Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK OPTIK P-2

BENDING DAN PENGARUH SUHU PADA SERAT OPTIK

Disusun Oleh :

SYAMSUR RIJAL 0231 17 45000 040

Asisten :
ACHMAD SYARIF HIDAYAT 0231 14 40000 081

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK OPTIK P-2

BENDING DAN PENGARUH SUHU PADA SERAT OPTIK

Disusun Oleh :

SYAMSUR RIJAL 0231 17 45000 040

Asisten :
ACHMAD SYARIF HIDAYAT 0231 14 40000 081

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2017

ii
ABSTRAK

Pada praktikum tentang Bending dan Pengaruh Suhu


Pada Serat Optik bertujuan agar mahasiwa dapat
mengetahui prinsip-prinsip transmisi sinyal laser pada serat
optik, yang dimana serat optik tersebut diberikan Bending
dan juga diberikan pengaruh suhu diluar kemudian diamati
dan dianalisis bagaimana nilai daya sinyal yang
ditransmisikan pada serat Optik. Hasil yang diperoleh
adalah pengaruh bending terhadap loss untuk singlemode
didapatkan hasil ketika diameter bending 2 cm yang
dilakukan sebanyak 5 kali sehingga nilai losses yang
dihasilkan secara berturut-turut adalah sebesar -20,4 dBm ; -
21,02 dBm ; -24,14 dBm; -26,9 dBm ; -50 dBm. Dari nilai
tersebut membuktikan bahwa semakin kecil diameter
bending menghasilkan losses yang semakin besar.
Ketika serat optik diuji diberikan variasi suhu
sebesar 75, 120, 170C menghasilkan losses secara berturut-
turut sebesar -19,62 dBm ; -19,62 dBm ; -19,64 dBm. Nilai
losses yang dihasilkan tidaklah besar dikarenakan pengaruh
kenaikan suhu tidak mempengaruhi loss daya yang
signifikan.
Pada percobaan terakhir yakni pengaruh suhu
terhadap transmisi loss yang terjadi pada serat optik
multimode dengan diberikan variasi suhu sebesar 75, 120
, 170 yang secara berturut-turut, dan menghasilkan losses
daya sebesar -12,34 dBm, -13,16 dBm, -13,7 dBm. Dimana
pada hasil tersebut loss yang terjadi pada tiap-tiap variasi
tidaklah besar dikarenakan pengaruh kenaikan suhu tidak
mempengaruhi loss daya yang signifikan. Begitu pula
dengan percobaan bending pada serat optik multimode.

Kata kunci : Bending, Pengaruh Suhu, Serat Optik


iii
ABSTRACT

In the lab about Bending and Effect of Temperature on


Optical Fiber intended that students can know the principles
of signal transmission lasers in optical fibers, in which the
optical fiber is given Bending and also given the influence of
the temperature outside is then observed and analyzed how
the value of the signal transmitted on fiber optics. The
results are the effect of bending the loss is obtained when
the bending diameter of 2 cm have a 5 times values
generated losses in a row is equal to -20,4 dBm ; -21,02
dBm ; -24,14 dBm; -26,9 dBm ; -50 dBm. From these
values proves that the smaller the diameter of the bending
generate greater losses. when the optical seerat wound
on a few things. Namely the markers obtained by losses
amounted to 0.268 dBm. the bottle cap Clup obtained losses
amounted to 0.058 dBm. stella resulted in losses
amounting to 0.077 dBm. Value losses is getting smaller for
larger diameter. In the last experiment the effect of
temperature on the transmission loss that occurs in the
optical fiber with a given variation in temperature of 75 C
^ , 120 C ^ , 170 C ^ , respectively, and resulted in
losses of power equal to -12.34 dBm, -13.16 dBm, -13.7
dBm. Where the results of the relationship increment in
temperature rise to losses that occur in each variation is
minimal due to the influence of temperature rise does not
affect any significant power loss. Same as the effect of
bending the loss of multimode optical fiber.

