Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mutu Pelayanan Kesehatan


2.1.1 Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan
Mutu pelayanan kesehatan adalah derajat kesempurnaan pelayanan akan
pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar profesi dan standar pelayanan
dengan menggunakan potensi sumber daya yang tersedia di rumah sakit atau
puskesmas secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan
memuaskan norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan
keterbatasan dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen.2,3
Menurut Azrul Azwar menyebutkan bahwa mutu pelayanan kesehatan adalah
derajat dipenuhinya kebutuhan masyarakat atau perorangan terhadap asuhan
kesehatan yang sesuai dengan standar profesi yang baik dengan pemanfaatan sumber
daya secara wajar, efisien, efekif dalam keterbatasan kemampuan pemerintah dan
masyarakat, serta diselenggarakan secara aman dan memuaskan pelanggan sesuai
dengan norma dan etika yang baik.2,3
Menurut Zimmerman MaryMutu pelayanan kesehatan memenuhi dan melebihi
kebutuhan dan harapan pelanggan melalui peningkatan yang berkelanjutan atas
seluruh proses. Pelanggan meliputi pasien, keluarga, dan lainnya yang datang untuk
mendapatkan pelayanan atau lainnya. Dokter, karyawan, dan anggota masyarakat
lainnya yang kita layani.3
Mutu Pelayanan Kesehatan yang meliputi kinerja yang menunjukkan tingkat
kesempurnaan pelayanan kesehatan, tidak saja yang dapat menimbulkan kepuasan
bagi pasien sesuai dengan kepuasan rata-rata penduduk tetapi juga sesuai dengan
standar dan kode etik profesi yang tea ditetapkan.4
Mutu adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasien ditingkatkan
mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak

4
diinginkan. Definisi tersebut semula melahirkan faktor-faktor yang menentukan mutu
pelayanan kesehatan yaitu5 :

1. Kelayakan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan


relevan terhadap kebutuhan klinis pasien dan memperoleh pengetahuan yang
berhubungan dengan keadaannya.
2. Kesiapan adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak
dapat memenuhi kebutuhan pasien sesuai keperluannya.
3. Kesinambungan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasien
terkoordinasi dengan baik setiap saat, diantara tim kesehatan dalam organisasi .
4. Efektifitas adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasien
dilakukan dengan benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai
dengan keadaannya, dalam rangka memenuhi harapan pasien.
5. Kemanjuran adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima
pasien dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai
harapan pasien.
6. Efisiensi adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien terhadap
sumber-sumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasen.
7. Penghormatan dan perhatian adalah tingkat dimana pasien dilibatkan dalam
pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut
perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasien serta harapan-harapannya
dihargai.
8. Keamanan adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi
untuk melindungi pasien dan orang lain, termasuk petugas kesehatan.
9. Ketepatan waktu adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan
kepada pasien tepat waktu sangat penting dan bermanfaat.

5
2.1.2 Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan
Mutu merupakan fenomena yang komprehensif dan dan multi facet. Menurut
Lori Di Prete Brown dalam bukunya Quality Assurance of Health Care in
Developing Countries yang dikutip oleh Djoko Wijono, kegiatan menjaga mutu
dapat menyangkut dimensi berikut6:
a. Kompetensi Teknis
Kompetensi teknis terkait dengan keterampilan, kemampuan, dan penampilan
petugas, manajer dan staf pendukung. Kompetensi teknis berhubungan dengan
bagaimana cara petugas mengikuti standar pelayanan yang telah ditetapkan dalam
hal dapat dipertanggungjawabkan atau diandalkan (dependability), ketepatan
(accuracy), ketahanan uji (reliability), dan konsistensi (consistency).
b. Akses terhadap pelayanan
Pelayanan kesehatan tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial, ekonomi,
budaya, organisasi, atau hambatan bahasa.
c. Efektivitas
Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektivitas yang menyangkut
norma pelayanan kesehatan dan petunjuk klinis sesuai standar yang ada.
d. Hubungan antar manusia
Hubungan antar manusia yang baik menanamkan kepercayaan dan kredibilitas
dengan cara menghargai, menjaga rahasia, menghormati, responsif, dan
memberikan perhatian. Hubungan antar manusia yang kurang baik akan mengurangi
efektivitas dari kompetensi teknis pelayanan kesehatan.
e. Efisiensi
Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal daripada
memaksimalkan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki.
Pelayanan kurang baik karena norma yang tidak efektif atau pelayanan yang salah
harus dikurangi atau dihilangkan. Dengan cara ini kualitas dapat ditingkatkan sambil
menekan biaya.
f. Kelangsungan pelayanan

