Anda di halaman 1dari 92

Materi Kuliah Keluarga Sakinah

:::Manajemen Keluarga Samara (sakinah mawaddah wa rahmah):::

Konsep rumah tangga samara dikenalkan oleh Allah SWT kepada kita lewat Firman-Nya ; "Dan
di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah ia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari
jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di
antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sungguh pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berfikir." (QS Ar Rum : 30: 21).
Maha Suci Allah dengan segala Firman-Nya. Yang telah menuntun kita dalam segala aspek
kehidupan ini.

Dari ayat tersebut di atas kita juga sering mendengar istilah sakinah, mawaddah wa rahmah ini
dari doa-doa yang dikirimkan oleh sahabat dan kerabat kepada mempelai saat menikah. Ucapan
semoga sakinah mawaddah warahmah sudah sering kita dengar. Namun, apakah kita sudah
benar-benar memahami arti kata-kata tersebut?

1. As-Sakinah

As-Sakinah berasal dari bahasa Arab yang bermaksud ketenangan, ketenteraman, kedamaian
jiwa yang difahami dengan suasana damai yang melingkupi kehidupan rumahtangga.
Ketenangan dan ketentraman inilah yang menjadi salah satu tujuan pernikahan.

Dimana perasaan sakinah itu yaitu perasaan nyaman, cenderung, tentram atau tenang kepada
yang dicintai di mana suami isteri yang menjalankan perintah Allah Ta'ala dengan tekun, saling
menghormati dan saling toleransi. Dari suasana tenang (as-sakinah) tersebut akan muncul rasa
saling mengasihi dan menyayangi (al-mawaddah), sehingga rasa tanggungjawab kedua belah
pihak semakin tinggi. Di dalam keluarga sakinah itu pasti akan muncul mawaddah dan rahmah.

pg. 1
2.Al-Mawaddah (Kasih Sayang)

Al-Mawaddah ditafsirkan sebagai perasaan cinta dan kasih sayang. Dimana perasaan mawaddah
antara suami isteri ini akan melahirkan keindahan, keikhlasan dan saling hormat menghormati
yang akan melahirkan kebahagiaan dalam rumahtangga.

Melalui al-mawaddah, pasangan suami isteri dan ahli keluarga akan mencerminkan sikap lindung
melindungi dan tolong menolong serta memahami hak dan kewajiban masing-masing. Sikap al-
mawaddah ini akan terpancar tidak hanya sebatas antara suami istri tapi juga meliputi seluruh
anggota keluarga dan masyarakat.

3.Ar-Rahmah (Belas Kasihan)

Ar-Rahmah itu sendiri yang mempunyai makna tulus, kasih sayang dan kelembutan. Dari kata-
kata tersebut dapat dijelaskan bahwa rahmah berarti ketulusan dan kelembutan jiwa untuk
memberikan ampunan, anugerah, karunia, rahmat, dan belas kasih.

Jadi Ar-Rahmah itu dimaksudkan dengan perasaan belas kasihan, toleransi, lemah-lembut yang
diikuti oleh ketinggian budi pekerti dan akhlak yang mulia. Dengan rasa kasih sayang dan
perasaan belas kasihan ini, sebuah keluarga ataupun perkawinan akan bahagia. Kebahagiaan
amat mustahil untuk dicapai tanpa adanya rasa belas kasihan antara anggota keluarga.

Membina sebuah rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah tentu saja tidak semudah
mengatakannya. Hal itu terjadi karena ia melibatkan sedikitnya dua pihak yaitu suami dan istri.
Kalau struktur kejiwaan satu orang saja begitu kompleks dan rumit, dapat dibayangkan betapa
rumitnya kehidupan bersama yang melibatkan dua manusia. Apalagi kalau ditambah dengan
anak-anak. Maka, dibutuhkan kemampuan untuk mengatasinya. Dalam Islam kemampuan itu
bernama iman dan ilmu yang dengan keduanya akan membuat seseorang memiliki derajat jauh
lebih tinggi daripada yang lain baik di dunia maupun di akhirat (Al Mujadalah 58:11).

pg. 2
Iman dan ilmu merupakan dua hal yang saling terkait. Bagi seorang muslim yang mendapat
hidayahNya, iman akan semakin meningkat seiring meningkatnya keilmuan Sedang motivasi
utama dalam mencari ilmu adalah keimanan itu sendiri.

Keluarga yang samara tidak lepas dari upaya kita dalam memilih pasangan hidup. Begitu kita
memutuskan bahwa si A adalah calon pasangan kita, maka ia (idealnya) akan menjadi pasangan
hidup kita selamanya. Dalam suka maupun duka. Oleh karena itulah, memilih calon pasangan
sangat berbeda dengan memilih teman. Rasulullah dengan tegas menganjurkan agar prioritas
utama yang menjadi kriteria dasar calon pasangan adalah agama (dzat ad-din) karena hanya
lelaki shalih lah yang relatif memiliki resistensi paling kuat dalam melawan penyakit-penyakit
mendasar yang biasa menjadi penyebab rusaknya tatanan rumah tangga seperti perselingkuhan,
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ketiadaan tanggung jawab (tidak memberi nafkah lahir
dan batin), dan sejumlah kejahatan syariah yang lain. Kriteria lain dalam memilih pasangan
seperti kecantikan, kekayaan dan keturunan hendaknya tidak menjadi faktor prioritas dalam
memilih pasangan. Setidaknya itulah anjuran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kekurangan dan kelebihan memang akan selalu ada dalam setiap pilihan termasuk dalam
memilih calon pasangan. Namun, bagi seorang muslim yang taat, pilihan itu jelas: ia harus sesuai
dengan koridor hukum syariah dan tidak bertentangan dengan spirit Islam yang ideal. Banyak
cara yang secara lebih efektif dan efisien dapat dilakukan untuk memahami karakter calon tanpa
harus melakukan khalwat seperti mengumpulkan informasi dari orang-orang terdekat. Cara ini
dianggap justru lebih efektif dan lebih aman serta lebih fokus pada tujuan utamanya yakni
pernikahan itu sendiri. Cara ini yang dipakai Khadijah radhiyallahu 'anha saat memutuskan untuk
memilih Rasulullah sebagai suaminya.

:::

Seorang istri mengeluh bahwa dirinya merasa tidak cocok dengan suaminya justru setelah
menikah selama satu tahun. Selalu saja ada hal yang menjadi bahan pertengkaran suami-istri,
sampai istri tersebut timbul keinginan untuk bercerai. Konflik demi konflik selalu terjadi dalam
rumah tangganya yang membuatnya stres.

pg. 3
Kasus tersebut merupakan suatu ilustrasi bahwa konflik selalu bisa muncul dalam rumah tangga,
dan bila tidak diatasi akan dapat menimbulkan gangguan psikologis baik pada pihak istri maupun
suami.

Konflik yang selalu terjadi dalam keluarga dan tidak ada penyelesaiannya yang baik maka akan
berdampak terhadap keharmonisan keluarga itu sendiri yang akhirnya dapat menimbulkan
gangguan-gangguan psikologis pada individu-individu yang terlibat didalamnya. Gangguan
psikologis yang dialami bisa timbul mulai dari yang ringan sampai yang berat.

Konflik suami-istri biasanya disebabkan oleh kurangnya rasa saling antara keduanya ;

- Kurangnya saling pengertian terhadap kelebihan dan kekurangan masing-masing

- Kurangnya saling percaya

- Kurangnya saling terbuka

- Kurang komunikasi yang intens & efektif

Banyak pasangan suami-istri yang menjalani perkawinan lebih dari 20 tahun dan tetap harmonis
mengungkapkan rahasia keharmonisan keluarganya bahwa kuncinya adalah saling percaya dan
saling pengertian serta adanya komunikasi yang terbuka dan efektif. Para ahli komunikasi
menyatakan bahwa komunikator yang baik adalah orang yang dapat menimbulkan rasa senang
bagi orang yang diaajak berkomunikasi. Banyak pasangan yang baru menikah pada tahun-tahun
pertama mengalami apa yang disebut dengan wedding blues yaitu stress pasca menikah.

Hal tersebut muncul karena biasanya masing-masing pihak kurang mampu beradaptasi dengan
lingkungan pasangan. Waktu belum jadi suami, mas Ali orangnya baik, tapi setelah jadi suami
wah ternyata orangnya jorok, suka marah, seneng perintahcapek deh demikian antara lain
keluh kesah seorang isteri yang mengalami wedding blues.

pg. 4
Bagaimana strategi mengatasi konflik yang muncul dalam keluarga?

Strategi dalam mengelola konflik dapat dilakukan melaui beberapa tahap. Lebih baik mencegah
dari pada mengalami konflik.

Tahapan managemen konflik sbb:

1. Tahap primer. Tahap ini merupakan tahap pencegahan terhadap terjadinya konflik keluarga.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh suami-suami antara lain:

Meningkatkan derajat keharmonisan suami istri sehingga lebih intim

Mengerti terhadap pekerjaan pasangan masing-masing; berusaha membuat suami/istri merasa


senang; saling menyatakan perasaan secara terbuka; menghargai pendapat/ide pasangan;
menggunakan waktu luang bersama; saling memuaskan dalam kehidupan seksual.

Adanya komunikasi yang efektif dan dapat menjadi pendengar yang baim bagi pasangannya.

Jika ada masalah, komunikasikan dengan pasangan agar tidak berlarut-larut.

Menyeimbangkan antara perasaan dan pikiran ( rasio ). Tidak berpokir yang aneh-aneh kalau
sesuatu hal belum terjadi. Hadapi masalah dengan wajar

2. Tahap sekunder. Tahap ini sudah terjadi konflik dan bagaimana cara mengatasinya:

Kompromi, musyawarah untuk mencari jalan keluar terbaik. Metode yang dipergunakan Win-
win solution, semua menang, tidak ada yang dikalahkan.

Mencari alternatif pemecahan masalah berdasarkan sumber masalahnya apa. Bila tidak dapat
melakukan sendiri bisa mencari bantuan pihak ketiga yang kompeten, bertanya kepada ustadz,
konsultasi pada psikolog atau konselor perkawinan.

Memilih cara yang terbaik

Melaksanakan cara yang sudah dipilih dari kompromi diatas

Evaluasi penyeleseaian konflik. Hasilnya bagaimana, lebih harmonis atau tidak

pg. 5
3. Tahap tersier setelah konflik teratasi

Pasangan berusaha untuk mencegah dampak negatif atau trauma psikologis akibat konflik yang
pernah dialami. Berkomunikasi dari hati ke hati, perlunya kesepakatan baru agar tidak terjadi
konflik yang sama dimasa yang akan datang

#Tanya Jawab di Group Keluarga Sakinah

1. Bismillaah

Ustadz afwan, apakah setiap permasalahan atau sesuatu yg lain itu harus dikomunikasikan?

Maksudnya, apakah diam bukan salah satu jalan keluar? Karena ditakutkan, jika
dikomunikasikan akan menyakiti atau menambah konflik. Syukran

Jawaban :

Pengalaman kami dalam menangani kasus2 perceraian maupun konflik rumah tangga berawal
dari komunikasi yang tidak sehat. Permasalahan kecil yang didiamkan, dipendam & tidak
dikomunikasikan lama-lama akan membesar dan meledak. Sehingga ketika terjadi konflik justru
akan mengungkit permasalahan yang selama ini dipendam. Ada baiknya memang setiap
permasalahan di komunikasikan dengan tetap melihat maslahat & mudharatnya. Kalaupun ada
keyakinan yang kuat bahwa permasalahan tersebut bisa selesai dengan "didiamkan" maka
langkah tersebut bisa diambil.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya, semoga bermanfaat.

2. Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Perkenalkan saya Kimi dari Yogyakarta. Sungguh menarik apa yg telah disampaikan. Namun
masih terdapat beberapa tanya yg terbesit dalam benak saya terkait management konflik.

pg. 6
Pernah saya mengamati sebuah keluarga di mana karena bertambahnya usia suami
mengakibatkan suami kurang bisa nyambung dalam berkomunikasi. Setiap istri cerita tentang
permasalahannya, tanggapan suami sering sekali menunjukkan kesalahan pemahaman terhadap
masalah yg sedang istri hadapi. Berulang kali istri harus mengulangi ceritanya, tapi sering kali
suami masih salah dlm memahami sehingga seolah ceritanya ke utara, tanggapannya ke selatan.
Hal tersebut lama-lama sering menimbulkan konflik. Sedangkan pihak suami yg salah
menanggapi ini, malah jadi keras kepala dan merasa dirinya telah paham dan benar. Hal ini tentu
membuat istri menjadi dilematis, ketika dia tidak bercerita dianggap tertutup terhadap suami atau
istri merasa segala beban harus ditanggungnya sendiri. Namun jika bercerita, bukannya
mendapatkan solusi malah menambah masalah dan konflik.

Menurut Akh Miftah, bagaimana aplikasi management konflik tersebut terhadap perkara ini ?
Bagaimana meminimalisir hal ini terjadi saat penengah tidah selalu ada di sisi mereka,
sedangkan perkara ini sering terjadi dengan topik masalah yg berbeda-beda dan mereka sangat
sibuk sehingga tidak memungkinkan untuk sering datang ke psikolog atau konselor, apalagi jika
terkadang sumber masalahnya kecil dan tidak layak untuk terlalu sering dibawa keluar bersama
pihak ketiga sebagai penengah ?

Syukron katsiran...

Jawaban :

Waalaikummussalaam wa rahmatullah wabarakaatuh

Dalam kasus ini sebenarnya permasalahan utamanya adalah "bahasa komunikasi". Mungkin
komunikasi sudah berjalan baik, tapi justru malah menambah masalah karena tidak nyambung,
dari sini bisa kita simpulkan sebenarnya masalahnya adalah bagaimana seorang istri bisa
mengemas komunikasi dengan baik agar suami bisa memahami, maka idealnya dalam masa-
masa taaruf dan pernikahan dalam tahun pertama seorang istri maupun suami harus betul-betul
memahami bahasa komunikasi dengan pasangannya sehingga tidak terjadi salah sambung. Kami
mengamati beberapa pasangan yang tingkat pendidikannya berbeda akan tetapi karena masing-
masing pasangan bisa membahasakan permasalahan dengan bahasa yang baik maka keluarga
tersebut harmonis. Jadi kuncinya adalah difahami pasangan, olah dengan baik bahasa
komunikasi & cari waktu yang tepat.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya. Semoga bermanfaat.

pg. 7
3. Memilih kata2 yg paling tepat agar tidak misleading itu satu persoalan sendiri.

Belum masalahnya. Bagaimanakah cara menghindari prejudice atau prasangka awal agar
komunikasi bisa lancar?

Jawaban :

Pertama, gunakan bahasa yang tidak mengandung multi tafsir.

Kedua, sebaiknya menggunakan bahasa aktif daripada pasif

Ketiga, gunakan bahasa halus, tidak menggurui & menggunakan bahasa meminta saran /
pendapat. Jazaakillah khairan atas pertanyaan ukhti mahanani.

4. Assalamu'alaikum.. Wr.wb

Saya Eva dari Jakarta..Ustadz, saya punya saudara wanita. Suaminya itu pola pikirnya masih
kurang dewasa pdhk usianya sudah 5o tahunan, dan sifatnya juga tempramental.. Nah bagaimana
cara istri mengkomunukasikan hal tsb kepada suaminya agar suaminya bisa berubah? Karena
sifat ayah yg kurang dewasa n tempramental juga tidak baik utk perkembangan mental anak.
Jazaakallah ustadz

Jawaban :

Waalaikummussalaam wa rahmatullah wabarakaatuh.

Sifat kekanak-kanakan yang dimiliki suami meskipun sudah berumur perlu kita sikapi dengan
dewasa. Jangan sampai kita memperlakukan nya seperti anak kecil. Perlu diingat bahwa
sebenarnya kita semua ini adalah "anak besar", artinya terkadang sifat kekanak-kanakan itu
masih melekat tergantung orangtua dalam mendidik & lingkungan yang membentuk. Yang jelas,
menghadapi suami yang kekanak-kanakan kita harus "mengalah" untuk bisa bersikap dewasa,
diperlukan kesabaran ekstra dalam menghadapinya. Justru disinilah peran besar istri dalam
"merubah" sifat suami. Merubah karakter atau sifat memerlukan proses yang lama & butuh
pengorbanan yang lebih. Ada baiknya kita belajar juga psikologi mengahadapi kasus seperti ini.

pg. 8
Beberapa hal yang bisa dilakukan, InsyaAllah :

- Memperlakukan Suami sebagai Orang Dewasa yang Bertanggung Jawab

Pemberitahuan atau perintah yang mengharuskan seseorang untuk merubah perilakunya


seringkali menimbulkan suatu reaksi pertahanan dari orang yang diperintah. Orang yang
berperilaku kekanak-kanakan, apabila diperintah atau diingatkan supaya ia mau merubah
perilakunya menjadi lebih matang, seringkali menyebabkan ia merasa terpukul dengan
peringatan itu. Ia merasa diremehkan diberi peringatan seperti itu, sehingga ia melakukan
pertahanan untuk melindungi diri. Dalam kaitan inilah seringkali orang yang diberi peringatan
secara langsung menunjukkan perilaku menentang yang bisa diwujudkan dalam bentuk jawaban-
jawaban: ''Biarkan saya berperilaku begini, karena inilah gaya saya''. Apabila ia terus diingatkan
atau ''diperintah'' untuk merubah perilakunya maka ia akan makin tertantang untuk
mempertahankan sikap yang sudah ia pegang, sehingga perubahan perilaku menuju kematangan
diri akan lebih sulit dapat diwujudkan. Menghadapi suami yang bertahan dengan gaya anak-
anaknya, maka sangat penting melakukan pendekatan secara tidak langsung, dengan
memperlakukan dia sebagai orang dewasa. Dalam hal ini kata-kata yang langsung memerintah
dia usahakan dihindari, diganti dengan perlakuan yang memposisikan dia sebagai orang dewasa.
Apabila dulu berupa peringatan supaya ia mau berpenampilan dewasa, maka sekarang bisa
dalam bentuk memposisikan dia sebagai orang dewasa, sebagai ayah dan sebagai kepala
keluarga. Perlakuan ini bisa ditunjukkan dalam berbagai kesempatan, pada waktu ada tamu yang
datang berkunjung misalnya, perlihatkanlah sikap membanggakan suami. Pada waktu
berbincang-bincang dengan tamu hindarilah kata-kata yang meremehkan suami, sehingga tamu
mempunyai kesan bahwa suami adalah figur yang dihormati dan disegani di rumah ini. Dengan
perlakuan-perlakuan seperti itu, lama-kelamaan suami akan berubah menilai dirinya, ia akan
mulai menilai dirinya sebagai figur dewasa yang dihormati oleh anggota keluarga. Perubahan
penilaian diri ini selanjutnya akan menggiring perubahan perilaku, apabila semula ia merasa
biasa-biasa saja berperilaku seperti anak-anak atau remaja. Dengan perubahan konsep diri ini
maka ia merasa tidak pantas lagi berperilaku seperti itu. Lebih-lebih lagi di hadapan tamu, maka
dia akan menyesuaikan perilaku yang dia tampilkan dengan harapan lingkungan.

- Tidak Ikut-ikutan Memojokkan Suami

Adakalanya orangtua atau orang-orang di sekitar rumah meremehkan perilaku suami dengan
menyebutkan bahwa suami masih kekanak-kanakan. Dalam hal ini janganlah ikut-ikutan
terpengaruh dengan penilaian itu dan memojokkan suami dengan menyebutnya sebagai orang
yang tidak matang. Belalah suami dengan menyebutkan bahwa suami dalam proses menuju
kematangan diri.

pg. 9
- Menjaga Jalinan Komunikasi

Sejalan dengan perlakuan positif terhadap suami maka jalinan komunikasi yang terbuka dengan
suami juga tetap dijaga sehingga terbiasa mendiskusikan berbagai permasalahan dengan suami,
dan komunikasi dua arah pun akan berkembang. Apabila suami menyampaikan keluhannya
tentang perilaku istri, maka istri pun diharapkan mau terbuka menanggapi dan mau menilai
informasi itu dengan akal sehat, bukan dengan emosional. Begitu juga sebaliknya suamipun
diharapkan berjiwa besar mau mengembangkan komunikasi dua arah, sehingga berbagai
''ganjalan'' dalam hati bisa dicarikan jalan keluarnya sedini mungkin. Dengan berkembangnya
komunikasi dua arah maka masing-masing pihak akan mampu mengarahkan perilakunya menuju
kematangan atau kedewasaan.

Allahu a'lam.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.

5. Assalamm..wr.wb. sya mw bertanya. Bgmna cara mengatasi sikap suami yg terlalu berlebihan
perhayian kpda keluarganya.dlm hal ini ada kecembutuan sosial dgn keluarga suami sndri.
Apalgi suami lebih memntingkan adik laki2nya drpda istrinya sndri. Sudh dikominukasikan tpi
ttp sja istrilah yg slalu salah. Mohon solusinya

Jawaban :

Waalaikummussalaam warahmatullah wabarakaatuh. Dalam kasus ini, suami belum faham


kewajibannya sebagai seorang suami. Maka solusinya adalah ada kalanya ajaklah suami
mendatangi pengajian masalah keluarga atau bisa juga di downloadkan kajian masalah kewajiban
suami di internet kemudian didengarkan bersama. Yang jelas, hal ini sangat berkaitan dengan
tingkat keshalihan dan ilmu agama yang dimiliki oleh suami.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.

pg. 10
6. Ustadz. Klo seorang istri pendiam dlm bermasyarakat. Tp klo di rumah sering bentak $uami?
Bgmn sikap yg harus dilakukan suami?

