Anda di halaman 1dari 52

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTEK

Judul : Pemeliharaan Transformator Tegangan ( CVT ) Pada


Gardu Induk Aur Duri

Perusahaan : PT. PLN (Persero) P3B Sumatera UPT Jambi TRAGI


Aur Duri Gardu Induk Aur Duri

Nama : YUDIANTO

NIM : M1A114006

Jenjang Studi : S1

Program Studi : Teknik Elektro

Fakultas : Teknik

Jambi, November 2017

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Kerja Praktek, Pembimbing Lapangan,

NEHRU, S.Si., M.T M.TAHER RAZALI


NIP.197602082001121002 NIP. 6392371B

Menyetujui,
Ketua Program Studi Tenik Elektro,

RIZKI ANDRE.H S.T., M.T


NIP. 198304142011011007

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME atas limpahan rahmat
dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini. Terima kasih
kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam penulisan
dan penyusunan laporan ini, khususnya kepada :
1. Nehru, S.Si., M.T selaku dosen pembimbing, yang telah memberi banyak
bimbingan serta masukan kepada kami selaku penulis.
2. Manajer TRAGI Aur Duri Junai Redi, yang telah memberikan kami
kesempatan untuk dapat melaksanakan kerja praktek di PT. PLN (Persero)
P3B Sumatera UPT Jambi TRAGI Aur Duri Gardu Induk Aur Duri.
3. Supervisor GI Aur Duri kepada M.Taher Razali sekaligus pembimbing
lapangan.
4. Serta semua rekan-rekan sejawat yang ikhlas memberikan bantuan kepada
kami dalam penyusunan laporan ini.
Dalam penulisan laporan ini, kami menyadari akan banyaknya
ketidaksempurnaan dalam penyusunan dan penulisan isi materi pembahasan
laporan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan untuk dapat dijadikan pelajaran dan perbaikan bagi kami penulis.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bantuan dan kebaikan para
rekan sekalian mendapat balasan yang sesuai. Kami berharap semoga penulisan
laporan ini dapat memberikan manfaat dan dapat dijadikan bahan tambahan
pengetahuan bagi semua pembaca. Aamiin.

Muaro Jambi, November 2017

Yudianto

ii
ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

PLN = Perusahaan Listrik Negara


GI = Gardu Induk
TRAGI = Transmisi Gardu Induk
UPT = Unit Pelayanan Transmisi
CT = Current Transformator
CVT = Capasitive Voltage Transformer
Megger = Mega OhmMeter
TT = Tegangan Tinggi
TET = Tegangan Ekstra Tinggi
ShutdownTesting/Measurement = Pengujian/pengukuran tidak bertegangan
Shutdown Function Check = Pengujian fungsi dalam keadaan tidak
bertegangan.

Off Line = Keadaan tidak bertegangan

Advanced = Tingkat lanjut

iii
DAFTAR GAMBAR

2.1 Transformasi energi .......................................................................... 4


2.2 Sejarah Perkembangan Trafo ........................................................... 5
2.3 Simbol Transformer 1 phase ............................................................ 5
2.4 Simbol Transformer 3 phase ............................................................ 6
2.5 Lilitan Trafo Daya ........................................................................... 6
2.6 Trafo arus ......................................................................................... 9
2.7 Trafo tegangan (cvt) ......................................................................... 10
2.8 Bagian-bagian VT ........................................................................... 13
2.9 Gardu induk ..................................................................................... 15
3.1 Lokasi gardu induk aur duri ............................................................. 21
3.2 Single line diagram ......................................................................... 22
3.3 Struktur organisasi UPT Jambi ....................................................... 24
4.1 Trafo tegangan ( CVT) pada GI Aur Duri ........................................ 32
4.2 Bagian trafo tegangan kapasitif ........................................................ 33
4.3 Struktur organisasi pemeliharaan ..................................................... 35
4.4 megger ( mega ohm meter ) .............................................................. 38
4.5 pengujian tahanan isolasi .................................................................. 38
4.6 pengukuran tahanan isolasi trafo ..................................................... 38
4.7 pengukuran tahanan isolasi trafo ...................................................... 39
4.8 Hubungan antara penghantar dan elektrode pentanahan ................ 41
4.9 satu buah elektrode pentanahan ....................................................... 42
4.10 Hubungan beberapa elektrode pentanahan ..................................... 43
4.11 Jaringan bertautan .......................................................................... 43
4.12 pelat pentanahan ............................................................................. 43
4.13 Digital Earth Tester ........................................................................ 44
4.14 pengukuran tahanan pentanahan .................................................... 44
4.15 Hasil pengukuran pentanahan ......................................................... 45

iv
DAFTAR TABEL

4.1 Rekomendasi tahanan isolasi shutdown testing/measurement ......... 39


4.2 Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi .................................................... 40
4.3 Rekomendasi tahanan pentanahan shutdown testing/measurement .. 44
4.4 Hasil Pengukuran Tahanan Pentanahan ............................................ 45

v
vi
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Suatu system pada hakikatnya adalah peranan penting bagi

peralatan dan manusia itu sendiri. Pemeliharaan instalasi Gardu Induk pada

hakekatnya adalah untuk mendapatkan kepastian atau jaminan bahwa

sistem suatu peralatan yang dipelihara akan berfungsi secara optimal untuk

meningkatkan umur teknisnya dan keamanan bagi personil. Pemeliharaan

Instalasi Gardu Induk dilihat dari sifat dan jenis pemeliharaannya

dibedakan dalam pemeliharaan rutin, pemeliharaan korektif dan

pemeliharaan darurat. Mengingat bidang pemeliharaan ini sangat

diperlukan dalam sistem penyaluran, maka pemeliharaan memerlukan

perencanaan, pelaksanaan, pengawasan serta evaluasinya yang

dilaksanakan baik ditingkat pusat, kesatuan, unit administrasi sampai unit

terkecil.

PLN sebagai satu - satunya perusahaan yg bergerak dalam bidang

penyaluran tenaga listrik ke seluruh Indonesia harus mampu menjaga

ketersediaan listrik dengan cara salah satunya pemeliharaan komponen

komponen dari penyaluran energi listrik tersebut. Hal ini menginspirasikan

kami untuk mengambil topik laporan kerja praktek dibidang pemeliharaan

komponen komponen di Gardu

GI atau Gardu Induk adalah merupakan kumpulan peralatan

listrik tegangan tinggi atau tegangan ekstra tinggi yang mempunyai fungsi

1
dan kegunaan dari masing-masing peralatan yang satu sama lain saling

terkait sehingga penyaluran energi dapat terlaksana dengan baik.Salah satu

peralatan yang utama yang terdapat di gardu induk yaitu transformator

tegangan. Pemeliharaan dan pengoperasian yang tidak benar terhadap

transformator tegangan akan memperpendek umur transformator tegangan

dan akan menimbulkan gangguan gangguan (troubles) lebih dini.

Di era yang modern ini kebutuhan akan tenaga listrik sudah menjadi

kebutuhan wajib baik diperkotaan maupun di pedesaan, hampir seluruh

peralatan penunjang kehidupan sehari-hari kita memerlukan energi listrik.

Oleh karena itu kita harus menyadari setidaknya secara umum bagaimana

listrik itu bekerja dan penyampaian sistem tenaga listrik dari hulu ke hilir.

Sebagai mahasiswa fakultas Teknik Elektro arus kuat Universitas Jambi

saya tertarik untuk kerja praktek di Gardu Induk Aur Duri khususnya

mengenai pemeliharaan potensial transformator secara umum.

1.2 Rumusan Masalah

Laporan keja praktek ini disusun untuk mengetahui Bagaimana


pemeliharaan trafo tegangan di Gardu Induk Aur Duri ?

1.3 Batasan Masalah


Laporan kerja praktek ini disusun hanya fokus untuk mengetahui
bagaimana pemeliharaan transformator tegangan yang terdapat di Gardu
Induk Aur duri. Untuk mempersempit masalah , maka hamya dibahas
bagaimana pemeliharaan transformator tegangan.

2
1.4 Tujuan

Tujuan penulisan laporan kerja praktek ini adalah untuk


mengetahui bagaimana pemeliharaan transformator tegangan yang
terdapat di gardu induk secara umum .

1.5 Manfaat

Pelatihan Lapangan bermanfaat dalam memberikan bekal terhadap

mahasiswa tentang apa yang perlu mereka miliki nantinya jika ingin terjun

ke dunia industri. Mahasiswa yang sukses dalam Pelatihan Lapangan lebih

mudah beradaptasi dengan dunia kerja karena mereka diasumsikan telah

memahami kebutuhan industri yang diharapkan dari mereka sebagai calon

tenaga kerja yang berkualitas.

Melalui kegiatan Pelatihan Lapangan maka pihak industri akan

dapat melakukan observasi secara lebih baik terhadap calon tenaga kerja,

baik dari segi kemampuan kerja (keterampilan, pengetahuan dan sikap)

dalam waktu yang relative cukup panjang yaitu selama mahasiswa

melaksanakan kegiatan Pelatihan Lapangan dibandingkan dengan kondisi

jika industri itu hanya mengandalkan kegiatan tes interview saja atau tes

lain yang mempunyai keterbatasan.

