Anda di halaman 1dari 37

KLASIFIKASI HEAT EXCHANGER

1. Pendahuluan
Setelah distilasi, perpindahan panas merupakan operasi yang paling penting di kilang. Proses
perpindahan panas berlangsung dalam peralatan yang disebut Heat Exchanger (HE). Heat
exchanger adalah peralatan yang digunakan untuk mempertukarkan panas antara dua fluida
atau lebih yang berbeda suhunya. Heat exchanger digunakan dalam berbagai aplikasi di
refinery diantaranya untuk pendinginan, kondensasi, membangkitkan steam, pemanasan awal,
refrigerasi dll.
Pada sebagian besar HE, proses perpindahan panas antar fluida dilakukan melalui dinding
pemisah, sehingga antara fluida yang dipertukarkan panasnya tidak terjadi kontak secara
langsung. Namun terdapat tipe HE dimana pertukaran panas dilakukan dengan kontak
langsung antara fluida yang dipertukarkan panasnya, sehingga terjadi pencampuran antara
fluida tersebut. Tipe HE yang pertama disebut indirect contact sedangkan tipe HE yang kedua
disebut direct contact. Heat exchanger terdiri dari unsur-unsur peralatan yang utama yaitu :
Elemen-elemen perpindahan panas, yaitu komponen utama HE yang berkontak
langsung dengan fluida, dan berfungsi untuk memindahkan panas dari fluida-fluida
tersebut secara konduksi. Bagian dari permukaan perpindahan panas yang berkontak
langsung dengan fluida panas dan fluida dingin dan mentransfer panas diantara
keduanya disebut primary surface. Bagian pada primary surface yang berguna untuk
meningkatkan luas perpindahan panas disebut extended surface.
Elemen-elemen untuk distribusi fluida, seperti header, inlet dan outlet nozzle, seal, dll.

Heat exchanger dapat diklasifikasikan menurut beberapa kriteria utama yaitu :


1) Klasifikasi berdasarkan transfer prosesnya.
2) Klasifikasi berdasarkan jumlah fluidanya
3) Klasifikasi berdasarkan kekompakan permukaan.
4) Klasifikasi berdasarkan konstruksinya.
5) Klasifikasi berdasarkan pengaturan aliran
6) Klasifikasi berdasarkan mekanisme perpindahan panas.
7) Klasifikasi berdasarkan fungsinya.

1.2 Klasifikasi menurut proses transfer


Heat exchanger dapat diklasifikasikan menurut proses perpindahan panasnya menjadi tipe
direct contact dan indirect contact.
1.2.1 Indirect contact heat exchanger
Pada heat exchanger tipe ini, pertukaran panas antara fluida panas dan fluida dingin
berlangsung melalui dinding yang memisahkan kedua aliran fluida tersebut. Sehingga
tidak ada kontak langsung antara dua fluida yang saling bertukar panas. Heat exchanger
tipe ini disebut juga dengan surface heat exchanger. HE tipe ini dapat diklasifikasikan
menjadi tipe direct transfer, tipe storage dan fluidized bed exchanger.
1.2.1.1 Tipe direct transfer
Transfer panas berlangsung secara kontinyu melalui dinding / permukaan perpindahan
panas. HE tipe ini didesain sebagai recuperative heat exchanger (recuperator, tidak ada
bagian yang bergerak/berputar). Beberapa contoh HE tipe ini adalah tubular HE (shell and
tube HE) atau plate HE. Namun istilah recuperator tidak lazim digunakan di dalam shell
and tube HE ataupun plate HE, meskipun keduanya dikategorikan sebagai recuperator.
Sebagian besar HE yang digunakan di refinery termasuk kategori recuperator.
1.2.1.2 Storage type exchanger
Pada HE tipe ini aliran fluida panas dan fluida dingin akan mengalir bergantian melalui
jalur yang sama. Dengan demikian perpindahan panasnya berlangsung secara intermittent.
Permukaan perpindahan panas (atau jalur aliran fluida) pada umumnya berupa sel-sel yang
melingkar di dalam suatu struktur dan disebut dengan matrix, atau berupa material padat
berpori yang permeable (bisa dilalui aliran fluida), dan disebut packed bed.
Jika gas panas mengalir melalui permukaan perpindahan panas, energy panas yang berasal
dari gas tersebut disimpan di dalam dinding matrix, dan gas panas akan menjadi lebih
dingin selama periode pemanasan matrix. Selanjutnya gas dingin akan mengalir melalui
jalur yang sama (selama periode pendinginan matrix) dan dinding matrix akan melepaskan
energy panas yang disimpannya, dan kemudian diserap oleh gas dingin. Dengan demikian
proses perpindahan panas tidak berlangsung secara kontinyu, seperti halnya tipe direct
transfer. HE tipe storage ini disebut juga regenerative HE atau regenerator.
1.2.1.3 Fluidized bed heat exchanger
Pada fludized bed heat exchanger salah satu sisi permukaan perpindahan panas tercelup di
dalam bed yang berisi material padat yang halus. Seperti bundle tube yang tercelup di
dalam bed katalis atau pasir atau partikel-partikel carbon. Jika aliran fluida ke atas tinggi,
maka partikel-partikel padat akan terbawa bersama dengan aliran fluida. Namun jika
kecepatan aliran fluida rendah, maka partikel-partikel padat akan tetap berada pada posisi
semula di dalam bed. Tingginya kecepatan aliran fluida menyebabkan partikel-partikel
padat akan mengambang di dalam volume bed dan berperilaku seolah-olah seperti fluida.
Kondisi seperti ini disebut dengan terfludisasi. Beberapa aplikasi utama dari fluidized bed
heat exchanger adalah drying, mixing, adsorpsi, reactor, pembakaran batubara, dan waste
heat recovery.
1.2.2 Direct contact heat exchanger
Transfer panas antara fluida panas dengan fluida dingin melalui kontak langsung antara
kedua fluida ini. Tidak ada dinding yang memisahkan diantara fluida panas dan fluida
dingin, sehingga disamping terjadi perpindahan panas juga terjadi perpindahan massa.
Fluida yang telah bertukar panas selanjutnya akan dipisahkan. Aplikasi utama dari HE tipe
ini adalah pendinginan evaporative sebagaimana yang berlangsung pada cooling tower.
Dibandingkan dengan tipe indirect contact, terdapat beberapa kelebihan tipe direct contact
HE, diantaranya :
1) Laju perpindahan panas yang dicapai sangat tinggi
2) Konstruksi heat exchanger relative tidak terlalu mahal
3) Pada umumnya tidak dijumpai masalah fouling, disebabkan tidak adanya dinding
(permukaan perpindahan panas) antara fluida panas dengan fluida dingin.
Aplikasi direct contact HE sangat terbatas, hanya untuk fluida-fluida yang diijinkan untuk
berkontak lansung. Klasifikasi direct contact HE sebagai berikut :

