Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Persalinan normal suatu keadaan fisiologis, normal dapat berlangsung sendiri tanpa
intervensi penolong. Kelancaran persalinan tergantung 3 faktor P utama yaitu kekuatan ibu
(Power), keadaan jalan lahir (Passage) dan keadaan janin (Passanger). Faktor lainnya adalah
psikologi ibu (respon ibu), penolong saat bersalin, dan posisi ibu saat persalinan. Dengan adanya
keseimbangan atau kesesuaian antara faktor-faktor P tersebut, persalinan normal diharapkan
dapat berlangsung. Bila ada gangguan pada satu atau lebih faktor P ini, dapat terjadi kesulitan
atau gangguan pada jalannya persalinan. Kelambatan atau kesulitan persalinan ini disebut
distosia.

Setelah kelahiran kepala, akan terjadi perputaran lagi paksi luar yang menyebabkan
kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang. Bahu pada umumnya akan berada
pada sumbu miring (oblique) dibawah ramus publis. Dorongan saat ibu mengedan akan
menyebabkan bahu depan (anterior) berada dibawah pubis. Bila bahu gagal untuk mengadakan
putaran menyesuaikan dengan sumbu miring panggul dan tetap berada pada posisi anterior
posterior, pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis.

Distosia bahu dapat menjadi salah satu dari keadaan darurat yang paling menakutkan di
kamar bersalin. Walaupun banyak faktor telah dihubungkan dengan distosia bahu, kebanyakan
kasus terjadi dengan tidak ada peringatan. Kasus ini diangkat sebagai salah satu kejadian distosia
bahu yang tidak diperkirakan sebelumnya dan bagaimana penanganan yang dilakukan dalam
mengatasi masalah tersebut baik dalam hal maneuver yang dipilih dalam mengatasinya dan
tindakan-tindakan yang dilakukan setelah bayi lahir, dalam hal ini termasuk resusitasi neonatus.
Semoga dengan dibawakannya kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi kita akan kasus tersebut.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Jelaskan anatomi dan fisiologi dari struktur interna pada reproduksi wanita!
2. Jelaskan definisi distosia bahu !
3. Sebutkan etiologi dari distosia bahu ?
4. Jelaskan patofisiologi dari distosia bahu?
5. Sebutkan manifestasi klinis dari diabetes distosia bahu!
6. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk klien dengan distosia bahu ?
7. Bagaimana penatalaksanaan pada klien distosia bahu ?
8. Apa saja komplikasi yang dapat muncul dari distosia bahu ?
9. Bagaimana asuhan keperawatan maternal pada pasien dengan distosia bahu ?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi dari distosia bahu


2. Untuk mengetahui definisi distosia bahu
3. Untuk mengetahui etiologi dari distosia bahu
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari distosia bahu
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari distosia bahu
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari distosia bahu
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari distosia bahu
8. Untuk mengetahui komplikasi dari distosia bahu
9. Untuk mengetahui asuhan keperawatan maternal pada pasien dengan distosia bahu

2
BAB II

PEMBAHASAN

LAPORAN PENDAHULUAN DISTOSIA BAHU

A. ANATOMI FISIOLOGI STRUKTUR INTERNA PADA WANITA

Struktur interna

Organ reproduksi interna akan di bahas secara berurutan untuk menjelaskan perjalanan
sel telur (ovum). Jaringan penunjang akan dibahas bersama organ reproduksi interna yang
ditopang. Organ interna meliputi ovarium, tuba uterus (fallopii), uterus, dan vagina. Deskripsi
singkat tentang tulang pelvis juga diberikan.

SERVIKS

Bagian paling bawah uterus adalah serviks atau leher. Tempat perlekatan serviks uteri
dengan vagina membagi serviks menjadi bagian suravagina yang panjang (diatas vagina) dan
bagian vagina yang lebih pendek. Panjang serviks sekitar 2,5-3 cm, 1 cm menonjol ke dalam
vagina pada wanita tidak hamil.

Serviks terutama disusun oleh jaringan ikat fibrosa serta sejumlah kecil serabut otot dan
jaringan elastic. Serviks seorang wanita nulipara mempunyai bentuk seperti kumparan yang
hamper seperti kerucut, bundar dan agak padat. Muara sempit antara kavum uteri dan kanal
endoserviks (kanal didalam serviks yang menghubungkan kavum uteri dan vagina) disebut
ostium interna. Muara sempit antara endoserviks dan vagina disebut ostium eksterna, suatu
muara sirkular pada wanita yang belum pernah melahirkan. Persalinan mengubah ostium sirkular
menjadi muara tranversal kecil yang membagi serviks menjadi bibir anterior dan bibir posterior.

Saat wanita sedang ovulasi atau hamil, ujung serviks teraba padat, seperti ujung hidung,
dengan lubang kecil ditengah. Lubang ini menandakan tempat ostium eksterna.

Karakteristik serviks yang paling signifikan ialah kemampuannya meregang pada saat
melahirkan anak per vaginam. Beberapa factor yang berperan pada elastisitas serviks ialah

3
jaringan ikat yang banyak dan kandungan serabut yang elastis, lipatan di dalam lapisan
endoserviks, dan 10 persen kandungan serabut otot.

KANAL

Dua kavum didalam uterus disebut kanal serviks dan uterus. Kanal uterus pada wanita
tidak hamil ditekan oleh dinding otot yang tebal, sehingga kanal hanya merupakan suatu ruangan
potensial, datar, dan berbentuk segitiga. Fundus membentuk dasar segitiga. Tuba falopi
membentuk dasar segitiga. Puncak segitiga mengarah ke bawah dan membentuk ostium interna
kanal serviks .

Kanal endoserviks, dengan banyak lipatannya, mempunyai lapisan permukaan yang


tersusun atas sel-sel kolumnar tinggi dan menghasilkan musin. Epithelium kolumnar ini
berwarna merah daging, tampak lebih kasar dan lebih dalam daripada epitel luar membungkus
serviks. Setelah menarke, epitel skuamosa membungkus serviks bagian luar (ektoserviks).
Pembungkus eksterna sel-sel pipih ini membuat serviks berwarna merah yang sangat kebiruan
tampak saat wanita mengalami ovulasi atau hamil. Serviks yang kemerahan (hiperemis) dapat
mengindikasikan peradangan.

Kedua jenis epitel bertemu pada sambungan squamokolumnar. Sambungan ini biasanya
terdapat didalam ostium eksterna serviks, tetapi pada beberapa wanita dapat ditemukan di
ektoserviks. Sambungan squamokolumnar merupakan tempat perubahan sel neoplastik yang
paling umum. Oleh karena itu, sel untuk pemeriksaan sitologi dan papanikolaou (Pap) smear
diambil dari sambungan ini.

Sel epitel kolumnar memproduksi lender yang tidak berbau dan tidak mengiritasi sebagai
respons terhadap hormon-hormon endokrin ovarium-estrogen dan progesterone.

PEMBULUH DARAH

Aorta abdomen bercabang saat mencapai tinggi umbilicus, yakni menjadi dua arteri
iliaka. Setiap arteri iliaka bercabang membentuk dua arteri, yang lebih besar disebut arteri
hipogastrika. Arteri-arteri uterus merupakan cabang dari arteri hipogastrika. Kedekatan letak
uterus dari aorta menjamin kecukupan suplai darah untuk pertumbuhan uterus dan konsepsi.

4
Selain itu, arteri ovarium, subdivisi langsung aorta, mula-mula memperdarahi ovarium
dan kemudian berlanjut untuk bergabung dengan arteri uterus, sehingga menambah suplai darah
ke uterus.

Pada kondisi tidak hamil, pembuluh darah uterus melingkar dan berkelok-kelok. Seiring
kemajuan kehamilan dan pembesaran uterus, pembuluh darah ini menjadi lurus. Vena uterus
berdampingan dnegan arteri uterus dan mengalirkan darah ke vena iliaka interna.