3
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Pengertian Trafo


Transformer adalah suatu alat listrik yang dapat memindahkan dan
mengubah energi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik ke rangkaian
listrik yang lain, melalui suatu gandengan magnet dan berdasarkan prinsip
induksi elektromagnetik

Gambar 2.1. Transformasi energi

2.2 Sejarah Transformer


1. 1831, Michael Faraday mendemonstrasikan sebuah koil dapat
menghasilkan tegangan dari koil lain.
2. 1832, Joseph Henry menemukan bahwa perubahan flux yang cepat dapat
menghasilkan tegangan koil yang cukup tinggi
3. 1836, Nicholas Callan memodifikasi penemuan Henry dengan dua koil.
4. 1850 1884, era penemuan generator AC dan penggunaan listrik AC
5. 1885, Georges Westinghouse & William Stanley mengembangkan
transformer berdasarkan generator AC.
6. 1889, Mikhail Dolivo-Dobrovolski mengembangkan transformer 3 fasa
pertama

4
2.3 Prinsip Dasar Transformer
Prinsip dasar suatu transformator adalah induksi bersama(mutual
induction) antara dua rangkaian yang dihubungkan oleh fluks magnet. Dalam
bentuk yang sederhana, transformator terdiri dari dua buah kumparan induksi
yang secara listrik terpisah tetapi secara magnet dihubungkan oleh suatu path
yang mempunyai relaktansi yang rendah. Kedua kumparan tersebut
mempunyai mutual induction yang tinggi. Jika salah satu kumparan
dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, fluks bolak-balik timbul
di dalam inti besi yang dihubungkan dengan kumparan yang lain
menyebabkan atau menimbulkan ggl (gaya gerak listrik) induksi ( sesuai
dengan induksi elektromagnet) dari hukum faraday, Bila arus bolak balik
mengalir pada induktor, maka akan timbul gaya gerak listrik (ggl). [1]

Gambar 2.2. Sejarah Perkembangan Trafo

.Simbol Transformer

Gambar 2.3. Simbol Transformer 1 phase

5
Gambar 2.4. Simbol Transformer 3 phase

2.4 Tansformator Daya

Transformator daya adalah suatu peralatan tenaga listrik yang berfungsi


untuk menyalurkan daya listrik dari tegangan tinggi ke tegangan rendah atau
sebaliknya (mentransformasikan tegangan).

2.4.1 Prinsip Kerja


Trafo bekerja atas dasar pembangkit tegangan induksi bolak-balik di
dalam kumparan yang melingkupi fluksi yang berubah-ubah. Apabila
lilitan primer diberi tegangan bolak-balik E1 maka akan timbul arus I2
(pada trafo tak berbeban : I0) pada belitan primer, yang kemudian akan
membangkitkan fluksi bolak-balik pada inti trafo. Kemudian fluksi ini
membangkitkan primer dan arus I2 pada sekunder, bila trafo berbeban. [2]

Gambar 2.5. Lilitan Trafo Daya

Keterangan : N1 : Lilitan primer


E1 : Tegangan primer N2 : Lilitan sekunder
E2 : Tegangan sekunder e1 : Tegangan Induksi Primer
I1 : Arus primer e2 : Tegangan Induksi Sekunder
I2 : Arus sekunder : Fluksi

6
2.4.2 Bagian Bagian Trafo dan Fungsinya
1. Electromagnetic Circuit (Inti besi)
Inti besi digunakan sebagai media mengalirnya flux yang timbul
akibat induksi arus bolak balik pada kumparan yang mengelilingi inti
besi sehingga dapat menginduksi kembali ke kumparan yang lain.
Dibentuk dari lempengan lempengan besi tipis berisolasi dengan
maksud untuk mengurangi eddy current yang merupakan arus sirkulasi
pada inti besi hasil induksi medan magnet, dimana arus tersebut akan
mengakibatkan rugi rugi (losses).
2. Current Carrying Circuit (Winding)
Belitan terdiri dari batang tembaga berisolasi yang mengelilingi
inti besi, dimana saat arus bolak balik mengalir pada belitan tembaga
tersebut, inti besi akan terinduksi danmenimbulkan flux magnetik.
3. Bushing
Bushing merupakan sarana penghubung antara belitan dengan
jaringan luar. Bushing terdiri dari sebuah konduktor yang diselubungi
oleh isolator. Isolator tersebut berfungsi sebagai penyekat antara
konduktor bushing dengan body main tank trafo.
4. Pendingin
Suhu pada trafo yang sedang beroperasi akan dipengaruhi oleh
kualitas tegangan jaringan, rugi-rugi pada trafo itu sendiri dan suhu
lingkungan. Suhu operasi yang tinggi akan mengakibatkan rusaknya
isolasi kertas pada trafo. Oleh karena itu pendinginan yang efektif
sangat diperlukan.
Minyak isolasi trafo selain merupakan media isolasi juga berfungsi
sebagai pendingin. Pada saat minyak bersirkulasi, panas yang berasal
dari belitan akan dibawa oleh minyak sesuai jalur sirkulasinya dan
akan didinginkan pada sirip sirip radiator. Adapun proses
pendinginan ini dapat dibantu oleh adanya kipas dan pompa sirkulasi
guna meningkatkan efisiensi pendinginan.

7
5. Oil Preservation & Expansion (Konservator)
Saat terjadi kenaikan suhu operasi pada trafo, minyak isolasi akan
memuai sehingga volumenya bertambah. Sebaliknya saat terjadi
penurunan suhu operasi, maka minyak akan menyusut dan volume
minyak akan turun. Konservator digunakan untuk menampung minyak
pada saat trafo mengalami kenaikan suhu.

6. Tap Changer
Kestabilan tegangan dalam suatu jaringan merupakan salah satu hal
yang dinilai sebagai kualitas tegangan. Trafo dituntut memiliki nilai
tegangan output yang stabil sedangkan besarnya tegangan input tidak
selalu sama. Dengan mengubah banyaknya belitan sehingga dapat
merubah ratio antara belitan primer dan sekunder dan dengan demikian
tegangan output/ sekunder pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan
sistem berapapun tegangan input/ primernya. Penyesuaian ratio belitan
ini disebut Tap changer.[3]

2.5. Trafo Pengukuran


2.5.1 Trafo arus ( CT )
trafo arus tegangan tinggi digunakan untuk memonitor kinerja
suatu sistem tenaga listrik. Pengukuran arus pada jaringan tegangan
tinggi tak dapat dilakukan langsung seperti pada jaringan tegangan
rendah, karena selain berbahaya bagi operator, membuat ampere
meter yang mampu mengukur langsung arus yang mengalir pada
jaringan tegangan tinggi adalah hal yang sulit.
Pada sistem tenaga listrik ditemukan juga relai-relai proteksi
yang mengontrol kinerja sistem tenaga listrik. Relai-relai tersebut
juga membutuhkan besaran sensor berupa arus lemah. Oleh karena
itu, diperlukan trafo arus untuk mentransformasi arus kuat pada suatu
jaringan ke suatu nilai arus lemah supaya dapat diukur amperemeter
dan dapat dimanfaatkan sebagai besaran sensor pada relai proteksi.

8
2.5.2 Fungsi trafo arus ( CT )
Trafo arus digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya
ratusan ampere dan arus yang mengalir dalam jaringan tegangan
tinggi. Jika arus yang hendak diukur mengalir pada jaringan
tegangan rendah dan besarnya di bawah 54, maka pengukuran dapat
dilakukan secara langsung dengan menggunakan suatu ammeter
yang dihubungkan seri dengan jaringan. Tetapi jika arus yang
hendak diukur mengalir pada jaringan tegangan tinggi, meskipun
besarnya di bawah 5A, maka pengukuran tidak dapat dilakukan
secara langsung dengan menggunakan suatu ammeter, karena cara
yang demikian berbahaya bagi operator. Cara itu juga berbahaya
bagi ammeter yang digunakan karena isolasi ammeter tidak
dirancang untuk memikul tegangan tinggi.
Jika arus yang hendak diukur mengalir pada jaringan tegangan
rendah dan besamya lebih daripada 5A, maka pengukuran tidak
dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan suatu
ammeter, karena pada umumnya, batas kemampuan ammeter hanya
mengukur arus di bawah 5A.

Gambar 2.6. trafo arus.

9
Pada Gambar 6 diperlihatkan contoh trafo arus yang digunakan
untuk tegangan rendah, tegangan menengah dan tegangan tinggi. Di
samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk
pengukurandaya dan energi; dibutuhkan juga untuk keperluan telemeter
dan relai proteksi. Kumparan primer trafo arus dihubungkan seri dengan
jaringan atau peralatan yang akan diukur arusnya, sedangkan kumparan
sekunder dihubungkan dengan meter atau relai proteksi.
Pada umumnya peralatan ukur dan relai membutuhkan arus 1 atau
5A. Trafb arus bekerja sebagai trafo yang terhubung singkat. Rentang
kerja trafo arus yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai
l,2kali arus yang akan diukur. Trafo arus untuk tujuan proteksi dirancang
sedemikian sehingga mampu mengalirkan arus lebih daripada 10 kali arus
nominalnya.[4]

2.6 Transformator tegangan


adalah transformator yang berfungsi untuk :
1. Mentransformasikan nilai tegangan yang tinggi pada sisi primer ke nilai
tegangan yang rendah di sisi sekunder yang digunakan untuk
pengukuran (metering) dan proteksi.
2. Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, yaitu
memisahkan instalasi pengukuran dan proteksi dari tegangan tinggi.