$yukran.

Jawaban :

Kalau kita ingin meneladani salah satu sahabat Nabi yang di jamin masuk surga yaitu Umar bin
Khattab maka yang kita lakukan adalah diam. Diam bukan berarti kita mengacuhkan istri, akan
tetapi harapan kita, dengan diam akan meredam & bentakan istri. Karena kalau api dilawan
dengan api maka akan membesar. Pilihan kita adalah diam & bertutur kata dengan baik, semoga
hatinya tersentuh & kita doakan istri agar melunak hatinya.

Seorang isteri yang pemarah dan sering beperilaku kasar kepada suami apalagi disertai pukulan
dan caci maki memang perbuatan yang sangat tidak terpuji. Dari sisi hukum Islam: haram dan
berdosa. Dari sisi etika: merendahkan martabat dirinya, orangtuanya dan suaminya.

Dari sisi psikologi: tindakan isteri tersebut membuktikan ketidakmampuannya mengendalikan


jiwanya dan sekaligus menekan jiwa suami sekaligus menjatuhkan harga diri suami sebagai
seorang pemimpin dalam rumah tangga. sedangkan dari sisi sosial: merusak keharmonisan
hubungan suami isteri.

Menghadapi isteri yang pemarah, harus banyak bersabar dan lebih banyak mengalah. Meskipun
menurut suami, sudah berusaha menasehati isteri namun justru membuat kemarahannya akan
meledak kembali.

Sehingga suami berusaha untuk tidak membuatnya marah dan memilih untuk bersikap pasrah
menghadapi sikap kasar isteri. Namun bagaimanapun juga kami mengerti bila suami mulai tidak
tahan menghadapi sikap isteri yang demikian.

pg. 11
Memang menghadapi kekerasan dan sikap kasar isteri, yang terbaik adalah berusaha bersikap
tenang dan tidak terpancing. Karena persoalan akan semakin runyam apabila suami
membalasnya dengan kekerasan pula.

Dalam permasalahan ini, sebaiknya juga diingat sikap isteri yang demikian kasar pada suami
pastilah ada penyebab yang melatarbelakanginya. Karena pastilah, tidak ada satupun perlakuan
tertentu selain selalu ada hubungan sebab-akibat. Karena itu tidak ada salahnya suami melakukan
introspeksi diri, siapa tahu sikap kasarnya merupakan akibat dari sesuatu hal yang mungkin
pernah suami lakukan diluar kesadaran.

Sudah menjadi tugas laki-laki sebagai suami untuk membimbing dan mendidik isteri yang
menjadi amanah dan tanggung jawabnya. Lakukan lah dengan rasa cinta dan keinginan mulia
untuk membangun keluarga yang tenang dan penuh kasih sayang dengan istri tercinta.

Untuk menasehati isteri, sebaiknya dilakukan saat kondisi emosi isteri tenang. Perhatikan juga
waktu yang tepat. Jangan langsung membahas sikap kasarnya, sebaiknya terlebih dahulu
mengajak isteri untuk saling introspeksi diri.

Saling mengingatkan tujuan dan komitmen awal pernikahan. Bila komunikasi dengan isteri,
tidak menemui titik temu, sebaiknya suami menyertakan orang ketiga yang dihormati isteri,
(misalnya orangtuanya atau ustadzah) untuk turut menasehatinya.

Ketegasan suami juga diperlukan untuk menjaga wibawa laki-laki sebagai seorang suami dimata
isteri. Hal ini mutlak diperlukan guna menegakkan fungsi qowwam (pemimpin, pengayom)
dalam rumah tangga. Supaya isteri tidak dapat bertindak semena-mena tehadap suami.

Namun ketegasan di sini janganlah disalah artikan sebagai bertindak keras apalagi kasar.
Ketegasan di sini adalah sikap yang tegas memberi sangsi dari yang paling ringan (memisahkan
tidurnya) sampai paling berat (dan akhirnya menjatuhkan talak), apabila sikap isteri masih belum
menunjukan perubahan.

pg. 12
Allahu a'lam....

Jazaakallahu khairan atas pertanyaannya.

- Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga -

:::Istri Tidak Shalat:::

Bagi suami yang memiliki istri yang tidak shalat, apakah ia wajib menyuruh istrinya
mengerjakan shalat? Jika si istri tidak mau, apakah ia wajib menceraikannya?

Jawab :

Benar, ia wajib memerintahkan istri untuk shalat. Bahkan ia wajib memerintahkan siapa saja
yang bisa diperintah untuk shalat jika memang orang lain belum memerintahkan hal itu. Allah
berfirman :

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya." (QS. Thaha : 132)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharaan dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At-Tahrim : 6)

pg. 13
Hendaknya perintah untuk mengerjakan shalat diiringi dengan motivasi. Jika istri tetap saja
meninggalkan shalat maka suami boleh menceraikannya. Dan ini hukumnya wajib menurut
pendapat yang shahih. Ulama kaum muslimin bersepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat
berhak dihukum hingga ia mau mengerjakan shalat.

(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah / Majmuul Fatawa)

- Tanya Jawab Kuliah Keluarga Sakinah -

1. Assalamu'alaykum

Mau bertanya

Bagaimana hukumnya jika seorang suami memperlakukan istrinya dgn perlakuan yg tdk baik dg
dalih suami bahwa istrinya tidak mau menuruti perintah suami malah menuruti orang tua istri.
Sehingga rmh tangga terjadi perselisihan. Padahal apa yg disampaikan org tua istri utk kebaikan
mereka, tapi suaminya bersikeras klo istrinya tdk mau nurut kepadanya.apa yg harus dilakukan
istri ketika memiliki suami yg ego dan keras kepala. Apakah itu watak yg bisa diubah.

Jazakillah

Jawaban :

Suami, dalam syariat Islam, diperbolehkan memukul istrinya. Namun pembolehan itu
memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku. Seorang suami boleh memukul istrinya saat istrinya
tidak taat, membangkang, dan durhaka. Tapi, sebelum memukul, ada syariat yang mengatur
tahapan pendidikan untuk istri ini. Yaitu, pertama menasehati mereka (istri yang membangkang
tadi) terlebih dahulu. Jika masih saja membangkang, maka pisahkan dia dari ranjang. Jika masih
juga membangkang, maka barulah boleh memukul dengan pukulan yang mendidik. Pukulan
yang mendidik ini adalah pukulan ringan yang tidak membuat seorang wanita berlama-lama
menyimpan dendam pada suaminya. Jadi, jangan dibayangkan bahwa memukul itu boleh sampai
istri babak belur, berdarah-darah, dsb.

pg. 14
Dalilnya,

Artinya : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh,
ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah
telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (An-Nisaa 34)

2. Assalamualaikum..

Ustadz/ah mau tanya.. bagaimana cara memanajemen hati, manajemen fikiran, agar tidak mudah
marah. Alhamdulillah Allah karuniakan suami yg sangat sabar dan baik. Tapi kadang saya mudah
berprasangka atau tersulut cemburu misalnya suami bercerita teman kantor. Bagaimana cara
memenejnya ya ustadz/ah?

Jawaban ;

Waalaikummussalaam warahmatullah wabarakaatuh,

Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca
taawudz:

A-UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM

Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon
perlindungan kepada Allah.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu anhu, beliau menceritakan,

pg. 15
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang yang
saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang.
Jika dia membaca taawudz: A-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Apabila seseorang
marah, kemudian membaca: A-udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya akan
reda. (Hadis shahih silsilah As-Shahihah, no. 1376)

Kedua, DIAM dan jaga lisan

Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang
mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari
timbulnya dosa yang lebih besar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika kalian marah, diamlah. (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai
tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan,

Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan
dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR.
Bukhari dan Muslim)

Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan
sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan kita ke dasar neraka.

pg. 16
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah

Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti,
dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya
sepuasnya.

Karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar
marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar
radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menasehatkan,

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu
marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad
21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

Abu Dzar radhiyallahu anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika
marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,

Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin
mengerjai Abu Dzar. Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil
beberapa helai rambutnya? tanya salah seorang diantara mereka. Saya. Jawab kawannya.

Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak
kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun
langsung duduk kemudian tidur.

Melihat itu, orang banyak keheranan. Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?
tanya mereka keheranan.

pg. 17
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat
dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.

Mengapa duduk dan tidur?

Al-Khithabi menjelaskan,

Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk
bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini
apa yang disampaikan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar
orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan
marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Maalim As-
Sunan, 4/108)

Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah

Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam
bersabda,

Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan
Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk
memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)

Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua
makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin
menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah
taala. Pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak
melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan
tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa
membalasnya dengan kebaikan.

pg. 18
Mula Ali Qori mengatakan,

Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi.
Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan
kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).

Hadis dari Ibnu Umar,

Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan
marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya
dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan
dinilai hasan oleh Al-Albani).

Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan
sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam
hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa
mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.

Kelima, Segera berwudhu atau mandi

Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.

Terdapat hadis dari Urwah As-Sadi radhiyallahu anhu, yang mengatakan,

Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan
dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud
4784)

pg. 19
Bagaimana mengatasi cemburu yang berlebihan?

Sebagaimana fenomena yang kita lihat dalam kehidupan tangga pada umumnya, tampaklah
bahwa sifat cemburu itu sudah menjadi tabiat setiap wanita, siapapun orangnya dan
bagaimanapun kedudukannya. Akan tetapi, hendaklah perasaan cemburu ini dapat dikendalikan
sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan kehidupan
rumah tangga.

Berikut beberapa nasihat yang perlu diperhatikan oleh para isteri untuk menjaga keharmonisan
kehidupan rumah tangga, sehingga tidak ternodai oleh pengaruh perasaan cemburu yang
berlebihan.

* Seorang isteri hendaklah bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Taala dan bersikap
pertengahan dalam hal cemburu terhadap suami. Sikap pertengahan dalam setiap perkara
merupakan bagian dari kesempurnaan agama dan akal seseorang. Dikatakan oleh Nabi
shollallahu alaihi wa sallam kepada Aisyah radhiallahu anha: Hai Aisyah, bersikaplah
lemah-lembut, sebab jika Allah menginginkan kebaikan pada sebuah keluarga, maka Dia
menurunkan sifat kasih-Nya di tengah-tengah keluarga tersebut. Dan sepatutnya seorang isteri
meringankan rasa cemburu kepada suami, sebab bila rasa cemburu tersebut melampaui batas,
bisa berubah menjadi tuduhan tanpa dasar, serta dapat menyulut api di hatinya yang mungkin
tidak akan pernah padam, bahkan akan menimbulkan perselisihan di antara suami dan melukai
hati sang suami. Sedangkan isteri akan terus hanyut mengikuti hawa nafsunya.

* Wanita pencemburu, lebih melihat permasalahan dengan perasaan hatinya daripada indera
matanya. Ia lebih berbicara dengan nafsu emosinya dari pada pertimbangan akal sehatnya.
Sehingga sesuatu masalah menjadi berbalik dari yang sebenarnya. Hendaklah hal ini disadari
oleh kaum wanita, agar mereka tidak berlebihan mengikuti perasaan, namun juga
mempergunakan akal sehat dalam melihat suatu permasalahan.

* Dari kisah-kisah kecemburuan sebagian isteri Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam tersebut,
bisa diambil pelajaran berharga, bahwa sepatutnya seorang wanita yang sedang dilanda cemburu
agar menahan dirinya, sehingga perasaan cemburu tersebut tidak mendorongnya melakukan
pelanggaran syariat, berbuat zhalim, ataupun mengambil sesuatu yang bukan haknya. Maka
janganlah mengikuti perasaan secara membabi buta.

pg. 20
* Seorang isteri yang bijaksana, ia tidak akan menyulut api cemburu suaminya. Misalnya,
dengan memuji laki-laki lain di hadapannya atau menampakkan kekaguman terhadap laki-laki
lain di hadapannya atau menampakkan kekagumman terhadap laki-laki lain, baik pakaiannya,
gaya bicaranya, kekuatan fisiknya dan kecerdasannya. Bahkan sangat menyakitkan hati suami,
jika seorang isteri membicarakan tentang suami pertamanya atau sebelumnya. Rata-rata laki-laki
tidak menyukai itu semua. Karena tanpa disadarinya, pujian tersebut bermuatan merendahkan
kejantanannya, serta mengurangi nilai kelaki-lakiannya, meski tujuan penyebutan itu semua
adalah baik. Bahkan, walaupun suami bersumpah tidak terpengaruh oleh ungkapannya tersebut,
tetapi seorang isteri jangan melakukannya. Sebab, seorang suami berat melupakan itu semua.

* Ketahuilah wahai para isteri! Bahwa yang menjadi keinginan laki-laki di lubuk hatinya adalah
jangan sampai ada orang lain dalam hati dan jiwamu. Tanamlah dalam dirimu bahwa tidak ada
lelaki yang terbaik, termulia, dan lainnya selain dia.

* Wahai para isteri! Jadikanlah perasaan cemburu kepada suami sebagai sarana untuk lebih
mendekatkan diri kepadanya. Jangan menjadikan ia menoleh kepada wanita lain yang lebih
cantik darimu. Berhias dirilah, jaga penampilan di hadapannya agar engkau selalu dicintai dan
disayanginya. Cintailah sepenuh hatimu, sehingga suami tidak membutuhkan cinta selain
darimu. Bahagiakan ia dengan seluruh jiwa, perasaan dan daya tarikmu, sehingga suami tidak
mau berpisah atau menjauh darimu. Berikan padanya kesempatan istirahat yang cukup.
Perdengarkan di telinganya sebaik-baik perkataan yang engkau miliki dan yang paling ia
senangi.

* Wahai, para isteri! Janganlah engkau mencela kecuali pada dirimu sendiri, bila saat suamimu
datang wajahnya dalam keadaan bermuram durja. Jangan menuduh salah-kecuali pada dirimu
sendiri, bila suamimu lebih memilih melihat orang lain dan memalingkan wajah darimu. Dan
jangan pula mengeluh bila engkau mendapatkan suamimu lebih suka di luar daripada duduk di
dekatmu. Tanyakan kepada dirimu, mana perhatianmu kepadanya Mana kesibukanmu untuknya
Dan mana pilihan kata-kata manis yang engkau persembahkan kepadanya, serta senyum
memikat dan penampilan menawan yang semestinya engkau berikan kepadanya Sungguh
engkau telah berubah di hadapannya, sehingga berubah pula sikapnya kepadamu, lebih dari itu,
engkau melemparkan tuduhan terhadapnya karena cemburu butamu.

pg. 21
* Dan ingatlah wahai para isteri! Suamimu tidak mencari perempuan selain dirimu. Dia
mencintaimu, bekerja untukmu, hidup senantiasa bersamamu, bukan dengan yang lainnya.
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Taala, ikutilah petunjuk-Nya dan percayalah
sepenuhnya kepada suamimu setelah percaya kepada Allah yang senantiasa menjaga hamba-
hamba-Nya yang selalu menjaga perintah-perintah-Nya, lalu tunaikanlah yang menjadi
kewajibanmu. Jauhilah perasaan was-was, karena setan selalu berusaha untuk merusak dan
mengotori hatimu.

Allahu a'lam.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.

(Ust. Miftahuddin, Tanya Jawab Kuliah Keluarga Sakinah)

- Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga -

:::Menghadapi Suami Kekanak-kanakan-

Assalamu'alaikum.. Wr.wb

Saya Eva dari Jakarta..Ustadz, saya punya saudara wanita. Suaminya itu pola pikirnya masih
kurang dewasa pdhal usianya sudah 50 tahunan, dan sifatnya juga tempramental.. Nah
bagaimana cara istri mengkomunukasikan hal tsb kepada suaminya agar suaminya bisa berubah?
Karena sifat ayah yg kurang dewasa n tempramental juga tidak baik utk perkembangan mental
anak. Jazaakallah ustadz

Jawaban :

Waalaikummussalaam wa rahmatullah wabarakaatuh.

Sifat kekanak-kanakan yang dimiliki suami meskipun sudah berumur perlu kita sikapi dengan
dewasa. Jangan sampai kita memperlakukan nya seperti anak kecil. Perlu diingat bahwa
sebenarnya kita semua ini adalah "anak besar", artinya terkadang sifat kekanak-kanakan itu

pg. 22
masih melekat tergantung orangtua dalam mendidik & lingkungan yang membentuk. Yang jelas,
menghadapi suami yang kekanak-kanakan kita harus "mengalah" untuk bisa bersikap dewasa,
diperlukan kesabaran ekstra dalam menghadapinya. Justru disinilah peran besar istri dalam
"merubah" sifat suami. Merubah karakter atau sifat memerlukan proses yang lama & butuh
pengorbanan yang lebih. Ada baiknya kita belajar juga psikologi mengahadapi kasus seperti ini.

Beberapa hal yang bisa dilakukan, InsyaAllah :

- Memperlakukan Suami sebagai Orang Dewasa yang Bertanggung Jawab

Pemberitahuan atau perintah yang mengharuskan seseorang untuk merubah perilakunya


seringkali menimbulkan suatu reaksi pertahanan dari orang yang diperintah. Orang yang
berperilaku kekanak-kanakan, apabila diperintah atau diingatkan supaya ia mau merubah
perilakunya menjadi lebih matang, seringkali menyebabkan ia merasa terpukul dengan
peringatan itu. Ia merasa diremehkan diberi peringatan seperti itu, sehingga ia melakukan
pertahanan untuk melindungi diri. Dalam kaitan inilah seringkali orang yang diberi peringatan
secara langsung menunjukkan perilaku menentang yang bisa diwujudkan dalam bentuk jawaban-
jawaban: ''Biarkan saya berperilaku begini, karena inilah gaya saya''.

Apabila ia terus diingatkan atau ''diperintah'' untuk merubah perilakunya maka ia akan makin
tertantang untuk mempertahankan sikap yang sudah ia pegang, sehingga perubahan perilaku
menuju kematangan diri akan lebih sulit dapat diwujudkan. Menghadapi suami yang bertahan
dengan gaya anak-anaknya, maka sangat penting melakukan pendekatan secara tidak langsung,
dengan memperlakukan dia sebagai orang dewasa. Dalam hal ini kata-kata yang langsung
memerintah dia usahakan dihindari, diganti dengan perlakuan yang memposisikan dia sebagai
orang dewasa. Apabila dulu berupa peringatan supaya ia mau berpenampilan dewasa, maka
sekarang bisa dalam bentuk memposisikan dia sebagai orang dewasa, sebagai ayah dan sebagai
kepala keluarga. Perlakuan ini bisa ditunjukkan dalam berbagai kesempatan, pada waktu ada
tamu yang datang berkunjung misalnya, perlihatkanlah sikap membanggakan suami. Pada waktu
berbincang-bincang dengan tamu hindarilah kata-kata yang meremehkan suami, sehingga tamu
mempunyai kesan bahwa suami adalah figur yang dihormati dan disegani di rumah ini. Dengan
perlakuan-perlakuan seperti itu, lama-kelamaan suami akan berubah menilai dirinya, ia akan
mulai menilai dirinya sebagai figur dewasa yang dihormati oleh anggota keluarga. Perubahan
penilaian diri ini selanjutnya akan menggiring perubahan perilaku, apabila semula ia merasa
biasa-biasa saja berperilaku seperti anak-anak atau remaja. Dengan perubahan konsep diri ini
maka ia merasa tidak pantas lagi berperilaku seperti itu. Lebih-lebih lagi di hadapan tamu, maka
dia akan menyesuaikan perilaku yang dia tampilkan dengan harapan lingkungan.

pg. 23
- Tidak Ikut-ikutan Memojokkan Suami

Adakalanya orangtua atau orang-orang di sekitar rumah meremehkan perilaku suami dengan
menyebutkan bahwa suami masih kekanak-kanakan. Dalam hal ini janganlah ikut-ikutan
terpengaruh dengan penilaian itu dan memojokkan suami dengan menyebutnya sebagai orang
yang tidak matang. Belalah suami dengan menyebutkan bahwa suami dalam proses menuju
kematangan diri.

- Menjaga Jalinan Komunikasi

Sejalan dengan perlakuan positif terhadap suami maka jalinan komunikasi yang terbuka dengan
suami juga tetap dijaga sehingga terbiasa mendiskusikan berbagai permasalahan dengan suami,
dan komunikasi dua arah pun akan berkembang. Apabila suami menyampaikan keluhannya
tentang perilaku istri, maka istri pun diharapkan mau terbuka menanggapi dan mau menilai
informasi itu dengan akal sehat, bukan dengan emosional. Begitu juga sebaliknya suamipun
diharapkan berjiwa besar mau mengembangkan komunikasi dua arah, sehingga berbagai
''ganjalan'' dalam hati bisa dicarikan jalan keluarnya sedini mungkin. Dengan berkembangnya
komunikasi dua arah maka masing-masing pihak akan mampu mengarahkan perilakunya menuju
kematangan atau kedewasaan.

Allahu a'lam.

Jazaakillah khairan atas pertanyaannya.

(Ust. Miftahuddin, Tanya Jawab di Group Keluarga Sakinah)

pg. 24
:::MENGUBAH SUDUT PANDANG:::

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki.Urusan belanja, cucian, makan,
kebersihan & kerapihan rumah ditanganinya sendiri.Suami serta anak-anaknya menghargai
pengabdiannya itu.

Cuma ada 1 masalah, ibu yg pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia
bisa meledak & marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet,
suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini
mudah sekali terjadi & menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan
menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &
berkata kepada sang ibu :

"Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan".

Ibu itu kemudian menutup matanya.

"Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa
kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?"

