Anda di halaman 1dari 19

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : Ion Exchange


PEMBIMBING : Dr. Ir. Endang Sri Rahayu, MT

Praktikum A. 2017
: 22 September
Penyerahan : 26 September 2017
(Laporan)

Oleh :

Kelompok : V
Nama : 1. M.Hibatul Aziz 151411018
2. Nabila Fatin Kamilasari 151411021
3. Nabila Nisa Mukarom 151411022

Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, hingga saat ini tetap
melaksanakan pembangunan industri. Meningkatnya jumlah industri tidak hanya
memberikan dampak positif, tetapi juga memberikan dampak negatif, misalnya
pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah industri, yang dapat menyebabkan
penurunan kualitas lingkungan.
Dampak pencemaran lingkungan yang mungkin timbul akibat limbah cair yang
dihasilkan dari kegiatan industri dapat diketahui dengan mengukur konsentrasi parameter-
paremeter limbah cair, baik berupa paramater fisik, parameter kimia (organik dan
anorganik) ataupun parameter biologi.
Air konsumsi adalah air yang memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan
Kepmenkes RI No. 907/MENKES/SK/VII/2002 tanggal 29 Juli 2002 tentang Syarat-
syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum yaitu kadar Fe sebesar 0,3 mg/l. Secara
kualitas, ditemukan beberapa penyimpangan terhadap parameter kualitas air bersih, baik
kualitas fisik, kimia, biologi, ataupun radioaktif. Penurunan kualitas air diantaranya
diakibatkan oleh adanya kandungan besi yang sudah ada pada tanah karena lapisan-
lapisan tanah yang dilewati air mengandung unsur-unsur kimia tertentu, salah satunya
adalah persenyawaan besi.
Proses pertukaran ion adalah proses di mana suatu material atau bahan tidak iarut
menangkap ion-ion bermuatan baik positif maupun negatif dari suatu larutan dan
melepaskan ion-ion bermuatan sejenis ke dalam larutan dalam jumlah yang setara. Bila
proses pertukaran telah mencapai titik jenuh, maka dilakukan proses regenerasi dengan
tujuan agar kapasitas penukaran material penukar ion dapat kembali seperti semula.
Untuk menjadi penukar ion yang efektif, suatu resin penukar ion harus
mempunyai ion-ion yang mudah bertukar dalam struktur yang tidak mudah larut dalam
air, dan ruangan yang cukup dalam strukturnya untuk menjamin kebebasan ion-ion
bergerak keluar dan masuk dalam matriks bahan.
1.2 Tujuan
1. Melaksanakan operasi backwash pada resin kation dan resin anion.
2. Menganalisis nilai kekeruhan aliran effluent per sekian menit.

1.3 Batasan Masalah


Resin yang digunakan adalah resin kation dan anion. Proses backwash dilakukan
dengan hanya satu kali dilewati resin. Variabel yang digunakan ialah waktu prosesnya,
sedangkan parameter yang digunakan adalah kekeruhan (NTU).
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Padatan
Padatan adalah keadaan benda yang dicirikan dengan volume dan bentuk yang tetap.
Dalam benda padat, atom atom saling berdekatan dan keras tetapi tidak mencegah benda
padat berubah bentuk atau terkompresi. Dalam fase padat, atom - atom memiliki order ruang
karena semua benda memiliki energi kinetik. Atom - atom dalam benda padat dan keras dapat
bergerak sedikit, namun gerakan ini tak terlihat/mikroskopis (Rainer, 2010).
Padatan dalam air pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu :
1. Padatan Tersuspensi

Padatan tersuspensi adalah padatan yang berada dalam kolom air dan memiliki ukuran
partikel 0.45 2 mm. Padatan tersuspensi terdiri dari material organik dan anorganik.
Padatan tersuspensi adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan
tidak dapat mengendap langsung. Padatan tersebut berupa partikel-partikel yang ukuran
maupun beratnya lebih kecil dari pada sedimen (Fardiaz, 1992).
Padatan tersuspensi dan terendap akan mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam
air sehingga mempengaruhi produksi oksigen secara fotosintesis (Wardhana, 2001 dalam
Fardiaz, 1992). Padatan tersuspensi memiliki ukuran partikel lebih besar dan dapat dilihat
secara kasat mata, dapat dipisahkan secara fisika dengan cara sedimentasi. Padatan
tersuspensi menyebabkan air menjadi keruh atau kotor.
2. Padatan Terlarut

Padatan terlarut adalah padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil daripada
padatan tersuspensi. Berupa senyawa anorganik dan organik yang larut air, mineral dan
garam-garamnya (Fardiaz, 1992). Bahan-bahan mineral yang dapat terkandung di dalam air,
antara lain CaCO3, MgCO3, CaSO4, MgSO4, NaCl, Na2SO4, SiO2 dan sebagainya.