Gambar 2.7. Trafo Tegangan ( CVT) Pada GI Aur Duri

10
2.6.1 Prinsip Kerja Transformator Tegangan
Transformator bekerja berdasarkan prinsip elektromagnetik. Jika pada
kumparan primer mengalir arus I1, maka pada kumparan primer timbul gaya
gerak magnet sebesar N1I1.
Gaya gerak magnet ini memproduksi fluks pada inti, kemudian
membangkitkan gaya gerak listrik (GGL) pada kumparan sekunder. Jika
terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder
mengalir arus I2, arus ini menimbulkan gaya gerak magnet N1I1 pada
kumparan sekunder.[5]

2.7 Jenis-Jenis Trafo Tegangan


Trafo tegangan dibagi menjadi dua jenis yaitu:

1. Trafo tegangan magnetik (Magnetik Voltage Transformer/ VT)


Disebut juga Trafo tegangan induktif. Terdiri dari belitan primer dan
sekunder pada inti besi yang prinsip kerjanya belitan primer
menginduksikan tegangan kebelitan sekundernya.

2. Trafo tegangan kapasitif (Capasitive Voltage Transformer/ CVT)


Trafo tegangan ini terdiri dari dua bagian yaitu Capacitive Voltage
Divider (CVD) dan inductive Intermediate Voltage Transformer (IVT).
CVD merupakan rangkaian seri 2 (dua) kapasitor atau lebih yang berfungsi
sebagai pembagi tegangan dari tegangan tinggi ke tegangan rendah pada
primer, selanjutnya tegangan pada satu kapasitor ditransformasikan oleh
IVT menjadi teganggan sekunder.

2.8 Bagian-Bagian Trafo Tegangan


2.8.1 Trafo Tegangan Jenis Magnetik
1. Kertas/ Isolasi Minyak
Berfungsi mengisolasi bagian yang bertegangan (belitan primer)
dengan bagian bertegangan lainnya (belitan sekunder) dan juga dengan
bagian badan (body). Terdiri dari minyak trafo dan kertas isolasi

11
2. Rangkaian Electromagnetic
Berfungsi mentransformasikan besaran tegangan yang terdeteksi
disisi primer ke besaran pengukuran yang lebih kecil.

3. Expansion Chamber
Merupakan peralatan yang digunakan untuk mengkompensasi level
ketinggian minyak akibat perubahan volume sebagai pengaruh temperatur.
Jenis yang umum digunakan adalah metallic bellow.

4. Terminal Primer
Adalah terminal yang terhubung pada sisi tegangan tinggi (fasa)
dan satu lagi terhubung pada sistim pentanahan (grounding)

5. Struktur Mekanikal
Struktur mekanikal adalah peralatan yang menyokong berdirinya
trafo tegangan.
Terdiri dari:
Pondasi
Struktur penopang VT
Isolator (keramik/ polyester)

6. Sistem Pentanahan
Sistem pentanahan adalah peralatan yang berfungsi mengalirkan
arus lebih akibat tegangan surja atau sambaran petir ke tanah.

12
Gambar 2.8. Bagian-Bagian VT

2.8.2 Trafo Tegangan Jenis Kapasitif


Secara umum bagian trafo tegangan jenis kapasitif dapat jelaskan
sebagai berikut:
Dielectric
Komponen ini terdiri atas beberapa bagian yaitu:

1. Minyak Isolasi
Berfungsi untuk mengisolasi bagian-bagian yang bertegangan dan
sebagai media dielectric untuk memperoleh nilai kapasitansi dari 2 (dua)
kapasitor atau lebih sebagai pembagi tegangan yang terhubung seri.

2. Kertas-plastik film (paper-polypropylane film)


Berfungsi sebagai media dieletric untuk memperoleh nilai
kapasitansi dari 2 (dua) kapasitor atau lebih sebagai pembagi tegangan
yang terhubung seri bersama-sama minyak isolasi.

3. Pembagi Tegangan (Capacitive Voltage Devider)


C1, C2 (capacitor element) adalah kapasitor pembagi tegangan
(Capacitive Voltage Divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan
tinggi untuk diubah oleh trafo tegangan menjadi tegangan pengukuran yang
lebih rendah. Kapasitansi C2 lebih besar dari C1 dan terhubung seri.

13
4. Expansion Chamber
Merupakan peralatan yang digunakan untuk mengkompensasi level
ketinggian minyak akibat perubahan volume sebagai pengaruh temperatur.
Jenis yang umum digunakan adalah metallic/ rubber bellow dan gas
cushion.

5. Terminal Primer
HVT adalah terminal tegangan tinggi (high voltage terminal) yaitu
bagian yang dihubungkan dengan tegangan transmisi baik untuk tegangan
bus maupun tegangan penghantar terminal tegangan tinggi/ primer.

6. Terminal Sekunder
Adalah terminal yang terhubung pada sisi tegangan rendah, untuk
keperluan peralatan ukur dan relai. Pada merk tertentu terminal ini
ditandai dengan simbol 1a dan 2a. Pada box terminal sekunder terdapat
juga komponen lain yang terdiri dari:
PG (protective gap) adalah gap pengaman,
H.F (high frequency) adalah teminal frekuensi tinggi yang
berkisar sampai puluhan kilohertz, sebagai pelengkap pada salah
satu konduktor penghantar dalam memberikan sinyal komunikasi
melalui PLC.
L3 adalah reaktor pentanahan yang berfungsi untuk meneruskan
frekuensi 50 Hz,
SA (surge arrester) atau arester surja adalah pelindung terhadap
gelombang surja petir.
S adalah sakelar pentanahan (earthing switch), yang biasanya
dipergunakan pada kegiatan pemeliharaan

7. Struktur Mekanikal
Struktur mekanikal adalah peralatan yang menyokong berdirinya trafo
tegangan yang terdiri dari:
Pondasi

14
Struktur penopang CVT
Isolator penyangga (porselen/ polyester). tempat kedudukan
kapasitor dan berfungsi sebagai isolasi pada bagian - bagian
tegangan tinggi.
8. Sistem Pentanahan
Sistem pentanahan adalah peralatan yang berfungsi mengalirkan
arus lebih akibat tegangan surja atau sambaran petir ke tanah. [6]

2.9 Gardu Induk

Gambar 2.9. Gardu Induk

Gardu induk merupakan sub system dari system penyaluran (transmisi)


tenaga listrik, atau merupakan satu kesatuan dari system penyaluran
(transmisi). Berarti gardu induk merupakan sub-sub system dari system tenaga
listrik, sebagai sub system dari system penyulang (transmisi) gardu induk
mempunyai peran penting dalam pengoprasiannya, tidak dapat dipisahkan dari
system penyaluran (transmisi) secara keseluruhan.

2.9.1 Fungsi Gardu Induk


1. Mentransformasikan daya listri :
Dari tegangan ekstra tinggi ke tegangan tinggi (500KV/150 KV)

15
Dari tegangan tinggi ke tegangan yang lebih rendah (150 KV/70
KV)
Dari tegangan tinggi ke tegangan menengah (150 KV/20 KV, 70
KV/20 KV)
Dengan Frequensi tetap (di Indonesia 50 Hz)
2. Untuk pengukuran, pengawasan oprasi serta pengaman dari system
tenaga listrik
3. Pengaturan pelayanan beban ke gardu induk-gardu induk lain
melalui tegangan tinggi dan ke gardu distribusi-gardu distribusi,
setelah melalui proses penurunan tegangan melalui penyulang-
penyulang (feeder-feeder) tegangan menengah yang ada di gardu
induk.
4. Untuk sarana telekomunikasi (pada umumnya untuk internal PLN),
yang kita kenal dengan istilah SCADA.

2.9.2 Jenis-Jenis Gardu Induk


Jenis gardu induk bisa dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu :
1. Berdasarkan besaran tegangannya.
2. Berdasarkan pemasangan peralatan.
3. Berdasarkan fungsinya
4. Berdasrkan isolasi yang digunakan.
5. Berdasarkan rel (busbar).
Dilihat dari jenis komponen yang digunakan, secara umum antara
GITET dengan GI mempunyai banyak kesamaan. Perbedaan
mendasar adalah :

1. Pada GITET transformator daya yang digunakan berupa 3 buah


transformator, daya masing-masing 1 phasa (bank transformator)
dan dilengkapi peralatan reactor yang berfungsi
mengkompensasikan daya reaktif jaringan.
2. Sedangkan pada GI (150 KV, 70 KV) menggunakan transformator
daya 3 phasa dan tidak ada peralatan reactor.