1.2.2.1 Immiscible fluid exchanger


Fluida yang dipertukarkan panasnya tidak saling larut. Fluida yang berkontak bisa berupa
fluida satu fase, jenis operasinya bisa berupa kondensasi atau vaporisasi. Contoh yang
umum dijumpai adalah kondensasi uap hidrokarbon dengan air, seperti kondensor pada
system ejector di HVU.
1.2.2.2 Gas liquid exchanger
HE tipe ini, salah satu fluida berupa gas (biasanya udara) dan fluida yang lain berupa
liquid yang bertekanan rendah (pada umumnya air) sehingga mudah dipisahkan setelah
bertukar panas. Aplikasinya bisa berupa pendinginan liquid atau humidifikasi gas. Dalam
proses perpindahan panas sebagian liquid akan menguap dan terbawa bersama dengan
aliran gas. Sebagian besar transfer energy terjadi akibat transfer massa (90%), sedangkan
perpindahan panas karena konveksi hanya menyumbang sebagian kecil dari transfer
energy. Aplikasi yang umum digunakan di refinery adalah wet cooling tower (water
cooling tower). Aplikasi yang lain seperti spray drier, spray tower.
1.2.2.3 Liquid vapor exchanger
Tipikal liquid vapor exchanger berupa kondensasi steam atau menggunakan air pendingin
(baik kondensasi parsial atau total) atau air yang dipanaskan dengan waste steam melalui
kontak langsung di dalan HE. Contoh yang umum digunakan adalah desuperheater dan
open feedwater heater di power plant.

1.3 Klasifikasi menurut jumlah fluidanya


Dua jenis fluida atau lebih dapat mengalir dan bertukar panas di HE.
1.3.1 Dua jenis fluida
Sebagian besar HE mempertukarkan panas antara dua jenis fluida. Seperti pada proses
pemanasan atau pendinginan hanya mempertukarkan panas antara dua jenis fluida.

1.3.2 Tiga jenis fluida


Heat exchanger dengan tiga jenis fluida banyak digunakan dalam proses cryogenic, dan
beberapa proses kimia (seperti pemisahan udara, sintesis gas amoniak, purifikasi dan
pencairan gas hydrogen, unit pemisahan helium dengan udara)

1.3.3 Lebih dari tiga jenis fluida


Heat exchanger dengan lebih dari tiga jenis fluida, digunakan di berbagai aplikasi proses
kimia.

1.4 Klasifikasi menurut kompaknya permukaan

1.4.1 Tipe heat exchanger yang kompak


HE yang fluidanya berupa gas, dikatakan kompak jika densitas luas permukaan perpindahan
panasnya > 700 m2/m3. Untuk HE yang fluidanya dalam bentuk liquid atau dua fase fluida
dikatakan kompak jika densitas luas permukaan perpindahan panasnya > 400 m2/m3. Contoh
heat exchanger yang kompak adalah plate fin, tube fin dan rotary regenerator.

1.4.2 Tipe heat exchanger yang tidak kompak


Densitas luas permukaannya < 400 m2/m3. Shell and tube HE memiliki densitas luas
permukaan sebesar 100 m2/m3 jika menggunakan plain tube, dan tiga kali lebih besar jika
dilengkapi dengan fin.

1.5 Klasifikasi menurut konstruksinya


Terdapat empat tipe utama konstruksi heat exchanger yaitu : tipe tubular, tipe pelat, extended
surface, dan regenerative exchanger.
1.5.1 Konstruksi tipe tubular heat exchanger
Biasanya dibuat dalam bentuk tube-tube yang sirkular. Memiliki fleksibilitas yang tinggi, dan
dapat didesain untuk tekanan yang tinggi hingga tekanan atmosfer, serta untuk beda tekanan
yang tinggi antara fluida panas dan dingin. Diklasifikasikan menjadi :

