Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PAPER

TENTANG LIGHT RAIL TRANSIT (LRT)


MATA KULIAH UNDANG-UNDANG PERKERETAAPIAN

DISUSUN OLEH:

NAMA : SEPTIAN SENO AJI


NO. TAR : 12.01.053
KELAS : 3B

DOSEN PEMBIMBING:
Bp. Sahar Andhika P.MH

JURUSAN TRANSPORTASI DARAT


SEKOLAH TINGGI TRANSPORTASI DARAT
2014
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Transportasi pada hakekatnya adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
pergerakan atau perpindahan seseorang atau suatu barang dari satu tempat ke tempat lain
untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Transportasi memiliki peranan penting dan strategi
mencapai tujuan-tujuan diantaranya adalah dalam pembangunan nasional, mengingat
transportasi merupakan sarana untuk memperlancar roda perekonomian, memperkokoh
persatuan dan kesatuan serta mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Oleh karena
itu dalam memenuhi kebutuhan dan tujuan diatas oleh karena itu dibutuhkan sarana dan
prasarana yang baik dan mumpuni supaya maksud diatas dapat terselenggara dengan baik.
Semakin tingginya kebutuhan masyarakat akan pergerakan dan perpindahan
barang harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan yang tepat dengan menyediakan
strategi, perencanaan dan manajemen dari berbagai aspek transportasi seperti sarana dan
prasarana yang secara real dapat secara langsung melayani masyarakat. Banyak strategi
yang telah diusahakan dan diterapkan pemerintah untuk mengatasi kebutuhan akan
transportasi. Beberapa diantaranya adalah MRT, BRT, ERP, LRT, Toll, E-Parkir, dan lainnya.
namun secara khusus pada era ini, yang mana masyarakat tak hanya sekedar memerlukan
penyediaan sarana prasarana transportasi massal saja, namun berkaitan dengan kualitas
dari sarana prasarana tersebut. Kualitas yang dimaksud di sini yaitu bagaimana sarana -
prasarana tersebut tak hanya mengantarkan penumpang pada tempat tujuannya tapi dilihat
juga dari waktu perjalanan dan kenyamanan yang dirasakan penumpang (efisien dan
efektif) dalam melakukan pergerakan.
Salah satu sarana yang dapat dipertimbangkan dalam pemenuhan kebutuhan akan
transportasi masyarakat dilihat dari segi kualitas perjalanannya adalah Light Rail Transit
(LRT). LRT adalah salah satu sarana transportasi massal yang berbasis rel dalam melakukan
pergerakan dan mengangkut penumpang/barang. Sarana LRT ini banyak diterapkan di
berbagai negara di dunia, karena dianggap sebagai salah satu sarana yang baik untuk
memenuhi pergerakan massal di tiap negara tersebut. Di Indonesia sendiri, pemerintah
khususnya Kementrian Perhubungan Republik Indonesia, sedang gencar untuk
merencanakan pembangunan LRT sebagai sarana transportasi massal yang diharapkan
dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas di berbagai aspek (perhubungan, tata kota,
perekonomian, dan aspek lainnya) khususnya di ibukota negara, yaitu Jakarta.
Oleh karena itu, berdasarkan hal-hal tersebut di atas perlu adanya perhatian khusus
dari pemerintah baik pusat maupun pemerintah daerah yang bersangkutan dalam upaya
penyelenggaraan LRT nantinya, yang berkaitan dengan segala sesuatu tentang LRT, yaitu
definisi, manfaat, system operasi dan lain sebagainya. Perlu juga pembahasan mengenai
sarana LRT ini untuk menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai sarana yang
direncanakan akan dibangun di negara kita ini, di Indonesia nantinya.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa itu Light Rail Transit (LRT)?
b) Bagaimanakah gambaran umum fasilitas tersebut?
c) Adakah Peraturan / Perundang-undangan yang mengatur tentang LRT?
d) Permasalahan yang ditemui dalam rencana atau pelaksanaan pembangunan LRT?
e) Bagaimanakah contoh penerapan LRT di Berbagai negara?
1.3 Maksud
Maksud dilaksanakannya penulisan makalah ini adalah selain untuk memenuhi
tugas mata kuliah undang-undang Perkeretaapian, juga untuk menambah pengetahuan dan
pemahaman tentang fasilitas transportasi, khususnya Light Rail Transit (LRT) yang
direncanakan akan dibangun di Jakarta. Diharapkan juga pembaca dapat mengetahui
peraturan yang berkaitan dengan LRT. Selain itu, dengan adanya makalah ini semoga dapat
memberikan informasi tambahan kepada pembaca yang tertarik terhadap fasilitas LRT pada
khususnya dan dapat dijadikan pertimbangan dan referansi dalam perencanaan dan
pembangunan fasilitas tersebut.

