Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH PENGELOLAAN PERTAMBANGAN

EMAS DAN TEMBAGA DI TEMBAGAPURA, IRIAN JAYA

( MATA KULIAH GEOLOGI LINGKUNGAN DAN SUMBER DAYA ALAM)

Disusun oleh :

Nama :FITRI HANDAYANI

NPM:11060062

Kelas:Geo A / Semester V

UNIVERSITAS PROF. DR. HAZAIRIN, SH BENGKULU

FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN

PRODI GEOGRAFI

2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga proses
pembuatan tugas makalah tentang Pengelolaan Pertambangan Emas dan Perak di Tembagapura, Irian
Jaya dapatu terselesaikan dengan baik.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari peran serta, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak yang
berkontribusi bagi terselesainya pembuatan makalah ini.

Namun dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna, tentu tidak lepas dari kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yng sifatnya membangun sangat penyusun harapkan demi
kesempurnaan dari makalah ini. Akhir kata, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua serta menambah ilmu pengetahuan.

Bengkulu,November 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...........................................................................................................

KATA PENGANTAR .........................................................................................................


DAFTAR ISI ........................................................................................................................

BAB I ...... PENDAHULUAN

1.1...... Latar Belakang ....................................................................................................

1.2...... Rumusan Masalah ................................................................................................

1.3...... Tujuan Makalah ...................................................................................................

1.4...... Manfaat Penulisan ................................................................................................

BAB II ..... PEMBAHASAN

2.1...... Pertambangan emas dan perak di Tembagapura.............................................

2.2...... Karateristik wilayah berdasarkan geologi ..............................................................

2.3...... Struktur Landscape..............................................................................................

2.4...... Persebaran sumber daya geologi ..........................................................................

2.5...... Bencana atau Bahaya geologi ...............................................................................

2.6...... Perencanaan tata guna lahan..................................................................................

BAB III ... PENUTUP

3.1...... Kesimpulan .........................................................................................................

3.2 ..... Saran ..................................................................................................................

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang cukup luas dan memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Hal itu
didasarkan pada letak Indonesia yang berada tepat digaris yang dilalui khatulistiwa sehingga
menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis dan hal itu juga berpengaruh terhadap suburnya alam di
negeri ini. Begitu pula secara geologis Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng yang
memungkinkan munculnya deretan gunung api yang secara otomatis akan mendukung pertumbuhan
tanaman dan kaya akan barang tambang galian.

Kaitannya dengan barang tambang galian (emas, perak dan tembaga) atau yang sumber daya mineral
lainnya tentunya hal itu bukan hal yang tabu. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa
sumber daya mineral ini memiliki peran yang cukup penting bagi kehidupan manusia sebab dalam
hidupnya manusia tidak pernah lepas dari sumber daya tersebut. Oleh karena itu, dengan semua
kecakapan yang dimiliki serta dengan semakin majunya IPTEK maka manusia sudah sepatutnya untuk
melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan nilai guna sehingga bisa lebih bermanfaat.

Dan dalam pengelolaannya, tentu harus memperhatikan keseimbangan antara produksi dan proteksi
artinya dalam pemanfaatannya manusia harus mampu memperthatikan pelestarian. Akan tetapi, yang
lebih penting dari itu semua kita harus tetap mengedepankan prinsip sustainable development yaitu
prinsip dimana apa yang kita nikmati sekarang harus juga mampu untuk dinikmati oleh generasi yang
akan datang.

Namun dalam pengelolaan kekayaan alam dan energi di Indonesia yaitu Papua ini terjadi karena
Indonesia memilih sistem kapitalisme dan sistem pemerintahan demokrasi. Pemerintahan demokrasi di
masa orde baru dan era reformasi telah menjual kekayaan alam Indonesia kepada pihak asing, melalui
berbagai produk Undang-undang seperti UU Migas, UU Minerba, UU Penanaman Modal Asing dan
sebagainya.

Semua undang-undang ini memberi peranan besar kepada swasta dan kapitalisme asing, disahkan oleh
DPR tanpa ada upaya pencegahan sedikitpun. Semua ini berasas pada kepercayaan para penguasa dan
pejabat di Indonesia kepada sistem ekonomi liberalisme dan mekanisme pasar. Ditambah lagi dengan
mental korup dimana mereka yang hanya berfikir untuk kepentingan dirinya saja.