VAGINA

Vagina, suatu struktur tubular yang terletak didepan rectum dan dibelakang kandung
kemih dan uretra, memanjang dari intoitus (muara eksterna di vestibulum di antara labia minora
vulva) sampai serviks. Saat wanita berdiri, vagina condong ke arah belakang dan ke atas. Vagina
terutama disokong oleh perlekatannya dengan otot dan fasia pelvis.

Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu meregang
secara luas. Karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina, panjang dinding anterior vagina
hanya sekitar 7,5 cm, sedangkan panjang dinding posterior sekitar 9 cm. ceruk yang terbentuk di
sekeliling serviks yang menonjol tersebut disebut forniks: kanan,kiri,anterior dan posterior.
Forniks posterior lebih dalam daripada tiga forniks yang lain.

Membrane mukosa glandular melapisi dinding otot polos. Selama masa reproduksi
mukosa ini tersusun dalam bentuk lipatan-lipatan tranversal yang disebut rugae. Mukosa vagina
berespons dengan cepat terhadap stimulasi estrogen dan progesterone. Sel-sel mukosa tanggal
terutama selama siklus menstruasi dan selama masa hamil. Sel-sel yang diambil dari mukosa
vagina dapat digunakan untuk mengukur kadar hormone seks steroid.

Cairan vagina berasal dari traktus genitalia atas atau bawah. Cairan sdedikit asam.
Interaksi antara laktobasilus vagina dan glikogen mempertahankan keasaman. Apabila pH naik
diatas lima, insiden infeksi vagina meningkat. Cairan yang terus mengalir dari vagina
mempertahankan kebersihan relative vagina. Oleh karena itu, penyemprotan cairan ke vagina
dalam lingkungan normal tidak diperlukan dan tidak dianjurkan.

Pap smear yang diseluruh dunia dipakai untuk mendeteksi kanker melalui pemeriksaan
sel (sitologi) merupakan asupan mukosa vagina dari forniks posterior vagina dan merupakan

5
kerokan sambungan squamokolumnar serviks yang difiksasi dengan etil eter dan alcohol dan
kemudian diwarnai dengan pewarna trikrom nukleositoplasmik.

Sejumlah besar suplai darah ke vagina berasal dari cabang-cabang desenden arteri uterus,
arteri vaginalis dan arteri pudenda interna. Vagina relative tidak sensitive. Terdapat persarafan
dari saraf-saraf pudenda dan hemoroid sampai sepertiga bagian bawah vagina. Karena persarafan
minimal dan tidak ada ujung saraf khusus, vagina merupakan sumber sejumlah kecil sensasi
ketika individu terangsang secara seksual dan melakukan koitus dan hanya menimbulkan sedikit
nyeri pada tahap kedua persalinan daripada jika suplai ujung saraf pada jaringan ini cukup.

Daerah G (G-spot) ialah daerah dinding vagina anterior di bawah uretra yang di
definisikan oleh Graefenberg sebagai bagian yang analog dengan kelenjar prostat pria. Selama
bangkitan seksual, daerah G dapat distimulasi sampai timbul orgasme yang disertai ejakulasi
cairan yang sifatnya sama dengan cairan prostat ke dalam uretra. Vagina berfungsi sebagai organ
untuk koitus dan jalan lahir.

PERINEUM DAN DASAR PELVIS

Diafragma pelvis, diafragma urogenital atau segitiga, dan otot genitalia eksterna serta
anus membentuk dasar pelvis dan perineum. Perineum kadang-kadang didefinisi mencakup
semua otot, fasia, dan ligament diafragma atas (pelvis) serta ligament diafragma bawah
(urogenital). Badan perineum menambah kekuatan struktur-struktur ini.

Diafragma pelvis atas yang tersusun atas otot dan fasia serta ligament otot tersebut
membentang sepanjang bagian bawah kavum pelvis seperti sebuah tempat tidur gantung. Bagian
difragma yang paling besar dan paling signifikan dibentuk oleh otot levator ani yang tipis dan
lebar, yang membentang seperti kain penutup antara spina iskiadika dan koksigis dan sacrum.
Kelompok otot levator ani dibentuk oleh tiga pasang otot : puborektalis, iliokoksigis dan
pubokoksigis. Otot pubokoksigis signifikan karena berperan dalam fungsin sensori seksual
dalam mengontrol kandung kemih, mengontrol relaksasi perineum selama persalinan, dan ketika
ibu melahirkan janin.

Pasangan otot kedua pada diafragma pelvis atas melekat erat pada otot koksigis. Otot-
ototini membentang dari spina iskiadika sampai koksigis dan sacrum bawah. Bagian-bagian

6
diafragma pelvis menjadi penopang bagi visera pelvis dan abdomen. Kekuatan dan kekenyalan
penopang ini berasal dari jalinan lapisan penopang ini. Lapisan-lapisan tersebut tidak tetap, tetapi
saling bergeser. Susunan yang unik ini memperkuat kapasitas penopang diafragma pelvis,
sehingga memungkinkan dilatasi vagina selama proses kelahiran dan memungkinkan vagina
menutup setelah melahirkan dan membantu konstriksi uretra, vagina dan saluran anus yang
melewati diafragma. Diafragma pelvis dibawah terletak di dalam ruang arkus pubis dan terdiri
dari otot perineum tranversa yang berorigo di tuberositas iskiadika dan masuk ke dalam badan
perineum. Serabut otot yang kuat menopang saluran anus selama defekasi dan menopang vagina
bawah selama proses melahirkan. Otot perineum transversa profunda bergabung untuk
membentuk kelim sentral atau raphe. Beberapa serabut otot tersebut mengelilingi meatus
urinarius dan sfingter vagina. Perineum terletak dibawah diafragma pelvis atas dan bawah. Otot-
otot dan fasianya memperkuat diafragma pelvis serta membantu muara kandung kemih, vagina,
dan anus untuk konstriksi . Serabut otot bulbokavernosus berasal dari dalam badan perineum
dan mengelilingi muara vagina sebagai serabut otot yang menjorok ke depan memasuki pubis.
Otot iskiadika dan menyambung membentuk sudut masuk ke otot bulbokavernasus. Serabut otot
ini berkontraksi sehingga membuat klitoris ereksi. Serabut otot sfingter anus berasal dari
koksigis, berpisah dan memasuki anus dari kedua sisi, menyatu, kemudian masuk ke dalam otot
perineum tranversa. Serabut otot bulbokavernosus, perineum transversa dan sfingter ani dapat
diperkuat dengan latihan kegel.

Badan perineum, massa berbentuk baji antara muara vagina dan muara anus, berfungsi
sebagai titik berlabuhnya otot, fasia, dan ligament diafragma pelvis atas dan bawah. Bagian
bawah badan yang dibungkus kulit disebut perineum. Badan perineum merupakan lanjutan
septum antara rectum dan vagina. Jaringan ini pipih dan meregang seiring pergerakan janin
melalui jalan lahir.

TULANG PELVIS

Panggul mempunyai tiga fungsi utama :

1. Rongga tulang pelvis membentuk tempat perlindungan bagi struktur-struktur pelvis


2. Arsitektur pelvis sangat penting untuk menakomodasi janin yang sedang berkembang
selama masa hamil dan selama proses melahirkan.

7
3. Kekokohannya membuat pelvis menjadi tempat berlabuh yang stabil untuk perlekatan
otot, fasia, dan ligament

Dalam mempelajari tulang-tulang pelvis, struktur dan penanda berikut sangat penting :
Krista iliaka dan spina iliaka anterior, superior, promontorium sacrum, sacrum, koksigis, simfisis
pubis, arkus subpubis, spina iskiadikus dan tuberositas iskiadika.

Pelvis disusun oleh empat tulang :

1. Inominata kanan
2. Inominata kiri, masing-masing terdiri dari tulang pubis kiri dan kanan, ilium dan iskium,
yang berdifusi setelah pubertas
3. Sacrum
4. Koksigis.

