Anda di halaman 1dari 10

1.

Perekonomian Indonesia dalam wawasan Global


Perekonomian dunia tampaknya makin menjadi bebas. Hambatan tarif dan nontarif
terus melalui negosiasi dagang antar negara. Asosiasi perdagangan bebas makin meluas.
Perekonomian Indonesia dikepung oleh area perdagangan bebas seperti, SAARC,
ANZCERTA, Uni Eropa, NAFTA, dan malah telah tergabung dalam perdagangan bebas
seperti AFTA dan APEC. Mungkin dapat dikatakan bahwa semua partner dagang Indonesia
telah masuk pada salah satu kesepakatan daerah perdagangan bebas. Dalam hal yang
demikian ini rupanya sudah tertutup jalan bagi Indonesia untuk tidak melakukan hubungan
dagang ke 1uar negeri, dan begitu kita melihat hubungan dagang dengan luar negeri
Indonesia harus bersedia mengadakan perdagangan bebas atau setidaknya perdagangan yang
lebih bebas dengan negara partner dagangnya. Tampaknya pernyataan Presiden Suharto
pada penutupan pertemuan APEC di Bogor pada tahun 1994 harus diterima dengan Iapang
dada. Pernyataannya adalah ".... suka tidak suka, siap tidak siap, .............. kita harus
menerima globalisasi perdagangan bebas.../. Beberapa kali pertemuan APEC selanjutnya
menekankan supaya komitmen Bogor direalisir, yakni membuka pergagangan bebas tahun
2010 bagi negara maju dan tahun 2020 bagi negara berkembang. Oleh karena itu masalah
yang dihadapi perekonomian Indonesia yang makin bebas di masa depan adalah bagaimana
cara meraih keuntungan-keuntungan dari globalisasi.

2. Perekonomian Indonesia dimasa Mendatang Berdasarkan Pola Stuktur Yang Terjadi


Arah perekonomian yang mulai membaik pada triwulan IV menjadi modal penting
bagi perekonomian ke depan. Ekonomi indonesia saat ini optimis pertumbuhan ekonomi
yang meningkat dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat
dapat melihat perkembangan dan kemajuan negara Indonesia pada negara lain. Pendapatan
nasional per tahun Indonesia mampu memberikan kemajuan ekonomi makro yang sangat
berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Salah satu pertumbuhan ekonomi itu
dapat dilihat dengan permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja
perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi, situasi ekonomi Indonesia masa
kini dan masa mendatang, yang telah melonjak maju ke level tertinggi dalam beberapa tahun
ini. Sementara pertumbuhan diperkirakan dulunya menjadi 6,1% pada tahun, pemerintah
menganggap itu telah tumbuh menjadi 7,2%. (Bank Dunia memperkirakan sebelumnya
hanya 6,4% pertumbuhan PDB) , jadi masa depan perekonomian Indonesia sangat cerah,
Selain itu, negara Indonesia memiliki lembaga yang lebih baik dalam hal memantau
pertumbuhan ekonomi, sehingga dapat mengatasi distorsi kurang dan ketergantungan lebih
besar pada pasar. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang signifikan diberbagai sektor,
Indonesia saat ini ditengah terjadinya ledakan konsumen seperti yang belum pernah terjadi
sebelumnya. Sebut saja beberapa diantaranya ; Motor Matic (Skuter), Mobil, Smartphone,
dan produk perawatan kulit dan kesehatan dan semua permintaan kelas menengah tumbuh
dengan signifikan, dan Orang Indonesia kaya baru menghabiskan uangnya untuk konsumtif.
