Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Untuk mewujudkan perlindungan hukum dan kepastian hukum diperlukan
satu media atau institusi keadilan, yang dapat digunakan sebagai akses bagi
masyarakat untuk mendapatkan rasa keadilan tersebut. Institusi keadilan dalam
sistem hukum modern dewasa ini, salah satunya diwujudkan dalam satu wadah
yaitu badan pengadilan. Lembaga pengadilan ini pada masa peradaban hukum
moderen secara simbolik telah menjadi wujud dari pemberlakuan hukum dan
keadilan secara nyata.

Kelembagaan peradilan ini merupakan kekuasaan yang merdeka untuk


menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan, sehingga
pengadilan wajib memeriksa dan memutus perkara, pengadilan tidak boleh
menolak suatu perkara dengan alasan ketiadaan hukum atau hukumnya tidak jelas
mengaturnya, apabila hakim dihadapkan pada situasi ketiadaan hukum atau
hukum yang tidak jelas, sedangkan perkara harus diselesaikan, hakim wajib
mencari kaidah-kaidah hukum yang hidup dalam masyarakat atau hakim dapat
berpedoman pada putusan hakim yang terdahulu (yurisprudensi Mahmakah
Agung), memperhatikan kewajiban hakim yang demikian itu, menunjukan bahwa
hakim bukanlah corong undang-undang melainkan berperan menemukan hukum
(rechtsvinding) atau membentuk hukum (rechtsvorming). Hal ini disebabkan
karena yurisprudensi Mahkamah Agung merupakan salah satu sumber hukum tata
pemerintahan faktual di Indonesia.

Didalam hokum positif yang berlaku di Indonesia, gono gini atau harta
bersama diatur dalam pasal 35 Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
perkawinan, pasal 119 KHU Perdata, pasal 85 dan 86 KHI. Pengaturan harta
gono-gini diakui secara hokum, baik secara pengurusan, Penggunaan, dan
pembagiannya. Ketentuan tentang gono-gini juga diatur dalam hokum islam
meskipun hanya bersifat umum dan tidak diakuinya percampuran harta kekayaan

1
2

suami istri, namun ternyata setelah dicermati, dan dianalisis yang tidak bisa
dicampur adalah harta bawaan dan harta perolehan. Hal ini sama dengan
ketentuan yang berlaku dalam hokum positif, bahwa kedua macam harta itu (harta
bawaan dan harta perolehan) harus terpisah dari harta gono gini itu sendiri.

Perbincangan masalah harta persatuan sering menjadi hangat di masyarakat


dan menyita perhatian public, terutama media massa dalam kasus perceraian
public figure atau seorang artis terkait perselisihan tentang pembagian gono gini
atau harta bersama. Perkara perceraian yang menjadi pokok perkara justru akan
semakin rumit dan berkelit-kelit bahkan sering memanas dalam siding-sidang
perceraian di pengadilan bila dikomulasi dengan tuntutan pembagian gono gini
atau harta bersama, atau apabila ada rekonvensi gono gini atau harta bersama
dalam perkara perceraian. Oleh karena itu, Mahkamah Agung RI dalam buku
pedoman pelaksanaan tugas dan peradilan agama mewanti-wanti agar gugatan
pembagian harta bersama sedapat mungkin diajukan setelah terjadi perceraian.

Akibat dari sebuah perkawinan yaitu terhadap harta kekayaan. Dalam


yurisprudensi Peradilan Agama juga dijelaskan bahwa harta bersama yaitu harta
yang diperoleh dalam masa perkawinan dalam kaitannya dengan hukum
perkawinan, baik penerimaan itu lewat perantara istri maupun lewat perantara
suami. Harta ini diperoleh sebagai hasil karya-karya suami istri dalam kaitannya
perkawinan.1
Apabila perkawinan dibubarkan, maka diadakan pembagian harta kekayaan
bersama. Dengan demikian hak pengurusan suami terhadap harta tersebut
dihentikan sejak bubarnya perkawinan.
Pasal 127 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan sebagai berikut:
Setelah salah seorang dan suami isteri meninggal, maka bila ada
meninggalkan anak yang masih di bawah umur, pihak yang hidup terlama
wajib untuk mengadakan pendaftaran harta benda yang merupakan harta
bersama dalam waktu empat bulan. Pendaftaran harta bersama itu boleh

1
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam Di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, hlm
108
3

dilakukan di bawah tangan, tetapi harus dihadiri oleh wali pengawas. Bila
pendaftaran harta bersama itu tidak diadakan, gabungan harta bersama
berlangsung terus untuk keuntungan si anak yang masih di bawah umur
dan sekali-kali tidak boleh merugikannya.
Apabila hal ini diabaikan, maka harta kekayaan bersama itu dianggap tetap
ada, akan tetapi hanya diakui jikalau menguntungkan para ahli waris yang belum
dewasa.
Pasal 128 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan sebagai berikut:
"Setelah bubarnya harta bersama,. kekayaan bersama mereka dibagi dua
antara suami dan isteri, atau antara para ahli waris mereka, tanpa
mempersoalkan dan pihak mana asal barang-barang itu. Ketentuan-
ketentuan yang tercantum dalam Bab XVII Buku Kedua, mengenai
pemisahan harta peninggalan, berlaku terhadap pembagian harta
bersama menurut undang-undang.

B. Identikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam
makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud yurisprudensi
2. Bagaimana pengaturan harta persatuan?
3. Bagaimana analisis yurisprudensi dari putusan Mahkamah Agung. 387
K/Sip/1958?
4

BAB II
TINJAUAN TEORITIS TENTANG
HARTA PERSATUAN

A. Harta Persatuan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Pasal 119 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa :


Sejak saat dilangsungkannya perkawinan, maka menurut hukum terjadi
harta bersama menyeluruh antar suami isteri, sejauh tentang hal itu
tidak diadakan ketentuan-ketentuan lain dalam perjanjian perkawinan.
Harta bersama itu, selama perkawinan berjalan, tidak boleh ditiadakan
atau diubah dengan suatu persetujuan antara suami isteri..
Pasal 120 menyatakan bahwa:
Persatuan itu meliputi harta kekayaan suami dan istri, bergerak dan
tidak bergerak, baik yang sekarang maupun yang kemudian, maupun pula
yang mereka peroleh dengan cuma-cuma, kecuali si pewaris atau yang
memberi hibah dengan tegas menetukan sebaliknya.
Pasal 121 menyatakan bahwa:
Persatuan itu juga meliputi segala utang suami istri masing-masing yang
terjadi baik sebelum maupun sepanjang perkawinan.
Dari isi Pasal tersebut di atas, terlihat bahwa menurut Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata sejak dimulainya perkawinan terjadi suatu percampuran
antara kekayaan suami dan kekayaan istri (algele gemeenschap van goederen).
Ketentuan ini bersifat memaksa dan harus dipatuhi oleh suami istri tersebut, akan
tetapi undang- undang memberikan kesempatan untuk dapat disimpangi dengan
adanya suatu perjanjian kawin. Luasnya kebersamaan (percampuran) harta
kekayaan dalam perkawinan adalah mencakup seluruh aktiva dan pasiva, baik
yang diperoleh suami-istri, sebelum atau selama masa perkawinan mereka
5

berlangsung, yang juga termasuk di dalamnya adalah modal, bunga dan bahkan
utang-utang yang diakibatkan oleh suatu perbuatan yang melanggar hukum.2
Terhadap persatuan bulat harta tersebut terdapat penyimpangan yaitu
adanya harta pribadi disamping harta persatuan.Harta pribadi tersebut bisa
diperoleh dengan adanya perjanjian kawin dan bisa juga karena adanya
kehendak/syarat dari si penghibah atau si pewaris. Jadi menurut KUH Perdata,
apabila suami dan istri pada waktu akan melakukan pernikahan tidak mengadakan
perjanjian pisah harta diantara mereka maka akibat dari perkawinan itu ialah
pencampuran kekayaan suami dan istri menjadi satu milik orang berdua bersama-
sama dan bagian masing-masing dalam kekayaan bersama itu adalah separuh.3
Kebersamaan harta kekayaan dalam perkawinan itu merupakan hak milik
bersama yang terikat, yaitu kebersamaan harta yang terjadi karena adanya ikatan
diantara para pemiliknya.Hak milik bersama yang terikat ini berbeda dengan hak
milik bersama yang bebas, yaitu suatu bentuk hak milik, tetapi diantara
pemiliknya tidak ada hubungan hukum kecuali mereka bersama-sama merupakan
pemiliknya.Suami dan isteri yang memiliki hak atas kekayaan masing-masing,
mereka tidak dapat melakukan kesalahan atau penyimpangan atas bagian mereka.
Dalam kehidupan sehari-hari harta mempunyai arti penting bagi seseorang
karena dengan memiliki harta kita dapat memenuhi kebutuhan hidup dan
memperoleh status sosial yang baik dalam masyarakat. Dalam berbagai istilah
yang berasal dari setiap lingkungan adat yang bersangkutan berbeda-beda dalam
memaknai harta bersama tersebut, sesuai dengan keaneka ragaman lingkungan
masarakat adat seperti dalam masyarakat aceh, dipergunakan istilah harta
seharkat,dalam masyarakat suku melayu dikenal dengan sebutan harta
sayarekat, dalam masyarakat jawa dikenal dengan harta gono-gini.Banyak lagi
istilah yang dipakai, seperti harta raja kayadan sebagainya. Semua sebutan dan

2
Cantika Kusuma. Hukum harta benda perkawinan. Melalui
<http://tikaimute.blogspot.co.id/2014/11/materi-tpa-waris.html>. Senin, 15 Mei 2017. 15: 49
WIB
3
Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Abadi, Jakarta, 2002, hlm. 38-39
6

