Anda di halaman 1dari 13

ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMOTHORAX

Disusun oleh :
NIHAYATUZZULFAH (G2A016058)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KEPERWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2017
A. PENGERTIAN

Pneumotorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorax dapat


terjadi secara spontan atau karena trauma (British Thoracic Society 2003).
Pneumotoraks adalah pengumpulan udara didalam ruang potensial antara
pleura visceral dan parietal (Arif muttaqin :2008).
Pneumotoraks adalah kolapsnya sebagian atau seluruh paru yang terjadi
sewaktu udara atau gas lain masuk ke ruang pleura yang mengelilingi
paru.(corwin,elizabeth j. 2009:50)
Berdasarkan definisi diatas Pneumotoraks adalah adanya udara atau gas dalam
rongga pleura, yaitu, di ruang potensial antara pleura viseral dan parietal paru.
Hasilnya adalah kolapsnya paru-paru pada sisi yang terkena. Udara bisa masuk ruang
intrapleural melalui hubungan dari dinding dada (yaitu trauma) atau melalui parenkim
paru-paru di pleura visceral.

B. ETIOLOGI
Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan
penyebabnya:
1. Pneumotoraks primer: terjadi tanpa disertai penyakit paru yang mendasarinya.
2. Pneumotoraks sekunder: merupakan komplikasi dari penyakit paru yang
mendahuluinya.
3. Pneumotoraks traumatik: terjadi akibat cedera traumatik pada dada.Traumanya
bisa bersifat menembus(luka,tusuk,peluru atau tumpul(benturan pada kecelakaan
bermotor). Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis
tertentu(misal torakosentesis). (Alsegaf,2004)

C. PATOFISIOLOGI
Saat inspirasi, tekanan intrapleura lebih negative daripada tekanan
intrabronkhial, sehingga paru akan berkembang mengikuti dinding thoraks dan udara
dari luar yang tekanannya nol akan masuk ke bronchus sehingga sampe ke alveoli.
Saat ekspirasi, dinding dada menekan rongga dada sehingga tekanan intrapleura akan
lebih tinggi dari tekanan dialveolus ataupun di bronchus, sehingga udara ditekan
keluar melalui bronchus. Tekanan intrabronkhial meningkat apabila ada tahanan jalan
napas. Tekanan intrabronkhial akan lebih meningkat lagi pada waktu batuk, bersin
atau mengejan, karena pada keadaan ini glotis tertutup. Apabila dibagian perifer dari
bronchus atau alveolus ada bagian yang lemah, bronkhus atau alveolus itu akan pecah
atau robek.
Secara singkat proses terjadinya pneumothoraks adalah sebagai berikut:
1. Alveoli disangga oleh kapiler yang lemah dan mudah robek dan udara masuk
kea rah jaringan peribronkhovaskuler. Apabila alveoli itu melebar, tekanan
dalam alveoli akan meningkat.
2. Apabila gerakan napas kuat, infeksi dan obstruksi endobronkhial adalah faktor
presipitasi yang memudahkan terjadinya robekan.
3. Selanjutnya udara yang terbebas dari alveoli dapat menggoyahkan jaringan
fibrosis di peribronkovaskular kearah hilus, masuk mediastinum, dan
menyebabkan pneumothoraks. (Arif Muttaqin : 2008)

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Pasien mengeluh awitan mendadak nyeri pada pluritik akut yang terlokalisasi
pada paru yang sehat.
2. Nyeri dada pluritik biasanya disertai sesak nafas, peningkatan kerja
pernafasan, dan dispnea
3. Gerakan dinding dada mungkin tidak sama karena sisi yang sakit tidak
mengembang seperti sisi yang sehat.
4. Suara nafas jatuh dan tidak ada
5. Perkusi dada menghasilkan suara hipersonan
6. Takikardi sering terjadi menyertai tipe pneumotoraks(Nurarif,amin 2016)