Nama merek besar selalu terlihat di televisi, papan reklame di jalan-jalan bertebaran. Ketika
datang ke komoditas, pertumbuhan China dan India telah memberikan perangsang kepada
ekonomi Indonesia. Lainnya kebutuhan batubara dan gas sangat tinggi saat ini, sementara
seluruh dunia lapar untuk minyak sawit dari seluruh kebun yang ada di Indonesia. Dalam
jangka menengah, perekonomian Indonesia diprakirakan dapat tumbuh lebih tinggi dengan
laju inflasi yang lebih rendah dan postur transaksi berjalan yang lebih sehat. Namun,
prognosa ini sangat bergantung pada kemampuan untuk mengatasi berbagai tantangan
struktural yang saat ini masih menyelimuti perekonomian domestik. Beberapa tantangan
tersebut berkaitan dengan permasalahan pada struktur pembiayaan, struktur produksi
domestik, termasuk ketahanan energi dan ketahanan pangan serta dampaknya terhadap
pengelolaan subsidi di APBN, dan ketersediaan modal dasar pembangunan. Berbagai
langkah reformasi struktural telah ditempuh oleh Pemerintah dan Bank Indonesia untuk
mengatasi berbagai tantangan struktural tersebut. Bank Indonesia memperkirakan apabila
reformasi struktural dapat berjalan baik, pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,5% pada
2018 dengan tingkat inflasi yang menurun sesuai target jangka menengah dan defisit
transaksi berjalan yang lebih sehat. Prospek perekonomian dalam jangka panjang bahkan
dapat lebih tinggi bila berbagai upaya peningkatan kapabilitas industri dapat berjalan sesuai
harapan. Lebih jauh, perekonomi Indonesia dapat lebih meningkat apabila prakondisi
kebijakan untuk mendukung kenaikan produktivitas dan daya saing di perekonomian
domestik juga terpenuhi. Namun, apabila pelaksanaan kebijakan reformasi struktural tidak
berjalan sebagaimana yang direncanakan, pertumbuhan ekonomi dapat lebih rendah dari
perkiraan, dan diikuti inflasi yang lebih tinggi dan perbaikan defisit transaksi berjalan yang
lebih terbatas.
Faktor Yang Mempengaruh Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia
Faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlepas dari
permasalahan kesenjangan dalam pengelolaan perekonomian, dimana para pemilik modal
besar selalu mendapatkan kesempatan yang lebih luas dibandingkan dengan para pengusaha
kecil dan menengah yang serba kekurangan modal. Disamping itu, akses untuk mendapatkan
bantuan modal keperbankan juga lebih memihak kepada para pengusaha besar dibandingkan
dengan pengusaha ekonomi lemah. Disamping itu pertumbuhan ekonomi perdagangan
internasional juga memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Ketidakpastian perekonomian dan perdagangan dunia yang semakin meningkat,
semakin menyebabkan kemungkinan kemungkinan pertumbuhan ekonomi yang kurang
membanggakan bagi bangsa Indonesia. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi Indonesia, secara umum:
1. Faktor Sumber Daya Manusia, Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan
ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting
dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada
sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi
yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
2. Faktor Sumber Daya Alam, Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber
daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya
alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak
didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam
yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan
mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
3. Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian pola
kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin canggih
berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian aktivitas
pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada percepatan laju
pertumbuhan perekonomian.
4. Faktor Budaya, Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan
ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong
proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya yang
dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet
dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses pembangunan
diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
5. Sumber Daya Modal, Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal sangat
penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena barang-barang
modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
Solusi untuk mengatasinya :
1. Meningkatkan kesadaran dari masing-masing orang sangat dibutuhkan untuk
menyelesaikan masalah ini. Pemerintah harus mendukung dengan diadakannya beasiswa
bagi anak-anak yang lebih beruntung agar dapat menciptakan SDM yang berkualitas.
2. Tingkat kesadaran orang tua sangat diperlukan untuk mengatasi masalah ini. Dimana
mereka harus sadar agar anaknya nanti hidup layak sehat, pemerintah memberikan
pengobatan gratis untuk masyarakat kurang mampu.
3. Pemerintah seharusnya memperhatikan kehidupan masyarakat diperdesaan agar dapat
lebih maju.
4. Cara mengatasinya melalui peningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi
menjadi lebih produktif.