16
2.9.3 Berdasarkan besaran tegangannya, terdiri dari :

1. Gardu induk tegangan ekstra tinggi (GITET) 275 KV, 500 KV.
2. Gardu induk tegangan tinggi (GI) 150 KV dan 70 KV.

2.9.4 Berdasarkan pemasangan peralatan


a. Gardu induk pasangan luar :
1. Adalah gardu induk yang sebagian luar komponennya di
tempatkan di luar gedung, kecuali komponen control, sitem
proteksi dan system kendaki serta komponen bantu lainnya ada di
dalam gedung.
2. Gardu induk semacam ini biasa disebut dengan gardu induk
konvensional.
3. Sebagian besar gardu induk di Indonesia adalah gardu induk
konvensional.
b. Gardu induk pasangan dalam :
1. Adalah gardu induk yang hampir semua komponennya
(switchgear, busbar, isolator, komponen control, komponen
kendali, cubicle, dan lain-lain) dipasang dalam gedung. Kecuali
transformator daya, pada umumnya dipasang di luar gedung.

2. Gardu induk semacam ini biasa disebut gas insutaled substation


(GIS)

3. GIS merupakan bentuk pengembangan gardu induk, yang pada


umumnya dibangun di daerah perkotaan atau padat pemukiman
yang sulit untuk mrndapatkan lahan.

c. Gardu indik kombinasi pasangan luar dan pasangan dalam :


1. Adalah gardu induk yang komponennya switch gear-nya
ditempatkan di dalam gedung dan sebagian komponen switchgear
ditempatkan di luar gedung, misalnya ganty (tie line) dan saluran
udara teganggan tinggi ( SUTT) sebelum masuk ke dalam
switchgear. Transformator daya juga ditempatkan di luar gedung.[7

17
BAB III
PROFIL PERUSAHAAN

3.1 Sejarah Umum PT. PLN (Persero)


3.1.1 Sejarah Singkat
Perusahaan listrik di Indonesia dirintis oleh perusahaan-perusahaan
swasta belanda yaitu oleh pabrik perusahaan kelistrikan umum mempunyai
nilai keuntungan, maka berdirilah perusahaan swasta milik belanda sepertiNV.
ANIEW, NV. GEBEO, NV. OGEN, dan perusahan listrik yang bersifat lokal
lainya.
Jawatan tenaga membawahi perusahaan negara untuk membangkit
tenaga listrik (PANUPATEL) dan diperluas membawahi juga perusahaan
negara untuk distribusi tenaga listrik (PANUDITEL) pada tahun 1952
berdasarkan keputusan Presiden No. 163 tanggal 3 Oktober 1953 tentang
nasionalisme perusahaan listrik milik belanda yaitu jika konsensi
perusahaannya telah berakhir, maka beberapa perusahaan listrik milik swasta
tersebut diambil alih dan digabungkan jawatan kerja tenaga.
Jawatan tenaga diubah menjadi perusahaan listrik negara melalui surat
Menteri Pekerjaan Umum dan Negara No.P.25/45/17 tanggal 23 September
1958 sedangkan P3LG dibubarkan pada tahun 1959 setelah Dewan Direktur
Perusahaan Listrik (D.D.PLN) terbentuk berdasarkan UU dan peraturan
pemerintah tersebut.
Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga pada saat ini menterbitkan surat
keputusan Menteri PU.T. No. Ment.16/20 tanggal 20 Mei 1961 yang arahnya
sebagai berikut:
a. BPU adalah perusahaan negara yang diserahi tugas untuk menguasai dan
mengurus perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang berbentuk badan
hukum.
b. Di daerah berbentuk daerah eksploitasi.
c. Daerah eksploitasi khusus distribusi dibagi lebih lanjut menjadi cabang
dan ranting.
d. Daerah eksploitasi khusus pembangkit dibagi lebih lanjut menjadi sector.

18
Proses restrukturisasi perusahaan tenaga listrik di Indonesia masih terus
berjalan. Salah satunya adalah dengan penyiapan PT. PLN (Persero)
penyaluran dan pusat pengatur beban sumatera (P3B). sebagai salah satu
unit PT. PLN (Persero) P3B sumatera nantinya akan memiliki tugas dan
lapangan usaha berupa pengoperasian dan pengelolahan aset penyaluran
serta melakukan transaksi energi listrik pada sistem interkoneksi
Sumatera.
Organisasi PT.PLN (Persero) P3B Sumatera dibentuk berdasarkan
keputusan direksi PT. PLN (Persero) nomor K/023/DIR/2004. P3B
Sumatera bukanlah lembaga yang benar-benar baru. Sebab P3B Sumatera
merupakan pengabungan fungsi penyaluran dari PT. PLN (Persero) Kitlur
Sumbangut dan fungsi penyaluran dari PT. PLN (Persero) Kitlur
Sumbagsel.PT. PLN (Persero) Kitlur Sumbangut dan fungsi penyaluran
dari PT. PLN(Persero) Kitlur Sumbagsel secara praktis organisasinya akan
di hapus. Terutama dengan rencana pembentukan PT. PLN (Persero)
Pembangkitan Sumatera Bagian Utara (KSS) dan PT. PLN (Persero)
Pembangkitan Sumatera Bagian Selatan (KSS), yang usahanya mengelola
fungsi pembangkitan.

Dengan demikian pengabungan ini akan semakin menepatkan posisi


organis asi P3B Sumatera pada posisi yang sentral. P3B Sumatera yang
akan membuat hitam putih pasokan listrik di dalam sistem interkoneksi
Sumatera. Setelah energi listrik dibangkitkan oleh perusahaan pembangkit,
baik itu yang dikelola PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumatera Bagian
Utara (KSU) dan PT. PLN (Persero) Pembangkitan sumatera bagian
selatan (KSS) maupun swasta, sebab P3B yang mengelola energi listrik di
sistem interkoneksi Sumatera. Setidaknya pada proses pengelolahan energi
inilah, menepatkan P3B Sumatera sebagian pihak yang harus berperan
aktif. Bahkan bertanggung jawab penuh terhadap keandalan pasokan
energi yang di salurkan ke konsumen.

19
Pembentukan P3B Sumatera di sadari betul manfaatnya oleh PT. PLN
(Persero). Setelah di pisahkan fungsi pembangkitan sebagai anak
perusahaan, BUMN yang menangani perusahaan tenaga listrik di tanah air
ini menepatkan fungsi operasi dan pengelolaan penyaluran tenaga listrik
(Transmisi) sebagai kegiatan yang perlu dipersiapkan untuk mendukung
tercitanya efisiensi tenaga listrik. Di wilayah interkoneksi sumatera P3B
Sumatera akan menangani sektor transmisi sejak perencanaan, konstruksi
hingga pemeliharaan.
Pengoperasian sistem tenaga listrik di lakukan melalui manajemen
energi dengan mengunakan mekanisme dengan transaksi energi. Melalui
transaksi energi, memang memungkinkan didapatkan keuntungan dari
selisih harga pembelian dari pembangkit dengan penjualan energi listrik
pada konsumenya. Meskipun demikian sebagai penyelenggara transaksi
energi P3B Sumatera wajib memberikan pasokan listrik secara handal,
ekonomis dan berkualitas kepada konsumennya.

PLN P3B Sumatera UPT Jambi berdiri berdasarkan surat keputusan


Direksi No:0168.K/DIR/2015 Tanggal 14 Agustus 2015 dan mulai
beroperasi pada tanggal 01 Desember 2015. Wilayah kerja dari UPT Jambi
sejak awal berdirinya pada tahun 2015 meliputi seluruh wilayah Jambi
hingga Muara Bungo dengan pembagian wilayah kerja yang terdiri dari 2
sub unit Tragi dengan 8 Gardu Induk.
Tragi merupakan singkatan dari transmisi dan Gardu Induk yang
mana Transmisi merupakan subsistem dari tenaga listrik dan Gardu Induk
merupakan subsistem dari sistem Transmisi atau satu kesatuan dari sistem
Transmisi (Penyaluran). Maka dari itu Tragi memiliki tugas untuk
mengawasi peralatan yang berada di jalur transmisi maupun di Gardu
Induk. Jika terdapat peralatan yang mengalamami ketidaknormalan. Tragi
juga memiliki fungsi untuk memelihara keandalan sistem ketenagalistrikan
agar selalu memberikan pelayanan yang baik, selian itu tragi juga
mengatur administrasi dari Gardu Induk yang dinaunginya.

20
3.1.2 Lokasi Dan single diagram Gardu Induk Aur Duri

Adapun lokasi dari PT. PLN (Persero) P3B SUMATERA UPT JAMBI
TRAGI AUR DURI GARDU INDUK AUR DURI yaitu Jl. Lintas timur
mendalo darat lingkar barat 4 aur duri Jambi.

