Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PENDAHULUAN

Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

BAB III
PENDEKATAN DAN METODOLOGI

3.1. UMUM
AKNOP adalah Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan yang memberikan
estimasi dan evaluasi dari kegiatan operasi dan pemeliharaan yang akan dikerjakan
sehingga metoda dan biaya dapat diatur dengan sebaik-baiknya.

Dimasa lalu besaran biaya operasi dan pemeliharaan sungai dan pantai mengacu pada
format dan penilaian dari masing-masing pengelola. Mulai dari perhitungan, formulasi dan
tata cara dalam menentukan biaya operasi dan pemeliharaannya berbeda-beda. Akibatnya
adalah beberapa usulan biaya operasi dan pemeliharaan tidak efektif dan efisien karena
dalam penentuannya hanya menggunakan estimasi sepihak saja. Hal ini menyebabkan sulit
dievaluasi kinerjanya.

3.2. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN


Kerangka Acuan Kerja telah memberikan gambaran umum permasalahan yang perlu
dipecahkan dalam pekerjaan ini. Pokok permasalahan yang dihadapi Provinsi Gorontalo
pada umumnya memiliki banyak DAS yang terdapat banyak sungai di dalamnya terutama
Sungai Bolango dimana terdapat sarana/prasarana bangunan air yang tentunya tidak luput
dari kerusakan baik secara alami karena terjangan arus sungai atau karena ulah dari
manusia. Dalam rangka menjaga kelangsungan sistem pengelolaan sarana/prasarana
bangunan air maka diperlukan program operasi dan pemeliharaan yang efektif. Salah satu
bentuknya adalah dengan melaksanakan kegiatan audit teknis sereta perencanaan
penyediaan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan (AKNOP) Sungai Bolango.

3.3. KETERSEDIAAN DATA


Data yang dibutuhkan untuk pekerjaan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai
antara lain adalah:
1) Peraturan dan Kebijakan terkait operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana sungai;
2) Data kondisi penyusunan AKNOP yang sudah berjalan;
3) Data Bangunan air yang dimiliki oleh Balai Wilayah Sungai Sulawesi II di lokasi kegiatan.

III-1
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Data ini akan dikumpulkan melalui pengumpulan data primer dan sekunder serta
kunjungan lapangan.

3.4. PENDEKATAN TEKNIS


Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai, maka
akan digunakan pendekatan sebagai berikut:
1) Pendekatan Bibliografis, dimana akan dilakukan studi peraturan, kebijakan dan literatur
lainnya terkait Audit Teknis dan Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan
(AKNOP) Sungai.
2) Studi Kasus, dimana akan dilakukan kunjungan lapangan guna mendapatkan gambaran
kondisi dan tingkat kerusakan sarana/prasarana bangunan air yang berada di Sungai
Bolango.
3) Pendekatan Komparatif, dimana akan dilakukan perbandingan antara penyusunan
AKNOP yang sudah berjalan terhadap peraturan dan kebijakan yang berlaku.

3.5. METODOLOGI
Dalam rangka menangani pelaksanaan tersebut, Konsultan menyusun pendekatan teknis
dengan urutan kegiatan sebagai berikut :
Tahap I : Pendahuluan
Tahap II : Pengumpulan dan Analisis Data
Tahap III : Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan AKNOP Sungai
Tahap IV : Pelaporan

Secara garis besar dasar pemikiran terhadap Pendekatan Metodologi yang disusun,
dituangkan dalam bentuk Bagan Alir Kegiatan sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.1.

III-2
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Mulai

Pendahuluan

Persiapan Administrasi
Mobilisasi dan Koordinasi Team Pelaksana
Pemantapan Program Kerja dan Pendalaman KAK
Pengumpulan Data Awal
Diskusi Awal dengan Pemberi Kerja
Studi Literatur
Penyusunan Polapikir
Penyusunan pola PikirTata
Audit
CaraTeknis & Aknop
Penyusunan Sungai
AKNOP OP Sungai dan OP
Pantai

Penyusunan RMK & Konsep


Laporan Pendahuluan

Diskusi

Disetujui?
Tidak

Ya

Pengumpulan dan Analisis Data

Pengumpulan dan Analisis Data Sekunder


Inventarisasi & Identifikasi Kerusakan Bangunan
Kunjungan Lapangan
Sungai
Diskusi dengan Direksi, Narasumber dan Pihak
Lainnya

A
Penyusunan Tata Cara Penyusunan AKNOP OP Sungai dan
OP Pantai

Gambar 3.1. Bagan Alir kerangka


Penyusunan Metodologi Pelaksanaan
konsep Tata Cara PenyusunanPekerjaan
AKNOP OP Sungai dan OP Pantai
Penyusunan konsep Tata Cara Penyusunan AKNOP OP
Sungai dan OP Pantai

III-3
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Penyusunan Laporan Penunjang

Tidak
Disetujui

Ya

Penyusunan AKNOP Sungai

Penyusunan Konsep Laporan Akhir

Diskusi

Tidak
Disetujui

Ya

Penyempurnaan Penyusunan AKNOP

Penyusunan Laporan Akhir

Selesai

III-4
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

3.5.1. Pendahuluan
Pada Tahap Pendahuluan akan dilakukan berbagai kegiatan awal mencakup pengumpulan
data awal, mengkaji laporan terdahulu maupun referensi-referensi lain.

Melakukan koordinasi dalam memantapkan program kerja yang akan dilaksanakan pada
tahap-tahap selanjutnya. Tahap ini terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi merupakan kegiatan paling awal yang dilaksanakan oleh pihak
Konsultan setelah menerima Surat Perintah Mulai Kerja (SPK)/Kontrak dari Pemberi
Kerja. Persiapan administrasi tersebut mencakup pembuatan dokumen kontrak,
pengurusan surat ijin ke instansi terkait, pembuatan surat tugas kepada personil yang
akan terlibat dalam penanganan proyek, surat pernohonan data dan sebagainya.
Persiapan administrasi tersebut diusahakan dapat diselesaikan sesegera mungkin
sehingga tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan berikutnya.

Pekerjaan persiapan ini akan dilaksanakan oleh seorang administrasi teknik yang telah
cukup berpengalaman dalam menangani pekerjaan yang sejenis, sehingga diharapkan
dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang disediakan untuk itu. Segala sesuatu
yang terkait dengan masalah administrasi tersebut akan selalu di bawah pengawasan
Team Leader yang bertanggung jawab atas penyelesaian seluruh pekerjaan.

b. Mobilisasi dan Koordinasi Team Pelaksana


Setelah persiapan administrasi dapat diselesaikan, selanjutnya seluruh Tenaga Ahli yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan pekerjaan akan dimobilisir sesuai dengan jadwal
penugasan yang telah disusun.

Dengan telah dimobilisasinya Tenaga Ahli tersebut, maka kegiatan penanganan proyek
dengan skala penuh telah berjalan.

Tingkat keberhasilan suatu proyek tidak hanya tergantung atas kemampuan dari para
Tenaga Ahli yang menangani, akan tetapi faktor koordinasi akan memegang peranan
kunci yang akan menentukan kelancaran dan kesempurnaan hasil yang akan dicapai.
Dengan koordinasi diharapkan tidak ada kerancuan dan tumpang tindih pelaksanaan
kegiatan dari masing-masing Tenaga Ahli, sehingga dukungan dari masing-masing
personil akan memberikan hasil yang optimal.

Mengingat pentingnya koordinasi ini, Team Leader akan memimpin langsung untuk
membicarakan dan mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan :
- Jadwal pelaksanaan pekerjaan
- Jadwal penugasan masing-masing personil
- Uraian tugas dari masing-masing personil
- Hubungan kerja antar personil

III-5
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

- Peralatan yang akan dibutuhkan


- Dukungan pendanaan
- Dan sebagainya.