Keyword : Bending, The Effect Of Temperature, Fiber


Optic

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Resmi
Praktikum Teknik Optika ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.
Dalam kesempatan kali ini penyusun mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Bapak Detak Yan Pratama Selaku dosen pengajar mata
kuliah Teknik Optika.
2. Saudara asisten laboratorium yang telah membimbing
dalam pelaksanaan praktikum Akustik.
3. Rekan-rekan kelompok 5 yang telah membantu dalam
pelaksanaan kegiatan praktikum.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam
pembuatan dan penyusunan laporan ini baik dari segi materi
maupun penyajian. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penyusun berharap semoga laporan ini
bermanfaat bagi penyusun sendiri khususnya dan pembaca pada
umumnya.

Surabaya, 08 November 2017

Penyusun

v
DAFTAR ISI
Halaman Judul ................................................................ i
Abstrak ............................................................................. iii
Abstract ............................................................................ iv
Kata Pengantar ............................................................... v
Daftar Isi .......................................................................... vi
Daftar Gambar ................................................................ vii
Daftar Tabel..................................................................... viii
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ............................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................... 2
1.3 Tujuan ......................................................................... 2
Bab II Dasar Teori
2.1 Fiber Optik .................................................................. 3
2.2 Bending ....................................................................... 9
2.3 Total Internal Reflection ............................................. 11
2,4 Jenis-jenis Serat Optik ................................................ 15
Bab III Metodologi
3.1 Alat dan Bahan ............................................................ 20
3.2 Prosedur Percobaan ..................................................... 20
Bab IV Analisa Data
4.1 Analisa Data ................................................................ 23
4.2 Pembahasan ................................................................. 25
BAB V Penutup
5.1 Kesimpulan ................................................................. 33
5.2 Saran............................................................................ 33
DAFTAR PUSTAKA

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur Serat Optik .....................................


Gambar 2.2 Perambatan Cahaya Dalam Serat Optik....... 6
Gambar 2.3 Hukum Snellius............................................ 7
Gambar 2.4 Skema Peristiwa Total Internal Reflection .. 8
Gambar 2.5 Skema Pemantulan Cahaya Serat Optik ...... 12
Gambar 2.6 Serat Optik Singlemode Step Index ............. 14
Gambar 2.7 Serat Optik Multimode Step Index .............. 18
Gambar 2.8 Serat Optik Graded Index ............................ 20
Gambar 3.1 Set Up Eksperimen 1 ................................... 21
Gambar 3.2 Set Up Eksperimen 2 ................................... 22
Gambar 3.3 Skema Percobaan ......................................... 23
Gambar 4.1 Grafik Pengaruh Loss terhadap Bending ..... 23
Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Loss terhadap Suhu .......... 25

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Tabel Pengaruh Bending pada Singlemode ..... 23


Tabel 4.2 Tabel Pengaruh Suhu pada Singlemode ........... 24
Tabel 4.3 Tabel Pengaruh Bending pada Multimode ....... 24
Tabel 4.4 Tabel Pengaruh Suhu pada Multimode ............ 25

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu mengenal laser,
mikroskop, teropong, kacamata, fiber optik, dan lain
sebagainya. Berbagai peralatan tersebut merupakan jenis
peralatan optik yang tentu saja memberikan polesan pada
kehidupan di era modern ini. Berawal dari hanya sepotong
lensa kecil, dapat diterapkembangkan menjadi sebuah
instrumen optik nan canggih, instrument itu dinamakan
sebagai alat optik (Ahmad Imam, 2013).
Dalam aplikasinya, alat optik digunakan dalam banyak
bidang, seperti dalam bidang kedokteran sebagai alat
terapi, dalam bidang penelitian, bahkan dalam bidang
peralatan elektronik seperti komputer, mikrochip dan lain
sebagainya. Alat optik seperti laser juga banyak
dimanfaatkan, seperti sebagai sensor, penginderaan jarak
jauh, juga di bidang kedokteran seperti alat bantu
pembedahan. Dalam perkembangan zaman, kecepatan
transmisi data yang cepat, efektif dan efisien semakin
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, karena
transmisi data dapat membantu mengirim sebuah data
yang mengandung informasi dapat sampai secara akurat ke
penerima transmisi data tersebut. Teknologi yang
mendukung semakin cepat, efektif dan efisien salah
satunya adalah serat optik dimana merupakan aplikasi
dari ilmu optik yang telah ada, yaitu mengenai hukum
snellius.
Oleh karena itu, dalam praktikum P2 kali ini tentang
Bending dan pengaruh suhu pada serat optik akan dibahas
didalam fiber optik pastinya memiliki kehilangan daya
1
yang salah satunya diakibatkan oleh pembelokan pada
fiber optik atau bisa disebut bending. Terjadinya bending
juga bisa dipengaruhi oleh kebutuhan pemasangan dari
serat optik tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang ada pada praktikum P2 kali
ini adalah sebagai berikut
a. Bagaimana pengaruh bending pada daya keluaran
serat optik ?
b. Bagaimana pengaruh suhu pada daya keluaran serat
optik ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum P2 kali ini adalah sebagai
berikut
a. Mengetahui pengaruh lekukan (bending) pada daya
keluaran serat optik.
b. Mengetahui pengaruh suhu pada daya keluaran serat
optik.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Fiber Optik