istilah itu mengandung makna yang sama yaitu mengenai harta bersama dalam
perkawinan antara suami istri.4
Di dalam KUH Perdata (BW) yang mengatur tentang pembubaran
gabungan harta bersama dan hak untuk melepaskan diri dari padanya, diatur
dalam Bab V1 bagian ketiga pada Pasal 126-138.Apabila terjadi perceraian (cerai
hidup) maka menurut KUH Perdata pada Pasal 128, harta benda kesatuan (harta
bersama) dibagi dua antarasuami dan istri, atau antara ahli waris mereka masing-
masing, dengan tidak memperdulikan dari pihak yang manakah barang-barang itu
diperolehnya.
Apabila terjadi perceraian karena kematian maka menurut KUH Perdata
pada Pasal 127, setelah meninggalnya salah seorang dari suami istri, jika ada
anak-anak yang belum dewasa yang ditinggalkannya, si suami atau si istri yang
hidup terlama, dalam waktu selama tiga bulan harus menyelenggarakan
pendaftaran akan barang-barang, yang merupakan harta benda persatuan.
Pendaftaran ini boleh diselenggarakan di bawah tangan, akan tetapi harus dengan
hadirnya wali pengawas.5
Dalam hal tidak adanya pendaftaran yang demikian, persatuan itu berjalan
terus, akan tetapi atas kebahagiaan si anak-anak yang belum dewasa, dan tidaklah
sekali-kali atas kerugian mereka.6Harta bersama merupakan salah satu macam
dari sekian banyak jenis harta yang dimiliki seseorang. Ada dua pendapat tentang
harta bersama menurut hukum Islam, menurut pendapat pertama, jika harta
bersama tersebut merupakan syirkah sepanjang ada kerjasama antara keduanya
maka harta tersebut dinamakan harta bersama, dan jika tejadi perceraian baik cerai
mati maupun cerai hidup, harta bersama itu harus dibagi secara berimbang.
Berimbang disini dimaksudkan ialah sejauh mana masing-masing pihak
memasukan jasa dan usahanya dalam menghasilkan harta bersama itu dahulunya.

4
M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama,Sinar Grafika, Jakarta
2005, hlm. 272
5
Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006,
hlm.106.
6
Subekti R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jakarta, 1996,hlm.31.
7

B. Kaitan Harta Bersama Dengan Perjanjian Perkawinan


Pasal 127 menitikberatkan harta persatuan yang berajalan terus. Pasal tersebut
mengatur, bahwa akibat kelalaian suami atau istri yang hidup terlama
mengadakan pedaftaran/investarisasi barang-barang yang merupakan harta benda
persatuan, maka persatuan harta itu berjalan terus atas kebahagiaan anak-anak
yang belum dewasa dan sesekali tidak atas kerugian mereka. Bagian anak-anak
yang belum dewasa di dalam harta persatuan yang berjalan terus berjumlah selalu
kurang dari setengahnya karena suami atau isteri yang hidupterlama ikut mewaris
dari yang meninggal itu.7
Yang dimaksud dengan perjanjian perkawinan bukanlah janji seorang calon
suami untuk mengawini calon istrinya, melainkan perjanjian yang diadakan ketika
perkawinan dilangsungkan mengenai harta misalnya apakah semua harta kedua
belah pihak akan digabungkan sejak perkawinan itu ataukah tetap terpisah,
masing-masing akan memiliki harta dan penghasilannya sendiri, sebab tanpa
perjanjian perkawinan dengan sendirinya berlakulah ketentuan bahwa harta yang
ada sebelum perkawinan (harta asal) akan tetap menjadi milik masingmasing,
sedangkan yang diperoleh bersama sejak dilangsungkannya perkawinan akan
menjadi harta bersama, kelak akan dibagi dua apabila perkawinan berakhir, baik
karena cerai hidup maupun karena kematian, masing-masing akan mendapatkan
separuhnya.8
Dalam hukum perdata BW Perjanjian mulai berlaku antara suami istri pada
saat pernikahan ditutup di depan Pegawai Pencatatan Sipil dan mulai berlaku
terhadap pihak ketiga sejak hari pendaftarannya di Kepaniteraan pengadilan
agama setempat dimana pernikahan dilangsungkan. Seseorang tidak boleh
menyimpang dari peraturan tentang saat mulai berlakunya perjanjian ini. Dan juga
tidak diperbolehkan menggantungkan perjanjian pada suatu kejadianyang terletak
di luar kekuasaan manusia, sehingga terdapat suatu keadaan yang meragu-ragukan
bagi pihak ketiga, misalnya suatu perjanjian antara suami dan istri akan berlaku

7
Effendi Perangin, Hukum Waris, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2016, hlm. 222.
8
Andi Tahir Hamid, Peradilan Agama dan Bidangnya, Persada, Jakarta,2001, hlm. 24.
8

percampuran laba-rugi kecuali jikalau dari perkawinan mereka dilahirkan seorang


anak laki-laki. Perjanjian semacam ini tidak diperbolehkan.
Menurut Happy Susanto perjanjian perkawinan adalah perjanjian yang dibuat
oleh pasangan calon pengantin, baik laki-laki maupun perempuan, sebelum
perkawinan mereka dilangsungkan, dan isi perkawinan tersebut mengikat isi
perkawinan mereka. Secara umum perjanjian perkawinan berisi tentang
pengaturan harta bersama calon suami istri, yaitu bagaimana harta bersama akan
dibagi jika terjadi perpisahan hubungan antara keduannya, baik karena adanya
peceraian atau kematian atau bahkan poligami.9
Setiap pasangan yang akan membuat perjanjian perkawinan pastinya bertujuan
untuk memperjelas dan mengarahkan kepentingan mereka dalam menentukan
ketentuan-ketentuan apa saja yang perlu diterakan dalam isi perjanjian. Soetojo
Prawirihamidjojo, sebagaimana dikutip oleh Happy Susanto mengemukakan ada
enam tujuan dibuatnya perjanjian perkawinan, yaitu:
1. Membatasi dan menetapkan harta bersama atau meniadakan sama sekali
kebersamaan harta kekayaan menurut Undang-Undang.
2. Mengatur pemberian hadiah dari suami kepada istri, atau pemberian hadiah
timbal balik antara suami istri.
3. Mengatur kekuasaan suami terhadap barang-barang harta bersama,
sehingga tanpa bantuan istrinya suami tiadak dapat melakukan tindakan
yang sifatnya memutus.
4. Mengatur pemberian testamen dari suami untuk istri atau sebaliknya, atau
sebagai hibah timbal balik.
5. Mengatur pemberian hadiaholeh pihak ketiga kepada istri atau suami.
6. Mengatur testamen dari pihak ketiga kepada suami atau istri.
Adapun manfaat dari perjanjian perkawinan itu sendiri adalah untuk
melindungi secara hukum harta bawaan masing-masing pihak suami istri. Dalam
perkawinan poligami perjanjian perkawinan dapat berfungsi sebagai media hukum
supaya hak-hak yang dimiliki istri yang dinikahi terlebih dahulu lebih terjamin.