3. Koloid

Koloid adalah campuran heterogen dari dua zat atau lebih di mana partikel-partikel
zat berukuran antara 1 hingga 1000 nm terdispersi (tersebar) merata dalam medium zat lain.
Zat yang terdispersi sebagai partikel disebut fase terdispersi, sedangkan zat yang menjadi
medium mendispersikan partikel disebut medium pendispersi (Johari dan Rachmawati,
2009).
2.2 Resin Penukar Ion
2.2.1 Definisi Resin Penukar Ion
Pertukaran ion merupakan suatu metode penghilangan mineral air yang bertujuan
untuk mengambil semua ion kation dan ion anion dalam air. Umumnya, media yang
digunakan dalam pertukaran ion adalah resin alami maupun sintetis. Pada saat terjadi
pertukaran ion, maka ion yang terlarut dalam air akan terserap ke dalam resin penukar ion
dan resin akan melepaskan ion lainnya dalam keselarasan ekivalen.
Pertukaran ion bersifat stokiometri, yakni satu H+ diganti oleh suatu Na+. Pertukaran
ion adalah suatu proses kesetimbangan dan jarang berlangsung lengkap, namun tak peduli
sejauh mana proses itu terjadi, stokiometrinya bersifat eksak dalam arti satu muatan positif
meninggalkan resin untuk tiap satu muatan yang masuk. Ion dapat ditukar yakni ion yang
tidak terikat pada matriks polimer disebut ion lawan (Counterion) (Underwood, 2001).
Pertukaran ion adalah sebuah proses fisika-kimia. Pada proses tersebut senyawa yang
tidak larut, dalam hal ini resin, menerima ion positif atau negatif tertentu dari larutan dan
melepaskan ion lain ke dalam larutan tersebut dalam jumlah ekivalen yang sama. Jika ion
yang dipertukarkan berupa kation, maka resin tersebut dinamakan resin penukar kation, dan
jika ion yang dipertukarkan berupa anion, maka resin tersebut dinamakan resin penukar
anion.
Reaksi pertukaran kation dan reaksi pertukaran anion ditunjukkan pada reaksi (1) dan (2) di
bawah ini :
Reaksi pertukaran kation : 2NaR (s) + CaCl2 (aq) => CaR(s) + 2 NaCl(aq) (1)
Reaksi pertukaran anion : 8 2RCl (s) + Na2SO4 => R2SO4(s) + 2 NaCl (2)
Reaksi (1) menyatakan bahwa larutan yang mengandung CaCl2 diolah dengan resin
penukar kation NaR, dengan R menyatakan resin. Resin mempertukarkan ion Na+ larutan dan
melepaskan ion Na+ yang dimilikinya ke dalam larutan. Jika resin tersebut telah
mempertukarkan semua ion Na+ yang dimilikinya, maka reaksi pertukaran ion akan terhenti.
Pada saat itu resin dikatakan telah mencapai titik habis (exhausted), sehingga harus
diregenerasi dengan larutan yang mengandung ion Na+ seperti NaCl.
Gambar 1. Struktur dari resin penukar ion
2.2.2 Jenis Jenis Resin Penukar Ion
Jenis-Jenis Resin Penukar Ion Berdasarkan jenis gugus fungsi yang digunakan, resin penukar
ion dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :
Resin penukar kation asam kuat
Dinamakan demikian karena sifat kimia nya mirip dengan asam kuat. Resin sangat
terionisasi di kedua asam (R-SO3H) dan garam (R-SO3Na). Resin penukar kation asam kuat
mengandung gugus SO3H. Gugus ion yang biasa dipakai pada resin penukar kation asam
kuat adalah gugus sulfonat. Pada resin kation asam kuat dapat bekerja di seluruh kisaran pH.
Resin penukar kation asam lemah
Gugus fungsi pada resin penukar kation asam lemah adalah karboksilat (RCOOH).
Jenis resin ini tidak dapat memisahkan garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat,
tetapi dapat menghilangkan kation yang berasal dari garam bikarbonat untuk membentuk
asam karbonat, atau dengan kata lain resin ini hanya dapat menghasilkan asam yang lebih
lemah dari gugus fungsinya.
Resin penukar kation asam lemah bekerja pada pH sekitar pH 5 14. Bila pH
dibawah 5, maka resin akan menahan proton terlalu kuat untuk pertukaran kation. Resin
asam lemah untuk pemisahan basa kuat atau zat ionik multifungsi seperti protein, sedangkan
resin asam kuat untuk pemisahan yang lebih kompleks.
Resin penukar anion basa kuat
Resin penukar anion basa kuat ini befungsi di hampir seluruh kisaran pH yaitu dari 0
hingga 12. Resin penukar anion basa kuat akan menghilangkan asam yang dihasilkan dari
reaksi resin penukar kation asam kuat siklus hidrogen yang mengubah garam-garam terlarut
menjadi asam, termasuk asam silikat dan asam karbonat. Resin penukar anion basa kuat
mampu bereaksi dengan anion asam kuat seperti Cl-,SO4 -2, NO3 -
dan anion asam lemah
misalnya CO3 -2.
Resin penukar anion basa lemah
Resin ini digunakan untuk menukar asam kuat dengan adsorpsi air yang tidak dapat
menguraikan garam. Resin penukar anion basa lemah hanya dapat memisahkan asam kuat
seperti HCl dan H2SO4 tetapi tidak dapat menghilangkan asam lemah seperti asam silikat
dan asam karbonat. Oleh sebab itu resin penukar anion basa lemah sering kali disebut sebagai
acid adsorbers. Resin penukar anion bersifat basa lemah (mengandung OH sebagai gugusan
labil). Resin penukar anion basa lemah ini berfungsi dengan baik dibawah pH.