Fiber optik merupakan saluran transmisi (pemindah
informasi) yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal
cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Fiber Optik
terbuat dari serat kaca dan bentuknya panjang dan tipis
serta berdiameter sebesar rambut manusia. Serat kaca ini
merupakan serat yang dibuat secara khusus yang terbuat
dari bahan kaca murni dan kemudian diproses menjadi
sebentuk gulungan kabel agar dapat digunakan untuk
melewati data yang ingin dikirim atau diterima.
Fiber optik ini terdiri dari beberapa bagian yaitu
Cladding, Core, dan Buffer Coating. Core adalah kaca tipis
yang merupakan bagian inti dari fiber optik dan menjadi
tempat berjalannya cahaya sehingga pengiriman cahaya
dapat dilakukan. Cladding adalah lapisan luar yang
membungkus Core dan memantulkan kembali cahaya yang
terpancar keluar kembali ke dalam Core. Sedangkan Buffer
Coating merupakan lapisan plastik yang melindungi serat
dari kerusakan dan kelembaban.
Terdapat dua jenis fiber optik yang umumnya
digunakan, yaitu Single Mode dan Multi Mode. Kabel
Single Mode mempunyai ukuran Core yang kecil dan dapat
menjangkau jarak yang lebih jauh hingga ratusan kilometer
serta hanya dapat mengirim satu sinyal pada satu waktu
(contoh: telepon dan TV kabel). Sedangkan Multi Mode
memiliki ukuran Core yang lebih besar, dapat mengirim
sinyal yang berbeda pada saat yang bersamaan, namun
hanya mampu menjangkau kurang dari 550 meter. Di dalam

3
sistem komunikasi menggunakan fiber optik, sinyal
informasi yang lalu-lalang di dalamnya adalah berwujud
cahaya karena cahaya relatif lebih kebal terhadap gangguan
dari luar.
Kecepatan transmisi fiber optik sangat tinggi
sehingga sangat bagus digunakan sebagai saluran
komunikasi seperti telepon, TV kabel, atau internet. Fiber
optik juga digunakan untuk keperluan pemotretan medis ,
sensor, dan optik pencitraan. Komunikasi di dunia
tidak akan berkembang demikian cepat tanpa adanya
teknologi yang satu ini. Fiber optik memiliki banyak
kelebihan di antaranya adalah informasi yang ada
ditransmisikan dengan kapasitas (bandwidth) yang besar.
Fiber optik dapat dipergunakan dengan kecepatan yang
tinggi, hingga mencapai beberapa gigabit/detik. Karena
murni terbuat dari kaca dan plastik maka sinyal tidak
terpengaruh pada gelombang elektromagnetik dan frekuensi
radio. Ukurannya kecil dan ringan sehingga sangat
memudahkan pengangkutan dan pemasangan di lokasi.
Fiber optik juga sangat aman dipasang di tempat-tempat
yang mudah terbakar karena tidak akan terjadi hubungan
api pada saat kontak atau terputusnya fiber optik.
Fiber optik memerlukan daya listrik yang relatif tidak
terlalu besar. Karena fiber optik tidak digunakan untuk
melewatkan sinyal-sinyal listrik, maka fiber optik tidak akan
mengalami kepanasan dan penipisan akibat tegangan listrik
yang lewat di dalamnya. Fiber optik bisa ditanam di tanah
jenis apapun atau digantung di daerah manapun tanpa harus
cemas mengalami korosi/berkarat. Komunikasi
menggunakan fiber optik lebih aman karena informasi yang
lewat tidak mudah untuk disadap atau dikacaukan dari luar.
4
Di antara begitu banyak kelebihan yang dimilikinya, fiber
optik juga memiliki kekurangan di antaranya adalah
harganya yang cukup mahal serta fiber optik ini susah untuk
disambung dibandingkan kabel biasa karena metode
penyambungannya yang harus menggunakan teknik dan alat
khusus serta ketelitian yang tinggi.
Serat optik adalah suatu pemandu gelombang
dieletrik yang berbentuk silinder terbuat dari material
low- loss seperti kaca silika (Wiley, 1990). Bagian
utama dari serat optik terdiri dari core dan cladding yang
dilindungi oleh coating. Kedua bagian utama tersebut
memiliki indeks bias yang berbeda.