Sambil menutup mata, senyum ibu merekah, mukanya yg murung berubah cerah. Ia tampak
senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan;

"Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar
gurau canda & tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi".

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung hilang, napasnya mengandung isak.
Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas bayangkan apa yang tengah terjadi pada
suami & anak-anaknya.

pg. 25
"Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan
anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu & kehadiran mereka
menghangatkan hati ibu". Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi
tsb.

"Sekarang bukalah mata ibu" Ibu itu membuka matanya "Bagaimana, apakah karpet kotor masih
jadi kekhawatiran buat ibu?"

Ibu itu tersenyum & gelengkan kepalanya.

"Aku tahu maksud anda" ujar sang ibu, "Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal
yang tampak negatif dapat dilihat secara positif".

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap
melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang ilhami
Richard Binder & John Adler ciptakan NLP (Neurolinguistic Programming).

Dan teknik yang dipakainya disebut "REFRAMING", yaitu bagaimana kita 'membingkai ulang'
sudut pandang kita sehingga sesuatu yg tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya
dengan mengubah sudut pandangnya.

Semoga bermanfaat.

Baarakallahu fiikum.

pg. 26
:::Penyebab-penyebab Perceraian dan Penanggulangannya:::

Penyebab dari suami ;

Pertama : Suami tidak menunaikan kewajiban -yang dibebankan Allah kepadanya- terhadap istri,
yang dikarenakan faktor jahil (tidak mengerti), lalai atau karena sengaja menentang syariat
Allah.

Selayaknya, seorang suami belajar untuk mengetahui tentang hak-hak istrinya. Tidak menggagap
hal ini sepele, dan hendaklah dia takut kepada Allah dalam mempergauli istrinya. dengan
demikian, diharapkan bahtera rumah tangga yang mereka arungi bersama akan tetap langgeng di
bawah naungan syariat Islam yang mulia. Diantara hak-hak istri terhadap suaminya, yaitu agar
suami memperlakukan istri dengan baik, memberinya nafkah, menghormatinya, berlemah-
lembut, memaklumi kekurangan istrinya, dan berhias di hadapannya.

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata,Aku sangat senang dan berupaya untuk berhias di
hadapan istriku, sebagaimana akupun senang jika dia berdandan untuk diriku, karena Allah
berfirman,

Bagi mereka (para istri) terdapat hak-hak yang wajib ditunaikan (terhadap suami mereka),
sebagaimana mereka memiliki hak-hak yang wajib ditunaikan suami. [Al Baqarah:228].

Kedua : Tidak mematuhi wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, (yaitu) agar menikahi
wanita yang taat agama, sebagaimana dalam sabdanya,

Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, maupun
agamanya; maka carilah yang taat beragama. (HR. Bukhari)

Ketika salah seorang dari pasangan tersebut taat beragama, sementara yang lainnya tidak taat,
pasti akan terjadi berbagai macam prahara antara keduanya. Seorang yang taat beragama akan
berbuat hal-hal yang diridhai Allah, sedangkan pasangannya yang tidak taat, pasti akan
menurutkan hawa nafsunya.

pg. 27
Seyogyanya, seorang pria yang akan meminang wanita agar mengindahkan pesan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas, untuk mencari pasangan yang taat beragama -walaupun
harus menunggu lama- hingga mendapatkan wanita tersebut. Dengan menikahi wanita yang taat
beragama, niscaya suami akan dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh bahagia,
dengan izin Allah tentunya.

Seorang suami memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendakwahi istrinya dan
menasihatinya dengan penuh kesabaran, bijaksana dan lemah-lembut. AllahSubhanahu wa Ta'alal
berfirman,

Dan perintahkan keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah atasnya. [Thaha:132].

Allah juga berfirman.

Dan serulah manusia ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan debatlah
mereka dengan cara yang paling baik. [An Nahl:125].

Dengan demikian, diharapkan istri akan dapat menjadi lebih baik dengan izin Allah.

Ketiga : Kondisi rumah tangga yang jauh dari suasana religius serta taat kepada Allah, apalagi
jika di dalam rumah itu terdapat berbagai macam sarana yang merusak, seperti: siaran televisi,
majalah-majalah ataupun CD-CD yang meruntuhkan sendi-sendi moral.

Selayaknya, dalam rumah seorang mukmin selalu dibaca Al Quran, khususnya surat Al Baqarah
yang memiliki keutamaan. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Janganlah kalian menjadikan rumah kalian seperti kuburan; sesungguhnya syetan-syetan akan
berlari menjauh dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah. (HR. Muslim)

pg. 28
Dengan demikian jelaslah, bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al Quran, bahkan justru
dipenuhi dengan sarana-sarana maksiat yang mengundang murka Allah, (maka rumah itu) akan
digandrungi syetan-syetan. Akhirnya, ketenangan dan ketenteraman pun sirna, yang berakibat
hancur luluhnya mahligai rumah tangga yang telah dibina.

Seyogyanya, pasangan suami-istri berupaya menjaga rumah mereka agar tidak dimasuki syetan-
syetan, sebagaimana mereka menjaganya agar tidak dimasuki pencuri. Keduanya harus
menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, daripada sibuk
bergelimang maksiat yang dapat membinasakannya. Hiasilah rumah dengan dzikrullah, ataupun
siaran tilawah Al Quran. Itulah sebaik-baik teman di rumah. Allah berfirman.

Ingatlah dengan dzikir kepada Allah, hati menjadi tenteram. [Ar Ra'du:28].

Seorang mukmin yang berakal jangan terkecoh, jika melihat rumah tangga yang penuh
bergelimang kemaksiatan dan kemungkaran, namun seolah-olah kedua pasangan suami-istri
(tersebut) hidup dengan rukun dan damai tanpa ada perselisihan. Dalam satu hadits yang
diriwayatkan Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah Ta'ala memberikan nikmat dunia kepada orang-orang yang dicintainya
maupun yang dibencinya; tetapi Dia tidak akan memberikan nikmat beragama, kecuali kepada
orang-orang yang dicintaiNya semata. (Musnad Imam Ahmad, 1/387. Al Mustadrak, 1/33.
Dishahihkan Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Allah sengaja memberi tangguh kepada para pelaku kemaksiatan, sebagaimana dalam
firmanNya,

Janganlah tertipu dengan perbuatan orang-orang kafir di muka bumi. Sesungguhnya itu hanyalah
kenikmatan sesaat, kemudian mereka akan dimasukkan ke neraka Jahannam. Itulah seburuk-
buruk tempat. [Al Imran : 196-197].

pg. 29
Sebagaimana firmanNya,

Dan orang-orang yang mendustakan ayat Kami, akan Kami beri tangguh mereka, tanpa mereka
ketahui. kemudian akan Aku berikan mereka tempo waktu. Sesungguhnya, tipu dayaKu sangat
kuat. [Al A'raf:182-183].

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya, Allah sengaja menangguhkan (hukuman) terhadap seorang yang zhalim, ketika
sampai masanya, maka Allah akan menghukumnya dengan tanpa memberi peluang lagi. (Shahih
Bukhari, hadits no. 4686.)

Orang yang mau memperhatikan rumah-rumah yang di dalamnya penuh kemaksiatan, akan
mendapati, bahwa tidak selamanya mereka hidup dengan damai. Pasti banyak diantara mereka
yang hidup dalam kegoncangan dan kegelisahan. Firman Allah Ta'ala,

Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka akan kami berikan kepada siapa-siapa yang kami
kehendaki. [Al Isra:18].

Jelaslah, bahwa tidak semua orang yang menginginkan kesenangan dunia akan mendapatkannya.

Keempat : Suami yang tidak penyabar. Mungkin, faktor ini terjadi karena kelalaiannya, ataupun
ketidaktahuannya watak dasar dan tabiat wanita yang Allah ciptakan. Wanita diciptakan dari
tulang rusuk yang bengkok, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Berbuat baiklah kalian dalam mempergauli wanita. Sesungguhnya, mereka tercipta dari tulang
rusuk. Dan sesungguhnya, tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling di atas. Jika
engkau berusaha untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Jika engkau
biarkan, maka dia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah kalian kepada mereka. (Shahih
Bukhari, hadits no. 5186 dan Shahih Muslim hadits no. 1468).

pg. 30
Dalam riwayat lain,

Sesungguhnya, wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, dan dia tidak akan mungkin
dapat tetap istiqomah dengan satu kondisi. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka
engkau akan dapati itu padanya, namun dia tetap akan bengkok. Jika engkau berusaha untuk
meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, mematahkannya berarti engkau
menceraikannya. ( Shahih Muslim, hadits no. 1468)

Hendaklah suami menyadari tabiat dasar dan fitrah wanita, agar dapat menyikapinya dengan
bijak dan sabar, karena ini adalah kodrat semua wanita. Dengan demikian, suami dapat
memaklumi kekeliruan-kekeliruan yang mereka perbuat dan tidak perlu diambil hati. Hasan
Basri rahimahullah berkata, "Seorang lelaki mulia tidak akan terlampau memperhitungkan segala
kekeliruan istrinya." (Tafsir Al Baghawi 4/364)

Kelima : Kemarahan yang meluap banyak menjadi penyebab suami terlampau cepat
menjatuhkan thalak. Bahkan, sebagaian suami ada yang memiliki tabiat jelek, (yaitu) selalu
mengancam akan menceraikan istri, jika melanggar apa yang dibencinya, walaupun hanya
sepele.

Seharusnya suami dapat menahan gejolak kemarahan, dan berupaya untuk diam. Jangan sampai
suami berbicara semaunya, hingga tanpa sadar mengeluarkan kata-kata "thalak". Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Bukanlah orang kuat itu yang dapat menjatuhkan lawan dalam berkelahi, (tetapi) orang yang
kuat ialah orang yang dapat meredam kejolak marah, ketika dia akan marah. (Shahih Al Bukhari,
hadits no. 611 dan Shahih Muslim, hadits no. 2609)

Dalam suatu riwayat, pernah seseorang datang menghadap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
sambil berkata,"Berilah aku nasihat," Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda,"Janganlah engkau marah," dia kembali bertanya dan Nabi masih terus
mengulangi,"Janganlah engkau marah." (Shahih Al Bukhari, hadits no. 6116)

pg. 31
Kiat Rasululullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Dalam Mengantisipasi Marah.

Berusaha untuk diam ketika akan marah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Jika engkau marah, maka diamlah. Jika engkau marah, maka diamlah. (Musnad Imam Ahmad
1/283-365)

Berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk.

Sulaiman Ibnu Sard Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, pernah dua orang saling mencerca satu
sama lainnya di hadapan Rasulullah. Sementara itu, kami sedang duduk di sisinya. Salah seorang
dari mereka menghina yang lainnya dengan marah, hingga merah mukanya. Maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Aku mengetahui suatu kalimat, jika diucapkan olehnya (laki-laki yang merah mukanya, red.),
maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata: Audzubillahi minasysyaithannirrajim
(aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk). (Shahih Al Bukhari, hadits no. 6115.)

Jika sedang marah, berusahalah untuk duduk. Jika ternyata masih marah, maka hendaklah
berbaring. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Jika salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika
masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring. (Musnad Imam Ahmad, 5/152.)

Berwudhu, sebab wudhu dapat memadamkan kemarahan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa


sallam bersabda.

Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syetan. Dan syetan tercipta dari api. Dan
sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air. Jika salah seorang diantara kalian marah,
maka berwudhulah. (Musnan Imam Ahmad, 4/226, Sunan Abu Daud, hadits no. 4784)

pg. 32
Keluar dari rumah guna menghidari pertengkaran.

Dalam hal ini pernah terjadi pada Ali, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari
Sahl Ibn Sa'ad, dia menceritakan, Rasulullah mendatangi rumah Fatimah, namun beliau tidak
menemukan Ali. Maka beliau bertanya kepada Fatimah,"Mana anak pamanmu (Ali)?Fathimah
menjawab,"Kami sedang bertengkar yang membuat aku marah, maka dia keluar dan tidak tidur
siang di rumahku. Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada seseorang,"Carilah
dimana dia! Kemudian orang tadi datang dan berkata,"Wahai Rasulullah, dia di masjid sedang
tidur, maka Rasulullah mendatanginya dalam keadaan berbaring, selendangnya terjatuh dari
bahunya dan badannya berdebu, maka Rasulullah mengusap debu darinya dan
berkata,"Bangunlah wahai Abu Turaab, bangunlah wahai Abu Turaab!" (Shahih Al Bukhari,
hadits no. 441, Shahih Muslim, hadits no. 2406)

Kedua suami-istri hendaklah berusaha untuk tidak memancing kemarahan pasangannya, apalagi
keduanya telah saling memahami tabiat masing-masing. Dalam hal ini, istri harus berupaya
menghindari hal-hal yang membuat suami emosi, dan akhirnya menjatuhkan thalak.

Keenam : Perilaku suami yang jelek acapkali membuat istri menuntut khulu' (minta diceraikan
dengan mengembalikan mahar yang diberikan suami). Banyak suami yang memiliki perangai
yang jelek, bermulut keji, selalu mengumpat, melaknat ataupun selalu memukul istri.

Hendaklah para suami takut kepada Allah dalam mempergauli istri. Seharusnya dia bersyukur
kepada Allah yang telah memberinya istri. Yang istri ini dapat meredam gejolak syahwatnya dan
menjadikannya iffah (menjaga kesucian diri), apalagi jika istri telah melahirkan anak-anaknya.
Bukankah hal ini sepatutnya menjadikannya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala ?
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berwasiat.

Berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri.

pg. 33
Dalam sebuah riwayat disebutkan:

Ingatlah, berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri. Sesungguhnya, mereka adalah
'awanin [1] (tawanan) di sisi kalian. (Sunan At Tirmidzi hadits no. 1163, dia berkata,Hasan
shahih.)

Rasulullah bersabda,Janganlah kalian pukul para istri kalian, maka Umar datang kepada
Rasulullah dan berkata,"Zu'irna an nisa (para istri telah berani menentang para suami), maka
Rasulullah memperbolehkan para suami untuk memukul istrinya. Setelah itu, datanglah para
wanita ke rumah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengadu perlakuan suami mereka,
maka Rasulullah berkata,Banyak para wanita datang ke rumah keluarga Muhammad
mengadukan perlakuan suami mereka. Sesungguhnya, para suami yang berbuat itu (memukul
istri) bukanlah orang-orang yang terbaik diantara kalian. (Sunan Abu Dawud)

Beliau juga bersabda.

Janganlah salah seorang kalian memukul istrinya seperti memukul hamba, kemudian dia
mencampurinya di penghujung hari. (Shahih Al Bukhari hadits no. 5204)

Dalam riwayat lain disebutkan.

Kenapa salah seorang kalian memukul istrinya sebagaimana memukul hamba, kemudian
menyetubuhinya di penghujung hari? (Shahih Al Bukhari hadits no. 4942)

Ketujuh : Suami ingin menguasai harta istri, atau memaksa istri agar memberikan harta yang
dimilikinya itu kepadanya. Kasus ini banyak menimpa para istri yang memiliki pekerjaan.
Biasanya akan merusak hubungan antara keduanya, dan tidak sedikit berakhir dengan perceraian.

Allah berfirman.

pg. 34
Janganlah kalian menahan mereka (para istri) (untuk dapat menikah) agar kalian dapat membawa
sebagian dari harta yang mereka berikan kepada kalian, kecuali jika mereka melakukan
perbuatan keji yang nyata. [An Nisa:19].

Tidak halal bagi suami mengambil harta istri, kecuali dengan kerelaannya atau jika istri berbuat
nuzus. Ketika seorang pria menikahi wanita yang berharta, jika menginginkan harta istrinya,
maka dituntut darinya untuk berlemah-lembut. Cara ini lebih efektif baginya untuk mendapatkan
keinginannya. Cara lain yang diizinkan untuknya, yaitu dengan mengajukan persyaratan, bahwa
istri harus membantunya dengan memberikan sebagian dari hasil gajinya. Dan hal ini sah-sah
saja; apalagi dengan bekerjanya sang istri, akan mengurangi sedikit banyak perhatian dan
kewajibannya terhadap suami. Demikian ini tidak dapat diingkari, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kaum muslimin wajib menepati janji (kesepakatan) yang mereka perbuat, kecuali kesepakatan
yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan yang haram. (Sunan At Tirmidzi hadits
no. 1352)

Berapa banyak rumah tangga hancur berantakan ketika istri tidak memberikan apa yang
diharapkan suami. Para istri hendaklah memahami hal ini, demi menjaga kelangsungan rumah
tangga dan demi kemaslahatan anak-anak agar tidak terlantar. Allah berfirman,


(Sesungguhnya berdamai itu lebih baik). Perbuatan wanita memberikan sebagian harta kepada
suami adalah merupakan upaya untuk berdamai. Semoga Allah akan memberikan kepadanya
ganjaran terbaik. Allah berfirman.

Barangsiapa yang memaafkan dan berbuat islah, maka ganjaran pahalanya di sisi Allah. [Asy
Syura:40]

Kedelapan : Sikap acuh suami terhadap istri.

Banyak para suami tidak memberikan perhatian yang cukup dan lebih senang tidur di luar rumah
daripada berkumpul dan berkomunikasi dengan istri. Apalagi, terkadang kesibukannya di luar
rumah dalam hal-hal yang sepele dan tidak bermanfaat.

Seorang suami dituntut untuk dapat memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada istri.
Tidak dibenarkan terus-menerus meninggalkan istri, walaupun dengan dalih sibuk mengerjakan

pg. 35
ibadah-ibadah, seperti puasa sunnah maupun shalat malam. Bukankah Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda.

Jasadmu memiliki hak (beristirahat), matamu memiliki hak (untuk tidur), dan istrimu memiliki
hak atas dirimu. ( Shahih Al Bukhari hadits no. 5199)

Pernah seorang wanita mendatangi Umar Ibn Al Khathab untuk mengadu,Wahai, Amirul
Mukminin. Suamiku seorang yang selalu berpuasa dan shalat malam. Aku sebenarnya enggan
melaporkannya kepadamu karena sikapnya yang selalu melaksanakan ibadah-ibadah sunnah1.
Umar menjawab,Alangkah bagusnya suamimu, namun wanita itu masih mengulangi
perkataannya, dan Umar menjawab jawaban yang sama. Akhirnya, Ka'ab Al Asadi
berkata,Wahai, Amirul Mukminin. Wanita ini sebenarnya mengadukan sikap suaminya yang
tidak peduli lagi padanya, maka Umar berkata,Sebagaimana yang engkau pahami dari wanita
ini, maka engkau kuserahkan untuk mengadili perkara ini. Akhirnya Ka'ab memanggil suami
wanita itu. Ketika (suami wanita itu) datang, Ka'ab berkata kepadanya,Istrimu mengadukan
engkau kepada Amirul Mukminin. Dia bertanya,Karena apa? Apakah karena tidak kuberi
makan ataupun minum? Ka'ab menjawab,Tidak.

Akhirnya wanita itu berkata:

Wahai hakim yang bijaksana,

Masjid telah melalaikan suamiku dari tempat tidurku

Beribadah membuatnya tidak membutuhkan ranjangku

Adililah perkara ini, wahai Ka'ab dan jangan kau tolak

Siang dan malam tidak pernah tidur

Dalam hal mempergauli wanita, aku tidak memujinya

Kemudian suaminya menjawab ;

pg. 36
Aku Zuhud tidak mendatangi ranjang dan biliknya

Karena aku telah dibuat sibuk dan binggung dengan apa yang telah turun

Yaitu surat An Nahl dan tujuh surat yang panjang

Dan Kitab Allah membuat hatiku takut dan risau

Setelah mendengar ini, Ka'ab berkata:

Dia memiliki hak atasmu, wahai lelaki

Jatahnya empat hari bagi orang yang berakal

Berikah hak itu, dan tinggalkan cela yang ada padamu ( Tafsir Al Qurtubi 5/11)

Kesembilan : Sepele dengan lafazh thalak.

Sebagian suami, sering terlihat begitu ringannya mengeluarkan kata-kata thalak kepada
istrinya. Terkadang sambil bergurau meluncur dari mulutnya ucapan talak. Padahal Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

Tiga macam perkara akan tetap terjadi, walaupun diucapkan dengan sungguh-sungguh ataupun
dengan bergurau, yaitu: nikah, talak, dan ruju'.( Sunan At Tirmidzi hadits no. 1184)

Selayaknya, seorang suami menjaga lidahnya. Tidak menyepelekan lafazh thalak, yang tanpa
disadarinya dapat meruntuhkan bangunan rumah tangga, hingga akhirnya dapat mendatangkan
penyesalan yang berkepanjangan, setelah nasi menjadi bubur.

Kesepuluh : Ila' (sumpah suami) untuk tidak mencampuri istrinya selamanya, ataupun lebih dari
empat bulan.

pg. 37
Demikian Ini merupakan bentuk kezhaliman suami terhadap istri. Pada kondisi seperti ini, istri
berhak menuntut perceraian setelah lewat empat bulan. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman.

Bagi suami-suami yang bersumpah tidak mencampuri istrinya, maka istri menunggu selama
empat bulan. Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Penyayang. Jika dia berniat untuk menceraikannya, sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Mengetahui. [Al Baqarah: 226-227].

Maka hendaknya para suami tidak menzhalimi hak-hak istri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.

Takutlah kalian berbuat zhalim. Sesungguhnya, kezhaliman itu kegelapan pada hari kiamat.
( Shahih Muslim hadits no. 2578)

Jika masa empat bulan akan berakhir, seharusnya dia ruju' kepada istrinya, sebagaimana
dianjurkan Allah dalam firmanNya: Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang (Al Baqarah:226). Jika tidak ruju, maka
wajib atasnya menceraikan istrinya, jika si istri menuntutnya. Namun, jika istri sabar (tidak minta
cerai, walaupun telah lewat empat bulan), demi kepentingan anak ataupun hal lainnya, maka
boleh saja selama dirinya yakin terjaga dari perbuatan haram. Insya Allah dia (istri) akan
mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah, dengan harapan semoga suaminya
kelak mendapat petunjuk dari Allah. Allah berfirman.