Disamping koordinasi antar Team Konsultan, koordinasi akan dilakukan pula dengan
Pemberi Kerja, khususnya dengan Direksi Pekerjaan. Hal ini terkait dengan usaha
menyamakan persepsi yang sangat dibutuhkan sebagaimana dipersyaratkan dalam
Kerangka Acuan Kerja.

c. Pemantapan Program Kerja dan Pendalaman KAK


Program Kerja merupakan langkah-langkah utama dan strategis yang akan diambil oleh
Konsultan dalam pelaksanaan pekerjaan untuk mendukung pendekatan metodologi
yang telah disusun. Dalam program kerja akan dikerahkan semua potensi sumber daya
menyangkut sumber daya manusia, sumber daya peralatan, alokasi pendanaan
disesuaikan dengan jadwal yang tersedia.

Dengan telah mantapnya program kerja diharapkan jadwal pelaksanaan pekerjaan


dapat diantisipasi sebelumnya sehingga tidak terjadi keterlambatan. Sebagai
konsekuensinya jadwal personil dan tugas yang harus dilaksanakan disinkronkan
dengan jadwal kegiatan proyek.

Disamping pemantapan program kerja, kajian yang cukup mendalam terhadap


Kerangka Acuan Kerja dilakukan bersama-sama oleh Team Konsultan dipimpin
langsung oleh Team Leader. Segala persyaratan dan koridor yang harus dipenuhi akan
menjadi perhatian Konsultan, termasuk didalamnya segala laporan yang harus
diserahkan oleh Konsultan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Kajian kritis
akan dilakukan terhadap KAK dan jika ada keraguan dalam kajian tersebut, Konsultan
akan melakukan diskusi dan klarifikasi dengan Pemberi Kerja.

d. Penyusunan RMK
Rencana Mutu Kontrak (RMK) digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan pekerjaan.
Rencana Mutu Pekerjaan (RMK) antara lain memuat: sasaran mutu, persyaratan teknis
dan administrasi, struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, bagan alir kegiatan,
jadwal pelaksanaan kegiatan, jadwal peralatan, daftar material dan jadwal personil.

e. Pengumpulan Data Awal


Sebagaimana diminta dalam Kerangka Acuan Kerja, Konsultan akan melakukan
pengumpulan data awal menyangkut berbagai hal yang berkaitan dengan pekerjaan
ini.

Data-data tersebut mencakup Laporan Studi terdahulu, peraturan perundang-


undangan, manual, pedoman dan lain sebagainya yang akan dihimpun dan

III-6
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

diinventarisir untuk dilakukan pengelompokan-pengelompokan agar memudahkan


nantinya dalam pengolahan dan analisanya. Diantaranya adalah:
Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 Tahun 2001 tentang
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005
Tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2008
Tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai
Peraturan Presiden No 12 Tahun 2008 Tentang Dewan Sumber Daya Air.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2009 Tentang
Dewan Sumber Daya Air Nasional.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang
Penetapan Wilayah Sungai.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2007
tentang pedoman O&P Jaringan Irigasi.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 03 Tahun
2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Departemen Pekerjaan Umum
yang merupakan kewenangan pemerintah dan dilaksanakan melalui
Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor
2/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Departemen
Pekerjaan Umum yang merupakan kewenangan pemerintah dan dilaksanakan
sendiri.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor 2/PRT/M/2010
tentang Rencana Strategis Nasional Kementerian Pekerjaan Umum Tahun 2010
2014.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Nomor
04/PRT/M/2009 tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen Pekerjaan
Umum.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 08/PRT/M/2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum.
Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 67/KPTS/M/1998 tentang
Jaminan Kepastian Mutu.

III-7
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor No. 45/1990, tentang pengendalian


mutu air pada sumber-sumber air, bahwa pengelolaan sumber air perlu melakukan
upaya penetpan peruntukan air dan baku mutu air dalam rangka pengendalian
pencemaan air.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 53/PMK.02/2014 tentang Standar Biaya
Tahun Anggaran 2015.
Mengingat waktu yang disediakan untuk melaksanakan pekerjaan cukup terbatas,
maka dalam pengumpulan data-data tersebut Konsultan akan mengerahkan semua
personil yang terlibat dalam menangani proyek. Dengan aktivitas pengumpulan data
yang paralel tersebut diharapkan data-data yang diharapkan dapat dikumpulkan tepat
waktu.

f. Diskusi Awal dengan Pemberi Kerja


Kegiatan ini sangat penting dan akan dilaksanakan oleh Konsultan dengan maksud
untuk memperoleh persamaan persepsi terhadap maksud dan tujuan pekerjaan
sebagaimana tertuang dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK). Disamping itu melalui
diskusi ini diharapkan ada masukan dan saran untuk langkah-langkah yang akan
dilakukan sehingga tercipta sinergi yang saling mendukung antara Konsultan dengan
Pemberi Kerja, dengan demikian akan diperoleh hasil pekerjaan yang optimal.

g. Review Studi Terdahulu dan Studi Literatur


Terkait dengan pengumpulan data-data awal termasuk didalamnya adalah
pengumpulan laporan studi terdahulu maupun literatur yang terkait dengan pekerjaan
ini.

Review studi dilakukan terutama dilakukan terhadap laporan-laporan studi terdahulu


yang terkait maupun data lainnya yang telah terkumpul sehingga Konsultan
memperoleh gambaran yang lebih jelas dan menyeluruh tentang kondisi pekerjaan.
Kegiatan ini akan sangat penting artinya karena akan menentukan strategi langkah
berikutnya termasuk dalam menentukan beberapa alternatif awal pemecahan masalah
maupun program survey dan pengumpulan data ke lapangan.

Disamping itu Konsultan juga akan melakukan studi lileratur, baik literatur dari dalam
negeri maupun dari luar negeri, dengan maksud untuk memperkaya pengetahuan
dalam upaya mencapai sasaran pekerjaan ini.

h. Penyusunan Pola Pikir Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP
Sungai
Untuk penyusunan tata cara penyusunan AKNOP Sungai yang akan dikembangkan
sejauh mungkin dapat mengadopsi sistem yang telah ada sehingga terjamin
keberlanjutan program dan kontinuitas data. Oleh sebab itu sebelum melakukan

III-8
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

pengembangan dan penyempurnaan pedoman, Konsultan akan melakukan evaluasi


terhadap sistem yang telah ada agar nantinya sedapat mungkin sistem tersebut dapat
terintegrasi dengan sistem yang baru.

Evaluasi yang akan dilakukan diantaranya mencakup sistem pengoperasian,


keterbatasan yang ada, permasalahan yang selama ini timbul, integrasi sistem dengan
sistem di lingkungan Ditjen Sumber Daya Air.

Menyusun pola pikir Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP
Sungai, yang setidaknya berisi:
1) Kondisi pengelolaan dan AKNOP Sungai Bolango saat ini, serta aturan/kebijakan
yang mendasari;
2) Tata cara Penyusunan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai;
3) Rekomendasi langkah/upaya penerapan.

i. Penyusunan Laporan Pendahuluan


Laporan Pendahuluan, antara lain memuat:
1) Pendahuluan, berisi antara lain: definisi, latar belakang, maksud dan tujuan, lokasi
kegiatan, waktu pelaksanaan, nama pekerjaan dan pengguna jasa, ruang lingkup,
dan output/keluaran pekerjaan;
2) Pola pikir Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai;
3) Metode Pendekatan dan Metode Pelaksanaan Pekerjaan, antara lain berisi:
a. Umum;
b. Kerangka metodologi, memuatidentifikasi permasalahan dan ketersediaan
data, teknik dan metodologi yang akan ditetapkan;
c. Rencana kerja; berisi (i) rencana pelaksanaan, dilengkapi dengan bagan alir
(flow chart) dan jadwal pelaksanaan pekerjaan, kurva-S; dan (ii) rencana
pelaporan;
d. Kerangka Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP
Sungai.

