tachycardia
Flat neck veins/distress vena jugularis
Tanda dan gejala flail Chest :
Nafas cepat dan dangkal
Paradoxical movement
Memar
Edema
Krepitasi pada saat palpasi
Tanda dan Gejala Pericardial Temponade :
Distensi vena jugularis
Peningkatan heart rate
Peningkatan respiratory rate
Cyanosis
Melemahnya tekanan darah
Hypotension
Shock
Death.
Tanda dan Gejala Traumatic Aortic Rupture :
Sensasi terbakar/robek pada bilah dada atau bahu.
Tekanan darah drop secara tiba-tiba.
Nadi meningkat cepat.
Melemahnya atau bahkan menghilangnya nadi pada sisi kiri tubuh dibandingkan
dengan sisi kanan.
Kehilangan kesadaran dengan cepat.
Tanda dan Gejala Diaphragmatic Rupture :
Abdominal pain.
Nafas dangkal dan cepat.
Berkurangnya/ melemahnya suara nafas pada area yang mengalami ruptur.
Bowel sounds terdengar di rongga dada.
KLASIFIKASI TRAUMA THORAX
1. Simple / Closed Pneumothorax
Adanya luka terbuka pada dinding paru-paru (misal : penetrasi fragmen
costae) sehingga menyebabkan kebocoran udara ke dalam rongga dada.
Penyebab utama trauma tumpul. Terjadi secara spontan. Biasanya dikoreksi
secara alamiah oleh tubuh (self correction).
2. Open Pneumothorax
Adanya luka terbuka pada rongga yang memungkinkan udara memasuki
rongga pleura. Dapat menyebabkan kolaps paru-paru karena desakan akibat
peningkatan Intra Pleura, dapat mengaancam keselamatan jiwa, kondisi tidak
stabil, memburuk dengan cepat.
3. Tension Pneumothorax
Udara terkumpul dan terjebak di dalam rongga pleura tanpa ada jalan
keluar. Akibat peningkatan tekanan Intra pleura terjadi collaps paru-paru pada
area yang cidera. Peningkatan tekanan Intra pleura juga dapat mendesak
mediastinum , lobus paru-paru yang lain dan sistem pembuluh darah besar pada
pulmonal/jantung.
4. Hemothorax
Terjadi akibat rongga pleura terisi dengan darah, terjadi akibat adanya
incontinuitas jaringan pembuluh darah di thorax, peningkatan volume darah intra
pleural akan menyebabkan tekanan pada paru-paru (s/d collaps ), mendesak
jantung, pembuluh darah, dan organ lain dalam rongga thorax, ( perhatian : 1 buah
apru-paru mmampu menampung 1,5 liter darah ).
5. Flail Chest
Kondisi dimana terjadi fraktur pada 2 costa, dimana pada masing-masing
costae terdapat 2 fragmen fraktur
6. Traumatic Aortic Rupture
Prognosa tergantung pada derajat kerusakan/perlukaan aorta. Apabila
hanya terdapat perlukaan minimal pada aorta, maka pasien kemungkinan dapat
bertahan hidup, namun apabila aorta mengalami ruptur total, maka pasien akan
mati seketika.
7. Diphragmatic Rupture
Adanya sobekan pada diafragma yang mengakibatkan masukbya organ
intra peritonial ke dalam rongga thorax (hernia diphragmayic). Lebih sering terjadi
pada sisi kiri diafragma karena pada sisi kanan diafragma terlindung oleh hepar.
Seringkali berhubungan dengan multipel injury pada pasien.
8. Diphragmatic Rupture
Adanya sobekan pada diafragma yang mengakibatkan masukbya organ
intra peritonial ke dalam rongga thorax (hernia diphragmayic). Lebih sering terjadi
pada sisi kiri diafragma karena pada sisi kanan diafragma terlindung oleh hepar.
Seringkali berhubungan dengan multipel injury pada pasien.
PATOFISIOLOGI TRAUMA THORAX
Terlampir
PEMERIKASAAN PENUNJANG TRAUMA THORAX
Pemeriksaan labolatorium ( darah lengkap, AGD, gambaran darah tepi ),photo
thorax, lakukan management airway dan breathing, kalau perlu lakukan intubasi,
lakukan needle Decompression pada area yang cidera. Lokasi insersi : spasi
intercosta 2-3 mid clavikula, bersihkan area insersi dengan teknik aseptik, masukkan
cateter (14G) sedalam 3tepat diatas costa ke 3 (perhatian : anatomi sistem syaraf
dan pembuluh darahberada di bagian bawah costa), keluarkan Stylette dan
dengarkan suara hembusan angin, letakkan Flutter Valve di atas cateter, monitor
perkembangannya secara berkala ( tanda-tanda vital, hembusan angin, suara
pulmonal, dsb ) (First Emergency Indonesia : 2013).