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan dimudahkan baginya segala urusannya. [Ath
Thalaq:4].

Kesebelas : Merasa tidak senang karena istri melahirkan anak perempuan. Karena faktor
kejahilan, sebagian suami mengancam akan menceraikan istrinya, jika mendapat bayi
perempuan.

Sebenarnya wajib baginya beriman dengan ketetapan Allah dan takdirNya. Bayi wanita ataupun
pria itu lahir atas kehendakNya semata. Adapun manusia, tidak bisa memilih. Allah berfirman.

pg. 38
Dan Rabb-mu yang mencipta apa-apa yang dikehendakiNya dan memilih, tidak ada hak manusia
untuk memilih. [Al Qhasas: 68].

Allah juga berfirman.

Dia memberikan siapa-siapa yang dikehendakiNya bayi perempuan, dan memberikan siapa-siapa
yang dikehendakiNya bayi laki-laki, Dia juga yang menjadikan siapa-siapa yang
dikehendakiNya mandul. [Asy Syura:49-50].

Keduabelas : Muncul perasaan tidak suka terhadap istri, karena selalu membandingkan istrinya
dengan wanita lain yang lebih baik dari istrinya dalam agama, akhlak, kecantikan, ilmu,
kecerdasan dan sebagainya. Akhirnya, suami menjauhi istrinya tanpa ada sebab syar'i, seperti:
istri meyeleweng ataupun menentang suami.

Seharusnya suami bersabar agar dia beruntung mendapatkan janji Allah.

Dan bergaullah kepada mereka dengan baik. Bisa jadi kalian membenci sesuatu, namun Allah
menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak. [An Nisa:19].

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibn Abbas berkata,Suami berlemah-lembut terhadap istrinya, maka
Allah memberikan karunia anak-anak yang baik-baik.

Ibnu Katsir berkata,Mungkin sikap sabar kalian dengan tidak menceraikan istri yang tidak
kalian sukai, akan membuahkan kebahagian bagi kalian di dunia dan akhirat.

Imam Asy Syaukani berkata,Semoga sikap benci kalian terhadap istri, akan digantikan Allah
dengan sikap cinta yang akan mendatangkan kebaikan yang banyak, hubungan yang mesra
ataupun rezeki anak-anak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

pg. 39
(Janganlah seseorang membenci pasangannya. Jika ia benci kepada salah satu sikap istrinya,
pasti dalam hal lain ia akan rela). ( Shahih Muslim hadits no. 149)

Diriwayatkan dari Umar Radhiyallahu 'anhu, dia berkata,Sangat sedikit rumah tangga yang
dibangun di atas cinta. Namun, kebanyakan manusia bergaul (menikahi) pasangannya dengan
dasar Islam, menyambung nasab ataupun untuk berbuat ihsan. ( Al Ma'rifah Wa At Tarikh,
karya al-Fasawi 1/392)

Ibnul Arabi menyebutkan dengan sanadnya dan berkata,Ada seorang syaikh yang dikenal
berilmu dan memiliki kedudukan, bernama Abu Muhammad Ibn Abi Zaid . Istrinya berperangai
jelek, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri dan selalu menyakiti suaminya dengan
lidahnya. Orang-orang banyak yang heran dan mencela sikap sabarnya terhadap sang istri. Jika
ditanya perihal sikap sabarnya terhadap istrinya, Abu Muhammad selalu berkata,Aku telah
diberikan Allah berbagai macam nikmat, berupa: kesehatan, ilmu dan budak-budak yang
kumiliki. Mungkin sikap jelek istriku terhdapku disebabkan hukuman Allah kepadaku, karena
dosa-dosaku. Aku takut, jika dia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat dari ujian
perangai istriku yang jelek. ( Ahkam Al Quran 1/363)

Selayaknya, ini menjadi pelajaran berharga bagi para suami. Tidaklah menjadi masalah, jika ia
ingin menikahi wanita lain sebagai tambahan. Allah berfirman.

Nikahilah wanita-wanita yang baik-baik, dua, tiga ataupun empat. [An Nisa:3].

Ketigabelas : Kecenderungan suami kepada salah satu istrinya -jika memiliki lebih dari satu-
dengan alasan takut berbuat dosa ; sehingga ia terpaksa menceraikan istri yang kurang
disukainya.

Dalam kondisi seperti ini, selayaknya istri yang akan diceraikan berdamai dengan suaminya,
sebagaimana firman Allah.

pg. 40
Jika seorang istri takut diceraikan oleh suaminya atau dijauhkan, maka tidak mengapa jika
keduanya melaksanakan as sulhu (kesepakatan), dan berdamai itu lebih baik. [An Nisa:128] .

Dalam menafsirkan ayat ini, 'Aisyah berkata, Seorang suami melihat kekurangan pada istri yang
tidak disukainya, seperti: usia yang telah tua dan sebab lainnya. Maka, ia berniat
menceraikannya, namun istri memohon agar suami tidak menceraikannya, dan siap menerima
apapun perlakuan suami terhadapnya. Demikian inilah solusi menghindari perceraian, jika
keduanya sepakat.

Ibn Abbas meriwayatkan, Saudah takut Rasulullah menceraikannya (karena ia telah tua).
Kemudian ia berkata,Wahai Rasulullah, jangan ceraikan aku. Aku siap memberikan giliranku
untuk Aisyah, maka Rasul menerima usulan itu dan turunlah ayat: Tidak mengapa jika
keduanya membuat kesepakatan, dan berdamai itu lebih baik. ( Sunan At Tirmidzi, hadits no
3040)

Rafi Ibn Khadij menceritakan, bahwa ia memiliki istri yang telah tua. Kemudian ia menikahi
wanita lain yang masih muda. Akhirnya Rafi lebih cenderung kepada istri yang muda. Melihat
perlakuan Rafi', maka istrinya yang telah tua protes. Kemudian Rafi menjatuhkan thalak satu.
Ketika masa iddahnya akan berakhir, Rafi berkata kepadanya,Jika engkau mau, aku akan ruju'
kepadamu; dengan syarat, engkau rela (dengan) perlakuanku padamu. Jika tidak, (maka) aku
akan membiarkan hingga iddahmu selesai, dan tidak ruju' padamu, maka istrinya
menjawab,Ruju'lah, aku akan berusaha sabar dengan sikapmu. Setelah Rafi ruju', ia kembali
protes dengan perlakuan Rafi' kepadanya, maka Rafi memutuskan untuk menceraikannya. Rafi'
berkata,Itulah makna as sulhu yang telah diturunkan Allah dalam firmanNya: Jika seorang istri
takut diceraikan oleh suaminya atau dijauhkan, maka tidak mengapa jika keduanya
melaksanakan as sulhu (kesepakatan), dan berdamai itu lebih baik. ( Al Mustadrak 2/308 dan
dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)

Jelaslah maksud pengertian sulhu dalam ayat, yaitu istri siap menerima apapun yang diberikan
suami kepadanya, walaupun harus dengan mengurangi sebagian haknya, berupa kewajiban suami
bermalam padanya ataupun nafkah. Hal ini demi menghindari perceraian, dan dia tetap menjadi
istri. Karena hal ini akan lebih baik baginya, dibandingkan hidup tanpa suami. Apalagi jika dia
memiliki anak-anak dari suaminya, atupun dia telah tua dan takut terhadap resiko perceraian.
Ingatlah firman Allah: Dan berdamai itu lebih baik. [An Nisa:128].

pg. 41
Keempatbelas : Penyakit berkepanjangan yang menimpa suami. Terkadang hal ini menjadi
penyebab istri menuntut cerai.

Andai saja istri mau bersabar dan tetap merawatnya dengan mengharap balasan dari Allah, hal
itu akan lebih baik baginya, sebagaimana firman Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi ganjaran yang tak terhingga. [Az
Zumar:10]

Akan tetapi, jika dirinya takut akan tergelincir ke dalam perbuatan haram dengan menyeleweng,
disebabkan sang suami tidak lagi dapat melayani kebutuhan biologisnya, (maka) dalam kondisi
seperti ini, tidak mengapa dia menuntut agar diceraikan demi menjaga agama dan kesucian
dirinya; memelihara perkara ini merupakan sesuatu yang wajib.

Kelimabelas : Sikap curiga suami terhadap istri, akibat pengaruh bisikan syetan. Seharusnya dia
berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk, dan tidak berperasangka buruk. Allah
berfirman.

Wahai orang-orang beriman, jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk itu
adalah dosa. [Al Hujurat:12].

Suami harus sadar, bahwa perkara yang paling diupayakan syetan ialah memisahkan antara dua
suami istri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda.

Sesungguhnya Iblis meletakkan kerajaannya di atas air, kemudian dia mengurus para tentaranya.
Yang paling tinggi kedudukannya adalah syetan yang paling besar fitnahnya terhadap manusia.
Salah satu dari mereka berkata kepada Iblis,Aku telah berbuat begini dan begini, Iblis
menjawab,Engkau belum berbuat apa-apa, kemudian datang syetan yang lain dan
berkata,Tidaklah aku meninggalkan seseorang yang aku goda, hingga aku berhasil memisahkan
dia dengan istrinya, maka Iblis mendudukkannya di dekatnya dan berkata,Engkau sebaik-baik
tentaraku. ( Shahih Muslim hadits no. 2813)

pg. 42
Keenambelas : Suami berada di bawah kekuasan istri. Pindahnya tampuk kepemimpinan rumah
tangga kepada sang istri, yang semestinya berada di tanggan suami. Padahal Allah berfirman.

Lelaki adalah pemimpin bagi wanita dengan kelebihan yang Allah limpahkan kepada sebagian
dari mereka dan dengan sebab nafkah yang mereka berikan (kepada istri-istri). [An Nisa:34]

Ini bisa mutlak terjadi, dikarenakan kelemahan pribadi suami atau anggapannya yang keliru,
bahwa sikapnya itu sebagai wujud penghormatan kepada istrinya. Sehingga ketika ia sadar dan
ingin mengembalikan kepemimpinan itu kepadanya, ternyata ia tidak sanggup. Sehingga,
akhirnya berujung pada perceraian.

Semenjak menikah, seorang suami harus benar-benar sadar, bahwa kepemimpinan rumah tangga
wajib berada di tanggannya. Jangan sampai rasa cinta yang berlebihan atau rasa bangga dapat
menikahi wanita tersebut, akhirnya membuat dia lemah di hadapan istri dan berujung dengan
penyesalan tak berguna

Ketujuhbelas : Suami datang ke rumah istri pada malam hari setelah lama bepergian tanpa
pemberitahuan sebelumnya. Hal ini terkadang membuatnya melihat hal-hal yang dibencinya,
karena istri dalam keadaan tidak siap menyambutnya. Rasulullah bersabda.

Jika kalian bepergian lama, maka janganlah kalian mendatangi rumah istri kalian pada malam
hari. ( Shahih Al Bukhari hadis no. 5244)

Dalam riwayat lain disebutkan.

Agar para istri yang lama ditinggalkan berhias dengan menyisir rambut dan mencukur bulu
kemaluannya.( Shahih Muslim hadits no. 715)

pg. 43
Selayaknya suami mendatangi rumah istrinya pada siang hari ketika ia pulang dari bepergian
dalam masa yang lama, dan dengan memberitahukan terlebih dahulu perihal kepulangannya, istri
agar tidak terkejut.

Kedelapanbelas : Rumah tangga yang dibina atas dasar surat-menyurat, ataupun saling
berkomunikasi melalui telepon -yang popular dengan istilah pacaran sebelum menikah.

Mahligai rumah tangga yang dibanggun di atas pondasi kropos seperti ini, biasanya akan
berujung dengan kehancuran. Allah berfirman.

Apakah sama orang yang membangun pondasinya di atas taqwa dan keridhaan Allah dengan
orang yang membangun pondasinya di atas jurang neraka, yang akhirnya membuatnya
terperosok ke neraka Jahannam; sesungguhnya Allah tidak akan menunjuki orang yang berbuat
kezhaliman. [At Taubah:109]

Ibn Sa'di rahimahullah berkata,Sesungguhnya suatu perbuatan yang dikerjakan dengan ikhlas
dan mengikuti sunnah, itulah makna dibangun di atas pondasi taqwa yang akan membuahkan
surga penuh kenikmatan. Adapun perbuatan yang dibangun di atas niat buruk, bid'ah dan
kesesatan, itulah pondasi yang dibangun di tepi jurang neraka, yang membuatnya terperosok ke
dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak akan membimbing orang-orang yang zhalim. ( Tafsir
Ibn Sa'di 2/ 289)

Semestinya lelaki yang hendak melamar wanita datang kepada walinya, dan mendatangi rumah
dari pintunya, sebagaimana firman Allah.

Namun kebajikan itu adalah orang yang bertaqwa, dan masukilah rumah-rumah melaui pintunya.
[Al Baqarah: 189]

Ibn Sa'di berkata, Dari ayat ini dapat dipetik manfaat, bahwa selayaknya manusia masuk dalam
berbagai macam urusan dari jalan yang paling mudah, dekat yang akan mengantarkannya sampai
kepada tujuan. ( Tafsir Ibn Sa'di)

pg. 44
Para wanita jangan sampai terjerumus kepada hubungan haram (pacaran) yang menipu; agar
tidak mengundang murka Rabb-nya yang akan mendatangkan kegagalan dalam hidupnya.

Kesembilanbelas : Ketika proses lamaran, suami tidak melihat calon istri. Terkadang dalam
benaknya, suami berkhayal mengenai sosok istri yang ideal. Namun, selesai akad -ketika masuk
ke kamar- dia terkejut melihat istri yang tidak seideal dalam alam khayalnya. Biasanya, ini akan
membuatnya menjauh dari sang istri.

Karena itu, seharusnya calon suami melihat terlebih dahulu calon wanita yang akan dilamarnya.
Pihak keluarga wanita jangan sampai menghalanginya, karena hal ini merupakan perintah
Rasulullah dan menjadi salah satu faktor yang dapat melanggengkan perkawinan.

Dari Mughirah Ibn Syu'bah, bahwa ia melamar seorang wanita, maka Rasulullah berkata
kepadanya.

Lihatlah kepadanya, karena hal itu akan melangengkan hubungan kalian berdua. ( Sunan At
Tirmidzi hadits no 1087)

Keduapuluh :Telat menikah. Para pakar berpendapat, bahwa terlambat menikah akan
membuahkan hubungan yang tidak bahagia dan harmonis sebagaimana yang diimpikannya.
Penyebabnya, karena keduanya telah banyak mengecap berbagai macam nilai-nilai ataupun
norma-norma lingkungan dengan beragam coraknya. Hal ini membuatnya sulit untuk
menyesuaikan tabiatnya dengan tabiat pasangannya. Hingga akhirnya banyak permasalahan yang
muncul akibat benturan dua watak yang berbeda yang sulit dikompromikan. Survei maupun
fakta yang ditemukan para pakar di lapangan membuktikan, bahwa hubungan perkawinan
pasangan telat nikah akan segera cerai-berai dan bangunan rumah tangga yang mereka bina akan
segera runtuh.

Oleh karena itu, selayaknya para pemuda bersegera menikah dan merealisasikannya. Kami
ingatkan sebuah hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

pg. 45
Tiga macam manusia wajib bagi Allah membantunya; seorang mujahid di jalan Allah, budak
yang ingin menebus diri untuk dapat merdeka dan seorang yang akan menikah untuk iffah.
( Sunan At Tirmidzi hadits no 1655 )

Hadits ini memberikan motivasi kepada para pemuda, bahwa Allah berjanji akan menolongnya
dan memudahkan urusannya, jika dia berazzam untuk menikah. Sehingga tidak ada lagi alasan
baginya, kecuali mulai berusaha untuk merealisasikannya dan bertawakkal kepada Allah.

Hendaklah diketahui, bahwa menikah di usia dini akan memudahkan pasagan suami istri untuk
dapat saling berinteraksi dan memahami tabiat masing-masing. Terlebih lagi nikah dini sangat
efektif untuk menjaga kesucian umat, berdampak positif untuk kesehatan dan kedewasan
berfikir, sebagaimana realita telah terbukti. Karena itulah Islam menganjurkannya.

Sebaliknya kaum wanita juga jangan telat menikah. Nikah dini lebih mendukung kebahagian
rumah tangga, sebagaimana disebutkan di atas. Jika datang kepadanya pria yang sekufu' (setara),
maka wajib baginya untuk menerima dan tidak menolak, walaupun dengan alasan studi dan
sebagainya. Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang datang. Bias jadi, tidak akan pernah lagi
datang kepadanya lelaki yang sekufu atau malah tidak akan datang seorangpun yang
melamarnya.

Jika ternyata masih ingin sekolah, hendaklah dia membuat perjanjian terlebih dahulu kepada
suaminya, kecuali jika ternyata persyaratan ini akan menjadi sandungan dalam kehidupan rumah
tangga. Jika ini terjadi, maka wajib baginya mendahulukan perkara yang dapat mendatangkan
ketentraman dan mensucikan dirinya dengan memilih menikah. Hendaklah dia mengambil
pelajaran dari para wanita yang telat menikah. Dikarenakan sebab-sebab di atas, akhirnya mereka
banyak kehilangan kesempatan dan pahala.

(Syaikh Dr. Muhammad Nasir Al Humaid, staf pengajar di Jamiah Islamiyah Al Madinah.)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VII/1424H/2003M Diterbitkan Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta]

pg. 46
:::Tanya Jawab Masalah Rumah Tangga:::

Jk suami sudah dari awalnya tidak taat ( istri juga sebenernya, justeru memutuskan utk menikah
krn ingin dibimbing , ternyata suami jauh dr apa yg diharapkan, sedari awal sudah tdk taat, baru
ketauan setelah nikah).

Mencoba bertahan membangun rumah tangga selama bbrp tahun ini, tetapi tidak ada perubahan.
Malah semakin menjadi, misalnya suka mengurangi jatah nafkah dan tidak membimbing istri
utk dzikrullah, malah dia yg harus dibimbing krn sering tidak sholat.

Apakah jika memutuskan utk bercerai menjadi hal yang tepat?

Yang menginginkan itu sang istri tetapi suami tidak ingin.

Apakah dg menginginkan keputusan ini, isteri dianggap tidak bersabar atas segala perilaku suami
?

Terimakasih, Jazakallahu khoiron.

Jawaban :

Suami yang tidak menunaikan kewajibannya sebagai suami seperti membimbing istri,
memperlakukan istri dengan baik, menafkahi istri dll, maka dalam hal ini istri berhak menuntut
cerai. Apalagi suami tidak shalat. Ketika segala usaha telah dilakukan untuk menyadarkan suami
namun tidak berhasil maka perceraian bisa menjadi altermatif terakhir dan hal ini bukan
termasuk tidak bersabar atas kelakuan suami.

Allahu A'lam

Aslmkm..Ustadz, afwan mw bertanya..apakah Rasulullah prnh bertengkar dg Khadijah atau


Aisyah atau istri2 yg lain? dan bagaimana Rasulullah menanganinya? kenapa pasangan yg sama2
saling mengerti agama dpt bertengkar bhkn sekelas Ali dan Fatimah? apakah yg menyebabkan
mereka bertengkar? Hal2 apa saja dlm kehidupan nyata dan skrg dlm rumah tangga Ustadz yg
membuat bertengkar dg pasangan?

pg. 47
Jawaban :

Wa'alaikummussalaam warahmatullah wabarakaatuh

Rasulullah SAW tak pernah bertengkar secara emosional dengan istri-istrinya. Saat Rasulullah
SAW marah kepada Aisyah, beliau mengatakan, Tutuplah matamu! Kemudian Aisyah
menutup matanya dengan perasaan cemas karena dimarahi oleh Rasulullah SAW.

Kemudian Nabi berkata, Mendekatlah! Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah memeluk Aisyah
sambil berkata, Khumairahku (panggilan Aisyah karena merah pipinya), telah pergi marahku
setelah memelukmu.

Bukankah Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kaum laki-laki untuk senantiasa berbuat
lembut kepada perempuan? Ajaran ini bahkan dipesankan secara khusus, berkaitan kondisi
psikologis perempuan yang tercipta feminim, sehingga lebih emosional dan perasa. Berbuat
baiklah kepada wanita, karena sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan
sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Kalau kamu berusaha
meluruskannya, maka ia akan patah. (Riwayat Bukhari)

Cara Rasulullah SAW mengalah pun diperlihatkan saat beliau begitu marah atas tuntutan istri-
istri beliau yang sudah berlebihan. Rasulullah SAW memilih untuk menyendiri, menghindari
semua istri-istrinya selama sebulan. Hukuman diabaikan yang diterima oleh istr-istri Rasulullah
SAW ini ternyata jauh lebih efektif daripada hukuman tindakan secara fisik.

Jadi, sama sekali bukan hal tabu jika suami memilih untuk mengalah demi menghentikan
pertengkaran emosional. Mengalah di sini tak ada hubungannya dengan kewibawaan. Salah jika
para suami merasa malu untuk mengalah dengan dalih takut kehilangan kewibawaan. Suami
memang tetap harus tegas dan berwibawa, tetapi tidak sewenang-wenang. Ada saatnya, suami
lebih baik mengalah agar tidak memperpanjang masalah.

