Anda di halaman 1dari 76

Perencanaan Drainase

Jeffry Swingly Frans Sumarauw


Apa itu Drainase?
DRAIN berarti mengalirkan, menguras,
membuang atau mengalihkan air.

Dalam Teknik Sipil, drainase berarti suatu


tindakan teknis untuk mengurangi dan
mengendalikan kelebihan air (hujan,
rembesan, limbah, irigasi) pada suatu
kawasan sehingga fungsinya tidak terganggu
Komponen Sistem Drainase
Saluran Penerima (Interceptor Drain)
Saluran Pengumpul (Collector Drain)
Saluran Pembawa (Conveyor Drain)
Saluran Induk (Main Drain)
Badan Air Penerima (Receiving Water)

Sepanjang sistem drainase dijumpai : Gorong-


gorong, siphon, pintu air dll.

Pada sistem yg lengkap, sebelum ke badan air,


diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)
Sistem Drainase Konvensional
Aplikasi Sistem Drainase
Dalam praktis, peranan sistem drainase sering
diabaikan. Perencanaan sistem drainase
dianggap seolah bukan aspek penting
dibanding yg lain
Sistem drainase merupakan pekerjaan yg rumit
dan kompleks, bahkan bisa jadi memerlukan
biaya yang lebih besar dibanding pekerjaan
pengendalian banjir
Secara fungsional, sulit dipisah secara jelas
antara sistem drainase dan pengendalian banjir
Filosofi Sistem Drainase
Perkotaan Berkelanjutan
Permasalahan Drainase
Belum tersedia sistem drainase yang baik
Saluran drainase tidak hanya menerima air
hujan tapi juga limbah rumah tangga
Masyarakat membuang limbah padat/
sampah ke saluran drainase
Perubahan fungsi hutan menjadi kawasan
terbangun, meningkatkan erosi,
pendangkalan dan penyempitan saluran
drainase/ sungai
Saluran drainase tidak terpelihara dengan
baik
Berdasarkan Fungsi Layanan

a. Sistem Drainase Lokal


Yang termasuk sistem drainase lokal adalah saluran awal yang
melayani suatu kawasan tertentu seperti komplek permukiman,
areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial.
Sistem ini melayani area kurang dari 10 ha.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab
masyarakat, pengembang atau instansi lainnya.
b. Sistem drainase utama :

Yang termasuk dalam sistem drainase


utama adalah saluran drainase primer,
sekunder, tersier beserta bangunan
pelengkapnya yang melayani kepentingan
sebagian besar warga masyarakat.
Pengelolaan sistem drainase utama
merupakan tanggung jawab pemerintah
kota.
Perencanaan Sistem Drainase
Semua ruas saluran harus
terhubung menuju satu titik
pembuangan (Outlet)

Dimensi/ ukuran tiap ruas


saluran harus sesuai
dengan debit yang dilayani
Perencanaan Sistem Drainase

Sistem Drainase Perkotaan


Drainase Jalan Raya
Drainase Lapangan Terbang
Sistem Drainase khusus
Sistem Drainase Perkotaan
Melayani pembuangan kelebihan air dari suatu
kawasan kota dengan cara mengalirkannya ke
pembuangan akhir: sungai, danau atau laut, baik
melalui permukaan tanah (surface drainage) atau
Bawah Permukaan Tanah (Sub surface
drainage), untuk menghindari terjadinya
genangan air.
Kelebihan air berasal dari: air hujan, limbah
domestic dan industry.
Perencanaan sistem drainase perkotaan,
umumnya mengikuti tahapan ini

1. Mempelajari sistem drainase existing


2. Merumuskan rencana perbaikan sistem drainase
3. Perencanaan fasilitas drainase: saluran drainase,
tanggul, gorong gorong, kolam retensi, stasiun pompa,
dll
4. Pelaksanaan pekerjaan
5. Operasi dan pemeliharaan
Survey dan Investigasi yang diperlukan
1. Umum
Kondisi lokasi sistem drainase existing harus diketahui secara detail. Survey meliputi:
- Topografi
- Iklim
- Hidrologi
- Daerah genangan
- Tataguna lahan dan rencana pengembangan masa datang
- Sistem drainase yang ada
1. Topografi
Informasi umum pada lokasi harus diketahui secara rinci, paling tidak meliputi:
- Lokasi sistem drainase
- Elevasi permukaan tanah
- Batas administrasi
Jenis Peta untuk Perencanaan Drainase
Jenis Bentuk tampilan/ Kegunaan Sumber
peta Informasi
Orthophoto Foto udara, Skala 1:1000, - Menentukan batas dan luas DPS - BPN
1:10.000 - Menentukan letak dan jumlah bangunan - Bakosurtanal