Sumber daya mineral merupakan kebutuhan yang sifatnya esensial bagi kehidupan manusia. Sungguh
ironi limpahan sumber daya mineral yang terkandung dan tersebar secara merata tak lantas menjadikan
masyarakat di negeri ini dapat mencicipi manisnya kesejahteraan. Hal itu, ditengarai oleh minimnya
sumber daya manusia yang berkualitas sehingga semua kekayaan alam ini belum mampu tereksplorasi
secara maksimal. Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa kita kalah bersaing dengan
bangsa lain maka tak heran banyak perusahaan yang dimiliki oleh pihak asing sedangkan kita sebagai
bangsa pribumi hanya bagaikan budak di negeri sendiri.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat kita ketahui rumusan masalahnya, antara lain :

1 Bagaimanakah pertambangan emas dan tembaga di Indonesia (Papua).

2 Bagaimanakah Peengelolaan pertambangan tersebut.

3 Bagamanakah pemanfaatan pertambangan emas dan tembaga terbesar di dunia tersebut.

1.3Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :

1Untuk memberikan pengetahuan kepada kita semua bahwa di tanah air kita tercinta terdapat sumber
daya alam yang sangat melimpah, terutama bahan galian.
2Supaya mahasiswa yang sudah belajar mengenai pengelolaan dan pemanfaatan pertambangan emas
dan perak yang ada di Tembagapura, Papua.

1.4Manfaat Penulisan

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah :

Supaya kita semua menyadari bahwa sumber daya alam yang melimpah yang dikelola dan dinikmati oleh
negara asing tersebut dapat di rebut kembali oleh pemerintah Indonesia sehingga di negeri Indonesia
seharusnya dapat mencukupi kebutuhan dan mensejahterakan penduduk Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pertambangan Emas dan Tembaga di Tembagapura, Irian Jaya

Kecamatan Tembagapura adalah sebuah distrik setingkat kecamatan yang terletak di Kabupaten Mimika,
Papua, Indonesia. Di kecamatan ini terdapat dua gunung di mana terletak dua tambang besar, masing-
masing tambang Ertsberg (tambang tembaga) di Gunung Erstberg dan tambang Grasberg di Gunung
Grasberg yang merupakan tambang dengan cadangan tembaga terbesar ketiga di dunia dan cadangan
emas terbesar di dunia. Kedua tambang ini dioperasikan oleh PT. Freeport Indonesia.

PT. Freeport Indonesia (PTFI atau Freeport) adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas
sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. Perusahaan ini merupakan perusahaan
penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan
eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Ertsberg (dari 1967 hingga 1988) dan
tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Freeport-
McMoRan berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan US$ 6, 555 miliar pada tahun 2007.
Mining Internasional, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang
terbesar di dunia.

Freeport mulai banyak menarik perhatian masyarakat setelah terungkapnya berbagai permasalahan dan
insiden yang terjadi di wilayah konsesi pertambangan perusahaan tersebut. Berbagai pendapat, baik dari
media, lembaga swadaya masyarakat, serta akademisi menyoroti masalah yang berkaitan dengan
pencemaran lingkungan, adaptasi sosio-kultural, keterlibatan TNI, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan
politik separatis dari kelompok penduduk asli. Namun, dalam pembahasan ini permasalahan yang akan
diulas adalah yang berkaitan dengan tidak optimalnya pengelolaan potensi ekonomi sumberdaya mineral
di wilayah pertambangan tersebut bagi penerimaan negara.

Dalam tulisan berikut akan diuraikan mengenai potensi tembaga dan emas yang tersimpan di Grasberg
dan Erstberg, serta pengelolaan pertambangan Freeport yang tidak optimal bagi pemerintah Indonesia.
Akibatnya, manfaat ekonomi yang diperoleh pemerintah Indonesia tidak maksimal. Bahkan, dapat
dikatakan Indonesia mengalami kerugian negara yang sangat besar karena tidak optimal, tidak adil, tidak
transparan dan bermasalahnya pengelolaan sumberdaya mineral itu.

