Anda di halaman 1dari 7

A.

Topik
INTRODUCTION TO INTEFEROMETRI

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah prinsip kerja dari interferometer Michelson?


2. Bagaimanakah panjang gelombang dari laser (sumber cahaya) interferometer
Michelson?
3. Bagaimanakah pengaruh sudut keeping polarisasi terhadap kecerahan frinje yang
terbentuk?

C. Tujuan

1. Mengetahui prinsip kerja dari interferometer Michelson.


2. Mengetahui panjang gelombang dari laser (sumber cahaya) interferometer
Michelson.
3. Mengetahui pengaruh sudut keeping polarisasi terhadap kecerahan frinje yang
terbentuk.

D. Dasar Teori
Interferensi adalah penggabungan superposisi dua gelombang atau lebih yang
bertemu pada satu titik ruang. Hasil interfrensi yang berupa pola-pola cincin dapat
digunakan untuk menentukan beberapa besaran fisis yang berkaitan dengan
interferensi, misalnya panjang gelombang suatu sumber cahaya, indeks bias, dan
ketebalan bahan. Untuk memahami fenomena interferensi harus berdasar pada prinsip
optika fisis, yaitu cahaya dipandang sebagai perambatan gelombang yang tiba pada
suatu titik yang bergantung pada fase dan amplitude gelombang tersebut. Untuk
memperoleh pola-pola interferensi cahaya haruslah bersifat koheren, yaitu
gelombang-gelombang harus bersalah dari satu sumber cahaya yang sama. Koherensi
dalam optika sering dicapai dengan membagi cahaya dari sumber celah tunggal
menjadi dua berkas atau lebih, yang kemudian dapat digabungkan untuk
menghasilkan pola interferensi. Pada interferensi, apabila dua gelombang yang
berfrekuensi dan berpanjang gelombang sama tapi berbeda fase bergabung, maka
gelombang yang dihasilkan merupakan gelombang yang amplitudonya tergantung
pada perbedaan fase.
Interferometer Michelson adalah salah satu jenis dari interferometer, yaitu
suatu alat yang digunakan untuk menghasilkan suatu pola interferensi. Interferometer
Michelson merupakan alat yang paling umum digunakan dalam mengukur
pola interferensi untuk bidang optik yang ditemukan oleh Albert Abraham Michelson.
Sebuah pola interferensi dihasilkan dengan membagi seberkas cahaya menggunakan
sebuah alat yang bernama pembagi sinar (beam splitter). Interferensi terjadi ketika
dua buah cahaya yang telah dibagi digabungkan kembali.

