Anda di halaman 1dari 11

8.

1 Macam-macam skala Pengukuran

Dasar yang paling umum yang digunakan untuk membuat skala mempunyai tiga ciri sebagai
berikut ( Cooper dan Earning) :

1. Bilangannya berurutan. Satu bilangan adalah lebih besar daripada.lebih kecil dari pada
atau sama dengan bilangan yang lain.
2. Selisih antara bilangan-bilangan adalah berurutan selisih antara sepasang bilangan adalah
beurutan.
3. Deret bilangan mempunyai asal mula yang unik yang ditandai dengan bilangan nol.

Kombinasi ciri-ciri urutan, jarak da nasal mula menghasilkan pengelompokan skala ukuran yang
umum dipakai. Ada empat macam sekala pengukuran :

1. Skala Nominal

Skala nominal merupakan skala yang paling lemah dibandingkan dengan sekala liannya.
Bilamana menggunakan skala nominal, maka akan dibuat partisipasi dalam suatu himpunan
dalam kelompok-kelompok yang harus mewakili kejadian yang berbeda dan dapat menjelaskan
semua kejadian dalam kelompok tersebut.

2. Skala Ordinal

(Uma Sekaran and Roger Bougie,2009:142) skala ordinal tidak hanya mengkategorikan
variabel untuk menunjukan perbedaan antara berbagai kategori, preferensikan peringkat dan
nomor 1,2, dan seterusnya. Misalnya, responden mungkin akan diminta untuk menunjukan
preferensi mereka dengan peringkat.

3. Skala interval

Skala interval memiliki ciri-ciri sekala nominal dan ordinal, dan ditambah satu lagi, yaitu
skala ini mencakup konsep persamaan interval (jarak antara 1 atau 2 sama dengan jarak 3 dan 4)
misalnya selisih antar pukul 3 dan 6 pagi sama dengan selisih antara pukul 4 dan 7 pagi, tetapi
tidak dapat dikatan bahwa pukul 6 pagi adalah dua kali lebih siang dibandingkan dengan pukul 3
pagi karena waktu nol merupakan asal mula yang ditetapkan secara sembarang.

4. Skala Rasio
1
Skala rasio mencakup semua kemampuan dari skala-skala lain sebelumnya ditambah dengan
adanya titik nol yang absolute. Skala rasio mencerminkan jumlah-jumlah yang sebenarnya dari
suatu variabel.

Para ahli sosial membedakan dua tipe skala menurut fenomenal sosial yang diukur, yaitu :

1. Skala pengukuran untuk mengukur perilaku sosial dan kepribadian. Yang termasuk tipe
ini adalah skala sikap,skala moral, tes karakter dan skala partisipasi sosial.
2. Skala pengukuran untuk mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
Yang termasuk tipe ini adlah skala untuk mengukur status ekonomi , lembaga-lembaga
sosial kemasyarakatan dan kondisi kerumah tanggan.

Ada berbagai skala yang dapat digunakan untuk mengukur gejala/ fenomenal sosial, yaitu :

1. Skala Likert

Jawaban setiap butir yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif
sampai dengan negative. Misalnya dari sangat setuju sampai dengan tidak setuju, dari sangat
baik sampai dengan sangat tidak baik, dari selau sampai tidak pernah. Instrument penelitian yang
menggunakan Skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda.

1. Contoh bentuk checklist


Berikan jawaban pertanyaan berikut sesuai dengan pendapat Anda, dengan cara memberi
tanda () pada kolom yang telah tersedia.

Keterangan:
SS = sangat setuju
ST = setuju
RG = ragu-ragu / netral
TS = tidak setuju

2
STS = sangat tidak setuju

Bila :
SS diberi skor = 5
ST diberi skor = 4
RG diberi skor = 3
TS diberi skor = 2
STS diberi skor = 1

2. Skala Guttman

Moh. Nazir (1983:299), menyatakan bahwa skala guttman diberi nama menurut ahli yang
mengembangkannya, yaitu Louis Guttman. Skala ini mempunyai beberapa ciri penting yaitu :

a) Skala Guttman merupakan skala kumulatif. Jika seseorang mengiyakan pertanyaan atau
pertanyaan yang berbobot lebih berat, maka ia juga akan mengiyakan pertanyaan atau
pertanyaan yang kurang bebobot lainnya

b) Skala Guttman ingin mengukur satu dimensi saja dari suatu variable yang multi-dimensi
sehingga skala ini termasuk mempunyai sifat unidimensional.