Kontrak Karya yang Merugikan dari Generasi ke Generasi

Freeport memperoleh kesempatan untuk mendulang mineral di Papua melalui tambang Ertsberg sesuai
Kontrak Karya Generasi I (KK I) yang ditandatangani pada tahun 1967. Freeport adalah perusahaan asing
pertama yang mendapat manfaat dari KK I. Dalam perjalanannya, Freeport telah berkembang menjadi
salah satu raksasa dalam industri pertambangan dunia, dari perusahaan yang relatif kecil. Hal ini
sebagian besar berasal dari keuntungan yang spektakuler sekaligus bermasalah yang diperoleh dari
operasi pertambangan tembaga, emas, dan perak di Irian Jaya, Papua.

KK I dengan Freeport ini terbilang sangat longgar, karena hampir sebagian besar materi kontrak tersebut
merupakan usulan yang diajukan oleh Freeport selama proses negosiasi, artinya lebih banyak disusun
untuk kepentingan Freeport. Dalam operasi pertambangan, pemerintah Indonesia tidak mendapatkan
manfaat yang proposional dengan potensi ekonomi yang sangat besar di wilayah pertambangan
tersebut. Padahal bargaining position pemerintah Indonesia terhadap Freeport sangatlah tinggi, karena
cadangan mineral tambang yang dimiliki Indonesia di wilayah pertambangan Papua sangat besar bahkan
terbesar di dunia. Selain itu, permintaan akan barang tambang tembaga, emas dan perak di pasar dunia
relatif terus meningkat.

Dengan kondisi cadangan yang besar, Freepot memiliki jaminan atas future earning. Apalagi, bila
ditambah dengan kenyataan bahwa biaya produksi yang harus dikeluarkan relatif rendah karena
karakteristik tambang yang open pit. Demikian pula emas yang semula hanya merupakan by-product,
dibanding tembaga, telah berubah menjadi salah satu hasil utama pertambangan.

Freeport sudah sejak lama berminat memperoleh konsesi penambangan tembaga di Irian Jaya. KK I
Freeport disusun berdasarkan UU No 1/67 tentang Pertambangan dan UU No. 11/67 tentang PMA. KK
antara pemerintah Indonesia dengan Freeport Sulphur Company ini memberikan hak kepada Freeport
Sulphur Company melalui anak perusahaannya (subsidary) Freeport Indonesia Incorporated (Freeport),
untuk bertindak sebagai kontraktor tunggal dalam eksplorasi, ekploitasi, dan pemasaran tembaga Irian
Jaya. Lahan ekplorasi mencangkup areal seluas 10.908 hektar selama 30 tahun, terhitung sejak kegiatan
komersial pertama. KK I mengandung banyak sekali kelemahan mendasar dan sangat menguntungkan
bagi Freeport.

Kelemahan- tersebut utamanya adalah sebagai berikut.

1.Perusahaan yang digunakan adalah Freeport Indonesia Incorporated, yakni sebuah perusahaan yang
terdaftar di Delaware, Amerika Serikat, dan tunduk pada hukum Amerika Serikat. Dengan lain perkataan,
perusahaan ini merupakan perusahaan asing, dan tidak tunduk pada hukum Indonesia.

2.Kontrak tidak ada kewajiban mengenai lingkungan hidup, karena pada waktu penandatanganan KK
pada tahun 1967 di Indonesia belum ada UU tentang Lingkungan Hidup. Sebagai contoh, akibat belum
adanya ketentuan tentang lingkungan hidup ini, sejak dari awal Freeport telah membuang tailing ke
Sungai Aikwa sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.

3.Pengaturan perpajakan sama sekali tidak sesuai dengan pengaturan dalam UU Perpajakan yang
berlaku, baik jenis pajak maupun strukturnya. Demikian juga dengan pengaturan dan tarif depresiasi
yang diberlakukan. Misalnya Freeport tidak wajib membayar PBB atau PPN.