1.4 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya penulisan makalah ini antara lain:
1. Memenuhi tugas mata kuliah undang-undang Perkeretaapian
2. Mengetahui gambaran umum tentang fasilitas Light Rail Transit (LRT)
3. Mengetahui Peraturan yang berkaitan dengan Light Rail Transit (LRT)
4. Menjadi pertimbangan atau referensi dalam perencanaan dan pembangunan fasilitas Light
Rail Transit (LRT)

1.5 Pembatasan Masalah


Pada penulisan makalah ini, pembatasan masalah hanya gambaran, dan
implementasi dasar hukum yang berlaku dalam penyelenggaraan Light Rail Transit (LRT).

1.6 Sistematika Penulisan


Makalah ini dibagi menjadi tiga bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang penulisan makalah, rumusan masalah, maksud, tujuan,
pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.
Bab II Pembahasan
Berisi gambaran umum, dan implementasi dari dasar hukum yang ada dalam
penyelenggaraan Light Rail Transit (LRT), foto LRT di berbagai daerah di dunia
Bab III Penutup
Berisi mengenai kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini dan saran-saran.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI DAN SEJARAH LIGHT RAIL TRANSIT

Kereta api ringan dikenal juga sebagai LRT sebagai singkatan Light Rail
Transit adalah salah satu sistem Kereta Api Penumpang yang beroperasi dikawasan
perkotaan yang konstruksinya ringan dan bisa berjalan bersama lalu lintas lain atau dalam
lintasan khusus, disebut juga tram. Kereta api ringan banyak digunakan
diberbagai negara di Eropa dan telah mengalami modernisasi, antara lain dengan
otomatisasi, sehingga dapat dioperasikan tanpa masinis, bisa beroperasi pada lintasan
khusus, penggunaan lantai yang rendah (sekitar 30 cm) yang disebut sebagai Low floor
LRT untuk mempermudah naik turun penumpang.

Angkutan kereta api ringan (LRT) adalah bentuk rel dialiri listrik yang telah
dikembangkan secara bertahap dari trem untuk sistem angkutan cepat yang sebagian
dioperasikan pada jalurnya sendiri. Trem merupakan kereta yang memiliki rel khusus di
dalam kota, dengan Trem yang berselang waktu 5-10 menit berangkat, merupakan solusi
untuk kemacetan. Rangkaian trem umumnya satu set (terdiri atas dua kereta) agar tidak
terlalu panjang. Disebut Light Rail karena memakai kereta ringan sekitar 20 ton seperti bus,
tidak seberat kereta api yang 40 ton. Letak rel berbaur dengan lalu-lintas kota, atau terpisah
seperti bus-way, bahkan bisa pula layang (elevated) atau sub-way, hanya untuk sebagian
lintasan saja.

Light Rail Transit diciptakan pada tahun 1972 oleh U.S. Urban Mass Transportation
Administration (UMTA, pendahulu Federal Transit Administration) untuk menggambarkan
transformasi streetcar baru yang ada di Eropa dan Amerika Serikat. Transportasi Research
Board (Transportation systems Center) menetapkan "light rail" pada tahun 1977 sebagai
"moda transportasi perkotaan yang memanfaatkan sebagian besar jalur yang disediakan
tapi tidak selalu dipisahkan dari jalan. dengan listrik mendorong kendaraan di atas rel
beroperasi secara tunggal atau dengan kereta. LRT menyediakan berbagai kemampuan
penumpang dan karakteristik kinerja pada biaya menengah."

Tram atau kereta api ringan ( sekarang LRT) pernah dikembangkan di Indonesia
pada zaman pendudukan Kolonial Belanda beroperasi di beberapa kota di Indonesia seperti
di Jakarta dan Surabaya dan dihilangkan pada tahun 1960an, karena pada waktu itu tidak
dirawat dengan baik sehingga dianggap mengganggu lalu lintas karena sering mogok.