9
Happy Susanto, Pembagian Harta Gono-Gini Setelah Terjadinya Perceraian, Pustaka Setia,
Jakarta, 2002, hlm. 80
9

Karena bagai manapun juga suka duka dalam mengarungi kehidupan rumah
tangga lebih dirasakan oleh istri yang dinikahi terlebih dahulu terutama dalam
mengumpulkan harta kekayaan.10

10
Ibid, hlm 83
10

BAB III
PEMBAHASAN

A. Pengertian Yurisprudensi
Yurisprudensi sebagai sumber hukum formal harus dibedakan dengan kata
jurisprudence dalam bahasa Inggris. Kata yurisprudensi berasal dari bahasa latin
jurisprudentia yang berarti pengetahuan hukum. Dalam bahasa Belanda adalah
jurisprundentie, sedangkan dalam bahasa Perancis adalah jurisprudence, Makna
yang hendak di tunjuk kurang lebih sepadan, yaitu hukum peradilan. Sementara
itu kata, jurisprudence dalam bahasa Inggris bermakna teori ilmu hukum, yang
lazim disebut general theory of law (algemene rechtler). Sedangkan untuk
menunjuk pengertian hukum peradilan dalam bahasa inggris digunakan istilah
case law atau judge law-made law.11
Menurut Sudikno Mertokusumo, yurisprudensi ialah sebagai peradilan pada
umumnya (judicature, rechtspraak) yaitu pelaksanaan hukum dalam hal konkrit
terjadi tuntutan hak yang dijalankan oleh suatu badan yang berdiri sendiri dan
diadakan oleh negara serta bebas dari pengaruh apa atau siapapun dengan cara
memberikan putusan yang bersifat mengikat dan berwibawa. Namun menurut Van
Apeldoorn menyatakan bahwa yurisprudensi, doktrin dan perjanjian merupakan
faktor-faktor yang membantu pembentukan hukum. Sedangkan Lemaire
menyatakan yurisprudensi, ilmu hukum. Di dalam yurisprudensi terdapat dua asas
yang mempengaruhi seseorang hakim itu mengikuti hakim yang terdahulu atau
tidak. Asas-asas itu terdiri dari :
1. Asas presedent
Asas ini bermakna bahwa seseorang hakim terikat oleh hakim lain, baik
yang sederajat maupun yang lebih tinggi. Dengan perkataan lain , seseorang
hakim lain dalam memutuskan perkaranya tidak boleh menyimpang dari
hakim yang lain, baik yang sederajat maupun yang lebih tinggi. Asas
precedent dianut di negara Amerika Serikat, Inggris, dan Afrika Selatan.

11
Abdul Rahmad Budiono, Pengantar Ilmu Hukum, Malang : Banyumedia Publishing 2005. Hlm
130.
11

Asas presedent atau dapat juga disebut sebagai stare dicisie adalah suatu
lemabaga peradilan yang lebih dikenal di negara anglo saxon atau negara
common law system. Sejumlah besar putusan yang dibuat hakim merupakan
putusan yang tidak tertulis sebagaimana undang-undang hasil sejumlah
putusan pengadilan ini dihumpun dalam sejumlah besar laporan hukum yang
disusun sejak akhir abad ke-13 kondisi ini dimungkinkan oleh sebab arti
harfiah dari stare decisius adalah berhenti pada atau mengikuti putusan-
putusan. dengan kata lain putusan yang diberikan pengadilan merupakan
putusan ikutan atau putusan pengadilan yang terdahulu.
2. Asas Bebas
Asas ini bermakna bahwa seorang hakim tidak terikat oleh putusan hakim
lain, baik yang sederajat maupun yang lebih tinggi. Perkataan tidak terikat
disini diartikan bahwa seorang hakim, dalam memutuskan suatu perkara,
boleh mengikuti putusan hakim terdahulu, baik yang sederajat atau yang lebih
tinggi, boleh juga tidak mengikuti. Asas bebas ini dianut oleh negara-negara
eropa kontinental atau civil law system seperti Belanda, Perancis dan
Indonesia.
Ada beberapa alasan mengapa seorang hakim mengikuti putusan hakim lain
atau hakim terdahulu yaitu:

a. Sebab psikologi, artinya seorang hakim mempunyai kekuasaan, terutama


apabila putusan itu dibuat oleh pengadilan tinggi atau Mahkamah Agung.
b. Sebab praktis, artinya seseorang hakim bawahan (pengadilan negeri)
secara logis akan mengikuti putusan yang dibuat oleh hakim yang lebih
tinggi kedudukannya.
c. Sebab keyakinan, artinya hakim pemutus setuju atau sependapat dengan
putusan hakim terdahulu.