Kedua tulang inominata (tulang panggul) membentuk bagian sisi dan depan pasase
tulang, sacrum dan koksigis membentuk bagian belakang.

Dibawah ilium adalah iskium, suatu tulang berat yang berakhir dibagian posterior pada
protuberositas yang dikenal sebagai tuberositas iskiadika. Tuberositas menopang berat badan
saat duduk. Spina iskiadika, proyeksi tajam dari batas posterior iskium ke dalam rongga pelvis,
dapat tumpul atau menonjol.

Pubis, membentuk bagian depan rongga pelvis, terletak dibawah mons. Pada garis tengah
kedua tulang pubis disatukan oleh ligament yang kuat dan kartilago yang tebal untuk membentuk
persendian yang disebut simfisis pubis. Pada wanita sudut yang dibentuk oleh arkus pubis secara
optimal berukuran sedikit lebih besar dari 90 derajat.

Lima tulang vertebra yang berfungsi membentuk sacrum. Bagian anterior atas korpus
vertebra sakralis pertama, promontorium, membentuk margin posterior di pinggir pelvis.
Koksigis (tulang ekor) terdiri dari tiga sampai lima tulang vertebrae yang menyatu, berartikulasi
dengan sacrum. Koksigis condong kea rah bawah dank e arah depan dari batas bawah sacrum.
Pelvis dibagi menjadi dua bagian, rongga atas yang dangkal atau pelvis palsu (pelvis mayor), dan
rongga bawah yang lebih dalam atau pelvis sejati (pelvis minor). Pelvis mayor terletak diatas

8
linea terminalis (pinggir atau pintu atas) dan ukurannya berbeda-beda pada setiap wanita. Pelvis
minor terdiri dari pinggir, atau pintu atas panggul dan daerah dibawah linea terminalis.

Plana pelvis meliputi pintu atas, pelvis tengah, dan pintu bawah. Rongga pelvis tengah
(sejati) menyerupai saluran berkelok yang tidak regular dengan permukaan anterior dan posterior
yang tidak sama. Permukaan anterior dibentuk oleh panjang simfisis. Permukaan posterior
dibentuk oleh panjang sacrum.

Usia, jenis kelamin, dan ras menimbulkan berbagai variasi bentuk dan ukuran pelvis.
Terdapat perubahan yang cukup besar pada pelvis selama masa pertumbuhan dan perkembangan.
Osifikasi pelvis lengkap pada usia 20 tahun atau sedikit diatas 20 tahun. Individu yang lebih
kecil mempunyai tulang yang lebih kecil dan lebih ringan daripada individu yang besar.[1]

B. DEFINISI

Distosia didefinisikan sebagai persalinan yang panjang, sulit, atau abnormal, yang timbul
akibat berbagai kondisi yang berhubungan dengan lima factor persalinan yaitu persalinan
disfungsional, perubahan struktur pelvis, sebab-sebab pada janin, posisi ibu dan respons
psikologis. Doenges, Marilynn E. 2001. [2]

Distosia bahu merupakan masalah persalinan yang terjadi selama kala kedua pada saat kepala
janin telah lahir, tetapi bagian bahu terlalu lebar untuk masuk dan dilahirkan melalui rongga
pelvic. Hal tersebut dapat membahayakan bagi ibu karena dapat merobek serviks dan vagina; hal
tersebut juga berbahaya bagi janin karena tali pusar tertekan oleh tubuh janin dan tulang pelvic.
[3]

Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat di lahirkan setelah kepala
janin di lahirkan. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan per
vagina untuk melahirkan bahu harus di lakukan manufer khusus seperti trapsi curam bawah dan
episiotomi. [4]

9
C. ETIOLOGI/FAKTOR FAKTOR PENYEBAB
Ibu dengan diabetes 7% insiden distosia bahu terjadi pada ibu dengan diabetes
gestasional.
Janin besar (makrosomia) distosia bahu lebih sering terjadi pada bayi dengan berat lahir
yang lebih besar, meski demikian hampir separuh dan dari kelahiran distosia bahu
memiliki berat kurang dari 4000 gram
Riwayat obstretri atau persalinan dengan bayi besar
Ibu dengan obesitas
Multiparitas
Kehamilan postrem dapat menyebabkan distosia bahu karena janin terus tumbuh setelah
usia 42 minggu
Riwayat obstretri dengan persalinan lama/persalinan sulit atau riwayat distosia bahu,
terdapat kasus distosia bahu rekuren pada 5(12%) di antara 42 wanita.

D. MEKANISME DISTOSIA BAHU

Pada akhir kehamilan, agar dapat melewati jalan lahir kepala harus dapat mengatasi tebalnya
segmen bawah rahim dan servik yang masih belum mengalami dilatasi. Perkembangan otot
uterus di daerah fundus uteri dan daya dorong terhadap bagian terendah janin adalah faktor yang
mempengaruhi kemajuan persalinan kala 1.

Setelah dilatasi servik lengkap, hubungan mekanis antara ukuran dan posisi kepala janin serta
kapasitas penggul di katakan baik bila sudah terjadi desensus janin. Gangguan fungsi otot uterus
dapat di sebabkan oleh regangan uterus berlebihan dan atau partus macet. Dengan demikian
maka persalinan yang tidak berlangsung secara efektif adalah merupakan tanda akan adanya
fetopelvic disproportion.

Membedakan gangguan persalinan menjadi disfungsi uterus dan fotopelvic disproportion


secara tegas adalah tindakan yang tidak tepat oleh karna kedua hal tersebeut sebenarnya
memiliki hubungan yang erat. Kondisi tulang panggul bukan satu-satunya penentu keberhasilan
berlangsungnya proses persalinan pervaginam. Bila tidak ada data objektif untuk mendukung
adanya disfungsi uterus dan FPD, harus dilakukan TRIAL of LABOR untuk menentukan apakah

10
persalinan pervaginam dapat berhasil pada sebuah persalinan yang di perkirakan akan
berlangsung tidak efektif. Banyak ahli yang berpendapat bahwa tindakan TRIAL of LABOR
adalah merupakan prioritas utama untuk menurunkan kejadian sectio caesar.

Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada
pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada pada sumbu
miring (oblique) di bawah ramus pubis. Dorongan pada saat ibu meneran akan meyebabkan bahu
depan (anterior) berada di bawah pubis, bila bahu gagal untuk mengadakan putaran
menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior, pada bayi
yang besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap simfisis sehingga bahu tidak bisa lahir
mengikuti kepala.

E. MANIFESTASI KLINIS

1. Kepala janin telah lahir namun masih erat berada di vulva


2. Kepala bayi tidak melakukan putaran paksi luar
3. Dagu tertarik dan menekan perineum
4. Tanda kepala kura-kura yaitu penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga
tampak masuk kembali ke dalam vagina.
5. Penarikan kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang terperangkap di belakang
symphisis.

F. PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan distosia bahu juga harus memperhatikan kondisi ibu dan janin. Syarat-syarat
agar dapat di lakukan tindakan untuk menangani distosia bahu adalah:

Kondisi vital ibu cukup memadai sehingga dapat bekerjasama untuk menyelesaikan
persalinan
Masih mampu untuk mengejan
Jalan lahir dan pintu bawah panggul memadai untuk akomodasi tubuh bayi
Bayi masih hidup atau di harapkan dapat bertahan hidup
Bukan monstrum atau kelainan kongenital yang menghalangi keluarnya bayi

11
Penatalaksanaan umum :
Berteriak minta bantuan . Segera mobilisasi semua personel yang tersedia
Buat episiotomy yang adekuat untuk mengurangi obstruksi jaringan lunak dan
memberikan jarak untuk manipulasi
Minta ibu untuk merefleksikan kedua pahanya ketika berbaring dengan mengangkat
lututnya setinggi mungkin kearah dada. Minta dua asisten untuk mendorong lutut ibu
yang fleksi ke arah dada dengan kuat.
Dengan memakai sarung tangan yang steril atau yang didesinfeksi tingkat tinggi
- Lakukan traksi ke bawah yang kuat dan berkelanjutan pada kepala janin untuk
memindahkan bahu anterior ke bawah simfisis pubis
Catatan : hindari traksi yang berlebihan pada kepala janin karena tindakan ini dapat
menyebabkan cedera pleksus brakialis.
- Minta asisten untuk memberikan tekanan suprapubik ke bawah secara bersamaan
untuk membantu pelahiran bahu.
Catatan : jangan memberikan tekanan pada fundus. Tindakan ini berdampak lebih
lanjut pada bahu dan dapat menyebabkan rupture uterus
Jika bahu tetap tidak lahir
- Masukkan satu tangan ke dalam vagina disepanjang punggung bayi
- Berikan tekanan pada bahu anterior searah sternum bayi untuk memutar bahu dan
mengurangi diameter bahu
- Jika perlu, berikan tekanan pada bahu posterior searah sternum
Jika bahu tetap tidak lahir walaupun tindakan di atas telah dilakukan
- Masukkan satu tangan ke dalam vagina
- Pegang humerus lengan posterior dan dengan mempertahankan fleksi lengan, pada
siku, ayunkan lengan melewati dada. Tindakan ini member ruang bagi bahu anterior
untuk pindah ke bawah simfisis pubis.
Jika tindakan di atas gagal untuk melahirkan bahu, pilihan tindakan lainnya meliputi:
- Mematahkan klavikula untuk mengurangi lebar bahu dan membebaskan bahu anterior
- Melakukan traksi pada aksila dengan menggunakan pengait untuk mengeluarkan
lengan posterior.
-

12
1. Teknik penanganan distosia bahu

Prinsip utama dalam penanganan distosia bahu adalah melahirkan bayi sesegera mungkin dengan
beberapa teknik berikut:

a. Episiotomi
Episiotomi di lakukan dengan tujuan memperluas jalan lahir sehingga bahu di harapkan
dapat lahir.
b. Manuver Mc Robert
Dengan posisi ibu berbaring, minta ibu untuk menarik kedua lututnya sejauh
mungkin ke arah dadanya, minta dua asisten (boleh suami atau anggota
keluarganya)
Tekan kepala bayi secara mantap dan terus-menerus ke arah bawah (kearah anus
ibu) untuk memggerakkan bahu anterior di bawah symphisis pubis. Hindari
tekanan yang berlebihan pada bagian kepala bayi karena mungkin akan
melukainya.
Secara bersama minta salah satu asisten untuk memberikan sedikit tekanan supra
pubis ke arah bawah dengan lembut. Jangan lakukan dorongan pada pubis, karena
akan mempengaruhi bahu lebih jauh dan bisa menyebabkan ruptur uteri
c. Manuver Corkscrew Woods
Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan lakukan penekanan pada bahu
anterior, ke arah sternium bayi, untuk memuar bahu bayi dan megurangi diameter
bahu
Jika perlu, lakukan penekanan pada bahu posterior ke arah sternum.
d. Teknik Pelahiran Bahu Belakang
Masukkan satu tangan ke dalam vagina dan pegang tulang lengan atas yang
berada pada posisi posterior
Fleksikan lengan bayi di bagian siku dan letakkan lengan tersebut melintang di
dada bayi.
e. Manuver Rubin
Pertama dengan menggoyong-goyang kedua bahu janin dari satu sisi ke sisi lain
dengan memberikan tekanan pada abdomen.

13
Bila tidak berhasil, tangan yang yang berada di panggulmeraih bahu yang paling
mudah di akses, kemudian mendorongnya ke permukaan anterior bahu. Hal ini
biasanya akan menyebabkan abdusi kedua bahu kemudian akan menghasilkan
diameter antar bahu dan pergeseran bahu depan dari belakang simfisis pubis.

f. Manuver Hibbard
Menekan dagu dan leher janin ke arah rectum ibu dan seorang asisten menekan
kuat fundus saat bahu depan dibebeskan. Penekanan fundus yang dilakukan pada
saat yang salah akan megakibatkan bahu depan semakin terjepit.
g. Posisi Merangkak
Minta ibu untuk berganti posisi merangkak
Coba ganti kelahiran bayi tersebut dalam posisi ini dengan cara melakukan
tarikan perlahan pada bahu anterior ke arah atas dengan hati-hati.
Segera setelah lahir bahu anterior, lahirkan bahu posterior dengan tarikan
perlahan ke arah bagian bawah dengan hati-hati.
h. Manuver Zavanelli
Mengembalikan kepala ke posisi oksiput anterior atau posterior bila kepala janin
telah berputar dari posisi tersebut
Memfleksikan kepala dan secara perlahan mendorongnya masuk kembali ke
vagina yang diikuti dengan pelahiran secara sesar.
Memberikan terbutaline 250 mg subkutan untuk menghasilkan relaksasi uterus.
i. Fraktur Klavikula
Mematahkan klavikula dengan cara menekan klavikula anterior terhadap ramus
pubis dapat dilakukan untuk membebaskan bahu yang terjepit.
j. Kleidotomi
Kleidotomi yaitu memotong klavikuka dengan gunting atau benda tajam lain,
biasanya dilakukan pada janin mati
k. Simfisotomi
Simfisotomi yaitu mematahkan simfisotomi pubis untuk memermudah persalinan
juga dapat diterapkan dengan sukses.

14
2. Langkah-langkah Penatalaksanaan Distosia Bahu
a. Persalinan Normal
Melakukan episiotomy
Melakukan manuver McRobert dengan tekanan supra pubik. Biasanya dengan
manuver tersebut janin dengan distoia bahu sudah dapat dilahirkan. Namun jika
bahu tidak lahir direkomendasikan manuver corkscrew woods, teknik pelahiran
bahu belakang dan melahirkan dengan posisi merrangkak. Sedang fraktur
klavikula merupakan pilihan terakhir.
b. The American College of Obstetrician.
Merekomendasikan langkah-langkah berikut ini untuk penatalaksanaan distosia
bahu dengan urut-urutan bergantung pada pengalaman dan pilihan masing-masing
operator :
Panggil bantuan (mobilisasi asisten, anestesiolog dan dokter anak). Pada saat
ini dilakukan upaya untuk melakukan traksi ringan. Kosongkan kandung
kemih bila penuh.
Lakukan episiotomy luas (mediolateral) untuk memperluas ruangan posterior
Penekanan suprapublik dilakukan pada saat awal oleh banyak dokter karena
alasan kemudahannya. Hanya dibutuhkan satu asisten untuk melakukan
penekanan suprapublik sementara traksi ke bawah dilakukan pada kepala
janin.
Manuver McRobert memerlukan dua asisten, tiap asisten memegangi satu
tungkai dan memfleksikan paha ibu ke arah abdomen. Manuver-manuver di
atas biasanya dapat mengatasi sebagian besar kasus distosia bahu.