6
Klien akan menerima pelayanan yang lengkap yang dibutuhkan (termasuk
rujukan) tanpa interupsi, berhenti atau mengulangi prosedur diagnosa dan terapi
yang tidak perlu. Klien harus mempunyai akses terhadap pelayanan rutin dan
preventif yang diberikan oleh petugas kesehatan yang mengetahui riwayat
penyakitnya. Klien juga mempunyai akses rujukan untuk pelayanan yang spesialistis
dan menyelesaikan pelayanan lanjutan yang diperlukan.
g. Keamanan
Mengurangi resiko cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang
berkaitan dengan pelayanan.
h. Kenyamanan dan kenikmatan
Dalam dimensi kenyamanan dan kenikmatan berkaitan dengan pelayanan
kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan efektivitas klinis, tetapi
dapat mengurangi kepuasan pasien dan bersedianya untuk kembali ke fasilitas
kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.
Sedangkan Parasuraman, Zeithaml, dan Berry menganalisis dimensi kualitas
jasa berdasarkan lima aspek komponen mutu. Kelima komponen mutu pelayanan
dikenal dengan nama ServQual. Kelima dimensi mutu menurut Parasuraman dkk.
Meliputi:
a. Responsiveness
Dimensi ini dimasukkan ke dalam kemampuan petugas kesehatan menolong
pelanggan dan melayani sesuai prosedur dan bisa memenuhi harapan pelanggan.
Dimensi ini merupakan penilaian mutu pelayanan yang paling dinamis. Harapan
pelanggan terhadap kecepatan pelayanan cenderung meningkat dari waktu ke waktu
sejalan dengan kemajuan teknologi dan informasi kesehatan yang dimiliki oleh
pelanggan.

b. Reliability
Kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan tepat waktu dan
akurat sesuai dengan yang ditawarkan (seperti dalam brosur). Dari kelima dimensi

7
kualitas jasa, reliability dinilai paling penting oleh para pelanggan.
c. Assurance
Kriteria ini berhubungan dengan pengetahuan, kesopanan dan sifat petugas
yang dapat dipercaya oleh pelanggan. Pemenuhan terhadap kriteria pelayanan ini
akan mengakibatkan pengguna jasa merasa terbebas dari resiko.
d. Empathy
Kriteria ini terkait dengan rasa kepedulian dan perhatian khusus staf kepada
setiap pengguna jasa, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan kemudahan
untuk dihubungi setiap saat jika para pengguna jasa ingin memperoleh bantuannya.
Peranan SDM kesehatan sangat menentukan mutu pelayanan kesehatan karena
mereka dapat langsung memenuhi kepuasan para pengguna jasa pelayanan
kesehatan.
e. Tangible
Mutu jasa pelayanan kesehatan juga dapat dirasakan secara langsung oleh
penggunananya dengan menyediakan fasilitas fisik dan perlengkapan yang
memadai. Para penyedia layanan kesehatan akan mampu bekerja secara optimal
sesuai dengan keterampilannya masing- masing.

2.1.3 Syarat-Syarat Pelayanan Kesehatan7


Pelayanan kesehatan akan dirasakan berkualitas oleh para pelanggannya jika
penyampaiannya dirasakan melebihi harapan para pengguna layanan. Penilaian para
pengguna jasa pelayanan ditujukan kepada penyampaian jasa, kualitas pelayanan,
atau cara penyampaian jasa tersebut kepada para pemakai jasa.
Kualitas jasa pelayanan akan sangat ditentukan apabila kebutuhan atau
ekspektasi para pengguna jasa bisa terpenuhi dan diterima tepat waktu. Untuk itu
para penyedia jasa pelayanan kesehatan harus mampu memenuhi harapan pengguna
jasa.

