Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia terkenal dengan sebutan Nusantara, memiliki pulau terbanyak


hingga 18.110 pulau dan wilayah laut mencapai dua pertiga dari luas wilayahnya
dan negara kedua terpanjang di dunia dengan pantai sepanjang 95.181 km 2 yang
tentu sangat menguntungkan. Diperkirakan dari sektor laut saja, Indonesia sudah
bisa memberikan lapangan kerja bagi 180 juta penduduknya. Namun
perkembangan sektor maritim nasional masih sangat terbatas (Bappenas 2015).
Berdasarkan perhitungan Badan Pemerintah Nasional Tol Laut Indonesia (2015)
menyatakan bahwa sekitar 90% perdagangan internasional diangkut melalui laut,
sedangkan 40% dari rute perdagangan internasional diantaranya melewati
Indonesia. Hal ini menandakan bahwa Indonesia bahwa Indonesia merupakan
tempat yang sangat strategis bagi jalur perdagangan dunia.

Peningkatan peringkat indeks konektivitas Indonesia di sektor transportasi


khususnya transportasi laut juga terus meningkat ke peringkat 77 di tahun 2015
dari peringkat 104 di tahun 2012, sehingga hal tersebut menunjukkan
pembangunan di Indonesia berada pada arah yang benar. Namun, hal ini belum
cukup untuk dapat bersaing dengan negara tetangga, dalam hal ini dibandingkan
dengan Thailand dan Malaysia. Praktisi perdagangan di Indonesia turut menilai
kualitas dan jumlah infrastruktur di Indonesia masih rendah. Menurut Kamar
Dagang dan Industri Indonesia, biaya logistik yang ditanggung oleh industri saat
ini masih tinggi, yaitu sebesar 17% dari biaya produksi. Hal tersebut
menyebabkan iklim investasi di Indonesia masih kurang menarik dan kompetitif
(Bappenas 2015). Indonesia harus mampu mengoptimalkan wilayah laut sebagai
basis pengembangan kekuatan geopolitik, kekuatan militer, kekuatan ekonomi

ii
dan khusunya kekuatan wisata bahari. Hal tersebut perlu dilakukan oleh
Indonesia dalam kaitannya menjadi negara maritim yang disegani.

Penunjang sektor pariwisata dalam pembangunan tol laut Indonesia perlu


diperhatikan. Pembangunan tersebut harus memperhatikan aspek lingkungan dan
kesejahteraan masyrakat sekitar. Seperti yang kita ketahui bersama, aspek
pariwisata bahari Indonesia sangat memberikan peluang, baik itu masyarakat,
pemerintah dan pemerintah. Bedasarkan Statisk Profil Wisatawan Nusantara.
jumlah perjalanan wisatawan nusantara selama tahun 2013 mencapai sebanyak
250,04 juta perjalanan atau meningkat 1,93 persen dibangingkan tahun 2012
dengan jumlah 245,29 perjalanan umlah perjalanan wisnus tahun 2014 adalah
116,8 juta perjalanan, dengan rata-rata pengeluaran sebesar 851,7 ribu rupiah per
perjalanan. Kondisi tersebut memperlihatkan peningkatan yang cukup tinggi,
dimana rata-rata pengeluaran setiap orang dalam satu perjalanan mengalami
peningkatan sebesar 19,72 persen dibanding tahun 2013 sebesar 711,2 ribu rupiah
per perjalanan

Pelabuhan Kuala Tanjung terletak di Pantai Timur Provinsi Sumatera


Utara dan secara administrative berada di Kabupaten Batubara dengan letak
geografis pada posisi 0322 15 LU dan 99 27 57 BT yang terletak 120 km
sebelah tenggara kota Medan (Zendrato dan Terunajaya 2016). Dari posisi
geografis, letaknya sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Selat
Malaka dan berpotensi sebagai pelabuhan penunjang bagi Pelabuhan Belawan
terutama untuk komoditi curah dikarenakan tingkat kepadatan trafik yang sangat
tinggi di Pelabuhan Belawan dan sebagai pelabuhan penunjang bagi rencana
Kawasan Industri Sei Mangke yang diarahkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus
(Kemenhub RI 2012).Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan pelabuhan untuk
menunjang kegiatan pabrik aluminium PT. INALUM di Kabupaten Batu Bara.
Pelabuhan ini dioperasikan sejak tahun 1981. Namun, sejak bulan Juli 2017
jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung di Sumatera Utara
mengalami penurunan 5,75 persen yaitu hanya mecapai 18.925 kunjungan

iii
dibanding pada bulan Mei 2017 mencapai 20.080 kunjungan. Hal ini sangat
memperhatinkan, mengigat letak Kuala Tanjung yang sangat strategis.
Selain elemen utama seperti infrastruktur pengembangan pelabuhan, juga
diperlukan elemen pendukung tol laut seperti sarana yang medukung wisata
bahari (soalnya kita bahas juga pertanian) Indonesia dan infrastruktur pendukung
lain-nya untuk keberhasilan implementasi tol laut yang ramah lingkungan.
Melalui implementasi seluruh elemen yang dikembangkan dalam konsep
GATOT SMATIFARM (Green Intergrated Port Berbasis Smart Floating Farm)
Pelabuhan menuju Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2019, maka perlu
terciptanya keunggulan kompetitif bangsa, terciptanya perkuatan industri nasional
dipelabuhan strategis, serta tercapainya pemeretaan ekonomi masyarakat
diwilayah laut dapat direalisasikan.

iv
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian singkat pada latar belakang masalah yang dibahas,


dapat diidentifikasikan rumusan sebagai berikut :
a. Bagaimana cara membuat smart floating farm?
b. Bagaimana cara meningkatkan deep sea port yang kompetitif dan
membantu kesejahteraan masyarakat pantai?
c. Bagaimana cara mengoptimalkan deep sea port yang ramah lingkungan?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut :


a. Membuat deep sea port yang berguna bagi masyarakat sekitar daerah
reklamasi.
b. Membuat area floating farm dengan sistem apung sepanjang jalan
pelabuhan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pantai yang stabil.
c. Membangun ruang terbuka hijau untuk mengurangi pemanasan global dan
polusi.

1.4 Manfaat Peneltian

Manfaat dari penelitian ini adalah mewujudkan deep sea port yang kompetitif
dan berdaya saing global yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan
mengurangi pemanasan global tanpa merusak lingkungan.