132
Pada awalnya untuk membentuk pola interferensi dan kemudian mengukur
panjang gelombang dari sumber cahaya, maka berkas cahaya monokromatik (Laser
He-Ne) akan ditembakkan ke interferometer dan akan melewati lensa pemokus dan
kemudian akan terpecah dua, yakni sebagian dipantulkan dan diteruskan sehingga dua
hasil pemecahan ini akan kembali betemu pada sebuah layar sehingga akan terbentuk
pola interferensi yang ditandai terbentuknya frinji [1].
Percobaan interferensi michelson ini pertama kali dilakukan oleh salah satu
ilmuwan yang bernama Michelson dan Morley pada akhir abad ke-19 untuk
membuktikan keberadaan eter yang saat itu diduga sebagai medium perambatan
gelombang cahaya. Dari eksperimen yang didasarkan pada prinsip resultan kecepatan
cahaya tersebut disimpulkan bahwa keberadaan eter ternyata tidak ada.
Percobaan Interferometer Michelson dilakukan dengan meletakkan secara
tegak lurus (sudut 90 derajat) posisi Movable mirror dan adjustable mirror yang
ditengahi oleh split. Dengan posisi demikian, akan terjadi perbedaan lintasan yang
diakibatkan oleh pola reflektansi dan tranmisivitas split dari cahaya yang
masuk melewati lens 1,8 nm. Selanjutnya, perbedaan lintasan ini akan
menyebabkanadanya beda fase dan penguatan fase (biasa disebut sebagai interferensi)
yang selanjutnya menyebabkan munculnya pola-pola pada frinji. Dalam
perkembangan selanjutnya, Interferometer Michelson tidak hanya dapat digunakan
untuk membuktikan ada tidaknya eter, akan tetapi dapat pula digunakan dalam
penentuan sifat-sifat gelombang lebih lanjut, misalnya dalam penentuan panjang
gelombang cahaya tertentu, pola penguatan interferensi yang terjadi, dan sebagainya.
Praktikum ini dibutuhkan untuk memahami konsep pola interferensi yang
terjadi pada interferometer mishelson sekaligus mengukur nilai panjang gelombang
dari sumber cahaya, dalam hal ini adalah laser He-Ne. Pola interferensi sebagaimana
diketahui dan telah disebutkan pada paragraf pertama pendahuluan ini adalah pola
yang terbentuk dari perpaduan. Melalui prinsip ini, sehingga michelson dapat
melakukan berbagai eksperimen berkaitan dengan hal tersebut termasuk salah satunya
adalah menentukan panjang gelombang sebuah sumber cahaya. Salah satu
keberhasilan beliau bersama alat ini adalah sebagai orang pertama yang dapat
mengukur diamter sudut sebuah bintang. Jika pada awalnya eksperimen ini dilakukan
untuk menemukan kecepatan eter, namun saat ini telah banyak memiliki nilai guna
dengan salah satunya adalah menyelidiki sifat-siffat dari gelombang, sehingga sangat
penting bagi seorang fisikawan, termasuk mahasiswa, untuk mempelajarinya [3].
Pada awalnya untuk membentuk pola interferensi dan kemudian mengukur
panjang gelombang dari sumber cahaya, maka berkas cahaya monokromatik (Laser
He-Ne) akan ditembakkan ke interferometer dan akan melewati lensa pemokus dan
kemudian akan terpecah dua, yakni sebagian dipantulkan dan diteruskan sehingga dua
hasil pemecahan ini akan kembali betemu pada sebuah layar sehingga akan terbentuk
pola interferensi yang ditandai terbentuknya frinji.

E. Alat dan Bahan

- Basic interferometer
- Laser (05-9171)
- Laser aligment bench (05-9171)
- Keeping Polaroid
- Komponen holder
- Interferometer accecories

133
F. Variabel-Variabel

Variabel bebas
Variabel bebas yaitu, sesuatu yang nilainya sudah ditentukan atau ditetapkan, dimana
nilai ini dapat mempengaruhi nilai lainnya. Adapun variabel bebas pada percobaan
ini adalah:
1. Pergeseran cermin adalah nilai yang terbaca pada saat kita memutar
micrometer knob secara perlahan-lahan sehingga cermin bergeser. yang
disimbolkan dengan dm dengan satuan m (mikrometer)

2. Sudut keping polarisasi adalah sudut tertentu pada keping polarisasi.

Variabel terikat

Variabel terikat yaitu, sesuatu yang nilainya dipengaruhi oleh nilai dari varibel bebas.
Adapun variabel bebas pada percobaan ini yaitu:

1. Panjang gelombang, yang disimbolkan dengan dengan satuan meter (m), yaitu
jarak yang ditempuh rambatan gelombang selama satu periode. Adapun nilai
panjang gelombang pada percobaan ini diperoleh dari perbandingan antara
pergeseran cermin dengan jumlah fringe yang teramati, yang secara matematis
dituliskan dalam formula = 2 dm/N.

2. Intensitas cahaya adalah berkas cahaya yang keluar dari sumber cahaya
(laser) yang tampak pada layar (cerah dan gelapnya) yang merupakan hasil
pantulan dari ketiga cermin.

Variabel kontrol
Variabel kontrol yaitu, sesuatu yang nilainya selama percobaan dilaksanakan tidak
berubah dan berfungsi mengontrol selama percobaan dilaksanakan. Adapun variabel
kontrol pada percobaan ini yaitu:
1. N, yaitu banyaknya fringe yang keluar pada saat micrometer knob diputar
yang teramati pada layar. Dimana nilai N pada percobaan ini sebanyak 20
kali.

