Anda di halaman 1dari 28

Initial Assesment Pasien Gawat Darurat

Ana Nurkhasanah Tuesday, August 2, 2016 Keperawatan Gadar

PENDAHULUAN

Apabila kita menemukan penderita yang luka parah maka seringkali kita dalam

kebingungan untuk memulai penilaian dan pengelompokan penderita, sedangkan

tindakan kita seharusnya cepat dan tepat.

Cara penilalan awal serta pengelompokannya yang akan diuraikan di bawah ini

merupakan suatu protokol menurut Advanced Trauma Life Support.

Penilaian awal ini intinya adalah:

Primary Survey, yaitu penanganan ABCDE dan resusitasi. Disini dicari keadaan yang

mengancam nyawa, dan apabila menemukan harus dilakukan resusitasi.

Secondary Survey, yaitu head to toe / pemeriksaan yang teliti dari ujung kepala sampai

kaki.

Penanganan definitif (menetap).


Survai primer maupun sekunder harus selalu diulang ulang untuk menentukan adanya

keadaan penurunan kesadaran penderita, dan memberikan resusitasi dimana

diperlukan.

TAHAPAN PENGELOLAAN PENDERITA

Penanganan penderita berlangsung dalam 2 tahap: yaitu tahap pra-rumah sakit (pre-

hospital) dan tahap rumah sakit

Tahap Pra-Rumah Sakit

Di Indonesia pelayanan pra-rumah sakit ini merupakan bagian yang sangat terbelakang

dari petayanan penderita gawat darurat secara menyeluruh. Berbeda di jalan tol

hamper semua korban penderita yang trauma dibawa oleh ambulans ke rumah sakit.

Pelayanan korban dengan trauma pra rumah sakit yang membawanya biasanya adalah

keluarga sendiri atau orang sekitar yang berbaik hati.

Prinsip utama adalah bahwa tidak boleh membuat keadaan lebih parah.

Prinsip: Do no further harm


Keadaan yang ideal adalah dimana Unit Gawat Darurat (UGD) yang datang ke

penderita, dan bukan sebaliknya, karena itu ambulans yang dating sebaiknya memiliki

peralatan yang lengkap. Petugas/paramedis yang datang membantu penderita juga

sebaiknya mendapatkan latihan khusus, karena pada saat menangani penderita

mereka harus menguasai ketrampilan khusus yang dapat menyelamatkan nyawa.

Sebaiknya rumah sakit sudah diberitahukan sebelum penderita diangkat dan tempat

kejadian, dan koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dengan petugas

lapangan akan menguntungkan penderita.

Yang harusdilakukan oleh seorang paramedis adalah:

menjaga airway dan breathing


kontrol perdarahan dan syok
imobilisasi penderita
pengiriman ke rumah sakit terdekat yang cocok

Tahap Rumah Sakit

Evakuasi Penderita

Dalam keadaan dimana penderita trauma di rumah sakit yang dibawa tanpa persiapan

pada pra-rumah sakit maka sebaiknya evakuasi dan kendaraan ke brankar dilakukan
oleh petugas rumah sakit dengan berhati-hati. Selalu harus diperhatikan kontrol

servikal.

Ingat prinsip: Do no further harm

Triase

Triase adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan sumber

daya yang tersedia. Pada umumnya kita akan melakukan triase, tidak perduli apakah

penderita hanya satu atau banyak.

Bila satu penderita, akan mencari masalah penderita (selection of problems).


Bila banyak penderita, akan mencari pende rita yang paling bermasalah).
Pemilahan akan didasarkan pada keadaan ABC (Air way, Breathing, dan
Circulation).

Dua jenis keadaan triase dapat terjadi

Jumlah penderita dan beratnya perlukaan tidak melampaui kemampuan petugas.

Dalam keadaan ini penderita dengan masalah gawat darurat dan multi-trauma akan

dilayani terlebh dahulu, sesuai prinsip ABC.