Gambar 2. Teori Pertukaran Ion Berdasarkan Jenis Resin


2.2.3 Proses Pertukaran Ion

Larutan yang melalui kolom disebut influent, sedangkan larutan yang keluar kolom
disebut effluent. Proses pertukarannya adalah serapan dan proses pengeluaran ion adalah
desorpsi atau elusi. Mengembalikan resin yang sudah terpakai kebentuk semula disebut
regenerasi sedangkan proses pengeluaran ion dari kolom dengan reagent yang sesuai disebut
elusi dan pereaksinya disebut eluent. Yang disebut dengan kapasitas pertukaran total adalah
jumlah gugusan-gugusan yang dapat dipertukarkan di dalam kolom, dinyatakan dalam
miliekivalen. Kapasitas penerobosan (break through capacity) didefinisikan sebagai
banyaknya ion yang dapat diambil oleh kolom pada kondisi pemisahan; dapat juga dikatakan
sebagai banyaknya miliekivalen ion yang dapat ditahan dalam kolom tanpa ada kebocoran
yang dapat teramati. Kapasitan penerobosan lebih kecil dari kapasitas total pertukaran kolom
dan tidak tergantung terhadap sejumlah variabel, seperti tipe resin, afinitas penukaran ion,
komposisi larutan, ukuran partikel, dan laju aliran (Khopkar, 1990)
2.2.4 Operasi Pertukaran Ion
Operasi sistem pertukaran ion dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu :
1. tahap layanan (service)

Tahap layanan adalah tahap dimana terjadi reaksi pertukaran ion. Tahap layanan
ditentukan oleh konsentrasi ion yang dihilangkan terhadap waktu, atau volume air produk
yang dihasilkan. Hal yang penting pada tahap layanan adalah kapasitas (teoritik dan operasi)
dan beban pertukaran ion (ion exchange load). Kapasitas pertukaran teoritik didefinisikan
sebagai jumlah ion secara teoritik yang dapat dipertukarkan oleh resin per satuan massa atau
volume resin. Kapasitas pertukaran ion teoritik ditentukan oleh jumlah gugus fungsi yang
dapat diikat oleh matriks resin. Kapasitas operasi adalah kapasitas resin aktual yang
digunakan untuk reaksi pertukaran pada kondisi tertentu. Beban pertukaran ion adalah berat
ion yang dihilangkan selama tahap layanan dan diperoleh dari hasil kali antara volume air
yang diolah selama tahap layanan dengan konsentrasi ion yang dihilangkan. Tahap layanan
ini dilakukan dengan cara mengalirkan air umpan dari atas (down flow).
2. tahap pencucian balik (backwash)