Light Rail Transit (LRT) adalah salah satu jenis urban passenger transportation yang
beroperasi di permukaan jalan baik memiliki jalur khusus maupun memakai jalur umum. LRT
merupakan bagian dari Mass Rapid Transit (MRT) dengan cakupan wilayah yang lebih kecil
dan bentuk armada yang lebih kompak dan ringan. LRT sudah banyak diterapkan di negara-
negara di dunia, di Asia Tenggara sendiri terdapat di Filipina dan Singapura. LRT di
Singapura termasuk dari bagian Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) dan mencakup di
beberapa wilayah Singapura.
2.2 GAMBARAN UMUM TENTANG LIGHT RAIL TRANSIT (LRT)

2.2.1 TIPE KERETA API RINGAN


Kereta api ringan di jalan
Disebut juga LRT I, beroperasi di jalan bersama dengan lalu lintas kendaraan, tipe ini
membutuhkan percepatan dan perlambatan mendekati
performansi kendaraanbermotor. Kapasitas sekitar 10 000 sampai dengan
30.000 penumpang jam. Kecepatan perjalanan sekitar 15 sampai 20 km/jam.
Kereta api ringan di jalur eksklusif
Disebut juga LRT II beroperasi pada lintasan eksklusif, sehingga mempunyai
keunggulan daya angkut yang lebih besar antara 25 000 sampai 40.000 penumpang per
jam, kecepatan perjalanan sekitar 25 sampai 35 km/jam.

2.2.2 TRACK GAUGE

Secara historis, Track Gauge telah memiliki variasi yang cukup banyak, dengan
Norrow gauge umumnya di banyak sistem yang lama. Namun, sebagian besar sistem kereta
ringan sekarang berukuran standar. Lama kendaraan standar-gauge tidak bisa bertoleransi
dengan tikungan tajam dan sempit dengan mudah, tetapi sistem kereta ringan yang modern
dapat mencapai putaran jari-jari dengan lebih baik. Keuntungan dari Track gauge adalah
bahwa pemeliharaan peralatan kereta api standar dapat digunakan di atasnya, daripada
mesin custom-built. Menggunakan ukuran standar juga memungkinkan kendaraan light rail
dipindahkan, mudah menggunakan trek yang sama dengan kereta api barang. Faktor lain
yang mendukung track gauge adalah bahwa undang-undang aksesibilitas mewajibkan lantai
trem rendah, dan umumnya ada cukup ruang untuk kursi roda untuk bergerak antara roda
dalam tata letak sempit.

2.2.3 PERBANDINGAN DENGAN MODE KERETA API ANGKUTAN LAINNYA.

Dengan perpaduan yang baik antara jenis dan teknologi kontrol kereta api, LRT
menawarkan jangkauan ruang gerak terluas dari setiap sistem kereta api dalam desain,
rekayasa, dan praktek operasinya. Tantangan dalam merancang sistem kereta ringan
adalah untuk mewujudkan potensi LRT dalam memberikan kecepatan, kenyamanan layanan
sambil menghindari kecenderungan namun menghindari desain yang berlebihan yang tidak
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Alternatif Perbedaan

Light Rail Vehicles (LRVs) dibedakan dari Rapid Rail Transit (RRT)
perbedaan kendaraan ketika beroperasi dalam lalu lintas
Rapid transit campuran, umumnya menghasilkan mobil tubuh sempit dan
artikulasi dalam rangka untuk beroperasi di lingkungan lalu lintas
(Angkutan Cepat) jalan. Dengan ukuran besar, radius putar besar, dan seringkali
merupakan rel ketiga listrik, kendaraan RRT tidak dapat
beroperasi di jalan. Karena sistem LRT dapat beroperasi di jalan-
jalan yang ada, itu menghindari biaya mahal dari tingkat yang
terpisah oleh kereta bawah tanah dan segmen tinggi yang akan
diperlukan pada RRT.

Sebaliknya, LRVs umumnya mengungguli trem listrik tradisional


dalam hal kapasitas dan kecepatan top-end, dan hampir semua
Streetcars or Trams
LRVs modern mampu beroperasi beberapa unti. Generasi terbaru
dari LRVs jauh lebih besar dan lebih cepat, biasanya 29 meter (95
(Trem listrik atau Trem)
kaki) panjang dengan kecepatan maksimum sekitar 105 kilometer
per jam (65 mph).

Pertimbangan banyak dilakukan oleh banyak kota dalam


menggunakan mobil bersejarah atau replika pada sistem trem
Heritage streetcars
listrik mereka bukan LRVs modern. Sebuah trem listrik warisan
mungkin tidak memiliki kapasitas dan kecepatan seperti LRV,
(trem listrik peninggalan)
tetapi akan menambah suasana dan karakter bersejarah dari
lokasi.