Untuk selanjutnya dilaksanakan diskusi pembahasan konsep laporan pendahuluan


dalam rangka memperoleh arahan, kritik, saran, komentar dan masukan untuk
perbaikan menjadi laporan pendahuluan. Setiap diskusi atau rapat harus dibuatkan
notulen-notulen rapat yang memuat secara lengkap pokok-pokok pembahasan serta
kesimpulan dalam diskusi/rapat. Notulen ditandatangani oleh Team Leader konsultan
penyedia jasa dan diketahui oleh Ketua Direksi Pekerjaan. Notulen-notulen rapat
tersebut merupakan bagian dari laporan-laporan pelaksanaan pekerjaan;

III-9
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

3.5.2. Pengumpulan dan Analisa Data


a. Pengumpulan dan Analisa Data Sekunder
Berdasarkan atas hasil pengumpulan data awal serta hasil diskusi Laporan Pendahuluan,
selanjutnya Konsultan akan melakukan pengumpulan data tambahan yang masih
diperlukan guna keperluan pekerjaan selanjutnya. Datadata tambahan tersebut akan
dikumpulkan, baik yang berasal dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi II maupun dari
instansi terkait lainnya.

Untuk melaksanakan kegiatan survei lapangan dan pengumpulan data, tim konsultan
akan mempersiapkan halhal sebagai berikut:
1) Surat tugas untuk personil pelaksanaan yang disetujui Pemberi Kerja/Direksi
Pekerjaan.
2) Surat Perintah Kerja dari Pemberi Kerja/Direksi Pekerjaan.
3) Surat ijin yang dikeluarkan oleh Pemberi Kerja/Direksi untuk instansiinstansi
terkait.
4) Pengenalan wilayah kerja strategis di wilayah kerja.
5) Persiapan komponen dasar untuk pekerjaan lapangan.
6) Persiapan transport lapangan.
7) Surat ijin melakukan survey dari instansi berwenang setempat.

b. Kunjungan Lapangan
Melakukan kunjungan lapangan ke lokasi kegiatan di wilayah Sungai Bolango guna
pengumpulan data, inventarisasi dan konsultasi dengan pakar, pejabat/petugas OP
BWS dan pejabat/petugas Dinas PU/PSDA setempat, masyarakat, serta pemangku
kepentingan lainnya terkait Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai, sekaligus
melakukan peninjauan langsung ke lapangan.

Kunjungan Lapangan lokasi tinjauan dilakukan dengan pertimbangan untuk mendapat


gambaran menyeluruh mengenai kondisi sarana/prasarana bangunan air di wilayah
lokasi pekerjaan yang dimiliki oleh Balai Wilayah Sungai Sulawesi II.

Dalam pelaksanaan kunjungan lapangan, Konsultan akan melakukan berbagai aktivitas


mencakup:
- Peninjauan lokasi pekerjaan, pengambilan foto dokumentasi.
- Diskusi dengan instansi terkait mengenai semua permasalahan yang terjadi.
- Pengumpulan data
- Inventarisasi dan Identifikasi data
- Pengumpulan data pendukung lainnya.

III-10
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

c. Diskusi dengan Direksi, Narasumber dan Pihak Lainnya


Melakukan diskusidiskusi dengan Direksi Pekerjaan, narasumber dan pihak lainnya
guna memperoleh masukan dalam pelaksanaan pekerjaan.

d. Survey Lapangan
Dalam pelaksanaan kegiatan Survey Lapangan konsultan akan mendata kondisi
sarana/prasarana bangunan air yang dimiliki oleh Balai Wilayah Sungai Sulawesi II
dengan dibuktikan oleh foto dokumentasi dan titik lokasi letak bangunan tersebut
berada dengan menggunakan GPS.

e. Pengolahan Data
Data yang diperoleh di lapangan tersebut selanjutnya akan diolah guna dilakukan
penghitungan teknis mengenai kerusakannya dan mendesain kerusakan tersebut
sehingga dapat diketahui sarana/prasarana bangunan air mana saja yang perlu
direhabilitasi.

3.5.3. Tata Cara Penyusunan Audit Teknis dan AKNOP Sungai


a. Penyusunan Kerangka Konsep Penyusunan Audit Teknis dan AKNOP Sungai
Berdasarkan atas datadata yang telah dikumpulkan, hasil kunjungan lapangan dan
hasil analisis yang telah dilakukan, Konsultan selanjutnya melakukan penyusunan
kerangka konsep Penyusunan Audit Teknis dan AKNOP Sungai dengan bertitik tolak dari
pola pikir yang telah disampaikan sebelumnya. Kerangka konsep selanjutnya
dimasukkan dalam Draft Laporan Akhir untuk didiskusikan.

Secara umum, pendekatan dalam penyusunan konsep terangkum dalam beberapa


pendekatan sebagai berikut:
1. Studi identifikasi dan latar belakang
Studi identifikasi dan latar belakang dimaksudkan untuk memperkuat dasardasar
pemikiran yang melatarbelakangi penyusunan konsep. Tingkat urgensi dari
penyusunan konsep akan ditelusuri pada kegiatan ini.
2. Identifikasi Aktifitas dan kinerja OP sungai
Studi Identifikasi Aktifitas dan kinerja prasarana sungai dilakukan dengan
mengumpulkan data, statistik dan dokumentasi mengenai aktifitas yang terjadi.
Datadata dapat diperoleh dari Dinas PSDA, BBWS/BWS, Dinas Lingkungan Hidup,
Bappeda serta beberapa instansi terkait lain yang akan diidentifikasi melalui diskusi
dan wawancara.
4. Studi Peraturan Perundangundangan
a. UndangUndang Dasar
b. Ketetapan MPR

III-11
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

c. UndangUndang
d. Peraturan Pemerintah
e. Keputusan Presiden
f. Peraturan Menteri

Untuk pekerjaan ini, peraturan dapat ditelaah antara lain adalah:


a. UndangUndang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan;
b. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 42 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air;
c. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 1/PRT/M/2008 Tentang Operasi
dan Tata Kerja Departemen Pekerjaan Umum.
d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2011 tentang Sungai.
e. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 13/PRT/M/2006 Tentang
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 2/PRT/M/2008 Tentang Pedoman
Pelaksanaan Kegiatan Departemen Pekerjaan Umum yang merupakan
kewenangan Pemerintah dan dilaksanakan sendiri.
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 23/PRT/M/2010 Tentang Rencana
Strategis Nasional Kementrian Pekerjaan Umum tahun 20102014.
h. Surat Edaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air No. 01/SE/D/2013 tentang
Tata Cara Operasi dan Pemeliharaan Prasarana Sungai Serta Pemeliharaan
Sungai.

5. Studi Terdahulu, Literatur dan NSPM


Studi terdahulu sangat penting untuk dijadikan bahan pertimbangan dan input
dalam penyusunan konsep. Lebih jauh lagi diharapkan dapat teridentifikasi bentuk
bentuk standard dan norma yang telah ada dan digunakan. Beberapa data sekunder
yang penting dijadikan sebagai bahan studi literatur adalah sebagai berikut ini.
a. Laporan hasil studi mengenai OP sungai
b. Buku NSPM berkaitan dengan OP sungai

6. Identifikasi OP sungai
Studi ini dapat memberikan gambaran mengenai OP sungai. Datadata dapat
diperoleh dari Dinas PSDA, BBWS/BWS, Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda serta
beberapa instansi terkait lain yang akan diidentifikasi melalui diskusi dan
wawancara. Hasil yang diperoleh dari instansi terkait nantinya dikombinasikan
dengan hasil identifikasi langsung di lapangan.