Menurut Azwar, agar pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan yang


diinginkan tersebut, banyak syarat yang harus dipenuhi. Syarat yang dimaksud

8
paling tidak mencakup hal sebagai berikut:
a. Tersedianya dan berkesinambungan
Syarat yang pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan
kesehatan tersebut harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat
berkesinambungan (continous). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam
masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan.
b. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok yang kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan
kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan keyakinan adat istiadat,
kebudayaan, keyakinan, dan kepercayaan masyarakat, serta bersifat tidak wajar,
bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.
c. Mudah dicapai
Syarat pokok yang ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah mudah
dicapai (accesible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksudkan
disini adalah terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk dapat mewujudkan
pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan
menjadi sangat penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di
daerah perkotaan saja, dan sementara itu tidak ditemukan di daerah pedesaan,
bukanlah pelayanan kesehatan yang baik.

d. Mudah dijangkau
Syarat pokok keempat pelayanan kesehatan yang baik adalah mudah dijangkau
(affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan yang dimaksudkan disini
terutama dari sudut biaya. Untuk dapat mewujudkan kesehatan yang seperti ini harus
dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan
ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal dan karena itu hanya

9
mungkin dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja, bukanlah pelayanan
kesehatan yang baik.
e. Bermutu
Syarat pokok kesehatan yang baik adalah mutu (quality). Pengertian mutu
yang dimaksudkan disini adalah menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan, yang di satu pihak dapat memuaskan para pemakai
jasa pelayanan, dan di pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode
etik serta standar yang telah ditetapkan.

Faktor yang digunakan oleh konsumen untuk mengukur kualitas atau mutu
dari sebuah jasa adalah outcome, process, dan image dari jasa tersebut. Menurut
Gronroos yang dikutip oleh Muninjaya, ketiga kriteria berikut dijabarkan menjadi 6
unsur:
a. Professionalism and skills
Di bidang pelayanan kesehatan, kriteria ini berhubungan dengan outcome,
yaitu tingkat kesembuhan pasien. Pelanggan menyadari bahwa jasa pelayanan
kesehatan dihasilkan oleh SDM yang memiliki pengetahuan dan keterampilan
profesional yang berbeda. Institusi penyedia pelayanan kesehatan harus menjamin
reputasi dokter dan petugas kesehatan lainnya yang bekerja pada institusi pelayanan
kesehatan tersebut. Dokter dan petugas kesehatan menjadi faktor produksi utama
yang akan menentukan hasil (outcome) pelayanan kesehatan, termasuk yang akan
menjamin tingkat kepuasan para penggunanya.

b. Attitudes and behavior


Kriteria sikap dan perilaku staf akan berhubungan dengan proses pelayanan.
Pelanggan institusi jasa pelayanan kesehatan akan merasakan kalau dokter dan
paramedis rumah sakit sudah melayani mereka dengan baik sesuai dengan SOP
pelayanan. Situasi ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku positif staf yang akan
membantu para pengguna pelayanan kesehatan mengatasi keluhan sakitnya.
c. Accessibility and flexibility

10
Kriteria pelayanan ini berhubungan dengan proses pelayanan. Pengguna jasa
pelayanan akan merasakan bahwa institusi penyedia pelayanan jasa, lokasi, jam
kerja, dan sistemnya dirancang dengan baik untuk memudahkan para penggunaan
mengakses pelayanan sesuai dengan kondisi pengguna jasa (fleksibilitas), yaitu
disesuaikan dengan keadaan sakit pasien, jarak yang harus ditempuh, tarif
pelayanan, dan kemampuan ekonomi pasien atau keluarga untuk membayar tarif
pelayanan.
d. Reliability and trustworthiness
Kriteria pelayanan ini juga berhubungan dengan proses pelayanan. Pengguna
jasa pelayanan kesehatan bukan tidak memahami resiko yang mereka hadapi jika
memilih jasa pelayanan yang ditawarkan oleh dokter. Misalnya operasi caesar pada
sebuah persalinan.
e. Recovery
Kriteria pelayanan ini juga berhubungan dengan proses pelayanan. Pelanggan
memang menyadari kalau ada kesalahan atau resiko akibat tindakan medis yang
diambil, tetapi para pengguna jasa pelayanan mempercayai bahwa institusi penyedia
jasa pelayanan sudah melakukan perbaikan (recovery) terhadap mutu pelayanan
yang ditawarkan kepada publik untuk mengurangi resiko medis yang akan diterima
pasien.
f. Reputation and credibility
Kriteria pelayanan ini berhubungan dengan image. Pelanggan akan meyakini
benar bahwa intitusi penyedia jasa pelayanan kesehatan memang memiliki
reputasi baik, dapat dipercaya, dan punya nilai (rating) tinggi di bidang pelayanan
kesehatan.
Kebanyakkan penilaian para pengguna jasa pelayanan kesehatan seperti yang
dijabarkan dari kriteria penilaian tersebut di atas lebih mementingkan proses
pelayanan dibandingkan outcome. Atas dasar itu, menjaga mutu sebuah pelayanan
kesehatan akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen dan komite medik
rumah sakit dalam menjaga reputasi institusi dan kepercayaan pelanggan terhadap