2
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Letak Geogtafis Pelabuhan Koala Tanjung

Gambar 1. Lokasi Pelabuhan Kuala Tanjung

Terdapat banyak pelabuhan di Indonesia salah satunya adalah pelabuhan


Kuala Tanjung di Kabupaten Batu Bara Provinsi Sumatera Utara. Pelabuhan
Kuala Tanjung merupakan salah satu dari dua pelabuhan hubungan internasional
yang dibangun oleh pemerintah Indonesia sebagai pelabuhan pengumpul (hub
port) internasional wilayah barat. Pelabuhan Kuala Tanjung terletak di Pantai
Timur Provinsi Sumatera Utara dan secara administrative berada di Kabupaten
Batubara dengan letak geografis pada posisi 0322 15 LU dan 99 27 57 BT
yang terletak 120 km sebelah tenggara kota Medan (Zendrato dan Terunajaya
2016).Dari posisi geografis, letaknya sangat strategis karena berhadapan langsung
dengan Selat Malaka dan berpotensi sebagai pelabuhan penunjang bagi
Pelabuhan Belawan terutama untuk komoditi curah dikarenakan tingkat
kepadatan trafik yang sangat tinggi di Pelabuhan Belawan dan sebagai pelabuhan
penunjang bagi rencana Kawasan Industri Sei Mangke yang diarahkan sebagai
Kawasan Ekonomi Khusus (Kemenhub RI 2012).Pelabuhan Kuala Tanjung
merupakan pelabuhan untuk menunjang kegiatan pabrik aluminium PT.
INALUM di Kabupaten Batu Bara. Pelabuhan ini dioperasikan sejak tahun 1981.
Tidak semua jenis kapal dapat merapat di dermaga Pelabuhan Kuala Tanjung.
Hasidari data ECMWF (European Center for Medium-Range Weather Forecasts)
dalam Zendrato dan Terunajaya (2016) selama 1999 Juni 2014, diketahui tinggi

3
gelombang signifikan (Hs) maksimum mencapai 1,69 meter dan periode
maksimum 8,85 detik. Berdasarkan data dari Kemenhub RI (2012) menyatakan
bahwa hasil observasi menunjukan, arus laut pada saat spring kecepatan
maksimum adalah 1.3 m/s sedangkan pada saat neap adalah 0.7 m/s, Selain itu
arah arus dominan berasal dari timur laut dan tinggi gelombang (Hmo) sebagian
besar kurang dari 0.25 meter dengan persentase 7.95 % dengan rincian kejadian
ada gelombang sebesar 25.6 % dan kejadian tidak ada gelombang sebesar 74.4 %.
Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Zendrato dan Terunajaya (2016),
suhu udara disekitar daerah pelabuhan berkisar antara 26C - 29C dengan curah
hujan rata rata 41,544 mm pertahun atau dengan rata rata 111 hari hujan
pertahun. Sementara itu, keadaan iklim kawasan ini dengan curah hujan dari hari
hujan yang cukup tinggi dan keadaan tanah yang subur, daerah hinterland
berpotensi sebagai daerah pertanian dan perkebunan. Menurut klasifikasi Smith
Fergusson dan Oldman, Kabupaten Batubara termasuk kategori bertipe iklim B
(basah) dan iklim E1 (Zendrato dan Terunajaya 2016).

2.2 Smart Floating Farm

Seiring dengan bertambahnya penduduk kebutuhan pangan kian harus


tercukupi. Hal ini merupakan masalah serisu karena sudah banyak sekali solusi
yang telah diberikan dan diberdayakan untuk masyarakat. Selama ini solusi yang
telah ada untuk menambah kebutuhan pangan salah satunya adalah dengan
konsep kawasan Agropolitan dan Minapolitan. Agropolitan dan Minapolitan
merupakan upaya yang dilakukan untuk mengembangkan kawasan pedesaan,
termasuk pedesaan yang berada di daerah pesisir pantai.Program ini bertujuan
untuk mengembangkan potensi lokal sebagai roda pertumbuhan ekonomi di
kawasan perdesaan, pada bidang pertanian dan perikanan.

Alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pemukiman, sehingga


semakin berkurangnya lahan pertanian. Solusi yang pernah ditawarkan dengan
permasalahan ini adalah dengan konsep Urban Farming (Pertanian Perkotaan)
yang tidak membutuhkan lahan luas untuk bertani. Namun demikian urban

4
farming belum menjadi solusi terbaik untuk mengatasi kurangnyan lahan
pertanian. Terdapat beberapa keterbatasan dan kendala yang dihadapi,
keterbatasan pertama yang dihadapi adalah lahan. Beberapa kasus menyebutkan
tersedia lahan milik privat diserahkan untuk melakukan urban farming, namun
memang kendalanya lahan tersebut bisa saja diminta kembali sewaktu-waktu.
Sehingga hal tersebut tidak menjamin ketahanan pangan yang berkelanjutan
Kedua, masyarakat masih belum sadar dengan isu ketahanan pangan sehingga
memulai pun masih dianggap sulit (Prayogo 2015 et.al).

Proyek pertanian dan perikanan terapung ini merupakan suatu konsep


yang menarik dan pertama di Indonesia. Konsep ini akan terintegrasi langsung
dengan Giant Sea Wall di daerah Jakarta Utara, sehingga ancaman dari
gelombang laut kecil. Beberapa konsep pengembangan pertanian dan perikanan
sebenarnya sudah banayak dilakukan oleh pemerintah seperti urban farming,
minapolitan dan agropolitan. Menurut Prayogo et.al (2015), konsep desain ini
dipilih karena memiliki beberapa keuntungan, di antaranya: menyelesaikan
masalah kekurangan lahan pertanian, memungkinkan untuk perencanaan
pengembangan pertanian dan perikanan fleksibel, dan dapat menjadi daya tarik
wisata Internaisonal.

2.3 Jenis Ikan yang Dibudidayakan

Perikanan merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi ekonomi


besar baik bagi pemerintah maupun masyarakat daerah, termasuk di dalamnya
perikanan Tuna, Cakalang dan Tongkol (TCT). Dalam konteks perikanan ,
kontribusi terhadap wilayah lebih menitikberatkan pada aspek off-sea misalnya di
dalamnya industri peningkatan nilai tambah. Tuna, Cakalang dan Tongkol (TCT)
merupakan sumberdaya ikan yang tergolong aktif secara spasial (highly migratory
species) sehingga nilai penting spesies ini menjadi tinggi terkait dengan
pengelolaan ekosistem kawasan ruayanya. Selain itu, tuna juga memiliki peran
penting dalam rantai makanan sebagai salah satu top predator yang menjaga
keseimbangan ekosistem. Dalam konteks ini maka pengelolaan TCT tidak bisa
dilepaskan dari pengelolaan dengan pendekatan ekosistem yang luas (Hanintyo et
al 2014). Berikut morfologi ikan yang dibudidayakan :

5
a. Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares)

Ikan Tuna Sirip Kuningkan Madidihang atau tuna sirip kuning (Thunnus
albacares) adalah sejenis ikan pelagis besar yang mengembara
di lautan tropikadan ugahari di seluruh dunia. Ikan ini merupakan salah satu
jenis tuna yang terbesar, meski masih kalah besar jika dibandingkan dengan tuna
sirip biru dan tuna mata besar. Madidihang juga merupakan ikan tangkapan
samudra yang penting karena bernilai ekonomi tinggi. Dalam perdagangan dunia,
ikan ini dikenal sebagai yellowfin tuna. Madidihang dewasa memiliki tubuh yang
berukuran besar, dengan panjang dari ujung moncong hingga ujung percabangan
sirip ekor (FL, fork length) mencapai 195 cm; namun umumnya hingga 150 cm.
Bentuknya gilig panjang serupa torpedo (fusiform), agak memipih dari sisi ke sisi.

