Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan
obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Industri farmasi adalah industri yang meliputi industri obat jadi dan industri bahan
baku obat.

Industri farmasi ada dua bentuk, yaitu primary industry dan secondary industry.
Primary industry terfokus pada penemuan bahan-bahan obat baru (new drug substances),
sedangkan secondary industry terfokus pada usaha pengelolaan bahan baku menjadi
produk jadi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian?
2. Apa yang dimaksud dengan industri farmasi?
3. Apa saja peranan seorang farmasi dalam industri?

C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui lebih dalam tentang pekerjaan kefarmasian
2. Mengetahui lebih dalam tentang industri farmasi
3. Mengatahui apa saja peranan seorang farmasi dalam industri

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Industri Farmasi
Industri farmasi adalah industri yang meliputi industri obat jadi dan industri bahan
baku obat.
Industri obat jadi adalah industri yang menghasilkan suatu produk yang telah
melalui seluruh tahap proses pembuatan, sedangkan industri bahan baku obat adalah
industri yang menghasilkan bahan baku yang diperlukan pada proses pembuatan suatu
obat jadi. Proses pembuatan merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang menghasilkan
suatu obat yang meliputi produksi dan pengawasan mutu mulai dari pengadaan bahan
awal, proses pengolahan, pengemasan, sampai obat jadi untuk distribusi.
Industri farmasi ada dua bentuk, yaitu primary industry dan secondary industry.
Primary industry terfokus pada penemuan bahan-bahan obat baru (new drug substances),
sedangkan secondary industry terfokus pada usaha pengelolaan bahan baku menjadi
produk jadi.
Saat ini, sebagian besar industri farmasi di Indonesia adalah secondary industry.
Hal ini berkaitan dengan nilai investasi yang sangat tinggi, baik dalam bentuk biaya,
fasilitas maupun waktu yang panjang. Meskipun demikian, kedua industri tersebut
bertanggung jawab atas kualitas, keamanan dan khasiat obat yang diproduksinya. Hal ini
terkait dengan hukum dan peraturan yang mengatur industri farmasi untuk melindungi
konsumen melalui upaya pengadaan obat dengan kualitas, keamanan dan khasiat yang
sesuai dengan ketentuan standar yang berlaku.

B. Persyaratan Industri Farmasi


Semua industri farmasi wajib memiliki izin untuk usaha, izin tersebut diperoleh
dari Menteri Kesehatan melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Berdasarkan SK Menkes RI No.1191/Menkes/SK/IX/2002. Persyaratan yang harus
dipenuhi industri farmasi untuk medapatkan izin usaha, yaitu:

2
1. Dilakukan oleh perusahaan umum, badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT)
atau koperasi.
2. Memiliki Rencana Investasi.
3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
4. Industri Farmasi Obat Jadi dan Bahan Baku Obat wajib memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
5. Industri Farmasi Obat Jadi dan Bahan Baku Obat wajib mempekerjakan secara tetap
sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Apoteker Warga Negara Indonesia masing-masing
sebagai penanggung jawab produksi dan penanggung jawab pengawasan mutu sesuai
dengan persyaratan CPOB.
6. Obat Jadi yang diproduksi oleh Perusahaan Industri Farmasi hanya dapat diedarkan
setelah memperoleh persetujuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
Setelah memperoleh izin usaha, terdapat beberapa kewajiban lain yang harus dilakukan
oleh perusahaan yang telah memperoleh Izin Usaha Industri Farmasi, yaitu:
1. Membuat laporan jumlah dan nilai produksinya sekali dalam 6 (enam) bulan.
Sedangkan untuk laporan lengkap wajib disampaikan sekali dalam setahun.
2. Menyalurkan produksinya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
3. Melaksanakan upaya keseimbangan dan kelestarian serta mencegah pencemaran
lingkungan.
4. Melaksanakan keamanan dan keselamatan alat, bahan baku, proses, hasil produksi,
pengangkutan dan keselamatan kerja.
5. Melakukan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) berupa Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL).

C. Pencabutan Izin Usaha Industri Farmasi


Hal-hal yang dapat membuat izin usaha industri farmasi dicabut adalah:
1. Melakukan pemindahtanganan hak m ilik izin usaha industri farmasi, dan perluasan
bangunan (pabrik) tanpa memiliki izin.