Sebuah turunan dari LRT adalah light rail rapid transit (LRRT),
juga disebut sebagai Metro Light. Kereta api tersebut ditandai
dengan hak eksklusif dari jalan, sistem kontrol kereta canggih,
dan kemampuan headway pendek . Sistem ini melakukan
Light metro
pendekatan pada kepenuhan kapasitas penumpang, tetapi bisa
lebih murah untuk membangun karena LRVs umumnya ukurannya
lebih kecil, daripada kendaraan RRT standar Light metro memiliki
stasiun dengan ukuran lebih kecil.

Istilah antarkota (Jerman berland (Strassen) bahn) terutama


mengacu pada mobil rel yang berjalan melalui jalan-jalan seperti
trem listrik biasa (trem), tetapi juga antar kota atau kota,
Interurbans seringkali melalui lingkungan pedesaan. Pada periode 1900-1930,
interurbans yang sangat umum di Amerika Serikat, terutama di
(antarkota) Midwest. Beberapa dari mereka, seperti The Red Devils, Bullets JG
Brill, dan Electroliners, adalah railcars kecepatan tinggi dari waktu
mereka, dengan kecepatan in-service sampai sekitar 145km / h
(90 mph).
2.2.4 ROLLING STOCK KHAS

BART railcar pada grafik berikut umumnya tidak dianggap sebagai "light rail" kendaraan
(sebenarnya merupakan kendaraan rel berat), dan hanya disertakan untuk tujuan
perbandingan.

Tipe
Tram / Heritage
Rapid Transit Light Rail
Streetcar Streetcar

pabrikan
Gomaco Trolley
Rohr Siemens Skoda
Co.

Model
BART A-Car S70 10T Replica Birney

lebar
3.2 metres 2.6 metres 2.62 metres
2.7 metres (8.9 ft)
(10 ft) (8.53 ft) (8.6 ft)

panjang
22.9 metres 27.7 metres (91 ft) 20.13 metres 15.16 metres
(75 ft) (articulated) (66.0 ft) (49.7 ft)

kapasitas
150 max 220 max 157 max 88 max

Kecepatan
Maksimum 125 kilometres
106 kilometres per 70 kilometres per 48 kilometres per
perhour
hour (66 mph) hour (43 mph) hour (30 mph)
(78 mph)

tipikal Terdiri
810 vehicles 25 vehicles 1 vehicle 1 vehicle

2.2.5 OPERASI KERETA API

Salah satu faktor penting penting untuk LRT adalah operator kereta api. Tidak seperti kereta
api rapid transit, yang dapat melakukan perjalanan tanpa pengawasan di bawah Automatic
Train Operation(ATO), keamanan, operasi LRT berkualitas tinggi bergantung pada operator
manusia sebagai elemen utamanya. Alasan bahwa operator begitu penting adalah karena rel
kereta api sering berbagi jalur dengan mobil, kendaraan lain, dan pejalan kaki. Jika kereta
sedang di jalan, tak seorang pun akan berada di sana untuk menghentikan kereta tersebut,
karena diprioritaskan. LRT yang sebenarnya sangat kokoh dibangun untuk keselamatan
penumpang, dan untuk mengurangi kerusakan dari dampak tubrukan dengan mobil atau
kendaraan lain.
2.2.6 KETINGGIAN LANTAI

Generasi terbaru dari LRVs memiliki keuntungan dari sebagian atau sepenuhnya
desain lantai rendah, dengan lantai kendaraan hanya 300-360 mm (11,8-14,2 di) atas
puncak rel, sebuah fitur yang tidak ditemukan di salah satu transit cepat rel kendaraan atau
trem. Hal ini memungkinkan mereka untuk memuat penumpang, termasuk di kursi roda
atau kereta bayi, langsung dari platform low-rise yang sedikit lebih dari trotoar. Ini
memenuhi persyaratan untuk menyediakan akses ke penumpang cacat tanpa menggunakan
hal yang mahal dan setinggan lift kursi roda, sementara juga membuat perjalanan lebih
cepat dan lebih mudah bagi penumpang lainnya.

2.2.7 SUMBER DAYA

Saluran udara memasok listrik ke sebagian besar sistem kereta ringan. Hal ini untuk
menghindari bahaya penumpang menginjak rel ketiga listrik (third rail). The Docklands Light
Railway menggunakan rel ketiga terbalik untuk daya listrik, yang memungkinkan rel listrik
yang akan dibahas dan tenaga yang ditarik dari bawah. Trem di Bordeaux, Prancis,
menggunakan konfigurasi ketiga rel khusus di mana kekuasaan hanya diaktifkan di bawah
trem, sehingga aman di jalan-jalan kota. Beberapa sistem di Eropa dan beberapa sistem
baru dibuka di Amerika Utara menggunakan kereta diesel.