4.Tidak sesuainya struktur pajak maupun tarif pajak yang diberlakukan dalam KK I dirasakan sebagai
pelanggaran terhadap keadilan, baik terhadap perusahaan lain, maupun terhadap Daerah. Freeport pada
waktu itu tidak wajib membayar selain PBB juga, land rent, bea balik nama kendaraan, dan lain-lain pajak
yang menjadi pemasukan bagi Daerah.

5.Tidak ada kewajiban bagi Freeport untuk melakukan community development. Akibatnya, keberadaan
Freeport di Irian Jaya tidak memberi dampak positif secara langsung terhadap masyarakat setempat.
Pada waktu itu, pertambangan tembaga di Pulau Bougenville harus dihentikan operasinya karena gejolak
sosial.

6.Freeport diberikan kebebasan dalam pengaturan manajemen dan operasi, serta kebebasan dalam
transaksi dalam devisa asing. Freeport juga memperoleh kelonggaran fiskal, antara lain: tax holiday
selama 3 tahun pertama setelah mulai produksi. Untuk tahun berikutnya selama 7 tahun, Freeport hanya
dikenakan pajak sebesar 35%. Setelah itu pajak yang dikenakan meningkat menjadi sekitar 41, 75%.
Freeport juga dibebaskan dari segala jenis pajak lainnya dan dari pembayaran royalti atas penjualan
tembaga dan emas kecuali pajak penjualannya hanya 5%.

Keuntungan yang sangat besar terus diraih Freeport, hingga Kontrak Karya I diperpanjang menjadi
Kontrak Karya II yang tidak direnegosiasi secara optimal. Indonesia ternyata tidak mendapatkan manfaat
sebanding dengan keuntungan besar yang diraih Freeport. Ketentuan-ketentuan fiskal dan finansial yang
dikenakan kepada Freeport ternyata jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan yang berlaku negara-
negara Asia dan Amerika Latin.

Sedangkan menyangkut pengawasan atas kandungan mineral yang dihasilkan, dalam kontrak Freeport
tidak ada satu pun yang menyebut secara eksplisit bahwa seluruh operasi dan fasilitas pemurnian dan
peleburan harus seluruhnya dilakukan di Indonesia dan dalam pengawasan Pemerintah Indonesia. Pasal
10 poin 4 dan 5 memang mengatur tentang operasi dan fasilitas peleburan dan pemurnian tersebut yang
secara implisit ditekankan perlunya untuk dilakukan di wilayah Indonesia, tapi tidak secara tegas dan
eksplisit bahwa hal tersebut seluruhnya (100%) harus dilakukan atau berada di Indonesia. Hingga saat ini,
hanya 29% saja dari produksi konsentrat yang dimurnikan dan diolah di dalam negeri. Sisanya (71%)
dikirim ke luar negeri, di luar pengawasan langsung dari pemerintah Indonesia.

Di dalam Kontrak Freeport, tidak ada satu pasal pun yang secara eksplisit mengatur bahwa pemerintah
Indoensia dapat sewaktu-waktu mengakhiri Kontrak Freeport. Pun jika Freeport dinilai melakukan
pelanggaran-pelanggaran atau tidak memenuhi kewajibannya sesuai dengan kontrak. Sebaliknya, pihak
Freeport dapat sewaktu-waktu mengakhiri kontrak tersebut jika mereka menilai pengusahaan
pertambangan di wilayah kontrak pertambangannya sudah tidak menguntungkan lagi secara ekonomis.
2.2Karateristik Wilayah Papua Berdasarkan Geologi

Gambar 1. Peta Geologi Papua

Ket :

Warna Biru:batu gamping atau dolomite

Warna Merah:batuan beku atau malihan

Warna Abu-abu:Sedimen lepas(kerikil, pasir, lanau)

Warna Kuning:Sedimen Padu(tak terbedakan)

Pembentukan Pulau Papua telahbanyak didiskusikan olehpara ahli geologi dan mendapatperhatian yang
cukupbesar karena geologinya yang kompleks tersebut

Pada mulanyapulau Papua merupakan dasar lautan Pasifik yangpaling dalam. Awal terpisahnyabenua
yang mencakup Papua di dalamnya (Benua Australia) terjadipada masa Kretasius Tengah (kurang lebih
100juta tahun yang lalu). Lempeng Benua India-Australia (ataubiasa disebut Lempeng Australia)bergerak
ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya danbertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik
yangbergerak ke arah Barat.

