Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Urobilin adalah pigmen alami dalam urin yang menghasilkan warna
kuning. Ketika urin kental, urobilin dapat membuat tampilan warna oranye-
kemerahan yang intensitasnya bervariasi dengan derajat oksidasi, dan kadang-
kadang menyebabkan kencing terlihat merah atau berdarah.
Banyak tes urin (urinalisis) yang memantau jumlah urobilin dalam urin
karena merupakan zat penting dalam metabolisme/ produksi urin. Tingkat
urobilin dapat memberikan wawasan tentang efektivitas fungsi saluran kemih.
Urobilinogen adalah larut dalam air dan transparan produk yang merupakan
produk dengan pengurangan bilirubin dilakukan oleh interstinal bakteri . Hal ini
dibentuk oleh pemecahan hemoglobin. Sementara setengah dari Urobilinogen
beredar kembali ke hati, setengah lainnya diekskresikan melalui feses sebagai
urobilin. Ketika pernah ada kerusakan hati, kelebihan itu akan dibuang keluar
melalui ginjal. Ini siklus ini dikenal sebagai Urobilinogen enterohepatik siklus.
Terdapat berbagai faktor yang dapat menghambat ini siklus . Salah satu alasan
menjadi gangguan lebih dari hemoglobin (hemolisis) karena malfungsi hati
berbagai seperti hepatitis, sirosis. Ketika ini terjadi, Urobilinogen lebih
diproduksi dan diekskresikan dalam urin. Pada saat seseorang menderita
penyakit kuning, itu didiagnosa oleh warna kulit yang sedikit kuning dan warna
kuning dari urin.Namun bila ada obstruksi pada saluran empedu, hal itu akan
menyebabkan penurunan jumlah Urobilinogen dan ada lebih sedikit urobilin
dalam urin. Lebih rendah jumlah urobilin Sof dapat disebabkan oleh hilangnya
flora bakteri usus yang berperan dalam sintesa produk HTI.
Untuk mendeteksi jenis kerusakan di hati, tes Urobilinogen dilakukan
dengan mengukur kadar uribilinogendalam urin. Reaksi Aldehid Ehrlich adalah
tes umum yang digunakan untuk menguji tingkat Urobilinogen.Sebuah
benzaldehida dengan keberadaan asam berubah warna jika Urobilinogen hadir
untuk warna merah merah muda. Diubah atau tidak adanya lengkap tingkat
Urobilinogen biasanya menunjukkan disfungsi hati. Dan peningkatan tingkat
petunjuk Urobilinogen urin ke warna merah darah Hemolisis sel. Tujuan utama
dari tes ini adalah untuk membantu mengetahui penghalang hati tambahan
seperti penyumbatan saluran empedu umum dan juga untuk memungkinkan hati
serta gangguan hematologi.
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui uji dalam pemeriksaan urobilin dengan sampel urin
Untuk mengetahui apakah hasil urobilin di dalam urin positif atau
negatif
BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1 Tanggal dan Tempat Praktikum

Praktikum pemeriksaan konsentrasi magnesium dilaksanakan pada


tanggal 17 Oktober 2017. Praktikum ini dilaksanakan di ruang Patologi Klinik
Analis Medis, Ex UpeDDi.

2.2 Alat dan Bahan

1. Pipet volumetrik standar


2. Kertas saring
3. Kotak urobilin
4. Urin
5. Reagen Schlesinger
6. Amoniak

2.3 Metode Kerja

Saringlah
endapan,
diambil
filtratnya 3 ml 3 ml reagen
Urin 3 ml BaCl2 3 mL
filtrat Schlesinger

Filtrate dilihat dengan Disaring Ditambah


sinar tidak langsung kembali 1-2 tetes
pada kotak urobilin sampai jernih amoniak
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
Dari hasil praktikum yang dilakukan, filtrat dengan penambahan reagen
Schlesinger dan amoniak tidak menghasilkan warna fluoresensi hijau. Hal itu
berarti urine tidak mengandung urobilin sehingga hasilnya negatif.

3.2 Pembahasan

Metode Schlesinger didasarkan pada fakta bahwa ukuran terkecil


urobilin pada penambahan garam seng tertentu dalam larutan alkohol
menghasilkan fluoresensi hijau. Kemudin Iodium akan mengoksidasi
urobilinogen menjadi urobilin dengan zink yang akan membentuk ikatan
kompleks yang akan berpendar hijau.

Metode Schlesinger menggunakan bagian urin yang sama dan 10 persen


suspensi seng asetat dalam alkohol. Penggunaan reagen harus dikocok terlebih
dahulu sebeum digunakan. Agar urobilinogen dapat dioksidasi menjadi
urobilin diperlukan waktu 12-24 jam. Waktu lebih singkat dan hasilnya
didapatkan seketika dengan penambahan jumlah minimum dari Tinctura
Yodiisprit.

Jika sampel urine yang akan diuji urobilinnya ini memiliki bilirubin
dalam urine maka akan mengganggu pemeriksaan karena menyebabkan
flouresensi merah muda. Oleh karena itu bila ada bilirubin maka harus
dikeluarkan dengan CaCl2 dan Na2CO3. Menurut schlezinger karena urobilin
akan diabsorbsi oleh endapan yang terjadi karena BaCl2 (dari reagen faucehet),
oleh karena itu dalam reagen faucehet BaCL2 diganti dengan CaCl2 sehingga
pemeriksaan billirubin menurut harrison dan pemeriksaan urobillin menurut
schlesinger dapat dirangkap: filtrat untuk pemeriksaan schlesinger dan endapan
untuk pemeriksaan bilirubin.

Zinc asetat dalam alkohol digunakan untuk mengendapkan bahan-bahan


lain sehingga hanya didapatkan urobilin murni. Penambahan ammonium liquid
digunakan untuk memberikan suasana asam agar protein-protein data
terdenaturasi.

Terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi tes urobilin yaitu faktor
yang dapat menyebabkan reaksi positif palsu dan negatif palsu. Faktor yang
menyebabkan reaksi positif palsu yaitu pengaruh obat seperti obat
fenazopiridin (Pyridium); sulfonamide; fenotiazin; asetazolamid (Diamox);
kaskara; metenamin mandelat (Mandelamine); prokain; natrium bikarbonat;
pemakaian pengawet formaldehid, makanan kaya karbohidrat dapat
meninggikan kadar urobilinogen oleh karena itu pemeriksaan urobilinogen
dianjurkan dilakukan 4 jam setelah makan, dan urine yang bersifat basa kuat
dapat meningkatkan kadar urobilinogen; urine yang dibiarkan setengah jam
atau lebih lama akan menjadi basa.

Reaksi negatif palsu dapat terjadi karena Pemberian antibiotika oral atau
obat lain (ammonium klorida, vitamin C) yang mempengaruhi flora usus yang
menyebabkan urobilinogen tidak atau kurang terbentuk dalam usus, sehingga
ekskresi dalam urine juga berkurang. Paparan sinar matahari langsung juga
dapat mengoksidasi urobilinogen menjadi urobilin. Selain itu, urine yang
bersifat asam kuat juga merupakan penyebab reaksi negative palsu.