Jumlah penderita dan beratnya perlukaan melampaui kemampuan petugas. Dalam

keadaan ini yang akan dilayani terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan

survival yang terbesar dan membutuhkan waktu, perlengkapan, dan tenaga yang

terbatas.

Survai Primer (Primary Survey) dan Resusitasi

Pada tahap ini harus dicari keadaan yang mengancam nyawa, tetapi sebelum

memegang penderita trauma selalu harus proteksi diri terlebih dahulu untuk

menghindari tertular penyakit seperti Hepatitis dan AIDS.

Alat proteksi din sebaiknya:

Sarungtangan
Kaca mata, terutama apabila penderita menyemburkan darah
Apron, melindungi pakalan sendini
Sepatu

Langkah pertama: memakai alat proteksi diri

Lakukan primary survey atau mencari keadaan yang mengancam nyawa adalah:

Airway dengan kontrol servikaI (gangguan airway adalah pembunuh tercepat)


Breathing dan ventilasi
Circulation dengan kontrol perdarahan
Disability: status neurologis dan nilai GCS
Exposure/environmental: buka baju penderita tetapi cegah hipotermia

Menjaga Airway dengan kontrol servikal

Yang pertama harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas, namun harus diingat bahwa

kebanyakan usaha untuk memperbaiki jalan nafas akan menyebabkan gerakan pada

leher. Karena itu apabila ada kemungkinan fraktur servikal harus dilakukan kontrol

servikal.

Kemungkinan patahnya tulang servikal diduga bila ada:

Trauma kapitis, terutama apabila ada pernurunan kesadaran


Adanya luka karena trauma tumpul kranial dan klavikula
Setiap multi-trauma (trauma pada 2 regio tubuh atau lebih)
Juga harus waspada kemungkinan patah servikal bila bio-mekanik trauma
mendukung (misalnya ditabrak dan belakang).

Karena itu langkah selanjutnya adalah: Langkah kedua: proteksi sevikal

pertahankan posisi kepala


pasang kolar servikal dan
pasang di atas Long Spine board
Lalu perhatian ditujukan kepada airway. Ajaklah penderita berbicara, apabila penderita

dapat berbicara dengan Jelas dan dengan kalimat panjang, maka untuk sementara

dapat danggap bahwa airway dan breathing dalam keadaan balk.

Juga kemungknan penderita tidak syok, dan tidak ada kelainan neurologis, namun

asumsi ni selalu lakukan dengan berhati-hati.

Langkah berikut: lakukan penilaian Airway

Bila da pat berbicara jelas, itu berarti airway baik


Bila ada gangguan airway segera perbaiki

Sumbatan pada jalan nafas akan menyebabkan sesak yang harus dibedakan dengan

sesak karena gangguan breathing. Pada obstruksi jalan biasanya akan ditemukan

pernafasan yang berbunyi seperti: bunyi gurgling (bunyi kumur-kumur karena adanya

cairan), bunyi mengorok (snoring, karena pangkal lidah yang jatuh ke dorsal) ataupun

stridor karena adanya penyempitan/oedem larings.

Lakukan penanganan sebagal berkut:

Bila ada cairan, dilakukan suction.


Bila mengorok dilakukan penjagaan jalan nafas secara manual dengan chin lift
atau jaw thrust disusul pemasangan pipa oroparingeal atau nasoparingeal.
Pemasangan pipa oropharigeal (Guedel/Mayo) jangan dilakukan apabila penderita

masih sadar ataupun berusaha mengeluarkan pipa tersebut (masih ada gag reflex).

Dalam keadaan ini lebih baik dipasang pipa nasopharingeal.

Harus diingat bahwa pemasangan pipa melalui hidung merupakan kontraindikasi

apabila penderita ada kecurgaan fraktur basis kranii bagian depan, karena pipa dapat

masuk ke rongga kranium. Apabila penderita apnu, ada ancaman obstruksi ataupun

ada ancaman aspirasi lebih baik memasang jalan nafas definitif (pipa dalam trakea).

Jalan nafas deflnitif ini dapat melalui hidung (nasotrakeal), melalui mulut (orotrakeal)

ataupun langsung melalui suatu kriko-tiroidotomi.