3
2. Tidak menyampaikan informasi industri kepada BPOM secara berturut-turut tiga kali
atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar.
3. Melakukan pemindahan lokasi usaha produksi tanpa persetujuan tertulis terlebih
dahulu dari Menteri Kesehatan RI.
4. Dengan sengaja memproduksi obat atau bahan baku obat yang tidak memenuhi
persyaratan dan ketentuan yang berlaku (obat palsu).
5. Tidak memenuhi ketentuan dalam izin usaha industri farmasi.

D. Peran, Fungsi dan Tugas Apoteker di Industri Farmasi


Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan
farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan
obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta
pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Peran apoteker di industri farmasi seperti yang disarankan oleh World Health
Organization (WHO), yaitu Eight Star of Pharmacist yang meliputi :
1. Care Giver, apoteker sebagai pemberi pelayanan dalam bentuk informasi obat, efek
samping obat dan lain-lain kepada profesi kesehatan. Perlu ada interaksi dengan
individu/kelompok di dalam industri (regulatory, QA/QC, produksi dll) dan
individu/kelompok di luar industri.
2. Decision maker, apoteker sebagai pengambil keputusan yang tepat untuk
mengefisienkan dan mengefektifkan sumber daya yang ada di industri.
3. Communicator, apoteker harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan
baik secara lisan maupun tulisan.
4. Leader, apoteker sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan dalam
mengatasi berbagai permasalahan di industri dan memberikan bimbingan ke
bawahannya dalam mencapai sasaran industri.
5. Manager, apoteker sebagai pengelola seluruh sumber daya yang ada di industri
farmasi dan mampu mengakumulasikannya untuk meningkatkan kinerja industri dari
waktu ke waktu.
6. Long-life learner, apoteker belajar terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan
dan kemampuan.

4
7. Teacher, bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai
hal-hal yang berkaitan dengan dunia industri kepada sejawat apoteker atau lainnya.
8. Researcher, apoteker sebagai peneliti yang harus selalu melakukan riset dan
mengetahui perkembangan obat baru yang lebih baik dan bermanfaat untuk kesehatan
masyarakat.
Peran tersebut diterapkan di dalam fungsi-fungsi industrial yang diperlukan, yaitu
manajemen produksi, pemastian/manajemen mutu (Quality Assurance), registrasi produk,
pemasaran produk (Product Manager), dan pengembangan produk (Research and
Development).

E. Apoteker sebagai Penanggung Jawab Produksi


Penanggungjawab produksi (kepala bagian produksi/ manajer produksi)
hendaklah seorang apoteker yang terdaftar dan terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang
sesuai, memiliki pengalaman praktis paling sedikit 5 tahun bekerja di bagian produksi
pabrik farmasi, memiliki pengalaman dan pengetahuan di bagian pembuatan obat dan
perencanaan produksi, pengetahuan mengenai peralatan yang digunakan dalam
pembuatan obat, CPOB, penguasaan bahasa asing yang baik, serta keterampilan dalam
kepemimpinan yanag dibuktikan dengan sertifikasi lembaga yang ditunjuk.
Manajer produksi bertanggungjawab atas terselenggaranya pembuatan obat agar
obat tersebut memenuhi persyaratan kualitas yang ditetapkan dan dibuat dengan
memperhatikan pelaksanaan CPOB, dalam batas waktu dan biaya produksi yang
ditetapkan.
Secara rinci, ruang lingkup tugas dan tanggung jawab seorang penanggungjawab
produksi adalah sebagai berikut:
1. Bertanggungjawab dalam memastikan bahwa obat diproduksi dan disimpan sesuai
prosedur sehingga memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan.
2. Bertanggung jawab atas terlaksananya pembuatan obat dari perolehan bahan,
pengolahan, pengemasan, sampai pengiriman obat ke gudang jadi.
3. Memberikan pengarahan teknis dan administratif untuk semua pelaksanaan operasi di
gudang, penimbangan, pengolahan, dan pengemasan.