Suami harus mengalah jika dalam pertengkaran dilihatnya istri penuh dengan emosi. Emosi sang
istri bukan karena ingin merasa lebih dari suami, namun sebatas dikarenakan

pg. 48
ketidakmengertiannya terhadap permasalahan. Jadi, suami mengalah justru karena ia lebih cerdas
dan matang daripada istrinya.

Tidak demikian halnya jika istri masih memiliki karakter meremehkan dan merendahkan suami,
ingin mendominasi dan menyinggung harga diri suami. Bila kondisinya demikian, maka bukan
saatnya suami untuk mengalah, namun saatnya untuk bertindak lebih tegas, dan jika perlu
dengan memberi hukuman nusyuz seperti yang diajarkan dalam al-Quran, yaitu dengan
meninggalkan dan mengabaikan istri selama beberapa waktu.

Kalaupun suami merasa istri harus diperingatkan dengan tegas, itu pun tetap harus dihindarkan
cara kekerasan fisik, kecuali sudah menjadi alternatif paling akhir.

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (meninggalkan kewajiban sebagi istri), maka
nasihatilah, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. (An-
Nisaa[4]: 34).

Kehidupan harmonis Ali dan Fatimah bukannya tanpa mengalami perselisihan. Suatu ketika, Ali
pernah berbuat kasar kepada Fatimah. Fatimah kemudian mengancam Ali, "Demi Allah, aku
akan mengadukanmu kepada Rasulullah Saw!" Fatimah pun pergi kepada Nabi Saw. dan Ali
mengikutinya.

Sesampainya di hadapan Rasul, Fatimah mengeluhkan tentang kekasaran Ali. Nabi Saw. pun
menyabarkannya, "Wahai putriku, dengarkanlah, pasang telinga, dan pahami bahwa tidak ada
kepandaian sedikit pun bagi wanita yang tidak membalas kasih sayang suaminya ketika dia
tenang."

Ali berkata, "Kalau begitu, aku akan menahan diri dari yang telah kulakukan."

Fatimah pun berkata, "Demi Allah, aku tidak akan berbuat apapun yang tidak kamu sukai."

pg. 49
Disebutkan juga dalam riwayat lain bahwa pernah terjadi pertengkaran antara Ali dan Fatimah.
Lalu Rasulullah Saw. datang dan Ali menyediakan tempat untuk Rasulullah Saw. berbaring.
Kemudian Fatimah datang dan berbaring di samping Nabi Saw. Ali pun berbaring di sisi lainnya.
Rasulullah Saw. mengambil tangan Ali dan meletakkannya di atas perut beliau, lalu beliau
mengambil tangan Fatimah dan meletakkannya di atas perut beliau. Selanjutnya beliau
mendamaikan keduanya sehingga rukun kembali, Setelah itu barulah beliau keluar. Ada orang
yang melihat kejadian itu lalu berkata kepada Rasulullah Saw., "Tadi engkau masuk dalam
keadaan demikian (murung), lalu engkau keluar dalam keadaan berbahagia di wajahmu." Ia
menjawab, "Apa yang menahanku dari kebahagiaan, jika aku dapat mendamaikan kedua orang
yang paling aku cintai?"

Istri mana yang tidak mengharapkan belaian mesra dari seorang suami. Namun bagi Fatimah,
saat-saat berjauhan dengan suami adalah satu kesempatan berdampingan dengan Allah Swt.
untuk mencari kasih-Nya dalam ibadah-ibadah yang ia lakukan. Sepanjang kepergian Ali, hanya
anak-anak yang masih kecil yang menjadi temannya. Nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya
(Hassan, Hussein, Muhsin, Zainab, dan Umi Kalsum) diusahakannya sendiri. Untuk
mendapatkan air, dia berjalan jauh dan menimba dari sumur yang 40 hasta dalamnya di tengah
sinar matahari padang pasir yang terik. Kadangkala harus menahan lapar sepanjang hari. Bahkan
ia sering juga berpuasa yang membuat tubuhnya kurus hingga menampakkan tulang di dadanya.

Pernah suatu hari, ketika ia sedang asyik bekerja menggiling gandum, Rasulullah datang
berkunjung ke rumahnya. Fatimah yang amat keletihan ketika itu meceritakan problem rumah
tangganya. Ia bercerita betapa dirinya telah bekerja keras, menyaring tepung, mengangkat air,
memasak, serta melayani kebutuhan anak-anak. Ia berharap agar Rasulullah dapat
menyampaikan kepada Ali agar Ali mencarikannya seorang pembantu.

Rasulullah Saw. merasa kasihan terhadap permasalahan rumah tangga anakanya itu. Namun
beliau sangat tahu, sesungguhnya Allah memang menghendaki kesusahan bagi hamba-Nya
sewaktu di dunia untuk memudahkannya di akhirat. Mereka yang rela bersusah payah dengan
ujian di dunia demi mengharapkan keridhaan-Nya adalah orang yang akan mendapat tempat di
sisi-Nya. Lalu dibujuknya Fatimah sambil memberi harapan dengan janji-janji Allah. Beliau
mengajarkan zikir, tahmid, dan takbir yang apabila diamalkan, segala permasalahan dan beban
hidup akan terasa ringan. Ketaatannya kepada Ali akan menyebabkan Allah Swt. mengangkat
derajatnya. Sejak saat itu, Fatimah tidak pernah mengeluh dengan kekurangan dan kemiskinan
keluarganya. Ia juga tidak meminta sesuatu yang dapat menyusahkan suaminya.

pg. 50
Dalam kondisi itu, kemiskinan tidak menghilangkan semangat Fatimah untuk selalu bersedekah.
Ia tidak sanggup kenyang sendiri apabila ada orang lain yang kelaparan. Ia tidak rela hidup
senang di kala orang lain menderita. Bahkan ia tidak pernah membiarkan pengemis melangkah
dari pintu rumahnya tanpa memberi sesuatu, meskipun dirinya sendiri sering kelaparan.

:::Tuntunan Seksualitas Islami:::

Sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, Islam tidak pernah memberangus hasrat seksual. Islam
memberikan panduan lengkap agar seks bisa tetap dinikmati seorang muslim tanpa harus
kehilangan ritme ibadahnya.

Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim menurut Islam termasuk salah
satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandung nilai pahala yang sangat besar.
Karena jima dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan
hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam.

Jima Itu Ibadah

Selain itu jima yang halal juga merupakan ibadah yang berpahala besar. Rasulullah SAW
bersabda, Dalam kemaluanmu itu ada sedekah. Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah,
apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?. Rasulullah menjawab, Bukankah
jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya,
bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala. (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu
Khuzaimah)

pg. 51
Karena bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga
harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan ala
Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan
keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan
berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah Ta'ala.

Ulama salaf mengajarkan, Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai
tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan;
Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit; dan jangan sampai meninggalkan
hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.

Wajahnya Muram

Muhammad bin Zakariya menambahkan, Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu
lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, syarafnya akan menegang dan pembuluh
darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan jima dengan
niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.

Sedangkan di antara manfaat bersetubuh dalam pernikahan, menurut Ibnu Qayyim, adalah
terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Jima juga
bermanfaat terhadap kesehatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang
dihasilkannya.

Orgasme, Faragh

Puncak kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh. Meski tidak semua
hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil
hukumnya wajib. Yang dimaksud faragh yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh
kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai
tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam

pg. 52
jima, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih
besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar
(tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan
pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.

Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam jima adalah kepuasan yang berada dalam batas
kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan
untuk melakukan praktik-praktik seks menyimpang, seperti sodomi (liwath) yang secara medis
telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktivitas seks (mashokisme), baik
secara fisik maupun mental, yang belakangan kerap terjadi.

Maka, sesuai dengan kaidah ushul fiqih ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun
(sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan
mempelajari unsur-unsur yang bisa mengantarkan jima kepada faragh juga hukumnya wajib.

Bagi kaum laki-laki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima sudah mencapai
fase ejakulasi atau keluar mani. Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa yang
kebanyakan bertipe terlambat panas, atau bahkan tidak mudah panas. Untuk itulah
diperlukan berbagai strategi mempercepatnya.

Foreplay: Ciuman

Salah satu unsur terpenting dari strategi pencapaian faragh adalah pendahuluan atau pemanasan
yang dalam bahasa asing disebut foreplay (istiadah). Pemanasan yang cukup dan akurat,
menurut para pakar seksologi, akan mempercepat wanita mencapai faragh.

Karena dianggap amat penting, pemanasan sebelum berjima juga diperintahkan Rasulullah
SAW. Beliau bersabda,

Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia
terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu. (HR. At-Tirmidzi).

pg. 53
Ciuman dalam hadits diatas tentu saja dalam makna yang sebenarnya. Bahkan, Rasulullah SAW,
diceritakan dalam Sunan Abu Dawud, mencium bibir Aisyah dan mengulum lidahnya. Dua
hadits tersebut sekaligus mendudukan ciuman antar suami istri sebagai sebuah kesunnahan
sebelum berjima.

Ketika Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, Mengapa engkau tidak
menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? yang dapat saling mengigit
bibir denganmu. HR. Bukhari (nomor 5079) dan Muslim (II:1087).

Bau Mulut

Karena itu, pasangan suami istri hendaknya sangat memperhatikan segala unsur yang
menyempurnakan fase ciuman. Baik dengan menguasai tehnik dan trik berciuman yang baik,
maupun kebersihan dan kesehatan organ tubuh yang akan dipakai berciuman. Karena bisa jadi,
bukannya menaikkan suhu jima, bau mulut yang tidak segar justru akan menurunkan semangat
dan hasrat pasangan.

Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan,
menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat
rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.

Sentuhan

Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi
pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk
kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima. Demikian Ibnu Taymiyyah
berpendapat.

Syaikh Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang
masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari,

Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya,
termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam

pg. 54
bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan Imam Malik dan ulama
lainnya.

Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda
saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima, suami istri diperbolehkan
pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, Aku pernah mandi
bersama Rasulullah dalam satu bejana (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan
baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan
sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik
tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima.

Mendesah

Diperbolehkan bagi pasangan suami istri yang tengah berjima untuk mendesah. Karena desahan
adalah bagian dari meningkatkan gairah. Imam As-Suyuthi meriwayatkan, ada seorang qadhi
yang menggauli istrinya. Tiba-tiba sang istri meliuk dan mendesah. Sang qadhi pun menegurnya.
Namun tatkala keesokan harinya sang qadhi mendatangi istrinya ia justru berkata, Lakukan
seperti yang kemarin. Tentu saja desahan ini melihat situasi dan kondisi. Jangan sampai
terdengar orang lain.

Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi
bersetubuh. Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk
mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur
syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji (vagina).
Bukan yang lainnya.

Allah Ta'ala berfirman,

Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian
kehendaki. QS. Al-Baqarah (2:223).

Posisi Ijba, Doggy Style

pg. 55
Menurut ahli tafsir, ayat ini turun sehubungan dengan kejadian di Madinah. Suatu ketika
beberapa wanita Madinah yang menikah dengan kaum muhajirin mengadu kepada Rasulullah
SAW, karena suami-suami mereka ingin melakukan hubungan seks dalam posisi ijba atau
tajbiyah.

Ijba adalah posisi seks dimana lelaki mendatangi farji perempuan dari arah belakang (doggy
style). Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar perempuan-
perempuan Yahudi mengatakan, barangsiapa yang berjima dengan cara ijba maka anaknya
kelak akan bermata juling. Lalu turunlah ayat tersebut.

Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah itu Imam Nawawi menjelaskan, Ayat tersebut
menunjukan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari depan atau belakang, dengan cara
menindih atau bertelungkup. Adapun menyetubuhi melalui dubur tidak diperbolehkan, karena itu
bukan lokasi bercocok tanam. Bercocok tanam yang dimaksud adalah berketurunan.

Muhammad Syamsul Haqqil Azhim Abadi dalam Aunul Mabud menambahkan, Kata ladang
(hartsun) yang disebut dalam Al-Quran menunjukkan, wanita boleh digauli dengan cara apa pun:
berbaring, berdiri atau duduk, dan menghadap atau membelakangi..

Demikianlah, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, lagi-lagi terbukti memiliki ajaran yang
sangat lengkap dan seksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan.
Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, agar umatnya
bisa tetap bersyariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya.

(Sutra Ungu, Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam, karya Abu Umar Basyiir)

Diantara adab-adab cara bersetubuh dalam Islam adalah sebagai berikut :

pg. 56
Sebelum berjima' (berhubungan intim) pertama, sangat disukai untuk memperindah diri masing-
masing dengan berhias, memakai wewangian, serta bersiwak.

Berdasarkan sebuah hadits dari Asma binti Yasid radhiyallaahu anha ia menuturkan, Aku
merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Setelah selesai, aku pun memanggil
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau pun duduk di sisi Aisyah. Kemudian diberikan
kepada beliau segelas susu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminum susu tersebut dan
menyerahkannya pada Aisyah. Aisyah menundukkan kepalanya karena malu. Maka segeralah
aku menyuruhnya untuk mengambil gelas tersebut dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
[HR Ahmad, sanad hadits ini dikuatkan oleh Al-Allamah Al-Muhadits Al-Albani dalam Adabul
Zifaf].

Adapun disunnahkannya bersiwak, karena adab yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bahwa beliau selalu bersiwak setiap hendak masuk rumah sebagaimana
disebutkan oleh Aisyah radhiyallaahu anha dalam Shahih Muslim. Selain itu akan sangat baik
pula jika disertai dengan mempercantik kamar pengantin sehingga menjadi sempurnalah sebab-
sebab yang memunculkan kecintaan dan suasana romantis pada saat itu.

Hendaknya suami meletakkan tangannya pada ubun-ubun istrinya seraya mendoakan kebaikan
dengan doa yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ajarkan :

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya (istri) dan kebaikan
tabiatnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya.[HR.
Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash radhiyallaahu 'anhu].

Disunnahkan bagi keduanya untuk melakukan shalat dua rakaat bersama-sama. Syaikh Al Albani
dalam Adabuz Zifaf menyebutkan dua atsar yang salah satunya diriwayatkan oleh Abu Bakr Ibnu
Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf dari sahabat Abu Said, bekat budak sahabat Abu Usaid,
beliau mengisahkan bahwa semasa masih menjadi budak ia pernah melangsungkan pernikahan.
Ia mengundang beberapa sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, diantaranya Abdullah
bin Masud, Abu Dzarr, dan Hudzaifah.

pg. 57
Abu Said mengatakan, Mereka pun membimbingku, mengatakan, Apabila istrimu masuk
menemuimu maka shalatlah dua rakaat. Mintalah perlindungan kepada Allah dan berlindunglah
kepada-Nya dari kejelekan istrimu. Setelah itu urusannya terserah engkau dan istrimu. Dalam
riwayat Atsar yang lain Abdullah bin Masud radhiyallaahu anhu mengatakan, perintahkan
isrtimu shalat dibelakangmu.

Ketika menjumpai istri, hendaknya seorang suami berprilaku santun kepada istrinya semisal
dengan memberikan segelas minuman atau yang lainnya sebagimana dalam hadits di atas, bisa
juga dengan menyerahkan maharnya. Selain itu hendaknya si suami untuk bertutur kata yang
lembut yang menggambarkan kebahagiaannya atas pernikahan ini. Sehingga hilanglah perasaan
cemas, takut, atau asing yang menghinggapi hati istrinya. Dengan kelembutan dalam ucapan dan
perbuatan akan bersemi keakraban da keharmonisan di antara keduanya.

Apabila seorang suami ingin menggauli istrinya, janganlah ia terburu-buru sampai keadaan
istrinya benar-benar siap, baik secara fisik, maupun secara psikis, yaitu istri sudah sepenuhnya
menerima keberadaan suami sebagai bagian dari dirinya, bukan orang lain. Begitu pula ketika
suami telah menyelesaikan hajatnya, jangan pula dirinya terburu-buru meninggalkan istrinya
sampai terpenuhi hajat istrinya. Artinya, seorang suami harus memperhatikan keadaan, perasaan,
dan keinginan istri. Kebahagian yang hendak ia raih, ia upayakan pula bisa dirasakan oleh
istrinya.

Bagi suami yang akan menjimai istri hanya diperbolehkan ketika istri tidak dalam keadaan haid
dan pada tempatnya saja, yaitu kemaluan. Adapun arah dan caranya terserah yang dia sukai.
Allah berfirman yang artinya, Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, Haid itu
adalah suatu kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhi (tidak menjimai) wanita
diwaktu haid, dan janganlah kalian mendekati (menjimai) mereka, sebelum mereka suci.
Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu pada tempat yang diperintahkan Allah
kepad kalian (kemaluan saja). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
Istri-istri kalian adalah (seperti) tanah tempat kalian bercocok tanam, maka datangilah tanah
tempat itu bagaimana saja kalian kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian,
bertakwalah kepada Allah, ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang beriman. [Q.S. Al Baqarah: 222-223].

Ingat, diharamkan melalui dubur. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya,
Barang siapa yang menggauli istrinya ketika sedang haid atau melalui duburnya, maka ia telah

pg. 58
kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. [HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan
yang lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud]. Kata kufur
dalam hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang melakukan hal ini. Meskipun,
kata para ulama, kufur yang dimaksud dalam hadits ini adalah kufur kecil yang belum
mengeluarkan pelakunya dari Islam.

Telah kita ketahui bersama bahwa syaitan selalu menyertai, mengintai untuk berusaha
menjerumuskan Bani Adam dalam setiap keadaan. Begitu pula saat jima, kecuali apabila dia
senantiasa berdzikir kepada Allah. Maka hendaknya berdoa sebelum melakukan jima agar hal
tersebut menjadi sebab kebaikan dan keberkahan. Doa yang diajarkan adalah:

Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa
yang Engkau karuniakan kepada kami.[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abdullah bin
Abbas radhiyallaahu 'anhu]. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa seandainya Allah
mengkaruniakan anak, maka syaithan tidak akan bisa memudharati anak tersebut. Al Qadhi
menjelaskan maksudnya adalah syaithan tidak akan bisa merasukinya. Sebagaimana dinukilkan
dari Al Minhaj.

Diperbolehkan bagi suami dan istri untuk saling melihat aurat satu sama lain. Diperbolehkan
pula mandi bersama. Dari Aisyah radhiyallaahu anha berkata, Aku pernah mandi bersama
Rasulullah dalam satu bejana dan kami berdua dalam keadaan junub. [HR. Al Bukhari dan
Muslim.]

Diwajibkan bagi suami istri yang telah bersenggama untuk mandi apabila hendak shalat. Waktu
mandi boleh ketika sebelum tidur atau setelah tidur. Namun apabila dalam mengakhirkan mandi
maka disunnahkan terlebih dahulu wudhu sebelum tidur. Berdasarkan hadits Abdullah bin Qais,
ia berkata, Aku pernah bertanya kepada Aisyah, Apa yang dilakukan Nabi ketika junub?
Apakah beliau mandi sebelum tidur ataukah tidur sebelum mandi? Aisyah menjawab, Semua
itu pernah dilakukan Rasulullah. Terkadang beliau mandi dahulu kemudian tidur dan terkadang
pula beliau hanya wudhu kemudian tidur.[HR. Ahmad dalam Al Musnad]

Tidak boleh menyebarkan rahasia ranjang, kecuali untuk beberapa hal yang menuntut hal
tersebut dilakukan semisal untuk konsultasi. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

pg. 59
yang artinya, Sesungguhnya diantara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah
pada hari kiamat adalah laki-laki yang mendatangi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan
kepadanya, kemudian ia menyebarkan rahasianya. [HR. Muslim dari sahabat Abu Said Al
Khudri radhiyallaahu 'anhu]

Dari poin-poin yang telah dijelaskan nampaklah betapa agungnya kesempurnaan syariat Islam
dalam mengatur semua sisi kehidupan ini. Sehingga pada setiap gerak hamba ada nilai ibadah
yang bisa direngkuh pahalanya. Tidak sekedar aktivitas rutin tanpa faedah, tak semua pemenuhan
kebutuhan tanpa hikmah. Oleh sebab itu tak ada yang sia-sia dalam mengikuti aturan Ilahi dan
meneladani sunnah Nabi. Semuanya memiliki makna serta mengandung kemaslahatan, karena
datangnya dari Allah Dzat Yang Maha Tinggi Ilmu-Nya lagi Maha sempurna Hikmah-Nya. Maka
dari itu syariat yang Allah turunkan selaras dengan fitrah hamba-Nya sebagai manusia,
sebagimana disyariatkan pernikahan.

Kesempurnaan syariat Islam ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Allah terhadap hamba-
Nya melebihi perhatian hamba terhadap dirinya sendiri. Oleh karenanya, hendaklah setiap hamba
tetap berada di atas fitrah tersebut di atas agama allah agar dirinya selalu berada di atas jalan
yang lurus, (Tetaplah di atas fitrah) yang Allahtelah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
[QS. Ar Rum: 30]. Allahu alam.

Bagaimana Memuaskan Suami Ketika Istri Haid?

Ada banyak cara untuk memuaskan suami ketika istri sedang haid. Karena islam tidak
menghukumi fisik wanita haid sebagai benda najis yang selayaknya dijauhi, sebagaimana
praktek yang dilakukan orang yahudi. Anas bin Malik menceritakan,

Sesungguhnya orang yahudi, ketika istri mereka mengalami haid, mereka tidak mau makan
bersama istrinya dan tidak mau tinggal bersama istrinya dalam satu rumah. Para sahabatpun
bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. kemudian Allah menurunkan ayat, yang
artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah bahwa haid itu kotoran, karena itu hindari
wanita di bagian tempat keluarnya darah haid (HR. Muslim 302).

pg. 60
Dengan demikian, suami masih bisa melakukan apapun ketika istri haid, selain yang Allah larang
dalam Al-Quran, yaitu melakukan hubungan intim.