Gambar 2.1 Struktur Serat Optik


Struktur dasar dari sebuah serat optik yang terdiri dari
3 bagian :
a. Core (inti) : sebuah batang silinder terbuat
dari bahan dielektrik (bahan silika (SiO2),
biasanya diberi doping dengan germanium
oksida (GeO2) atau fosfor penta oksida
(P2O5) untuk menaikan indeks biasnya) yang
tidak menghantarkan listrik, inti ini memiliki
jari-jari, besarnya sekitar 8 200 m dan indeks
bias n1, besarnya sekitar 1,5.
b. Cladding (selimut) : merupakan bagian yang
membungkus core sehingga pulsa-pulsa

5
cahaya yang akan keluar dari core terpantul ke
dalam core kembali sehingga pulsa cahaya
tidak hilang di perjalanan. Cladding
mempunyai diameter yang bervariasi antara 125
m (untuk single mode dan multimode step
index) dan 250 m (untuk multimode
graded index).
c. Coating (jaket) : terbuat dari bahan plastik yang
elastis, berfungsi sebagai pelindung core dan
cladding dari gangguan luar.
Ada 3 jenis perambatan cahaya yang terjadi
pada serat optik, yaitu:

Gambar 2.2 Perambatan Cahaya pada Serat


Optik
1. Sinar merambat lurus sepanjang sumbu serat
tanpa mengalami refleksi atau refraksi.
2. Sinar mengalami refleksi total karena memiliki
sudut datang yang lebih besar dari sudut kritis
dan akan merambat sepanjang serat melalui
pantulan-pantulan.
3. Sinar akan mengalami refraksi dan tidak akan
dirambatkan sepanjang serat karena memiliki
sudut datang yang lebih kecil dari sudut kritis.
Prinsip yang digunakan pada perambatan cahaya pada
serat optik adalah hukum Snellius. Snellius menyatakan
6
bahwa perbandingan sinus antara sudut datang dan
sudut bias sebanding ratio kecepatan cahaya pada dua
media tersebut atau berbanding terbalik dengan
ratio indeks bias dari kedua (Wikipedia)
sin 1 1 2
= 2 = 1........................................................(2.1)
sin 2

Gambar 2.3 Hukum Snellius


Dari hukum snellius didapatkan bahwa jika sebuah
cahaya merambat pada dua medium yang indeks
bias medium asal lebih tinggi dari pada indeks bias
medium tujuannya maka cahaya akan dapat terpantul
sempurna ( Total Internal Reflection). Dari prinsip
cahaya dipandu pada serat optik dengan
memanfaatkan total internal reflection.

2.2 Bending
Suatu serat optik yang memiliki panjang tertentu
dengan memiliki beberapa aspek kerugian nilai yang perlu
diperhitungkan.Salah satu nilai yang diperhitungkan adalah
daya. Nilai rugi daya yang disebabkan dengan

