Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga penulisan makalah yang berjudul APBD ini dapat diselesaikan. Penulis
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu dalam
pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulisan makalah ini dalam rangka untuk memenuhi tugas Akuntansi Sektor Publik
dan diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca dapat menambah wawasan tentang
kekuasaan, politik dan kepemimpinan.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih kurang sempurna. Oleh
karena itu, segala kritik yang bersifat membangun akan penulis terima dengan tangan
terbuka.
Makassar, 10 Oktober 2013

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anggaran pendapatan dan belanja Negara (APBN ), bila disimak secara seksama
bukanlah sekedar instrument untuk mencapai stabilitasi suatu pemerintahan dalam jangka
waktu yang relatif pendek namun pada esensinya sebuah APBN sebagaimana fungsinya
yakni : Sebagai mobilisasi dana investasi yang merupakaninstrument untuk mengatur
pengeluaran dan pendapatan Negara dalam rangka menbiayai pelaksanaan kegiatan
pemerintahan berupa pembangunan, Mencapai pertumbuhan ekonomi guna
meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas perekonomian dan
menentukanarah serta prioritas pembangunan secara umum.
APBD merupakan kependekan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. APBD
adalah anggaran pendapatan dan belanja daerah setiap tahun yang telah disetujui oleh
anggota DPRD (Dewan perwakilan Rakyat Daerah). Menurut Peraturan Menteri Dalam
Negeri Nomor 13 Tahun 2006, struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari
Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiayaan Daerah. Struktur APBD tersebut
diklasifikasikan menurut urusan pemerintahan dan organisasi yang bertanggung jawab
melaksanakan urusan pemerintahan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
B. Rumusan Masalah

Menjelaskan pengertian dari APBD? Dan bagaimanakah Mekanisme dari


penyusunan Anggaran Daerah
Menjelaskan apa saja fungsi dari APBD?
Menjelaskan tujuan dari APBD?
Jelaskan struktur dari APBD?
Apa sajakah sumber-sumber dari pemerintah daerah?
Bagaimana penerimaan dan pengeluaran belanja daerah?

C. Tujuan

Adapun tujuan yang diharapkan dalam pembahasan rumusan masalah di atas


antara lain: mengetahui pengertian dari APBD beserta mekanismenya, mengetahui
fungsi dari APBD, Untuk mengetahui tujuan dan struktur dari APBD, sumber-sumber
dari pemerintah daerah dan mengetahui bagaimana penerimaan serta pengeluaran
belanja daerah.
BAB II

PEMBAHASAN

APBD adalah rencana anggaran tahunan daerah dalam bentuk peraturan daerah.
APBD merupakan instrumen utama untuk melaksanakan kebijakan dalam satu tahun
anggaran. Dalam penyusunannya, melibatkan berbagai pihak yang berkompeten.
Perbedaan substansial antara era sebelum otonomi dengan era otonomi daerah
dalam hal penyusunan APBD adalah bahwa pada era sebelumnya dominasi eksekutif
sangat besar dan hampir-hampir menafikan peran DPRD dan masyarakat. Sedangkan
pada era otonomi daerah penyusunan APBD harus mengedepankan partisipasi dan
akuntabilitas publik. Karena APBD merupakan operasionalisasi dari berbagai
kebijakan,maka harus mencerminkan suatu kesatuan sistem perencanaan yang
sistematis dan dapat dianalisis keterkaitannya dengan dokumen-dokumen
perencanaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Prinsip penyusunan APBD harus
mengedepankan prinsip-prinsip good governance, sebagaimana dikemukakan Saragih
(2003 : 120) bahwa prinsip- prinsip dasar pengelolaan keuangan publik adalah
akuntabilitas, transparansi, responsivitas, efektif, efisien dan partisipatif. Untuk
menerjemahkan prinsip-prinsip tersebut, perlu disusun alur perencanaan anggaran.
Mekanisme penyusunan anggaran daerah dengan mekanisme penjaringan aspirasi
dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 1

Mekanisme Penyusunan Anggaran Daerah

Arah dan pembinaan dari


Pemerintah atasan

Renstrada

Data Historis MASYARAKAT


Tokoh masyarakat, LSM
Ormas, Asosiasi Profesi,
Perguruan Tinggi dan lain-lain

Pokok-pokok
Pikiran DPRD
TIM AHLI

Arah & Kebijakan


PEMDA Umum APBD DPRD

TIM AHLI

Strategi & Prioritas


TIM ANGGARAN APBD PANITIA
EKSEKUTIF AD HOC

Surat Edaran
Forum Warga

Rencana Program
/ Kegiatan

Memoranda
Anggaran Unit Kerja

Renstra UK

RAPBD PANITIA LEGISLATIF


ANGGARAN

RAPBD

Fungsi dari Anggaran Pendapatan dan belanja daerah, yaitu:


Fungsi otorisasi bermakna bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk
merealisasi pendapatan dan belanja pada tahun bersangkutan. Tanpa
dianggarkan dalam APBD sebuah kegiatan tidak memiliki kekuatan untuk
dilaksanakan.
Fungsi perencanaan bermakna bahwa anggaran daerah menjadi pedoman
bagi manajemen dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang
bersangkutan.
Fungsi pengawasan mengandung makna bahwa anggaran daerah menjadi
pedoman untuk menilai keberhasilan atau kegagalan penyelenggaraan
pemerintah daerah.
Fungsi alokasi mengandung makna bahwa anggaran daerah harus diarahkan
untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi pengangguran, dan
pemborosan sumberdaya, serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas
perekonomian daerah.
Fungsi distribusi memiliki makna bahwa kebijakan-kebijakan dalam
penganggaran daerah harus memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.
Fungsi stabilitasi memliki makna bahwa anggaran daerah menjadi alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian
daerah.

Tujuan dari APBD yaitu APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan belanja
dalam melaksanakan kegiatan pemerintah daerah. Sehingga dengan adanya APBD,
pemerintah daerah sudah memiliki gambaran yang jelas tentang apa saja yang akan
diterima sebagai pendapatan dan pengeluaran apa saja yang harus dikeluarkan,
selama satu tahun. Dengan adanya APBD sebagai pedoman, kesalahan, pemborosan,
dan penyelewengan yang merugikan dapat dihindari.

Struktur APBD
Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari :
1. Pendapatan Daerah
2. Belanja Daerah
3. Pembiayaan
Selisih lebih pendapatan daerah terhadap belanja daerah disebut surplus anggaran,
tapi apabila terjadi selisih kurang maka hal itu disebut defisit anggaran. Jumlah
pembiayaan sama dengan jumlah surplus atau jumlah defisit anggaran.
1. Pendapatan Daerah, Pendapatan daerah meliputi semua penerimaan uang
melalui Rekening Kas Umum Daerah, yang menambah ekuitas dana lancar, yang
merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali
oleh Daerah. Pendapatan daerah terdiri atas:
Pendapatan asli daerah (PAD) terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaBelanja daerah meliputi semua pengeluaran dari
Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang
merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh Daerah.
2. Belanja daerah, dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan
pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri
dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan dengan ketentuan perundang-
undangan. Urusan wajib adalah urusan yang sangat mendasar yang berkaitan
dengan hak dan pelayanan dasar kepada masyarakat yang wajib diselenggarakan
oleh pemerintah daerah. Sedangkan urusan pilihan adalah urusan pemerintah yang
secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
sesuai kondisi, kekhasan, dan potensi keunggulan daerah. Belanja penyelenggaraan
urusan wajib tersebut diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan
dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial
dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial.
Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat diwujudkan melalui prestasi kerja dalam
pencapaian standar pelayanan minimal berdasarkan urusan wajib pemerintahan
daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.an daerah yang dipisahkan.
3. Pembiayaan, Pembiayaan daerah meliputi semua penerimaan yang perlu
dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun
anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.
Pembiayaan daerah tersebut terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan.
Penerimaan pembiayaan mencakup:
a. SiLPA tahun anggaran sebelumnya;
b. pencairan dana cadangan;
c. hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
d. penerimaan pinjaman; dan
e. penerimaan kembali pemberian pinjaman.
Pengeluaran pembiayaan mencakup:
a. pembentukan dana cadangan;
b. penyertaan modal pemerintah daerah;
c. pembayaran pokok utang; dan
d. pemberian pinjaman.
Sumber-sumber penerimaan daerah
Klasifikasi Belanja berdasarkan Urusan Wajib, Pilihan, Belanja Langsung dan Tidak
Langsung.
Belanja daerah meliputi semua pengeluaran uang dari Rekening Kas Umum Daerah
yang mengurangi ekuitas dana, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun
anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. Pasal 26
dan 27 dari Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan
Keuangan Daerah tidak merinci tentang klasifikasi belanja menurut urusan wajib,
urusan pilihan, dan klasifikasi menurut organisasi, fungsi, program kegiatan, serta
jenis belanja. Sedangkan Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 31 ayat (1),
memberikan secara rinci klasifikasi belanja daerah berdasarkan urusan wajib, urusan
pilihan atau klasifikasi menurut organisasi, fungsi, program kegiatan, serta jenis
belanja.
A. Klasifikasi Belanja Menurut Urusan Wajib
Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 32 ayat (2), klasifikasi belanja
menurut urusan wajib mencakup:
1) Pendidikan
2) Kesehatan
3) Pekerjaan Umum
4) Perumahan Rakyat
5) Penataan Ruang
6) Perencanaan Pembangunan
7) Perhubungan
8) Lingkungan Hidup
9) Kependudukan dan Catatan Sipil
10) Pemberdayaan Perempuan
11) Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
12) Sosial
13) Tenaga Kerja
14) Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah
15) Penanaman Modal
16) Kebudayaan
17) Pemuda dan Olah Raga
18) Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
19) Pemerintahan Umum
20) Kepegawaian
21) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
22) Statistik
23) Arsip, dan
24) Komunikasi dan Informatika.