Pulau Papua merupakan pulau yang terbentuk dari endapan ( sedimentation) dengan masa
yangpanjangpada tepi utara kraton Australia yangpasif dimulaipada Zaman Karbon sampai Tersier Akhir.
Lingkunganpengendapanberfluktuasi dari lingkungan air tawar, laut dangkal, sampai laut dalam dan
mengendapkanbatuan klastik kuarsa, termasuklapisanbatuan klastik karbonat, danberbagaibatuan
karbonat yang ditutupi oleh KelompokBatugampingNew Guineaberumur Miocen. Ketebalan urutan
sedimentasi ini mencapai lebih dari 12.000 meter.

Selain itu, Papuajuga terbentuk berdasarkanpertumbukan yang dihasilkan dari interaksi konvergen kedua
lempeng yaitu Lempeng Pasifik dan Lempeng Australia, dijelaskanbahwa Lempeng Pasifik mengalami
subduksi sehingga lempeng iniberada dibawah Lempeng Australia. Pada saat dimulainya gerakan ke
utara dan rotasi daribenua super ini, seluruh Papua dan Australiabagian utaraberada dibawahpermukaan
laut.

Bagian daratanpaling Utarapada Lempeng India-Australia antara 90-100juta tahun laluberadapada 48


Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik.

Ketika Lempeng India-Australia dan Lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40juta tahun lalu, Pulau Papua
mulai muncul dipermukaan lautpada sekitar 35 Lintang Selatan, dengan kata lain dapat
dijelaskanbahwa subduksi antara ke-2 lempeng tersebut telah menyebabkan endapan Benua Australia
terangkat sehingga memunculkan Pulau Papua. Proses iniberlanjut selama masa Pleistosen hingga Pulau
Papua terbentuk seperti sekarang ini. Prosespengangkatan iniberdasarkan skala waktu geologi,
kecepatannya adalah 2,5kmperjuta tahun.

2.3Struktur Landscape (Bentang Lahan) Papua

Secara astronomis, irian terletak antara 00 19 100 43 LS dan 1300 45 1500 48 BT, mempunyai
panjang 2400 km dan lebar 660 km. secara administratif pulau ini terdiri dari papua sebagai wilayah RI
dan papua Nugini yang terlatak di bagian timur.

Provinsi Papua memiliki kondisi topografi yang sangat bervariasi dari daerah datar hingga daerah sangat
curam. Sebagian besar wilayah Papua termasuk daerah datar dengan kisaran kemiringan lahan 0 - 8%
mencapai luasan 16,3 juta hektar (38,6%) dan diikuti dengan kemiringan lahan 15 25% seluas 15,0
juta hektar (35,5%). Sedangkan 5,9% dari luas wilayah Papua adalah daerah agak curam.

Secara fisiografis P. Irian Jaya dari utara keselatan dibagi kedalam lima unit sebagai berikut : (Van
Bemmelen, 1949, 713).

a.Pantai utara yang merupakan batas selatan Blok Melanesia.

b. Trough Mamberamo-Bewani, yang terletak antara batas selatan Malanesia

dengan pegunungan di selatannya. Depresi geosinklin ini membentang dari pantai Waropen barat
sampai ke Matapau di Timur.

c. Pegunungan utara, terdiri dari batuan metamorfik dan batuan beku berumur pre-tertier dan secara
tidak merata tertutup oleh limestone berumur tertier bawah. Pegunungan ini mulai terangkat pada
miosen bawah.

d. Depresi median, depresi ini terletak antara dataran pantai dan pegunungan di bagian tengah.

e. Pegunungan tengah yang bersalju. Daerah ini terdiri dari endapan geosinklin pretertier dan intrusi
batuan beku, kemudian disusul oleh (ditutup) endapan berumur paleogen dan miosen bawah.
Pegunungan tengah ini benar-benar terangkat keatas permukaan laut pada paleogen akhir. Puncak
tertingginya (5000 meter) berada di tepi selatan komplek Pegunungan Nasau dan Pegunungan Orange
(Nasau range and Orange range). Adapun komplek pegunungan ini memiliki lebar 100-150 Km. Dari
batas selatan ini ke arah utara ketinggiannya mulai menurun dan membentuk beberapa lembah dan
pegunungan yang sejajar. Di batas utara pegunungan tengah ini memiliki ketinggian tertinggi 4050 m
yaitu di puncak Dormant.