11
para dokter dan para medis serta tetap menjaga dan mengasah keterampilan dan
profesionalisme tenaga medis dan paramedisnya sesuai dengan tingkat
perkembangan teknologi kedokteran.

2.2 Jaminan Kesehatan Nasional


2.2.1 Pengertian Jaminan Kesehatan Nasional8
Jaminan kesehatan adalah jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta
memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar
iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Jaminan ini disebut Jaminan Kesehatan
Nasional karena semua penduduk Indonesia wajib menjadi peserta jaminan
kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan termasuk orang asing yang telah
bekerja paling singkat enam bulan di Indonesia dan telah membayar iuran.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikembangkan di Indonesia
merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Sistem Jaminan
Sosial Nasional ini diselenggarakan melalui mekanisme Asuransi Kesehatan Sosial
yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Tujuannya adalah agar semua penduduk
Indonesia terlindungi dalam sistem asuransi, sehingga mereka dapat memenuhi
kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak.

2.2.2 Prinsip-Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional9


Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan
Sosial Nasional (SJSN) berikut:

Prinsip kegotongroyongan
Gotongroyong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam hidup
bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam kebudayaan kita. Dalam
SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang mampu membantu peserta yang

12
kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi,
dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan
SJSN bersifat wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang bulu. Dengan demikian,
melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Prinsip nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan
utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana yang
dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil pengembangannya,
akan di manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.

Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.


Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana
yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.

Prinsip portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan
yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat
tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Prinsip kepesertaan bersifat wajib


Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga
dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat,
penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah
serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di
sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara
mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat
mencakup seluruh rakyat.

13
Prinsip dana amanat
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan-
badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan
dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.

Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial


Dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-
besar kepentingan peserta.

2.2.3 Peserta Jaminan Kesehatan Nasional1,8


Peserta Jaminan Kesehatan Nasional meliputi (KemenKes, 2013):
a. Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI): Fakir miskin dan orang
tidak mampu, dengan penetapan peserta sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

b. Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI), terdiri dari:
1. Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
a. Pegawai Negeri Sipil;
b. Anggota TNI;
c. Anggota Polri;
d. Pejabat Negara;
e. Pegawai Pemerintah non Pegawai Negeri;
f. Pegawai Swasta; dan
g. Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan f yang menerima
Upah. Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6
(enam) bulan.
2. Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya
a. Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri; dan
b. Pekerja yang tidak termasuk huruf a yang bukan penerima Upah.

14
Termasuk WNA yang bekerja di Indonesia paling singkat 6 (enam)
bulan.
3. Bukan pekerja dan anggota keluarganya
a. Investor;
b. Pemberi Kerja;
c. Penerima Pensiun, terdiri dari : Pegawai Negeri Sipil yang berhenti
dengan hak pensiun; Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti
dengan hak pensiun; Pejabat Negara yang berhenti dengan hak
pensiun; Janda, duda, atau anak yatim piatu dari penerima pension
yang mendapat hak pensiun; Penerima pensiun lain; dan Janda, duda,
atau anak yatim piatu dari penerima pensiun lain yang mendapat hak
pensiun.
d. Veteran;
e. Perintis Kemerdekaan;
f. Janda, duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis
Kemerdekaan; dan
g. Bukan Pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan e yang
mampu membayar iuran.

2.2.4 Hak dan Kewajiban Peserta Jaminan Kesehatan Nasional1,9


Hak Peserta
Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan
kesehatan;
Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur
pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan; dan
Menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis ke
Kantor BPJS Kesehatan.