Peta wilayah/ Batas Wilayah, Kecamatan, - Menentukan jenis dan jumlah fasilitas - Pemda
Kota Desa, Nama Jalan, Sungai, umum yang terkena banjir - Toko buku
Bangunan umum

Peta sistem Jaringan drainase, Jalan Pembagian DPS dan / Sub sistem - Dinas PU
drainase inspeksi, Letak bangunan, drainase, Saluran Primer, Sekunder, - Data Primer
Arah aliran Penempatan bangunan, Stasiun Pompa,
Kolam, dll
Peta rencana Rencana Tataguna lahan, Menentukan jalur banjir kanal, menentukan - Bappeda
tata ruang Zone Pemukiman, Indusrti, koefisien pengaliran - PU
Perdagangan, Jalur hijau,
Rencana jaringan dan
Drainase Jalan Raya
Salah satu aspek terpenting dalam perencanaan jalan
raya adalah melindungi jalan dari air permukaan dan air
tanah.
Drainase merupakan salah satu factor terpenting dalam
perencanaan pekerjaan jalan.
Genangan air di permukaan jalan, memperlambat
kendaraan dan memberikan andil terjadinya kecelakaan.
Berdasarkan fungsinya, drainase jalan dibedakan
menjadi:

1. Drainase Permukaan
Ditujukan untuk menghilangkan air hujan dari permukaan
jalan sehingga lalu lintas bisa berjalan aman dan efisien.
Untuk meminimalkan penetrasi air hujan ke dalam struktur
jalan.

1. Drainase Bawah Permukaan


Mencegah masuknya air dalam struktur jalan dan/ atau
menangkap dan mengeluarkan air dari struktur jalan.
BANJIR
1.Air yang melimpas dari Badan Air/sungai
menggenangi lahan yang biasanya kering

2. Limpasan permukaan yang tidak dapat


masuk ke sungai atau badan air karena
berbagai sebab dan menjadi genangan.

Menjadi masalah jika telah menelan korban


baik harta maupun nyawa dan menjadi sorotan
media massa.
Pada Tahun 2008, Indonesia termasuk negara yang
sering mengalami bencana dan yang paling sering
adalah banjir (Rodriguez et al.,2009)

Banjir merupakan bencana terbesar di Indonesia.


Berdasarkan data 1900-Jun 2010 CRED : 34 %
disebabkan Banjir
KOTA-KOTA YANG SEBAGIAN/SELURUHNYA BERADA DI
BANTARAN BANJIR

NO KOTA SUNGAI
1 Kamal, Tanjungan, Angke, Pesanggrahan, Sekretaris, Grogol,
JAKARTA Krukut, Cideng, Ciliwung, Cipinang, Sunter, Buaran, Jatikramat,
Cakung
2 SEMARANG Kali Garang/Kali Semarang
3 BANDUNG SELATAN Sungai Citarum Hulu
4 SURABAYA Kali Brantas
5 PALEMBANG Sungai Musi
6 PADANG Batang Arau, Batang Kuranji, Batang Air Dingin,
7 PEKANBARU Sungai Siak
8 JAMBI Sungai Batanghari
9 MEDAN Sungai Belawan, Deli, Babura, Percut, Kera
10 BANDA ACEH Krueng Aceh
11 PONTIANAK Sungai Kapuas
12 BANJARMASIN Sungai Barito
13 SAMARINDA Sungai Mahakam
14 MAKASSAR Sungai Jeneberang
MASALAH BANJIR TERUS MENINGKAT
DARI TAHUN KE TAHUN

BERBAGAI ALASAN KLASIK:

SUNGAI YANG BERMASALAH ., BARU DITANGANI


TANGGUL YANG DIBANGUN BARU .. KM, DARI TARGET KM
PENGGUNDULAN HUTAN DAN PERUSAKAN DAS,
DAS SUPER KRITIS , KRITIS ., DAN UNTUK
MENGEMBALIKANNYA KONON PERLU WAKTU 100 TAHUN
BERBAGAI PERTANYAAN, PERNYATAAN DAN POLEMIK
YANG SERING MUNCUL DI MASYARAKAT

1. Mengapa para tukang Insinyur tidak bisa menangani masalah


banjir dengan tuntas?
2. Kapankah DKI Jakarta / Manado bebas banjir?
Berapa dana yang diperlukan?