Gambar 3.1. Lokasi PT. PLN (Persero) UPTJambi Tragi Aur Duri
Gardu Induk Aur Duri

21
Single line Diagram

MUARA BULIAN MUARA BUNGO PAYO SELINCAH 1 PAYO SELINCAH 2

150 0.1 0.1 150 0.1 0.1 150 0.1 0.1 150 0.1 0.1
KV KV KV KV
3 3 3 10 KA 3 3 3 10 KA 3 3 3 10 KA 3 3 3 10 KA

Line Trap Line Trap Line Trap Line Trap


Phasa S Phasa S Phasa S Phasa S

1600 A PMS tanah 1600 A PMS tanah 1600 A PMS tanah 1600 A PMS tanah

800-1600/1 A 800-1600/1 A 1600/5 A 1600/5 A

GCB SF6 GCB SF6 GCB SF6 GCB SF6


1600 A/31,5 KA 1600 A/31,5 KA 1600 A/31,5 KA 1600 A/31,5 KA

1600 A 1600 A 1600 A 1600 A

2 x HAL 430 mm BUS BAR I 150 KV 1 x HAL 800 mm

BUS BAR II 150 KV


1250 A 2000 A 1250 A 1250 A
1600 A 1600 A

1000/5A 1000/5 A
GCB SF6 GCB SF6 GCB SF6 GCB SF6 GCB SF6
1600 A/31,5 KA 1600 A/31,5 KA 1250 A/31.5 KA 3150 A/40 KA 1250A/31.50 KA
GCB SF6
800-1600/1 A 800-1600/1 A 10 KA 150/5 A 2000 A/31,5 KA 300/5 A 10 KA 300/5 A
10 KA

PMS tanah 1600 A PMS tanah 1600 A TRAFO DAYA TRAFO DAYA TRAFO DAYA
PAUWEL 30 MVA 1 ASEA 30 MVA 2 PAUWELL 60 MVA 3
150/20 KV ONAF 150/20 KV ONAF 150/20 KV ONAF
NGR 40 Ohm YNyn0+d Imp. 12,94% NGR 40 Ohm YNyn0 NGR 40 Ohm YNyn0(d) Imp. 12,11%
Line Trap Line Trap 300/5 A 300 / 5A 300 /5A
Phasa S Phasa S

10 KA 150 0.1 0.1 10 KA 150 0.1 0.1


KV KV 20 0.1 20 0.1
0.1 KV KV
3 3 3 3 3 3 20 3 3 1000-2000/5 A 3 3
KV 1000-2000/5 A 2000/5 A
3 3
BAYUNG LENCIR SUNGAI GELAM VCB 2000 A
VCB 2000 A
VCB 2000 A
25 KA
25 KA 25 KA
20 KV 20 KV 20 KV

VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB VCB
VCB
200-400/5 A
200-400/5 A

200-400/5 A

1250 A 800 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A
200-400/5 A

200-400/5 A

1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A

400-800/5 A

400-800/5 A

400-800/5 A
200-400/5 A

2000 A

400-800/5 A
200-400/5 A
200-400/5 A

400-800/5 A
200-400/5 A

25 KA 16 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA
25 KA
300/5 A

300/5 A

200-400/5 A TRAFINDO
BUS RISER

200 KVA 2000/5 A

COUPLE
BUS COUPLE 1

20/0.4 kV
OFF

OFF
KULIM RAMIN JELUTNG BERINGIN SUNGKAI PS GI PULAI
COUPLE DG. TRAFO 3

(SPARE) (SPARE) JATI


Beban di DI PINDAH KE Beban di JATI BULIAN TEMBESU (SPARE)
PS GI 20 KV
Manuver TRAFO 2 Manuver
DI PINDAH KE
ke trafo 3 ke trafo 3
BUS COUPLE 2

TRAFO 3

1000-2000/5 A
SHUNT REACTOR 2 Inc. Ggn Inc. Ggn VCB VCB VCB VCB VCB
SHUNT REACTOR 1
BUS RISER + DS

PAUWEL 10 MVAR 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A 1250 A


PAUWEL 10 MVAR
400-800/5 A

400-800/5 A

400-800/5 A

400-800/5 A
400-800/5 A
YN (III) 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA 25 KA
YN (III)
(DIRELOKASI KE UPT ( OFF )
BANDA ACEH)

(SPARE) SENGON AKASIA RAMIN KULIM BBVT+ES


Manuver Manuver
DIAGRAM GARIS TUNGGAL sementara sementara
GARDU INDUK AUR DURI dari trafo 1 dari trafo 1

PT. PLN (Persero) P3B SUMATERA MEI 15 7.0


UPT PALEMBANG
A4 No Gambar 21

Gambar 3.2. Single line Diagram

Gardu induk aur duri memiliki sepuluh bay yaitu : Bay trafo 30 Mva #1
yang menyuplai Penyulang Jati, Kulim Dan Ramin. Bay Trafo 30 Mva #2 yang
menyuplai penyulang Bulian Dan Berembang. Bay Trafo 60 Mva #3 yang
menyuplai penyulang Jelutung, Damar, Melinjo, Ketapang, Bakau, Sengon, Dan
Kayu Aro. Bay couple, bay penghantar Muara Sabak, penghantar Payo Selincah,
penghantar Muara Bungo, penghantar Muara Bulian, penghantar Bayung Lincir,
dan penghantar Sungai Gelam. Dimana penghantar Bayung Lincir, Payo Selincah,
Dan Sungai Gelam mengirim tegangan ke Gardu Induk Aur Duri dan penghantar
Muara Bungo, penghantar Muara Bulian, penghantar Muara Sabak menerima

22
tegangan dari Gardu Induk Aur Duri. Peralatan-peralatan yang ada pada
penghantar tentu tidak selamanya berjalan dengan lancar sebagaimana kita
harapkan, suatu saat akan mengalami kerusakan ataupun gangguan dan terjadi
sebuah kondisi tidak normal atau abnormal. Dikarenakan kondisi peralatan yang
beroperasi 24 jam setiap hari memungkinkan kondisi peralatan dapat berubah
secara tiba-tiba yang tidak dapat diduga.

3.1.3 Visi dan Misi PT. PLN (Persero)


a. Visi
Diakui Sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang Bertumbuh Kembang, Unggul
dan Terpercaya dengan Bertumpuh pada Potensi Insani.

b. Misi
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait,
berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan
pemegang saham.
2. Menjadikan tenaga listrik sebgai media untuk meningkatkan
kualitas kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong ekonomi.
4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.

3.2 Struktur Organisasi


Adapun struktur organisasi PT. PLN (Persero) Penyaluran dan Pusat
Pengatur Beban (P3B) Sumatera Unit Pelayanan Transmisi Jambi yang terdiri
dari:

23
Gambar 3.3. Struktur Organisasi UPT Jambi

Unit Pelayanan Transmisi Jambi Membawahi 2 Tragi yaitu :


a. Tragi Muara Bungo
Tragi Muara Bungo menaungi beberapa Gardu Induk :
1. GI Muara Bungo
2. GI Bangko

b. Tragi Aur Duri


Tragi Aur Duri menaungi beberapa Gardu Induk :
1. GI Aur Duri
2. GI Payo Selincah
3. GI Muara Bulian
4. GI Sei Gelam
5. GI Bayung Lencir
6. GI Muara Sabak

24
3.3 Uraian Tugas
3.3.1 Manager Tragi
Manager Tragi mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Mengelola Pelaksanaan pemeliharaan rutin/non rutin gardu induk dan
jaringan sesuai prosedur dan intruksi kerja.
b. Mengelola pelaksanaan pengoperasian instalasi gardu induk sesuai
Standing Operation Prosedure (SOP).
c. Mengelola pengamanan fisik instalasi system transmisi
d. Melaksanakan usaha deteksi dari sarana instalasi transmisi dan gardu
induk serta segera melaporkan kondisi dan memberikan rekomendasi
atas penyimpangan terhadap standar yang berlaku.
e. Membuat laporan realisasi operasi, pemeliharaan rutin/non rutin, serta
tidak normalan unjuk kerja peralatan gardu induk dan jaringan, ke
kantor UPT.
f. Melaksanakan penilaian unjuk kerja SMUKI secara berkala.
g. Menyusun usaha rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) beserta
RAB data pendukung meliputi laporan kerusakan peralatan instalasi
transmisi, gardu induk, rele proteksi dan scada.
h. Mengusulkan pembinaan/pengembangan SDM untuk meningkatkan
konpetensi sesuai kebutuhan.

3.3.2 Supervisor Operasi dan Jaringan


Supervisor Operasi dan Jaringan mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Mengenali dan melaporkan anomali/indikasi ketidak normalan.
b. Melaksanakan langkah-langkah penormalan pada saat ganggu instalasi
pada saat maneuver ataupun setelah pemeliharaan.
c. Mencatat pelaksanaan pihak luar di luar transmisi, memeriksa, mencatat
dan melaporkan pending item.
d. Mencatat dan melaporkan pekerjaan mandor line pemeriksa aksesoris
dan kelengkapan.
e. Sosialisasi potensi dan dampak bahaya kelistrikan kepada masyarakat.

25
3.3.3 Junior Operasi dan Jaringan
Junior Operasi dan Jaringan mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Melaporkan anomali peralatan yang bisa menunjang pencapaian TLOF.
b. Melaporkan hasil pekerjaan.
c. Melaporkan Pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan jaringan.
d. Melaksanakan sosialisasi ke masyarakat.
e. Melaksanakan fungsi pemeliharaan.

3.3.4 Supervisor Administrasi


Supervisor Administrasi mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan kegiatan administrasi untuk mendukung kelancaran
pekerjaan operasional dan pemeliharaan di TRAGI.
b. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan.
c. Menyediakan kebutuhan alat tulis kantor (ATK) di tragic dan gardu
induk.
d. Memeriksa hasil penilaian kinerja (SMUK) pegawai secara bekala.