Menjaga jalan nafas pada penderita trauma dapat sangat sulit. Sebagai contoh adalah

penderita dengan trauma kapitis dengan mulut yang penuh darah karena fraktur basis

kranii ataupun karena fraktur tulang wajah. Contoh lain adalah penderita kesadaran

menurun yang gelisah dan gigi terkatup.

Betapapun sulitnya, tetapi merupakan tugas dokter yang menerima penderita itu untuk

dapat menjaga jalan nafas dengan baik dan dalam waktu yang secepat mungkin.
Selama memeriksa dan memperbaiki jalan nafas, harus diperhatikan bahwa tidak boleh

dilakukan ekstensi, fleksi, atau pun rotasi dan leher.

Ingat: gangguan airway adalah pembunuh tercepat.

Breathing dan ventilasi

Langkah berikut: Periksa breathing dan atasi bila kurang baik

Jalan nafas yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Pertukaran gas yang terjadi

pada saat bernafas adalah mutlak untuk pertukaran oksigen dan Karbondioksida dan

tubuh.

Tiga hal yang harus dilakukan dalam breathing:

Nilai apakah breathing baik (look, Iisten, feel)


Ventilasi tambahan apabila breathing kurang adekuat
Selalu berikan Oksigen

Menilai pernafasan
Petugas yang berpengalaman dalam hitungan detik dapat menilai apakah pernafasan

baik atau tidak. Penderita yang dapat berbicara kalimat panjang, tanpa ada kesan

sesak, umumnya breathing-nya baik.

Pernafasan yang baik adalah pernafasan yang:

frekuensinya normal (dewasa rata-rata sekitar 20, anak 30, bayl 40)

tidak ada gejala dan tanda sesak

pada pemeriksaan fisik baik

Lakukan pemeriksaan dengan cara:

Lihat dada penderita dengan membuka pakaian untuk melihat pernafasan yang baik.

Lihat apakah ada jejas, luka terbuka, dan ekpansi kedua paru.

Auskultasi dilakukan untuk memastikan masuknya udara ke dalam kedua paru dengan

mendengarkan bising nafas (jangan lupa sekaligus memeriksa jantung!).

Perkusi dilakukan untuk menilai adanya udara (hipersonor) atau darah (dull) dalam

rongga pleura.

Cedera thorax yang dapat mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat dan

ditemukan pada saat melakukan survai primer adalah:


tension pneumothorax

flail chest dengan kontusio paru

pneumotoraks terbuka

hematotoraks massif

Kelainan-kelainan di atas harus segera ditangani, untuk menghindari kematian.

Ventilasi tambahan

Apabila pernafasan tidak adekuat harus dilakukan bantuan pernafasan (assisted

ventilation). Di UGD sebaiknya bantuan napas dilakukan dengan memakai Bag-Valve

Mask (Ambu Bag), ataupun memakai ventilator.

Oksigen

Berikan oksigen, apabila diperlukan konsentrasi oksigen yang tinggi dengan memakai

rebreathing atau non-rebreathing mask, atau dengan kanul (berikan 5-6 LPM)

Circulation dengan kontrol perdarahan


Langkah berikut: Periksa sirkulasi dengan memeriksa kulit akral dan nadi. Bila ada

tanda syok: Atasi!

Perdarahan merupakan sebab utama kematian pasca-bedah yang mungkin dapat

diatasi dengan terapi yang cepat dan tepat di rumah sakit.

Syok pada penderita trauma harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia, sampai

terbukti sebaliknya. Dengan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dari status

hemodinamik penderita.

Pengenalan syok

Ada dua pemeriksaan yang dalam hitungan detik dapat memberikan informasi

mengenai keadaan hemodinamik, yakni keadaan kulit akral dan nadi.

Keadaan kulit akral:

Warna kulit dapat membantu diagnosis hipovolemia. Penderita trauma yang kulitnya

kemerahan, terutama pada wajah dan ekstremitas, jarang yang dalam keadaan

hipovolemia. Sebaliknya, wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang pucat

serta dingin, merupakan tanda syok.