Selama proses pertukaran ion, kotoran di dalam air misalnya padatan tersuspensi dan
juga senyawa organik dapat tertahan dan melapisi permukaan resin yang dapat menurunkan
kinerja resin penukar ion. Oleh karena itu, di dalam prakteknya diperlukan pencucian balik
untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan resin. Pencucian
balik dilakukan dengan mengalirkan air dengan arah aliran dari bawah ke atas. Selama proses
pencucian balik volume resin yang berada di dalam reaktor akan mengembang atau
terfluidisasi.
Oleh karena itu untuk merancang reaktor penukar ion biasanya ruang bebas yang
disediakan berkisar antara 65-85%, sehingga jika resin penukar ion terjadi pengembangan
50% pada waktu pencucian balik, secara teknis masih aman. Tahap pencucian balik
dilakukan jika kemampuan resin telah mencapai titik habis. Sebagai pencuci digunakan air
produk. Pencucian balik mempunyai sasaran sebagai berikut :
1. pemecahan resin yang tergumpal
2. penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam ruang antar resin
3. penghilangan kantong-kantong gas dalam unggun, dan
4. pembentukan ulang lapisan resin Pencucian balik dilakukan dengan pengaliranair
dari bawah ke atas (up flow). Pada tahap ini terjadi pengembangan unggun antara 50
hingga 70%.
3. Tahap Regenerasi, dan
Tahap regenerasi adalah operasi penggantian ion yang terserap dengan ion awal yang
semula berada dalam matriks resin dan pengembalian kapasitas ke tingkat awal atau ke
tingkat yang diinginkan. Larutan regenerasi harus dapat menghasilkan titik puncak
(mengembalikan waktu regenerasi dan jumlah larutan yang digunakan). Tingkat regenerasi
dinyatakan sebagai jumlah larutan regenerasi yang digunakan per volume resin.
Efisiensi regenerasi resin penukar kation asam kuat yang diregenerasi dengan H2
anion basa kuat yang diregenerasi dengan NaOH antara 20-50%, oleh sebab itu pemakaian
larutan regenerasi 2-5 kali lebih besar dari kebutuhan teoritik. Efisiensi regenerasi resin
penukar kation asam kuat yang diregenerasi dengan H2 anion basa kuat yang diregenerasi
dengan NaOH antara 20-50%, oleh sebab itu pemakaian larutan regenerasi 2-5 kali lebih
besar dari kebutuhan teoritik. Proses regenerasi unit dilakukan dengan menginjeksi regeneran
pada masing-masing unit. Regeneran untuk kation adalah HCl dan untuk anion NaOH.
4. tahap pembilasan.

Tahap pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa larutan regenerasi yang


terperangkap oleh resin. Pembilasan dilakukan menggunakan air produk dengan aliran down
flow dan dilaksanakan dalam dua tingkat, yaitu : 1. tingkat laju alir rendah untuk
menghilangkan larutan regenerasi, dan 2. tingkat laju alir tinggi untuk menghilangkan sisa
ion Limbah pembilasan tingkat laju alir rendah digabungkan dengan larutan garam dan
dibuang, sedangkan limbah pembilasan tingkat laju alir tinggi disimpan dan digunakan
sebagai pelarut senyawa untuk regenerasi.
2.2.5 Aplikasi Ion Exchange
a) Ion Exchange sebagai Water Softening
Aplikasi ion exchanger sebagai water softener merupakan fungsi umum dan
digunakan sangat luas di industri yang memerlukan soft water untuk proses dan bahan baku
boiler . Air baku yang tingkat ke-sadahan-nya (hardness) tinggi karena kandungan kalsium
dan magnesium harus diturunkan dengan cara menggantikannya dengan muatan ion sodium
yang terdapat pada resin. Proses pertukaran ion terus berjalan sampai tercapai equilibrium
dan jenuh dan sesudah kondisi resin jenuh maka segera dilakukan re-generasi dengan dicuci
dengan air yang mengandung garam NaCl tinggi. Soft water digunakan untuk boiler feed
water guna mencegah terjadinya endapan (scaling) pada pipa saluran air baik pada sistim
boiler maupun pada sistim pendingin.
b) Sebagai media purifikasi
Dalam hal penggunaan media ion exchange sebagai purifier misalnya untuk
mengangkat bahan- bahan beracun yang dibawa oleh fluida tertentu, maka ion exchanger
dapat mengambil ion-ion logam berat seperti Cadmium, Lead dan Copper dan
menggantikannya dengan ion-ion garam sodium dan potassium. Ada jenis resin ion exchange
lain yang dapat menyaring kontaminan organik air baku dengan menambahkan karbon aktif
pada kolom ion exchange tersebut. Pemilihan jenis resin akan menentukan fungsi ion
exchange pada pabrik yang menggunakannya sebagai water softening, sebagai media filtrasi
logam berat fluida tertentu maupun sebagai penyaring mineral pada air baku.
c) Demineralisasi
Demineralisasi adalah proses pertukaran ion yang melibatkan proses kation
exchanger,dan anion exchanger. Pada proses pertukaran kation ion-ion (Ca, Mg, dll) pada air
akan digantikan dengan ion H+, menggunakan penukar kation muatan hidrogen. Tahap kedua,
asam yang dihasilkan dihilangkan dengan penukar anion muatan hidroksida (OH-). Penukar
kation diregenerasi dengan asam dan penukar anion dengan alkali. Reaksinya sebagai berikut
:
Tahap pertukaran kation :