3.3.5 Junior Administrasi


Junior Administrasi mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Memeriksa petanggung jawaban keuangan kegiatan operasional
memeliharaan dan saran umum.
b. Memelihara dan melaksanakan inventarisasi kantor dan sarana umum.
c. Mengusulkan kursus/diklat pegawai untuk meningkatkan konvetensi
sesuai kebutuhan.
d. Melaksanakan penilaian kinerja (SMUK) bawahan.

3.3.6 Supervisor HAR


Supervisor HAR mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Melaksanakan kegiatan administrasi untuk mendukung kelancaran
pekerjaan operasional dan pemeliharaan di TRAGI.
b. Melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan.

26
c. Menyediakan kebutuhan Pemeliharaan di tragi dan gardu induk.
d. Memeriksa hasil penilaian kinerja (SMUK) pegawai secara bekala.

3.3.7 Junior HAR


Junior HAR mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Memeriksa petanggung jawaban keuangan kegiatan operasional
memeliharaan dan saran umum.
b. Memelihara dan melaksanakan inventarisasi aktiva kantor dan sarana
umum.
c. Mengusulkan kersus/diklat pegawai untuk meningkatkan konvetensi
sesuai kebutuhan.
d. Melaksanakan penilaian kinerja (SMUK) bawahan.

3.3.8 Supervisor Gardu Induk


Supervisor Gardu Induk mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Menyusun jadwal kerja operator dan petugas keamanan.
b. Memeriksa dan membuat rekap laporan operasi gardu induk dan
transmisi.
c. Memeriksa hasil monitoring peralatan gardu induk dan membuat
laporan ketidak normalan peralatan gardu induk dan transmisi.
d. Melaksanakan dan membuat laporan pemeliharaan mingguan, bulanan
batere.
e. Memeriksa/mengawas pekerjaan mandor line (ROW), Cleaning
Service.
f. Membina dan membuat penilaian SMUK bawahan.
g. Membuat data peralatan terpasang gardu induk.

3.3.9 JuniorOperator Gardu Induk


Junior OperatorGardu Induk mempunyai tugas sebagai berikut:
a. Mengeporasikan Peralatan Gardu Induk:
1. Menyiapkan peralatan terkait dengan pengoperasian gardu induk.

27
2. Melaksanakan pelepasan dan pemasukan PMT/PMS sesuai SOP
sistem SOP lokal/Intruksi Kerja (IK).
3. Membuat laporan menuver kedalam format yang tersedia.

b. Memonitor Operasi Peralatan Gardu Induk:


1. Mencatat parameter operasi secara berkala ke logsheet.
2. Melaksanakan pemeriksaan kondisi peralatan secara vusual sesuai
SE
3. No. 032/1984 dan mencatat item pemeriksaan kedalam checklist
yang tersedia.
4. Melaporkan ketidak normalan operasi/peralatan, kondisi darurat
(Emergency) ke atasan terkait dan UPT serta melaporkan huru-hara
atau perbuatan manusia/masyarakat yang dapat merusak/merugikan
perusahaan kepihak berwajib.

Apabila dalam pekerjaan pemeliharaan, perbaikan maupun pemasangan


peralatan baru, maka strukturnya ialah sebagai berikut:
a. Penanggung Jawab Pekerjaan
1. Bertangung jawab terhadap seluruh rangkaian pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
2. Penanggung jawab pekerjaan manejer UPT.
3. Melakukan koordinasi dengan unit terkait.
4. Mengelolah seluruh kegiatan meliputi: personil, peralatan kerja,
perlengkapan K3 dan material.

b. Pengawas K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)


1. Mengawasi pelaksana pekerjaan dalam pengunaan alat pelindung diri.
2. Mengawasi akan bahaya resiko kecelakaan kerja.
3. Memastikan seluruh pelaksana pekerjaan dalam keadaan sehat jasmani dan
rohani.

28
a. Pengawas Pekerjaan
1. Mengawasi pemasangan dan pelepasan pentanahan local.
2. Menjelaskan metode pelaksanaan pekerjaan.

b. Pelaksana Pekerjaan
1. Bertugas melaksanakan pekerjaan instalansi listrik TT/TET.
2. Melakukan pengetesan tegangan pada lokasi yang di pasang grouding local.
3. Memasang dan melepas pentanahan lokal.

c. Pengawas Manuver
1. Sebagai pengawas proses pembebasan dan pengisian tegangan.
2. Mengawasi pemasangan tagging di panel control serta rambu pengaman
lainnya.

d. Pelaksana Manuver
1. Bertindak selaku eksekutor pada manuver peralatan instalansi.
2. Pelaksanaan operator gardu induk.

29
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pengertian pemeliharaan


Pemeliharaan adalah suatu kegiatan yang sangat penting, karena
pemeliharaan yang baik akan memperpanjang umur peralatan dan akan
menjamin berfungsinya peralatan dengan baik dan pemeliharaan yang telah
dilaksanakan tidak ada bekasnya namun dapat di rasakan pengaruhnya. Tujuan
pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi adalah untuk menjamin
kontinuitas penyaluran tegangan tinggi dan menjamin keandalan antara lain:
a. Untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi.
b. Untuk memperpanjang umur peralatan sesuai dengan usia
teknisnya.
c. Untuk mengurangi resiko terjadinya kegagalan atau kerusakan
peralatan.
d. Untuk meningkatkan keamanan peralatan.
e. Untuk mengurangi lama waktu pemadaman akibat sering
terjadinya gangguan.
Faktor yang paling dominan dalam pemeliharaan peralatan listrik
tegangan tinggi adalah system isolasi. Isolasi meliputi isolasi keras (padat) dan
isolasi minyak (cair). Suatu peralatan akan sangat mahal bila isolasinya sangat
bagus dari demikian isolasi merupakan bagian yang terpenting dan sangat
menentuka umur dari peralatan.
Untuk itu kita harus memperhatikan / memelihara sistem isolasi sebaik
mungkin, baik terhadap isolasinya maupun penyebab kerusakan isolasi dalam
pemeliharaan peralatan listrik tegangan tinggi kita membedakan antara
pemeriksaan / monitoring (mencatat, melihat, meraba serta mendengar) dalam
keadaan operasi dan memelihara (kalibrasi/pengujian, koreksi,/resetting serta
memperbaiki/membersihkan) dalam keadaan padam, pemeriksaan atau
monitoring dapat dilaksanakan oleh operator atau petugas patrol setiap hari
dengan sistem check list atau catatan saja. Sedangkan pemeliharaan harus
dilaksanakan oleh regu pemeliharaan.

30
Jenis jenis pemeliharaan listrik tegangan tinggi pada gardu induk (GI)
adalah sebagai berikut:
a. Predictive Maintenance (Conditional Maintenance)
Adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan cara memprediksi
kondisi suatu peralatan listrik, apakah dan kapan kemungkinannya
peralatan listrik tersebut menuju kegagalan. Dengan memprediksi kondisi
tersebut dapat diketahui gejala kerusakan secara dini. Cara yang biasa
dipakai adalah memonitor kondisi secara online baik saat peralatan sedang
beroperasi atau saat sedang tidak beroperasi. Untuk itu diperlukan peralatan
dan personil khusus untuk analisa. Pemeliharaan ini disebut juga
pemeliharaan berdasarkan kondisi (condition base maintenance)

b. Preventive maintenance (time based maintenance)


Adalah kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan untuk mencegah
terjadinya kerusakan peralatan secra tiba-tiba dan untuk mempertahankan
unjuk kerja peralatan yang optimum sesuai umur teknisnya kegiatan ini
dilaksanakan secra berkala dengan pedoman kepada : instruction manual
dari pabrik,standar-standar yang ada ( IEC,CIGRE,dll) dan pengalaman
operasi dilapangan > pemeliharaan ini disebut juga dengan pemeliharan
berdasarkan waktu (time base maintenance).

c. Corrective maintenance
Adalah pemeliharaan yang dilakukan dengan berencana dengan
waktu-waktu tertentu ketika peralatan listrik mengalami kelainan atau
unjuk kerja rendah saat menjalankan fungsinya dengan tujuan untuk
mengembalikan pada kondisi semula disertai perbaikan dan
penyempurnaan instalasi. Pemeliharaan ini disebut juga curative
maintenance,yang bisa berupa Trouble shooting atau pergantian
part/bagian yang rusak atau kurang berfungsi yang dilaksanakn terencana.

31
d. Breakdown Maintenance
Adalah pemeliharaan yang dilakukan stelah terjadi kerusakan
mendadak yang waktunya tidak tertentu bersifat darurat
Pelaksanaan pemeliharaan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Pemeliharaan yang berupa monitoring dan dilakukan oleh petugas
operator atau petugas patrol bagi gardu induk yang tidak dijaga (GITO-
gardu induk tanpa operator
2. Pemeliharaan yang berupa pembersihan dan pengukuran yang
dilakukan oleh petugas pemeliharaan.

