Anda di halaman 1dari 29

Sifat-Sifat Fisik Mineral

Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan penyusun atom-


atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat
fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis
mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam
batas-batas tertentu (Graha,1987)
Sifat-sifat fisik yang dimaksudkan adalah:
1. Kilap (luster)
2. Warna (colour)

3. Kekerasan (hardness)

4. Cerat (streak)

5. Belahan (cleavage)

6. Pecahan (fracture)

7. Bentuk (form)

8. Berat Jenis (specific gravity)

9. Sifat Dalam

10. Kemagnetan

11. Kelistrikan

12. Daya Lebur Mineral

Kilap
Merupakan kenampakan atau cahaya yang dipantulkan oleh permukaan
mineral saat terkena cahaya (Sapiie, 2006)
Kilap ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi jenis:
a. Kilap Logam (metallic luster): bila mineral tersebut mempunyai kilap atau
kilapan seperti logam. Contoh mineral yang mempunyai kilap logam:
Gelena
Pirit

Magnetit
1
Kalkopirit

Grafit

Hematit

b. Kilap Bukan Logam (non metallic luster), terbagi atas:


Kilap Intan (adamantin luster), cemerlang seperti intan.
Kilap kaca (viteorus luster), misalnya pada kuarsa dan kalsit.

Kilap Sutera (silky luster), kilat yang menyeruai sutera pada umumnya
terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya pada
asbes, alkanolit, dan gips.

Kilap Damar (resinous luster), memberi kesan seperti damar misalnya


pada spharelit.

Kilap mutiara (pearly luster), kilat seperti lemak atau sabun, misalnya
pada serpentin,opal dan nepelin.

Kilap tanah, kilat suram seperti tanah lempung misalnya pada kaolin,
bouxit dan limonit.

Kilap mineral sangat penting untuk diketahui, karena sifat fisiknya ini dapat
dipakai dalam menentukan mineral secara megaskopis. Untuk itu perlu
dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lainnya, walaupun
kadang-kadang akan dijumpai kesulitan karena batas kilap yang satu dengan
yang lainnya tidak begitu tegas (Danisworo 1994).

Warna
Warna mineral merupakan kenampakan langsung yang dapat dilihat, akan
tetapi tidak dapat diandalkan dalam pemerian mineral karena suatu mineral
dapat berwarna lebih dari satu warna, tergantung keanekaragaman komposisi
kimia dan pengotoran padanya. Sebagai contoh, kuarsa dapat berwarna putih
susu, ungu, coklat kehitaman atau tidak berwarna. Walau demikian ada
beberapa mineral yang mempunyai warna khas, seperti:
Putih : Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum (CaSO4.H2O), Milky
Kwartz (Kuarsa Susu) (SiO2)
Kuning : Belerang (S)
2
Emas : Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Ema (Au)

Hijau : Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)), Malasit (Cu


CO3Cu(OH)2)

Biru : Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2 (Si6O18))

Merah : Jasper, Hematit (Fe2O3)

Coklat : Garnet, Limonite (Fe2O3)

Abu-abu : Galena (PbS)

Hitam : Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit (C), Augit

Kekerasan
Adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan nisbi suatu
mineral dapat membandingkan suatu mineral terentu yang dipakai sebagai
kekerasan yang standard. Mineral yang mempunyai kekerasan yang lebih kecil
akan mempunyai bekas dan badan mineral tersebut. Standar kekerasan yang
biasa dipakai adalah skala kekerasan yang dibuat oleh Friedrich Mohs dari
Jeman dan dikenal sebagai skala Mohs. Skala Mohs mempunyai 10 skala,
dimulai dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral
terkeras .

Skala Kekerasan Mohs

Skala Kekerasan Mineral Rumus Kimia

1 Talc H2Mg3 (SiO3)4

2 Gypsum CaSO4. 2H2O

3 Calcite CaCO3

4 Fluorite CaF2

3
5 Apatite CaF2Ca3 (PO4)2

6 Orthoklase K Al Si3 O8

7 Quartz SiO2

8 Topaz Al2SiO3O8

9 Corundum Al2O3

10 Diamond C

Sebagai perbandingan dari skala tersebut di atas maka di bawah ini diberikan kekerasan dari alat penguji
standar :

Alat Penguji Derajat Kekerasan Mohs

Kuku manusia 2,5

Kawat Tembaga 3

Paku 5,5

Pecahan Kaca 5,5 6

4
Pisau Baja 5,5 6

Kikir Baja 6,5 7

Kuarsa 7

Cerat
Cerat adalah warna mineral dalam bentuk hancuran (serbuk). Hal ini dapat
dapat diperoleh apabila mineral digoreskan pada bagian kasar suatu keping
porselin atau membubuk suatu mineral kemudian dilihat warna dari bubukan
tersebut. Cerat dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda.
Warna cerat untuk mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna
mineralnya berubah-ubah. Contohnya :
Pirit : Berwarna keemasan namun jika digoreskan pada plat porselin
akan meninggalkan jejak berwarna hitam.
Hematit : Berwarna merah namun bila digoreskan pada plat porselin
akan meninggalkan jejak berwarna merah kecoklatan.