Sirip punggung (dorsal) terdiri dari dua berkas, terpisah oleh celah yang
kecil saja; berkas yang kedua segera diikuti oleh 810 sirip-sirip tambahan
berukuran kecil (finlet). Sirip anal diikuti oleh 710 finlet. Pada spesimen
berukuran besar, sirip punggung kedua dan sirip anal ini kadang-kadang
memanjang hingga 20% FL. Sirip dada (pectoral) lumayan panjang (2231% FL),
biasanya mencapai pangkal bagian depan sirip dorsal kedua, namun tidak
melewati pangkal bagian belakangnya. Ada dua lipatan kulit (tonjolan interpelvis)
di antara sirip-sirip perut. Batang ekor amat ramping, dengan sebuah lunas
samping yang kuat di tiap-tiap sisi, yang masing-masing diapit oleh dua lunas
yang lebih kecil. Sirip ekor bercabang kuat (forked, bercagak).

Punggungnya berwarna biru gelap metalik, berangsur-angsur berubah


menjadi kekuningan atau keperakan di bagian perut. Sirip-sirip punggung kedua
dan anal, serta finlet-finlet yang mengikutinya, berwarna kuning cerah, yang
menjadi asal namanya. Bagian perut kadang-kadang dihiasi oleh sekitar 20 garis
putus-putus yang hampir vertikal arahnya. Madidihang dapat mencapai berat
melebihi 300 pon (136 kg), walau demikian ini masih jauh di bawah tuna sirip
biru Pasifik (Thunnus orientalis) yang bisa memiliki berat lebih dari 1000 pon
(454 kg), dan juga sedikit di bawah tuna mata besar (Thunnus obesus) dan tuna
sirip biru selatan (Thunnus maccoyii). Ukuran madidihang yang tercatat dalam
literatur adalah hingga sepanjang 239 cm dan seberat 200 kg.

6
Madidihang merupakan ikan epipelagis yang menghuni lapisan atas
perairan samudra di atas lapisan termoklin. Penelitian memperlihatkan bahwa
meski madidihang kebanyakan mengarungi lapisan kolom air 100 m teratas, dan
relatif jarang menembus lapisan termoklin, namun ikan ini mampu menyelam
jauh ke kedalaman laut. Seekor madidihang yang diteliti di Samudra
Hindia menghabiskan 85% waktunya di kedalaman kurang dari 75 m, namun
tercatat tiga kali menyelam hingga kedalaman 578 m, 982 m dan yang paling
ekstrem hingga 1.160 m.

Tuna sirip kuning ini mempunyai kebiasaan berenang cepat dan


bergerombol bersama ikan yang seukuran, kadang-kadang juga bercampur dengan
tuna jenis lainnya. Musim berbiaknya berlangsung selama musim panas. Ikan-
ikan ini memangsa aneka jenis ikan, krustasea, dan juga cephalopoda. Ikan ini
merupakan komoditas nelayan yang penting; buku FAO Yearbook of Fishery
Statistics melaporkan antara 1990 hingga 1995 tangkapan madidihang di
perairan Pasifik barat-tengah berkisar antara 323.537 sampai 346.942 ton per
tahun.

Indonesia adalah tempat bertemunya stok madidihang dari Samudra


Hindia dan Samudra Pasifik, salah satunya di laut daerah Pelabuhan Kuala
Tanjung. Selain itu, madidihang dipasarkan dalam bentuk ikan segar, tuna beku,
atau dikalengkan. Ikan ini digemari dalam berbagai macam masakan, termasuk
untuk dipanggang dan dijadikan sashimi. Madidihang juga merupakan tantangan
yang menarik bagi penggemar olahraga memancing (Punt 2006)

7
2. Ikan tongkol (Euthynnus affinis)

Tongkol, tongkol como, tongkol komo, atau tongkol kurik (Euthynnus


affinis) adalah sejenis ikan laut dari suku Scombridae. Terutama menjelajah di
perairan dangkal dekat pesisir di kawasan Indo-Pasifik Barat, tongkol merupakan
salah satu jenis ikan tangkapan yang penting bagi nelayan. Dalam perdagangan
internasional dikenal sebagai kawakawa, little tuna, mackerel tuna, atau false
albacore.

Ikan yang berukuran sedang; panjang maksimum sekitar 100 cm FL (fork


length), namun umumnya hanya sekitar 60 cm. Punggung berwarna biru
gelap metalik, dengan pola coret-coret miring yang rumit mulai dari pertengahan
sirip punggung pertama ke belakang; sisi badan dan perut putih keperakan,
dengan bercak-bercak khas berwarna gelap di antara sirip dada dan sirip perut,
yang tidak selalu ada. Tanpa sisik, kecuali di wilayah corselet dan gurat sisi.[3]

Gigi-gigi kecil dan mengerucut, dalam satu baris. Sisir saring berjumlah
29-34 pada lengkung insang yang pertama. Sirip punggung pertama dengan XI
hingga XIV jari-jari keras (duri), terpisahkan dari sirip punggung kedua hanya
oleh suatu celah sempit, yang lebih sempit daripada lebar mata. Duri-duri di awal
sirip punggung pertama jauh lebih panjang daripada duri-duri di belakangnya,
membuat tepi atas sirip depan ini melengkung dalam. Sirip dada pendek,
ujungnya tidak mencapai celah di antara kedua sirip punggung. Terdapat dua
tonjolan (flaps) di antara kedua sirip perut. Sirip-sirip kecil (finlet) 8-10 buah di
belakang sirip punggung kedua, dan 6-8 buah di belakang sirip dubur.

Tongkol komo menyebar luas di perairan hangat di kawasan Indo-Pasifik


Barat, yakni wilayah Samudera Hindia mulai dari pesisir timur Afrika
Selatan, Somalia, Laut Merah, Laut Arab, terus ke arah timur ke pesisir anak-
benua India, pesisir dan laut-laut pedalaman di Asia Tenggara dan Nusantara,
pantai barat Australia; hingga menyeberang ke sisi barat Samudera Pasifik, ke
utara sampai ke perairan Jepang bagian selatan, ke selatan sampai ke pesisir timur
Austraila, serta ke timur di kepulauan-kepulauan Pasifik
hingga Hawaii dan Kepulauan Marquesas.