Nadi:

Nadi yang besar seperti arteri fermoralis atau arteri carotis harus diperiksa bilateral,

untuk kekuatan nadi, kecepatan dan irama. Pada syok nadi akan kecil dan cepat.

Bila nadi kecil dan cepat, kulit pucat, dan akral dingin, itu berarti syok!

Catatan mengenai tekanan darah:

Pada fase awal jangan terlalu percaya kepada tekanan darah dalam menentukan syok

karena:

Tekanan darah sebelumnya tidak diketahui.

Diperlukan kehilangan volum darah Iebih dan 30% untuk dapat terjadi penurunan

tekanan darah yang signifikan.

Kontrol pendarahan

Perdarahan dapat secara eksternal (terlihat) dan internal (tidak terlihat). Perdarahan

internal berasal dari:

rongga toraks
rongga abdomen

fraktur pelvis

fraktur tulang panjang

jarang: perdarahan retro-peritoneal karena robekan vena kava/aorta atau perdarahan

masif dari ginjal

Syok hemoragik pada orang dewasa tidak disebabkan perdarahan intra-kranial.

Perdarahan yang berat harus dikelota pada survai primer.

Perdarahan eksternal

Perdarahan eksternal dikendalikan dengan penekanan langsung pada luka. Jarang

diperlukan penjahitan untuk mengendalikan perdarahan luar. Turniket (tourniquet)

jangan dipakai, karena apabila dipasang secara benar (diatas tekanan sistolik) justru

akan merusak jaringan karena menyebabkan iskemia distal dari turniket.

Pemakaian hemostat (di klem) memerlukan waktu dan dapat merusak jaringan sekitar

seperti syaraf dan pembuluh darah.

Perdarahan internal
Spalk/bidai dapat digunakan untuk mengontrol perdarahan dari suatu fraktur pada

ekstremitas. Pneumatic anti shock garment adalah suatu alat untuk menekan pada

keadaan fraktur pelvis, namun alat ini mahal dan sulit didapat. Sebagai gantinya dapat

dipakaikan gurita sekitar pelvis.

Perdarahan intra-abdominal atau intra torakal yang masif, dan tidak dapat diatasi

dengan pemberian cairan intravena yang adekuat, menuntut diadakannya operasi

segera untuk menghentikan perdarahan.

Perbaikan volume

Kehilangan darah sebaiknya diganti dengan darah, namun penyediaan darah

memerlukan waktu, karena itu pada awalnya akan diberikan cairan kristaloid 1-2 titer

untuk mengatasi syok hemoragik metatul 2 jalur dengan jarum intravena yang besar.

Cairan kristaloid ini sebaiknya Ringers lactate (RL), walaupun NaC1 fisiologis juga

dapat dipakai. Cairan ini diberikan dengan tetesan cepat melalui suatu kateter intravena

yang besar (minimal ukuran 16). Dalam bahasa Jakarta! Jawa Barat diguyur, di Jawa

tengah/Jawa Timur dengan bahasa grojog dan di Sumatra Selata dikocor.


Cairan ini juga harus dihangatkan untuk menghindari terjadinya hipotermia.

Pemasangan kateter urin dapat dipertimbangkan disini, guna pemantauan urin.

Alur pikir pada penderita trauma yang mengalami syok:

Saat dikenali syok (penderita trauma), harus dianggap sebagai syok hemoragik. Sambil

dipasang infus, dilakukan penekanan pada perdarahan luar (bila ada). Bila tidak ada

perdarahan luar dilakukan pencarian akan adanya perdarahan internal (5 tempat:

thorax, abdomen, pelvis, tulan panjang, dan retoperitonial). Sambil mencari sumber

perdarahan, dilakukan evaluasi respon penderita terhadap pemberian cairan.

Kemungknan adalah:

Respon baik: setelah diguyur, tetesan diperlahan, tanda-tanda perfusi baik (kulit

menjadi hangat, nadi menjadi besar dan melambat, tensi naik dsb). Ini pertanda

perdarahan sudah berhenti.