Penggunaan skala Guttman, yang disebut juga metode scalogram atau analisis skala
( scale analys) sangat baik untuk meyankinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau
sikap yang diteliti, yang sering disebut isi universal ( universe of content) atau universal(universe
attribute). Dalam prosedur Guttman, suatu atribut universe mempunyai dimensi satu jika atribut
ini menghasilkan suatu skala kumulatif yang perfek.

3. Semantic Deferensial

Skala ini dapat digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda
maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinyu yang jawaban sangat positif terletak
pada bagian kanan garis dan jawaban yang sangat negatif terletak pada bagian kiri garis atau
sebaliknya. Data yang diperlukan adalah data interval, dan biasanya digunakan untuk mengukur

3
sikap atau karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang. Responden dapat memberikan
jawaban pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif.

4. Rating Scale

Jogiyanto (2010:66), melihat Slaka rating (rating scale) digunakan untuk memberikan
nilai (rating) ke suatu variabel. Responden menjawab senang atau tidak senang, setuju atau tidak
setuju, pernah atau tidak pernah adalah merupakan data kualitatif. Dalam skala ini responden
tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan. Peneliti menyusun
instrument dengan rating scale harus dapat mengartikan setip angka yang diberikan pada
alternatif jawaban pada setiap instrument.

5. Skala Thurstone

Suatu skala bertujuan untuk mengurutkan responden berdasarkan suatu criteria tertentu.
Yang merupakan cirri dari metode ini adalh penggunaan panel yang terdiri dari 50-100 ahli untuk
menilai sejumlah pernyataan guna mengukur variabel tertentu.

Sumber-sumber Perbedaan Pengukuran

Adapun suber-sumebr kesalahan tersebut adalah responden, situasi, pengukuran dan alat
pengukuran :

1. Responden sebagai sumber kesalahan

Perbadaan-perbedaan dalam pendapat akan muncul dari cirri-ciri responden yang relatif
stabil yang berpengaruh kepada skor.

2. Faktor-faktor situasi

Setiap kondisi yang memberikan beban kepada wawancara bisa memberikan dampak
serius terhadap respon antara pewawancara dengan responden. Jika ada orang lain ikut
hadir, maka orang tersebut bisa mengganggu respon dengan ikut campur, dengan
mengalihkan perhatian, atau sekedar hadir. Dalam analis data, kesalahan yang tidak
tepat , tabulasi yang tidak hati-hati dan perhitungan statistic yang salah.

4
3. Instrumen Penelitian Suatu instrumen yang tidak baik dapat mengganggu. Pertama,
mungkin instrumen tersebut membingungkan dan tidak jelas. Pemakaian kata-kata yang
rumit sehingga tidak dapat dimengerti responden.

8.2 Desain Instrumen

Menurut Rahyuda (2004:64) Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan
mengukur fenomena alam atau sosial yang diamati. Secara spesifik semua fenomena ini disebut
variabel penelitian.

Instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel dalam ilmu alam sudah
banyak tersedia dan diuji oleh validitas dan relibilitasnya. Instrumen-instrumen itu mudah
didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya kecuali rusak atau palsu.

Instrumen dalam penelitian sosial walaupun beberapa sudah ada seperti untuk mengukur
sikap, mengukur IQ, mengukur bakat dan lain-lain, tetapi instrumen-instrumen tersebut sulit
untuk dicari. Selain itu, instrumen dalam bidang sosial walaupun telah teruji validitas dan
reliabilitasnya di suatu tempat, tetapi bila digunakan untuk mengukur di tempat tertentu belum
tentu tepat dan mungkin tidak valid dan reliable lagi. Hal ini perlu dimaklumi karena fenomena
sosial itu cepat berubah dan sulit dicari kesamaannya.

Contoh instrumen dalam bentuk pernyataan maupun pertanyaan.

Bagaimana efektivitas metode promosi yang diterapkan pada perusahaan ini?

1) Sangat efektif

2) Efektif

3) Cukup Efektif

4) Kurang efektif

5) Tidak efektif

Contoh instrumen dalam bentuk pertanyaan

Metode promosi yang diterapkan pada perusahaan ini efektif

1) Sangat setuju

5
2) Setuju

3) Kurang setuju

4) Sangat tidak setuju

Mudrajad Kuncoro (2009:180) menjelaskan proses menyusun desain instrumen pada


dasarnya adalah suatu seni. Ada pun dua hal utama yang harus diperhatikan dalam desain
isntrumen adalah sebagai berikut:

1. Urutan skala dan layout

Penyajian dan organisasi instrumen pengumpulan data amat menentukan dalam sukses/
tidaknya penelitian. Isu sentral pada tahap ini adalah urutan skala dan penyajian alat pengukuran
dalam bentuk yang menarik dan mudah dimengerti.