E. PENATALAKSANAAN
1. Farmakologi
a) Terapi oksigen dapat meningkatkan reabsorpsi udara dari ruang pleura.
b) Drainase sederhana untuk aspirasi udara pleura menggunakan kateter
berdiameter kecil (seperti 16 gauge angio-chateter / kateter drainase yang
lebih besar)
c) Penempatan pipa kecil yang dipasang satu jalur pada katup helmic untuk
memberikan perlindungan terhadap serangan tension pneumotoraks
d) Obat simptomatis untuk keluhan batuk dan nyeri dada
e) Pemeriksaan radiologi
Peranan pemeriksaan radiologi antara lain:
1) Kunci diagnosis.
2) Penilaian luasnya pneumotoraks.
3) Evaluasi penyakit-penyakit yang menjadi dasar.
Pada pneumotoraks yang sedang sampai berat foto konvensional (dalam
keadaan inspirasi) dapat menunjukkan adanya daerah yang hiperlusen dengan pleural
line di sisi medialnya; tetapi pada pneumotonaks yang minimal, foto konvensional
kadang-kadang tidak dapat menunjukkan adanya udara dalam rongga pleura; untuk itu
diperlukan foto ekspirasi maksimal, kadang-kadang foto lateral dekubitus. Hinshaw
merekomendasikan membuat foto pada 2 fase inspirasi dan ekspirasi, karena akan
memberikan informasi yang lebih lengkap tentang:
1) Derajat/luasnya pneumotoraks.
2) Ada/tidaknya pergeseran mediastinum.
3) Menunjukkan adanya kista dan perlekatan pleura lebih jelas dari pada foto
konvensional.
4) Diit Tinggi kalori tinggi protein 2300 kkal + ekstra putih telur 3 x 2 butir /
hari.(Arif,mutaqin:2008)

F. PENGKAJIAN FOKUS
1. Demografi
Identitas pasien
Nama : Tn/Ny. X
Usia : tahun
Alamat :
Tanggal MRS :
Diagnosa Medis : pneumothoraks

2. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Pasien mengeluh sesak nafas dan nyeri di bagian dada.
b) Riwayat penyakit sekarang
Pada umumnya didapatkan keluhan utama pada klien seperti sesak nafas dan
nyeri di bagian dada.
c) Riwayat penyakit dahulu
Biasanya dikaitkan dengan penyakit yang sama pada masa sebelumnya.
d) Riwayat penyakit keluarga
Meliputi susunan keluarga dengan penyakit yang sama (), ada/tidak dalam
anggota keluarganya yang menderita penyakit menular, turunan.

3. Data Fokus Terkait Perubahan Pola Fungsi dan Pemeriksaan Fisik


a) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Kaji kebiasaan pasien tentang melaksanakan hidup sehat seperti mandi, sikat
gigi dan makan atau periksa kalau sakit.
b) Pola nutrisi dan metabolisme.
Pada pasien pneumothoraks bisa mengalami penurunan nafsu makan karena
nyeri pada dada / nyeri telan
c) Pola eliminasi.
Kaji kebiasaan BAB atau BAK apakah ada perubahan atau tidak pada pasien
pneumothoraks.
d) Pola tidur dan istirahat.
Pada pasien pneumothoraks biasanya mengalami gangguan pola tidur
diakibatkan sesak / nyeri pada bagian dada.
e) Pola sensori dan kognitif.
Pada pasien pneumothoraks biasanya tidak mengalami kelainan (normal)
f) Pola aktifitas.
Biasanya pada pola aktivitas mengalami gangguan karena nyeri.
g) Pola reproduksi sexual.
Kaji jenis kelamin pasien, mengalami gangguan dalam melaksanakan
hubungan seksual apa tidak kelainan pada alat genitalia.
h) Pola hubungan peran.
Apakah mengalami gangguan dalam menjalankan perannya sehari-hari.
i) Pola penanggulangan stress.
Kaji kebiasaan pasien dalam menghadapi masalah / stres.
4. Pemeriksaan Penunjang
a) Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/ cairan pada area pleural, data
menunjukkan penyimpangan struktur mediastinal (jantung).
b) GDA : variable tergantung pada derajat fungsi paru yang dipengaruhi,
gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi. PaCO2
kadang-kadang meningkat. PaO2 mungkin no rmal/menurun, saturasi oksigen
biasa menurun.
c) Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemotoraks)
d) HB : mungkin menurun menunjukkan kehilangan darah
e) Laboratorium (darah lengkap dan astrup)