3. Berbagai proyek pengendali banjir telah dilaksanakan,


tetapi kenapa tetap saja ada masalah banjir,
dan mengapa malah meningkat?

4. Bukankah masalah banjir itu justrudipelihara oleh si tukang


Insinyur agar pekerjaannya tidak segera habis?
5. Pengendalian banjir dengan perioda ulang 25 tahunan, tetapi
mengapa proyek baru saja selesai telah terjadi banjir lagi?
BERBAGAI PERTANYAAN, PERNYATAAN DAN POLEMIK
YANG SERING MUNCUL DI MASYARAKAT

6.Bangunan yang dibuat masyarakat telah mengikuti/diatas


peil banjir, tetapi mengapa tidak bebas banjir?
7.Bukankah banjir di DKI Jakarta akibat adanya kiriman banjir
dari Jawa Barat?
8.Pernyataan di berbagai iklan real estate yang terletak di dataran
banjir, bahwa dagangannya bebas banjir sampai tua

9. Perencanaan apa sudah mengikuti Norma, Standar Pedoman


dan Manual (NSPM) ?.
ACUAN NORMATIF
Manual on Estimation of Probable Maximum Precipitation (PMP) No.
1045, Tahun 2009.
Tata cara penghitungan hujan maksimum boleh jadi dengan metode
Hersfield No. RSNI T-02-2004
Metode perhitungan debit banjir SNI 03-2415-1991 dan Review Tata
cara perhitungan debit banjir SNI 03-2415-200x
Metode Penyaringan data hujan harian maksimum tahunan untuk
persiapan perhitungan PMP
DAERAH PENGUASAAN SUNGAI

GS Garis Sempadan (GS)


DEBIT > 50 TAHUNAN BANJIR

DATARAN BANJIR
DATARAN BANJIR (FLOOD PLAIN)
SUNGAI

BANJIR DAN MASALAH BANJIR


TRADISIONALOK
NO PROBLEM GS GS

M.A.B

M.A.N MODEREN

DATARAN BANJIR PALUNG SUNGAI DATARAN BANJIR

DEBIT/ALIRAN NORMAL KONDISI BANJIR

SISWOKO
SKETSA SUNGAI DAN DATARAN BANJIR

SUMBER:
1.PP NO.35/1991 TENTANG SUNGAI
2.PERMEN PU NO.63/1993 TENTANG GARIS
SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT
SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI
DAN BEKAS SUNGAI

M.A. DEBIT BANJIR > 50 TAHUNAN

PALUNG
DATARAN BANJIR SUNGAI
(DAERAH PENGUASAAN DATARAN BANJIR
SUNGAI) (DAERAH PENGUASAAN
DAERAH SEMPADAN *)/ SUNGAI)
DAERAH MANFAAT SUNGAI
GS GS
*) TERLARANG UNTUK:
a. membuang sampah, limbah padat & limbah cair
b. mendirikan bangunan untuk hunian dan tempat usaha SISWOKO
PROSES TERJADINYA MASALAH BANJIR

KONDISI ALAM (STATIS)


KEGIATAN MANUSIA (DINAMIS)
Geografi
Topografi * PEMBUDI DAYAAN
Geometri alur DATARAN BANJIR
sungai: * tata ruang/peruntukan
kemiringan dasar dataran banjir yg tdk sesuai
meandering * tata ruang/peruntukan di DAS
bottle-neck permukiman di bantaran
sedimentasi
sungai
ambal alam
MASALAH * pembangunan drainase
BANJIR * bangunan sungai/silang
PERISTIWA ALAM * sampah padat
(DINAMIS) * prasarana pengendali
banjir yang terbatas
* curah hujan tinggi
* amblesan permukaan tanah
* pembendungan:
* persepsi masyarakat yang
dari laut/pasang
dari sungai induk keliru thd banjir
* amblesan tanah * kenaikan muka air laut
* pendangkalan akibat global warming
1) Penyebabnya (Apa ?) 4! = 4x3x2x1 = 24
2) Magnitude (Besaran ?) Perioda Ulang
3) Area Genangan (Luas ?) Resiko Banjir
4) Lama Genangan (Berapa Jam / hari ?)
kala
ulang (periode ulang)
PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN
SDA