TINDAKAN UMUM YANG DILAKUKAN


1. Penatalaksanaan Simple / Closed Pneumothorax :
ABCs dengar standart penatalaksanaan C-Spine trauma sesuai indikasi,
support saat proses transportasi . Berikan perwatan supportif, kontak RS /
pemberi layanan ALS / Emergency segera, monitor irama jantung, kalau perlu
pasang monitor jantung , pasang IV access, pemeriksaan laboratorium (darah
lengkap, AGD, gambaran daraah tepi). Lakukan manajemen Airway & Breathing
kalau perlu lakukan intubasi. Monitor terhadap kemungkinan berkembang
menjadi Tension Pneumothorax.
2. Penatalaksanaan Open Pneumothorax :
ABCs dengan standart penatalaksanaan C-Spine Trauma sesuai indikasi,
High Flow Oxygen (5-6 liter/mnt), Monitor penurunan suara nafas pada area yang
cidera, pasang pembalut oklusif pada area yang cidera , kontak RS / pemberi
layanan ALS / Emergency segera, Monitor irama jantung kala perlu pasang onitor
jantung, pasang IV access. Pemeriksaan Laboratorium (Darah Lengkapn, AGD,
gambaran darah tepi). Lakukan manajemen Airway & Breathing kalau perlu
lakukan intubasi. Monitor terhadap kemungkinan berkembang enjadi Tension
Pneumothorax
3. Penatalaksanaan Tension Pneumothorax
ABCs dengan standar penatalaksanaan C-Spine trauma sesuai indikasi,
High flow oxygen(5-6 L/M), kalau perlu support dengan BVM (Bag Valve Mask),
Monitor dan persiapkan penatalaksanaan shock, kontak RS/pemberian layanan
ALS/Emergency segeraJika penyebabnya adalah open pneumothorax segera
tutup area cidera dengan pembalut oklusif, monitor irama jantung, kalau perlu
pasang monitor jantung (First Emergency Indonesia : 2013).
4. Penatalaksanaan Hemothorax :
ABCs dengan standarisasi penanganan pasien dengan C-spine trauma,
beri support jalan nafas dan pernafasan (high flow O2/BVM support) / (Bag Valve
Masker ), penatalaksanan syok sehubungan dengan perdarahan intra pleural,
apabila tidak ada kontraindikasi posisikan left lateral recumbent, RAPID
TRANSPORT, kontak RS/ pemberi layanan ALS/Emergensy segera, monitor
irama jantung, kalau perlu pasang monitor jantung, pasang IV access dengan IV
cateter ukuran besar, kalau perlu pasang dua jalur, pemeriksaan labilatirium (
darah lengkap, AGD, gambaran darah tepi )
, lakukan management airway & breathing, kalau perlu lakukan intubasi, lakukan
needle decompression sesuai indikasi.
5. Penatalaksanaan Flail Chest :
ABCs dengan standarisasi penanganan pasien dengan C-spine trauma,
beri support jalan nafas dan pernafasan high flow o2/BVM support), monitor
pasien terhadap tanda dan gejala pneumothorax/tension pneumothorax, lakukan
stabilisasidan fiksasi area yang cidera, kontak RS/pemberi layanan
ALS/Emergency segera, monitor irama jantung, kalau perlu pasang monitor
jantung, pasang IV access, pemeriksaan labolatorium (darah lengkap, AGD,
gambaran darah tepi), lakukan management airway&breathing, kalau perlu
lakukan intubasi, monitor pasien terhadap adanya pneumoyhorax/tension
pneumothorax (Mansjoer, 2000).
6. Penatalaksanaan Pericardial Temponade :
ABCs dengan standarisasi penanganan pasien dengan C-Spine trauma.
Beri support jalan nafas dan pernafasan (high flow O2/BVM support). Monitor
pasien terhadap tanda dan gejala shock. Rapid Transport. Kontak RS/pemberi
pelayanan ALS/Emergency segera. Monitor irama jantung, kalau perlu pasang
monitor jantung. Pasang IV access. Lakukan manajemen Airway & Breathing,
kalau perlu lakukan intubasin, Rapid Transport. What patient needs is
pericardiocentesis.
7. Penatalaksanaan Traumatic Aortic Rupture :
ABCs dengan standarisasi penangan pasien dengan C-Spine Trauma.
Beri support jalan nafas dan pernafasan (high flow O2/BVM support).
Pentalaksanaan syok. Rapid transport. Hubungi RS dan unit ALS secepat
mungkin. Monitor irama jantung. Pasang IV access dengan IV kateter ukurn
besar, kalau perlu pasang 2 jalur. Pemeriksaan laboratorium (darah lengkap,
AGD, gambaran darah tepi). Lakukan manajmen Airway & Breathing, kalu perlu
lakukan intubasi. Rapid Transport.
8. Penatalaksanaan Diaphragmatic Rupture :
ABCs dengan standarisasi pengananan pasien dengan C-Spine Trauma.
Beri support jalan nafas dan pernafasan (high flow O2/BVM support). Penanganan
injury lain yang terkait. Rapid transport. Hubungi RS dan unit ALS secepat
mungkin.