2.2.8 KAPASITAS DIBANDINGKAN DENGAN JALAN

Tabel di bawah ini menggambarkan kapasitas kereta rel ringan (Siemens S70) dibandingkan
dengan mobil standar dengan lima kursi. Panjang rata-rata mobil lima kursi standar adalah
sekitar 4.74 meter. Panjang Siemens S70 kereta ringan kendaraan adalah 27,7 meter, kira-
kira sama panjangnya 5,8 mobil. Hunian maksimum mobil adalah lima orang. Kapasitas
maksimum dari Siemens S70 adalah 220 orang. Ini berarti bahwa satu meter di dalam mobil
memiliki kapasitas satu orang dan satu meter di kendaraan rel ringan memiliki kapasitas
hampir delapan orang, sehingga kapasitas rel ringan adalah sekitar delapan kali lebih tinggi
dari mobil, jika hanya panjang kendaraan yang dipertimbangkan. Lebar rata-rata sebuah
mobil adalah sekitar 1,77 meter, sedangkan lebar rata-rata Siemens S70 adalah sekitar 2,7
meter. Luas mobil adalah sekitar 8,4 m, sementara wilayah diambil oleh mobil kereta
ringan sekitar 74.8m. Dalam mobil, setiap meter persegi memiliki ruang untuk hanya 0,6
orang, sedangkan setiap meter persegi di dalam mobil light rail memiliki ruang untuk 2,9
orang. Ini berarti bahwa kereta ringan secara signifikan kapasitasnya lebih efektif daripada
mobil. Tinggi tidak dipertimbangkan, karena tak ada peraturan minimum ketika melalui
under pass.
Maksimum
Panjang Lebar Area Orang per meter persegi
Penumpang

Car 4.74 m 1.77 m 8.4 m 5 0.6

Siemens S70 27.7 m 2.7 m 74.8 m 220 2.9

Sementara tabel di atas membandingkan kapasitas maksimum setiap mode, penggunaan


rata-rata jalur mungkin sangat berbeda, berdasarkan pada sejumlah faktor. Satu baris light
rail memiliki kapasitas teoritis hingga 8 kali lebih dari satu lajur jalan bebas hambatan (tidak
termasuk bus). Jalan memiliki batas kapasitas utama yang dapat ditentukan oleh rekayasa
lalu lintas. Ketika mengalami kemacetan lalu lintas itu disebabkan jika mereka lebih dari
sekitar 2.000 kendaraan per jam per lajur (setiap mobil sekitar dua detik di belakang yang
lain). Karena kebanyakan orang yang mengendarai untuk bekerja atau di perjalanan bisnis
melakukannya sendirian, studi menunjukkan bahwa rata-rata mobil hunian di banyak jalan
membawa penumpang hanya sekitar 1,2 orang per mobil selama permintaan tinggi jam
periode sibuk per hari.

Kendaraan LRT dapat membawa penumpang 20.000 orang per jam. LRT dapat dijalankan
melalui jalan-jalan kota yang ada dan taman, atau ditempatkan di median jalan. Jika
berjalan di jalan-jalan, kereta api biasanya dibatasi oleh panjang blok kota sekitar empat
kendaraan 180-penumpang (720 penumpang). Beroperasi pada dua menit headways
menggunakan perkembangan sinyal lalu lintas, yang dirancang dengan baik sistem dua jalur
dapat menangani hingga 30 kereta per jam per track, mencapai tingkat puncak lebih dari
20.000 penumpang per jam di setiap arah.

Mobil +
Mobil Mobil + Light Rail
Bus

Volume rendah 900 1,650 2,250

Volume menengah 900 2,350 3,250

Volume tinggi 900 3,400 4,600

(Edson & Tennyson, 2003)


2.2.9 KEAMANAN

Penelitian berbasis di AS pada keselamatan lalu lintas menunjukkan bahwa angkutan umum
lebih aman daripada kendaraan bermotor pribadi dan bahwa sistem transportasi yang
memiliki infrastruktur sendiri lebih aman daripada mereka yang tidak.

kereta api penumpang Daerah atau Regional passenger rail (RPR) adalah cara paling aman
untuk bepergian. Tingkat korban (rata-rata jumlah cedera dan kematian per miliar mil
penumpang) sedikit lebih dari seperempat tingkat untuk kendaraan bermotor.