5. Pemerintah menghadapi krisis nilai tukar ini dengan melakukan intervensi di pasar untuk
menyelamatkan cadangan devisa yang semakin menyusut. Pemerintah menerapkan
kebijakan nilai tukar yang mengambang bebas sebagai pengganti kebijakan nilai tukar
yang mengambang terkendali.
6. Masalah likuiditas daripada bank tersebut pemerintah membantu dengan memberikan
bantuan.
7. Pemerintah harus memperbaiki kualitas barang dalam negeri agar tidak kalah bersaing
dengan barang impor.

3. Perekonomian Indonesia di masa yang akan Datang


Sistem Negara dan Pemerintahan. Pada masa pemerintah Sukarno Indonesia merupakan
negara kesatuan, kemudian berubah menjadi negara federasi, setelah itu kembali lagi ke
negara kesatuan sampai sekarang setelah melewati pemerintahan Suharto, Habibie,
Abdulrahman Wahid, Megawati Sukarno Putri, dan terakhir Susilo Bambang Yudoyono.
Namun pada masa reformasi dari tahun 1998 muncul kembali wacana untuk rnengubah
sistem negara kesatuan menjadi negara federal.
Pada masa pemerintahan Sukarno Indonesia memakai sistem pemerintahan demokratis
dengan multipartai. Pada saat itu muncul pendapat bahwa demokrasi Barat tidak cocok
untuk bangsa Indonesia sehingga terjadi perubahan menjadi demokrasi terpimpin, atau
dernokrasi Pancasila; dan dari demokrasi parlementer ke demokrasi presidensial. Pada masa
itu selalu terjadi pertikaian di dalam negeri, DI-TII, di jawa Barat, Sulawesi Selatan,
Permesta di Sumatera Barat dan peperangan melawan Belanda, Inggris, Malaysia dan
terakhir perebutan Irian Iaya. Pada masa pemerintahan Suharto partai disederhanakan
menjadi tiga dan sistem pernerintahan adalah diktator militer. Sistem pemerintahan dengan
tiga partai dan diktator militer ini runtuh pada waktu krisis moneter yang dibarengi dengan
jatuhnya Suharto dan muncul gerakan reformasi di bidang politik dan ekonomi. Indonesia
kembali ke sistem banyak partai, malah jumlah partai jauh lebih banyak dibandingkan pada
masa pemerintahan Sukarno. Kembali menggunakan sistem demokrasi dan dilaksanakan
pemilihan umum langsung. Pengalaman pahit pada masa Sukarno dengan sistem demokrasi
yang mengakibatkan pergantian Menteri berkali-kali tampaknya ada gejala untuk muncul
kembali pada pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono dengan munculnya isu pada awal
2010 akan ada pergantian kabinet, padahal pemerintahan baru berjalan 100 hari. Hal yang
mirip dengan keadaan di mana Indonesia menganut demokrasi parlementer di tahun 1950a.n
di nama kabinet jatuh bangun, ada kabinet yang hanya berumur tiga bulan.
Sulit menghubungkan antara bentuk negara kesatuan atau federasi dengan tujuan
pembangunan ekonomi. Namun rupanya dalam waktu 10-20 tahun mendatang Indonesia
masih tetap menganut sistem negara kesatuan. Pemberian otonomi yang lebih luas dan
bertanggung jawab mungkin akan lebih memeratakan pembangunan antar provinsi dan antar
pulau, dan usaha ke arah otonomi keuangan daerah yang makin luas akan meredakan
kemauan beberapa pemerintah daerah untuk memisahkan diri dari NKRI seperti yang
muncul sebagai isu pada masa reformasi.