15
Kewajiban Peserta
Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku;

Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian,


kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I;
Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang
yang tidak berhak;
Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

2.2.5 Iuran Jaminan Kesehatan Nasional9


Iuran jaminan kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur
oleh peserta, pemberi kerja dan/ atau pemerintah untuk program jaminan kesehatan.
Atas dasar iuran yang dibayarkan setiap peserta berhak memperoleh manfaat
jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup
pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan
bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan.
a. Bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) Jaminan Kesehatan iuran dibayar
oleh Pemerintah.
b. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja pada Lembaga
Pemerintahan terdiri dari Pegawai Negeri Sipil, anggota TNI, anggota Polri,
pejabat negara, dan pegawai pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% (lima
persen) dari Gaji atau Upah per bulan dengan ketentuan : 3% (tiga persen)
dibayar oleh pemberi kerja dan 2% (dua persen) dibayar oleh peserta.
c. Iuran bagi Peserta Pekerja Penerima Upah yang bekerja di BUMN, BUMD dan
Swasta sebesar 4,5% (empat koma lima persen) dari Gaji atau Upah per bulan
dengan ketentuan : 4% (empat persen) dibayar oleh Pemberi Kerja dan 0,5%
(nol koma lima persen) dibayar oleh Peserta.

16
d. Iuran untuk keluarga tambahan Pekerja Penerima Upah yang terdiri dari anak
ke 4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua, besaran iuran sebesar sebesar 1%
(satu persen) dari dari gaji atau upah per orang per bulan, dibayar oleh pekerja
penerima upah.
e. Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti saudara
kandung/ipar, asisten rumah tangga, dll); peserta pekerja bukan penerima upah
serta iuran peserta bukan pekerja adalah sebesar:
i. Sebesar Rp.25.500,- (dua puluh lima ribu lima ratus rupiah) per orang
per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III.
ii. Sebesar Rp.42.500,- (empat puluh dua ribu lima ratus rupiah) per orang
per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas II.
iii. Sebesar Rp.59.500,- (lima puluh sembilan ribu lima ratus rupiah) per
orang per bulan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas I
f. Iuran Jaminan Kesehatan bagi Veteran, Perintis Kemerdekaan, dan janda,
duda, atau anak yatim piatu dari Veteran atau Perintis Kemerdekaan, iurannya
ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari 45% (empat puluh lima persen) gaji
pokok Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III/a dengan masa kerja 14
(empat belas) tahun per bulan, dibayar oleh Pemerintah.

g. Pembayaran iuran paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan.26

2.2.6 Fasilitas Kesehatan Bagi Peserta Jaminan Kesehatan Nasional8,9


Fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan terdiri dari:
a. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama:
1. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Non Perawatan dan Puskesmas
Perawatan (Puskesmas dengan Tempat Tidur).
2. Fasilitas Kesehatan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI)
3. Fasilitas Kesehatan milik Polisi Republik Indonesia (POLRI), terdiri dari
Poliklinik Induk POLRI, Poliklinik Umum POLRI, Poliklinik Lain milik
POLRI dan Tempat Perawatan Sementara (TPS) POLRI.

17
4. Praktek Dokter Umum / Klinik Umum, terdiri dari Praktek Dokter Umum
Perseorangan, Praktek Dokter Umum Bersama, Klinik Dokter Umum /
Klinik 24 Jam, Praktek Dokter Gigi, Klinik Pratama, RS Pratama.

b. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan:


1. Rumah Sakit, terdiri dari RS Umum (RSU), RS Umum Pemerintah Pusat
(RSUP), RS Umum Pemerintah Daerah (RSUD), RS Umum TNI, RS
Umum Bhayangkara (POLRI), RS Umum Swasta, RS Khusus, RS Khusus
Jantung (Kardiovaskular), RS Khusus Kanker (Onkologi), RS Khusus
Paru, RS Khusus Mata, RS Khusus Bersalin, RS Khusus Kusta, RS
Khusus Jiwa, RS Khusus Lain yang telah terakreditasi, RS Bergerak dan
RS Lapangan.
2. Balai Kesehatan, terdiri dari: Balai Kesehatan Paru Masyarakat, Balai
Kesehatan Mata Masyarakat, Balai Kesehatan Ibu dan Anak dan Balai
Kesehatan Jiwa.
c. Fasilitas kesehatan penunjang yang tidak bekerjasama secara langsung dengan
BPJS Kesehatan namun merupakan jejaring dari fasilitas kesehatan tingkat
pertama maupun fasilitas kesehatan tingkat lanjutan yang bekerjasama dengan
BPJS Kesehatan, meliputi:
1. Laboratorium Kesehatan
2. Apotek
3. Unit Transfusi Darah
4. Optik

18