Ada 3 macam interaksi intim antara suami & istri ketika haid:

Pertama, interaksi dalam bentuk hubungan intim ketika haid. Perbuatan ini haram dengan
sepakat ulama, berdasarkan firman Allah,

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Karena
itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati
mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat
yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat
dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Orang yang melanggar larangan ini, wajib bertaubat kepada Allah, dan membayar kaffarah,
berupa sedekah satu atau setengah dinar.

Kedua, interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu selain di daerah antara pusar sampai
lutut istri ketika haid. Interaksi semacam ini hukumnya halal dengan sepakat ulama. Aisyah
radhiyallahu anha menceritakan,

Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung
kemudian beliau bercumbu denganku. (HR. Ahmad 25563, Turmudzi 132 dan dinilai shahih oleh
Al-Albani).

Hal yang sama juga disampaikan oleh Maimunah radhiyallahu anha,

pg. 61
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bercumbu dengan istrinya di daerah di atas sarung,
ketika mereka sedang haid. (HR. Muslim 294)

Ketiga, interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu di semua tubuh istri selain hubungan
intim. Interaksi semacam ini diperselisihkan ulama.

1. Imam Abu Hanifah, Malik, dan As-Syafii berpendapat bahwa perbuatan semacam ini
hukumnya haram. Dalil mereka adalah praktek Nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagaimana
keterangan Aisyah dan Maimunah.

2. Imam Ahmad, dan beberapa ulama hanafiyah, malikiyah dan syafiiyah berpendapat bahwa itu
dibolehkan. Dan pendapat inilah yang dikuatkan An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim
(3/205).

Diantara dalil yang mendukung pendapat kedua adalah

a. Firman Allah

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: Haid itu adalah suatu kotoran. Karena
itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari Al-Mahidh..

Ibn Utsaimin mengatakan, Makna Al-Mahidh mencakup masa haid atau tempat keluarnya haid.
Dan tempat keluarnya haid adalah kamaluan. Selama masa haid, melakukan hubungan intim
hukumnya haram. (As-Syarhul Mumthi, 1/477)

Ibn Qudamah mengatakan,

pg. 62
Ketika Allah hanya memerintahkan untuk menjauhi tempat keluarnya darah, ini dalil bahwa
selain itu, hukumnya boleh. (Al-Mughni, 1/243)

b. Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ketika para sahabat menanyakan tentang istri
mereka pada saat haid. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Lakukanlah segala sesuatu (dengan istri kalian) kecuali nikah. (HR. Muslim 302).

Ketika menjelaskan hadis ini, At-Thibi mengatakan,

Makna kata nikah dalam hadis ini adalah hubungan intim. (Aunul mabud, 1/302)

Hubungan intim disebut dengan nikah, karena nikah merupakan sebab utama dihalalkannya
hubungan intim.

c. Disebutkan dalam riwayat lain, bahwa terkadang Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga
melakukan praktek yang berbeda seperti di atas.

Diriwayatkan dari Ikrimah, dari beberapa istri Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

Bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam ketika hendak melakukan hubungan intim dengan
istrinya yang sedang haid, beliau menyuruhnya untuk memasang pembalut ke kemaluan
istrinya. (HR. Abu Daud 272 dan Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan: Sanadnya kuat).

Jadi, Jangan Sekali-kali Melakukan Onani Tanpa Bantuan Tubuh Istri

Memahami hal ini, selayaknya suami tidak perlu risau ketika istrinya haid. Dan jangan sekali-
kali melakukan onani tanpa bantuan tubuh istri. Mengeluarkan mani dengan selain tubuh istri
adalah perbuatan yang terlarang, sebagaimana firman Allah ketika menyebutkan kriteria orang
mukmin yang beruntung,

pg. 63
Orang-orang yang menjaga kemaluannya, Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang
mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari
yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mukminun: 5
7)

Diantara sifat mukminin yang beruntung adalah orang yang selalu menjaga kemaluannya dan
tidak menyalurkannya, selain kepada istri dan budak wanita. Artinya, selama suami
menggunakan tubuh istri untuk mencapai klimaks syahwat, maka tidak dinilai tercela. Berbeda
dengan orang yang mencari selain itu, baik berzina dengan wanita lain, atau menggunakan
bantuan selain istri untuk mencapai klimaks (baca: onani), Allah sebut perbuatan orang ini
sebagai tindakan melampaui batas.

Allahu alam

Berapa Kali Hubungan Seks dalam Sepekan?

Adakah aturan dalam Islam, berapa kali hubungan intim atau hubungan seks dalam sepekan?

Intinya, dalam Islam tidak ada pembatasan berapa kali dalam seminggu untuk hubungan intim.
Mengenai perkara tersebut tergantung pada keadaan dan kemampuan tiap orang.

Namun sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (7: 30),

Hubungan seks wajib dilakukan oleh suami, yaitu ia punya kewajiban menyetubuhi istrinya
selama tidak ada udzur. Demikian dikatakan oleh Imam Malik.

Ada hadits pula dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu
alaihi wa sallam menasehatinya,

Wahai Abdullah, benarkan aku dapat kabar darimu bahwa engkau terus-terusan puasa dan juga
shalat malam? Abdullah bin Amr bin Al Ash menjawab, Iya betul wahai Rasulullah. Beliau
bersabda, Jangan lakukan seperti itu. Engkau boleh berpuasa, namun ada waktu tidak berpuasa.
Engkau boleh shalat malam, namun ada waktu untuk istirahat tidur. Ingat, badanmu punya hak,

pg. 64
matamu punya hak, istrimu juga punya hak yang mesti engkau tunaikan. Begitu pula
tenggorokanmu pun memiliki hak. (HR. Bukhari no. 1975).

Dalam Fathul Bari (9: 299) disebutkan perkataan Ibnu Batthol,

Hendaklah suami tidak mempersusah diri dalam ibadah sehingga membuat ia lemas untuk
menunaikan hak istrinya yaitu kebutuhan seks dan bekerja untuk keluarga.

Ibnu Hajar juga menyebutkan,

Para ulama berselisih pendapat bolehkah suami meninggalkan menyetubuhi istrinya. Imam
Malik berpandangan, Jika tidak darurat melakukannya, suami bisa dipaksa berhubungan seks
atau mereka berdua harus pisah. Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu. Sedangkan yang
masyhur dari kalangan ulama Syafiiyah, ia tidak wajib berhubungan intim. Ada pula yang
berpandangan bahwa wajibnya sekali. Sebagian ulama salaf berpendapat, setiap empat malam,
harus ada hubungan seks. Ulama lainnya berpandangan, setiap kali suci dari haidh, sekali
hubungan seks.

Ibnu Taimiyah berpendapat,

Wajib bagi suami berhubungan seks dengan istrinya sesuai kemampuannya selama tidak
mengganggu fisik dan tidak melalaikan dari kewajiban mencari nafkah. Jika ini tidak dipenuhi,
maka seorang hakim peradilan bisa memaksanya sebagaimana dalam hal nafkah atau
sebagaimana dalam hubungan seks yang berlebihan. (Al Ikhtiyarot Al Fiqhiyyah, hal. 246).

Adapun jika suami bepergian karena tujuan yang disyariatkan atau ada alasan lainnya yang
dibolehkan, maka hendaklah tidak terlalu lama meninggalkan istri.

Kalau kepergian suami demi kemaslahatan kaum muslimin seperti jihad di jalan Allah atau
menjaga garis perbatasan, maka hendaklah ia tidak meninggalkan istrinya terlalu lama, tidak
lebih dari empat bulan.

Contohnya, ketika pemerintahan Umar bin Al Khattab radhiyallahu anhu. Umar memberikan
waktu bagi para pasukannya untuk pergi meninggalkan keluarganya (istrinya) tidak lebih dari

pg. 65
empat bulan. Kalau ternyata sudah mencapai empat bulan, maka pasukan tersebut siap diganti
dengan yang lain.

(Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 1078 oleh Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid).

Hukum Istri Menolak 'Ajakan' Suami

Apakah berdosa bila seorang istri menolak ajakan suami untuk ber-jima karena istri sedang
capek dan mengantuk? Penyebabnya kelelahan itu adalah karena suami terlalu sering mengajak
ber-jima sehingga memforsir tenaga istri.

Jawaban:

Suami yang selalu mengajak istrinya untuk berhubungan menunjukkan bahwa dia sayang kepada
istrinya. Kebutuhan suami terhadap istri memang sangat besar, sehingga hendaknya istri
menyadari hal itu.

Apalagi, wanita yang usianya masih muda setiap bulannya ada waktu haid, dan setelah
melahirkan pun sang wanita membutuhkan cuti dari suaminya selama kurang lebih 40 hari
karena syariat Islam melarang suami menggauli istrinya dalam kondisi tersebut. Belum lagi bila
istri sakit atau ada uzur lain, dan juga suami yang sering keluar rumah karena mencari nafkah
dan sebab-sebab yang lainnya.

Jika istri menolak permintaannya karena capek atau mengantuk, sedangkan suami hanya punya
satu istri, maka kesalahan ada di pihak isri, karena suami tidak boleh melampiaskan
kesenangannya kecuali kepada istri atau budaknya, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-
Mukminun ayat 6.

pg. 66
Namun hal ini masih bisa didiskusikan dengan suami. InsyaAllah suami yang shalih bisa
memahami kondisi istri, apalagi ketika istri benar-benar kecapekan. InsyaAllah suami shalih
dapat memahami. Kalaupun istri tidak mampu melayani dalam hubungan badan, istri bisa
memainkan 'anunya' sehingga suami mencapai orgasme. Yang terpenting disini adalah adanya
keterbukaan dan saling memahami.

Selanjutnya, bagaimana seharusnya istri bila diajak oleh suaminya? Perhatikan hadits di bawah
ini.

Dari Thalqu bin Ali, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila seorang suami mengajak istrinya untuk berkumpul hendaknya wanita itu
mendatanginya sekalipun dia berada di dapur. (HR. Tirmidzi: 4/387; dinilai shahih oleh Al-
Albani dalam Shahih At-Targhib: 2/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidak halal bagi wanita untuk berpuasa (sunnah) sedangkan suaminya berada di rumah, kecuali
dengan izinnya. (HR. Bukhari: 16/199)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Apabila suami mengajak istrinya ke tempat tidurnya lalu istri enggan sehingga suami marah
pada malam harinya, malaikat melaknat sang istri sampai waktu subuh. (HR. Bukhari: 11/14)

Allahu A'lam

Bolehkah Istri Menuntut Suami Lebih Rajin Berhubungan?

Kita ambil satu peristiwa yang terjadi di masa Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

pg. 67
Tersebutlah seorang sahabat bernama Rifaah al-Quradzi. Dia menikahi seorang wanita bernama
Tamimah bintu Wahb. Setelah beberapa lama menjalani kehidupan berumah tangga, Rifaah
menceraikan istrinya, cerai tiga. Setelah usai iddah, bu Tamimah menikah dengan Abdurahman
bin Zabir al-Quradzi. Namun ternyata Tamimah tidak mencintai Abdurrahman. Dia hanya
jadikan itu kesempatan agar bisa balik ke Rifaah.

Hingga wanita ini mengadukan masalah suaminya kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam.
Dia datang menghadap Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan memakai kerudung warna
hijau.

Mulailah si wanita ini mengadukan,

Suami saya ini orang baik, gak pernah berbuat dzalim kepada saya. Cuma punya dia, tidak bisa
membuat saya puas dibanding ini. Sambil dia pegang ujung bajunya.

Maksud Tamimah, anu suaminya itu loyo. Tidak bisa memuaskan dirinya. Seperti ujung baju itu.

Ketika tahu istrinya datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abdurahman datang
dengan membawa dua anaknya, dari pernikahan dengan istri sebelumnya.

Abdurahman bawa dua anak untuk membuktikan bahwa dia lelaki sejati. Mendengar aduhan istri
keduanya ini, Abdurrahman langsung protes,

Istriku dusta ya Rasulullah, saya sudah sungguh-sungguh dan tahan lama. Tapi wanita ini
nusyuz, dia pingin balik ke Rifaah (suami pertamanya).

Mendengar aduhan mereka, Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya tersenyum. (HR. Bukhari
5825 & Muslim 1433).

pg. 68
Senyum Nabi shallallahu alaihi wa sallam terhadap laporan kasus ini, karena beliau heran. Dan
beliau tidak melarangnya atau memarahi pasangan ini, menunjukkan bahwa beliau membolehkan
melakukan laporan semacam ini. Sekalipun ada unsur vulgar.

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

Senyum Nabi shallallahu alaihi wa sallam karena beliau heran. Bisa karena melihat wanita ini
yang terus terang padahal umumnya itu malu bagi umumnya wanita dan disimpulkan dari
hadis ini, bolehnya melakukan semacam ini. (Fathul Bari, 9/466)

Yang kita garis bawahi dalam kasus ini, Tamimah menggugat suaminya dengan alasan masalah
ranjang. Artinya itu bukan suatu yang bernilai maksiat, atau tidakan tercela.

Mengadukan Suami Karena Kurang Rajin

Dari hadis ini, sebagian ulama menyimpulkan bahwa istri boleh menuntut suami untuk
meningkatkan intensitas hubungan.

Kita simak keterangan Ibnul Mulaqin,

Dalam hadis ini terdapat kesimpulan bahwa istri boleh mengadukan suami mereka kepada pihak
berwenang, karena kurang rajin berhubungan. Dia boleh sampaikan itu dengan terang-terangan.
Dan itu tidak tercela. (at-Taudhih li Syarh al-Jami as-Shahih, 27/653)

Allahu alam.

Bagaimana Menghadapi Suami Hiperseks (nafsu besar dalam berhubungan)?

pg. 69
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyarankan kepada kaum muslimin untuk
menyalurkan syahwatnya dengan cara halal. Karena ini merupakan cara paling ampuh, agar
manusia tidak menginginkan sesuatu yang haram.

Dari Ibnu Masud Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Jika seorang lelaki melihat wanita cantik yang menarik hatinya, hendaknya dia segera
mendatangi istrinya. Karena apa yang ada di istrinya sama seperti yang ada di wanita itu. (HR.
Ad-Darimi 2270 dan dishahihkan Husain Salim Asad).

Karena alasan ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menyebut hubungan badan yang
dilakukan pasangan suami istri, sebagai amal soleh yang bernilai sedekah. Sebagaimana ketika
itu disalurkan dengan cara yang haram, bisa bernilai dosa.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Dalam hubungan badan kalian, bernilai sedekah.

Mendengar ini, para sahabat bertanya,

Apakah ketika kami melampiaskan syahwatnya (dengan istri), kami akan mendapatkan
pahala?

Jawab Nabi Shallallahu alaihi wa sallam,

Bukankah jika kalian salurkan dengan cara yang haram, kalian mendapatkan dosa?. Seperti itu
pula ketika kalian salurkan dengan cara yang halal, kalian akan mendapatkan pahala. (HR.
Muslim 2376).

pg. 70
Berdasarkan hadis ini, Imam an-Nawawi menyatakan bahwa menyalurkan syahwat jimak
merupakan syahwat yang disukai para nabi dan orang soleh. An-Nawawi menyebutkan beberapa
alasan untuk itu,

Beliau mengatakan,

Sadari bahwa syahwat jimak adalah syahwat yang disukai para nabi dan orang-orang shalih.
Mereka menjelaskan, karena dalam jima terdapat berbagai mashalat agama dan dunia, seperti
menundukkan pandangan, meredam syahwat dari zina, mendapatkan keturunan, sehingga dunia
semakin makmur, dan memperbanyak jumlah umat islam sampai kiamat. Mereka juga
menjelaskan, semua syahwat bisa mengeraskan hati jika disalurkan kecuali syahwat ini. Karena
syahwat ini bisa melembutkan hati. (Syarh Arbain an-Nawawi, hlm. 76. Penjelasan hadis ke-25)

Terlalu Sering, Bisa Berbahaya?

Kuat dalam hubungan badan, menjadi kelebihan tersendiri bagi lelaki. Hanya saja tidak
disarankan untuk dilakukan terlalu sering, yang itu bisa menyebabkan fisiknya lemah. Bahkan
sebagian ulama yang ahli dalam pengobatan ala arab, menyebutkan bahwa terlalu sering jimak,
menyebabkan penuaan dini.

Dalam al-Adab as-Syariyah, Ibnu Muflih menjelaskan,

Mani adalah campuran zat panas dan basah. Karena mani bersumber dari darah bersih yang
mengirim nutrisi makanan ke seluruh anggota badan. Karena itu, tidak selayaknya dikeluarkan
kecuali ketika di puncak syahwat. Karena terlalu sering mengeluarkan mani, akan memadamkan
instink panas di badan, dan menyulut panas dari luar. Serta menurunkan kekuatan, melemahkan
lambung dan liver. Mengganggu pencernaan dan merusak darah. Membuat anggota badan layu,
sehingg cepat tua. (al-Adab as-Syariyah, 2/385)

Apa yang Harus Dilakukan Istri?

pg. 71
Selama ini tidak membahayakan dirinya atau suaminya, istri wajib memenuhi ajakan suaminya.
Karena ini bagian dari hak suami yang wajib ditunaikan istrinya. Menolak tanpa alasan, bisa
bernilai dosa besar.

Jadikan keadaan ini sebagai kesempatan bagi istri untuk mendulang pahala. Hadirkan perasaan
bahwa dia sedang menunaikan kewajibannya. Sehingga dia tunaikan hajat suaminya juga dengan
semangat.

Hukum Oral Seks Dalam Islam

Hingga saat ini, memang tidak sedikit masyarakat muslim yang masih mempertanyakan tentang
halal dan tidaknya jima atau berhubungan suami istri dengan cara oral. Mitos yang banyak
berkembang selama ini, melakukan hubungan dengan cara memasukkan alat kelamin ke dalam
mulut pasangan itu dianggap sama seperti kelakuan orang kafir, sehingga hukumnya haram.
Benarkah?

Ibnu Taymiyyah berpendapat, selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan
adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang
HALAL untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat
jima.

Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-Hanbali dalam kitabnya yang masih
berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari, Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat
dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan
bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil
dari pandangan Imam Malik dan ulama lainnya.

pg. 72
Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda
saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima, suami istri juga
diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, Aku
pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana (HR. Bukhari dan Muslim).

Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan
baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan
sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik
tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima.

Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi
bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya
untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang
diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji (vagina).
Bukan yang lainnya. Allah SWT berfirman, Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu,
datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki. QS. Al-Baqarah (2:223).

Demikian halnya dengan Sheikh Muhammad Ali Al-Hanooti, mufty, dalam Islamawarness.net
menegaskan bahwa oral sex diperbolehkan dalam Islam. Ali Al-Hanooti menegaskan bahwa
yang diharamkan dalam jima hanya ada tiga hal, diantaramya: Anal sex, berhubungan sex saat
istri sedang haid atau menstruasi dan sex pasca istri melahirkan (masa nifas). Sedangkan di luar
ketiga hal itu, hukumnya halal.

Hal yang sama juga diungkapkan : Ustadz Sigit Pranowo, Lc di eramuslim.com. Dalam sebuah
kajian konsultasi yang membahas tentang sex oral, Sigit mengatakan bahwa Hubungan seksual
antara pasangan suami istri bukanlah hal yang terlarang untuk dibicarakan didalam Islam.
Namun, bukan pula hal yang dibebaskan sedemikian rupa bak layaknya seekor hewan yang
berhubungan dengan sesamanya.

Islam adalah agama fitrah yang sangat memperhatikan masalah seksualitas karena ini adalah
kebutuhan setiap manusia, sebagaimana firman Allah swt,Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah
tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana
saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada

pg. 73
Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-
orang yang beriman. (QS. Al Baqoroh : 223)

Ayat diatas menunjukkan betapa islam memandang seks sebagai sesuatu yang moderat
sebagaimana karakteristik dari islam itu sendiri. Ia tidaklah dilepas begitu saja sehingga manusia
bisa berbuat sebebas-bebasnya dan juga tidak diperketat sedemikian rupa sehingga menjadi suatu
pekerjaan yang membosankan.

Hubungan seks yang baik dan benar, yang tidak melanggar syariat selain merupakan puncak
keharmonisan suami istri serta penguat perasaan cinta dan kasih sayang diantara mereka berdua
maka ia juga termasuk suatu ibadah disisi Allah swt, sebagaimana sabda Rasulullah saw,..dan
bersetubuh dengan istri juga sedekah. Mereka bertanya,Wahai Rasulullah, apakah jika diantara
kami menyalurkan hasrat biologisnya (bersetubuh) juga mendapat pahala? Beliau
menjawab,Bukankah jika ia menyalurkan pada yang haram itu berdosa?, maka demikian pula
apabila ia menyalurkan pada yang halal, maka ia juga akan mendapatkan pahala. (HR. Muslim)

Diantara variasi seksual yang sering dibicarakan para seksolog adalah oral seks, yaitu adanya
kontak seksual antara kemaluan dan mulut (lidah) pasangannya. Tentunya ada bermacam-macam
oral seks ini, dari mulai menyentuh, mencium hingga menelan kemaluan pasangannya kedalam
mulutnya.

