Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOPOROSIS

A. DEFINISI
Osteoporosis adalah kelainan metabolic tulang dimana terdapat penurunan masa tulang tanpa
disertai pada matriks tulang. ( chairuddin Rasjad )

B. ETIOLOGI
Osteoporosis ( sekunder dan fraktur osteoporotic ) disebabkan oleh glukokortikoid yang
menganggu absorbs kalsium diusus dan peningkatan ekstraksi kalsium lewat ginjal sehingga
akan menyebabkan hipokalsemia, hiperparatiroidisme sekunder dan peningkatan kerja osteoklas.
Terhadap osteoblas glukokortikoid akan menghambat kerjanya, sehingga formasi tulang
menurun. Dengan adanya peningkatan resorbsi tulang oleh osteoklas dan penurunan formasi
tulang oleh osteoblas, maka akan terjadi osteoporosis yang progresif . ( Sudoyo Aru )
Faktor faktor resiko terjadinya osteoporosis adalah :
1. Umur, sering terjadi pada usia lanjut
2. Ras, kulit putih mempunyai resiko paling tinggi
3. Faktor keturunan, ditemukan riwayat keluarga dengan koropos tulang
4. Adanya kerangka tubuh yang lemahdan skoliosis vertebra. Terutama terjadi pada wanita umur
50 sampai 60 tahun dengan densitas tulang yang rendah dan diatas umur 70 tahun dengan BMI
yang rendah. (BMI= Mody Mass Index yaitu berat badan dibagi kuadrattinggi badan)
5. Aktifitas fisik yang kurang
6. Tidak pernah melahirkan
7. Menopause dini (menopause yang terjadi pada umur 46thn)
8. Gizi (kekurangan protein dan kalsium dalam masa kanak- kanak dan remaja )
9. Hormonal yaitu kadar istirogen plasma yang kurang
10. Obat misalnya kortikosteroid
11. Kerusakan tulang akibat kelelahan fisik
12. Jenis kelamin ; tiga kali lebih sering terjadi pada wanita

C. KLASIFIKASI OSTEOPOROSIS
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer terbagi atas dua tipe, yaitu :
- Tipe 1 : tipe yang timbul pada wanita pasca menopouse
- Tipe 2 : terjadi pada orang lanjut usia baik pada pria maupun wanita
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit - penyakit tulang erosif (misalnya myeloma
multiple, hipertiroidisme, hiperparatiroidisme ) dan akibat obat obatan yang toksik untuk
tulang ( misalnya glukokortikoid )
3. Osteoporosis idiopatik
Osteoporosis yang tidak diketahui penyebabnya dan ditemukan pada :
- Usia kanak-kanak ( juvenil)
- Usia remaja ( adolesen )
- Wanita pra menopouse
- Pria usia pertengahan

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Manifestasi umum : penurunan tinggi badan, lordosis, nyeri pada tulang, atau fraktur, biasanya
pada vertebra, pinggul atau lengan bagian bawah.
2. Nyeri tulang : terutama pada tulang belakang yang intensitas serangannya meningkat pada
malam hari.
3. Deformitas tulang : dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis
anguler yang dapat menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi paraparesis.
4. Nyeri fraktur akut dapat diatasi dalam 2 hingga 3 bulan. Nyeri fraktur kronis dimanifestasikan
sebagai rasa nyeri yang dalam dan dekat dengan tempat patahan.
5. ( Tanda McConkey ) didapatkan protuberansia abdomen, spasme otot paravertebra dan kulit
yang tipis.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto rontgen polos
2. CT-Scan : dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting
dalam diagnostik dan terapi follow up.
3. Pemeriksaan DEXA : digunakan untuk mengukur densitas tulang dan menghitung derajat
osteopenia ( kehilangan tulang ringan-sedang ) atau osteoporosis ( kehilanga tulang berat )
4. Pemeriksaan laboratorium
- Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata
- Kadar HPT ( pada pasca menoupouse kadar HPT meningkat ) dan Ct (terapi ekstrogen
merangsang pembentukan Ct )
- Kadar 1,25- (OH) 2-D3 absorbsi Ca menurun
- Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

F. PENATALAKSANAAN
The National Osteoporosis Guideline Group (NOGG) telah memperbaharui Guideline 2009 pada
hal penegakan diagnosis dan tata laksana osteoporosis wanita pos menoupouse dan pria usia
sekurang kurangnya 50 tahun di inggris. Sejak tahun 2009 telah terjadi banyak pembaharuan
dilapangan terutama dalam tata laksana osteoporosis yang diinduksi glukokortikoid, lalu peran
kalsium dan vitamin D serta keuntungan dan resiko terapi bisphosphonate, seperti yang
dikatakan oleh J Compston, MD dari the university of Cambridge School of Clinical Medicine,
united Kingdom, dan kolega dari the NOGG.
Beberapa hal yang disorot dalam guideline NOGG 2013 :
1. Terapi farmakologi yang dapat menurunkan resiko terjadinya fraktur vertebra ( dan beberapa
kasus fraktur tulang panggul ) seperti bisphosphonate, denosumab, rekombinan hormon
parathyroid, raloxifene, dan strontium ranelate. Pada NOGG 2009, terapi yang diakui untuk
kasus fraktur vertebra non vertebradan fraktur tulang panggul hanya alendronate, risedronate,
zoledronate dan terapi sulihhormon.
2. Alendronate generik direkomendasikan sebagai terapi dini pertama karena kerja spektrum
luasnya sebagai agen antifraktur dengan harga terjangkau.
3. Ibandronate, risedronate, zoledronic acid, denosumab, raloxifene atau strontium renelate
digunakan sebagai terapi pilihan jika alendronate dikontraindikasikan atau tidak dapat ditoleransi
dengan baik oleh pasien.
4. Karena harga yang mahal, maka rekombinan hormon parathyroid hanya diberikan pada pasien
dengan risiko sangat tinggi fraktur terutama pada vertebra.
5. Wanita postmenoupause dapat mendapatkan manfaat dari calcitriol, etidronate, risedronate,
zoledronate, atau teriparatide.
6. Terapi untuk pria dengan resiko tinggi terjadi fraktur harus dimulai dengan
alendronate,risedronate,zoledronate,atau teriparatide.
7. Bagi post menopause, terapi yang diakui untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis
akibat glukokortikoid yaitu alendronate,etidronate dan risedronate,sementara itu terapi pilihan
yang diakui baik untuk wanita dan juga pria adalah teriparatide dan zoledronate.
8. Suplemen calcium dan vitamin D secara luas direkomendasikan.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