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Primer
Penilaian keadaan penderita dan prioritas terapi dilakukan berdasarkan jenis
perlukaan, tanda-tanda vital, dan mekanisme trauma.Pada penderita yang terluka
parah, tetap diberikan berdasarkan priortas.Tanda vital penderita harus dinilai
secara cepat dan efisien. Pengelolaan penderita berupa primary survey yang
cepat dan kemudian resusitasi, secondary survey dan akhirnya terapi definitif.
Proses ini merupakan ABC-nya trauma, dan berusaha untuk mengenali keadaan
yang mengancam nyawa terlebih dahulu, dengan berpatokan pada urutan berikut:
A : AIRWAY, menjaga airway dengan kontrol servikal
B : BREATHING, menjaga pernafasan dengan ventilasi.
C : CIRCULATION, dengan kontrol perdarahan
D : DISABILITY, status neurologis
E : EXPOSURE/ENVIRONTMENTAL CRONTROL, buka baju penderita, tetapi
cegah hipotermia
Selama primary survey, keadaan yang mengancam nyawa harus
dikenali, dan resusitasinya dilakukan pada saat itu juga. Prioritas pada anak pada
dasarnya sama dengan orang dewasa. Walaupun jumlah darah, cairan, obat,
uikuran anak, kahilangan panas, dan pola perlukaan dapat berbeda, namun
prioritas penilaian dan resusitasi adalah sama. Prioritas pada orang hamil sama
seperti tidak hamil, akan tetapi perubahan anatomis dan fisiologis dalam
kehamilan dapat mengubah respon penderita hamil terhadap trauma.
A : AIRWAY
Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas.Ini meliputi
pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang dapat disebabkan benda
asing, fraktur tulang wajah. Usaha pembebasan jalan nafas perlu
memperhatikan perlindungan vertebra servikal dengan cara chin lift, jaw
thrust.
Pada penderita yang dapat bicara anggap jalan nafas bersih, tetapi
penilaian ulang terhadap airway tetap harus dilakukan.Selama memeriksa dan
memperbaiki airway harus diperhatikan bahwa tidak boleh dilakukan ekstensi,
fleksi atau rotasi dari leher:
a. Anggaplah ada fraktur servikal pada setiap penderita multitrauma, terlebih
bila ada gangguan kesadaran/perlukaan diatas klavikula.
b. Harus dilakukan segala usaha untuk menjaga jalan nafas dan memasang
airway definitif bila diperlukan.
c. Tidak kalah pentingnya adalah mengenali kemungkinan gangguan airway
kemudian, dan ini hanya dapat dikenali dengan re-evaluasi berulang
terhadap airway ini
B : BREATHING DAN VENTILASI
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik.Pertukaran gas yang
terjadi pada saat bernafas mutlak untuk pertukaran oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.Ventilasi yang baik meliputi fungsi
yang baik dari paru-paru, dinding dada dan diafragma.
C : CIRCULATION dengan KONTROL PERDARAHAN
Volume darah dan cardiac output
a. Suatu keadaan hipotensi harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia,
sampai terbukti dan sebaliknya. Untuk itu perlu penilaian yang cepat pada
status hemodinamik penderita.