7
membengkokan sepotong pendek serat optik biasanya akan
memiliki bilai yang lebih kecil apabila dibandingkan
dengan serat optik dengan panjang yang nilainya jauh lebih
besar.
Lengkungan tajam tersebut harus dihindarkan guna
memperoleh kinerja serat optik yang optimal.Bending
radius serat optik yang diukur adalah radius paling kecil
ketika serat optik dapat dilengkungkan tanpa membuatnya
kusut, menghancurkannya ataupun memperpendek umur
dari serat optik tersebut. Bending merupakan salah satu
faktor (selain absorbtion, scattering) yang menyebabkan
terjadinya redaman (atenuasi) dalam proses transmisi sinyal
pada serat optik. Redaman serat optik merupakan
karakteristik penting yang harus diperhatikan
mengingat kaitannya dalam menentukan jarak
pengulang (repeater), jenis pemancar dan penerima optik
yang harus digunakan (). Redaman sinyal cahaya yang
merambat di sepanjang serat merupakan pertimbangan
penting dalam desain sebuah sistem komunikasi optik,
karena menentukan peran utama dalam menentukan jarak
transmisi maksimum antara pemancar dan penerima. Ada
dua jenis bending (pembengkokan) yaitu macrobending dan
microbending. Macrobending adalah pembengkokan serat
optik dengan radius yang panjang bila dibandingkan dengan
radius serat optik. Redaman ini dapat diketahui dengan
menganalisis distribusi modal pada serat optik.
Microbending adalah pembengkokan-pembengkokan kecil
pada serat optik akibat ketidakseragaman dalam
pembentukan serat atau akibat adanya tekanan yang tidak
seragam pada saat pengkabelan. Salah satu cara untuk
menguranginya adalah dengan menggunakan jacket
8
yang tahan terhadap tekanan (Wiley, 1990). Redaman
sinyal atau rugi-rugi serat optik didefinisikan sebagai
perbandingan antara daya output optik (Pout) terhadap daya
input optik (Pin) sepanjang serat L, dimana dapat
ditunjukkan pada persamaan 2.2
10
= log /................................................(2.2)

L = Panjang serat optik (km)
Pin = Daya input optik (watt)
Pout = Daya output optik (watt)
= redaman

Menurut rekomendasi ITU-T, kabel serat optik harus


mempunyai koefisien redaman 0.5 dB/km untuk panjang
gelombang 1310 nm dan 0.4 dB/km untuk panjang
gelombang 1550 nm.
Tapi besarnya koefisien ini bukan merupakan nilai
yang mutlak, karena harus mempertimbangkan proses
pabrikasi, desain komposisi serat, dan desain kabel.
Untuk itu terdapat range redaman yang masih diijinkan
yaitu 0.3-0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm
dan 0.17- 0.25 dB/km untuk panjang gelombang 1550 nm.

2.3 Total Internal Reflection


Total internal reflection (TIR) merupakan prinsip
pemanduan cahaya pada serat optik seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.4 (8). Cahaya dapat
ditransmisikan atau dipandu pada serat optik disebabkan
karena berkas cahaya datang dari medium yang
mempunyai indeks bias lebih besar ke medium yang
mempunyai indeks bias lebih kecil. Jika sudut berkas

9
cahaya datang lebih kecil daripada sudut kritis, maka
cahaya akan dibiaskan keluar dari serat optik.

Gambar 2.4 Skema Peristiwa Total Internal Reflection

Sedangkan jika sudut berkas cahaya datang lebih


besar daripada sudut kritis, maka cahaya akan dipantulkan
lagi ke dalam serat optik. Sudut kritis adalah besar
sudut datang yang menghasilkan sudut bias sebesar 90.
Jika dituliskan dalam persamaan matematis, persamaan
sudut kritis dapat diturunkan dari persamaan Snellius
yang mempunyai sudut bias sebesar 90 menjadi
persamaan (2.3)
2
sin = ............................................................(2.3)
1
= sudut kritis
1 = indeks bias medium yang lebih rapat (besar)
2 = indeks bias medium yang lebih renggang (kecil)

TIR hanya terjadi pada berkas cahaya kedua dan


ketiga. Berkas cahaya pertama tidak terjadi TIR disebabkan
karena sudut datangnya lebih kecil daripada sudut kritis.

10
Oleh karena itu berkas cahaya yang dimasukkan ke dalam
core serat optik harus mempunyai sudut maksimal yang
dapat diterima agar menghasilkan sudut kritis yang
minimal. Gambar 2.5 menjelaskan berkas cahaya yang
dimasukkan ke dalam core serat optik yang menghasilkan
sudut kritis agar terjadi pemanduan cahaya pada serat optik.
Nilai o maksimal yang dapat diterima dapat dicari
menggunakan
persamaan (2.4).
sin 0 max = 1 cos = (12 22 )1/2 ...............(2.4)
dimana n adalah indeks bias medium di luar serat optik,
n1 adalah indeks bias core, n2 adalah indeks bias cladding,
o max adalah sudut penerimaan berkas cahaya maksimal
agar terjadi total internal reflection dan c adalah sudut
kritis.