Respon sementara: setelah tetesan dipelankan, ternyata penderita masuk syok lagi. ini

mungkin disebabkan: resusitasi cairan masih kurang, atau perdarahan berlanjut.

Respon tidak ada: Apabila sama sekali tidak ada respon terhadap pemberian cairan,

maka harus dipikirkan perdarahan yang hebat atau syok non hemoragik (paling sering

kardiogenik).
Disability: (defisit neurologis)

Perdarahan intra-kranial dapat menyebabkan kematian dengan sangat cepat (the

patient who talks and dies), sehngga diperlukan evaluasi keadaan neurologis secara

cepat. Yang dinilai disini adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi pupil.

GCS (Glasgow Coma Scale):

GCS adalah sistem skoring yang sederhana dan dapat meramal kesudahan (outcome)

penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan penurunan oksigenasi atau/dan

penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan perlukaan pada otak sendiri.

Perubahan kesadaran akan dapat mengganggu airway serta breathing yang

seharusnya sudah diatasi terlebih dahulu. Jangan lupa bahwa alkohol dan obat-obatan

dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita.

Penurunan tingkat GCS yang lebh dan satu (2 atau lebih) harus sangat diwaspadai.

Pupil:
Nilai adakah perubahan pupil. Pupil yang tidak sama besar (anisokor) kemungkinan

menandakan adanya suatu lesi masa intra-kranial (perdarahan). Perlu diingat bahwa

lesi biasanya (tidak selalu!) akan terjadi pada sisi pupil yang melebar.

Resusitasi:

Terhadap kelainan primernya di otak tidak banyak yang dapat dilakukan, namun tugas

sangat penting dan dokter yang menerima penderita trauma kapitis di UGD adalah

dengan menghindari cedera otak sekunder (secondary brain injury).

Yang harus dilakukan terapi dengan agresif adalah adanya hipovolemia, hipoksia dan

hiperkarbia untuk menghindari cedera otak sekunder tersebut.

Exposure / kontrol Iingkungan

Di rumah sakit penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya untuk evaluasi kelainan

atau injury secara cepat pada tubuh penderita. Setelah pakaian dibuka perhatikan

terhadap injury/Jejas pada tubuh pendenita, dan harus dipasang selimut agar penderita

tidak kedinginan. Harus dipakaikan selimut hangat, rungan cukup hangat dan diberikan

cairan intra-vena yang sudah dihangatkan.


Apabila pada primary survey dicurigai ada perdarahan dari belakang tubuh maka

dilakukan log roll untuk mengetahui sumber perdarahan.

Folley Catheter/Kateter urin

Pemakaian kater urin dan lambung harus dipertimbangkan. Jangan lupa mengambil

sampel urin untuk pemeriksaan urin rutin. Produksi urin merupakan indikator yang peka

untuk menilai keadaan hemodinamik penderita.

Catatan: urin penderita dewasa 0,5cc.kgBB/jam, anak lcc/kgBB/jam, bayi 2cc/kgBB/jam.

Kateter urin jangan dipakai bila ada dugaan ruptur uretra yang ditandai oleh:

adanya darah di lubang uretra bagian luar (OUE/Oriflsium Uretra External)

hematom di skrotum

pada colok dubur prostat letak tinggi atau tidak teraba.

Dengan demikian maka pemasangan kateter urin tidak boleh dilakukan sebelum colok

dubur (khusus pada penderita trauma).

Gastric Tube/Kateter lambung


Kateter lambung dipakai untuk mengurangi distensi lambung dan mencegah muntah. Isi

lambung yang pekat akan mengakibatkan NGT tidak berfungsi, pemasangannya sendiri

dapat mengakibatkan muntah. Darah dalam lambung dapat disebabkan darah tertelan,

pemasangan NGT yang traumatik atau perlukaan lambung.

Bila lamina kribrosa patah (fraktur basis kranii anterior) atau diduga patah, kateter

lambung harus dipasang melalui mulut untuk mencegah masuknya NGT da lam rongga

otak.