Kedua asas di atas Indonesia menganut keduanya. Di Indonesia juga dikenal


yang namanya yurisprudensi Mahkamah Agung Indonesia adalah putusan Majelis
Hakim Agung di Mahkamah Agung Indonesia yang telah mempunyai kekuatan
hukum tetap berisi kaidah hukum yang diberlakukan dalam memeriksa dan
12

memutus perkara dalam lingkup Peradilan Pidana, Perdata, Tata Usaha Negara,
Agama dan Niaga yang dikualifikasi. Beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung
RI yang telah beberapa kali dipergunakan sebagai acuan bagi para Hakim untuk
memutus suatu perkara yang sama sehingga menjadi sumber hukum yang
memiliki kekuatan mengikat secara relatif.

Penting atau tidaknya yurisprudensi sebagai sumber hukum dikaitkan dengan


pikiran-pikiran atau aliran-aliran tentang tugas seorang hakim. Menurut aliran
Legalisme, yurisprudensi dianggap tidak atau kurang penting, sebab satu-satunya
hukum adalah undang-undang. Dengan demikian praktik pekerjaan hakim
hanyalah pelaksana undang-undang.

Menurut aliran freie rechtsbewegung, yurisprudensi dianggap mempunyai


makna yang sangat penting, aliran ini berangapan bahwa dalam melaknsakan
tugasnya, seorang hakim bebas apakah ia akan menurut atau tidak menurut
undang-undang, memahami yurisprudensi hal yang primer sementara ,e,ahami
undang-undang merupakan hal sekunder.

Menurut aliran rechtsvinding, disamping memiliki keterikatan kepada undang-


undang seorang hakim juga memiliki kebebasan untuk menemukan hukum
(rechtsvinding). Aliran ini merupakan jalan tengah antara aliran legalisme dan
freie rechtsbewegung.

Yurisprudensi bisa lahir berkaitan dengan adanya prinsip di dalam hukum bahwa
hakim tidak boleh menolak untuk mengadili perkara yang diajukan kepadanya.
Undang-Undang No 14 Tahun 1970 pasal 27 ayat (1) menentukan bahwa hakim
sebagai penegak hukum dan keadilan wajib mengadili, mengikuti dan memahami
nilai-nilai hukum yang hidup di dalam masyarakat berkenaan dengan ketentuan
tersebut maka dalam menangani perkara hakim dapat melakukan :12

12
S.F Marbun dan Moh. Mahfud MD. Pokok-Pokok Adminitrasi Negara. Yogyakarta : Liberty 2006
jlm 36.
13

1. Mengeterapkan secara in concreto aturan-aturan hukum yang sudah ada


(secara in abstracto) dan berlaku sejak sbeleumnya.
2. Mencari sendiri aturan-aturan hukum berdasarkan nilai-nilai hukum yang
hidup dalam masyarakat.

Pengaturan mengenai hakim tidak boleh menolak perkara berkaitan dengan


tidak adanya hukumnya atau tidak ada kejelasan serta Hakim wajib mencari dan
menemukanhukum terdapat juga pada UU No 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan
Kehakiman dan UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan kehakiman. Masalah
lain yang berkaitan dengan hal tersebut ialah bahwa dengan adanya kewenangan
bagi hakim untuk membuat tafsiran terhadap aturan yang ada maka berarti hakim
mempunyai hak uji materil (yudicial review).

Di dalam Undang-Undang Mahkamah Konstitusi berhak menguji materi


mengenai Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Sedangkan Mahkamah Agung berhak menguji materil
peraturan perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-
Undang. Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tingkat kasasi harus
mampu menyelesaikan suatu perkara yang tidak memiliki landasan hukum yang
kuat, hukumnya tidak ada atau ketiadaan hukum, hukumnya tidak jelas
mengaturnya.

Apabila hakim Mahkamah Agung dalam perkara kasasi dihadapkan pada


situasi ketiadaan hukum atau hukum yang tidak jelas, aturan hukum memuat
rumusan yang sangat umum untuk kejadian yang tidak terbatas, sedangkan hakim
dihadapkan pada kejadian yang spesifik dan individual, aturannya tidak jelas,
terdapat beberapa peraturan yang mungkin dapat diterapkan pada sebuah kejadian,
tidak terdapat satupun aturan yang dapat diterapkan sehingga menimbulkan
kekosongan hukum atau dengan kata lain hukumnya tidak ada maka disinilah
letak yurisprudensi berperan untuk menemukan hukum.
14

Seiring dengan permasalahan tersebut perkara harus diselesaikan, maka hakim


wajib mencari kaidah-kaidah hukum yang hidup dalam masyarakat. Sehingga
sebelum putusan Mahkamah Agung menjadi yurisprudensi, hakim memiliki
kewajiban untuk menemukan hukum (rechtsvinding) atau membentuk hukum
(rechtsvorming). Biasanya terdapat beberapa persoalan, yaitu: dalam menyikapi
masalah tersebut hakim dapat menggunakan teknik penemuan hukum dengan
metode interpretasi. Berikut beberpa interpretasi yang sering digunakan hakiam
untuk memetus suatu perkara :