Augite : Ceratnya abu-abu kehijauan

Biotite : Ceratnya tidak berwarna

Orthoklase : Ceratnya putih

Warna serbuk, lebih khas dibandingkan dengan warna mineral secara


keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi mineral
(Sapiie, 2006).
Belahan
Balahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu
atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang
mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak

5
hancur, tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua
mineral mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah
terbakar dan sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di
dalam di dalam sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila
terdapat ikatan yang lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan
cenderung membelah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung
membelah melalui bidang-bidang tersebut. Karena keteraturan sifat dalam
mineral, maka belahan akan nampak berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).
Contoh mineral yang mudah membelah adalah kalsit yang mempunyai tiga
arah belahan sedang kuarsa tidak mempunyai belahan. Berikut contoh
mineralnya:
a. Belahan satu arah, contoh : muscovite.
b. Belahan dua arah, contoh : feldspar.
c. Belahan tiga arah, contoh : halit dan kalsit.
Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah yang
tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan belahan
dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar.
Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar
seperti cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala
arah dengan tidak teratur (Danisworo, 1994).
Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:
Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di
permukaan pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan
botol. Contoh Kuarsa.
Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya
asbestos, augit, hipersten

Even: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan


halus, contoh pada kelompok mineral lempung. Contoh Limonit.

Uneven: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang pecahan


yang kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.

Hackly: Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan kasar tidak


teratur dan runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan perak.

6
Bentuk
Mineral ada yang berbentuk kristal, mempunyai bentuk teratur yang
dikendalikan oleh system kristalnya, dan ada pula yang tidak. Mineral yang
membentuk kristal disebut mineral kristalin. Mineral kristalin sering
mempunyai bangun yang khas disebut amorf (Danisworo, 1994).
Mineral kristalin sering mempunyai bangun yang khas, misalnya:
a. Bangun kubus : galena, pirit.
b. Bangun pimatik : piroksen, ampibole.
c. Bangun doecahedon : garnet
Mineral amorf misalnya : chert, flint.
Kristal dengan bentuk panjang dijumpai. Karena pertumbuhan kristal sering
mengalami gangguan. Kebiasaan mengkristal suatu mineral yang disesuaikan
dengan kondisi sekelilingnya mengakibatkan terjadinya bentuk-bentuk kristal
yang khas, baik yang berdiri sendiri maupun di dalam kelompok-kelompok.
Kelompok tersebut disebut agregasi mineral dan dapat dibedakan dalam
struktur sebagai berikut:
Struktur granular atau struktur butiran yang terdiri dari butiran-butiran
mineral yang mempunyai dimensi sama, isometrik. Dalam hal ini
berdasarkan ukuran butirnya dapat dibedakan
menjadi kriptokristalin/penerokristalin (mineral dapat dilihat dengan
mata biasa). Bila kelompok kristal berukuran butir sebesar gula pasir,
disebut mempunyai sakaroidal.
Struktur kolom: terdiri dari prisma panjang-panjang dan ramping. Bila
prisma tersebut begitu memanjang, dan halus dikatakan mempunyai
struktur fibrous atau struktur berserat. Selanjutnya struktur kolom dapat
dibedakan lagi menjadi: struktur jarring-jaring (retikuler), struktur bintang
(stelated) dan radier.

Struktur Lembaran atau lameler, terdiri dari lembaran-lembaran. Bila


individu-individu mineral pipih disebut struktur tabuler,contoh mika.
Struktur lembaran dibedakan menjadi struktur konsentris, foliasi.

Sturktur imitasi : kelompok mineral mempunyai kemiripan bentuk dengan


benda lain. Mineral-mineral ini dapat berdiri sendiri atau berkelompok.

Bentuk kristal mencerminkan struktur dalam sehingga dapat dipergunakan


untuk pemerian atau pengidentifikasian mineral (Sapiie, 2006).
Berat Jenis
7
Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara yang
umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral
tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral
ditimbang lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat
terhitung dalam keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan
berat air yang volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut.
Sifat Dalam
Adalah sifat mineral apabila kita berusaha untuk mematahkan, memotong,
menghancurkan, membengkokkan atau mengiris. Yang termasuk sifat ini
adalah
Rapuh (brittle): mudah hancur tapi bias dipotong-potong, contoh kwarsa,
orthoklas, kalsit, pirit.
Mudah ditempa (malleable): dapat ditempa menjadi lapisan tipis, seperti
emas, tembaga.

Dapat diiris (secitile): dapat diiris dengan pisau, hasil irisan rapuh, contoh
gypsum.

Fleksible: mineral berupa lapisan tipis, dapat dibengkokkan tanpa patah


dan sesudah bengkok tidak dapat kembali seperti semula. Contoh
mineral talk, selenit.

Blastik: mineral berupa lapisan tipis dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah
dan dapat kembali seperti semula bila kita henikan tekanannya, contoh:
muskovit.
Kemagnitan
Adalah sifat mineral terhadap gaya magnet. Diatakan
sebagai feromagnetic bila mineral dengan mudah tertarik gaya magnet seperti
magnetik, phirhotit. Mineral-mineral yang menolak gaya magnet
disebut diamagnetic, dan yang tertarik lemah yaitu paramagnetic. Untuk
melihat apakah mineral mempunyai sifat magnetik atau tidak kita gantungkan
pada seutas tali/benang sebuah magnet, dengan sedikit demi sedikit mineral
kita dekatkan pada magnet tersebut. Bila benang bergerak mendekati berarti
mineral tersebut magnetik. Kuat tidaknya bias kita lihat dari besar kecilnya
sudut yang dibuat dengan benang tersebut dengan garis vertical.
Kelistrikan
Adalah sifat listrik mineral dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu pengantar arus
atau londuktor dan idak menghantarkan arus disebut non konduktor. Dan ada
8
lagi istilah semikonduktor yaitu mineral yang bersifat sebagai konduktor dalam
batas-batas tertentu.
Daya lebur mineral
Yaitu meleburnya mineral apabila dipanaskan, penyelidikannya dilakukan
dengan membakar bubuk mineral dalam api. Daya leburnya dinyatakan dalam
derajat keleburan.