Shell and tube heat exchanger


Jenis ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam industri perminyakan.
Alat ini terdiri dari sebuah shell (tabung/slinder besar) dimana didalamnya terdapat suatu
bandle (berkas) pipa dengan diameter yang relative kecil. Satu jenis fluida mengalir
didalam pipa-pipa sedangkan fluida lainnya mengalir dibagian luar pipa tetapi masih
didalam shell.
Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan
secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu
mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah
yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang
pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas,
biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat (buffle). Ini
bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence
time), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah
beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.
Ada beberapa fitur desain termal yang akan diperhitungkan saat merancang tabung di shell
dan penukar panas tabung. Ini termasuk:
a. Diameter pipa : Menggunakan tabung kecil berdiameter membuat penukar panas baik
ekonomis dan kompak. Namun, lebih mungkin untuk heat exchanger untuk
mengacau-balaukan lebih cepat dan ukuran kecil membuat mekanik membersihkan
fouling yang sulit. Untuk menang atas masalah fouling dan pembersihan, diameter
tabung yang lebih besar dapat digunakan. Jadi untuk menentukan diameter tabung,
ruang yang tersedia, biaya dan sifat fouling dari cairan harus dipertimbangkan.
b. Ketebalan tabung: Ketebalan dinding tabung biasanya ditentukan untuk memastikan:
Ada ruang yang cukup untuk korosi
Itu getaran aliran-diinduksi memiliki ketahanan
Axial kekuatan
Kemampuan untuk dengan mudah stok suku cadang biaya
Kadang-kadang ketebalan dinding ditentukan oleh perbedaan tekanan maksimum
di dinding.
c. Panjang tabung : penukar panas biasanya lebih murah ketika mereka memiliki
diameter shell yang lebih kecil dan panjang tabung panjang. Dengan demikian,
biasanya ada tujuan untuk membuat penukar panas selama mungkin. Namun, ada
banyak keterbatasan untuk ini, termasuk ruang yang tersedia di situs mana akan
digunakan dan kebutuhan untuk memastikan bahwa ada tabung tersedia dalam
panjang yang dua kali panjang yang dibutuhkan (sehingga tabung dapat ditarik dan
diganti). Juga, itu harus diingat bahwa tunggal, tabung tipis yang sulit untuk
mengambil dan mengganti.
d. Tabung pitch : ketika mendesain tabung, adalah praktis untuk memastikan bahwa
tabung pitch (yaitu jarak pusat-pusat tabung sebelah) tidak kurang dari 1,25 kali
diameter luar tabung ' Shell and tube penukar panas terdiri dari serangkaian tabung.
Satu set dari tabung berisi cairan yang harus baik dipanaskan atau didinginkan. Cairan
kedua berjalan lebih dari tabung yang sedang dipanaskan atau didinginkan sehingga
dapat menyediakan panas atau menyerap panas yang dibutuhkan. Satu set tabung
disebut berkas tabung dan dapat terdiri dari beberapa jenis tabung: polos, bersirip
longitudinal dll Shell dan penukar panas tabung biasanya digunakan untuk aplikasi
tekanan tinggi (dengan tekanan lebih besar dari 30 bar) dan suhu lebih besar dari 260
C. Hal ini karena shell dan penukar panas tabung yang kuat karena bentuknya.

Double pipe heat exchanger,


Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas
dapat digunakanberlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau
dingin cairan yang terkandung dalam ruangan nular dan cairan lainnya dalam pipa. Alat
penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua ujungnya
dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir
di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar
dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida
yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar
digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh (shell and tube heat
exchanger).
Pada jenis ini tiap pipa atau beberapa pipa mempunyai shell sendiri- sendiri. Untuk
menghindari tempat yang terlalu panjang, heat exchanger ini dibentuk menjadi U. pada
keperluan khusus, untuk meningkatkan kemampuan memindahkan panas, bagian diluar
pipa diberi srip. Bentuk siripnya ada yang memanjang, melingkar dan sebagainya.

Keistimewaan jenis ini adalah mampu beroperasi pada tekanan yang tinggi, dank arena
tidak ada sambungan, resiko tercampurnya kedua fluida sangat kecil. Kelemahannya
terletak pada kapasitas perpindahan panasnya sangat kecil, Fleksibel dalam berbagai
aplikasi dan pengaturan pipa, dapat dipasang secara seri ataupun paralel, dapat diatur
sedimikian rupa agar diperoleh batas pressure drop dan LMTD sesuai dengan
keperluan,mudah bila kita ingin menambahkan luas permukaannya dan kalkulasi design
mudah dibuat dan akurat Sedangkan kelemahannya terletak pada kapasitas perpindahan
panasnya sangat kecil, mahal, terbatas untuk fluida yang membutuhkan area perpindahan
kalor kecil (<50 m2), dan biasanya digunakan untuk sejumlah kecil fluida yang akan
dipanaskan atau dikondensasikan.

Prinsip kerja double pipe


Pada alat ini, mekanisme perpindahan kalor terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type), karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua fluida
tidak bercampur. Fluida yang memiliki suhu lebih rendah (fluida pendingin) mengalir
melalui pipa kecil, sedangkan fluida dengan suhu yang lebih tinggi mengalir pada pipa
yang lebih besar (pipa annulus). Penukar kalor demikian mungkin terdiri dari beberapa
lintasan yang disusun dalam susunan vertikal. Perpindahan kalor yang terjadi pada fluida
adalah proses konveksi, sedang proses konduksi terjadi pada dinding pipa. Kalor
mengalir dari fluida yang bertemperatur tinggi ke fluida yang bertemperatur rendah.
Dalam desain pipa penukar panas ganda, merupakan faktor penting adalah jenis pola
aliran dalam penukar panas. Sebuah penukar panas pipa ganda biasanya akan baik
berlawanan arah / counterflow atau aliran paralel. Crossflow hanya tidak bekerja untuk
penukar panas pipa ganda. Pola yang aliran dan tugas panas yang dibutuhkan pertukaran
memungkinkan perhitungan log mean perbedaan suhu. Yang bersama-sama dengan
perpindahan panas keseluruhan diperkirakan koefisien memungkinkan perhitungan luas
permukaan perpindahan panas yang diperlukan. Kemudian ukuran pipa, panjang pipa
dan jumlah tikungan dapat ditentukan.
Prinsip kerja dari alat ini adalah memindahkan panas dari cairan dengan temperature
yang lebih tinggi ke cairan yang memiliki temperatur lebih rendah. Dalam percobaan kali
ini, aliran panas (steam) dialirkan pada bagian dalam pipa konsentris sedangkan air
dialirkan pada bagian luar dari pipa konsentris ini (bagian anulus). Namun, terkadang
dalam beberapa alat seperti HE ini, akan ada pengotor didalam pipa yang membuat
proses perpindahan kalor nya menjadi terganggu. Pengotoran ini dapat terjadi endapan
dari fluida yang mengalir, juga disebabkan oleh korosi pada komponen dari heat
exchanger akibat pengaruh dari jenis fluida yang dialirinya. Selama heat exchanger ini
dioperasikan pengaruh pengotoran pasti akan terjadi. Terjadinya pengotoran tersebut
dapat menganggu atau memperngaruhi temperatur fluida mengalir juga dapat
menurunkan ataau mempengaruhi koefisien perpindahan panas menyeluruh dari fluida
tersebut. Beberapa faktor yang dipengaruhi akibat pengotoran antara lain : Temperatur
fluida, Temperatur dinding tube dan Kecepatan aliran fluida.
Spiral tube heat exchanger
Heat exchanger tipe ini menggunakan pipa tube yang didesain membentuk spiral di
dalam sisi shell. Perpindahan panas pada tipe ini sangat efisien, namun di sisi hampir
tidak mungkin untuk melakukan pembersihan sisi dalam tube apabila kotor. Untuk aliran
dimana masing-masing fluida tutup pada kedua sisinya. Dan dalam smengalir mengikuti
bentuk spiralnya, rakitan spiral plate-nya memiliki usunan tersebut fluida biasanya
mengalir dengan arah yang berlawanan, yaitu dengan mengalirkan fluida dingin pada
sekelilingnya sehingga mengalir kearah pusat, sedangkan fluida panas dimasukkan pada
pusat tersebut sehingga mengalir kearah sekelilingnya. Spiral Heat Exchanger memiliki
berbagai aplikasi penting di Industri berbeda. Paling umum, Anda akan menemukannya
di Pasteurisasi, Pra-Penghangat Ruangan, (untuk digunakan dalam recuperators) dan
dalam pengobatan Lumpur. Seiring dengan ini Anda akan menemukan mereka pada
umumnya penggunaan lainnya seperti dalam pemulihan panas, pendingin dan pemanas
limbah digester.