15
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Palpasi dan Balotemen: Leopold I : teraba kepala (balotemen) di fundus uteri
2) X-ray : Dapat membedakan dengan presentasi kepala dan pemeriksaan ini penting untuk
menentukan jenis presentasi sungsang dan jumlah kehamilan serta adanya kelainan
kongenital lain
3) Tes prenatal : dapat memastikan polihidromnion, janin besar, atau gestasii multiple
4) Tes stress kontraksi/tes nonstres : mengkaji kesejahteraan janin
5) Ultrasound atau pelvimetri sinar x : mengevaluasi arsitek pelvis, presentasi janin, posisi,
dan formasi.
6) Pengambilan sampel kulit kepala janin : mendeteksi atau mengesampingkan asidosis

H. KOMPLIKASI
1. Pada Ibu
Partus lama yang sering kali disertai pecahnya ketuban pada pembukaan kecil, dapat
menimbulkan dehirasi serta asidosis dan infeksi intrapartum.
Dengan his yang kuat, sedang janin dalam jalan lahir tertahan, dapat menimbulkan
regangan segmen bawah uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologis
(Bandl).
Dengan persalinan yang tidak maju karena disproporsi sefalopelvik, jalan lahir pada
suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul.
2. Pada Bayi
Partus lama dapat meningkatkan kematian perinatal apalagi jika ditambah dengan
infeksi intrapartum.
Propalus funikuli, apabila terjadi mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin
dan memerlukan kelahirannya dengan segala cara apabila ia masih hidup.
Dengan adanya disproporsi sefalopelvik kepala melewati rintangan pada panggul
dengan mengadakan moulge.
Selanjutnya tekanan oleh promontarium atau kadang-kadang oleh simfisis pada
panggul picak menyebabkan perlukaan pada jaringan diatas tulang kepala janin,
malahan dapat pula menimbulkan fraktur pada os parietalis (Hanifah, 2002). [4]

16
ASUHAN KEPERAWATAN MATERNAL PADA DISTOSIA BAHU

A. PENGKAJIAN
1. Identitas/ demografi klien
2. Riwayat kehamilan harus mencakup gravida atau paragravida, pola dan perawatan
prenatal, rencana terhadap persalinan, tinjauan ulang terhadap kehamilan, kondisi
fisik dan psikologis, kesehatan secara umum.
3. Riwayat kehamilan dahulu
Catat kehamilan terdahulu (jumlah, tanggal, jenis kelahiran, komplikasi, dan
hasil kehamilan mencakup jenis kelamin dan berat badan)
Tanyakan pada klien riwayat kesehatan terdahulu dan catat jika klien pernah
menjalani pembedahan, penyakit jantung, diabetes, anemia, tuberculosis,
penyakit ginjal, hipertensi, atau penyakit menular seksual.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan pada klien jika ada anggota keluarga yang memiliki penyakit
jantung, diskrasia darah, diabetes, penyakit ginjal, kanker, alergi, kejang,
defek congenital atau retardasi mental
Mencakup proses persalinan keluarga (mis. Saudara, ibu) dan informasi
mengenai pengobatan dalam keluarga
5. Pemeriksaan Fisik
Kaji penampilan klien secara keseluruhan dan catat jika terdapat pucat,
kelelahan, sakit atau rasa takut; edema; dehidrasi; atau lesi terbuka
Kaji turgor kulit untuk menentukan adanya dehidrasi
Kaji adanya jaringan parut, karena pembedahan abdomen atau pelvic dapat
menyisakan perlekatan
Kaji presentasi dan posisi janin melalui maneuver Leopold
Tentukan ukuran janin melalui pengukuran tinggi fundus
Inspeksi membrane mukosa pada mulut untuk mengetahui adanya lesi
(herpes) dan inspeksi konjungtiva untuk mengetahui warna mata.
Inspeksi ekstremitas bawah akan adanya edema dan varises

17
Lakukan palpasi untuk mengetahui adanya pembesaran nodus limfatikus
untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
Palpasi payudara klien dan kaji adanya benjolan atau kista serta catat
kemunculannya untuk dievaluasi lebih lanjut (mungkin kelenjar susu yang
membesar)
Palpasi dan perkusi kandung kemih untuk mendeteksi kepenuhannya
Auskultasi paru untuk memastikan kejernihan suaranya dan kaji bunyi
jantung. [3]

6. TEMUAN PENGKAJIAN
Kala kedua yang lama
Penurunan tersendat
Kepala janin yang telah mengalami crowning tertarik setiap kali terjadi
kontraksi uterus ( bukan semakin menonjol)
AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Melaporkan keletihan, kurang energy. Latergi, penurunan penampilan.
SIRKULASI
Tekanan darah dapat meningkat. Mungkin menerima magnesium sulfat untuk
hipertensi karena kehamilan.
ELIMINASI
Distensi usus atau kandung kemih mungkin ada.
INTEGRITAS EGO
Mungkin sangat cemas dan ketakutan
NYERI/KETIDAKNYAMANAN
Mungkin menerima narkotik atau anesthesia peridural pada awal proses
persalinan.
Mungkin menunjukkan persalinan palsu dirumah
Kontraksi jarang dengan intensitas ringan sampai sedang (kurang dari tiga
kontrasi dalam periode 10 mnt)
Dapat terjadi sebelum awitan persalinan (disfungsi fase laten primer) atau
setelah persalinan terjadi (disfungsi fase akktif sekunder)

18
Fase laten persalinan dapat menunjang: 20 jam atau lebih lama pada nulipara
(rata-rata adalah 8 jam), atau 14 jam pada multipara (rata-rata adalah 5
jam)
Tonus instirahat miometrial mungkin 8 mmHg atau kurang, dan kontraksi
dapat terukur kurang dari 30 mmHg atau dapat terjadi masing-masing lebih
dari 5 menit. Sedangkan, tonus istirahat dapat lebih besar dari 15 mmHg, pada
peningkatan kontraksi 50 sampai 85 mmHg dengan peningkatan rekuensi dan
penurunan intensitas.
KEAMANAN
Dapat mengalami versi eksternal setela gestasi 34 minggu dalam upaya untuk
mengubah presentasi bokong menjadi presentasi kepala
Penurunan janin mungkin kurang dari 1 cm/jam pada nulipara atau kurang
dari 2 cm/jam pada multipara (penurunan dengan durasi yang lebih lama
(protracted). Tidak ada kemajuan yang terjadi dalam satu jam atau lebih untuk
nulipara atau dalam 30 menit pada multipara (penghentian penurunan)
Pemeriksaan vagina dapat menunjukkan janin dalam malposisi (mis., dagu,
wajah, atau posisi kening)
Serviks mungkin kaku/tidak siap
Dilatasi mungkin kurang dari 1,2 cm/jam pada primipara atau kurang dari 1,5
cm/jam untuk multipara pada fase aktif (fase aktif protraksi)
SEKSUALITAS
Dapat primigravida tau grand multipara
Uterus mungkin destensi berlebihan karena hidranion, gestasi multiple, janin
besar, atau grand multiparitas
Dapat mengalami tumor uterus tidak teridentifikasi [5]

19
PATHWAY DISTOSIA BAHU

Etiologi (bayi besar, ibu dengan diabetes)

Ketidakseimbangan antara 4-P

Bayi lahir dengan presentasi kepala


KOPING INDIVIDUAL
TIDAK EFEKTIF
Bahu anterior tersangkut di simfisis
pubis sehingga menghambat

Tidak adanya dukungan dari


pasangan/keluarga
DISTOSIA BAHU

Kontraksi uterus tidak efektif Tekanan pada serviks


dan tekanan kepala janin yang yang kuat dan lama
kuat pada serviks

Nyeri hebat Resiko terhadap robeknya Tali pusar tertekan oleh


serviks dan vagina pada ibu tubuh janin dan tulang pelvis

NYERI AKUT
RESIKO TINGGI CEDERA RESIKO TINGGI CEDERA
MATERNAL PADA IBU TERHADAP JANIN

Diaphoresis hebat

RESIKO KEKURANGAN
VOLUME CAIRAN

20
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut dapat dihubungkan dengan kontraksi uterus tidak efektif, tekanan kepala
janin yang kuat pada serviks
2. Cedera, risiko tinggi terhadap, maternal faktor risiko dapat meliputi : perubahan tonus
otot/pola kontraksi, obstruksi mekanis pada penurunan janin, keletihan maternal
3. Cedera, risiko tinggi terhadap, janin faktor risiko dapat meliputi : persalinan yang lama,
malpresentasi janin, hipoksia atau asidosis jaringan, abnormalitas pelvis ibu, cpd
4. Kekurangan volume cairan risiko tinggi terhadap faktor risiko dapat meliputi: status
hipermetabolik,muntah,diaforesis hebat,pembatasan masukan oral,diuresis ringan
berkenaan dengan pemberian oksitosin
5. Koping , individual tidak efektif dapat berhubungan dengan : krisis situasi, kerentahan
pribadi, harapan /persepsi tidak listis, ketidakadekuatan sistem pendukung