b. Ada 3 penemuan klinis yang dalam hitungan detik dapat memberikan
informasi mengenai keadaan hemodinamik penderita.
1). Tingkat kesadaran
Volume darah Perfusi otak berkurang Kesadaran menurun
Catatan : Penderita yang sadar belum tentu normo-volemik
2). Warna kulit
a) Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemi
b) Penderita trauma yang kulitnya kemerahan terutama pada wajah
dan ekstremitass jarang yang dalam keadaan hiovolemia.
c) Sebaliknya, wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang
pucat merupakan tanda hipovolemia
3). Nadi
a) Nadi yang tidak cepat, kuat dan teratur biasanya merupakan tanda
normovolemia.
b) Nadi yang cepat dan kecilmerupakan tanda hipovolemia atau sebab
lain.
c) Kecepatan nadi normal bukan jaminan normovolemia
d) Nadi irregular biasanya merupakan tanda gangguan jantung
e) Tidak ditemukan pulsasi dari arteri besar merupakan pertanda
diperlukan resusitasi segera.
Perdarahan
a) Perdarahan eksternal dihentikan dengan penekanan pada luka
b) Spalk udara juga dapat digunakan.
c) Tourniquet sebaiknya jangan digunakan karena merusak jaringan
seperti syaraf dan pembuluh darah.
D : DISABILITY (evaluasi neurologis)
Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran pupil dan reaksi pupil. Ada
suatu cara sederhana untuk menilai tingkat kesadaran adalah metoda AVPU
:
A : ALERT (SADAR)
V : RESPON TERHADAP RANGSANG VOKAL/VERBAL
P : RESPON TERHADAP RANGSANG NYERI (PAIN)
U : UNRESPONSIVE
Glascow come scale (GCS) adalah sistem skoring yang sederhana
dan dapat meramal kemudahan (outcome) penderita. Penurunan kesadaran
menunutut dilakukannya re-evaluasi terhadap keadaan oksigenasi, ventilasi
dan perfusi.
2. Pengkajian Sekunder
Riwayat
a. Sakit kepala
b. Gangguan penglihatan
c. Palpitasi
d. Mual dan mutah
e. Kelemahan
f. Peningkatan tekanan darah
g. Kejang
h. Koma
3. Hasil Pemeriksaan Diagnostik
a. Prosedur khusus: untuk hipoglikemia reaktif tes toleransi glukosa postpradial
oral 5 jam menunjukkan glukosa serum <50 mg/dl setelah 5 jam.
b. Pengawasan di tempat tidur: peningkatan tekanan darah.
c. Pemeriksaan laboratorium: glukosa serum <50 mg/dl, spesimen urin dua kali
negatif terhadap glukosa.
d. EKG: Takikardia.
4. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi: Pucat, diaforesis, Kulit lembab dan dingin, gemetar, peningkatan
pernafasan dangkal, examination : DCAP-BTLS
b. Palpasi: Piloreksi, kelemahan motoric, suhu, texture.
c. Auskultasi:
1) Gastrointestinal: peningkatan bising usus.
2) Kardiovaskuler: Takikardia
3) Pulmonal : vesikuler atau tidak
5. Rapid trauma assessment
Komponen rapdi trauma assessment:
a. Kepala
b. Leher
c. Dada
d. Abdomen
e. Pelvis
f. Vertebra
g. Ekstrimitas
h. Vital sign
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
(akumulasi udara atau cairan)
2. Nyeri akut berhhubungan dengan trauma fisik
3. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
(hipoventilasi)

TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


1. Tujuan diagnosa ketidakefektifan pola napas: setelah dilakukan tindakan
keperawatan mempertahankan pola napas, diharapkan pola napas normal dengan
GDA dalam rentang normal bebas sianosis dan tanda atau gelaja hipoksia
2. Tujuan diagnose nyeri akut berhhubungan dengan trauma fisik: setelah dilakukan
tindakan keperawtan, pasien tidak mengalami henti napas
3. Tujuan diagnose kerusakan pertukaran gas: setelah dilakukan tindakan
keperawtan diharapkan pasien dapat memeperthankan atau memperbaiki fungsi
pernapasan

INTERVERENSI KEPERAWATAN
1. Diagnosa ketidakefektifan pola napas
Tindakan Rasional
Mandiri
Observasi fungsi pernapasan, catat Distress pernapasan dan perubahan
kecepatan atau pernapasan serak, tnda vital dapat terjadi sebagai akibat
dispnea, keluhan sesak napas, sianosis stress fisiologi dan nyeri atau dapat
dan perubahan tanda vital menunjukkan terjadinya syok
sehubungan dengan hipoksia atau
perdarahan

Auskultasi bunyi napas Bunyi napas dapat menurun atau tak


ada pada lobus, segmen paru atau
seluruh area paru. Area atelektasis
tak ada bunyi napas dan sebagian
area kopals menurun bunyinya.
Evaluasi dilakukan untuk aea yang
baik pertukaran gas nya dan
memberikan data evaluasi perbaikan
pneumothorax.
Catat pengembangan dada dan posisi Pengembangan dada sama dengan
trakea ekspansi paru. Deviasi trakea dari
area ssisi yang sakit pada tegangan
pneumothorax
Observasi adanya area nyeri tekan bila Sokongan terhadap dada dan otot
batuk dan napaas dalam abdominal membuat batuk lebih
efektik atau mengurangi trauma
Kolaborasi Alat dalam menurunkan kerja napas
Beri oksigen tambahan melalui kanul atau meningkatkan oenghilangan distres
masker sesuai dengan indikasi respirasi dan sianosis sehubungan
dengan hipoksemia.
Awasi atau gambarkan seri GDA dan nadi Mengkaji status pertukaran gas dan
oksimetri. Observasi kapasitas vital atau ventilasi perlu untuk kelanjutan atau
pengukuran volume tidal gangguan dalam terapi

2. Diagnose Nyeri akut


Intervensi Rasional
Observasi karakteristk nyeri, Membantu dalam evaluasi gejala
misalnya : terus menerus, sakit nyeri
menusuk, terbakar. Buat rentang
intensive pada skala 0-10
Berikan tindakan kenyamanan, Meningkatkan relaksasi dan
misal: gunakan teknik relaksasi pengalihan perhatian,
menghilangkan nyeri dan
meningkatkan efek terapetik
analgesil. Jadwalkan periode
istirahat dan berikan lingkungan
tenang. Penurunan kelemahan an
menghemat energi meningkatkan
kemampuan koping.
Kolaborasi Mempertahankan kadar obat lebih
Pemberian analgesik rutin sesuai konstan, menghindari puncak
indikasi, khususnya 45-60 menit periode nyeri. alat dalam
sebelum tindakn napas dalam penyembuhan otot dan
dan latihan batuk memperbaiki fungsi pernapasan
dan kenyamanan atau koping
emosi

3. Diagnose kerusakan pertukaran gas


Intervensi Rasional
Catat frekuensi dan kedalaman Takinea dan dispnea mentyertai
pernapasan, penggunana otot obstruksi paru, kegagalan
bantu dan napas bibir oernapasan ,ebih berat menyertai
kehilnagn paru unit fungsional dari
sedang sampai berat
Auskultasi paru untuk penurunan Area yang tak terventilasi dapat
atau tak adanya bunyi napas dan diidentifikasi dengan tak adanya
adanya bunyi tambahan bunyi napas. Crekles terjadi pada
misalnya:crekles jaringan terisi cairan atau jalan
napas atau dapat menunjukan
dekompensasi jantung
Lakukan tindakan unutk Jalan napas lengket atau kolaps
memperbaiki atau menunjukan menurunnya jumlah
mempertahankan jalan napas alveoli yang berfungsi, secara
misalnya batuk dan penghisapan negative mempengaruhi
pertukaran gas.
Tinggikan kepala tempat tidur Meningkatkan ekspansi dada
sesuai kebutuhan atau toleransi maksimal, membuat mudah
pasien bernafas yang meningkatkan
kenyamanan fisiologis dan
psikologis.
Awasi tanda vital Takikardi, takipnea dan
perubahan pada tekanan darah
tejadi dengan beratnya
hipoksemia dan asidosis.
Kolaborasi
Beri oksigen dengan metode yang Memaksimalkan sediaan oksigen
tepat untuk pertukaran gas. Oksigen
biasanya diberikan dengan kanul
nasal pada obstruksi paru
sebagian.
Catatan: bila obstruksi lebih besar
atau hipoksemia tidak berespon
terhadap tambahan oksigen,
mungkin perlu memindahkan
pasien ke perawatan kritis
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2013. Asuhan Keperawatan Trauma Thorax. http://askep-trauma-


thorax.html. Diakses pada tanggal 25 September 2013.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC
Doegoes, L.M. 1999. Perencanaan Keperawatan dan Dokumentasian keperawatan.
Jakarta : EGC.
First Emergency Indonesia.2013. Modul BTCVLS (Basic Trauma and Cardio Vasculer
Life Support for Nurse). Surakarta
Hudak, C.M. 1999.Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Mnasjoer, Arief . 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius
Mowschenson, Peter M. 1990. Segi Praktis Ilmu Bedah Untuk Pemula. Edisi
2.Jakarta: Binarupa Aksara
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. Jakarta : EGC