1.5.2 Konstruksi tipe pelat heat exchanger


Biasanya dibuat dari pelat tipis yang lurus atau bergelombang. Pada umumnya tidak bisa
digunakan untuk tekanan dan suhu yang tinggi ataupun perbedaan tekanan dan suhu yang
tinggi. Berdasarkan tingkat kebocorannya diklasikasikan menjadi :
Gasketed plate heat exchanger
Heat exchanger tipe ini termasuk tipe yang banyak dipergunakan pada dunia industri, bisa
digunakan sebagai pendingin air, pendingin oli, dan sebagainya. Prinsip kerjanya adalah
aliran dua atau lebih fluida kerja diatur oleh adanya gasket-gasket yang didesain sedemikian
rupa sehingga masing-masing fluida dapat mengalir di plat-plat yang berbeda.

Gasket berfungsi utama sebagai pembagi aliran fluida agar dapat mengalir ke plat-plat secara
selang-seling. Gambar di bawah ini menunjukkan desain gasket sehingga di satu sisi plat
fluida 1 masuk ke area plat yang (a), sedangkan gasket yang lain mengarahkan fluida 2 agar
masuk ke sisi plat (b)
Heat exchanger tipe ini termasuk tipe yang cukup murah dengan koefisien perpindahan panas
yang baik. Selain itu tipe ini juga mudah dalam hal perawatannya, karena proses bongkar-
pasang yang lebih mudah jika dibandingkan tipe lain seperti shell & tube. Namun di sisi lain,
tipe ini tidak cocok jika digunakan pada aliran fluida dengan debit tinggi. Dan seperti yang
telah saya singgung di atas bahwa heat exchanger tipe ini tidak cocok digunakan pada
tekanan dan temperatur kerja fluida yang tinggi, hal ini berkaitan dengan kekuatan dari
material gasket yang digunakan.

Welded plate heat exchanger (di salah satu atau kedua jalur fluida)
Satu kelemahan yang paling mendasar dari heat exchanger plat dengan gasket, adalah adanya
penggunaan gasket tersebut. Hal tersebut membatasi kemampuan heat exchanger sehingga
hanya fluida-fluida jenis tertentu yang dapat menggunakan heat exchanger tipe ini. Untuk b
mengatasi hal tersebut, digunakanlah heat exchanger tipe plat yang menggunakan sistem
pengelasan sebagai pengganti sistem gasket. Sehingga heat exchanger tipe ini lebih aman jika
digunakan pada fluida kerja dengan temperatur maupun tekanan kerja tinggi. Hanya saja
tentu heat exchanger tipe ini menjadi kehilangan kemampuan fleksibilitasnya dalam hal
bongkar-pasang dan perawatan.
Brazed plate heat exchanger
Tipe plate heat exchanger yang lain adalah :
Spiral plate
Heat exchanger tipe ini menggunakan desain spiral pada susunan platnya, dengan
menggunakan sistem sealing las. Aliran dua fluida di dalam heat exchanger tipe ini dapat
berbentuk tiga macam yakni (1) dua aliran fluida spiral mengalir berlawanan arah
(counterflow), (2) satu fluida mengalir spiral dan yang lainnya bersilangan dengan fluida
pertama (crossflow), (3) satu fluida mengalir secara spiral dan yang lainnya mengalir secara
combinasi antara spiral dengan crossflow.

Heat exchanger tipe ini sangat cocok digunakan untuk fluida dengan viskositas tinggi atau
juga fluida yang mengandung material-maerial pengotor yang dapat menimbulkan tumpukan
kotoran di dalam elemen heat exchanger. Hal ini disebabkan karena desainnya yang satu
lintasan, sehingga apabila terjadi penumpukan kotoran di satu titik, maka secara alami
kecapatan aliran fluida pada titik tersebut akan meningkat, sehingga kotoran tadi akan
terkikis sendiri oleh fluida kerja tersebut. Karena kelebihan inilah sehingga heat exchanger
tipe ini sangat cocok untuk digunakan pada fluida kerja dengan viskositas sangat tinggi,
fluida slurries (semacam lumpur), air limbah inidustri, dan sejenisnya.
Lamella
Lamella Heat Exchanger. Lamella heat exchanger tersusun atas sebuah shell berbentuk
silindris dengan elemen berdesain khusus berada di dalamnya. Elemen dengan desain khusus
ini disebut dengan Lamella. Di antara elemen lamella dengan sisi shell dibatasi dengan sistem
sealing berupa gasket. Untuk lebih memahami desain heat exchanger tipe ini, mari
perhatikan gambar berikut.