Rail rapid transit (RRT) agak lebih aman daripada LRT. RRT hampir dua kali lebih aman
seperti kendaraan bermotor, dan LRT satu setengah kali lebih aman daripada kendaraan
bermotor.

Bus adalah bentuk yang aman setidaknya angkutan umum. Bus menggunakan
infrastruktur yang sama seperti kendaraan bermotor, dan karena itu berpotensi kemacetan
lalu lintas dan kecelakaan di jalan.

kendaraan bermotor pribadi adalah bentuk paling berbahaya dari perjalanan di kelas
bermotor, dengan sepeda motor yang paling berbahaya dari semua.

Ada alasan mengapa angkutan umum lebih aman daripada kendaraan pribadi. Salah
satunya adalah bahwa sejak kapasitas angkutan umum lebih tinggi dibandingkan kendaraan
pribadi, penggunaan angkutan umum dapat mengurangi jumlah kendaraan yang berada di
jalan, pada selanjutnya dapat mengurangi potensi kecelakaan.

2.2.10 KEUNGGULAN PENGGUNAAN LRT

Atau lengkapnya Trem Kota merupakan alternatif dalam menanggulangi kemacetan kota.
Kendaraan ini biasanya hanya terdiri atas satu set (dua gerbong), karena harus
menyesuaikan dengan keadaan lingkungan jalan kota yang tidak boleh terlalu panjang,
karena berbaur dengan lalu lintas kota lainnya. Namun bisa saja dua set atau 4 kereta (HRT
- Heavy Rail Transit - satu set adalah 4 kereta).
Berbagai keunggulan LRT adalah:

Dengan kendaraan ringan dan dapat dibuat oleh parik karoseri bus
tidak ada emisi di jalan
lebih aman daripada perjalanan mobil
kali perjalanan singkat
Menghindari kemacetan lalu lintas - melalui segregasi dan prioritas
Halus - tidak ada gerakan kekerasan vertikal, lateral, atau belakang / ke depan
nyaman
Kapasitas tinggi memuat kapasitas tinggi
Serbaguna - dapat berjalan pada kecepatan tinggi di jalan terpisah dan dapat
menembus jalan sempit
Adaptable - dapat mengatasi gradien curam dan tikungan tajam
Penawaran "perjalanan mulus" interchange dari / ke layanan feeder dan ke dan dari
layanan kereta api
Tingkat Penawaran boarding dengan akses mudah untuk semua orang, termasuk
pengguna kursi roda
Penawaran melalui ticketing dan teratur penggunaannya
Dapat berbaur dengan lalu-lintas kota
Dapat berbelok dengan radius kecil atau tajam (sekitar 15 meter, sehingga dapat
menyelusuri bangunan tua pusat kota, sedangkan HRT minimum dengan radius 150
meter)
Dapat naik dengan elevasi hingga 12%, sedangkan HRT maxiumum 1%. Oleh sebab itu
stasiun LRT sering berada di atas jembatan layang.
Biaya pembangunan dan operasi sangat murah dibandingkan dengan HRT
Tipe 1: Berbaur dengan lalu-lintas kota dan panjang satu set (2 kereta); Tipe
2: Dengan berbagai lintasan (surface, elevated, dan sub-way) dan panjang dua set (4
kereta); Tipe 3: Seperti HRT dengan lintasan khusus terpisah berikut sinyalnya, dan
panjang 2 set hingga 4 set (bisa 4 hingga 8 kereta).
Namun LRT mampu mengangkut 80.000 penumpang per jam, bandingkan dengan HRT
140.000 penumpang per jam, monorel 40.000 penumpang per jam, sedangkan busway
hanya 25.000 penumpang per jam.

2.3 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG LIGHT RAIL TRANSIT


(LRT) DI INDONESIA

Light Rail Transit sebagai angkutan massal yang masih dalam tahap perencanaan dan
pembangunan di Indonesia, dalam pelaksanaannya berpedoman pada peraturan
perundangan yang ada. Namun belum ada peraturan yang mengatur khusus tentang
pelaksanaan dan pedoman dalam penyelenggaraan LRT, hanya saja ada beberapa
peraturan yang dijadikan pedoman dalam proses perencanaan dan pembangunannya,
antara lain:

Keputusan gubernur propinsi daerah khusus ibukota jakarta nomor 84 tahun


2004 tentang penetapan pola transportasi makro di propinsi daerah khusus
ibukota Jakarta.
dalam pasal 3 Bab III disebutkan bahwasanya akan ada penambahan jaringan jalan
Primer, Bus Priority, Light Rail Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT) untuk
meningkatkan pelayanan dan penyediaan jasa transportasi yang terpadu, tertib, lancar,
aman, nyaman dan efisien. Tujuan penetapan Pola Transportasi Makro adalah untuk
menetapkan Rencana Induk Sistem Jaringan Transportasi di Propinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta.