Sifat Sifat Mineral & Kristal

Mineral adalah suatu zat yang terdapat dalam alam dengan komposisi kimia
yang khas dan biasanya mempunyai struktur kristal yang jelas, yang kadang-
kadang dapat menjelma dalam bentuk geometris tertentu.
Istilah mineral dapat mempunyai bermacam-macam makna; sukar untuk
mendefinisikan mineral dan oleh karena itu kebanyakan orang mengatakan,
bahwa mineral ialah satu frase yang terdapat dalam alam. Sebagaimana kita
ketahui ada mineral yang berbentuk :
Lempeng
Tiang
Limas
Kubus
Batu permata kalau ditelaah adalah merupakan campuran dari unsur-unsur
mineral.
Setiap mineral yang dapat membesar tanpa gangguan akan
memperkembangkan bentuk kristalnya yang khas, yaitu suatu wajah lahiriah
yang dihasilkan struktur kristalen (bentuk kristal). Ada mineral dalam
keadaan Amorf, yang artinya tak mempunyai bangunan dan susunan kristal
sendiri (mis kaca & opal). Tiap-tiap pengkristalan akan makin bagus hasilnya
jika berlangsungnya proses itu makin tenang dan lambat.
Kristal

9
Kristal adalah sebuah benda yang homogen, berbentuk sangat geometris dan
atom-atomnya tersusun dalam sebuah kisi-kisi kristal,karena bangunan kisi-kisi
kristal tersebut berbeda-beda maka sifatnya juga berlainan. Kristal dapat
terbentuk dalam alam (mineral) atau di laboratorium. Kristal artinya
mempunyai bentuk yang agak setangkup (symetris) dan yang pada banyak
sisinya terbatas oleh bidang datar, sehingga memberi bangin yang tersendiri
sifatnya kepada mineral yang bersangkutan.

Benda padat yang terdiri dari atom-atom yang tersusun rapi dikatakan
mempunyai struktur kristalen. Dalam suasana yang baik benda kristalen dapat
mempunyai batas bidang rata-rata & benda itu dinamakan kristal (HABLUR) &
bidang rata itu disebut muka krsital.
Ada 32 macam gelas kristal yang dipersatukan dalam 6 sistem kristal, yaitu:
1. REGULER, Kubus atau ISOMETRIK ketiga poros sama panjang dan
berpotongan tegak lurus satu sama lain (contoh : intan, pirit, garam
batu)
2. TETRAGONAL (berbintang empat) ketiga poros tegak lurus satu
sama lain, dua poros sama panjang sedangkan poros ketiga berbeda
(contoh chalkopirit, rutil, zircon).
3. HEKSAGONAL (berbintang enam) Hablur ini mempunyai empat
poros, tiga poros sama panjang dan terletak dalam satu bidang,
bersilangdengan sudut 120 derajat (60 derajat), tetapi poros ke-empat
tegak lurus atas bidang itu dan panjangnya berbeda (contoh apalit, beryl,
korundum).

Kristal berbentuk isometrik, tetragonal dan heksagonal


4. ORTOROMBIS (irisan wajik) ketiga poros tidak sama panjang dua
poros berpotongan siku-siku dan poros ketiga memotong miring bidang
kedua poros tadi (berit, belerang, topaz)
5. MONOKLIN (miring sebelah) ketiga poros tidak sama panjang, dua
dari porosnya berpotongan sorong & poros ketiga tegak lurus atas kedua
poros tadi (gips, muskovit, augit)
6. TRIKLIN (miring, ketiga arah) ketiga poros tidak sama panjang dan
berpotongan serong satu sama lain(albit, anortit, distin)

10
Kristal berbentuk ortorombis, monoklin, triklin

Bentuk kristal dibagi dalam 6 tata hablur yang didasarkan:


perbandingan panjang poros poros hablur
besarnya sudut persilangan poros poros hablur
GORES

kristal / mineral yang mempunyai kekerasan < 7 jika digosokkan pada


lempengan porselin yang kasar biasanya meninggalkan ditempat penggosokan
tsb suatu garis yang karakteristik dan seringkali berwarna lain dari mineral itu
sendiri.
Pirit yang warnanya kuning emas meninggalkan garis hitam.
Hematit (Fe2O3) yang berkilap kelogam logaman atau memberigaris
merah darah
Fluisvat memberikan garis putih (mineral yang berwarna terang tetapi
memberi garis putih)

Pirit dan hematit


SKALA KEKERASAN MOH'S

Kekerasan adalah sebuah sifat fisik lain, yang dipengaruhi oleh tata letak intern
dari atom. Untuk mengukur kekerasan mineral dipakai Skala Kekerasan MOHS
(1773-1839).
1. Talk, mudah digores dengan kuku ibu jari
2. GIPS, mudah digores dengan kuku ibu jari
3. Kalsit, mudah digores dengan pisau
4. Fluorit, mudah digores dengan pisau
5. Apatit, dapat dipotong dengan pisau (agak sukar)
6. Ortoklas, dapat dicuwil tipis-tipis dengan pisau dibagian pinggir
7. Kwarsa, dapat menggores kaca
8. Topaz, dapat menggores kaca
9. Korundum, dapat mengores topaz
10. Intan, dapat menggores korundum
Bentuk Kristal Intan ialah benda padat besisi delapan (OKTAHEDRON)
1. K = 1 : Talk/Silikat magnesia yang mengandung air
2. K = 2 : Gips (CaSO4), batu tahu
3. K = 3 : Kalsit (CaCo3)
4. K = 4 : Vluispat (CaF2)