Tahap pertukaran anion :


BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


Alat Bahan
Kolom resin penukar kation Air Baku
Kolom resin penukar anion
Ember
Konduktometer
Gelas ukur 500 ml
Selang
Gelas ukur 50 ml

3.2 Skema Percobaan


3.2.1 Proses Backwash
Kolom Kation
Terfluidisasi

Tinggi awal Tinggi akhir


59 cm 90 cm
Laju alir air
X m/s Aliran air
Kolom Anion
Ekspansi 50%
Terfluidisasi

Tinggi akhir
Tinggi awal 97 cm
65 cm

Laju alir air


Aliran air
Y m/s
BAB IV
DATA PENGAMATAN

4.1 Proses Backwash


Tinggi resin : 59 cm (kation) ; 65 cm (anion)
Tinggi resin saat ekspansi : 90 cm (kation) ; 97 (anion)
Kekeruhan umpan : 1,9 NTU

Kekeruhan (NTU)
Waktu (menit)
Resin Kation Resin Anion
0 3,61 3,91
5 2,39 2,32
10 2,4 2,29
Tabel 1. Tabel Nilai Kekeruhan Resin Penukar Ion

4.2 Grafik Nilai Kekeruhan (NTU) Terhadap Waktu Backwash

Kekeruhan (NTU) terhadap Waktu


Backwash
4.5
4 3.91
3.5 3.61
Kekeruhan (NTU)

3
2.5 2.39
2.32 2.4
2.29
2 Resin Kation
1.5 Resin Anion
1
0.5
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Waktu (menit)

Grafik 1. Grafik Kekeruhan (NTU) Terhadap Waktu


BAB V
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

Pembahasan Oleh M. Hibatul Aziz (151411018)