PERDA DKI Jakarta , tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2030,
Pasal 21 ayat 3, menybutkan bahwasanya pengembangan jaringan angkutan massal
berbasis rel meliputi jaringan Mass Rapid Transit (MRT), jaringan Light Rail Transit
(LRT), jaringan Kereta Lingkar Dalam Kota, jaringan Kereta Komuter Jabodetabek,
jaringan Kereta menuju Bandara, jaringan lainnya.

RENCANA STRATEGIS DINAS PERHUBUNGAN DKI JAKARTA 2013-2017,


Yang isinya tentang mewujudkan arahan pembangunan di bidang transportasi sesuai
arahan RTRW DKI Jakarta tahun 2010 (saat ini telah terdapat draft RTRW DKI Jakarta
tahun 2030). Terdapat tiga pilar utama yang direkomendasikan PTM untuk mengatasi
masalah transportasi DKI Jakarta yaitu pengembangan angkutan massal, manajemen lalu
lintas dan peningkatan kapasitas dan sistem jaringan jalan. Untuk pengembangan
angkutan massal dilakukan dengan membangun Bus Rapid Transit (BRT)/Busway, Mass
Rapid Transit (MRT), Light Rail Transit (LRT), kereta dan sistem transportasi alternatif.
Hingga saat ini pelaksanaan BRT yang sudah berjalan 11 koridor busway, pada
pengembangan sistem kereta telah dilakukan dengan commuter line dan loop line
Jabodetabek, serta akan dikembangkan double track untuk sejumlah jalur pelayanan.
Adapun landasan hukum yang dipakai dalam penyusunan Renstra ini adalah:
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih
dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme;
b. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
c. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundangundangan;
d. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional;
e. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008;
f. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah;
g. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian

2.4 PERMASALAHAN DALAM PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN LRT DI


INDONESIA

Untuk menerapkan sistem LRT di Indonesia membutuhkan banyak pertimbangan yang


matang sebelumnya, seperti:

1. Dibutuhkan Perencanaan Tata Ruang Kota, perencanaan tata ruang kota sangat
penting karena terkait dengan optimalisasi daerah yang perlu dibangun dan dilalui
oleh LRT, terkait dengan demand dan lahan yang tersedia. Selain itu, diperlukan
adanya perencanaan untuk pengembangan dari LRT itu sendiri ke depannya.
Pengembangan dilakukan dengan penambahan jalur ataupun perubahan dari jalur
itu sendiri sehingga diharapkan akan lebih baik lagi untuk sistem transportasi LRT.
2. Dibutuhkan investasi yang tidak sedikit, biaya per kilometer LRT sangatlah tinggi,
dengan biaya per kilometer yang 5x lebih mahal daripada Bus Rapid Transit (BRT)
maka diperlukan pertimbangan biaya pembangunan yang tinggi, selain dari revenue
yang didapatkan dari LRT itu sendiri. Dikhawatirkan dengan biaya pembangunan
yang tinggi dan dana didapat dari pinjaman pada lembaga tertentu, sehingga
mengakibatkan tarif yang tinggi dan akhirnya sepi dari pengguna LRT.
3. Memberikan pelayanan yang terbaik, biaya investasi yang mahal kalau tidak
didukung pelayanan yang baik maka akan menjadi sia-sia. Contoh di Singapura yang
memiliki scheduling yang tepat waktu dan frekuensi yang tinggi memberikan
kenyamanan tersendiri untuk pengguna LRT. Permasalahan angkutan umum di
Indonesia, selain LRT, adalah belum adanya ketepatan jadwal. Bahkan untuk Heavy
Train pun seringkali terdapat keterlambatan yang memakan waktu berjam-jam.
Untuk angkutan umum di jalan raya lebih parah lagi karena seringkali di daerah tidak
memprioritaskan penjadwalan untuk pengoperasian angkutan umumnya sendiri.
4. Integrasi antar moda, pembangunan dari LRT ini diharapkan untuk menarik para
pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum. Tentunya harus ada faktor penarik,
diantaranya adalah integrasi antar moda. Integrasi sangat penting untuk dibangun
karena aksesibilitas yang tinggi diharapkan memudahkan pengguna untuk memakai
angkutan umum tersebut. Integrasi antar stasiun-terminal, atau stasiun-bandara,
sangat dibutuhkan. Dapat dibayangkan jika tidak terdapat integrasi, sebagai
pengguna tentunya akan merasa tidak nyaman, capek dan berbagai keluhan lainnya.
Maka integrasi sangat penting untuk dibangun.