Heart Monitoring/ Monitor EKG

Monitoring hasil resusitasi didasarkan pada ABC penderita.

Airway: seharusnya sudah diatasi.

Breathing: pemantauan laju nafas (sekaligus memantau airway), dan kalau ada: pulse

oximetry.

CirCulation: nadi, tekanan nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan jumlah urin setiap jam.

Bila ada sebaiknya terpasang monitor EKG

Disability: filai tingkat kesadaran penderta dan adakah perubahan pupil

Foto Rontgen
Pemakaian foto rontgen harus selektif, dan jangan mengganggu proses resusitasi.

Pada penderita dengan trauma tumpul harus dilakukan 3 foto rutin:

Servikal

Toraks (AP)

Pelvis (AP)

Foto servikal AP harus terlihat ke-7 ruas tulang servikal, apabila tidak terlihat harus

dengan

menarik kedua bahu ke arah kaudal, ataupun dengan swimmers view.

Survei Sekunder dan Pengelolaannya

Survei sekunder adalah pemeriksaan teliti yang dilakukan dari ujung rambut sampai

ujung kaki, dari depan sampai belakang dan setiap lubang dimasukkan jari (tube finger

in every orifice).

Survei sekunder hanya dilakukan apabila penderita telah stabil.

Sedikit mengenai pengertian stabil: penderita stabil berarti bahwa keadaan penderta

sudah tidak menurun. Mungkin masih ada tanda syok, namun tidak bertambah berat. ini

berbeda dengan keadaan normal, dmana pendenita kembali ke keadaan normal.


Survei sekunder juga harus meliputi pemeriksaan yang teliti akan setiap lubang alami

(tubes and finger in every orifice).

Anamnesis

Anamnesis harus lengkap karena akan memberikan gambaran mengenai cedera yang

mungkin diderita. Beberapa contoh:

Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk pengaman: cedera wajah,

maksilo fasial, servikal, toraks, abdomen memberikan gambaran mengenai cedera yang

mungkin diderita.

Jatuh dan pohon setinggi 6 meter: perdarahan intra-kranial, fraktur servikal atau

vertebra lain, fraktur ekstremitas.

Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO

Anamnesis juga harus meliputi:

A : alergi

M : medikasi/obat-obatan

P : penyakit sebelumnya yang diderita: hipertensi, DM

L : last meal (terakhir makan jam berapa, bukan makan apa)


E : events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera

Dapatkan riwayat AMPLE dari penderita, keluarga, atau petugas pra RS.

Pemeriksaan fisik

Meliputi inspeksi, auskultasi, palpasi, dan perkusi.

Kulit kepala

Seluruh kulit kepala di periksa. Cukup sering terjadi bahwa pendenita yang nampaknya

cedera ringan, tiba-tiba ada darah di lantai yang berasal dari tetesan luka di belakang

kepala. Lakukan inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk adanya laserasi,

kontus, fraktur, dan luka termal.

Wajah

Ingat prinsip: look, listen, feel. Apabila cedera sekitar mata jangan lalai memeriksa

mata, karena pembengkakan di mata akan menyebabkan pemeriksaan mata selanjut

nya menjadi sulit. Re-evaluasi tingkat kesadaran dengan skor GCS.


Mata: periksa cornea ada cedera atau tidak, pupil mengenai isokori serta reflex cahaya,

acies visus dan acies campus.

Hidung: apabila ada pembengkakan, lakukan palpasi akan kemungkinan krepitasi dari

suatu fraktur.

Zygoma: apabila ada pembengkakan jangan lupa mencari krepitas akan adanya fraktur

zygoma.

Telinga: periksa dengan senter mengenai keutuhan membrana timpani atau adanya

hemotimpanum.

Rahang atas: periksa stabilitas rahang atas

Rahang bawah: periksa akan adanya fraktur.

Vertebra servika lis dan Leher

Pada saat memeriksa leher, kolar terpaksa dilepas. Jangan lupa untuk seorang

pembantu tetap melakukan fiksasi pada kepala.