2. Pratest dan perbaikan

Setelah instrumen disusun dalam bentuk draft, maka pratest (uji coba sebelum penelitian
yang sebenarnya dilakukan) sebaiknya dilakukan pada sejumlah responden yang sama dengan
responden penelitian yang sebenarnya. Pratest sering kali dapat mengidentifikasi masalah-
masalah dalam penyusunan kata-kata, format kuisioner, dan lain-lain yang amat berpengaruh
terhadap validitas penemuan dan penelitian tersebut. Bila masalah-masalah tersebut ditemui,
peneliti dapat membuat perubahan-perubahan seperlunya agar dapat memperoleh data dengan
kualitas yang tinggi.

8.3 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas Instrumen

Bagi Mudrajad Kuncoro (2009:172) Validitas adalah suatu skala pengukuran disebut
valid bila melakukan apa yang seharusnya dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya
dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya diukur. Bila skala pengukuran tidak valid maka
tidak bermanfaat bagi peneliti karena tidak mengukur atau melakukan apa yang seharusnya
dilakukan.

Menurut Jerry J. Weygant (2003:42) ada beberapa jenis uji validitas yang digunakan
untuk menguji ketepatan ukuran dan penulisan menggunakan istilah yang berbeda untuk

6
menunjukkannya. Demi kejelasan, kita bisa mengelompokkan uji validitas ke dalam tiga bagian
besar: Validitas isi, validitas berdasarkan kriteria, dan validitas konsep.

Menurut Rahyuda (2004:65) suatu instrumen dikatakan memiliki validitas, apabila


instrumen tersebut mampu menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur mengukur apa yang ingin
diukur. Jika seorang peneliti ingin mengukur tentang kemiskinan, maka peneliti harus menguji
validitas alat ukurnya apakah memang benar alat ukur yang digunakan mampu mengukur
kemiskinan. Validitas ada berbagai macam yaitu:

1. Validitas Konstruk

Menurut Mudrajad Kuncoro (2009:174) validitas konstruk membuktikan seberapa bagus


hasil yang diperoleh dari penggunaan ukuran sesuai dengan teori di mana pengujian dirancang.
Hal ini dinilai dengan convergent validity dan discriminant validity. Convergent validity terjadi
ketika skor yang dihasilkan oleh dua buah instrumen yang mengukur konsep yang sama
memiliki korelasi yang tinggi. Discriminant validity terjadi ketika berdasarkan teori, dua buah
variabel diperkirakan tidak korelasi, dan skor pengukuran yang dihasilkan juga menunjukkan
tidak berkorelasi secara empiris.

2. Validitas Isi

Menurut Mudjarat Kuncoro (2009:173) menyebutkan bahwa validitas isi memastikan


bahwa ukuran telah cukup memasukan sejumlah item yang respresentatif dalam menyusun
sebuah konsep. Semakin besar skala item dalam mewakili semesta konsep yang diukur, maka
semakin besar validitas isi. Face validity dipertimbangkan oleh sebagian ahli sebagai dasar dan
indeks yang sangat minimum bagi validitas isi.

3. Validitas Eksternal

Validitas eksternal adalah validitas yang diperoleh dengan cara mengkolerasikan alat
pengukur baru dengan tolok ukur eksternal (yang berupa alat ukur yang sudah valid).

4. Validitas Prediktif

7
Validitas prediktif adalah kesahihan yang didasarkan pada hubungan yang teratur antara
tingkah laku apa yang diramalkan oleh sebuah tes dan tingkah laku sebenarnya yang ditampilkan
oleh individu atau kelompok.

5. Validitas Budaya

Validitas ini penting bagi penelitian di Negara yang suku bangsanya sangat bervariasi.
Suatu alat pengukur yang sudah valid untuk penelitian di suatu Negara, belum tentu akan valid
bila digunakan di Negara lain yang budayanya berbeda.