Lamella Heat Exchanger memiliki berat total yang lebih ringan daripada heat exchanger tipe
shell & tube dengan beban kerja yang sama. Tipe ini juga dapat bekerja pada temperatur yang
tinggi apabila gasket yang digunakan tepat, yakni hingga 500oC jika menggunakan gasket
berbahan non-asbestos. Penggunaan heat exchanger tipe ini biasanya ada pada industri
kertas, industri kimia, serta industri lain yang sejenisnya.
Plate coil
Heat exchanger tipe ini menggunakan semacam pipa yang dipasangkan ke sebidang plat
dengan proses pengelasan, stamping, atau proses roll-bond sehingga didapatkan sebuah
desain heat exchanger yang diberi istilah panelcoil. Material yang digunakan untuk panelcoil
umumnya adalah baja karbon, staenless steel, titanium, nikel, dan monel. Penggunaan heat
exchanger tipe ini ada pada industri farmasi, industri fiber, industri kimia, industri makanan,
dan juga pada penyerap panas tenaga matahari.
Panelcoil Heat Exchanger:
(a)Satu jalur (single-flow)
(b)Multiple-flow
(c)Vessel
(d)Spot-Welded Econocoil Bank

1.5.3 Extended surface heat exchanger


Konstruksi dengan penambahan luas permukaan (extended surface) dilakukan dengan
menambahkan fin (sirip) pada permukaan perpindahan panas. Satu kelemahan dari heat
exchanger tipe tubular dan plat adalah koefisien perpindahan panas yang relatif rendah, yakni
hanya mampu mencapai maksimal 60%. Hal ini dikarenakan angka perbandingan luas
permukaan perpindahan panas tiap satuan volume yang rendah, yaitu kurang dari 700 m 2/m3.
Sehingga salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi perpindahan panas adalah dengan
jalan meningkatkan luas permukaan perpindahan panas, yakni dengan menggunakan sirip.
Prinsip dasarnya adalah, (1) dengan adanya sirip ini maka permukaan kontak terjadinya
perpindahan panas semakin luas sehingga meningkatkan efisiensi perpindahan panas; (2)
pada fluida mengalir, dengan adanya sirip ini maka aliran fluida akan sedikit terhambat
sehingga didapatkan waktu untuk transfer panas yang lebih lama dan efektif. Terdapat dua
jenis extended surface
Plate fin (sirip pelat)
Heat exchanger tipe ini merupakan modifikasi dari heat exchanger tipe plat yang diberi
tambahan sirip. Prinsip desainnya adalah penggunaan sirip yang berbentuk segitiga ataupun
kotak yang dipasangkan di antara dua plat paralel.

Kondensor Refrigerant Pada Kendaraan Bermotor

Salah satu aplikasi heat exchanger plat dengan sirip dapat kita lihat pada gambar di atas,
yakni sebuah heat exchanger yang berfungsi untuk merubah gas refrigerant agar kembali ke
fase cair dengan media pendingin udara. Pada kondensor ini ada dua bentuk sirip, yang
pertama berukuran kecil dan terpasang memanjang sejajar dengan panjang plat. Sisi tersebut
menjadi jalur aliran fluida refrigerant. Sirip yang kedua berukuran lebih besar berbentuk
segitiga dan terpasang di antara dua plat yang mengalirkan refrigerant. Udara sebagai fluida
pendingin mengalir melewati sirip-sirip segitiga tersebut dan menciptakan aliran yang tegak
lurus (cross-flow) dengan aliran refrigerant.
Macam-macam Desain Sirip Heat Exchanger Plat
(a) Segitiga (b) Segiempat (c) Gelombang
(d) Offset (e) Multilouver (f) Berlubang
Tube fin (sirip tube)
Perluasan permukaan juga dapat diaplikasikan ke pipa tubing heat exchanger. Sirip tersebut
dapat terletak pada sisi luar ataupun dalam tubing dengan berbagai bentuk desain yang
disesuaikan dengan kebutuhan. Untuk sirip eksternal ada yang didesain secara individual
untuk tiap-tiap tubing, dan dapat pula yang secara bersamaan untuk beberapa tube. Untuk
lebih jelasnya mari kita perhatikan gambar-gambar berikut.

(a) Tube Dengan Sirip Individual


(b) Tube Dengan Sirip Kontinyu

Berbagai Desain Sirip Luar Tubing


Tubing Dengan Sirip di Dalam
Heat exchanger dengan tubing bersirip ini digunakan jika salah satu fluida memiliki
tekanan kerja dan temperatur yang lebih tinggi daripada fluida kerja yang lainnya.
Sehingga dengan adanya sirip tersebut terjadi perpindahan panas yang efisien.
Aplikasi tubing dengan sirip ini digunakan seperti pada kondensor dan evaporator
pada mesin pendingin (air conditioning), kondensor pada pembangkit listrik tenaga
uap, pendingin oli pada pembangkit listrik, dan lain sebagainya.
1.5.4 Regenerator
Regenerator merupakan heat exchanger tipe storage, seperti yang telah digambarkan pada sub
bab sebelumnya. Permukaan perpindahan panas atau elemen pada regenerator sering disebut
dengan matrix. regenerator adalah salah satu desain heat exchanger dengan sistem storage,
yang berarti energi panas yang berasal dari fluida pertama tersimpan sementara sebelum
panas tersebut ditransfer ke fluida kedua. Sebagai komponen utamanya, regenerator tersusun
atas elemen-elemen penyimpan panas yang biasa disebut dengan matriks.