8
Ikan ini bersifat epipelagis dan neritik, menjelajahi perairan-perairan
terbuka bersuhu 18-29 C. Sebagaimana tuna yang lain, jenis ini acap
menggerombol dalam campuran berbagai jenis ikan dengan ukuran tubuh yang
sama. Misalnya dengan Thunnus albacares yang kecil, Katsuwonus
pelamis, Auxis sp., dan juga Megalaspis cordyla, dalam kumpulan yang terdiri
dari 100 hingga lebih dari 5.000 ekor ikan.

Tongkol como tidak memilih-milih mangsa; makanannya terdiri


dari udang, kerabat cumi-cumi dan sotong, serta aneka jenis ikan. Pada gilirannya,
tongkol dimangsa oleh setuhuk dan cucut. Musim berpijah tongkol bervariasi dari
satu tempat ke tempat lain. Di pesisir Afrika timur berlangsung antara bulan
Januari hingga Juli; di Filipina tercatat antara Maret-Mei; di Indonesia antara
Agustus-Oktober, dan di Kepulauan Seychelles antara Oktober-Mei. Tongkol
diperniagakan dalam bentuk ikan segar, ikan beku, dan dikalengkan. Juga dalam
rupa-rupa ikan olahan: dikeringkan, diasinkan, diasap, atau dipindang. Dagingnya
berkualitas baik bila segar, namun dengan cepat akan memburuk bila tidak
ditangani dengan baik.

3. Ikan cakalang

Cakalang

Klasifikasi ilmiah

Kingdom: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Actinopterygii

9
Ordo: Perciformes

Famili: Skombride

Genus: Katsuwonus
Kishinouye, 1915

Spesies: K. pelamis

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan berukuran sedang


dari familia Skombride (tuna). Satu-satunya spesies dari genusKatsuwonus.
Cakalang terbesar, panjang tubuhnya bisa mencapai 1 m dengan berat lebih dari
18 kg. Cakalang yang banyak tertangkap berukuran panjang sekitar 50 cm. Nama-
nama lainnya di antaranya cakalan, cakang, kausa, kambojo, karamojo, turingan,
dan ada pula yang menyebutnya tongkol. Dalam bahasa Inggris dikenal
sebagai skipjack tuna.

Tubuh berbentuk memanjang dan agak bulat (fusiform), dengan dua sirip
punggung yang terpisah. Sirip punggung pertama terdiri dari XIV-XVI jari-jari
tajam. Sirip punggung kedua yang terdiri dari 14-15 jari-jari lunak, diikuti oleh 7-
9 sirip tambahan berukuran kecil (finlet). Sirip duburberjumlah 14-15 jari-jari,
diikuti oleh 7-8 finlet. Sirip dada pendek, dengan 26-27 jari-jari lunak. Di
antara sirip perut terdapat dua lipatan kulit yang disebut taju interpelvis. Busur
(lengkung) insangyang pertama memiliki 53-63 sisir saring.

Bagian punggung berwarna biru keungu-unguan hingga gelap. Bagian perut


dan bagian bawah berwarna keperakan, dengan 4 hingga 6 garis-garis berwarna
hitam yang memanjang di samping badan. Tubuh tanpa sisik kecuali pada bagian
barut badan (corselet) dan gurat sisi. Pada kedua sisi batang ekor terdapat sebuah
lunas samping yang kuat, masing-masing diapit oleh dua lunas yang lebih kecil.

Cakalang dikenal sebagai perenang cepat di laut zona pelagik. Ikan ini umum
dijumpai di laut tropis dan subtropis di Samudra Hindia, Samudra Pasifik,
dan Samudra Atlantik. Cakalang tidak ditemukan di utara Laut Tengah. Hidup

10
bergerombol dalam kawanan berjumlah besar (hingga 50 ribu ekor ikan).
Makanan mereka berupa ikan, krustasea, cephalopoda, dan moluska. Cakalang
merupakan mangsa penting bagi ikan-ikan besar di zona pelagik, termasuk hiu.

Ikan cakalang adalah ikan bernilai komersial tinggi, dan dijual dalam bentuk
segar, beku, atau diproses sebagai ikan kaleng, ikan kering, atau ikan asap.
Dalam bahasa Jepang, cakalang disebut katsuo. Ikan cakalang diproses untuk
membuat katsuobushi yang merupakan bahan utama dashi (kaldu ikan)
untuk masakan Jepang. Di Manado, dan juga Maluku, ikan cakalang diawetkan
dengan cara pengasapan, disebut cakalang fufu (cakalang asap). Adapun, cakalang
dibudidayakan sebagai salah satu sumber bagi masyarakat juga sumber devisa
negara.[2]Cakalang merupakan salah satu sumber protein hewani dengan kandung
omega-3 yang dibutuhkan tubuh. Sebagai komoditas yang dapat diekspor
(exportable), cakalang turut berperan dalam ekonomi Indonesia. Sumberdaya
cakalang dimanfaatkan oleh kalangan menengah ke atas.

Cakalang -juga tuna- bisa ditangkap dari kedalaman 0-400 m. Salinitas yang
disukai adalah 32-35 ppt atau di perairan oseanik. Suhu perairan yang disukai
berkisar 17-31C (Chandra et al. 2015).

2.4 Sistem Aeroponik

Aeroponik merupakan budidaya tanaman dimana akar tanaman menggantung


di udara serta memperoleh unsur hara dan air dari larutan nutrisi yang
disemprotkan ke akar (Jones 2005). Larutan nutrisi yang disemprotkan dalam
bentuk kabut ke akar tanaman yang berada dalam chamber dengan durasi tertentu.
Adapun chamber merupakan lingkungan tertutup tempat tumbuhnya akar yang
meliputi sprayer nozzles untuk menyemprtokan larutan nutrisi, pompa yang
dilengkapi dengan timer, chamber, styrofoam, dan pipa (Tim Pengajar Pengantar
Ilmu Pertanian 2010).
Pada budidaya tanaman, sistem aeroponik ini tidak memerlukan media tanam.
Hanya saja perlu ditopang agar tumbuh tegak dengan styrofoam. Biasanya helaian
styrofoam yang telah dilubangi digunakan untuk menempatkan pangkal batang.

11
Helaian styrofoamini diletakkan di bagian atas chamber untuk memisahkan antara
kanopi dengan akar tanaman. Pada skala komersial, beberapa chamber untuk
aeroponik dirangkai membentuk suatu sistem aeropnik (Prastowo et al 2007).

12
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metodologi penelitian berasal dari kata metode yang artinya cara yang tepat
untuk melakukan sesuatu; dan logos yang artinya ilmu atau pengetahuan.
Jadi,metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran
secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan penelitian adalah suatu
kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun
laporannya. Selama proses penelitian, peneliti atau penguji haruslah bersifat dan
bersikap ilmiah, objektif, dan faktual. Hal ini perlu dilakukan agar penelitian yang
dilakukan dapat dipertanggung jawabkan.Menurut Sukmadinata (2008), metode
penelitian adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti dalam merancang,
melaksanakan, pengolah data, dan menarik kesimpulan berkenaan dengan masalah
penelitian tertentu.