1. Interpretasi Gramatikal atau Interpretasi bahasa, yaitu: cara penafsiran


berdasarkan bunyi ketentuan Undang-Undang dengan berpedoman pada
arti perkatan-perkataan.
2. Interpretasi Sahih (autentik resmi), yaitu penafsiran yang pasti terhadap
arti kata sebagaimana yg diberikan oleh pembentuk undang-undang.
3. Interpretasi Historis (Sejarah), yaitu: Interpretasi berdasarkan pemeriksaan
atau penelitian sejarah undang-undang atau hukum tertulis, misalnya: pada
memori penjelasan dan risalah pembicaraaan pada komisi pembahasan
pada badan perwakilan atau parlemen.
4. Interpretasi Sistematis (dogmatis), mencari makna dari sebuah kaidah
dengan mangacu kepada hukum sebagai suatu sistem, khususnya tatanan
perundang-undangan atau hubungnnya dengan kaidah-kaidah lain yang
berkaitan
5. Interpretasi Teologis, Interpretasi ini mencari makna suatu kaidah dari
tujuan dan asas yang melandasi kaidah hukum yang bersangkutan, kaidah
hukum yang dilandasai oleh asas-asas dan tujuan tertentu, penerapan
kaidah itu harus memenuhi tujuan itu
6. Interpretasi Interdisipliner, yaitu menafsirkan suatu ketentuan yang
menggunakan logika menurut beberapa cabang ilmu hukum
7. Interpretasi Multidisipliner, yaitu menafsiran suatu ketentuan yang
melakukan verifikasi dan bantuan dari cabang-cabang ilmu lain.
8. Penafsiran nasional, yaitu penafsiran sesuai ideologi negara Pancasila
15

9. Penafsiran ekstensif, yaitu penafsiran dengan memperluas arti kata dalam


peraturan yang ada.
10. Penafsiran restriktif, yaitu penafsiran dengan mempersempit atau
membatasi kata,
11. Penafsiran analogis, yaitu penafsiran dengan member ibarat atau kiyasan.
12. Penafsiran a contrario, yaitu penfsiran pengingkaran

B. Terjadinya Harta Persatuan


Hukum yang menentukan hubungan antarpribadi mengenai kepentingan yang
bernilai uang Prinsip dasar Harta Kekayaan dalam Perkawinan menurut KUH
Perdata adalah Persatuan Bulat dan Utuh. Persatuan bulat antara harta kekayaan
suami dan istri berlaku demi hukum sejak saat perkawinan berlangsung, kecuali
sebelumnya telah diadakannya perjanjian kawin diantara mereka, yang bertujuan
untuk menyimpangi ketentuan mengenai harta kekayaan perkawinan.
Berbeda dengan sistem hukum harta kekayaan perkawinan lainnya, pada
sistem hukum harta kekayaan perkawinan menurut KUH Perdata tidak mengenal
istilah Harta asal maupun harta gono-gini atau harta yang diperoleh bersama
dalam perkawinan, sebab harta kekayaan perkawinan dalam KUH Perdata dari
siapa pun juga, merupakan kesatuan yang secara bulat dan utuh dalam
keseluruhan akan beralih dari tangan peninggal warisan/pewaris ke ahli warisnya.
Artinya, dalam KUH Perdata tidak dikenal perbedaan pengaturan atas dasar
macam atau asal barang-barang dalam perkawinan.
Pasal 849 KUH Perdata menyatakan bahwa:
Undang-undang tidak memandang akan sifat atau asal dari pada
barang-barang dalam suatu peninggalan untuk mengatur pewarisan
terhadapnya.
Pasal 127 KUHPerdata menyatakan bahwa:
Setelah meninggalnya salah seorang dari suami-istri, maka, jika ada
anak anak yang belum dewasa yang ditinggalkannya, si suami atau si
istri yang hidup terlama, dalam waktu selama tiga bulan harus
menyelenggarakan pendaftaran akan barang barang, yang merupakan
16