1. PEKERJAAN STRUKTUR:
a. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR:
Bendungan/waduk, bendung, saluran, pompa, dll
b. PENGENDALIAN BANJIR:
Bendungan/waduk, tanggul, banjir kanal, drainase, polder, pompa, dll
2. PEKERJAAN NON STRUKTUR:
a. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR:
Hemat air, tarif air, sistem O/M efektif, pengelolaan DAS, budaya masyarakat
peduli air, dll
b. PENGENDALIAN BANJIR:
Kesiapsiagaan, peringatan/evakuasi, tanggap darurat, mitigasi, peta banjir,
pengelolaan DAS, budaya masyarakat siaga bencana, dll
Sumber: Sobirin,2010

PENDEKATAN NON PENGEMBANGAN


STRUKTURAL FEWS
Kriteria Desain
Debit Desain
Hidraulik, Geoteknik,
Struktur
Teknik Persungaian
Andal
Antisipasi Dampak Sosial
Kelayakan Ekonomi
TYPICAL WORLD FLOOD STRANDARD - DESIGN FLOOD RETURN PERIOD (years)

COUNTRY COMMERCIAL INDUSTRIAL RESIDENTIAL RURAL AGRICULTUR


Australia 50-100 50-100 50-100 5-50
Bulgaria 100-500 30-100 5-10
China (2) 200 100
Czechoslova 100 50 7-10
Hong Kong 50-200 50-200 50-200 10-200 2-5
India (2) 50 25
Indonesia 5-100 5-100 5-100 5-50 5-25
Japan 10-200 10-200 10-200 10-200 10-200
Malaysia (3) 5-100 5-100 5-100 5-100 5-30
Philippines(2 100 50-70
Poland 1,000 500 100 20-100
Turkey 100-500 100-500
Thailand 25-100 25-100 25-100 50-200
UK 10-100 10-100 10-100 1-10
USA 25-100 25-100 25-100 5-25
NOTES:
(1) Standards refer to river training and flood control
(2) These standards are for levee design
(3) Designs also check that 100-year flood line is below ground line of buildings Sumber: Manual ESCAP
UPAYA PENANGGULANGAN DAN PENGENDALIAN BANJIR

-TERPADU
-KESATUAN SISTIM
-MISI : PERLINDUNGAN DAN PENDAYA GUNAAN SDA
-KEBIJAKAN BERUPA
- PENCEGAHAN (PREVENTIF)
- PENJINAKAN (MITIGASI)
-MENGURANGI DAN MEMPERKECIL RESIKO KERUGIAN AKIBAT BANJIR

KEGIATAN PENANGGULANGAN BANJIR DISUSUN DALAM TAHAPAN :


- SEBELUM TERJADINYA BANJIR (PENCEGAHAN, PENJINAKAN,
KESIAPSIAGAAN, PERINGATAN DINI)
- SELAMA TERJADINYA BANJIR (KERUSAKAN DAN TIDAK
BERFUNGSINYA SARANA / PRASARANA, HILANGNYA JIWA DAN HARTA)
- SETELAH TERJADINYA BANJIR (TERGANGGUNYA KEGIATAN
SOSEKBUD DAN RUSAKNYA INFRASTUKTUR)

INDIKATOR KEBERHASILAN :
- NORMALNYA KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT -
MEMBAIKNYA KONDISI PERMUKIMAN DAN SARANA
UPAYA MENGATASI MASALAH BANJIR SECARA MENYELURUH

UPAYA STRUKTUR (conventional)*) UPAYA NONSTRUKTUR, a.l:


* MENCEGAH MELUAPNYA * PRAKIRAAN BANJIR DAN
BANJIR SAMPAI KETINGGIAN PERINGATAN DINI
TERTENTU, DENGAN TANGGUL * PENANGGULANGAN BANJIR
* MERENDAHKAN ELEVASI (FLOOD FIGHTING), EVAKUASI
MUKA AIR BANJIR DENGAN: * PEMINDAHAN/RELOKASI
NORMALISASI, SUDETAN, * PENGELOLAAN DATARAN BANJIR
BANJIR KANAL, INTERKONEKSI (FLOOD PLAIN / RISK MNAGEMENT),
* MEMPERKECIL DEBIT BANJIR * FLOOD PROOFING THD.BANGUNAN
DENGAN: WADUK, WADUK * TATA RUANG, PENGHIJAUAN,
RETENSI BANJIR, BANJIR KANAL REBOISASI DAN DAL. EROSI DAS
INTERKONEKSI, * RETENTION & DETENTION PONDS
* PENETAPAN SEMPADAN SUNGAI
* MENGURANGI GENANGAN
DENGAN: POLDER, POMPA * INFORMASI PUBLIK & PENYULUHAN
DAN SISTEM DRAINASE, * PENEGAKAN HUKUM,
*) berdasarkan debit banjir rencana * PENGENTASAN KEMISKINAN
(design flood) * MANAJEMEN SAMPAH.

MENGURANGI BESARNYA KERUGIAN AKIBAT BANJIR


(FLOOD DAMAGE MITIGATION)
Tujuan Penanggulangan Banjir dengan Upaya
Struktural
Melindungi kota dari banjir kiriman
Menanggulangi banjir lokal dalam kota
Menurunkan elevasi puncak muka air banjir di
sungai
Mencegah meluapnya aliran banjir dari
penampang alur sungainya
Memperkecil volume debit banjir
MASALAH GENANGAN

GS TANGGUL GS

M.A.N

DATARAN BANJIR
DATARAN BANJIR (FLOOD PLAIN)
SUNGAI

GENANGAN
MASALAH
MASALAH BANJIRGENANGAN
GS TANGGUL
GS

M.A.B

M.A.N

DATARAN BANJIR PALUNG SUNGAI DATARAN BANJIR

BANTARAN BANTARAN

BANJIR YANG LAYAK DIKENDALIKAN


DEBIT/ALIRAN NORMAL
GENANGAN
SISWOKO
DAERAH PENGUASAAN SUNGAI

GS TANGGUL GS
M.A.B

M.A.N

BANTARAN BANTARAN DATARAN BANJIR


DATARAN BANJIR (FLOOD PLAIN)
SUNGAI

PENGENDALIAN BANJIR DENGAN TANGGUL


MASALAH
MASALAH BANJIR
BANJIR
GS TANGGUL
ANTISIPASI ? GS

M.A.B
M.A.B
M.A.N
BUKAN KEJADIAN
YANG LUAR BIASA

DATARAN BANJIR PALUNG SUNGAI DATARAN BANJIR

BANTARAN BANTARAN

BANJIR YANG LAYAK DIKENDALIKAN


DEBIT/ALIRAN NORMAL
BANJIR > DARI YANG DIKENDALIKAN
SISWOKO
DAERAH PENGUASAAN SUNGAI

GS GS
DEBIT > 50 TAHUNAN BANJIR

DATARAN BANJIR
DATARAN BANJIR (FLOOD PLAIN)
SUNGAI

TIDAK LAYAK DAN


LEBIH BERBAHAYA BANJIR TERBESAR (PMF)
TANGGUL
MASALAH
MASALAH BANJIR
BANJIR
GS GS
MAB
MAB
M.A.N
BEBAS BANJIRKAH ??
TIDAK DIJAMIN MAS,
DATARAN BANJIR PALUNG SUNGAI DATARAN BANJIR
BANTARAN BANTARAN

DEBIT/ALIRAN NORMAL
TANGGUL TIDAK BISA UNTUK MENJAMIN DATARAN BANJIR YANG LAYAK DIKENDALIKAN
BANJIR TERBEBAS DARI BANJIR DAN GENANGAN
BANJIR TERBESAR (PMF)
SISWOKO
PENUTUP
Pengendalian banjir dengan upaya struktur
(bangunan pengendali banjir) mempunyai
keterbatasantidak dapat membebaskan
banjir secara mutlak.
Masih diperlukan upaya untuk mengantisipasi
bila terjadi banjir yang lebih besar dari Q
banjir rencana bangunan pengendali banjir
(antara lain dengan upaya non struktur
early warning & flood damage management.
Antisipasi untuk kawasan pemukiman
padat/kota sebaiknya ada peringatan dini
(Flood Warning System) terlebih dahulu
supaya masyarakat dapat mempersiapkan diri.
PENANGANAN MASALAH BANJIR