III-12
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

b. Penyusunan Laporan Penunjang


Laporan Penunjang berisi:
a) Uraian ringkas pendahuluan, memuat: definisi, latar belakang, ruang lingkup,
metodologi, dan jadwal pelaksanaan pekerjaan;
b) Pola pikir Audit Teknis dan AKNOP Sungai (diperbaiki/disempurnakan setelah
diskusi Rapat pendahuluan);
c) Hasil kemajuan pelaksanaan pekerjaan: pengumpulan data, hasil inventarisasi dan
investigasi, dan pendekatan pemecahan masalah, rencana kerja selanjutnya,
notulen Diskusi Laporan Pendahuluan, atau notulen atau catatan hasil rapat/diskusi
yang dilakukan dan dokumentasi;
d) Permasalahan yang dihadapi dan identifikasi permasalahan yang akan dihadapi,
upayaupaya penanganan atau antisipasi permasalahan yang dihadapi;
e) Kerangka Laporan Akhir.

c. Penyusunan Konsep Laporan Akhir dan Diskusi Akhir


Draft Laporan Akhir memuat seluruh rangkaian proses penyelesaian pekerjaan dimulai
dari pendahuluan, pola pikir, metodologi penyelesaian, hasil kunjungan lapangan,
dokumentasi, kesimpulan, dan saran.

d. Penyusunan Laporan Akhir


Laporan Akhir memuat perbaikan Draft Laporan Akhir berdasarkan masukan/hasil
diskusi Laporan Akhir, yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Laporan Akhir harus
sesuai dengan Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau persyaratan teknis atau persyaratan
lainnya yang telah ditentukan.

3.5.4. Pelaporan
Jenis laporan yang harus diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen :
1. Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK)
Laporan ini berisi Rencana Mutu Kontrak (RMK) diserahkan sebanyak 3 (tiga)
buku asli dan 2 (dua) Copy diserahkan paling lambat dua minggu setelah
penandatanganan Kontrak atau diterbitkannya SPMK.
2. Laporan Pendahuluan AKNOP
Laporan Paling Lambat diterima 30 Hari (1 Bulan) setelah konsultan menerima
SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja), Konsultan harus sudah menyerahkan Laporan
Pendahuluan sebanyak 3 (tiga) buku asli dan 2 (dua) Copy.
3. Laporan Penunjang :
a. Laporan Interim AKNOP

III-13
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Laporan Interim ini merupakan laporan yang berisikan mengenai hasil analisis
data serta hasil pekerjaan yang telah disusun setelah mendapatkan masukan
dari pelaksanaan Diskusi. Laporan Interim diserahkan sebanyak 3 (Tiga) buku
yang terdiri dari, 1 (satu) asli dan 2 (Dua) copy .
b. Gambar Desain A 3
Semua hasil pengukuran dan Perencanaan teknis disajikan dalam bentuk
gambar perencanaan ukuran A3 Sebanyak 2 (dua) Rangkap.
4. Laporan Akhir AKNOP
Laporan Akhir ini merupakan penyempurnaan dari Draft yang telah disusun
setelah mendapatkan masukan dari pelaksanaan Diskusi. Laporan Akhir
diserahkan sebanyak 3 (Tiga) buku, 1 (satu) asli dan 2 (Dua) copy .

3.6 DEFINISI DAN ACUAN NORMATIF


3.6.1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor: 42 Tahun 2008 Tentang
Pengelolaan Sumber Daya Air
Bab IV Pasal 43:
1. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sumber daya air terdiri atas:
a. pemeliharaan sumber air; dan
b. operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air.
2. Pemeliharaan sumber air sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan melalui
kegiatan pencegahan kerusakan dan/atau penurunan fungsi sumber air serta perbaikan
kerusakan sumber air.
3. Operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) huruf b meliputi:
a. operasi prasarana sumber daya air yang terdiri atas kegiatan pengaturan,
pengalokasian, serta penyediaan air dan sumber air; dan
b. pemeliharaan prasarana sumber daya air yang terdiri atas kegiatan pencegahan
kerusakan dan/atau penurunan fungsi prasarana sumber daya air serta perbaikan
kerusakan prasarana sumber daya air.
4. Pelaksanaan operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) didasarkan atas rencana tahunan operasi dan pemeliharaan
prasarana sumber daya air.
5. Rancangan rencana tahunan operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disusun oleh pengelola sumber daya air
berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Menteri.

III-14
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

6. Rancangan rencana tahunan operasi dan pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada


ayat (5) ditetapkan oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.

3.6.2 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai


Pasal 18:
(1) Pengelolaan sungai meliputi:
a. konservasi sungai;
b. pengembangan sungai; dan
c. pengendalian daya rusak air sungai.
(2) Pengelolaan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tahap:
a. penyusunan program dan kegiatan;
b. pelaksanaan kegiatan; dan
c. pemantauan dan evaluasi.
Pasal 20:
(1) Konservasi sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf a dilakukan
melalui kegiatan:
a. perlindungan sungai; dan
b. pencegahan pencemaran air sungai.
(2) Perlindungan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan melalui
perlindungan terhadap:
a. palung sungai;
b. sempadan sungai;
c. danau paparan banjir; dan
d. dataran banjir.
(3) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan pula terhadap:
a. aliran pemeliharaan sungai; dan
b. ruas restorasi sungai.

Pasal 21:
(1) Perlindungan palung sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (2) huruf a
dilakukan dengan menjaga dimensi palung sungai.
(2) Menjaga dimensi palung sungai sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dilakukan
melalui pengaturan pengambilan komoditas tambang di sungai.
(3) Pengambilan komoditas tambang di sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
hanya dapat dilakukan pada sungai yang mengalami kenaikan dasar sungai.

III-15
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Pasal 53:
Pelaksanaan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf b meliputi
kegiatan:
a. fisik dan nonfisik konservasi sungai, pengembangan sungai, dan pengendalian daya
rusak air sungai; dan
b. operasi dan pemeliharaan prasarana sungai serta pemeliharaan sungai.

Pasal 55:
(1) Pelaksanaan kegiatan operasi dan pemeliharaan prasarana sungai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 53 huruf b dilakukan melalui kegiatan:
a. pengaturan dan pengalokasian air sungai;
b. pemeliharaan untuk pencegahan kerusakan dan/atau penurunan fungsi prasarana
sungai; dan
c. perbaikan terhadap kerusakan prasarana sungai.
(2) Pelaksanaan kegiatan pemeliharaan sungai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53
huruf b dilakukan melalui penyelenggaraan kegiatan konservasi sungai sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 28, dan pengembangan sungai
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 33.

Pasal 23
(1) Perlindungan danau paparan banjir sebagaimanadimaksud dalam Pasal 20 ayat (2)
huruf c dilakukandengan mengendalikan sedimen dan pencemaran airpada danau.
(2) Pengendalian sedimen sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan dengan
pencegahan erosi padadaerah tangkapan air.

Pasal 24
(1) Perlindungan dataran banjir sebagaimana dimaksuddalam Pasal 20 ayat (2) huruf d
dilakukan pada dataranbanjir yang berpotensi menampung banjir.
(2) Perlindungan dataran banjir sebagaimana dimaksudpada ayat (1) dilakukan dengan
membebaskan dataranbanjir dari peruntukan yang mengganggu fungsipenampung
banjir.

Pasal 25
(1) Perlindungan aliran pemeliharaan sungai sebagaimanadimaksud dalam Pasal 20 ayat
(3) huruf a ditujukanuntuk menjaga ekosistem sungai.
(2) Menjaga ekosistem sungai sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan mulai dari
hulu sampai muarasungai.
(3) Perlindungan aliran pemeliharaan sungai dilakukandengan mengendalikan
ketersediaan debit andalan 95%(sembilan puluh lima persen).