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

1. DIAGNOSA KEPERAWATAN : NYERI AKUT


Dapat berhubungan dengan : kontraksi urerus tidak efektif, tekanan kepala janin yang
kuat pada serviks.
Kemungkinan dibuktikan oleh : Pengungkapan dan perilaku yang menandakan nyeri
seperti merintih, berteriak, menangis, gelisah, diaphoresis, serta perubahan TTV
Hasil yang diharapkan klien akan : Klien dapat mengontrol nyeri

21
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji karakteristik nyeri PQRST Menentukkan tindakan yang akan
khususnya saat his timbul dilakukan selanjutnya sesuai dengan
respons pasien terhadap nyeri
Hilangkan factor-factor yang Tingkat toleransi ansietas adalah
menghasilkan ansietas dan anjurkan individual dan dipengaruhi oleh berbagai
keberadaan pasangan pasien factor. Ansietas berlebihan pada respons
terhadap situasi darurat dapat
meningkatkan ketidaknyamanan karena
rasa takut, tegang, dan nyeri yang saling
berhubungan dan membantu kemampuan
klien untuk mengatasi nyeri.

Anjurkan teknik relaksasi dan massage


Dapat membantu dalam reduksi ansietas
pada ibu
dan meningkatkan kenyamanan

Dengan napas dalam otot-otot dapat


Anjurkan ibu mengantisipasi nyeri
berelaksasi, terjadi vasodilatasi pembuluh
dengan napas dalam bila his timbul
darah, ekspansi paru optimal sehingga
kebutuhan O2 pada jaringan terpenuhi
Kolaborasi
Pemberian narkotik, sedative seperti Meningkatkan kenyamanan dengan
analgetik memblok impuls nyeri. Kerja agen
analgetik

22
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN : CEDERA, RISIKO TINGGI TERHADAP,
MATERNAL

FAKTOR RISIKO DAPAT MELIPUTI :

Perubahan tonus otot/pola kontraksi, obstruksi mekanis pada penurunan janin, keletihan maternal

Kemungkinan di buktikan oleh : tidak dapat di terapkan adanya tanda/gejala untuk


menegakkan diagnosa aktual

Hasil yang di harapkan klien akan : mencapai dilatasi serviks sedikitnya 1,2 cm/jam untuk
primipada, 1,5 cm/jam untuk multipara pada fase aktif, dengan penurunan janin sedikitnya
1cm/jam untuk primipara, 2cm/jam untuk multipara.

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Tinjau ulang riwayat persalinan, Membantu dalam mengidentifikasi
awitan, dan duras. kemungkinan penyebab, kebutuhan
pemeriksaan diagnostik, dan
intervensi yang tepat. Disfungsi
uterus dapat di sebabkan oleh
keadaan atonik atau hipertonik. Atoni
uterus di klasifikasikan primer bila ini
terjadi sebelum awitan persalinan atau
sekunder bila ini terjadi setelah
persalinan yang baik.

Catat waktu/jenis obat. Hindari Pola kontraksi hipertonik dapat terjadi


pemberian narkotik atau anestetik pada respons terhadap rangsangan
blok epidural serviks dilatasi 4cm. oksitosin: sedatif yang di berikan
terlalu dini (atau melebihi kebutuhan)
dapat menghambat atau
menghentikan persalinan.

23
Evaluasi tingkat keletihan yang Kelelahan ibu yang berlebihan
menyertai, serta aktivitas dan menimbulkan disfungsi sekunder,
istirahat, sebelum awitan persalinan. atau mungkin akibat dari persalinan
lama/persalinan palsu.

Kaji pola kontraksi uterus secara Disfungsi kontraksi memperlama


manual atau secara elektronik . persalinan, meningkatkan risiko
komplikasi maternal/janin. Pola
hipotonik di tunjukan dengan
kontraksi sering dan ringan yang
terukur kurang dari 30 mmHg. Pola
hipertonik di tunjukan dengan
peningkatan frekuensi dan penurunan
intensitas kontraksi, pada peningkatan
tonus istirahat lebih besar dari 15
mmHg.

Catat kondisi serviks. Pantau tanda Serviks kuku atau tidak siap tidak
amnionitis. Catat peningkatan suhu akan dilatasi, menghambat penurunan
atau jumlah sel darah putih; catat janin/kemajuan persalinan.
bahu dan warna rabas vagina. Terjadinya amnionitis secara
langsung di hubungkan dengan
lamanya persalinan, sehingga
melahirkan harus terjadi dalam 24
jam setelah pecah ketuban.

Catat penonjolan, posisi janin, dan Indikator persalinan ini dapat


presentasi janin. mengidentifikasi timbulnya penyebab
persalinan lama. Sebagai contoh,
presentasi bokong tidak seefektif

24
lebarnya dilatasi servik pada
presentasi verteks.

Palpasi abdomen pada klien kurus Pada persalinan terhambat, depresi


terhadap adanya cincin retraksi cincin patologis dapat terjadi pada
patologis di antara segmen uterus. hubungan segmen atas dan bawah,
(cincin ini tidak dapat di palpasi menandakan ancaman ruptur uterus.
melalui vagina, atau melalui abdomen
pada klien gemuk.)
Tempatkan klien pada posisi Relaksasi dan peningkatan perfusi
rekumben lateral dan anjurkan tirah uterus dapat memperbaiki pola
baring atau ambulsi sesuai toleransi hipertonik. Ambulasi dapat
membantu kekuatan gravitasi dalam
merangsang pola persalinan normal
dan dilatasi serviks.

Anjurkan klien berkemih setiap 1-2 Kandung kemih penuh dapat


jam. Kaji terhadap kepenuhan menghambat aktivitas uterus dan
kandung kemih di atas simfisis pubis. mempengaruhi penurunan janin.

Kaji derajat hidrasi. Catat jumlah dan Persalinan yang lama dapat
jenis masukan. mengakibatkan ketidakseimbangan
cairan elektrolit serta kekurangan
cadangan glukosa, mengakibatkan
kelelahan dan persalinan lama dengan
peningkatan risiko infeksi uterus,
hemoragi pascapartum, atau pencetus
kelahiran pada adanya persalinan
hipertonik.

Tinjau ulang kebiasaan defekasi dan Kepenuhan usus dapat menghambat

25
keteraturan evakuasi. aktivitas uterus dan mempengaruhi
penurunan janin.

Tetap bersama klien; berikan Reduksi rangsang dari luar mungkin


lingkungan yang tenang sesuai perlu untuk memungkinkan tidur
indikasi. setelah pemberian obat untuk klien
dalam status hipertonik. Juga
membantu dalam menurunkan tingkat
ansietas, yang dapat menimbulkan
disfungsi uterus baik primer dan
sekunder.