11
5. K = 5 : Apatit mengandung chloor
6. K = 6 : Veldspat, kaca tingkap
7. K = 7 : Kwarsa, pisau dari baja
8. K = 8 : Topas; Silikat alumunium yang mengandung borium, batu
permata
9. K = 9 : Korsum (Al2O3 dalam corak merah, batu permata delima,
corak biru batu nilam/safir)
10. K = 10 : intan batu permata
Masing-masing mineral tersebut diatas dapat menggores mineral lain yang
bernomor lebih kecil dan dapat digores oleh mineral lain yang bernonor lebih
besar. Dengan lain perkataan SKALA MOHS adalah Skala relative. Dari segi
kekerasan mutlak skala ini masih dapat dipakai sampai yang ke 9, artinya no. 9
kira-kira 9 kali sekeras no. 1, tetapi bagi no. 10 adalah 42 kali sekeras no. 1

K.E. Kinge (1860) dalam Han Sam Kay mengelompokkan batu permata yang
dijadikan perhiasan dalam lima belas kelas sebagai berikut :
1. Batu permata Kelas I, Nilai Keras antara 8 s/d 10
2. Batu Permata kelas II, Nilai Keras antara 7 s/d 8
3. Batu permata Kelas III
Batu permata kelas ini tergolong jenis batu mulia dan batu mulia
tanggung, nilai kerasnya kira-kira 7, sebagian besar terdiri dari asam
kersik (kiezelzuur), keculai pirus (tuquois)
4. Batu-Batu mulia Tanggung yaitu batu kelas IV, nilai keras antara 4
7
5. Batu kelas V
Batu kelas V nilai kerasnya dan kadar berat jenisnya sangat berbeda-
beda. Warnanya gelap (kusam) dan kebanyakan agak keruh, tidak
tembus cahaya, batunya sedikit mengkilap, dan harganyapun amat
murah bila dibandingkan dengan harga batu mulia.
Dalam kelas ini termasuk batu marmer dan batu kelas V tidak tergolong
batu mulia.

BELAHAN

Belah adalah kecenderungan batu permata untuk membelah kearah tertentu


menyusur permukaan bidang rata, lebih spesifik lagi ia menunjukkan kearah
mana ikatan-ikatan di antara atom relative lemah dan biasanya reta-retak
menunjukan arah belah.
Belahan ialah sifat untuk menjadi belah menurut bidang yang agak sama
licinnya
belahan baik sekali
baik
sedang
buruk
tidak ada belahan sama sekali

12
WARNA

Kenapa kita dapat melihat berbagai warna ?


Warna dapat dilihat ketika terjadi beberapa proses pemindahan panjang
gelombang, beberapa menyerap panjang gelombang spesifik dari spektrum
yang dapat dilihat. Spektrum yang dapat dilihat terdiri dari warna merah,
oranye, kuning, hijau, biru, nila dan violet.

Ketika terjadi pemindahan panjang gelombang akan memengaruhi energi dan


akan terjadi perubahan warna dan jika permata itu mengandung besi biasanya
akan terlihat berwarna kelam, sedangkan yang mengandung alumunium
biasanya terlihat berwarna cerah, tetapi juga ada mineral yang berwarna tetap
seperti air (berkristal) dan dinamakan Idhiochromatic

Disini warna merupakan sifat pembawaan disebabkan karena ada sesuatu zat
dalam permata sebagai biang warna (pigment agent) yang merupakan mineral-
mineral yaitu : belerang warnanya kuning; malakit warnanya hijau; azurite
warnanya biru; pirit warnanya kuning; magatit warnanya hitam; augit
warnanya hijau; gutit warnanya kuning hingga coklat; hematite warnanya
merah dsbnya.

Ada juga mineral yang mempunyai warna bermacam-macam dan diistilahkan


allokhromatik, hal ini disebabkan kehadiran zat warna (pigmen), terkurungnya
sesuatu benda (inclusion) atau kehadiran zat campuran (Impurities). Impurities
adalah unsur-unsur yang antara lain terdiri dari Ti, V, Cr, Mn, Fe, Co, Ni, Cu, dan
biasanya tidak hadir dalam campuran murni, unsur-unsur yang terkonsentrasi
dalam batu permata rendah.

Aneka warna batu permata ini sangat mempesona manusia sehingga manusia
memberi gelar mulia pada batu-batu itu, contoh intan yang hanya terdiri dari
satu unsur mineral yakni zat arang merupakan benda yang padat yang bersisi
delapan karena adanya zat campuran yang berbeda akan menyebabkan warna
yang berbeda : tidak berwarna, kuning, kuning muda, agak kebiru-biruan,
merah, biru agak hijau, merah jambu, merah muda, agak kuning coklat, hitam
yang dinamakan carbonado, hijau daun. Banyak mineral hanya
memperlihatkam warna yang terang pada bagian-bagian yang tipis sekali.
Mineral yang lebih besar dan tebal selalu memberi kesan yang hitam, tanda
demikian antara lain diperlihatkan oleh banyak mineral.