Regenerator memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

Desain matriks yang compact dibandingkan dengan tipe recuperator, menjadikan tipe
ini memiliki volume desain yang lebih kecil, harga yang lebih murah, serta
perpindahan panas yang lebih efisien.
Pressure drop fluida yang mengalir melalui matriks heat exchanger regenerator,
relatif rendah.

Desain heat exchanger ini lebih simpel dalam hal pendistribusian fluida kerja agar
dapat mengalir secara merata di semua sisi matriks.
Sangat cocok digunakan untuk fluida gas-gas dengan efisiensi perpindahan panas
yang dapat mencapai 85%.

Di sisi lain regenerator juga memiliki kelemahan, salah satunya adalah penggunaannya yang
terbatas hanya untuk fluida gas, fluida berfase cair ataupun transisi cair-gas tidak
memungkinkan menggunakan regenator. Kelemahan lainnya adalah adanya kemungkinan
tercampurnya dua fluida gas, hal ini terjadi pada regenerator tipe rotari terutama pada area
radial seal.

Terdapat dua tipe regenerator, yaitu Rotary Regenerator dan Fixed Matrix Regenerator.

1.5.4.1 Rotary regenerator


Regenerator tipe ini menggunakan matriks yang tersusun membentuk lingkaran dan berfungsi
sebagai rotor dari regenerator. Rotor tersebut berputar dengan kecepatan tertentu. Aliran dua
atau lebih fluida dipisahkan oleh sistem radial seal. Gas panas melewati matriks untuk
diserap panas yang dikandung di dalamnya. Selanjutnya karena gerakan berputar dari rotor
tersebut maka matriks yang sudah menyerap panas akan dialiri oleh gas dingin sehingga
panas tersebut diserap olehnya. Matrix berputar secara kontinyu. Salah satu bagian dari
matrix dialiri gas panas, sedangkan bagian yang lain dialiri fluida dingin. Kelemahan dari
rotary regenerator adalah terbawanya sejumlah kecil aliran fluida dingin yang terjebak di
dalam matrix ke aliran gas panas atau sebaliknya.
Matrix terbuat dari lembaran logam yang tipis yang permukaannya didesain dengan pola
geometri tertentu.

Ljungstrom Air Pre-Heater Pada Boiler Adalah Aplikasi Dari Regenerator Tipe Rotari
Prinsip Kerja Ljungstrom Air Pre-Heater

1.5.4.2 Fixed matrix regenerator


Regenator tipe ini menggunakan matriks yang diam dan melibatkan katup (valve) yang
berfungsi untuk mengatur aliran fluida gas. Heat exchanger ini membutuhkan minimal dua
matriks yang terusun paralel. Gas panas masuk ke matriks satu sedangkan gas dingin masuk
ke matriks dua, keduanya biasanya memiliki arah masuk matriks yang berlawanan
(counterflow). Setelah interval waktu tertentu, katup-katup bekerja untuk merubah arah aliran
fluida, sehingga gas panas masuk ke matriks dua dan gas dingin masuk ke matriks satu.
Untuk lebih jelasnya mari kita perhatikan gambar di bawah ini. Disebut juga periodic flow,
fixed bed, valved, atau stationary regenerator. Untuk operasi yang kontinyu, HE tipe ini harus
memiliki setidaknya 2 matriks yang identik yang beroperasi secara parallel.
Contoh Sistem Regenerator Dengan Tiga Matriks Fiks Tersusun Secara Paralel

1.6 Klasifikasi menurut pengaturan aliran


Pengaturan aliran fluida di dalam heat exchanger bergantung pada keefektifan, besarnya
pressure drop, kecepatan minimum dan maksimum yang diijinkan, besar kecilnya jalur aliran
fluida, stress yang diijinkan, suhu, dll. Dibedakan menjadi dua yaitu single pass dan multi
pass. Disebut single pass jika kedua fluida yang bertukar panas hanya sekali lewat di dalam
HE.
1.6.1 Single pass exchanger
1.6.1.1 Counterflow exchanger
Kedua fluida mengalir secara parallel dengan arah yang berlawanan. luida-fluida yang
mengalir pada heat exchanger tipe ini berada saling sejajar, akan tetapi memiliki arah yang
saling berlawanan. Desain ini menghasilkan efisiensi perpindahan panas yang paling baik
diantara jenis heat exchanger yang lain. Hal ini disebabkan karena fluida dingin yang masuk
ke dalam exchanger akan bertemu dangan fluida sumber panas yang akan keluar dari
exchanger, dimana fluida ini sudah mengalami penurunan panas. Begitu pula pada sisi outlet
fluida yang dipanaskan, ia akan dipanaskan oleh fluida sumber panas yang baru saja masuk
ke exchanger tersebut. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan gambar berikut.

Skema Counter Flow Heat Exchanger

Kurva Perubahan Temperatur 2 Fluida Pada Counter Flow Heat Exchanger


C = Laju kapasitas panas fluida
T = Temperatur
Subscribe h dan c = masing-masing untuk fluida panas dan dingin
Subscribe i dan o = masing-masing untuk sisi inlet dan outlet

1.6.1.2 Parallel flow exchanger


Fluida-fluida kerja pada heat exchanger tipe ini mengalir sejajar dan memiliki arah aliran
yang sama antara fluida satu dengan yang lainnya. Fluida-fluida tersebut masuk dan keluar
heat exchanger melalui sisi yang sama. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini.
Parallel flow sering disebut aliran cocurrent. Fluida panas dan dingin masuk ke HE pada
ujung yang sama dan mengalir secara parallel dalam arah yang sama, kemudian keluar dari
HE pada ujung lain yang sama.