Banyak ahli berpendapat bahwa dalam jangka panjang sistem pemerintahan yang
demokratis mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari pada sistem
pemerintahan yang diktator, dan sistem perekonomian sosialis atau komunis mempunyai
tingkat ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih baik dari pada sistem pemerintahan
yang kapitalis. Selanjutnya mereka berpendapat bahwa yang lebih penting adalah stabilitas
politik dalam satu rejim. Dari pengalaman sejak Indonesia merdeka rupanya tidak terbukti
bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi pemerintahan yang demokratis (masa presiden
Sukarno dan masa setelah Suharto) lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi pada
pemerintahan diktator militer pemerintahan Suharto. Mungkin memerlukan waktu yang
lebih lama untuk membuktikan pendapat para ahli tersebut. Namun rupanya terbukti bahwa
stabilitas dalam satu sistem memegang peran penting, yakni tingkat pertumbuhan ekonomi
dalam pemerintahan diktator militer yang stabil (masa Suharto) tinggi dibandingkan dengan
sistem demokrasi dengan stabilitas politik yang goyah (kurang).
Mengenai beda distribusi pendapatan pada berbagai sistem pemerintahan, Indonesia hanya
mengalami sistem sosialis dalam kurun waktu yang pendek, pada masa akhir pemerintahan
Sukarno, barangkali tidak sampai 5 tahun, sedangkan masa dengan perekonomian pasar
dalam kurun waktu yang jauh lebih lama, masa pemerintah Suharto dan sesudahnya sampai
sekarang (lebih dari 40 tahun). Distribusi pendapatan sejak Suharto sampai sekarang,
sebagaimana ditunjukkan pada Bab 2 dengan rasio Gini, rasio Kuznets ataupun IPM selalu
menunjukkan tingkat ketimpangan yang sedang (menengah). Mungkin dapat diduga bahwa
tingkat ketimpangan distribusi pendapatan pada masa Indonesia dengan sistem ekonomi
sosialis ala Indonesia lebih jelek dari pada perekonomian dengan sistem bukan sosialis. Jadi
dari sudut sistem negara dan pemerintahan, tampaknya perekonomian Indonesia di masa
datang akan tetap berada di bawah naungan NKRI dengan sistem pemerintah yang
demokratis dan sistem ekonomi yang bukan sosialis melainkan condong ke pasar bebas
dengan peranan pemerintah yang cukup besar dalam bidang ekonomi untuk meningkatkan
laju pertumbuhan dan mempertahankan ketimpangan distribusi pendapatan setidak-tidaknya
pada tingkat yang sedang.
Politik, Ekonomi, dan Hukum. Perjuangan merebut kemerdekaan tidak saja ketika
kemerdekaan diproklamasikan pada tahun 1945 tetapi telah mulai lama sebelumnya dan
selesai lama setelah itu. Sebelum dan setelah proklamasi Indonesia selalu menghadapi
gejolak politik dalam dan luar negeri yang tidak aman, maksudnya selalu diwarnai oleh
peperangan. Wacana pembenar pada masa itu adalah bahwa politik menjadi komando dari
setiap kebijakan pemerintah. Dalam kancah politik tidak ada masalah benar salah, yang ada
adalah siapa mendapat apa. Dapat dibayangkan bagaimana akibatnya terhadap kesejahteraan
masyarakat kalau politik adalah komando dari setiap kebijaksanaan. Salah satunya adalah
korupsi. Korupsi sesungguhnya telah banyak dipraktekkan pada masa pemerintahan
Sukarno, dan usaha untuk rnemberantas korupsi pun waktu itu telah banyak, namun usaha
tersebut macet. Ucapan bung Karno pada waktu itu adalah ka1au kita mencari tikus jangan
sampai membakar rumahnya. Ucapan tersebut memacetkan usaha pemberantasan korupsi
kalau korupsi itu menyangkut pejabat tinggi dalam pemerintahan. Korupsi merupakan salah
satu penolakan dari hal yang benar. Namun, mungkin karena Indonesia merebut
kemerdekaannya, bukan dengan jalan damai, seolah-olah masyarakat Indonesia rnenolak
semua hal-hal yang benar di masa penjajahan. Sampai- sampai tepat waktu pun seolah-olah
ditolak. Pada waktu itu mbul istilah jam karet, jam yang tidak menunjukkan waktu yang
tepat. Seorang pegawai (negeri) yang tepat waktu masuk dan waktu pulangnya dikatakan
sebagai pegawai Belanda, yang tidak karuan waktu rnasuk dan waktu pulangnya disebut
sebagai pegawai republik.