6. Validitas Rupa

Validitas rupa tidak menunjukkan apakah alat pengukur mengukur apa yang ingin di
ukur, tetapi hanya menunjukkan bahwa dari segi rupanya suatu alat ukur tampaknya mengukur
apa yang ingin diukur.

7. Validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity)

Validitas berdasarkan kriteria (criterion-related validity) terpenuhi jika pengukur


membedakan individu menurut suatu kriteria yang diharapkan prediksi. Hal tersebut bisa
dilakukan dengan menghasilkan validitas konkuren (concurrent validity) dihasilkan jika skala
membedakan individu yang diketahui berbeda, mereka harus menghasilkan skor yang berbeda
pada instrumen atau dapat menghasilkan validity prediktif (predivtive validity).

Reliabilitas Instrumen

Menurut Rahyuda (2004:66), reliabilitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Besar kecilnya kesalahan pengukuran dapat diketahui
antara lain dari indeks korelasi antara hasil pengukuran pertama dengan kedua. Reliabilitas
mencakup dua hal utama, yaitu:

1) Stabilitas ukuran

Stabilitas ukuran menunjukkan kemampuan sebuah ukuran untuk tetap stabil atau tidak
rentan terhadap perubahan situasi apa pun. Terdapat dua jenis uji stabilitas, yaitu:

a. Test-retest reliability

8
Korelasi antarskor yang diperoleh dari responden yang sama dengan dua waktu
berbeda yang disebut dengan koefisien test-retest. Semakin tinggi koefisien,
semakin baik test-retest reliability, sehingga semakin stabil sebuah ukuran untuk
waktu yang berbeda.

b. Reliabilitas bentuk parallel (parallel-from reliability)

Terjadi ketika responden dari dua pengukuran yang sebanding dalam menyusun
konstruk yang sama memiliki korelasi yang tinggi.

2) Konsisten Internal Ukuran

Konsisten internal ukuran merupakan indikasi homogenitas itam-item yang ada dalam
ukuran yang menyusun konstruk. Konsistensi ukuran dapat diamati melalui reliabilitas
konsistensi antar item (interim consistency reliability) dan split-half reliability.

8.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Cara Menguji Validitas Instrumen

Yang dibicarakan dalam menguji validitas instrument adalah pengujian validitas konstrak.
Dalam hal ini, setelah instrument dikonstruksi tentang aspek-aspek yang akan diukur dengan
berdasarkan teori tertentu, maka selanjutnya dikonstruksikan dengan ahli. Para ahli diminuta
pendapat tentang instrument yag akan disusun itu. Jumlah ahli yang digunakan minimal 3 (tiga)
orang.

Menurut Anastasi (Masri, 1989) ada beberapa teknik yang digunakan untuk menghitung
reliabilitas instrumen suatu penelitian, yaitu :

1. Teknik pengukuran ulang

Untuk mengetahui reliabilitas suatu alat pengukur dengan pengukuran ulang dapat
dilakukan dengan meminta kepada responden yang sama untuk menjawab semua
pertanyaan pada alat pengukur sebanyak dua kali dalam selang waktu tidak terlalu dekat
dan tidak terlalu lama.

2. Teknik belah dua

9
Teknik ini dapat digunakan bila alat pengukur yang disusun memiliki cukup banyak item
(pertanyaan-pertanyaan) yang dibuat untuk mengukur asepek yang sama. Semakin
banyak item maka reliabilitas alat pengukur akan semakin baik

3. Teknik bentuk parsial

Perhitungan reliable dengan menggunakan teknik ini dilakukan dengan membuat dua
jenis alat untuk mengukur aspek yang sama. Kedua alat pengukur tersebut diberikan pada
responden yang sama, kemudian dicari validitas untuk masing-masing jenis. Untuk
menghitung reliabilitas perlu mengkorelasikan skor total dari kedua alat pengukur
tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Donald R Cooper & C.W Emory. 1998. Business Research Methods (5th ed). USA: Richard
Irwin,Inc.

Fred N. Kerlinger, 2002. Azas-asas Penelitian Behavioral (edisi ketiga). Yogykarta: Gadjah
Mada University Press.

Moh. Nazir, 1999. Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia.

Moelong, 2001. Metode Penelitian Kualitatif, Yogyarta: Pustaka Pelajar.

Nur Indriantoro dan Bambang Supomo, 1999. Metodologi Penelitian Bisnis : untuk Akuntansi
dan Manajemen (edisi pertama). Yogyakarta: BPFE.

Julia Branen, 1997. Memadu Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

10
11