III-16
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

(4) Dalam hal debit andalan 95% (sembilan puluh limapersen) tidak tercapai, pengelola
sumber daya air harusmengendalikan pemakaian air di hulu.

Pasal 26
(1) Perlindungan ruas restorasi sungai sebagaimanadimaksud dalam Pasal 20 ayat (3)
huruf b ditujukanuntuk mengembalikan sungai ke kondisi alami.
(2) Perlindungan ruas restorasi sungai sebagaimanadimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. kegiatan fisik; dan
b. rekayasa secara vegetasi.
(3) Kegiatan fisik sebagaimana dimaksud pada ayat (2)huruf a meliputi penataan palung
sungai, penataansempadan sungai dan sempadan danau paparan banjir, serta
rehabilitasi alur sungai.

Pasal 27
(1) Pencegahan pencemaran air sungai sebagaimanadimaksud dalam Pasal 20 ayat (1)
huruf b dilakukanmelalui:
a. penetapan daya tampung beban pencemaran;
b. identifikasi dan inventarisasi sumber air limbahyang masuk ke sungai;
c. penetapan persyaratan dan tata cara pembuanganair limbah;
d. pelarangan pembuangan sampah ke sungai;
e. pemantauan kualitas air pada sungai; dan
f. pengawasan air limbah yang masuk ke sungai.
(2) Pencegahan pencemaran air sungai dilaksanakansesuai dengan dengan ketentuan
peraturan perundangundangan.

Pasal 56
(1) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf c
dilakukan secara berkala dan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.
(2) Pemantauan dan evaluasi sebagaimana dimaksud padaayat (1) dilakukan melalui
kegiatan pengamatan, pencatatan, dan evaluasi hasil pemantauan.
(3) Hasil evaluasi pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) digunakan sebagai
masukan dalam peningkatan kinerja dan/atau peninjauan ulang rencana pengelolaan
sungai.

3.6.3 Surat Edaran Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Nomor 01/SE/D/2013 Tentang
Tata Cara OP Prasarana Sungai dan Pemeliharaan Sungai
Tata Cara OP Prasarana Sungai dan Pemeliharaan Sungai telah diatur melalui Surat Edaran
Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Nomor SE No. 01/SE/D/2013.

III-17
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

A. Klasifikasi Sungai
Menurut Surat Edaran, sungai dapat diklasifikasikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Sungai yang masih alami, relatif belum ada aktifitas pembangunan dikanan-kiri alur
sungainya. Alur sungai tidak perlu pemeliharaan.
2. Sungai yang sudah terdapat aktifitas pembangunan dikanan-kiri alur sungainya.
Pemeliharaan dibuat selektif, pada ruas sungai ditempat bangunan fasilitas yang
mempunyai nilai ekonomi tinggi (pemukiman,jalan raya, rumah sakit,jaringan
irigasi, dan lain-lain).
3. Sungai yang melewati perkotaan. Pelaksanaan pemeliharaan diklasifikasikan secara
khusus dengan memperhatikan jumlah prasarana yang ada dan tingkat
kepentingannya.

B. Ruang Lingkup OP Sungai


Berdasarkan PP 38/2011 tentang Sungai, ruang lingkup kegiatan operasi dan pemeliharaan
prasarana sungai adalah:
a. pengaturan dan pengalokasian air sungai;
b. pemeliharaan untuk pencegahan kerusakan dan/atau penurunan fungsi prasarana
sungai; dan
c. perbaikan terhadap kerusakan prasarana sungai.

Berdasarkan Surat Edaran Dirjen SDA No.01/SE/D/2013 tentang Tata Cara Operasi dan
Pemeliharaan Prasarana Sungai Serta Pemeliharaan Sungai, ruang lingkup OP Sungai adalah:
a. operasi prasarana sungai
b. Pemeliharaan prasarana sungai dan pemeliharaan sungai

Operasi prasarana sungai meliputi operasi dalam rangka penggunaan air sungai dan operasi
dalam rangka pengelolaan banjir.
(1) Penggunaan Air Sungai
a. penyusunan rencana alokasi air global/tahunan (RAAT);
b. penetapan alokasi air;
c. penyusunan rencana alokasi air rinci (RAAR);
d. pelaksanaan alokasi air;
e. pengawasan; dan
f. monitoring dan evaluasi.
(2) Pengelolaan Banjir
a. penyusunan SOP banjir;
b. penyiapan bahan banjiran;
c. penyiapan peralatan;
d. monitoring banjir;
e. pemantauan lokasi kritis dan daerah rawan banjir; dan

III-18
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

f. melaksanakan tindakan darurat bersama instansi terkait dan masyarakat.

Kegiatan pemeliharaan prasarana sungai meliputi:


(1) Pemeliharaan dalam rangka pencegahan kerusakan dan penurunan fungsi
sungai/prasarana sungai:
a. pengamanan;
b. pengendalian sampah;
c. pemeliharaan rutin;
d. pemeliharaan berkala yang bersifat perawatan;
e. pembatasan pemanfaatan sungai; dan
f. pembatasan penggunaan air sungai.
(2) Perbaikan Kerusakan
a. pemeliharaan berkala yang bersifat perbaikan;
b. pemeliharaan berkala yang bersifat penggantian;
c. perbaikan ringan atau reparasi;
d. perbaikan korektif yang terdiri dari: pemeliharaan khusus, rehabilitasidan
rektifikasi; dan
e. perbaikan khusus apabila terdapat kerusakan akibat banjir bukan akibat bencana
alam.
(3) Pemeliharaan dalam rangka konservasi sungai:
a. perlindungan sungai; dan
b. pencegahan pencemaran air sungai.

C. Tahapan OP Sungai
OP Sungai dilaksanakan melalui tahapan:
a. Perencanaan;
b. Pelaksanaan; dan
c. Pemantauan dan evaluasi.

D. Biaya OP Sungai
Komponen biaya OP Sungai terdiri atas komponen biaya operasi dan komponen biaya
pemeliharaan sungai/prasarana sungai.

Komponen biaya operasi


- biaya penyusunan rencana alokasi air;
- biaya operasi pintu air;
- biaya pengawasan;
- biaya monitoring dan evaluasi;
- biaya untuk kegiatan pengukuran debit dan kalibrasi alat pintuair;
- biaya gaji untuk penjaga alat hidrologi dan hidrometri;

III-19
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

- biaya monitoring banjir;


- biaya pengadaan bahan banjiran;
- biaya operasi peralatan;
- biaya gaji/upah untuk pengamat, juru, petugas, operator dan mekanik; dan
- biaya kantor dan barang pakai habis.
Komponen biaya pemeliharaan
- biaya untuk kegiatan inspeksi rutin;
- biaya untuk kegiatan penelusuran sungai;
- biaya untuk keperluan pengukuran dan detail desain;
- biaya untuk keperluan pemeliharaan dan/atau perbaikan;
- biaya kantor dan barang pakai habis; dan
- biaya gaji/upah untuk pengamat, juru, dan petugas.

3.6.5 Istilah dan Definisi


1. Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan
AKNOP adalah Angka Kebutuhan Nyata Operasi dan Pemeliharaan yang memberikan
estimasi dan evaluasi dari kegiatan operasi dan pemeliharaan yang akan dikerjakan
sehingga metoda dan biaya dapat diatur dengan sebaik-baiknya.

2. Prasarana sumber daya air


Bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber
daya air, baik langsung maupun tidak langsung.
(Sumber: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air.)

3. Sungai
Alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air
di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengandibatasi kanan dan kiri oleh garis
sempadan.
(Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang
Sungai)

4. Banjir
Peristiwa meluapnya air sungai melebihi palung sungai.
(Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang
Sungai)

5. Bantaran sungai
Ruang antara tepi palung sungai dan kaki tanggul sebelah dalam yang terletak di kiri
dan/atau kanan palung sungai.