Telah dilakukan percobaan proses backwash pada kolom resin penukar ion.
Proses backwash bermaksud agar menghilangkan partikulat yang menyelimuti resin penukar
ion. Proses backwash dilakukan dengan mengalirkan air baku dari bagian bawah kolom resin
penukar ion hingga resin akan terfluidisasi dan air yang membawa partikulat akan keluar dari
bagian atas kolom resin penukar ion. Proses backwash dilakukan agar proses adsorpsi dan
pertukaran ion tidak terhambat pada saat in service. Dalam proses backwash variabel bebas
berupa laju alir masuk sedangkan variabel kontrolnya berupa kekeruhan dari air keluaran
(effluent) kolom resin penukar ion.
Pada proses backwash umpan yang digunakan adalah air bersih (air kran)
dengan nilai kekeruhan sebesar 1,9 NTU. Dalam proses backwash sangat mungkin udara
menekan sehingga tidak terjadi proses fluidisasi, maka dari itu perlu untuk mengeluarkan
udara yang tertahan dalam kolom dengan membuka katupnya dan mengalirkan air. Proses
backwash dilakukan selama 10 menit, dan perhitungan waktu dimulai setelah resin penukar
ion mulai terfluidisasi didalam kolom. Dilakukan sampling air keluaran kolom (effluent) pada
waktu t=0, pada waktu 5 menit dan pada waktu 10 menit. Sampling air keluaran kolom
dimaksudkan untuk mengetahui nilai kekeruhan air pada waktu t.
Pada percobaan backwash pada kolom resin kation, umpan yang digunakan berupa air
bersih. Resin didalam kolom terfluidisasi pada laju alir sebesar X m/s dan resin mengembang
hingga ketinggian resin mencapai 90 cm. Pada waktu t=0, air aliran effluent memiliki nilai
kekeruhan sebesar 3,61 NTU. Setelah 5 menit dilakukan backwash air aliran effluent
memiliki nilai kekeruhan sebesar 2,39 NTU. Dan setelah 10 menit dilakukan backwash air
aliran effluent memiliki nilai kekeruhan sebesar 2,4 NTU.
Pada percobaan backwash untuk kolom resin penukar anion dengan umpan yang sama
yaitu air bersih (air kran), resin didalam kolom terfluidisasi pada laju alir sebesar Y m/s dan
resin mengembang hingga mencapai ketinggian 97 cm. Pada waktu t=0 air aliran effluent
memiliki nilai kekeruhan sebesar 3,91 NTU. Dilakukan backwash selama 5 menit dan didapat
nilai kekeruhan air effluent sebesar 2,32 NTU. Setelah dilakukan proses backwash selama 10
menit didapat nilai kekeruhan sebesar 2,29 NTU.
Nilai kekeruhan pada effluent t=0 meningkat karena banyaknya partikulat yang
terbawa oleh air, setelah 5 menit proses backwash nilai kekeruhan akan turun kembali, hal ini
karena jumlah partikulat yang menyelimuti resin telah berkurang, hingga akhirnya nilai
kekeruhan pada effluent mendekati nilai umpan yang masuk. Perubahan nilai kekeruhan pada
aliran effluent resin penukar kation dan resin penukar anion selama 10 menit dari hasil
percobaan dapat dilihat pada grafik 1.

Kesimpulan Oleh M. Hibatul Aziz (151411018)


Dari hasil percobaan backwash pada kolom resin pertukaran ion dapat disimpulkan
bahwa :
Nilai kekeruhan air baku yang digunakan untuk proses backwash resin penukar ion
sebesar 1,9 NTU.
Pada resin penukar kation, nilai kekeruhan air pada aliran effluent pada waktu t= 0
sebesar 3,61 NTU, setelah 5 menit sebesar 2,39 NTU, setelah 10 menit sebesar 2,4
NTU.
Pada resin penukar anion, nilai kekeruhan air pada aliran effluent pada waktu t= 0
sebesar 3,91 NTU, setelah 5 menit sebesar 2,32 NTU, setelah 10 menit sebesar 2,29
NTU
Laju alir air umpan pada saat unggun resin kation mencapai 90 cm, memiliki laju
sebesar X m/s
Laju alir air umpan pada saat unggun resin anion mencapai 97 cm, memiliki laju
sebesar Y m/s
Proses backwash dapat menghilangkan partikulat yang menyelimuti resin, dapat
dilihat dari nilai kekeruhan yang menurun hingga mendekati nilai kekeruhan umpan
masuk.

Pembahasan Oleh Nabila Fatin Kamilasari (151411021)