f. Depresi digul-Fly. Sebagai kompensasi terhadap adanya pengangkatan di bagian tengah maka bagian
selatan pulau Irian mengalami penurunan di sepanjang tepi selatannya.

g. Igir Maroke. Igir ini hanya beberapa meter tingginya dan dapat di telusuri mulai dari Kep. Aru, Kep. Adi
kearah timur sampai Bombarai dan Misool.

Fisiografi papua dibedakan menjadi tiga bagian:


1. Semenanjung barat atau kepala burung yang dihubungkan oleh leher yang sempit terhadap pulau
utama (1300 1350 BT)

2. Pulau utama atau tubuh (1350 143,50 BT)

3. Bagian timur termasuk ekor (143,50 1510 BT)

2.4Persebaran Sumber Daya Geologi

Papua merupakan wilayah yang sangat kaya akan sumber alam sebagai akibat kegiatan lempengnya yang
terus mengalamiperkembangan. Geologi Papua merupakan sesuatu yang kompleks, melibatkan kegiatan
interaksi konvergen Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik sertaprosespengendapan di masa lalu yang
mengalamiperkembangan danpengangkatan. Kebanyakan evolusi tektonik Cenozoic kepulauan ini
terbentuk sebagai akibat interaksi konvergen tersebut. Hal ini menjadikan pulau Papua banyak
menghasilkan bahan galian seperti emas , tembaga dan perak.

Selain itu, Papua merupakan pulau yang kaya akan hutan, luas lahannya sebagian besar wilayanhnya
merupakan hutan yang belum dimanfaatkan secara optimal, potensi yang dapat dikembangkan di daerah
ini meliputi berbagai kegiatan seperti kehutanan, pengembangan perkebunan, peternakan, perikanan
darat dan laut, dan pertambangan. Potensi sumbar daya mineral dan energi di papua antara lain:manyak
bumi, emas, tembaga, batubara, dan sejumlah mineral lainnya. Papua menjadi pengeksport konsentrat
terbesar. Salah satu perusahaan yang terkenal adalah PT. Freeport di kabupaten Tinamika.

Seperti halnya dengan flora, keadaan di Papua pun bermacam-macam dalam dunia hewan misalnya,jenis
yang terdapat di Papua tidak sama dengan jenis hewan di daerah-daerah di Indonesia lainnya seperti
Kangguru, kasuari, Mambruk dan lalin-lain. Demikian pula sebaliknya jenis hewan tertentu yang terdapat
di Indonesia lainnya tidak terdapat di Papua seperti Gajah, Harimau, Orang Utan dan lain-lain.Fauna di
Papua terdapat persamaan dengan fauna di Australia, misalnya Kangguru, Kus-kus dan lain-lain.Burung
Cendrawasih merupakan burung yang cantik di dunia dan hanya terdapat di Papua.

2.5Bencana /Bahaya Geologi

Papua merupakan sebuah pulau yang berasal dari pengendapan materi banua ausrtalia selama berjuta-
juta tahun, pengendapan ini menghasilan tumpukan material yang tebal sehingga mampu membentuk
sebuah pulau seperti sekarang. Lempeng ausrtalia dengan lempeng pasifik yang menyebabkan
pengendapan yang terjadi sebelumnya terangkat kepermukaan dari dasar lautpasifik yang ditemukan di
Papua yang mengindikasikan terjadinyapengangkatan dari dasar laut oleh tenaga endogen, dikenal
sebagai Orogenesa Melanesia.

Pada 10 juta tahun yang lalu, pergerakan lempeng Australia terus berlanjut dan pengrusakan pada
Lempeng Samudra Solomon terus berlangsung mengakibatkan tumbukan di perbatasan bagian utara
dengan Busur Melanesia. Busur tersebut terdiri dari gundukan tebal busur kepulauan Gunung Api dan
sedimen depan busur membentuk bagian Landasan Sayap Miosen seperti yang diekspresikan oleh
Gunung Api Mandi di Blok Tosem dan Gunung Api Batanta dan Blok Arfak.