III-20
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

(Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang


Sungai)

6. Garis sempadan
Garis maya di kiri dan kanan palung sungai yang ditetapkan sebagai batas
perlindungan sungai.
(Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang
Sungai)

7. Operasi dan pemeliharaan sungai


Kegiatan yang berkaitan dengan berfungsinya sungai dan beroperasinya bangunan
sungai meliputi antara lain pengawasan, pemeliharaan, operasi, dan perbaikan.
(Sumber: Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang
Sungai)

8. Analisis harga satuan pekerjaan (AHSP)


Perhitungan kebutuhan biaya tenaga kerja, bahan dan peralatan untuk mendapatkan
harga satuan atau satu jenis pekerjaan tertentu.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

9. Analisis produktivitas
Uraian masalah dan keadaan dalam membandingkan antara output (hasil produksi)
dan input (komponen produksi: tenaga kerja, bahan, peralatan, dan waktu).
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

10. Bahan baku


Bahan di suatu lokasi tertentu atau sumber bahan (quarry) dan merupakan bahan dasar
yang belum mengalami pengolahan (contoh : batu, pasir dan lain-lain), atau bahan
yang diterima di gudang atau base camp yang diperhitungkan dari sumber bahan,
setelah memperhitungkan ongkos bongkar-muat dan pengangkutannya.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

11. Bahan olahan


Bahan yang merupakan produksi suatu pabrik tertentu atau plant atau membeli dari
produsen (contoh : agregat kasar, agregat halus dan lain-lain).
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

12. Bahan jadi


Bahan yang merupakan bahan jadi (contoh : tiang pancang beton pencetak, kerb
beton, parapet beton dan lain-lain) yang diperhitungkan diterima di Base Camp/
Gudang atau di pabrik setelah memperhitungkan ongkos bongkar-buat dan
pengangkutannya serta biaya pemasangan (bila diperlukan).

III-21
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

13. Bendung
Bangunan air dengan kelengkapannya yang dibangun melintang sungai atau sudetan
yang sengaja dibuat untuk meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi
terjun, sehingga air sungai dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi atau dengan
pompa ke tempat-tempat tertentu yang membutuhkannya dan atau untuk
mengendalikan dasar sungai, debit dan angkutan sedimen.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

14. Bendungan
Bangunan yang berupa urukan tanah, urukan batu, beton, dan/atau pasangan batu
yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk
menahan dan menampung limbah tambang (tailing), atau menampung lumpur
sehingga terbentuk waduk.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

15. Pelimpah
Bangunan yang berfungsi untuk melewatkan debit aliran sungai secara terkendali.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

16. Intake
Bagian dari bendung yang berfungsi sebagai penyadap aliran sungai.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

17. Biaya langsung


Komponen harga satuan pekerjaan yang terdiri atas biaya upah, biaya bahan dan biaya
alat.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

18. Biaya tidak langsung


Komponen harga satuan pekerjaan yang terdiri atas biaya umum (overhead) dan
keuntungan, yang besarnya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

19. Daftar kuantitas dan harga atau bill of quantity (BOQ)


Daftar rincian pekerjaan yang disusun secara sistematis menurut kelompok/bagian
pekerjaan, disertai keterangan mengenai volume dan satuan setiap jenis pekerjaan,
mata uang, harga satuan, hasil kali volume dengan harga satuan setiap jenis pekerjaan
dan jumlah seluruh hasil pekerjaan sebagai total harga pekerjaan.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

20. Harga satuan dasar (HSD)

III-22
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Harga komponen dari mata pembayaran dalam satuan tertentu, misalnya: bahan (m,
m2, m3, kg, ton, zak, dsb.), peralatan (unit, jam, hari, dsb.), dan upah tenaga kerja
(jam, hari, bulan, dsb).
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

21. Harga satuan dasar alat


Besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen biaya alat yang meliputi biaya pasti
dan biaya tidak pasti atau biaya operasi per satuan waktu tertentu, untuk
memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

22. Harga satuan dasar bahan


Besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen bahan untuk memproduksi satu
satuan pengukuran pekerjaan tertentu.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

23. Harga satuan dasar tenaga kerja


Besarnya biaya yang dikeluarkan pada komponen tenaga kerja per satuan waktu
tertentu, untuk memproduksi satu satuan pengukuran pekerjaan tertentu.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

24. Harga satuan pekerjaan (HSP)


Biaya yang dihitung dalam suatu analisis harga satuan suatu pekerjaan, yang terdiri atas
biaya langsung (tenaga kerja, bahan, dan alat), dan biaya tidak langsung (biaya umum
atau overhead, dan keuntungan) sebagai mata pembayaran suatu jenis pekerjaan
tertentu, termasuk pajak-pajak.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

25. Indeks
Faktor pengali atau koefisien sebagai dasar penghitungan biaya bahan, biaya alat, dan
upah tenaga kerja.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

26. Indeks bahan


Indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan bahan bangunan untuk setiap satuan
volume pekerjaan.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

27. Indeks tenaga kerja


Indeks kuantum yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk mengerjakan setiap satuan
volume pekerjaan.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

III-23
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

28. Koefisien tenaga kerja atau kuantitas jam kerja


Faktor yang menunjukkan kebutuhan waktu untuk menyelesaikan satu satuan volume
pekerjaan, berdasarkan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

29. Mata pembayaran


Jenis pekerjaan yang secara tegas dinyatakan dalam dokumen lelang sebagai bagian
dari pekerjaan yang dilelang yang dapat dibayar oleh pemilik (owner).

30. Metode kerja


Cara kerja untuk menghasilkan suatu jenis pekerjaan/bagian pekerjaan tertentu sesuai
dengan spesifikasi teknik yang ditetapkan dalam dokumen lelang.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

31. Over head


Biaya yang diperhitungkan sebagai biaya operasional dan pengeluaran biaya kantor
pusat yang bukan dari biaya pengadaan untuk setiap mata pembayaran, biaya
manajemen, akuntansi, pelatihan dan auditing, perijinan, registrasi, biaya iklan, humas
dan promosi, dan lain sebagainya.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

32. Pedoman
Acuan yang bersifat umum yang harus dijabarkan lebih lanjut dan dapat disesuaikan
dengan karakteristik dan kemampuan daerah setempat.
(Sumber: Penjelasan PP No. 25 Tahun 2000 pasal 2 ayat (3))

33. Pengaman sungai


Upaya untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh banjir.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

34. Krib
Bangunan air yang dibuat melintang sungai mulai dari tebing sungai ke arah tengah
guna mengarahkan arus dan melindungi tebing dari penggerusan dan juga dapat
berfungsi sebagai pengendali alur.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

35. Tanggul
Salah satu bangunan pengendali sungai yang fungsi utamanya untuk membatasi
penyebaran aliran lahar, mengarahkan aliran lahar juga dapat dimanfaatkan untuk
keperluan lain.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

III-24
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

36. Pengendali muara sungai


Bangunan untuk mengendalikan muara meliputi penutupan, pemindahan dan
pendangkalan alur sungai.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

37. Jeti
Salah satu bangunan pengendali muara yang dibangun untuk stabilisasi muara sungai
dan perbaikan alur sungai.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

38. Pengerukan
Proses pengambilan tanah atau material dari lokasi di dasar air, biasanya perairan
dangkal seperti danau, sungai, muara ataupun laut dangkal, dan memindahkan atau
membuangnya ke lokasi lain.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

39. Satuan pekerjaan


Satuan jenis kegiatan konstruksi bangunan yang dinyatakan dalam satuan panjang,
luas, volume, dan unit.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

40. Waktu siklus


Waktu yang diperlukan suatu alat untuk beroperasi pada pekerjaan yang sama secara
berulang, yang akan berpengaruh terhadap kapasitas produksi dan koefisien alat.
(Sumber: Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum 2012)

3.7 POLA PIKIR


Pengembangan pola pikir ini adalah proses yang berlangsung sepanjang pelaksanaan
pekerjaan, dimana pada setiap kesempatan diskusi dilakukan perbaikan dan
penyempurnaan. Seluruh pola pikir yang dibuat mengacu pada ruang lingkup yang
terdapat dalam Kerangka Acuan Kerja.