Warna hijau muda; jika warna tersebut makin tua berarti makin bertambah
Kadar Fe di dalam molekulnya.
BERAT JENIS (BD)

Untuk mengetahui mineral yang belum diketahui Bd-nya dipakai alat yang
disebut cairan berat :
Pertama : Bromoform (ChBr)
Kedua : Joodmethylin (Ch2 J2)
Ketiga : Cclerici yaitu larutan Thallium malonat formiat
Mineral dengan BD < 2,68 mineral ringan
13
kwarsa: 2,57
albit: 2,62
oligoklas: 2,64
Mineral dengan BD > 2,68 mineral berat
Labradorit: 2,70
Anortit: 2,76
Augit hornblende: 3,20
Maskotit: 2,90
Biotitit: 3,00
Korundum: 3,20
Turmalin
Mineral dengan BD 3,3 4 mineral amat berat
olifin
starolit
granat / garnet
Mineral dengan BD > 4 dan kekerasan = 7
Zirkon
BD = 2,65 Mineral tergolong dalam fraksi enteng dan bias rangkapnya Kuarsa
kristalen; bergkristaltergolong rendah yaitu terdiri dari opal = sebetulnya gel
asam(tidak berwarna); amathis atau kecubung chalsedon; jenis kristalnya
jenis kripto (kwarsa kriptokersik kristalen); k = 7; struktur kristalnya baru
tampak jika dilihat dengan agat; jenis kristalnya jenis kripto
(kwarsamenggunakan mikroskop. kripto kristalen) = k = 7; struktur kristalnya
baru tampak jika dilihat Oniks, jenis kristalnya jenis kriptodengan
menggunakan mikroskop (kwarsa kripto kristalen) = k = 7; struktur kristalnya
baru tampak jika opal besi kersik jaspis dilihat dengan menggunakan
mikroskop tanggung (half opal) = sifat membelah tidak ada pecahannya
berupa kerang.

Nefrit = Jade = Giok {Ca2 (Mg, Fe)5 (OH)2Si8O22}BD = 2,9 3,3 aktinolit
atau Amfibol kalsium magnesium besi; bentuk menyerabut atau asbes tiform;
warna kelabu, kehijau-hijauan atau kekuning-kuningan; adanya garis kembar;
warna plagioklas putih, kadang kadang kehijau-hijauan, hijau tua, coklat,
hitam, kadang-kadang tembus pandang (transparan), tembus cahaya
(Translucent) atau opal; bidang belah berpotongan dengan sudut 550 dan
1250 ; K = 5 6; apabila dipanaskan mengeluarkan air yang menunjukkan
bahwa ia terbentuk dalam suasana hidro (perhatikan adanya gugusan OH) atau
dikenal sebagai AMFIBOL.

Epidot ( H2 M4 M6 Si6O26, M); dari batu-batuanBD = 3,3 3,6 endapan


atau sedimen yang lebih tua; k = 6,5; Hijau- hijau kekuning-kuningan, terdapat
jenis yang berwarna merah; belahan baik; mengristal monoklin, prisma; bias
cahaya dan bias rangkap kuat.

14
epidot

Granat/Garnet (M3 M2 SiO3O12); dari batuanBD = 3,5 5,3 sedimen tua;


kristal reguler; bias cahaya keras, tidak berbias rangkap (Isotrop); K = 7;
belahan baik; warna merah, merah coklat, kuning dan hijau jarang, tidak
berwarna sama sekali.

garnet

Korundum (Al2O3) tersusun sangat padat; tak berwarnaBD = 4 bermacam-


macam warna; K = 9; Oktahedron/Hexagonal; Bias tinggi; Bias Spinel (M =
Mg, Zr, Fe; M = Cr, Al,rangkapnya rendah. (3,9 4,1) Mn); hijau tua; K = 7,5
8; Biasnya tinggi, Mengkristal secara reguler; bersifat isotrop dalam optiknya;
belahannya seringkali buruk

Ortit termasuk golongan Epidot hanya dalam persenyawaannyaBD =


4,2 berbeda disebabkan kadar Ce yang tinggi; K= 5,6; merah coklat,
coklat merah tua kuning atau coklat kuning; kristal gemuk seperti
prisma; Turmalin {H9Al3(B.OH)2Si4O19}; K= 7; Heksagonal, belahan buruk,
Bias sedang; Pleokroisnya sangat kuat; jernis seperti air, Coklat biru sampai
hitam, turmalin biru agak jarang diketemukan.

Tiap-tiap batu permata yang sudah dikenal berat jenisnya dapat diketahui nilai
keras batu, dari berat batu dapatlah dihitung kari dari permata tersebut. Karat
adalah satuan berat yang setimbang dengan seperlima gram. Satuan ini
disebut karat metric. Jika kita timbang berat intan, tidak dikatakan berat intan
1 gram tetapi berat intan adalah 5 karat, demikian yang lain batu rubi beratnya
17,8 karat, batu sapphire 7 ka

15
ANALISIS KIMIA DAN FISIKA
Posted on March 26, 2013 by cahyaintanp

Materi

Materi disebut juga zat adalah sesuatu yang memiliki massa, volume dan sifat-

sifat. Menurut wujudnya materi dikelompokkan menjadi tiga yaitu : padat, cair

dan gas. Materi yang tergolong dalam wujud gas, misalnya : udara, gas bumi,

gas elpiji, uap air, gas kapur, kapur barus. Materi dalam wujud cair misalnya :

air, minyak goreng, alkohol, bensin, solar, larutan gula, air laut. Materi dalam

wujud padat misalnya : baja, batu dan kapur.