Dalam melakukan proses pertukaran ion, proses backwash sangat penting dalam
pelaksanaannya. Proses backwash bertujuan untuk melepas partikulat yang menyelimuti resin
penukar ion. Hal ini akan menghambat proses pertukaran ion antara ion didalam air dan ion
pada resin saat melakukan proses in service.
Parameter yang digunakan dalam percobaan proses backwash penukar resin ialah
kekeruhan (NTU) pada aliran effluent disetiap resin penukar ion (resin kation dan resin
anion).
Proses backwash dilakukan selama 10 menit. Selama proses backwash berlangsung,
parameter yang digunakan untuk menentukan proses backwash telah selesai dilakukan atau
belum ialahh aliran effluent pada resin penukar kation dan anion setiap 5 menit.
Umpan yang digunakan untuk melakukan proses backwash resin kation yaitu air
keran yang memiliki nilai kekeruhan sebesar 1,9 NTU. Pada menit ke 0, aliran effluent pada
resin kation memiliki kekeruhan sebesar 3,61 NTU. Kenaikan nilai kekeruhan aliran effluent
saat awal proses backwash mengindikasikan adanya partikulat yang terbawa oleh aliran
backwash sehingga menyebabkan kenaikan nilai kekeruhan dibandingkan dengan nilai
kekeruhan air umpan sebelum masuk ke resin penukar kation untuk melakukan proses
backwash. Pada menit ke 5, aliran effluent pada resin kation memiliki kekeruhan sebesar 2,39
NTU dan pada menit ke 10, aliran effluent pada resin kation memiliki kekeruhan sebesar 2,4
NTU. Nilai kekeruhan effluent pada menit ke 5 dan ke 10 menunjukkan penurunan
dibandingkan nilai kekeruhan effluent menit ke 0. Hal ini disebabkan karena semakin sedikit
partikulat yang terbawa oleh aliran backwash.
Umpan yang digunakan untuk melakukan proses backwash resin anion yaitu air keran
yang memiliki nilai kekeruhan sebesar 1,9 NTU. Pada menit ke 0, aliran effluent pada resin
anion memiliki kekeruhan sebesar 3,91 NTU. Kenaikan nilai kekeruhan aliran effluent saat
awal proses backwash mengindikasikan adanya partikulat yang terbawa oleh aliran backwash
sehingga menyebabkan kenaikan nilai kekeruhan dibandingkan dengan nilai kekeruhan air
umpan sebelum masuk ke resin penukar anion untuk melakukan proses backwash. Pada
menit ke 5, aliran effluent pada resin anion memiliki kekeruhan sebesar 2,392 NTU dan pada
menit ke 10, aliran effluent pada resin kation memiliki kekeruhan sebesar 2,29 NTU. Nilai
kekeruhan effluent pada menit ke 5 dan ke 10 menunjukkan penurunan dibandingkan nilai
kekeruhan effluent menit ke 0. Hal ini disebabkan karena semakin sedikit partikulat yang
terbawa oleh aliran backwash. Penurunan nilai kekeruhan pada aliran effluent resin penukar
kation dan resin penukar anion selama 10 menit dapat dilihat pada grafik 1.
Proses backwash selesai dilakukan jika nilai kekeruhan effluent pada resin penukar
ion sudah mendekati nilai kekeruhan air umpan.

Kesimpulan Oleh Nabila Fatin Kamilasari (151411021)


Dari hasil percobaan backwash pada pertukaran ion dapat diketahui kondisi resin
kation dan anion masih baik. Hal ini diketahui dari :
Menurunnya nilai kekeruhan aliran effluent hingga mendekati nilai kekeruhan umpan
diresin penukar kation dan penukar anion pada setiap 5 menit proses backwash
berlangsung.
Nilai kekeruhan air umpan yang digunakan untuk proses backwash resin penukar ion
sebesar 1,9 NTU.
Pada resin penukar kation, nilai kekeruhan aliran effluent pada menit ke 0 sebesar
3,61 NTU, pada menit ke 5 sebesar 2,39 NTU, dan pada menit ke 10 sebesar 2,4
NTU.
Pada resin penukar anion, nilai kekeruhan aliran effluent pada menit ke 0 sebesar 3,91
NTU, pada menit ke 5 sebesar 2,32 NTU, dan pada menit ke 10 sebesar 2,29 NTU.

Pembahasan Oleh Nabila Nisa Mukarom (151411022)