Akhir dari pekerjaan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai ini adalah dokumen
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai Bolango berikut dokumen pendukungnya.

Inventarisasi data dilakukan paralel agar tujuan akhir dapat tercapai dengan baik. Mulai
dari pendataan peraturan/kebijakan, review studi terdahulu, sampai kunjungan lapangan.
Data-data tersebut dianalisis, apakah ada kesesuaian antara peraturan/kebijakan dengan
pelaksanaan di lapangan. Jika sudah sesuai, maka Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP
Sungai tersebut selanjutnya disusun berdasarkan hasil analisis data. Jika belum sesuai, maka
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai merujuk pada peraturan/kebijakan dengan
mempertimbangkan hasil kunjungan lapangan.

III-25
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Pembiayaan untuk OP yang tepat sasaran dan hasil baik seyogyanya melakukan langkah-
langkah kegiatan dengan urutan sebagai berikut :
1) Inventarisasi bangunan dan seluruh kelengkapannya
2) Penelitian terhadap harga satuan dan tenaga setempat
3) Perencanaan harga satuan pembiayaan sesuai dengan tipe kelengkapannya
4) Inventarisasi dan menyusun personalia yang ditugaskan untuk menangani dan
mengelola OP sesuai daerahnya

3.8 ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Struktur organisasi pelaksanaan pekerjaan Pengadaan Jasa Konsultan Audit Teknis dan
Penyusunan AKNOP Sungai dapat dilihat pada Gambar 3.2., dengan penjelasan sebagai
berikut :
1. Konsultan telah menugaskan seorang Direktur Pelaksanaan dalam pekerjaan ini, yang
diwakili oleh salah seorang Manager Teknik, yang akan senantiasa siap untuk
mengarahkan, mengawasi dan mengatur koordinasi back up support bagi team kerja
bilamana ditemukan kendala yang sulit dipecahkan oleh team. Sehingga dengan
demikian, perintah-perintah yang dikeluarkan oleh Direksi Pekerjaan selaku pihak
pemberi pekerjaan, berkenaan dengan lingkup pekerjaan sebagaimana yang tertuang
didalam kontrak dan telah disepakati bersama, lebih terjamin realisasinya oleh team
kerja konsultan.

2. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, konsultan melakukan koordinisasi sesuai


keperluannya dengan berbagai pihak terkait.

3. Konsultan telah menugaskan seorang Team Leader yang bertanggung jawab penuh
terhadap pelaksanaan pekerjaan, baik dibidang teknis maupun administrasi, sehingga
pekerjaan ini dapat dilaksanakan tepat mutu dan waktu sebagaimana yang disebutkan
didalam KAK. Team Leader akan mengkoordinir aktivitas seluruh anggota team kerja,
dan akan mengatur tata hubungan kerja antar mereka. Team leader juga akan
melaporkan progres pekerjaan, baik kepada pihak pemberi kerja maupun kepada
Direktur pelaksana, selain itu juga akan memimpin diskusi/presentasi yang akan
diadakan dan menghadiri rapat lain yang berkaitan dengan pekerjaan ini.

4. Tenaga Ahli dan Tenaga Teknisi. Tenaga Ahli terdiri dari berbagai tenaga ahli untuk
berbagai bidang, yang masing-masing sangat berpengalaman dalam menangani
pekerjaan sejenis sesuai dengan bidangnya. Sedangkan Tenaga Teknisi terdiri dari juru
ukur yang masing-masing akan membantu tenaga ahli dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan bidangnya.

5. Tenaga Pendukung. Untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pekerjaan, Konsultan


telah menugaskan Administrator, Operator Cad, pesuruh dan surveyor. Administrasi

III-26
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

akan membantu Team Leader dalam melaksanakan pekerjaan administrasi kantor dan
keuangan, operator cad akan membantu dalam penggambaran.

Direktur
PT. GEOMATIK CONSULTANT
(Ir. Anto Basri)

Team Leader / Ahli Sungai Balai Wilayah Sungai Sulawesi II


Achiroeddin Noerdin, ST Kegiatan Operasi dan Pemeliharaan
SDA I

Asisten Ahli Sungai


Hamdan, ST

Juru Ukur
Heri Darmawan ST

Keterangan :
: Garis Perintah
: Garis Koordinasi

Gambar 3.2. Bagan Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan

3.8.1 Personil dan Tanggung Jawabnya


Keahlian personil yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan Pengadaan Jasa
Konsultan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai ini harus sesuai dengan persyaratan
yang tertuang di dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK), dan dibutuhkan tim pelaksana yang
handal yang terdiri dari tenaga ahli dan tenaga pendukung yang cakap serta
berpengalaman di bidangnya.

Nama personil yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan pekerjaan ini dapat
diperiksa pada Tabel 3.1 berikut :

III-27
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Tabel 3.1 Daftar Personil Pelaksana Pekerjaan

NO NAMA PERSONIL JABATAN

TENAGA AHLI

1. Achiroeddin Noerdin, ST Ahli Sungai

TENAGA PENDUKUNG

1 Hamdan, ST Asisten Ahli Sungai

2 Heri Darmawan, ST Juru Ukur

Agar dapat lebih terkoordinasi dan dapat lebih dipahami serta dapat dilaksanakan dengan
penuh rasa tanggung jawab, maka perlu adanya penjabaran tugas dari masing-masing
tenaga (personil) yang menangani pekerjaan ini.

Sesuai dengan rincian tugas personil yang tertuang di dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK),
Konsultan akan menugaskan personil pelaksana pekerjaan lengkap dengan personil inti di
dalam struktur organisasi perusahaan, dengan rincian tugas sebagai berikut :

Direktur Perusahaan
Nama : Ir. Anto Basri
Tugas dan tanggung jawab Direktur Perusahaan PT. Geomatik Consultant, antara lain
adalah :
Bertanggung jawab dalam pelaksanaan pengelolaan dan pengendalian perusahaan.
Memimpin keseluruhan jalannya perusahaan.
Mengkoordinir dan mengendalikan kegiatan perencanaan dan pelaksanaan pemasaran
serta produksi.
Melaksanakan kerjasama operasi dengan mitra kerja atau perusahaan lain dalam
penanganan pekerjaan/proyek.
Mengelola dan mengendalikan seluruh sumber daya perusahaan.
Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pemasaran, produksi dan
sumber daya perusahaan untuk meningkatkan keuntungan maupun performance
perusahaan.
Melakukan koordinasi dengan direktur I dan staff dalam perusahaan.
Menjalin kerjasama yang baik dengan para stakeholder dan instansi pemerintah
maupun swasta.

III-28
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Tugas, Tanggung Jawab Dan Wewenang Tenaga Ahli


Tenaga Ahli merupakan unsur utama dalam melaksanakan Penyusunan Jasa Konsultan
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai, agar diperoleh hasil kerja yang baik dan
dapat selesai sesuai jadwal yang direncanakan, PT. Geomatik Consultant akan
menempatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang memiliki keahlian dan
pengalaman dalam menangani proyek-proyek irigasi dan sejenisnya sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK) dan memenuhi kriteria
sebagai berikut :

Tenaga profesional dan mempunyai kemampuan untuk bekerja keras sesuai dengan
apa yang tertera pada Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Mempunyai latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugasnya,
Mempunyai kemampuan yang baik terhadap bidang tugasnya,
Mempunyai latar belakang pengalaman kerja dibidangnya.
bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.
Bersedia untuk bekerja di lapangan dan mempunyai mental yang baik sesuai dengan
bidang masing-masing.