Gambar 2.5 Skema Pemantulan Cahaya pada Serat Optik

Nilai sin o maksimal dapat direpresentasikan


dengan NA (Numerical Aperture), yaitu angka yang
merepresentasikan sudut penerimaan maksimal serat
optik agar terjadi pemanduan cahaya yang sempurna.

11
Nilai NA selalu < 1. Persamaan matematis untuk
mendapatkan NA dapat diturunkan dari persamaan (2.3)
menjadi persamaan (2.5).
= sin 0 = (12 22 )1/2
12.......................................................................(2.5)
dimana adalah perbedaan indeks core-cladding
yang dapat dicari menggunakan persamaan (2.5).
1
=1 ...........................................................(2.6)
2
dimana n1 adalah indeks bias core dan n2 adalah
indeks bias cladding.

2.4 Jenis-Jenis Serat Optik


1. Single mode
serat optik dengan inti (core) yang sangat kecil
(biasanya sekitar 8,3 mikron), diameter intinya
sangat sempit mendekati panjang gelombang sehingga
cahaya yang masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul
ke dinding selongsong (cladding). Bahagian inti serat
optik single- mode terbuat dari bahan kaca silika
(SiO2) dengan sejumlah kecil kaca Germania (GeO2)
untuk meningkatkan indeks biasnya. Untuk
mendapatkan performa yang baik pada kabel ini,
biasanya untuk ukuran selongsongnya adalah sekitar 15
kali dari ukuran inti (sekitar 125 mikron). Kabel untuk
jenis ini paling mahal, tetapi memiliki pelemahan
(kurang dari 0.35dB per kilometer), sehingga
memungkinkan kecepatan yang sangat tinggi dari jarak
yang sangat jauh. Standar terbaru untuk kabel ini
adalah ITU-T G.652D, dan G.657.

12
Gambar 2.6 Serat Optik Singlemode Step Index

2. Multi mode
serat optik dengan diameter core yang agak besar yang
membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di
dinding cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya
bandwidth dari serat optik jenis ini.

Gambar 2.7 Serat Optik Multi


mode Step Index

Serat optik ini pada dasarnya mempunyai diameter core


yang besar (50 200 um) dibandingkan dengan diameter
cladding (125 400 um). Sama halnya dengan serat optik

13
singlemode, pada serat optik ini terjadi perubahan index
bias dengan segera (step index) pada batas antara core dan
cladding. Diameter core yang besar (50 200
um) digunakan untuk menaikkan efisiensi coupling pada
sumber cahaya yang tidak koheren seperti LED.
Karakteristik penampilan serat optik ini sangat bergantung
pada macam material/bahan yang digunakan.
Berdasarkan hasil penelitian, penambahan prosentase
bahan silica pada serat optik ini akan meningkatkan
penampilan (performance). Tetapi jenis serat optik ini
tidak populer karena meskipun kadar silicanya
ditingkatkan, kerugian dispersi sewaktu transmit tetap
besar, sehingga hanya baik digunakan untuk menyalurkan
data atau informasi dengan kecepatan rendah dan jarak
relatif dekat. Dalam multi mode step index mempunyai
kelebihan diantaranya mudah terminasi, kopling efisien
serta tidak mahal sedangkan kerugiannya adalah dispersi
lebar dan mempunyai bandwidth minimum.

3. Multimode Graded Index

14
Gambar 2.8 Serat Optik Graded Index

Pada Graded-index multimode terdapat lapisan pada inti


kacanya sehingga index sinar yang merambat tidak
menabrak lapisan cladding. Sinar yang masuk dalam
inti tidak dipantulkan sepanjang melewati inti tersebut.
Cahaya merambat lurus membentuk envelope dengan
kombinasi interval biasa. Kecepatan perambatannya
ditentukan oleh kerapatan index n1. Jenis serat optik ini
sangat ideal untuk menyalurkan informasi pada jarak
menengah dengan menggunakan sumber cahaya LED
maupun LASER, disamping juga penyambunganya
yang relatif mudah.