Kemiringan tumbukan ini mengakibatkan kenampakan berbentuk sutur antara Busur Melanesia dan
bagian tepi utara Lempeng Australia yang diduduki oleh Busur Gunung Api Mandi dan Arfak terus
berlangsung terus hingga 10 juta tahun yang lalu dan merupakan akhir dan penunjaman dan
perkembangan dari busur Moon Utawa. Kenampakan seperti jahitan ditafsirkan dari bentukan tertutup
dari barat ke timur mulai dari Sorong, Koor, Ransiki, Yapen, dan Ramu Zona Patahan Markam.

Akibat tumbukan tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di bagian cekungan paparan di
bagian selatan dan mengarahkan mekanisme perkembangan Jalur Sesar Naik Papua. Zona Selatan
tumbukan yang berasosiasi dengan sesar serarah kemiringan konvergensi antara pergerakan ke utara
lempeng Australia dan pergerakan ke barat lempeng Pasifik mengakibatkan terjadinya resultante NE-SW
tekanan deformasi. Hal itu mengakibatkan pergerakan evolusi tektonik Papua cenderung ke arah Utara
Barat sampai sekarang.

Oleh karna itu, daerah Papua berdasarkan struktur geologi dan geomorfologinya sangat memungkinkan
terjadinya peristiwa tektonik baik di daratan dan di lautan. Peristiwa bencana atau bahaya yang tersebar
di Papua ini seperti gempa bumi, tanah longsor, tanah runtuh, dan yang paling signifikan sampai saat ini
adalah dampak dari pencemaran lingkungan akibat pertambangan emas dan perak tersebut.

2.6Perencanaan Tata Guna Lahan

Konsep Pengembangan Wilayah Eksternal

Dalam lingkup antar wilayah (eksternal), konsep struktur tata ruang yang dituju adalah terbentuknya
struktur tata ruang Papua yang terintegrasi dengan pengembangan kabupaten/kota yang berada di
dalam wilayah Provinsi Papua Barat serta pengembangan wilayah sekitarnya. Perumusan konsep struktur
tata ruang dalam lingkup eksternal ini didasarkan pada pertimbangan:

Kondisi geografis Provinsi Papua Barat yang merupakan wilayah dataran, pesisir dan pulau-pulau kecil.

Secara regional Provinsi Papua Barat memiliki keterkaitan dengan wilayah sekitarnya karena posisi dan
fungsi yang strategis.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka konsep penataan ruang antarwilayah Provinsi


Papua Barat akan diarahkan kepada:

Meningkatkan keterkaitan ekonomi dan ruang antara Provinsi Papua Barat dengan wilayah luar provinsi,
khususnya provinsi tetangga, yaitu Provinsi Papua, Maluku dan Maluku Utara.

Pengembangan kota-kota pelayanan dan ibukota kabupaten yang berkedudukan cukup strategis dan
memiliki peran sebagai pintu keluar-masuk (multi-gate) dalam menciptakan hubungan/keterkaitan
ekonomi dan spasial dengan daerah luarnya.

Konsep Pengembangan Wilayah Internal


Dalam lingkup internal, perumusan konsep struktur tata ruang didasarkan pada pertimbangan:

Potensi sumberdaya alam dan laut yang berlimpah yang merupakan peluang bagi pengembangan
wilayah ini.

Kondisi alam Provinsi Papua Barat yang merupakan wilayah daratan yang bergunung-gunung, kualitas
sumberdaya air yang belum termanfaatkan dengan baik serta adanya beberapa kawasan yang rawan
bencana dapat menjadi kendala dalam pengembangan wilayah.

Persiapan sosial perlu dilakukan dalam meminimalisasi konflik sosial dalam pemanfaatan ruang.

Akses antar kabupaten masih bertumpu pada angkutan laut dan udara, dan pelayanan angkutan darat
yang masih perlu ditingkatkan.

Adanya kesenjangan ekonomi antara pusat pertumbuhan dengan daerah-daerah belakangnya dan
kawasan-kawasan pulau-pulau kecil yang relatif masih terbelakang (khususnya yang masih sulit
dijangkau).