2.5 PENERAPAN LRT SISTEM DI SELURUH DUNIA

Shanghai Metrotransit station,China

A METRO light-rail train approaching Preston Station in downtown Houston,Texas, Amerika


Serikat.

A LYNX light rail train from Charlotte,North Carolina,Amerika Serikat.


The Guadalajara urban L-train system (SITEUR), at first a trolleybus system, opened
in 1976; the first line was opened in 1989 and the second line in 1994.

A Flexity Swift light rail train betweenCologne and Bonn.

A NET tram inNottingham city centre.

A DART Light Rail train operating in downtown Dallas,Texas, Amerika Serikat.


A Tyne and Wear Metrotrain heading forSouth Shields calls at Kingston Park station.
Although nominally "light rail" the high platforms and full segregation from roads and
pedestrians places this system at the upper end of the transport genre which includes street
trams.

New Flexity Classictram in service on Glenelg line inAdelaide, South Australia.

Hudson-Bergen Light Rail trains at the Exchange Place stop in Jersey City

UTA TRAX train inDowntown Salt Lake City

Portland, Oregon'sMAX Light Rail.


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Light Rail Transit merupakan salah satu angkutan massal yang efektif dalam
mengatasi masalah transportasi, seperti kemacetan dan pemenuhan kebutuhan
masyarakat dalam melakukan pergerakan
LRT juga dapat mendukung pergerakan dengan lebih mudah, cepat dan nyaman
dengan tampungan kapasitas yang tinggi dan efiktifitas waktu yang baik dalam
pergerakannya
Dalam perencanaannya belum terdapat peraturan perundang-undangan khusus yang
mengatur dalam pengoperasian dan teknis pelaksanaan dai LRT karena masih dalam
proses perencanaan dan pembangunan, yang ada hanya aturan dasar dan
peraturan daerah yang dijadikan pedoman dalam pembangunan dan
perencanaannya di Indonesia, khususnya di DKI Jakarta.

3.2 Saran

1. Dibutuhkan Perencanaan Tata Ruang Kota. Perencanaan yang baik akan mendukung
dalam optimalisasi fasilitas dan rencana yang akan dibangun. Perencanaan ini terkait
dengan bagaimana tata ruan wilayah, integrasi antar moda, keamanan dalam
pengoperasian, manajemen dalam pengelolaannya dan hal lainnyayang berkaitan
dengan teknis pengoperasian LRT. Maka dari itu perlu perhatian khusus dalam
perencanaan sehingga tidak justru menimbulkan masalah baru bila telah dibangun
LRT nanti
2. Dibutuhkan biaya yang banyak dalam pembangunan dan perencanaan LRT ini.
Namun walaupun begitu bila kelak telah selesai pembangunannya, perlu diperhatikan
penetepan tariff yang sesuai dan pertimbangan dalam penyelenggaraan operasi LRT
nantinya, karena masyarakat juga mempertimbangkan segi ekonomi dalam
melakukan perjalanan
3. Dalam proses pembangunan dan perencanaan yang ekarang sedang berlangsusng
ini, diharapkan pemerintah tak terburu-buru, supaya hasil yang diperoleh nanti lebih
matang dan berhasil guna. Perlu pula mencari referensi dari Negara lain yang telah
berhasil menerapkan sistem transportasi LRT ini, untuk dijadikan pedoman dalam
pembangunan dan pengembangan nantinya.
4. Perlu adanya sosialisasi yang baik kepada masyarakat tentang LRT bila telah
terwujud pembangunannya supaya dalam penggunaannya dapat berjalan dengan
baik, aman dan lancar (optimal, efektif dan efisien)
5. Perlu adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur khusus tentang segala
sesuatu yang berkaitan dengan LRT nantinya sebelum resmi dioperasikan, untuk
mendukung transportasi yang baik dan benar.
Sumber:

www.wikipedia.com
www.google.com
www.kaskus.com
http://labsky2012a.blogspot.com/2012/09/perkembangan-trem-light-rail-transit.html