harta benda persatuan. Pendaftaran ini boleh diselenggarakan dibawah


tangan, akan tetapi harus dengan hadirnya wali pengawas. Dalam hal tak
adanya pendaftaran yang demikian, persatuan itu berjalan terus menerus,
akan tetapi atas kebahagiaan si anak anak belum dewasa, dan tidaklah
sekali-kali atas kerugian mereka.
Bunyi pasal tersebut harta persatuan yang berjalan terus pada awalnya
merupakan harta persatuan biasa sesuai dengan asas perkawinan KUHPerdata
mengenai harta perkawinan itu sendiri yang mana mengatur asas persatuan bulat
harta, harta persatuan berjalan terus ini adanya ketika dalam permasalahan
pewarisan yang mana di golongkan dalam bab harta persatuan perkawinan, jika
salah satu suami istri yang meninggal dan meninggalkan seorang anak yang
belum dewasa tanpa adanya pendaftaran maka harta tersebut dibilang harta
persatuan yang berjalan terus maksudnya harta tersebut sama dengan harta
persatuan yang dimana tidak ada yang meninggal sedangkan jika terjadi
pendaftaran maka harta tersebut menjadi harta bawaan.
Sehingga berpengaruh terhadap pembagian waris. Sebab dalam Pasal 126
mengenai bubarnya harta persatuan salah satunya adalah karena kematian hal
ini merupakan penjelasan bagaimana harta persatuan yang akan hilang dalam hal
persatuan berjalan terus menjadi suatu pengecualian , sebab walaupun adanya
kematian dan menurut Pasal 126 KUHPerdata harusnya harta persatuan itu bubar ,
dalam hal masih ada anak dibawah umur dan tidak adanya suatu pendaftaran
dalam waktu tiga bulan maka harta persatuan tersebut akan terus berlangsung
bukan menjadi pembubaran harta persatuan , kecuali ketentuan Pasal 126
KUHPerdata jika pembubaran harta persatuan itu akan terjadi apabila terjadi
pendaftaran. Dalam pendaftaran diperbolehkan dengan cara dibawah tangan.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1867 KUH Perdata suatu akta dibagi menjadi 2
(dua), antara lain:
3. akta dibawah tangan
4. akta otentik
Hal ini pendaftaran mengenai harta persatuan tersebut bisa dalam bentuk di bawah
tangan dengan adanya wali pengawas.
17

C. Analisis yurisprudensi dalam Putusan Mahkamah Agung tgl 25-2-1959


No. 387 K/Sip/1958
Duduk Perkara:

Dalam perkawinan antara almarhum Sodrono alias Wagijo dan Saripah


dilahirkan tiga anak yakni: 1. Resosentono, 2. Saerah dan 3. Ngasijo, sedangkan
mereka telah memperoleh barang-barang sengketa sebagai gono-gini. Resosenono
kemudian meninggal dunia dan meninggalkan seorang janda (Lasmi) beserta 11
orang anak. Barang-barang gono-gini tersebut dikuasai oleh anak Sodrono yang
ke 3 tersebut, yakni ngasijo.

Oleh 11 orang anaknya Resosentono tersebut dilancarkan gugatan


terhadap Ngasijo, Saripah alias Bok Sodrono (janda) dan Saerah dimuka
Pengadilan Negeri Bojonegoro dengan maksud supaya diadakan pembagian
barang-barang gono-gini tersebut diantara para pihak dalam perkara ini yang
kesemuanya berhak atas bagian menurut ketetapan Pengadilan.

Gugatan tersebut oleh Pengadilan Negeri Bojonegoro dengan putusannya


tgl. 5 Maret 1951 No. 1951 No. 19/1950 dikabulkan dan barang-barang gono-gini
dibagi: 1/3 atau 33/99 untuk Saripah (janda) sedangkan sisanya yaitu 2/3 atau
66/99 sebagai harta peninggalan mendiang Sodrono diberikan kepada: para
penggugat (yaitu 11 orang anak almarhum Resosentono) 22/99 bagian, tergugat II
(Saerah) 22/99 bagian dan tergugat III (ngasijo) juga 22/99 bagian.

Putusan tersebut oleh Pengadilan tinggi Surabaya, dengan putusannya tgl.


27 Desember 1957 No. 121/1951 Pdt., dengan sedikit perbaikan (a.l. mengenai
penyebutan penggugat-penggugat sebagai ahliwaris dari mendiang Sodrono, yang
mestinya ahliwaris dari mendiang Resosentono) telah dikuatkan.

Mahkamah Agung, setelah menolak keberatan-keberatan dalam kasasi,


yang kesemuanya dianggap mengenai soal pembuktian, menyatakan tidak setuju
dengan pemberian bagian kepada janda almarhum Sodrono, yang hanya diberikan
1/3 bagian saja, dengan pertimbangannya sebagai berikut:
18

menimbang selanjutnya bahwa Judex Facti mendasarkan putusannya


antara lain aas perimbangan, bahwa seorang janda harus menerima hanya 1/3
bagian dari harta gono-gini, akan tetapi dikalangan masyarakat di Jawa tengah
sudah makin lama makin meresap perasaan yang dipandang adil berdasarkan
sama-sama ikut sertanya para wanita didalam perjuangan-perjuangan nasional,
bahwa seorang janda layak mendapatkan separoh dari gono-gini, sehingga hal ini
telah jadi pertumbuhan hukum adat di jawa tengah, maka oleh kaarena demikian,
putusan judex facti mengenai hal yang disebutkan diatas harus dibatalkan dan
Mahkamah Agung akan memberi peradilan sendiri khusus mengenai pembagian
dari harta peninggalan almarhum Sodrono, yakni pra penggugat masing-masing
mendapat 1/111 dari (1/3 dari ) atau 1/6 bagian; tergugat asli ke I mendapat
bagian; tergugat asli ke II 1/3 dari atau 1/6 bagian; tergugat asli ke III 1/3 dari
atau 1/6 bagian; sedangkan bagian lain dari putusan judex facti dapat
dikuatkan/.

Dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-undang No 48 Tahun 2009 tentang


kekuasaan kehakiman menyatakan bahwa hakim wajib menggali, mengikuti, dan
memahami keadilan dan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Dalam
putusan tersebut, sebelum perkara mengenai harta gono gini sampai kepada tahap
kasasi hakim dalam pengadilan negeri Surabaya memutuskan bahwa bagian dari
istri yang ditinggal mati suaminya mendapatkan 1/3 dari keseluruhan harta gono
gini. Sedangkan hukum adat yang berlaku masyarakat Jawa tengah adalah seorang
janda mendapatkan separoh dari harta gono gini. Maka atas dasr tersebut
Mahkamah Agung memutus pada akhirnya janda tersebut mendapatkan separoh
dari seluruh harta gono gini.