Penelitan ini bertujuan untuk mengembangkan deep sea port yang efektif,
inovatif, berkompetitif, dan ramah lingkungan. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif. Alasan penulis menggunakan metode ini karena
dianggap cukup tepat dalam mendekati masalah yang akan diteliti. Metode penelitian
jenis ini digunakan untuk mencari unsur , sifat,dan ciri permasalahan yang diamati.
Metode ini dimulai dengan mengumpulkan data, menganalisis data, dan
menginterprestasikannya (Suryana 2010).

3.2 Teknik Pengumpulan Data


Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah
dengan telknik studi pustaka. Studi pustaka merupakan metode pengumpulan data
sekunder yang berasal dari pencarian data dan informasi melalui dokumen-dokumen,

13
baik dokumen tertulis, foto-foto, gambar, maupun dokumen elektronik yang dapat
mendukung dalam proses penulisan.

14
BAB IV
PEMBAHASAN

Konsep bangunan Gatot Smatifarm memiliki 3 tingkatan pada desain


pembangunanya. Desain pada tingkatan pertama terdapat keramba ikan yang
menembus ke laut sedalam dengan besar kolam m x m. Desain pada tingkatan kedua
terdapat lemari untuk penyimpanan ikan dan papan display untuk menampilkan harga
ikan dan harga sayuran tiap harinya. Desain pada tingkatan ketiga terdapat lahan
pertanian aeroponik yang dilengkapi sprinkler dan AC untuk mengatur kadar air dan
suhu ruangan tanaman. Berikut bahasan singkat mengenai desain pada tiap tigkatan :

4.1 Konsep Green Deep Seaport


Pengembangan deep seaport untuk pelabuhan Kuala Tanjung, Kabupaten
Renacana
Inovasi
Smart
Derma
Lauta Floating
ga
n Farm
Darat Smart Floating
Jetty 2.6 Farm
an
Km Jet
ty
Derma
ga
Darat
an Laut
an

Batubara ini dapat mengarah kepada pelabuhan hijau. Konsep pelabuhan hijau ini
sendiri dilator belakangi dengan inovasi penambahan fasilitas berupa bangunan yang
dilengkapi dengan sistem smart floating farm.

Gambar 1 Layout Rencana Pengembangan Sistem Smart Floating Farm di


Pelabuhan Kuala Tanjung
(sumber layout: Kep-KP 148/MENHUB/2016)

15
Gambar 1 di atas menunjukkan layout dari rencana pengembangan pelabuhan
Kuala Tanjung oleh pemerintah. Pada layout yang dibuat oleh pemerintah (gambar
kiri), belum ada pemanfaatan panjang jetty sejauh 2.6 km. Sehingga penulis membuat
inovasi untuk menambahkan inovasi fasilitas tambahan berupa bangunan-bangunan
dengan sistem smart floating farm.

4.2 Sistem Smart Floating Farm


Konsep smart floating farm ini mengacu pada pengembangan sektor
perikanan dan pertanian di wilayah lautan yang bertempat di dalam satu kawasan.
Selain itu, penambahan system pemanena nen ergi matahari sebagai sumber energy
alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik atau energi di dalam bangunan tersebut.
Konsep desain ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya yaitu:
1. Menyelesaikan kekurangan lahan pertanian.
2. Memungkinkan pengembangan perencanaan pertanian dan perikanan
secara fleksibel.
3. Terintegrasinya pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan perniagaan,
perikananan, dan pariwisata yang bertujuan menjadikan pelabuhan Kuala
Tanjung sebagai pelabuhan yang multifungsi.
4. Menjadikan pelabuhan Kuala Tanjung sebagai pelabuhan yang ramah
lingkungan dalam kaitannya dengan kemampuan menghasilkan dan
mengolah sumber energy sendiri.
5. Meningkatkan penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat sekitar
pelabuhan.
6. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar pelabuhan.
7. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

16
e)

d)

a)

b) c)

Gambar 2. (a) DesainBangunanSmart Floating Farm (b) TampakDepan (c) TampakBelakang


(d) TampakAtas (e) TampakSamping

4.3 Kolam Budidaya Ikan


a. Bagian bawah
Konsep tingkatan paling dasar pada bangunan Smart Floting Farm berupa
kolam budidaya yang masuk ke dalam lautan sedalam m x m dan dibatasi oleh jaring
ikan. Selain itu, terdapat pondasi bangunan yang berukuran m x m. Pondasi ini
berfungsi untuk menahan bangunan agar kokoh dari terpaan arus laut (Gambar b dan
c). Pondasi ini terbilng cukup murah, dalam Rencana Anggaran Biaya yang telah
penulis buat hanya mengeluarkan biaya sebesar

b. Bagian Atas
Konsep tingkatan kedua pada bangunan Smart Floting Farm berupa
permukaan kolam budidaya ikan dan tempat penyimpanan ikan. Kolam ikan ini
berukuran m x m dan terdapat 2 kolam pada setiap bangunan, pada setiap sisi
bagunan terdapat lemari penyimpanan ikan yang berukuran m x m dan berjumlah.
Pada bagian tampak depan bangunan terdapat layar display yang berfungsi untuk
menampilkan harga ikan dan sayuran per kilogram per hari.

17
Gambar 3. Desain Lantai 2 Sebagai Tempat Budidaya Ikan

c. Penyimpanan Ikan TTC (Tuna, Tongkol, dan Cakalang)

Ikan mempunyai nilai ekonomi penting dan beukuran lebih besar tentunya
membutuhkan penanganan yang lebih intensif karena akan mempengaruhi harga ikan
tersebut. Ikan mempunyai sifat cepat mengalami kerusakan (highly perishable)
sehingga diperlukan perhatian terhadap penempatan ikan setelah didaratkan, ikan
yang berukuran tidak dibiarkan tercampur dengan ikan ukuran kecil sehigga harus
dapat disesuaikan antarpengaturan tata ruang cool room yang akan digunakan
terhadap jenis ikan hasil tangkapan. Untuk mempertahankan mutu ikan, perlu
dilakukan penanganan khusus, seperti pengawetan ikan dengan cara pembekuan. Ikan
yang disimpan pada suhu 0oC, hanya akan bertahan selama 14-15 hari masa
penyimpanan. Demikian halnya dengan sarana transportasi yang akan digunakan
dalam penanganan ikan selama distribusi harus memperhatikan ukuran dan
pengaturan ruang transportsi agar ikan dapat sampai ke konsumen dengan kualitas
pemasaran yang baik.