B. Klasifikasi Belanja Menurut Urusan Pilihan


1) Pertanian;
2) Kehutanan;
3) Energi dan Sumber Daya Mineral;
4) Pariwisata;
5) Kelautan dan Perikanan;
6) Perdagangan;
7) Perindustrian; dan
8) Transmigrasi.

C. Klasifikasi Belanja Menurut Urusan Pemerintahan, Organisasi, Fungsi,


Program dan Kegiatan, serta Jenis Belanja
Belanja daerah tersebut mencakup:
1) Belanja Tidak Langsung dan
2) Belanja Langsung.

Komponen belanja tidak langsung dan belanja langsung sebagai berikut:


1) Belanja Tidak Langsung, meliputi:
a) Belanja Pegawai
Digunakan untuk menganggarkan belanja penghasilan pimpinan dan anggota DPRD,
gaji pokok dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta gaji pokok
dan tunjangan pegawai negeri sipil, tambahan penghasilan, serta honor atas
pelaksanaan kegiatan.
b) Bunga
Digunakan untuk menganggarkan pembayaran bunga utang yang dihitung atas
kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman
jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.
c) Subsidi
Digunakan untuk menganggarkan subsidi kepada masyarakat melalui lembaga
tertentu yang telah diaudit, dalam rangka mendukung kemampuan daya beli
masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.
Lembaga penerima belanja subsidi wajib menyampaikan laporan
pertanggungjawaban penggunaan dana subsidi kepada kepala daerah.
d) Hibah
Untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang, barang dan/atau
jasa kepada pihak-pihak tertentu yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus
yang terlebih dahulu dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara pemerintah
daerah dengan penerima hibah, dalam rangka peningkatan penyelenggaraan fungsi
pemerintahan di daerah, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, peningkatan
layanan dasar umum, peningkatan partisipasi dalam rangka penyelenggaraan
pembangunan daerah.
e) Bantuan Sosial
Untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang
kepada masyarakat yang tidak secara terus menerus/berulang dan selektif untuk
memenuhi instrumen keadilan dan pemerataan yang bertujuan untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat termasuk bantuan untuk PARPOL.
f) Belanja Bagi Hasil
Untuk menganggarkan dana bagi hasil yang bersumber dari pendapatan provinsi
yang dibagihasilkan kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota yang
dibagihasilkan kepada pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan.
g) Bantuan Keuangan
Untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari
provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah
lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan
pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan
kemampuan keuangan.
h) Belanja Tak Terduga
Untuk menganggarka belanja atas kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak
diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang
tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan
daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.
2) Belanja Langsung, meliputi:
a) Belanja Pegawai
Digunakan untuk menganggarkan belanja penghasilan pimpinan dan anggota DPRD,
gaji pokok dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta gaji pokok
dan tunjangan pegawai negeri sipil, tambahan penghasilan, serta honor atas
pelaksanaan kegiatan.
b) Belanja Barang dan Jasa
Digunakan untuk menganggarkan belanja barang yang nilai manfaatnya kurang dari
12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan
kegiatan.
c) Belanja Modal
Digunakan untuk menganggarkan belanja yang digunakan untuk pengeluaran yang
dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap
berwujud yang mempunyai nilai manfaatnya lebih dari 12 (duabelas) bulan.
Honorarium panitia dalam rangka pengadaan dan administrasi
pembelian/pembangunan untuk memperoleh aset dianggarkan dalam belanja
pegawai dan/atau belanja barang dan jasa.

Penerimaan dan Pengeluaran Belanja Daerah


Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pembiayaan daerah
adalah transaksi keuangan pemerintah daerah yang dimaksudkan untuk menutup
defisit atau untuk memanfaatkan surplus APBD.
Pembiayaan Daerah menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 59 terdiri
dari Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah.

A. Penerimaan Pembiayaan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 60 menyebutkan bahwa Penerimaan
Pembiayaan Daerah, meliputi:
1) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Lalu
2) Pencairan Dana Cadangan
3) Penerimaan pinjaman daerah
4) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan
5) Penerimaan kembali pemberian pinjaman dan
6) Penerimaan piutang daerah.

B. Pengeluaran Pembiayaan
Pengeluaran Pembiayaan Daerah, meliputi:
1) Pembentukan dan cadangan
2) Penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah
3) Pembayaran utang pokok yang jatuh tempo dan
4) Pemberian pinjaman daerah.
BAB III
PENUTUP
d. Daftra Pustaka
http://budidayaukm.blogspot.com/2011/11/anggaran-pendapatan-dan-belanja-
daerah.html

http://prezi.com/x0abljrowhba/struktur-apbd/
http://id.wikipedia.org/wiki/Anggaran_Pendapatan_da
n_Belanja_Daerah
http://texbuk.blogspot.com/2011/08/tujuan-dan-
fungsi-apbd.html