5
4. Bersama-sama dengan manajer perencanaan dan pengadaan bahan menyusun rencana
produksi.
5. Bertanggung jawab memeriksa catatan pengolahan bets dan catatan pengemasan bets
serta menjamin bahwa produksi dilaksanakan sesuai dengan prosedur pengolahan
bets dan prosedur pengemasan bets.
6. Berdiskusi dengan manajer pengawasan mutu jika ada kegagalan
7. Bertanggung jawab atas peralatan yang digunakan dalam proses produksi, peralatan
yang digunakan harus selalu dikualifikasi dan divalidasi dengan benar.
8. Ikut membantu pelaksanaan inspeksi CPOB dan menjaga pelaksanaan serta
pematuhan terhadap peraturan CPOB.
9. Bertanggung jawab atas kebersihan di daerah produksi.
10. Bertanggung jawab untuk menjaga moral kerja yang tinggi, kemampuan
pengembangan, dan pelatihan serta melakukan evaluasi tahunan atas semua karyawan
yang dibawahinya.
11. Membuat laporan bulanan.
12. Membuat anggaran tahunan untuk bagian produksi.
13. Mengusahakan perbaikan biaya produksi.
14. Menjaga hubungan kerja yang baik dengan Penanggungjawab Pengawasan Mutu,
Teknik dan Perencanaan dan Pengadaan Bahan serta Pemasaran.
15. Berhubungan dengan pemerintah, dalam hal ini Pengawas Obat dan Makanan
berkaitan dengan kualitas obat.
Kepala Bagian Produksi hendaknya selalu menjaga hubungan kerja yang baik
dengan Manajer Pengawasan Mutu, Manajer Pemastian Mutu, Manajer Teknik, Manajer
Perencanaan dan Pengadaan Bahan serta Manajer Pemasaran. Berhubungan baik dengan
pemerintah, dalam hal ini Pengawas Obat dan Makanan sehubungan dengan kualitas
obat.

F. Apoteker sebagai Penanggung Jawab Pengawasan Mutu (Quality Control)


Pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB untuk memberikan
kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan
pemakaiannya. Pengawasan mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analitik yang

6
dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian
bahan awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi. Kegiatan ini juga mencakup
uji stabilitas, program pemantauan lingkungan, pengujian yang dilakukan dalam rangka
validasi, penanganan sampel pertinggal, menyusun dan memperbaharui spesifikasi bahan,
produk serta metode pengujiaannya.
Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat bertanggung jawab untuk
memastikan bahwa :
1. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi yang ditetapkan untuk
identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanannya;
2. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan sesuai prosedur yang ditetapkan dan telah
divalidasi sebelumnya antara lain melalui evaluasi, dokumentasi, produksi terlebih
dahulu;
3. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu
batch obat telah dilaksanakan dan batch tersebut memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan sebelum didistribusikan;
4. Suatu batch obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang
ditetapkan.
Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan mutu
hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukan sebelum bahan
digunakan dalam produksi dan produk disetujui sebelum didistribusikan. Personil
pengawasan mutu hendaklah memiliki akses ke area produksi untuk melakukan
pengambilan sampel dan penyelidikan bila diperlukan Seorang penanggung jawab
pengawasan mutu (Kepala Bagian Pengawasan Mutu / Manajer Pengawasan Mutu)
adalah seorang apoteker yang terkualifikasi, memperoleh pelatihan yang sesuai, memiliki
pengalaman praktis yang memadai dalam bidang pembuatan obat dan keterampilan
manajerial sehingga memungkinkan untuk melaksanakan tugas secara profesional.
Penanggung jawab pengawasan mutu harus seorang apoteker dengan pengalaman
praktis minimal 2 tahun bekerja di bagian pengawasan mutu pabrik farmasi, memiliki
pengalaman dan pengetahuan di bidang analisis kimia dan mikrobiologi, pemeriksaan
bahan pengemas, CPOB dan keterampilan dalam kepemimpinan seorang penanggung

7
jawab pengawasan mutu memiliki kewenangan dan tanggung jawab penuh dalam
pengawasan mutu, termasuk:
1. Menyetujui atau menolak bahan awal, bahan pengemas, produk.
2. Ikut serta dalam atau memprakarsai pembentukan acuan mutu perusahaan.
3. Memprakarsai dan mengawasi audit internal atau inspeksi diri berkala.
4. Melakukan pengawasan terhadap fungsi bagian pengawasan mutu.
5. Memprakarsai dan mengawasi audit eksternal (audit terhadap pemasok).
6. Memprakarsai dan berpartisipasi dalam program validasi.
7. Memastikan pemenuhan persyaratan teknik atau peraturan Otoritas Pengawasan Obat
(OPO) yang berkaitan dengan mutu produk jadi.
8. Mengevaluasi/mengkaji catatan bets.
9. Meluluskan atau menolak produk jadi untuk penjualan dengan mempertimbangkan
semua faktor terkait.
10. Memantau kinerja sistem mutu dan prosedur serta menilai efektifitasnya. Penekanan
difokuskan pada pencegahan kerugian/cacat dan realisasi peluang perbaikan yang
berkesinambungan.
11. Menyiapkan prosedur dalam penerapan CPOB dalam pembuatan obat, pengemasan,
penyimpanan dan pengawasan mutu.
12. Memastikan pemenuhan peraturan pemerintah dan standar perusahaan.
13. Melaksanakan inspeksi diri dan menyelenggarakan pelatihan CPOB.
14. Menyusun prosedur tetap (Protap) dan mengelola sistem protap.
15. Melakukan penilaian terhadap keluhan teknik farmasi dan mengambil keputusan serta
tindakan atas hasil penilaian, bila perlu bekerja sama dengan bagian lain.
16. Memastikan penyelanggaraan validasi proses pembuatan dan sistem pelayanan.
17. Memantau penyimpangan bets.
18. Mengawasi sistem pengendalian perubahan dan menyetujui perubahan.
19. Menyetujui prosedur pengolahan induk dan prosedur pengemasan induk.
20. Menyetujui atau menolak pasokan bahan baku.
21. Bertanggung jawab dalam pelulusan atau penolakan obat jadi sesuai Protap terkait.