Ketahanan penampakan fisik ikan tongkol segar sangat rentan. Menurut


Hadiwiyoto (1995), penampakan ikan tongkol (Euthynnus affinis) hanya bisa
bertahan 6 hari. Bagaimanapun juga selama penyimpanan akan terjadi reaksi enzim
dan adanya aktivitas mkroba. Menyatakan kondisi organoleptik (kenampakan. bau,
rasa dan tekstur), ikan mengalami penurunan selama penyimpanan Pindang ikan
tongkol yang disimpan pada suhu kamar tanpa dikemas mernilih penampakan yang
lebih jelek dibandingkan dengan pindang yang dikemas dengan plastik BE. Hal ini

18
disebabkm karena pindang ikan tongkol yang tidak dikemas dalarn 2 hari
penyimpanan sudah diturnbuhi jamur dan sudah rnulai berlelmdir sehingga
nmenumnkan tingkat kesukaan panelis terhadap kenampaka11 ikan pindang. Menurut
Hentwati (1980), salah satu jenis kerusakan ikan pindang selama penyimpanan adalah
timbulnya lendir dan adanya jamur. Oleh karena itu, perlu adanya tempat atau wadah
penampunga sementara agar ikan tongkol tidak cepat membusuk.

Menurut Paputungan et.al (2015), nilai kadar air ikan cakalang (Katsuwonus
pelamis) asap utuh yang dikemas vakum pada penyimpanan 0 dan 2 hari memiliki
nilai yang sudah tidak di rekomendasikan oleh SNI karena penyimpanan hari ke 2
mengalami penurunan yang terjadi kemungkinan adanya penguapan terhadap suhu
ruang yang tidak terkontrol namun masih berada diatas nilai yang tidak di
rekomendasikan SNI. Tinggi nya kadar air ini juga kemungkinan adanya pengaruh
pengasapan karna pengolah tidak memperhatikan lama pengasapan sehingga ikan
masih dalam keadan kurang kering kemudian dipasarkan.

Perlakuan pada penelitian Paputungan et.a (2015) adalah pengemasan dan


lama penyimpanan, dengan 2 x ulangan.perlakuan pengemasan yaitu pengemasan
plastik Vakum dan pengemasan plastik tidak Vakum. Data menunjukkan bahwa nilai
kenampakan pada penyimpanan 0 hari untuk ikan yang dikemas vakum 8.2 dan yang
untuk non vakum 7.6 sedangkan untuk lama penyimpanan selama 2 hari mengalami
penurunan nilai kenampakan yaitu untuk ikan yang divakum 4.6 dan non vakum 4.07.
Hal ini semakin lama penyimpanan maka nilai produk semakin menurun. Dari data
diatas menunjukkan bahwa penyimpanan dengan cara divakum dapat
mempertahankan nilai kenampakan tetapi masih kurang maksimal karena produk
disimpan pada suhu ruang yang suhunya kurang terkontrol.

Mengingat pentingnya kontinuitas bahan baku ikan sebagai industri


pengolahan, pelabuhan perikanan harus berupaya semaksimal mungkin menyediakan
walaupun ketika tidak pada musim ikan, antara lain melalui penyediaan cold storage.
Cold storage dapat digunakan menyimpan ikan dalam waktu yang cukup lama ketika

19
ketersediaan ikan banyak. Dari hasil penelitian sekitar tahun 1997, pelabuhan
perikanan pantai Kupang yang tidak mempunyai cold storage, nelayan sempat
membuang hasil tangkapannya kembali ke laut mengingat bila dibawa ke pelabuhan
tidak sebanding antara biaya operasional dengan harga hasil tangkapannya yang
sangat rendah karena banyaknya ikan yang didaratkan (Lubis et al. 1998). Selain itu,
pelabuhan perikanan hendaknya juga dilengkapai dengan gedung-gedung pengolahan
ikan, fasilitas penyortiran, serta lapangan parkir yang cukup luas untuk memperlancar
pendistribusian.

d. Jumlah pakan yang diberikan (feeding rate).

Setiap mahluk hidup termasuk ikan, biarpun tidak makan pasti mengeluarkan
limbah, dan memerlukan makanan karena energi diperlukan untuk mempertahankan
hidup. Oleh karena itu, bila ikan tidak makan, maka badan sendiri yang dibakar, dan
akibatnya adalah ikan menjadi kurus atau pertumbuhan menjadi negatif. Akan tetapi,
karena tidak ada kegiatan budidaya ikan yang memiliki program melangsingkan tubuh,
maka kinerjanya dianggap tidak ada. Namun demikian, limbahnya nyata; amoniak,
karbondioksida, air dan sedikit urin sebagai hasil perombakan/katabolisme protein, lemak
dan karbohidrat tubuh ikan. Kordi (2013) menyatakan jumlah pakan yang diberikan per
hari (feeding rate atau FR) biasa di-nyatakan sebagai persen bobot badan per hari (%
BB per hari), berikut adalah contoh perhitungan ikan tuna sirip kuning :

Diketahui :
- Jumlah pakan yang diberikan setiap hari antara 4-8 %
- Bobot biomassa dengan rata-rata mencapai 6%

Ditanya :
Jumlah pakan yang dibutuhkan ?

20
Jawab
Jumlah pakan yang dibutuhkan (kg) =
jumlah benih yang akan ditebar (ekor) x sintasan (%) rata-rata bobot ikan
panen (gr) x konversi pakan

=529ekor x 80 % x 1 x 1,5
= 6.348 kg

e. Daya Jual Ikan TTC (Tuna, Tongkol, dan Cakalang)

Pedagang eceran dan pengolah ikan merupakan dua pelaku usaha yang
berinteraksi langsung dengan konsumen (lampiran table harga 1), tetapi hanya
interaksi pedagang eceran dengan konsumen yang terjadi pada proses jual beli pada
bangunan tersebut. Nilai perikanan TTC terutama yang terkait langsung pemasaran
produk TTC dari pengolah tradisional. Interaksi yang terjadi diantara nelayan (NEL),
pengolah ikan (PENG), pedagang eceran (PE), pedagang besar/pengumpul (PB),
eksportir (EKS), dan konsumen (KONS). Hal ini menunjukkan setiap pelaku usaha
TTC mendukung pelaku usaha TTC lainnya pada setiap mata rantai pemasaran ikan
TTC.

Dukungan tersebut terlihat jelas dalam bentuk peningkatan nilai produk pada
setiap pelaku usaha yang membentuk rantai nilai pemasaran perikanan TTC, misalnya
untuk produk tuna segar dari nelayan ke pedagang besar/pengumpul, pedagang
eceran, dan konsumen meningkat nilainya berturut-turut Rp 25.000/kg, Rp 28.000/kg,
Rp 31.000/kg, dan Rp 45.000/kg . Produk ikan Tongkol segar dari nelayan ke
pedagang eceran meningkat pula nilainya sebesar Rp 10.000/kg ke Rp 13.000/kg.
Produk ikan Cakalang segar dari nelayan ke pedagang besar/ pengepul, dan pedagang
eceran meningkat pula nilainya sebesar Rp 16.000/kg, Rp 19.500/kg, Rp 23.000/kg,
dan Rp 45.000/kg.