Kita dapat membayangkan akibatnya terhadap kesejahteraan masyarakat, kalau politik
sebagai komando tindakan pemerintah dan tindakan masyarakat. Hanya segelintir orang
yang mengalami keuntungan dari keadaan tersebut, sebagian besar masyarakat miskin dan
miskin sekali. Dalam kancah internasional, Indonesia dikatakan sebagai "a Nation of coolies
dan coolie among Nations (negara yang terdiri dari kuli, dan negara kuli di antara bangsa-
bangsa). Pemerintahan Sukarno diakhiri dengan demonstrasi mahasiswa dan masyarakat
yang antara lain, menuntut ekonomi "Yes", politik No.
Kemudian pada pemerintahan Suharto, ekonomi sebagai komando setiap kebijaksanaan
pemerintah. Ekonomi sebagai komando juga akan menghasilkan pemerintahan dan
masyarakat yang korup. Korupsi malah merata di seluruh negeri, dan sulit membedakan
mana perbuatan yang korup dan mana yang tidak korup. Korupsi sudah dianggap sebagai
kebudayaan. Istilah yang terkenal adalah KKN (kroni, korupsi clan nepotisme). Di bidang
ekonomi, karena ekonomi sebagai komando, terlihat adanya kemajuan dalam arti
pertumbuhan, malah sepanjang pemerintahan Suharto pertumbuhan ekonomi termasuk
tinggi, rata-rata 7-8 persen per tahun.
Pemerintah Suharto juga jatuh melalui demonstrasi mahasiswa dan masyarakat yang
menuntut antara lain, pemberantasan korupsi (pemerintahan yang bersih) dan penegakan
hukum. Kebijaksanaan pemerintah dan tindakan masyarakat yang dikomandoi oleh ekonomi
selama pemerintahan Suharto (32 tahun) menimbulkan berbagai pungutan resmi maupun
tidak resmi oleh oknum pemerintah dan swasta yang tidak bertanggung jawab dan
menimbulkan istilah ekonomi biaya tinggi, penuh dengan pungutan yang tidak perlu.
Masalah korupsi dan ekonomi biaya tinggi bukan tidak diusahakan untuk dihapus, namun
belum selesai. Di masa datang, masalah korupsi, masalah ekonomi biaya tinggi, dan
masalah penegakan hukum rupanya tidak bisa ditolerir, kalau Indonesia menghadapi
persaingan bebas dalam bidang ekonomi yang dijanjikan oleh proses globalisasi ekonomi.
Kemajuan Teknologi dan Pertumbuhan Ekonomi. Pengalaman pembangunan ekonomi pada
masa Orde Baru, dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, mungkin perlu ditiru di masa
mendatang. Kalau demikian halnya, maka pembangunan ekonomi di samping menggunakan
sumber daya dalam negeri juga menggunakan sumber daya dari luar negeri. PMDN dan
PMA terus digalakkan, swasta asing dibiarkan bersaing dan joint venture didorong
berkembang di bumi pertiwi Pinjaman dalam dan luar negeri mungkin diperlukan untuk
menambah modal dalam negeri. Penerimaan yang demikian ini rupanya tidak bisa
dibendung lagi karena globalisasi tidak hanya terjadi di sektor barang tetapi juga di sektor
jasa dan penanaman modal (investasi), dan bahkan di sektor pertanian.