4.2 Transformator Tegangan


untuk memonitor dan mengendalikan kinerja suatu sistem tenaga
listrik, diperlukan alat ukur, lampu indikator dan relai proteksi.
pengukuran tegangan tinggi tidak dapat dilakukan langsung seperti
halnya pengukuran tegangan rendah, karena selain berbahaya bagi
operator, adalah sulit membuat voltmeter yang mampu mengukur
langsung tegangan tinggi.
Lampu indikator dan relai proteksi, juga membutuhkan tegangan
rendah. Oleh karena itu, diperlukan trafo tegangan untuk
mentransformasi tegangan sistem ke suatu tegangan rendah agar dapat
diukur dengan voltmeter dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan
lampu indikator dan relai proteksi. Pada Gambar 6.1 diperlihatkan
contoh suatu trafo tegangan yang terdapat di Gardu Induk Aur Duri[4] :

Gambar 4.1. Trafo Tegangan ( CVT) Pada GI Aur Duri

32
Gambar 4.2. Bagian Trafo Tegangan Kapasitif

Secara umum bagian trafo tegangan jenis kapasitif dapat jelaskan sebagai berikut:

1. Terminal Primer
HVT adalah terminal tegangan tinggi (high voltage terminal) yaitu bagian
yang dihubungkan dengan tegangan transmisi baik untuk tegangan bus
maupun tegangan penghantar terminal tegangan tinggi/primer. (Gambar 4.2
poin 1)

2. Pembagi Tegangan (Capacitive Voltage Devider)


C1, C2 (capacitor element) adalah kapasitor pembagi tegangan (Capacitive
Voltage Divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi untuk
diubah oleh trafo tegangan menjadi tegangan pengukuran yang lebih rendah.
Kapasitansi C2 lebih besar dari C1 dan terhubing seri.

3. Ferroresonance supression/damping circuit


Ferroresonance supression/damping circuit adalah induktor penyesuai
tegangan (medium voltage choke) yang berfungsi untuk
mengatur/menyesuaikan supaya tidak terjadi pergeseran fasa antara tegangan
masukan (vi) dengan tegangan keluaran (vo) pada frekuensi dasar. Pada merk
tertentu komponen ferroresonance ditandai dengan simbol L0. (Gambar 4.2
poin 3)

33
4. Trafo Tegangan (Intermediate Voltage Transformer / IVT)
Berfungsi untuk mentransformasikan besaran tegangan listrik dari tegangan
menengah yang keluar dari kapasitor pembagi ke tegangan rendah yang akan
digunakan pada rangkaian proteksi dan pengukuran. (Gambar 4.2 poin 4)

5. Expansion Chamber
Merupakan peralatan yang digunakan untuk mengkompensasi level ketinggian
minyak akibat perubahan volume sebagai pengaruh temperatur. Jenis yang
umum digunakan adalah metallic/rubber bellow dan gas cushion. (Gambar 4.2
poin 5)

6. Struktur Mekanikal
Struktur mekanikal adalah peralatan yang menyokong berdirinya trafo
tegangan
yang terdiri dari:
Pondasi
Struktur penopang CVT
Isolator penyangga (porselen/polyester). tempat kedudukan kapasitor dan
berfungsi sebagai isolasi pada bagian-bagian tegangan tinggi. (Gambar 4.2
poin 6)

7. Terminal Sekunder
Adalah terminal yang terhubung pada sisi tegangan rendah, untuk keperluan
peralatan ukur dan relai. Pada merk tertentu terminal ini ditandai dengan
simbol 1a dan 2a. (Gambar 4.2 poin 7). Pada box terminal sekunder terdapat
juga komponen lain yang terdiri dari:
PG (protective gap) adalah gap pengaman,
H.F (high frequency) adalah teminal frekuensi tinggi yang berkisar sampai
puluhan kilohertz, sebagai pelengkap pada salah satu konduktor
penghantar dalam memberikan sinyal komunikasi melalui PLC.
L3 adalah reaktor pentanahan yang berfungsi untuk meneruskan frekuensi
50 Hz,

34
SA (surge arrester) atau arester surja adalah pelindung terhadap gelombang
surja petir.
S adalah sakelar pentanahan (earthing switch), yang biasanya dipergunakan
pada kegiatan pemeliharaan[5]

4.3 SOP (Standart Operating Procedure)


SOP (Standart Operating Procedure) merupakan suatu tata cara yang
disusun secara sistematis dan jelas sehingga dapat digunakan sebagai
pedoman dalam pelaksanaan pekerjaan. SOP (Standart Operating Procedure)
sangat erat kaitannya dengan halhal keamanan personil, kelayakan peralatan
kerja dan keamanan peralatan instalasi listrik yang menjadi obyek pekerjaan
sehingga dapat terciptanya zero accident dan safety condition pada setiap unit
di PLN.
Manuver adalah suatu prosedur untuk mengubah posisi jaringan / instalasi
dari kondisi operasi (masuk ke dalam sistem) mernjadi tidak operasi (keluar
dari sistem) atau sebaliknya. Sedangkan manuver dan keamanan peralatan
instalasi listrik TT / TET berhubungan erat dengan keandalan sistem operasi
dan kontinuitas penyaluran tenaga listrik. Personil yang melakukan
pemeliharaan instalasi TT/ TET pada kondisi offline yang dilakukan di Gardu
Induk Aur Duri adalah :

PENANGGUNG JAWAB

Junai Redi/ Manager TRAGI

PENGAWAS PEKERJAAN

Toni Sudaryanto/Supervisor HAR

PENGAWAS K3 PENGAWAS MANUVER PELAKSANA MANUVER

Musadat/Staf Ahli M. Taher/ suvervisor GI Aldon Putra/operator

Gambar 4.3. Stuktur Organisasi Pemeliharaan

35
1. Penanggung jawab pekerjaan, bertugas untuk bertanggung jawab terhadap
seluruh rangkaian kegiatan pemeliharaan yang dilakukan, dengan catatan
tidak sedang menjadi pengawas lainnya (tidak merangkap).
2. Pengawas pekerjaan, bertugas untuk mengawasi pelaksanaan pemeliharan
instalasi TT/TET oleh pelaksanaan pekerjaan.
3. Pengawas manuver, bertugas untuk mengawasi dan bertanggung jawab
terhadap seluruh pelaksanaan manuver yang dilakukan.
4. Pelaksana manuver, bertugas sebagai eksekutor proses manuver pada saat
pemeliharaan instalasi TT/TET.
5. Pengawas K3, bertugas untuk mengawasi pelaksanaan K3 selama
pelaksanaan pekerjaan pemeliharaan.

4.3.1 Perlengkapan Kerja


Perlengkapan kerja untuk meleksanakan pemeliharaan di gardu
induk aur duri dipenuhi spesifikasi dan jumlahnya. Peralatan kerja
yang digunakan adalah :
1.Perkakas kerja
2.Alat bantu kerja
3.Alat Ukur
4.Material / bahan
5.Alat Pelindung Diri ( APD ) atau Alat K3
6.Lembaran Format berupa Check-List Pelaksanaan dan Pelaporan.

4.4 Pemeliharaan Trafo Tegangan (CVT)


Lingkup pengujian pemeliharaan trafo tegangan (CVT) adalah :
1. pengujian tahanan isolasi
2. pengujian tahanan pentanahan

4.4.1 ShutdownTesting/Measurement
Shutdown Testing/Measurement adalah pekerjaan pengujian yang
dilakukan pada saat peralatan dalam keadaan tidak bertegangan. Pekerjaan

36
ini dilakukan pada saat pemeliharaan rutin maupun pada saat investigasi
ketidaknormalan

4.4.2 Shutdown Function Check

Merupakan pemeriksaan dan pengukuran yang dilakukan pada periode 2


tahunan dalam keadaan peralatan tidak bertegangan (Off Line). Pengukuran
dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi peralatan dengan
menggunakan alat ukur sederhana serta advanced yang dilakukan oleh
petugas pemeliharaan.

Inspeksi pemeliharaan 2 tahunan berfungsi untuk mengecek kondisi trafo


sesuai prosedur apakah trafo tersebut masih layak kerja atau tidak melalui
beberapa pengukuran seperti pengukuran tahanan isolasi dan lain
sebagainya.

4.5. Pengukuran Tahanan Isolasi Trafo Tegangan (CVT)


Tahanan isolasi adalah tahanan yang terdapat diantara dua kawat
saluran atau kabel yang diisolasi satu sama lain atau tahanan antara satu
kawat saluran dengan tanah atau (ground).
Pengujian tahanan isolasi yang dilakukan pada trafo tegangan (CVT)
yang terdapat di Gardu Induk Aur Duri menggunakan alat ukur tahanan
isolasi,dimana di sisi primer trafo diberikan tegangan 5 kv dan 500 V untuk
sisi sekunder. Berfungsi untuk mengetahui kualitas tahanan isolasi pada
trafo tegangan tersebut. Pencatatan hasil pengukuran dilakukan pada saat 60
detik.
Alat ukur yang digunakan untuk menguji tahanan isolasi adalah
Megger (Mega ohm Meter) yang mana Megger digunakan untuk mengukur
tahanan isolasi dari peralatan listrik maupun instalasi listrik.Output dari alat
ukur ini adalah tegangan arus searah,besar tegangannya adalah ; 500 , 1000,
2000, atau 5000 Volt dan batas pengukuran dapat bervariasi antara 0,02
sampai 20 meter ohm dan 5 sampai 5000 meter ohm dan lain-lain sesuai
dengan sumber tegangan dari Megger tersebut.