15
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan


Adapun pada percobaan ini alat dan bahan yang
digunakan sebagai berikut
1. Laser
2. Serat optik multimode
3. Serat optik singlemode
4. Penggaris
5. Optical Power Meter (OPM) Thorlabs

3.2 Prosedur Percobaan


Adapun prosedur percobaan dibagi menjadi dua yaitu
bending serat optik dan pengaruh suhu pada serat optik
sebagai berikut
3.2.1 Bending

Gambar 3.1 Set Up Eksperimen 1 Modul 2

1. Peralatan dirancang seperti pada gambar 3.1


2. Dilakukan pengukuran pada daya cahaya LASER
yang keluar dari serat optic sebelum diberi gangguan
(berupa bending) menggunakan OPM.
3. Serat optik diberikan gangguan berupa bending
dengan kelengkungan diameter 2cm, dan diukur
daya cahayanya menggunakan OPM.
16
4. Dilakukan variasi kelengkungan diameter serat
optic 2cm dengan 5 lilitan secara bertahap dan
diukur daya cahayanya mengunakan OPM.
5. Dilakukan perbandingan data antara hasil
keluaran cahaya laser terhadap jari-jari bending
yang diberikan menggunakan grafik.

Gambar 3.2 Set Up Eksperimen 2 Modul 2


6. Serat optik dililitkan pada silinder seperti gambar
3.2 dan diukur daya cahayanya menggunakan OPM
(variasi jumlah lilitan sesuai arahan asisten).
7. Dilakukan perbandingan data antara hasil
keluaran cahaya laser terhadap jumlah lilitan serat
optik menggunakan grafik.
3.2.2 Suhu

Gambar 3.3 Skema Percobaan


1. Peralatan disusun seperti pada gambar 3.3.
2. Suhu pada magnetic stitrrer diatur pada suhu 75C.
3. Salah satu bagian serat optik diletakkan pada plat
magnetic stirrer (tidak menempel) dan

17
diujung lainnya dihubungkan dengan Optical Power
Meter.
4. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali pada
masing- masing suhu dan dicatat dayanya yang
dihasilkan oleh Optical Power Meter.
5. Langkah 3-5 diulangi dengan suhu 120C dan
170C.
6. Grafik hubungan dibuat antara daya yang
dihasilkan akibat perubahan suhu yang dilakukan.
7. Hasil percobaan tersebut dianalisa

18
BAB IV
ANALISA DATA

4.1 Analisa Data


Pada praktikum berikut ini dilakukan penngamatan
loss serat optik terhadap bending dan perubahan suhu yang
terdapat pada serat optik. Dari data pengukuran yang
dilakukan maka didapatkan loss dari bending serat optik
adalah sebagai berikut :
a. Singlemode

Loss Bending
0
0 2 4 6 8 10 12
-10
Pout (dBm)

-20
-30
-40
-50
-60
Bending (cm)

Gambar 4.1 Grafik Loss terhadap Bending

Tabel 4.1 Tabel Pengaruh Bending


Bending Pout
(cm) (dBm)
2 -20,4
4 -21,02
6 -24,14
8 -26,9
10 -50

19
Selain itu dilakukan juga pengukuran loss terhadap suhu
pada singlemode didapatkan hasil sebagai berikut

Loss Suhu
-19.615
0 50 100 150 200
-19.62
Pout (dBm)

-19.625
-19.63
-19.635
-19.64
-19.645
Suhu (C)

Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Loss terhadap Suhu

Tabel 4.2 Tabel Pengaruh Suhu


Pout
Suhu (C) (dBm)
75 -19,62
120 -19,62
170 -19,64

b. Multimode

20
Loss Bending
-14
Pout (dBm) -14.5 0 2 4 6 8 10 12

-15
-15.5
-16
-16.5
-17
Bending (cm)

Gambar 4.3 Grafik Loss terhadap Bending

Tabel 4.2 Tabel Loss


Bending Pout terhadap Bending
(cm) (dBm)
2 -14,26
4 -14,52
6 -14,6
8 -15,7
10 -16,6