8
G. Apoteker dalam Proses Registrasi Obat dan Desain Kemasan
Unit ini dikepalai oleh seorang apoteker yang membawahi Packaging Specialist
and Documentation and Registration Officer. Unit ini bertanggung jawab terhadap
pengembangan kemasan (baik untuk produk baru dan produk lama) serta menyiapkan
dokumen-dokumen untuk registrasi. Selain itu juga bertugas membuat spesifikasi dan
prosedur pemeriksaan bahan kemas, dan membuat Master batch bekerja sama dengan
kepala unit formulasi. Sebuah obat harus memiliki Nomor Izin Edar (NIE) sebelum dapat
dipasarkan. Untuk memperoleh NIE sebuah industri farmasi harus mendaftarkan
produknya ke BPOM dan melalui prosedur registrasi yang berlaku. Dalam hal inilah
seorang apoteker sebagai seseorang yang kompeten di bidang obat berperan penting.
Selain itu, apoteker sebagai seseorang yang mengetahui peraturan mengenai
kemasan dan label harus mampu dalam mengatur desain kemasan yang benar. Uraian
tugas dan tanggung jawab bagian registrasi dan desain kemasan:
1. Bertanggung jawab dalam melakukan semua kegiatan yang berhubungan dengan
kegiatan pendaftaran semua produk / obat. Baik pendaftaran produk baru, atau
pendaftaran ulang suatu produk.
2. Bertanggung jawab dalam melengkapi dokumen registrasi dengan data valid dan data
yang sebenarnya.
3. Bertanggung jawab dalam melakukan desain kemasan yang sesuai dengan peraturan
yang berlaku.

H. Apoteker sebagai Tenaga Pemasaran


Dalam pelaksanaan peran apoteker sebagai tenaga pemasaran / ritel perlu
diakukan studi kelayakan terlebih dahulu. Studi kelayakan merupakan suatu kajian
sebagai bagian dari perencanaan yang dilakukan menyeluruh mengenai suatu usaha
dalam proses pengambilan keputusan investasi yang mengawali resiko yang belum jelas.
Melalui studi kelayakan berbagai hal yang diperkirakan dapat menyebabkan
kegagalan, dapat diantisipasi lebih awal. Ritel adalah keseluruhan aktivitas bisnis yang
terkait dengan penjualan dan pemberian layanan kepada konsumen untuk penggunaan
yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun keluarga. Agar sukses di dunia ritel maka

9
ritel harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga yang tepat, di tempat yang
tepat, dan waktu yang tepat.
Fungsi Ritel adalah sebagai berikut :
1. Menyediakan berbagai jenis produk dan jasa Konsumen selalu mempunyai pilihan
sendiri terhadap bebagai jenis produk dan jasa. Untuk itu, dalam fungsinya sebagai
peritel, mereka menyediakan beraneka ragan produk dan jasa yang dibutuhkan
konsumen.
2. Memecah Memecah beberapa ukuran produk menjadi lebih kecil, yang akhirnya
menguntungkan produsen dan konsumen. Jika produsen memproduksi barang dan
jasa dalam ukuran besar, maka harga barang dan jasa tersebut menjadi tinggi.
Sementara konsumen juga membutuhkan barang dan jasa tersebut dalam ukuran yang
lebih kecil dan harga yang lebih rendah. Kemudian peritel menawarkan produk-
produk tersebut dalam jumlah kecil yang disesuaikan dengan pola konsumsi para
konsumen secara individual.
3. Penyimpanan Persediaan Peritel juga dapat berposisi sebagai perusahaan yang
menyimpan persediaan dengan ukuran yang lebih kecil. Dalam hal ini, pelanggan
akan diuntungkan karena terdapat jaminan ketersediaan barang dan jasa yang
disimpan peritel.
4. Penyedia Jasa Dengan adanya ritel, maka konsumen akan mendapatkan kemudahan
dalam mengonsumsi produk-produk yang dihasilkan produsen. Selain itu, ritel juga
dapat mengantar hingga dekat ke tempat konsumen, menyediakan jasa yang
memudahkan konsumen dalam membeli dan menggunakan produk dengan segera dan
membayar belakangan.
5. Meningkatkan Nilai Produk dan Jasa Dengan adanya beberapa jenis produk dan jasa,
maka untuk suatu aktivitas pelanggan mungkin memerlukan beberapa barang.
Dengan menjalankan fungsi fungsi tersebut, peritel dapat berinteraksi dengan
konsumen akhir dengan memberikan nilai tambah bagi produk atau barang. Kemajuan
industri farmasi sangat ditentukan oleh strategi dan tenaga pemasaran yang dimiliki
perusahaan. Apoteker sebagai seorang yang kompeten di bidang obat dapat berperan
sebagai Product Manager.