37
Gambar 4.4. Megger ( Mega ohm meter )

Tahanan isolasi yang diukur antara lain adalah :


- Terminal primer (P) - ground,
- Terminal primer (P) - terminal Sekunder (a1)
- Terminal primer (P) - terminal sekunder (a2)

- Terminal sekunder (a1) - terminal sekunder (a2)


- Terminal sekunder (a1) - ground
Gambar pengujian tahanan isolasi

Gambar 4.5. Gambar 4.6.

38
Gambar 4.7.

Standard: VDE ( catalogue 228/4 ) minimum besarnya tahanan isolasi kumparan


trafo, pada suhu operasi dihitung 1 Kilo Volt = 1 Mohm[5]

Tabel 4.1. Rekomendasi Hasil Tahanan Isolasi Shutdown


Testing/Measurement

39
Data Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi
Tabel 4.2. Hasil Pengukuran Tahanan Isolasi
Titik Ukur Fasa : R Fasa : S Fasa : T
Primer 11230 M 2800 M 50100 M
Ground
Primer 113600 M 76000 M 78000 M
Sekunder (1a)
Primer 144000 M 23500 M 129500 M
Sekunder (2a)
Sekunder (1a) 66700 M 33300 M 59800 M
Sekunder (2a
Sekunder (1a) 49200 M 63800 M 39000 M
Ground
Sekunder (2a) - 91700 M 121700 M 46100 M
Ground

Dari hasil data pengukuran yang di dapat, dapat dilihat bahwa tahanan isolator
pada transformator tegangan (CVT) masih tinggi dan belum mencapai nilai
tahanan isolasi minimum, jadi dapat dikatakan bahwa transformator tegangan
(CVT) masih layak untuk digunakan, dikarenakan trafo tegangan (CVT) masih
dalam keadaan yang baik.

4.6. Tahanan Pentanahan


Dalam waktu yang lama,tanah yang korosif dengan kelembaban tinggi,
mengandung garam, dan suhu tinggi akan menurunkan kualitas batang
pentanahan dan sambungan-sambungannya. Walaupun sistem pentanahan
saat awalnya dipasang mempunyai nilai tahanan pentanahan ketanah rendah,
tahanan sistem pentanahan akan meningkat jika batang pentanahan rapuh.

40
4.6.1 Komponen Elektroda Pentanahan
Elektroda pentanahan umumnya dibuat dari bahan yang sangat konduktif
(tahanan rendah) seperti baja atau tembaga, besar tahanan elektroda tanah
dan sambungannya umumnya sangat rendah sehingga arus mengalir tidak
terhambat. Hubungan antara penghantar tanah dan elektroda tanah seperti
terlihat pada gambar 2 di bawah ini.

Gambar 4.8. Hubungan antara penghantar dan elektrode pentanahan

4.6.2 Hal-Hal Yang Mempengaruhi Tahanan Tanah


Menurut NEC (1987, 250-83-3) mensyaratkan bahwa panjang
elektroda pentanahan minimum 2,5 meter (8 kaki) dihubungkan dengan
tanah. Ada empat variabel yang mempengaruhi tahanan sistem pentanahan,
yaitu :
1. Panjang/kedalaman elektroda pentanahan

Satu cara yang sangat efektif untuk menurunkan tahanan tanah adalah
memperdalam elektroda pentanahan. Tanah tidak tetap tahanannya dan tidak
dapat diprediksi. Ketika memasang elektroda pentanahan, elektroda berada
di bawah garis beku (frosting line). Hal ini dilakukan agar tahanan tanah
tidak akan dipengaruhi oleh pembekuan tanah di sekitarnya. Secara umum,
menggandakan panjang elektroda pentanahan bisa mengurangi tingkat
tahanan sebesar 40%. Ada kejadian-kejadian dimana secara fisik tidak
mungkin dilakukan pendalaman batang pentanahan di daerah-daerah yang
terdiri dari batu, granit, dan sebagainya.

41
2. Diameter Elektroda Pentanahan

Menambah diameter elektroda pentanahan berpengaruh sangat kecil


dalam menurunkan tahanan. Misalnya, bila diameter elektroda
digandakan maka tahanan pentanahan hanya menurun sebesar 10%.

3.Jumlah Elektroda Pentanahan


Cara lain menurunkan tahanan tanah adalah menggunakan banyak
elektroda pentanahan. Dalam desain ini, lebih dari satu elektroda
dimasukkan ke tanah dan dihubungkan secara paralel untuk mendapatkan
tahanan yang lebih rendah.

4.6.3 Desain Sistem Pentanahan

Sistem pentanahan sederhana terdiri dari satu elektroda pentanahan yang


dimasukkan ke tanah. Penggunaan satu buah elektroda pentanahan adalah
hal yang umum dilakukan dalam pentanahan.

Gambar 4.9. satu buah elektrode pentanahan

Ada pula sistem pentanahan kompleks terdiri dari banyak batang pentanahan
yang terhubung, jaringan bertautan atau kisi-kisi, plat tanah, dan loop tanah
(lihat Gambar 4.10, 4.11, dan 4.12). Sistem-sistem ini dipasang secara
khusus di substasiun pembangkit listrik, gedung perkantoran, dan tempat-
tempat menara seluler. Jaringan kompleks meningkatkan secara dramatis
jumlah kontak dengan tanah sekitarnya dan menurunkan tahanan tanah.[8]

42
Gambar 4.10. Hubungan beberapa elektrode pentanahan

Gambar 4.11. Jaringan bertautan

Gambar 4.12. Pelat pentanahan

4.7. pengukuran Tahanan Pentanahan


Pengukuran tahanan pentanahan bertujuan untuk menentukan tahanan
antara besi atau plat tembaga yang ditanam dalam tanah yang digunakan
untuk melindungi peralatan listrik terhadap gangguan petir dan hubung
singkat. Dengan demikian pelat tersebut harus ditanam hingga mendapatkan
tahanan terhadap tanah yang sekecil-kecilnya.
Alat ukur yang digunakan dalam melakukan pengukuran tahanan
pentanahan ini adalah Digital Earth Tester dimana alat ukur ini penampilnya
menggunakan digital pada segmen-segmen, sehingga dengan mudah
menyimpan data-data yang terukur. Perancangan alat ukur tahanan tanah
digital ini menggunakan tiga batang elektroda E (Earth), elektroda P
(potensial) dan elektroda C ( Current).
Tujuan penggunaan tiga batang elektroda tersebut adalah untuk
mengetahui sejauh mana tahanan dapat mengalirkan arus listrik. Alat ukur

43
tahanan tanah ini terdiri dari beberapa blok diagram rangkaian, antara lain
rangkaian osilator, rangkaian tegangan input, rangkaian arus input,
mikrokontroler dan rangkaian penampil.

Gambar 4.13. Digital Earth Tester

Tabel 4.3. Rekomendasi Hasil Pengujian Tahanan Pentahanan Shutdown


Testing/ Measurement [5]

Hasil
No Keterangan Rekomendasi
Pengujian
1 < 1 Ohm Good Normal
Periksa kondisi sambungan
2 >1Ohm Poor
grounding

Gambar Pengukuran Tahanan Pentanahan Pada Trafo Tegangan ( CVT) Gardu


Induk Aur Duri 150 KV

Gambar 4.14. pengukuran tahanan pentanahan

44
Gambar 4.15. Hasil pengukuran pentanahan

Hasil Pengukuran Tahanan Pentanahan Pada Trafo Tegangan (CVT)


Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Tahanan Pentanahan
Titik Ukur Fasa : Fasa : Fasa :
R S T
Kawat
Pentanahan 0.6 0.8 0.12

Berdasarkan standart tahanan isolasi yang terdapat pada table 4-4 tahanan
pentanahan yang bagus atau baik adalah lebih kecil dari 1 jadi apabila data hasil
pengukuran tahanan pentanahan pada Trafo Tegangan ( CVT) dibandingkan
dengan data standart tahanan isolasi maka, dapat disimpulkan bahwa kawat
pentanahan pada trafo tegangan masih bagus dan masih layak operasi.

45
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari kerja praktek yang


dilaksanakan pada GI Aur Duri PT PLN (Persero) P3B Sumatera Unit
Pelayanan Transmisi Jambi TRAGI AUR DURI adalah sebagai berikut :

1. Transformator tegangan adalah suatu alat yang berfungsi untuk


menkonversi tegangan yang tinggi pada sisi primer ke nilai tegangan yang
rendah disisi yang digunakan untuk pengukuran (metering) dan proteksi.
2. Sebuah transformator dikatakan bagus dan baik jika memiliki kekuatan
isolasi yang kuat dan baik untuk menahan arus yang besar.
3. Untuk menjaga keandalan dan memperpanjang umur peralatan khususnya
trafo tegangan maka perlu dilakukannya suatu pemeliharaan, yaitu berupa
pengujian tahanan isolasi dan tahanan pentanahan yang bertujuan untuk
mengetahui kondisi peralatan tersebut.

5.2 saran

1. Perawatan dan Pemeliharaan Gardu Induk dan peralatannya sebaiknya


dilakukan sesuai jadwal dan lebih diperhatikan.
2. Perlu adanya penambahan fasilitas belajar yang mendukung proses
pelaksanaan Kerja Praktek seperti buku-buku mengenai peralatan dan lain-
lain.

46