21
4.4 Ruang Aeroponik

Gambar 4. Desain Lantai 2 Sebagai Tempat Budidaya Cabai dengan Sistem


Aeroponik

Pada budidaya tanaman, sistem aeroponik ini tidak memerlukan media tanam.
Hanya saja perlu ditopang agar tumbuh tegak menggunakan styrofoam. Biasanya
helaian styrofoam yang telah dilubangi digunakan untuk menempatkan pangkal
batang. Kebutuhan nutrisi tanaman dapat terpenuhi dari penyemprotan dalam bentuk
kabut ke akar tanaman yang berada dalam chamber dengan durasi tertentu.
Penggunaan aeroponik dipilih dengan tujuan untuk meminimalisir penggunaan air,
sehingga air yang diperoleh tanaman dapat efektif, efisien, dan sesuai dengan
kebutuhan tanaman. Apabila dibandingkan dengan sistem NFT pada aplikasu
hidroponik yang lain, sistem aeroponik ini lebih hemat dalam penggunaan air. Sistem
NFT memerlukan debit aliran larutan nutrisi sebesar 1 liter/menit, sedangkan pada
sistem aeroponik hanya memerlukan debit aliran larutan nutrisi sebesar 1.5 ml/menit
(Tim Pengajar Ilmu Pertanian 2010).Durasi penyemprotan nutrisi ke tanaman dengan
timer perlu diatur untuk mendapatkan keefisienan dan ketepatan pemberian nutrisi.
Menurut Marufatin (2011) menyatakan bahwa penyemprotan larutan nutrisi ke akar
tanaman dilakukan setiap 7 menit sekali selama 13 detik.
Jenis tanaman yang direncakanakan untuk dibudidayakan adalah cabai merah.
Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) adalah tumbuhan perdu yang berkayu,
dan buahnya berasa pedas yang disebabkan oleh kandungan kapsaisin. Di Indonesia
tanaman tersebut dibudidayakan sebagai tanaman semusim pada lahan bekas sawah
dan lahan kering atau tegalan. Namun demikian, syarat-syarat tumbuh tanaman cabai

22
merah harus dipenuhi agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil buah
yang tinggi. Potensi hasil cabai merah sekitar 12-20 t/ ha (Sumarni dan Muharam
2005). Tanaman cabai merah mempunyai daya adaptasi yang cukup luas. Tanaman ini
dapat diusahakan di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m
di atas permukaan laut, tetapi pertumbuhannya di dataran tinggi lebih lambat. Suhu
udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah 25-27C pada siang
hari dan 18-20C pada malam hari (Wien 1997). Suhu malam di bawah 16C dan
suhu siang hari di atas 32C dapat menggagalkan pembuahan (Knott dan Deanon
1970). Suhu tinggi dan kelembaban udara yang rendah menyebabkan transpirasi
berlebihan, sehingga tanaman kekurangan air. Akibatnya bunga dan buah muda
gugur. Pembungaan tanaman cabai merah tidak banyak dipengaruhi oleh panjang hari
(Sumarni dan Muharam 2005).
Penggunaan cabai tanaman budidaya di daerah pelabuhan Kuala Tanjung dapat
terealisasi karena kriteria suhu di kawasan tersebut sesuai yakni berkisar antara 26C
- 29C. Sementara itu, keadaan iklim kawasan ini dengan curah hujan dari hari hujan
yang cukup tinggi dan keadaan tanah yang subur, daerah hinterland berpotensi
sebagai daerah pertanian dan perkebunan (Zendrato dan Terunajaya 2016). Budidaya
cabai merah ini terletak di lantai 2 di dalam desain rencana. Chamber yang digunakan
mempunyai dimensi 19 m x 2 m x 1 m menggunakan bahan kaca. Chamber ini
beruguna untuk mengisolasi daerah perakaran dengan dunia luar, sehingga dapat
meminimalisir kontaminasi dari virus atau mikroba. Styrofoam dipasang di atas
chamber untuk menopang batang tanaman. Kerapatan tanaman atau jarak tanam yang
digunakan akan mempengaruhi populasi tanaman dan efisiensi penggunaan cahaya
matahari, serta persaingan antar tanaman dalam menggunakan air, unsur hara dan
ruang. Jarak tanam cabai merah yang optimum berkisar antara (50-60 cm) x (40-50
cm) (Marufatin 2011). Berdasarkan pernyataan tersebut, maka tanaman cabai yang
dapat dibudidayakan di dalam satu chamber berjumlah 114 tanaman. Sedangkan
jumlah chamber desain di lantai dua sebanyak 14 bak, sehingga dalam satu sistem
aeropnik, jumlah tanaman cabai yang ditanaman sebanyak 2016 tanaman. Budidaya

23
tanaman cabai dengan sistem aeropnik memerlukan biaya investasi awal sebesar Rp
91.557.800,00.

4.5 Atap Panel Surya

Gambar 5. Desain Lantai 5 Sebagai Tempat Sistem Panel Surya


Sistem solar sel ini menjadikan smart floating farm ini menjadi konsep hijau karena
mampu mememnuhi kebutuhan energinya sendiri dengan menggunakan energy
alternative matahari. Sistem ini diletakkan di lantai 3 dengan jumlah 110 panel surya.
Panel ini memiliki dimensi 2 x 1 meter dengan daya 300 WP. Apabila dijumlahkan
total maka sistem ini akan mampu menhgasilkan energy untuk operasional bangunan
dan lingkungan sekirtarnya sebesar 33000 watt.

4.6 Dampak Aspek Sosial dan Ekonomi Masyarakat

Pelabuhan Kuala Tanjung merupakan sentra dari usaha perikanan di Sumatera


Utara,utamanya industri pengolahan ikan. Cukup banyak masyarakat kabupaten Batu
Bara yang memiliki usaha pengolahan ikan. Usaha pengolahan tuna sirip biru
merupakan pilihan usaha yang memiliki prospek cukup bagus di Batu Bara, karena
harga jualnya yang bagus dan permintaan pasarnya yang terus meningkat.
Keberadaan dan pengembangan usaha pengolahan tuna sirip biru memberi dampak
positif bagi wilayah di sekitarnya, karena membuka peluang kerja dan meningkatkan
pendapatan masyarakat. Oleh karena itu adanya usaha pengolahan tuna sirip biru ini
sangat mendorong pembangunan ekonomi di kota Batu Bara Satu unit usaha

24
pengolahan tuna sirip biru skala kecil (kapasitas produksi 2.000 kg) dapat menyerap
tenaga kerja sebanyak 4 orang dengan upah Rp500.000,- s.d.Rp1.000.000,- per orang
per bulan. Nilai tambah riil yang diterima Pemerintah Daerah setempat secara
langsung ataupun tidak langsung dari kegiatan usaha tersebut antara lain sebagai
sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi pengecekan hasil mutu tuna
sirip biru dan jasa pelabuhan. Dampak lain dari keberadaan usaha pengolahan tuna
sirip biru adalah adanya jaminan stabilitas harga dan akses pasar, sehingga
memberikan kepastian pendapatan bagi nelayan.