Telah dilakukan praktikum ion exchange pada Laboratorium Pengolahan Limbah
Industri yang bertujuan untuk memahami operasi backwash pada resin kation dan resin anion
dan menganalisis nilai kekeruhan aliran effluent per sekian menit. Air keran digunakan
sebagai umpan pada praktikum ion exchange ini.
Pertukaran ion merupakan suatu metode penghilangan mineral - mineral air yang
bertujuan untuk menghilangkan ion kation dan ion anion dalam air. Resin alami maupun
sintetis digunakan sebagai media penyerap ion-ion terlarut dalam air tersebut. Pada saat
terjadi pertukaran ion, maka ion yang terlarut dalam air akan terserap ke dalam resin penukar
ion dan resin akan melepaskan ion lainnya dalam keselarasan ekivalen.
Sebelum dilakukan service, perlu adanya perlakuan backwash terlebih dahulu. Jika
terdapat padatan yang melapisi atau menyelimuti resin, maka proses adsorpsi ion ion dalam
air oleh resin akan terganggu karena pada dasarnya, prinsip dari ion exchange adalah proses
adsorpsi. Oleh karena itu, diperlukan pencucian balik (backwash) untuk mengeyahkan
padatan padatan atau kotoran yang tertahan dan melapisi permukaan resin yang dapat
menurunkan kinerja resin penukar ion. Pencucian balik dilakukan dengan mengalirkan air
dengan arah aliran dari bawah ke atas dengan laju alir tertentu.
Hal yang penting selama proses backwash adalah laju alir dan ekspansi resin pada
kolom itu sendiri. Perlu dilakukan pengaturan laju alir agar volume resin yang berada di
dalam reaktor mengembang atau terfluidisasi. Oleh karena itu, untuk merancang reaktor
penukar ion biasanya terdapat ruang bebas pada kolom resin yang disediakan berkisar antara
65-85%, sehingga jika resin penukar ion terjadi pengembangan 50% pada waktu pencucian
balik, secara teknis masih aman.
Dilakukan pengujian nilai kekeruhan (turbidity) aliran effluent pada masing
masing kolom kation dan anion dalam satuan NTU selama selang waktu 5 menit. Dari data
pengamatan diperoleh penurunan nilai kekeruhan aliran effluent pada kolom kation maupun
anion.
Kekeruhan (NTU)
Waktu (menit)
Resin Kation Resin Anion
0 3,61 3,91
5 2,39 2,32
10 2,4 2,29

Nilai kekeruhan pada air umpan backwash adalah 1.9 NTU. Penurunan nilai
kekeruhan pada kolom kation maupun anion disebabkan oleh padatan padatan yang
terperangkap dan melapisi resin melayang bahkan terangkat karena terfluidisasi oleh air
umpan yang masuk dari bawah dengan laju tertentu. Selanjutnya padatan tersebut akan keluar
dari kolom resin kation maupun anion. Nilai kekeruhan akhir pada kolom resin kation
maupun anion hampir mendekati nilai kekeruhan pada air umpan backwash, yaitu pada aliran
effluent kation bernilai 2.4 NTU sedangkan pada aliran effluent anion bernilai 2.29 NTU.
Penurunan nilai kekeruhan pada proses backwash dapat ditunjukkan oleh grafik kekeruhan
(NTU) terhadap waktu backwash berikut,

Kekeruhan Effluent (NTU)


terhadap Waktu Backwash
4.5
4 3.91
3.61
Kekeruhan (NTU)

3.5
3
2.5 2.39 2.4
2.32 2.29
2 Resin Kation
1.5 Resin Anion
1
0.5
0
0 1 2 3 4
Waktu (menit)
Kesimpulan Oleh Nabila Nisa Mukarom (151411022)

Proses backwash bertujuan untuk mengeyahkan padatan padatan atau kotoran yang
tertahan dan melapisi permukaan resin yang dapat mengganngu proses adsorpsi ion
ion dalam air oleh resin.
Hal yang penting dalam operasi backwash, yaitu laju alir dan ekspansi resin pada
kolom .
Terjadi penurunan nilai kekeruhan aliran effluent pada kolom kation maupun anion.
Nilai kekeruhan akhir aliran effluent pada kolom kation adalah 2.4 NTU
Nilai kekeruhan akhir aliran effluent pada kolom anion adalah 1.9 NTU
DAFTAR PUSTAKA

Fardiaz, S. 1992. Polusi Udara dan Air. Kanisius. Yogyakarta.

Johari, J.M.C. & Rachmawati, M. 2009. Kimia SMA dan MA untuk Kelas XI Jilid 2. Jakarta:

Esis

Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.

Setiadi, Tjandra. 2007. Pengolahan dan penyediaan AIR. FTI ITB. Bandung

Sugito. 2009. Pengolahan air berbasis ion exchange terpadukan Dengan membran permiabel

pada medan Electrodeionization (edi). FT Univ. PGRI Adi Buana. Surabaya

Syahrul, Iman. 2014. Resin Penukar Ion. https:// imansyahrul.blogspot.com/2014/06/resin

penukar-ion.html [24 September 2017]

Torimtubun, Alfonsina A.A. 2012. Demineralisasi. FT UB. Malang

Underwood, A.L., dan Day R. A. 2001. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Erlangga.

Jakarta.

Wardhana, W. A. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Edisi Revisi. Andi.


Yogyakarta.