Anda di halaman 1dari 3

Aliran Fluida

1. Klasifikasi Aliran Fluida

Aliran suatu fluida dapat diklasifikasikan atau dikelompokkan menjadi dua kelompok
(Olson,1990), yaitu:

a. Aliran Tunak (Steady)


Aliran tunak (steady) merupakan suatu aliran dimana kecepatannya tidak terpengaruh
oleh perubahan waktu, sehingga kecepatan aliran konstant pada setiap titik (aliran
tidak mempunyai percepatan).
b. Aliran Tidak Tunak (Unsteady)
Aliran tidak tunak merupakan suatu aliran yang terpengaruh oleh perubahan
kecepatan terhadap waktu.

Pada beberapa kasus tertentu memungkinkan adanya aliran tidak tunak (unsteady)
dioubah menjadi aliran tunak, dengan mengubah kerangka acuannya (frame of
reference). Setiap aliran fluida yang mengalir dengan kecepatan konstan, maka suatu
aliran fluida yang tidak tunak dapat diubah menjadi aliran tunak dengan memilih sistem
koordinat (titik dimana aliran tersebut akan mengalir) yang tetap terhadap aliran tersebut.

2. Tipe-tipe Aliran Fluida


Tipe-tipe aliran fluida berhubungan dengan bilangan Reynolds, dimana bilangan
Reynolds merupakan bilangan tidak berdimensi yang dapat digunakan untuk
membedakan apakah suatu aliran disebut aliran laminar, transisi atau turbulen.
VD
=

Dimana : V = kecepatan fluida (m/s)


D = diameter dalam pipa (m)
= rapat massa fluida (Kg/m3)
= viskositas dinamik fluida (kg/ms) atau (N.s/m2)

a. Aliran Laminar
Aliran laminar merupakan suatu aliran dengan fluida yang dapat bergerak dalam
lapisan-lapisan dengan satu lapisan meluncur secara lancar. Aliran laminar ini
mempunyai nilai bilangan Reynolds kurang dari 2300 (Re<2300). Dalam aliran
ini viskositas berfungsi untuk meredam kecenderungan terjadinya gerakan relatif
antara lapisan.
b. Aliran Transisi
Aliran transisi merupakan suatu aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran
turbulen. Keadaan peralihan ini tergantung pada viskositas fluida, kecepatan dan
lain lain yang menyangkut geometri aliran dimana nilai bilangan Reynolds antara
2300 hingga 4000 (2300<Re<4000).

c. Aliran Turbulen
Aliran turbulen merupakan aliran yang pergerakan partikel-partikel fluidanya
sangat tidak menentu karena mengalami pencampuran serta putaran antar lapisan,
yang mengakibatkan adanya pertukaran momentum dari satu bagian fluida
kebagian fluida yang lain dalam skala yang besar. Dalam keadaan aliran turbulen
maka turbulensi yang terjadi mengakibatkan tegangan geser yang merata
diseluruh fluida sehingga menghasilkan kerugian kerugian aliran. Aliran turbulen
mempunyai nilai bilangan Reynolds lebih besar dari 4000 (Re>4000).
Prinsip Kerja Double Pipe Heat Exchanger

Double pipe heat exchanger merupakan salah satu penukar panas yang paling
sederhana dari jenis penukar panas lainnya. Dinamakan double pipe heat exchanger karena
salah satu aliran fluida mengalir didalam pipa dan aliran yang lain mengalir diantara satu pipa
dengan pipa satunya yang mengelilingi. Aliran didalam double pipe heat exchanger dapat
bersifat co-current atau counter-current. Aliran co-current terjadi ketika aliran dua fluida
mengalir dalam arah yang sama menenyebabkan temperatur pertukaran panas merata pada
semua sisi dinding heat exchanger, sedangkan aliran counter-current terjadi ketika aliran
fluida mengalir berlawanan arah yang menyebabkan perubahan temperature yang tinggi.
Perubahan kondisi fluida selama proses penukaran panas akan menyebabkan
perubahan temperatur aliran masuk, jumlah aliran, karakteristik fluida, komposisi fluida, dan
jumlah panas yang ditukarkan akan berubah. Perilaku perubahan tersebut akan menyebabkan
suhu didalam proses penukaran panas berubah, hingga mencapai titik dimana proses
penyebaran panas menjadi steady. Ketika penukaran panas dimulai, maka akan menyebabkan
perubahan termperatur dari fluida yang dialirkan hingga mencapai titik steady. Hal tersebut
tergantung pada waktu proses penukaran panas.
Dalam penukar panas double-pipe, panas dari fluida yang mengalir didalam pipa akan
dipindahkan ke air pendingin yang mengalir diluar pipa. Dalam sistem penukaran panas ini
bersifat konstan sampai ada perubahan kondisi dari fluida, seperti jumlah aliran dan
temperatur aliran masuk. Perubahan tersebut menyebabkan distribusi panas dalam sistem
berubah hingga mencapai titik steady yang baru. Titik steady yang baru dapat diketahui dari
temperatur inlet dan outlet serta aliran pendingin menjadi stabil. Pada kenyataanya, tidak
akan tercapai temperatur yang stabil antara inlet, outlet dan air pendingin.
Double pipe heat exchanger menggunakan dua pipa yang mempunyai diameter yang
berbeda. Pipa dengan diameter yang lebih kecil dipasang paralel didalam pipa berdiameter
lebih besar. Perpindahan panas yang terjadi pada saat fluida yang satu mengalir didalam pipa
yang berdiameter kecil, dan fluida yang lainnya mengalir di luar pipa yang berdiameter kecil.