1. Pengkajian
Promosi kesehatan, identifikasi individu dengan resiko mengalami osteoporosis, dan penemuan
masalah yang berhubungan dengan osteoporosis membentuk dasar bagi pengkajian keperawatan.
Wawancara meliputu pertanyaan mengenai terjadinya osteoporosis dalam keluarga, fraktur
sebelumnya, konsumsi kalsium diet harian, pola latihan, awitan menopause, dan penggunaan
kortikosteroid selain asupan alcohol, rokok dan kafein. Setiap gejala yang dialami pasien, seperti
nyeri pingggang, konstipasi atau gangguan citra diri, harus digali.
Pemeriksaan fisik kadang menemukan adanya patah tulang, kifosis vertebra torakalis atau
pemendekan tinggi badan. Masalah mobilitas dan pernafasan dapat terjadi akibat perubahan
postur dan kelemahan otot. Konstipasi dapat terjadi akibat inaktifitas

2.Diagnosa Yang Dapat Muncul


1. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
2. Nyeri b.d spasme otot, fraktur
3. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder
4. Resiko terhadap cidera : farktur b.d osteoporosis

3.. Intervensi
Memahami Osteoporosis dan Program Tindakan.
a. Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya oeteoporosis.
b. Anjurkan diet atau suplemen kalsium yang memadai.
c. Anjurkan Latihan aktivitas fisik yang mana merupakan kunci utama untuk menumbuhkan tulang
dengan kepadatan tinggi yang tahan terhadap terjadinya oestoeporosis.
d. Anjurkan pada lansia untuk tetap membutuhkan kalsium, vitamin D, sinar matahari dan latihan
yang memadai untuk meminimalkan efek oesteoporosis.
f. Berikan Pendidikan pasien mengenai efek samping penggunaan obat. Karena nyeri lambung dan
distensi abdomen merupakan efek samping yang sering terjadi pada suplemen kalsium, maka
pasien sebaiknya meminum suplemen kalsium bersama makanan untuk mengurangi terjadinya
efek samping tersebut. Selain itu, asupan cairan yang memadai dapat menurunkan risiko
pembentukan batu ginjal.
Meredakan Nyeri
a. Peredaaan nyeri punggung dapat dilakukan dengan istirahat di tempat tidur dengan posisi telentang
atau miring ke samping selama beberapa hari.
b. Kasur harus padat dan tidak lentur.
c. Fleksi lutut dapat meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot.
d. Kompres panas intermiten dan pijatan punggung memperbaiki relaksasi otot.
e. Pasien diminta untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan hindari gerakan memuntir.
f. Postur yang bagus dianjurkan dan mekanika tubuh harus diajarkan. Ketika pasien dibantu turun
dari tempat tidur,
h. Bila pasien sudah dapat menghabiskan lebih banyak waktunya di luar tempat tidur perlu
dianjurkan untuk sering istirahat baring untuk mengurangi rasa tak nyaman dan mengurangi stres
akibat postur abnormal pada otot yang melemah.
Intoleransi aktifitas fisik
a. Monitoring vital sign sebelum dan sesudah latihan dan liat respon pasien saat latihan
b. Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
c. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADLs secara mandiri sesuai kemampuan
d. Dampingi dan bantu pasien saat kebutuhan ADL
e. Berikan alat bantu jika klien memerlukan
f. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan berikan bantuan jika diperlukan

Mencegah Cedera.
a. Anjurkan melakukan Aktivitas fisik secara teratur hal ini sangat penting untuk memperkuat otot,
mencegah atrofi dan memperlambat demineralisasi tulang progresif.
b. Ajarkan Latihan isometrik, latihan ini dapat digunakan untuk memperkuat otot batang tubuh.
c. Anjurkan untuk Berjalan, mekanika tubuh yang baik, dan postur yang baik.
d. Hindari Membungkuk mendadak, melenggok dan mengangkat beban lama.
e. Lakukan aktivitas pembebanan berat badan Sebaiknya dilakukan di luar rumah di bawah sinar
matahari, karena sangat diperlukan untuk memperbaiki kemampuan tubuh menghasilkan vitamin
D.
.
DAFTAR PUSTAKA
1. http://repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/1848/1/BURNING.pdf%20a.pdf
2. Sain,Iwan.2011. Askep Pada Klien Dengan Gangguan Metabolisme Tulang : Osteoporosis.
3. Widya,Febri. 2010. Penelitian Hubungan Faktor-Faktor Resiko Osteoporosis Denga
Tingkat Resiko Osteoporosis Pada Lansia Di Pstw Sabai Nan Aluih Sicincin Padan
Pariaman Tahun 2010. Padang: Fakultas Keperawatan Universitas Andalas.
4. http://darnadarwis-dedee.blogspot.co.id/2016/03/asuhan-keperawatan-pada-lansia
dengan.html