Skema Paralel Flow Heat Exchanger

Kurva Perubahan Temperatur 2 Fluida Pada Paralel Flow Heat Exchanger

Efektifitas perpindahan panas HE dengan pola aliran seperti ini paling rendah dibandingkan
dengan pola aliran yang lain. Perbedaan suhu fluida panas dan fluida dingin di bagian inlet
sangat besar, sehingga dapat meningkatkan thermal stress pada dinding HE di bagian inlet.
Pola seperti ini digunakan untuk beberapa aplikasi sebagai berikut :
1) Kadang-kadang digunakan untuk material yang sensitive terhadap suhu, liquid yang
viskositasnya tinggi, recuperator logam yang suhu inletnya lebih dari 1100 oC, karena
distribusi suhunya lebih seragam di sepanjang dinding tube.
2) Untuk mencegah kemungkinan terjadinya kondensasi gas, biasanya terjadi jika suhu
fluida yang lebih panas mencapai freezing point-nya. Sebagai contoh gas asam yang terdapat
pada exhaust gas dapat terkondensasi sehingga menyebabkan korosi pada logam. Pengaturan
aliran secara parallel akan meminimalkan atau menghindarkan dari kondensasi uap asam.
3) Mengeliminasi dan meminimalkan potensi fouling dan dekomposisi fluida, karena suhu
tertinggi yang bisa dicapai tetap lebih rendah daripada pengaturan secara counter current.
4) Untuk aplikasi pendidihan, fluida akan lebih cepat mendidih jika menggunakan
pengaturan aliran secara parallel

1.6.1.3 Cross flow exchanger


Pada Heat exchanager tipe ini fluida panas dan dingin mengalir secara bersimpangan. Dua
fluida yang mengalir di heat exchanger tipe ini memiliki arah yang saling tegak lurus atau
bersilangan. Secara termodinamik, tipe ini memiliki efisiensi perpindahan panas yang lebih
rendah daripada tipe counterflow tetapi lebih tinggi daripada tipe paralelflow. Perpindahan
panas yang paling efisien terjadi pada sudut-sudut aliran. HE tipe ini banyak digunakan pada
HE yang menggunakan extended surface (permukaan tambahan) seperti fin (sirip) yang
dipasang pada palin tube. Aplikasi di refinery seperti pada fin-fan cooler dan pertukaran
panas pada tube heater (furnace) di bagian konveksi.

a) Heat exchanger tipe plat.


b) Heat exchanger tipe serpentine (single tube)

Distribusi Perpindahan Panas Pada Crossflow Heat Exchanger

1.6.1.4 Split flow exchanger (TEMA tipe G)


Aliran fluida di bagian shell masuk melalui bagian tengah HE kemudian dibagi menjadi dua
aliran melalui longitudinal baffle. Kedua aliran menyatu kembali di bagian tengah HE dan
keluar dari HE melalui nozzle yang berada di bagian tengah HE. Heat exchanger ini
berdesain shell & tube dengan satu fluida yang masuk ke sisi shell melalui bagian tengah lalu
mengalir secara longitudinal ke dua arah, berbelok 180o pada ujung-ujung shell dan
berkumpul untuk keluar melalui sisi outlet. Fluida yang lain mengalir lurus dan hanya satu
arah melintasi sisi tube.
1) Pola single pass flow seperti pada shell and tube HE TEMA G
2) Pola double split flow seperti pada shell and tube HE TEMA H

(a) Heat Exchanger Tipe Single-pass Split-Flow


(b) Distribusi temperatur pada Split-Flow Heat Exchanger

1.6.1.5 Divided flow exchanger (TEMA J, Shell)


Aliran fluida yang masuk ke bagian shell dibagi menjadi dua aliran, dan keluar melalui dua
nozzle yang berada di ujung-ujung shell. Fluida yang lain mengalir lurus di dalam tube.
(a) Heat Exchanger Tipe Single-pass Divided-Flow
(b) Distribusi temperatur pada Divided-Flow Heat Exchanger

1.6.2 Multipass exchanger


Memiliki lebih dari satu pass aliran. Diklasifikasikan berdasarkan tipe konstruksinya, seperti
extended surface, shell and tube dan plate exchanger. Jika pada sebuah desain heat exchanger
membutuhkan panjang lintasan fluida yang teramat panjang, kecepatan aliran yang terlalu
kecil, ataupun efektifitas perpindahan panas yang rendah, maka dipergunakan heat exchanger
tipe multipass atau bisa juga dengan menggunakan beberapa heat exchanger tipe singlepass
yang disusun secara seri. Salah satu keuntungan dari tipe multipass adalah dengan
meningkatnya nilai efisiensi perpindahan panas lebih dari tipe singlepass, namun memiliki
kerugian yakni meningkatnya pressure drop.

1.6.2.1 Multipass cross flow exchanger


Pengaturan seperti ini banyak digunakan pada extended surface exchanger. Dua pass atau
lebih disusun secara seri, dengan setiap pass-nya terdapat crossflow. Heat exchanger tipe ini
menyederhanakan desain seri atau paralel dari beberapa heat exchanger menjadi lebih
compact dan tidak memakan banyak ruang. Tersusun atas dua atau lebih fluida kerja yang
mengalir dengan arah aliran yang saling tegak lurus. Untuk lebih memahami konsep heat
exchanger mari kita perhatikan gambar berikut.
Skema Heat Exchanger Tipe Multipass
(a) Multipass dengan susunan seri
(b) Multipass dengan susunan paralel
(c) Multipass dengan susunan kombinasi

1.6.2.2 Multipass shell and tube exchanger


Jika jumlah tube passes lebih dari satu, maka TEMA tipe shell dikategorikan sebagai
multipass exchanger (kecuali TEMA F). Heat exchanger tipe shell & tube yang memiliki
lintasan tube lebih dari satu kali maka ia termasuk ke dalam tipe multipass. Secara umum ada
tiga bentuk desain shell & tube heat exchanger yang dikenal, yaitu:
a. Parallel Counter Flow Exchanger. Tipe ini dapat menggunakan dua aliran tube atau
bahkan lebih. Desain aliran fluida pada sisi shell berkelak-kelok untuk meningkatkan
efisiensi perpidahan panas.
Heat Exchanger Shell & Tube Multipass Beserta Distribusi Perpindahan Panas

b. Parallel Split-Flow Exchanger. Tipe ini memecah aliran fluida yang mengalir pada
sisi shell menjadi dua arah yang berbeda namun tetap keluar melalui sisi outlet yang
sama.