Hal yang tidak bisa dihindari ketika seorang ingin melakukan oral seks terhadap pasangannya
adalah melihat dan menyentuh kemaluan pasangannya. Dalam hal ini para ulama dari madzhab
yang empat bersepakat diperbolehkan bagi suami untuk melihat seluruh tubuh istrinya hingga
kemaluannya karena kemaluan adalah pusat kenikmatan. Akan tetapi setiap dari mereka berdua
dimakruhkan melihat kemaluan pasangannya terlebih lagi bagian dalamnya tanpa suatu
keperluan, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah yang mengatakan,Aku tidak pernah melihat
kemaluannya saw dan beliau saw tidak pernah memperlihatkannya kepadaku. (al Fiqhul Islami
wa Adillatuhu juz IV hal 2650)

Seorang suami berhak menikmati istrinya, khususnya bagaimana dia menikmati berjima
dengannya dan seluruh bagian tubuh istrinya dengan suatu kenikmatan atau menguasai tubuh dan
jiwanya yang menjadi haknya untuk dinikmati maka telah terjadi perbedaan pendapat diantara

pg. 74
para ulama kami, karena tujuan dari berjima tidaklah sampai kecuali dengan hal yang demikian.
(Badaiush Shonai juz VI hal 157 159, Maktabah Syamilah)

Setiap pasangan suami istri yang diikat dengan pernikahan yang sah didalam berjima
diperbolehkan untuk saling melihat setiap bagian dari tubuh pasangannya hingga kemaluannya.
Adapun hadits yang menyebutkan bahwa siapa yang melihat kemaluan (istrinya) akan menjadi
buta adalah hadits munkar tidak ada landasannya. (asy Syarhul Kabir Lisy Syeikh ad Durdir juz
II hal 215, Maktabah Syamilah)

Dibolehkan bagi setiap pasangan suami istri untuk saling melihat seluruh tubuh dari pasangannya
serta menyentuhnya hingga kemaluannya sebagaimana diriwayatkan dari Bahz bin Hakim dari
ayahnya dari kakeknya berkata, Aku bertanya,Wahai Rasulullah aurat-aurat kami mana yang
tutup dan mana yang kami biarkan? Beliau bersabda,Jagalah aurat kamu kecuali terhadap
istrimu dan budak perempuanmu. (HR. tirmidzi, dia berkata,Ini hadits Hasan Shohih.) Karena
kemaluan boleh untuk dinikmati maka ia boleh pula dilihat dan disentuhnya seperti bagian tubuh
yang lainnya.

Didalam riwayat Jafar bin Muhammad tentang perempuan yang duduk dihadapan suaminya, di
dalam rumahnya dengan menampakkan auratnya yang hanya mengenakan pakaian tipis, Imam
Ahmad mengatakan,Tidak mengapa. (al Mughni juz XV hal 79, maktabah Syamilah)

Oral seks yang merupakan bagian dari suatu aktivitas seksual ini, menurut Prof DR Ali Al
Jumuah dan Dr Sabri Abdur Rauf (Ahli Fiqih Univ Al Azhar) boleh dilakukan oleh pasangan
suami istri selama hal itu memang dibutuhkan untuk menghadirkan kepuasan mereka berdua
dalam berhubungan. Terlebih lagi jika hanya dengan itu ia merasakan kepuasan ketimbang ia
terjatuh didalam perzinahan.

Hal itu dikarenakan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan
berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat,
hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan
ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki
adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafii dan Hambali adalah suci.

pg. 75
Mufti Saudi Arabia bagian Selatan, Asy-Syaikh Al`Allamah Ahmad bin Yahya An-Najmi
berpenapat bahwa isapan istri terhadap kemaluan suaminya (oral seks) adalah haram dikarenakan
kemaluannya itu bisa memancarkan cairan (madzi). Para ulama telah bersepakat bahwa madzi
adalah najis. Jika ia masuk kedalam mulutnya dan tertelan sampai ke perut maka akan dapat
menyebabkan penyakit.

Hal itu dikarenakan yang keluar dari kemaluan adalah madzi dan mani. Madzi adalah cairan
berwarna putih dan halus yang keluar dari kemaluan ketika adanya ketegangan syahwat,
hukumnya najis. Sedangkan mani adalah cairan kental memancar yang keluar dari kemaluan
ketika syahwatnya memuncak, hukumnya menurut para ulama madzhab Hanafi dan Maliki
adalah najis sedangkan menurut para ulama Syafii dan Hambali adalah suci.

Adapun Syeikh Yusuf al Qaradhawi memberikan fatwa bahwa oral seks selama tidak menelan
madzi yang keluar dari kemaluan pasangannya maka ia adalah makruh dikarenakan hal yang
demikian adalah salah satu bentuk kezhaliman (diluar kewajaran dalam berhubungan).

Dampak Positif dan Negatif?

Dampak positif dari oral seks ini jika dilakukan dengan sukarela oleh pasangan suami istri
tentunya akan menambah kenikmatan dalam berhubungan intim dan pada gilirannya dapat
menjaga keharmonisan rumah tangga. Untuk itu pasangan suami istri harus mengkomunikasikan
masalah ini dengan baik, agar tidak ada pihak yang merasa terpaksa.

Para seksolog mengkategorikan oral seks kedalam permainan seks yang aman, selama betul-
betul dijamin kebersihan dan kesehatannya, baik mulut ataupun kemaluannya. Akan tetapi
kemungkinan untuk terjangkitnya berbagai penyakit manakala tidak ekstra hati-hati didalam
menjaga kebersihannya sangatlah besar.

Afwan mau tanya :

Bila ada seorang istri yg marah dan selalu mencaci maki suaminya,dikarenakan suaminya tidak
perilaku seperti apa yg di kehendaki sang istri,Misalkan sang suami pulang telat tp tdak ada
pemberitahuan sebelumnya sehingga memancing emosi sang istri,berdosakah sang istri

pg. 76
tersebut,dan bagaimana seharusnya suaminya bersikap dlm menghadapi emosi sang istri yg tidak
tertahankan itu..? Syukron katsir

Jawaban

Islam telah mengatur adab berbicara terhadap sesama muslim yaitu berbicara dengan ruhama
(bahasa kasih sayang) apalah lagi dengan suami yang merupakan kepala rumah tangga maka
seharusnya istri berbicara dengan lemah lembut dan menghormati suami. Dalam hal ini istri
berdosa karena telah menyakiti hati suami.

Bagaimana sikap suami? Sungguh telah ada teladan Rasululah dalam hal ini, yaitu bersabar
menghadapi kemarahan istri, ketika kemarahan dibalas dengan kemarahan maka yang terjadi
adalah pertengkaran.

:::Tips Islami Mendidik dan Membangun Keakraban Dengan Anak:::

Anak adalah amanah yang diberikan Allah Swt pada para orang tua. Karenanya, orang tua
berkewajiban mengasuh, mendidik, melindungi dan menjaga amanah Allah itu agar menjadi
generasi muslim yang bukan hanya sukses di dunia, tapi juga di akhirat kelak.

Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan
pendidikan putra-putrinya. Tidak kalah penting juga seorang bapak sebagai "kepala sekolah"
dalam mengarahkan visi dan misi pendidikan Islami dalam keluarga. Pernahkah para orangtua
merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan
hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam
sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. Begitu pula
anak-anak kita kelak, dan isi catatan buku mereka selama di dunia sangat tergantung dengan
bagaimana cara kita mendidik mereka, apakah kita menerapkan pola pengasuhan dan pendidikan
yang cukup Islami.

pg. 77
Sebagai contoh, apakah anak-anak kita sekarang sudah memahami tentang hubungannya dengan
Sang Pencipta? Nasehat apa yang akan kita berikan pada anak-anak ketika kita menjelang ajal,
sehingga ketika kita dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt tentang anak-anak kita, kita
mampu menjawab, "Ya Allah, aku membesarkan anak-anakku dengan ihsan (sempurna)
semampu yang saya bisa, agar taat dan tunduk pada ajaran-Mu."

Di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini. Tugas mendidik, menjaga dan melindungi
anak dari pengaruh buruk arus globalisasi dan modernisasi, bukan perkara yang ringan. Bekal
pendidikan dari sekolah berkualitas, menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin serta moral
tidak cukup, jika tidak diimbangi dengan bekal pendidikan agama yang baik.

Bekal pendidikan rohani yang harus para orangtua tanamkan sejak dini adalah membangun
keyakinan yang kuat dalam hati mereka tentang ke-esa-an Allah Swt (tauhid), mengajarkan rasa
cinta yang besar pada Nabi Muhammad Saw dan mengajarkan mereka nilai-nilai serta
ketrampilan yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka saat dewasa nanti.

Sejak dini, tanamkan pada diri anak-anak tentang konsep Tiada Yang Berhak Disembah Selain
Allah. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Selalu
mengingatkan pada anak-anak bahwa Allah Mahatahu apa yang ada di bumi dan di langit, agar
anak-anak selalu menjaga ucapan dan tindakannya. Beritahukan pada anak-anak, apa
sesungguhnya tujuan hidup ini dan arahkan mereka agar tetap fokus dan memiliki visi yang jelas
tentang konsep hidup.

Itulah tantangan bagi para orangtua untuk menghasilkan generas-generasi muslim yang hebat
dan bermanfaat bagi umat. Generasi yang tidak hanya cerdas intelektual tapi juga cerdas dari sisi
sosial, emosi dan spiritual. Tentu saja untuk melakukan itu semua, para orangtua harus memiliki
pengetahuan dan ketrampilan untuk mendidik dan berinteraksi dengan anak-anak. Tips-tips
berikut bisa menjadi acuan bagi para orangtua dalam menerapkan pola asuh dan pendidikan bagi
anak-anak di rumah, agar menjadi generasi yang Islami:

1. Setiap anak itu unik

Kita harus memahami bahwa setiap anak terlahir unik. Pahami bahwa setiap anak lahir sebagai
individu yang mewirisi kualitas kepribadian yang berada di luar kendali orang tua. Itulah
sebabnya, orang tua harus mampu mengidentifikasi karakteristik yang unik dan perilaku anak-

pg. 78
anak kita, tanpa harus mencetak dan mendorong anak-anak ke arah yang orang tua sukai. Jika
kita memahami hal ini, kita akan memberikan pengasuhan, bimbingan dan dukungan yang anak-
anak butuhkan untuk melengkapi potensi yang telah Allah berikan pada mereka.

2. Membangun dan menanamkan tentang kasih sayang Allah Swt pada anak-anak

Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari
api neraka" (Surat At-Tahrim;6). Tanamkan pada anak-anak bahwa tentang kecintaan dan
keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi adalah atas kehendak Allah. Ajarkan mereka selalu
mengucapkan "La illaha illah Allah; jika anak meminta sesuatu, katakan pada mereka untuk
berdoa, meminta pada Allah karena Allah yang memiliki segala sesuatu. Ajarkan kecintaan pada
Allah saat santai dan berbincang-bincang dengan anak, agar mereka mudah memahami mengapa
manusia beribadah, harus taat dan melaksanakan ajaran-Nya.

3. Shalat

Rasulullah Saw berkata, "Ajarilah anak-anakmu salat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan
ketika mereka berusia sepuluh tahun, hukumlah jika mereka melalaikan salat.". Orang tua harus
membiasakan mengajak anak salat tepat waktu. Jadikah salat berjamaah sebagai kebiasaan dalam
keluarga, bahkan jika anak masih di bawah umur, tak ada salahnya selalu mengajak mereka salat.
Jika kewajiban salat sudah melekat kuat dalam diri anak, maka anak-anak akan terlatih untuk
salat dengan khusyuk.

4. Kegiatan Sosial

Ajaklah anak-anak sesering mungkin untuk melakukan aktivitas sosial, berjalan-jalan ke taman,
berkunjung ke kebun binatang atau museum, belajar berenang, bertaman, mengamati matahari
tenggelam, dan kegiatan lainnya. Sebisa mungkin, jauhkan anak dari kebiasaan nonton tv dan isi
waktu luang mereka dengan aktivitas fisik, misalnya melakukan olahraga yang mereka sukai.

5. Berkumpul dengan Keluarga

Biasakan berkumpul dengan seluruh keluarga, mendiskusikan berbagai isu yang merangsang
semua anggota keluarga mengemukakan pendapatnya. Kebiasaan ini melatih rasa percaya diri
anak dan kemampuannya bicara di muka umum dan akan mengakrabkan sesama anggota
keluarga. Kebiasaan berkumpul ini juga bisa dilakukan dengan cara memainkan permainan yang

pg. 79
melibatkan seluruh anggota keluarga atau memanfaatkan waktu makan, dengan membiasakan
makan bersama.

6. Membangun kesadaran pada anak-anak akan pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan
hidup

Kesadaran ini harus dimulai dari rumah sendiri, dengan melibatkan anak-anak dalam urusan
pekerjaan rumah. Mintalah anak memilih pekerjaan rumah apa yang bisa ia lakukan, apakah
menyapu, mengepel, mencuci piring, untuk membantu meringankan tugas ibu di rumah.

7 Komunikasi

Komunikasi adalah ketrampilan yang paling penting yang akan dipelajari anak-anak. Bicaralah
pada anak sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Rasulullah Saw mencontohkan, saat bicara
dengan anak-anak menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas sehingga anak-anak mau
mendengarkan dan bisa memahami apa yang disampaikan.

8. Disiplin

Kita tahu bahwa disiplin dan pengendalian diri merupakan karakter utama seorang muslim. Kita
belajar dan melatih diri tentang kedisiplinan dan pengendalian diri melalui ibadah puasa dan
perintah Allah itu menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang dalam Islam. Orang tua harus
menjelaskan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan anak-anak, dan apa konsekuensinya
jika hal itu dilanggar. Tentu saja larangan itu dalam batas-batas yang wajar. Misalnya, orang tua
tidak melarang anak nonton tv sama sekali, tapi memberi batasan berapa lama anak boleh nonton
televisi, misalnya cuma 30 menit. Orang tua juga harus menepati janji jika menjajikan sesuatu
pada anak, karena jika tidak, anak akan menganggap orang tuanya tidak bisa dipercaya.

9. Rutin

Membiasakan anak-anak melakukan tugas-tugasnya dengan rutin, misalnya salat tepat waktu,
membaca dan menghapal Al-Quran, membaca hadis, membiasakan membaca doa-doa Rasulullah
sebelum tidur, beramal meski cuma dengan senyum, dan kebiasaan lainnya yang akan menjadi
kegiatan rutin bagi anak kelak.

pg. 80
10. Memberikan Teladan yang baik

Rasulullah Saw. adalah teladan terbaik bagi kaum Muslimin. Bacakanlah kisah-kisah tentang
Rasulullah Saw, pada anak-anak agar anak-anak mengikuti Sunah-Sunahnya dengan rasa cinta.
Bacakan pula kisah-kisah tentang para nabi, sahabat-sahabat Nabi, dan pahlawan-pahlawan
dalam sejarah Islam sehingga tumbuh rasa cinta anak pada Islam.

11. Melakukan perjalanan yang menyenangkan

Perjalanan yang menyenangkan bersama keluarga tidak harus selalu mengunjungi tempat-tempat
wisata, tapi bisa juga mengunjugi masjid-masjid lokal. Kunjungan ke masjid sekaligus
mengajarkan anak tentang bagaimana etika berada di dalam masjid dan menumbuhkan rasa cinta
pada masjid, terutama bagi anak lelaki. Selain masjid, ajaklah mereka berkunjung ke tempat-
tempat bersejarah Islam agar mereka tahu warisan-warisan budaya dan sejarah Islam.

Maraji' : eramuslim

Berdasarkan kumpulan riwayat tentang pendidikan anak, sebagaimana dikutip dari Athfalul
Muslimin karya Jamal Abdurrahman, sejatinya terdapat 4 fase penting anak dalam islam yang
perlu diketahui oleh semua orang tua sebagaimana berikut.

1. Bermain dan bermanja pada usia 0-6 tahun

Usia 0-6 tahun merupakan masa-masa emas saat anak mengalami pesatnya perkembangan otak.
Karena itu, untuk mengembangkan potensi terbaiknya orang tua perlu menghujaninya dengan
kasih sayang tanpa batas dan memanjakannya dengan penuh cinta.

Rasulullah saw diriwayatkan sangat senang bermain-main dengan anak-anak pada usia ini.
Bermain-main apa saja yang disukai dan diinginkan menurut penelitian dapat mengembangkan
kecerdasan dan membuat anak mengeksplorasi berbagai hal baru. Rasul saw juga melarang
orang tua menggunakan kekerasan seperti memukul dan membentak pada anak usia 0-6 tahun.
Kekerasan terbukti dapat mematikan perkembangan sel-sel neuron yang sedang tumbuh pesat.
Ini artinya mematikan potensi emasnya.

pg. 81
2. Pengenalan disiplin dan tanggung jawab pada usia 7-14 tahun

Anak mulai diajarkan cara-cara shalat pada fase ini. Mereka diajak untuk mulai berdisiplin dan
mengenal tanggung jawab. Sebuah riwayat mengatakan bahwa bila mereka menolak, orang tua
diperbolehkan menggunakan cara sedikit keras seperti memukul. Memukul tentu bukan
dilakukan dengan emosional, tetapi sekadar untuk mengingatkan mereka pentingnya kewajiban,
disiplin, dan tanggung jawab.

3. Pendekatan antar teman pada usia 15-21 tahun

Ini adalah fase remaja saat anak mulai mencari jati diri. Orang tua tidak lagi dapat menggunakan
cara kekerasan karena pada usia ini umumnya diri anak akan dipenuhi dengan sikap
memberontak. Akan lebih baik bila orang tua mengakrabkan diri dan berteman dengan anak agar
dapat menjadi pendengar dan penasehat yang baik bagi segala permasalahan dan dilema remaja.

4. Pemberian kepercayaan dan kebebasan secara penuh pada usia 21 tahun ke atas

Pada usia ini anak telah memasuki fase kedewasaan. Anak mulai dihadapkan pada berbagai
persoalan dan diharapkan dapat menyelesaikannya secara mandiri. Karena itu, sebaiknya orang
tua memberikan kebebasan dan kepercayaan secara penuh pada anak.

Peran orang tua adalah menjadi penasehat, pengawas bagi perilaku dan sikap mereka, dan yang
terpenting selalu mendoakan mereka. Saatnya bagi mereka untuk mengamalkan pendidikan yang
kita tanamkan selama 20 tahun sejak mereka kecil.

Usia kanak-kanak adalah masa keemasan dalam kehidupan seseorang. Segala yang dipelajari dan
dialami pada masa ini dengan izin Allah Subhanahu wa Taala akan membekas kelak di masa
dewasa.

Tak heran bila di kalangan pendahulu kita yang shalih banyak kita dapati tokoh-tokoh besar yang
kokoh ilmunya, bahkan dalam usia mereka yang masih relatif muda. Dari kalangan sahabat, ada
Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Masud, Muadz bin Jabal, Anas bin
Malik radhiyallahu anhum, dan banyak lagi. Kalangan setelah mereka, ada Sufyan Ats-Tsauri,
Al-Imam Malik, Al-Imam Asy-Syafii, dan Al-Imam An-Nawawi rahimahumullah.

pg. 82
Begitulah memang. Dari sejarah kehidupan mereka kita bisa melihat, mereka telah sibuk dengan
ilmu dan adab semenjak usia kanak-kanak. Jadilah dengan pertolongan Allah Subhanahu wa
Taala apa yang mereka pelajari tertanam dalam diri dan memberikan pengaruh terhadap
pribadi.

Demikian yang diungkapkan oleh Alqamah rahimahullahu:

Segala sesuatu yang kuhafal ketika aku masih belia, maka sekarang seakan-akan aku
melihatnya di atas kertas atau lembaran catatan. (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 1/304)

Bahkan ayah ibu mereka berperan dalam mengarahkan dan membiasakan anak-anak untuk
menyibukkan diri dengan ilmu agama sejak dini dan menghasung mereka untuk mempelajari
adab.