10
Apoteker sangat potensial dalam memperkenalkan produk industri pada
masyarakat (obat bebas/OTC) atau pada para dokter (obat ethical) karena ilmu
kefarmasian dan managemen yang dikuasainya.

I. Apoteker dalam Riset dan Pengembangan Produk


Seorang penanggung jawab riset dan pengembangan produk harus seorang
apoteker yang memiliki pengetahuan memadai mengenai zat aktif dan berbagai zat
pembantu yang akan digunakan dalam pengembangan formula.
Uraian tugas dan tanggung jawab penanggung jawab riset dan pengembangan
produk adalah:
1. Bertanggung jawab dalam pengembangan produk baru sesuai dengan permintaan
marketing.
2. Bertanggung jawab untuk melakukan efisiensi biaya produksi dengan membuat
formulasi bahan yang memerlukan biaya rendah tetapi tetap menjaga kualitas.
3. Bertanggung jawab untuk memperbaiki formula obat jika ditemukan permasalahan
dalam produksi.
4. Bertanggung jawab untuk pengembangan sarana penunjang yang dibutuhkan untuk
kelancaran produksi (seperti sistem tata udara, sistem pengolahan air, sistem
pengolahan limbah, dan lain-lain).

11
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional.
Industri farmasi adalah industri yang meliputi industri obat jadi dan industri bahan baku
obat.
Industri farmasi ada dua bentuk, yaitu primary industry dan secondary industry.
Primary industry terfokus pada penemuan bahan-bahan obat baru (new drug substances),
sedangkan secondary industry terfokus pada usaha pengelolaan bahan baku menjadi produk jadi.
Peran apoteker di industri farmasi seperti yang disarankan oleh World Health
Organization (WHO), yaitu Eight Star of Pharmacist yang meliputi :
1. Care Giver, apoteker sebagai pemberi pelayanan dalam bentuk informasi obat, efek samping
obat dan lain-lain kepada profesi kesehatan. Perlu ada interaksi dengan individu/kelompok di
dalam industri (regulatory, QA/QC, produksi dll) dan individu/kelompok di luar industri.
2. Decision maker, apoteker sebagai pengambil keputusan yang tepat untuk mengefisienkan dan
mengefektifkan sumber daya yang ada di industri.
3. Communicator, apoteker harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik
secara lisan maupun tulisan.
4. Leader, apoteker sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan dalam mengatasi
berbagai permasalahan di industri dan memberikan bimbingan ke bawahannya dalam
mencapai sasaran industri.
5. Manager, apoteker sebagai pengelola seluruh sumber daya yang ada di industri farmasi dan
mampu mengakumulasikannya untuk meningkatkan kinerja industri dari waktu ke waktu.
6. Long-life learner, apoteker belajar terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan.

12
7. Teacher, bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan dan pelatihan mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan dunia industri kepada sejawat apoteker atau lainnya.
8. Researcher, apoteker sebagai peneliti yang harus selalu melakukan riset dan mengetahui
perkembangan obat baru yang lebih baik dan bermanfaat untuk kesehatan masyarakat.
Peran tersebut diterapkan di dalam fungsi-fungsi industrial yang diperlukan, yaitu
manajemen produksi, pemastian/manajemen mutu (Quality Assurance), registrasi produk,
pemasaran produk (Product Manager), dan pengembangan produk (Research and Development).

13
DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com

14