Shell & Tube Heat Exchanger Parallel Split-Flow

c. Devided Flow Exchanger. Fluida sisi shell pada heat exchanger tipe ini mengalir
masuk melalui satu inlet, namun keluar melalui dua sisi outlet yang berbeda.
Shell & Tube Heat Exchanger Devided Flow

1.6.2.3 Multipass plate exchanger


Pada plate exchanger pengaturan aliran yang paling umum digunakan adalah single pass
counterflow. Namun terdapat sejumlah besar pengaturan aliran dengan pola multipass. Heat
exchanger plate tipe multipass sangat banyak digunakan pada dunia industri. Jumlah lapisan
plat menentukan jumlah jalur aliran yang digunakan. Semakin banyak jumlah plat, maka akan
semakin banyak jalur aliran fluida, sehingga efektifitas perpindahan panas pun ikut
meningkat. Selain itu pula tipe ini tidak membutuhkan ruang yang besar untuk penggunaan
plat yang berlapis-lapis.
Skema Multipass Plate Heat Exchanger

1.7 Klasifikasi menurut mekanisme perpindahan panas


Mekanisme perpindahan panas dari fluida ke dinding dapat berlangsung dengan cara :
1) Konveksi satu fase pada kedua sisi aliran
2) Konveksi dua fase, kondensasi atau evaporasi
3) Kombinasi konveksi dan radiasi

1.8 Fungsi heat exchanger


Penggunaan heat exchanger begitu luas, sehingga dalam aplikasinya dapat dikelompokkan
berdasarkan fungsinya sebagai berikut :
1) Chiller
Chiller adalah HE yang digunakan untuk mendinginkan fluida sampai pada suhu yang sangat
rendah, jauh lebih rendah daripada suhu lingkungan atau dengan media pendingin air. Media
pendingin yang banyak digunakan berupa propane, ammoniak atau Freon.
2) Condenser
Kondensor adalah HE yang digunakan untuk mendinginkan atau mengembunkan uap atau
campuran uap sehingga berubah fase menjadi cairan. Media pendingin yang digunakan
biasanya air atau udara (seperti pada fin-fan).
3) Ekonomiser
Ekonomiser adalah HE yang digunakan untuk menaikkan suhu air pengisi ketel sebelum
masuk ke dalam drum uap. Tujuan dari pemanasan ini adalah untuk meringankan beban ketel.

Gambar 1.25 Pengaturan aliran single dan multipass plate HE. Untuk single pass : (a) U
arrangement, dan (b) Z arrangement. Untuk multipass : (c) 2 pass 1 pass, (d) 3 pass 1
pass, (e) 4 pass 2 pass dan (f) aliran seri.

4) Cooler
Cooler adalah HE yang digunakan untuk mendinginkan (menurunkan suhu) cairan atau gas
dengan suhu pendinginan maksimal sama dengan suhu lingkungan. Media pendingin yang
digunakan berupa air atau udara. Pada cooler tidak dipemasalahkan apakah terjadi perubahan
fase atau tidak.
5) Reboiler
Reboiler adalah HE yang digunakan untuk mendidihkan kembali serta menguapkan sebagian
cairan yang diproses. Media pemanas yang sering digunakan berupa steam atau uap atau zat
panas dari prose situ sendiri.
6) Heater
Heater adalah HE yang penggunaannya bertujuan untuk menaikkan suhu (memanaskan)
suatu fluida proses. Media pemanas yang umum digunakan adalah uap atau fluida panas lain.
Media pemanas yang digunakan berupa steam atau hot oil
7) Exchanger atau heat exchanger
Alat ini digunakan dengan tujuan untuk memanfaatkan panas dari fluida panas untuk
memanaskan fluida dingin atau sebaliknya. Suhu masuk dan keluar dari kedua fluida diatur
sesuai dengan kebutuhan.
8) Steam generator
Alat ini lebih dikenal dengan nama ketel uap, yaitu alat penukar kalor yang digunakan untuk
menghasilkan uap. Sumber panas bisa berasal dari pembakaran bahan bakar dalam ketel.
9) Waste heat boiler
Merupakan peralatan pembangkit uap yang mirip dengan steam generator, perbedaannya
pada sumber panas yang digunakan berasal dari pemanfaatan panas buangan dari proses.
Misalnya panas dari flue gas sisa hasil pembakaran coke di regenerator RCC.

10) Superheater
Superheater adalah HE yang digunakan untuk mengubah uap jenuh (uap basah saturated)
menjadi uap kering (superheated steam). Alat ini biasanya terdapat dalam ketel uap.
11) Evaporator
Evaporator Adalah heat exchanger yang digunakan untuk memekatkan zat terlarut dengan
cara memanaskan sehingga sebagian besar liquid dalam larutan akan menguap.

1.9 Pemilihan heat exchanger


Kriteria pemilihan heat exchanger diantaranya sebagai berikut :
Sesuai dengan spesifikasi proses, dapat dioperasikan hingga jadwal mainetenance
berikutnya pada saat shut down
Mampu menahan kondisi operasi kilang. Tahan terhadap korosi baik yang disebabkan
oleh aliran proses ataupun lingkungan.
Mudah dimaintain dan dibersihkan (komponen-komponennya mudah dilepas dan
diganti)
Biaya pembelian, instalasi, operasi dan maintenance rendah.
Batasan diameter, panjang dan berat exchanger serta konfigurasi tube harus sesuai
dengan layout dan kebutuhan kilang.