Yang termasuk dalam gono gini adalah semua kekayaan yang diperoleh
selama berlangsungnya perkawinan, dengan kegiatan suami isteri bersama.
Namun tidak usah dibuktikan mengenai tiap-tiap barang atau kekayaan berapa
sahamnya masing-masing dalam memperolehnya; semua barang atau kekayaan
yang diperoleh dalam masa perkawinan dianggap sebagai gono gini.
19

Di dalam masyarakat Indonesia, secara teoritis sistem kekerabatan dapat


dibedakan menjadi iga macam, yaitu sistem patrilineal, sitem matrilineal dan
sistem parental atau bilateral. Masyarakat Jawa sendiri menganut sitem parental
atau bilateral yang dimana sistem ini menarik garis keturunan dari kedua belah
pihak Bapak dan ibu. Sudah selayaknya bahwa dipulau Jawa, dimana pada
umunya si isteri mempunyai saham yang sama dalam mencari nafkah atau
penghidupan untuk keluarganya, masing-masing berhak atas separuh dari
kekayaan bersama itu.

BAB IV
20

SIMPULAN

1. Yurisprudensi sebagai sumber hukum formal adalah keputusan pengadilan


yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang diikuti atau dipergunakan
oleh hakim berikutnya sebagai sumber hukum untuk memutus perkara yang
serupa atau sama.
2. Berdasarkan pada Pasal 127 KUHPerdata menyatakan bahwa Setelah
meninggalnya salah seorang dari suami-istri, maka, jika ada anak anak
yang belum dewasa yang ditinggalkannya, si suami atau si istri yang hidup
terlama, dalam waktu selama tiga bulan harus menyelenggarakan
pendaftaran akan barang barang, yang merupakan harta benda persatuan.
Pendaftaran ini boleh diselenggarakan dibawah tangan, akan tetapi harus
dengan hadirnya wali pengawas. Dalam hal tak adanya pendaftaran yang
demikian, persatuan itu berjalan terus menerus, akan tetapi atas kebahagiaan
si anak anak belum dewasa, dan tidaklah sekali-kali atas kerugian mereka.
Bunyi pasal tersebut harta persatuan yang berjalan terus pada awalnya
merupakan harta persatuan biasa sesuai dengan asas perkawinan KUHPerdata
mengenai harta perkawinan itu sendiri yang mana mengatur asas persatuan
bulat harta, harta persatuan berjalan terus ini adanya ketika dalam
permasalahan pewarisan yang mana di golongkan dalam bab harta persatuan
perkawinan, jika salah satu suami istri yang meninggal dan meninggalkan
seorang anak yang belum dewasa tanpa adanya pendaftaran maka harta
tersebut dibilang harta persatuan yang berjalan terus maksudnya harta tersebut
sama dengan harta persatuan yang dimana tidak ada yang meninggal
sedangkan jika terjadi pendaftaran maka harta tersebut menjadi harta bawaan.
3. Dalam Pasal 28 ayat (1) Undang-undang No 48 Tahun 2009 tentang
kekuasaan kehakiman menyatakan bahwa hakim wajib menggali, mengikuti,
dan memahami keadilan dan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.
Dalam putusan tersebut, sebelum perkara mengenai harta gono gini sampai
kepada tahap kasasi hakim dalam pengadilan negeri Surabaya memutuskan
bahwa bagian dari istri yang ditinggal mati suaminya mendapatkan 1/3 dari
21

keseluruhan harta gono gini. Sedangkan hukum adat yang berlaku masyarakat
Jawa tengah adalah seorang janda mendapatkan separoh dari harta gono gini.
Maka atas dasr tersebut Mahkamah Agung memutus pada akhirnya janda
tersebut mendapatkan separoh dari seluruh harta gono gini.
22

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku :
Manan, Abdul. 2006. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta:
Kencana.
Marbun, S.F dan Moh. Mahfud MD. 2006. Pokok-Pokok Adminitrasi Negara.
Yogyakarta : Liberty
Oermarsalim. 1991. Dasar- Dasar Hukum Waris Di Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Perangin, Effendi. 2016. Hukum Waris. Jakarta: Raja Grafindo.
Rahmad, Abdul Budiono. 2004. Pengantar Ilmu Hukum. Malang : Banyumedia
Publishing.
Soimin, Soedharyo. 2004. Hukum Orang dan Keluarga Perspektif Hukum
Perdata Barat/ BW,Hu kum Islam, dan Hukum Adat. Jakarta: Sinar Grafika.
Yahya, M. Harahap. 2005. Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama.
Jakarta: Sinar Grafika.
Yani, Neng Nurhayani. 2015. Hukum Perdata. Bandung: Pustaka Setia.
Sumber Internet:
Cantika Kusuma. Hukum harta benda perkawinan. Melalui
<http://tikaimute.blogspot.co.id/2014/11/materi-tpa-waris.html>. Senin, 15 Mei
2017. 15: 49 WIB