Sediakan kotak peralatan kedaruratan Mungkin di perlukan pada kejadian


pencetus persalinan dan kelahiran,
yang di hubungkan dengan
hipertonisitas uterus.
Kolaborasi
Siapkan klien terhadap amniotomi, Pecah ketuban menghilangkan
dan bantu dalam prosedur, bila distensi uterus berlebihan (penyebab
serviks dilatasi 3-4cm. disfungsi baik primer dan sekunder)
dan memungkinkan bagian presentasi
mendekat pada persalinan maju pada
tidak adanya disproporsi sefalopelvik
(CPD)
Gunakan rangsangan puting untuk Oksitosin mungkin perlu menambah
menghasilkan oksitosin endogen, atau atau memulai aktivitas miometrik
melalui infus oksitosin eksogen atau untuk pola uterus hipotonik. Ini
prostaglandin. biasanya dikontraindikasikan pada
pola persalinan hipertonik karena ini
dapat menambah hipertonisitas, tetapi
dapat di coba dengan amniotomi bila

26
fase laten memanjang dan bila CPD
dan malposisi di kesampingkan.
Berikan narkotik atau sedatif, seperti Dapat membantu membedakan antara
morfin, fenobarbital, atau persalinan sejati dan palsu. Pada
sekobarbital, untuk tidur sesuai persalinan palsu, kontraksi berhenti:
indikasi. pada persalinan sejati, pola lebih
efektif dapat terjadi mengikuti
istirahat. Morfin membantu
meningkatkan sedasi berat dan
menghilangkan pola kontraksi
hipertonik. Periode istirahat
mengubah energi dan menurunkan
penggunaan glukosa untuk
Bantu dengan persiapan untuk secsio menghilangkan kelelahan.
sesaria, sesuai indikasi, untuk Melahirkan sesaria segera di
malposisi, CPD, atau cincin bandl. indikasikan untuk cincin bandl untuk
Siapkan untuk melahirkan dengan distres janin karena CPD.
forsep, bila perlu. Kelelahan ibu yang berlebihan,
mengakibatkan upaya mengejan tidak
efektif pada persalinan tahap 2,
memerlukan penggunaan forsep

27
3. DIAGNOSA KEPERAWATAN : CEDERA, RISIKO TINGGI TERHADAP,
JANIN

Faktor risiko dapat meliputi : persalinan yang lama, malpresentasi janin, hipoksia atau asidosis
jaringan, abnormalitas pelvis ibu, CPD

Kemungkinan di buktikan oleh : (tidak dapat di terapkan; adanya tanda atau gejala untuk
menegakkan diagnosa aktual

Hasil yang di harapkan

Janin akan : menunjukan denyut jantung janin dalam batas normal, dengan variabilitas baik,
tidak ada deselerasi lambat.

Klien akan : berpartisipasi dalam intervensi untuk memperbaiki pola persalinan dan atau
menurunkan faktor risiko yang teridentifikasi

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji DJJ secara manual atau Mendeteksi respon abnormal, seperti
elektronik. Perhatikan variabilitas, variabilitas yang di lebih-lebihkan,
perubahan periodik, dan frekuensi bradikardinya dan takikardia yang
dasar. Bila pada pusat kelahiran memungkinkan di sebabkan oleh
alternatif (PKA), periksa irama stres, hipoksia, asidosis atau sepsis.
jantung janin di antara kontraksi
dengan menggunakan doptone.
Jumlahkan selama 10 menit,
istirahatkan selama 5 menit, dan
jumlahkan lagi selama 10 menit.
Lanjutkan pola ini selama kontraksi
sampai pertengahan di antaranya dan
setelah kontraksi.
Perhatikan tekanan uterus selama Tekanan istirahat lebih besar dari 30
istirahat dan selama fase kontrak mmHg atau tekanan kontraksi lebih

28
melalui kateter tekanan intrauterus dari 50 mmHg menurukan atau
bila tersedia. mengganggu oksigenasi dalam ruang
intravilos.
Identifikasi faktor-faktor maternal Kadang-kadang, prosedur sederhana
seperti dehidrasi, asidosis, ansietas, (seperti membalikkan klien ke posisi
atau sindrom vena cava. rekumben lateral ) meningkatkan
sirkulasi darah dan oksigen ke uterus
dan plasenta serta dapat mencegah
atau memperbaiki hipoksia janin.
Observasi terhadap prolabs tali pusar Prolaps tali pusar lebih mungkin
samar atau dapat di lihat bila pecah terjadi pada presentasi bokong,
ketuban. Dan untuk deselarasi karena bagian presentasi tidak
variabel pada strip pemantauan, menonjol kuat, juga tidak secara total
khususnya bila janin pada presentasi memblok tulang, seperti pada
bokong. presentasi verteks.
Perhatikan bau dan perubahan warna Infeksi asenden dan sepsis di sertai
cairan amnion pada pecah ketuban dengan takikardia dapat terjadi pada
lama. Dapatkan kultur bila temuan pecah ketuban lama.
abnormal.
Kolaborasi
Perhatikan frekuensi kontraksi uterus. Kontraksi yang terjadi setiap 2 menit
Beritahu dokter bila frekuensi 2 menit atau kurang tidak memungkinkan
atau kurang. oksigenasi adekuat dari ruang
intrafiles.
Kaji malposisi dengan menggunakan Menentukan pembaringan janin,
manufer leopold dan temuan posisi, dan presentasi dapat
pemeriksaan internal (lokasi fontanel mengidentifikasi faktor-faktor yang
dan sutura kranial). Tinjau ulang hasil memperberat disfungsional
ultrasonografi. persalinan.

29
Pantau penurunan janin pada jalan Penurunan yang kurang dari 1cm/jam
lahir dalam hubungannya dengan untuk prinipara atau kurang dari
kulumna vertebralis iskial. 2cm/jam untuk multipara, dapat
menandakan CPD atau malposisi.

Atur pemindahan pada lingkungan Resiko cedera atau kematian


perawatan akut bila malposisi di janin/neonatal meningkat dengan
deteksi pada klien PKA. melahirkan pervagina bila presentasi
selain verteks.

Siapkan untuk metode melahirkan Presentasi ini meningkatkan resiko


yang paling layak, bila jani pada CPD, karena diameter lebih besar dari
presentasi kening,wajah, atau dagu. tengkorak janin masuk ke pelvis
(11cm pada kening atau presentasi
wajah, 13cm pada presentasi dagu),
sering memerlukan kelahiran secara
sesaria karena kegagalan kemajuan
dan pola persalianan yang tidak
efektif. (diameter tengkorak janin
untuk presentasi verteks adalah
9,5cm.)

Kaji terhadap henti transversa dalam Kegagalan verteks untuk memutar


dari kepala janin. penuh dari posisi oksiput posterior
(OP) ke oksiput anterior (OA) dapat
mengakibatkan posisi transvesa,
penghentian persalinan, dan kelahiran
sesaria.

Biarkan klien meilih posisi tangan Posisi ini mendorong pemutaran


dan lutut, atau posisi simlateral pada anterior dengan memungkin kolumna

30
posisi berlawanan dimana oksiput vertebralis janin turun ke arah
janin di arahkan bila janin pada posisi anterior dinding abdomen klien (70%
OP. janin pada posisi OP memutar secara
spontan).

Perhatikan warna dan jumlah cairan Kelebihan cairan amnion


amnion bila pecah ketuban. menyebabkan distensi uterus
berlebihan yang di hubungkan dengan
anomali janin. Cairan amnion
mengandung mekonium pada
presentasi verteks di akibatkan dari
hipoksia, yang menyebabkan
stimulasi vaga dan relaksasi sfingter
anal. Tidak adanya karakteristik
cairan amnion mewaspadakan staf
terhadap potensial kebutuhan bayi
baru lahir.

Berikan antibiotik pada klien, sesuai Mencegah/mengatasi infeksi aseden


indikasi dan akan melindungi janin juga.

Siapkan untuk melahirkan pada posisi Melahirkan janin dalam posisi


posterior, bila janin gagal memutar posterior mengakibatkan insiden lebih
dari OP ke OA (wajah ke pubis). tinggi dari laserasi maternal.
Sedangkan penggunaan ganda forsep Melahirkan dengan menggunakan
(manufer scazoni) dapat di gunakan aplikasi ganda forsep (melahirkan
untuk memutar dan melahirkan janin. midforsep) mungkin perlu

Siapkan untuk kelahiran secara Melahirkan pervagina dari bokong di


sesaria bila presentasi bokong terjadi, hubungkan dengan cedera pada

31
janin gagal turun, kemajuan columna vertebralis janin, pleksus
persalinan berhenti, atau brakialis, klavikula, dan sutura otak,
teridentifikasi CPD. meningkatkan mortalitas dan
morbiditas neonatal. Resiko hipoksia
karena stimulasi vagal lama dengan
kompresi kepala, dan trauma seperti
hemoragi intrakranial, dapat di
hilangkan atau di cegah bila CPD
teridentifikasi dan intervensi bedah
segera di lakukan.