Team Konsultan akan dipimpin oleh seorang Pimpinan Team (Team Leader) yang telah
berpengalaman dalam memimpin pekerjaan perencanaan konservasi dan sejenisnya, dan
akan membawahi tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan
ini.

Untuk posisi Team Leader, PT. GEOMATIK CONSULTANT akan menempatkan seorang
yang telah berpengalaman luas dalam bidang perencanaan konservasi dan sejenisnya.
Kriteria dan tanggung jawab tenaga ahli dalam pekerjaan Pengadaan Jasa Konsultan
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai adalah sebagai berikut :

1) Ketua Tim (Ahli Sungai), 1 (satu) orang : Achiroeddin Noerdin, ST


Tugas dan tanggung jawab Ketua Tim (Ahli Sungai) :
Menyiapkan Program kerja.
Mengkoordinasi internal Tim untuk seluruh kegiatan.
Memberi petunjuk dan pengarahan ke seluruh anggota tim sesuai bidang tugasnya.
Melakukan mekanisme kerja eksternal dengan Pihak Direksi.
Menjalankan tugas keseluruhan secara menerus dan koordinatif.
Mengidentifikasi permasalahan OP.
Menyusun AKNOP Sungai sesuai dengan skala prioritas.

2) Tenaga Asisten Ahli Sungai, 1 (satu) orang : Hamdan, ST


Tugas dan tanggung jawab Asisten Ahli Sungai :
Melaksanakan tugas dan kewajibannya dalam keahlian Ilmu Sungai/ Bangunan

III-29
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Sungai.
Melakukan pengumpulan data dan analisis data.
Menguraikan tujuan kerja menjadi sasaran operasional yang mudah diukur
keberhasilannya.
Melaksanakan diskusi horizontal dengan anggota tim lainnya yang terkait dengan
bidangnya.
Menyusun AKNOP Sungai sesuai dengan skala prioritas.
Membantu menyusun laporan yang diperlukan oleh team leader.

3) Juru Ukur, 1 (satu) orang : Heri Darmawan, ST


Tugas dan tanggung jawab Juru Ukur :
Melakukan survey lapangan, mengetahui dengan jelas situasi dan kondisi lapangan,
memeriksa pengambilan data lapangan, hasil peta situasi, profil melintang,
memanjang terhadap akurasi data dan gambar yang disajikan.
Merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menyangkut survey
pengukuran.
Melaksanakan diskusi horisontal dengan anggota tim lainnya yang terkait dengan
bidangnya untuk menjamin agar hasil pekerjaan komprkehensif dan terpadu.
Membantu Team Leader dalam penyusunan laporan-laporan yang terkait dengan
bidang keahliannya dan berpartisipasi dalam diskusi yang diadakan.

3.8.2 Jadwal Penugasan Tenaga Ahli

Seperti diketahui, bahwa keberadaan dan ketepatan penempatan tenaga ahli sangat
menentukan suatu keberhasilan proyek, ini berarti penentuan kapan para Tenaga Ahli
mulai bekerja merupakan hal yang sangat penting, karena ketidak tepatan waktu bagi para
Tenaga Ahli dapat menimbulkan pemborosan dana dan beresiko terhadap penyelesaian
pekerjaan.

Dalam hal keperluan jumlah tenaga personil yang dibutuhkan, khususnya untuk Tenaga
Ahli, Proyek secara cermat dan jelas sudah memberikan kebutuhan yang diperlukan,
sedangkan jumlah bulan orang (man month) yang dibutuhkan tergantung dari hasil analisa
teknis yang dilakukan sendiri oleh Konsultan, dan hasilnya adalah seperti yang
digambarkan pada Jadual Penugasan Personil. Selengkapnya, Jadual Penugasan Personil
tersebut, disajikan pada Gambar 3.3, dengan total waktu pelaksanaan selama 3 (tiga) bulan
atau 90 (sembilan puluh) hari kalender, sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan di
dalam Kerangka Acuan Kerja.

III-30
LAPORAN PENDAHULUAN
Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

3.8.3 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan


Total waktu pelaksanaan pekerjaan telah ditetapkan selama 3 (tiga) bulan atau 90
(sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak tanggal diterbitkannya Surat Perintah Mulai
Kerja (SPMK), sehingga Konsultan dalam menghitung kebutuhan dan jadual pelaksanaan
pekerjaan mengacu kepada total waktu yang telah ditetapkan tersebut.

Jadual pelaksanaan pekerjaan disusun mengacu pada total waktu pelaksanaan pekerjaan
yang telah dialokasikan di dalam Kerangka Acuan Kerja, kapasitas kerja normal personil
dan bagan alir proses pelaksanaan pekerjaan serta ruang lingkup dan volume pekerjaan.

III-31
LAPORAN PENDAHULUAN
Pengadaan Jasa Konsultan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Gambar 3.3. Jadwal Penugasan Personil

WAKTU PELAKSANAAN
ORANG
NO NAMA PERSONIL JABATAN BULAN I BULAN II BULAN III
BULAN
I II III IV I II III IV I II III IV
TENAGA AHLI

1. Achiroeddin Noerdin, ST Ahli Sungai 3 Bulan

TENAGA PENDUKUNG

1 Hamdan, ST Asisten Ahli Sungai 2 Bulan


2 Heri Darmawan, ST Juru Ukur 2 Bulan

III-32
LAPORAN PENDAHULUAN
Pengadaan Jasa Konsultan Audit Teknis dan Penyusunan AKNOP Sungai

Gambar 3.4. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Audit Teknis dan Penyusunan Aknop Sungai
BULAN KE-
BOBOT
NO URAIAN PEKERJAAN I II III KETERANGAN
(%)
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

I. TAHAP PERSIAPAN

1. Mobilisasi Personil dan Alat 1.00 1.00

2. Study Literature 2.00 1.00 1.00

II. TAHAP PENGUMPULAN DATA DAN SURVEY

1 Pengumpulan Data Sekunder 3.00 1.00 1.00 1.00

2 Survey Infrastruktur Sungai dan Prasarana Sungai 6.00 1.50 1.50 1.50 1.50

3 Survey dan Pengukuran Topografi 14.00 3.00 3.00 4.00 4.00

III. TAHAP PENGOLAHAN DATA DAN PENYUSUNAN RENCANA

1 Pengolahan Data Lapangan 13.00 3.00 3.00 3.00 4.00

Analisis dan Desain Teknis Kerusakan Infrastruktur Sungai dan Prasarana


2 13.00 3.00 3.00 4.00 3.00
Sungai

3 Penyusunan Aknop Sungai 16.00 4.00 4.00 4.00 4.00

0.00

IV TAHAP DISKUSI

1 Diskusi Laporan Pendahuluan 8.00 8.00

2. Diskusi Draft Laporan Akhir 5.00 5.00

VI TAHAP PENYERAHAN LAPORAN

1. Laporan Rencana Mutu Kontrak (RMK) 3.00 3.00

2 Laporan Pendahuluan Aknop 4.00 4.00

3 Laporan Penunjang Aknop 4.00 4.00

4 Laporan Akhir Aknop 5.00 5.00

5 Gambar Desain A3 3.00 3.00

100.00

RENCANA 3.00 6.50 2.50 13.50 7.50 9.00 14.00 16.00 7.00 8.00 10.00 3.00

KUMULATIF RENCANA 0.00 3.00 9.50 12.00 25.50 33.00 42.00 56.00 72.00 79.00 87.00 97.00 100.00 GARIS RENCANA

REALISASI

KUMULATIF REALISASI 0.00 GARIS REALISASI

DEVIASI

III-33