Jenis materi dikenal berdasarkan sifat-sifatnya dan dibedakan menjadi dua

macam, yaitu sifat kimia dan sifat fisika :

1. Sifat fisika : Yaitu sifat materi yang berkaitan dengan peristiwa fisika,

misalnya : massa jenis, titik didih, titik lebur, kalor lebur, rasa, warna, dan bau.

Contoh : Hidrogen sulfida, zat yang tidak dapat dilihat, karena tidak dapat

dilihat tetapi dikenal dengan baunya. Air massa jenisnya 1 gram siap dan titik

didihnya 100 derajat Celcius. Besi melebur pada 1500derajat Celcius.

2. Sifat Kimia : Sifat kimia adalah sifat suatu materi yang berkaitan dengan

peristiwa kimia yang meliputi : Keterbakaran : Tingkat kemudahan suatu materi

16
dapat terbakar, misalnya : Asbes, besi, aluminium, air tidak bisa terbakar.

Minyak lebih mudah terbakar dari pada kayu. Kereaktipan : Mudah atau

tidaknya suatu materi bereaksi, misalnya tingkat keterbakaran, inisasi,

peruraian dan pembentukan. Misalnya : Zat-zat yang dapat terionisasi : soda

abu (kostik soda), asam sulfat, asam clorida, garam dapur, kalium sulfat. Zat-

zat yang dapat terurai : Batu kapur dipanasi terurai menjadi kapur tohor (kapur

sirih dan gas karbon dioksida). Mercuri oksida dipanasi menjadi logam mercuri

dan gas oksigen.

Perubahan Materi

Materi dapat mengalami perubahan jika dipengaruhi oleh energi kalor, listrik

atau kimia perubahan materi dibedakan dalam dua macam yaitu perubahan

fisika dan perubahan kimia

a. Perubahan fisika : Suatu materi mengalami perubahan fisika, jika jenisnya

tidak berubah, meskipun sifat-sifat fisikanya mengalami perubahan. Misalnya :

Es jika dipanasi berubah air selanjutnya menjadi uap. Dalam peristiwa ini

terjadi perubahan wujud, yaitu pada menjadi cair akhirnya menjadi, tetapi jenis

zat tetap yaitu air.

b. Perubahan kimia : Suatu materi mengalami perubahan kimia jika jenis zat

berubah. Perubahan kimia disebut juga reaksi kimia atau reaksi. Misalnya :

17
Batu kapur dipanasi menjadi kapur sohor dan karbon dioksida. Batu kapur,

kapur sohor dan karbon dioksida tiga zat yang berbeda. Pada peristiwa ini zat

sebelum dan sesudah reaksi jenisnya berbeda.

Unsur dan Sistem Periodik Unsur

Unsur adalah zat murni yang dapat diuraikan lagi menjadi zat lain yang lebih

sederhana dengan reaksi kimia biasa. Penulisan lambang unsur mengikuti

aturan sebagai berikut: Lambang unsur diambil dari singkatan nama unsur.

Beberapa lambang unsur berasal dari bahasa Latin atau Yunani nama unsur

tersebut. Misalnya Fe dari kata ferrum (bahasa latin) sebagai lambang unsur

besi. Lambang unsur ditulis dengan satu huruf kapital. Untuk unsur yang

dilambangkan dengan lebih dengan satu huruf, huruf pertama lambang ditulis

dengan huruf kapital dan huruf kedua/ketiga ditulis dengan huruf kecil. Unsur-

unsur yang memiliki nama dengan huruf pertama sama maka huruf pertama

lambang unsur diambil dari huruf pertama nama unsur dan huruf kedua

diambil dari huruf lain yang terdapat pada nama unsur tersebut. Misalnya, Ra

untuk radium dan Rn untuk radon. Pada suhu kamar (25 C) unsur dapat

berwujud Padat, Cair,dan Gas, secara umum unsur terbagi menjadi dua

kelompok yaitu:

18
Unsur Logam: umumnya unsur logam diberi nama akhiran ium. Umumnya

logam ini memiliki titik didih tinggi, mengilap, dapat dibengkokan , dan dapt

menghantarkan panas atau arus listrik.

Unsur Non Logam: umumnya memiliki titik didih rendah, tidak

mengkilap,kadang-kadang rapuh tak dapat dibengkokkan dan sukar

menghantarkan panas atau arus listrik.

Senyawa adalah zat yang terbentuk dari penggabungan unsur-unsur dengan

pembagian tertentu. Senyawa dihasilkan dari reaksi kimia antara dua unsur

atau lebih melalui reaksi pembentukan. Misalnya, karat besi (hematit) berupa

Fe2O3 dihasilkan oleh reaksi besi (Fe) dengan oksigen (O). Senyawa dapat

diuraikan menjadi unsur-unsur pembentuknya melalui reaksi penguraian.

Sistem periodik unsur modern disusun berdasarkan kenaikan nomor atom dan

kemiripan sifat. Lajur horizontal, yang selanjutnya disebut periode, disusun

menurut kenaikan nomor atom, sedangkan lajur vertikal, yang selanjutnya

disebut golongan, disusun menurut kemiripan sifat. Unsur segolongan

bukannya mempunyai sifat yang sama, melainkan mempunyai kemiripan sifat.

Setiap unsur memiliki sifat khas yang membedakannya dari unsur lainnya.