Muhammad bin Sirin rahimahullahu mengatakan:

(Para pendahulu kita) mengatakan: Muliakanlah anakmu dan perbaikilah adabnya!. (Jami
Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 1/308)

Senada dengan ini, Ibnul Anbari rahimahullahu mengatakan pula:

Barangsiapa mengajari anaknya adab semasa kecil, maka akan menyejukkan pandangannya
ketika si anak telah dewasa. (Jami Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 1/306)

Dari kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Umar ibnul Khaththab
radhiyallahu anhu contohnya. Beliau selalu menyertakan putranya, Abdullah bin Umar
radhiyallahu anhuma di majelis Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, sementara orang-orang
yang duduk di sana adalah orang-orang dewasa. Bahkan betapa inginnya Umar agar putranya
menjadi seorang yang terkemuka di antara para sahabat yang hadir di situ dari sisi ilmu.
Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma menceritakan:

Dulu kami pernah duduk di sisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau bertanya
pada kami, Beritahukan kepadaku tentang sebatang pohon yang menyerupai atau seperti seorang
muslim, tidak pernah gugur daunnya, tidak demikian dan demikian, selalu berbuah sepanjang

pg. 83
waktu. Waktu itu terbetik dalam benakku bahwa pohon itu adalah pohon kurma, tapi kulihat Abu
Bakr dan Umar tidak menjawab apa pun sehingga aku pun merasa segan untuk menjawabnya.
Tatkala para sahabat tidak juga mengatakan apa pun, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda, Itu pohon kurma. Ketika kami bubar, kukatakan kepada (ayahku) Umar, Wahai
Ayah, sebetulnya tadi terlintas di benakku bahwa itu pohon kurma.Lalu apa yang membuatmu
tidak menjawab? tanya ayahku. Aku melihat anda semua tidak berbicara, hingga aku merasa
segan pula untuk menjawab atau mengatakan sesuatu, jawab Ibnu Umar. Umar pun berkata,
Sungguh, kalau tadi engkau menjawab, itu lebih kusukai daripada aku memiliki ini dan itu!
(HR. Al-Bukhari no. 4698)

Lihat pula Ummu Sulaim radhiyallahu anha yang menghasung putranya, Anas bin Malik
radhiyallahu anhu untuk selalu melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di usia kanak-
kanaknya. Ummu Sulaim radhiyallahu anha mengantarkan anaknya memperoleh faedah besar
berupa ilmu dan pendidikan dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam. Anas bin Malik
radhiyallahu anhu menuturkan, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tiba di Madinah ketika
aku berumur delapan tahun. Maka ibuku pun menggandengku dan membawaku menghadap
beliau. Ibuku mengatakan pada beliau, Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang tersisa dari
kalangan orang-orang Anshar, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali telah memberikan
sesuatu padamu. Sementara aku tidak mampu memberikan apa-apa kepadamu, kecuali putraku
ini. Ambillah agar dia bisa membantu melayani keperluanmu. Maka aku pun melayani beliau
selama sepuluh tahun. Tak pernah beliau memukulku, tak pernah mencelaku maupun bermuka
masam kepadaku. (Siyar Alamin Nubala, 3/398)

Begitu pula Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma, sepupu Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam. Baru belasan tahun umurnya ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat,
sementara sebelum itu dia banyak mengambil faedah ilmu dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam serta mendapatkan doa beliau. Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma
mengungkapkan, bagaimana inginnya dia mendapatkan ilmu dari Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam:

Aku pernah tidur di rumah Maimunah pada malam ketika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
bermalam di sana untuk melihat bagaimana shalat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di waktu
malam. (HR. Al-Bukhari no. 698 dan Muslim no. 763)

pg. 84
Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat, semangat Ibnu Abbas radhiyallahu
anhuma untuk mencari ilmu tidaklah surut. Didatanginya para sahabat Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam yang ada pada saat itu untuk mendengarkan hadits dari mereka. Ibnu Abbas
radhiyallahu anhuma menceritakan tentang hal ini:

Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam wafat dan waktu itu aku masih belia, aku
berkata kepada salah seorang pemuda dari kalangan Anshar, Wahai Fulan, mari kita bertanya
pada para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan belajar dari mereka, mumpung
mereka sekarang masih banyak! Dia menjawab, Mengherankan sekali kau ini, wahai Ibnu
Abbas! Apa kau anggap orang-orang butuh kepadamu sementara di dunia ini ada tokoh-tokoh
para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana yang kaulihat? Aku pun
meninggalkannya. Aku pun mulai bertanya dan menemui para sahabat Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Suatu ketika, aku mendatangi seorang sahabat untuk bertanya tentang suatu
hadits yang kudengar bahwa dia mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ternyata dia sedang tidur siang. Aku pun rebahan berbantalkan selendangku di depan pintunya,
dalam keadaan angin menerbangkan debu ke wajahku. Begitu keadaanku sampai dia keluar.
Wahai putra paman Rasulullah, kenapa engkau ini? tanyanya ketika dia keluar. Aku ingin
mendapatkan hadits yang kudengar engkau menyampaikan hadits itu dari Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam. Aku ingin mendengar hadits itu darimu, jawabku. Mengapa tidak kau utus
saja seseorang kepadaku agar nantinya aku yang mendatangimu? katanya. Aku lebih berhak
untuk datang kepadamu, jawabku. Setelah itu, ketika para sahabat telah banyak yang meninggal,
orang tadi (dari kalangan Anshar tersebut, red.) melihatku dalam keadaan orang-orang
membutuhkanku. Dia pun berkata padaku, Engkau memang lebih berakal daripadaku. (Jami
Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, 1/310)

Dari kalangan setelah tabiin, kita kenal Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu. Salah satu
hal yang mendorong Sufyan Ats-Tsauri sibuk menuntut ilmu sejak usia dini adalah hasungan,
dorongan, dan arahan ibunya agar Sufyan mengambil faedah dari para ulama, baik berupa ilmu
maupun faedah yang didapatkan dengan duduk bersama mereka, hingga ilmu yang diperolehnya
akan memiliki pengaruh terhadap akhlak, adab, dan muamalahnya terhadap orang lain.

Ketika menyuruh putranya untuk hadir di halaqah-halaqah ilmu maupun majelis-majelis para
ulama, ibunda Sufyan Ats-Tsauri berpesan, Wahai anakku, ini ada uang sepuluh dirham.
Ambillah dan pelajarilah sepuluh hadits! Apabila kaudapati hadits itu dapat merubah cara
dudukmu, perilakumu, dan ucapanmu terhadap orang lain, ambillah. Aku akan membantumu
dengan alat tenunku ini! Tapi jika tidak, maka tinggalkan, karena aku takut nanti hanya akan
menjadi musibah bagimu di hari kiamat! (Waratsatul Anbiya, hal.36-37)

pg. 85
Begitu pula ibu Al-Imam Malik rahimahullahu, dia memerhatikan keadaan putranya saat hendak
pergi belajar. Al-Imam Malik mengisahkan:

Aku berkata kepada ibuku, Aku akan pergi untuk belajar. Kemarilah! kata ibuku, Pakailah
pakaian ilmu! Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci
di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, Sekarang,
pergilah untuk belajar! Dia juga pernah mengatakan, Pergilah kepada Rabiah2! Pelajarilah
adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya! (Waratsatul Anbiya, hal. 39)

Biarpun dalam keadaan kekurangan, mestinya keadaan itu tidak menyurutkan keinginan
orangtua untuk memberikan yang terbaik bagi sang anak. Lihat bagaimana ibu Al-Imam Asy-
Syafii berusaha agar putranya mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang baik.

Diceritakan oleh Al-Imam Asy-Syafii rahimahullahu: Aku adalah seorang yatim yang diasuh
sendiri oleh ibuku. Suatu ketika, ibuku menyerahkanku ke kuttab3, namun dia tidak memiliki
sesuatu pun yang bisa dia berikan kepada pengajarku. Waktu itu, pengajarku membolehkan aku
menempati tempatnya tatkala dia berdiri. Ketika aku telah mengkhatamkan Al-Quran, aku mulai
masuk masjid. Di sana aku duduk di hadapan para ulama. Bila aku mendengar suatu
permasalahan atau hadits yang disampaikan, maka aku pun menghafalnya. Aku tak bisa
menulisnya, karena ibuku tak memiliki harta yang bisa dia berikan kepadaku untuk kubelikan
kertas. Aku pun biasa mencari tulang-belulang, tembikar, tulang punuk unta, atau pelepah pohon
kurma, lalu kutulis hadits di situ. Bila telah penuh, kusimpan dalam tempayan (guci) yang ada di
rumah kami. Karena banyaknya tempayan terkumpul, ibuku berkata, Tempayan-tempayan ini
membuat sempit rumah kita. Maka kuambil tempayan-tempayan itu dan kuhafalkan apa yang
tertulis di dalamnya, lalu aku membuangnya. Sampai kemudian Allah memberiku kemudahan
untuk berangkat menuntut ilmu ke negeri Yaman. (Waratsatul Anbiya, hal. 36)

Namun betapa mirisnya hati kita bila melihat anak-anak kaum muslimin sekarang ini. Dalam
usia yang sama dengan para tokoh ini tadi, mereka tidak mempelajari ilmu agama ataupun
memperbaiki adabnya. Akankah kita biarkan ini terus berlangsung?

Tips Mendekatkan / Mengakarabkan Diri Dengan Anak

pg. 86
Anak merupakan karunia terbesar Allah Ta'ala untuk dirawat dan dibesarkan oleh kedua orang
tuanya. Namun terkadang karena faktor kesibukkan pekerjaan, orang tua sering tidak sadar telah
kurang memberikan perhatian kepada anaknya. Kesibukan pekerjaan juga bisa mengurangi
waktu untuk berkomunikasi antar keduanya. Hal-hal tersebut bisa membuat kerenggangan
hubungan antara anak dan kedua orang tuanya.

Selain itu, kerenggangan hubungan dengan anak juga dapat mempengaruhi perkembangan
mental seorang anak. Anak yang merasa kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya
biasanya akan tumbuh menjadi anak yang egois, penentang dan pembangkang. Hal itu dilakukan
semata-mata untuk mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitarnya karena mereka merasa
orang tuanya tidak dapat mencukupi kebutuhan perhatian yang sebenarnya sangat dibutuhkan
oleh anak sebagai bukti rasa sayang orang tua kepada mereka.

Para orang tua seharusnya mengetahui pentingnya membangun kedekatan hubungan dengan
anak. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendekatkan diri kepada anak, berikut ini
beberapa kiat untuk membangun kedekatan hubungan dengan anak.

Pertama adalah menjaga komunikasi.

Sudah pasti komunikasi merupakan faktor terpenting dalam setiap jenis hubungan. Dengan
adanya komunikasi yang baik maka hubungan yang tercipta pun akan semakin baik. Biasakan
untuk sesering mungkin berkomunikasi dengan anak. Sesibuk apapun kita sempatkanlah untuk
berbincang-bincang dengan mereka. Tanyakan aktivitas apa saja yang seharian tadi dilakukan
oleh anak? Bagaimana sekolahnya? Bagaimana teman-temanya? Dengarkan ceritanya baik-baik,
dari situ kita bisa memantau bagaimana keadaan anak dan dengan siapa saja mereka bergaul.

Kedua adalah sentuhan yang bermakna.

Sebuah sentuhan dari orang tua terutama ibu akan memberikan kehangatan tersendiri bagi
seorang anak. Ucapkan selamat serta berikanlah sentuhan lembut dikepala, pipi, atau pundak
ketika mereka mendapatkan nilai yang baik atau baru saja memenangkan sebuah perlombaan.
Sentuhan-sentuhan kecil seperti itu akan sangat berarti untuk anak karena mereka akan merasa
diperhatikan, disayangi serta dihargai oleh orang tuanya.

pg. 87
Ketiga adalah bersenang-senang bersama.

Carilah waktu senggang sehingga kita bisa menghabiskan waktu bersama. Rekreasi keluarga atau
sekedar mengobrol bersama diruang keluarga akan menjaga kedekatan hubungan antar anggota
keluarga. Aktivitas yang dilakukan bersama akan menjaga kedekatan anak dengan kedua orang
tuanya.

Kelima adalah membaca Al-Qur'an dan berdoa bersama.

Membiasakan anak untuk selalu dekat dengan Allah merupakan tugas dasar orang tua. Kebiasaan
ini akan menjaga pertumbuhan mental anak agar terhindar dari pengaruh-pengaruh buruk dari
lingkungan. Menjalankan ibadah bersama, membaca Al-Qur'an atau sekedar membaca doa
bersama ketika hendak makan merupakan pembelajaran yang akan sangat bermakna untuk anak.
Luangkan waktu khusus setiap hari untuk aktivitas ini.

Tips Mengatasi Anak "Nakal"

Cara mendidik anak nakal memang tidak mudah dan memerlukan sedikit usaha ekstra jika
dibandingkan dengan mendidik anak yang memiliki kepribadian yang biasa- biasa saja bahkan
lebih cenderung mudah diatur. Dalam penerapannya, banyak sekali orang tua yang tidak mampu
sabar dalam mengendalikan anak yang nakal dan mereka cenderung melakukan kekerasan
kepada anak sebagai salah satu solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak yang nakal. Sebagian
besar orang tua mungkin menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang benar, namun apakah
demikian? Benarkah mendidik anak yang nakal dengan jalan kekerasan akan membuat mereka
menjadi lebih disiplin? Jawabannya tentu tidak. Mendisiplinkan anak yang nakal dengan jalan
kekerasan justru akan membuat anak semakin tidak takut dengan siapapun, bahkan cenderung
menjadi bandel. Dalam hal ini, orang tua harus menerapkan cara yang berbeda dalam
menghadapi anak yang nakal namun bukan dengan jalan melakukan kekerasan seperti main
pukul terhadap anak, karena hal tersebut akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhan anak.
Untuk mendisiplinkan anak yang nakal. Terdapat beberapa cara yang perlu diterapkan agar anak
mnjadi disiplin dan sembuh dari kenakalannya. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya
yang nakal menjadi disiplin, bukan? Hal ini karena memiliki anak yang nakal terkadang
membuat orang tua depresi karena merasa salah dalam mendidik anak.

Disadari atau tidak, penyebab anak menjadi penurut atau bahkan menjadi nakal memang sedikit
banyak terjadi karena campur tangan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Untuk

pg. 88
itu, bagi para rang tua khususnya para ibu yang memiliki anak yang nakal, hendaknya kita harus
siap dan lebih sabar dalam mengembalikan kepribadian anak menjadi pribadi yang disiplin yang
taat. Lantas bagaimanakah cara mendidik anak yang nakal agar mereka mamp menjadi anak
yang patuh dan disiplin sehingga dapat membanggakan kedua orang tuanya? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, kali ini kita akan membahas mengenai seputar anak yang nakal, penyebab
anak menjadi nakal serta bagaimana cara mengatasi anak yang nakal sehingga mereka dapat
kembali menjadi anak yang disiplin dan patuh terhadap kedua orang tuanya.

Sebelum mengetahui cara mendidik anak yang nakal, pertama kali yang harus diketahui oleh
orang tua adalah dengan mencari tahu apa yang menjadi penyebab sang anak menjaid nakal.
Terdapat beberapa sebab mengenai anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal pada usia- usia
tertentu yang pada awalnya mereka sebenarnya adalah anak yang baik. Di antara sebab- sebab
tersebut antara lain adalah sebagai berikut:

Ketika masih bayi atau berusia sekitar di bawah lima tahun, anak sudah dibiasakan oleh orang
tua dengan menuruti semua kemauan anak. Hal ini sering terjadi terutama bagi orang tua yang
tidak tega melihat anakanya menangis sehingga mereka lebih memilih untuk menuruti apa yang
diinginkan sang anak. Dengan memanjakan anak seperti ini, secara tidak langsung orang tua
tengah mendidik anak menjadi anak yang semua keinginannya harus dipenuhi dan jika tidak,
mereka akan mengancam kedua orang tuanya dengan mengeluarkan jurus andalan, yakni
menangis. Hal inilah yang membuat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal ketika
mereka memasuki usia pra sekolah. Mereka akan senang merengek dan tak jarang dari mereka
yang berteriak- teriak meminta dibelikan sesuatu tanpa mempedulikan kondisi orang tua saat itu.
Yang terpenting adalah kebutuhannya, apapun keadaannya. Dengan membiasakan anak dimanja
sejak kecil, akan menumbuhkan pribadi yang egois.

Orang tua tidak menegur sang anak bahkan cenderung mentertawai mereka pada saat mereka
mengucapkan kata- kata yang tidak patut. Hal ini tak jarang pula terjadi pada masyarakat kita
terutama dari kalangan orang tua yang kurang berpendidikan. Mereka cnderung membiarkan dan
mentertawakan anak mereka ketika anak- anak mereka berkata yang tidak sopan dan bahkan
berkata- kata kotor. Dengan sikap orang tua yang seperti itu, maka anak akan menganggap
bahwa apa yang ia lakukan bukanlah suatu kesalahan sehingga anak akan cenderung mengulangi
perkataan- perkataan tersebut sehingga akan terbawa sampai ia dewasa. Melakukan pembiaran
terhadap fenomena ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan tidak
memiliki tata krama.

pg. 89
Kurangnya penerapan pelajaran ruhani kepada sang anak. Sebagai orang tua, tentu kita semua
tahu bahwa agama merupakan satu- satunya pegangan hidup yang mampu menuntun seseorang
untuk menuju ke arah yang lebih baik. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Apabila
anak tidak diperkenalkan mengenai agama semenjak ia masih kecil, maka ia akan tumbuh
menjadi pribadi yang tak terkendali sehingg tak jarang dari mereka yang tumbuh menjadi anak
yang nakal.

Terlalu sering bertengkar di hadapan sang anak juga merupakan salah satu faktor utama anak
tumbuh menjadi anak yang nakal. Kejadian ini sering dialami oleh orang tua yang memiliki
kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis dimanamereka terlalu sering brtengkar di
hadapan sang anak sehingga sang anak berpikir bahwa keluarga mereka dipenuhi dengan
kebencian- kebencian yang mengakibatkan sang anak menjadi berontak sebagai bentuk protes
terhadap perilaku kedua orang tuanya. Apabila kita mengamati anak- anak di sekitar kita yang
kedua orang tuanya memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, maka hal ini
sering kita jumpai pada anak- anak mereka.

Terlalu sering memberikan uang saku yang berlebihan kepada sang anak dan memfasilitasi
mereka dengan hal- hal yang sesungguhnya tidak terlalu mereka butuhkan juga menjadi
penyebab utama sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal. Hal ini biasanya terjadi di kota-
kota besar yang mana anak tumbuh di dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya
merupakan orang- orang yang fokus pada karir. Orang tuasemacam itu cenderung memfasilitasi
anak- anaknya dengan segala kelebihan dan kecukupan dengan menganggap bahwa mereka tidak
membutuhkan kasih sayang dengan terpenuhinya hal- hal tersebut. Padahal, membiasakan anak
dengan barang mewah justru akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kurang
memiliki jiwa sosial dan tak jarang dari mereka akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak
terkendali.

Kelima faktor di atas merupakan beberapa dari sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan
anak menjadi nakal. Setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak tumbuh menjadi
anak yang nakal, maka langkah orang tua selanjutnya adalah dengan mulai menghentikan
kebiasaan yang menjadi penyebab anak menjadi nakal tersebut dengan menerapkan beberapa
cara mendidik anak nakal. Perlu diingat bahwa mengembalikan anak nakal menjadi penurut
tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, terlebih ketika mereka masih berusia anak- anak.
Untuk itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh orang tua dalam mengatasi anak-
anak yang nakal.

pg. 90
Cara pertama yang dapat ditempuh dalam mengatasi anak yang nakal adalah dengan menetapkan
peraturan- peraturan yang tegas di rumah untuk membatasi perilaku anak yang dirasa sudah
terlewat batas. Pada tahap pertama hal ini tentu akan sangat sulit diterima oleh sang anak, namun
dengan menerapkan hukuman, maka mau tidak mau sang anak akan mematuhi peraturan-
peraturan yang ditetapkan oleh kedua orang tua. Yang perlu menjadi catatan dalm hal ini adalah
tegas bukan berarti keras, namun lebih ke arah bijaksana. Penerapan hukuman yang diberikan
kepada anak bukan dalam bentuk kekerasan fisik, melainkan dalam bentuk lain seperti
memotong uang jajan, mengurangi waktu bermain serta mencabut beberapa fasilitas yang
biasanya digunakan oleh anak seperti menghentikan untuk memakai sepeda selama beberapa
hari, dan lain- lain. Hal ini akan membuat anak berfikir untuk lebih memilih mematuhi peraturan
daripada mendapatkan konsekuensi yang ia anggan merugikan dirinya sendiri.

Cara kedua yang dapat diterapkan dalam memberikan treatment terhadap anak yang nakal adalah
dengan membrikan anak suatu tanggung jawab dalam skala ringan yang sesuai dengan usia
mereka. Sebagai contoh, apabila anak terbiasa dengan menaruh sepatu, tas dan tidak berganti
seragam sepulang sekolah, maka anak akan kehilangan sepatunya atau tas atau barang
kesayangannya yang lain. Dengan melatih anak untuk membiasakan diri menaruh peralatan
sekolah pada tempatnya serta berganti baju sepulang sekolah, maka anak akan merasa
bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri sehingga lama kelamaan anak akan cenderung
menjadi anak yang bertanggung jawab. Dengan demikian, anak yang nakal terutama yang tidak
disiplin akan berubah menjadi anak yang disiplin serta penuh tanggung jawab.

Selain menetapkan peraturan- peraturan, tak ada salahnya jika orang tua menjadi pendengar yang
baik bagi sang anak karena bisa jadi sang anak menjadi nakal akibat kurangnya perhatian dari
orang tua atau anak tidak memiliki tempat untuk bercerita mengenai apa yang dialaminya sehari-
hari. Luangkanlah waktu brsma sang anak untuk mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah
sang anak dan berikanlah solusi terbaik dari permasalahan yang sedang mereka hadapi. Dengan
menjadi pendengar dan penasehat yang baik, hati anak yang semula kaku dan berontak akan
luluh karena mereka akan berfikir bahwa ternyata masih ada orang yang mau mendengarkan
perkataannya. Jangan selalu menjadi penasehat yang menuturi sang anak dengan petuah- petuah,
namun jadilah pendengar yang baik pula bagi mereka. Dengan demikian, kenakalan mereka
perlahan- lahan akan mereda.

Dalam menarik anak yang nakal agar ia kembali menjadi anak yang baik, perlu diingat bahwa
orang tua hendaknya tidak terlalu kasar kepada anak, namun tidak terlalu lembut kepada mereka.
Bersikaplah di tengah- tengah, yakni tetap lembut namun juga tegas terhadap mereka apabila
mereka melakukan kesalahan. Dengan demikian, sang anak akan menyadari kesalahan-

pg. 91
kesalahan yang mereka lakukan dan mereka akan mengetahui mana yang baik dan mana yang
buruk bagi mereka. Sehingga, sang anak akan mampu mengendalikan diri mereka sendiri dan
akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki jiwa yang stabil dan berpendirian kuat. Dengan
menerapkan beberapa solusi untuk menghentikan anak yang nakal dan mengubah mereka
menjadi anak yang baik dan patuh, maka orang tua akan mendapatkan anak yang baik,
berkepribadian serta memiliki tata krama yang terpuji dalam masyarakat.

Link download materi audio :

01.Kiat Sukses Manajemen Keuangan http://bit.ly/1TTisc1


02.Manajemen Komunikasi antara Suami dan Istri http://bit.ly/1MxV1PF

pg. 92