4. Diagnosa Keperawatan : KEKURANGAN VOLUME CAIRAN RISIKO TINGGI


TERHADAP
Faktor risiko dapat meliputi: Status hipermetabolik,muntah,diaforesis
hebat,pembatasan masukan oral,diuresis ringan berkenaan dengan pemberian oksitosin
Kemungkinan dibuktikan oleh: (Tidak dapat diterapkan; adanya tanda /gejala untuk
menegakkan diagonasa aktual)
HASIL YANG DIHARAPKAN KLIEN AKAN :
- Mempertahankan kesimbangan cairan, dibuktikan dengan membran mukosa
lembab,haluaran urin tepat dan nadi dapat diraba
- Bebas dari komplikasi

32
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Pertahankan masukan/haluaran Penurunan haluaran urin dan
akurat,tes urin terhadap keton dan kaji peningkatan berat jenis urin
pernapasan terhadap bau buah menunjukkan dehidrasi.
Ketidakadekuatan masukan glukosa
mengakibatkan pemecahan lemak dan
adanya keton
Peningkatan frekuensi nadi dan suhu
Pantau tanda vital. Catat laporan dan perubahan tekanan darah
pusing pada perubahan posisi ortostatik dapat menandakan
penurunan volume sirkulasi
Membran mukosa/bibir yang kering
Kaji bibir dan membran mukosa oral dan perubahan salivasi adalah
dan derajat salivasi indikator lanjut dari dehidrasi
Dapat menunjukkan efek dehidrasi
meternal dan penurunan perfusi
Perhatikan respons DJJ abnormal. (
Rujuk pada DK: Cedera,risiko tinggi
terhadap, janin)

Kolaborasi
Tinjau ulang data laboratorium: Peningkatan Ht menunjukkan
Hemoglobin/ hematokrit(Hb/Ht), dehidrasi. Kadar elektrolit serum
Elektrolit serum dan glukosa serum mendeteksi terjadinya
ketidakseimbangan elektrolit; kadar
glukosa serum mendeteksi
Berikan cairan secara intravena hipoglikemia
Larutan parenteral mengandung

33
elektrolit dan glukosa dapat
memperbaiki atau mencegah
ketidakseimbangan maternal dan janin
serta dapat menurunkan keletihan
maternal

5. Diagnosa Keperawatan: KOPING , INDIVIDUAL TIDAK EFEKTIF


Dapat berhubungan dengan : Krisis situasi, kerentahan pribadi, harapan /persepsi tidak
listis, ketidakadekuatan sistem pendukung
Kemungkinan dibuktikan oleh : Pengungkapan dan perilaku yang menandakan
ketidakmampuan untuk mengatasi(kehilangan kontrol,ketidakmampuan mengatasi
masalah dan /atau memenuhi harapan peran), peka rangsang,mengeluh tegang/ letih
Hasil yang diharapkan klien akan:
- Mengungkapkan pemahaman tentang apa yang terjadi
- Mengidentifikasi/ menggunakan teknik koping efektif

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Tentukan kemajuan persalinan. Kaji Persalinan yang lama berakibat
derajat nyeri dalam hubungannnya keletihan dapat menurunkan
dengan dilatasi/penonjolan kemampuan klien untuk mengatasi
/mengatur kontraksi. Peningkatan nyeri
bila serviks tidak dilatasi/membuka
dapat menenadakan terjadinya
disfungsi. Nyeri hebat dapat
menandakan terjadinya anoksia sel-sel
uterus.
Kenali realitas keluhan klien akan Ketidaknyamanan dan nyeri dapat
nyeri ketidaknyamanan disalahartikan pada kurangnya
kemajuan yang tidak dikenali sebagai
masalah disfungsional. Mnedengarkan

34
persaaan dan mendukung dapat
menurunkan ketidaknyamanan dan
membantu klien rileks dan mengatasi
situasi .
Tentukan tingkat ansietas klien dan Ansietas berlebihan meningkatkan
pelatih. Perhatikan adanya frustasi aktivitas adrenal/pelepasan
katekolamin,menyebabkan
ketidakseimbangan endrokin.
Kelebihan epinefrin menghambat
aktivitas miometrik. Tekanankan juga
penurunan penyimpangan
glikogen,menurunkan ketersediaan
glukosa untuk sintesis adenosin trifosfat
(ATP), yang diperlukan untuk kontraksi
uterus.
Diskusikan kemungkinan kepulangan Klien mungkin mampu rileks lebih baik
klien ke rumah sampai mulainya bila pada lingkungan yang dikenal.
persalinan aktif Memberikan kesempatan untuk
mengalihkan/memfokuskan kembali
perhatian dan menyelesaikan tugas
yang mungkin berpengaruh pada
tingkat ansietas/frustasi.
Berikan tindakan kenyamanan dan Menurunkan ansietas,meningkatkan
pengubahan posisi klien. Anjurkan kenyamanan,dan membantu klien
penggunaan teknik relaksasi dan mengatasi situasi secara positif
pernapasan yang dipelajari.

Berikan dorongan pada upaya Mungkin bermanfaat untuk


klien/pasangan untuk berkencan memperbaiki kesalahan konsep bahwa
klien terlalu bereaksi terhadap

35
persalinan atau kadang menyalahkan
terhadap perubahan rencana kelahiran
yang diantisipasi
Berikan informasi faktual tentang apa Dapat membantu reduksi ansietas dan
yang terjadi meningkatkan koping [5]

36
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Distosia bahu merupakan masalah persalinan yang terjadi selama kala kedua pada saat kepala
janin telah lahir, tetapi bagian bahu terlalu lebar untuk masuk dan dilahirkan melalui rongga
pelvic. Hal tersebut dapat membahayakan bagi ibu karena dapat merobek serviks dan vagina; hal
tersebut juga berbahaya bagi janin karena tali pusar tertekan oleh tubuh janin dan tulang pelvic.

Distosia bahu adalah tersangkutnya bahu janin dan tidak dapat di lahirkan setelah kepala
janin di lahirkan. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan per
vagina untuk melahirkan bahu harus di lakukan manufer khusus seperti trapsi curam bawah dan
episiotomy

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada distosia bahu antara lain :

1. Nyeri akut dapat dihubungkan dengan kontraksi uterus tidak efektif, tekanan kepala
janin yang kuat pada serviks
2. Cedera, risiko tinggi terhadap, maternal faktor risiko dapat meliputi : perubahan tonus
otot/pola kontraksi, obstruksi mekanis pada penurunan janin, keletihan maternal
3. Cedera, risiko tinggi terhadap, janin faktor risiko dapat meliputi : persalinan yang lama,
malpresentasi janin, hipoksia atau asidosis jaringan, abnormalitas pelvis ibu, cpd
4. Kekurangan volume cairan risiko tinggi terhadap faktor risiko dapat meliputi: status
hipermetabolik,muntah,diaforesis hebat,pembatasan masukan oral,diuresis ringan
berkenaan dengan pemberian oksitosin
5. Koping , individual tidak efektif dapat berhubungan dengan : krisis situasi, kerentahan
pribadi, harapan /persepsi tidak listis, ketidakadekuatan sistem pendukung

B. SARAN

Bagi ibu hamil hendaknya memeriksakan kehamilannya secara dini, memeriksakan


kehamilannya minimal 4 kali selama kehamilannya, agar bisa terdeteksi secara dini komplikasi
yang mungkin terjadi pada kehamilannya dan bisa meminimalisir terjadinya komplikasi tersebut.

37

Anda mungkin juga menyukai