MASYARAKAT
MERUPAKAN DOMAIN: SWASTA
PEMERINTAH

MASYARAKAT
PERLU HUBUNGAN YANG SINERGIS DI ANTARA: SWASTA
PEMERINTAH

PERLU KESAMAAN PEMAHAMAN, PENGERTIAN DAN BAHASA

MASYARAKAT
DI LINGKUNGAN: SWASTA
PEMERINTAH
SOBIRIN/2007

Perkenalkan aku adalah air,


aku datang ke bumi sebagai titik-titik hujan,
sebelum mengalir menuju laut aku punya tempat,
di hutan, di sungai, di danau dan di dataran rendah.
Menjelang musim hujan,
aku selalu memberi kabar bahwa aku akan datang,
agar engkau mengembalikan tempatku yang engkau pinjam,
hingga aku bisa istirahat dan lewat dengan tenang.
Ketika musim hujan,
aku datang berbondong-bondong,
Padahal sebelumnya engkau telah kuberitahu,
tempatku yang kau pinjam akan kupakai.
Usai musim hujan,
sebenarnya sebagian dari aku senang tinggal di hutan,
supaya udara segar dan mengatur air untuk kehidupanmu,
tapi hutan tempatku istirahat telah habis engkau babat.
Di musim hujan terpaksa engkau kutenggelamkan dalam nestapa,
di musim kemarau terpaksa engkau kutinggalkan dalam kehausan,
karena engkau telah merampas hak-hak azasiku.
SOBIRIN/ 2007/ FOTO: GOOGLEDOTCOM/MODIF DARI PU 2004 KATA KUNCI: HAK AZASI, PERILAKU
Penanggulangan masalah
drainase
Survey lokasi, dimana terjadi lokasi genangan (masalah)
Identifikasi masalah penyebab genangan
Identifikasi sistem saluran drainase exsisting
Check Q kapasitas saluran exsisting (analisis hidraulika)
Analisis hidrologi untuk mendapatkan hujan rencana
Analisis hidrologi untuk mendapatkan debit Q rencana di tiap
ruas saluran
Check apakah Q Kapasitas saluran exsisting > Q rencana
Jika ya, sistem saluran drainase, OK, hanya butuh
pembersihan
Jika tidak, rencanakan sistem saluran drainase yg baru.
Langkah-langkah perencanaan
jaringan drainase
Tentukan arah aliran di lahan, berdasarkan kontur (Peta
topografi, peta situasi, survey lapangan)
Tentukan letak saluran drainase berdasarkan arah aliran di lahan
(sisi mana saja dari ruas jalan yang butuh saluran drainase)
Tentukan arah aliran di saluran berdasarkan kontur
Rencanakan sub-sistem dan sistem drainase yang efektif dan
efisien
Beri nama setiap ruas saluran
Gambarkan skema dari setiap sub-sistem atau sistem drainase
Tentukan Daerah Pelayanan Saluran (DPS) dari setiap ruas saluran
1. Tentukan arah aliran di lahan, berdasarkan
kontur
2. Tentukan letak saluran drainase berdasarkan
arah aliran di lahan (sisi mana saja dari ruas
jalan yang butuh saluran drainase)
3. Tentukan arah aliran di saluran berdasarkan
kontur
4. Rencanakan sub-sistem dan sistem drainase
yang efektif dan efisien
5. Beri nama setiap ruas saluran
6. Gambarkan skema dari setiap sub-sistem atau
sistem drainase
7. Tentukan Daerah Pelayanan Saluran (DPS)
dari setiap ruas saluran
Tugas I
Buat sendiri peta kawasan lengkap dengan jalan dan garis
kontur
Dari peta yang ada, rencanakan drainase dari kawasan
tersebut. Tunjukkan sampai pada DPS tiap ruas saluran.
Rainfall Runoff Analysis,
Rational Methods