Todaro dan Smith (2003 h.115) mengatakan bahwa Inggris menggandakan output per orang
dalam 60 tahun pertama sejak revolusi industrinya, Amerika Serikat melakukan hal yang
sama dalam waktu 45 tahun, Korea Selatan berhasil melakukan hal yang serupa hanya
dalarn 11 tahun sejak 1966 sampai 1977. Sejarah pertmnbuhan ekonomi juga menunjukkan
bahwa semakin terlambat satu negara memulai pertumbuhan ekonomi modernnya, maka
waktu yang diperlukan untuk menggandakan output per orang juga makin singkat. Untuk
Indonesia, kalau dihitung mulai sekarang (tahun 2010), barangkali tidak sampai
memerlukan waktu 5 tahun untuk menggandakan output per orang. Caranya adalah (i)
loncat jauh dalam bidang transfer teknologi, yang maksudnya langsung memakai teknologi
produksi yang paling mutakhir, clan (ii) memanfaatkan kesediaan modal dan tenaga ahli
yang berlimpah yang dimiliki oleh negara maju.
Subsidi dun Program Sosial. Kalau pemerintah Indonesia termasuk dalam "kelompok
Cairns dalam putaran Uruguay yang menolak menandatangani kesepakatan kecuali ada
kemajuan di bidang pertanian (maksudnya pengurangan subsidi di bidang pertanian oleh
negara maju) maka tidaklah konsisten kalau Indonesia sendiri menerapkan praktek subsidi
pupuk di bidang pertanian dan di bidang lain seperti minyak bumi dan listrik.
Dasar dari perekonomian Indonesia di masa datang yang dirumuskan dalam bab ini adalah
perdagangan internasional yang bebas tanpa hambatan seperti pada prinsipprinsip yang
diterapkan pada GATT. Sistem ekonomi yang dianutnya adalah sistem pasar berdasarkan
atas kekuatan perrmintaan dan penawaran dengan intervensi yang minimum oleh
pemerintah. Dalam hal subsidi, harga dari barang yang diperdagangkan ditentukan oleh
pemerintah, bukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Misalnya subsidi bensin, atau
subsidi pupuk, sering kali mengakibatkan bensin dan pupuk hilang dari pasar dan timbul
pasar gelap. Di samping itu, yang menerima subsidi seperti ini kebanyakan golongan kaya,
bukan golongan yang semestinya dibantu oleh pemerintah. Selama harga tidak ditentukan
oleh pasar, maka hal tersebut tidak sesuai dengan sistem pasar. Ini termasuk, misalnya,
harga Sembako murah. Harga Sembako dalam hal ini ditentukan oleh pemerintah, dan oleh
karenanya tidak sesuai dengan sistem. Lagi pula, pengalaman mengenai penjualan Sembako
murah menunjukkan tidak sedikit pembeli yang mengendarai kendaraan roda dua atau roda
empat, malah dengan plat merah, yang tidak sesuai dengan tujuan pengadaan Sembako
murah tersebut. Oleh karena itu ditolak oleh sistem perekonomian pasar.
Namun apabila pemerintah mengintervensi pasar, seperti misalnya pada pasar beras melalui
Bulog, atau pasar devisa melalui cadangan devisa, maka hal ini masih sesuai dengan dasar
logika dari sistem pasar, karena harga masih tetap ditentukan oleh kekuatan permintaan clan
penawaran. Pemerintah bisa saja memberikan subsidi kepacla rnereka yang betul-betul
memerlukannya, asalkan tidak dengan cara menentukan harga. Iadi biarkan harga barang
ditentukan oleh permintaan dan penawaran, harga bisa distabilkan oleh intervensi
pernerintah, dan kalau harga masih terlalu tinggi bagi kelompok miskin, maka mereka bisa
dibantu oleh pemerintah. Misalnya jangan menjual Sembako murah, tetapi Sembako atas
kekuatan pasar, atau kalau toh disebut Sembako mahal, maka yang tidak mampu dibantu
oleh pemerintah. Semua pembeli tetap membayar harga barang dimaksud sesuai dengan
harga yang ditentukan oleh permintaan dan penawaran.
Pada prinsipnya sistem ekonomi yang disarankan oleh globalisasi adalah penggunaan semua
sumber daya masyarakat seesien mungkin untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang
tinggi dan diimbangi oleh program sosial yang masif untuk mengejar distribusi pendapatan
yang tidak terlalu timpang.