Tantangan pembangunan pada hakikatnya adalah mencapai kesejahteraan bagi


semua elemen, khususnya masyarakat. Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu
adanya pemberdayaan, strategi, dan kegiatan pada masyarakat dalam aspek
pembangunan. Masyarakat kabupaten Batu Bara meberikan peranan penting dalam
hal pembangunan dan pengelolaan sistem Smart Floating Farm di Pelabuhan Kuala
Tanjung. Dengan adanya pemberdayaan tersebut, kecemburuan sosial antara
masyarakat dan pemilik modal dapat dihindari.

Dampak ini dapat bersifat jangka panjang dan jangka pendek yang
dipengaruhi oleh kondisi ekosistem dan masyarakat sekitar. Secara umum, dampak
positif Smart Floating Farm antara lain peningkatan kualitas dan nilai ekonomi
kawasan pesisir, perbaikan kawasan hijau pantai, mengurangi pemanasan global, dan
penyerapan tenaga kerja. Smart Floating Farm banyak memberikan keuntungan
dalam mengembangkan wilayah karena memberikan pilihan penyediaan lahan untuk
pemekaran wilayah, penataan daerah pantai, menciptakan alternatif kegiatan dan
pengembangan wisata bahari (Djakapermana 2010).

4.7 Potensi Wisata Pelabuhan Kuala Tanjung

Zaman modern sekarang ini dihadapkan pada atmosfer persaingan yang


kompetitif, tidak terkecuali bisnis yang bergerak dalam sektor pariwisata juga

25
merasakan atmosfer tersebut. Sektor pariwisata merupakan sektor yang memiliki
peluang sangat besar dibandingkan dengan sektor-sektor ekonomi yang lain,
pariwisata memperlihatkan perkembangan yang stabil bahkan memiliki
kecenderungan meningkat setiap tahunnya.

Salah satu hal penting mengembangkan pariwisata adalah melalui fasilitas dan
kemudahan. Tidak jarang wisatawan berkunjung ke suatu tempat, daerah, dan negara
karena tertarik oleh kemudahan-kemudahan yang bisa diperoleh melalui fasilitas.
Menurut Yoeti (2003) fasilitas wisata adalah semua fasilitas yang fungsinya
memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal untuk sementara waktu di daerah
tujuan wisata yang dikunjunginya, dimana mereka dapat santai menikmati dan
berpartisipasi dalam kegiatan yang tersedia di daerah tujuan wisata tersebut. Fasilitas
wisata yang terdapat pada Gatot Martifarm antara lain

Selain potensi wisata, terdapat pula potensi wisata pendidikan pada konsep
bangunan Smart Floating Farm. Wisata pendidikan yang populer dengan istilah
educational tourism merupakan peluang pasar baru dalam usaha jasa pariwisata.
Keinginan wisatawan untuk lebih mengetahui daerah tujuan wisata telah
menyebabkan pergeseran tren preferensi wisatawan menuju kegiatan minat khusus
dengan partisipasi yang lebih intensif di daerah wisata yang dikunjunginya. Dewasa
ini wisatawan lebih menginginkan adanya proses pembelajaran (learning experience)
dalam melakukan kunjungan wisatanya. Upaya diversifikasi dan peningkatan kualitas
produk wisata sangat penting untuk menjamin kontinyuitas usaha pariwisata. Untuk
itu, pengembangan wisata pendidikan sebagai produk wisata alternatif menjadi sangat
penting (Purnawaman 2015). Konsep bangunan Smart Floating Farm Pelabuhan
Kuala Tanjung sangat potensial menawarkan kagiatan pendidikan untuk memberikan
pemahaman mengenai jenis ikan TTC yang berdaya saing global dan konsep
aeroponik yang ramah lingkungan.

4.8 Aspek Ramah Lingkungan

26
Seiring dengan isu pemanasan global Penerapan desain ramah lingkungan banyak
dilakukan dimana berpacu pada tiga aspek, yaitu efisiensi energi, penggunaan
material dan teknologi baru. Penerapan desain ini akan terasa manfaatnya bila
diterapkan pada bangunan skala besar dan ditempatkan di daerah pantai yang
merasakan dampak pemansan global. Penerapan desain layaknya panel surya sebagai
alternatif energy listrik merupakan langkah yang tepat.

Konsep aeropnik pada bangunan ini memberikan peluang sebagai objek wisata
berbasis pendidikan atau biasa dikenal dengan agroedutourism. Agroedutourism bisa
diartikan sebagai wisata pendidikan pertanian, yang merupakan salah satu wisata
pendidikan yang mengajak wisatawan untuk belajar pertanian (Hakim 2010).Selain
untuk tujuan wisata, hasil dari panen sawah yang ada dapat digunakan untuk
konsumsi dan dijual. RTH yang ada dapat berfungsi sebagai penahan angin, produsen
oksigen, penyerap air hujan, penyerap polutan media udara, air dan tanah, ruang
peneduh, serta pengatur iklim mikro agar sistem sirkulasi udara dan air secara alami
dapat berlangsung lancar (Khairunnisa et al. 2012). Konsep ruang hijau yang
diunggulkan adalah ruang publik, ruang yang dibentuk mengarah ke laut lepas
diharapkan dapat memikat para wisatawan agar berlama-lama menikmati kawasan
ini, karena ruang ini dibuat asri dan rindang yang dapat menyejukkan suasana.

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan

27
Pemanfaatan Smart Floating Farm sebagai konsep deep sea port hijau; dirasa
mampu membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitar pantai. Konsep ini
dirancang sebagai pemanfaatan daerah pelabuhan yang umumnya tidak subur sebagai
lahan pertanian menggunakan system aeroponik tanpa merusak nilai nilai sosial,
ekonomi, dan kebudayaan serta lingkungan. Ruang untuk budidaya dan penyimpanan
ikan diharapkan juga mampu mengatasi permasalahan harga ikan yang murah,
mengatasi sifat fisik ikan yang cepat busuk, dan menaikan pendapatan asli daerah
setempat. Smart Floating Farm mampu membantu meningkatkan kualitas lingkungan
pantai, karena tanaman pertanian dan panel surya dapat mengurangi efek dari
pemanasan global.

5.2 Saran
Perencanaan konsep Smart Floating Farm ini dapat diterapkan di sebagian
besar Indonesia namun perlu dilakukan beberapa penyesuaian. Perlu dilakukannya
pengsosialisasian kepada masyarakat mengenai manfaat budidaya ikan, sitem
aeroponik, dan panel surya mengenai tata cara pengolahannya. Hal ini diharapkan
agar program Smart Floating Farm tidak berjalan dengan sia sia tetapi dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

28