Loss Suhu
-12
0 50 100 150 200
-12.5
Pout (dBm)

-13

-13.5

-14
Suhu (C)
21
Gambar 4.4 Grafik Pengaruh Loss terhadap Suhu

Tabel 4.4 Tabel Pengaruh Suhu


Suhu P out
(C) (dBm)
70 -12,34
120 -13,16
150 -13,58
170 -13,7

4.2 Pembahasan
Praktikum Teknik Optik kali ini adalah
tentang Bending dan pengaruh suhu pada serat optik yang
bertujuan untuk mengetahui bagaimana prinsip dari
transmisi pada serat optik dan juga mengetahui transmisi
optik ketika diberikan bending dan ketika diberikan
pengaruh suhu pada serat optik. Percobaan kali ini
menggunakan 2 jenis serat optik yakni singlemode dan
multimode.
Pada serat optik single mode dilakukan percobaan
pengaruh bending dan pengaruh suhu. Dimana pada
percobaan bending dilakukan percobaan sebanyak 5 kali
dengan diameter bending setiap percobaan 2 cm.
Didapatkan hasil secara berturut-turut -20,40 ; -21,04 ; -
24,14 ; -26,9 ; -50 dBm. Dari nilai tersebut membuktikan
bahwa semakin banyak bending maka losses yang
dihasilkan juga semakin besar. Pada percobaan pengaruh
suhu dilakukan 3 kali percobaan dengan variasi suhu
sebesar 70, 120, 150C. Didapatkan hasil secara berturut-
turut -19,62 ; -19,62 ; -19,64 dBm. Dimana hasil tersebut
menunjukkan bahwa semakin besar suhu maka losses yang
dihasilkan tidak terlalu signifikan.

22
Sedangkan pada serat optik multimode dihasilkan
data sebagai berikut untuk percobaan bending -14,26 ; -
14,52 ; -14,6 ; -15,7 ; -16,6 dBm. Hasilnya pun hampir
sama dengan singlemode yakni semakin banyak bending
maka losses yang dihasilkan pun semakin besar. Untuk
percobaan suhu dihasilkan sebagai berikut -12,34 ; -13,16 ;
-13,58 dBm. Dimana hasil tersebut hubungan selisih nilai
kenaikan suhu terhadap loss yang terjadi pada tiap-tiap
variasi tidaklah besar dikarenakan pengaruh kenaikan
suhu tidak mempengaruhi loss daya yang signifikan.

23
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum kali ini tentang pengaruh bending dan
suhu dapat diambil kesimpulan yaitu
a. Semakin banyak bending, maka semakin besar
losses yang dihasilkan.
b. Daya keluaran dari serat optik tidak terpengaruh
oleh tingkat temperatur disekitar serat optik
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan sebagai berikut
Sebaiknya praktikum ini dilakukan dengan
menggunakan fiber optik yang baru sehingga loss yang
dihasilkan tidak terlalu besar akibat sering digunakannya
fiber optik untuk keperluan praktikum lainnya.

24
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Modul Percobaan P-3 Desain Optik Surabaya.
Laboratorium Fotonika JTF-FTI-ITS Chapter II, Serat
optik.
Universitas Sumatera Utara.
(repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf,
diakses 24 Oktober 2014)
Roychoudhuri, Chandrasekhar.Fundamental of Photonics.
USA : SPIE Press. 2008.
Ahmad,Imam. Sistem Transmisi Serat Optik
(http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?view=article&ca
tid=11
%3Asistem-komunikasi &id=681%3Asistem-
transmisi-serat- optik&option=com_content&
Itemid=14, diakses 10 Oktober
2013)
Smith,Graham.Optiks and Photonics:An Introduction.
USA:John Wiley & Sons, Ltd. 2007
Wiley, John. 1990, Principles Of Optical Engineering.
Departement of Electrical Enginering The
Pennslyvania
University, New York.
Saleh, Bahaa E., Teich, Malvin Carl, Fundamental Of
Photonics. New York : John Wiley & Sons, Inc.
1991
Hukum Snellius.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Snellius, diakses
30
Oktober 2013)
Keiser, Gerd. 2000. Optical Fiber Communications Third
Edition. New York : McGraw-Hill

25

Anda mungkin juga menyukai