G. PATHWAY KEPERAWATAN

H. DIAGNO b SA KEPERAWATAN
1. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru
skunder terhadap peningkatan tekanan dalam rongga pleura.
2. Resiko infeksi kerusakan integritas yang berhubungan dengan adanya port de
entre (lubang) akibat luka penusukan tindakan WSD.
3. Nyeri akut berhubungan dengan cedera parenkim paru
I. INTERVENSI DAN RASIONAL
NO TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL
CRITERIA
HASIL
DX Setelah dilakukan O: 1. Kaji kualitas, 1. Dengan mengkaji kualitas,
1 tindakan frekuensi, dan frekuensi, dan kedalaman
keperawatan kedalaman pernafasan, pernapasan, kita dapat
diharapkan pola laporkan setiap mengetahui sejauh mana
pernapassan klien perubahan yang terjadi perubahan kondisi klien.
kembali efektif. 2.Observasi tanda-tanda 2. Peningkatan RR dan takikardi
Dengan kriteria vital (nadi, RR) merupakan indikasi adanya
hasil:-pola penurunan fungsi paru
pernapassan klien
kembali efektif. N: 1. Baringkan klien 1. Penurunan diafragma
dalam posisi yang memperluas daerah dada
nyaman, atau dalam sehingga ekspansi paru bisa
posisi duduk. maksimal.
2..Lakukan auskultasi 2. Auskultasi dapat menentukan
suara napas tiap 2-4 kelainan suara napas pada bagian
jam. paru. Kemungkinan akibat dari
berkurangnya atau tidak
berfungsinya lobus, segmen, dan
salah satu dari paru. Pada
daereah kolaps paru suara
pernapasan tidak terdengar tetapi
bila hanya sebagian yang kolaps
suara pernapasan tidak terdengar
dengan jelas. Hal tersebut dapat
menentukan fungsi paru yang
baik dan ada tidaknya atelektasis
paru.

E: Bantu dan anjurkan -Menekan daerah yang nyeri


klien untuk batuk dan ketika batuk atau napas dalam.
napas dalam yang Penekanan otot-otot dada serta
efektif. abdomen membuat batuk lebih
efektif.

C:1. Kolaborasi untuk -Dengan WSD memungkinkan


tindakan dekompresi udara keluar dari rongga pleura
dengan pemasangan dan mempertahankan agar paru
WSD. tetap mengembang dengan jalan
mempertahankan tekanan
negative pada intrapleura

DX Setelah dilakukan O : Kaji warna kulit - merupakan tanda dan gejala


2 tindakan atau suhu dan pengisian infeksi sekunder yang harus
keperawatan 1x kapiler pada area dicegah dengan memonitor tanda
24 jam pemasangan WSD dan dan gejala tersebut.
diharapkan resiko tandur kulit
infeksi tidak
terjadi, dengan N : rawat luka, Ganti -mencegah terjadinya infeksi
kriteria hasil : balutan setiap hari. sekunder dan memberikan
1) tidak ada kenyamanan pada pasien dengan
tanda-tanda digantinya balutan.
radang,
2) tidak ada E : anjurkn istirahat -memulihkan kondisi pasien
tanda-tanda
infeksi, C: kolaborasi dengan -antibiotik dapat membunuh
dokter untuk pemberian mikroorganisme
antibiotik sesuai yang menyebabkan infeksi.
petunjuk.
DX Setelah dilakukan O : kaji karakteristik -variasi penampilan klien karena
3 tindakan nyeri, lokasi, intensitas, nyeri terjadi sebagai temuan
keperawatan 1 x lama, dan penyebab. pengkajian.
24 jam
diharapkan ada N: lakukan manajemen
penurunan respon nyeri keperawatan.
nyeri dengan 1.atur posisi fisiologis -posisi fisiologis akan
kriteria hasil : meningkatkan asupan O2
-secara subjek Ke jaringan yang mengalami
klien menyatakan iskemia.
penurunan rasa
nyeri. 2.istirahatkan klien -istirahat akan menurunkan
-secara objektif kebutuhan O2 jaringan perifer
didapatkan TTV sehingga akan menurunkan
dalam batas kebutuhan jaringan yang
normal membutuhkan O2 untuk
-wajah rileks menurunkan iskemia.