Fungsi utama kota-kota terutama sebagai simpul jasa distribusi pemasaran, perhubungan, perdagangan,
pusat kegiatan industri dan pusat komunikasi.

Dalam lingkup internal, perumusan konsep pola ruang. Kondisi fisik wilayah Papua Barat yang terdiri dari
wilayah daratan yang membentang luas yang terdiri dari daratan tinggi pegunungan, dataran rendah
yang terdiri dari ekosistem lahan basah dan kering dan pesisir pantai serta gugusan pulau-pulau kecil
menyebabkan wilayah ini membutuhkan konsep struktur tata ruang dengan pendekatan yang bersifat
geografis. Mengingat kondisi morfologi wilayah demikian, maka pengembangan struktur tata ruang
wilayah Provinsi Papua Barat dilakukan dengan konsep pendekatan berdasarkan kesamaan kondisi
geografis, morfologi wilayah, ekosistem sungai, ekosistem pulau dan lautan, sosial budaya
(kependudukan), transportasi, potensi sumberdaya alam, dan perekonomian. Pendekatan ini dilakukan
dengan maksud untuk mengoptimalkan pengembangan wilayah-wilayah di Provinsi Papua Barat sesuai
dengan karakteristik geografis wilayah.

BAB III

PENUTUP

3.1Kesimpulan

Secara struktur karateristik wilayahnya wilayah papua adalah suatu wilayah yang sangat besar potensi
terutama dibidang pertambangan hal ini dapat dilihat dari prospekbeberapa wilayah di Papua yang
banyak terdapat Au (emas), Ag (perak) &Cu(tembaga) yang terdapat di daerah-daerah yang telah kami
sampai kan di atas.Melihat kerumitan dari struktur tektonik dari pulau ini dimana pulau ini terdapat
banyak sekali patahan dan gejala tektonik. Jika melihat sejarah dari pulau Papua ini, pulau ini telah
mengalami banyak sekali proses geologi Dan masih banyak lagi yang tidak kita ketahui dari papua itu
sendiri.
Dalam pembahasan mengenai geologi dan geomofologi papua maka dapat di simpulkan bahwa

1.Papua merupakan sebuah pulau yang berasal dari pengendapan materi banua ausrtalia selama
berjuta-juta tahun, pengendapan ini menghasilan tumpukan material yang tebal sehingga mampu
membentuk sebuah pulau seperti sekarang.lempeng ausrtalia dengan lempeng pasifik yang
menyebabkan pengendapan yang terjadi sebelumnya terangkat kepermukaan dari dasar lautpasifik yang
ditemukan di Papua yang mengindikasikan terjadinyapengangkatan dari dasar laut oleh tenaga endogen,
dikenal sebagai Orogenesa Melanesia.

2.Pembagian geologi regional Papuaberdasarkanpada tektonik, magmatic, dan stratigrafinya.

3. Seting tektonik Papua terdiri dari patahan, lipatan, maupun sesar-sesar sehingga di wilayah Papua
rentan akan terjadinya gempabumi yangdiikuti enggan tsunami. Akibat dari tektonik yang katif, wilayah
Papua kaya akanbarang tambah seperti timah, emas,bijihbesi, dan lain-lain yang dapat dimanfaatkan
sebagai devisa negara.

5. Dari Peta Geologi Papua yang disederhanakan, diketahuibahwabatuan yang terdapat di Papua terdiri
daribatuanbeku, sedimen, dan metamorfyangpenyebarannya dapat diketahui melaluipeta.

3.2Saran

Kebanyakan Ilmuwan yang meneliti struktur geologi ataupun tektonik di papua adalah berasal dari luar
negeri sedangkan jarang ada ilmuwan yang berasal dari Indonesia sendiri, barang-barang tambang di
indonesia pun banyak dikelola oleh bangsa-bangsa asing dan Indonesia sangat dirugikan maka Indonesia
seharusnya kembali mengkaji lebih dalam tentang struktur bumi Papua sehingga kita dapat mengelola
kekayaan alam kita sendiri terutama potensi alam yang ada di bumi Papua.