Periksa adanya cedera tumpul atau tajam, deviasi trakea, dan pemakaian otot

tambahan.

Palpasi akan adanya nyeri, deformitas, pembekakan, emfisema subkutan, deviasi

trakea, dan simetri pulsasi. Tetap jaga imobilisasi segaris dan proteksi servikal.
Jaga airway, pernafasan, dan oksigenasi. Kontrol perdarahan, cegah kerusakan otak

sekunder, dan lepaskam lensa kontak

Toraks

Pemerksaan dilakukan dengan look-listen-feel. Inspeksi dinding dada bagian depan,

samping dan belakang untuk adanya trauma tumpul/ tajam, pemakaian otot pernafasan

tambahan dan ekspamsi toraks bilateral.

Auskultasi pada bagian depan untuk bising nafas (bilateral) dan bising jantung.

Palpasi seluruh dinding dada untuk adanya trauma tajam/tumpul, emfisema subkutan,

nyeri tekan dan krepitasi.

Perkusi untuk adanya hipersonor dari keredupan. Ingat bahwa setiap cedera di bawah

putting susu, ada kemungkjnan cedera intra abdominal pula.

Abdomen
Cedera intra-abdomen kadang-kadang luput terdiagnosis, misalnya pada keadaan

cedera kepala dengan penurunan kesadaran, fraktur vertebra dengan kelumpuhan

(penderita tidak sadar akan nyeri perutnya dan gejala defans otot dan nyeri tekan/lepas

tidakada).

Inspeksi abdomen bagian depan dan belakang untuk adanya trauma tajam, tumpul, dan

adanya perdarahan internal.

Auskultasi bising usus, perkusi abdomen untuk mendapatkan nyeri lepas (ringan).

Palpasi abdomen nyeri tekan, defans muskuler, nyeri lepas yang jelas, atau uterus

yang hamil.

Bila ragu-ragu akan adanya perdarahan intra-abdominal dapat dilakukan pemeriksaan

DPL (diagnostic peritoneal lavage), atau pun USG (ultra -sonography). Ingat bahwa

pada perforasi organ ber-lumen misalnya usus halus gejala mungkin tidak akan nampak

dengan segera, karena itu memerlukan re-evaluasi berulang-kali.

Pengelolaan: Transfer penderita ke ruang operasi bila diperlukan

Pelvis
Cedera pada pelvis yang berat, akan nampak pada pemeriksaan fisik (pelvis menjadi

tidak stabil). Pada cedera berat ini kemungkinan penderita akan masuk dalam keadaan

syok, yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi pasang PASG / gurita untuk control

perdarahan dan fraktur pelvis.

Ekstremtas

Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan lupa untuk

memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur (fraktur terbuka), pada saat palpasi jangan

lupa untuk memeriksa denyut nadi distal dan fraktur, pada saat menggerakkan, jangan

dipaksakan bila jelas fraktur.

Sindroma kompartemen (tekanan intra kompartemen dalam ekstremitas meninggi

sehingga membahayakan aliran darah) mungkin luput terdiagnosis pada penderita

dengan penurunan kesadaran atau kelumpuhan.

Bagian punggung

Memerksa punggung dilakukan dengan log roll (memiringkan penderita dengan tetap

menjaga kesegarisan tubuh). Pada saat ini dapat ditakukan pemeriksaan punggung.
Tambahan terhadap survey sekunder

Pertimbangkan perlunya diadakan pemeriksaan tambahan seperti foto tambahan, CT

Scan, USG, endoskopi, dsb.

Re-EvaluaSi Penderita

Penilaian ulang penderita dengan mencatat melaporkan setiap perubahan pada kondisi

penderita dan respon terhadap resusitasi Monitoring dan tanda vital dan jumlah urin

mutlak dilakukan.

Jangan lakukan pemeriksaan yang tidak perlu apabila penderita akan dirujuk ke RS

lainnya.

Transfer ke Pelayanan Definitif

Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan, kebutuhan pendenita selama perjalanan,

dan cara komunikasi dengan dokter yang akan dirujuk.