134
G. Prosedur Kerja

1. Menyusun seperti pada gambar dibawah

2. Sejajarkan laser dan interferometer dalam modus Michelson , sehingga pola


interferensi terlihat jelas pada Anda layar tampilan.
3. Lihat Setup dan Operasi untuk petunjuk.
4. Sesuaikan tombol mikrometer untuk membaca media (sekitar 50 m).
5. Dalam posisi ini, hubungan antara mikrometer membaca dan gerakan cermin
yang paling hampir linier.
6. Putar mikrometer knob satu putaran penuh berlawanan dengan arah jarum jam.
Terus berputar berlawanan sampai nol pada knob sejajar dengan tanda indeks.
7. Catat pembacaan mikrometer.
8. Sesuaikan posisi layar tampilan sehingga salah satu tanda-tanda di skala
milimeter sejajar dengan salah satu pinggiran dalam pola interferensi
9. Mencatat (dm) sebagai jarak pada saat cermin dapat digerakkan terhadap the
beam splitter sesuai dengan yang terbaca pada mikrometer knob. pembacaan dari
tombol mikrometer . Ingat , setiap divisi kecil di berkorespondensi mikrometer
knob satu pM (10-6 meter) dari gerakan cermin. Mencatat nilai N sebagai nomor
dari pertukaran keadaan fringe yang dihitung.

H. Hasil dan Pengolahan Data


Tabel Hasil Pengamatan
N = 20 Fringes

N dm (m) dm2 (m2)


10 4 16

20 7 49

30 11 121

40 14 196
n=4 dm = 36 dm = 382
2

(dm) = 1296 m
2 -12 2

135
A. Bagian 1 ( Menghitung Panjang Gelombang )
1. Menghitung Jarak Pergeseran Cermin

d
dm =
36 106
= 4
= 9 106
.2 ( )2
dm = 2 (1)
4 .382 1012 1296 1012
=
42 (41)

232 1010
= 48

=4,8333 106
= 2,1984 x 10-6

KR = x 100%

2,1984 106
= x 100%
9 106

= 0,24 % ( 4 AP )

( ) = ( 9,000 2,198 ) x 106 m

2. Menghitung Panjang Gelombang

2
=
2 9 106
= 20
= 0,9 107
1
= 10 x
1 2,1984, 106
= 10 9 106 x 0,9 x 107
= 0,2442666 102 x 9 107
= 2,19839999 m

KR = x 100%

2,1984 108
= X 100%
9 107

= 0,24 % ( 3 AP )

136
( ) = ( 9,00 2,198 ) x 107 m

Berdasarkan hasil pengamatan, kita dapat menentukan karakteristik polarisasi dari


sumber cahaya. Hal ini disebabkan oleh karena cahaya yang masuk pada keping
polarisasi adalah murni keluar dari laser, sehingga dapat dilihat pada saat keping
polarisasi berada pada sudut 00, fringe terlihat cerah dan jelas. Namun pada saat salah
satu keeping polarisasi kita putar pada beberapa sudut tertentu ( 30 dan 600) , fringe yang
tampak semakin kurang jelas. Pada akhirnya, pada sudut 900 fringe semakin kabur atau
kurang jelas. Perubahan pola fringe sesuai dengan waktu yang digunakan pada saat salah
satu keping polarisasi diputar.

I. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa :


1. Pada sudut 0o fringe yang tampak pada layar kelihatan dan jelas dan pada sudut
tertentu hingga sudut 90o fringe yang teramati tampak kabur dan bentuknya tidak
beraturan, dimana ini menunjukan bahwa karakteristik polarisasi dapat teramati
dengan jelas pada proses perubahan keadaan fringe yang terjadi.
2. Perbedaan panjang lintasan yang ditempuh kedua berkas dapat mempengaruhi hasil
polarisasi.

J. Kemungkinan Kesalahan
1. Ketidaktelitian praktikan dalam melakukan percobaan sehingga mempengaruhi
keakuratan data.

137
DAFTAR PUSTAKA

[1] Resnic, Robert dan Halliday, David. 1996. Fisika Jilid 2 Edisi Ketiga (terjemahan Pantur
Silaban, Ph.D dan Drs. Erwin Sucipto). Jakarta : Erlangga
[2] Sears, Francis Weston dan Zemansky, Mark W,. 1985. Fisiska Untuk Universitas 1
Mekanika Panas dan Bunyi (Saduran oleh Ir. Soedjana dan Drs. Amir Achmad).
Jakarta : Binacipta
[3] Kusminarto. 2011. Esensi Fisika Modern. Yogyakarta : Andi.

138