Unsur-unsur dalam sistem periodik dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu

unsur-unsur yang menempati golongan A yang disebut unsur golongan utama,

19
dan unsur-unsur yang menempati golongan B yang disebut unsur transisi

(James E. Brady, 1990).

Sistem periodik unsur modern yang disebut juga sistem periodik bentuk

panjang, terdiri atas 7 periode dan 8 golongan. Periode 1, 2, dan 3 disebut

periode pendek karena berisi sedikit unsur, sedangkan periode lainnya disebut

periode panjang. Golongan terbagi atas golongan A dan golongan B. Unsur-

unsur golongan A disebut golongan utama, sedangkan golongan B disebut

golongan transisi. Golongan-golongan B terletak antara golongan IIA dan IIIA.

Golongan B mulai terdapat pada periode 4. Dalam sistem periodik unsur yang

terbaru, golongan ditandai dengan golongan 1 sampai dengan golongan 18

secara berurutan dari kiri ke kanan. Dengan cara ini, maka unsur transisi

terletak pada golongan 3 sampai dengan golongan 12.

Energi

Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja (usaha). Satuan energi

menurut Satuan Internasional (SI) adalah joule, satuan energi yang lain: erg,

kalori, dan kWh. Satuan kWh biasa digunakan untuk menyatakan energi listrik,

dan kalori biasanya untuk energi kimia. Konversi satuan energi:

1 kalori = 4,2 joule

1 joule = 0,24 kalori


20
1 joule = 1 watt sekon

1 kWh = 3.600.000 joule

Beberapa bentuk energi antara lain:

- Energi kimia adalah energi yang terkandung dalam zat, misal makanan,

bahan bakar atau aki.

- Energi listrik, berasal dari arus listrik.

- Energi cahaya merupakan gelombang elektromagnetik, misal yang

dipancarkan dari matahari atau lampu pijar.

- Energi bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar, misal gitar yang dipetik

atau bel listrik.

- Energi nuklir berasal dari reaksi pembelahan atom (reaksi fisi) atau

penggabungan atom (reaksi fusi).

- Energi mekanik dimiliki benda karena sifat geraknya, misal air terjun.

Hukum kekekalan energi Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat

dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain

Sifat Fisika

21
Sifat fisika merupakan sifat materi yang dapat dilihat secara langsung dengan

indra. Sifat fisika ajuga merupakan perubahan yang dialami suatu benda tanpa

membentuk zat baru. Sifat fisika diantaranya adalah : wujud zat, warna, bau,

titik leleh, titik didih, massa jenis, kekerasan, kelarutan, kekeruhan dan

kekentalan.

Cabang Ilmu Fisika

Cabang-Cabang ilmu fisika, antara lain adalah :

1. Mekanika adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang gerak.

Mekanika klasik terbagi atas dua bagian, yaitu Kinematika dan Dinamika.

Kinematika membahas bagaimana suatu objek dapat bergerak tanpa

menyelidiki sebab-sebab apa yang menyebabkan suatu objek dapat bergerak.

Dinamika mempelajari bagaimana suatu objek dapat bergerak dengan

menyelidiki penyebabnya.

2. Mekanika Kuantum adalah cabang dasar fisika yang menggantikan mekanika

klasik pada tataran atom dan subatom.

3. Mekanika Fluida adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang fluida

(dapat berupa cairan dan gas)

22
4. Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang

dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan

listrik dalam satu alat seperti komputer, peralatan elektronik, semikonduktor,

dan lain-lain.

5. Teknik Elektro atau Teknik Listrik adalah salah satu bidang ilmu teknik

mengenai aplikasi listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

6. Elektrostatis adalah ilmu yang mempelajari tentang listrik statis

7. Elektrodinamis adalah ilmu yang mempelajari tentang listrik dinamis

8. Bioelektromagnetik adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang fenomena

listrik, magnetik, dan elektromagnetik yang muncul pada jaringan makhluk

hidup

9. Termodinamika adalah kajian tentang energi atau panas yang berpindah

10. Fisika Inti adalah ilmu fisika yang mengkaji atom/bagian-bagian atom

11. Fisika Gelombang adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari tentang

gelombang

12. Fisika Optik (Geometri) adalah ilmu fisika yang mempelajari tentang cahaya

23
13. Kosmografi/Astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang berbintangan

dan benda-benda angkasa

14. Fisika Kedokteran (Fisika Medis) membahas bagaimana penggunaan ilmu

fisika dalam bidang kedokteran (medis), diantaranya : Biomekanika meliputi

gaya dan hukum fluida dalam tubuh, Bioakuistik (bunyi dan efeknya pada sel

hidup/ manusia), Biooptik (mata dan penggunaan alat optik), Biolistrik (sistem

listrik pada sel hidup terutama pada jantung manusia)

15. Fisika Radiasi adalah ilmu fisika yang mempelajari setiap proses di mana

energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh

benda lain.

16. Fisika lingkungan adalah ilmu yang mempelajari kaitan fenomena fisika

dengan lingkungan. beberapa di antaranya antara lain : Fisika tanah

dalam/Bumi, Fisika tanah permukaan, Fisika udara, Hidrologi, Fisika gempa

(seismografi fisik), Fisika laut (oseanografi fisik), Meteorologi, Fisika awan,

Fisika Atmosfer

17. Geofisika adalah perpaduan antara ilmu fisika, geografi, kimia, dan

matematika. Dari segi Fisika yang dipelajari adalah : Ilmu gempa atau

Seismologi yang mempelajari tentang gempa, Magnet bumi, Gravitasi

termasuk pasang surut dan anomali gravitasi bumi.