3.manajemen -Lingkungan tenang akan


lingkungan : menurunkan stimulais nyeri
lingkungan tenang dan eksternal dan pembatasan
batasi pengunjung pengunjung akan membantu
meningkatkan O2 .

E: - anjurkan tehnik -meningkatkan asupan O2


relaksasi pernafasan sehingga akan menurunkan nyeri
dalam sekunder dari iskemia jaringan

C: kolaborasi dengan - Analgetik membantu


dokter pemberian obat mengontrol nyeri dengan
analgetik memblok jalan rangsang nyeri
DAFTAR PUSTAKA

Alsegaf,2004; Kamus Kedokteran; Edisi ke 29, Buku Kedokteran EGC, Jakarta,


2004, hal 842.

British Thoracic Society of Standardsof Care Committee, 2002,British Thoracic


Society for Managementof Community Acquired Pneumonia in
Childhood,In :Thorax, 57:12-19.

Corwin,Elizabeth j.2009.buku saku patofisiologi.jakarta : ECG

Muttaqin, Arif.2008.AsuhanKeperawatan pada klien dangan gangguan system pernapasan.


Jakarta:Salemba Medika

Nurarif,amin.2016.asuhan keperawatan praktis.jogjakarta:mediaction jogja


FORMAT PENILAIAN PORTOFOLIO

NAMA MAHASISWA: NIHAYATUZZULFAH


NIM : (G2A016058)
TOPIK : ASUHAN KEPERAWATAN PNEUMOTHORAX

NO KRITERIA BBT NILAI NILAI X


BBT
1 2 3 4
1 KERAPIAN 10
1. Tulis
tangan
tidak
rapi
2. Tulis
tangan
kurang
rapi
3. Diketik
rapi
4. Diketik
sangat
rapi
2 WAKTU PENYERAHAN 10
1. Lewat 3 hari
2. Lewat 2 hari
3. Lewat 1 hari
4. Tepat waktu

3 JUMLAH BUKU SUMBER 15


1. Satu sumber
2. Dua sumber
3. Dua sumberplus
internet
4. Lebih 2 sumber plus
internet, sumber
dilampirkan
4 JUMLAH HALAMAN 10
1. 2 halaman
2. 3 halaman
3. 4 halaaman
4. Lebih dari 4
halaman
5 ORIGINALITAS 5
Tidak meniru orang lain
6 KELENGKAPAN ISI 30
1. Makalah memuat
kurang dari 7 item
dalam sistematika
2. Makalah memuat 7-
8 dari 9 item
3. Makalah memuat 9
item sesuai
sistematika terdiri
dari:
Pengertian, etiologi,
patofisiologi,
manifestasi klinis,
penatalaksanaan,
pengkajian fokus
kurang lengkap,
pathways,
diagnosa
keperawatan
kurang lengkap,
fokus intervensi
tanpa rasional
PEMAHAMAN 20
1. Tidak memahami
tidak membaca
2. Membaca tidak
memahami
3. Membaca
memahami
4. Membaca sangat
memahami

NILAI AKHIR = JUMLAH NILAI X BOB0T NILAI AKHIR =


100

Mengetahui Dosen MAHASISWA

Ns. Satriya Pranata, M.Kep Nihayatuzzulfah