24
Hubungan Fisika dengan Ilmu Pengetahuan Lain

Tujuan mempelajari ilmu fisika adalah agar kita dapat mengetahui bagian-

bagian dasar dari benda dan mengerti interaksi antara benda-benda, serta

mampu menjelaskanmengenai fenomena-fenomena alam yang terjadi.

Walaupun fisika terbagi atas beberapa bidang, hukum fisika berlaku universal.

Tinjauan suatu fenomena dari bidang fisika tertentu akan memperoleh hasil

yang sama jika ditinjau dari bidang fisika lain. Selain itu konsep-konsep dasar

fisika tidak saja mendukung perkembangan fisika sendiri, tetapi juga

perkembangan ilmu lain dan teknologi. Ilmu fisika menunjang riset murni

maupun terapan. Ahli-ahli geologi dalam risetnya menggunakan metode-

metode gravimetri, akustik, listrik, dan mekanika. Peralatan modern di rumah

sakit-rumah sakit menerapkan ilmu fisika. Ahli-ahli astronomi memerlukan

optik spektografi dan teknik radio. Demikian juga ahli-ahli meteorologi (ilmu

cuaca), oseanologi (ilmu kelautan), dan seismologi memerlukan ilmu fisika.

Pengukuran, Besaran, dan Dimensi

Dalam ilmu fisika pengukuran dapat dilakukan pada sesuatu yang terdifinisi

dengan jelas. Misalnya : pengukuran panjang, massa, temperatur, dll.

Pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

25
1. Pengukuran Langsung : dengan sesuatu alat ukur langsung memberikan

hasil pengukuran. Contoh : pengukuran lebar meja.

2. Pengukuran tak langsung : dengan suatu cara dan perhitungan pengukuran

ini barulah memberikan hasilnya. Contoh : pengukuran benda-benda kuno.

Pada suatu pengukuran terdapat besaran-besaran yang dianggap pokok

dimana besaran ini dipakai sebagai dasar dari suatu pengukuran.

Besaran

Dalam mekanika ada tiga besaran pokok yaitu ; massa, panjang, dan waktu.

Dalam Thermodinamika kita mengenal dua besaran pokok yaitu; suhu dan

jumlah zat. Dalam listrik dan cahaya ada dua besaran pokok yaitu ; kuat arus

dan intensitas, dan ada dua besaran pokok yang tak berdimensi yaitu sudut

ruang dan sudut bidang. Pada mulanya besaran-besaran pokok tidak

mempunyai standart yang jelas . Untuk menghindari ini maka sejak tahun 1889

diadakan pertemuan rutin yang membahas berat dan pengukuran. Pada

pertemuan yang diadakan dalam periode 1954-1971 ditetapkan tujuh besaran

pokok beserta satuannya. Siseim satuan yang digunakan adalah sistem satuan

SI.

Besaran turunan adalah besaran-besaran yang diturunkan dari besaran pokok.

Jadi besaran turunan terdiri dari lebih dari satu besaran pokok. Dalam fisika
26
terdapat banyak sekali besaran turunan. Bebarapa contoh dari besaran

turunan dibawah ini : Gaya, Kecepatan, Percepatan, Usaha, Daya, Volume,

Massa jenis, dll

Dimensi

Dimensi menyatakan sifat fisis dari suatu besaran . Atau dengan kata lain

dimensi merupakan simbul dari besaran pokok, seperti terlihat dalam tabel 1.

Dimensi dapat dipakai untuk mengecek rumus rumus fisika. Rumus fisika

yang benar harus mempunyai dimensi yang sama pada kedua ruas . Didalam

suatu pengukuran ada dua kemungkinan yang akan terjadi yaitu mendapatkan

angka yang terlalu kecil atau angka yang terlalu besar jika dipakai satuan

diatas. Untuk menyederhanakan permasalahan tersebut maka dalam

pertemuan pada tahun 1960-1975 komite international di atas menetapkan

awalan pada satuan-satuan tersebut.

27
PSEUDOMORFOSIS (bentuk semu) atau
KRISTAL SEMU
Adakalanya, mineral membentuk suatu bentuk Kristal yang sangat aneh.
Bentuk itu termasuk ke dalam system yang sama sekali lain dengan system
hablur yang sehararusnya. Bentuk itu memang hanya semu saja, dan terjadi
apabila mineral itu (kadang suatu campuran mineral berbutir halus, misalnya
berbutir batu pasir) mengisi suatu ruangan yang sebelumnya ditempati oleh
mineral lain. Umpamanya saja, pertama-tama dalam pengendapan terdapat
sekelompok Kristal kalsit, yang kemudian hanyut karena adanya pelarutan,
maka tertinggallah rongga yang merupakan cetakan kelompok Kristal kalsit
tadi. kemudian rongga itu diisi oleh mineral lain misalnya kuarsa, sehingga
kuarsa itu mendapatkan bentuk kalsit. Pembentukan Kristal semacam ini
dinamakan pseudomorfosis dari kuarsa kepada kalsit. Biasanya hal ini dapat
dikenal karena bidang-bidangnya terasa agak kasar seperti amplas,
sedangkan bidang kristal yang sesungguhnya terasa licin, atau mungkin
bergelombang seperti rusuk, tetapi selalu dalam satu arah.

Sumber: Sapiie, Benyamin. anonim. Geologi Fisik. Bandung: ITB

28
29